• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN POGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM MALANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN POGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM MALANG"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

“PENERAPAN PASAL 17 UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN DALAM PENGUASAAN TANAH TANPA HAK TERHADAP HUTAN PRODUKSI DALAM

PERSEPEKTIF HUKUM AGRARIA”

(Studi Kasus di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan)

TESIS

Disusun oleh:

IMAM WAHYUDIN NPM: 21902022014

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN POGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM MALANG 2021

(2)

“PENERAPAN PASAL 17 UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN DALAM PENGUASAAN TANAH TANPA HAK TERHADAP HUTAN PRODUKSI

DALAM PERSEPEKTIF HUKUM AGRARIA”

(Studi Kasus di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan) Imam Wahyudin

21902022014 Magister Kenotariatan

Program Pascasarjana Universitas Islam Malang Jl. Galunggung No. 11, Gading Kasri, Klojen, Malang

Email: [email protected] ABSTRAK

Pemanfaatan kawasan hutan untuk pertanian telah di atur sedemikian rupa, berupa sistem izin pengelolaan kawasan hutan agar kelestarian kawasan hutan dapat terjamin. Akan tetapi para petani di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan ini tidak memiliki surat izin pemanfaatan hutan dalam melakukan pemanfaatan hutan untuk lahan pertanian padahal di dalam Undang- undang nomor 18 Tahun 2013 Pasal 17 ayat 2b menyebutkan “Bahwa setiap orang dilarang melakukan perkebunan tanpa izin Menteri didalam kawasan hutan”.

Ada dua rumusan masalah dalam penelitian ini. Pertama, Bagaimana penerapan pasal 17 undang-undang nomor 18 tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dalam pengusaan tanah tanpa hak terhadap Hutan Produksi dalam persepektif hukum Agraria.

Kedua, Bagaimana akibat hukum terhadap Hutan Produksi yang dikuasai masyarakat untuk tanah pertanian di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan.

Penelitian ini merupakan jenis penelitian hukum empiris dengan pendekatan perundang- undangan (statue approach) dan pendekatan sosial makro. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi.

Dalam penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa Proses pengusaan tanah dikawasan hutan di kecamatan brondong kebanyakan belum mengantongi surat izin dari KLHK dari 6 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) hanya satu LMDH yang telah mengantongi izin pengelolaan hutan KLHK. Adapun akibat hukum terhadap pengusaan tanah hutan yg dikuasai oleh masyarat tanpa adanya surat izin dari Mentri, pihak Perhutani KPH Tuban akan melaksanakan penyelidikan dan peringatan terhadap para oknum pemerintahan daerah atau desa yang menyalah gunakan wewenang untuk pemanfaatan hutan pada hutan produksi serta menangkap dan melakukan penyidikan secara tuntas terhadap masyarakat yang telah memanfaatkan hutan tanpa izin. Peringatan yang dimaksud di sini adalah pemerintah harus melaksanakan analisa terhadap pelaksanaan Peraturan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tersebut di dalam masyarakat.

Kata Kunci: Penguasaan Tanah, Pengrusakan Hutan, Hutan Produksi

(3)

“APPLICATION OF ARTICLE 17 OF LAW NUMBER 18 YEAR 2013 ABOUT CONCERNING PREVENTION AND ERADICATION OF FOREST DESTRUCTION

IN UNRIGHTS TENURE OF PRODUCTION FORESTS IN AGRARIAN LAW PERSPECTIVE”

(Case Study in Brondong District, Lamongan Regency) Imam Wahyudin

21902022014 Master in Notary

Postgraduate Program at Islamic University of Malang Jl. Galunggung No. 11, Gading Kasri, Klojen, Malang

Email: [email protected]

ABSTRACT

Utilization of forest areas for agriculture has been in such a way, in the form of a forest area management permit system so that forest areas can be guaranteed. However, these farmers in Brondong District, Lamongan Regency do not have a forest utilization permit in carrying out forest utilization for agricultural land in Law number 18 of 2013 Article 17 paragraph 2b which states

"Everyone is prohibited from doing plantations without the Minister's permission in forest areas”.

There are two problem formulations in this research. First, how is the application of Article 17 of Law No. 18 of 2013 about Concerning Prevention and Eradication of Forests in the control of land without rights to Production Forests in the perspective of Agrarian Law? Second, what are the legal consequences of community-controlled Production Forests for agricultural land in Brondong District, Lamongan Regency?

This research is a type of empirical legal research with a state approach and a macro social approach. Sources of data used in this study are primary data and secondary data. Data collection techniques in this study were interviews, observation and documentation.

In this study, it can be concluded that the process of land tenure in the forest area in the Brondong sub-district mostly has not yet obtained a permit from the KLHK from 6 Forest Village Community Institutions (LMDH) only LMDH has obtained a KLHK forest management permit.

As for the legal consequences of land ownership which is controlled by the community without a permit from the Minister, the Perhutani KPH Tuban will carry out investigations and warnings against local government officials which is abusing authority for forest use in production forests as well as arrest and conduct thorough investigations of people who have used the forest without permission. The purpose of this warnig is that the government must carry out analyzing of the implementation of Law Number 18 of 2013 in the community.

Keywords: Land Tenure, Forest Destruction, Production Forest

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan Indonesia merupakan salah satu hutan tropis terluas di dunia sehingga keberadaanya menjadi tumpuan keberlangsungan kehidupan bangsa-bangsa di dunia, khususnya dalam mengurangi dampak perubahan iklim global. Oleh karena itu, pemanfaataan dan penggunaannya harus dilakukan secara terencana, rasional, optimal, dan bertanggung jawab sesuai dengan kemampuan daya dukung serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup guna mendukung pengelolaan hutan dan pembangunan kehutanan yang berkelanjutan bagi kemakmuran rakyat. Hal itu sesuai dengan ketentuan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dengan demikian, hutan sebagai salah satu sumber kekayaan alam bangsa Indonesia dikuasai oleh negara, dan setelah diundangkannya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Kehutanan. Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam komunitas alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya.1

Hutan merupakan salah satu sumber daya alam dan sekaligus merupakan aset nasional yang memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan nasional. Selama ini sumberdaya hutan telah memberikan sumbangan yang nyata bagi peningkatan devisa dan pembangunan ekonomi nasional. Namun demikian, pengelolaan dan pendayagunaan

1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

(5)

sumberdaya hutan belum memberikan kontribusi yang nyata bagi perbaikan sistem lingkungan secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan yang lebih memberi penekanan pada aspek ekonomi dan kurang berpihak pada kepentingan masyarakat dan lingkungan. Prinsip-prinsip keadilan, keberpihakan pada masyarakat, kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan belum diberi perhatian secara proporsional dalam penerapan sistem pengelolaan hutan selama ini.

Berbicara mengenai hutan, masyarakat Kecamatan Brondong tidak luput dari potensi alam yang ada di dalamnya, masyarakat Kecamatan Brondong mempunyai sistem pengelolaan hutan yang berbasis pengetahuan lokal. Pengetahuan tersebut terkait dengan pengelolaan lahan dan hutan dalam kegiatan mata pencaharian sehari-hari untuk mencukupi kebutuhannya ,Wilayah kecamatan Brondong sendiri merupakan wilayah yang di dalamnya terdapat beberapa penggunaan kawasan hutan, seperti yang tercantum dalam pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang penggunaan kawasan hutan yang menyatakan sebagai berikut: Ayat 1 penggunaan kawasan hutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 hanya dapat dilakukan di dalam:

a. Kawasan hutan produksi dan/atau b. Kawasan hutan lindung.2

Masyarakat Kecamatan Brondong memiliki dua penggunaan kawasan hutan diatas, saat ini sedang tidak stabil, karena pola pemikiran masyarakat yang belum searah dengan pola pembangunan oleh pemerintah. Hutan produksi dan hutan lindung menjadi tempat bercocok tanam oleh masyarakat sekitar, yang artinya masyarakat sangat bergantung dengan hutan, sebagai tempat mata pencaharian. Pemanfaatan hutan dikawasan kecamatan Brondong

2 Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan.

(6)

ini sudah semakin maju, bahkan cenderung bersifat merusak karena tingginya intensitas pemanfaatan yang dibarengi dengan kurangnya pemahaman dan kepedulian terhadap keberadaan hutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa saat ini hutan di kawasan Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan kadang menjadi rebutan oleh berbagai pihak yang ingin memanfaatkan untuk mencukupi kebutuhannya. Pemanfaatan Hutan dan kawasan hutan selama ini tidak hanya dalam rangka pemanfaatan kayu saja tapi juga non kayu dan untuk kepentingan yang lain di luar bidang kehutanan terutama pemanfaatan hutan sebagai lahan pertanian.

Dalam pemanfaatan hutan telah diatur sedemikian rupa, demikian pula pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan lain di luar Kehutanan telah di atur sedemikian rupa, berupa sistem izin pengelolaan kawasan hutan agar kelestarian kawasan hutan dapat terjamin.

Akan tetapi para petani di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan ini tidak memiliki surat izin pemanfaatan hutan dalam melakukan pemanfaatan hutan untuk lahan pertanian padahal di dalam Undang-undang nomor 18 Tahun 2013 Pasal 17 ayat 2b menyebutkan

“Bahwa setiap orang dilarang melakukan perkebunan tanpa izin Menteri didalam kawasan hutan”. Padahal perusakan hutan, berupa pembalakan liar, penambangan tanpa izin, dan terutama perkebunan tanpa izin telah menimbulkan kerugian negara, kerusakan kehidupan sosial budaya dan lingkungan hidup, serta meningkatkan pemanasan global yang telah menjadi isu nasional, regional, dan internasional.

Sesungguhnya pemanfaatan hutan atas kawasan hutan dapat dilakukan dengan tertib andai saja setiap orang mau mengikuti aturan yang telah dibuat oleh pemerintah.

Kenyataannya, terjadi beberapa kendala pada pemberian izin pengelolaan kawasan hutan seperti masih kurangnya pemahaman mengenai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan

(7)

Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 Tentang Perhutanan Sosial dan banyaknya pemohon izin yang tidak memenuhi dan melengkapi kewajiban sehingga pemberian izin pengelolaan kawasan hutan tidak sesuai dengan apa yang telah ditentukan.

Ketentuan mengenai pemanfaatan kawasan hutan oleh pihak kedua dilakukan harus melalui sistem izin pengelolaan kawasan hutan mulai dari prosedur permohonan, kewajiban yang harus dipenuhi termasuk adanya sebuah perjanjian setelah pemanfaatan hutan petani harus menjaga arealnya dari perusakan dan pencemaran lingkungan, bersedia untuk melakukan penanaman dan pemeliharaan hutan di areal kerjanya beberapa hal penting lainnya telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Pasal 59 Nomor: P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 Tentang Perhutanan Sosial.3

Untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pemberian izin pinjam pakai kawasan hutan pada masyarakat Brondong Kabupaten Lamongan maka penulis ingin melakukan penelitian yang berjudul “PENERAPAN PASAL 17 UNDANG-UNDANG NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PERUSAKAN HUTAN DALAM PENGUASAAN TANAH TANPA HAK TERHADAP HUTAN PRODUKSI DALAM PERSEPEKTIF HUKUM AGRARIA” (Studi Kasus di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan)

Atas dasar permasalah tersebut, peneliti bermaksud mengangkat persoalan tersebut menjadi bahan penulisan hukum, sebagai syarat menempuh Strata 2 (S2) pada Pascasarjana

3 Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P . 83 / MENLHK / SETJEN / KUM.1 / 10 / 2016 Tentang Perhutanan Sosial.

(8)

Magister Kenotariatan Universitas Islam Malang dengan harapan dapat memberikan masukan untuk memberikan kepastian hukum kepada massyarakat dan para penegak hukum.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penerapan pasal 17 undang-undang nomor 18 tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dalam pengusaan tanah tanpa hak terhadap Hutan Produksi dalam persepektif hukum Agraria?

2. Bagaimana akibat hukum terhadap Hutan Produksi yang dikuasai masyarakat untuk tanah pertanian di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan?

C. Batasan Penelitian

Batasan penelitian dalam tulisan ini adalah:

1. Tentang pelaksanaan pemberian izin pemanfaatan hutan

2. Implementasi hukum positif tentang sanksi terhadap masyarakat yang tidak memiliki surat izin pemanfaatan hutan.

D. Definisi Oprasional

1. Pencegahan Perusakan Hutan

Segala upaya yang dilakukan untuk menghilangkan kesempatan terjadinya perusakan hutan.

2. Pemberantasan Kerusakan Hutan

Segala upaya yang dilakukan untuk menindak secara hukum terhadap pelaku perusakan hutan baik langsung, tidak langsung, maupun yang terkait lainnya.

3. Penguasaan Tanah

Penguasaan Negara atas tanah tidaklah hanya terbatas pada tanah-tanah yang belum dibebani oleh suatu hak perseorangan maupun hak beberapa orang secara bersama-sama,

(9)

akan tetapi arti dari penguasaan tanah oleh Negara itu sifatnya lebih luas dari pada penguasaan perseorangan ataupun badan hukum lainnya.

Penguasaan tanah adalah hubungan hukum antara orang atau pihak tertentu dengan tanah atau antara orang dengan orang atau pihak tertentu dengan tanah.

4. Hutan

Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam komunitas alam lingkungannya yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dan yang lainnya.4

5. Hutan Produksi

Kawasan Hutan yang mempunyai fungsi pokok memproduksi hasil Hutan E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pemberian perizinan pemanfaatan kawasan hutan di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan sudah sesuai dengan ketentuan yang sudah berlaku apa belum.

2. Untuk mengetahui apakah pemberian sanksi terhadap masyarakat yang tidak memiliki surat izin pengelolaan kawasan hutan sudah diterapkan.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan juga mampu memberikan manfaat yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Pada tataran teori, hasil penelitian ini diharapkan berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan Hukum Agraria khususnya Hukum Pertanahan dan juga bagi yang berminat untuk meneliti lebih lanjut tentang pelaksanaan pemberian izin

4 Uundang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

(10)

pengelolaan kawasan hutan. Disamping itu sebagai kontribusi pada Pemerintah Kabupaten Lamongan dalam menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan pemberian izin pemanfaatan kawasan hutan.

2. Manfaat Praktis

Pada tataran praktis, setidaknya memberikan informasi yang objektif dan bahan perbandingan bagi aparat pemerintah Kabupaten Lamongan dalam pelaksanaan pemberian izin dan penegakan hukum terhadap masyarakat yang tidak memiliki surat izin pengelolaan kawasan hutan.

G. Penelitian Terdahulu

Penelitian 1 Penelitian 2 Perbandingan Cacatan Nama

Peneliti dan Lembaga

Yuni Ayu Wandira / Universitas Lampung Bandar Lampung

Imam Wahyudin / Universitas Islam Malang

Judul Penelitian

Implementasi Kemitraan

Kehutanan antara Kelompok Tani dengan Kesatuan Pengelolah Hutan Produksi (KPHP) Way Terusan Kabupaten Lampung Tengah (Studi di Gapoktan Jati Makmur Umbul Harapan Jaya Kecamatan Bandar Mataram

Kabupaten

Lampung Tengah)

Penerapan Pasal 17 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan dalam penguasaan Tanah Tanpa Hak Terhadap Hutan Produksi dalam Persepektif Hukum Agraria. (Studi Kasus di Kecamatan

Brondong Kabupaten Lamongan)

Penelitian 1:

Implementasi Kemitraan

Kehutanan antara Kelompok Tani dengan Kesatuan Pengelolah Hutan Produksi (KPHP) Penelitian 2:

Penerapan Undang- undang nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan

Judul Tidak Sama

Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses

implementasi Kemitraan Kehutanan

1. Bagaimana

penerapan pasal 17 undang-undang nomor 18 tahun 2013 Tentang

Penelitian 1:

Meneliti aturan- aturan tentang perijinan hutan lindung untuk

Rumusan Masalah Tidak Sama

(11)

antara kelompok tani dengan KPHP Way Terusan Kabupaten Lampung Tengah?

2. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dan menghambat proses

implementasi kemitraan

kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP?

Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dalam pengusaan tanah tanpa hak terhadap Hutan Produksi dalam persepektif hukum Agraria?

2. Bagaimana akibat hukum terhadap Hutan Produksi yang dikuasai masyarakat untuk tanah pertanian di Kecamatan Brondong Kabupaten Lamongan?

kegiatan

pertambangan dan terjadinya keputusan ijin pinjam pakai hutan lindung untuk kegiatan

pertambangan.

Penelitian 2:

Meneliti tentang penerapan pasal 17 undang-undang no 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan serta akibat hukum pada masyarakat yg menguasai tanah hutan produksi tanpa hak.

Kesimpul an

1. Proses implementasi kemitraan

kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way Terusan meliputi sosialisasi, pembentukan kelompok, pelatian,

penandatanganan kerjasama dan pelaksanaan kemitraan kehutanan.

Proses tersebut berjalan kurang baik. Hal ini dikarenakan partisipasi kelompok tani dalam kegiatan kemitraan

1. Belum bisa

diterapkan dengan baik Pasal 17 Undang-undang Nomor 18 tahun 2013 tentan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan karena Proses pengusaan tanah dikawasan hutan di kecamatan

brondong

kebanyakan belum mengantongi surat izin dari

Kementrian

Lingkungan Hidup Kehutanan

(KLHK) dari 6 Lembaga

Masyarakat Desa Hutan (LMDH) hanya satu LMDH

Penelitian 1:

Implementasi

kemitraan kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way Terusan meliputi sosialisasi, pembentukan kelompok, pelatian, penandatanganan kerjasama dan pelaksanaan kemitraan

kehutanan. Proses tersebut berjalan kurang baik. Hal ini dikarenakan

partisipasi kelompok tani dalam kegiatan kemitraan berjalan kurang baik. Adapun Factor pendukung kemitraan kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way

Kesimpu lan Tidak Sama

(12)

berjalan kurang baik

2. Factor pendukung kemitraan

kehutanan antara kelompok tani dengan KPHP Way Terusan yaitu adanya dukungan kelompok tani yang tinggi terhadap program kemitraan kehutanan, kepercayaan kelompok tani yang tinggi kepada pihak KPHP Way Terusan dan dukungan yang tinggidari pihak steak holder terkait yang lain.

yang telah

mengantongi izin pengelolaan hutan dari KLHK.

2. Akibat hukum terhadap

pengusaan tanah hutan yg dikuasai oleh masyarat tanpa adanya surat izin dari Mentri, pihak KPH Tuban melakukan

pencegahan dan peringatan terhadap pelanggaran penguasaan tanah dikawasan hutan, Dalam program pecegahan pihak KPH Tuban melakukan kegiatan penyuluhan / penerangan kepada masyarakat lokal akan penting menjaga fungsi dan manfaat hutan agar dapat

membantu dalam menjaga

kelestarian hutan dan penegakan hukum yang tegas oleh aparat

penegak hukum, POLRI yang dibantu oleh POL HUT

Terusan yaitu adanya dukungan kelompok tani yang tinggi terhadap program kemitraan kehutanan,

kepercayaan

kelompok tani yang tinggi kepada pihak KPHP Way Terusan dan dukungan yang tinggidari pihak steak holder terkait yang lain.

Penelian 2:

Belum bisa

diterapkan dengan baik Pasal 17 Undang-undang Nomor 18 tahun 2013 tentan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan adapun Akibat hukum terhadap pengusaan tanah hutan yg dikuasai oleh masyarat tanpa adanya surat izin dari Mentri, pihak KPH Tuban melakukan pencegahan dan peringatan terhadap pelanggaran

penguasaan tanah dikawasan hutan, Dalam program pecegahan pihak KPH Tuban

melakukan kegiatan penyuluhan /

penerangan kepada masyarakat lokal akan penting

(13)

menjaga fungsi dan manfaat hutan agar dapat membantu dalam menjaga kelestarian hutan dan penegakan hukum yang tegas oleh aparat penegak hukum, POLRI yang dibantu oleh POL HUT

H. Kerangka Teori 1. Kepastian Hukum

Secara gramatikal kepastian berasal dari kata pasti, yang artinya tetap. Sedangkan dalam KBBI, kepastian adalah perihal (keadaan) pasti (sudah tetap), ketentuan, ketetapan.5 Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak dapat digunakan sebagai pedoman perilaku bagi setiap orang.6

Hukum yang baik adalah hukum yang mampu mensinergikan ketiga unsur (keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum), demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum terutama untuk norma hukum tertulis7. Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakukan hukum yang jelas, tetap dan konsisten dimana pelaksanaanya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif.

5 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1997. (Jakarta: Balai Pustaka), hlm.

735

6 Ct. Kansil. Kamus Istilah Hukum. 2009. (Jakarta. Gramedia Pustaka), hlm. 270

7 R. Tony Prayogo. “ Penerapan Asas Kepastian Hukum Dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Hak Uji Materiil Dan Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 Tentang Pedoman Beracara Dalam Pengujian Undang-Undang”. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 13 No 2 Juni 2016, hlm. 194

(14)

Kepastian hukum dapat diartikan sebagai kejelasan norma sehing ga dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk mewujudkan keadilan. pengertian kepastian tersebut dapat dimaknai bahwa ada kejelasan dan ketegasan terhadap berlakunya hukum di dalam masyarakat, dengan tanpa memandang siapa yang melakukannya. Dalam kepastian hukum setiap orang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi jika melakukan tindakan hukum tersebut.

Menurut Rescue Pound adanya kepastian hukum memungkinkan adanya predicbility atau kemungkinan. Menurut Van Apeldoorn, kepastian hukum juga berarti

hal yang dapat ditentukan oleh hukum dalam hal-hal yang konkret8. Jaminan adanya kepastian hukum adalah bagian tugas dari kaidah hukum, karena dengan adanya kaidah hukum masyarakat sungguh-sungguh menyadari bahwa kehidupan bersama akan tertib apabila ada kepastian dalam hubungan antara sesama manusia.9

Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib10, sedangkan menurut ajaran domatik hanya sekedar menjamin kepastian hukum, adanya aturan hukum hanya untuk menjamin kepastian hukum tersebut. sedangkan menurut Jan Michiel Otto dalam buku Pengantar Ilmu Hukum, Soeroso mengatakan bahwa kepastian hukum mendefinisikan sebagai kemungkinan bahwa dalam situasi tertentu:11

a. Tersedia aturan-aturan yang jelas, konsisten dan mudah diperoleh, diterbitkan oleh dan diakui karena kekuasaan negara.

8 Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum.1990. (Jakarta: Pradnya Paramita), hlm. 24-25

9 Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum. 1995. (Jakarta: Rineka Cipta), hlm. 49-50

10 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). 1988. (Yogyakarta: Liberty), hlm. 58

11 Soeroso. Pengantar Ilmu Hukum. 1999 (Jakarta:Sinar Grafika), hlm. 29

(15)

b. Instansi-instansi penguasa pemerintah menerapkan aturan-atauran hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya.

c. Warga secara prinsipil menyesuaikan perilaku terhadap aturan.

d. Hakim yang mandiri dan tidak berpikir menerapkan aturan-aturan hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum.

e. Keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan.

2. Tujuan Hukum

Tujuan hukum, menurut Apeldoorn adalah mengatur pergaulan hidup secara damai”. Dalam hubungan dengan tujuan hukum, maka terdapat beberapa teori yang dikembangkan, yaitu :

a. Teori Etis, berpendapat bahwa tujuan hukum semata-mata untuk mewujudkan keadilan. Mengenai keadilan, Aristoteles mengajarkan dua macam keadilan, yaitu keadilan distributif dan keadilan komutatif. Keadilan distributif ialah keadilan yang memberikan kepada tiap orang jatah menurut jasanya. Keadilan komutatif adalah keadilan yang memberikan jatah kepada setiap orang sama banyaknya tanpa harus mengingat jasa-jasa peseorangan.

b. Utilitas, menurut Bentham bahwa hukum bertujuan untuk mewujudkan apa yang berfaedah atau yang sesuai dengan daya guna (efektif). Adagiumnya yang terkenal adalah The greatest happiness for the greatest number artinya, kebahagiaan yang terbesar untuk jumlah yang terbanyak. Ajaran Bentham disebut juga sebagai eudaemonisme atau utilitarisme.

c. Teori Pengayoman yang mengemukakan tujuan hukum adalah untuk mengayomi manusia, baik secara aktif maupun secara pasif. Secara aktif dimaksudkan sebagai

(16)

upaya untuk menciptakan suatu kondisi kemasyarakatan yang manusiawi dalam proses yang berlangsung secara wajar. “Sedangkan yang dimaksud secara pasif adalah mengupayakan pencegahan atas tindakan yang sewenang-wenang dan penyalahgunaan hak”.12 Usaha mewujudkan pengayoman tersebut termasuk di dalamnya adalah :

a) Mewujudkan ketertiban dan keteraturan.

b) Mewujudkan kedamaian sejati.

c) Mewujudkan keadilan.

d) Mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

3. Kemanfaatan

Dalam tujuan hukum, kemanfaatan termasuk hal yang paling utama. Tujuan hukum bisa terlihat dalam fungsinya sebagai fungsi perlindungan kepentingan manusia, hukum mempunyai sasaran yang hendak dicapai.13 Satjipto rahardjo mengatakan, bahwa teori kemanfaatan hukum bisa dilihat sebagai perlengkapan masyarakat untuk menciptakan ketertiban dan keteraturan, oleh karena itu bisa bekerja dengan memberikan petunjuk tentang tingkah laku dan berupa norma atau aturan-aturan hukum. Pada dasarnya peraturan hukum yang mendatangkan kemanfaatan atau kegunaan hukum adalah untuk terciptanya ketertiban dan ketentraman dalam kehidupan masyarakat, karena adanya hukum maka ketertiban akan berjalan tertib.14

Menurut Radbruch aspek keadilah hukum, kemanfaatan dan kepastian hukum sifatnya relatif sehingga bisa berubah-ubah, bisa pada suatu saat kemanfaatan hukum lebih ditonjolkan. Kemanfaatan hukum disebut juga utilitarianisme yang pertama kali

12 Dudu Duswara Machmudin, Pengantar Ilmu Hukum, Sebuah Sketsa, Bandung, Refika Aditama,2003, hlm. 24.

13 Sudikno Mertokusumo, Op.Cit. hlm. 58.

14 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. (Bandung: Alumni), 1991, hlm. 13.

(17)

dikembangkan oleh Jeremi Bentham, persoalan yang dihadapi pada zaman itu adalah bagaimana menilai baik buruknya suatu kebijakan sosial politik, ekonomi dan legal dengan cara moral. Dengan kata lain bagaimana menilai suatu kebijakan publik yang mempunyai dampak kepada banyak orang secara moral, maka dari hasil tersebut Jeremi Bentahm menemukan bahwa dasar yang paling objektif adalah dengan melihat apakah suatu kebijakan atau tindakan tertentu membawa manfaat atau hasil yang berguna ataukah kerugian yang malah ditimbulkan lalu penganut utiliatarianisme berikutnya adalah Joh Stuar Mill, yang sejalan dengan pemikiran Jeremi Betham. Menurut Mill keadilan bersumber pada naluri manusia untuk menilak dan membalas kerusakan yang diderita, baik oleh diri sendiri maupun oleh siapa saja yang mendapatkan simpati, sehingga hakikat keadilan mencakup semua persyaratan moral yang hakiki bagi kesejahteraan umat manusia.15

4. Efektifitas Hukum

Dalam teori efektivitas hukum menurut Bronislaw Malinowski meliputi tiga masalah yaitu:16

a. Dalam masyarakat modern, tata tertib kemasyarakatan dijaga antara lain oleh suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat memaksa, yaitu hukum dan untuk melaksanakannya hukum didukung oleh suatu sistem alat-alat kekuasaan seperti kepolisian, pengadilan, dll yang diorganisasi oleh negara.

15 Lili Rasjidi Dan I.B Wyasa Putra. Hukum Sebagai Suatu Sistem. 1993. (Bandung:Remaja Rosdakarya), hlm. 79- 80.

16 Koentjaraningrat dalam H. Halim Hs, Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan Disertasi. 2014. (Jakarta: Raja Grafindo Persada), hlm. 305.

(18)

b. Dalam masyarakat primitif, alat-alat kekuasaan serupa kadang tidak ada.

c. Sedangkan dalam masyarakat primitif tidak ada hukum.

Analisis efektivitas hukum dalam masyarakat menurut Malinowski dibedakan menjadi dua yaitu masyarakat modern dan masyarakat primitif. Sedangkan efektivitas hukum menurut Soerjoso Soekanto, efektif adalah taraf sejauh mana suatu kelompok dapat mencapai tujuannya. Hukum dapat dikatakan efektif jika terdapat dampak hukum yang positif, pada saat itu hukum mencapai sasarannya dalam membimbing ataupun merubah perilaku manusia sehingga menjadi perilaku hukum.17

Hukum dapat efektif ketika masyarakat berperilaku sesuai dengan yang dikehendaki dalam peraturan perundang-undangan, ketika sudah sesuai maka apa yang diharapkan dari aturan tersebut telah tercapai. Dapat dikatakan bahwa efektif atau tidaknya suatu aturan, dapat dilihat dari perilaku yang tercermin dalam masyarakat yang diberi aturan tersebut.

17 Soerjono Soekanto. Efektivitas Hukum Dan Penerapan Sanksi. 1988. (Bandung: Ramadja Karya), hlm. 80.

(19)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasrkan uraian penelian dan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai jawaban dari pokok masalah, yaitu sebagai berikut:

1. Belum bisa diterapkan dengan baik Pasal 17 Undang-undang Nomor 18 tahun 2013 tentan pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan karena Proses pengusaan tanah dikawasan hutan di kecamatan brondong kebanyakan belum mengantongi surat izin dari Kementrian Lingkungan Hidup Kehutanan (KLHK) dari 6 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) hanya satu LMDH yang telah mengantongi izin pengelolaan hutan dari KLHK.

2. Akibat hukum terhadap pengusaan tanah hutan yg dikuasai oleh masyarat tanpa adanya surat izin dari Mentri, pihak KPH Tuban melakukan pencegahan dan peringatan terhadap pelanggaran penguasaan tanah dikawasan hutan, Dalam program pecegahan pihak KPH Tuban melakukan kegiatan penyuluhan / penerangan kepada masyarakat lokal akan penting menjaga fungsi dan manfaat hutan agar dapat membantu dalam menjaga kelestarian hutan dan penegakan hukum yang tegas oleh aparat penegak hukum, POLRI yang dibantu oleh POL HUT dalam melaksanakan penyelidikan terhadap para oknum pemerintahan daerah atau desa yang menyalah gunakan wewenang untuk pemanfaatan hutan pada hutan produksi serta menangkap dan melakukan penyidikan secara tuntas terhadap masyarakat yang telah memanfaatkan hutan tanpa izin. Peringatan yang dimaksud di sini adalah pemerintah harus melaksanakan analisa terhadap pelaksanaan Peraturan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tersebut di dalam masyarakat.

(20)

B. Saran

Berdasarkan penelitian yang terlah dilakukan Program kemitraan kehutanan harus dipersiapkan lebih matang demi keberhasilan program tersebut. Persiapan tersebut meliputi kesiapan pihak KPH Tuban sebagai pengelola kawasan dan masyarakat sebagai mitra usaha yang menggarap lahan dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Pihak Verifikator permohonan yang telah diajukan pihak KPH, Kapabilitas sumberdaya masyarakat mitra harus ditingkatkan dengan cara meningkatkan partisipasi masyarakat mitra dalam pembinaan, pelatihan dan sosialisasi. Program kemitraan kehutanan merupakan program yang berbasis masyarakat sehingga merupakan perpaduan pendekatan perencanaan secara top down dan bottom up.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

A.P Parlindungan, Hak Pengelolaan Menurut Sistem UUPA, (Bandung: Mandar Maju, 1989).

Bangbang Sungono, Metode Penelitian Hukum. (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002) Ct. Kansil. Kamus Istilah Hukum. (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2009).

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Balai Pustaka, 1997)

Dudu Duswara Machmudin, Pengantar Ilmu Hukum, Sebuah Sketsa, (Bandung, Refika Aditama,2003)

Indriyanto, Pengantar Budi Daya Hutan, (Bumi Aksara, Jakarta, 2008).

Lili Rasjidi Dan I.B Wyasa Putra. Hukum Sebagai Suatu Sistem. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1993).

Oloan Sitorus, Kapita Selekta Perbandingan Hukum Tanah, (Yogyakarta: Mitra Kebijakan Tanah Indonesia, 2004).

Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Kencana, 2010).

Salim, Dasar- Dasar Hukum Kehutanan, (Sinar Grafika, Jakarta,1997).

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum. (Bandung: Alumni, 1991).

Sudarsono, Pengantar Ilmu Hukum. (Jakarta: Rineka Cipta, 1995).

Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). (Yogyakarta: Liberty, 1988.).

Soerjono Soekanto. Efektivitas Hukum Dan Penerapan Sanksi. (Bandung: Ramadja Karya, 1988).

Soeroso. Pengantar Ilmu Hukum. (Jakarta:Sinar Grafika, 1999).

Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2006)

Supriyadi, Aspek Hukum Tanah Aset Daerah, Menemukan Keadilan, Kemanfaatan, dan Kepastian Atas Eksistensi Tanah Aset Daerah, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2010).

Takdir Rahmadi, Hukum Lingkungan, (Rajawali Pers, Jakarta, 2015)

Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1990).

Winahyu Erwiningsih,. Hak Menguasai Negara Atas Tanah, (Yogyakarta: Total Media, 2009)

(22)

Zainuddin, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Sinar Grafika, 2016)

Undang-undang

UU 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.

Undang-Undang Dasar Setelah Amandemen Kedua tahun 2000, (Jakarta : Sinar Grafika, 2001) Permen LHK Nomor P. 83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 Tentang Perhutanan Sosial Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2010 tentang Penggunaan Kawasan Hutan.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P . 83 / MENLHK / SETJEN / KUM.1 / 10 / 2016 Tentang Perhutanan Sosial.

Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 Tentang Pedoman Tentang Hak Uji Materiil

Jurnal

Beracara Dalam Pengujian Undang-Undang”. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 13 No 2 Juni 2016

Koentjaraningrat dalam H. Halim Hs, Erlies Septiana Nurbani, Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan Disertasi. 2014. (Jakarta: Raja Grafindo Persada).

R. Tony Prayogo. “ Penerapan Asas Kepastian Hukum Dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011.

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Pasal 19 ayat 1 huruf c UUPS bahwa Akad Mudharabah dalam pembiayaan adalah akad kerja sama suatu usaha antara pihak pertama malik, shahibul mal atau bank syariah yang

Berangkat dari cara berpikir di atas, maka bentuk pertanggungjawaban Presiden menurut UUD 1945 khususnya Pasal 7A adalah bentuk pertanggung jawaban hukum yang terdiri dari

Sedang guru pendidikan agama Islam pada khususnya untuk membawa kemajuan pendidikan dan pembentukan karakter seluruh warga sekolahW/S1/dan S2/4-11-2019 Mengingat cita cita lembaga ini

Hasil penelitian, yaitu: 1 Konsep khaira Ummah yang terdapat dalam Q.S Al-Imron 110 diolah dan dikembangkan segingga menjadi 3 pilar penting, yakni Social Enterprise, Smart Technology

Perlindungan ini diperoleh melalui: 1 Peraturan perundang- undangan di bidang perbankan; 2 Perlindungan yang dihasilkan oleh pengawasan dan pembinaan yang efektif, yang dilakukan oleh