• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAPA (PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk) Company Overview

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "MAPA (PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk) Company Overview"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MAPA (PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk)

Company Overview

PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) resmi berdiri pada Maret 2015, sebagai perusahaan operator gerai produk olahraga (sport goods), mainan anak-anak (Kids), sepatu, pakaian (leisure) terbaik dunia, ke seluruh pelanggan di Indonesia. Beberapa brand yang dinaungi MAPA dapat Anda lihat pada gambar di samping ini.

(3)

MAPA melakukan Penawaran Umum Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia pada Juli 2016, dan kepemilikan saham MAPA sebesar 68.8% dikuasai oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk, sisanya sekitar 23% oleh Publik dan 7.5% oleh Montage Company Limited.

MAPA menawarkan produk melalui 3 segmen usaha: 1) Lini usaha Sports, sebagai kontributor terbesar MAPA menawarkan beragam sepatu, pakaian, dan perlengkapan olahraga. 2) Lini usaha Leisure, jaringan gerai yang memasarkan dan mendistribusikan produk sepatu, pakaian, dan aksesoris untuk keperluan

leisure dari portfolio brand ternama yang dikelola MAPA yakni Camper, Birkenstock, Dr. Martens dan Staccato. Termasuk di dalamnya jaringan ritel multibrand MAPA yakni Payless dan Ogaan, serta gerai berkonsep mono-brand dari sejumlah brand tertentu; 3) Lini usaha Kids, jaringan bisnis produk anak-anak meliputi pakaian, mainan dan alat-alat pendidikan yang ditawarkan melalui portfolio brand yang dikelola MAPA, termasuk Hasbro, Lego, OshKoshB’gosh, Crocs.

Yang menarik dari MAPA memang penawaran between premium dan value. MAPA menawarkan lebih dari 150 world-class brand dan termasuk di dalamnya 40+ exclusive brands yang bekerja sama dengan perusahaan, dan telah berekspansi ke Vietnam, Thailand dan Filipina. Sebagai informasi tambahan, MAPA ini sebenarnya merupakan “daging” dari MAPI sebagai holding company, di mana contributor terbesar pendapatan MAPI adalah datang dari lini bisnis MAPA.

Kinerja Keuangan Profitabilitas

Pada Q2 2020, MAPA mencatatkan perolehan pendapatan tertinggi sejak pandemic 2020 dalam 1 kuartal, di level Rp 1.6 triliun. Pencapaian pendapatan secara quarterly ini bisa dikatakan yang terbaik sejak awal PSBB jilid pertama di Q2 2020 lalu, yang mengharuskan hampir semua pusat perbelanjaan ditutup. Seiring dengan mobilitas yang kembali

(4)

berjalan hingga Q2 2020 kemarin, MAPA kembali mendekati kinerja pendapatan seperti level pra-pandemi.

Jika kita akumulasikan pendapatan di Q1 dan Q2 tahun 2021 ini, MAPA sudah mencapai pendapatan Rp 2.87 triliun, bertumbuh 35% YoY jika dibandingkan dengan pendapatan akumulatif Rp 2.12 triliun hingga Q2 2020 lalu. Hampir semua lini bisnis baik Kids, Leisure, dan Sports bertumbuh di tahun 2021 ini.

However, meskipun penjualan di Q3 2021 nanti mungkin akan terhambat karena PPKM darurat, namun please keep in mind bahwa pendapatan MAPA masih memiliki potensi sangat besar ke depannya. Sampai dengan tahun 2021 ini, penjualan di luar Indonesia “baru” berkontribusi sekitar 15% dari total penjualan MAPA – padahal total target konsumen kurang lebih sebesar populasi Indonesia di angka 270-280 juta penduduk. Artinya, MAPA masih memiliki potensi pertumbuhan yang atraktif mengingat banyak kalangan masyarakat yang belum terpenetrasi oleh MAPA di luar Indonesia.

Untuk kembali mengingatkan kepada Anda, MAPA memang baru melakukan IPO di tahun 2017 dan tergolong baru di pasar modal Indonesia. Tetapi kinerja MAPA sendiri sudah meningkat hampir 50% dari 2017-2019 (Dan peningkatan laba bersih >2x lipat dalam periode yang sama) – pencapaian luar biasa dalam dunia retail di Indonesia. Penurunan penjualan di tahun 2020 yang terjadi karena Covid-19 pun merupakan peristiwa unprecedented¸ dan akan meninggalkan dampak yang dalam bagi perusahaan retail seperti MAPA.

Peningkatan pendapatan ini juga dibarengi dengan peningkatan laba kotor MAPA, di mana laba kotor MAPA sampai dengan Q2 2021 ini meningkat 46% YoY dari Rp 846.06 miliar menjadi Rp 1.24 triliun. Gross Profit Margin MAPA juga kembali meningkat dari sebelumnya 40.0% di 2020 menjadi 43.2% di Q2 2021. Hal yang menarik untuk dicermati adalah jika di per Q2 2020 lalu, MAPA mencatatkan rugi operasi Rp 100.1 miliar, per Q2 2021 ini MAPA sudah kembali membukukan laba operasi Rp 189.3 miliar.

(5)

Yang menarik adalah, meskipun memang kinerja penjualan MAPA masih belum kembali ke level pre-covid, tetapi laba bersih MAPA sudah mencatatkan peningkatan yang ciamik pada 2Q21 ini ke level Rp 99 miliar secara kuartalan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan perolehan laba bersih di 1Q20 sebesar Rp 5 miliar – ataupun perolehan rugi bersih di 2Q20 sebesar Rp 147 miliar.

Pencapaian laba bersih secara kuartalan memang belum menyamai level pre-covid, di mana MAPA bisa mencetak laba bersih > 150 miliar per kuartal. Tetapi kami melihat fundamental bisnis MAPA yang sangat kuat, serta presence brand-brand yang berada di naungan MAPA menjadi salah satu competitive advantage MAPA yang sulit digantikan atau dilawan oleh brand lainnya.

Jika diakumulasikan antara laba bersih di Q1 2021 dan Q2 2021, MAPA sudah membukukan laba bersih Rp 104.2 miliar. Pencapaian ini sudah jauh lebih baik ketimbang per Q2 2020 lalu yang masih mencatatkan rugi bersih Rp 83.6 miliar. Kembali lagi, please expect bahwa laba bersih MAPA di Q3 2021 nanti akan sedikit tertahan dengan adanya PPKM Darurat yang diberlakukan sejak awal Juli. Namun gambaran kinerja di atas memperlihatkan bahwa begitu mobilitas kembali bergulir, MAPA bisa dengan cepat recovery.

On top of that, MAPA memiliki rencana untuk meningkatkan keberadaan dan kapabilitas perusahaan dari sisi semua lini penjualan dan sampai ke supply chain-nya juga.

Misalnya dari sisi offline sales, MAPA akan membuat MAP Group Stores – yang sebelumnya MAPA mendirikan store satu per satu per brand, akan dibuat yang baru di mana

(6)

Dari sisi online sales, MAPA juga cukup aktif dalam melakukan penjualan via e-commerce dengan mendaftarkan brand-brandnya ke dalam e-commerce dan juga marketplace (mungkin Anda juga pernah membeli brand MAPA di e-commerce).

Dan terakhir, MAPA juga akan meningkatkan pemanfaatan digital data dan kualitas dari logistics untuk dapat meningkatkan kinerja perusahaan. Beberapa strategi digital data yang direncanakan seperti CRM/Loyalty, product planning, sampai dengan memanfaatkan AI Planning untuk melakukan promosi ke customer. Selain itu, logistics juga ditekankan – terutama dari system automasi, coverage wilayah pengiriman dan juga kecepatan pengiriman produk.

Arus Kas

Sebagai bisnis yang memiliki turnover product yang tinggi, penutupan toko karena pembatasan sosial dapat mempengaruhi arus kas perusahaan seperti yang terjadi pada tahun 2020 lalu (lihat OCF negatif yang terjadi pada Q1 dan Q2 2020 lalu). Seiring dengan mobilitas yang kembali bergulir, per 2Q21 ini kembali MAPA mampu membukukan OCF positif sebesar Rp 151 miliar. Jika diakumulasi antara Q1 dan Q2 2021, MAPA mampu mencetak arus kas operasi Rp 106.9 miliar, sudah jauh lebih baik ketimbang OCF Negatif Rp 217.2 miliar per Q2 2020 lalu. Anda perlu ingat bahwa sebelum pandemic, MAPA juga dikenal sebagai pencetak nilai tunai operasi yang sangat baik, di mana MAPA mampu mencetak arus kas operasi Rp 500 – 800 miliar per tahunnya.

Dari sisi ICF, terlihat bahwa MAPA masih menahan diri untuk berekspansi. Di mana hingga Q2 2021 ini, MAPA “hanya” mengeluarkan dana sekitar Rp 39 miliar untuk investasi. Bandingkan secara historis, MAPA mengeluarkan dana untuk investasi Rp 180 – 300 miliar setiap tahunnya. Menurut kami ini juga langkah yang bijak, mengingat ketidakpastian masih cukup besar. Investasi yang dilakukan MAPA dalam beberapa kuartal terakhir bukan ditujukan untuk membuka gerai2 offline, melainkan lebih ditujukan untuk penetrasi ke digital.

(7)

MAPA hampir selalu mencetak Free Cash Flow, kecuali di tahun 2020 saat pandemic. Sehingga tidak heran jika MAPA konsisten dalam membayarkan hutang.

FCF MAPA pada 2Q21 juga tercatat negatif sebesar Rp 141 miliar – menandai FCF negatif dalam 4 kuartal berturut-turut. Meskipun MAPA sempat mengambil tambahan pinjaman pada 1Q-2Q20 karena Covid-19, namun mayoritas dari utang tersebut udah dibayarkan dalam 4 kuartal terakhir.

Kesehatan Keuangan

Karena pembayaran hutang selama beberapa kuartal terakhir, posisi cash MAPA memang turun ke Rp 413 miliar pada 2Q21. Memang terlihat menurun misalkan dibandingkan dengan saat Q1 2020 yang sebesar Rp 740 miliar. Namun ingat bahwa peningkatan kas di 1Q-2Q20 terjadi karena adanya pengambilan utang baru, untuk menjaga likuiditas (lihat kembali grafik FCF di atas).

Meskipun demikian, kami melihat level kemampuan membayar utang MAPA dalam jangka pendek masih cukup baik. Jumlah cash sebesar Rp 413 miliar tadi, jika dibandingkan dengan liabilitas jangka pendek Rp 1.74 triliun, merepresentasikan Cash Ratio (CR) 0.2x. Belum terlalu ideal tapi tidak terlalu jelek juga. Tetapi jangan lupa, MAPA masih memiliki sejumlah asset lancar lain, yang jika dijumlahkan asset lancarnya mencapai Rp 3.50 triliun. Jika dibandingkan dengan liabilitas jangka pendek Rp 1.74 triliun, maka merepresentasikan Liquidity Ratio (LR) di 1.9x, yang berarti bahwa MAPA masih mampu membayar sampai 1.9x lipat utang jangka pendeknya.

(8)

Dalam jangka yang lebih panjang, kemampuan MAPA membayarkan seluruh hutangnya bahkan lebih baik. Jumlah liabilitas yang saat ini sebesar Rp 2.29 triliun, masih di bawah ekuitas yang sebesar Rp 3.08 triliun (Debt to Equity Ratio : 0.8x).

Nah yang menariknya adalah, dari jumlah liabilitas yang dimiliki, mayoritas merupakan hutang tidak berbunga. Sehingga Net Gearing Ratio (NGR) MAPA hanya di 0.1x.

Kami melihat Langkah yang dilakukan manajemen terkait pengambilan hutang sebagai dua hal: 1) MAPA mengambil langkah preventif pada 1Q20 dengan mengambil pinjaman, dan 2) MAPA mampu mengelola utangnya dengan sangat baik setelah pengambilan utang tadi dan tidak agresif menggunakannya.

Prospek Perusahaan ke Depan

Pertama, MAPA terapkan strategi digital unified retail. Salah satu strategi MAPA yang diterapkan melalui platform penjualan online, rupanya berdampak positif pada pertumbuhan kinerja MAPA. Apalagi dalam penerapannya, strategi digital unified retail ini bertujuan menyasar konsumen sesuai dengan kenyamanannya, baik itu online maupun offline. Menariknya dengan strategi ini, MAPA mengalami perbaikan penjualan yang cukup baik di pasar domestik Indonesia. Ditambah lagi dengan momentum Lebaran 2021 kemarin yang membuat sejumlah peluncuran produk MAPA ternama berhasil mendapatkan momen full price nya. Sebagai gambarannya, penjualan MAPA secara online secara keseluruhan mengalami peningkatan : 1. Untuk penjualan digital MAPA mencapai lebih 12% per kuartal II-2021, dan tidak lepas dari investasi MAPA pada produk ternama seperti Skechers, New Balance, dan Crocs; 2. Untuk penjualan melalui platform marketplace juga tumbuh lebih dari 30% per kuartal II-2021.

Kedua, MAPA fokus bangun anggota program loyalty. Adapun untuk ke depannya, MAPA masih akan terus fokus mengembangkan dan meningkatkan kesiapan program loyalty yang rencananya akan

(9)

diluncurkan pada kuartal I-2022 mendatang. Program loyalty ini merupakan bagian upaya MAPA dalam memperbaiki fungsi analisis data produk, dengan harapan dapat memudahkan alokasi produk-produk baru untuk dipasarkan di setiap gerai MAPA.

Ketiga, MAPA juga masih akan melakukan investasi pada merek ataupun konsep ritel baru. Investasi MAPA ini dimaksudkan agar dapat dimanfaatkan sebaik mungkin di seluruh platform unified retail baik itu dari penjualan online maupun offline. Dengan harapannya semakin meningkatnya investasi MAPA di banyak merek ternama lainnya, maka secara tidak langsung dapat mengoptimalkan tingkat kunjungan konsumen. Apalagi MAPA memiliki peluang ekspansi regional dengan sejumlah brand partner terpilih yang akan tetap menjadi prioritas perusahaan.

Keempat, MAPA juga akan konsisten membangun investasi digital. Bercermin dari kondisi pandemi Covid19, rupanya MAPA banyak belajar dan berkomitmen akan terus membangun bisnis perusahaan dari sisi perspektif jangka panjang. Adapun salah satu rencana MAPA adalah untuk menyatukan gerai dan situs e-Commerce miliknya yang sedang berjalan saat ini.

Kelima, MAPA mempunyai kontribusi pendapatan dari anak usaha baru di Filipina, Thailand, dan Vietnam. Keberadaan anak usaha MAPA di luar negeri, memberikan keuntungan tersendiri bagi kinerja pendapatan perseroan. Apalagi keberadaan anak usaha MAPA di pasar internasiol ini terletak di posisi yang strategis dengan merek-merek yang diminati dan jaringan yang mudah dijangkau.

Faktor Risiko yang Perlu Diwaspadai

Pertama, MAPA sangat rentan atas pembatasan ketat di sektor ritel akibat diterapkannya PPKM. Kebijakan pemerintah atas penerapan PPKM yang berlanjut sampai saat ini, setidaknya cukup berisiko bagi MAPA, khususnya untuk sejumlah gerai offline nya yang mungkin akan mencatatkan penurunan kunjungan dan penjualan. Apalagi penerapan PPKM memberlakukan pembatasan jam operasional maksimum di pusat-pusat perbelanjaan. Dikhawatirkan hal ini dapat menghambat kinerja MAPA secara topline pada kuartal berikutnya. Apabila dilihat berdasarkan wilayah, maka mayoritas penjualan MAPA yang sebagian besar masih ditopang oleh Pulau Jawa bisa saja terseret turun, disusul dengan beberapa wilayah besar yang juga menerapkan PPKM.

(10)

Kedua, risiko keterlambatan pengiriman/distribusi ke gerai-gerai. Risiko keterlambatan ini bisa saja terjadi, sedikit flashback MAPA pernah terkendala dalam keterlambatan pengiriman hingga menimbulkan issue penutupan di Payless USA pada kuartal I-2018 lalu. Berangkat dari kendala tersebut, MAPA pun hingga kini masih concern memperhatikan kecepatan distribusi baik untuk pasar domestik maupun di luar negeri, khususnya pada nventory agar produk baru bisa terdistribusi dengan cepat.

Valuasi

MAPA sekarang ditransaksikan di harga Rp 1800 per lembar saham dan divaluasikan di PER 24.61x. PER masih bias karena MAPA merupakan salah satu sektor yang terimbas paling besar karena PPKM, karena EPS yang saat ini tercatat Rp 73 / lembar saham belum merepresentasikan kemampuan earnings MAPA yang sebenarnya. Jika kita gunakan level earnings pre-covid sebagai acuan, di mana MAPA mampu mencetak Earnings per Share Rp 243 / lembar, maka harga saat ini merepresentasikan PER 7.8x.

Dari sisi ekuitas, saat ini MAPA divaluasi pada PBV 1.67x. Jika dibandingkan dengan ROE saat ini 6.8% mungkin akan terlihat mahal. Namun jika kita bandingkan dengan kemampuan ROE pre-covid yang sebesar 22.7%, maka valuasi PBV masih terbilang murah. Bahkan PBV MAPA sebelumnya sempat diapresiasi pasar mencapai > 4x.

Jika menggunakan kinerja saat ini, maka MAPA memang masuk dalam kategori overvalued. Oleh karena nya, kita menghitung nilai intrinsic MAPA dengan memberikan asumsi bahwa kinerjanya dapat kembali seperti sebelum pandemic. Dengan asumsi kinerjanya bisa kembali seperti 2019, maka nilai intrinsic nya berada di kisaran Rp 3000 – 3200 per lembar saham—di mana dengan harga sekarang MAPA masih memberikan margin of safety sebesar 40%.

Harga Wajar* Range Buy Margin of Safety Kinerja

Rp 3000 – 3200 < Rp 2000 40% B+

Referensi

Dokumen terkait

Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan jiwa, yakni tingkat baru kesadaran yang bertumpu pada bagian dalam diri yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau

diri kita untuk tidak mudah puas terhadap sesuatu yang dicapai, sehingga dapat mengembangkan kemampuan, bekerja dengan manajemen waktu untuk mencapai tujuan dan

&amp;emudian, persoalan yang selalu menjadi pertanyaan adalah tiap berapa kilometer oli harus diganti. al ini sangatlah tergantung kepada umur serta kondisi mesin kendaraan,

SESUNGGUHNYA AL MASIH, ISA PUTERA MARYAM ITU, ADALAH UTUSAN ALLAH DAN (YANG DICIPTAKAN DENGAN) KALIMAT-NYA[384] YANG DISAMPAIKAN-NYA KEPADA MARYAM, DAN (DENGAN TIUPAN) ROH

Hasil evaluasi juga bisa digunakan untuk mengetahui apakah materi yang diajarkan telah tepat bagi siswa atau tidak, sehingga bisa dijadikan pedoman pada

Berdasarkan penjajakan awal di sekolah yang saya lakukan pada tanggal 20 Mei 2019 di Madrasah Islamiyah Darussalamah Bangun Jaya Martapura dengan mewawancarai salah satu guru

Berdasarkan hasil percobaan diperoleh hasil bahwa selai cokelat yang diolah dari biji kakao tanpa fermentasi(pengeringan) yang disangrai lebih bagus mutunya dibanding

Metode Multi Soil Layering (MSL) dapat digunakan sebagai metode alternatif dalam pengolahan limbah cair industri tekstil, yang ditunjukkan dengan penurunan nilai BOD