Biltek Vol. 4, No. 005 Tahun 2015 – Sekolah Tinggi Teknik Harapan 1
IDENTIFIKASI PERSEPSI PELANGGAN UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PRODUK MINYAK GORENG BIMOLI DENGAN
MENGGUNAKAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT PADA PT. SALIM IVOMAS PRATAMA LUBUK PAKAM
Rahmat Syahputra1), Farida Ariani Daulay2)
1)Mahasiswa Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinngi Teknik Harapan
2)Staf Pengajar Jurusan Teknik Industri Sekolah Tinngi Teknik Harapan
Abstrak
Penelitian ini memfokuskan pada identifikasi persepsi pelanggan terhadap produk minyak goreng bimoli.
Metode yang digunakan untuk mengenali, menganalisa dan menentukan tingkat persaingan menggunanakan Quality Function Deployment (QFD) yang diawali dengan mengetahui atribut-atribut produk minyak goreng yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan, Menentukan tingkat kepentingan dan kepuasan masing-masing atribut produk bagi pelanggan, Mengurutkan prioritas atribut produk yang harus dikembangkan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Dari hasil analisis QFD diperoleh atribut- atribut produk minyak goreng yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan berdasarkan hasil diskusi antara pihak produksi dan sales diperoleh 18 atribut yaitu: aroma, warna, komposisi, ketahanan terserap makanan, penambahan vitamin, kejernihan, adanya ijin BPOM, logo merek, logo halal, logo SNI, bentuk kemasan, desain kemasan, informasi nilai gizi, resep masakan, kode kadaluarsa, nomor layanan konsumen, ukuran kemasan dan harga jual. Tingkat kepentingan paling tertinggi adalah Aroma dan terendah adalah komposisi sedangkan tingkat kepuasan tertinggi dari produk bimoli adalah ukuran kemasan dan terendah kejernihan, produk sania tertinggi nomor layanan konsumen dan terendah ukuran kemasan, produk filma tertinggi harga jual dan terendah logo SNI, produk avena tertinggi aroma dan terendah harga jual dan Prioritas atribut yang harus dikembangkan yaitu: Adanya logo merek, adanya ijin BPOM, aroma, kode kadaluarsa, nomor layanan konsumen, warna dan ukuran kemasan.
Kata-kata kunci: Kepentingan dan kepuasan konsumen, Quality Function Deployment, house of Quality
Abstract
This study focuses on the identification of customers' perception of product bimoli oil addition the company. The method used to identify, analyze and determine the level of competition with Quality Function Deployment (QFD) that begins with knowing the attributes of cooking oil products which affects customer satisfaction, Determining the level of importance and satisfaction of each attribute of the product for the customer, Sorting priority attribute products should be developed to enhance customer satisfaction. QFD analysis results obtained from the attributes of cooking oil products which affects customer satisfaction based on the discussion between the production and sales gained 18 attributes are:
flavour, color, composition, resilience absorbed foods, the addition of vitamins, clarity, presence of FDA approval, the brand logo , halal logo, the logo of SNI, the form of packaging, packaging design, information nutritional values, recipes, expired codes, customer service number, the size of the packaging and sale price. The highest level of importance is the flavour and composition while the lowest is the highest level of satisfaction of the product In addition the company is the lowest package size and clarity, product sania highest and lowest number of consumer service package sizes, product Filma highest and lowest selling prices SNI logo, products and flavour highest avena lowest selling price and Priority attributes that should be developed are: the existence of the brand logo, the permission FDA, flavour, expired codes, customer service number, color and size of the packaging.
Keywords: Interest and customer satisfaction, Quality Function Deployment, House of Quality
1. Pendahuluan
Sejalan dengan berkembangnya dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat menyebabkan perusahaan sebagai industri yang menghasilkan produk saling bersaing dalam meningkatkan kulitas produk untuk memberikan kepuasan kepada konsumennya. Adanya persaingan antara perusahaan tersebut maka diperlukan usaha untuk memenuhi apa yang menjadi kebutuhan konsumen sehingga konsumen memperoleh kepuasan atas produk yang dikonsumsinya. Secara sederhana, kepuasan adalah perasaan atau keadaan seseorang dimana persepsinya terhadap suatu produk atau jasa tertentu yang telah sesuai dengan harapannya terhadap suatu produk atau jasa tersebut. Jika persepsi konsumen terhadap suatu produk tadi melebihi apa yang diharapkan, tentu saja konsumen sangat puas, akan tetapi jika persepsi konsumen berada dibawah tingkat yang diharapkan, tentu saja konsumen tidak puas atau sangat kecewa.
Industri yang menghasilkan suatu produk menuntut masalah kualitas produk bukanlah hal baru. Apalagi persaingan antara perusahaan sejenis di Sumatera Utara khususnya Lubuk Pakam sangatlah tinggi. Kecenderungan saat ini yaitu konsumen lebih selektif terhadap jenis produk yang dikonsumsinya, sesuai dengan tingkat kepuasannya terhadap kualitas produk tersebut. Hal tersebut menunjukkan kebutuhan akan produk yang berkualitas sangatlah tinggi, untuk meningkatkan produk yang berkualitas tidak mungkin hanya mengandalkan spesifikasi produk yang ada diperusahaan, melainkan harus adanya perhatian khusus dari perusahaan
terhadap tingkat kepentingan dan kepuasan pelanggan sebagai pengguna produk.
Perusahaan harus meningkatkan mutu produknya untuk dapat memberikan kepuasan pada konsumen. Apalagi konsumen semakin kritis terhadap kualitas produk baik karena tingkat pendidikan yang meningkat, pengaruh media, maupun pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Produk yang berkualitas merupakan faktor utama bagi konsumen untuk memilih produk.
Perlu dilakukan analisis tentang kepentingan konsumen terhadap atribut- atribut yang menyertai kualitas produk dan bagaimana kinerja dari perusahaan dalam usaha memenuhi harapan konsumen sehingga konsumen merasa puas. Sehingga perusahaan tersebut akan tetap dalam kondisi persaingan bahkan dapat menaikkan kondisi persaingan pasar.
Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbaikan kualitas produk di PT Salim Ivomas Pratama.
Dengan menganalisis tingkat kepentingan/harapan konsumen dan tingkat kepuasan atas produk minyak goreng yang digunakan konsumen.
Melalui metode Quality Function Deployment dapat diketahui atribut apa yang secara prioritas harus diperbaiki untuk memenuhi kepuasan konsumen.
Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan evaluasi bagi perusahaan untuk menentukan strategi- strategi yang berorientasi pada peningkatan kualitas produk dan kepuasan konsumen.
2. Metode Penelitian
QFD adalah metoda perencanaan dan pengembangan struktur produk yang memungkinkan suatu tim pengembangan untuk menentukan dengan jelas kebutuhan dan keinginan konsumen dan kemudian mengevaluasi setiap tujuan produk atau sistematika kemampuan pelayanan dalam kaitannya dengan pengaruhnya terhadap kebutuhan konsumen.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data dibutuhkan meliputi:
a. Data merk minyak goreng yang sering digunakan
b. Data tingkat kepentingan pelanggan c. Data tingkat kepuasan pelanggan
terhadap produk minyak goreng bimoli dan produk kompetitor d. Data tingkat kepuasan yang diharapkan oleh pelanggan
dan metode pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Observasi.
Metode observasi adalah cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara cermat.
2. Wawancara dan diskusi
Metode wawancara adalah cara pengumpulan data dengan bertanya atau berkomunikasi langsung dengan responden. Dalam penelitian ini, penulis melakukan wawancara dan diskusi dengan bagian produksi dan bagian sales.
3. Kuisioner
Metode kuesioner adalah cara pengumpulan data dengan memberikan suatu daftar pertanyaan kepada responden untuk mendapatkan informasi tertentu.
Penelitian ini menggunakan kuesioner dalam survei pelanggan.
Skala yang digunakan dalam
kuesioner menggunakan skala 4 poin dengan meniadakan poin netral/biasa. Skala ini digunakan dengan maksud terutama untuk melihat kecenderungan pendapat responden ke arah penting atau tidak penting dan puas atau tidak puas karena jika tersedia jawaban netral/biasa dapat menimbulkan kecenderungan responden menjawab di tengah terutama bagi responden yang ragu-ragu menjawab.
3. Hasil dan Pembahasan
Pada pengolahan data ini, terdiri dari beberapa tahapan. Dimulai dari uji kecukupan data, uji validitas dan uji reliabilitas, selanjutnya langkah-langkah dalam pengembangan produk berfokus pada persepsi pelanggan ini diawali dengan penentuan atribut kebutuhan konsumen dan survei pendahuluan sebagai input untuk melakukan survei pelanggan. Hasil survei pelanggan akan berfungsi sebagai input dalam proses pengembangan produk dengan metode Quality Function Deployment (QFD).
3.1 Uji Kecukupan Data
Sebelum melakukan penyebaran kuesioner terlebih dahulu dilakukan uji kecukupan data yang berfungsi untuk mengetahui apakah data yang diambil cukup atau tidak untuk mewakili suatu populasi, Perhitungan ini dilakukan untuk mengetahui berapa data minimal yang dibutuhkan. Untuk menentukan jumlah data minimal yang harus diperoleh digunakan perhitungan dengan menggunakan rumus Paul Leedy
Jadi besarnya sampel dengan tingkat kepercayaan 90% dan tingkat kesalahan 10% adalah :
3.2 Uji Validitas
Pengukuran validitas masing-masing kuesioner menggunakan persamaan
Product Moment Pearson. Persamaan tersebut digunakan karena data dari masing-masing kuesioner mempunyai skala interval dan merupakan variabel kontinu.
Perhitungan koefisien validitas dalam penelitian ini menggunakan bantuan program Microsoft Excell 2007. Hasil
perhitungan nilai koefisien validitas telah disajikan pada Lampiran 6 bersamaan dengan rekapitulasi data.
Koefisien validitas yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan nilai r pada Tabel r product moment pada Lampiran 1. Dari tabel r product moment diperoleh bahwa untuk jumlah sampel = 70, taraf kesalahan 1% maka r Tabel = 0,306 dan taraf kesalahan 5%
maka r Tabel = 0,235.
Tabel 1 Hasil Perhitungan Koefisien Validitas Kuesioner
No Atribut
r hitung kuesioner r kritis
Tinkat kepentingan
Tingkat kepuasan konsumen Harapan
konsumen 1% 5%
Bimoli Sania Filma Avena
1 0,336 0,440 0,684 0,496 0,461 0,719 0,306 0,235
2 0,457 0,550 0,580 0,595 0,391 0,577 0,306 0,235
3 0,504 0,598 0,504 0,667 0,419 0,568 0,306 0,235
4 0,646 0,378 0,419 0,409 0,389 0,574 0,306 0,235
5 0,587 0,352 0,381 0,472 0,478 0,587 0,306 0,235
6 0,395 0,587 0,352 0,527 0,529 0,671 0,306 0,235
7 0,435 0,700 0,593 0,674 0,377 0,750 0,306 0,235
8 0,551 0,607 0,653 0,593 0,440 0,716 0,306 0,235
9 0,437 0,379 0,396 0,744 0,498 0,593 0,306 0,235
10 0,422 0,495 0,530 0,545 0,582 0,741 0,306 0,235
11 0,550 0,472 0,386 0,584 0,454 0,631 0,306 0,235
12 0,433 0,555 0,544 0,624 0,562 0,655 0,306 0,235
13 0,355 0,596 0,580 0,615 0,414 0,509 0,306 0,235
14 0,343 0,314 0,461 0,552 0,662 0,682 0,306 0,235
15 0,502 0,608 0,589 0,595 0,650 0,717 0,306 0,235
16 0,347 0,390 0,518 0,506 0,653 0,648 0,306 0,235
17 0,336 0,463 0,422 0,477 0,508 0,593 0,306 0,235
18 0,480 0,371 0,456 0,404 0,530 0,499 0,306 0,235
Berdasar pada hasil perhitungan koefisien validitas kuesioner yang ditampilkan pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa nilai r-hitung untuk tiap atribut dalam tiap kuesionernya tiap masing- masing lebih besar dari nilai r-kritis
sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kuesioner tersebut valid.
Kuesioner yang valid menunjukkan bahwa data yang dihasilkan dari kuesioner dapat menggambarkan tujuan sampel
n n
n kepercayaa tingkat
pada x Z
n
E
p p n Z
70 24 , 67
% 90 64
, 1 2 / ) ,
1 , 0 (
) 5 , 0 1 ( 5 , 0 ) 64 , 1 (
) (
) 1 ( ) 2 (
2 2
2 2
yang ingin dicapai dan dapat digunakan untuk pengolahan selanjutnya.
3.3 Uji Reliabilitas
Atribut yang telah dinyatakan valid kemudian dilakukan uji reliabilitas. Uji reliabilitas kuesioner dalam penelitian ini dinyatakan dalam koefisien cronbach alpha. Perhitungan koefisien alpha dalam penelitian ini menggunakan bantuan program microsoft excell 2007. Diperoleh nilai dari koefisien alpha 0.795 dari keseluruhan kuesioner kepentingan pelanggan, 0.778 dari keseluruhan kuesioner kepuasan pelanggan bimoli, 0.826 dari keseluruhan kuesioner kepuasan sania, 0.845 dari keseluruhan kuesioner kepuasan pelanggan filma, 0.780 dari keseluruhan kuesioner kepuasan pelanggan avena, 0.862 dari keseluruhan kuesioner tingkat harapan pelanggan, dan semua hasil kuesioner lebih besar dari nilai alpha 0.60.
Hasil pengujian validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa data yang terkumpul dari kuesioner merupakan data yang valid dan reliabel sehingga data dapat dipercaya kebenarannya dan dapat digunakan untuk pengolahan data selanjutnya.
3.4 Nilai Kepentingan
Pengolahan data hasil kuesioner dengan menghitung nilai rata-rata dengan menggunakan persamaan (3.5). Dalam proses pengolahan data ini digunakan bantuan software Microsoft excel 2007.
Tabel 5.3 menampilkan hasil perhitungan mean tiap-tiap atribut.
Nilai kepentingan menunjukkan kontribusi peran dari masing-masing atribut terhadap kepuasan pelanggan.
Dari data hasil survei, diperoleh bahwa tingkat kepentingan tertinggi adalah aroma.
Hasil perhitungan mean pada kuesioner 1 menunjukkan bahwa dari delapan belas atribut ada sepuluh atribut yang penting (nilai mean lebih besar atau sama dengan 3). Atribut yang penting adalah aroma, warna, adanya ijin BPOM, logo merk, logo halal, Resep masakan, kode kadaluarsa, nomor layanan konsumen, ukuran kemasan dan tingkat harga.
Nilai kepuasan pelanggan terhadap produk saat ini ditetapkan sebagai performansi awal. Sedangkan hasil dari kuesioner ketiga menunjukkan nilai kepuasan yang diharapkan yang akan menjadi nilai goal masing-masing atribut.
Tabel 2 Hasil Perhitungan Mean Kuesioner 1, 2 dan 3
No Atribut
Kuesioner 1 Kuesioner 2
Tingkat
Kepentingan Bimoli Sania Filma Avena Harapan
1 Aroma 3,90 3,16 3,24 3,14 3,43 3,61
2 Warna 3,29 2,27 3,01 2,64 3,10 3,24
3 Komposisi 2,40 2,46 2,94 2,86 3,23 2,97
4 Ketahanan terserap
makanan 2,43 2,96 2,90 2,90 3,14 2,97
5 Penambahan
Vitamin 2,60 2,74 2,83 2,80 2,87 3,03
No Atribut
Kuesioner 1 Kuesioner 2
Tingkat
Kepentingan Bimoli Sania Filma Avena Harapan
6 Kejernihan 2,49 2,24 2,91 2,76 2,87 3,13 7 Adanya ijin
BPOM 3,77 2,87 3,01 2,76 2,99 3,40
8 Adanya logo merk 3,57 2,73 2,94 2,69 2,96 3,47
9 Adanya logo halal 3,01 2,94 3,09 2,63 2,93 3,14
10 Adanya logo SNI 2,87 2,69 2,83 2,46 2,83 3,04
11 Bentuk kemasan 2,90 2,53 2,89 2,69 2,99 2,93
12 Desain kemasan 2,73 2,67 2,93 2,90 2,90 2,97
13 Informasi nilai gizi 2,59 2,89 2,97 2,86 2,90 2,96
14 Resep masakan 3,20 2,96 3,17 2,96 3,23 3,13
15 Kode kadaluarsa 3,53 2,67 3,17 3,09 3,27 3,23
16 Nomor layanan
konsumen 3,76 3,31 3,27 3,27 3,31 3,43
17 Ukuran Kemasan 3,57 3,37 2,67 2,37 2,70 3,26
18 Harga jual 3,20 2,71 2,89 3,29 2,76 3,33
3.5 Quality Function Deployment (QFD)
3.5.1 Memasukkan Data Kebutuhan Pelanggan
Atribut kebutuhan pelanggan dimasukkan pada bagian kolom customer requirements. Berdasar hasil langkah penelitian sebelumnya ditetapkan ada delapan belas atribut produk yang berpengaruh pada kepuasan pelanggan.
3.5.2 Memasukkan Nilai Hasil Survei Nilai kepentingan kemasan produk minyak goreng dari hasil survei pelanggan dimasukkan pada kolom planning matrix.
3.5.3 Penentuan Technical Relations Penentuan technical relations dilakukan dengan wawancara dengan bagian produksi perusahaan dan studi literatur.
Tabel 3 menampilkan hasil penentuan technical relations.
Tabel 3 Daftar Technical Relations
No Atribut Produk Technical Relations
1 Aroma Penambahan bahan tambahan
2 Warna Penambahan bahan penolong
3 Komposisi Penambahan bahan tambahan
Peraturan BPOM
4 Ketahanan terserap makanan Penambahan bahan penolong Pengadaan alat pengujian 5 Penambahan vitamin Penambahan bahan tambahan
Pengadaan alat pengujian
6 Kejernihan Penambahan bahan penolong
Pengadaan filling filter
7 Adanya ijin BPOM Peraturan BPOM
8 Adanya logo merk Peraturan BPOM
9 Adanya logo halal Peraturan MUI
No Atribut Produk Technical Relations
10 Adanya logo SNI Peraturan BPOM
11 Bentuk kemasan Biaya tenaga kerja
Suplier kemasan
Mesin baru
12 Desain kemasan Suplier kemasan
13 Informasi nilai gizi Suplier kemasan
Pengadaan alat pengujian
14 Resep masakan Suplier kemasan
15 Kode kadaluarsa Aturan BPOM
16 Nomor layanan konsumen Aturan BPOM
17 Ukuran kemasan Suplier kemasan
Biaya tenaga kerja
18 Harga jual Penambahan bahan tambahan
Penambahan bahan penolong Pengadaan alat pengujian Pengadaan filling filter Biaya tenaga kerja Mesin baru
Biaya manufacturing overhead
3.5.4 Penentuan Direction Of Goodness Penentuan direction of goodness ditentukan sekaligus pada saat wawancara dan diskusi mengenai
technical relations. Tabel 4 menampilkan direction of goodness masing-masing atribut.
Tabel 4 Direction Of Goodness
Technical requirements Direction of goodness Symbol Penambahan bahan tambahan Target is the best
Penambahan bahan penolong Target is the best
Peraturan BPOM More is better
Peraturan MUI More is better
Pengadaan alat pegujian Target is the best Pengadaan filling filter More is better
Biaya tenaga kerja Less is better Suplier kemasan baru Target is the best
Mesin baru Less is better
Biaya manufacturing overhead Less is better 3.5.5 Mengisi Kolom Interrelationship
Matrix Dan Correlation Matrix
Kolom interrelationship matrix menunjukkan hubungan antara customer requirements dan technical requirements. Nilai hubungan mengikuti aturan impact symbol di Tabel 4. Hubungan ini ditentukan dengan wawancara dengan bagian produksi.
Kolom correlation matrix menunjukkan hubungan antar technical requirements, apakah saling mendukung atau ada konflik. Penentuan hubungan ini ditentukan juga dengan wawancara dengan bagian produksi.
3.5.6 Penghitungan Improvement Ratio Nilai improvement ratio menunjukkan perbandingan antara tingkat kepuasan
yang diharapkan pelanggan dengan tingkat kepuasan yang dimiliki produk sekarang. Besarnya nilai improvement ratio menunjukkan besarnya tingkat perubahan yang harus dilakukan.
Berdasar skala (Shilito,1994), dipaparkan di sub bab III.11, maka untuk menentukan interval kelas dapat dicari mediannya:
a. Untuk 1,00 dan 1,20 mediannya 1,10
b. Untuk 1,20 dan 1,50 mediannya 1,35 Sehingga interval kelas ditentukan sebagai berikut:
a. 1,00 - 1,10 untuk perbaikan mudah b. 1,11 – 1,35 untuk perbaikan sedang c. lebih dari 1,36 untuk perbaikan sulit
Daftar atribut dengan nilai improvement ratio dari tinggi ke rendah ditampilkan pada Tabel 5.
Tabel 5 Urutan nilai improvement ratio
Peringkat Atribut Improvement ratio Tingkat
Perubahan
1 Warna 1.43 Sulit
2 Kejernihan 1.40 Sulit
3 Adanya logo merek 1.27 Sedang
4 Harga jual 1.23 Sedang
5 Komposisi 1.21 Sedang
6 Kode kadaluarsa 1.21 Sedang
7 Adanya ijin BPOM 1.18 Sedang
8 Bentuk kemasan 1.16 Sedang
9 Aroma 1.14 Sedang
10 Adanya logo SNI 1.13 Sedang
11 Desain kemasan 1.11 Mudah
12 Penambahan vitamin 1.10 Mudah
13 Adanya logo halal 1.07 Mudah
14 Resep masakan 1.05 Mudah
15 Nomor layanan konsumen 1.04 Mudah
16 Informasi nilai gizi 1.03 Mudah
17 Ketahanan terserap makanan 1.00 Mudah
18 Ukuran kemasan 0.97 Tidak perlu
Berdasar data pada Tabel 5 dapat dilihat bahwa ada dua atribut yang tingkat perubahannya sulit, delapan atribut dengan tingkat perubahan sedang, tujuh atribut dengan tingkat perubahan mudah dan satu atribut tidak perlu ada perubahan
3.5.7 Penentuan Sales Point
Penentuan sales point ditentukan dengan dasar nilai tingkat kepentingan.
Nilai tingkat kepentingan dibagi menjadi tiga kelas. Sales point sangat berhubungan dengan tingkat
kepentingan pelanggan. Penentuan panjang interval kelas (p) akan ditentukan dengan persamaan
s jumlahkela
range
p ( 5.1 )
min nilai nilaimaks range
( 5.2 )
Nilai maksimum pada tingkat kepentingan adalah 3,90 sedangkan nilai terendah adalah 2,23. Sehingga dengan persamaan ( 2 ) diperoleh nilai
range adalah 1,67. Dengan persamaan (1), nilai range 1,67 dan jumlah kelas 3 maka diperoleh nilai p adalah 0,56.
Sehingga diperoleh interval seperti ditampilkan dalam Tabel 6.
Tabel 6 Interval Kelas SalesPoint
Interval Kelas Point Arti
2,23-2,785 1 Tidak pengaruh
2,790-3,345 1,2 Berpengaruh
3,350-3,900 1,5 Pengaruh kuat
Urutan Sales point untuk masing-masing atribut ditampilkan pada Tabel 7.
Tabel 7 Urutan Sales point
Atribut Produk Tingkat
Kepentingan
Sales Point
Aroma 3,9 1,5
Adanya ijin BPOM 3,77 1,5
Nomor layanan konsumen 3,76 1,5
Adanya logo merek 3,57 1,5
Ukuran kemasan 3,57 1,5
Kode kadaluarsa 3,53 1,5
Warna 3,29 1,2
Resep masakan 3,20 1,2
Harga jual 3,20 1,2
Adanya logo halal 3,01 1,2
Bentuk kemasan 2,90 1,2
Adanya logo SNI 2,87 1,2
Desain kemasan 2,73 1
Penambahan vitamin 2,6 1
Informasi nilai gizi 2,59 1
Kejernihan 2,49 1
Ketahanan terserap makanan 2,43 1
Komposisi 2,40 1
3.5.8 Penghitungan Raw Weight
Penghitungan raw weight dengan menggunakan persamaan (3.8).
Kemudian dilanjutkan dengan perhitungan normalized raw weight dengan persamaan (3.9). Nilai raw weight diperoleh dari perkalian tiga komponen yaitu tingkat kepentingan, improvement ratio dan sales point. Nilai
raw weight dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan atribut produk yang harus dikembangkan karena komponen yang ada di dalamnya cukup menyeluruh. Semakin tinggi nilai maka atribut tersebut mendapatkan prioritas yang lebih utama. Urutan atribut dengan nilai raw weight tinggi ke rendah ditampilkan pada Tabel 8.
Tabel 5.9 Urutan raw weight
Peringkat Atribut Raw
Weight
Normalized Raw Weight
1 Adanya logo merek 6.80 8.38
2 Adanya ijin BPOM 6.67 8.22
3 Aroma 6.67 8.22
4 Kode kadaluarsa 6.41 7.90
5 Nomor layanan konsumen 5.87 7.23
6 Warna 5.65 6.96
7 Ukuran kemasan 5.19 6.39
8 Harga jual 4.72 5.81
9 Bentuk kemasan 4.04 4.98
10 Resep masakan 4.03 4.96
11 Adanya logo SNI 3.89 4.79
12 Adanya logo halal 3.86 4.75
13 Kejernihan 3.49 4.30
14 Desain kemasan 3.03 3.73
15 Komposisi 2.90 3.57
16 Penambahan vitamin 2.86 3.52
17 Informasi nilai gizi 2.67 3.29
18 Ketahanan terserap makanan 2.43 2.99
Hasil pembuatan HoQ dapat dilihat pada Gambar 3.1. Dari matrik HoQ maka akan dilihat kebutuhan teknis yang berkaitan dengan masing-masing atribut produk yang mempengaruhi
kepuasan pelanggan. matrik HoQ juga menunjukkan posisi produk terhadap produk kompetitor. Selain itu, HoQ juga bisa menunjukkan prioritas atribut dari raw weight
4. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan penelitian serta analisa dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Atribut-atribut produk minyak goreng yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan berdasarkan hasil diskusi antara pihak produksi dan sales diperoleh 18 atribut yaitu:
aroma, warna, komposisi, ketahanan terserap makanan, penambahan vitamin, kejernihan, adanya ijin BPOM, logo merek, logo halal, logo SNI, bentuk kemasan, desain kemasan, informasi nilai gizi, resep masakan, kode kadaluarsa, nomor layanan konsumen, ukuran kemasan dan harga jual.
2. Tingkat kepentingan paling tertinggi adalah Aroma dan terendah adalah komposisi sedangkan tingkat kepuasan tertinggi dari produk bimoli adalah ukuran kemasan dan terendah kejernihan, produk sania tertinggi nomor layanan konsumen dan terendah ukuran kemasan, produk filma tertinggi harga jual dan terendah logo SNI, produk avena tertinggi aroma dan terendah harga jual.
3. Prioritas atribut yang harus dikembangkan yaitu: Adanya logo merek, adanya ijin BPOM, aroma, kode kadaluarsa, nomor layanan konsumen, warna dan ukuran kemasan
Daftar Acuan
[1] Aulia Ishak, “Manajemen Operasi”, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010
[2] F. Tjiptono dan A. Diana “Total Quality Management”, Andy, Yogyakarta, 2003
[3] J. Suprianto “Statistik Teori dan Aplikasi Jilid 1 edisi ketujuh”, Erlangga, Jakarta, 2008
[4] J. Suprianto “Statistik Teori dan Aplikasi Jilid 2 edisi kelima”, Erlangga, Jakarta, 2008
[5] L. Cohen, “Quality Function Deployment : How to Make QFD Work for You”, Addison-Wesley
Publishing Company,
Massachusetts, 1995
[6] M.L. Shilito, “Advanced Quality Function Deployment : Linking Technology to market and Company Needs”, John Willey and Sons Inc, UK. 1994
[7] Rosnani Ginting, “Perancangan Produk”, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009
[8] R.E. Walpole, “Pengantar Statistika Edisi ketiga Cetakan kedua”, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1990
[9] Sugiyono, “Metode Penelitian Bisnis”, Cetakan Ketujuh, Alfabeta, Bandung, 2004