• Tidak ada hasil yang ditemukan

Eka Yuliana Sari STKIP PGRI Tulungagung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Eka Yuliana Sari STKIP PGRI Tulungagung"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

386

PENGEMBANGAN BUKU PEMBELAJARAN TEMATIK BERBASIS MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA (STUDI PADA SISWA KELAS 3 SDN MOYOKETEN 1 TULUNGAGUNG).

Eka Yuliana Sari STKIP PGRI Tulungagung [email protected]

ABSTRAK

Penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan buku pembelajaran tematik berbasis model Problem Based Learning. Penelitian pengembangan ini didasarkan pada model pengembangan 4-D yang dikembangkan oleh Tiagarajan dan Sammel yang telah dimodifikasi. Secara garis besar langkah-langkah penelitian ini, yaitu (1) analisis awal-akhir, (2) perencanaan, (3) desain produk, (4) validasi produk, (5) ujicoba produk, dan (6) produk akhir. Ujicoba produk terdiri atas ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan. Skor rata-rata untuk semua aspek hasil validasi buku siswa dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) memenuhi kriteria valid. Skor rata-rata untuk semua indikator hasil pengamatan keterterapan pembelajaran dan keterterapan buku siswa memenuhi kriteria praktis. Penguasaan materi yang dapat dilihat dari perolehan hasil tes akhir dan tes aktivitas unjuk kerja siswa dalam buku. Ujicoba produk terdiri atas ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan. Hasil rata-rata kelayakan dari validasi ahli dalam penelitian ini mencapai 82,1%. Hasil ujicoba kelompok kecil mencapai85,5%. Ujicoba lapangan dilakukan untuk mengetahui keterterapan dan keefektifan produk yang berupa buku siswa yang dilengkapi RPP. Hasil ujicoba lapangan pada keterterapan produk mencapai 87,8%. Sedangkan untuk hasil ujicoba lapangan pada keefektifan produk untuk aspek hasil belajar siswa dilihat dari ranah kognitif, ranah afektif dan psikomotor mencapaai 81,1%. Berdasarkan data di atas, produk yang telah dikembangkan dapat dikatakan sangat valid dari segi kevalidan, keterterapan, dan keefektifan.

Kata Kunci: Buku Pelajaran, Tematik, Model Problem Based Learning, Hasil Belajar

ABSTRACT

This development research aims to produce thematic learning book based on Problem Based Learning model. This development research is based on a 4-D development model developed by Tiagarajan and Sammel that has been modified. Broadly speaking, the steps of this study are (1) preliminary analysis, (2) planning, (3) product design, (4) product validation, (5) product testing, and (6) final product. Product trials consisted of small group trials, and field trials. The average score for all aspects of student book validation and learning implementation plan (RPP) meets valid criteria. The average score for all indicators of observed results of learning achievement and students' book appropriateness fulfilled the practical criteria. Mastery of material that can be seen from the acquisition of the final test result and the student activity activity test in the book. Product trials consisted of small group

(2)

387

trials, and field trials. The average result of feasibility of the validation of experts in this study reached 82.1%. Small group test results reached 85.5%. Field trials conducted to determine the availability and effectiveness of products in the form of student books equipped with RPP. Results of field trials on product availability reached 87.8%. As for the results of field trials on product effectiveness for aspects of student learning outcomes seen from the realm of cognitive, affective and psychomotor spheres 81.1%. Based on the above data, the products that have been developed can be said to be very valid in terms of validity, stability, and effectiveness.

Keywords: Lesson Book, Thematic, Problem Based Learning Model, Learning Outcomes

PENDAHULUAN

Setiap orang yang akan merancang, melaksanakan, menilai, ataupun mengamati proses pembelajaran harus mengarah pada terjadinya belajar siswa. Agar dapat belajar dengan mudah maka sebelum pembelajaran guru harus menggunakan bahan ajar yang harus memperhatikan kurikulum, model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran dan juga bahan ajar yang sesuai. Ketika menyiapkan kegiatan pembelajaran yang bermutu sebagai seorang guru profesional hendaknya merancang kegiatan pembelajaran dengan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa. Salah satu hal yang penting dalam proses pembelajaran adalah buku ajar.

Menurut Akbar & Sriwiyana (2011:184) bahan ajar dapat berbentuk: (1) “buku” yang diterbitkan secara luas, berfungsi sebagai refrensi, pembahasannya lengkap, penggunaannya dengan bantuan guru atau pendidik lainnya, (2) diktat yang disusun dengan cakupan isi terbatas, disusun sesuai dengan kurikulum dan juga silabus yang dikembangkan sesuai urutan materi pelajaran, penggunaannya terbatas. Jika diktat disusun untuk pembelajaran mandiri sering disebut buku.

Buku ajar merupakan alat bantu belajar yang dapat mendorong dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara mandiri tanpa tergntung kepada guru dan belajar sesuai kecepatan serta kemampuan belajar masing-masing siswa (Mbulu, 2001:45). Menurut Prastowo (2011:104) buku merupakan bahan ajar yang ditulis dengan tujuan agar siswa dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru, oleh karena itu buku harus berisi tentang petunjuk belajar, kompetensi yang akan dicapai, isi materi pembelajaran, informasi pendukung, latihan soal, petunjuk kerja, evaluasi dan balikan terhadap hasil evaluasi.

(3)

388

Buku pembelajaran merupakan kegiatan belajar yang disusun secara sistematis yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu pendahuluan, kegiatan belajar dan penutup. Pendahuluan dalam Buku memuat deskripsi buku, petunjuk penggunaan, tujuan buku, manfaat buku, kompetensi, dan cek kemampuan awal siswa. Kegiatan belajar memuat tujuan pembelajaran, peta konsep, uraian materi, kegiatan siswa, tes hasil belajar, kunci jawaban, dan pedoman pensekoran. Pada bagian penutup memuat rangkuman, tindak lanjut, evaluasi akhir, daftar kata penting, dan daftar pustaka.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas 3 Ibu Rani Purnamasari, S.Pd guru cenderung menggunakan buku paket dan LKS yang dibuat oleh orang lain, dengan kata lain buku paket dan LKS hanya ditujukan untuk siswa secara umum. Penggunaan bahan ajar kurang memperhatikan karakteristik, kebutuhan dan lingkungan tempat tinggal siswa akan menyumbangkan sedikit sekali kontribusi dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Bahan ajar yang tidak memperhatikan karakteristik, kebutuhan dan lingkungan tempat tinggal siswa dikuatkan dengan hasil observasi peneliti pada kegiatan pembelajaran yang dilakukan dan menganalisis buku paket dan LKS yang digunakan siswa dalam kegiatan belajar. Buku paket Tematik yang digunakan guru memiliki tingkat kemenarikan yang kurang, dan hampir seluruh materi hanya didukung dengan satu atau dua gambar saja yang mewakili sebagai contoh. Padahal pada materi globalisasi kebudayaan siswa harus tau kebudayaan yang ada di Indonesia lebih dari dua macam.

Buku paket yang digunakan belum sesuai dengan karakteristik siswa kelas 3 SDN 1 Moyoketen yang cenderung memiliki sikap aktif, suka membaca. Hendaknya jika karakteristik siswa itu cenderung aktif alangkah lebih baik jika diberikan tugas atau kegiatan kelompok. Bisa juga untuk karakteristik siswa yang suka membaca guru memberikan buku sumber lain, hal tersebut juga dapat menambah wawasan siswa. Peneliti juga berusaha menganalisis kompetensi dasar (KD) untuk kelas 3 semester 2, terdapat KD yang dalam pencapaian kompetensinya menggunakan materi yang kurang tepat. Ketersediaan bahan ajar yang dikembangkan oleh orang lain pastinya ditujukan untuk keadaan siswa secara umum, tanpa melihat karakteristik dan kebutuhan siswa pada masing-masing sekolah secara langsung. Ketidak sesuaian bahan ajar yang dikembangkan oleh orang lain sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa haruslah memperhatikan kemampuan awal siswa dan tahap perkembangan siswa. Selain melakukan wawancara kepada guru peneliti juga melakukan observasi pada

(4)

389

proses pembelajaran Tematik yang secara umum dapat diketahui bahwa dengan jumlah siswa yang cukup besar (lebih dari 30 siswa dalam 1 kelas), pengorganisasian siswa cukup sulit untuk dilakukan. Metode yang sering digunakan dalam pembelajaran Tematik adalah tanya jawab, ceramah, penugasan, dan diskusi. Penerapan model tertentu jarang dilakukan. Bentuk penilaian diutamakan pada ranah kognitif melalui ulangan harian pada setiap KD. Selain pengembangan tematik, pada penelitian ini juga dikembangkan buku ajar yang berbasis masalah (PBL). Pengintegrasian pembelajaran berbasis masalah didasarkan kepada kelebihan dari PBL yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Model problem based learning atau yang sering disebut PBL dan yang sering diartikan model pembelajaran berbasis masalah dikembangkan berdasarkan konsep-konsep yang dicetuskan oleh Bruner. Konsep tersebut adalah belajar penemuan atau discovery learning. Model pembelajaran PBL adalah pendekatan belajar yang berpusat pada siswa yang dapat memberdayakan siswa untuk melakukan penelitian, memadukan teori dan praktek, serta menerapkan pengetahuan dan ketrampilan untuk mengembangkan penyelesaian masalah (Severy, 2006).

Menurut Lie (2004:56) pembelajaran berbasis masalah melibatkan presentasi situasi-situasi autentik dan bermakna yang berfungsi sebagai landasan bagi investigasi oleh siswa.aspek-aspek pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:

1) Permasalahan autentik, pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermakna bagi siswa.

2) Fokus interdisipliner, pemecahan masalah menggunakan pendekatan interdisipliner. Hal ini dimaksutkan agar siswa belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.

3) Investigasi autentik, siswa diharuskan melakukan investigasi autentik yaitu berusaha menemukan solusi riil.

4) Produk, pembelajaran berbasis masalah menuntut siswa mengonstruksikan produk sebagai hasil investigasi. Produk bisa berupa paper yang dideskripsikan dan didemonstrasikan kepada orang lain.

5) Kolaborasi, kolaborasi siswa dalam pembelajaran berbasis masalah mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan sosial.

PBL tidak dirancang untuk membantu siswa menyampaikan informasi dengan jumlah yang besar kepada siswa lain akan tetapi PBL dirancang untuk membantu siswa mengembangkan

(5)

390

ketrampilan berpikir, ketrampilan menyelesaikan masalah dan ketrampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui situasi riil dan menjadi siswa mandiri.

Model PBL adalah pembelajaran yang memberikan ciri pembelajaran berawal dari sebuah masalah yang disajikan pada siswa dan diharapkan siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut melalui pembelajaran yang aktif. Pada pembelajaran dengan model PBL siswa yang selalu aktif, guru hanya sebagai fasilitator

Pada penelitian ini buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL didasarkan pada RPP dan dilengkapi dengan buku panduan untuk guru ini valid secara teoretik. Uji validasi buku dilakukan oleh ahli bahan ajar, materi, dan bahasa. Buku pembelajaran dalam penelitian ini juga memiliki keterterapan yang tinggi sehingga dapat memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Keefektifan produk ini adalah dapat membantu siswa dalam ketercapaian tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Tujuan penelitian pengembangan berdasarkan latar belakang masalah di atas adalah menghasilkan buku pembelajaran tematik berbasis model problem based learning yang didasarkan pada RPP sebagai berikut: produk layak secara teoritik, produk memiliki tingkat keterterapan yang tinggi dan produk memiliki tingkat keefektifan yang tinggi dalam ketercapaian tujuan pembelajaran.

METODE

Model rancangan pengembangan dalam penelitian pengembangan ini menggunakan model 4 D (four D model) oleh Thiagarajan dan Semmel (1974). Pengembangan model ini terdiri dari empat tahap yaitu tahap pendefinisian (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Berkaitan dengan kepentingan penelitian, maka diperlukan beberapa penyesuaian untuk memperlancar jalannya penelitian ini. Penyesuaian yang dilakukan dapat mendukung proses pengembangan agar lebih sesuai dengan fokus penelitian. Penelitian hasil pengembangan ini tidak disebarkan pada sekolah lain, oleh karena itu penggunaan tahapan dalam model pengembangan ini hanya terbatas pada 3 tahap saja yaitu: (a) pendefinisian; (b) perencanaan; dan (c) pengembangan, adapun tahap ke-4 yaitu penyebaran tidak dilakukan. Jabaran proses pengembangan buku pembelajaran tematik sebagai berikut:

(6)

391

1. Tahap pendefinisian

Pada tahap ini dilakukan analisis batasan tema yang akan dikembangkan yaitu tema pahlawan. Kegiatan dalam tahap ini terdiri dari:

a. Analisis awal dan akhir

Studi pendahuluan dilakukan dengan melakukan observasi kelas, mencari informasi tentang karakteristik siswa, kebutuhan siswa melalui observasi proses pembelajaran, wawancara, menganalisis dokumen, dan menganalisis beberapa jurnal penelitian terdahulu yang relevan. Penggunaan bahan ajar kurang memperhatikan karakteristik, kebutuhan dan lingkungan tempat tinggal siswa. Siswa akan menyumbangkan sedikit sekali kontribusi dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Buku paket yang digunakan guru memiliki tingkat kemenarikan yang kurang dan hampir seluruh materi hanya didukung dengan satu atau dua gambar saja yang mewakili sebagai contoh, padahal pada materi globalisasi kebudayaan, siswa harus tau kebudayaan yang ada di Indonesia lebih dari dua macam. Buku paket yang digunakan belum sesuai dengan karakteristik siswa.

b. Analisis siswa

Analisis siswa dilakukan untuk mengetahui bagaimana karakteristik siswa. Analisis siswa dilakukan pada siswa kelas 3 SDN 1 Moyoketen Tulungagung, yang meliputi analisis hasil belajar kognitif dan latar belakang kemampuan akademik untuk kelas 3 yaitu pernah mendapat materi ini disajikan pada tabel.1 sebagai berikut.

Tabel 1 Hasil Belajar pada Ranah Kognitif Siswa No. Rentang Skor Jumlah Siswa Persentase (%)

1. 100-91 2 5,5

2. 90-81 4 11,1

3. 80-71 3 8,3

4. 70-61 18 50

5. 60-0 9 25

(SUMBER: Dokumen Guru Kelas 3 SDN 1 Moyoketen Tulungagung)

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui 5,5% siswa yang mendapatkan skor di atas 91, untuk siswa yang mendapatkan skor di atas 81 sebanyak 11,1%, siswa yang mendapatkan skor diatas 71 sebanyak 8,3%, siswa yang mendapatkan skor di atas 61 sebanyak 50%, sedangkan untuk siswa yang mendapatkan skor di bawah 61 sebanyak 25%. Data di atas menunjukkan bahwa banyak siswa yang mendapatkan skor dibawah nilai KKM yaitu 74. Dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif siswa masih kurang.

(7)

392

c. Analisis tugas

Tahap analisis tugas ini adalah tahap untuk mengidentifikasi berbagai keterampilan yang ada dalam tema pahlawan kelas 3 semester II. Analisis tugas ini berdasarkan pada SK dan indikator pencapaian hasil belajar. Analisis tugas ini berguna untuk mengembangkan kegiatan belajar di dalam buku yang disesuaikan dengan model PBL. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah melakukan pendefinisian berbagai keterampilan yang disesuaikan dengan indikator pembelajaran. Tugas yang akan diberikan pada buku ada 3 jenis yaitu: (a) kegiatan pintar mandiri 1, 2, 3; (b) kegiatan pintar bersama 1 dan 2; dan (c) tes formatif.

2. Tahap Perancangan

Pada tahap perancangan sesuai bagan yang dikembangkan oleh Tiagarajan, terdapat 4 kegiatan yang harus dilakukan yaitu: (a) menyusun kriteria tes; (b) pemilihan media; (c) pemilihan format; dan (d) perancangan awal. Keempat kegiatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Menyusun kriteria tes

Dasar menyusun tes adalah berdasarkan analisis perumusan tujuan pembelajaran. Tes yang telah disusun disajikan dalam bagian akhir setiap kegiatan belajar dalam buku pembelajaran.

b. Pemilihan media

Kegiatan ini dilakukan untuk menentukan media yang tepat dalam menyajikan materi pembelajaran. Proses pemilihan media disesuaikan dengan hasil analisis konsep, analisis tugas, dan karakteristik siswa. Media yang digunakan untuk mendukung produk berupa buku pembelajaran adalah video. Video tersebut digunakan untuk mendukung tindak lanjut materi.

c. Pemilihan format

Tahap pemilihan format ini memiliki tujuan untuk memilih format yang sesuai dengan faktor-faktor yang telah dijabarkan dalam KD yaitu format untuk mendesain kegiatan pembelajaran, model pembelajaran, sumber pembelajaran yang dikembangkan, dan media pembelajaran yang digunakan. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, pemilihan format pada buku pembelajaran yang dikembangkan adalah buku pembelajaran berbasis pada model PBL.

(8)

393

d. Perancangan awal

Pada tahap perancangan awal dilakukan perancangan produk awal yang berupa buku pembelajaran tematik berbasis model PBL. Produl awal tersebut sudah berupa buku yang pada tahapan model pengembangan 4D Tiagarajan disebut draf satu. Pada tahap selanjutnya dilakukan uji coba terhadap draf satu yang telah dikembangkan.

3. Tahap pengembangan

Tujuan tahap ini adalah untuk menghasilkan draf akhir buku pembelajaran yang dikembangkan melalui kegiatan uji coba produk dengan menggunakan instrumen penelitian yang telah divalidasi oleh 5 validator. Uji coba terdiri dari uji keterbacaan pada uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan. Sebelum buku pembelajaran diujicobakan terlebih dahulu diuji kelayakan oleh 5 validator untuk mengetahui apakah buku pembelajaran yang dikembangkan layak atau tidak. Beberapa kegiatan dalam tahap ini yaitu pengembangan instrumen penelitian, hasil validasi ahli, dan uji coba lapangan.

a. Pengembangan instrumen

Instrumen yang dikembangkan dalam penelitian ini yaitu: (1) lembar validasi buku pembelajaran; (2) lembar observasi; (3) angket respon siswa; dan (4) tes hasil belajar (THB). Keempat pengembangan instrumen penelitian d iatas secara lengkap akan disajikan pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Instrumen Penelitian

Aspek yang dinilai Instrumen Data yang diamati Responden

Kelayakan Produk Angket Validasi  Buku Pembelajaran Tematik berbasis

Model PBL. Ahli Desain Ahli Materi Ahli Bahasa Keterterapan produk  Angket  Lembar Obsevasi

 Kemudahan guru melaksanakan

pembelajaran

 Waktu pelaksanaan

 Kelancaran

 Petunjuk mudah dipahami

Guru Siswa Keefektifan Produk  Tes hasil belajar  Lembar observasi  Angket respon siswa

 Hasil belajar siswa ranah kognitif

 Hasil belajar siswa ranah afektif

 Hasil belajar siswa ranah psikomotor

 Respon siswa

Siswa Observer

1) Pengembangan lembar validasi produk

Lembar validasi produk yang dimaksud disini yaitu produk yang berupa buku pembelajaran. Lembar validasi produk ini mencakup isi, bahasa, ilustrasi buku, dan manfaat

(9)

394

buku. Masing-masing lembar validasi buku divalidasi oleh ahli desain, ahli materi, dan ahli bahasa.

2) Pengembangan lembar observasi

Dalam penelitian ini dikembangkan 2 lembar observasi, yaitu lembar observasi keterterapan pembelajaran dan lembar observasi aktivitas siswa.

3) Pengembangan angket respon siswa

Pengembangan angket respon siswa dalam penelitian ini adalah untuk meminta respon siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan buku pembelajaran berbasis model PBL. Instrumen ini memuat respon siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan buku pembelajaran berbasis model PBL meliputi: (1) kemenarikan buku; (2) kegiatan belajar dalam buku; dan (3) bahasa yang digunakan dalam buku.

Prototipe produk pengembangan berupa buku yang telah selesai disusun akan disiapkan untuk divalidasi oleh para ahli. Tujuan prototipe produk berupa buku diserahkan pada para ahli adalah untuk mendapatkan tanggapan dan saran yang bermanfaat demi perbaikan atau penyempurnaan buku pembelajaran berbasis model PBL. Hasil validasi dari para ahli ini digunakan sebagai dasar dalam melakukan revisi produk yang akan dihasilkan. Berikut ini akan disajikan data hasil uji coba ahli materi, ahli desain, dan ahli bahasa.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil peneelitian diketahui hasil validasi buku menunjukkan persentase 83%. Sesuai konversi tingkat kevalidan yang ditentukan pada bab III, maka hasil validasi ahli materi buku masuk dalam kategori sangat valid. Selain memberikan komentar sesuai dengan item dalam lembar validasi, validator juga memberikan catatan, dan saran tentang isi buku tersebut. Berikut ini penjabaran hasil uji coba ahli desain:

a. Data uji coba ahli desain

Validasi juga dilakukan pada desain yang digunakan pada buku, hal tersebut bertujuan agar nantinnya buku yang dikembangkan dapat memimbulkan keinginan siswa agar lebih giat lagi dalam belajar. Buku yang dikembangkan diharapkan juga meliliki daya tarik tersendiri bagi siswa sehingga mampu mendorong aktivitas dan perolehan hasil belajar yang maksimal. Hal tersebutlah yang menjadi alasan diperlukan ahli di bidang desain untuk menilai dan memberikan masukan yang relevan dengan desain buku pembelajaran tematik berbasis model PBL. Pada uji coba ahli materi, yang menjadi validator adalah Prof. Dr. Punadji Setyosari, M.Ed, beliau adalah dosen sekaligus Kaprodi Teknologi Pendidikan Pascasarjana Universitas

(10)

395

Negeri Malang. Hasil validasi buku menunjukkan persentase 82,7%. Sesuai konversi tingkat kelayakan yang ditentukan pada bab III, hasil validasi ahli desain buku masuk dalam kategori sangat layak. Selain memberikan komentar sesuai dengan item dalam lembar validasi, validator juga memberikan catatan dan saran tentang desain buku tersebut.

c) Data uji coba ahli bahasa

Uji coba ahli bahasa ini bertujuan untuk memvalidasi penulisan, penggunakaan tanda baca, kata dan kalimat yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan ejaan yang disempurnakan (EYD) atau belum, serta bahasa yang digunakan sesuai dengan karakteristik siswa kelas 3 SD atau belum. Buku yang dikembangkan diharapkan juga meliliki tingkat keterbacaan yang tinggi, sehingga mampu mendorong aktivitas dan perolehan hasil belajar siswa yang maksimal. Hal tersebutlah yang menjadi alasan diperlukan ahli di bidang bahasa untuk menilai dan memberikan masukan yang relevan tentang bahasa yang digunakan pada buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL. Pada uji coba ahli bahasa, yang menjadi validator adalah Dr. Muhana Gipayana, M.Pd, beliau adalah dosen di Universitas Negeri Malang. Hasil validasi buku menunjukkan persentase 75%. Sesuai konversi tingkat kevalidan yang ditentukan pada bab III, hasil validasi ahli bahasa buku masuk dalam kategori sangat valid. Selain memberikan komentar sesuai dengan item dalam lembar validasi, validator juga memberikan catatan dan saran tentang tata bahasa buku tersebut.

Paparan validasi dari ahli materi, ahli desain, dan ahli bahasa di atas merupakan data

pendukung untuk menguji tingkaat kelayakan produk. Hasil sajian data di atas akan direkapitulasi untuk mengetahui tingkat kelayakan produk. Rekapitulasi tingkat kelayakan produk tersaji pada taabel 3 berikut:

Tabel 3. Rekapitulasi Tingkat Kelayakan Produk

Subjek Buku Buku Panduan Guru Rata-rata

Ahli Materi 83% 84% 167 83,5%

Ahli Desain 82,7% 86% 166,7 84,4%

Ahli Bahasa 75% 82% 157 78,5%

Rata-rata 80,23% 84% 490,7 82,1%

Pada tabel 3 di atas tersaji hasil rekapitulasi tingkat kelayakan produk pengembangan dalam penelitian ini yaitu buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL yang dilengkapi dengan buku panduan guru. Pada tabel terlihat tingkat kelayakan produk mencapai 82,1%, hal

(11)

396

tersebut menandakan bahwa produk ini layak untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran, khususnya pada mata pelajaran Tematik materi globalisasi kebudayaaan.

2. Data uji coba kelompok kecil

Uji coba kelompok kecil dilakukan setelah revisi rancangan produk dari para ahli. Dari uji validasi ahli, diperoleh produk berupa buku pembelajaran tematik berbasis model PBL yang valid, maka selanjutnya dapat dilakukan uji kelompok kecil. Uji kelompok kecil berlangsung pada tanggal 20 Mei 2013. Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 6 orang siswa yang memiliki kemampuan akademik yang berbeda. Uji coba kelompok kecil ini dilakukan untuk mengujicobakan produk pada siswa dari kelas 3 SDN 1 Moyoketen, hal ini bertujuan untuk memperoleh data apakah buku tersebut sudah valid dan layak digunakan untuk pembelajaran.

Hasilnya menujukan aktivitas belajar uji coba kelompok kecil dengan menggunakan buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL. Siswa sedang membaca buku secara teliti, setelah selesai membaca materi siswa disajikan dengan masalah yang dikemas dalam kegiatan pintar mandiri 1, 2, dan 3 yang harus dikerjakan siswa. Pada saat uji coba kelompok kecil juga dilakukan kegiatan kelompok sesuai langkah-langkah model PBL. Adapun kegiatan kelompok pada uji coba kelompok kecil tersaji pada gambar 4.2, menunjukkan bahwa siswa pada uji coba kelompok kecil sedang melakukan diskusi kelompok dan guru mendampingi mereka dalam berdiskusi. Selain data berupa dokumentasi berupa gambar pada saat uji coba kelompok kecil, juga diperoleh data tentang respon uji coba kelompok kecil berupa tanggapan yang diisi pada angket respon siswa terhadap buku yang mereka gunakan.

Hasil uji coba kelompok kecil digunakan sebagai saran dan masukan dalam merevisi isi buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL. Jika revisi setelah uji coba kelompok kecil selesai, barulah langkah berikutnya adalah mengujicobakan produk berupa buku tersebut pada uji coba lapangan atau kelas.

3. Data uji coba lapangan

Uji coba lapangan dapat dilaksanakan jika hasil uji coba kelompok kecil sudah selesai direvisi. Subjek uji coba lapangan adalah seluruh siswa kelas 3 SDN 1 Moyoketen Tulungagung Tahun Akademik 2016/2017 yang berjumlah 36 siswa. Pelaksanaan uji coba lapangan yaitu pada tanggal 30 Maret 2016 dan 7 April 2016.

Pada gambar 1. terlihat bahwa siswa serius dalam berdiskusi untuk memecahkan masalah serta menemukan jawaban-jawaban yang tepat untuk pertanyaan-pertanyaan yang

(12)

397

terdapat pada kegiatan pintar bersama 1. Pada pembagian kelompok, tiap kelompok beranggotakan 6 siswa. Pada pertemuan kedua, guru menggunakan video dalam mendukung penyajiaan masalah yang ada dalam buku pada kegiatan pintar bersama 2. Menunjukkan bahwa guru menggunakan tayangan video untuk mendukung penyajian masalah yang terdapat pada buku tepatnya pada kegiatan pintar bersama 2. Tujuan ditayangkan video ini adalah agar siswa tahu dan melihat sendiri bagaimana keadaan nyata masalah yang disajikan pada kegiatan pintar bersama 2. Antusias siswa dalam kelompok terlihat pada saat mendiskusikan kegiatan pintar bersama 2.

Pada saat mempresentasikan hasil diskusi kelompok, baik kelompok penyaji maupun kelompok pembanding mengikuti dengan serius. Aktivitas siswa ketika mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang memperlihatkan antusias dan keseriusan siswa dalam belajar. Uji coba lapangan diamati dan dinilai oleh satu guru kelas 3 SDN 1 Moyoketen Tulungagung, dan tiga observer. Guru kelas mengamati keterterapan buku pembelajaran dan ketiga orang observer mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Tahapan selanjutnya adalah uji coba penerapan buku tematik. Berikut ini hasil penerapan buku tematik, uji efektiffitas terhadap hasil belajar siswa dan respon siswa:

1) Uji coba lapangan pertemuan I

Data hasil pengamatan uji coba lapangan pada tanggal 30 Maret 2016 disajikan dalam tabel 4.19. Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa persentase yang ditunjukkan sebesar 83,5%. Sehingga menurut kriteria yang telah ditentukan, keterterapan buku pembelajaran masuk kategori tinggi.

2) Uji coba lapangan pertemuan II

Hasil observasi keterterapan buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL pada uji coba lapangan dalam pertemuan II tanggal 7 April 2016 disajikan dalam tabel 4. 20. Dibanding hasil observasi keterterapan buku pembelajaran pada pertemuan I, hasil observasi keterterapan buku pembelajaran dalam pertemuan II menunjukkan persentase yang lebih tinggi. Pada tabel 4.20 di atas terlihat bahwa persentase yang ditunjukkan sebesar 92,1%, sehingga menurut kriteria yang telah ditentukan, keterterapan buku pembelajaran termasuk dalam kategori tinggi.

c. Uji efektifitas buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL

Data hasil belajar adalah data yang dihasilkan oleh siswa, analisis hasil belajar siswa dilakukan setelah siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan buku. Hasil belajar siswa dibagi menjadi 3 penilaian yaitu: (a) ranah kognitif; (b) afektif; dan (c)

(13)

398

psikomotor. Hasil belajar kognitif siswa dibagi secara proporsional dengan persentase nilai kegiatan mandiri 1, 2, dan 3 (30%), nilai kegiatan bersama 1 dan 2 (20%), dan nilai tes formatif (50%). Nilai tes formatif memiliki persentase paling besar dikarenakan soal yang terdapat di dalamnya mencakup semua materi dari buku 1 dan 2.

Hasil belajar siswa dalam pembelajaran menggunakan buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL diperoleh tidak hanya melalui hasil belajar kognitif saja, namun juga hasil belajar afektif dan psikomotorik. data hasil belajar siswa di atas dapat dilihat frekuensinya melalui grafik yang akan disajikan di bawah ini. Adapun grafik frekuensi ketuntasan hasil belajar siswa akan disajikan pada gambar 1 sebagai berikut

Gambar 1. Grafik Frekuensi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Berdasarkan gambar 1 di atas, hasil belajar siswa menggunakan buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL tuntas 100%. Hal tersebut dapat diketahui berdasarkan grafik frekuensi ketuntasan hasil belajar di atas yang menunjukan 10 siswa mendapatkan nilai 79-80. Nilai 81-82 memiliki frekuensi sebanyak 7 siswa, nilai 83-84 memiliki frekuensi sebanyak 7 siswa, nilai 75-76 memiliki frekuensi sebanyak 5 siswa, nilai 85-86 memiliki frekuensi sebanyak 4 siswa sedangkan nilai 77-78 memiliki frekuensi 3 siswa.

d. Uji respon siswa

Indikator lain dari keefektifan buku pembelajaran yang dikembangkan pada uji coba lapangan adalah respon siswa. Respon siswa dapat diketahui melalui pengisian angket respon

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 75-76 77-78 79-80 81-82 83-84 85-86 5 3 10 7 7 4 F r e k u e n s i NILAI STATISTIK

(14)

399

siswa. Angket respon siswa bertujuan untuk mengetahui respon dari siswa setelah belajar dengan menggunakan buku pembelajaran Tematik berbasis model PBL.

KESIMPULAN

Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa, hasil validasi konten buku tematik

berbasis PBL menunjukkan persentase 83%, dengan jabara hasil validasi desain sebesar 82,7%. Ahli bahasa sebesar 75%. Pada tahapan uji kelompok kecil diketahui bahwa aktivitas belajar uji coba lapangan dengan menggunakan buku pembelajaran tematik berbasis PBL menunjukkan aktivitas siswa ketika mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang memperlihatkan antusias dan keseriusan siswa dalam belajar dengan ditunjukkan penerapannya hingga 83,5%. Pada uji coba lapangan pertemuan ke II diketahui presentase penerapan sebesar 92,1%. Pada tahap akhir dilakukan uji efektifitas terhadap buku tematik berbasis PBL yang menunjukkan 100% tuntas KKM.

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, S., Margono, & Noorsyam, M. 2009. Model-Model Pembelajaran Terpadu Pendidikan Kewarganegaraan SD. Malang: UniversitasNegeri Malang. Akbar, S. & Sriwiyana, H. 2011. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial. Malang: Cipta Media.

Akcay, B. 2009. Problem-Based Learning in Science Education. Journal of Turkish Science Education, 6 (1). 26-36.

Amyana. 2004. Pendidikan Nilai-Nilai Pancasila Sekolah Dasar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Anderson, L. W. & Krathwohl, D. R. (Eds.). 2001. Kerangka Landasan untuk Pembelajaran, Pengajaran, dan Asesmen (Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom). Terjemahan Agung Prihantoro. 2010. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Lie, A. 2004. Cooperative Learning: Mempraktikan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Grasindo.

Arends, R. I. 2004. Learning to Teach. Seventh edition, McGraw Hill Companies, New York.

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

BNSP. 2006. Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD/MI. Jakarta: BP. Darma Bhakti.

(15)

400

Budimansyah, D. 2010. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press.

Degeng, I. N. S. 1997. Strategi Pengembangan Mengorganisasikan Isi dengan Model Elaborasi. Malang: IKIP Malang.

Degeng, I. N. S. 2008. Pedoman Penyusunan Bahan Ajar Menuju Pribadi yang Unggul. Surabaya: TEP-PPS Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Puskur Balitbang.

Djahiri, A. K. dan Wahab, A. 1996. Dasar dan Konsep Pendidikan Moral. Jakarta: Ditjen Dikti.

Gagne, Robert M., Briggs, L. J., Wager, Wolter W. 1988. Principles of Instructional Design. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc.

Hartley, J. 1985. Designing Intructional and Information Text. Second Edition New York: Nicholas Publishing Company.

Hitipeuw, I. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Hobri. 2010. Metodologi Penelitian Pengembangan (Aplikasi Pada Penelitian Pendidikan Matematika). Jember: Pena Salsabila.

Jonassen, D. H. & Hung, W. 2008. All Problems are not Equal: Implications for Problem-based Learning. The Interdiciplinary Journal of Problem-Problem-based Learning, 2 (2), 6-28. Kaelan & Zubaidi, A. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi.

Yogyakarta: Paradigma.

Lase, A. 2010. Pengembangan Buku Pembelajaran Kimia dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing pada Termokimia untuk Siswa Kelas XI IPA.Tesis tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Lestari, I. 2012. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Kompetensi. Jakarta: Akademi Permata. Mardaapi, D. 2012. Pengukuran Penilaian & Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Nuha Litera. Mbulu, J. 2001 Pengajaran Individual (Pendekatan, Metode dan Media Pedoman Mengajar

bagi Guru dan Calon Guru). Malang: Yayasan Elang.

Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Nasution, S. 2000. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

(16)

401

Nugroho, A. 2008. Pengembangan Buku Pembelajaran Menggunakan Materi Kubus dan Balok. Malang: Tesis tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses. 2007. Jakarta: BNSP

Prastowo, A. 2011. Panduan Kreatif Membuat Bahan Ajar Inovatif: Menciptakan Metode Pembelajaran yang Menarik dan Menyenangkan. Yogyakarta: DIVA Press. Putra, R. S. 2012. Desain Evaluasi Belajar Berbasis Kinerja. Jember: Diva Press. Riduwan, 2010. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung: Alfabeta.

Sanjaya, W. 2006. Strategi Pembelelajaran: Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Bandung: Kencana Prenada Media.

Savery, J. R. 2006. Overview of Problem-based Learning Definitions and Destinctions. The Interdisciplinary Journal of Problem-based Learning, 1 (1), 9-20.

Setiawan, I. 2010. Pengembangan Buku Pembelajaran Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia Pada Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardana. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Slameto. 1988. Evaluasi Pendidikan. Salatiga: Bina Aksara.

Slameto. 1991. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Smaldino, S. E., Lowther, D.L., & Rusell, J. D. 2011. Instructional Technology & Media for

Learning Upper Sadle Rive. Nj: Pearson Education Inc.

Smith, D., Crawjord, J., Martin, F., Collins, D., & Smith, A. 1995. The Introduction of Problem Based Learning to Students through A Computer Based Education. Bukue For “The Inaugural Pasific-Ram-First Year Experience Conference” 11-14 July 1995, Brisbane, Australia.

Sudjana, N. 1990. Metode Statistika. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukardi, H. M. 2008. Evaluasi Pendidikan Prinsip & Operasionalnya. Yogyakarta: Bumi Aksara.

Sulton. 2003. Desain Pesan Buku Teks IPS SD di Wilayah Kota Malang Suatu Kajian

terhadap Buku Teks IPS Kelas III, IV, dan V SD. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

(17)

402

Suprijono, A. 2009. Cooperative Learning: Terori dan Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Supriyono. R. 2010. Desain Komunikasi Visual Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: ANDI. Thiagarajan, sammel, & Sammel. 1974. Instructional Development for Training Teachers of

Exceptional Children. Source Book. Bloomington: Center for Innovation on Teaching The Handicapped.

Tim Penyusun. 2006. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Sekolah Dasar. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.

Toenlioe, A. J. E. 1999. Profil Buku IPS SD. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.

Uno, H. B. 2010. Model Pembelajaran Edisi ke Enam. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Utomo, A. P. 2012. Pengembangan Buku Matakuliah Pengetahuan Lingkungan dengan

Pendekatan Problem Based Learning Berbasis Pengetahuan Sikap, dan Perilaku Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Pascasarjana Universitas Negeri Malang.

Gambar

Tabel 2. Instrumen Penelitian
Gambar 1. Grafik Frekuensi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa

Referensi

Dokumen terkait

lagi Maha Mengasihani , (2) Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam (3) Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani (4) Yang

Secara umum kurikulum yang diajarkan di PONPES tidak mampu mengembangkan ilmu agamanya (berdakwah) di masyarakat dikarenakan mereka kesulitan ekonomi. Melihat banyaknya kenyataan

Hasil penelitian didukung oleh kesimpulan jawaban responden yang menyatakan bahwa anggota organisasi setuju terhadap atmosfer organisasi yang memiliki program dan

Tujuan dari kegiatan Peringatan “17 Agustus 1945” yang akan kami laksanakan ini adalah untuk menjalin hubungan lebih baik antar anggota setiap siswa yang ada di SMA N 2 ini..

merupakan sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar.

Kepemimpinan adalah salah satu unsur yang paling penting bagi seorang pemimpin, oleh karenanya seorang pemimpin harus mampu berperan sebagai organisator bagi kelompoknya

Praktik kecurangan yang dilakukan oleh para guru kenaikan pangkat ini juga dipengaruhi oleh orang lain karena perjumpaan-perjumpaan yang dilakukan melintasi ruang dan