• Tidak ada hasil yang ditemukan

UJI PERMSELEKTIVITAS ION Cr(III) PADA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN TERCETAK ION

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "UJI PERMSELEKTIVITAS ION Cr(III) PADA MEMBRAN KOMPOSIT KITOSAN TERCETAK ION"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

28

UJI PERMSELEKTIVITAS ION Cr(III) PADA MEMBRAN KOMPOSIT

KITOSAN TERCETAK ION

Leony Yolanda1*, Anis Shofiyani1, Titin Anita Zaharah1 1

Program Studi Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl. Prof. Dr. H. Hadari Nawawi, Pontianak

*email: [email protected]

ABSTRAK

Peningkatan kinerja kitosan sebagai pengikat logam berat dapat dilakukan dengan memodifikasinya menjadi bentuk membran komposit karbon. Proses imprinting menggunakan logam Cr(III) bertujuan untuk meningkatkan selektivitas terhadap ion logam target tersebut. Pembuatan membran komposit dilakukan melalui tahapan : pelarutan kitosan, imprinting, penambahan karbon, crosslinking, elusi ion imprinted, pencetakan menjadi bentuk membran serta regenerasi gugus fungsional kitosan. Membran Kitosan Tercetak Ion-Cr(III) (KTI-Cr(III)) dan membran Komposit Kitosan Tercetak Ion-Cr(III) pada Permukaan Karbon (KTI-Cr(III)-C) dikarakterisasi menggunakan spektroskopi FTIR dan SEM-EDX. Spektrum FTIR membran KTI-Cr(III) dan (KTI-Cr(III)-C) menunjukkan adanya perubahan pita serapan pada gugus aktif kitosan yaitu –NH2 dan –OH. Hasil analisis SEM-EDX memperlihatkan terjadinya penurunan

persen komposisi massa ion logam Cr(III). Permselektivitas membran KTI-Cr(III) terhadap Cr(III) berada pada pH 5 dengan nilai koefisien rejeksi tertinggi sebesar 98,94% dan permselektivitas membran KTI-Cr(III)-C terhadap ion Cr(III) optimum terjadi pada pH 4 dengan nilai koefisien rejeksi tertinggi sebesar 68,70%.

Kata Kunci: membran, kitosan, permselektivitas, krom

PENDAHULUAN

Pencemaran logam berat diakibatkan terutama oleh limbah beracun hasil industri. Logam krom (Cr) merupakan salah satu logam berat yang mencemari lingkungan. Logam krom dalam jumlah berlebih dapat menjadi racun bagi tubuh manusia. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, nilai ambang batas logam krom (Cr) yang diperbolehkan sebesar 0,05 mg/L, sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 2001, kadar maksimum logam krom (Cr) di dalam air sebesar 0,5 mg/L.

Penanganan limbah logam berat telah banyak dilakukan, salah satunya menggunakan kitosan (Permanasari et al., 2010). Keunggulan kitosan adalah mempunyai dua gugus fungsi yaitu amina (-NH2) dan hidroksil (-OH) yang dapat berfungsi sebagai ligan untuk bereaksi dengan ion logam (Marganof, 2002).

Kitosan memiliki kelemahan diantaranya larut dalam asam organik. Usaha

meningkatkan kinerja kitosan dalam mengadsorbsi logam antara lain melalui proses crosslinking untuk meningkatkan kekuatan mekanis dan kimia kitosan. Namun sebagian gugus fungsi akan terpakai pada saat proses crosslinking, sehingga perlu dilakukan proses imprinting untuk melindungi gugus fungsi dan dapat menyiapkan templat-templat sesuai karakteristik ion logam yang menjadi target.

Salah satu modifikasi kitosan tercetak ion logam adalah dalam bentuk membran. Menurut Mulder (1996), membran memiliki kemampuan melewatkan suatu komponen yang ukurannya lebih kecil dengan sistem absorbsi kontinyu. Penelitian yang dilakukan Zaharah et al. (2013) memodifikasi kitosan biomassa imprinted ionik Cr(III) menunjukkan proses adsorpsi berlangsung lebih cepat dan efektif yang ditandai dengan nilai konstanta laju adsorpsi yang lebih besar.

Bentuk membran KTI yang belum banyak dikembangkan adalah membran komposit KTI dengan karbon (KTI-C). Menurut Wibowo et al. (2004) karbon dapat meningkatkan luas permukaan pori, daya

(2)

29 adsorbsi dan stabilitas baik serta dapat dimodifikasi tanpa merubah struktur dan pori.

Pada penelitian ini dilakukan sintesis Kitosan Tercetak Ion (KTI) dan Kitosan Tercetak Ion Karbon (KTI-C) dalam bentuk membran menggunakan ion Cr(III) sebagai ion templat. Variabel yang dipelajari dalam penelitian ini adalah pengaruh pH terhadap nilai permselektivitas membran. Karakterisasi membran kitosan menggunakan SEM-EdX (Scanning Electron Microscopy with Energy Dispersive). Analisis ion logam Cr(III)

menggunakan metode SSA

(Spektrofotometri Serapan Atom). METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu botol semprot, plat kaca, pompa vakum, corong buchner, magnetic stirrer, kolom, neraca analitik, pH-meter, oven, seperangkat alat gelas, desikator, spektrofotometer FTIR (Fourier Transform InfraRed) Nicolet Avatar 360 IR, alat SEM-EdX (Scanning Electron Mycroscopy with Energy Dispersive Analysis) JEOL JSM 6510LA, dan SSA (Spektrofotometri Serapan Atom) Varian AA240Fs.

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu akuades (H2O), asam asetat (CH3COOH), asam klorida (HCl), kromium(III) klorida (CrCl3.6H2O) heksahidrat, epiklorohidrin, karbon, kitosan dengan derajat deasetilasi 85%, Na2EDTA.2H2O, natrium hidroksida (NaOH).

Prosedur Kerja

Pembuatan Membran KTI-C (Shofiyani,

et al., 2015 dengan modifikasi)

Karbon ditimbang, dikeringkan dan disimpan dalam desikator. Sebanyak 0,5 g kitosan (berat kering) dilarutkan dengan asam asetat encer dan ditambahkan 0,125 g karbon ke dalam hidrogel kitosan secara perlahan dan diaduk hingga homogen. Ditambahkan larutan CrCl3 dengan konsentrasi 5000 mg/L sebanyak 5 mL ke dalam larutan kitosan karbon dan diaduk. Campuran larutan kitosan karbon yang sudah ditambahkan ion logam disentrifus selama 1 jam. Campuran yang dihasilkan kemudian dituangkan pada plat kaca untuk

membentuk membran. Membran yang dihasilkan dikeringkan dalam oven dengan suhu 40°C. Membran yang dihasilkan kemudian direndam ke dalam larutan NaOH 0,1 M sampai dapat dilepaskan dari plat kaca selanjutnya dicuci menggunakan akuades dan dikeringkan.

Proses crosslinking dilakukan dengan merendam membran ke dalam larutan epiklorohidrin (pH 10) pada suhu ruang selama 6 jam. Setelah dikeluarkan, membran dicuci berulang menggunakan aquades hingga netral. Elusi ion Cr(III) dari permukaan membran dilakukan dengan menempatkan membran pada kolom, lalu dialirkan larutan Na2EDTA 0,2 M dengan menggunakan pompa vakum. Eluat ditampung dan diukur kadar Cr(III) yang berhasil dilepaskan.

Regenerasi membran dilakukan dengan cara mencelupkan ke dalam larutan NaOH 0,1 M sebanyak 2-3 kali, lalu dicuci menggunakan akuades, selanjutnya membran yang diperoleh diberi nama membran kitosan tercetak ion Cr(III) karbon (KTI-Cr(III)-C). Pada pembuatan membran kitosan tercetak ion Cr(III) (KTI-Cr(III)) tidak dilakukan penambahan karbon. Karakterisasi membran dilakukan menggunakan SEM-EDX (Scanning Electron Microscopy Electron with Energy Dispersive).

Penentuan Fluks (Rohman, et al., 2009) Membran KTI-Cr(III) dan KTI-Cr(III)-C digunting membentuk lingkaran dengan ukuran diameter 3 cm sesuai dengan bentuk dan ukuran kolom. Akuades dilewatkan pada kolom yang telah di pasang membran. Sebelum dilakukan uji fluks, terlebih dahulu dilakukan kompaksi terhadap membran yang akan diuji. Kompaksi dilakukan dengan cara mengalirkan air melewati membran sehingga di peroleh fluks air yang konstan. Penentuan Permselektivitas (Kusumawati dan Tania, 2012)

Sebanyak 50 mL larutan Cr(III) 250 mg/L dimasukkan ke dalam gelas kimia 25 mL dan diatur pada variasi pH 3, 4, 5, 6,7 dengan penambahan HCl atau NaOH 0,1 M. Masing-masing larutan Cr(III) yang telah dikondisikan pH-nya kemudian dialirkan melalui kolom yang telah dipasangkan

(3)

30 membran dengan bantuan pompa vakum. Eluat ditampung dan ditentukan jumlah Cr(III) yang teradsorpsi menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS).

Penentuan Penyerapan Air (Swelling) (Ariyanto, 2012)

Derajat penyerapan air (swelling) pada membran dilakukan dengan merendam membran yang ditimbang sebanyak 0,05 g pada masing-masing membran dalam akuades 40 mL selama 24 jam. Setelah direndam permukaan membran yang masih terdapat akuades dikeringkan dengan tisu, kemudian membran ditimbang sebagai berat basah dan dihitung % perbandingan membran berat kering dengan membran berat basah.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Proses Sintesis Membran KTI dan KTI-C

Kitosan dilarutkan dalam asam asetat hingga terbentuk hidrogel. Asam asetat digunakan sebagai pelarut karena kitosan merupakan suatu polikation yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam asam organik, seperti asam asetat (Kusumawati dan Tania, 2012). Selanjutnya ditambahkan dengan karbon secara perlahan agar serbuk karbon bercampur dengan baik pada hidrogel. Hidrogel kitosan karbon ditambahkan dengan larutan logam Cr(III). Fungsi dari penambahan larutan logam tersebut untuk membentuk ikatan kompleks antara ion logam dengan gugus aktif (NH2) pada kitosan sehingga diharapkan terbentuk templat-templat yang bersifat spesifik untuk Cr(III).

Membran dicetak pada plat kaca dan dikeringkan dalam oven pada suhu 40ºC. Membran yang dihasilkan kemudian direndam dengan larutan NaOH untuk menetralisasi gugus fungsi kitosan sehingga membran bisa terlepas dari plat kaca, karena larutan NaOH dapat berdifusi dari bagian bawah membran sampai ke permukaan cetakan membran. Hal ini dapat memperkuat struktur membran tersebut (Kusumawati dan Tania, 2012). Selanjutnya, membran yang telah direndam dengan NaOH dan terlepas dari plat kaca dicuci menggunakan akuades hingga air cucian netral.

Gambar 1. Reaksi crosslinking antara kitosan dan epiklorohidrin (Tirtom et al., 2012)

Membran kitosan tercetak ion selanjutnya dilakukan proses crosslinking dengan menggunakan larutan epiklorohidrin pH 10, karena pada pH 10 terbentuk gugus epoksida yang lebih reaktif sehingga proses crosslinking diarahkan berlangsung di gugus –OH dari kitosan. Tujuan dari proses crosslinking tersebut adalah untuk meningkatkan kekuatan mekanis dan kimia membran. Adapun reaksi crosslinking antara kitosan dan epiklorohidrin ditunjukkan melalui Gambar 1.

Reaksi crosslinking antara kitosan dan epiklorohidrin terjadi dalam suasana basa, dimana terjadinya ikatan kovalen antara atom karbon yang terdapat pada epiklorohidrin dengan gugus hidroksil yang terdapat pada kitosan sehingga menyebabkan cincin epoksida yang terdapat pada epiklorohidrin putus dan melepaskan atom klorin. Proses pembentukan templat pada membran dilakukan dengan cara elusi ion Cr(III) menggunakan larutan Na2EDTA dari kompleks kitosan, sehingga terbentuk membran KTI-Cr(III) dan KTI-Cr(III)-C.

Regenerasi membran dalam NaOH dilakukan untuk memulihkan gugus –NH2 bebas pada kitosan, karena larutan Na2EDTA bersifat sedikit asam. Persen total ion Cr(III) terelusi ditunjukkan pada Tabel 1

Data pada Tabel 1 menunjukkan hasil elusi yang dilakukan pada membran KTI-Cr(III) lebih tinggi 15,12% dibandingkan pada membran KTI-Cr(III)-C. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi morfologi permukaan membran dapat mempengaruhi

(4)

31 optimalnya proses elusi yang dilakukan. Sebagian besar ion imprinted diperkirakan masih terjebak pada membran hasil crosslinking sehingga sulit untuk dilepas secara keseluruhan dengan larutan Na2EDTA (Shofiyani et al., 2015).

Karakterisasi terhadap membran dilakukan dengan SEM-EDX (Scanning Electron Microscopy Electron with Energy Dispersive) untuk mengetahui morfologi dan komposisi berat relatif unsur pada membran. Hasil SEM-EDX ditunjukkan melalui Gambar 2 dan Tabel 2.

Berdasarkan Tabel 2 terjadi peningkatan unsur C yang relatif tinggi pada membran

dengan penambahan karbon dibandingkan membran tanpa penambahan karbon. Pada membran Kitosan-Cr(III), dan Kitosan Karbon-Cr(III) terdapat unsur Cr. Hal ini menandakan telah terjadi ikatan antara logam Cr(III) dengan gugus aktif kitosan (Chen et al., 2011). Perbandingan unsur Cr yang terdapat pada membran KTI-Cr(III) dan KTI-Cr(III)-C mengalami penurunan jika dibandingkan dengan membran kitosan Cr(III) dan kitosan karbon Cr(III). Hal ini mengindikasikan ada ion Cr(III) yang belum terlepas melalui elusi. Hasil tersebut sesuai dengan data AAS, dimana persen ion terelusi tidak mencapai 100%.

Tabel 1. Hasil Elusi Cr(III) dari Kompleks Kitosan-Cr(III) dan Kitosan-Cr(III) Karbon Membran Konsentrasi ion Cr(III) (mg/L) % total elusi

Awal Terelusi

KTI-Cr(III) 4221,601 3525 83,50%

KTI-Cr(III)-C 4221,601 2886,8 68,38%

Tabel 2. Komposisi Unsur Membran Kitosan Karbon, Kitosan-Cr(III), KTI-Cr(III), Kitosan Karbon Cr(III), KTI-Cr(III)-C

Unsur

% Massa

Kitosan Karbon Kitosan-Cr(III) KTI-Cr(III) Kitosan

Karbon-Cr(III) KTI-Cr(III)-C

C 66,38 66,29 67,93 68,06 86,62

O 1,53 4,05 3,43 3,93 4,04

N 28,92 - - - -

Cr - 6,13 5,26 5,66 4,19

Gambar 2. Membran a) kitosan karbon, b) kitosan-Cr(III), c) KTI-Cr(III) d) kitosan karbon-Cr(III), e) Membran KTI-Cr(III)-C

a b c

(5)

32 Hasil Uji Permeabilitas Membran (Fluks)

Permeabilitas suatu membran dinyatakan dalam suatu nilai yang disebut dengan nilai fluks. Uji fluks dilakukan untuk mengetahui volume permeat yang melewati suatu membran pada waktu tertentu dengan adanya daya dorong atau tekanan. Uji fluks juga dapat menentukan seberapa kuat membran dapat dilewati suatu cairan. Uji fluks dilakukan pada 4 jenis membran yaitu membran kitosan, membran kitosan karbon, membran Cr(III), dan membran KTI-Cr(III)-C. Data hasil uji fluks dari 4 membran tersebut ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Hasil Uji Fluks Membran

No Jenis Membran Fluks 1 Kitosan 350,318 L/m2jam 2 Kitosan Karbon 382,165 L/m2jam 3 KTI-Cr(III) 271, 762 L/m2jam 4 KTI-Cr(III)-C 490,175 L/m2jam

Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai fluks membran yang menggunakan material pendukung karbon memiliki nilai fluks yang lebih besar. Nilai fluks kitosan karbon lebih besar dari nilai fluks kitosan. Begitu pula nilai fluks KTI-Cr(III)-C lebih besar dari nilai fluks KTI-Cr(III). Hal ini diduga dikarena penambahan material karbon akan meningkatkan karakter pori membran, sehingga jumlah air yang melewati luas membran meningkat.

Peningkatan nilai fluks membran komposit kitosan karbon dikarenakan adanya penambahan karbon pada membran KTI-Cr(III)-C yang menyebabkan sifat pori bertambah, sehingga mempunyai jumlah pori yang lebih banyak dan ukuran pori yang tidak terlalu rapat (Rohman et al., 2009). Sifat pori yang bertambah pada membran komposit mengakibatkan permeat dapat melewati membran lebih cepat, sehingga nilai fluks semakin meningkat. Nilai fluks pada membran kitosan dan membran KTI-Cr(III) lebih rendah dibandingkan dengan membran kitosan karbon dan membran KTI-Cr(III)-C. Pratomo (2003) mengatakan hal ini terjadi karena pada membran kitosan dan membran KTI-Cr(III) mempunyai jumlah pori-pori yang sedikit dan ukuran pori yang sangat rapat, sehingga semakin sedikit partikel yang dapat melewati membran tersebut.

Derajat Penyerapan Air (Swelling)

Uji swelling merupakan parameter kualitas untuk mengetahui kapasitas membran dalam menyerap air. Uji swelling dilakukan pada 4 jenis membran yaitu membran kitosan, membran kitosan karbon, membran Cr(III), dan membran KTI-Cr(III)-C.

Berdasarkan data pada Tabel 5 diperoleh nilai derajat penyerapan air (swelling) pada membran kitosan, membran kitosan karbon, membran KTI-Cr(III), dan membran KTI-Cr(III)-C. Hasil yang diperoleh pada uji swelling menunjukkan terjadi penurunan nilai swelling pada membran KTI-Cr(III)-C dan membran kitosan karbon, jika diamati penambahan material karbon mengakibatkan penurunan nilai swelling terhadap kedua jenis membran tersebut. Hal ini disebabkan molekul air cukup sulit untuk berdifusi ke dalam membran.

Tabel 4. Hasil Uji Swelling Pada Membran No Jenis Membran Swelling

1 Kitosan 72,242%

2 Kitosan Karbon 48,529%

3 KTI-Cr(III) 62,316%

4 KTI-Cr(III)-C 25%

Penurunan nilai swelling diakibatkan peran pori pada permukaan membran, sehingga air sulit masuk ke dalam membran (Fitriah, 2012). Membran KTI-Cr(III) dan membran kitosan merupakan membran yang bersifat hidrofilik karena memiliki nilai swelling yang cukup tinggi. Jika diamati dari keempat jenis membran tersebut, membran kitosan memiliki nilai derajat swelling tertinggi, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Bokau (2013) yang menyatakan membran kitosan memiliki sifat hidrofilitas yang tinggi karena pada membran kitosan gugus –OH berikatan secara optimal dengan molekul H2O.

Hasil Uji Permselektivitas Membran Larutan umpan CrCl3.6H2O 250 ppm dengan variasi pH 3, 4, 5, 6 dan 7 dilewatkan melalui membran KTI-Cr(III), dan membran KTI-Cr(III)-C. Hasil filtrasi dinyatakan sebagai permeat dan dihitung konsentrasinya menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Data yang dihasilkan ditampilkan pada Tabel 5.

(6)

33 Tabel 5. Hasil Uji Permselektivitas Membran

KTI dan Membran KTI-C Terhadap Larutan Cr(III) No pH Koefisien Rejeksi (%) KTI-Cr(III) KTI-Cr(III)-C 1. 3 95,91 - 2. 4 86,58 68,70 3. 5 98,94 25,97 4. 6 8,61 4,77 5. 7 3,24 13,21

Berdasarkan Tabel 4, nilai koefisien rejeksi membran KTI-Cr(III) dan membran KTI-Cr(III)-C bervariasi pada kondisi pH yang berbeda. Nilai koefisien rejeksi tertinggi pada membran KTI-Cr(III) sebesar 98,94% ditunjukkan pada pH 5 dan nilai koefisien rejeksi tertinggi pada membran KTI-Cr(III)-C sebesar 68,70% ditunjukkan pada pH 4. Hal ini menunjukkan jika pada kondisi pH 5 pada KTI-Cr(III) dan pH 4 pada KTI-Cr(III)-C membran tersebut mampu menyerap dan menahan lebih besar spesi ion logam yang dilewatkan. Semakin tinggi nilai koefisien rejeksi maka semakin baik kemampuan membran dalam menahan spesi ion logam. Sesuai dengan diagram spesies kromium yang ditunjukkan pada Gambar 3 bahwa pada pH 4 kromium ditemukan dalam bentuk Cr3+ , jika pH >5 kromium akan mulai mengendap sehingga terbentuk Cr(OH)3 (Yun et al., 2001).

Gambar 3 Diagram Spesies Kromium pada Berbagai Kondisi pH Tertentu (Yun et al., 2001)

Nilai koefisien rejeksi membran KTI-Cr(III) terendah sebesar 3,24% pada pH 7 dan nilai koefisien rejeksi membran KTI-Cr(III)-C terendah sebesar 4,77% pada pH 6. Rendahnya nilai koefisien rejeksi yang diperoleh diduga karena sebagian besar Cr(III) sudah mengendap diatas pH 6 sehingga spesi ion logam yang dilewatkan lolos dan tidak berikatan dengan gugus aktif

kitosan, selain itu ukuran pori membran yang terbentuk diduga lebih besar dibandingkan dengan ukuran spesi ion logam yang dilewatkan sehingga ion logam lolos dan tidak tertahan oleh membran (Noralia dan Maharani, 2013).

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

1. Karaktersitik membran KTI dan KTI-C adalah sebagai berikut :

a. Permeabilitas membran KTI-Cr(III)-C lebih tinggi dari membran KTI-Cr(III).

Nilai yang dihasilkan pada membran

KTI-Cr(III)-C sebesar 490,175 L/m2jam dan membran KTI-Cr(III) sebesar 271,762 L/m2jam.

b. Nilai swelling pada membran KTI-Cr(III) lebih tinggi dibandingkan dengan membran KTI-Cr(III)-C. Nilai yang dihasilkan pada membran KTI-Cr(III)sebesar 62,316% dan membran KTI-Cr(III)-C sebesar 25%.

2. Nilai koefisien rejeksi tertinggi pada membran KTI-Cr(III) sebesar 98,94% terdapat pada pH 5 dan nilai koefisien rejeksi tertinggi pada membran KTI-Cr(III)-C sebesar 68,70% terdapat pada pH 4.

DAFTAR PUSTAKA

Ariyanto, W., 2012, Pembuatan Membran Komposit Kitosan-Vanilin/Polivinil Alkohol/Lempung Sebagai Membran Polimer Elektrolit, Universitas Sebelas Maret (Skripsi).

Bokau, N, S., 2013, Sintesis Membran Kitosan Termodifikasi Silika Abu Sekam Padi untuk Proses Dekolorisasi, Universitas Negeri Semarang (Skripsi).

Chen, C.Y., Yang, C.Y., and Chen, A.H., 2011, Biosorption of Cu(II), Zn(II), Ni(II), and Pb(II), Ions by Crosslinked Metal Imprinted Chitosan, with Epiclorohydrin, J. Of Enviromental Management, 92.

Fitriah, H., Mahatmanti, F.W., Wahyuni, S., 2012, Pengaruh Konsentrasi pada Pembuatan Membran Kitosan Terhadap Selektivitas Ion Zn(II) dan Fe(II), Indonesian Journal of Chemical Science, 1(2).

(7)

34 Kusumawati, N dan Tania, S., 2012,

Pembuatan dan Uji Kemampuan Membran Kitosan Sebagai Membran Ultrafiltrasi untuk Pemisahan Zat Warna Rhodamin B, J. Molekul Universitas Negeri Surabaya, 7(1). Marganof., 2002, Potensi Limbah Udang

sebagai Penyerap Logam Berat (Timbal, Kadmium, dan Tembaga) di Perairan, [Makalah Pribadi]. Bogor: Program Pascasarjana/S3. IPB. Mulder, M., 1996, Basic Principles of

Membrane Technology, Edisi 2, Dordrecht Kluwer Academic.

Noralia, E., dan Maharani, D, K., 2013, Filtrasi Ion Logam Cr6+ dengan Membran Komposit Kitosan Silika, UNESA Journal of Chemistry 2(1). Peraturan Menteri Kesehatan Republik

Indonesia No

492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Peraturan Pemerintah No 82 Tahun 2001

tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air.

Permanasari, A., Siswaningsih, W., Wulandari, I, 2010, Uji Kinerja Adsorben Kitosan-Bentonit Terhadap Logam Berat dan Diazinon Secara Simultan, J. Sains dan Teknologi Kimia, 1(2).

Pratomo, H., 2003, Pembuatan dan Karakterisasi Membran Komposit Polisulfon Selulosa Asetat untuk Proses Ultrafiltrasi, Universitas Negeri

Yogyakarta, Jurnal Pendidikan Matematika dan Sains, Edisi 3, Tahun VIII.

Rohman, T., Utami, U, B, L., dan Mahmud., 2009, Pengaruh Konsentrasi Kitosan Terhadap Karakter Membran Kitosan, Sains dan Terapan Kimia, 2(1).

Shofiyani, A., Narsito., Santoso, S.J., Noegrohati., Zaharah, T.A., and Sayekti, E., 2015, Cadmium Adsorpstion On Chitosan/Chorella Bioamass Sorbent Prepared By Ionic-Imprinting Technique, J, Chem, 15(2). Tirtom, V. N., Dincer, A., Bacerik, S.,

Aydemir, T., and Celik, A, 2012, Comparative adsorption of Ni (II) and Cd (II) ion on epichlorohydrin crosslinked chitosan – clay composite beads in aqueous solution, Chemical Engineering Journal,197.

Wibowo, N., Setiawan, J., dan Ismadji, S., 2004, Modifikasi Gugus Aktif Suatu Karbon dan Karakterisasinya, J.Teknik Kimia Indonesia, 3(1).

Yun, S, Y., Park, D., Park, J, M., and Volesky, B, 2001, Biosorption of Trivalent Chromium on the Brown Seaweed Biomass, Environmental Science and Technology, 35(21). Zaharah, T A., Shofiyani, A., dan Sayekti,

E., 2013, Kinetika Adsorpsi Ion Cr(III) pada Biomassa-Kitosan Imprinted Ionik, Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung.

Gambar

Gambar  1.  Reaksi  crosslinking  antara  kitosan  dan  epiklorohidrin  (Tirtom et al., 2012)
Tabel 1. Hasil Elusi Cr(III) dari Kompleks Kitosan-Cr(III) dan Kitosan-Cr(III) Karbon  Membran  Konsentrasi ion Cr(III) (mg/L)
Gambar  3  Diagram  Spesies  Kromium  pada  Berbagai  Kondisi  pH  Tertentu  (Yun et al., 2001)

Referensi

Dokumen terkait

Lapangan penumpukan peti kemas sebagai sebuah bagian dari sistem penanganan peti kemas pada terminal peti kemas Koja mengalami peningkatan kepadatan setiap tahunnya, ketika

Observasi merupakan penelitian dan melakukan pencatatan yang terstruktur dan terorganisir terhadap fakta dan permasalahan yang diteliti. Observasi dapat dilakukan secara

Sebagai tenaga administrasi sekolah tampaknya semua staf TU harus bisa bekerja di semua bidang yang telah ditugaskan oleh kepala sekolah dan kepala TU,

Analisis Persepsi dan Sikap Masyarakat Terhadap Perbankan Syariah Hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa dari beberapa responden yang telah peneliti wawancarai

Telah disetujui oleh pembimbing untuk dipertahankan di depan Tim Penguji Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn.S DENGAN HARGA DIRI RENDAH

Bagaimana hubungan timbulnya ruam dengan demam (apakah ruam timbul pada saat demam sedang tinggi-tingginya, atau timbul ruam setelah suhu tubuh menjadi normal, atau

Pada tahap perencanaan, guru melakukan penyusunan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) secara umum yang disesuaikan dengan standar KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan

Perguruan tinggi bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/ atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/