• Tidak ada hasil yang ditemukan

POPULASI PARASITOID LARVA PADA MASA TANAM BERBEDA DI LAHAN TEBU KEBUN TANDEM HULU PTPN II SEI SEMAYANG SKRIPSI OLEH:

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "POPULASI PARASITOID LARVA PADA MASA TANAM BERBEDA DI LAHAN TEBU KEBUN TANDEM HULU PTPN II SEI SEMAYANG SKRIPSI OLEH:"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

POPULASI PARASITOID LARVA PADA MASA TANAM BERBEDA DI LAHAN TEBU KEBUN TANDEM HULU PTPN II SEI SEMAYANG

SKRIPSI

OLEH:

ELFRIDA SARI SINAGA 120301188

AGROTEKNOLOGI - HPT

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018

(2)

POPULASI PARASITOID LARVA PADA MASA TANAM BERBEDA DI LAHAN TEBU KEBUN TANDEM HULU PTPN II SEI SEMAYANG

SKRIPSI

OLEH:

ELFRIDA SARI SINAGA 120301188

AGROTEKNOLOGI - HPT

Usulan Penelitian Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Dapat Melaksanakan Penelitian dan Seminar Proposal di Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas

Sumatera Utara, Medan.

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2018

(3)

Judul : Populasi Parasitoid Larva Pada Masa Tanam Berbeda di Lahan Tebu Kebun Tandem Hulu PTPN II Sei Semayang

Nama : Elfrida Sari Sinaga NIM : 120301188

Prodi : Agroekoteknologi

Minat : Hama dan Penyakit Tumbuhan

Disetujui Oleh Komisi Pembimbing :

Mengetahui

Ketua Program Studi (Dr. Ir. Sarifuddin, MP.) (Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, M.S.)

Ketua Komisi Pembimbing

(Dr.Lisnawita, S.P., M.Si.) Anggota Komisi Pembimbing

(4)

ABSTRAK

Elfrida Sari Sinaga, “Populasi Parasitoid Larva Pada Masa Tanam Berbeda di Lahan Tebu Kebun Tandem Hulu PTPN II Sei Semayang”, di bawah bimbingan Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS dan Dr. Lisnawita, SP, Msi.

Berbagai parasitoid telah diintroduksi di PTPN II Sei Semayang untuk mengendalikan berbagai macam hama yang menyerang tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman spesies parasitoid di lahan tebu. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu PTPN II Sei Semayang. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri dari 6 masa tanam (blok) yaitu masa tanam awal april (I), masa tanam awal mei (II), masa tanam awal juni (III), masa tanam akhir april (IV), masa tanam akhir mei (V) dan masa tanam akhir juni (VI) dengan 8 ulangan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Apantheles flavipes Cam merupakan parasitoid yang ditemukan di lapangan dengan jumlah berbeda pada setiap blok.

Blok I sebanyak 212 ekor, blok II 218 ekor, blok III 266 ekor, blok IV 187 ekor, blok V 194 ekor, dan blok VI 348 ekor. Persentase parasitisasi A. flavipes tertinggi terdapat pada blok VI 1,25 % dan persentasi terendah pada blok I 0,75%. Dari keseluruhan jumlah parasitoid diketahui jumlah parasitoid jantan 406 ekor sedangkan betina 1019 ekor.

Kata Kunci : Parasitoid, Apantheles flavipes, masa tanam

(5)

ABSTRACT

Elfrida Sari Sinaga, “Population Parasitoid of Larva in Different Planting Period in Tandem Hulu Plantation Land of PTPN II Sei Semayang”. Parasitoids have been introduced in PTPN II Sei Semayang to control various pests that attack the crops. This research was carried out at Central research and Development of Sugarcane Crop Sei Semayang PTPN II. The method of this research was Randomized Block Design non factorial which conists of 6 palnting periods (block), planting period of early april (block I), planting period of early May (block II), planting period of early June (block III), planting period of end April (IV), planting period of end May (V), planting period of end June (VI) with 8 replications.

The results showed that Apathales flavipes Cam was a parasitoid found in the field with different amounts and each block. Block I is 212 tails, block II is 218 tails, block II is 266 tails, block IV is 187 tails, block V 194 tails, and block VI 348 tails. The highest percentage of a A. flavipes parasitization was found in block VI 1.25% and lowest percentage in block I 0.75%. From all of the total of parasitoids known amount of male parasitoid 406 tails while female 1019 tails.

Keywords: Parasitoid, Apantheles flavipes, planting period

(6)

RIWAYAT HIDUP

Elfrida Sari Sinaga, lahir pada tanggal 21 Januari 1994 di Sidikalang Dairi, putri dari Ayahanda Pintor Sinaga dan IbundaEstinar Manalu. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara.

Pendidikan formal yang pernah di tempuh penulis yaitu:

- Tahun 2006 lulus dari Sekolah Dasar (SD) Negeri 091468 Girsang Sip.

Bolon

- Tahun 2009 lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Girsang Sip. Bolon, Parapat.

- Tahun 2012 lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri ! Girsang Sip. Bolon, Parapat.

- Tahun 2012 diterima di Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Program Studi Agroekoteknologi melalui jalur UMB.

Pengalaman Kegiatan Akademis:

- Tahun 2012-2017 tercatat sebagai anggota HIMAGROTEK (Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi) Fakultas Pertanian USU.

- Tahun 2012-2017 tercatat sebagai anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Kebaktian Kristen (KMK) USU

- Tahun 2014/2015 sebagai asisten Laboratorium PPHT Program Studi Agroekoteknologi USU.

- Tahun 2014 seminar - Tahun 2015 seminar - Tahun 2016 seminar

(7)

- Mengikuti Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Perkebunan Nusantara IV Unit Usaha Kebun Meranti Paham, Labuhan Batu

- Melaksanakan penelitian skripsi di Balai Riset dan Pengembangan Tebu PTPN II Sei Semayang.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmatNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Keanekaragaman Populasi Parasitoid Larva Pada Masa Tanam Berbeda di Lahan Tebu Kebun Tandem Hulu PTPN II Sei Semayang”

yang merupakan salah satu syarat untuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada Komisi Pembimbing Prof. Dr. Dra. Maryani Cyccu Tobing, MS. Selaku Ketua dan Dr. Lisnawita S.P., M.Si. selaku Anggota yang telah membimbing dan memberikan saran dalam melaksanakan penelitian dan penyelesaian skripsi ini.

Ucapan terima kasih penulis kepada pihak Kebun Tandem Hulu PTPN II dan Laboratorium Riset dan Pengembangan Tebu Sei Semayang yang telah memberikan tempat dan arahan kepada penulis selama melaksanakan penelitian.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.

Medan, Desember 2017 Penulis

i

(9)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Tujuan Penelitian ... 3

Hipotesis Penelitian ... 3

Kegunaan Penelitian ... 3

TINJAUAN PUSTAKA Tebu Saccharum officinarum L. (Monocotyledonae: Poaceae) ... 5

Hama Tanaman Tebu ... 6

Pengendalian Hama Tebu ... 9

Agens Hayati Pada Pertanaman Tebu ... 10

Parasitoid ... 10

Patogen ... 12

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ... 15

Bahan dan Alat ... 15

Metodologi Penelitian ... 15

PELAKSANAAN PENELITIAN Penyediaan Sogolan ... 17

Pengambilan Sampel ... 17

Pemeliharaan Sampel ... 17

Identifikasi Jamur ... 17

Peubah Amatan ... 18

Jumlah dan Jenis Inang ... 18

Jumlah dan Jenis Parasitoid ... 18

Nisbah Kelamin Parasitoid ... 18

Tingkat Parasitisasi ... 19

Jumlah Inang yang Terinfeksi Jamur ... 19

HASIL DAN PEMBAHASAN Populasi Hama di Lapangan... 20

Jumlah Parasitoid ... 21

Nisbah Kelamin Parasitoid ... 23

Tingkat Parasitasi Parasitoid ... 24

(10)

Inang yang Terinfeksi Jamur ... 26

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan ... 27 Saran ... 28 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(11)

DAFTAR GAMBAR

No. Keterangan Hlm

1. Larva penggerek batang bergaris ... 7 2. Larva penggerek batang raksasa ... 8 3. Inang yang terinfeksi patogen B. bassiana ... 26

(12)

DAFTAR TABEL

No. Keterangan Hlm

1. Populasi hama pada setiap masa tanam ... 20

2. Perbandingan populasi hama, jumlah kokon, dan jumlah parasitoid ... 21

3. Nisbah kelamin parasitoid A. flavipes ... 23

4. Tingkat parasitasi Apanteles sp. ... 24

(13)

PENDAHULUAN Latar Belakang

Gula merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia, dengan luas areal sekitar 400 ribu ha pada periode 2015-2016 dimana luas areal perkebunan negara sebesar 78.054 ha, perkebunan swasta 113.202 ha dan perkebunan rakyat sebesar 113.202 ha dengan total produksi sebanyak 2.623.931 ton per tahun (Ditjenbun, 2016). Industri gula berbasis tebu merupakan salah satu sumber pendapatan bagi sekitar 900 ribu petani dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat mencapai 1,3 juta orang. Gula juga merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat dan sumber kalori yang relatif murah karena merupakan kebutuhan pokok, maka dinamika harga gula akan mempunyai pengaruh langsung terhadap laju inflasi (BPPP, 2007).

Kerugian gula yang disebabkan oleh hama tebu di Indonesia ditaksir sebesar15%. Lebih dari 100 jenis hewan yang mengganggu dan merugikan tanaman tebu di lapangan. Namun hanya beberapa diantaranya yang sering merugikan seperti penggerek batang, penggerek pucuk, dan tikus, meskipun demikian jenis-jenis lain tetap memiliki potensi untuk hama (Nugroho, 2009).

Salah satu hama utama pada perkebunan tebu adalah penggerek batang baik di Indonesia maupun di luar negeri. Di Indonesia terdapat enam jenis penggerek batang yakni penggerek batang bergaris (Chilo sacchariphagus Boj.),

penggerek batang berkilat (C. auricilius), penggerek batang kuning (C.infuscatellus) penggerek batang abu-abu (Eucosma schistaceane Snellen),

penggerek batang jambon (Sesamia inferens Walker) dan penggerek batang tebu raksasa (Phragmatoecia castaneae Hubner) (Pramono, 2005).

(14)

Tanaman tebu yang diusahakan pada daerah-daerah baru di Sumatera paling sedikit diserang oleh empat spesies penggerek batang, yaitu: penggerek batang bergaris C. saccariphagus , penggerek batang berkilat C. auricilus, penggerek jambon S. inferens, dan penggerek batang raksasa P. castaneae (BPPP, 2007)

Salah satu tantangan untuk perbaikan dalam pertanian dan panen tebu adalah pengendalian hama secara hayati. Pengendalian hayati didefinisikan sebagai suatu usaha menurunkan populasi hama dengan menggunakan musuh alami seperti predator, parasitoid, dan patogen. Parasitoid adalah spesies yang berkembang di dalam atau pada inang dan akhirnya membunuh hama tersebut, dengan demikian parasitoid umumnya dipelihara di laboratorium dan dilepas secara berkala pada saat hama berada pada populasi kepadatan yang tinggi (Rafikov et al., 2012).

Di Indonesia ditemukan beberapa parasitoid penggerek batang yang terdiri atas parasitoid telur seperti Trichogramma spp, Telenomus rowani dan parasitoid larva seperti Telenomus benefiens Zehnt, Diatreophaga striatalis (lalat Jatiroto), Apantheles sp dan Sturmiopsis inferens Town. Pemanfaatan parasitoid telur dari famili Trichogrammatidae misalnya Trichogramma spp. sebagai agen hayati dalam pengendalian hama memiliki prospek yang baik di Filipina.

Pelepasan Trichogramma spp. berhasil menekan serangan penggerek pucuk tebu dengan laju parasitisasi 60-87,50% (Ditjenbun, 2009).

Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan penggunaan parasitoid sebagai agens pengendalian hayati mengingat tingginya keanekaragaman parasitoid yang ada. Penggunaan parasitoid sebagai agensia

(15)

hayati diperlukan informasi yang lengkap mengenai kelimpahan, keanekaragaman serta tingkat parasitisasi agar parasitoid digunakan secara optimal (Tabadepu, 2007).

Studi keragaman agens hayati pada perkebunan tebu di PTPN II Sei Semayang Sumatera Utara perlu dilakukan untuk mengetahui seberapa banyak jenis agens hayati yang mampu memarasit inang di lapangan. Selain itu dengan memperoleh agens hayati di lapangan juga sangat bermanfaat untuk perbanyakan agens hayati di Laboratorium untuk ketersediaan musuh alami dalam mengatasi hama penting di lapangan.

Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai populasi parasitoid larva di PTPN II Sei Semayang Sumatera Utara.

Tujuan Penelitian

Mengetahui keanekaragaman berbagai agens hayati pada larva dengan masa tanam berbeda di lahan tebu kebun Tandem Hulu PTPN II Sei Semayang Sumatera Utara.

Hipotesis Penelitian

Terdapat beberapa jenis agens hayati yang mampu memarasit larva hama yang terdapat di lahan tebu kebun Tandem Hulu PTPN II Sei Semayang Sumatera Utara.

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan menambah pengetahuan mengenai keragaman parasitoid larva pada hama tanaman tebu serta sebagai salah satu syarat utuk dapat memperoleh gelar sarjana di Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

(16)

TINJAUAN PUSTAKA

TebuSaccharum officinarumL. (Monocotyledonae: Poaceae)

Tebu (Saccharum officinarum L.)merupakan tanaman penghasil bahan baku gula adalah tanaman yang berasal dari benua Asia tetapi sekarang telah dibudidayakan di daerah tropis maupun subtropis. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun (Wuryanti, 2015).

Tebu memiliki tebal, batang anakan yang jelas dibagi menjadi node dan ruas. Daun dari tanaman tumbuh dari node batang, disusun dalam dua baris di kedua sisi batang. Daun berbentuk tabung dan seperti pisau, lebih tebal dibagian tengah dibandingkan pada bagian tepi daun dan letaknya mengelilingi batang.

Tebu bisa mencapai ketinggian hingga 6m (3,3 ft) dan sekali panen, batang akan kembali tumbuh yang memungkinkan tanaman hidup antara 8 hingga 12 tahun (Rajendranagar et al., 1990).

Kondisi tanah yang baik bagi tanaman tebu adalah yang tidak terlalu kering dan tidak terlalu basah, selain itu akar tanaman tebu sangat sensitif terhadap kekurangan udara dalam tanah sehingga pengairan dan drainase harus sangat diperhatikan. Drainase yang baik dengan kedalaman sekitar 1 meter memberikan peluang akar tanaman menyerap air dan unsur hara pada lapisan yang lebih dalam sehingga pertumbuhan tanaman pada musim kemarau tidak terganggu (Syakir et al., 2010).

Tebu memiliki kemampuan beradaptasi yang lebih luas dan tumbuh dengan baik pada suhu berkisar antara 20 dan 35 ° C. Tebu memiliki respon yang baik terhadap cahaya matahari dengan lama penyinaran antara 12 hingga 14 jam.

Kelembaban tinggi (80-85%) mampu membantu pertambahan panjang tebu

(17)

dengan cepat selama periode pertumbuhan utama (Agriculture, Forestry & Fisheries, 2012).

Dilihat dari jenis tanah, tanaman tebu dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah seperti tanah alluvial, grumosol, latosol dan regusol dengan ketinggian antara 0-1400 m diatas permukaan laut. Akan tetapi lahan yang paling sesuai adalah kurang dari 500 m diatas permukaan laut. Tanaman tebu dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki pH 6 – 7,5. Pada pH kurang dari 5 akan menyebabkan keracunan Fe dan Al pada tanaman, oleh karena itu perlu dilakukan

pemberian kapur (CaCo3) agar unsur Fe dan Al dapat dikurangi (Syakir et al., 2010)

Hama Tanaman Tebu

Lebih dari 120 spesies serangga hama telah dikaitkan dengan tebu termasuk merusak daun dan penggerek batang. Diantaranya, hama penggerek tebu seperti, Chiloinfuscatellus, C. sacchariphagus, C. tumidicostalis, Sesamia inferens dan S. excerptalis merupakan serangga hama penting yang merusak dan

menyerang tanaman tebu di areal tanam tebu di Asia (Maneerat and Suasa-ard, 2015).

Di Indonesia terdapat beberapa jenis penggerek batang tebu antara lain penggerek batang bergaris (C. saccariphagus), penggerek batang berkilat (Proceras sp), penggerek batang berkilat (C. auricilia Dudg), penggerek batang abu-abu (Eucosma schita Sn), penggerek batang kuning (C. infuscatella) dan penggerek batang jambon (Sesamia inferens). Diantara hama penggerek batang tersebut penggerek batang bergaris merupakan penggerek batang yang paling

(18)

penting yang hampir selalu ditemukan di semua kebun tebu di indonesia (Syakir et al., 2010).

Penggerek batang tebu bergaris (C. sacchariphagus) merupakan salah satu hama yang sangat merugikan pada tanaman tebu. Serangga hama ini menyerang tanaman tebu sejak dari awal tanam hingga saat panen. Serangan dimulai oleh larva muda yang sangat aktif menggerek daun muda kemudian turun menuju ruas- ruas batang dibawahnya sampai mencapai titik tumbuh (Purnomo, 2006).

Gambar 1. Larva penggerek batang bergaris (Subiyakto)

Hama PBR telah ada di Sumatera Utara sejak tahun 1977 yang ditemukan di perkebunan tebu khususnya di PTPN II. Serangan hama ini menjadi kendala dalam peningkatan produktivitas tebu karena menyebabkan kerugian dan kehilangan hasil gula yang cukup tinggi yaitu sekitar 15%. Tingginya intensitas serangan hama ini pula yang menjadi salah satu faktor penyebab turunnya produktivitas rata-rata tebu giling PTPN II dari 70 ton/ha menjadi hanya 40 ton/hektar. Akibat serangan PBR terjadi penurunan bobot tebu atau rendemen karena kerusakan pada ruas batang, bahkan batang tebu bisa mati dan tidak dapat digiling. Kerugian gula akibat serangan hama ini ditentukan oleh jarak waktu antar saat penyerangan dan saat tebang. Kehilangan rendemen dapat mencapai 50

(19)

persen jika menyerang tanaman tebu umur 4-5 bulan dan 4-15 persen pada tebu yang berumur10 bulan (Diyasti, 2013).

Gambar 2. Larva penggerek batang raksasa (Subiyakto)

Hama penggerek batang tebu umumnya menggerek batang sehingga menimbulkan kerusakan pada ruas dan buku. Hama ini menyebar pada pertanaman tebu di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Serangannya sangat merugikan, karena setiap 1% kerusakan ruas akibat serangan hama ini dapat menurunkan 0,5% bobot tebu.Tanaman tebu yang terserang penggerek batang ditandai adanya bercak putih yang cenderung lebar dan memanjang (tidak beraturan) pada daun bekas gerekan dan biasanya bercak ini tidak menembus kulit luar daun.Setelah menggerek daun, larva masuk ke batang tebu melalui pelepah yang ditandai adanya lubang gerek dipermukaan batang dan jika dibelah terlihat lorong gerek yang memanjang. Jika gerekan kena pada titik tumbuh, daun muda akan kering dan mati (BBPPTP, 2014).

Larva penggerek batang menembus batang membentuk terowongan, terowongan ini dapat sejajar, vertikal maupun horizontal, biasanya melewati beberapa ruas tebu. Penggerek tebu menghambat proses translokasi nutrisi dan air.

Larva merusak pucuk dan menyebabkan kematian pada titik tumbuh. Apabila

(20)

hama menggerek bibit tebu maka akan mempermudah jamur patogen Physalospora tucumanensis untuk menginfeksi bibit (Naidu, 2009).

Selain penggerek batang, tanaman tebu juga banyak diserang oleh hama penggerek pucuk tebu (S.vinella ). Gejala serangan yang tampak yaitu pada helai daun terdapat lubang melintang dan ibu tulangdaun terlihat bekas gerekan berwarna coklat. Daun yang terserang akan menggulungdan kering yang disebut mati puser. Apabila batang dibelah maka akan kelihatan lorong gerekan dari titik tumbuh ke bawah kemudian mendekati permukaan batang dansering menembus batang. Oleh karena itu serangan penggerek pucuk dapat menyebabkan kematian.

Pada ruas batang yang muda yaitu di bawah titik tumbuhterdapat lubang keluar ngengat (Nugroho, 2014).

Pengendalian Hama Tebu

Hama dan penyakit menyerang tanaman tebu dengan jumlah yang cukup besar. Jenis hama dan tingkat kerusakan yang disebabkan bervariasi di setiap daerah tergantung pada kondisi iklim agro dan manajemen pengelolannya di lapangan. Untuk mengatasi permasalahan hama dan penyakit pada budidaya tanaman tebu perlu dilakukan strategi yang baik dan tepat dengan melibatkan pendekatan mekanis, biologi dan kimia yang diaplikasikan dalam kondisi dan kebutuhan yang tepat tergantung pada serangan hama dan penyakit, hal ini dikenal dengan manajemen pengendalian hama terpadu (PHT) (Sundara, 2000).

Teknik PHT yang dapat diterapkan diantaranya dengan pengaplikasian musuh alami. Musuh alami hama penggerek pucuk berupa parasit telur dan parasit larva. Parasit telur misalnya Trichogramma japonicum.Proses periode dilakukan

(21)

8 kali aplikasi dan dilakukan setiap minggu sejak tanaman usia 1,5 bulan, tiap aplikasi dibutuhkan 50 pias/ha (BBPPTP, 2014).

Manajemen pengendalian penggerek yang berbeda telah diterapkan di beberapa daerah yang terserang oleh hama tersebut. Resistensi tanaman inang adalah hal yang paling penting dari strategi yang bertujuan untuk mengurangi dampak ekonomi dari hama tersebut, sehingga memberikan keuntungan secara ekologis dan sosiologis (Hussain et al.,2007).

Penggunaan insektisida sintetik mampu memberikan hasil yang cukup signifikan dalam menekan populasi hama penggerek batang, namun menimbulkan berbagai dampak negatif. Menurut beberapa ahli bioekologi, penggunaan insektisida sintetik mampu menimbulkan resistensi hama, terjadinya peledakan hama, timbulnya hama sekunder, kontaminasi lingkungan, efek residu pada hasil pertanian dan gangguan kesehatan manusia (Jannah, 2010).

Agens Hayati Pada Pertanaman Tebu Parasitod

Menekan populasi hama agar tidak menimbulkan kerusakan dapat dilakukan dengan mengelola komponen biotik dan lingkungannya. Pengendalian secara hayati merupakan bagian dari pengendalian alami, yaitu pengelolaan lingkungan untuk membuat populasi hama serendah mungkin. Upaya pengelolaan

lingkungan sebagian menyerupai pengendalian secara budi daya (Kartohardjono, 2011).

Salah satu upaya pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami.

Jenis musuh alami yang dapat mengurangi populasi hama adalah parasitoid, predator,patogen (jamur, bakteri, virus, rekitzia),nematoda, dan jasad renik

(22)

lainnya. Pemanfaatan parasitoid dalam pengendalian hayati merupakan cara yang dianjurkan, karena cara pengendalian ini merupakan cara pengendalian yang menggunakan pendekatan ekologi dan sesuai dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT) (Sunarto et al., 2008).

Parasitoid adalah serangga yang ukuran tubuhnya lebih kecil dibanding serangga inangnya. Parasitoid umumnya menyerang inang pada saat stadium larva, sedangkan setelah menjadi imago, parasitoid hidup bebas di alam.Jenis parasitoid dapat dibedakan menurut cara parasitasinya. Parasitoid yang menyerang bagian luar serangga disebut ektoparasitoid, dan jika menyerang bagian dalam serangga disebut endoparasitoid (Kartohardjono, 2011).

Kebanyakan parasitoid yang digunakan termasuk dalam ordo Hymenoptera dan sebagian kecildari ordo Diptera. Setidaknya terdapat 26 famili parasitoid telah digunakan dan kebanyakan dari famili Braconidae, Ichneumonidae, Eulophidae, Pteromalidae, Encyrtidae, Aphelinidae. Untuk ordo Diptera, dan famili yang paling sering digunakan dari famili Tachinidae (Hapsari, 2006).

Stadia serangga inang yang diserang parasitoid biasanya adalah stadia pradewasa meskipun beberapa kelompok parasitoid juga menyerang serangga inang pada stadia dewasa. Parasitoid yang termasuk serangga holometabola dan dapat diklasifikasikan dengan stadia inang yang diserang seperti parasitoid telur, parasitoid larva, parasitoid pupa, atau parasitoid imago. Beberapa parasitoid meletakkan telur pada satu stadia tetapi tidak akan membunuh inang sebelum memasuki stadia berikutnya, sebagai contoh parasitoid telur-larva dan parasitoid l arva-pupa (Godfray, 1994).

(23)

Kondisi agroekosistem dapat mempengaruhi keanekaragaman serta keefektifan komunitas parasitoid sebagai musuh alami serangga hama. Dalam upaya pelestarian serangga parasitoid pada suatu agroekosistem, pengelolaan lingkungan merupakan salah satu faktor utama yang dapat mempengaruhi keanekaragaman serta keefektifan komunitas parasitoid pada suatu pertanaman (Nugraha et al., 2014).

Keanekaragaman parasitoid yang tinggi pada suatu daerah dapat menggambarkan adanya potensi yang besar bagi berjalannya pengendalian hayati secara alami.Semakin banyak parasitoid serta inang yang berasosiasi dengannya maka semakin banyak pula agens pengendali biologi yang dapat dikembangkan dalam pengendalian hayati. Keanekaragaman parasitoid pada suatu wilayah juga menggambarkan potensi wilayah tersebut dalam menyangga inang dilapangan.Jika suatu wilayah memiliki keanekaragaman dan kelimpahan parasitoid yang tinggi maka daerah tersebut dapat dijadikan sebagai model pengelolaan ekosistem agar konservasi parasitoid sebagai musuh alami dapat berjalan dengan baik (Tabadepu, 2007).

Patogen

Patogen merupakan mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman, seperti jamur, bakteri dan virus. Patogen yang bisa mengendalikan hama dan penyakit disebut sebagai pestisida mikroba. Cara kerja patogen golongan jamur adalah, jamur tersebut masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit diantara ruas-ruas tubuh.Mekanisme penetrasinya dimulai dengan pertumbuhan spora pada kutikala. Hifa berkembang di dalam tubuh serangga dan

(24)

selanjutnya memasuki pembuluh darah. Melalui beberapa proses lebih lanjut di dalam tubuh menyebabkan kematian serangga (Wuryanti, 2015).

Pemanfaatan jamur entomopatogen untuk tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan cukup prospektif karena efektifitasnya yang cukup tinggi terhadap hama utama. Kendala pemanfaatan jamur entomopatogen sebagai faktor mortalitas hama secara hayati antara lain kurangnya pengetahuan petani tentang hama yang akan dikendalikan dan manfaat pengendalian, rendahnya pemahaman terhadap produk-produk hayati, serta kurang intensifnya sosialisasi produk jamur entomopatogen kepada petani (Hasyim et al., 2009).

Secara umum keberadaan jamur entomopatogen dipengaruhi oleh beberapa faktor abiotik dan biotik, termasuk cara budidaya (olah tanah dan tanpa olah tanah). Jamur yang diketahui menyerang OPT tebu dan berpotensi sebagai agens pengendali hayati antara lain Beauveria bassiana dan Metarhizium (Hasyim et al., 2009).

B. bassiana masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh.Serangga yang terserang jamur B. bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih (Wuryanti, 2015).

Cendawan Metarhizium bersifat parasit pada beberapa jenis serangga dari ordo Coleoptera, Lepidoptera, Homoptera, Hemiptera, dan Isoptera Pada pertanaman tebu cendawan ini dapat menjadi musuh alami bagi Lepidiota stigma.

Stadia hama yang diserang adalah larva (uret). Mekanisme infeksi cendawan ini

(25)

sama dengan mekanisme cendawan entomopatpgen lainnya yaitu cendawan masuk ke tubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah. Serangga yang terserang jamur Metarhizium akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna kehijauan (Wuryanti, 2015).

(26)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Riset dan Pengembangan Tanaman Tebu Sei Semayang (± 50-60 meter di atas permukaan laut) dan di Laboratorium Hama dan Penyakit Program studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas sumatera Utara (± 25 meter di atas permukaan laut).

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2016 sampai dengan Nopember 2016.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu larva hama yang diambil dari lapangan, sogolan (potongan tebu muda), kertas label, plastik bening, formalin, alkohol 70%, media PDA (Potato Dextrose Agar), dan Methyl blue.

Alat yang digunakan yaitu wadah plastik dengan tinggi 7 cm dan diameter 14 cm sebagai tempat larva hama, pisau untuk mengambil larva dari batang tebu, tabung reaksi dengan panjang 20 cm dan diameter 4 cm, mikroskop dan lup untuk mengidentifikasi parasitoid, erlen meyer 120 ml sebagai wadah untuk media PDA, cawan petri sebagi tempat membiakkan jamur, De glass untuk membuat preparat jamur, Mikroskop untuk mengamati morfologi jamur kamera untuk mendokumentasikan penelitian, alat tulis dan alat bantu lainnya yang mendukung penelitian.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri dari taraf masa tanam tebu tahun 2015, yaitu :

(27)

M1 : Masa Tanam Awal April (Masa tanam 1) M2 : Masa Tanam Awal Mei (Masa tanam 2) M3 : Masa Tanam Awal Juni (Masa tanam 3) M4 : Masa Tanam Akhir April (Masa tanam 4) M5 : Masa Tanam Akhir Mei (Masa tanam 5) M6 : Masa Tanam Akhir Juni (Masa tanam 6)

(t-1) (r-1) ≥ 15 (6-1) (r-1)≥ 15 5 (r-1) ≥15 5r ≥ 15 r≥ 4

Jumlah ulangan : 8 ulangan Jumlah sampel per masa tanam : 40 tanaman Jumlah seluruh sampel : 320 tanaman Luas lahan per masa tanam : 0,5 ha Luas lahan seluruhnya : 3 ha

Data hasil penelitian dianalisis dengan sidik ragam dengan model linier aditif sebagai berikut :

Yij = μ + αi + βj + εij Dimana :

Yij = Hasil pengamatan pada perlakuan ke- i dan ulangan ke- j μ = Efek dari nilai tengah

αi =Efek perlakuan pada taraf ke- i

(28)

βj = Efek ulangan pada taraf ke- j

Εij = Galat percobaan dari perlakuan ke- i dan ulangan ke- j

Bila hasil analisis sidik ragam menunjukkan hasil yang berbeda nyata maka perlu dilakukan Uji Jarak Duncan 5 % untuk mengetahui perbedaan masing- masing perlakukan.

Pelaksanaan Penelitian Penyediaan Sogolan

Sogolan tebu diambil dari lapangan kemudian dipotong dengan panjang 5 cm agar sama dengan tinggi wadah plastik. Setelah itu sogolan tebu dimasukkan ke dalam wadah plastik disusun secara vertikal sampai memenuhi stoples.

Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel dilakukan dengan cara memotong atau mengerat bagian tebu yang terdapat gerekan larva menggunakan pisau, kemudian dimasukkan ke dalam wadah plastik dan diberi label. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak delapan kali dengan interval pengambilan setiap 14 hari.

Pemeliharaan Sampel

Sampel dihitung dan selanjutnya dipelihara di laboratorium kemudian diamati. Imago parasitoid muncul apabila larva tidak berubah menjadi imago. Hal ini ditandai dengan munculnya kokon berwarna putih di dalam wadah.Kokon tersebut kemudian dipelihara dalam tabung hingga parasitoid menetas. Parasitoid yang muncul kemudian dihitung dan dimasukkan ke dalam alkohol 70% untuk selanjutnya diidentifikasi.

(29)

Identifikasi Jamur

Inang yang terinfeksi jamur dipisahkan dan dibawa ke laboratorium untuk kemudian diidentifikasi. Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan menyediakan media PDA dan meletakkan ulat yang telah terinfeksi jamur di atas media. Jamur yang sudah tumbuh kemudian dibuat kedalam preparat dan diamati morfologinya di bawah mikroskop.

Peubah Amatan

Jumlah dan Jenis Inang

Inang yang diperoleh di lapangan dikumpulkan, diidentifikasi dan dihitung sesuai dengan kelompok spesies masing-masing inang dari setiap perlakuan.

Inang yang diperoleh pada setiap masa tanam dikelompokkan berdasarkan instar (ukuran) larva.

Jumlah dan Jenis Parasitoid

Parasitoid yang muncul dari inang diidentifikasi dan dihitung sesuai dengan kelompok spesies masing-masing parasitoid pada setiap pengamatan.

Identifikasi dilakukan dengan mengamati karakter morfologi spesimen parasitoid awetan menggunakan kunci identifikasi serangga Goulet & Huber (1993).

Nisbah Kelamin Parasitoid

Untuk mengetahui nisbah kelamin jantan dan betina parasitoid dilakukan dengan mengamati parasitoid yang muncul dari larva C. sacchariphagus dan ditunggu hingga parasitoid tersebut mati. Dihitung nisbah imago jantan dan betina dengan mengamati spesimen parasitoid menggunakan mikroskop, dengan memisahkan jantan dan betina.

(30)

Tingkat Parasitisasi

Tingkat parasitisasi parasitoid terhadap setiap spesies inang dihitung dengan menggunakanrumus: P = 𝑛𝑛

𝑁𝑁𝑥𝑥 100 % P = tingkat parasitisasi

n = jumlah sampel yang terparasit N = jumlah sampel yang diamati (Knutson, 2007).

Jumlah Inang yang Terinfeksi Jamur

Larva yang terinfeksi oleh jamur dihitung dengan menggunakan rumus: P = 𝑛𝑛

𝑁𝑁𝑥𝑥 100 % P = tingkat parasitisasi

n = jumlah sampel yang terparasit

N = jumlah sampel yang diamati (Knutson, 2007).

(31)

HASIL DAN PEMBAHASAN Populasi Hama di Lapangan

Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa terdapat dua jenis hama yang menyerang tanaman tebu di lapangan, yaitu hama penggerek batang bergaris (Chilo sacchariphagus Boj.) dan penggerek batang raksasa (Phragmatoecia castaneae Hubner).

Hasil di lapangan menyatakan bahwa populasi hama penggerek batang bergaris lebih tinggi (1738 ekor) dibanding penggerek batang raksasa (42 ekor) (Lampiran 1 & 2), hal ini terjadi karena C. Sacchariphagus merupakan hama utama yang menyerang perkebunan tebu di lahan tebu kebun Tandem Hulu PTPN II Sei Semayang. BBPPTP (2015) menyatakan bahwa hama penggerek batang bergaris (C. sacchariphagus) telah ada di Sumatera Utara sejak tahun 1977 yang ditemukan di perkebunan tebu khususnya di PTPN II dimana mampu menyebabkan kerugian dan kehilangan hasil gula yang cukup tinggi yaitu sekitar 15%.

Tabel 1. Populasi hama pada setiap masa tanam

Blok C. sachariphagus P. sastaneae

I 250 8

II 284 6

III 249 8

IV 300 7

V 330 9

VI 325 4

Total 1738 42

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa populasi hama tidak berbeda nyata terhadap masa tanam, hal ini terjadi karena ketersediaan nutrisi pada setiap tanaman dalam masa tanam tidak begitu berbeda dikarenakan adanya persaingan antara tanaman utama dengan organisme penggaggu tanaman (gulma) (gambar 3.)

(32)

Hama memerlukan nutrisi untuk berkembang biak, adanya persaingan memperebutkan nutrisi antara gulma dan tebu juga mempengaruhi keberadaan hama di lapangan. Hal ini sesuai dengan penelitian Pramono (2005) yang menyatakan bahwa ketersediaan nutrisi pada tanaman akan mempengaruhi jumlah keturunan dari hama serta tingginya nutrisi dipengaruhi oleh ukuran inang itu sendiri.

Jumlah Parasitoid

Parasitoid yang muncul dan memarasit larva C. sachariphagus adalah Apantheles flavipes Cam (sinonim cotesia flavipes) (Hymenoptera : Braconidae).

Hal ini disebabkan pelepasan parasitoid yang dilakukan dalam kurun waktu satu tahun di kebun Tandem Hulu Sei Semayang adalah parasitoid A. flavipes (Lampiran 5). Umumnya dilakukan pelepasan parasitoid sebanyak 8 -15 kali dalam sebulan sehingga keberadaan parasitoid di lapangan tersedia.

Tabel 2. Perbandingan populasi hama C. sachariphagus, jumlah kokon, dan jumlah parasitoid

Blok Instar Jumlah Kokon Jumlah Parasitoid

I-III III-IV IV-VI

I 50 91 109 6 212

II 58 105 127 8 218

III 56 77 116 7 266

IV 53 91 156 8 187

V 73 107 150 7 194

VI 54 93 178 10 348

Total 344 564 836 46 1425

Pada Tabel 2. diketahui jumlah parasitoid yang paling banyak muncul terdapat pada blok VI dengan total 348 ekor. Hal ini dipengaruhi oleh populasi hama C. sacchariphagus yang menjadi inang parasitoid tersebut cukup tinggi

(33)

yaitu sebesar 325 ekor (Tabel 1.). Hal ini sesuai dengan pernyataan Purnomo (2006) yang menyatakan bahwa keberadaan parasitoid sangat tergantung pada tingkat kepadatan hama sebagai inangnya, sehingga bila populasi hama tinggi umumnya diikuti peningkatan populasi parasitoid.

Ukuran inang juga mempengaruhi jumlah parasitoid yang muncul. Pada Tabel 2. terlihat bahwa instar tertinggi (IV-VI) berada pada masa tanam ke-6 dengan total 178 ekor. Hal ini berhubungan dengan adanya ketersediaan nutrisi bagi parasitoid selama fase telur dan larva. Simatupang et al. (2015) menyatakan bahwa semakin besar ukuran inang maka semakin besar pula nutrisi yang tersedia sehingga hal ini sejalan dengan jumlah parasitoid yang akan muncul.

Jumlah dan ukuran kokon juga sangat mempengaruhi populasi parasitoid yang muncul. Pada Tabel 2. diketahui bahwa jumlah kokon terbanyak berada pada masa tanam ke-6 yaitu sebanyak 10 kokon dengan jumlah parasitoid yang muncul sebanyak 348 ekor. Ukuran larva inang merupakan faktor utama yang berbengaruh terhadap jumlah kokon parasitoid. Persentase keberhasilan kokon menjadi imago lebih tinggi pada inang berukuran besar atau larva tua lebih baik dibandingkan larva muda. Purnomo (2006) menyatakan bahwa apabila persentase keberhasilan kokon dipengaruhi oleh ukuran larva hama sebagai inangnya maka persentasi populasi parasitoid di pengaruhi oleh ukuran kokon. Ukuran kokon berbanding lurus dengan jumlah parasitoid yang muncul, semakin besar ukuran kokon maka jumlah parasitoid yang muncul juga akan semakin banyak.

(34)

Nisbah Kelamin

Hasil pengamatan rataan kelamin jantan dan betina dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Nisbah kelamin parasitoid A. flavipes

Blok Jumlah Parasitoid A. flavipes Nisbah Kelamin

Jantan Betina

I 64 148 1 : 2,3

II 93 125 1 : 1,3

III 70 196 1 : 2,8

IV 36 151 1 : 4,1

V 54 140 1 : 2,5

VI 89 259 1 :2,9

Dari tabel dapat dilihat bahwa jumlah parasitoid A. flavipes tertinggi adalah parasitoid betina. Imago parasitoid betina lebih banyak dihasilkan daripada imago parasitoid jantan disebabkan oleh faktor lingkungan antara lain adalah suhu. Murtiyarini et al., (2006) menyatakan bahwa adanya ketahanan yang berbeda antara parasitoid jantan dan betina pada fase larva mengakibatkan kemunculan dari telur inang menjadi imago menjadi terhambat dan nisbah kelamin yang dihasilkan berbeda.

Dari hasil penelitian didapatkan perbandingan nisbah kelamin parasitoid adalah 1:2,9 dengan jumlah parasitoid jantan 406 ekor dan jumlah parasitoid betina 1019 ekor, hal ini menunjukkan bahwa populasi imago betina lebih tinggi dari imago jantan. Hal tersebut berbeda dengan penelitian Lv et al., (2011) yang menunjukkan bahwa nisbah kelamin rata-rata yang dihasilkan oleh A. flavipes adalah 1: 2,57. Sedangkan penelitian Saragih (1986) diperoleh hasil nisbah kelamin A. flavipes ini adalah 1,13: 1.Perbedaan hasil penelitian terhadap nisbah kelamin A. flavipes ini disebabkan perbedaan spesies inang. Hal tersebut sesuai

(35)

dengan penelitian purnomo (2006) yang menyatakan bahwa pemilihan inang seekor imago parasitoid sangat berpengaruh terhadap kelangsungan keturunannya.

Disamping faktor nutrisi, ketersediaan ruang yang sesuai juga merupakan hal terpenting. Murtiyarini et al (2006) menyatakan bahwa jenis kelamin parasitoid sangat ditentukan oleh ada tidaknya pembuahan telur oleh sperma sebelum imago betina meletakkan telurnya pada inang.

Tingkat Parasitasi Parasitoid

Hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa persentase parasitisasi A. flavipes terhadap larva C. sacchariphagus tidak nyata.

Tabel 4.Tingkat parasitasi A. flavipes

Blok Total Terparasit Rataan (%)

I 6 0,75

II 8 1,00

III 7 0,88

IV 8 1,00

VI 7 0,88

VI 10 1,25

Total 46

Tabel 4 menunjukkan bahwa persentase parasitisasi A. flavipes tertinggi terdapat pada blok VI (masa tanam 5B) dengan total inang yang terparasit sebanyak 10 inang dan rataan sebesar 1,25 %. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan parasitoid A. flavipes tidak banyak sehingga belum mampu memarasit hama C. sacchariphagus secara menyeluruh. Hal ini dipengaruhi oleh kurangnya ketersediaan pakan imago parasitoid A. flavipes. Untuk keberlangsungan hidupnya imago parasitoid memerlukan pakan berupa nektar, embun madu atau serbuk sari.

Sumber pakan tersebut dapat disediakan oleh tumbuhan liar berbunga. Hal ini sesuai dengan penelitian Yaherwandi et al., (2012) yang menyatakan bahwa

(36)

keanekaragaman Hymenoptera parasitoid dapat dipengaruhi oleh ketersediaan tumbuhan liar berbunga, karena beberapa parasitoid dewasa Hymenoptera membutuhkan serbuk sari dan nektar untuk reproduksi dan kelangsungan hidupnya.

Hasil penelitian Tabel 4 dapat dilihat bahwa persentase larva yang terparasit tertinggi (1,25%) pada blok VI dan yang terendah (0,75%) pada masa tanam I. Masa tanam VI dapat mencapai nilai tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya karena jumlah larva inang dengan stadia 4-6 lebih banyak dibanding masa tanam lainnya dimana larva pada stadia tersebut mampu menyediakan nutrisi yang cukup bagi perkembangan parasitoid selama fase telur dan larva. Hal ini sesuai dengan Simatupang et al. (2015) menyatakan bahwa semakin besar ukuran inang maka semakin besar pula nutrisi yang tersedia sehingga hal ini sejalan dengan jumlah parasitoid yang akan muncul.

Umumnya parasitoid bersifat spesifik inang, yaitu parasitoid tersebut akan lebih aktif dalam mengatasi hama apabila hama tersebut adalah sasarannya, dimana C. sacchariphagus merupakan inang sasaran yang sesuai untuk perkembangan parasitoid A. flavipes. Hal ini didukung oleh Rizky (2012) yang menyatakan bahwa inang yang sesuai adalah inang yang mendukung pertumbuhan telur parasitoid sampai menjadi imago, yang dapat diketahui berdasarkan jumlah imago parasitoid yang keluar dari inang.

Inang yang terinfeksi oleh Jamur

Hama C. sacchariphagus yang terdapat di lahan perkebunan Tandem Sei Semayang selain di parasit oleh parasitoid A. flavipes. juga terdapat organisme lain yang berpengaruh terhadap perkembangan hama tersebut. Di lapangan diperoleh beberapa larva yang terinfeksi oleh patogen. Setelah dilakukan

(37)

pengamatan diketahui bahwa patogen yang menyerang hama tersebut adalah Beauveria bassiana.

Gambar 3. Inang yang terinfeksi patogen B. bassiana

Gejala yang timbul pada larva C. sacchariphagus yang terinfeksi adalah adanya miselia berwarna putih menyelimuti tubuh larva. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wuryanti (2015) bahwa B. bassiana menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan masuk menembus kulit tubuh. Inang yang terserang jamur B. bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi dan menutupi tubuh inang dengan warna putih.

(38)

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Populasi hama penggerek batang bergaris lebih tinggi dibanding

penggerek batang raksasa. Data populasi menunjukkan total C. sacchariphagus sebanyak 1738 ekor, sedangkan P.castaneae sebanyak

42 ekor.

2. Instar larva yang di temui yaitu mulai dari instar I - VI dengan nilai rataan terendah terdapat pada instar I-III (0,5-2 cm) sebesar 41,75% dan rataan tertinggi pada instar IV-VI (2-3,5 cm) yaitu sebesar 104,50%.

3. Parasitoid yang muncul dan memarasit larva C. saccariphagus adalah Apantheles flavipes dengan populasi parasitoid tertinggi pada blok VI dengan total 348 ekor (43,50%) dan populasi terendah pada blok IV dengan total 187 ekor (23,38%).

4. Persentase parasitisasi Apantheles flavipes tertinggi terdapat pada blok VI (masa tanam 5B) dengan total inang yang terparasit sebanyak 10 inang dan rataan sebesar 1,25 % dan persentase terendah berturut-turut pada blok II, IV, III, V, dan I yaitu sebesar 1,00%, 1,00%, 0,88%, 0,88% dan 0,75%.

5. Persentase inang yang terinfeksit oleh Beuveria bassiana tertinggi terdapat pada blok II (masa tanam 3B) yaitu sebanyak 28 ekor dengan rataan sebesar 3,50% dan persentase terendah berturut-turut pada blok III, IV, I, V dan VI yaitu sebesar 2,13%, 2,63%, 3,00%, 3,25% dan 3,25%.

(39)

Saran

Perlu dilakukan penanaman tumbuhan liar berbunga disekitar pertanaman tebu. Keberadaan tumbuhan liar berbunga di sekitar pertanaman tebu berfungsi sebagi tempat berlindung (shelter) bagi musuh alami ketika kondisi tidak sesuai dan juga sebagai penyedia pakan berupa nektar bagi imago parasitoid di lapangan.

(40)

DAFTAR PUSTAKA

Agriculture, Forestry and Fisheries. 2012. Sugarcane. Republic Of South Africa.Vol.Ind.SC.1.

BBPPTP. 2015. Penggerek Batang Tebu Raksasa (Phragmatoecia Castanae) Salah Satu Ancangan Industri Gula. POPT BBPPTP Surabaya.

BPPP. 2007. Prospek dan Arah Pengembangan agribisnis Tebu. Departemen Pertanian, Jakarta.

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 2016. Statistik Perkebunan Indonesia. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta ___________________________________. 2014. Statistik Perkebunan Indonesia

2013-2015 Tebu (Sugarcane). Departemen Pertanian, direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta.

Diyasti F. 2013. Waspada Penggerek Batang Tebu Raksasa.

http://ditjenbun.pertanian.go.id/perlindungan/berita-149-waspada.

(Diunduh 3 Pebruari 2016).

Dongoran ES. 2015. Perbanyakan Phragmotoceia castaneae (Lepidoptera:Cossidae) Pada Pakan Buatan. Program Studi Agroekoteknologi.Fakultas Pertanian.Universitas Sumatera Utara.Medan.

Godfray HCJ. 1994. Parasitoid: Behavioral & Evolutionary Ecology. New Jersey (USA). Princeton University Press.

Hidrayani R., Rusli YS & Lubis. 2013. Keanekaragaman Spesies Parasitoid Telur Hama Lepidopteradan Parasitisasinya pada Beberapa Tanaman di Kabupaten Solok,Sumatera Barat. J. Nat. Ind.15(1):10-11.

Hapsari OA. 2006. Struktur Komunitas Parasitoid Telur pada Pertanaman Kedelai dan Implikasinya terhadap Tingkat Serangan dan Populasi Hama.

Skripsi.Program Studi Hama dan Penyakit Tumbuhan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hussnain Z., Naheed A & Rizwana S. 2007.Biocontrol of Insect Pests of Sugarcane (Saccharum sp.). Sugar Research Institute. Pakistan Sugar Journal. 22(5):14-17.

Jannah M. 2010. Informasi Dasar Parasitoid Telur Trichogramma chilonisIshii (Hymenoptera:Trichogrammatidae) dalam Kaitannya dengan Pengendalian Hayati. Skripsi. Departemen Proteksi Tanaman. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

(41)

Kartohardjono A. 2011. Penggunaan Musuh Alami sebagai Komponen Pengendalian Hama Padi Berbasis Ekologi.Pengembangan Inovasi Pertanian. 4(1):34-35

Khairiyah U. 2008. Daya Parasitasi Lalat Sturmiopsis inferens Town (Diptera:Tachinidae) Turunan dari Beberapa Hasil Perkawinan Pada Ulat Penggerek Batang Tebu Raksasa Phragmatoecia castaneae Hubner di Laboratorium. Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. medan

Knutson A. 2007. The Trichogramma Manual.The Texas A&M University System. New York.http://insects.tamu.edu/extensions/bulletins/b-6071.

html (Diunduh 22 Pebruari 2016).

Krebs. 1978. Ecology. The Experimental Analysis of Distribution and Abudance.Third Edition.Harper and Row Publisher.New York dalam Rosalyn, I. 2007.Indeks Keanekaragaman Jenis Serangga pada Pertanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Kebun Tanah Raja Perbaungan PT. Perkebunan Nuantara III.Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Lv, J., L.T. Wilson, J.M. Beuzelin, W.H. White, T.E. Reagan, M.O.Way. 2011.

Impact of Cotesia flavipes (Hymenoptera:Braconidae) as an Augmentative Biocontrol Agent for The Sugarcane Borer (Lepidoptera: Crambidae) On Rice. Biol.Cont. 56:159-169

Maneerat T &Suasa-ard W. 2015. Population Trends of Sugarcane Moth Borers and Their Larval Parasitoid, Cotesia flavipes Cameron (Hymenoptera : Braconidae) in Growing Sugarcane Plantations. Nat. J. Sci. 49 : 403

Murtiyarini, D. Buchori, U. Kartosuwondo. 2006. Penyimpanan Suhu Rendah Berbagai Fase Hidup Parasitoid: Pengaruhnya Terhadap Parasitasi dan Kebugaran Trichogrammatoidea armigera nagaraja (Hymenoptera:

Trichogrammatidae) Ind. J. Entomol. 3(2): 71-83.

Naidu P. 2009. Integrated Pest Management in Sugarcane. United States

Environmental Protection Agency.

http://www.epe.gov/0pp0001/factsheets/ipm.htm. (Diunduh 21 Pebruari 2016)

Nugraha MN., Damayanti B., Ali N & Akhmad R. 2014. Interaksi Tropik Antara Hama dan Parasitoid pada Pertanaman sayuran : Faktor Pembentuk dan Implikasinya terhadap keefektifan Parasitoid. Ind. J. Entomol. 11(2):103- 104.

Nugroho BA. 2009. Penggerek Batang Tebu Raksasa (Phragmatoceia castanae Hubner) salah Satu Ancaman Industri Gula.

BBPPTP. Surabaya.

(42)

_______________. 2014. Penggerek Pucuk Tebu dan Teknik Pengendaliannya.BBPPTP Surabaya.

Pramono D. 2005. Seri Pengolahan hama Tebu Secara Terpadu. Seri Pertanian 2.

Dioma. Malang.

Purba GM. 2008. Pengaruh Bahan Makanan Terhadap Umur dan Kesuburan Parasitoid Telur Tumidiclava sp. di Laboratorium. Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

Medan

Purnomo. 2006. Parasitasi dan Kapasitas Reproduksi Cotesia flavipes Cameron (Hymenoptera: Braconidae) pada Inang dan Instar yang Berbeda di Laboratorium. J. HPT Tropika 6(2):87-91

Price PW. 1997. Insect Ecology. 3rd Ed. John Wiley & Sons, Northern Arizona University, New York. 661 pp. dalam Sianipar, M. S.

2006.Keanekaragaman dan Kelimpahan Populasi Serangga Hama dan Serangga Musuh Alami Pada Budidaya Jamur Tiram Outih (Pleurotus ostreatus (Jacq.Ex Fr. Kummer). Universitas Padjadjaran. Jatinangor Rafikov M., Lordelo ADS &Rafikova E. 2012. Impulsive Biological Pest Control

Strategies of the Sugarcane Borer.Hindawi Publishing Corporation.

Rajendranagar., Chaernsom WK &Napompeth B. 1990. Sugarcane Insect Pest Management : Natural Enemy Complex of Sugarcane Moth Borers.

Kasetsart University Research report, submitted to Kasetsart University Research and Development Institute.Kasetsart University, Bangkok, Thailand. (1).

Rizky LK. 2012. Pengaruh Trichogramma spp

(Hymenoptera:Trichogrammatidae) Terhadap Telur Penggerek Batang Raksasa (Phragmatoecia castaneae Hubner.) dan Penggerek Batang Berkilat (Chilo auricilius Dudgeon.) Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan

Santosa Y., Eko PR & Dede AR. 2008.Studi Keanekaragaman Mamalia pada Beberapa Tipe Habitat di Stasiun Penelitian Pondok Ambung Taman Nasional Tanjung Putting Kalimantan Tengah.Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB. 13(3):1-7.

Sundara B. 2000. Sugarcane Cultivation. Sugarcane Breeding Institute Coimbatore. Vikas Publishing House PVT LTD. Delhi.

Sunarto DA. & Nurindah. 2000. Peluang Pemanfaatan Parasitoid Telur Trichogrammatidae Sebagai Agens Hayati ulat Penggerek Buah Kapas Merah Jambu Pectinophora Gossypiella Saunders (Lepidoptera ; Gelechiidae). Ind. J. Entomol (1):58-66

(43)

Syakir M., Chandra I., Purwono., Siswanto., & Widi R. 2010. Budidaya dan Pasca Panen Tebu. Pusat Penelitian dan Perkembangan Perkebunan. Eska Media.

Sumur Batu, Jakarta.

Tabadepu H. 2007. Keanekaragaman dan Kelimpahan Parasitoid Telur dari daerah Geografi Berbeda di Sumatera.Skripsi. Jurusan hama dan Penyakit Tumbuhan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Winarni NL. 2005. Analisa Sederhana dalam Ekologi Hidupan Liar Pelatihan Survey Biodiversitas.Way Cangkuk.

Wuryanti A. 2015. Pengenalan Musuh Alami Pada OPT Tebu. POPT Ahli Muda di BBPPTP. Surabaya.

_________. 2016. Cotesia flavipes Parasitoid Larva Potensial Bagi Penggerek Batang Tebu Chilo saccariphagus. POPT Ahli Muda di BBPPTP.

Surabaya.

Yaherwandi S, Manuoto D, Buchori P, Hidayat, LB Prasetyo. 2008. Struktur komunitas hymenoptera parasitoid pada tumbuhan liar di sekitar pertanaman padi di daerah aliran sungai (DAS) Cianjur, Jawa Barat.

Jurnal HPT Tropika 8(2) : 90−101.

Zahroin E & Wibowo E. 2015.Serangan Penggerek Batang Tebu Chilo saccariphagus Di Sentra Tebu Jawa Timur.Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. Jakarta

(44)

Lampiran 1. Data Jumlah Penggerek Batang Bergaris Chilo sacchariphagus Blok Penggerek batang bergaris Tota

l Rataan

1 2 3 4 5 6 7 8

I 23 28 26 24 50 36 32 31 250 31,25

II 33 32 15 19 54 44 46 41 284 35,50

III 17 18 21 27 42 47 47 30 249 31,13

IV 37 17 18 31 59 63 50 25 300 37,50

V 24 29 35 51 57 56 43 35 330 41,25

VI 17 30 36 58 53 66 25 40 325 40,63

Total 151 154 151 210 315 312 243 202 1738 Rataan 25,1

7

25,6 7

25,1 7

35,0 0

52,5 0

52,0 0

40,5 0

33,6

7 36,21

Transformasi data

Blok Penggerek batang bergaris

Total Rataan

1 2 3 4 5 6 7 8

I 2,74 2,55 1,58 1,22 3,54 1,58 3,24 3,24 20 2,46 II 3,08 2,12 0,71 1,22 3,81 3,08 2,74 3,81 21 2,5 7 III 1,87 1,58 2,12 2,55 3,24 2,55 4,30 2,74 21 2,62 IV 2,35 1,58 1,87 2,92 3,67 2,92 3,08 2,35 21 2,59 V 2,12 2,74 3,24 2,74 3,67 3,67 2,92 3,39 24 3,06 VI 1,58 1,58 1,87 1,58 2,92 3,54 2,35 3,24 19 2,33

Total 14 12 11 12 21 17 19 19 125

Rataan 2,29 2,03 1,90 2,04 3,47 2,89 3,10 3,13 2,61

Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FH F0,05 F0,01

Blok 5,00 5376,58 1075,32 12,84 ** 2,49 3,59

Perlakuan 7,00 780,17 111,45 1,33 tn 2,29 3,20

Galat 35,00 2931,17 83,75

Total 42,00 3711,33

KK 25,27%

(45)

Data Jumlah Penggerek Batang RaksasaPhragmotoceia castaneae Hubner.

Blok Penggerek batang raksasa

Total Rataan

1 2 3 4 5 6 7 8

I 0 0 0 0 1 3 2 2 8 1

II 5 0 0 0 0 0 0 1 6 0,75

III 2 2 0 2 2 0 0 0 8 1

IV 4 0 2 0 0 0 1 0 7 0,88

V 1 2 1 3 1 0 0 1 9 1,13

VI 0 0 0 0 0 1 2 1 4 0,50

Total 12 4 3 5 4 4 5 5 42

Rataan 2 0,67 0,50 0,83 0,67 0,67 0,83 0,83 0,88

Transformasi data

Blok Penggerek batang raksasa

Total Rataan

1 2 3 4 5 6 7 8

I 0,71 0,71 0,71 0,71 1,22 1,87 1,58 1,58 9 1 II 2,35 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 1,22 8 0,98 III 1,58 1,58 0,71 1,58 1,58 0,71 0,71 0,71 9 1 IV 2,12 0,71 1,58 0,71 0,71 0,71 1,22 0,71 8 1,06

V 1,22 1,58 1,22 1,87 1,22 0,71 0,71 1,22 10 1,22 VI 0,71 0,71 0,71 0,71 0,71 1,22 1,58 1,22 8 0,95

Total 9 6 6 6 6 6 7 7 52

Rataan 1 1,00 0,94 1,05 1,03 0,99 1,08 1,11 1,08

Daftar Sidik Ragam

SK DB JK KT FH

F0,05 F0,01

Blok 5,00 1,05 0,21 0,87 tn

2,49 3,59

Perlakuan 7,00 0,45 0,06 0,26 tn

2,29 3,20

Galat 35,00 8,50 0,24

Total 42,00 8,95

KK 45,62%

(46)

Lampiran 2. Data Jumlah Parasitoid yang Muncul

Blok

Waktu Pengambilan

1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rataan

I 17 0 0 27 31 60 69 0 204 25,5

II 0 0 29 80 21 0 48 40 218 27,25

III 0 0 24 17 17 0 109 99 266 33,25

IV 0 0 0 17 0 17 63 90 187 23,375

V 24 0 0 0 0 41 73 52 190 23,75

VI 22 0 40 24 47 49 72 93 347 43,375

Total 63 0 93 165 116 167 434 374 1412

Blok

Parasitoid Jantan

Total Rataan

1 2 3 4 5 6 7 8

I 6 0 18 9 7 12 8 29 89 11,125

II 0 0 17 37 4 0 21 14 93 11,625

III 0 0 19 5 4 0 28 14 70 8,75

IV 0 0 0 6 0 5 9 16 36 4,5

V 1 0 0 0 0 10 28 11 50 6,25

VI 1 0 0 4 11 9 31 0 56 7

Total 8 0 54 61 26 36 125 84 394

Blok

Parasitoid Betina

Total Rataan

1 2 3 4 5 6 7 8

I 16 0 22 16 40 37 64 64 259 32,375

II 0 0 12 43 17 0 27 26 125 15,625

III 0 0 5 12 13 0 81 85 196 24,5

IV 0 0 0 11 0 12 54 74 151 18,875

V 23 0 0 0 0 31 45 41 140 17,5

VI 16 0 0 23 20 51 38 0 148 18,5

Total 55 0 39 105 90 131 309 290 1019

Gambar

Gambar 1. Larva penggerek batang bergaris (Subiyakto)
Gambar 2. Larva penggerek batang raksasa (Subiyakto)
Gambar 3. Inang yang terinfeksi patogen B. bassiana

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait