HEAD OF SATELLITE
REFRESHMENT PROGRAM
RISK &
ANTI FRAUD
Outline
F R A U D
KONSEP RISIKO
STRATEGI PENANGANAN RISIKO DAN FRAUD
RISIKO DAN FRAUD ERA DIGITAL
KONSEP RISIKO
DEFINISI, JENIS, DAN
PENGELOLAANNYA
KONSEPRISIKO
PROSES TUJUAN
1. Dalam aktivitas sehari-hari, kita tentu memiliki tujuan yang ingin dicapai 2. Dalam prosesnya, kita kadang menemukan Faktor yang Menghambat
untuk mencapai tujuan tersebut
Risiko:
Kejadian atau faktor yang dapat
menghambat mencapai tujuan
KONSEPRISIKO
PROSES
R I S I K OTUJUAN
Agar tetap mencapai tujuan yang diharapkan, kita perlu melakukan pengelolaan risiko,
yang salah satunya dengan menjalankan aktivitas KONTROL
Kontrol:
Tindakan yang diambil oleh semua pihak atau fungsi untuk mengelola risiko sehingga meningkatkan peluang mencapai tujuan
yang ditetapkan
KONSEPRISIKO
CONTOH DAN DAMPAK RISIKO
Nasabah gagal membayar kewajiban sehingga perusahan merugi
Human Error, proses tidak berjalan baik, dan tindakan Fraud, sehingga perusahaan merugi
Tidak menjalankan aturan OJK sehingga perusahaan mendapat sanksi atau dicabut izin usaha
Pelanggaran terhadap undang-undang sehingga perusahaan digugat Perdata atau dituntut Pidana Risiko Kredit
Risiko Operasional Risiko Kepatuhan
Risiko Hukum
Adanya BPKB hilang sehingga Masyarakat tidak percaya lagi dan menyebabkan sales menurun Risiko Reputasi
Berdasar PBI 11/ 25 /PBI/2009 terdapat 8 jenis risiko
KONSEPRISIKO
RISIKO OPERASIONAL
PROSES INTERNAL
MANUSIA
SYSTEM &
TEKNOLOGI EKSTERNAL
Terjadi karena kegagalan proses atau prosedur
• Kompetensi
• Integritas dari Karyawan/ti
Sistem atau teknologi tidak berjalan
Faktor lain di luar kendali perusahaan
• Kurangnya pengawasan
• Aturan yang tidak sesuai regulasi
• Dokumentasi kurang lengkap
• Ketidaktahuan Karyawan/ti
• Ketidaktelitian Karyawan/ti
• F R A U D
• System utama tidak bisa digunakan
• Kesalahan output system
• Teknologi baru tidak berjalan
• Listrik Padam
• Pencurian/kriminalitas
• Bencana Alam
PENYEBAB DEFINISI CONTOH
• Operational Risk sangat mungkin terjadi di dalam perusahaan dengan jumlah karyawan/ti cukup banyak, dan aktivitas kerja yang belum automasi (manual).
• Risiko Operasional dapat juga berdampak secara HUKUM jika pelanggaran yang dilakukan memenuhi unsur Pidana
KONSEPRISIKO
1. Dalam proses kerja dapat terjadi faktor yang menghambat pencapaian tujuan
2. Faktor penghambat tersebut adalah RISIKO yang harus dikelola dengan benar, agar
tujuan dapat dicapai sesuai yang diharapkan 3. Terdapat faktor penyebab risiko operasional
yaitu Kegagalan Proses, Manusia, Sistem dan Teknologi, dan Faktor Eksternal
4. PASTIKAN kita mengetahui risiko apa yang mungkin terjadi di proses kerja kita
F R A U D
PENYEBAB, DAMPAK, DAN CIRINYA
F R A U D
F R A U D
Tindakan yang sengaja dilakukan untuk mengelabui atau memanipulasi sehingga menyebabkan kerugian finansial dan/atau non finansial, bagi perusahaan atau pihak lainnya, dan memberikan keuntungan, baik secara langsung
dan/atau tidak langsung, kepada pelakunya
APA?
Motivasi Fraudster (Pelaku Fraud) adalah karena tekanan, kesempatan, dan pembenaran/rasionalisasi. Tiga motivasi ini dikenal dengan FRAUD TRIANGLE
MENGAPA?
F R A U D
Modus atau cara-cara Fraud terjadi karena adanya
pelanggaran terhadap ketentuan/aturan yang berlaku.
Modus tersebut terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan bisnis
BAGAIMANA?
Fraud dapat dilakukan oleh pihak Internal dan External.
Pihak Internal yaitu karyawan/ti Adira Finance. Pihak External antara lain, Nasabah, Dealer, Makelar, External Collector/Recovery, dan Vendor/Biro Jasa. Ataupun
kombinasi Internal dengan External.
SIAPA ?
F R A U D
Fraud dapat terjadi kapan saja, baik dalam waktu kerja ataupun di luar waktu kerja, terutama pada saat fungsi
kontrol kurang berjalan sehingga memberikan kesempatan kepada pelaku Fraud (Fraudster). Secara proses, Fraud dapat terjadi baik pada proses akuisisi, penagihan, penarikan, dan proses-proses lain ketika ada kesempatan
KAPAN ?
Fraud juga dapat terjadi di mana saja, baik itu dalam lingkungan kerja/kantor, sepeti Cabang, Satellite,
Warehouse, ataupun di luar lingkungan kerja/kantor.,
seperti rumah nasabah, rumah karyawan/ti, warung makan, ataupun lokasi lainnya
DI MANA ?
F R A U D
FRAUDTRIANGLE
P R E S S U R E
OPPORTUNITY
RATIONALIZATION
FRAUD
triangle
PRESSURE (Tekanan)
Kebutuhan yang semakin meningkat
Gaya Hidup Konsumerisme
Target yang belum tercapai
Opportunity (Kesempatan)
Pelanggaran aturan tanpa diketahui
Kontrol yang kurang berjalan
Sanksi yang kurang tegas
Rationalization (Pembenaran)
Bukan mencuri, tetapi meminjam
Dilakukan oleh orang lain (umum)
Seharusnya perusahaan memberi lebih
FRAUD adalah salah satu bentuk risiko operasional yang dapat terjadi karena Integritas Karyawan/ti dan pengawasan yang kurang berjalan
F R A U D
JENIS KASUS DAN MODUS FRAUD
• Jenis Kasus FRAUD adalah kesimpulan dari tindakan yang dilakukan oleh pelaku FRAUD
(Pelaku Internal dan/atau External) 1. Pembiayaan Fiktif
2. Penggelapan 3. Gratifikasi 4. Manipulasi (Pelaku Internal) 1. Biaya Fiktif 2. Tidak Survey
• Modus FRAUD adalah cara yang dijalankan pelaku dalam melakukan Jenis Kasus FRAUD
• Jenis Kasus dan Modus FRAUD terus berkembang dan berubah seiring perubahan lingkungan bisnis, sehingga Jenis Kasus FRAUD dapat
berubah menyesuaikan situasi dan kondisi
F R A U D
JENIS KASUS DAN MODUS FRAUD
PEMBIAYAAN FIKTIF
• Nasabah yang dibiayai tidak ada
• Nasabah yang dibiayai tidak pernah mengajukan aplikasi
• Nasabah yang dibiayai tidak pernah menerima unit, dana, atau obyek pembiayaan lain
• Dealer/Showroom/Merchant/Pihak Ketiga lainnya tidak ada
• Agen AXI yang bekerja sama tidak ada
PENGGELAPAN
• Uang angsuran tidak disetorkan
• Unit tidak diserahkan kepada nasabah
• Unit tarikan tidak diserahkan kepada Adira/Warehouse
• STNK tidak diserahkan
• Mengambil spare part unit tarikan
F R A U D
JENIS KASUS DAN MODUS FRAUD
GRATIFIKASI
• Meminta uang lain-lain atau barang dari nasabah atau pihak ketiga lainnya di luar ketentuan
• Menerima sejumlah uang tertentu dengan imbalan kemudahan proses approval
• Meminta sejumlah uang yang dipotong dari fee ataupun insentif pihak ketiga
MANIPULASI
• Pembelian unit/barang secara cash namun dijadikan kredit
• Perbedaan angsuran/tenor antara nasabah dengan pihak Adira karena Mediator/Makelar
• Memberikan dokumen yang tidak sesuai dengan aslinya (palsu)
• Melampirkan kuitansi pembayaran yang tidak sesuai
• Melaporkan hasil aktivitas yang tidak sesuai kondisi sebenarnya
F R A U D
JENIS KASUS DAN MODUS FRAUD
BIAYA FIKTIF
• Mengajukan biaya yang sebenarnya tidak pernah digunakan
• Mengajukan kegiatan yang sebenarnya tidak pernah dilaksanakan
• Pembelian/pengadaan barang/jasa yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, baik secara jumlah maupun spesifikasi
• Pengajuan proposal biaya kerja sama dengan pihak ketiga yang sebenarnya seluruh biaya ditanggung pihak ketiga
TIDAK SURVEY
• Tidak melakukan kunjungan ke alamat nasabah sesuai dengan ketentuan survey yang berlaku
• Tidak pernah memastikan tempat tinggal nasabah sehingga tidak mengetahui rumah ataupun kantor/tempat usaha nasabah
• Tidak menjalankan pekerjaan utama dalam menilai kelayakan calon debitur yang akan dibiayai
F R A U D
JENIS KASUS DAN MODUS FRAUD
SKEMA PONZI adalah Modus penipuan berkedok Investasi. Juga dikenal dengan Skema Piramida. Dicetuskan oleh Charles Ponzi (1882- 1942) pada tahun 1920, dan saat itu menyebabkan kerugian sebesar US$ 20 Juta. Skema ini sudah dilarang berdasar Undang-Undang No 7 tahun 2014 tentang Perdagangan.
Skema Ponzi membayarkan keuntungan investasi dari uang investor sendiri, terutama dari investor yang baru menyetorkan uang. Bukan dari keuntungan operasional yang dijalankan. Janji pengembalian yang besar, membuat banyak orang yang tertarik dan menjadi korban. Skema investasi ini membutuhkan investor baru yang berkesinambungan agar dapat terus membayarkan keuntungan kepada investor
Modus ini juga terjadi pada Pembiayaan Otomotif. Oknum yang menawarkan pembelian unit di bawah harga pasar dan BPKB baru dapat diambil setelah 2 tahun. Biasanya nasabah tidak merasa mengambil pembiayaan karena merasa berinvestasi
Surveyor Adira Finance mesti memastikan bahwa calon debitur yang disurvey, tidak terlibat dengan investasi bodong model skema Ponzi
F R A U D
AKIBAT FRAUD | SECARA BISNIS
Hasil analisa atau penanganan tidak sesuai karena data yang dimanipulasi e.g analisa kelayakan Credit, penanganan
Collection
Pencatatan tidak sesuai atau terjadi salah pencatatan (misstatement) karena berkas/dokumen dimanipulasi
Masalah yang ada tidak diselesaikan dengan benar – karena dasar data/asumsi yang tidak benar dari awal
Menyebabkan kerugian finansial bagi perusahaan
Merusak reputasi perusahaan sehingga mengurangi kepercayaan masyarakat. Akibatnya nasabah enggan untuk mengambil kredit di Adira Finance
Jika reputasi perusahaan rusak dan menderita kerugian, maka
karyawan/ti juga yang akan merasakan akibatnya
F R A U D
AKIBAT FRAUD | PSIKOLOGIS DAN SOSIAL
Dampak psikologis kepada karyawan/ti yang tidak melakukan
FRAUD yang dapat berujung pada pembenaran melakukan FRAUD
Mengurangi rasa saling percaya (trust) dan semangat teamwork di antara karyawan/ti, yang berdampak pada penurunan kinerja
Hilangnya kepercayaan mitra kerja dan nasabah kepada Adira yang dapat mengganggu performa perusahaan
Adanya waktu yang tidak produktif untuk menindaklanjuti kasus FRAUD, yang terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit
Perlu mengeluarkan energi tambahan untuk Recovery atau
penyelamatan aset
F R A U D
AKIBAT FRAUD
KONSEKUENSI PELAKU FRAUD (FRAUDSTER)
Ajaran agama tidak membenarkan tindakan FRAUD!!
SANKSI PERUSAHAAN
SANKSI HUKUM
SANKSI SOSIAL
• PUNISHMENT
• PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA
• GANTI KERUGIAN
• KURUNGAN PENJARA
• RUSAKNYA NAMA BAIK
• AIB BAGI KELUARGA
F R A U D
AKIBAT FRAUD
TINDAKAN FRAUD DAN PIDANA (K.U.H.P)
Bab XII - Pemalsuan Surat - - - Pasal 263
(1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian..
Bab XXII - Pencurian - - - Pasal 362
Barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak
sembilan ratus rupiah.
Bab XXV Perbuatan Curang - - - Pasal 378
Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang rnaupun menghapuskan piutang diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
Bab XXIV - Penggelapan - - - Pasal 372
Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.
F R A U D
FRAUD RED FLAG
Seperti kata pepatah “sepandai-pandainya tupai melompat, pastinya akan jatuh juga”. Pelaku Fraud, akan memunculkan tanda-tanda atau signal yang mengindikasikan telah terjadi Fraud. Tanda-tanda atau signal itu disebut FRAUD RED FLAG Definisi RED FLAG yaitu:
“ Kondisi yang tidak lazim atau berbeda dari biasanya “
Penting dicatat, bahwa RED FLAG tidak memastikan adanya perbuatan FRAUD. Tanda- tanda tersebut hanya memberikan signal bahwa ada “Sesuatu” yang terjadi, dan perlu diselidiki lebih lanjut
F R A U D
FRAUD RED FLAG
Perubahan Perilaku
(Change in Behaviour)
Perubahan perilaku menjadi ciri yang paling mudah diamati, yang mengindikasikan bahwa “sesuatu” telah terjadi
Ciri-ciri di atas bukan memastikan seseorang telah melakukan FRAUD, namun menjadi trigger untuk dilakukan investigasi lebih lanjut
1. Meminjam uang dari teman kerja
2. Kreditur atau penagih utang muncul di tempat kerja 3. Mudah marah dengan urusan yang sepele
4. Memberikan jawaban yang tidak jelas (tidak nyambung) saat ditanya 5. Membawa/memiliki sejumlah uang/barang di luar kemampuannya 6. Suka merenung atau cenderung menjauhi temannya
7. Menolak cuti atau mutasi
8. Terlibat judi, narkoba, perselingkuhan
F R A U D
FRAUD RED FLAG
Selain perubahan perilaku, faktor berikut juga perlu diperhatikan:
1. Kinerja yang memburuk dibanding yang lain
2. Pencapaian target yang signifikan di atas rata-rata
3. Penambahan jumlah nasabah atau dealer yang cukup tinggi 4. Tingkat turn over yang tinggi pada suatu fungsi/jabatan 5. Credit Default yang tidak lazim
PERFORMANCE
REPORTING
1. Adanya aktivitas Non Rutin yang cukup sering
2. Dokumentasi aktivitas tidak ada atau tidak lengkap
3. Transaksi tanpa dokumen atau persetujuan yang semestinya 4. Pengajuan biaya yang tidak besar namun sering diajukan 5. Jumlah pengeluaran non rutin yang meningkat tajam
LAINNYA
1. Komplain dari Dealer terkait pelayanan
2. Komplain dari nasabah terkait pembayaran angsuran atau lainnya 3. Adanya hadiah dari pihak ketiga/vendor
4. Kontrol yang kurang dijalankan dengan baik
5. Pemisahan pekerjaan yang kurang jelas pada fungsi tertentu
F R A U D
1. FRAUD adalah perbuatan yang tidak benar baik secara aturan, etika, maupun agama 2. Tindakan dapat merugikan semua pihak,
termasuk pihak yang tidak melakukan FRAUD
3. Keep your eyes open!! Perhatikan sekitar Anda, apakah terjadi gejala-gejala baik perilaku, performa, pengeluaran biaya, maupun pelaporan yang tidak lazim 4. Jika muncul FRAUD Red Flags, segera
lakukan tindak lanjut
STRATEGI PENANGANAN
RISIKO DAN FRAUD
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
THREE LINESOFDEFENSE (3 LOD)
“Kerangka kerja manajemen risiko dan pengendalian internal (Internal control) yang terdiri atas tiga lini pertahanan”
LINE 1 LINE 2 LINE 3 LINE 4
• Pihak yang memiliki risiko (risk owner) yang menjalankan fungsi kontrol dan manajemen risiko
• Menjadi pertahanan lini terdepan karena aktivitas kontrol telah melekat di dalam aktivitas harian (SOP)
Pihak yang meninjau (review) pelaksanaan risiko
dan kontrol yang dijalankan oleh
manajemen
Pihak independen yang memberikan penilaian terhadap
efektivitas kontrol dan manajemen
risiko
Pihak eksternal yang melakukan penilaian risiko dan pengwasan
• Cabang, Area
• Divisi Terkait
• Compliance
• ORM
• QA/QPC
Internal Audit • Ext Auditor
• Regulator (OJK/BI)
INTERNAL
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
CONTROL TOOLS
LINE 1 LINE 2 LINE 3
• Cabang, Area
• Divisi Terkait
• Compliance
• ORM
• QA/QPC
Internal Audit
• Memo Internal dan Ketentuan Sementara
• SOP dan Working Intruction
• BRMS
• ORMS
• RCSA & ICSA
• Branch Monitoring Control (BMC)
• Manager Control Checklist (MCC)
• Panduan Anti Fraud
• Panduan Kontrol Head of Branch
• Panduan Validasi Dokumen Kredit
• Whistle Blowing Service
• UTA
• Working Paper QA
• Working Paper QPC
• Fraud Campaign
• Fraud Detection System (Instinct)
• SAP Audit
“Alat kontrol yang telah didesain untuk minimalisasi Risiko dan Fraud”
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
PENANGANANFRAUD
PENCEGAHAN
Prevention
DETEKSI
Detection
TINDAK LANJUT
Response
Tindakan yang dilakukan sebelum terjadinya FRAUD
Tindakan yang dilakukan setelah
terjadinya FRAUD agar kerugian tidak
bertambah besar
Tindakan yang dilakukan untuk memperbaiki proses dan
mengurangi kerugian yang timbul serta memberi masukan dalam proses pencegahan
Kita tentu sepakat bahwa yang terbaik adalah melakukan PENCEGAHAN sebelum terjadinya tindakan FRAUD
Kejadian FRAUD
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
4 cara PENCEGAHAN FRAUD yang harus dilakukan yaitu:
Know Your Customer
Know Your Employee
Comply with The Rules
Keep Your Eyes Open
Know Your
Customer
Bayangkan jika pembiayaan yang diberikan Adira kepada nasabah, adalah uang Anda. Tentu Anda akan melakukan:
1. Memastikan identitas nasabah
• Memastikan kebenaran dan validitas KTP, KK, dan dokumen lain
• Memastikan tempat tinggal dan pekerjaan/usaha nasabah 2. Memeriksa latar belakang nasabah (blacklist/negative list)
3. Memastikan nasabah akan mengembalikan uang anda berdasar prinsip 5C
• Bagaimana Karakter nasabah, baik atau buruk
• Bagaimana Kemampuan nasabah (DSR, DIR, dll) 4. Melakukan pengkinian data nasabah jika ada perubahan
5. Membuat pertanyaan survey yang efektif untuk menggali kebenaran kondisi nasabah dan memastikan tidak ada “settingan” saat disurvey. Sehingga Surveyor dapat mengidentiikasi adanya Kredit Atas Nama, MLM, Cash Dikreditkan, dll
6. Tidak melakukan survey bersama dengan mediator/sales agar independen
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Know Your
Employee
Anda tentu berharap bekerja bersama tim yang jujur dan dapat diandalkan. Dan yang pasti, tidak melakukan FRAUD. Oleh sebab itu Anda harus melakukan:
1. Proses rekrutmen yang selektif
• Kenali karakter calon karyawan/ti saat wawancara kerja
• Cari informasi mengenai latar belakang dan kondisi keluarga
• Mendapat fungsi/jabatan yang sesuai kompetensi atau minat (passion)
• Melakukan refference check terutama jika pindahan dari Kompetitor 2. Memantau perilaku dan gaya hidup karyawan/ti. Jika terdapat gejala yang
mencurigakan, segera lakukan verifikasi. Jika karyawan menunjukkan sedang mendapat masalah, segera ajak diskusi dan berikan solusi (counseling)
3. Membangun rasa memiliki (sense of belonging) dari karyawan/ti sehingga bekerja dengan baik dan tidak melakukan tindakan yang merugikan perusahaan
4. Memberikan reward and punishment yang adil agar tidak timbul kecemburuan 5. Pastikan pada saat karyawan/ti mengundurkan diri tidak meninggalkan masalah
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Comply with
The Rules
Aturan dibuat agar proses berjalan efektif dan sesuai regulasi yang berlaku, yang akan memberikan hasil dan kualitas yang baik. Oleh sebab itu:
1. Ketahui dan pahami aturan yang berlaku. Jika kurang paham, dapat bertanya kepada atasan atau manajer yang terkait
2. Jalankan proses sesuai dengan ketentuan
• Pastikan verifikasi dan validasi data nasabah dilakukan
• Pastikan kunjungan untuk penagihan dilakukan
• Pastikan uang atau unit yang diterima segera disetorkan
• Memberikan laporan sesuai kondisi sebenarnya, tanpa manipulasi
• Fungsi kontrol dan review dijalankan dengan konsisten
3. Jika terdapat kondisi sehingga aturan kurang bisa dijalankan, segera koordinasikan dengan atasan. Segala bentuk penyimpangan harus diketahui atasan dan
didokumentasikan dengan baik (proposal/berita acara)
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Keep
Your Eyes Open
Tindakan FRAUD tidak hanya terjadi karena ada niat pelakunya, namun juga karena ada kesempatan. Oleh sebab itu kita harus selalu waspada.
1. Perhatikan karakter, perilaku, dan gaya hidup karyawan/ti. Segera lakukan tindak lanjut jika terjadi perubahan yang signifikan
2. Jangan pernah mengacuhkan permasalahan yang dihadapi anggota tim/bawahan kita. Berikan waktu dan perhatian untuk mencari solusinya
3. Jangan pernah mengacuhkan transaksi yang tidak lazim, baik secara nominal biaya maupun frekuensi pengajuan proposal
4. Pastikan bahwa performance anggota tim didapat dari proses yang benar, bukan karena adanya manipulasi. Misal pencapaian sales yang tinggi bukan karena adanya debitur fiktif
5. Pastikan komplain dari nasabah ataupun dealer dicatat dan ditindaklanjuti
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Selain 4 cara sebelumnya, Manajemen juga mencanangkan program
POSITIVE FRAUD CAMPAIGN
dengan asumsi bahwa Pelaku FRAUD hanya sedikit dibandingkan dengan yang Tidak Melakukan FRAUDPENANGAN RISIKO DAN FRAUD
MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI
Teknis dan mekanisme POSITIVE FRAUD CAMPAIGN masih dalam pembahasan di Kantor Pusat
POSITIVE FRAUD CAMPAIGN Bertujuan untuk
menguatkan karyawan/ti yang bekerja dengan baik, benar, dan tidak melakukan FRAUD
Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan POSITIVE FRAUD CAMPAIGN lebih kepada pendekatan religius dan akan dikoordinasikan oleh HCGA
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI
Deteksi terjadinya tindak kecurangan dapat dilakukan antara lain dengan cara:
1. Menindaklanjuti “Red Flags” yang muncul
2. Memastikan proses operasional berjalan sesuai ketentuan yang berlaku, terutama pada proses yang high risk dan berpotensi terjadinya FRAUD
3. Memanfaatkan “Tools” yang ada dalam menunjang aktivitas kontrol, seperti ORMS, ICSA, RCSA, dan Branch Monitoring Control (BMC)
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI – Proses High Risk
#1 SURVEY KELAYAKAN CALON DEBITUR
Proses HIGH RISK yang perlu dipantau dan dipastikan
1. Nasabah benar ada (tidak fiktif)
2. Dokumen persyaratan (KTP, KK, dll) sesuai asli dan absah 3. Penghasilan tidak di-upping agar mencukupi DSR
4. Nasabah benar mengambil unit/dana/barang, bukan atas nama 5. Nasabah mengetahui struktur kredit (OTR, DP, dan Angsuran)
6. Nasabah mengetahui metode pembayaran yang sah (Kasir, Collector, Keday, Indomart, dll) agar tidak ada Penggelapan Angsuran
7. Pertanyaan survey harus kreatif untuk memastikan nasabah tidak terlibat MLM, Cash Dikreditkan, dll
POTENSI FRAUD YANG DAPAT TERJADI
1. PEMBIAYAAN FIKTIF
2. GRATIFIKASI (PERMINTAAN UANG/BARANG) 3. MANIPULASI DATA/DOKUMEN/INFORMASI 4. TIDAK SURVEY
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI – Proses High Risk
#2 PENANGANAN NASABAH MENUNGGAK
Proses HIGH RISK yang perlu dipantau
1. Collector melakukan kunjungan ke Nasabah
2. Hasil kunjungan sesuai dengan kondisi sebenarnya (tidak dimanipulasi) atau informasi dari pihak lainnya
3. Angsuran yang diterima segera disetorkan ke Adira
4. Unit yang ditarik segera disetorkan, lengkap sesuai kondisi saat penarikan 5. Docking dilaksanakan dengan baik dan konsisten
6. Tanda Terima Angsuran (TTA) termonitor, fisik ataupun register 7. Dokumen Tarikan sesuai dengan dokumen Warehouse
8. Biaya Tarik sesuai dengan kondisi sebenarnya dan diterima seluruhnya oleh PIC yang berhak tanpa ada pemotongan
1. PENGGELAPAN UNIT/UANG/BARANG
2. GRATIFIKASI (PERMINTAAN UANG/BARANG) 3. MANIPULASI DATA/DOKUMEN/INFORMASI
POTENSI FRAUD YANG DAPAT TERJADI
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI – Proses High Risk
#3 PENGELOLAAN KAS DAN ASSET
Proses HIGH RISK yang perlu dipantau
1. Uang yang masuk dan keluar tercatat dengan baik dan tidak ada selisih.
Rekonsiliasi dijalankan harian dan selisih harus diketahui penyebabnya 2. Biaya yang keluar sesuai peruntukannya (tanpa manipulasi)
3. Nominal kuitansi sesuai dengan nominal sebenarnya (tanpa mark-up) 4. Proses dual control dijalankan dengan baik (cash opname kasir dengan
PPS, kunci dan kombinasi brankas, dll)
5. Pengelolaan BPKB dan brankas finance sesuai ketentuan yang berlaku 6. Pastikan pengelolaan Map PP sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga
tidak ada Map PP yang hilang
1. PENGGELAPAN UNIT/UANG/BARANG
2. GRATIFIKASI (PERMINTAAN UANG/BARANG) 3. MANIPULASI DATA/DOKUMEN/INFORMASI 4. BAIAYA FIKTIF
POTENSI FRAUD YANG DAPAT TERJADI
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI – Proses High Risk
Proses HIGH RISK lain yang perlu diperhatikan
Pastikan bahwa
UNIT/DANA/BARANG diterima nasabah. Verifikasi sebelum PPD jika TTD BASTK berbeda dengan KTP, meski ada
Form Beda Tanda Tangan
Edukasi kepada CALON DEBITUR mengenai cara pembayaran angsuran yang sah, yaitu Kasir,
PT Pos, tranfer, atau payment point resmi yang sudah MoU Monitoring dan Evaluasi
BIAYA-BIAYA dengan nominal kecil namun sering diajukan. Pastikan jumlah dan peruntukannya telah
sesuai kondisi sebenarnya
CONTOH KASUS
1. Debitur merasa tidak mengambil kredit dan tidak menerima unit
2. Biaya Tarik atau Fee marketing diselewengkan, tidak diberikan kepada yang berhak 3. Penggelapan angsuran oleh Dealer karena nasabah menyetorkan uang ke Dealer
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI
FRAUD juga dapat ter-DETEKSI melalui aktivitas yang sudah biasa kita dilakukan KUNJUNGAN HARIAN COLLECTION
(DKHC/DKHR - MCS)
KUNJUNGAN ULANG COLLECTION (Sidak, Kuber, Revisit ARO/Rem Off
dan AR Head)
COMPLAIN NASABAH/DEALER
(Dering Adira/SMS Blast) REVISIT CA
1. Fokus pada Delinquency A4 (Fiktif) dan A2 (Unit/Nasabah Raib)
2. Verifikasi apakah terjadi FRAUD atau tidak
1. Fokus pada hasil:
• Kredit Fiktif
• Tidak Survey
• Lapping/Penggelapan Uang 2. Verifikasi apakah terjadi FRAUD
atau tidak
1. Walaupun tidak diwajibkan, Revisit CA masih diperlukan untuk
mendeteksi FRAUD
2. Fokus pada hasil verifikasi Fiktif, Tidak Survey, dan Penggelapan Fokus pada pembayaran nasabah yang
belum masuk/tercatat pada system
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
DETEKSI
Risk Event
(Kejadian Berrisiko sesuai parameter per Bagian
& per Fungsi)
Revisit Collector dan AR Head
(Revisit N-1, Sidak, Kuber)
• RCSA
• PROFIL RISIKO (DANAMON)
• PERBAIKAN PROSES
SYSTEM DATABASE
Memanfaatkan “Tools” yang ada dalam menunjang aktivitas kontrol, seperti ORMS, RCSA, BMC, Control Checklist, CCTV dan lainnya
Khusus Risk Event ORMS, selain sebagai media pencatatan kejadian risiko, juga dapat dimanfaatkan untuk deteksi FRAUD dan perbaikan proses
Oleh sebab itu, pengerjaan tools tersebut harus dilakukan dengan benar agar informasi yang didapat valid dan dapat ditindaklanjuti
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE
Sesuai MI Nomor 003/RIM/ORM/V/2017 perihal Ketentuan Pelaporan Fraud, Pengelolaan Fraud dan pelaporan Kerugian Operasional (Operational Loss)
Jika ANDA mendeteksi tindakan FRAUD….
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE
Mekanisme Pelaporan FRAUD dibagi menjadi 2 bagian, berdasar Potential Loss atau Potensi Kerugian*
*Potensi Kerugian dapat dihitung berdasar sisa pokok (Princ Balance) ataupun jumlah uang angsuran atau uang lainnya
KRITERIA PELAPORAN FRAUD
≤ Rp 10 Juta
(Kurang dari atau sama dengan
Rp 10 Juta)
> Rp 10 Juta
(Lebih dari Rp 10 Juta)
Head of Regional Head of Internal Audit
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE – PELAPORAN FRAUD
≤ RP 10 JUTA (KURANG DARI ATAU SAMA DENGAN RP 10 JUTA)
PIMPINAN UNIT KERJA*
(BM SSD/OPS) HEAD OF REGION
(SSD/OPS)
PIC INVESTIGASI REGIONAL (Task Force)
PIMPINAN UNIT KERJA (BM SSD/OPS)
Melaporkan kejadian FRAUD kepada Head of Regional SSD/OPS melalui e-mail
Mengkaji dan menunjuk PIC Investigasi dari unit kerja (disebut PIC Wilayah)
1. Melakukan investigasi Kasus
2. Membuat Laporan Hasil Penanganan Kasus (LHPK) sampai full approved oleh Head of Regional SSD/OPS 3. Pengiriman LHPK ke [email protected]**
Monitoring Punishment (HCGA), Pelaporan Polisi (Legal), dan Recovery (Pengembalian kerugian dan/atau
penyelamatan asset)
*Unit Kerja yaitu Cabang, Recovery, Warehouse, Custodian, dan lainnya
**Perubahan alamat e-mail dari [email protected] menjadi [email protected]
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE – PELAPORAN FRAUD
> Rp 10 Juta (Lebih dari Rp 10 Juta)
PIMPINAN UNIT KERJA*
(BM SSD/OPS) H/o ANTI FRAUD
MANAGEMENT H/o INTERNAL AUDIT cq H/o INVESTIGATION
INVESTIGATOR
Melaporkan kejadian FRAUD yaitu Laporan Kejadian Kasus Fraud (LKKF) melalui email [email protected] paling lambat H+1 setelah
melengkapi bukti pendukung dan/atau keterangan tertulis*
Membuat dan mencatat FRAUD dalam FRAUD Log Book
Membuat Kajian untuk menentukan pihak mana yang akan melakukan investigasi. Hasil kajian tersebut dituangkan dalam Laporan Tanggapan atas Pelaporan Kasus Fraud
Pihak yang ditunjuk melakukan investigasi sesuai mekanisme masing-masing dan membuat Laporan:
1. Investigation – Laporan Hasil Investigasi (LHI) 2. QPC – Laporan Kunjungan Final (LKF)
3. Unit Kerja – Laporan Hasil Penanganan Kasus (LHPK) yang disetujui oleh Head of Internal Audit
H/o ANTI FRAUD MANAGEMENT
Monitoring kasus dalam FRAUD Log Book yang meliputi Punishment (HCGA), Pelaporan Polisi (Legal), dan Recovery (Pengembalian kerugian dan/atau penyelamatan asset)
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE – WHISTLE BLOWER
Selain Laporan Cabang, pelaporan FRAUD juga dapat menggunakan media Whistle Blowing Service di situs Adira https://adira.co.id
Klik button Whistle Blower Service
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE – WHISTLE BLOWER
• Langsung terhubung dengan situs Deloitte
• Baca Petunjuk yang diberikan
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE – WHISTLE BLOWER
• Isi field yang ada pada Form Pelaporan, kurang lebih terdapat 17 kolom
• Identitas pelapor boleh diberikan atau tidak
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
RESPONSE – WHISTLE BLOWER
• Sebagai bentuk validitas laporan, lampirkan bukti-bukti pendukung dengan cara upload dengan ukuran file < 1 MB
• Kemudian klik button “Kirim Laporan”
PENANGAN RISIKO DAN FRAUD
1. Penanganan Risiko dan FRAUD
mencakup 3 pihak yaitu Three Lines of Defense
2. Strategi penanganan FRAUD mencakup Pencegahan, Deteksi, dan Tindak Lanjut 3. Pihak atau lini yang paling berperan
dalam penanganan tersebut adalah Line 1, karena dapat mencegah terjadinya FRAUD
4. Jika ditemukan kejadian FRAUD, segera laporkan dan selesaikan
DIGITAL RISK & FRAUD
PENDAHULUAN
Untuk terus survive dalam industri pembiayaan, ADIRA FINANCE pun mencanangkan ASPIRASI 2020 untuk menjadi Perusahaan Pembiayaan Digital Nomor 1 di Indonesia
Ditambah dengan adanya Ancaman Pendatang Baru (Threat of New Entry) perusahaan Financial Technology (Fintech) yang semakin berkembang Perusahaan yang memungkinkan siapapun dapat meminjam atau meminjamkan dana hanya melalui hand phone / gadget
“OLX dan momobil® menjadi
titik awal bisnis digital Adira Finance”
DIGITAL RISK & FRAUD
CONTOH MODUS
CARD TAKE OVER
(CTO) SIM CARD SWAP
(SCTO) EMAIL SCAM /
PHISING
Korban mendapat kabar Limit Kredit bertambah. Korban menyerahkan Kartu Kredit yang lama
Petugas palsu menggunting kartu Korban, namun tidak menggunting chip yang ada Kartu Korban yang dikira sudah digunting tersebut kemudian disalahgunakan
Pelaku mengumpulkan data pribadi korban. Kemudian mendatangi operator selular untuk mengganti SIM Card.
Tiba-tiba SIM Card korban error atau “No Service”
diketahui sebabnya Kemudian ada transaksi perbankan tanpa
sepengetahuan korban
Pelaku mengirimkan e-mail yang mengharuskan korban meng-klik URL tautan (link) situs palsu yang mirip dengan situs aslinya
Korban login menggunakan user dan password
User dan password tersimpan di server pelaku untuk
melakukan transaksi
DIGITAL RISK & FRAUD
MODUS DI ADIRA FINANCE
MODUS YANG DISAMPAIKAN SEBELUMNYA MEMANG LEBIH KEPADA TRANSAKSI PERBANKAN (ONLINE/MOBILE BANKING DAN KARTU KREDIT) ATAUPUN PEMBELANJAAN ONLINE
ADIRA FINANCE tetap menghadapi risiko dan Fraud dalam dunia online, antara lain:
1. Kebocoran data nasabah (data leakage)
• Sudah Non Aktif namun tetap melakukan penagihan angsuran
• Pencegahan dengan cara me-Non Aktfikan USB Flash Disk 2. Penipuan mengatasnamakan Adira Finance menagih angsuran
• Meminta nasabah mentranfer uang angsuran ke rekening pelaku
• Menarik unit dari nasabah tanpa adanya Surat Kuasa
3. Penipuan mengatasnamakan Adira Finance penjualan unit STNK Only
• Menjual unit bekas dengan harga murah tanpa BPKB
• Ada juga yang meminta korban mentranfer uang DP
BAGAIMANA DENGAN ADIRA FINANCE?
DIGITAL RISK & FRAUD
MODUS DI ADIRA FINANCE
Contoh iklan jual beli kendaraan bermotor STNK Only dengan mengatasnamakan
PT ADIRA FINANCE Ciri-ciri:
1. Harga yang ditawarkan di bawah harga pasar 2. Hanya ada STNK tanpa BPKB
Jika dibiarkan, hal ini dapat berdampak pada bisnis Adira Finance seperti Risiko Reputasi dan Risiko Hukum Nasabah akan dirugikan karena
1. Sudah tranfer DP tapi tidak terima unit 2. Mendapatkan unit ilegal
Dari sisi Adira Finance, tidak bisa menarik unit tersebut karena pemegang unit sudah membeli secara tunai (walaupun sebenarnya BPKB masih di Adira)
Oleh sebab itu perlu untuk dilakukan EDUKASI kepada masyarakat untuk membeli unit bekas dari Dealer/Showroom yang sah*
DIGITAL RISK & FRAUD
TANTANGAN KE DEPAN
1. Proses bisnis semakin PAPERLESS
2. Keamanan DATA ELEKTRONIK (Transaksi online keday, PPOB, dll)
3. Kompetitor FINTECH COMPANY seperti
Dokter Rupiah, Uang Teman, dll) akan semakin agresif dan berpotensi menggerus pasar Adira Finance
4. Semakin bergantung pada DATA ANALYTICS
• Penentuan kelayakan debitur (Approval)
• Penanganan debitur Overdue
• Eligible Customer
DIGITAL RISK & FRAUD
1. Risiko dan FRAUD beradaptasi dengan
perkembangan teknologi sehingga terdapat potensi Risiko dan modus FRAUD Digital 2. Adira Finance ingin menjadi Perusahaan
Pembiayaan Digital di Indonesia tahun 2020 3. Saat ini perlu untuk mengidentifikasi potensi
risiko dan FRAUD Digital yang dapat terjadi, baik yang berpotensi merugikan Adira
maupun nasabah dan dealer
4. Perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak menjadi korban penipuan yang mengatasnamakan Adira Finance
PENUTUP
• RISIKO dan Kejadian FRAUD dapat kita cegah
• Jangan pernah lelah untuk terus berupaya mencegah FRAUD dengan
melakukan EDUKASI kepada karyawan/ti dan juga nasabah atau mitra kerja
• Jika terjadi FRAUD, segera laporkan dan lakukan tindak lanjut
• Tingkatkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Adira Finance, dan bayangkan bagaimana jika uang perusahaan adalah uang kita sendiri
• Tanyakan pada nurani kita jika terbesit niat untuk melakukan FRAUD.
Bayangkan orang-orang yang menyayangi kita dan akibat bagi mereka jika kita menyerah untuk melakukan FRAUD
• Jika mendapatkan masalah yang berat, segera konsultasikan. Ingatlah bahwa kita tidak akan diberikan beban yang tidak dapat kita pikul