• Tidak ada hasil yang ditemukan

PARASIT DINOFLAGELATA (Amyloodinium ocellatum) PADA IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PARASIT DINOFLAGELATA (Amyloodinium ocellatum) PADA IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PARASIT DINOFLAGELATA (Amyloodinium ocellatum) PADA IKAN KERAPU SUNU, Plectropomus leopardus

Ketut Mahardika, Mujimin, dan Ketut Maha Setyawati

Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan, Gondol-Bali PO. Box. 140 Singaraja 81101

Korespondensi email: [email protected]

Abstrak: Parasit dinoflagelata (Amyloodinium ocellatum) merupakan salah satu parasit yang menyerang dan menginfeksi ikan kerapu. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui penyebab kematian juvenil ikan kerapu sunu, Plectropomus leopardus. Kematian kerapu ini terjadi pada bulan November tahun 2016, dimana 30% dari total 150 ekor yang dipelihara mati selama 3 hari. Gejala klinis ikan yang terinfeksi terlihat berenang lemah dipermukaan air dekat aerasi dengan nafsu makan yang hilang. Pemeriksaan permukaan tubuh ikan yang sakit tidak menunjukkan adanya luka atau ekor geripis, demikian pula dengan kerokan kulit tidak ditemukan adanya infestasi parasit. Hasil pemeriksaan insang menunjukkan adanya infestasi parasit dinoflagelata yang berbentuk bulat berwarna agak kecoklatan dengan rata- rata diameter yaitu 70,86±4,24 µm. Secara histopatologi, insang yang terinfeksi parasit dinoflagelata ini menunjukkan hyperplasia, fusi dan rusaknya lamella sekunder. Ikan-ikan yang masih hidup di obati dengan 200 ppm formalin selama 1 jam dengan aerasi.

Pengobatan dilakukan setiap hari selama 3 hari, dan 86,96% sisa ikan tersebut (105 ekor dari 115 ekor ikan uji) dapat pulih kembali. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kematian juvenil kerapu sunu disebabkan oleh infeksi parasit dinoflagelata, Amyloodinium ocellatum.

Kata Kunci: Insang, kerapu sunu, parasit dinoflagelata

Abstract: The parasite dinoflagellata (Amyloodinium ocellatum) is one of the parasites that attacks and infects the groupers. The purpose of this study was to determine the cause of mortality of juvenile leopard coral grouper, Plectropomus leopardus. This grouper mortality occurred at November, 2016, in which 30% out of a total of 150 fish were died within 3 days. Clinical symptoms of infected fish appear to swim weakly on the water surface near aeration with lost appetite. Examination of the body surface of a sick fish did not show any wound or tail of the spine, nor the skin scrapings found no parasitic infestation. The results of gill examination showed a parasitic infestation of dinoflagelata in the form of a slightly brownish-colored round with an average diameter of 70.86±4.24 μm. In histopathology, adult parasite (Trophont) caused hyperplasia, fusion and destructive of secondary lamella of gill. Remaining survival fish were treated with 200 ppm of formalin for 1 hour with aeration. Treatment is done daily for 3 days, and 86.96% of these fish (105 fish from a total 115 fish) can be recovered. From the results of this study, it was concluded that the death of juvenile leopard coral grouper caused by a parasitic infection of dinoflagelata, Amyloodinium ocellatum.

Key words: gills, sunu grouper, parasite dinoflagellata

PENDAHULUAN

Amyloodinium ocellatum adalah ektoparasit dinoflagellata dan merupakan salah satu parasit patogen penting dalam budidaya air laut maupun air payau. Parasit yang dilaporkan menghasilkan penampilan seperti beludru pada ikan yang terinfeksi, dan penyakit yang ditimbulkan biasanya disebut sebagai "laut beludru atau penyakit beludru”, atau amyloodiniosis (Francis-Floyd and Floyd, 2011). Lebih lanjut dilaporkan bahwa A. ocellatum memiliki inang

(2)

yang sangat luas pada berbagai jenis ikan laut dan ikan payau. Ektoparasit ini dapat ditemukan pada insang dan kulit (tubuh dan sirip) ikan inang. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan dan kematian karena A. ocellatum mampu bereproduksi cepat dalam populasi ikan yang padat, terutama di sistem tertutup.

Parasit dalam budidaya ikan laut bisa memiliki monoxenous (satu inag) atau heteroxenous (banyak inang) dalam siklus hidupnya. Infeksi parasit pada ikan bisa terjadi baik langsung maupun tidak langsung melalui inang perantara yang terinfeksi. Pada budidaya laut, beragam monoxenous dan heteroxenous parasit bisa terjadi dalam jumlah tinggi. Terutama parasit dengan siklus hidup langsung seperti ciliata, monogenea dan krustasea (seperti:

copepoda, isopoda) dalam populasi ikan dengan kepadatan tinggi. Jalur transmisi parasit ke ikan budidaya sangat bervariasi tergantung pada siklus hidup parasit. Ikan stok, ikan liar, biofouling, dan ikan rucah yang digunakan sebagai pakan dapat menjadi inang perantara parasit ke dalam air pemeliharaan ikan budidaya. Namun, desinfeksi dan kontrol inang perantara bisa mencegahnya transfer parasit ke ikan budidaya (Rückert et al., 2009).

Budidaya ikan kerapu sunu, Plectropomus leopardus sudah berhasil dikembangkan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), dan telah menghasilkan sampai generasi 3 (G3). Namun demikian, pembenihan pembenihan kerapu ini masih menghasilkan sintasan yang rendah (1-3%) (Suwirya dan Giri, 2010). Kegiatan penelitian untuk peningkatan sintasan masih terus diupayakan agar menghasilkan metode pembeihan yang tepat sebagai rekomendasi bagi pembudidaya (Andamari, 2008; Melianawati dan Suwirya, 2010). Selain kendala dalam pembenihan, belakangan ini kendala penyakit juga menjadi faktor kematian massal dalam pembenihan dan pembesaran. Penyakit yang sering menjadi masalah dalam pembenihan kerapu sunu adalah infeksi virus VNN (viral nervous necrosis), sedangkan kendala penyakit pada tahap pembesaran disebabkan oleh infestasi parasit, yang salah satunya disebabkan oleh ektoparasit dinoflagellata. Jenis ikan ini dilaporkan relatif lebih sensitif diabandingkan dengan jenis ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus maupun kerapu bebek, Cromileptes altivelis. Ikan ini mudah terserang ektoparasit termasuk lintah dan dengan cepat terjadi luka (Suwirya dan Giri, 2010). Pada bulan November 2016, terjadi kematian juvenil kerapu sunu yang dipelihara dalam bak di hatcheri BBRBLPP. Ikan yang sakit hanya menunjukkan berenang lemah dekat aerasi dan beberapa ikan ditemukan mati di dasar jaring.

Oleh karena itu dilakukan pengamatan parasit, dan histopatologi untuk mengetahui penyebab kematian juvenil ikan kerapu sunu, serta pengobatannya.

METODE PENELITIAN

Ikan Uji

Ikan yang digunakan dalam pengamatan ini adalah ikan kerapu sunu, P. leopardus dengan panjang total berkisar antara 6,4-8,5 cm (rata-rata 7,32±0,59 cm) yang dipelihara dalam bak beton ukuran 4 m3. Masing-masing 50 ikan dipelihara dalam jaring ukuran 50x50x100 cm (3 jaring) yang diapungkan dalam bak beton dengan air mengalir. Ikan-ikan tersebut diberi pakan pelet komersial sebanyak 2 kali sehari sampai kenyang.

Pengamatan parasit

Sebanyak 20 dan 10 ekor ikan sakit/mati, serta 5 ekor ikan sehat diambil lendir kulitnya dengan cara mengerok permukaan kulit dengan cover glass dan diletakan diatas obyek glass, sedangkan pengamatan parasit pada insang dilakukan dengan memotong lamella insang ikan dengan gunting stainless dan diletakkan di atas obyek glass. Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran 40-1000 kali secara bertahap.

Pemeriksaan histopatologi

Sebanyak 10 ekor ikan uji yang baru mati dipilih yang insangnya masih berwarna merah untuk proses histplatologi. Organ insang dan organ dalam per ekor ikan dimasukkan dalam

(3)

botol kecil yang telah diisi dengan larutan fiksasi bouin’s, dimana kandungan larutan ini mengandung asam pikrat sebagai bahan dekalsifikasi tulang insang. Setelah 3 hari pasca fiksasi, larutan bouin’s diganti dengan alkohol 70%. Proses selanjutnya mengikuti prosedur histopatologi yang telah dikemukakan sebelumnya oleh Mahardika et al. (2004). Preparat histopatologi diwarnai dengan Mayer hematoxylin dan eosin. Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan pembesaran 40-1000 kali.

Pengobatan terhadap ikan sakit

Ikan kerapu sunu yang diketahui terinfeksi A. ocellatum melalui pemeriksaan preparat kerokan kulit dan insang, segera dilakukan pengobatan dengan merendam ikan-ikan tersebut dalam 200 ppm formalin teknis selama 1 jam dengan aerasi. Semua ikan (115 ekor) dimasukkan ke dalam bak fiber 100 liter yang diisi dengan air laut sebanyak 80 liter dan ditambahkan 16 mL formalin teknis. Setelah 1 jam perendaman, ikan-ikan tersebut dikembalikan ke dalam jaring yang sebelumnya telah dicuci dengan air tawar. Perendaman diulang satu dan dua hari setelah perendaman pertama (total 3 hari perendaman) dengan dosis yang sama.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ikan kerapu sunu awalnya mengalami penurunan nafsu makan. Hal tersebut terlihat sewaktu ikan diberi pakan kurang menunjukkan agresivitas berenang ke permukaan air untuk menangkap pakan dengan mulutnya. Beberapa ikan terlihat hanya dian di dasar. Keesokan harinya ikan-ikan terlihat berenang lemah di permukaan air dekat aerasi dengan hilangnya nafsu makan. Kematian ikan terjadi tiga hari dari timbulnya gejala awal. Sebanyak 45 ekor ikan ditemukan mati di dasar jaring (30%), sedangkan ikan lainnya terlihat ada yang berenang lemah dipermukaan air dekat aerasi dan diam di dasar jaring.

Ikan-ikan yang mati tidak menunjukkan adanya luka ataupun geripis pada sirip dan ekor.

Kondisi permukaan tubuhnya masih baik, namun beberapa ekor ada yang warna kulitnya kemerahan pada bagian-bagian tertentu seperti punggung.

Gambar 1. Gambaran mikroskopis dari A. ocellatum pada permukaan kulit dan insang.

1A: Trophont pada kerokan lendir dan sirip kerapu sunu terlihat berbentuk bulat berpasangan (pembesaran 100X), 1B: Pembesaran sedang dari Gambar 1A, memperlihatkan bentuk trophont

yang bulat dan berwarna kecoklatan (pembesaran 200X), 1C: Tomont yang mengandung dinospore (pembesaran 400X). 1D: Trophont yang menginfestasi kerapu sunu sepanjang filament insang dengan jumlah 276 trophont dalam satu lembar insang (pembesaran 40X), 1E:

(4)

Trophont terlihat berada diantara lamella insang dan beberapa sampai di basal insang (pembesaran 100X), 1F: Trophont tampak berbentuk bulat sampai lonjong dengan warna

kemerahan (pembesaran 200X).

Pemeriksaan kerokan kulit menunjukkan adanya mikroorganisme berbentuk bulat (Gambar 1A) berwarna kecoklatan (Gambar 1B). Menurut Zafran et al. (1998), ikan yang terinfeksi protozoa dinoflagellata, A. ocellatum menunjukkan gejala diam di dasar atau berenang lambat dekat permukaan air. Sedangkan menurut Lawler (1980), secara umum ikan yang terinfeksi A. ocellatum menunjukkan gejala megap-megap dan berenang tanpa arah. Secara mikroskopis, A. ocellatum berbentuk bulat sampai memanjang dan berwarna kecoklatan (Zafran et al., 1998). Amyloodinium dan Piscinoodinium adalah dinoflagellata dalam keluarga Blastodiniphyceae (Levy dan Noga, 2005). Dari kedua genera ini, Amyloodinium saja yang menyebabkan penyakit pada ikan laut. Sampai saat ini, baru satu spesies yang telah diidentifikasi dalam genus ini, yaitu A. ocellatum. Studi genetika terbaru menunjukkan bahwa isolat A. ocellatum dari beragam asal geografis dan dari spesies ikan yang berbeda merupakan spesies yang sama (Levy et al., 2007).

A. ocellatum memiliki siklus hidup yang sederhana atau tidak memerlukan organisme selain inang yang dibutuhkan untuk menyelesaikan siklus hidupnya. Parasit ini akan bereproduksi dengan cepat pada populasi inang yang padat. A. ocellatum memiliki tiga tahap perkembangan yaitu trophont (tahap dewasa yang hidup dan mencari makan pada inang/ikan), tomont (terlepas dari ikan, tahap ini membelah diri untuk membentuk dinospora), dan dinospora (berenang bebas di air, tahap yang mencari dan menginfeksi inang) (Francis-Floyd & Floyd, 2011; Kuperman & Matey, 1999; Landsberg et al., 1994). Tomon merupakan tahap reproduksi yang bisa menghasilkan hingga 256 dinospore (Francis-Floyd & Floyd, 2011). Pada pemeriksaan kerokan kulit selain ditemukan trophont, juga ditemukan tomont dengan sekumpulan dinospore (Gambar 1C).

Pada kerapu sunu, prevalensi trophont lebih banyak di insang (Gambar 1D) dibandingkan dengan di kulit. Trophont berada disepanjang filamen insang, diantara lamella insang, bahkan beberapa sampai ke basal insang (gill arches) (Gambar 1E). Trophont terlihat berbentuk bulat sampai oval/lonjong dengan warna kemerahan menyerupai warna insang yang mengalami perdarahan (haemorrhage) (Gambar 1F). Menurut Kuperman & Matey (1999), trophont ditemukan sepanjang filamen insang. Beberapa A. ocellatum ditemukan di rongga pernapasan, dipermukaan penutup insang dan mulut, kulit serta sirip. Lebih jauh dikatakan bahwa pada tingkat infestasi sedang, parasit terkonsentrasi pada insang dan sirip. Sedangkan pada infestasi rendah, trophont hanya ditemukan pada insang.

Hasil pengukuran trophont pada insang memiliki diameter rata-rata 70,86±4,24 µm (N=

10). Ukuran trophont ini lebih kecil dibandingkan dengan diameter yang dilaporkan sebelumnya yaitu lebih besar dari 120 µm (Zafran et al., 1998). Ukuran trophont yang menginfeksi ikan bervariasi seperti ukuran terbesar adalah 129 X 79 µm dan yang terkecil adalah 49 X 26 µm. Rasio trophont yang diamati antara kecil dan besar bervariasi antara individu ikan yang berbeda, mungkin hal tersebut tergantung dari lama waktu infestasi parasit ini di ikan (Kuperman & Matey, 1999). Sedangkan menurut Saraiva et al. (2011), A. ocellatum berbentuk bulat sampai oval dengan diameter hingga 150 μm dengan inti (nucleus) terletak di pusat sel dan dikelilingi oleh beberapa butiran refraksi.

Hasil pengamatan histopatologi insang ikan kerapu sunu yang terinfeksi A. ocellatum menunjukkan perubahan yang konsisten berupa disintegrasi atau degenerasi lamella sekunder.

Trophont yang berbentuk bulat sampai lojong terlihat diantara filamen insang (Gambar 2A).

Hyperplasia epitel insang dan fusi lamella sekunder juga menyertai infeksi parasit ini, dimana parasit berada di dalam lamella sekunder yang menyatu (Gambar 2B dan D). Pada infestasi parasit yang lebih banyak menunjukkan rusaknya lamella sekunder insang (Gambar 2C).

Dengan magnifikasi tinggi, terlihat parasit dewasa (trophont) yang menyebabkan hyperplasia epitel dan fusi lamella sekunder insang (Gambar 2D). Dalam sel trophont terlihat inti yang dikelilingi granule. Disekitar trophont tampak proliferasi sel epitel dalam lamella sekunder.

(5)

A

C D

B

Lamella sekunder mengalamai hyperplasia dan menyatu satu dengan lainnya membentuk fusi.

Kerusakan lamella menimbulkan terjadinya degenerasi sel. Kumar et al. (2015) mengatakan bahwa infeksi A. ocellatum menimbulkan hypertropi dari lamella sekunder dengan sel-sel inflamasi disekitar trophont. Lamella sekunder menunjukkan perubahan berupa focal nekrosis.

Lebih lanjut dilaporkan bahwa internal organ mengalami kongesti. Gejala awal infestasi parasit ini menyebabkan terangkatnya sel epitel dari lamella. Selanjutnya, tahap berikutnya menunjukkan adanya kerusakan lamella dan akhirnya menimbulkan degenerasi dari jaringan lamella. Pada beberapa bagian dari lamella primer insang, beberapa protozoa berasosiasi dengan jaringan nekrosis. Parasit juga masuk ke dalam gill arrays yang menyebabkan degenerasi jaringan lebih lanjut (Baticados & Quinitio, 1984). Menurut Seoud et al. (2017) infestasi trophont dalam jumlah sedikit menimbulkan sedikit perubahan lamella insang, namun pada infestasi trophont dalam jumlah banyak dapat menimbulkan hyperplasia insang yang serius, pembengkakan, perdarahan dan nekrosis. Trophont melekat pada ikan yang terinfeksi dengan rhizoid, yang merupakan struktur seperti akar yang digunakan parasit untuk menembus, menahan, dan mendapatkan makanan dari inang.

Gambar 2. Histopatologi insang kerapu sunu yang terinfestasi protozoa dinoflagelata A.

ocellatum. 2A: Trophont terlihat diantara filament insang (arrow) (pembesaran 100X), 2B:

Hiperplasia epithel insang dan fusi lamela sekunder insang (pembesaran 200X), 2C: Infestasi trophont dengan jumlah banyak menimbulkan rusaknya lamela sekunder insang (pembesaran 400X), 2D: Magnifikasi tinggi, terlihat parasit dewasa (trophont) penyebab hyperplasi epithel

dan fusi lamella sekunder insang (pembesaran 1000X).

Hasil pengobatan dengan 200 ppm formalin teknis selama 1 jam di hari pertama terdapat 10 ekor kerapu sunu yang mati (13,04%). Kematian ini terjadi kemungkinan disebabkan karena kerusakan insang kerapu sunu terlalu tinggi sehingga ikan tersebut tidak tahan dengan formalin.

Sebelum ikan mati terlihat megap-megap dan bergerak cepat tanpa orientasi diikuti dengan kematian. Sedangkan ikan lainnya masih terlihat berenang atau diam di dasar. Keesokan harinya, ikan-ikan tersebut sudah mulai berenang aktif walaupun nafsu makannya masih rendah.

Setelah pengobatan kedua, nafsu makan mulai meningkat, dan setelah pengobatan ketiga kalinya, ikan-ikan sudah aktif mencari pakan dan berenang lincah pada kolom air pemeliharaan dengan sintasan ikan 86,96%. Pengamatan kerokan kulit dan insang dari 5 ekor ikan setelah pengobatan menunjukkan tidak adanya A. ocellatum. Prevalensi ikan uji dari sampling pertama sampai setelah pengobatan dapat dilihat pada Tabel 1. Dalam Tabel 1 terlihat bahwa ikan

(6)

kerapu sunu yang mati dan baru mati setelah 3 hari pasca awal gejala klisnis dan ikan yang mati setelah pengobatan pertama menunjukkan 100% terinfeksi A. ocellatum. Sedangkan ikan uji setelah 3 hari berturut diobati dengan 200 ppm formalin teknis menunjukkan bebas dari parasit ini atau sembuh dari infeksi A. ocellatum. Pengobatan A. ocellatum dengan 250 ppm formalin selama 1 jam dilaporkan efektif dalam menghilangkan infestasi parasit ini (Zafran et al., 1998).

Pada induk ikan silver pompano Trachinotus blochii, pengobatan dengan 500 mg klorokuin fosfat dalam 100 L air, atau air dengan salinitas rendah dicampur dengan Oodinol 1000 menunjukkan hasil yang lebih baik dengan persentase kelangsungan hidup rata-rata 100%, dibandingkan dengan 25 ppm formalin, 25 ppm H2O2 dan air tawar menghasilkan kelangsungan hidup rata-rata 73,33, 53,33 dan 33,33%. Ikan kembali makan dari hari ketiga setelah pengobatan (Muktar et al., 2015). Perendaman ikan dengan 100 dan 200 ppm formalin selama 1 jam pada interval satu hari mampu menghilangkan parasit dari ikan (Kizhakudan et al., 2015).

Tabel 1. Prevalensi ikan uji yang terinfeksi A. ocellatum pada pengamatan kerokan kulit dan insang

No Ikan yang diamati (ekor)

Jumlah ikan yang mengandung A. ocellatum

(ekor)

Prevalensi

1 Ikan yang mati pada saat kasus kematian

20 20

100% terinfeksi 2 Ikan yang mati setelah

pengobatan pertama

10 10 100%

Terinfeksi 3 Ikan yang sehat setelah 3

hari pengobatan

5 0 100% tidak

terinfeksi/pulih

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kematian ikan kerapu sunu disebabkan karena infeksi protozoa dinoflagelata A. ocellatum. Mortalitas ikan dapat dikurangi dengan perendaman pada 200 ppm formalin teknis dalam air laut selama 1 jam selama 3 hari berturut-turut.

DAFTAR PUSTAKA

Andamari R. 2008. Peran Lama Pencahayaan dalam Pemeliharaan Larva Ikan Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus). Seminar Nasional Tahunan V Hasil Penelitian Perikanan dan Kelautan. Yogyakarta, BP12, hlm. 1-5.

Baticodas MCL. And Quinitio GF. 1984. Occurrence and Pathology of an Amyloodinium-like Protozoan Parasite on Gills of Grey Mullet. Helgoliinder Meeresunters. 37, 595-601.

Francis-Floyd, R. and Floyd, M. R. 2011. Amyloodinium ocellatum, an Important Parasite of Cultured Marine Fish. SRAC Publication No. 4705, Southern Regional Aquaculture Center, 11 pp.

Kizhakudan JK., Praveena PE., Maran BAV., Otta SK., Bhuvaneswari T., Rajan JJS., Krishnamoorthi S. and Jithendran KP. 2015. Investigation on the Mortality of Juveniles in Captive Stock of the Indian Halibut Psettodes erumei. Indian Journal of Geo-Marine Sciences, vol. 44 (8), pp. 1217-1223.

(7)

Kuperman, BI. and Matey VE. 1999. Massive Infestation by Amyloodinium ocellatum (Dinoflagellida) in a Highly Saline Lake, Salton Sea, California, USA. Dis. Aquat. Org., 39: 65-73.

Kumar PR., Nazar AKA., Jayakumar R., Tamilmani G., Sakthivel M., Kalidas C., Balamurugan V., Sirajudeen S., Thiagu R. and Gopakumara G. 2015. Amyloodinium ocellatum Infestation in the Broodstock of Silver Pompano Trachinotus blochii (Lacepede, 1801) and Its Therapeutic Control. Indian J. Fish., 62 (1): 131-134.

Landsburg JH., Steidinger KA., Blakesley BA. and Zondervan RL. 1994. Scanning Electron Microscope Study of Dinospores of Amyloodinium cf. ocellatum, a Pathogenic Dinoflagellate of Marine Fish, and Comments on Its Relationship to the Peridinales.

Diseases of Aquatic Organisms, 20:23-32.

Lawler AR. 1980. Studies on Amiloodinium ocellatum (Dinoflagellata) in Mississippi Sound:

Natural and Experimental Hosts. Gulf Research Reports, Vol. 6, No. 4, hlm. 403-413.

Levy MG. and Noga EJ. 2005. Controlling Parasitic Dinoflagellates of Fish, with Special Emphasis on Molecular Genetics and Immunity. Acta Zoologica Sinica, 52(4):550-553.

Levy MG., Poore MF., Colorni A., Noga EJ., Vandersea MW. and Litaker RW. 2007. A Highly Specific PCR Assay for Detecting the Fish Ectoparasite Amyloodinium ocellatum.

Diseases of Aquatic Organisms, 73:219-226.

Mahardika K., Zafran, Yamamoto A. and Miyazaki T. 2004. Susceptibility of Juvenile Humpback Grouper (Cromileptes altivelis) to Grouper Sleepy Disease Iridovirus (GSDIV). Dis Aquat Org, 59, p.1-9.

Melianawati R. dan Suwirya K. 2010. Optimasi Tingkat Pemberian Pakan Terhadap Benih Kerapu Sunu (Plectropomus leopardus). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur, Pusat Riset Perikanan Budidaya, hlm. 659-665.

Rückert S., Klimpel S., Al-Quraishy S., Mehlhorn H. and Palm HW. 2009. Transmission of Fish Parasites into Grouper Mariculture (Serranidae: Epinephelus coioides (Hamilton, 1822)) in Lampung Bay, Indonesia. Parasitol. Res. 104:523–532, DOI 10.1007/s00436-008- 1226-7.

Saraiva A., Jerónimo D. and Cruz C. 2011. Amyloodinium ocellatum (Chromalveolata:

Dinoflagellata) in farmed turbot. Aquaculture 230, p. 34-36.

Seoud SS., Zaki VH., Ahmed GE. And El-Khalek NKA. 2017. Studies on Amyloodinium Infestation in European Seabass (Dicentrarchus labrax.) Fishes with Special Reference for Treatment. International Journal of Marine Science, 2017, Vol.7, No.24, 229-246.

Suwirya K. dan Giri NA. 2010. Usaha Pengembangan Budidaya Ikan Kerapu Sunu, Plectropomus leopardus di Indonesia. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur, Pusat Riset Perikanan Budidaya, hlm.307-314.

Zafran, Roza D., Koesharyani I., Johnny F. and Yuasa K. 1998. Manual for Fish Diseases Diagnosis. Marine Fish and Crustacean Diseases in Indonesia. Gondol Research Institute for Coastal Fiseries. Central Research Institute for Fisheries. Agency for Agricultural Research and Development and Japan International Cooperation Agency. ISBN 979- 8186-63-X, hlm 1-44.

Gambar

Gambar 1. Gambaran mikroskopis dari A. ocellatum pada permukaan kulit dan insang.
Gambar 2. Histopatologi insang kerapu sunu yang terinfestasi protozoa dinoflagelata A

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan laju eksploitasi ikan kerapu sunu di perairan Kabupaten Kolaka telah mengalami tangkap lebih mengakibatkan terjadi perubahan komposisi ukuran ikan menjadi lebih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kelulusan hidup terbaik pada juvenil ikan kerapu sunu ( Plectropomus Leopardus) dihasilkan pada pendederan pemberian

Sampel yang diamati menunjukkan bahwa semua gonad ikan kerapu sunu betina yang diperoleh berada dalam tahap awal perkembangan gonad yaitu tingkat I dan tingkat

Penggunaan penyandi gen tumbuh cepat tersebut perlu diaplikasikan lebih lanjut dalam penelitian seleksi calon induk sehingga akhirnya akan diperoleh benih dan induk ikan kerapu

Jika dilihat secara keseluruhan perlakuan dapat diketahui bahwa benih ikan kerapu sunu memiliki laju pertambahan panjang dan bobot yang jauh lebih baik pada salinitas

Tingkat jumlah pemberian pakan buatan yang berbeda pada pendederan benih ikan kerapu sunu memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap sintasan, konversi

Penggunaan penyandi gen tumbuh cepat tersebut perlu diaplikasikan lebih lanjut dalam penelitian seleksi calon induk sehingga akhirnya akan diperoleh benih dan induk ikan kerapu

Dari kedua metode yang digunakan untuk studi pendahuluan determinasi jenis kelamin induk ikan kerapu sunu ternyata dengan metode western blot memberikan hasil yang lebih sensitif