• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN JANDA TERHADAP HARTA BERSAMA MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEDUDUKAN JANDA TERHADAP HARTA BERSAMA MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KEDUDUKAN JANDA TERHADAP HARTA BERSAMA MENURUT HUKUM WARIS ADAT JAWA

Suwito Sugiyanto

1

Yuni Purwati

2

Alwi Wahyudi

3

1

,

2

,dan

3

adalah Dosen Fakultas Hukum Universitas Merdeka Madiun

Abstract

This Research is research yuridis normatif which studying existence of Hereditary law Adat. This Research purpose is to analysing concerning arrangement of marriage estae according to Hereditary law Adat Jawa and analyse concerning position of widow to community property according to Hereditary law Adat Jawa.

Keywords : Position of Widow, Hereditary law Adat,

Pendahuluan

Dalam kehidupan manusia antara laki-laki dan perempuan secara alamiah mempunyai daya tarik antara satu dengan yang lain dan apabila diantara meraka ada kecocokan kemudian akan sepakat untuk mernbentuk suatu rumah tangga yang bahagia dan kekal, hal ini merupakan suatu kodrat yang tidak dapat dihindari. Namun demikian manusia tidaklah dapat bebas berbuat semaunya sendiri akan tetapi harus taat, tunduk dan menghormati norma-norma yang berlaku termasuk peraturan perundang-undang yang telah ditetapkan oleh negara, termasuk di dalamnya yaitu keberadaan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.

Dengan perkawinan itu timbul suatu ikatan yang berisi hak dan kewajiban umpamanya : kewajiban untuk bertempat tinggal yang sama, setia kepada satu sama lain, kewajiban untuk memberi belanja rumah tangga, hak waris, harta kekayaan dan sebagainya.

Di dalam perkawinan itu selalu diharapkan berjalan langgeng, aman, sehingga suami istri dalam hidup bersama sampai sama-sama tua (istilah Jawa : Kaken- kaken, ninen-ninen). Tetapi manusia hanya bisa berharap sedang yang menentukan adalah Tuhan, begitulah kehidupan, di mana salah satu pihak suami atau istri meninggal

lebih dulu atau terjadi perceraian. Pada dasamya putusnya perkawinan tersebut dapat terjadi karena perceraian atau kematian.

Putusnya perkawinan karena perceraian disebut dengan cerai hidup, sedang putusnya perkawinan karena kematian disebut cerai mati.

Sehubungan dengan adanya barang/ harta kekayaan tersebut apabila suami meninggal dunia maka yang menjadi ahli waris di samping anak-anak yang ditinggalkan, janda juga berhak mendapatkan harta peninggalan dari almarhum suami khususnya terhadap harta bersama (gono gini). Hal ini sesuai dengan Hukum Adat Jawa yang menganut sistem kekerabatan Parental.

Pada awalnya seorang janda tidak berhak mewaris atas harta peninggalan suaminya, dimana hanya berhak atas pengusaaan harta kekayaan suaminya tetapi perkembangan kedudukan janda berubah menjadi ahli waris antara yang satu dengan yang lain, sebagaimana dikuatkan dalam putusan Mahkamah Agung : ”Keputusan Mahkamah Agung Tanggal 29 Oktober 1958 Reg No.

298 K/Sip/1958 bahwa : ”Menurut hukum

adat yang berlaku di Jawa , apabila dalam

suatu perkawinan tidak dilahirkan seorang

anakpun, maka istri atau janda tetap dapat

menguasai barang-barang gono-gini sampai

ia meninggal atau sampai dia kawin lagi.”

(2)

Dan apabila janda memiliki anak maka Putusan Mahkamah Agung tanggal 9 September 1959 Reg No. 264 K/Sip/1959 menetapkan bahwa : ”Menurut Hukum adat Jawa Tengah seorang janda berhak untuk membagi-bagikan harta keluarga antara semua anak, asal saja setiap anak mendapatkan bagian yang pantas.”

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini antara lain :

1. Dapat mengetahui dan menganalisa tentang pengaturan harta perkawinan menurut Hukum Waris Adat Jawa.

2. Dapat menganalisa tentang kedudukan janda terhadap harta bersama menurut Hukum Waris Adat Jawa.

Kerangka Dasar Teori

1. Pengertian Hukum Waris Adat

Mengenai pengertian Hukum Waris Adat, para sarjana mengemukakan beberapa definisi yang berlainan di dalam memahaminya. Oleh karena itulah disini akan dikemukakan beberapa pendapat para sarjana tersebut.

Pengertian Hukum Waris Adat menurut Mr. B. Ter Haar Bzn: Hukum Waris Adat adalah aturan-aturan hukum yang mengenai cara bagaimana dari abad ke abad penerusan dan peralihan dari harta kekayaan yang berwujud dan tidak berwujud dari generasi pada generasi.(1986:197). Sedang menurut Soepomo dinyatakan bahwa :

Hukum Waris Adat memuat peraturan- peraturan yang mengatur proses serta mengoperkan barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak berwujud benda (immateriele goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada keturunannya (1987:79).

Selanjutnya menurut Soerojo Wignyodipoero menyatakan bahwa :

Hukum Waris Adat meliputi norma- norma hukum yang menetapkan harta kekayaan baik yang materiil maupun yang immateriil yang manakah dari seseorang yang dapat diserahkan kepada keturunannya

serta yang sekaligus juga mengatur saat, harta dan proses peralihannya (1984: 161).

Imam Sudiyat berpendapat :

Hukum Waris Adat meliputi aturan- aturan dan keputusan-keputusan hukum yang

bertalian dengan proses

penerusan/pengoperan dan

peralihan/perpindahan hartanya kekayaan materiil dan non materiil dari generasi ke generasi (1986:151).

Bertolak dari pengertian Hukum Waris Adat yang dikemukakan oleh para sarjana, maka kesimpulan yang dapat diambil mengenai pengertian Hukum Waris Adat adalah merupakan hukum adat yang memuat ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang cara bagaimana pewaris mengalihkan harta kekayaan berwujud maupun tidak berwujud dan meneruskan penguasaan dan pemakaiannya kepada ahli waris. Proses peralihan dan penerusan tersebut dapat terjadi semasa pewaris masih hidup atau setelah pewaris meninggal dunia.

2. Unsur-Unsur Dalam Pewarisan

Dengan melihat pengertian hukum waris adat diatas maka dapatlah dikatakan bahwa untuk terjadinya pewarisan harus memenuhi unsur :

1. Adanya Pewaris

Pewaris yaitu seorang yang memiliki harta kekayaan dan meneruskan atau mengoperkan harta tersebut kepada seseorang sebagai ahli waris.

Menurut Hukum Waris Adat, seorang pewaris untuk dapat tidaknya mewariskan harta kekayaannya kepada anak-anaknya sebagai ahli waris tergantung kepada sistem kekeluargaannya / sisem kekerabatan adatnya. Sedang pada masyarakat dengan sistem kekeluargaan parental, harta warisan yang ada diwariskan pada semua anaknya dengan dasar persamaan hak yaitu bagian anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Misalnya di Jawa, Kalimantan, Sulawesi.

2. Adanya Ahli Waris

Ahli waris merupakan salah satu

unsur yang penting dalam hal pewarisan

(3)

sehubungan dengan adanya peristiwa kematian seorang pewaris. Pada prinsipnya para ahli waris pemilik dari harta peninggalan itu adalah anak- anaknya. Berhak tidaknya para waris tersebut untuk dapat menerima harta warisan dipengaruhi oleh sistem kekerabatan bersangkutan dan mungkin juga karena pengaruh agama, sehingga antara daerah yang satu dan yang lain terdapat perbedaan.

3. Adanya Harta Warisan

Pengertian dari harta warisan adalah :

“Semua harta benda yang ditinggalkan oleh seorang yang meninggal dunia (pewaris) baik harta benda itu sudah dibagi atau belum dibagi atau memang tidak dibagi”.

Harta warisan menurut hukum adat tidak merupakan yang dapat dinilai harganya, tetapi merupakan kesatuan yang tidak terbagi, atau dapat dibagi menurut jenis macamnya dan kepentingan para warisnya.

3. Sistem Pewarisan

Berdasarkan atas cara-cara bagaimana dan oleh siapa harta peninggalan itu diwaris atau dikuasai, secara garis besar pewarisan menurut hukum adat dapat dibedakan menjadi tiga pokok, yaitu :

1. Sistem Pewarisan Individual

Pewarisan dengan sistem individual atau perseorangan ini adalah sistem pewarisan di mana setiap waris mendapatkan pembagian untuk dapat menguasai dan atau memiliki harta warisan menurut bagian masing-masing.

Setelah diadakan pembagian maka masing-masing waris dapat menguasai dan memiliki bagian harta warisannya untuk diusahakan, dinikmati ataupun dialihkan/

dijual/dioperkan kepada sesama waris anggota kerabat, tetangga ataupun orang lain. Dengan kata lain ahli waris dapat berbuat bebas sekehendak hatinya terhadap harta warisannya tanpa ada batasan ataupun yang melarangnya.

2. Sistem Pewarisan Kolektif

Pewarisan dengan sistem kolektif ini adalah di mana harta peninggalan diteruskan dan dialihkan pemiliknya dari pewaris kepada ahli waris sebagai kesatuan yang tidak terbagi-bagi pengusaan dan pemiliknya dan setiap ahli waris berhak untuk mengusahakan, menggunakan, memanfaatkan atau mendapat hasil dari harta peninggalan itu.

Bagaimana cara pemakaian untuk kepetingan dan kebutuhan masing-masing waris diatur bersama alas dasar musyawarah dan mufakat oleh semua anggota kerabat yang berhak alas harta peninggalan di bawah bimbingan kepala kerabat.

3. Sistem Pewarisan Mayorat

Sistim pewarisan mayorat sesunguhnya adalah juga merupakan sistem pewarisan kolektif, hanya saja pengurusan dan pengalihan hak penguasaan atas harta yang tidak terbagi-bagi ini dilimpahkan kepada anak tertua yang bertugas sebagai pemimpin rumah tangga atau kepala keluarga menggantikan kedudukan ayah dan ibu sebagai kepala keluarga.

Anak tertua yang merupakan satu-satunya ahli waris dalam sistem ini dikatakan berhak tunggal atas warisan, anak tertua yang menerima warisan ini adalah dalam rangka kedudukannya sebagai penerus tanggung jawab orang tua yang wafat berkewajiban mengurus dan memelihara saudara-saudaranya yang lain.

Terutama bertanggung jawab atas harta warisan dan kehiduan adik-adiknya yang masih kecil sampai mereka dapat berumah tangga dan berdiri sendiri dalam suatu wadah kekerabatan yang turun-temurun.

4. Pengertian Janda

Pengertian janda menurut Kamus Bahasa Indonesia adalah orang yang tidak bersuami (beristri) lagi baik karena cerai hidup maupun cerai mati.(1979:134)

Pengertian cerai hidup dapat diartikan

terjadinya perceraian dalam suatu

perkawinan di karenakan berbagai macam

alasan, antara lain :Perzinaan, Tidak

(4)

memberikan nafkah, Adanya penganiayaan, Adanya cacat tubuh / kesehatan, Perselisihan /ketidakcocokan.

Sedangkan pengertian cerai mati atau terjadinya perceraian karena suami meninggal terlebih dahulu. Karena berdasarkan kodratnya manusia tidak dapat menghindarkan diri dari kematian, cepat atau lambat semua manusia akan kembali kepada- Nya.

Perkawinan antara suami dan istri dapat putus karena kematian tetapi hubungan hukum akibat perkawinan diantara kerabat para pihak yang bersangkutan tidak putus apalagi jika dalam perkawinan dikaruniai keturunan (anak). Hal ini juga berakibat hukum berkaitan dengan harta warisan yang ditinggalkan si pewaris (suami), terhadap ahli warisnya.

Metode Penelitian

1. Pendekatan masalah

Pendekatan masalah yang penulis gunakan untuk membahas masalah ini adalah menggunakan metode penelitian yuridis normatif atau penelitian hukum kepustakaan yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan hukum pustaka atau data sekunder belaka.

2. Sumber Data

Berdasarkan pendekatan penelitian yuridis normatif, maka sumber data dapat diperoleh dari :

a. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat , dan terdiri dari : Peraturan Perundang-undangan, bahan hukum yang tidak dikodifikasikan (hukum adat), yurisprodensi.

b. Bahan hukum sekunder, yaitu yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer seperti: hasil-hasil penelitian, literature, dan sebagainya.

c. Bahan hukum tertier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, contoh kamus , ensiklopedia.

3. Pengumpulan Data

Di dalam mencari data, baik yang bersumber pada bahan hukum primer, bahan hukum sekunder , dan bahan hukum tersier dilakukan melalui studi kepustakaan . Setelah diperoleh bahan hukum yang diperlukan kemudian dihimpun, diinventarisasi yang sesuai dengan permasalahan yang dibahas, selanjutnya dilakukan pemisahan berdasarkan relevansi pokoknya.

4. Analisa Data

Setelah data tersebut berhasil dikumpulkan dengan lengkap dan di pisah- pisahkan/diklasifikasikan sesuai dengan relevansi permasalahan kemudian dilakukan analisa data secara normatif kualitatif, yaitu untuk membahas bahan penelitian yang datanya mengarah pada kajian yang bersifat teoritik tentang konsep-konsep, kaidah hukum, doktrin-doktrin dan bahan hukum lainnya. Selanjutnya data tersebut dipelajari dan dibahas sebagai suatu bahan yang utuh dan dituangkan di dalam bahasan dengan menggunakan metode kualitatif sehingga menghasilkan data yang diskriptif analistis.

Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pengaturan Harta Perkawinan Menurut Hukum Waris Adat.

Secara garis besar, maka harta warisan menurut hukum adat dapat dibedakan sebagai berikut :

1. Harta Asal

Harta asal adalah semua harta kekayaan yang dikuasai dan dimiliki pewaris sejak mula pertama baik berupa harta peninggalan ataupun harta bawaan (Jawa : gawan) . . Harta asal ini dapat berupa harta asal suami atau harta asal istri yang diperoleh sebelum perkawinan atau harta peninggalan yaitu sebagai harta warisan dari orang tuanya sebagai harta milik suami atau istri tersebut.

Terhadap kedudukan harta asal ini berada dibawah kekuasaan masing-masing pihak yang membawanya.

2. Harta Pemberian

Harta Pemberian adalah juga harta

warisan yang asalnya bukan didapat karena

(5)

jerih payah bekerja sendiri melainkan hubungan cinta kasih, balas budi atau jasa atau karena suatu tujuan. Pemberian ini dapat dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau kepada suami atau istri harta pemberian ini dapat berupa pemberian suami, orang tua, kerabat, anak atau kemenakan, orang lain atau hadiah-hadiah maupun hibah wasiat.

3. Harta Pencaharian/ harta bersama

Harta Pencaharian adalah semua kekayaan yang diperoleh selama berlangsungnya perkawinan (gono-gini). Jadi harta pencaharian atau harta bersama adalah harta yang didapatkan atau diperoleh suami- istri selama perkawinan, dimana harta dapat diperoleh dari atas usahanya sendiri saja, atau usaha istri sendiri, atau suami sendiri atau atas usaha bersama suami-istri.

Sehubungan harta pencaharian ini ada yurisprodensi Mahkamah Agung yang menegaskan antara lain : Putusan MA No.

51/K/Sip/1956 Tanggal 7 September 1956 menyatakan “ Menurut Hukum Adat semua harta yang diperoleh selama berlangsungnya perkawinan, termasuk harta bersama (gono- gini) meskipun mungkin hanya kegiatan usaha suami.”

Pada dasarnya Hukum Waris Adat adalah merupakan hukum adat yang memuat ketentuan yang mengatur tentang cara bagaimana proses penerusan dan peralihan harta kekayaan baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dari pewaris kepada ahli waris. Menurut Hukum Waris Adat cara pewarisan dapat dilakukan antara lain ;

a. Proses Pewarisan Sebelum Pewaris Meninggal Dunia

Proses pewarisan sebelum pewaris meninggal dunia dapat berjalan cara penerusan atau pengalihan, penunjukan, berpesan atau berwarisan. Arti penerusan atau pengalihan harta kekayaan dikala pewaris masih hidup ialah diberikannya harta kekayaan tertentu sebagai dasar kebendaan untuk kelanjutan hidup kepada anak-anak yang akan kawin mendirikan rumah tangga baru. Pemberian-pemberian itu misalnya berupa sawah, ladang, pekarangan. “Pemberian warisan tersebut

merupakan bagian warisan yang kelak akan diperhitungkan pada pembagian harta peninggalan sesudah orang tuanya meninggal dunia”.

Cara lainnya adalah dengan cara penunjukan. Seseorang yang mendapat penunjukan atas harta tertentu pada saat pewaris masih hidup belum dapat berbuat apa-apa selain hak pakai atau hak menikmati. Jadi sebelum pewaris meninggal dunia, pewaris masih berhak dan berwenang menguasai harta yang ditujukan itu, tetapi pengurusan dan pemanfaatan hasil dari harta tersebut sudah ada pada pewaris dimaksud. Cara selanjutnya dalam pewarisan sebelum pewaris meninggal dunia yaitu dengan cara berpesan atau hibah wasiat. Hibah wasiat tersebut biasanya diucapkan dengan terang dan disaksikan oleh para waris, anggota keluarga, tetangga dan tua- tua desa berhubung dengan keadaan pewaris yang sakit dan serasa tidak ada harapan lagi untuk dapat terus hidup.

Selain itu , Hibah wasiat merupakan juga suatu jalan bagi pemilik harta kekayaan untuk semasa hidupnya menyatakan keinginannya yang terakhir tentang pembagian harta peninggalannya kepada ahli waris yang akan berlaku setelah ia meninggal dunia.

b. Proses Pewarisan Setelah Pewaris Meninggal Dunia

Proses pewarisan harta warisan yang dibagi maka dalam hukum adat tidak menentukan kapan waktu harta warisan itu dibagi. Tetapi pada umumnya di masyarakat Jawa, berlaku pembagian harta warisan tersebut adalah berlangsung setelah selamatan yang tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari atau seribu hari setelah pewaris meninggal dunia. Oleh karena pada waktu tersebut para anggota keluarga berkumpul dan rasa sedih akibat ditinggal oleh pewaris sudah berkurang.

Dan cara pembagian harta warisan itu

sendiri, dalam hukum adat tidak mengenal

cara pembagian dengan perhitungan

matematika, tetapi selalu didasarkan atas

pertimbangan mengingat wujud benda dan

(6)

kebutuhan waris bersangkutan. Bagian antara anak laki-laki dan perempuan adalah sama.

2. Kedudukan Janda Terhadap Harta Bersama Menurut Hukum Waris Adat Jawa.

Kedudukan janda dalam hukum waris adat Jawa mempunyai kedudukan yang istimewa, oleh sebab itu jikalau anak- anaknya telah mencar semua, istri sebagai janda tinggal sendiri di dalam rumah tangga yang ditinggalkan suaminya dan berhak tetap tinggal di dalam rumah dan hak untuk memegang harta benda yang ditinggalkan jikalau ia memerlukan dan selama ia memerlukan untuk kehidupannya.

Apabila di analisa mengenai kedudukan janda dapat dikelompokan antara lain :

1. Kedudukan Janda Terhadap Harta Bersama Bila Mempunyai Keturunan

Pada prinsipnya janda bukanlah ahli waris dari almarhum suaminya akan tetapi dia berhak memperoleh nafkah seumur hidup. Oleh karenanya la dapat menguasai harta warisan yang ditinggalkan oleh suaminya, kecuali apabila ia kawin lagi atau meninggal dunia. Dalam hal demikian, harta gawan kembali ke asal. dan harta gono gini dibagi bersama antara kedua kerabat asalnya.

Bila Suami-istri bercerai dan mempunyai anak, maka harta bersama ini tetap dibagi dua sama besarnya dan anak-anak ini tetap menjadi tanggung-jawab dari suami (ayahnya) walaupun anak-anak itu ikut ibunya. Dan anak-anak ini nantinya tetap berhak penuh terhadap harta warisan ayah dan ibunya baik mengenai harta bersama ataupun harta asalnya.

Dan apabila dalam perkawinan itu terdapat anak maka Keputusan Mahkama Agung Tanggal 09 September 1959 Reg.

No. 263 K/Sip/1959 menetapkan bahwa ;

"Menurut Hukum Adat Jawa Tengah, seorang Janda berhak untuk membagi-bagikan harta keluarga antara

semua anak, asal saja setiap anak memperoleh bagian yang pantas".

Mahkamah Agung dalam Keputusan Mahkamah Agung Tanggai 2 November 1960, Reg No. 302 K/Sip/ 1960 berkesimpulan bahwa "Hukum Adat di seluruh Indonesia perihal warisan mengenai seorang janda perempuan dapat dirumuskan sebagai rupa, bahwa seorang janda perempuan selalu merupakan ahli waris terhadap barang asal suaminya. Dalam arti, bahwa seorang sekurang-kurangnya dari barang asal itu sebagian harus tetap berada di tangan janda, sepanjang perlu untuk hidup pantas sampai ia meninggai dunia atau kawin lagi.

2. Kedudukan Janda Terhadap Harta Gono Gini Bila Tidak Mempunyai Keturunan

Pada prinsipnya kedudukan janda terhadap harta gono gini bila tidak mempunyai keturunan adalah keseimbangan seperti mereka masih hidup. Di sini mengenai harta bersama tadi dibagi diantara suami di satu pihak dan anak saudara, si istri di lain pihak, dengan patokan yang akan dipakai seperti suami-istri dulu masih hidup mernbagikannya diantara, mereka satu sama lain.

Di dalam pernbagian harta bersama (gono-gini) biasanya suami / istri masingmasing menerima setengahnya (separo-separo), sesuai Keputusan Mahkamah Agung tanggal 7 Maret 1959, No. 393 K/Sip/1958 menyatakan bahwa :"Telah menjadi yurisprodensi tetap dari Mahkamah Agung bahwa seorang janda mendapat separoh dari barang gono gini. ”

Perkembangan kedudukan janda/duda

yang semula hanya sebagai penguasa

atas harta peninggalan suami/istri dan

bukan merupakan ahli waris antara satu

dan lain, tetapi kemudian berubah

menjadi ahli waris antara yang satu

dengan yang lain. sebagaimana

Keputusan Mahkamah Agung Tanggal

(7)

29 Oktober 1958 RegNo. 298 K/Sip/

1959 bahwa: "Menurut hukum adat yang berlaku di Jawa apabila dalam suatu perkawinan tidak dilahirkan seorang anakpun, maka istri atau janda tetap dapat menguasai barang-barang gono-gini sampai ia meninggal atau sampai dia kawin lagi.

Kesimpulan

1. Pengaturan mengenai harta perkawinan menurut Hukum Waris Adat antara lain terdiri dari : (1). Harta Asal/harta gawan suami, (2). Harta asal/gawan istri dan (3).

Harta bersama (gono-gini), di mana menurut Hukum Waris Adat harta tersebut dapat diwariskan kepada ahli waris sebelum meninggal dunia ( hibah dan hibah wasiat/testamen) dan setelah meninggal dunia melalui pewarisan.

2. Kedudukan seorang janda terhadap harta peninggalan suaminya memmpunyai kedudukan yang istimewa di mana janda dapat menguasai harta peninggalan tersebut untuk keperluan hidup dan anak- anaknya (apabila terdapat keturunan) dan apabila janda cerai hidup (perceraian) seorang janda mendapatkan separo harta bersama (gono-gini).

Daftar Pustaka

Ali Afandi, Hukum Waris Hukum Keluarga Dan Hukum Pembuktian, Bina Aksara, 1986

Bushar Muhammad, Asas-asas Hukum Adat, Pradya Paramita, Jakarta, 1978.

Hilman Hadikusuma, Hukum Perkawinan Adat, Alumni, Bandung, 1983.

--- Hukum Waris Adat, Alumni, Bandung, 1983

Imam Sudiyat, Hukum Adat Sketsa Asas, Penerbit Liberty, Yogyakarta, 1981 Iskandar, Hukum Waris Adat, Institute

Press, IKIP Yogyakarta, 1979

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesi, Balai Pustaka, Jakarta, 1976.

R. Soebekti, Hukum Adat Indonesia Dalam yurisprodensi Mahkamah agung, Alumni, Bandung, 1974

Suwito Sugiyanto, Diktat Hukum Waris Adat, Fakultas Hukum Universitas

Merdeka Madiun, Tidak

dipublikasikan

Soeripto, Beberapa Bab Tentang Hukum Adat waris Jawa dan Madura, Fakultas Hukum Universitas Jember, 1973

Soewandi, Perkembangan Hukum Adat Waris. Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, 1988.

Soekanto, Meninjau Hukum Adat Indonesia, CV. Rajawali, Jakarta, 1981

Soerojo Wigjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, Gunung Agung, Jakarta, 1985.

Soerjono Soekanto dan Sri Mahmudji, Penelitian Hukum Normatif, Rajawali Press, Jakarta, 1985.

Ter Haar BZN. MR, M, Asas-asas dan Susunan Hukum Adat. Pradnya Paramita, Jakarta, 1960.

Wirjono Prodjokoro, Hukum Warisan di

Indonesia, Bale, Bandung,1986.

Referensi

Dokumen terkait

Fanoto Laia: Kedudukan Anak Perempuan dalam Hukum Waris Adat Pada Masyarakat Nias, 2005 USU Repository © 2006... Fanoto Laia: Kedudukan Anak Perempuan dalam Hukum Waris Adat

Bab II adalah Tinjauan Pustaka, yang terdiri dari tinjauan umum tentang hukum waris yang meliputi hukum waris barat, hukum waris adat, hukum waris Islam,

Kedudukan Janda almarhum suami, jika tidak ada anak kandung terhadap harta asal dan harta gono gini menurut hukum waris dalam masyarakat adat Tengger di desa Ngadas,

Penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh adanya perbedaan kebudayaan,, adat istiadat, dan hukum adat yang beraneka ragam di setiap masyarakat hukum adat di seluruh

Dalam sistem hukum adat waris di Tanah Karo, pewaris adalah seorang yang meninggal dunia dengan meninggalkan sejumlah harta kekayaan, baik harta

Dengan beralihnya agama ahli waris dari agama Hindu Ke agama Kristen Protestan, maka ahli waris tersebut tidak dapat mewaris lagi, karena menurut Hukum Adat Waris Bali

Dan ini berarti adanya pengakuan kedudukan hukum perempuan dalam proses pembagian waris pada hukum adat Banjar didasarkan oleh ajaran Islam dan norma hukum adat

Tujuannya adalah untuk memperoleh pemahaman yang utuh dan mendalam mengenai Pelaksanaan Hukum Waris Adat Melayu Jambi menurut Hukum Islam, mulai dari cara