• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR OPRASIONAL PENELITIAN RUTIN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR OPRASIONAL PENELITIAN RUTIN"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

OPRASIONAL PENELITIAN RUTIN

PERSEPSI MAHASISWA NON MUSLIM UNIVERSITAS

MUHAMMADIYAH METRO TERHADAP PROGRAM PERKULIAHAN AL-ISLAM DAN KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) ALA MONDOK

TIM PENGUSUL

Ketua Peneliti : Dr. M. Ihsan Dacholfany, M. Ed (NIDN. 0229077501) Anggota 1 : Iswati, S. Pd.I., M. Pd.I (NIDN. 0212048503)

Anggota 2 : Renci (NPM. 17250034)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO 2020

Kode/Nama Rumpun Ilmu: / Ilmu Agama Islam

(2)

ii

LAPORAN AKHIR

OPRASIONAL PENELITIAN RUTIN

PERSEPSI MAHASISWA NON MUSLIM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO TERHADAP PROGRAM PERKULIAHAN AL-ISLAM DAN

KEMUHAMMADIYAHAN (AIK) ALA MONDOK

TIM PENGUSUL

Ketua Peneliti : Dr. M. Ihsan Dacholfany, M. Ed (NIDN. 0229077501) Anggota 1 : Iswati, M.Pd.I (NIDN. 0212048503)

Anggota 2 : Renci (NPM. 17250034)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO 2020

Kode/Nama Rumpun Ilmu: / Ilmu Agama Islam

(3)

iii

HALAMAN PENGESAHAN

PENELITIAN OPR (OPERASIONAL PENELITIAN RUTIN)

Judul Penelitian : Persepsi Mahasiswa Non Muslim UM Metro Perhadap Program Perkuliahan Al-Islam

Kemuhammadiyahan (AIK) 1 ala mondok Kode/Nama Rumpun Ilmu : /Pendidikan Agama Islam

Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Dr. M. Ihsan Dacholfany, M. Ed

b. NIDN : 0229077501

c. Jabatan Fungsional : Lektor III/d

d. Program Studi : Administrasi Pendidikan

e. Nomor HP /Surel : [email protected] Anggota Peneliti (1)

a. Nama Lengkap : Iswati, M.Pd.I

b. NIDN : 0212048503

c. Perguruan Tinggi : Universitas Muhamadiyah Metro Anggota Peneliti (2)

a. Nama Lengkap : Renci

b. NPM : 17250034

c. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Metro Biaya Penelitian : - diusulkan ke DIKTI Rp. 0,00

- dana internal PT Rp. 5.000.000,00 - dana institusi lain Rp. 0,00

- inkid sebutkan

Mengetahui, Metro, Agustus 2020

Dekan, Ketua Tim Pengabdian,

Drs. Junaidi Songidan, M.Sos.I Dr. M. Ihsan Dacholfany, M. Ed NIDN.02010096001 NIDN. 0229077501

Menyetujui, Ketua LPPM

Dr. Achyani, M.Si NIP. 19640815 198903 1003

(4)

iv

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM

1. Judul Penelitian : Persepsi Mahasiswa Non Muslim UM Metro Terhadap Program Perkuliahan Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) 1 ala mondok

Tim Peneliti

No Nama Jabatan Bidang Keahlian Instansi Asal 1 Dr. M. Ihsan D, M. Ed Ketua

Pengusul

Manajemen Pendidikan Islam

UM Metro

2 Iswati, M.Pd.I Anggota Pengusul

Pendidikan Agama Islam

UM Metro

3 Renci Anggota

Pengusul

Mahasiswa PAI UM Metro

1. Objek Penelitian :

Mahasiswa Non Muslim di Universitas Muhammadiyah Metro 2. Masa Pelaksanaan :

Mulai Tahun: 2020 Berakhir Tahun: 2020

3. Usulan biaya Internal UM Metro:

Tahun 2020 : Rp. 5.000.000 4. Lokasi Penelitian :

Universitas Muhammadiyah Metro 5. Intansi lain yang terlibat (jika ada) :

Pondok Pesantren At-Tanwir Kota Metro 6. Target Luaran:

Publikasi ilmiah dalam jurnal ilmiah yang ber-ISSN

(5)

v DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... ... ... i

HALAMAN PENGESAHAN... ... ... ii

IDENTITAS DAN URAIAN UMUM ... ... ... iii

DAFTAR ISI ... ... ... iv

RINGKASAN ... ... ... v

PRAKATA ... ... ... vi

DAFTAR TABEL ... ... ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ... .... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ... ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... ... ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... ... ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... ... ... 5

1.3 Tujuan Penelitian ... ... ... 5

1.4 Asumsi dan Keterbatasan Penelitian ... ... ... 6

1.5Target Luaran ... ... ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... ... ... 7

2.1 Persepsi... ... ... 7

2.1.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi ... ... 8

2.1.2 Proses Terjadinya Persepsi ... ... ... 2.2 Mahasiswa Non Muslim ... ... ... 8

2.3 Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ... ... .... 10

2.4 Penelitian yang Relevan ... ... .... 11

2.5 Persepsi Mahasiswa Non Muslim terhadap Program Perkuliahan AIK di Pondok Pesantren ... ... .... 12

2.6 Peta Rencana Penelitian (Road Map) ... ... .... 13

BAB III METODE PENELITIAN ... ... .... 15

3.1 Model Penelitian ... ... .... 15

3.2 Lokasi dan Subjek Penelitian ... ... .... 15

3.3 Instrumen Penelitian ... ... .... 15

3.4 Sumber Data Penelitian ... ... ... 3.4 Analisis Data ... ... .... 15

BAB IV HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI ... ... .... 16

4.1 Anggaran Penelitian ... ... .... 16

4.2 Jadwal Penelitian ... ... .... 17 BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... ... ...

DAFTAR PUSTAKA ... ... ...

(6)

vi

DAFTAR TABEL

Rekapitulasi Data Mahasiswa Non Muslim UM Metro………

(7)

vii

DAFTAR GAMBAR

Kegiatan Mahasiswa di Pembelajaran AIK ala mondok……….

Dosen Memberikan Penjelasan……….

(8)

viii

DAFTAR LAMPIRAN

Luaran Penelitian ………

Instrumen Wawancara ………..

Surat-Surat Administrasi Penelitian ………

Logbook Penelitian ……….

(9)

ix RINGKASAN

Universitas Muhammadiyah Metro adalah universitas yang universal atau dalam artian mahasiswa non muslim pun boleh saja untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Metro. Namun, Universitas Muhammadiyah Metro memiliki kebijakan-kebijakan tertentu dalam penyelenggaraan perkuliahan AIK yang merupakan salah satu ciri dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah yakni wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baik yang beragama Islam maupun yang beragama non-Islam.

Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan persepsi Mahasiswa Non Muslim Terhadap Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan ala mondok dan Mengetahui persepsi Mahasiswa Non Muslim terhadap Ajaran Agama Islam sesudah mengikuti Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Target luaran yang adalah publikasi ilmiah dalam jurnal ilmiah yang ber-ISSN. Target tujuan jangka panjang setelah penelitian ini adalah dapat tersusun desain dan metode pembelajaran AIK yang dapat menarik minat mahasiswa muslim secara umum dan Non Muslim secaea khusus dalam rangka meningkatkan learning motivation.

Penelitian yang dilakukan termasuk kategori penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang- orang dan perilaku yang dapat diamati. Dalam penelitian ini, peneliti memilih informan dengan menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling merupakan pemilihan sampel dengan menyelaraskan antara tujuan penelitian dan sampel yang diambil. Yang menjadi sampel adalah beberapa mahasiswa non muslim yang telah mengambil mata kuliah AIK 1.

Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi mahasiswa non muslim terhadap program perkuliahan AIK ala Mondok, sebagian besar menyatakan setuju dan sebagian kecil kurang setuju, persepsi mahasiswa non muslim terhadap ajaran Islam setelah melaksanakan AIK ala Mondok, mereka bertambah pengetahuannya tentang Islam, dan memahami bahwa segala sesuatu di dalam Islam itu ada tuntunannnya dan perkuliahan AIK ala mondok adalah kekhasan universitas Muhammadiyah Metro.

Kata kunci: Persepsi Mahasiswa, Non Muslim, Pembelajaran, Al Islam Kemuhammadiyahan

(10)

1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah

Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, berakidah Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Sebagai gerakan dakwah Islam Muhammadiyah memiliki tujuan untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, 2000).

Ruang lingkup gerakan Muhammadiyah setidaknya dapat dikelompokkan menjadi: 1)Bidang pendidikan 2) Bidang keagamaan dan 3) Bidang kemasyarakatan. Dalam bidang pendidikan, Muhammadiyah konsekwen untuk mencetak elit muslim terdidik dengan cara mendirikan lembaga pendidikan formal dari semua tingkatan mulai dari jenjang pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Universitas Muhammadiyah Metro yang selanjutnya disingkat dengan UM Metro merupakan salah satu perguruan tinggi dari Amal Usaha Muhammadiyah yang keberadaannya memiliki peran ganda, yaitu di samping harus menyelenggarakan pendidikan (Transfer Of Knowledge) juga memiliki misi keagamaan (Transfer of Value) atau dengan istilah lain UM Metro tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, melainkan juga institusi kepanjangan tangan dakwah Muhammadiyah. Terutama dakwah kepada civitas akademika yang terdiri dari dosen, karyawan, mahasiswa dan masyarakat sekitar, Artinya UM Metro memiliki fungsi sebagai lembaga dakwah Muhammadiyah dalam mencapai tujuan utama Muhammadiyah lewat bidang pendidikan guna mewujudkan masyarakat yang sebenar- benarnya.

Salah satu ciri yang melekat pada perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) adalah keikutsertaannya dalam lembaga dakwah sebagai upaya untuk melahirkan, memperbanyak dan meningkatkan kualitas kader-kader Muhammadiyah. Sesuai dengan hal itu, upaya maksimal untuk melahirkan kader-kader Muhammadiyah melalui proses pendidikan di lembaga pendidikan Muhammadiyah harus diupayakan melalui berbagai usaha terutama melalui pendidikan dan pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

(11)

2

Pembelajaran AIK di PTM menempati posisi strategis. Bahkan, menjadi ruh penggerak dan menjadi misi utama penyelenggaraan PTM.

Pendidikan Al-Islam dan Kemuhamadiyahan (AIK) juga menjadi kekuatan PTM. Karena dapat menjadi basis kekuatan spiritual, moral dan intelektual serta daya gerak bagi seluruh civitas akademika. Pendidikan AIK juga sebagai identitas karakter civitas akademika PTM, yaitu sebagai muslim yang berkemajuan,berakhlakul karimah, berjiwa philantropis, memiliki jiwa

kepemimpinan dan kepedulian terhadap persoalan umat dan bangsa.

Dalam pelaksanannya, sudah ada beberapa PTM sudah melakukan konsep kampus Islami dengan bentuk beragam, model dan mekanisme yang variatif.

Namun tetap harus dalam koridor Islami sebagaimana karakter Muhammadiyah.

Sesuai Pedoman Pendidikan AIK Perguruan Tinggi Muhammadiyah yang dirumuskan oleh tim Majlis Pendidikan Tinggi Pimpinan Pusat Muhammadiyah jumlah jam pembelajaran dan SKS masing-masing PTM dapat berbeda, minimal 8 SKS dan maksimal 12 SKS (Majlis Dikti PP Muhammadiyah, 2013). AIK merupakan salah satu ciri dari perguruan tinggi Muhammadiyah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baik yang beragama Islam maupun yang beragama non-Islam. AIK bisa dikatakan sejenis Pendidikan Agama Islam diperguruan tinggi umum, perbedaannya Pendidikan Agama Islam cukup diberikan hanya satu semester, sementara AIK diberikan selama empat semester dengan penjenjangan yaitu AIK I, AIK II, AIK III dan AIK IV.

Sebagai kampus Muhammadiyah, UM Metro melaksanakan Catur Darma Perguruan Tinggi dalam fungsi keberadaannya sebagai institusi Perguruan Tinggi. Berbeda dengan PTN atau PTS non Muhammadiyah, UM Metro tidak saja mewujudkan kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengadian, tetapi juga harus melakukan proses pembentukan karakter yang berbasis pada nilai-nilai ajaran Islam. Sesuai dengan Catur Darma Perguruan Tinggi tersebut, UM Metro tidak membatasi pada kelompok tertentu tapi bersifat universal. Artinya UM Metro terbuka pada setiap kelompok, baik aliran tertentu dalam Islam maupun non Islam. menyikapi berbagai kelompok agama yang berbeda dengan visi misi Muhammadiyah, maka Universitas Muhammadiyah Metro memiliki kebijakan-kebijakan tertentu dalam penyelenggaraan perkuliahan AIK. Kebijakan-kebijakan

(12)

3

tersebut adalah dengan mewajibkan setiap mahasiswa tidak terkecuali mahasiswa non muslim untuk menempuh mata kuliah AIK.

Menyadari peran ganda yang diemban oleh UM Metro sebagaimana yang telah disinggung di atas serta didukung dengan adanya mahasiswa non muslim yang menuntut ilmu di UM Metro, maka UM Metro khususnya wakil rektor IV bidang AIK terus melakukan koreksi akan metode pembelajaran yang diterapkan, sehingga di tahun 2018 Universitas Muhammadiyah Metro telah melakukan kerjasama dengan Pimpinan Pondok Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir dalam rangka membangun jiwa mahasiswa yang Islami yang kokoh dengan menerapkan belajar AIK ala mondok baik bagi mahasiswa muslim dan non muslim. Pembelajaran ini berlangsung selama kurang lebih lima hari empat malam di Pondok Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir. Selama disana, seluruh mahasiswa UM Metro khususnya yang saat ini sedang duduk di semester satu akan belajar mengenai AIK 1.

Salah satu mahasiswa non muslim menyatakan bahwa dirinya merasa nyaman dan tidak terbebani dengan kewajiban menempuh mata kuliah AIK yang notabene berbeda dari agama yang ia yakini. Pendapat dari informan awal tentu tidak dapat mewakili pendapat pendapat serta argumen dari mahasiswa non muslim lainnya tentang keberadaan mata kuliah AIK 1 yang diwajibkan bagi seluruh mahasiswa di lingkungan Universitas Muhammadiyah Metro. Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk meneliti persepsi mahasiswa non muslim terhadap mata kuliah AIK 1.

Adapun peneliti mengemas penelitian ini dengan judul “Persepsi Mahasiswa Non Muslim UM Metro Terhadap Program Pembelajaran AIK Ala Mondok”

1.2. Rumusan Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan:

1. Bagaimana persepsi Mahasiswa Non Muslim Terhadap Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan ala mondok ?

2. Bagaimanan persepsi Mahasiswa Non Muslim terhadap Ajaran Agama Islam sesudah mengikuti Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK)?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas yang menjadi tujuan adalah:

(13)

4

1. Untuk Mengetahui persepsi Mahasiswa Non Muslim Terhadap Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan ala mondok

2. Untuk Mengetahui persepsi Mahasiswa Non Muslim terhadap Ajaran Agama Islam sesudah mengikuti Perkuliahan Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

1.4 Asumsi Penelitian

Asumsi dalam penelitian ini adalah:

a. Program Perkuliahan AIK 1 ala Mondok ini diharapkan akan membwa hasil positif bagi mahasiswa muslim karena mereka tidak hanya belajar Islam dari segi intelektual saja (kognitif) tetapi langsung aplikasi.

b. Mahasiswa dapat belajar dengan mandiri dan mengenal nuansa kehidupan di pondok.

c. Validator yaitu dosen yang sudah berpengalaman dalam mengajar dan dipilih sesuai dengan bidangnya.

d. Item-item hasil wawancara mencerminkan penilaian output secara komprehensif, menyatakan layak dan tidaknya pembelajaran AIK 1 ala mondok ini di lanjutkan.

(14)

5 BAB II

KAJIAN LITERATUR

2.1 Persepsi

Persepsi berasal dari bahasa Latin , perceptio, percipio yang artinya tindakan menyusun, mengenali, dan menafsirkan informasi sensoris guna memberikan gambaran dan pemahaman tentang lingkungan. DALAM Kamus Besar Bahasa Indonesia persepsi adalah “Proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Menurut Eysenck dalam (Asrori, 2009) persepsi adalah proses belajar dan pengalaman. Hasil proses belajar dan interaksi seseorang akan memberikan pengalaman bagi dirinya untuk dapat membandingkan keadaan yang dihadapi.

Slameto (2015) mengatakan bahwa persepsi adalah proses yang berkaitan dengan masuknya pesan dan informasi ke dalam otak manusia.

Sedangkan menurut Abdurahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab (2004:88) persepsi adalah proses yang menggabungkan dan mengorganisasikan data-data indra seseorang (pengindraan) untuk dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat menyadari di sekelilingnya termasuk sadar akan dirinya sendiri.

Berdasarkan beberapa perspektif mengenai persepsi di atas, maka penulis dapat menyimpulkan bahwasanya persepsi bukan sekedar proses pengindraan saja, tetapi ada unsur interpretasi di dalamnya. Persepsi juga merupakan sebuah proses pengamatan individu terhadap segala sesuatu yang ada di dalam lingkungannya. Persepsi individu muncul karena adanya aktivitas mengindra, menginterpretasikan dan memberi penilaian terhadap objek-objek fisik maupun social yang ada di lingkungannya.

Proses pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu :

a) Persepsi visual yaitu persepsi yang didapatkan dari penglihatan., b) Persepsi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga, c) Persepsi perabaan yaitu persepsi yang didapatkan dari indera taktil yaitu

kulit.

d) Persepsi penciuman adalah persespsi yang didapatkan dari indera penciuman yaitu hidung.,

e) Persepsi pengecapan

Persepsi dalam Islam adalah fungsi psikis yang penting yang menjadi jendela pemahaman bagi peristiwa dan realitas kehidupan yang

(15)

6

dihadapi manusia. Manusia sebagai makhluk yang diberikan amanah kekhalifahan diberikan berbagai macam keistimewaan yang salah satunya adalah proses dan fungsi persepsi yang lebih rumit dan lebih kompleks dibandingkan dengan makhluk Allah yang lainnya. Dalam bahasa Al- Qur’an, beberapa proses dan fungsi persepsi dimulai dari proses penciptaan. Dalam firman Allah artinya dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain.

Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. (Q.S. Al-Mukminun ayat 12-24)

Proses persepsi dilalui dengan proses penerimaan stimulus pada reseptor yaitu indera, yang tidak langsung berfungsi setelah dia lahir, tetapi akan berfungsi sejalan dengan perkembangan fisiknya (Najati, 2001). Di dalam Al-Qur‟an terdapat terdapat beberapa ayat yang maknanya berkaitan dengan panca indera yang dimiliki manusia, antara lain dalam QS. An-Nahl ayat 78 yaitu : Artinya : dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, persepsi mengandung pengertian yang sangat luas menyangkut intern dan ekstern. Berbagai ahli telah memberikan definisi yang beragam tentang persepsi, namun pada prinsipnya mengandung makna yang sama.

2.1.1 Faktor-Faktor yang mempengaruhi Persepsi

Bimo Walgito (1991,54) mengemukakan tiga factor yang berpengaruh terhadap persepsi yaitu:

a. Stimulus yang kuat, stimulus yang melampaui lambang stimulus kejelasan akan banyak pengaruh terhadap persepsi.

b. Fisiologis dan psikologis, jika system fisiologisnya terganggu hal ini akan berpengaruh dalam persepsi seseorang. Segi psikologis yang menyangkut pengalaman, perasaan kemampuan berfikir dan sebagainya juga akan berpengaruh pada seseorang dalam mempersepsi

(16)

7

c. Faktor lingkungan, situasi yang melatarbelakangi stimulus juga akan mempengaruhi persepsi.

2.1.2 Proses Terjadinya Persepsi

Tahap awal dari proses persepsi adalah sensasi. Sensasi merupakan kesadaran akan adanya suatu rangsang. Semua rangsang masuk ke dalam diri seseorang melalui panca indera, yang kemudian diteruskan ke otak yang menjadikan sadar akan adanya rangsang tersebut.

Rangsang yang sekedar masuk dalam diri seseorang tetapi hanya menyadarinya tanpa mengerti atau memahami rangsang tersebut disebut sensasi. Tetapi jika disertai dengan pemahaman atau pengertian tentang rangsang itu disebut persepsi (Mif Baihaqi, 2005, 63).

Proses terjadinya persepsi yaitu objek yang menimbulkan stimulus, dan stimulus mengenai alat indera atau reseptor. Proses stimulus mengenai alat inderamerupakan proses kealaman atau proses fisik.

Stimulus yang diterima alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak.

Proses ini disebut proses fisiologis. Kemudian terjadilah proses di otak sebagai pusat kesadaran sehingga individu menyadari apa yang dilihat, apa yang didengar, atau apa yang diraba, yaitu stimulus yang diterima melalui alat indera.

Dalam proses persepsi perlu adanya perhatian sebagai langkah persiapan dalam persepsi. Hal tersebut karena keadaan menunjukkan bahwa individu tidak hanya beradaptasi dengan satu stimulus saja, tetapi berbagai macam stimulus yang ditimbulkan oleh keadaan sekitarnya.

Namun tidak semua stimulus mendapat respon individu untuk dipersepsi.

Stimulus mana yang akan dipersepsi atau mendapat respon dari individu tergantung pada perhatian individu yang bersangkutan (Bimo Walgito, 1991, 71).

Bagi kebanyakan orang sangatlah mudah untuk melakukan perbuatan melihat, mendengar, membau, merasakan dan menyentuh, yakni proses-proses yang sudah semestinya ada. Namun, informasi yang dating dari organ-organ indera perlu terlebih dahulu diorganisasikan dan diinterpretasikan sebelum dapat dimengerti dan proses ini dinamakan persepsi. Menurut Pareek proses persepsi terbagi menjadi 5, sebagai berikut:

1) Proses menerima rangsangan, menerima rangsangan atau data dari berbagai sumber. Kebanyakan data diterima melalui panca indera.

(17)

8

2) Proses menyeleksi rangsangan, setelah diterima rangsangan atau data diseleksi tidaklah mungkin untuk memperhatikan semua rangsangan yang telah diterima. Rangsangan-rangsangan itu disaring dan diseleksi untuk diproses lebih lanjut.

3) Proses pengorganisasian, rangsangan yang diterima selanjutnya diorganisasikan dalam bentuk pengelompokkan

4) Proses penafsiran, setelah rangsangan atau data diterima, si penerima lalu menafsirkan data itu. Dikatakan bahwa telah terjadi persepsi setelah data itu ditafsirkan. Pada dasarnya persepsi memberikan arti pada berbagai data dan informasi yang diterima

Berdasarkan teori di atas dapat disimpulkan bahwa proses persepsi merupakan komponen pengamatan yang di dalam proses itu melibatkan pemahaman dan penginterpretasian sekaligus. Adapun indikator persepsi yang diukur ada tiga:

1. Seleksi (Selection)

Seleksi adalah tindakan memperhatikan rangsangan tertentu dalam lingkungan. Hal ini merujuk pada pesan yang dikirimkan ke otak lewat penglihatan, pendengaran, pada saat pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyan.

2. Organisasi (Organization)

Setelah menyeleksi informasi di lingkungan, kita mengorganisasikannya dengan merangkainya sehingga menjadi bermakna

3. Interpretasi (Interpretation)

Interpretasi adalah proses subjektif dari menjelaskan persepsi ke dalam cara yang dimengerti. Dalam hal ini bias berupa tindakan atau reaksi yang muncul dari mahasiswa non muslim berupa tindakan-tindakan yang menunjang kearah tercapainya kemampuan untuk menginterpretasi terkait pembelajaran AIK ala mondok. Seperti penambah pengetahuan tentang Islam, tata cara kehidupan dan ibadah dalam Islam apabila mahasiswa non muslim tersebut mempunyai persepsi positif, akan tetapi jika jika mahasiswa mempunyai persepsi negative terhadap pembelajaran AIK muncul berupa tindakan acuh, tidak perduli terhadap mata kuliah AIK.

2.2 Mahasiswa Non Muslim

Mahasiswa secara harfiah adalah adalah seseorang yang belajar baik di sekolah tinggi, institute, universitas, akademi maupun di perguruan

(18)

9

tinggi. Definisi mahasiswa sendiri adalah seseorang yang belajar di perguruan tinggi setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Menurut KBBI ( Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2019 ) mahasiswa adalah seseorang yang menuntut ilmu di perguruan tinggi. Di dalam dunia pendidikan, status mahasiswa adalah status tertinggi seorang murid di dunia pendidikan. Dari pengertian tersebut maka dapat dikatakan bahwa mahasiswa adalah seseorang yang belajar di bangku perkuliahan dengan mengambil jurusan tertentu.

Dalam konteks Al-Qur’an istilah non muslim mengacu pada apa yang disebut kafir. Hal ini dikarenakan mereka tidak mengakui keimanannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. ( Darwis Muhdina, 2015), Kata kafir secara etimologis memiliki arti menutup diri, melepas diri, menghapus atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterimanya dan dari segi akidah, kafir berarti orang-orang yang kehilangan imannya.

Sementara secara terminologis, pengertian kafir adalah orang yang ingkar terhadap kebenaran Islam. Sedangkan istilah kafir dalam Al-Qur’an merujuk pada suatu perbuatan yang berhubungan secara langsung dengan Allah, namun semua hubungan tersebut bersifat negative, seperti mengingkari nikmatnya, lari dari tanggung jawab, penolakan atau pembangkangan terhadap hokum Allah dan meninggalkan amal saleh yang diperintahkan oleh Allah. Secara keseluruhan dari 525 kali kata kafir dalam berbagai derivasinya, arti yang paling dominan adalah pendustaan atau pengingkaran terhadap Allah dan rasul-Nya, khususnya kepada Nabi Muhammad beserta ajaran yang dibawanya.

Istilah kafir dengan non muslim dalam arti yang luas adalah sama, yakni orang yang tidak menganut agama Islam. Tentu saja maksudnya tidak hanya mengarah pada satu agama saja, tetapi akan mencakup sejumlah agama dengan segala bentuk kepercayaan dan variasi ritualnya.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an menyebut kelompok non muslim ini secara umum sebagai berikut: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yahudi, orang-orang shaabi’in, orang-orang nasrani, orang-orang majusi, dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan diantara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu” (QS. Al-Hajj:17.

Berdasarkan uraian di atas yang di maksud mahasiswa non muslim meliputi seluruh mahasiswa di luar agama Islam yang aktif dan sedang

(19)

10

menempuh mata kuliah AIK 1 pada semester awal. Sedangkan Persepsi dalam penelitian ini merupakan penilaian subyektif dari masing-masing mahasiswa non muslim terhadap model pembelajaran AIK 1, terhadap metode dan pelaksanaan AIK 1 ala mondok.

2.3 Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ala Mondok

Al Islam dan kemuhammadiyahan (AIK) pada perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) mempunyai kedudukan sebagai pembelajaran formal yang ditetapkan sebagai mata kuliah sebagaimana mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di Perguruan Tinggi di Indonesia yang bersifat wajib bagi pemeluk agama Islam. Perbedaannya terletak pada total jumlah SKS (Sistem Kredit Semester) pada PAI dan AIK. Jika PAI berjumlah 2 SKS yang diberikan pada satu semester, umumnya di semester 1, sedangkan AIK berjumlah minimal 8 SKS dan maksimal 12 SKS. Mata kuliah AIK merupakan mata kuliah yang wajib di tempuh oleh seluruh mahasiswa di PTM.

Masing-masing Perguruan Tinggi Muhammadiyah dapat berbeda dalam jumlah jam pembelajaran dan total jumlah SKS AIK. Selain itu, pedoman AIK di PTM menetapkan tahapan pembahasan AIK menjadi empat; AIK I (berisi kemanusiaan dan keimanan), AIK II (Ibadah, akhlaq dan muamalah), AIK III (Kemuhammadiyahan), AIK IV (Islam dan Ilmu Pengetahuan). Adapun tujuan pembelajaran AIK adalah bertujuan membentuk sarjana muslim yang mengenal diri dan Tuhan, misi, tujuan dan manfaat hidupnya sebagaimana dituntunkan dalam al-Qur’an dan as- Sunnah. AIK II bertujuan (Majlis Dikti PP Muhammadiyah, 2013) membentuk sarjana muslim yang taat dan benar dalam beribadah, unggul dalam bermuamalah dan bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. AIK III bertujuan membentuk sarjana muslim sebagai kader persyarikatan Muhammadiyah yang mampu ber-amar ma’ruf nahi ‘an munkar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. AIK IV bertujuan membentuk sarjana muslim yang berjiwa dan berperilaku cendekia (ulul albab).

Visi pelaksanaan AIK 1 UM Metro di Pondok At-Tanwir sebagai pondok tempat mahasiswa UM Metro belajar AIK 1 adalah terwujudnya kader Muhammadiyah yang beriman, bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan berakhlak mulia. Sedangkan misinya 1) Melaksanakan kegiatan Pendidikan Tinggi Muhammadiyah yang memadukan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan ilmu pengetahuan

(20)

11

dan teknologi secara selaras, serasi dan seimbang; 2) Mengajarkan dan mengamalkan ajaran agama Islam sesuai dengan Al-Qur’an dan As- Sunnah; 3) Menciptakan, mengembangkan, dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kesenian; 4) Melaksanakan pembinaan Kemuhammadiyahan secara terpadu, terencana, dan terlaksana dengan baik (Sujino, 2018). Selaras dengan tujuan AIK 1 terintegrasi dengan pondok, Tujuan pendidikan AIK 1 UM Metro terumuskan menjadi tiga:

1. Berkembangnya potensi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, berakhlak mulia, cerdas, beerilmu, cakap, kreatif dan mandiri senhingga terwujud masyaarakat Islam yang sebenar-benarnya;

2. Terwujudnya kemampuan penciptaan, pengembangan, dan penyebarluasan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat, bangsa, negara, dan umat manusia; dan

3. Terbinanya Keislaman dan Kemuhammadiyahan yang mencerdaskan dan mencerahkan bagi seluruh civitas akademik dan kehidupan yang lebih luas.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran AIK ala mondok adalah pembelajaran mata kuliah Pendidikan Agama Islam di PTM yang wajib diikuti seluruh mahasiswa muslim dan non muslim dan dilaksanakan di pondok pesantren pimpinan Daerah Metro At Tanwir.

Menariknya belajar ala mondok di Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir ini, mahasiswa muslim tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa saja mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, namun jauh lebih dalam, mereka akan dibimbing untuk mempraktekkannya secara langsung apa yang telah mereka pelajari. Selain itu, mereka juga akan dibimbing untuk melaksanakan ibadah harian yang bertujuan untuk menguatkan iman mereka selaku umat muslim seperti sholat sunnah Dhuha, sholat sunnah Tahajjud, sholat sunnah Al-Fajr, sholat sunnah Syuruq, dan ibadah-ibadah lainnya. Sementara bagi mahasiswa non muslim perkuliahan ini diwajibkan karena ini AIK adalah mata kuliah wajib yang harus di ikuti oleh semua mahasiswa tetapi yang perlu dipahami AIK bagi non muslim wajib dalam konteks akademik dan bukan dalam hal keyakinan.

(21)

12 2.4 Penelitian yang Relevan

Penelitian Muhammad Syahrul Kahar dan Daeng Pabalik (Universitas Muhammadiyah Sorong) yang berjudul Profil Pendidikan Karakter Mahasiswa Non Muslim dalam Implementasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi Profil pelaksanaan pendidikan AlIslam dan Kemuhammadiyahan serta mengetahui peran pendidikan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dalam pembentukan karakter mahasiswa non-muslim di Universitas Muhammadiyah Sorong.

Hasil penelitian yang didapatkan informasi bahwa mahasiswa non muslim sudah memiliki sikap religius, jujur (sidq), berusaha keras (jihad), kedisiplinan, konsistensi (istiqomah), dan toleransi (tassamuh) yang baik setelah mendapatkan pembelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang diintegrasikan dengan nilai-nilai Islam dan paham akan kemuhammadiyahan. Peran pembelajaran dalam pengintegrasian nilai-nilai Islam dan kemuhammadiyahan yang dikaitkan dengan pendidikan karakter tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa non muslim ketika mengerjakan tugas dan perkuliahan yang diberikan dengan serius dan tidak banyak mengeluh, mahasiswa selalu mengerjakan tugas dengan serius tanpa menyontek, mahasiswa selalu percaya dengan diri sendiri, dan saling menghargai antara mahasiswa satu dengan mahasiswa yang lain.

(22)

13 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Model Penelitian

Penelitian yang dilakukan ini termasuk kategori penelitian kualitatif denganjenis penelitian deskriptif. Penelitian kualitatif menurut Moleong (2005) adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Adapun materi dalam penelitian ini adalah membahas persepsi mahasiswa non muslim terhadap perkuliahan AIK 1 ala Mondok yang wajib diambil oleh semua mahasiswa yang berkuliah di UM Metro.

Adapun yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah persepsi mahasiswa non muslim dan Perkuliahan AIK 1. Persespsi di sini adalah bagaimana pandangan positif atau negative mahasiswa non muslim setelah melalui proses pembelajaran mata kuliah AIK 1 sedangkan mata kuliah AIK di sini adalah mata kuliah yang memuat materi tentang keislaman.

3.2 Lokasi dan Subjek Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di UM Metro yakni pada mahasiswa non muslim dari semua fakultas yang saat ini tengah duduk di semester dua . Untuk subjek penelitian, peneliti memilih informan yang menjadi sampel adalah beberapa mahasiswa non muslim yang telah mengambil mata kuliah AIK 1 ala mondok.

3.3 Instrumen Penelitian

Data Mengacu pada Moleong (2005), peneliti menggunakan teknik pengumpulan data, yaitu: Interview (wawancara) tidak terstruktur.

Wawancara merupakan sebuah percakapan dengan maksud tertentu dan dilakukan oleh pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan, dan yang diwawancarai interviewee yang memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut. Yang menjadi interviewee di sini adalah mahasiswa UM Metro yang non muslim dan telah menjalani pembelajaran AIK ala mondok.

3.4. Sumber Data

Secara keseluruhan peserta kuliah mondok atau perkuliahan AIK 1 tahun akademik 2019/2020 ini diikuti oleh 918 mahasiswa muslim dan 24

(23)

14

mahasiswa non muslim. Sumber data primer dalam penelitian ini didapatkan dari hasil wawancara dengan informannya yakni mahasiswa non muslim yang berjumlah 24 mahasiswa dari berbagai fakultas dengan rincian sebagai berikut:

Tabel. 1

Rekapitulasi Mahasiswa Non Muslim UM Metro

NO NAMA NPM AGAMA PRODI

1 Ni Komang Yulio Angiriani P

19630004 hindu Akuntansi

2 Ni Wayan Indri Yani 19630005 Hindu Akuntansi 3 Ni Wayan Sanditya

Diani

19130027 Hindu B. Konseling

4 Made Kurni Handayani 19430054 Hindu Ilmu Komputer

5 Wayan Yogi 19610089 Hindu Manajemen

6 Nengah Dian 19610146 Hindu Manajemen

7 I Wayan Sutiase 19520002 Hindu Teknik Mesin 8 Yohana Tri S 19650002 Katholik Keuangan dan

Perbankan 9 Anggi S Kristiani 19630057 Katholik Akuntansi 10 Ferren Natasya 19610068 Katholik Manajemen 11 Citra Dewi 19310022 Katholik P. Matematika 12 Bergita Novilan 19610151 Protestan Manajemen 13 Natalia Indah Setyarini 19220011 Protestan P. Sejarah 14 Gusti Putu Anggi

Wanata

19630059 Hindu Akuntansi

15 Stevano jefri setiawan 19510066 Protestan T. Sipil 16 Bob Ardi Prabowo 19610002 Protestan Manajemen 17 Wira Dadi Panuntun 19430061 Protestan Ilmu Komputer 18 Herkulanus Fery Yanto 19810131 Protestan Ilmu Hukum 19 Andreas Alfin Saputra L 19520059 Katholik T. Mesin 20 Nigheal Gidion Argahta 19610070 Katholik Manajemen 21 Kadek Ardayana 19810095 Hindu Ilmu Hukum 22 Made Oktaviana 19430055 Hindu Ilmu Komputer 23 Putu Aldi Setiawan 19310005 Hindu P. Matematika 24 Agus Saputra 19340010 Hindu B. Inggris

(24)

15 3.5 Analisis Data

Analisis data yang digunakan di dalam penelitian ini adalah analisis data kualitatif. Peneliti dalam penelitian ini akan melakukan tahap-tahap analisis data sebagai berikut: Classifying, Coding, Editing, Interpreting.

(25)

16 BAB IV

HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

4.1 Hasil Penelititian

Penelitian ini di mulai dengan mendata jumlah seluruh mahasiswa non muslim dari tiap Fakultas yang ada di UM Metro terkecuali Fakultas Agama Islam, kemudian melaksanakan wawancara pada dua mahasiswa sebagai survey awal penjajagan persepsi, melakukan wawancara dengan wakil Rektor IV bidang Al Islam dan Kemuhammadiyahan dan kerjasama, dan wawancara dengan mudir pondok At-Tanwir tempat dimana mahasiswa melaksanakan pembelajaran AIK 1. Belajar AIK ala mondok ini pertama kali telah dilaksanakan pada Kamis, 1 Maret 2018, hingga tahun 2019 telah 3 periode dilaksanakan. Berdasarkan informasi yang dikutip dari direktur Pondok Pesantren (Pontren) AT-Tanwir Muhammadiyah Kota Metro, (Sujino, 2019) bahwa untuk menghadapi perkuliahan AIK 1 ini pihaknya sudah mempersiapkan segala kebutuhan. Mulai dari konsep perencanaan, pelaksanaan hingga proses evaluasi diakhir perkuliahan.

Diungkapkan melalui wawancara dengan wakil rektor IV (M. Ihsan Dacholfany, 2019) bahwa pelaksanaan perkuliahan AIK 1 ala pondok ini memiliki beberapa tujuan yaitu mahasiswa akan diasah kecerdasan intelektual, emosional, spritual dan Adversity Quotient atau kecerdasan mengatasi kesulitan menjadi peluang meraih kesuksesan,” dan “Mudah- mudahan dengan empat kecerdasan itu kita menjadi orang-orang baik dan tergolong orang yang sukses.” Selanjutnya melakukan penelitian mengumpulkan informasi dengan wawancara mendalam dengan beberapa mahasiswa non muslim. Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut:

a. Persepsi Mahasiswa non muslim terhadap program perkuliahan AIK ala Mondok di Pondok At-Tanwir

Penerapan program perkuliahan AIK 1 ala pondok berdasarkan berdasarkan wawancara kepada seluruh mahasiswa non muslim, hampir seluruh mahasiswa non muslim menyatakan setuju dengan dilaksanakannya program perkuliahan AIK ala mondok, beberapa mahasiswa menyatakan kurang setuju karena mereka sedikit kurang nyaman dengan iklim dan rutinitas ala pondok yang tidak biasa mereka lakukan. Namun menurut penuturan dari mereka yang setuju, perkuliahan

(26)

17

AIK ala mondok baik secara langsung maupun tak langsung membawa manfaat bagi aplikasi ilmu, mengajarkan toleransi bagi mereka, belajar hidup berdampingan dengan mahasiswa muslim, mengenal kebiasaan hidup mahasiswa muslim, memahami waktu dan cara peribadatan mahasiswa muslim. Mendapatkan pengalaman yang luar biasa seperti ini tentunya tidak dirasakan oleh mahasiswa non muslim di kampus selain Muhammadiyah dan menurut mereka pelaksanaan di pondok tidak menjadi beban bagi mereka, dan mereka merasa nyaman karena perlakuan pendamping (mushrif/musyrifah) tidak membedakan mereka dalam hal perlakuan dan kesempatan untuk aktif dalam perkuliahan dengan mahasiswa muslim dan fasilitas yang diterima mereka pun sama.

Kebanyakan Mahasiswa non muslim menyatakan bahwa dirinya merasa nyaman dan tidak terbebani dengan kewajiban menempuh mata kuliah AIK yang notabene berbeda dari agama yang ia yakini. Bahkan, pernyataan tersebut didukung dengan argumen mahasiswa non muslim dari fakultas teknik selaku penganut agama hindu bahwa “adalah sangat wajar jika UM Metro sebagai kampus Islam mewajibkan mahasiswanya yang non muslim menempuh mata kuliah keislaman karena mata kuliah ini tentu akan memberikan manfaat meskipun hanya berupa pengetahuan tentang Islam”. Pernyataan dari mahasiswa lain bahwa “belajar AIK 1 ala mondok sistem pembelajarannya tidak membosankan, seperti belajar sambil bermain karena dosen pengajarnya bervariasi, terkadang bertemu dosen yang tegas, terkadang dosennya humoris. Sering juga ada game dan pemberian reward bagi mahasiswa tak terkecuali mahasiswa non muslim yang aktif atau mampu menjawab pertanyaan ataupun hanya sekedar meriview materi yang sudah dibahas bersama, sehingga tidak ada kesenjangan bagi kami mahasiswa non muslim” penilaian positif lain dari mahasiswa non muslim adalah mereka secara tidak langsung belajar bahwasanya waktu-waktu ibadah dalam Islam itu mengajarkan untuk manusia berdisiplin, mengalahkan malas dan harus memenuhi panggilan Tuhan untuk beribadah ketika adzan sudah berkumandang.

Kode etik yang perlu di garis bawahi yaitu kampus juga melarang dosen maupun mahasiswa mengajak mahasiswa non muslim untuk masuk Islam. Karena jika hal itu terjadi tentunya harus berdasarkan pada pemahaman mereka tentang Islam, kemauan dan kerelaan hati mahasiswa yang bersangkutan. Tapi setidaknya setelah mengikuti

(27)

18

perkuliahan AIK, Mahasiswa non muslim, penganut Protestan, misalnya, tetap menjadi umat protestan yang baik. Jadi mereka memahami sepenuhnya bahwa mengikuti AIK ala mondok wajib bagi seluruh mahasiswa tak terkecuali, mereka bersama harus bisa mengaji substansi AIK 1, tahu ilmu agama Islam meski dalam konteks akademik saja.

Gambar Mahasiswa Saat Perkuliahan AIK di Pondok

Gambar Dosen saat mengajar AIK di pondok

(28)

19

b. Persepsi Mahasiswa non muslim tentang Ajaran Islam Setelah Mengikuti perkuliahan AIK ala Mondok di Pondok At-Tanwir

Keberadaan UM Metro tidak hanya berfungsi sebagai institusi akademik, melainkan juga institusi kepanjangan tangan dakwah Muhammadiyah. Sesuai dengan ciri yang melekat pada perguruan tinggi Muhammadiyah adalah keikutsertaannya dalam lembaga dakwah, karena itu upaya untuk melahirkan, memperbanyak dan meningkatkan kualitas kader-kader Muhammadiyah. Sesuai dengan hal itu, upaya maksimal untuk melahirkan kader-kader Muhammadiyah melalui proses pendidikan di lembaga pendidikan Muhammadiyah harus diupayakan melalui berbagai usaha termasuk melalui pendidikan dan pembelajaran Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) ala mondok.

Perkuliahan AIK memegang peranan yang sangat penting untuk membentuk insan akademis yang susila, karena itulah yang menjadi tolak ukur keberhasilan matakuliah AIK yang paling pokok adalah terletak pada perubahan sikap (attitude), mental dan tingkah laku mahasiswa.

Walaupun UM Metro lebih khusus AIK sudah jelas bahwasanya lembaga yang bernafaskan Islam, akan tetapi tidak membatasi hanya mahasiswa muslim saja, mahasiswa non muslim juga berhak untuk menjadi akademisi yang mulia dan berkarakter.

Belajar ala mondok di Pesantren Muhammadiyah At-Tanwir ini, mahasiswa muslim tidak hanya dituntut untuk mengetahui apa saja mengenai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, namun jauh lebih dalam, mereka akan dibimbing untuk mempraktekkannya secara langsung apa yang telah mereka pelajari. Sementara bagi mahasiswa non muslim perkuliahan ini diwajibkan karena ini AIK adalah mata kuliah wajib yang harus di ikuti oleh semua mahasiswa UM Metro, tetapi yang perlu dipahami AIK bagi non muslim wajib dalam konteks akademik saja dan bukan dalam hal keyakinan.

Substansi dari perkuliahan AIK 1 (manusia dan ketuhanan) yakni membahas tentang Islam sebagai way of life, membahas tentang hakikat manusia dan keberadaan manusia di dunia, tauhid (mengesakan Allah), aqidah ( Rububbiyah, uluhiyah, asma’ wa sifat), iman dan pengaruhnya bagi manusia, syiriq (menyekutukan Allah) dan bahayanya bagi manusia.

Pembahasan tersebut merupakan dasar yang sangat penting untuk

(29)

20

dipelajari secara mendalam oleh seluruh mahasiswa tak terkecuali bagi penganut agama lain agar setiap pribadi dapat mengambil pelajaran.

Pernyataan dari beberapa mahasiswa non muslim setelah pelaksanaan AIK 1 ala mondok mereka menyatakan bahwa semua hal dipelajari dalam Islam secara rigit, mereka pun faham bahwasanya hakikat manusia diciptakan Tuhan ke dunia fana ini adalah untuk beribadah dan sebagai khalifah, memberi manfaat bagi orang lain, bermuamalah secara baik. Hal ini menjadi motivasi bagi mereka. Ada pernyataan lain dari mahasiswa non muslim prodi manajemen bahwa

“pola hidup Islam dasarnya bersih dan sehat karena secara visual saja yang terlihat mahasiswa muslim berwudhu 5 kali sehari, melakukan gerakan ibadah sama seperti sedang olahraga” da nada pula yang menyatakan “ pembahasan tentang tauhid dan syiriq, ketika pembahasannya disandingkan, ini benar-benar memberikan pelajaran bahwa tauhid adalah mengesakan Allah dan haram hukumnya melakukan syirik (menyekutukan, menduakan Allah), larangan menyembah berhala, bersekutu dengan syeitan, ke dukun, menyembah batu, benar-benar membuat kami berfikir, tuturnya”

Jadi setelah melaksanakan perkuliahan AIK ala mondok, persepsi mahasiswa mahasiswa non muslim terhadap ajaran Islam kian positif, merekapun memahami bahwa di dalam ajaran Islam segala sesuatu dipelajari dari hal yang terkecil sampai yang besar, bahkan do’a-do’a harian dalam setiap aktivitas dari mulai muslim bangun tidur hingga akan tidur kembalipun ada tuntunannya, ibadah ada yang wajib dan sunnah pun pada akhirnya dipahami oleh mereka mahasiswa non muslim.

Perkuliahan AIK 1 ala mondok membawa kesan mendalam bagi mahasiswa non muslim, karena menurut mereka ini pengalaman yang luar biasa yang mungkin tidak akan pernah mereka rasakan ketika mereka tidak kuliah di universitas muhammadiyah Metro.

4.2 Luaran yang dicapai

Luaran yang telah dicapai dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Metode pembelajaran Al islam dan Kemuhammadiyahan ala mondok 2. Artikel ilmiah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah Lentera Pendidikan.

(30)

21 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan penelitian, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut:

1. Persepsi mahasiswa non muslim Universitas Muhammadiyah terhadap program perkuliahan AIK ala mondok, sebagian besar menyatakan setuju dan beberapa mahasiswa menyatakan kurang setuju karena mereka sedikit kurang nyaman dengan iklim dan rutinitas ala pondok yang tidak biasa mereka lakukan. Namun menurut Mahasiswa yang setuju perkuliahan AIK ala mondok baik secara langsung maupun tak langsung membawa manfaat bagi aplikasi ilmu, mengajarkan toleransi bagi mereka, belajar hidup berdampingan dengan mahasiswa muslim, mengenal kebiasaan hidup mahasiswa muslim, memahami waktu dan cara peribadatan mahasiswa muslim. Mendapatkan pengalaman yang luar biasa seperti ini tentunya tidak dirasakan oleh mahasiswa non muslim di kampus selain Muhammadiyah.

2. Persepsi mahasiswa non muslim Universitas Muhammadiyah Metro terhadap ajaran Islam setelah merke melaksanakan perkuliahan AIK ala mondok kian positif, merekamemahami bahwa di dalam ajaran Islam segala sesuatu dipelajari secara rigit. Mulai dari hal yang terkecil sampai yang besar, bahkan do’a-do’a harian dalam setiap aktivitas dari mulaii muslim bangun tidur hingga akan tidur kembalipun ada tuntunannya, ibadah ada yang wajib dan sunnah pun pada akhirnya dipahami oleh mereka mahasiswa non muslim dan Perkuliahan AIK 1 ala mondok membawa kesan mendalam bagi mahasiswa non muslim, karena menurut mereka ini pengalaman yang luar biasa yang mungkin tidak akan pernah mereka rasakan ketika mereka tidak kuliah di universitas muhammadiyah Metro.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan yang telah diperoleh terdapat beberapa saran sebagai berikut:

a. Penelitian baru sebatas mengukur persepsi mahasiswa non muslim yang mengikuti mata kuliah AIK 1, sementara yang mengikuti perkuliahan AIK II sampai AIK IV belum di ukur persepsinya bagaimana terhadap

(31)

22

perkuliahan AIK sesuai tingkatannya. Sebaiknya ke depan ada yang melakukan penelitian lanjutan supaya diketahui efektifitas dan pencapaian AIK dai tiap tingkatan.

b. Program Perkuliahan AIK ala mondok masih sangat berfokus pada akrtivitas pendalaman ruhiyah mahasiswa muslim, sementara mahasiswa non muslim yang mengikuti pembelajaran AIK di pondok belum terorganisir, baru sebatas mengikuti aktivitas mahasiswa yang muslim. Ke depan semoga bisa diinventarisir dialam perencanaan dan pelaksanaan terkait aktivitas mahasiswa non muslim di pondok, sehingga pendampingan bagi mahasiswa non muslim efektif

(32)

23

DAFTAR PUSTAKA

Augustin Falah Pawaka, Konstruksi Skala Sikap terhadap Pembelajaran Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) bagi Mahasiswa di Universitas Muhammadiyah, The 10th University Research Colloqium 2019 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong.

Abdul Rachman Shaleh, Muhbib Abdul Wawab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, Jakarta: Kencana, 2004

Asrori, Psikologi Pembelajaran, Bandung: Wacana Prima, 2009 Bimo Walgito, Psikologi Sosial, Yogyakarta: Andi Offset, 1991

Darwis Muhdina, Orang-Orang Non Muslim Dalam Al-Qur’an, Jurnal Al-Jurnal Adyaan, Volume I, Nomor 2, Desember 2015

Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya,Bandung: CV Diponegoro, 2010

Faridi, Persepsi Mahasiswa Terhadap Mata Kuliah Al Islam Dan Kemuhammadiyahan (Aik) : Internalisasi Nilai-Nilai Aik Bagi Mahasiswa, Jurnal PROGRESIVA UMM Vol. 4, No.1, Agustus 2010

KBBI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online, Available at:http//kbbi.web.id/pusat. (di akses 14 Januari 2020)

Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2005.

M. Ihsan Dacholfany, Wawancara Pembelajaran AIK 1, 4 Nopember 2019.

Mif Baihaqi, dkk, Psikiatri (Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan),Bandung:

Refika Aditama, 2005

Mir’atun Nisa’, Ekspektasi Mahasiswa Terhadap Mata Kuliah Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan, Prosiding Seminar Nasional Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, ISBN: 978-602-361-188-1

Muhammad Utsman Najati, Konsep Psikologi Islam, Jakarta:Cendekia, 2001 Muhammad Syahrul Kahar, Daeng Pabalik, Profil Pendidikan Karakter

Mahasiswa Non Muslim dalam Implementasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Jurnal Al-hayat , Volume 02, Nomor 01, Juni 2018:

79-89

Musthafa Kamal Pasha dan Ahmad Adaby Darban, Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam,Yogyakarta:LPPI, 2000

Noor Amirudin, Peran Pendidikan Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan Dalam Meningkatkan Perilaku Keberagamaan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gresik, Didaktika, Vol. 23, Nomor 1, September 2016

(33)

24

Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi, Jakarta:Rineka Cipta, 2015

Sujino, Standar Pengelolaan Pelaksanaan Perkuliahan Mata Kuliah Aik I , Metro:

Ponpes At tanwir, 2018

Sujino, Wawancara Mudir Ponpes At-Tanwir, 2019.

Syamsul Arifin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Tinggi Sesuai KKNI disampaikan dalam Workshop Kurikulum Pendidikan Tinggi Direktorat BELMAWA-DIKTI, 2018

Tim Pedoman AIK Majlis Dikti PP Muhammadiyah, Pedoman Pendidikan Al Islam dan Kemuhammadiyahan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, (Majlis Dikti PP Muhammadiyah: Yogyakarta, 2013

(34)

25

Instrumen Wawancara

Gambar

Gambar Mahasiswa Saat Perkuliahan AIK di Pondok

Referensi

Dokumen terkait

Konsep bentukan pada elemen interior yang digunakan pada desain museum ini mengambil beberapa analogi bentukan beberapa elemen yang berhubungan dengan candi Borobudur,

Barulah pada tanggal 29 September, tampaknya ada sesuatu yang dapat dianggap lebih konkret, dengan munculnya Brigjen Mustafa Sjarif Soepardjo melaporkan kepada

Peningkatan indeks harga yang dibayar petani (Ib) pada Subsektor Tanaman Pangan sebesar 0,57 persen disebabkan oleh naiknya Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) sebesar 0,58

Untuk mengetahui pengaruh promosi, fasilitas, dan kualitas pelayanan secara bersamaan terhadap kepuasan konsumen (Study kasus pada Alfamart Jalan.

Pola kegelisahan dan ketidakpastian menyebabkan mantan narapidana menggunakan strategi mengurangi ketidakpastian yakni, strategi pasif ( passive strategy ) ditandai penarikan diri

Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar laboratorium sesuai dengan jenjang Pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri: (1) lebih menitik

oleh berat telur dan produksi telur yang juga sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi pada perlakuan 12% campuran dedak dan ampas tahu fermentasi dengan Monascus

Pada proses verifikasi pemodelan, hal yang dilakukan yaitu melakukan perbandingan dengan penelitian serupa yang menggunakan pemodelan half car dengan 1 DOF