• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I PENGANTAR

A. Latar Belakang Masalah

Anak-anak seharusnya memiliki kecendrungan mengembangkan self esteem yang tinggi daripada orang dewasa, karena mereka kurang

begitu perduli terhadap atribusi dirinya dan mereka juga tidak ragu dengan segala kemampuan yang dimilikinya (Kim & Cicchetty, 2009). Tetapi dukungan dari lingkungan sosial yang kurang akan menghambat perkembangan self seteem dalam diri anak tersebut, dukungan sosial meliputi dukungan dari keluarga, teman sebaya, guru dan orang-orang terpenting lainnya. Dukungan sosial, khususnya keluarga secara keseluruhan sangat signifikan perannya dalam mengembangkan self esteem seorang anak (Tajbakhsh & Rousta, 2012). Keluarga adalah

lembaga pertama dalam kehidupan anak yang sangat berpengaruh dalam perkembangan anak nantinya, Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan anak (Kartono, 1992).

Self esteem merupakan sebuah kepercayaan diri terhadap kualitas

berpikir individu untuk melewati atau menangani kesulitan dasar dalam

hidup dan kepercayaan diri dalam mencapai kesuksesan dan menjaga

kesenangan, self esteem merupakan esensi dari sebuah kebermaknaan

(Naeem, Shabir, Umar, Shabir, Nadvi, Hayat & Nazher, 2014). Self esteem

merupakan interpretasi dari keadaan emosi, intelektualitas dan tingkah

laku dalam konsep diri seseorang (Frey & Carlock, 1999). Self esteem

(2)

dapat mempengaruhi atribusi, kesepian, penolakan teman sebaya, kecemasan, kerentanan penyakit, dan hal-hal lain terkait dengan kesehatan seseorang (Kim & Cicchetty, 2009). Tingginya self esteem membuat individu lebih bahagia, berhasil dan percaya diri ketika berinteraksi dengan lingkungannya (Arslan, 2009), selain itu self esteem dapat dijadikan sebagai prediksi tingkat ketahanan pribadi individu, tingginya harga diri (self esteem) dapat memberikan reaksi dalam diri individu untuk terus bersemangat dan melepaskan diri dari ganguan-gangguan anti sosial yang disebabkan oleh berbagai hal seperti kegagalan, ketidakpastian dan kematian (McGregor, Nash & Inzlich, 2009).

Kegagalan-kegagalan yang diterima individu seperti kesepian,

penolakan teman sebaya, kecemasan, kerentanan penyakit, dan hal-hal lain

terkait dengan kesehatan individu, dapat dipengaruhi oleh berbagai hal,

termasuk dalam hal ini adalah tidak adanya dukungan emosional dari

keluarga. Tidak semua anak-anak mempunyai keberuntungan dapat tinggal

satu atap dan selalu dekat dengan keluarganya, bahkan anak-anak tersebut

harus tinggal di panti asuhan karena berbagai sebab. Panti asuhan adalah

suatu lembaga pelayanan pengganti fungsi keluarga yang bertanggung

jawab dalam pemenuhan kebutuhan fisik, mental dan sosial kepada anak

asuh serta memberikan bekal dasar yang dibutuhkan anak asuh untuk

perkembangannya, tujuan pengasuhan di keluarga dan di panti asuhan

sesungguhnya adalah sama, namun bentuk pengasuhannya dapat berbeda

(Kristanti, 2013). Anak-anak asuh panti asuhan cenderung memiliki latar

(3)

belakang permasalahan yang sama, yaitu “dibuang dan ditelantarkan” oleh orang yang seharusnya memberikan pelindungan dan pengasuhan. Secara psikologis dan sosial mereka cenderung ditolak, terstigma, dan kemungkinan besar mengalami persoalan kejiwaan dan sosial di masa depan (Teja, 2014). Menurut Kristanti (2013) anak-anak asuh panti asuhan cenderung menarik diri dalam pergaulan di lingkungannya, pendiam, pemalu dan tidak berani tampil di depan umum. Peneltitian lain yang dilakukan oleh Hartini (2001) mendiskripsikan problem psikologis anak- anak panti asuhan dengan lebih jelas, menurutnya anak-anak panti asuhan memiliki kepribadian inferior, pasif, apatis, menarik diri, mudah putus asa, penuh dengan ketakutan dan kecemasan. Selain itu, anak-anak tersebut juga menunjukkan perilaku yang negativis, takut melakukan kontak dengan orang lain, lebih suka sendirian, menunjukkan rasa bermusuhan dan lebih egosentrisme, sehingga anak-anak panti asuhan sulit menjalin hubungan sosial dengan orang lain.

Hal ini diperkuat dengan observasi dan wawancara peneliti dalam

setiap kegiatan sosial yang dilakukan oleh peniliti di panti asuhan. Peneliti

memiliki kegiatan rutin setiap bulan di hari minggu pertama bulan tersebut

di panti asuhan Al-ghifari. Panti asuhan tersebut menurut keterangan

pengasuhnya terdiri dari anak-anak dari keluarga yang kurang mampu

dalam perekonomian, korban letusan merapi, yatim piatu, bahkan juga

terdapat salah seorang anak yang memang sengaja “ditinggalkan” oleh

orang tuanya karena keterbatasan dalam ekonomi. Dalam setiap kegiatan

(4)

yang dilakukan oleh peneliti, seperti pelatihan rebana, anak-anak tersebut kurang terlibat aktif, cenderung kurang percaya diri, merasa malu, menarik diri bahkan takut salah padahal sebenarnya anak-anak tersebut mampu untuk melakukannya.

Kecenderungan akan perilaku anak asuh panti asuhan yang tidak percaya diri, takut melakukan kontak dengan orang lain, lebih suka sendirian bahkan menarik diri dari lingkungannya, memberikan indikasi bahwa anak-anak tersebut memiliki self esteem yang rendah dilihat dari apa yang disampaikan oleh Arslan (2013) bahwa tingginya self esteem membuat individu lebih bahagia, berhasil dan percaya diri ketika berinteraksi dengan lingkungannya. Berdasarkan atas kenyataan tersebut terdapat suatu kecenderungan bahwa dukungan yang diberikan oleh orang tua kepada anak juga berpengaruh pada kualitas self esteem pada anak- anak tersebut, dan kenyataan yang terjadi berikutnya adalah anak asuh di panti asuhan tidak mendapatkan dukungan emosional secara langsung dari orang tua kandungnya.

Salah satu faktor dari self esteem, yaitu penghargaan dan

penerimaan dari orang-orang yang signifikan, dapat berwujud berupa

dukungan sosial. Dukungan sosial merupakan hubungan atau interaksi

yang sebenarnya, yang diaplikasikan melalui keterikatan individu pada

seseorang atau kelompok yang dianggap mengasihi atau peduli dengan

individu tersebut (Goodwin, Cost & Adonu, 2004). Hobvol dan Vaux

(Naeem, dkk, 2014) mengatakan bahwa dukungan sosial dianggap sebagai

(5)

kesadaran seseorang dalam menerima dan memberikan bantuan dari orang lain, misalnya teman-teman dan keluarga. Hal ini sejalan dengan kenyataan terkait penelitian yang dilakukan oleh Tajbakhsh dan Rousta (2012) yang mengatakan bahwa dukungan sosial baik keluarga ataupun komunitas sosial lain yang berkontribusi dalam kehidupan anak dapat mempengaruhi self esteem dari anak tersebut. Dukungan sosial dalam keluarga meliputi dukungan berupa emosional serta dukungan berupa finansial.

Berdasarkan atas hal tersebut, peneliti merasa perlu menghadirkan penelitian tersebut dengan sampel dan metode yang berbeda dengan peneliti-peneliti sebelumnya, di mana penelitian ini nantinya akan disesuaikan dengan konteks dan sampel yang ada untuk membuktikan apakah terdapat keterkaitan antara dukungan sosial yang diberikan oleh pihak pengasuh kepada anak asuh panti asuhan terhadap peningkatan self esteem pada anak-anak tersebut.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian yang penulis adakan dalam karya tulis ini adalah:

a. Untuk memahami hubungan antara dukungan sosial dalam

hubungannya dengan tingkat self esteem anak asuh yang tinggal panti

asuhan

(6)

C. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

a. Menambah literatur dalam khazanah ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang psikologi pendidikan

b. Memberikan informasi kepada pihak panti asuhan terhadap pentingnya dukungan sosial yang diberikan oleh pihak panti asuhan kepada anak- anak yang berada di panti asuhan tersebut

D. Keaslian Penelitian

Tajbakhsh dan Rousta (2012) meneliti korelasi antara dukungan sosial meliputi dukungan keluarga, dukungan teman dan dukungan orang penting lainnya terhadap peingkatan self esteem pada anak-anak berbagai universitas di kota Ghird Town. Penelitian tersebut melibatkan 1623 orang yang meliputi 823 anak laki-laki dan 800 anak perempuan. Penelitian menemukan bahwa dukungan orang tua mempunyai efek langsung terhadap self esteem pada murid, teman-teman dan juga orang-orang terdekatnya. Seseorang yang mendapatkan dukungan keluarga meliputi dukungan emosional dan juga dukungan finansial akan mempunyai kecenderungan tinggi dalam menarik teman dan juga orang-orang penting lainnya.

Arslan (2009) juga pernah meneliti keterkaitan antara tingkat

kemarahan, self esteem dan juga dukungan sosial sebelumnya. Penelitian

tersebut diikuti oleh 499 remaja, 271 wanita dan 228 laki-laki beberapa

(7)

sekolah di Konya, Turki dengan rata-rata umur 16,76 tahun. Metode yang digunakan adalah random set sampling dengan pengukuran skala self esteem menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) yang telah

diadaptasi untuk sampel khusus Turki oleh Cuhadaroglu (1986). Penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self esteem pada remaja dan juga dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya

dan juga guru.

Selain itu, Goodwin, Cost dan Adonu (2004) melakukan penelitian untuk mencari tahu terkait dukungan sosial dan konsekuensinya terhadap nilai-nilai positif, degradasi nilai dan implikasinya terhadap dukungan dan self esteem. Penelitian tersebut melibatkan 275 siswa dengan prosentase

56% laki-laki dan 44% perempuan yang telah melengkapi kuesioner dikelasnya. Responden terdiri dari 70 orang berasal dari Brunel University, Inggris; 70 orang dari Universida de Nova, Portugal; 64 orangdari Universida de Eduardo Mondelhane, Mozambique; dan 71 orang dari University of Ghana, Ghana. Responden mempunyai rata-rata umur 19,5 tahun di Portugal sampai 26,5 tahun di Ghana.

Pengukuran self esteem dalam penelitian ini menggunakan

Rosenberg‟s Self-Esteem Scale (RSES) yang secara luas telah digunakan

untuk mengukur sampel mahasiswa dari Afrika. Kemudian terkait dengan

dukungan sosial penelitian ini menggunakan Interpersonal Support

Evaluation List (ISEL) yang dikembangkan oleh Cohen, Mermelstein,

Kamarck, dan Hoberman (1985). Penelitian ini menunjukkan bahwa nilai-

(8)

nilai sosial merupakan prediktor yang signifikan terhadap penerimaan dukungan sosial, dan dukungan tersebut berpengaruh terhadap self esteem.

Tetapi, hasil analisis menunjukkan bahwa dua hal antara nilai-nilai dan dukungan, yang menjadi prediktor paling signifikan terhadap self esteem hanyalah dukungan sosial.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya peneliti dalam hal ini lebih menekankan pada subjek berada pada rentan umur 10-17 tahun. Selain itu, peneliti lebih menekankan pada subjek yang bertempat tinggal di panti asuhan. Selain itu, variabel dukungan sosial yang diambil oleh peneliti lebih menekankan pada komunitas atau kelompok sosial dari anak-anak tersebut, berbeda dari penelitian sebelumnya yang lebih menekankan pada aspek keluarga dan sekolah.

Peneliti menggunakan alat ukur yang relatif sama dalam mengukur tingkat self esteem subjek, yaitu dengan menggunakan Rosenberg‟s Self- Esteem Scale (RSES), namun peneliti akan melakukan adaptasi alat

tersebut dan disesuaikan dengan konteks yang ada di indonesia.

Berdasarkan beberapa penelitian yang telah peneliti temukan, peneliti

belum menemukan penelitian yang sama dengan menggunakan alat ukur

yang telah di adaptasi.

Referensi

Dokumen terkait

Dari perhitungan Daya dukung kawasan tersebut, maka jumlah pengunjung yang sesuai dengan DDP pada Perairan Pulau Biawak adalah sebanyak ± 7 orang/hari. Pada konsep

Satu hal penting yang bisa saya pelajari dari perbuatan-perbuatan Yesus pada hari Sabat, adalah bahwa dalam mewartakan kasih Allah kita tidak boleh terbatasi

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode lacak balik atau lebih dikenal dengan back tracking adalah suatu metode dalam pencarian jawaban dan pemenuhan goal.. Pada

Menyelenggarakan pelayanan adekuat untuk nifas, rawat gabung termasuk membantu ibu menyusui yang benar, termasuk mengajarkan ibu cara memerah ASI bagi bayi yang tidak bisa

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini, tugas akhir yang berjudul “Pengaruh

Secara kumulatif dari Januari-Juli 2017 neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Timur surplus sebesar US$ 8,00 miliar, angka ini mengalami kenaikan dibanding

stu

Taman Nasional Way Kambas memiliki satu spektrum ekosistem yang besar, di dalamnya dapat ditemukan formasi-formasi hutan seperti hutan bakau, hutan pantai, vegetasi riparian,