BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen menurut S.P Hasibuan (2007:17) mengemukakan,
“Manajemen adalah ilmu dan seni menngatur pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya secara efektif dan efisien untuk menapai suatu tujuan tertentu.”. Sedangkan menurut Frans Sadikin (2007:17) menyebutkan bahwa Manajemen adalah proses untuk menciptakan, memelihara, dan mengoperasikan organisasi perusahaan dengan tujuan tertentu melalui upaya manusia yang sistematis, terkoordinasi dan kooperatif.”.
Manajemen menurut T. Hani Handoko (2005:8) adalah “proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan pengguna sumber daya-sumber daya lainnya agar dapat tercapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.” Sedangkan manajemen menurut H.B. Siswanto (2006:1) adalah “seni dan ilmu dalam perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pemotivasian, dan pengendalian terhadap oarang dan mekanisme kerja untuk mencapai tujuan.”.
Dari definisi tersebut di atas Manajemen Sumber Daya Manusia adalah suatu proses kegiatan sistematik, terencana, terpadu artinya untuk dapat maju
6
positif dalam setiap kegiatan usaha/organisasi dan berkesinambungan untuk tercapainya keadaan positif yang lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya, baik bagi diri manusia itu sendiri, institusinya dimana ia bekerja maupun masyarakat lingkungan dimana kemampuan manusia tersebut dimanfaatkan. Mampu membangun berarti adanya kemauan dan kemampuan untuk bekerja sebaik-baiknya, profesional, dan penuh tanggung jawab.
Menurut Hadari Nawawi (2002:28) tidak semua manusia dapat disebut SDM, karena manusia yang tidak mempunyai/memiliki daya dalam arti kemampuan, tidak dapat digolongkan sebagai SDM, mereka menyatakan bahwa ada tiga pengertian mengenai Sumber Daya Manusia, yaitu :
a. Sumber Daya Manusia adalah manusia yang bekerja dilingkungan suatu organisasi (disebut juga personil, tenaga kerja, pekerja atau pegawai).
b. Sumber Daya Manusia adalah potensi manusiawi sebagai penggerak organisasi dalam mewujudkan eksistensinya.
c. Sumber Daya Manusia adalah potensi yang merupakan aset dan berfungsi sebagai modal (non materi/non finansial) dalam organisasi bisnis yang dapat diwujudkan menjadi potensi nyata secara fisik dan non fisik dalam mewujudkan eksistensi organisasi.
Dari uraian tersebut diketahui bahwa tidak ada organisasi yang bergerak dalam suasana vakum, akan tetapi senantiasa bergerak secara dinamis. Hal ini Seiring dengan kemajuan IPTEK serta berbagai tuntutan kebutuhan akibat berbagai faktor yang mempengaruhi. Ini berarti bahwa
keberadaan dan peran SDM dalam suatu organisasi adalah sangat menentukan karena berhasil tidaknya atau mundur majunya suatu organisasi adalah sangat sangat tergantung pada keberadaan SDM yang bersangkutan baik kedudukannya sebagai pimpinan maupun kedudukannya sebagai pelaksana.
2.2 Pengertian Gaya Kepemimpinan
Gaya menurut Sutan Rajasa (2003:339) dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah “Pembawaan”, sedangkan Muhibin Syah (2001:226) berpendapat gaya adalah sifat khas yang dimiliki seseorang. Sedangkan kata kepemimpinan menurut E. Martono (2002:223) dapat ditelusuri secara harfiah dan semantik yang pertama berarti penelusuran kata secara leksikal, sedangkan yang kedua penelusuran dilakukan secara semantik atau berdasarkan arti katanya berasal dari kata dasar pimpin, kemudian mendapat prefik ke- dan sufik -an. Kata dasar pimpin memilki berbagai bentuk kata sehingga kata pimpin berarti berpegangan tangan, berbimbingan tangan, tuntut menuntut atau pemberi bimbingan. Dengan demikian gaya kepemimpinan atau ciri-ciri khas, yang dimaksud adalah mampu menguasai dan memiliki daya tarik dalam memimpin, sehingga seorang pemimpin dapat mempengaruhi moral dan kepuasan kerja, keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Para pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam mebantu kelompok, organisasi, atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka.
Kepemimpinan adalah proses mengarahkan perilaku orang lain kearah pencapaian suatu tujuan tertentu. Pengarahan dalam hal ini berarti
menyebabkan orang lain bertindak dengan cara tertentu atau mengikuti arah tertentu. Pemimpin yang berhasil, baik yang memimpin beberapa atau beratus - ratus pegawai. Seorang pemipin yang efektif akan selalu mencari cara yang lebih baik. Seorang bisa dikatakan pemimpin yang berhasil jika percaya pada pertumbuhan yang berkesinambungan, efisiensi yang meningkat dan keberhasilan yang berkesinambungan dari perusahaan. Berikut ini pengertian dari pada manajemen sumber daya manusia dari beberapa ahli. Menurut Kartono (2006:108) menyatakan bahwa “Pemimpin harus mampu memberikan motivasi yang baik kepada anak buahnya, salah satunya agar dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerjanya.” Pemimpin yang baik bukan hanya mengarahkan, memberikan perintah-perintah kepada bawahannya, namun juga harus mampu membuat bawahan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan”. Sedangkan Menurut Malayu (2007:170) menyatakan bahwa “Kepemimpinan adalah cara seseorang pemimpin mempengaruhi perilaku bawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi”.
Kepemimpinan menurut T. Hani Handoko (2003:21) mendefinisikan
“suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh kepada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.” Kemudian Wahjosumidjo (2004:27) dalam bukunya kepemimpinan dan motivasi mendefinisikan Kepemimpinan adalah :
Aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputusan, kepemimpinan adalah langkah pertama yang hasilnya berupa pola interaksi kelompok yang konsisten dan bertujuan menyelesesaikan masalah-masalah yang saling berkaitan.
2.2.1 Fungsi-fungsi Kepemimpinan
Fungsi-fungsi kepemimpinan menurut Kartono (2006:61) adalah : a. Memprakarsai struktur organisasi.
b. Menjaga adanya koordinasi dan integritas organisasi, supaya dapat beroprasi secara efektif.
c. Merumuskan tujuan institusional atau organisasi dan menentukan sarana serta cara-cara yang efisien untuk mencapai tujuan.
d. Menengahi pertentangan dan konflik-konflik yang muncul dan mengadakan evaluasi.
e. Mengadakan revisi, perubahan, inovasi pengembangan dan penyempurnaan dalam organisasi.
2.2.2 Macam-Macam Kepemimpinan
Ada beberapa Macam Kepemimpinan menurut Sudarwan (2004:62), yaitu sebagai berikut :
1. Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2. Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic
Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
3. Gaya Kepemimpinan Bebas / Laissez Faire
Pemimpin jenis ini hanya terlibat delam kuantitas yang kecil di mana para bawahannya yang secara aktif menentukan tujuan dan penyelesaian masalah yang dihadapi.
Terdapat juga beberapa gaya kepemimpinan yang mempengaruhi kepemimpinan setiap pemimpin, menurut Kartono (2006:30) yaitu :
1. Gaya Kharismatik
Pemimpin yang memiliki kekuatan energi daya tarik dan berwibawa yang luar biasa yang dapat mempengaruhi orang lain.
2. Gaya Peternalistik
Pemimpin yang kebapakan dengan sifat-sifat antara lain : a. Terlalu bersikap melindungi (overly protective).
b. Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan sendiri, mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka.
c. Selalu bersikap maha tahu dan maha benar.
3. Gaya Militeristis
Pemimpin yang mempunyai sifat sok kemiliter-militeran diantaranya :
a. Lebih banyak menggunakan sistem perintah.
b. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya.
c. Tidak menghendaki saran, usul dan kritikan dari bawahannya.
d. Komunikasi hanya berlangsung searah saja.
4. Gaya Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan dari pada kekuasaan dan paksaan yang mutlak dan harus dipatuhi, Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal pada a man show, dia berambisi sekali untuk merajai sesuatu.
5. Gaya Laissez Faire
Kepemimpinan ini adalah sang pemimpin praktis tidak memimpin, dia merupakan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Dia merupakan pemimpin symbol, tidak mempunyai kewibawaan, tidak bisa mengontrol bawahannya, tidak mampu melaksanakan koordinasi kerja dan tidak berdaya sama sekali menciptakan suasana kerja yang kooperatif.
6. Gaya Populitis
Kepemimpinan populitis ini berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat tradisional. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan nasionalisme.
7. Gaya Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan ini ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administrasi secara efektif yang mampu menggerakan dinamika modernisasi dan pembangunan.
8. Gaya Demokratis
Kepemimpinan Demokrasi ini berorientasi pada manusia.
Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan juga bersedia mengakui keahlian para spesialis dibidangnya masing-masing.
Dari pernyataan tersebut kepemimpinan sebagai suatu konsep yang mempunyai kedudukan strategis dan merupakan gejala sosial yang selalu diperlukan dalam kehidupan kelompok yang mempunyai kedudukan strategis karena kepemimpinan merupakan titik sentral dan dinamisator seluruh proses kegiatan organisasi sehingga kepemimpinan mempunyai peran sentral di dalam menentukan dinamikanya sumber- sumber yang ada.
Kemudian menurut Achmad Rohani (2004:26) kepemimpinan dikaitkan dengan pelaksanaan tugas berarti “bersifat membimbing dan membantu mengatasi kesulitan dan bukan mencari kesalahan. Dengan demikian dalam melakukan kepemimpinannya, maka seorang pimpinan harus memfokuskan perhatian pada upaya mengatasi hambatan yang dihadapi oleh pegawai dalam kepemimpinannya.
Selanjutnya dalam kaitannya dengan kepemimpinan dalam unit
organisasi tentunya seorang pimpinan selaku manager dapat membawa mutu dari hasil pelaksanaan tugas pegawai yang lebih baik dengan memfasilitasi pegawai dalam berdisiplin dan berkompetensi yang tinggi dan dapat mencapai kinerja yang lebih baik.
2.3 Pengertian Motivasi
Motivasi menurut AM Sardiman (2003:74) berasal dari kata motif atau daya penggerak yang akan menjadi aktif dinamakan dengan motivasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sardiman AM dalam bukunya interaksi dan motivasi, yang mengatakan bahwa Kata Motif diartikan daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu”. Sedangkan menurut Hasibuan (2003:95) Motivasi adalah “pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan”.
Motif dapat juga diartikan sebagai daya penggerak dari dalam subyek, untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai suatu bahkan motif dapat diartikan sebagai kondisi internal. Sedangkan motivasi menurut Oemar Hamalik (2004:173) dalam bukunya Perilaku Organisasi adalah suatu perubahan energi didalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi untuk mencapai tujuan.
2.3.1 Macam Motivasi
Motivasi menurut Sardiman (2003:33) dapat digolongan sebagai berikut :
a. Motivasi Instrinsik
Yaitu suatu daya pendorong yang berasal dari dalam diri individu yang bersangkutan. Dengan adanya motivasi yang dimiliki ini seseorang akan dapat berbuat sesuatu tanpa pengaruh dari orang lain, misalnya minat untuk meningkatkan hasil belajar yang lebih baik, ingin mengetahui sesuatu dan sebagainya.
Pada umumnya siswa dalam motivasi instrinsik itu lebih kuat, sehingga untuk berbuat sesuatu dapat berhasil dengan baik.
Bagi siswa yang mempunyai motivasi ini dalam bekerja dapat berprestasi lebih tinggi.
b. Motivasi Ekstrinsik
Yaitu suatu daya pendorong atau penggerak terhadap individu yang berasal dan diperoleh dari luar dirinya, sehingga individu yang dipengaruhi dapat bertindak melakukan sesuatu tujuan tertentu. Misalnya pegawai rajin bekerja supaya mendapatkan prestasi kerja yang tinggi, atau karena pimpinan akan memberikan hadiah atau sesuatu bagianya. Nilai tinggi, hadiah, adalah merupakan salah satu contoh motivasi ekstrinsik. Keberhasilan siswa dalam belajar sebagian besar karena pengaruh motivasi dari guru.
Dari uraian - uraian tersebut diatas, jelaslah kiranya bahwa setiap motivasi itu bertalian dengan tujuan, cita - cita makin berharga cita - cita dan tujuan yang hendak dicapai yang bersangkutan, maka makin kuat pula motifnya.
2.3.2 Tujuan Motivasi
Menurut Malayu dalam buku “Organisasi dan Motivasi (2003:97) sebagai berikut :
a. Dengan motivasi diharapkan meningkatkan produktivitas kerja pegawai akan pentingnya tugas pokok dan fungsi pegawai.
b. Memberi motivasi dan semangat kerja pegawai c. Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik
Dari uraian di atas dapatlah ditarik kesimpulan bahwa motivasi tidak selalu datang dengan sendirinya. Motivasi yang ada dalam diri seseorang, kadang-kadang menghilang dengan sendirinya. Oleh karena itu motivasi harus diperkuat dan dikembangkan, sehingga makin kuat motivasi seseorang makin kuat pula usahanya untuk mencapai apa yang dicita-citakan. Motivasi itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat kesadaran seseorang terhadap tujuan yang hendak dicapainya, semakin kuat pula usaha untuk mencapanya. Sebaliknya semakin kecil dan tidak jelasnya tujuan yang hendak dicapai, maka akan semakin lemah pula usaha untuk mencapainya.
Sejalan dengan uraian di atas motivasi mempunyai tujuan tertentu dalam kehidupannya. Begitu pula bermacam - macam cara untuk menempuh dan memperoleh tujuan tersebut. Motivasi yang ada pada diri manusia berasal dari diri individu. Untuk memenuhi tuntutan tersebut membutuhkan suatu motivasi. Seperti juga dikemukakakn oleh W.S. Winkel sebagai berikut : Motivasi kerja pegawai adalah “keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa menimbulkan keinginan untuk berprestasi dalam mencapai hasil produktivitas kerja (WS. Winkel, 2002:123). Hal ini sejalan dengan teori Harapan Victor H.Vroom “mengemukakan suatu teori yang menyatakan bahwa hasil yang ingin dicapai oleh seseorang dan perkiraan yang bersangkutan bahwa tindakannya akan mengarah kepada hasil yang diinginkannya. Bahwa jika seseorang menginginginkan sesuatu dan harapan untuk memperolah sesuatu cukup besar, yang bersangkutan akan sangat terdorong untuk memeproleh hal yang diinginkannya itu, dan sebaliknya jika harapan memperolah hal yang diinginkan itu tipis motivasinya pun akan menjadi rendah.
Kemudian Teori A.H. Maslow yang dikutif Sondang Siagian (2007:87) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hirarki kebutuhan, yaitu :
a. Kebutuhan fisiologikal, seperti sandang, pangan, dan papan.
b. Kebutuhan keamanan, tidak hanya dalam arti fisik, akan tetapi juga mental, psikologi dan intelektual.
c. Kebutuhan sosial.
d. Kebutuhan prestise yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status.
e. Aktualisasi diri dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potesi yang terdapat dalam dirinya sehingga menjadi kemampuan nyata.
Dari teori tersebut motivasi sebagai sesuatu yang sulit dan tidak bisa diamati atau diukur secara pasti, sehingga untuk mengamati dan mengukur motivasi berarti harus mengkaji lebih jauh perilaku masing- masing pegawai, bahkan di samping itu disebabkan adanya berbagai teori motivasi yang berbeda-beda satu sama lain, hal ini dilihat dari teori X dan teori Y yang diperkenalkan oleh Douglas Mc. Gregor yang dikutif oleh Faustino Cardoso Gomes (2003:93) dalam bukunya Manajemen Sumber Daya Manusia menyebutkan bahwa pandangan manusia dapat dilihat dari dua sudut, yaitu sudut negative (Teori X) dan sudut positif (Teori Y). Pandangan seorang atasan terhadap bawahannya dapat dikelompokkan dalam dua bagian, yaitu :
a. Teori X mengatakan bahwa para pimpinan menggunakan asumsi bahwa manusia mempunyai ciri-ciri, seperti :
1) Para pekerja pada dasarnya tidak senang bekerja dan apabila mungkin mereka akan berusaha mengelakkannya.
2) Para pekerja akan berusaha mengelakkan tanggung jawab dan hanya akan bekerja apabila menerima perintah untuk melakukan sesuatu.
3) Kebanyakan pekerja akan menempatkan pemuasan kebutuhan fisiologis dan keamanan di atas faktor-faktor lain yang berkaitan dengan pekerjaannya dan tidak akan menunjukkan keinginan atau ambisinya untuk maju.
b. Sebaliknya menurut para manajer menggunakan asumsi bahwa para pekerja memiliki ciri-ciri seperti :
1) Para Pekerja merancang kegiatan bekerja sebagai hal yang alamiah seperti halnya beristirahat dan bermain.
2) Para pekerja akan berusaha melakukan tugas tanpa terlalu diarahkan dan akan berusaha mengendalikan diri sendiri.
3) Pada umumnya para pekerja akan menerima tanggung jawab yang lebih besar.
4) Para pekerja akan berusaha menunjukkan kreativitasnya dan oleh karenanya akan berpendapat bahwa pengambilan kebutusan merupakan tanggung jawab mereka juga dan bukan semata-mata tanggung jawab orang-orang yang menduduki jabatan manajerial.
Atas dasar teori tersebut diatas, maka pimpinan sebagai penggerak terhadap pegawai selalu berupaya untuk terus memberikan motivasi kepada pegawai baik dalam berkomunikasi maupun dalam penyampaian pesan yang menjadi tujuan dalam bekerja dapat tercapai, disamping itu adanya motivasi kerja pegawai akan memiliki semangat tinggi dan gairah yang besar. Jadi yang dimaksudkan dengan motivasi kerja pegawai disini adalah suatu usaha yang menjadi keharusan bagi pegawai untuk merealisasikan peran dan tanggung jawabnya dalam bekerja, agar mampu memerankan diri dengan baik sebagai sosok individu maupun kelompok belajar, sehingga tujuan dari belajar siswa dapat tercapai dengan ditandai adanya prestasi belajar yang baik.
2.4 Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Motivasi Kerja
Djoko Santosa (2008:53) dalam bukunya “Teori-teori Kepemimpinan”
mengemukakan bahwa kepemimpinan mempunyai peranan sentral dalam kehidupan berorganisasi, dimana terjadi interaksi kerjasama antar dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan.
Tantangan berat yang dihadapi oleh setiap pimpinan, lebih-lebih dalam kehidupan dunia modern yang ditandai dengan berbagai gejala, seperti volume kerja yang selalu meningkat, interaksi manusia yang lebih komplek, tuntuan pengembangan kemampuan sumber daya insani, dan sebagainya ialah bagaimana setiap unsur pimpinan dapat menggerakkan orang lain, secara
bersama-sama bersedia berperilaku untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Untuk itu, diperlukan pengetahuan mengenai hakikat motivasi, serta kemampuan teknik menciptakan situasi sehingga menimbulkan motivasi/dorongan bagi mereka untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan apa yang dikehendaki.
2.5 Kerangka Pikir
Dalam penelitian ini, motivasi timbul secara sadar, dari dalam diri pegawai, maupun dari pengaruh-pengaruh yang di tanamkan dari luar diri pegawai. Pegawai yang memiliki motivasi di dalam bekerja akan terlihat bahwa ia pegawai merasa bersemangat, senang, dan bergairah dalam bekerja, memiliki sikap yang positif terhadap pekerjaan, berdisiplin, berkonsentrasi, ikut berpartisipasi aktif, memiliki antusias, perhatian dan ketekunan dalam mengerjakan tugas, memiliki kreatifitas yang tinggi dan selalu siap dalam menerima tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Jadi motivasi pegawai tergantung dari seberapa jauh pimpinan dapat mempengaruhi dan menimbulkan gairah kerja pada pegawai, baik yang terdorong dari dalam dirinya sendiri, maupun pengaruh dari pimpinan di unit kerja, mengingat motivasi tidak datang dengan sendirinya, melainkan karena ada penyebabnya, salah satunya upaya-upaya yang dilakukan oleh pimpinan, yang semunya itu melalui gaya kepemimpinan dalam menerapkan kaidah-kaidah atau norma- norma yang dijalankan seorang pemimpin dalam bekerja. Rumusan yang
menyatakan semakin tinggi gaya kepemimpinan seseorang, maka semakin tinggi pula motivasi pegawai dalam melaksanakan tugas. Alur pemikiran tersebut dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 1. Kerangka Pemikiran
INPUT PROSES OUTPUT OUTCOME
Dari gambar kerangka pemikiran, bahwa pimpinan telah menetapkan dan merupakan kebijaka-kebijakan, pemberdayaan pegawai, dan menciptakan suasana kerja yang kondusif, maka akan tercipta motivasi kerja yang lebih baik dan menghasilkan optimalisasi dari pelaksanaan tugas yang dicapai, atau dengan kata lain gaya kepemimpinan dapat mempengaruhi motivasi kerja pegawai, untuk itu perlu dirumuskan hipotesis.
Gaya Kepem impina
n
1. Gaya
Kepemimpinan .
2. Kebijakan- kebijakan 3. Pemberdayaan
Pegawai
Motivasi Kerja Peg.
1. Pelaksanaan kerja 2. Kualitas hasil
kerja 3. Prestasi Kerja
Optimalisasi dari hasil kerja
yang dilaksanakan
pegawai