DI METRO TV
Tesis
Oleh:
Eldiapma Syahdiza 0821215013
Program Studi Linguistik
Program Pascasarjana
Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Andalas
INTERFERENSI LEKSIKAL BAHASA INGGRIS DALAM ACARA “EIGHT-ELEVEN SHOW” DI METRO TV
Oleh: Eldiapma Syahdiza Program Studi Magister Linguistik
(Pembimbing I: Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum., Pembimbing II: Prof. Dr. H. Jufrizal, M.Hum.)
ABSTRAK
Interferensi merupakan fenomena bahasa yang muncul karena interaksi dua bahasa atau lebih. Fenomena ini terlihat semakin berkembang seiring dengan kemajuan teknologi dan perkembangan media massa. Salah satu media massa yang menjadi wadah terjadinya interferensi adalah televisi.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk tuturan pengisi
acara ”eight – eleven show” di Metro TV yang terinterferensi bahasa Inggris dan mendeskripsikan komponen-komponen tutur yang terlihat pada interferensi leksikal bahasa Inggris ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan perspektif non-positivisme. Data penelitian ini berasal dari sumber lisan, yaitu tuturan para pengisi acara di program ”eight – eleven show” Metro TV yang terinterferensi unsur leksikal bahasa Inggris. Metode yang digunakan dalam penyediaan atau pengumpulan data adalah metode simak. Metode yang digunakan untuk menganalisis data adalah metode padan translasional dan metode padan referensial. Metode penyajian hasil analisis data dilakukan dengan metode formal dan informal.
Pada penelitian ini, interferensi leksikal bahasa Inggris dikelompokkan menjadi kata dan kata majemuk. Intereferensi leksikal bahasa Inggris dalam bentuk kata lebih banyak ditemukan dari bentuk kata majemuk karena kata merupakan satuan terkecil yang dapat diujarkan dalam bentuk bebas dan bentuk kata lebih sederhana daripada bentuk kata majemuk. Interferensi leksikal bahasa Inggris pada tuturan para pengisi acara di program ”eight – eleven show” Metro TV ditemukan dalam bentuk nomina, verba, dan ajektiva. Interferensi leksikal bahasa Inggris dalam bentuk nomina lebih sering muncul dibandingkan interferensi leksikal bahasa Inggris dalam bentuk verba dan ajektiva. Bentuk nomina lebih sering muncul dibandingkan bentuk verba ataupun ajektiva karena nomina selalu muncul dalam suatu kalimat. Nomina bisa berperan sebagai subjek maupun objek dalam suatu kalimat sehingga frekuensi kemunculan nomina dalam suatu kalimat lebih besar daripada frekuensi kemunculan verba atau ajektiva. Komponen tutur yang terlihat memiliki pengaruh besar dalam kemunculan
interferensi leksikal bahasa Inggris dalam acara ”eight – eleven show” Metro TV
adalah participants. Pada penelitian ini juga dideskripsikan bahwa faktor-faktor sosial yang memicu terjadinya interferensi leksikal bahasa Inggris adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan pendidikan seseorang. Faktor sosial yang berpengaruh besar dalam memicu kemunculan istilah-istilah bahasa Inggris adalah pekerjaan.
INTERFERENSI LEKSIKAL BAHASA INGGRIS DALAM ACARA “EIGHT-ELEVEN SHOW” DI METRO TV
By: Eldiapma Syahdiza Program Studi Magister Linguistik
(Supervisor I: Prof. Dr. Oktavianus, M.Hum., Supervisor II: Prof. Dr. H. Jufrizal, M.Hum.)
ABSTRACT
Interference is one of language phenomena that appears as the result of the interaction of two or more languages. This phenomenon seems to grow in equal line with technology and mass media development. One of mass media becoming the medium of interference is television.
This research aims at describing the form of Metro TV ”Eight-eleven
Show” participants‟ utterances interfered by English language and describing
social factors that trigger the emergence of English lexical interference. This research is a qualitative research with non-positivism perspective. Main data of
this research come from oral source, namely the utterances of Metro TV ”Eight
-eleven Show” participants interfered by English language. Method used in
collecting data was observatory method in which writer observes language uttered by the participants of ”Eight-eleven Show” program. Methods used in analyzing the data were translational method and referential method. Methods used in presenting data analysis are formal and informal methods.
In this research, writer found that English lexical interferences appear in form of word and compound. English lexical interference of word form is found more than English lexical interference of compound form because word is the smallest unit that can be uttered in the free form and word is simpler than compound. English lexical interference of ”eight-eleven show” participants is found in the form of noun, verb, and adjective. English lexical interference in the form of noun is found more than in the form of verb or adjective. Noun is found more than verb or adjective because noun always appears in a sentence. Noun can be a subject or object in a sentence so the appearance frequency of noun in a sentence is bigger than the appearance frequency of verb or adjective. Speech component that can be seen along the emergence if English lexical interference and likely having connection to this emergence is participants. In this research is also described that social factors that trigger the emergence of English lexical interference are sex, age, occupation, and education. Social factor that has biggest effect in triggering the emergence of English words was occupation.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Interferensi merupakan fenomena bahasa yang muncul karena interaksi dua
bahasa atau lebih, misalnya bahasa Indonesia dan bahasa Inggris atau bahasa
Indonesia, Inggris, dan Minangkabau. Pada saat fenomena interferensi muncul dalam
tuturan seseorang, ini mengindikasikan bahwa si penutur telah berinteraksi dengan
satu atau dua bahasa baru. Dengan kata lain, penutur memiliki pengetahuan tentang
suatu bahasa selain bahasa aslinya, terlepas apakah ia memang penutur aktif dari
kedua bahasa tersebut atau hanya penutur aktif di salah satu bahasa saja.
Interferensi yang sering terlihat adalah interferensi bahasa pertama terhadap
penggunaan bahasa kedua, misalnya interferensi bahasa Minangkabau terhadap
penggunaan bahasa Indonesia. Apabila seseorang belajar bahasa baru maka bahasa
ibu atau bahasa pertama orang tersebut dapat menginterferensi penggunaan bahasa
baru orang tersebut. Interferensi bahasa pertama terhadap bahasa kedua memang
merupakan interferensi yang sering terjadi namun interferensi bahasa kedua terhadap
penggunaan bahasa pertama juga mungkin terjadi. Interferensi bahasa kedua terhadap
penggunaan bahasa pertama dapat terjadi apabila bahasa kedua itu merupakan bahasa
yang dikenal luas seperti bahasa Inggris dan interferensinya terjadi pada tataran
leksikal. Pengertian leksikal menurut KBBI (2001: 110) adalah “berkaitan dengan
kata, berkaitan dengan leksem, berkaitan dengan kosakata”. Dari pengertian leksikal
ini dapat terlihat bahwa kemungkinan terjadinya interferensi leksikal bahasa kedua
cukup besar, karena kata dan kosakata bahasa Inggris sering dipakai dan dipelajari
oleh penutur bahasa Indonesia.
Bagi seorang dwibahasawan, fenomena interferensi merupakan hal yang
sangat besar kemungkinan munculnya karena ia memiliki kemampuan berbahasa
yang lebih banyak. Hal ini senada dengan yang disampaikan Grosjean (1984: 299)
“such interference is particularly observable in conversations between a bilingual
and a monolingual, where the bilingual consciously avoids code switching, which
may impede communication, but cannot avoid unconscious interference.” Dari
kutipan itu dapat disimpulkan bahwa fenomena interferensi biasanya muncul ketika
seorang dwibahasawan dengan spontan menggunakan bahasa lain yang dikuasainya
dalam suatu pembicaraan dengan seorang yang bukan dwibahasawan. Akan tetapi,
fenomena interferensi juga dapat muncul dalam pembicaraan seorang dwibahasawan
dengan dwibahasawan lainnya misalnya saja orang Minangkabau yang berbicara
dengan orang Minangkabau lainnya dalam bahasa Indonesia. Dalam pembicaraan
kedua orang Minangkabau ini nantinya akan muncul logat, kata atau istilah bahasa
Minangkabau yang kemunculannya tidak mereka rencanakan.
Dewasa ini, interferensi merupakan hal yang sering terjadi dalam komunikasi.
Televisi merupakan salah satu media sarana yang banyak memperlihatkan fenomena
interferensi. Program-program yang disiarkan secara langsung oleh stasiun-stasiun
TV, secara tidak langsung juga merekam terjadinya interferensi bahasa. Misalnya,
program bincang-bincang atau talkshow yang melibatkan para artis dan program
siaran langsung sidang Pansus Century yang melibatkan para politisi dan pejabat
Metro TV yang tayang secara langsung setiap hari Senin sampai dengan Jum‟at.
Misalnya saja pernyataan Maria Kalaij, salah seorang pembawa acara ”eight – eleven
show” yang khusus menyampaikan informasi ekonomi bisnis, pada tanggal 15 April
2011 berikut ini:
(1) “Ini dikhawatirkan akan memicu kembali inflasi dan akan membuat bank sentral China akan segera lagi melakukan tightening policy atau kebijakan uang ketat untuk meredam ekonominya agar tidak terlalu overheating.”
Kalimat ini dituturkan Maria Kalaij di waktu ia menyampaikan informasi
ekonomi bisnis pada acara ”eight – eleven show”. Pada kalimat ini terlihat bahwa ada
dua istilah bahasa Inggris yang muncul yaitu tightening policy dan overheating. Kata
overheating dikelompokkan sebagai interferensi leksikal. Kata ini dikelompokkan
sebagai salah satu bentuk interferensi karena kata bahasa Inggris overheating muncul
pada kalimat bahasa Indonesia yang dituturkan Maria Kalaij. Maria tidak mempunyai
alasan yang melatarbelakangi kemunculan istilah bahasa Inggris ini karena informasi
ekonomi bisnis yang disampaikannya ditujukan untuk masyarakat Indonesia. Jadi,
kemunculan istilah bahasa Inggris dalam kalimat ini tidak dapat dikelompokkan pada
fenomena alih kode. Bentuk interferensi leksikal dari kata overheating adalah kata
majemuk. Kelas kata dari kata majemuk overheating adalah verba. Untuk dapat
menguraikan proses yang dilalui kata overheating hingga akhirnya dikategorikan
sebagai verba, saya harus menentukan leksem dari kata overheating terlebih dahulu.
Menurut Kridalaksana (2009: 9) “Leksem merupakan satuan terkecil dalam leksikon,
yang berperan sebagai bahan baku dalam proses morfologis.” Jadi, leksem dari kata
overheating adalah OVER dan HEAT. Untuk penjelasan lebih detil akan saya
(2) “Sekarang saya coba buat bolu tapi dia dari vegetable.” (Rekaman 18 April 2011)
Kalimat pada data ini dituturkan oleh seorang koki perempuan bernama Zikra
ketika ia ditanyai oleh pembawa acara ”eight – eleven show” tentang makanan yang
akan dibuatnya hari itu. Dari kutipan di atas terlihat kemunculan kata bahasa Inggris
yaitu vegetable. Kata vegetable dikelompokkan sebagai interferensi leksikal. Kata ini
dikelompokkan sebagai interferensi karena kata ini muncul pada kalimat bahasa
Indonesia yang dituturkan oleh Zikra. Kemunculan istilah bahasa Inggris dalam
kalimat ini tidak dapat dikelompokkan ke dalam alih kode karena Zikra tidak
mempunyai alasan yang melatarbelakangi kemunculan istilah bahasa Inggris ini.
Pembicaraan yang terjadi antara koki Zikra dan pembawa acara ”eight – eleven
show” memakai bahasa Indonesia. Bentuk interferensi leksikal dari vegetable adalah
kata majemuk. Kelas kata dari kata majemuk vegetable adalah nomina. Untuk dapat
menguraikan proses yang dilalui kata vegetable hingga akhirnya dikategorikan
sebagai nomina, saya harus menentukan leksem dari kata vegetable terlebih dahulu.
Menurut Kridalaksana (2009: 9) “Leksem merupakan satuan terkecil dalam leksikon,
yang berperan sebagai bahan baku dalam proses morfologis.” Jadi, leksem dari kata
vegetable adalah VEGETATE dan ABLE. Leksem VEGETATE mengalami proses
morfologis derivasi zero menjadi kata vegetate dan leksem ABLE mengalami proses
morfologis derivasi zero menjadi kata able. Selanjutnya kata vegetate mengalami
proses sintaksis kategorisasi ke kelas kata verba dan kata able ke kelas kata ajektiva.
Kata vegetate dan able mengalami proses leksikalisasi menjadi leksem VEGETATE
komposisi sehingga menjadi kompositum vegetable. Kata vegetable mengalami
proses sintaksis kategorisasi (penempatan ke dalam kelas kata) ke dalam kategori
nomina.
(3) “Untuk membahas establishment terbaru dari Kidzania, kita sudah mengundang dua narasumber terkait; yang pertama mbak Ari Kartika dan bu
Herlina.” (Rekaman 19 April 2011)
Kalimat pada data ini diucapkan oleh pembawa acara ”eight – eleven show”
yang bernama Tommy Tjokro ketika ia memperkenalkan narasumber yang akan
diwawancarainya. Dari kutipan di atas terlihat kemunculan kata bahasa Inggris yaitu
establishment. Kata establishment dikelompokkan sebagai interferensi leksikal. Kata
ini dikelompokkan sebagai salah satu bentuk interferensi karena kata bahasa Inggris
establishment muncul pada kalimat bahasa Indonesia yang dituturkan Tommy Tjokro.
Tommy tidak mempunyai alasan yang melatarbelakangi kemunculan istilah bahasa
Inggris ini karena wawancara yang dilakukan Tommy dengan narasumbernya
memakai bahasa Indonesia. Jadi, kemunculan istilah bahasa Inggris dalam kalimat ini
tidak dapat dikelompokkan pada fenomena alih kode. Bentuk interferensi leksikal
dari kata establishment adalah kata tunggal. Kelas kata dari kata establishment adalah
nomina. Untuk dapat menguraikan proses yang dilalui kata establishment hingga
akhirnya dikategorikan sebagai nomina, saya harus menentukan leksem dari kata
establishment terlebih dahulu. Leksem dari kata establishment adalah ESTABLISH.
Leksem ESTABLISH ini mengalami proses morfologis derivasi zero menjadi kata
establish. Kata establish mengalami proses sintaksis kategorisasi (penempatan ke
leksikalisasi untuk menjadi leksem ESTABLISH. Leksem ESTABLISH mengalami
proses morfologis afiksasi. Afiksasi yang terjadi adalah penempatan sufiks –ment
setelah leksem ESTABLISH sehingga leksem ESTABLISH menjadi kata
establishment. Kata establishment mengalami proses sintaksis kategorisasi ke dalam
kategori nomina. Dari penjabaran sebelumnya terlihat bahwa sufiks –ment merupakan
morfem derivatif. Katamba (1993: 47) menuliskan “derivational morphemes form
new words either (i) by changing the meaning of the base to which they are attached,
or (ii) by changing the word-class that a base belongs to.” Morfem derivatif adalah
morfem yang bisa membuat kata baru dengan merubah makna suatu kata atau
merubah kelas kata dari suatu kata. Hal ini terjadi pada kata establishment. Kata
establishment berasal dari kata establish yang kelas katanya adalah verba namun
setelah digabungkan dengan sufiks –ment, kelas katanya menjadi nomina.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman dan teknologi
menuntut munculnya kosakata-kosakata baru yang sebelumnya tidak atau belum ada
dalam suatu bahasa, misalnya kata download, software, hardware, dan computer
yang telah diindonesiakan menjadi unduh, perangkat lunak, perangkat keras, dan
komputer. Akan tetapi, bentuk bahasa Inggris masih sering digunakan dalam
percakapan sehari-hari, seperti kata bahasa Inggris software lebih sering digunakan
daripada kata bahasa Indonesia „perangkat lunak‟. Kemunculan bentuk kata bahasa
Inggris dalam tuturan penutur bahasa Indonesia menunjukkan bahwa interferensi
bahasa Inggris terhadap bahasa Indonesia mungkin terjadi, khususnya dalam tataran
leksikal. Hal yang juga perlu ditelaah lebih lanjut adalah komponen tutur apa saja
”eight – eleven show” di Metro TV. Dengan kata lain, apa saja faktor-faktor yang
dapat digambarkan sebagai pemicu kemunculan interferensi bahasa Inggris dalam
penggunaan bahasa Indonesia para pengisi acara ”eight – eleven show” di Metro TV,
khususnya faktor sosial?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut diperlukan suatu penelitian
lebih lanjut mengenai hal itu. Kajian atau penelitian yang dilakukan terhadap
fenomena interferensi leksikal bahasa Inggris terhadap penggunaan bahasa Indonesia
dalam program ”eight – eleven show” di Metro TV serta komponen tutur yang
menyertainya akan membuka tabir alasan atau faktor sosial apa yang dapat menjadi
pemicu kemunculan interferensi.
1.2 Ruang Lingkup dan Batasan Masalah Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada interferensi leksikal bahasa Inggris
yang terjadi dalam acara ”eight – eleven show” di Metro TV. Program Metro TV
yang dijadikan sumber data adalah program ”eight – eleven show” Metro TV yang
tayang dari tanggal 18 April sampai 2 Mei 2011. Alasan penulis memilih stasiun TV
Metro TV karena stasiun TV ini merupakan salah satu stasiun televisi swasta di
Indonesia yang minim program hiburan. Dengan kata lain, hal-hal yang berkaitan
dengan dunia keartisan tidak begitu banyak. Selanjutnya, alasan pemilihan program
”eight – eleven show” adalah pertama, topik yang dibahas dalam program ini cukup
beragam seperti hiburan, ekonomi bisnis, kuliner, kesehatan, dan lain-lain. Topik
yang beragam ini memungkinkan adanya perbendaharaan kata yang banyak dan
dalam pembicaraan juga lebih luas. Kedua, partisipan yang terlibat dalam program ini
juga berasal dari latar belakang yang berbeda sehingga kemungkinan partisipan
memiliki pengetahuan yang lebih dari satu bahasa juga besar. Ketiga, program ini
tayang dengan durasi waktu yang cukup lama yakni tiga jam dari jam 8 pagi sampai
11 pagi dan disiarkan secara langsung.
1.3 Rumusan Masalah
Interferensi bahasa Inggris dalam acara ”eight – eleven show” di Metro TV
merupakan topik yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini. Interferensi terjadi
pada semua komponen bahasa yaitu fonologi, morfologi, dan kosakata. Akan tetapi,
interferensi yang dibahas dalam penelitian ini hanyalah interferensi leksikal bahasa
Inggris pada penggunaan bahasa Indonesia dalam acara ”eight – eleven show” di
Metro TV. Masalah penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa saja bentuk-bentuk interferensi leksikal bahasa Inggris yang ditemukan
dalam acara ”eight – eleven show” di Metro TV?
2. Komponen tutur apa saja yang terlihat dari kemunculan interferensi leksikal
bahasa Inggris pada penggunaan bahasa Indonesia dalam acara ”eight –
eleven show” di Metro TV?
1.4 Tujuan Penelitian
Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemunculan
interferensi dalam tuturan para pengisi acara di program ”eight – eleven show” Metro
dipahami lebih lanjut karena para pengisi acara di program ini merupakan
orang-orang yang berpengalaman di bidangnya masing-masing. Jadi, keberadaan
interferensi mungkin saja memiliki keterkaitan dengan faktor ini. Secara khusus,
tujuan penelitian ini disesuaikan dengan rumusan masalah penelitian yang telah
dituliskan sebelumnya, yaitu untuk:
1. Mendeskripsikan bentuk-bentuk interferensi leksikal bahasa Inggris yang
ditemukan dalam acara ”eight – eleven show” di Metro TV.
2. Mendeskripsikan komponen tutur yang terlihat dari kemunculan interferensi
leksikal bahasa Inggris pada penggunaan bahasa Indonesia dalam acara ”eight
– eleven show” di Metro TV.
1.5 Manfaat Penelitian
Secara teoritis, penelitian ini bermanfaat untuk menjelaskan tentang bentuk
tuturan yang terinterferensi bahasa Inggris dan apa saja hal-hal yang memicu
terjadinya interferensi dalam tuturan para pengisi acara ”eight – eleven show” di
Metro TV, khususnya faktor-faktor sosialnya. Secara praktis, penelitian ini
bermanfaat untuk melengkapi dan memperkaya khasanah bahasa Indonesia yang
sudah ada, khususnya di bidang sosiolinguistik. Selain itu, penelitian ini juga
memberikan informasi tentang bagaimana cara menanggapi atau menghadapi
orang-orang yang mengalami interferensi dalam tuturannya karena penelitian ini
mendeskripsikan faktor-faktor sosial yang memicu terjadinya interferensi bahasa
Jika seseorang mengetahui komponen tutur apa yang terlihat dari kemunculan
interferensi bahasa Inggris dalam tuturannya, serta sebab-sebab atau alasan yang
memicu orang lain menggunakan bentuk-bentuk yang terinterferensi bahasa Inggris
dalam tuturannya; orang itu akan dapat menjalankan komunikasi dengan baik dan
informasi-informasi yang seharusnya tersampaikan dalam suatu komunikasi dapat
tersampaikan dengan tuntas. Di samping itu, penelitian ini akan membantu mengasah
kemampuan seseorang dalam berbahasa, dapat menggunakan bahasa atau tuturan
yang tepat untuk masing-masing kondisi tanpa menyakiti hati atau melukai harga diri
lawan tutur. Jika seorang penutur yang memakai bentuk tuturan yang terinterferensi
bahasa Inggris mendapat tanggapan yang meremehkan, mematahkan semangat dalam
berbicara atau bahkan menghina dari lawan tuturnya, si penutur tersebut mungkin
akan tersinggung dan tidak jadi melanjutkan percakapan sehingga tujuan awal