[(OMPAS
N~sib Tangkubanparahu?
Oleh DJOKO SUBINARTO
M
enteri Kehutanan, berdasarkan surat bemomor
S.508jMenhut - IV/2007 tanggal7 Agustus 2007,
telah mengeluarkan izin kepada PT Graha Rani
Putra Persada untuk melakukan pembangunan di kawasan
hutan Tangkubanparahu. Rencananya, PT GRPP akan
mem-bangun antara lain cottage dan sejumlah fasilitas lain di lahan
seluas 250 hektar. Area seluas itu mencakup pemanfaatan
175 hektartaman wisata alam Tangkubanparahu dan 75
hek-tar hutan lindungTangkubanparahu.
Pemerintah Provinsi Jawa Ba-rat sendiri tidak pemah memberi izin kepada PT GRPP untuk mela-kukan pembangunan di kawasan itu. Pasalnya, menurut Surat Ke-putusan Menteri Kehutanan No-mor 446/Kpts- 11/1996tentangTa-ta Cara Permohonan, Pemberian, dan Pencabutan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam,izin barn bisa di-keluarkan pemerintah pusat sete-lah mendapat rekomendasi dari pemerintah daerah.
Sejumlah lembaga swadayama-syarakat dan aktivis lingkungan menilai, rencana pembangunan cottage dan berbagai fasilitas lain di kawasan hutan Tangkubanpara-hu ini akan menimbulkan dampak ekologis,bukan hanya bagi kawas-an hutkawas-an lindung Tkawas-angkubkawas-anpara- Tangkubanpara-hu, melainkan juga bagi kawasan Lembang dan Bandung. Betu1kah demikian?
Rumahkeell
Jika ditelusuri asal-usulnya, akar kata cottageadalah cotagium. Kata ini berasal dari bahasa Latin abad pertengahan. The American Heritage Dictionary of The En-glish Language memberikan deti-nisi cottage sebagai (1)a small,sin-gle storied house, especialy in the country; (2) ~small vacationhou-se. Definisiyanghampir samajuga diberikan oleh kamus The Advan-ced Leamer's Dictionary of Cur-rent English yang mendetinisikan cottage sebagai a small house, es-peciallyin the country.
Di Barat, awalnya cottage me-rujuk pada rumah-rumah kecil di
---pedusunan sebagai tempat peristi-rahatan bagi para pekerja perke-bunan atau pekerja pertambang-an. Barn sekitar tahun 1880-anter-jadi perubahan dalam pengertian cottage ini. Cottage, terutama di Amerika Utara, bukan lagi sebatas rumah peristirahatan bagipara pe-kerja perkebunan dan pertam-bangan, melainkan telah berubah status menjadi rumah-rumah di pedusunan sebagai tempat berli-bur orang-orang kota, terutama pada akhir pekan dan musim pa-nas.
Dengan status seperti ini, cotta-ge menjadi bagian tidak terpisah-kan dari geliat pertumbuhan dan perkembangan bisnis industri pa-riwisata modem. Cottage pun se-makin banyak dibangun di kawas-an-kawasan sekitar danau, pantai, pegunungan, dan hutan. Orang-orang kota di Barat, setelah jenuh bekerja di kota, berbondong-bon-dong menyerbu cottage bersama keluarga pada akhir pekan atau Ii-burmusim panas.
Selain menikmati suasana pe-dusunan, mereka juga melakukan aktivitas lain, seperti berenang, berlayar, hiking, memancing, ber-buru, dan berbagai aktivitas alam lainnya. Maka,lazimnya,di sekitar cottage senantiasa dibangun pula berbagai fasilitas wisata alam lain-nya untuk mendukung keberada-an cottage sekaligus untuk memi-kat minat wisatawan.
Dari segi industri pariwisata, keberadaan cottage beserta fasili-tas pendukung lain, tentu saja, akan_berda:nlak positif bagi
per-K lip j n 9
H
V m Q sUn p Q d2009----o
Senino
Selasa
o
Rabu.
- ---..---
KamisC) Juma!
o
Sabtuo
Minggu1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
7.2
23
24
25
@
27
28
29
30
31
tumbuhan dan perkembangan bis-nis pariwisata. Kendatipun sangat menguntungkan secara bisnis, ke-beradaan cottage bisa membawa dampak ekologis'yang merugikan bagi kawasan di sekitarnya.
Salah satu contoh kasus adalah yang menimpa kawasan Taman Nasional Rondeau di Kanada. Sejak sejumlah cottage dan berba-gaifasilitaslain berdiri, Taman Na-sional Rondeau menanggung be-ban ekologis yang berat. Bebe-ban ekologis itu antara lain ditimbul-kan karena pertama, keberadaan cottage mendorong meningkat-nya penggunaan listrik, bahan ba-kar, air, dan meningkatnya pro-duksi sampah. Akibatnya, terjadi peningkatan polusi (udara, suara, c;iliaya, dan tanah) di sekitar ka-wasan Taman Nasional Rondeau yang membuat kelestarian ling-kungan makin rusak.
Kedua, pembangunan cottage diiringi dengan pembabatan seba-gian rumput, perdu, dan pohon ha-bitat asli,serta ditanamnya sejum-lah rumput, perdu, dan pohon yangbukan habitat asli TamanNa-sional Rondeau. Hasilnya, secara berangsur terjadi perubahan kom-posisi tanaman yang mengarah
pada kerusakan ekosistem berupa musnahnya sejumlah spesies turn-buhan dan hewan tertentu.
Ketiga, pembangunan cottage menuntut dibukanya jalur-jalur jalan bagi kendaraan bermotor. Keberadaan jalan di sekitar cotta-ge, selain meningkatkan polusi suara dan udara, juga menjadi an-caroan khusus bagi berbagai satwa di Taman Nasional Rondeau. Ra-tusan reptilia dan hewanchewan lain terbunuh lantaran terlindas kendaraan, terutama saat musim liburan di mana cottage-cottage itu ramai dikunjungi wisatawan yangberlibur.
Keempat, pembangunan cotta-ge yang diikuti dengan pemba-ngunan fasilitas lain, seperti lahan parkir, arena olahraga, dan rumah makan, telah mengubah struktur tanah dan pola resapan dan aliran air hujan yang mengakibatkan timbulnya erosi dan perubahan to-pografi alam, yang menjadikan kualitas lingkungan di sekitar Ta-man Nasional Rondeau makin ter-degradasi.
Perlu pertimbangan
Secara bisnis, rencana pemba-gunan cottage dan berbagai
fasili-tas lain di kawasan hutan Tangku-banparahu, sudah barang tentu, akan berdampak positif bagi jagat industri pariwisata Jabar. Namun, saya yakin, dampak ekologis dari pembangunan cottage dan fasili-tas lain di kawasan tersebut juga. akan muncul, cepat atau lambat.
Perlu pertimbangan dan perhi-tungan yang benar-benar matang dan saksama sebelum pemba-ngunan cottage dan fasilitas-fasili-tas wisata lain diwujudkan di ka-wasan GunungTangkubanparahu.
Apa yang meI;1impaTaman Na-sional Rondeau kiranya bisa men-jadi salah satu bahan pelajaran berharga bagi para pengambil ke-bijakan dan pemangku kepenting-an dalam soal renckepenting-ana pemba-ngunan di kawasan hutan Tangku-banparahu.
Menjaga lingkungan agar tetap lestari jauh lebih penting ketim-bang meraup keuntungan berli-pat-lipat, tetapi merusak alam yang akhirnya kelak mengundang bencana ekologis berkepanjang-an.
DJOKO SUBINARTO Penulis Lepas; Alumnus
Universitas Padjadjaran Bandung