MAKNA SELF-SILENCING PADA PEREMPUAN JAWA Beatriks Christma Antari
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagiamana makna self-silencing pada perempuan di Jawa yang menjunjung keharmonisan. Studi ini dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dengan enam informan berusia lebih dari 40 tahun menggunakan digital recorder, ditranskrip secara verbatim, untuk kemudian dilakukan analisis. Melalui interpretative phenomenological
analysis (IPA) hasil penelitian menunjukkan bahwa makna self-silencing pada perempuan di Jawa
adalah sebagai sarana penenangan diri, pengelolaan emosi, serta refleksi diri. Di samping itu bagi beberapa informan self-silencing dimaknai sebagai bentuk kemarahan. Alasan utama perempuan di Jawa memilih melakukan self-silencing adalah sebagai sarana menjunjung harmonisasi melalui nilai kerukunan dan kehormatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa bagi perempuan Jawa
self-silencing bukan hal yang depresif namun mengandung kekuatan.
THE MEANING OF SELF-SILENCING TO JAVANESE WOMEN Beatriks Christma Antari
Abstract
This study aims to explore the meaning of self-silencing in Javanese women who uphold harmony. This study was conducted by way of semi-structured interview to six informants older than forty years old, which was digitally recorded, transcribed verbatim, and finally analyzed. Through interpretative phenomenological analysis (IPA) the research findings show that self-silencing for Javanese women is a way of keeping their emotional balance and of managing emotion, and at the same time an occasion of reflection. For some other informants, self-silencing serves as a form of anger. The main reason for Javanese women doing self-self-silencing is to maintain harmony and keep respect for other people. This study shows that for Javanese women self-silencing is not depressive but has power.
i
MAKNA SELF-SILENCING PADA PEREMPUAN JAWA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi
Program Studi Psikologi
Oleh :
Beatriks Christma Antari
NIM: 119114122
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
ii
iv
MOTTO
“Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu
bukanlah perjalananku.”____Paul Theroux
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Kupersembahkan sebuah karya sederhana ini
bagi mereka yang memberiku nafas, semangat, dan inspirasi
kedua orang tuaku Agustinus Suyono dan Canisia Martini
kedua saudaraku tercinta
vii
MAKNA SELF-SILENCING PADA PEREMPUAN JAWA Beatriks Christma Antari
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagiamana makna self-silencing pada perempuan di Jawa yang menjunjung keharmonisan. Studi ini dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dengan enam informan berusia lebih dari 40 tahun menggunakan digital recorder, ditranskrip secara verbatim, untuk kemudian dilakukan analisis. Melalui interpretative phenomenological
analysis (IPA) hasil penelitian menunjukkan bahwa makna self-silencing pada perempuan di Jawa
adalah sebagai sarana penenangan diri, pengelolaan emosi, serta refleksi diri. Di samping itu bagi beberapa informan self-silencing dimaknai sebagai bentuk kemarahan. Alasan utama perempuan di Jawa memilih melakukan self-silencing adalah sebagai sarana menjunjung harmonisasi melalui nilai kerukunan dan kehormatan. Penelitian ini menunjukkan bahwa bagi perempuan Jawa
self-silencing bukan hal yang depresif namun mengandung kekuatan.
viii
THE MEANING OF SELF-SILENCING TO JAVANESE WOMEN Beatriks Christma Antari
Abstract
This study aims to explore the meaning of self-silencing in Javanese women who uphold harmony. This study was conducted by way of semi-structured interview to six informants older than forty years old, which was digitally recorded, transcribed verbatim, and finally analyzed. Through interpretative phenomenological analysis (IPA) the research findings show that self-silencing for Javanese women is a way of keeping their emotional balance and of managing emotion, and at the same time an occasion of reflection. For some other informants, self-silencing serves as a form of anger. The main reason for Javanese women doing self-self-silencing is to maintain harmony and keep respect for other people. This study shows that for Javanese women self-silencing is not depressive but has power.
x
KATA PENGANTAR
“Silence”. Sebuah kata yang mengusik hati ketika mendengarnya. Ketika
melihat seseorang memilih untuk diam penulis terusik untuk tahu apa yang ada
dibalik pilihannya tersebut. Sikap diam yang terlihat pasif terkadang
berkontradiksi dengan apa yang sebenarnya dikehendaki. Penulis juga melihat
bahwa budaya di masyarakat sangat kuat dalam membentuk sikap seseorang.
Dalam studi ini penulis berfokus pada budaya Jawa. Budaya Jawa yang
sangat menjunjung harmoni. Penulis melihat bahwa masyarakat Jawa akan
melakukan segala hal untuk menjaga harmonisasi yang ada di dalam masyarakat.
Salah satu cara yang dipilih adalah dengan sikap diam.
Ketertarikan penulis dengan fenomena tersebut coba penulis tuangkan
dalam karya sederhana ini. Melalui perspektif psikologi sosial dan budaya penulis
mencoba melihat bagaimana budaya di masyarakat memberikan sumbangna yang
begitu besar terhadap sikap seseorang. Melalui karya tulis ini semoga mampu
memberikan sumbangan pada disiplin ilmu psikologi sosial dan budaya terutama
kepada peminat dunia perempuan.
Secara khusus pada ruang ini penulis mengucapkan syukur kepada Tuhan
Yang Maha Kasih atas segala penyertaanNya selama pengerjaan karya tulis ini.
Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada pribadi-pribadi yang telah
mendukung, memberikan inspirasi dan menemani penulis selama penulisan karya
xi
1. Bapak YB. Cahyo Widyanto sebagai pembimbing skripsi. Penulis
mengucapkan terimakasih karena memberikan kesempatan penulis untuk
mengeksplorasi tanpa memberikan banyak batasan. Hal tersebut membuat
penulis mampu berdialog dengan karya sendiri. Terimaksih juga atas
sumbangan ide, tenaga, masukan, dan dukungan yang diberikan kepada
penulis sehingga penulis selalu mencoba yang terbaik.
2. Romo Gregorius Budi Subanar, SJ selaku pribadi yang luar biasa.
Terimakasih atas motivasi, dukungan, ide, dan pengetahuan yang membuat
penulis untuk belajar menjadi “biasa di luar”. Segala hal yang Romo
berikan mengajarkan penulis untuk belajar menjadi berani.
3. Seluruh perempuan-perempuan luar biasa yang menjadi informan di
tulisan ini. Ibu Tentrem, Ibu Yatmi, Ibu Dukuh, Ibu Pri, Ibu Titik, dan Ibu
Nur. Terimakasih atas setiap cerita dan pengalaman yang membantu
penulis untuk belajar dan berefleksi.
4. Keluargaku tercinta Bapak, Ibu, kakak dan adikku. Kalian adalah sumber
nafas, semangat dan inspirasi bagi penulis. Terimakasih atas cinta,
perhatian, dan dukungan yang luar biasa selama pengerjaan tulisan ini.
5. Clara Alverina Pramudita sahabat yang menemaniku dari awal kuliah
hingga di akhir kuliah ini. Sahabat yang selalu berjuang bersama baik suka
maupun duka. Terimakasih atas semua dukungan, motivasi, ide dan segala
hal yang telah kita lalui bersama.
6. Romo CB. Putranto, SJ yang menyempatkan waktunya demi membantu
xii
7. Agnes Listi yang mau membantu dalam penyelesaian tulisan ini.
Terimakasih atas waktunya membantu menyempurnakan tulisan ini.
8. Nugroho dan Oyen. Kalian adalah sosok-sosok yang memberikan
semangat dan dukungan bagi penulis. Terimakasih atas waktu dan
perhatian kalian selama pengerjaan tulisan ini.
9. Mbak Anne terimakasih atas waktu luang yang diberikan untuk
menyumbangkan ilmu editingnya dan berbagi pengalaman dengan penulis.
10.Parrasu Dyah Sitoresmi sahabat sejak di sekolah menengah pertama.
Terimakasih atas waktu, dukungan, dan bantuan yang sudah diberikan
kepada penulis. Semangat juga untuk tugas akhirmu.
11.Dekan dan Kaprodi Fakultas Psikologi Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.
Si. dan Ibu Ratri Sunar Astuti, M. Si., staff administrasi, staff laboratorium
Mas Muji yang sudah memberikan kelancaran dan kemudahan selama
penulis menyelesaikan pendidikan program sarjana Psikologi di
Universitas Sanata Dharma.
12. Teman-teman Fakultas Psikologi angkatan 2011 terimakasih semangat
dan dukungan yang saling diberikan satu sama lain untuk menyelesaikan
xiii
Akhirnya, penulis mengakui tulisan ini masih jauh dari sempurna karena
keterbatasan penulis. Maka, kepada semua pihak yang terkait, dengan penuh
kerendahan hati penulis menerima segala saran dan kritik yang diberikan kepada
penulis demi kepatutan tulisan ini.
Yogyakarta,4 Febuari 2016
xiv
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Halaman Persetujuan Dosen Pembimbing ... ii
Halaman Pengesahan ... iii
Halaman Motto... iv
Halaman Persembahan ... v
Halaman Pernyataan Keaslian Karya ... vi
Abstrak ... vii
Abstract ... viii
Halaman Persetujuan Publikasi Karya Ilmiah... ix
Kata Pengantar ... x
Daftar Isi... xiv
Daftar Lampiran ... xviii
Daftar Gambar ... xix
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Konteks ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 9
C. Tujuan Penelitian ... 9
D. Manfaat Penelitian ... 9
1. Manfaat teoritis ... 9
2. Manfaat praktis... 10
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11
xv
1. Pengertian Self-silencing ... 11
2. Dimensi-dimensi Self-silencing ... 13
3. Penelitian Self-silencing ... 15
4. Self-silencing dan budaya ... 17
B. Budaya Jawa... 20
C. Perempuan Jawa ... 22
1. Karakter Perempuan Jawa ... 22
2. Perempuan Jawa sebagai seorang istri ... 24
D. Self-silencing pada Perempuan Jawa ... 26
BAB III. METODE PENELITIAN... 30
A. Paradigma dan Pendekatan Penelitian ... 30
B. Fokus Penelitian ... 32
C. Prosedur Penelitian... 32
1. Informan ... 32
2. Metode pengambilan data ... 33
D. Analisis Data ... 33
1. Reading and re-reading ... 33
2. Initial noting ... 33
3. Developing emergent themes ... 34
4. Structualizing ... 34
E. Kualitas Penelitian ... 34
1. Sensitivity to context ... 34
xvi
3. Tranparency and coherence ... 35
4. Impact and importance ... 36
BAB IV. PELAKSANAAN PENELITIAN, ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 37
A. Pelaksanaa Penelitian ... 37
B. Hasil Penelitian ... 38
1. Tnt (64)... 39
2. Ytm (48) ... 40
3. Dkh (50) ... 41
4. Tp (44) ... 42
5. P (48) ... 44
6. N (44) ... 45
C. Analisis Data ... 47
1. Sikap mendiamkan ... 48
a. Diam sebagai sarana penenangan diri, pengelolaan emosi, dan refleksi diri... 48
b. Diam sebagai kemarahan ... 51
c. Diam untuk harmonisasi ... 53
2. Nilai-nilai budaya Jawa ... 55
a. Kerukunan ... 55
b. Kehormatan ... 57
D. Pembahasan ... 58
xvii
a. Sikap mendiamkan sebagai cara penenangan diri,
pengelolaan emosi, dan refleksi diri... 62
b. Sikap diam sebagai bentuk kemarahan ... 64
2. Sikap diam untuk harmonisasi ... 65
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 69
A. Kesimpulan ... 69
B. Saran ... 70
1. Bagi para peneliti ... 70
2. Bagi masyarakat umum terutama perempuan Jawa ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 71
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Interview Protocol ... 75
Lembar Persetujuan Informan 1 ... 76
Lembar Persetujuan Informan 2 ... 77
Lembar Persetujuan Informan 3 ... 78
Lembar Persetujuan Informan 4 ... 79
Lembar Persetujuan Informan 5 ... 80
Lembar Persetujuan Informan 6 ... 81
xix
DAFTAR GAMBAR
[image:21.595.98.497.193.609.2]Gambar 1. Skema Self-silencing ... 27
1
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini akan memaparkan konteks dalam penelitian ini, pertanyaan
penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Pada bagian konteks akan
menjelaskan tentang self-silencing dalam perempuan Jawa.
A. Konteks
“Diam adalah emas”. Barangkali memilih untuk diam terkadang menjadi
sebuah pilihan yang dirasa tepat dalam sebuah situasi tertentu. Situasi yang tidak
memungkinkan seseorang untuk melakukan perlawanan secara konfrontatif.
Meski hanya kepasifan yang dijadikan sebuah pilihan, namun di balik itu
menyimpan sebuah makna mendalam.
Setiap orang memiliki nilai yang mendorong dirinya dalam bersikap.
Begitu juga dengan sikap diam. Ketika seseorang memilih untuk diam terdapat
nilai yang diyakini. Nilai yang menuntunnya untuk memilih diam sebagai sebuah
pilihan yang tepat. Sebagai contoh Ibu N (44) memilih diam ketika dirinya
menghadapi anggota keluarganya yang mudah marah karena sedang sakit dan
merasa putus asa. Bagi Ibu N (44) diam menjadi salah satu alternatif yang tepat
daripada memecah kerukunan yang ada.
Nilai merupakan bagian di dalam sebuah budaya. Setiap budaya memiliki
nilai yang dijunjung. Begitu pula pada budaya Jawa. Budaya Jawa memiliki dua
nilai yang dijunjung dan diyakini oleh masyarakatnya, yaitu nilai kerukunan dan
kehormatan. “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah.” Sebuah pepatah Jawa
kuat, jangan saling bermusuhan. Pepatah tersebut menggambarkan prinsip nilai
masyarakat Jawa yang sangat menjunjung tinggi nilai kerukunan. Hal tersebut
sesuai penjelasan dari Suseno (1985) bahwa:
“ Oleh karena itu masyarakat Jawa telah mengembangkan norma-norma kelakuan yang diharapkan dapat mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisa menimbulkan konflik atau mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisa menimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampai emosi-emosi itu pecah secara terbuka.”
Prinsip lain yang dijunjung guna menjaga keselarasan pada masyarakat
Jawa adalah prinsip hormat. Bagi masyarakat Jawa menghormati orang lain
adalah hal yang utama. Setiap orang harus menghormati orang lain terutama pada
mereka yang dianggap memiliki kedudukan lebih tinggi.
“ Prinsip itu mengatakan bahwa setiap orang dalam cara bicara dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain, sesuai dengan derajat dan kedudukannya (Suseno,1985).”
Prinsip hormat ini dikembangkan oleh masyarakat Jawa mulai dari lingkup
terkecil dari masyarakat, yaitu keluarga. Di dalam keluarga sikap hormat sebagai
ajaran orangtua. “Kefasihan dalam mempergunakan sikap-sikap hormat yang tepat
dikembangkan pada orang Jawa sejak kecil melalui pendidikan dalam keluarga
(Suseno,1985).”
Satu hal yang ingin dijunjung melalui prinsip kerukunan dan kehormatan
adalah keharmonisan. Keharmonisan adalah hal yang menonjol di masyarakat
Jawa dalam relasi sosialnya. Setiap individu akan berusaha tetap menjaga
harmonisasi dalam masyarakat meski sikap yang ditunjukkan bukanlah sikap yang
“Suatu segi menarik dalam semua hubungan sosial Jawa ialah bahwa yang penting bukanlah kejujuran hubungan itu. Dan walaupun dalam banyak interaksi sosial kedua belah pihak menyadari betul-betul bahwa situasi yang sebenarnya antara mereka bukanlah sebagaimana nampak di permukaan, namun semua puas asal saja kesatuan pada permukaan tidak diganggu (Hidred Greetz dalam Suseno,1985).”
“Kanca wingking.” Sebuah istilah pada Bahasa Jawa yang sering
digunakan untuk menjelaskan kedudukan perempuan Jawa. Menurut Handayani
(2008), ada beberapa konsepsi paternalistik yang berkembang di dalam
masyarakat Jawa bahwa istri adalah kanca wingking. Hal tersebut dimaksudkan
bahwa budaya Jawa menganggap perempuan memiliki kedudukan rendah
dibandingkan dengan laki-laki.
Stereotype pada perempuan memberikan kontribusi bagi tindakannya.
Perempuan Jawa yang hidup dalam budaya Jawa yang menjunjung harmonisasi
dengan nilai kerukunan dan kehormatan. Apalagi perempuan Jawa yang dianggap
memiliki kedudukan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.
Sikap diam terkadang menjadi alternatif pilihan bagi perempuan Jawa.
Perempuan Jawa yang dianggap lebih rendah daripada laki-laki serta harus
menjaga harmonisasi menuntunnya untuk memilih sikap diam. Dalam
menghadapi konflik perempuan Jawa akan memilih untuk diam demi
mengendurkan konflik yang ada. Diam bukan karena kalah. Sikap diam demi
keselarasan hubungan.
Self-silencing merupakan sikap individu yang memilih untuk diam atau
memendam perasaan, pikiran, atau perilaku karena individu takut tidak sesuai
dengan harapan pasangannya. Individu yang tidak ingin dirinya melakukan
tindakan yang tidak sesuai dengan harapan orang lain akan memilih untuk
bersikap diam.
Self-silencing berhubungan dengan depresi. Individu yang tidak mampu
mengungkapkan pikiran serta perasaannya akan cenderung mudah mengalami
depresi terutama pada perempuan. Teori Silencing the self berdasarkan sebuah
penelitian longitudinal dari perempuan yang mengalami depresi yang
mendiskripsikan pengalaman mereka, termasuk pemahaman mereka mengenai hal
yang menuntun mereka untuk mengalami depresi. Perempuan menjelaskan
bagaimana mereka mulai untuk diam atau menekan pikiran, perasaan, dan aksi
mereka yang mereka pikir berlawanan dengan harapan pasangan mereka.
(Jack,2010).”
Perempuan yang mengalami depresi cenderung menghindari konflik untuk
menjaga relasi dan atau menjaga keamanan psikologis atau fisiknya. Perempuan
juga menyampaikan perasaan malu, keputusasaan, dan marah secara berlawanan.
Hal ini membuat perempuan merasa kehilangan rasa akan dirinya sendiri.
Pada laki-laki self-silencing tidak menyebabkan depresi. Hal ini berkaitan
dengan alasan yang mendorong sikap self-silencing berbeda antara laki-laki dan
perempuan. Pada laki self-silencing disebabkan oleh ketidakmampuan
laki-laki untuk mengekspresikan atau mengakui perasaan rasional atau emosional
untuk mengekspresikan diri karena adanya ketidak setaraan hubungan atau adanya
aturan moral bagi perempuan untuk selalu peduli dan tidak terluka (Gratch, Linda
Vaden, Margaret E. Bassett, dan Sharon L. Attra, 1995). Berdasarkan hal tersebut
maka pada perempuan self-silencing cenderung mengakibatkan depresi
dibandingkan pada laki-laki.
Setiap budaya memiliki gambaran ideal mengenai sosok perempuan yang
ideal. Hal tersebut menunjukkan adanya ketidaksetaraan antara kedudukan
laki-laki dan perempuan. Pemikiran mengenai gambaran ideal dari “wanita yang baik”
yang bervariasi di berbagai budaya, merupakan sebuah akar dasar pemikiran
bahwa perempuan dan laki-laki tidak sama dan perempuan masih
bertanggungjawab pada kualitas dari sebuah hubungan(Jack,2010).
Konsep perempuan sebagai seorang ibu yang baik terdapat pada budaya
Jerman. Tanja Zoellner dan Susanne Hedland dalam Jack (2010) mengatakan
adanya ekspektasi sosiokultural bahwa terdapat penempatan dan pemaksaan pada
perempuan, misalnya bagaimana nilai budaya Jerman mengenai perempuan yang
harus menjadi ibu yang sepenuhnya mengurusi anak setelah berkeluarga dapat
menjadi penyebab depresi.
Pengaruh budaya begitu besar terhadap perkembangan individu tersebut
secara psikologis. Setiap individu secara sadar maupun tidak sadar akan
menyesuaikan dirinya sesuai budaya di mana ia tinggal. Hal tersebut tentunya
akan mempengaruhi sikap individu yang berdampak pula pada perkembangan
psikologis individu. Simbol psikologi budaya telah menunjukkan bahwa konsep
persepsi, memori, alasan logis, agresi, pengasuhan anak, proses perkembangan
(seperti sebagai akuisisi bahasa), dan sakit mental (Ratner, 2002).
Adanya pengaruh budaya pada perkembangan individu tentunya juga
terjadi pada fenomena self-silencing. Penelitian-penelitian mengenai self-silencing
yang telah dilakukan menunjukkan bahwa self-silencing terjadi dikarenakan
pengaruh lingkungan seperti standar sosial, nilai, dan norma serta budaya
masyarakat. Salah satu contoh penelitian yang dilakukan oleh Frank, Jeremy, dan
Thomas Cherly D (2003) mengenai “Externalized Self-Perceptions,Self-Silencing,
and the Prediction of Eating Pathology” menemukan bahwa silencing the self dan
externalized self perception memiliki kontribusi pada gangguan makan. Hal ini
dikarenakan adanya persepsi bahwa perempuan harus memiliki bentuk tubuh dan
berat badan yang bagus atau ideal, di mana standar sosial menekankan tubuh yang
baik adalah tubuh yang kurus. Persepsi tersebut membuat perempuan cenderung
untuk membatasi ekspresi diri apabila tidak sesuai dengan standar eksternal yang
ada.
Penelitian-penelitian mengenai self-silencing selama ini cenderung melihat
silencing sebagai hal yang depresif. Dalam penelitian ini ingin melihat
self-silencing pada perempuan Jawa sebagai fenomena yang menarik dan menggejala.
Budaya Jawa yang menjunjung keharmonisan mendorong perempuan Jawa untuk
memilih diam dalam situasi tertentu. Hal ini disebabkan perempuan cenderung
kurang pantas apabila mengekspresikan emosinya. Oleh sebab itu, sikap diam
Segala hal negatif yang melekat pada perempuan Jawa tentu tidak
membuat perempuan Jawa benar-benar menjadi sosok yang lemah. Perempuan
Jawa tetap memiliki cara untuk memegang kekuasaan. Perempuan mencoba
mencapai kekuasaan melalui kepasifan dan ketenangan. Menurut Handayani
(2008),
“Kekuatan nilai budaya Jawa seakan menekannya untuk mampu menjaga harmoni dengan mengabdi dan menghargai laki-laki/suami. Mereka dengan jeli tetap mampu bersiasat untuk menghadapi (bahkan!) adat budi bahasa atau tata karma yang terkadang menjadi “jerat budaya” bagi hidup sosial masyarakat di mana mereka sendiri merupakan sebagian dari warganya. Mereka berusaha mengangkat sumber konflik dan mengembalikkan kepada yang berkuasa untuk “menjawab” sendiri. Sebuah aksi yang dilaksanakan masih dalam batas-batas pola perilaku urmat dalam konteks tata karma khas Jawa.”
Adanya prinsip bahwa yang terpenting adalah keselarasan hubungan,
menjadikan perempuan Jawa terkadang juga mengalami konflik di dalam diri.
Ketika sebenarnya di dalam sebuah masalah mereka ingin mencoba menampilkan
diri untuk mengekspresikan perasaan mereka secara terbuka namun mereka
dibatasi dengan nilai dan norma yang ada. Keterbatasan mereka tersebut membuat
perempuan Jawa terkadang memilih untuk diam. Diam yang berarti mereka
merasa akan menjadi “serba salah” jika bertindak terlalu frontal di depan publik.
Sikap diam tidak selamanya bentuk dari ketidakberdayaan. Sikap diam
bisa diartikan sebagai bentuk dari sebuah perlawanan. Sikap diam mampu menjadi
ekspresi perasaan marah seseorang. Salah satu contohnya adalah ketika diam
dilakukan sebagai cara untuk melakukan perlawanan dengan orang lain, terkadang
membuat orang lain menjadi frustasi. Hal ini terutama terjadi pada pasangan
who feels that a partner is freezing her or him out (Kenny, 2011).” Di dalam
rumah, diam dapat menjadikan seorang individu frustasi ketika merasa
pasangannya mendiamkan dirinya. “Silence in response to anger or abuse is not
always a sign that the silent person is weaker than the abusive individual (Kenny,
2011).” Diam dalam respon pada rasa marah atau kekerasan tidak selalu tanda
bahwa orang yang diam lebih lemah dibandingkan individu yang kasar.
Pada situasi yang berbeda sikap diam dijadikan cara untuk mampu
berdamai dengan diri sendiri dan orang lain. Perempuan Jawa yang mampu
menghadapi konflik dengan mengontrol nafsu dan egoisme menaklukkan dirinya
ke dalam. Menurut Handayani (2008),
“Oleh karena itu, ia harus mengontrol nafsu-nafsunya dan melepaskan pamrihnya. Mengontrol bukan berarti menghilangkan, melainkan lebih merupakan upaya untuk mengaturnya sampai pada tingkat tertentu sehingga tidak mengganggu harmoni sosial. Dengan kecenderungannya untuk memangku dan mengabdi secara total kepada keluarga berarti ia cenderung menaklukkan diri ke dalam, mengontrol nafsu dan pamrih.”
Ekspresi emosi akan berebeda-beda pada setiap budaya. Teori
neurocultural menjelaskan bahwa budaya mempengaruhi elemen yang
melingkupi emosi yang dapat diamati, tapi emosi itu sendiri tidak teramati.
Anggota masyarakat yang berbeda belajar untuk memiliki emosi yang berbeda
dalam situasi tertentu. Misalnya sebuah makanan dapat menghasilkan kesenangan
pada masyarakat tertentu namun dapat menghasilkan rasa jijik pada masyarakat
lain.
produces pleasure in one society can produce disgust in another
(José-Miguel,dkk,2003).”
Budaya membentuk seseorang dalam mengekspresikan emosinya terhadap
suatu hal. Termasuk ketika seseorang diam maka sikap tersebut merupakan
bentuk ekspresi yang dipengaruhi budaya dan lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti melihat bahwa fenomena self-silencing
pada budaya Jawa merupakan sebuah fenomena yang menarik. Perempuan Jawa
yang dianggap memiliki kedudukan lebih rendah dibandingkan laki-laki dan
memiliki stereotype sebagai sosok yang lemah memilih self-silencing sebagai cara
menjaga keselarasan hubungan. Dalam penelitian ini, peneliti mencoba melihat
self-silencing bukan sebagai suatu hal yang depresif. Peneliti ingin melihat
pemaknaan self-silencing pada perempuan Jawa yang hidup dengan nilai
keharmonisan. Sikap diam yang pada permukaannya terlihat sama namun dapat
dimaknai berbeda pada setiap individu.
B. Pertanyaan Penelitian
Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana pemaknaan self-silencing di
kalangan perempuan di Jawa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana pemaknaan
self-silencing di kalangan perempuan di Jawa.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoretis
Menambah khasanah ilmu psikologi, khususnya psikologi budaya dan
tertentu dan mempengaruhi perilaku serta kepribadian individu, terutama
perempuan. Begitu pula budaya Jawa yang memiliki nilai sehingga akan
mempengaruhi individu dalam memaknai sikap self-silencing yang dipilihnya.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan paparan mengenai
nilai-nilai yang ada di dalam budaya Jawa. Selain itu, semoga melalui penelitian ini
perempuan Jawa terutama para informan mampu merefleksikan segala
pengalaman yang telah dilalui dan memaknai segala sikap yang telah diambil
terutama sikap diam sebagai self-silencing sehingga mampu menjadi strategi
dalam menghadapi budaya Jawa.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa budaya sangat
menentukan perilaku seseorang. Hal tersebut juga terjadi pada fenomena
self-silencing. Perbedaan nilai budaya secara khusus menetukan perbedaan tindakan
dan sikap. Demikian self-silencing di kalangan perempuan Jawa juga memiliki
kekhasan menurut budaya Jawa. Sikap diam yang terlihat sama namun sebenarnya
memiliki makna yang berbeda. Hal tersebut yang mendasari pertanyaan dalam
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini akan memaparkan tinjauan teoritis mengenai self-silencing, budaya
Jawa, perempuan Jawa serta silencing pada perempuan Jawa. Pada
self-silencing akan dijelaskan mengenai definisi, dimensi-dimensi self-self-silencing serta
penelitian-penelitian mengenai self-silencing yang pernah dilakukan. Selanjutnya
akan dijelaskan mengenai prinsip-prinsip yang ada pada budaya Jawa. Kemudian
dijelaskan pula mengenai perempuan Jawa. Pada bagian akhir dijelaskan
bagaimana dinamika antara self-silencing pada perempuan Jawa.
A.Self-silencing 1. Pengertian Self-silencing
Konsep self-silencing diambil dari penelitian yang dilakukan oleh Dana
Jack. Teori Silencing the Self berdasarkan penelitian longitudinal dari perempuan
yang mengalami depresi yang mendiskripsikan pengalaman mereka, termasuk
pemahaman mereka mengenai hal yang menuntun mereka untuk mengalami
depresi. Perempuan menjelaskan bagaimana mereka mulai untuk diam atau
menekan pikiran, perasaan, dan aksi mereka yang mereka pikir berlawanan
dengan harapan pasangan mereka. Mereka juga menghindari konflik, untuk
menjaga relasi, dan atau untuk menjaga keamanan psikologis atau fisik mereka.
Mereka mendeskripsikan bagaimana mereka diam membuat mereka kehilangan
diri dan rasa menjadi diri sendiri. Selain itu, mereka kadang juga menunjukkan
perasaan malu, putus asa, dan marah secara berlawanan pada orang lain
Jack dalam Ussher, Jane M. dan Janette Perz (2006), mendiskripsikan
pembagian sebagai “dinamika inti depresi perempuan”, berdasarkan pada
kepercayaan perempuan bahwa mereka tidak dicintai apa adanya mereka, tetapi
seberapa baik mereka mengetahui kebutuhan orang lain, sehingga
menyembunyikan dorongan dan perasaan dan menggunakan standar eksternal
untuk menilai diri yang membuat mereka merasa bersalah dan putus asa.
Menurut Jack dalam DeMarco, Rosanna F dan Latrona R. Lanier (2014),
self-silencing ditentukan oleh norma-norma heteroseksual, nilai-nilai dan
gambaran-gambaran mengenai bagaimana perempuan “seharusnya”. Perempuan
merasa dirinya harus memenuhi nilai-nilai dan gambaran-gambaran sosial dan
budaya yang didominasi oleh laki-laki.
Seseorang yang memilih untuk melakukan self-silencing akan cenderung
tidak mengekspresikan perasaan marah mereka. Seperti yang dijelaskan Jack
dalam Besser, Avi, Gordon L. Flett, dan Richard A. Davis (2003), “The
unwillingness or inability to express anger is a central characteristic of women
who engage in self-silencing.” Selain itu, menurut Lerner, Hertzog, and Hooker
dalam Frank, Jeremy, dan Thomas Cherly D (2003), mengatakan bahwa
self-silencing sering muncul dari internalisasi perasaan marah, sebagai seorang
perempuan dan mereka belajar bahwa ekspresi kemarahan akan dinilai oleh orang
lain sebagai hal yang tidak pantas dan adanya tendensi untuk mendorong orang
lain menjauh.
Jack dan Dill dalam Locker, Taylor K,dkk (2012), berpendapat bahwa
meminimalkan emosi, keadaan mental atau kebutuhan fisik mereka untuk
mengikuti harapan orang lain. Dengan melibatkan hal ini ke dalam bentuk dari
self-denial, para pelaku self-silencing mungkin percaya bahwa mereka memenuhi
aspek penting dari menjadi teman yang “baik” atau pasangan yang “baik”,
barangkali dengan ekspektasi bahwa self-silencing akan membuat seseorang
memperoleh relasi yang penting.
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat dilihat bahwa
self-silencing merupakan sikap individu yang diam atau menekan perasaan, pikiran,
dan sikapnya yang dirasa berlawanan dengan harapan orang lain untuk menjaga
relasi mereka dengan orang lain. Self-silencing juga mendorong seorang
perempuan untuk menjadi depresi karena dirinya merasa tidak berdaya dengan
standar-standar eksternal yang ada sehingga tidak mampu mengekspresikan
dirinya.
2. Dimensi-dimensi Self-silencing
Jack merancang sebuah skala untuk mengukur self-silencing. Skala ini
digunakan untuk mengukur wanita yang mengalami depresi. Untuk mengukur
self-silencing, Jack membuat Silencing the Self Scale, terdiri dari 31 item. STSS
merefleksikan komponen yang berelasi dengan skema yang dipakai oleh
perempuan depresi. Pernyataan-pernyataan yang dibandingkan dengan skala
secara langsung berasal dari narasi wanita yang mengalami depresi klinis, namun
yang netral gender (Jack, 2010).
Terdapat empat subskala yang digunakan untuk merefleksikan dinamika
1. Externalized self-perception, yaitu menilai diri dari standar eksternal.
2. Care as self-sacrifice, yaitu mengamankan cinta dengan meletakkan
kebutuhan orang lain sebelum kebutuhan diri sendiri.
3. Silencing the self, yaitu menghambat salah satu ekspresi dari diri dan tindakan
untuk menghindari konflik dan kemungkinan kehilangan relasi.
4. The divided self, yaitu pengalaman menampilkan diri yang selalu terlihat patuh
untuk memenuhi aturan feminisme sementara di dalam batin sebenarnya
tumbuh kemarahan dan rasa bermusuhan.
Jack dan Dill (1992) mengatakan bahwa subskala yang pertama
merupakan standar yang digunakan untuk penilaian diri yang negatif, subskala
kedua dan ketiga mengukur skema yang mengatur perilaku hubungan
interpersonal, dan subskala keempat merefleksikan fenomena dari depresi.
Berdasarkan empat skema kognitif tersebut, perempuan percaya bahwa
mengekspresikan diri merupakan hal yang tidak dapat diterima oleh pasangan
mereka. Perempuan melakukan self-silencing agar mampu mempertahankan
relasinya (Jacobs, Robin J. dan Barbara Thomlison, 2009).
Penelitian lain yang dilakukan oleh Ross dan Wade dalam
mendeskripsikan self-silencing sebagai sebuah skema interpersonal yang terdiri
dari empat aspek, yaitu (1) penekanan emosi, (2) penilaian diri berdasarkan
hal-hal eksternal, (3) perasaan tidak aman dalam hubungan terhadap orang lain yang
seharusnya menyangkal kebutuhan dirinya, dan (4) menunjukkan sikap peduli,
Skala Silencing the Self di validasi dengan tiga kelompok perempuan
dalam pengaturan radikal yang berbeda, yaitu mahasiswa perempuan, ibu-ibu
yang menyalahgunakan obat-obatan dan sedang merawat anak-anak, serta pada
sebuah kelompok penampungan perempuan korban kekerasan. Hasilnya skor
STSS tidak hanya berkorelasi dengan Beck Depression Inventory tapi juga STSS
memiliki variasi dengan konteks yang diprediksi (Jack, 2010).
Setiap kelompok partisipan memiliki perbedaan secara signifikan, dengan
self-silencing tertinggi pada perempuan yang tinggal di kelompok penampungan
kekerasan, tertinggi kedua adalah perempuan yang menggunakan obat-obat
terlarang, dan paling rendah adalah mahasiswa perempuan (Jack, 2010).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dilihat bahwa dimensi-dimensi dalam
self-silenicng adalah externalized self-perception, care as self-sacrifice, silencing
the self, dan the divided self. Dimensi-dimensi tersebut melihat bagaimana
seseorang menilai dirinya berdasarkan standar eksternal, hubungan
interpersonalnya, dan bagaimana merefleksikan fenomena depresi. Empat dimensi
tersebut dilihat dari Silencing The Self Scale (STSS) yang digunakan untuk
mengukur self-silencing.
3. Penelitian Self-silencing
Penelitian mengenai self-silencing saat ini sudah mulai banyak dilakukan.
Beberapa penelitian mengkaitkan self-silencing pada variabel yang berkaitan
dengan sakit fisik. Variabel-variabel tersebut seperti gangguan makan,
premenstrual syndrome, kanker, dan HIV/AIDS terhadap depresi. Ketika
maka mereka akan cenderung mengalami depresi yang memicu munculnya sikap
self-silencing. Sikap self-silencing juga dapat muncul ketika seseorang mencoba
memenuhi standar eksternal, misalnya memenuhi standar “perempuan yang baik”.
Penelitian yang dilakukan oleh Frank, Jeremy, dan Thomas Cherly D
(2003), mengenai “Externalized Self-Perceptions, Self-Silencing, and the
Prediction of Eating Pathology” menemukan bahwa silencing the self dan
externalized self perception memiliki kontribusi pada gangguan makan. Hal ini
dikarenakan adanya persepsi bahwa perempuan harus memiliki bentuk tubuh dan
berat badan yang bagus atau ideal, di mana standar sosial menenkankan tubuh
yang baik adalah tubuh yang kurus.
Dalam penelitian lain, ditemukan adanya hubungan yang kuat antara
self-silencing dengan aspek-aspek dari gangguan makan baik pada laki-laki maupun
perempuan, dimana pengukuran dilakukan dengan STSS (Silencing the Self Scale)
dan EDI (Eating Disorders Inventory) (Locker, Taylor K, dkk, 2012). Dalam
penelitian tersebut dilihat bahwa penyebab dari gangguan makan adalah pengaruh
negatif, adanya ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh, dan tekanan sosiokultural.
Selain gangguan makan, self-silencing juga dapat terjadi pada perempuan
yang mengalami premenstrual syndrome (PMS). Perempuan yang mengalami
premenstrual syndrome biasanya mengalami perubahan emosi, di mana menjadi
lebih mudah marah. Selain itu, perempuan dengan premenstrual syndrome lebih
sensitif dan mudah jengkel. Penelitian yang dilakukan oleh Perz , Janette dan Jane
M. Ussher (2006) mengasosiasikan premenstrual syndrome dengan feminitas
mengorbankan diri dalam konteks berelasi. Hasilnya, menurut data kuantitatif
silencing berelasi dengan pengalaman PMS, di mana externalized
self-perception, silencing the self, dan divided self memiliki relasi yang signifikan
dengan distress. Sedangkan, externalized self-perception, divided self dan care as
self-sacrifice berelasi secara signifikan dengan coping seseorang yang mengalami
PMS.
Self-silencing dapat muncul dari masa remaja. Pada masa remaja
seseorang mulai menyadari mengenai gambaran tentang dirinya. Selain itu, pada
masa remaja seseorang akan menyadari adanya beberapa tekanan sosial yang ada.
Hal tersebut seperti yang dijelaskan Spinazzola dalam Shouse, Sarah. H, dan
Johanna Nilsson (2011), “…suggested that the process of self-silencing begins in
adolescence, a time when body image and social pressures become prevalent.”
Berdasarkan penelitian-penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa
Self-Silencing dapat muncul pada perempuan yang cenderung mengalami tekanan dari
lingkungan yang menyebabkan seorang perempuan menagalami sakit fisik atau
mental. Tekanan dari lingkungan ini dapat berupa keharusan bahwa perempuan
harus memiliki karakter sebagai perempuan yang “baik” dan dapat mengontrol
diri mereka.
4. Self-Silencing dan Budaya
Self-silencing erat kaitannya dengan budaya. Seperti yang dijelaskan Jack
and Dill bahwa self-silencing merupakan skema kognitif tertentu yang berasal dari
budaya bukan merupakan ciri-ciri kepribadian, “explicitly identify selfsilencing as
trait,” (Harper, Melinda S. dan Deborah P. Welsh, 2007). Beberapa penelitian di
beberapa negara juga menunjukkan bahwa budaya menjadi penentu dari
self-silencing. Standar setiap budaya mengenai konsep sebagai seorang perempuan
yang ideal mendorong perempuan untuk melakukan self-silencing.
Penelitian yang dilakukan oleh Witte, Tricia H. dan Martin F. Sherman
(2002) menjelaskan bahwa self-silencing tidak didukung oleh nilai-nilai feminis
melainkan merupakan penolakan dari nilai-nilai tradisional. Self-silencing
merupakan salah satu cara untuk berdaptasi dengan nilai-nilai tradisional yang ada
di lingkungannya.
Di negara Jerman menjadi ibu yang baik adalah ibu yang mampu
memprioritaskan keluarga. Perempuan mengalami kesulitan mengkombinasikan
antara membesarkan anak dengan bekerja. Hal tersebut mendorong perempuan
untuk mengalami self-silencing. Mereka memilih untuk menomorduakan karir
mereka demi menuruti tuntutan sosial.
“This is also a sign of women’s self-silencing: They begin by putting
their occupational interests second in order to comply with implicit societal demands regarding their role in the family (Zoellner, Tanja,
dan Susanne Hedlund dalam Jack, Dana dan Alisha Ali,2010).”
Pada budaya kolektifis pun perempuan mengalami self-silencing. Misalnya
di Nepal menjadi perempuan yang baik terutama perempuan yang menikah adalah
perempuan dengan karakter yang pekerja keras, setia, mengabdikan diri
sepenuhnya pada suami, dan fokus menjaga harmoni keluarga. Apalagi
perempuan di Nepal yang sudah menikah mereka akan tinggal bersama keluarga
suaminya. Seorang istri menjadi orang yang harus melayani segala anggota
perempuan untuk mengalami self-silencing. Self-silencing dan self-sacrificing
berpadu dengan budaya untuk menjadi perempuan yang baik. ”Thus, self-silencing
and self-sacrificing harmonize with cultural prescriptions for being a ‘‘good
woman” (Jack, Dana, Bindu Pokharel, dan Usha Subba dalam Jack, Dana dan
Alisha Ali, 2010).”
Berdasarkan penelitian-penelitian di budaya kolektifis menunjukkan
bahwa self-silencing berkaitan dengan depresi dimana berbeda dengan budaya
individual. Selain itu, faktor sosial seperti kasta, peraturan pernikahan, dan
pendidikan memiliki kaitan yang kuat terhadap self-silencing dan depresi terutama
di Nepal. Di Nepal, self-silencing menjadi mediator antara kejadian sosial yang
tidak menyenangkan dan depresi.
“In addition, social factors such as caste, arranged marriage, and
education may strongly affect self-silencing and depression within these cultures. The Nepal studies lay the groundwork for such further research, including an examination of the role of self-silencing as a mediator between adverse social events and depression (Jack, Dana, Bindu Pokharel, dan Usha Subba dalam
Jack, Dana dan Alisha Ali, 2010).”
Self-silencing akan berbeda di setiap budaya. Setiap budaya akan
membentuk persepsi, emosi dan perilaku yang berbeda pula pada individu.
Konteks sosial yang spesifik, politik, perubahan ekonomi, aturan gender dan
status perempuan berhubungan dengan dimensi self-silencing termasuk dampak
dari self-silencing yang berubah-ubah di setiap budaya.
“This research therefore points to the need for further investigation regarding how specific social contexts, political and economic changes, gender roles, and status of women relate to the dimensions of self-silencing, including how the consequences of self-silencing might vary across cultures (Drat-Ruszczak, Krystyna
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa self-silencing sangat
ditentukan oleh budaya. Budaya memiliki peran penting terutama adanya
standar-standar eksternal yang ada di dalam budaya. Begitu juga standar-standar mengenai “good
women” yang mendorong perempuan untuk melakukan self-silencing.
B. Budaya Jawa
Masyarakat Jawa merupakan masyarakat yang lahir dan besar di tanah
Jawa. Mereka dalam kesehariannya menggunakan bahasa Jawa. Seperti
penjelasan Franz Magnis Suseno (1985), “yang disebut orang Jawa adalah orang
yang bahasa ibunya adalah bahasa Jawa yang sebenarnya itu. Jadi orang Jawa
adalah penduduk asli bagian tengah dan timur Pulau Jawa yang berbahasa Jawa.”
Setiap budaya pasti memiliki nilai-nilai yang dijunjung tinggi. Pada
budaya Jawa nilai yang dijunjung adalah nilai keharmonisan. Masyarakat Jawa
sangat menjunjung tinggi keharmonisan hubungan dengan orang lain. Upaya
untuk menjaga keharmonisan tersebut diwujudkan oleh masyarakat Jawa melalui
dua prinsip hidup, yaitu kerukunan dan kehormatan.
Kehidupan masyarakat Jawa yang kolektif membuat mereka cenderung
menjunjung kerjasama. Hubungan interpersonal yang dijalin selalu menghindari
munculnya ketegangan atau konflik. Keadaan rukun terdapat di mana semua pihak
berada dalam keadaan damai satu sama lain, suka bekerja sama, saling menerima,
dalam suasana tenang dan sepakat (Suseno, 1985).
Tujuan utama dari kerukunan adalah agar terciptanya keharmonisan
hubungan. Seperti yang dikatakan Handayani (2010), tujuan utamanya adalah
berdamai satu sama lain. Melalui tujuan ini, masyarakat Jawa memiliki seni
kontrol diri agar emosi-emosi agresif yang dirasakan dapat dikontrol sehingga
tidak menimbulkan konflik. Suseno (1985) mengatakan:
“…oleh karena itu masyarakat Jawa telah mengembangkan norma-norma kelakuan yang diharapkan dapat mencegah terjadinya emosi-emosi yang bisa menimbulkan konflik atau sekurang-kurangnya dapat mencegah jangan sampai emosi-emosi itu pecah secara terbuka.”
Sedangkan dalam prinsip hormat, menekankan pola interaksi dalam
kehidupan masyarakat Jawa. Menurut Suseno (1985) setiap orang dalam bicara
dan membawa diri selalu harus menunjukkan sikap hormat terhadap orang lain,
sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Pada mereka yang berkedudukan lebih
tinggi seseorang harus bersikap hormat, terutama dalam masyarakat Jawa ketika
berbicara menggunakan bahasa Jawa “krama”. Sedangkan pada orang yang lebih
muda orang bersikap hormat dengan menunjukkan sikap kebapaan atau keibuan
serta rasa tanggung jawab.
Kedua prinsip di atas, yaitu kerukunan dan hormat saling berhubungan.
Keduanya sama-sama menuntut adanya pengendalian diri. Setiap individu
diharapkan tidak memunculkan konflik yang mampu mengganggu keharmonisan
hubungan interpersonal.
“Prinsip kerukunan dan hormat menuntut agar saya selalu menguasai perasaan-perasaan dan napsu-napsu saya dan agar saya bersedia untuk menomorduakan kepentingan-kepentingan saya pribadi terhadap pertahanan keselarasan masyarakat (Suseno,1985).”
Bahkan dalam prakteknya, nilai bahwa menjunjung keharmonisan dan
masyarakat Jawa. Tradisi seperti “sungkeman” dalam upacara perkawninan di
Jawa merupakan wujud hormat yang diberikan oleh anak kepada orangtua
mereka.
“Sungkeman: suatu kewajiban moral tradisional bagi pasangan pengantin dalam mana, dengan gerakan-gerakan tertentu, mereka secara fisik memperlihatkan hormat mereka, lahir batin, kepada para orangtua dan sesepuh mereka (Pemberton, 2003).”
Selain itu, demi menjaga keamanan atau keharmonisan beberapa tradisi
yang dianggap dapat memunculkan konflik coba digusur. Seperti tradisi “upacara
rebutan” yang dianggap mampu memunculkan konflik dan mengganggu
keamanan. Seperti yang diungkapkan Pemberton (2003):
“Sejak akhir zaman kolonial dan seterusnya, selagi kerangka kerja diskursif yang akan memberikan identitas yang tegas-tegas “tradisional” kepada sosok “Jawa” mulai muncul, acara-acara rebutan semakin terpinggirkan; dilarang begitu saja atau diam-diam tidak dilakukan lagi demi slamet karena khawatir akan merupakan ancaman terhadap keamanan.”
Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa masyarakat Jawa sangat
menjunjung keharmonisan dan keselarasan hubungan. Hal paling utama bagi
mereka adalah keadaan aman untuk semua orang. Meski sebenarnya di dalam hati
setiap orang memiliki pikiran tersendiri. Asalkan tidak menimbulkan konflik
dengan orang lain serta mengganggu keamanan bersama.
C. Perempuan Jawa 1. Karakter Perempuan Jawa
Perempuan Jawa yang sejak lahir tinggal di tanah Jawa dan kedua
orangtuanya adalah masyarakat Jawa maka secara tidak langsung dalam
dari orangtua maupun lingkungannya. Maka, dalam kehidupan sehari-harinya
perempuan Jawa yang demikian akan cenderung menggunakan bahasa Jawa dan
beraktivitas sebagai perempuan tradisional.
Pada masyarakat Jawa, terdapat konsepsi bahwa perempuan merupakan
kanca wingking (teman di belakang). Selain itu, menurut Handayani (2008),
karakter wanita Jawa sangat identik dengan kultur Jawa, seperti bertutur kata
halus, tenang, diam/kalem, tidak suka konflik, mementingkan harmoni, menjujung
tinggi nilai keluarga, mampu mengerti dan memahami orang lain, sopan,
pengendalian diri tinggi/terkontrol, daya tahan untuk menderita tinggi, memegang
peranan secara ekonomi, dan setia/loyalitas tinggi. Selain karakter-karekter
tersebut, menurut Handayani (2008) wanita Jawa mampu menerima segala situasi
bahkan yang terpahit sekalipun. Mereka pintar memendam penderitaan terpahit
dan pintar pula memaknainya. Mereka kuat dan tahan menderita.
Serat Cendrarini juga menjelaskan mengenai perempuan Jawa di mana
dirinci dalam sembilan butir, yaitu setia pada lelaki, rela dimadu, mencintai
sesama, trampil pada pekerjaan wanita, pandai berdandan, dan merawat diri,
sederhana, pandai melayani kehendak laki-laki, menaruh perhatian pada mertua,
dan gemar membaca buku-buku yang berisi nasihat (Murniati, 1992).
Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat dilihat bahwa karakter
perempuan Jawa digambarkan sebagai sosok yang lemah serta memiliki
kedudukan lebih rendah dibandingkan laki-laki. Perempuan Jawa juga memiliki
karakter yang menunjukkan kekuatannya yaitu sebagai sosok yang sopan, tenang,
2. Perempuan Jawa sebagai Seorang Istri
Sebagai seorang perempuan terutama dalam melihat perempuan Jawa
secara menyeluruh perlu pula melihat peranan perempuan sebagai seorang istri.
Bahkan dalam budaya Jawa memiliki semboyan bagi perempuan bahwa mereka
harus mampu untuk macak, masak, manak. Perempuan Jawa yang tidak bisa
melakukan tiga hal tersebut dianggap tidak ada nilainya baik di dalam keluarga
maupun masyarakat. Berdasarkan hal tersebut tentu perlu dilihat peranan
perempuan Jawa terutama peranan sebagai seorang istri dan sekaligus peranan di
dalam keluarga atau sebagai seorang ibu.
“Wanita harus pandai macak, masak, manak. Bila tiga hal ini gagal dijalankan, ia dianggap tidak ada nilainya lagi baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat. Wanita yang tidak bisa masak atau mempunyai anak, dianggap “aneh” dan bahkan dianggap membawa aib keluarga (Warto dalam Abdullah, 2003).”
Berkaitan dengan dengan prinsip hormat maka sebisa mungkin perempuan
Jawa tidak tampil dalam sektor publik karena secara normatif istri tidak boleh
melebihi suami. Perempuan Jawa memiliki kedudukan yang lebih rendah dari
laki-laki sehingga sebisa mungkin selalu menghormati suaminya dan
menempatkan suami begitu tinggi.
Menurut Geertz (1983), wanita mempunyai bidang yang luas untuk
bergerak di dalam lingkungan kerumahtanggaan. Wanita mengendalikan semua
putus terhadap sebagian besar masalah. Wanita mengendalikan semua keuangan
keluarga, dan meskipun diberikannya penghormatan formal kepada sang suami
serta dalam soal-soal besar selalu mendengar pertimbangannya, biasanya
Selain itu, pada umumnya perempuan Jawa, dibandingkan dengan
laki-lakinya, lebih banyak terlibat di dalam masalah sosial dan ekonomi keluarga,
sehingga jarang melampaui batas-batas persuami-istrian. Mereka bersikap toleran
terhadap sikap suami yang serba seenaknya karena dalam anggapannya orang
laki-laki secara alamiah memang tak bertanggung jawab (Geertz, 1983).
Secara emosi, perempuan Jawa tidak terlibat benar-benar secara emosional
dalam hubungan suami istri. Menurut Geertz (1983), “cinta” bagi wanita adalah
soal perangai lahiriah dan kepura-puraan, memang benar-benar dianggap sebagai
cara yang baik untuk menghadapi keadaaan tertentu yang menyusahkan, dan yang
merupakan syarat dalam hal menghadapi tingkah laku suami. Penolakan untuk
pelibatan emosional ini jelas merupakan ciri khas hubungan persuami istrian pada
kebanyakan orang Jawa.
Pada masyarakat Jawa, peranan perempuan sebagai seorang ibu sangatlah
penting. Menurut Handayani (2008), sebagai simbol moralitas, sosok ibu dalam
kultur Jawa memiliki posisi yang sangat penting sekaligus dipandang sebagai
pusat rumah yang selalu dipercaya. Sosok ibu memegang peranan dalam mengatur
masalah perekonomian keluarga, mengatur moralitas keluarga dan merawat serta
melindungi keluarganya.
Jadi, perempuan Jawa sebagai seorang istri memiliki kedudukan yang
lebih rendah daripada suami. Perempuan Jawa lebih memilih untuk mengalah
dengan suaminya dan tidak terlibat secara emosional dengan suami untuk menjaga
relasinya dengan suami. Meskipun begitu, perempuan Jawa memiliki peranan
peranan penting dalam hal mengatur keuangan keluarga, mengatur moralitas
keluarga dan merawat serta melindungi keluarga.
D. Self-silencing pada perempuan Jawa
Self-silencing merupakan sikap individu yang dilakukan untuk menjaga
hubungan interpersonalnya dengan orang lain atau pasangannya. Self-silencing ini
juga dapat muncul pada diri seseorang apabila seorang mendapat tekanan dari
lingkungan berupa stereotipe yang muncul di masyarakat. Tekanan seperti harus
menjadi perempuan yang “baik”, ibu yang “baik”, ataupun istri yang “baik”
menjadi salah satu faktor pemicu munculnya self-silencing.
Pada studi ini, berfokus pada perempuan Jawa yang hidup di lingkungan
masyarakat Jawa. Perempuan Jawa yang lahir dan besar di tanah Jawa. Selain itu,
perempuan Jawa yang kedua orangtuanya juga merupakan bagian dari masyarakat
Jawa. Di mana nilai-nilai, norma, dan kebudayaan Jawa secara tidak langsung
mempengaruhi perempuan Jawa. Nilai-nilai Jawa yang selalu mendorong
seseorang bersikap baik terhadap orang lain dan menjaga relasi dengan orang lain
menjadi pemicu munculnya self-silencing. Menurut Handayani (2008), secara
psikologis, individu Jawa akan selalu berada di bawah tekanan terus menerus
untuk mengontrol dorongan-dorongan spontannya, menyesuaikan diri dengan
berbagai otoritas, serta selalu memperhatikan kedudukan dan pangkat setiap
pihak.
Menurut Soedarsono (1986), kepribadian wanita Jawa akan tercermin
dalam sistem sosialnya, yaitu bersifat konform atau berusaha menyesuaikan diri
lingkungannya, meskipun tindakan-tindakan tersebut tidak selalu sesuai dengan
keinginannya. Pembentukan kepribadian tersebut diperoleh dalam proses
sosialisai dan enkulturasi. Sikap perempuan Jawa tersebut memicu timbulnya
sikap self-silencing di mana perempuan Jawa menekan perasaan, pikiran dan
perilakunya agar sesuai dengan harapan orang lain.
Maka pada studi ini, ingin melihat bagaimana perempuan Jawa yang hidup
di masyarakat Jawa memaknai nilai-nilai Jawa yang secara tidak langsung
memberikan tekanan pada perempuan Jawa untuk mampu mengontrol dirinya,
selalu menghormati suami dan siap mengorbankan kebutuhannya demi
mendahulukan kebutuhan orang lain terutama suami dan anak-anaknya. Tekanan
dari nilai Jawa yang membuat perempuan Jawa mengalami self-silencing sebagai
cara untuk melakukan perlawanan terhadap orang lain. Diam sebagai ekspresi
ketidak perdulian terhadap apa yang terjadi. Bahkan diam mampu menjadi
kekuatan dari perempuan Jawa ketika mereka mampu menjadikannya sebagai cara
berdamai dengan diri sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka dilihat bagaimana
[image:48.595.98.518.234.682.2]perempuan Jawa memaknai self-silencing.
Gambar 1. Skema Self-silencing
Self- silencing:
- Depresi - Perlawanan - Berdamai
dengan diri
Perempuan Jawa Nilai Jawa:
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa self-silencing
merupakan sikap individu yang diam atau menekan perasaan, pikiran, dan
sikapnya yang dirasa berlawanan dengan harapan orang lain untuk menjaga relasi
mereka dengan orang lain. Self-silencing memiliki empat dimensi yaitu
externalized self-perception, care as self-sacrifice, silencing the self, the divided
self. Penelitian-penelitian mengenai self-silencing di beberapa negara
menunjukkan bahwa self-silencing dipengaruhi oleh budaya di dalam masyarakat.
Budaya Jawa sangat menjunjung keharmonisan. Dua prinsip yang
dijunjung demi menjaga keharmonisan di dalam masyarakat adalah prinsip
kerukunan dan prinsip kehormatan.
Perempuan Jawa dikonstruksikan sebagai sosok perempuan yang halus,
tenang, diam atau kalem, tidak suka konflik, mementingkan harmoni dan
menjunjung tinggi nilai keluarga. Perempuan Jawa juga mampu menerima segala
situasi dan pintar memendam penderitaan terpahit serta pintar pula memaknainya.
Perempuan sebagai seorang istri dianggap sebagai kanca wingking, yang berarti
memiliki kedudukan lebih rendah daripada laki-laki. Di balik anggapan tersebut
perempuan Jawa memiliki peranan yang sangat penting di dalam keluarga
terutama dalam mengatur keluarga.
Sesuai penjelasan mengenai self-silencing, prinsip-prinsip budaya Jawa,
serta penjelesan mengenai perempuan Jawa maka penelitian ini ingin melihat
bagaimana makna self-silencing pada perempuan Jawa. Perempuan Jawa dengan
Jawa yang hidup dalam budaya Jawa yang menjunjung nilai keharmonisannya.
30
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini akan menjelaskan tentang bagaimana pertanyaan penelitian
dijawab melalui penelitian. Selanjutnya akan dijelaskan fokus penelitian serta
informan pada penelitian ini. Kemudian pada bagian akhir dijelaskan teknik
analisis data yang digunakan serta kualitas penelitian.
A. Paradigma dan Pendekatan Penelitian
Self-silencing merupakan sebuah konsep dari Dana Jack pada perempuan
depresi. Definisi self-silencing yang mengacu pada sikap diam seseorang
dikarenakan menjaga relasi dengan orang lain membuat peneliti ingin melihat
secara lebih jauh. Rasa keingintahuan peneliti terkhusus pada sikap diam yang
juga peneliti temui di budaya Jawa.
Peneliti melihat bahwa pada budaya Jawa seseorang cenderung untuk
memilih diam meskipun sebenarnya apa yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang
diinginkannya. Seseorang cenderung tidak ingin menimbulkan konflik secara
terbuka. Bahkan terkadang peneliti melihat seseorang pada akhirnya akan memilih
untuk tetap bersikap biasa kembali meskipun sebenarnya dirinya berkonflik
dengan orang lain. Hal tersebut mendorong peneliti untuk melihat lebih jauh
bagaimana seseorang terutama perempuan Jawa memaknai sikap diam yang
diambilnya. Apalagi budaya Jawa yang menjunjung keharmonisan.
Untuk melihat fenomena tersebut peneliti memilih menggunakan
teoritis yang memengaruhi penelitian terkait dengan makna. Pengumpulan data
dilakukan dalam lingkungan alamiah yang peka terhadap masyarakat.
“Penelitian kualitatif dimulai dengan asumsi dan penggunaan kerangka penafsiran/teoritis yang membentuk atau memengaruhi studi tentang permasalahan riset yang terkait dengan makna yang dikenakan oleh individu atau kelompok pada suatu permasalahan sosial atau manusia. Untuk mempelajari permasalahan ini, para peneliti kualitatif menggunakan pendekatan kualitatif muthakir dalam penelitian, pengumpulan data dalam lingkungan alamiah yang peka terhadap masyarakat dan tempat penelitian, analisis data yang bersifat induktif dan deduktif, dan pembentukan berbagai pola atau tema (Creswell, 2014).”
Menurut Smith (2008), penelitian kualitatif memiliki informan yang
berbeda, dan cenderung fokus pada makna, memahami, dan tindakan komunikatif.
Hal itu, terlihat dari bagaimana orang memahami apa yang terjadi dan memaknai
dari apa yang terjadi.
Pendekatan yang dipilih dalam penelitian ini adalah analisis fenomenologi
interpretatif. Pendekatan fenomenologi interpretatif bertujuan untuk
mengeksplorasi secara rinci bagaimana informan merasakan dirinya dan dunia
sosialnya terutama dalam studi ini mengenai self-silencing yang terjadi pada
perempuan di Jawa. Peneliti menggunakan analisis fenomenologi interpretatif
dikarenakan hal utama dalam analisis fenomenologi interpretatif adalah makna
mengenai pengalaman tertentu, peristiwa, dan hal yang penting bagi informan.
Pendekatan ini secara khusus berfokus pada penjelasan rinci dari pengalaman
hidup seseorang. Menurut Smith (2008),
B. Fokus Penelitian
Penelitian ini ingin berfokus pada makna self-silencing pada perempuan
Jawa. Penelitian ini akan mengeksplorasi bagaiamana informan memaknai sikap
self-silencing yang dipilihnya di dalam konteks budaya Jawa.
C. Prosedur Penelitian 1. Informan
Informan dalam penelitian ini adalah perempuan Jawa yang sejak lahir
tinggal di tanah Jawa dan kedua orangtuanya adalah masyarakat Jawa maka secara
tidak langsung dalam kehidupannya memegang nilai, norma, dan kebudayaan
Jawa yang Ia terima baik dari orangtua maupun lingkungannya. Maka, dalam
kehidupan sehari-harinya perempuan Jawa yang demikian akan cenderung
menggunakan bahasa Jawa dan beraktivitas sebagai perempuan tradisional
(Suseno, 1985). Perempuan yang dipilih dalam penelitian ini adalah perempuan
Jawa yang berusia lebih dari 40 tahun. Hal ini dikarenakan perempuan dengan
karakteristik usia tersebut sudah mampu melihat segala pengalaman yang ada di
dalam hidupnya dengan lebih baik seperti penjelasan de Vries & Watt dalam
Cronin (2013), “Older women are able to envisage themselves over extended
2. Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data dalam penelitian ini adalah dengan wawancara
semi terstruksur. Wawancara dilakukan lebih dari satu kali hingga mendapatkan
pemaparan data yang saturated. Pengambilan data dihentikan ketika informasi
yang didapatkan tidak terdapat variasi lagi. Wawancara direkam melalui digital
recorder, kemudian dilakukan transkip verbatim dan selanjutnya dianalisis.
D. Analisis Data
Proses analisis data yang digunakan dalam pendekatan fenomenologis
menurut Smith (2009), adalah sebagai berikut:
1. Reading and Re-reading
Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan melakukan transkrip data
wawancara kemudian melakukan reading dan re-reading. Pada tahap ini perlu
dilakukan membaca ulang data yang telah diperoleh. Tujuan dari tahap ini untuk
memfokuskan peneliti pada paparan informasi dari informan sebagai fokus dari
analisis.
2. Initial Noting
Analisis dilakukan dengan mencatat hal-hal yang bermakna di dalam
transkrip dengan cara mengidentifikasi secara spesifik apa yang informan katakan,
kemudian memahami dan berfikir mengenai isu yang ada. Analisis ini membagi
teks menjadi unit makna dan memberikan komentar untuk setiap unit. Tujuan dari
langkah tersebut adalah untuk mendapatkan data yang komprehensif dan detail.
Analisis ini terdapat tiga jenis komentar, yaitu descriptive comments, linguistic
3. Developing emergent themes
Pada tahap ini analisis dilakukan dengan mengeksplorasi komentar yang
telah diberikan untuk mengidentifikasi tema apa saja yang muncul. Dalam
melakukan analisis tema perlu mempertahankan kompleksitas data, dalam hal
keterkaitan pemetaan, hubungan dan pola antara catatan eksplorasi.
4. Structrualizing
Setelah mendapatkan tema-tema sesuai dengan transkrip dan telah disusun
secara kronologis, maka tahap selanjutnya adalah melibatkan pengembangan
pemetaan dan bagaimana setiap tema yang ada saling berhubungan. Dalam
melakukan analisis ini perlu membuat skema yang menggambarkan poin dari
semua aspek paling menarik dan penting pada para informan.
E. Kualitas Penelitian
Smith (2009) menggunakan prinsip dan kriteria dari Lucy Yardley dalam
menilai validitas dan kualitas penelitian fenomenologi interpretatif. Yardley
memiliki 4 kriteria dalam menilai kualitas penelitian kualitatif yaitu :
1. Sensitivity to Context
Kesensitivitasan dapat ditunjukan melalui beberapa hal yaitu melalui
lingkungan sosial budaya dari penelitian tersebut, keberadaan literatur dalam
topik, dan data yang diperoleh dari partisipan.
Sensitivitas konteks dapat ditunjukkan melalui wawancara yang baik.
Wawancara yang baik membutuhkan keahlian, kesadaran, dan dedikasi.
Kesensitivitasan data juga dapat ditunjukkan dalam analisis data. Argumen yang
verbatim dari data partisipan. Hal tersebut membuat informan berperan dalam
penelitian dan memungkinkan pembaca memeriksa interpretasi yang dibuat.
Peneliti juga dapat menunjukkan kesensitivitasan konteks melalui keberadaan
literatur yang digunakan. Dalam IPA, literatur yang relevan digunakan untuk
membantu orientasi penelitian serta penemuan yang baik harus selalu
dihubungkan dengan literatur yang relevan dalam pembahasan.
2. Commitment and Rigour
Komitmen dapat ditunjukkan dalam tingkat perhatian