i OLEH : OPINUS KOGOYA
45 16 035 023
JURUSAN PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BOSOWA
MAKASSAR 2020
iii
peninkatan nilai jual sapi Bali jantan yang digemukkan Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bosowa Makassar. Dibawah bimbingan: Dr. Ir.
Syarifiddin, S.Pt., MP sebagai pembimbing utama dan Dr. Ir. Tati Murniati, MP sebagai pembimbing anggota.
Penelitian mengunakan 12 ekor sapi Bali jantan umur 1,5-4 tahun dan diuji statistic mengunakan SPSS versi 2016 dengan rumus Rancangan Acak Lengkap (RAL). P0 mengunakan pakan rumput Gajah secara adlibitum dan dedak 2 Kg sedangkan P1 mengunakan pakan 10% SMMS, rumput gajah secara adlibitum dan dedak 2 Kg dan P2 mengunakan pakan 20% SMMS, rumput gajah secara adlibitum dan dedak 2 Kg.
Hasil penelitian menunjukan pemberian SMMS tidak memberikan pengaruh nyata pada pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jual rataan P0: 0,21 Kg, P1: 0,24 Kg, dan P2: 0,24 Kg dan pada
peningkatan nilai jual rataan P0:Rp 9.856,25,- P1 Rp 11.162,5,- dan P2 Rp 11.281,25,- Uji statistic menunjukan bahwa (P>0,05) terhadap
peningkatan nilai jual sapi Bali jantan. Berdasarkan darihasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ,’SMMS berpengaruh posotif terhadap
pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jual
Kata Kunci: Silase Molases Multrinutrient Soft, Pertambahan Berat Bedan dan Peningkatan Nilai Jual, Sapi Bali Jantan.
iv
atas segala rahmat dan limpahan karunianya, sehingga penulis dapat menyusun skripsi dengan judul “Pengaruh Pemberian Silase Molasses Multinutrient Soft Terhadap Tingkat Konsumsi dan Konversi Pakan Pada Sapi Bali Jantan” yang akan dilakukan penelitian di Dusun Tombolo, Desa Tompo Bulu, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, setelah mendapatkan persetujuan skiripsi melalui seminar.
Penulisan dan penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan serta petunjuk dari Bapak Dr. Ir. Syarifudin, S.Pt., MP. Sebagai pembimbing utama dan Ibu Dr. Ir. Tati Murniati, MP. Sebagai pembimbing anggota.
Melalui kesempatan ini dengan kerendahan hati perkenankan penulis menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya, serta ucapan terima kasih kepada :
1. Rector Universitas Bosowa serta jajarannya.
2. Dekan Fakultas Pertanian serta jajaranya.
3. Ketua Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian serta jajarannya.
4. Dosen Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa
5. Pengurus dan anggota Himpunan Mahasiswa Peternakan (HIMAPET).
v
senantiasa selalu memberikan semangat, motivasi, membimbing dan membantu penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
8. Enal fram yang telah memberi fasilitas kandang , sapi dan tempat tinggal selama penelitian.
9. Semua pihak yang tidak dapat penulis tuliskan satu persatu.
Terima kasih yang sebesar-besanya penulis sampaikan atas dukungan berupa moral maupun materi, semoga apa yang telah diberikan akan dilimpahkan karunia oleh yang Maha Kuasa.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini mungkin masih terdapat kekurangan di dalamnya, oleh karena itu saya mohon kesediaan pembimbing, penguji serta peserta yang hadir diseminar ini kiranya memberi masukan demi kesempurnaan skripsi ini dan kelancaran penelitian ini.
Akhir kata semoga skripsi ini dapat menjadi pedoman penulis dalam melaksanakan penelitian dan penyusunan skripsi sebagai tugas akhir untuk penyelesaian studi strata satu di Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa.
Makassar 2020 Penulis
vi
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Tujuan penelitian ... 2
C. Manfaat Penelitian ... 2
D. Hipotesis ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
A. Gambaran Umum Sapi Bali ... 3
B. Pakan sapi bali ... 5
C. Pemeliharaan sapi bali secara intensif ... 10
D. Pertambahan Berat Badan Harian ... 11
E. Peningkatan Nilai Jual Sapi Bali ... 13
BAB III METODE PENELITIAN ... 15
A. Waktu dan Tempat Penelitian` ... 15
B. Materi Penelitian ... 15
C. Prosedur penelitian ... 16
D. Temperatur dan Analisis Data ... 17
E. Parameter Terukur dan Analisis Data ... 17
vii
C. Diskusi umum ... 21
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 23
A. Kesimpulan ... 23
B. Saran ... 23 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
Tabel 2. Komposisi dan Formula SMMS ... 15 Tabel 3. Desain Unit Perlakuan ... 17 Table 4. Pertambahan Berat Badan (kg) Harian Sapi Bali Jantan ... 19 Table 5 Peningkatan Nilai Jual (Rp) sapi Bali Jantan ... 21 Tabel 6. Profil PBB dan Peningkatan Nilai Jual Harian ... 21
BAB I PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Molasses Multinutrien Sosft (MMS) merupakan salah satu jenis suplemen, yang secara ekonomi bernilai manfaat karena bahan bakunya terdiri dari buangan (limbah dari beberapa industri). Sehingga MMS ini juga berperan pada penyelamatan lingkungan karena limbah yang berpotensi mencemari lingkungan termanfaatkan. MMS bagi ternak berfungsi sebagai pakan suplemen untuk mensuplai unsur nutrisi yang dibutuhkan ternak dalam memenuhi kebutuhan hidup pokok, bereproduksi, dan berproduksi, secara khusus nilai manfaat untuk ternak ruminansia berfungsi sebagai palatabilitas ternak terhadap pakan berserat kasar tinggi, memicu pertumbuhan mikroorganisme rumen, menambah nafsu makan, dan mensuplai unsur – unsur nutrisi yang nilainya kurang dari pakan basal.
Jerami padi merupakan limbah pertanian yang sering buang oleh petani dapat membahayakan karena bisa jadi sarang ular maupun tikus, atau jika bakar akan mengurangi PH tanah, yang dimanfaatkan menjadi pakan ternak .
Permasalahan yang sering dialami peternak adalah menurungnya nilai nutrisi pakan dan produktivitas yang rendah, kerene itu untuk meningkatan produktivitas ternak maka harus menyediakan pakan secara berkesinambungan, kuantitas maupun kualitasnya. Faktor penting yang
harus diperhatikan dalam peningkatan produktivitas ternak adalah ketersediaan pakan yang mencukupi secara kualitas dan kuantitas.
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas nutrisi pakan dan produktivitas denganmelalui pengolahan jerami padi menjadi Silase Mosasses Multynutrien Soft(SMMS), dengan ini diharapakan dapat mudah dicerna dan dapat meninkatkan nilia nutrisi pakandan juga produktivitas ,
Uraian tersebut diatasmenjadi dasar melakukanpenelitian pengaruh pemberian SMMSterhadap peningkatkan produktivitas ternak sapi yang gemukkan secara di kandangkan.
B. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui level pemberian SMMS yang dapat meningkatkan produktivitas (pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jual)pada sapi Bali jantan yang dikandangkan.
C. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk mengetahui level pemberian SMMS yang baik terhadap pertambahan berat badan danpeningkatkan nilai jual pada sapi Bali jantan, pengembangan ilmu pengetahuan dan menjadi rujukan bagi instansi terkait dalam masyarakat.
D. Hipotesis
Diduga bahwa pemberian SMMS dengan level yang berbedahberpengaruh terhadap pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jual sapi Bali jantan yang di kandangkan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gambaran Umum Sapi Bali
Sapi Bali (Bos sondaicus/Bibos banteng) adalah salah satu sumber daya genetik ternak asli Indonesia yang merupakan keturunan asli banteng (Bibos banteng) dan telah mengalami proses domestikasi menjadi sapi Bali yang berlangsung sangat lama yang terjadi sebelum 3.500 SM, juga salah satu jenis sapi potong yang penting berkontribusi terhadap pengembangan industri peternakan di Indonesia, sapi Bali mendominasi populasi sapi potong terutama di timur Indonesia seperti pulau-pulau Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan (Sri Rachma, dkk, 2011).
Beberapa keunggulan ternak sapi bali sehingga lebih diminati oleh petani kecil adalah karena daya adaptasinya terhadap pakan tambahan dan merupakan sifat biologis yang membuat sapi Bali cocok untuk penghasil daging, tingkat kesuburan tinggi 80 – 85 %, sebagai sapi pekerja yang baik dan efisien serta dapat memanfaatkan hijauan yang kurang bergizi. Dengan demikian jenis sapi ini mempunyai adaptasi yang baik dan dapat berkembang pada berbagai cara pemeliharaan, baik pada sistem pemeliharaan intensif dan ekstensif serta termasuk tipe sapi dwiguna (Bandini, 2003).
Bangsa sapi Bali memiliki klasifikasi taksonomi menurut (Rianto dan Purbowoati, 2016), sebagai berikut.
Phylum : Chordata Subphylum : Vertebrata Class : Mamalia Sub class : Theria Infra class : Eutheria Ordo : Artiodactyla Sub ordo : Ruminantia Infra ordo : Pecora Family : Bovidae Genus : Bos (cattle) Group : Taurinae
Spesies : Bos sondaicus(banteng/sapi Bali)
Karakteristik sapi Bali meliputi jantan dewasa berwarna hitam dengan kepala lebar, otot di bagian leher terlihat kompak dan kuat, dada besar dan berdaging tebal, pantat putih berbentuk setengah bulat dengan ujung ekor berwarna hitam, bagian lutut kebawah berwarna putih. Sapi Bali dewasa betina bewarna merah bata, kepala panjang, halus, sempit dengan tanduk kecil dan pendek, punggung terdapat garis berwarna putih seperti belut, leher terlihat lebih ramping bila dibanding dengan jantan serta pantat berwarna putih, ekor berwarna hitam (Siswanto, 2011).
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Pertambahan Berat Badan Pertambahan bobot badan sapi ditentukan oleh berbagai faktor, terutama jenis sapi, jenis kelamin, umur, ransum, dan teknik pengelolaannya.
B. Pakan sapi Bali
Pakan digunakan untuk kebutuhan pokok harian untuk bertahan hidup, berproduksi dan bereproduksi, sapi membutuhkan pakan berupa hijauan 10% dari berat badan dan pakan tambahan berupa konsentrat 1- 2% dari berat badan berupa dedak halus, bungkil kelapa, gaplek atau ampas tahu, Rasjid (2012).
pakan adalah makanan yang diberikan kepada ternak untuk kebutuhan hidup dan berproduksi. Pakan yang diberikan harus berkualitas tinggi yaitu mengandung zat-zat yang diperlukan oleh tubuh ternak seperti air, karbohidrat, lemak, protein dan mineral . Pemberian pakan hijauan pada ternak sapi diberikan acuan 10% dari bobot badan dalam sehari serta kosentrat dapat diberikan sebanyak 2,5-3% dari bobot badan sapi.
Pakan yang diberikan untuk sapi potong dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu pakan hijauan dan pakan konsentrat (Murtidjo, 2012).
1. Pakan Hijauan
Pakan hijauan adalah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan berupa daun-daunan, terkadang termasuk batang, ranting dan bunga. Pemberian pakan yang baik diberikan dengan perbandingan 60 : 40 (dalam bahan kering ransum), apabila hijauan yang diberikan berkualitas rendah perbandingan itu dapat menjadi 55 : 45 dan hijauan yang diberikan berkualitas sedang sampai tinggi perbandingan itu dapat menjadi 64 : 36 (Siregar, 2008).
2. Suplemen
Suplemen adalah suatu bahan makanan/campuran bahan makanan dicampurkan pada bahan lain untuk meningkatkan keserasian, dapat diberikan tanpa dicampur dengan bahan lain atau dicampurkan dengan bahan makanan lain untuk membentuk makanan lengkap. Tujuan suplementasi makanan penguat dalam makanan ternak adalah untuk meningkatkan daya guna makanan/menambah nilai gizi makanan, menambah unsur makanan serta meningkatkan konsumsi dan kecernaan makanan suatu bahan berupa zat nutrisi, terutama nutrisi mikro (asam amino, vitamin, mineral) yang ditambahkan ke dalam ransum.
Pemberianpakan suplemen hanya dalam jumlah sedikit berfungsi untuk melengkapi dan memenuhi kebutuhan nutrisi terutama nutrisi mikro yang penting (Murtidjo, 2012 dan Agustina, 2011). , suplemenpakan yang diformulasi sedemikian rupa hingga mengandung protein dan energi yang memadai, tetapi mungkin kekurangan mikronutrientertentu.Syarifuddin dan Muclhis (2018), suplemen merupakan suplai unsur tertentu yang dibutuhkan ternak yang tidak cukup dari pakan yang dikonsumsinya.
3. Silase
Silase merupakan salah satu bentuk konservasi (pengawetan) hijauanpakan.Prinsip pembuatan silase adalah menghentikan kontak antara hijauan dengan oksigen, sehingga dalam keadaan anaerob bakteri asam laktat dapat tumbuh dengan mengubah karbohidrat mudah larut menjadi asam laktat. Proses fermentasi yang sempurna menghasilkan asam laktat sebagai produk utamanya. Asam laktat yang dihasilkan akan
berperan sebagai pengawet pada silase sehingga kerusakan hijauan atau serangan mikroorganisme pembusuk dapat dihindari. Bagi ternak yang mengkonsumsi silase, kandungan asam laktat di dalam silase digunakan sebagai sumber energi (Heinritz, 2011).
Kualitas silase tergantung pada kualitas dari bahan yang digunakan dan dari produk fermentasi yang dihasilkan, berupa amonia dan VFA (Volatile Fatty Acid). Karena tidak semua bahan yang dibuat menjadi silase berkualitas baik, terutama pada kandungan karbohidrat mudah larut, maka diberikan bahan tambahan (silage additive) untuk memperlancar ensilage.Aditif dapat dibagi menjadi tiga kategori, yaitu stimulan fermentasi, penghambat fermentasi, dan sumber nutrisi atau substrat.Silaseaditifyang digunakan dalam pembuatan silase dapat berupa asam organik, inokulan bakteri asam laktat, enzim, urea, amonia (Yitbarek dan Tamir, 2014).
Utomo(2015), menyatakan bahwa materi yang baik untuk pembuatan silase mempunyai kisaran kandungan bahan kering 35-40%.
Kandungan bahan kering yang kurang dari 35% akan mengakibatkan hasil silase yang terlalu asam dan silase akan kelihatan berair yang akan mengakibatkan penurunan nutrisi. Sedangkan bahan baku dengan kadar bahan kering lebih dari 40% akan menghasilkan silase yang kurang baik, seperti berjamur akibat pemadatan yang kurang sempurna.
Keberhasilan proses fermentasisilase sangat dipengaruhi oleh keberhasilan dalam mengoptimalkan faktor-faktor dari pertumbuhan bakteri yang diinginkan. Faktor-faktor tersebut akan memberikan kondisi yang berbeda untuk setiap mikroba sesuai dengan kondisi lingkungan hidupnya masing-masing sehingga mempengaruhi kinetikafermentasinya,
ini terjadi pada saat penutupan silo. Setelah silo ditutup, lingkungan anaerobik umumnya terbentuk oleh adanya aktivitas respirasi tanaman yang mengkonsumsi oksigen dan melepaskan CO2-. Sementara pH yang rendah disebabkan oleh bakteri asam laktat yang mengubah gula menjadi asam laktat (Ratnakomala, 2009).
Kegagalan dalam pembuatan silase dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain proses pembuatan yang salah, terjadi kebocoran silo sehingga tidak tercapai suasana yang anaerob, tidak tersedianya karbohidrat tertentu, kadar air awal yang tinggi sehingga silase menjadi terlalu basah, dan memicu pertumbuhan mikroorganisme pembusuk yang tidak diharapkan.Silase yang mengalami kerusakan terlihat dari tekstur silase yang menggumpal, berwarna coklat kehitaman, dan berbau busuk serta banyak ditumbuhi jamur(Ratnakomaladdk, 2006).
Utomo (2015) menyatakan bahwa silase yang baik memiliki warna yang mendekati warna bahan hijauan, tidak berwarna coklat atau hitam, tekstur masih jelas yang berarti tidak menggumpal, tidak lembek, tidak berlendir, tidak mudah mengelupas, bau dan rasa asam tidak berjamur, serta bebas dari bau manis, bau amoniak, bau anyir, atau bau H2S.
4. Molasses Multinutrient Soft (MMS)
Molasses Multinutrient Soft (MMS) merupakan salah satu jenis suplemen secara ekonomi bernilai manfaat karena bahan bakunya terdiri dari buangan (limbah dari beberapa indusri) sehingga MMS ini juga berperan pada penyelamatan lingkungan karena limbah yang berpotensi
mencemari lingkungan termanfaatkan. MMS bagi ternak berfungsi sebagai pakan suplemen mensuplai unsur nutrisi yang dibutuhkan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, bereproduksi dan produksi secara khusus untuk nilai manfaat ternak ruminansia berfungsi untuk meningkatkanpalatabilitas ternak terhadap pakan berserat kasar tinggi,
menambah nafsu makanmemicu pertumbuhan
mikroganismerumen,meningkatkankecernaan pakan berserat kasar tinggi dan mensuplai unsur-unsur nutrisi yang di butuhkan. Syarifuddin (2019).
Nashrullah, (2018 ) melaporkan bahwa pemberian MMS sebesar 4% dari kebutuhan konsumsi harian berdasarkan berat badan dapat meningkatan pertambahan berat badan Sapi Bali 0,5kg/ekor/hari dan peningkatan nilai jual harian sebesar Rp 32.750.00/hari.
MMSmerupakan suplemen pensuplai unsur nutrisi yang dibutuhkan ternak.komposisi dan formulanyadisajikan pada tabel 2.
Tabel 1. Hasil Analisis Proximat Kandungan Nutrisi Molasses Multinutrien Soft (MMS)
Zat Nutrisi Komposisi (%)
Bahan Kering Air
Protein Kasar Lemak Kasar Serat Kasar Calsium Phosphor
Energi Metabolisme
64,58 3,59 20,03
6.63 10,39
0,35 0,42 3497 Sumber :Trias (2019) Hasil Analisis Lab. Kimia Pakan.
5. SMMS
Bahwa hasil penelitian ini tidak terlepas dari pentingnya SMMS yang tersusun dari berbagai jenis bahan yaitu: Molasses, dedak padi, bungkil kelapa, ampas tahu, mineral mix, garam dan jerami padi yang merupakan hasil ikutan dari industri dan memiliki unsur-unsur nutrisi yang dapat menyuplai nutrisi yang kurang dari pakan hijauan.
Sesuai fakta di lapangan pemberian SMMS memberikan pengaruh terhadap pertambahan berat badan sapi Bali penelitian, diduga disebabkan karena pengaruh tingginya nilai nutrisi komponen penyusun SMMS yang menjadi salah faktor penentu nutrisi pakan hijauan.
Rata-rata pertambahan berat badan ternak tanpa penambahan SMMS pada penelitian ini yaitu 7 kg sedangkan ternak dengan penambahan SMMS pertambahan berat badannya mencampai 13,4 kg.
tingginya pertambahan berat badan ternak dengan pemberian SMMS diakibatkan karena kualitas pakan bukan karena tingginya konsumsi pakanZainal, 2019.
C. Pemeliharan sapi bali secara intensif
Sistem pemeliharaan intensif merupakan system yang dimana sapi dipelihara dalam kandang dengan pemberian pakan kosentrat berportein tinggi dan juga dapat ditambah dengan memberikan hijaun. Salah satu usaha peningkatan pengadaan daging sapi baik dalam kualitas maupun kuantitasnya adalah dengan pemeliharaan sapi secara insentif (feed lot).
Pada system ini sapi jantan dipeliharaan di kandang tertentu, tidak dipekerjakan tetepi hanya diberi makan dengan nilai nutrisiyang optimal
untuk menaikan berat badan dan kesehatan sapi yang maksimal. Dengan system ini sapi bobotnya lebih mantap, daging yang dihasilkan akan lebih lunak walaupun kandungan lemaknya menjadi sedikit lebih tebal , kualitas dagingnya sangat baik dan harga jualnyapun tinggi (Franky dkk,2017).
Pemeliharaan secara intensif merupakan salah satu cara penggemukan yang mengutamakan pemberian pakan berupa biji-bijian (konsentrat) yang terdiri dari jagung giling, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah dan lain-lain. Sejak awal sapi yang digemukkan sampai pemasaran memperoleh pakan konsentrat secara penuh dan pakan hijauan diberikan dalam jumlah terbatas (Suryana, 2000).
Syafrial dkk, (2003) menyatakan bahwa pemeliharaan secara intensif adalah sapi yang dipelihara dalam kandang tertentu, tidak dipekerjakan tetapi hanya diberi pakan dengan nilai nutrisi yang optimal untuk meningkatkan berat badan dan kesehatan sapi yang maksimal.
Produktivitas sapi yang dipelihara secara intensif dapat ditunjang dengan pemberian pakan hijauan maupun konsentrat yang baik dengan komposisi yang sesuai, penanggulangan penyakit, penanganan pasca panen dan pemasaran serta jenis bangsa sapi dan umurnya.
D. Pertambahan Berat Badan Harian
Keberhasilan usaha penggemukan sapi Bali sangat ditentukan oleh pertambahan berat badan sapi yang tinggi dan efisiensi dalam penggunaan ransum. Pertambahan berat badan sapi ditentukan oleh berbagai faktor terutama jenis kelamin, jenis sapi, umur, ransum atau
pakan yang diberikan dan teknik pengolahannya. Sapi luar negeri pada umumnya mempunyai pertambahan berat badan yang tinggi dibanding dengan pertambahan berat badan jenis sapi lokal. Akan tetapi, jenis sapi luar negeri juga lebih membutuhkan ransum yang lebih banyak dan berkualitas bagus dibanding dengan jenis sapi lokal. Diantara jenis sapi lokal, sapi ongole dan sapi Bali mempunyai pertambahan berat badan yang lebih tinggi. Namun, jenis sapi yang mempunyai pertambahan berat badan yang lebih tinggi belum tentu akan lebih ekonomis untuk dapat digemukkan. Sapi yang mempunyai berat badan yang lebih tinggi akan membutuhkan ransum yang lebih banyak dan lebih berkualitas sehingga biaya ransum menjadi lebih tinggi (Rianto dan Purbowati, 2016).
Seekor ternak dapat dikatakan mengalami pertumbuhan apabila terjadi suatu kenaikan dari berat badannya. Hal ini dapat diketahui andaikata dilakukan penimbangan berat badan dalam periode tertentu.
Penambahan berat badan tersebut dikenal dengan istilah Gain, sedangkan apabila kenaikan berat badan diukur untuk setiap hari maka disebut dengan istilah Average Daily Gain (ADG = Pertambahan berat badan harian) (Zubir, 2003
Pertambahan berat badan adalah aktifitas fisiologi yang dapat dinyatakan kenaikan berat badan rata-rata persatuan waktu. Respon berat badan merupakan hasil yang diperoleh dari kenaikan berat badan yang diketahui melalui penimbangan secara berulang-ulang selama pengamatan yang berasal dari penimbangan berat badan akhir dikurangi
berat badan awal dibagi dengan waktu pengamatan (Siregardan Syofian.
2013).
E. Peningkatan Nilai Jual Sapi Bali
Menurut zaenal (2019) Peningkatan nilai jual dengan pemberian SMMS akan menyebabkan peternak mengalami keuntungan yang lebih karena dengan sedikit pengeluaran tambahan untuk membuat SMMS, tetapi hasil yang diperoleh akan lebih banyak. Waktu perawataan atau pertumbuhan lebih cepat karena asupan protein bagi ternak lebih tinggi.
Menurut Rianto dan Purbowoati (2016) bahwa: “ penetapan harga jual adalah proses penentu apa yang akan diterima suatu perusahaan dalam penjualan produknya”. Perusahaan melakukan penetapan harga dengan berbagai cara. Pada perusahaan-perusahaan kecil harga biasanya ditetapkan oleh manajemen puncak bukannya oleh bagian pemasaran. Sedangkan pada perusahaan-perusahaan besar penetapan harga biasanya ditangani oleh manajer divisi dan lini produk. Bahkan disini manajemen puncak juga menetapkan tujuan dan kebijakan umum penetapan harga serta memberikan persetujuan atas usulan harga dari manajemen dibawahnya.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa harga jual adalah sejumlah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memproduksi suatu barang atau jasa ditambah dengan persentase laba yang diinginkan perusahaan, karena itu untuk mencapai laba yang diinginkan oleh perusahaan salah satu cara yang dilakukan untuk menarik minat
konsumen adalah dengan cara menentukan harga yang tepat untuk produk yang terjual. Harga yang tepat adalah harga yang sesuai dengan kualitas produk suatu barang, dan harga tersebut dapat memberikan kepuasan kepada konsumen (Murtidjo, 2012).
Menurut Siregardan Syofian(2013), menyatakan bahwa metode penetapan harga sebagai berikut :
a. Menghitung seluruh biaya tiap unit ditambah marjin tertentu (laba yang dikehendaki).
b. Menghitung terlebih dulu titik peluang pokok atau Break Even Pointyaitu titik dimana jumlah penerimaan penjualan persis sama dengan seluruh biaya yang dikeluarkan (Total Revenue = Total Cost), apabila penjualan berada dibawah BEP, maka perusahaan menderita kerugian.
c. Menetapkan harga yang setinggi-tingginya. Hal ini biasanya mempunyai tujuan :
1. Untuk berjaga-jaga terhadap kekeliruan di dalam penetapan harga.
2. Untuk mempertinggi kualitas/mutu produk.
3. Untuk mencapai keuntungan per kesatuan produk yang tinggi.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei- juni 2020 diDusun Tombolo, Desa Tompo Bulu, KecamatanTompo Bulu, KabupatenMaros, Provinsi Sulawesi Selatan.
B. Materi Penelitian
Penelitian ini menggunakan sapi Bali jantan sebanyak 12 ekor yang berumur 1,5 – 4 tahun, pakan yang digunakanadalahhijaun tambah dedak 2 kg /ekor/ hari dan SMMS, hijaun diberikan secara adlibitun pada semua ternak penelitian dan dedak 2 kg/ekor/hari pada semua ternak penelitian, sedangkan SMMS hanya diberikan pada ternak perlakuan tertentu. Alat yang digunakanpada penelitian ini adalah kandang, fasilitas kandang, timbangan ternak, timbangan pakan, sarana pembuatan SMMS.Komposisi dan formula SMMS disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2, Komposisi dan Formula SMMS.
Bahan Presentase (%)
Jerami Padi 60
MMS 40
Total 100
C. Prosedur Penelitian 1. Ternak perlakuan.
2. Kandang dan perlengkapan kandang.
3. Pakan.
a. Jerami Padi
Jerami padiyang digunakan pada penelitian ini adalah jerami dari hasil limbah mesin pemanen padi (Combine Harvester).
b. MMS
Komposisi dan formula MMS digunakanampas tahu 30 kg (30%), dedak 30 kg (30%), bungkil kelapa 20 kg (20%), molasses 17 kg (17%), mineral mix 2 kg (2%) dan garam 1 kg (1%).
c. SMMS
Bahan poin a dan b menjadi bahan pembuatan SMMS. Jerami padi 60%, MMS 40%, dicampur hingga homogen dan simpan selama 3 minggu (pengawetan) menghentikan kontak antara hijauan dengan oksigen, sehingga dalam keadaan anaerob bakteri asam laktat dapat tumbuh mengubah karbohidrat mudah larut menjadi asam laktat.
4. Pembiasaan ternak penelitiaan dengan pakan SMMS. Selama 8 hari.
5. Hari ke 9 penimbangan ternak sebagai data berat awal (BB1).
6. Penimbangan kedua terhadap ternakdilakukan diakhir penelitian dilakukan pada ( hari 30) sebagai data berat badan akhir (BB2).
Data berat badan awal dan berat badan akhir merupakan data yang digunakan untuk mengetahui pertambahan berat badan sapi Bali.
Pertambahan berat badan ternak selama penelitian menjadi dasar untuk menghitung peningkatan nilai jual.
Data berat badan awal dan berat badan akhir merupakan data yang digunakan untukmenghitung peningkatan nilai jual.
D. Desain Penelitian
Desain unit perlakuan penelitian disajikan pada tabel 4 sebagai berikut .
Tabel 3. Desain Unit Perlakuan
P0 P1 P2
P.0.1 P.1.1 P.2.1
P.0.2 P.1.2 P.2.2
P.0.3 P.1.3 p.2.3
P.0.4 P.1.4 p.2.4
Keterangan :
P 0 = Hijauan + Dedak
P 1 = SMMS 10% + Hijauan dan Dedak P 2 = SMMS 20% + Hijauan dan Dedak
E. Parameter Terukur dan Analisis Data
Parameter terukur pada penelitian ini adalah pertambahan beratbadan dan peningkatan nilai jual :
1. Pertambahan berat badan (kg) =
Pertambahan berat badan ternak penelitian Siregar dan Syofian (2013), diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
PBB (kg) = BB Akhir – BB Awal
PBB
PBB Harian (Kg) = lama pemeliharaan 2. Peningkatan Nilai Jual (PNJ)
Peningkatan nilai jual Murtidjo (2012), diperoleh dengan rumus sebagai berikut :
PNJ( Rp) = PBB x harga berat hidup (Kg)
Harga jual berat hidup/Kg sapi ialah Rp. 47.500,- (harga jual berat hidup/
kg
Data yang diperoleh dari penelitian ini, diolah dengan Rancangan Acak Lengkap(RAL)dengan 4 ulangan.(Gasperz, 1991).Model matematika yang digunakan yaitu :
Yij = µ + αi + €ij
Yij =Nilai pengamatan terhadap pertambahan bobot badan dan peningkatan nilai jual ke-j yang memperoleh perlakuan level pemberian SMMS
µ =Nilai Tengah Sampel
αi =Pengaruh pemberian level SMMS pertambahan bobot badan dan peningkatan nilai jual ke-I (I = 10% dan 20%).
€ij =Galat percobaan dari perlakuan ke-i pada pengamatan ke-j Apabila perlakuan berpengaruh nyata maka diuji lebih lanjut dengan menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Pertambahan Berat Badan
Pertambahan bobot badan harian ternak sapi Bali jantan penggemukandiperoleh dari rumus rata-rata PBB dibagi dengan lama penelitian
Data pertambahan berat badan harian sapi Bali jantan setelah diolahdan disajikan pada table 4
Table 4. Pertambahan Berat Badan(kg) Harian Sapi Bali Jantan
N PERLAKUAN
P0 P1 P2
1 0,48 0,13 0,10
2 0,13 0,55 0,65
3 0,03 0,10 0,10
4 0,19 0,16 0,10
TOTAL 0,83 0,94 0,95
RATA-RATA 0,21 0,24 0,24
Keterangan :P>0,05
Pengolahan data dengan Rangcangan Acak Lengkap ( RAL) menunjukkan bahwa pemberian SMMS pada ternak penelitian tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap pertambahan berat badan pada ternak sapi Bali jantan.
Meskipun secaracastatistik perlakuan tidak berpengaruh terhadap pertambathanberat badan , akan tetapi ternak yang mendapatkan SMMS cendrung pertambahan berat badannya lebih tinngi dibanding dengan ternak yang tidak mendapatkan SMMS.
Pengaruh posotifSMMSterdadap pertambahan berat badan sapi Bali jantan disebabkan karena SMMS mengandug MMS yang mensupai unsur nutrisi yang dibutukan ternak sebagai nama dikemukakan oleh syarifuddin(2020) ,bahwa MMS adalah pakan padat gizi yang tersusung dari molasses, ampas tahu, bungkil kelapa , dedak, garam dan mineral mix. Lebih lanjut di kemukakan bahwa MMS berfungsi bagi ternak sebagai pensuplai nutrisi yang dibutuhkan, pemicu pertumbuhan mikroorganisme rumen, meningkatkan metabolisme ternak terhadap pakan basal berserat tinggi, meninkatkanpalatabilitas ternak terhadap pakan, meningkatkan kecenaan pakan berserat kasar tinggi dan meningkatkan pertambahan berat badan sapi.
Re-rata pertambahan berat badan P.1 dan P.2 masing-masing 0,24 kg/hari hasil yang sama ini diakbatkan karena diunit perlakuan sapi P.2.3 kesehatannya terganguh ( cacingan).Seperti yang dinyatakan Adin dan Natalia (2005), bahwa adalah masalah umum yang dijumpai pada ternak sapi, dapat diakibatkan oleh infeksi bakteri, virus, dan protozoa.
Diare dapat menyebabkan gangguan proses penyerapan nutrisi sehingga pertumbuhan menjadi terhambat.
B. Peningkatan Nilai Jual
Data peningkatan nilai jual sapi Bali disajikan pada tabel 5.Sebagai berikut :
Table : 5 Peningkatan Nilai Jual (Rp) sapi Bali Jantan
N Po P1 P2
1 22.800,- 6.175,- 4.750,-
2 6.175,- 26.125,- 30.875,-
3 1.425,- 4.750,- 4.750,-
4 9.025,- 7.600,- 4.750,-
TOTAL 39.425,- 44.650,- 45.125,-
RATA-RATA 9.856,25,- 11.162,5,- 11.281,25,-
Pengolahan data dengan rangcangan acak lengkap ( RAL) menunjukkan bahwa pemberian SMMS pada ternak sapi Bali jantan tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap peningkatan nilai jual sapi Bali jantan.
Meskipun tidak menunjukan pengaruh yang nyata berdasarkan perhitungan secara statistik, akan tetapi berdasarkan yang ditunjukan pada tabel 5 diatas ternak yang mendapatkan SMMS cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan dengan ternak yang tidak mendapatkan SMMS’. semakin tinggi PBB yang dihasilkan maka akan menunjukan peningkatan nilai jual yang tinggi pula.
C. Diskusi Umum
Profil PBB dan peningkatan nilai jual sapi Bali penelitan disajikan pada tabel 6. Sebagai berikut:
Tabel 6. Profil PBB dan Peningkatan Nilai Jual Harian
N P0 P1 P2
PBB (Kg) 0,21 0,24 0,24
Peningkatan Nilai Jual (Rp)
9.856,25,- 11.162,5,- 11.281,25,-
Secara umum parameter dalam penelitian ini adalah peningkatan PBB dan peningkatan nilai jual sapi Bali jantan. Berdasarkan Tabel 6 dapat dilihat perlakuan P.1 dengan tambahan SMMS sebesar 10% dan P2 dengan tambahan SMMS sebesar 20% peningkatan PBB untuk menghasilkan peningkatan nilai jual cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan ternak tanpa tambahan SMMS (P.0). Hasil tersebut membuktikan bahwa pemberian SMMS merupakan salah satu cara untuk meningkatkan PBB sapi dan peningkatan pendapatan peternak. Sesuai dengan peryataanSyarifuddin (2020), bahwa SMMS dapat meningkatkan pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jual sapi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. KESIMPULAN
Berdasarkan dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ,’SMMS berpengaruh posotif terhadap pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jual
B. SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat direkomendasikan kepada masyarakat yang bergerak dibudidaya peternak sapi Bali, untuk mengunakan SMMS dengan parameter yang lebih tinggi sehingga hasil berupa pertambahan berat badan dan peningkatan nilai jaul tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
A. Nashurllah . 2019. Pengaruh Suplemen MMS Terhadap Pertambahan Berat Badan dan Peningkatan Nilai Jual Sapi Bali Yang Dipelihara Secara Intensif. Skripsi. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa, Makassar.
AdinPriadi dan Natalia.2005. Bakteri Penyebab Diare Pada Sapi dan Kerbaudi Indonesia.Balai Besar Penelitian Veteriner Bogor.Balitnak.litbang. pertanian. go. id
Agustina, 2011. Prospek pengembangan sapi perah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Bogor.
Anonim. 2011. Bahan Pakan Konsentrat Ternak Sapi Potong. Diakses Tanggal 27 Desember 2013.
Bandini, Y. 2003. Sapi Bali. Penebar Swadaya. Jakarta.
Franky M.S. Telupere dan N.G.F. Katipana, 2017. Pengaruh Ketinggian Tempat dan Sistem Pemeliharaan Terhadap Korelasi Genetik Bobot Lahir Dengan Bobot
Heinritz, S. 2011. Ensiling Suitability of High Protein Tropical Forages and Their Nutritional Value for Feeding Pigs. Diploma Thesis. University of Hohenheim. Stutgart
Murtidjo B.A. 2012. Sapi Potong. Kanisius. Jogjakarta.
Rasjid Sjamsuddin. 2012. The Great Ruminant: Nutrisi, Pakan, dan Manajemen Produksi. Penerbit: Brilian Internasional Surabaya.
Ratnakomala, S. 2009. Menabung Hijauan Pakan Ternak Dalam Bentuk Silase.BioTrends/Vol. 4/No. 1/Tahun 2009. LIPI. Bogor.Bioadi Sasana, Jakarta.
Rianto, E. dan Purbowoati, E. 2016. Sapi Potong. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Siregar dan Syofian. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri
Siregar. 2008. Penggemukan Sapi. Penerbit Swadaya: Jakarta.
Siswanto. 2011. Manajemen Tenaga Kerja Indonesia Pendekatan Administratif dan Operasional. Bumi Aksara. Jakarta.
Sri Rachma. A. B., Harada. H., and Ishida T. 2011. The Estimation Of Growth Curve Of Bali Cattle At Bone And Barru Districts, South Sulawesi, Indonesia Using Ten Body Measurements. J. Indonesian Trop. Anim. Agric. 36(4).
Sugita, Basuki. 2002. Pengantar Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan.
Suryana, 2000. Ekonomi Pembangunan: Problematika dan Pendekatan.
Edisi Pertama, Jakarta: Salemba Empat.Universitas Gadjah Mada:
Yogyakarta.
Syarifuddin dan Ahmad Muclhis. 2018. Tata Kelola Pemliharaan Sapi Bali Berwawasan Lingkungan. Proseding Seminar Nasional Pengabdian Masyarakat: Membangun Daya Saing dan Karakter Bangsa melalaui Pengabdian Masyarakat. Hotel Grand Asia Makassar.
Trias Devianty Anggarkusuma (2019). Kaji Banding Nilai Nutrisi Pakan Rumput Gajah Dengan Suplemen Molasses Multinutrient Soft(MMS). Skripsi. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa, Makassar.
Utomo, R. 2015. Konservasi Hijauan Pakan dan Peningkatan Kualitas Bahan Pakan Berserat Tinggi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Zainal. . 2019. Pengaruh Suplemen SMMS Terhadap Pertambahan Berat Badan dan Peningkatan Nilai Jual Sapi Bali Yang Dipelihara Secara Intensif. Skripsi. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Bosowa, Makassar.
Zubir, Syafrial. 2003. Sistem usaha tani penggemukan sapi potong.Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi: Laporan Hasil Pengkajian.
A. Pertambahan Berat Badan 1. Data Lapangan
Berat Badan Awal (kg), Kebutuhan Konsumsi (kg) dan SMMS (kg) (berdasarkan perlakuan)
NO PERLAKUAN BB.
AWAL (kg)
KONSUMSI (10% DARI
BB)
SMMS (KG)
10 % 20 %
1
P0
314 31,4 - -
2 181 18,1 - -
3 140 14,0 - -
4 91 9,1 - -
TOTAL 726 72,6 - -
RATA-RATA 181,5 18,15 - -
1
P1
101 10,1 1,01 -
2 244 24,4 2,44 -
3 159 15,9 1,59 -
4 105 10,5 1,05 -
TOTAL 609 60,9 6,09 -
RATA-RATA 152,25 15,23 1,52 -
1
P2
98 9,8 - 1,96
2 287 28,7 - 5,74
3 122 12,2 - 2.44
4 178 17,8 - 3,56
TOTAL 685 68,5 - 13,7
RATA-RATA 171,25 17,13 - 3,43
Penimbangan awal; Kamis, 14 Mei 2020
No Perlakuan
P0 P1 P2
1 329 105 101
2 185 261 307
3 141 162 125
4 97 110 181
TOTAL 752 638 714
RATA-RATA 188 159,5 178,5
worKET : Penimbangan Akhir;Ahad, 14 Juni 2020
3. Pertambahan Berat Badan (kg) Sapi Bali
PER N BB. AK (Kg)
BB.AW (Kg)
PBB (Kg)
LAMA PEMELIHARAA
N
PBB HARIAN
(Kg)
PO
1 329 314 15 31 0,48
2 185 181 4 31 0,13
3 141 140 1 31 0,03
4 97 91 6 31 0,19
TOTAL 752 726 26 - 0,83
RATA- RATA
188 181,5 6,5 - 0,21
P1
1 105 101 4 31 0,13
2 261 244 17 31 0,55
3 162 159 3 31 0,10
4 110 105 5 31 0,16
TOTAL 638 609 29 - 0,94
RATA- RATA
159,5 152,25 7,25 - 0,24
P2
1 101 98 3 31 0,10
2 307 287 20 31 0,65
3 125 122 3 31 0,10
4 181 178 3 31 0,10
TOTAL 714 685 29 - 0,95
RATA
4. Tabel Pertambahan Berat Badan(kg)
N
PERLAKUAN
P0 P1 P2
1 0,48 0,13 0,10
2 0,13 0,55 0,65
3 0,03 0,10 0,10
4 0,19 0,16 0,10
TOTAL 0,83 0,94 0,95
RATA-RATA 0,21 0,24 0,24
Tests of Between-Subjects Effects
Dependent Variable:PBBHarian
Source
Type III Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Partial Eta Squared
Corrected Model .002a 2 .001 .021 .979 .005
Intercept .617 1 .617 11.730 .008 .566
Perlakuan .002 2 .001 .021 .979 .005
Error
.473 9 .053
Total
1.092 12
Corrected Total
.475 11
a. R Squared = ,005 (Adjusted R Squared = -,217)
PERLAKUAN N BB. HARIAN (KG)
HARGA BERAT HIDUP
(Rp)
PENINGKATAN NILAI JUAL HARIAN (Rp)
PO
1 0,48 47.500,- 22.800,-
2 0,13 47.500,- 6.175,-
3 0,03 47.500,- 1.425,-
4 0,19 47.500,- 9.025,-
T O T A L 0,83 - 39.425,-
RATA-RATA 0,21 - 9.856,25,-
P1
1 0,13 47.500,- 6.175,-
2 0,55 47.500,- 26.125,-
3 0,10 47.500,- 4.750,-
4 0,16 47.500,- 7.600,-
T O T A L 0,94 - 44.650,-
RATA-RATA 0,24 - 11.162,5,-
P2
1 0,10 47.500,- 4.750,-
2 0,65 47.500,- 30.875,-
3 0,10 47.500,- 4.750,-
4 0,10 47.500,- 4.750,-
T O T A L 0,95 - 45.125,-
RATA-RATA 0,24 - 11.281,25,-
N Po P1 P2
1 22.800,- 6.175,- 4.750,-
2 6.175,- 26.125,- 30.875,-
3 1.425,- 4.750,- 4.750,-
4 9.025,- 7.600,- 4.750,-
TOTAL 39.425,- 44.650,- 45.125,-
RATA-RATA 9.856,25,- 11.162,5,- 11.281,25,-
SMMS
Dependent Variable:peningkatannilaijual
SMMS Mean Std. Error
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
p0 9.856 5.445 -2.461 22.174
p1 11.162 5.445 -1.155 23.480
p2 11.281 5.445 -1.036 23.599
Multiple Comparisons peningkatannilaijual
LSD
(I) SMMS
(J) SMMS
Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
p0 p1 -1.3062 7.70036 .869 -18.7257 16.1132
p2 -1.4250 7.70036 .857 -18.8444 15.9944
p1 p0 1.3062 7.70036 .869 -16.1132 18.7257
p2 -.1188 7.70036 .988 -17.5382 17.3007
p2 p0 1.4250 7.70036 .857 -15.9944 18.8444
p1 .1188 7.70036 .988 -17.3007 17.5382
peningkatannilaijual LSD
(I) SMMS
(J) SMMS
Mean Difference
(I-J) Std. Error Sig.
95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound
p0 p1 -1.3062 7.70036 .869 -18.7257 16.1132
p2 -1.4250 7.70036 .857 -18.8444 15.9944
p1 p0 1.3062 7.70036 .869 -16.1132 18.7257
p2 -.1188 7.70036 .988 -17.5382 17.3007
p2 p0 1.4250 7.70036 .857 -15.9944 18.8444
p1 .1188 7.70036 .988 -17.3007 17.5382
Based on observed means.
The error term is Mean Square(Error) = 118,591.
7. Dokument selama kegiatan penelitian
MMS
SMMS
Jerami padi(Hijauan)
Penimbangan akhir penelitian
Opinus kogoya (4516035023), Lahir di Makky 11 November 1995 anak pertama . Penulis memulai jenjang pendidikan sekolah dasar pada tahun 2003 sampai tahun 2009 di SD Negeri Arso 5 Kemudian melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama di SMP’N arso sampai tahun 2011 sedangkan sekolah menengah keatas sampai 2014 di SMA NEGERI 2 SKANTO. Penulis melanjutkan pendidikan disalah satu perguruan tinggi tepatnya di Universitas Bosowa Makassar pada tahun 2016 melalui jalur mandiri dan diterima di Fakultas Pertanian, Jurusan Peternakan.