• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak dari Penerapan Sertifikat Elektro

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dampak dari Penerapan Sertifikat Elektro"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Dampak dari Penerapan Sertifikat Elektronik dari Sudut Pandang Regulasi

Sosial

Muhamad Riyad Ariwibowo - 55416120002

Email :

[email protected]

Universitas Mercu Buana Magister Teknik Elektro

Dosen : DR. Ir. Iwan Krisnadi, MBA

Abstrak

Sejumlah pesaing ritel kini semakin bersikeras untuk membangun sebuah penjualan secara online sehingga beberapa perusahaan yang masih menggunakan konsep “jual atau beli ditempat” menjadi berkurang dengan hasilnya karena kurangnya berminat para pelanggan, sejak munculnya era teknologi “e commerce, serta bersamaan dengan meningkatnya sejumlah kriminalitas yang terdapat di dunia maya atau sering disebut “cyber crime”.Sehingga menjadikan penyelenggaraan sertifikat elektronik menjadi solusi sebagai penengah atau regulasi yang berhubungan dengan dunia sosial masyarakat yang bertujuan mempermudah pelaksanaannya, pencegahannya, dan bagaimana membuatnya agar meminimalkan konflik negatif yang sudah terjadi sebelumnya berupa sanksi yang telah ada, sebagaimana yang telah tercantumkan pada Undang Undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Kata kunci : E commerce, Cyber crime, Regulasi, Sertifikat Elektronik, UU ITE

1. Pendahuluan

Di era perkembangan teknologi saat ini, persaingan bisnis semakin tak jauh dari online atau dengan membutuhkan media internet, sebagai contohnya berupa proses penjualan maupun dalam segala hal dengan bentuk transaksi dan terdapat lembaga yang menjadi pelaku usaha, tentunya memiliki sebuah aturan dan kewajiban yang harus dimiliki, agar dengan jalannya suatu perdagangan (E Commerce) dapat mudah dan aman pada saat proses transaksi. Dapat dikatakan pelaku usaha “jual beli online” karena dapat dipercaya atau diyakini aman

dalam hal konsumen, yaitu dengan pertukaran data dalam layanan jual beli online tersebut.

Hal ini berkaitan juga dengan teknologi yang kini ikut berkembang, yakni “Sertifikasi Elektronik”. Bentuk sertifikat elektronik berupa dokumen elektronik seperti sebuah tanda/ simbol dalam sebuah tampilan layanan elektronis.

(2)

Penyelenggaraan sertifikasi elektronik ini diselenggarakan berdasarkan UU sebagaimana yang sudah diatur yakni, Undang Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dan tepatnya pada Pasal 1 angka 10 UU ITE, yang berisi tentang badan hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya, yang memberikan dan mengaudit Sertifikasi Elektronik.

2. Tujuan

Berdasarkan dari latar belakang dan rumusan masalah, tujuan penelitian yang akan dibahas pada makalah ini adalah ingin mendapatkan informasi bagaimana keterkaitannya Sertifikasi Elektronik ini terhadap Regulasi Sosialnya.

3. Manfaat

Adapun manfaat yang diharapkan dari makalah ini adalah agar pengguna atau pelaku transaksi online maupun terhadap masyarakat yang menikmati adanya transaksi online menjadi lebih mudah, aman dan terpecaya melalui Sertifikasi Elektronik ini dengan mengetahui lebih dari Regulasi Sosialnya.

4. Metodologi

Metode dalam penelitian ini mengacu pada pengumpulan bahan hukum melalui metode pengumpulan data dan berdasarkan penelitian dengan metode pengembangan.

5. Permasalahan

Dari topik yang terdapat makalah ini, mengandung beberapa masalah yang akan dibahas yaitu :

1. Pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik

2. Kandungan Regulasi dan Hukum yang memuat Sertifikat Elektronik

3. Penyebab diselenggarakannya peraturan terkait pada Sertifikat Elektronik dalam ruang lingkup sosialnya.

6. Pembahasan

a. Sertifikasi Elektronik sebagai Pedoman

Sosial

Suatu badan hukum yang berfungsi sebagai pihak yang layak dipercaya yang memberikan dan mengaudit merupakan salah satu upaya penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik sesuai dengan Pasal 1 angka 10 UU ITE. Badan hukum sebagaimana yang dimaksud dapat berupa badan hukum privat (swasta ) atau pemerintah. Badan hukum tersebut nantinya akan bertindak sebagai Certificate Authority (CA) yang secara teknis berada dibawah induk (Root) CA yang saat ini sedang disiapkan oleh pemerintah.

Sertifikat elektronik memuat tanda tangan elektronik dan identitas yang berisi subjek hukum dengan tujuannya untuk memberikan pedoman bagi penyelenggara sertifikat elektronik, serta memberikan acuan dalam proses permohonan penerbitan, perpanjangan masa berlaku sertifikat elektronik.

(3)

beberapa informasi lainnya yang telah didapatkan, bahwa Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah mencatat ada sejumlah poin besar kasus yang sering dialami anak dari tahun 2016 hingga saat ini. Point yang dimaksudkan adalah yang terdapat dalam tabel 1.1 di bawah ini.

7 Point utama Dunia Siber di Indonesia

Belum adanya registrasi IP di ISP

(Internet Service Provider)

Terlalu mudah membuat jaringan sendiri

Terlalu mudah membuat rekening Bank

sendiri (Mobile Banking)

Belum maksimal penggunaan KTP

Elektronik

Konten – konten sosial

Kasus pada anak (KDRT, Bullying Social

Media, dan lingkungan sekolah anak

Diperlukannya BSN (Badan Siber Nasional)

Table 1.1 Kasus yang sering ditemukan dalam dunia

Siber di Indonesia

Dari kumpulan kasus tersebut dapat disimpulkan, sebagai program perlindungan dan perhatian khusus terhadap anak sejak dini agar perlu ditingkatkan dan diwaspadai, terutama dalam dunia internet.

Hal ini yang membuat semakin kuatnya juga sebagai regulasi yang sudah ditetapkan pada Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor

58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4843).

b. Kandungan yang dimuat dalam

Regulasi

E Commerce

Sosial

Suatu perjanjian telah dinyatakan lahir pada saat tercapainya suatu kesepakatan atau persetujuan diantara kedua belah pihak, yang mengenai suatu hal pokok yang menjadi objek perjanjian. E commerce itu sendiri mengandung arti yang secara umum dan luas adalah penyebaran, pembelian, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik berupa internet atau jaringan komputer lainnya. Karena memberikan manfaat aktifitas terutama yang terkait dengan informasi yang dirasakan dari internet sebagai sarana media tanpa adanya suatu hambatan bagi pengiriman maupun penerimaan informasi.

(4)

sudah seharusnya peraturan juga ditingkatkan sesuai dengan perkembangan teknologi yang sudah ada.

Regulasi tersebut disahkan dengan Undang Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (yang selanjutnya dapat disebut UU ITE), diharapkan dapat memberikan manfaat yang berguna bagi aparat penegak hukum, serta sekaligus mencegah tindakan – tindakan yang melanggar hukum yang dapat dilakukan melalui sarang internet. Berbagai aktifitas dan kegiatan dapat dilakukan dengan cara menggunakan sarana teknologi internet, sebagai contoh email yang seringkali menimbulkan suatu permasalahan hukum yaitu melanggar atas pencemaran nama baik dengan ancaman hukum 1,4 tahun atau 16 bulan penjara pada Pasal 310 Kitab Undang Undang Hukum Pidana (yang selanjutnya disebut KUHP), Pasal 311 KUHP tentang pencemaran nama baik secara tertulis dengan ancaman 4 tahun penjara, dan Pasal 27 Ayat 3 UU ITE dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda 1 miliar.

Sesuai informasi mengenai revisi UU ITE yang telah ditegaskan oleh Staf ahli Menteri Badan Hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto, bahwa mulai diberlakukan.

Berikut terdapat pula isi perubahan pokok yang dimuat di revisi UU ITE :

1. Ketentuan tentang Pasal 27 ayat 3 yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik mengalami tiga

perubahan. Bahwa penegasan ini berisi mengenai ketentuan yang bersifat delik aduan, bukan delik umum. Maka, orang tersebut dapat ditahan karena dianggap mencermakan nama baik seseorang, akan tetapi harus diadukan dahulu, sesuai dengan KUHP atas pencemaran nama baik dan fitnah.

2. Penurunan ancaman pidana, ancaman pidana penghinaan atau pencemaran nama baik diturunkan dari paling lama enam tahun menjadi paling lama empat tahun. Dan denda diturunkan paling banyak Rp. 1 miliar menjadi paling banyak Rp. 750 juta.

3. Melaksanakan putusan Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 31 ayat 4 yang mulanya mengamanatkan pengaturan tata cara penyadapan serta menambah kejelasan mengenai keberadaan informasi elektronik dan dokumen elektronik sebagai alat bukti hukum yang sah pada Pasal 5 ayat 1 dan 2. 4. Melakukan sinkronisasi ketentuan

hukum acara pada Pasal 43 ayat 5 dan 6 dengan ketentuan hukum acara KUHP, yakni penggeledahan atau penyitaan dan penangkapan penahanan.

(5)

Penyelenggara Sistem elektronik terkait tindak pidana teknologi informasi. 6. Menambahkan ketentuan mengenai

right to be forgotten atau hak untuk dilupakan pada Pasal 26. Bahwa setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menghapus Informasi Elektronik yang tidak relevan yang berada dibawah kendalinya atas permintaan orang yang bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan.

7. Memperkuat peran pemerintah dalam memberikan perlindungan dari segala jenis gangguan akibat penyalahgunaan informasi dan transaksi elektronik ,yakni dengan penambahan ayat baru pada Pasal 40.

Oleh sebab itu, dengan berlakunya UU revisi ITE ini, agar pengguna media sosial harus lebih berhati – hati dan tidak mudah membagikan hal apapun atau sesuatu yang dapat mengandung hal negatif ke dalam dunia sosial media, yang akhirnya dapat dijerat oleh UU ITE. Karena sanksi dapat ditujukan apabila jika terdapat tuduhan yang salah (informasi dari media internet tekno.liputan6.com tentang perubahan UU ITE)

c. Pihak yang terlibat dari Sertifikasi

Elektronik

Perlu dipahami bahwa perkembangan penggunaan alat elektronik dalam berbagai transaksi terutama dalam bersosialisasi, memiliki keuntungan antara lain, efisiensi,

kecepatan dan kemudahan dalam melakukan kegiatan. Selain kelebihan terdapat pula kekurangan, kelemahan ataupun kerugian dari penggunaan alat elektronik tersebut apabila dihadapkan pada alat bukti di pengadilan.

Dari perkembangan tersebut tentunya terdapat pihak yang akan terlibat pada kegiatan penyelenggaraan sertifikasi Elektronik yang dapat dilihat pada gambar 1.1

Gambar 1.1 Pihak yang terlibat dari

Sertifikasi Elektronik

Sesuai dengan Undang Undang yang terdapat pada Pasal 4, yang mengenai keterlibatan dalam penyelenggaraan sertifikasi elektronik sebagai pengguna maupun yang mengelola yang memiliki tanggung jawab terhadap penyelenggaraan tersebut, yakni :

a. Pasal 5, sebagai Penyelenggara Sertifikat Elektronik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a yaitu BSrE (Balai Sertifikasi Elektronik).

b. Pasal 6, KKSE sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 4 huruf b bertugas:

(6)

penyelenggara sertifikasi elektronik yang dioperasikan pada OSD Lemsaneg;

2. Memastikan bahwa seluruh aspek dalam layanan, operasi , dan infrastruktur sebagaimana dijelaskan dalam dokumen CP OSD Lemsaneg;

3. Memberikan rekomendasi penyelenggaraan dan pengoperasian system sertifikasi elektronik pada OSD Lemsaneg;

4. Merumuskan tindak lanjut atas hasil penilaian auditor; dan

5. Memberikan rekomendasi penghentian secara sementara operasi OSD Lemsaneg. 6. KKSE bertugas selama 2 (dua) tahun

c. Pasal 7, OP (Otoritas Pendaftaran) dilaksanakan oleh BSrE dan dapat didelegasikan kepada instansi Pemilik Sertifikat Elektronik. Sebagaimana yang dimaksudkan pada ayat 1, harus melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam CP (Certificate Policy). BSrE berhak mencabut status OP instansi pemilik sertifikat elektronik jika tidak melaksanakan tugas dan fungsinya. d. Pasal 8, Pemilik Sertifikat Elektronik wajib

memenuhi persyaratan dan kriteria dalam melindungi kunci privat serta menyetujui ketentuan penggunaan sertifikat elektronik sebelum diterbitkan.

e. Pasal 9, Auditor Keamanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf e melaksanakan proses audit secara berkala. Proses audit sesuai

yang pada ayat 1 (satu) dapat dilakukan oleh pihak eksternal.

7.

Penutup

a.

Kesimpulan

Dengan adanya penyelenggaraan Sertifikat Elektronik ini, dapat mengurangi sejumlah cyber crime ataupun tindakan semena – mena yang dibuat di dunia maya, karena telah adanya Undang Undang yang telah diberlakukan pada Senin (28/11/2016) dan di genapkan sebulan pascapengesahan oleh DPR pada Kamis (27/10/2016) lalu. Dan diberlakukannya revisi UU ITE pada Sabtu (26/11/2016) lalu oleh staf ahli Menteri Bidang Hukum Kementrian Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto (media informasi tekno.liputan6.com). Dengan demikian, keterkaitannya regulasi sosial terhadap Sertifikat Elektronik memiliki manfaat yang bijaksana untuk jual beli online (E Commerce), konten – konten sosial, kasus pencemaran nama baik di dunia maya, atau kegiatan illegal lainnya yang diperbuat di dunia maya (internet).

b.

Saran

Terdapat usulan atau saran yang terkait ruang lingkup dari peraturan, sebagai berikut:

1. Tata cara pemberian pengakuan Penyelenggara Sertifikasi Elektronik; 2. Pengoperasian fasilitas penyelenggaraa

Sertifikasi Elektronik induk bagi penyelenggara Sertifikasi Elektronik berinduk;

(7)

untuk melakukan penerbitan, perpanjangan masa berlaku, dan pemblokiran dan pencabutan Sertifikasi Elektronik; dan

4.

Pengawasan penyelenggaraan Sertifikasi Elektronik.

Daftar Pustaka

1. Kemenkumham, Peraturan Kepala Lembaga Sandi Negara Nomor 10 Tahun 2017, Tentang “Undang Undang Penyelenggaraan Sertifikat Elektronik”, Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58. 2. Bintoro, R. Wasi. “Penerapan Hukum

Dalam Penyelesaian Sengketa Transaksi Elektronik di Peradilan Umum”. Universitas Jendral Soedirman

3. Wahyudi, J. “Dokumen Elektronik Sebagai Salah Alat Bukti Pada Pembuktian di Pengadilan”. Universitas Airlangga, Surabaya.

Gambar

Table 1.1 Kasus yang sering ditemukan dalam dunia

Referensi

Dokumen terkait

Mengetahui dan menganalisis perbedaan risiko tidak sistematis pada setiap subsektor Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi yaitu Energi, Jalan Tol, Bandara, Pelabuhan

1.Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Di BMT Al-Hikmah Setelah penulis melakukan penelitian tentang strategi BMT Al- Hikmah untuk pengembangan sumber daya

dengan menggunakan metode difusi agar diperoleh hasil yang menunjukkan adanya aktivitas antibakteri 4 , sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai aktivitas

Perolehan hasil faktorisasi tersebut pengkaji terlebih dahulu membentuk suatu diagonalisasi matriks dengan melibatkan mencari nilai eigen dan vektor eigen,

Selanjutnya, sebagai bahan semikonduktor organik aktif, pentacene dideposisikan dengan ketebalan 50 nm pada suhu ruang dengan metode evaporasi termal.. pada kevakuman 8×10

Penelitian ini telah menghasilkan aplikasi rancang bangun pembelajaran menggunakan metode drill and practice yang sesuai dengan ruang lingkup dan keadaan di SMA Al-Falah

Kesalahan dokter timbul sebagai akibat terjadinya tindakan yang tidak sesuai, atau tidak memenuhinya prosedur medis yang seharusnya dilakukan. Kesalahan seperti itu kemungkinan

Rangkuman Studi: [1] Mengembangkan intervensi baru yang menyasar dan sesuai dengan karakteristik serta masalah yang dihadapi oleh pengguna shabu; [2] Mengembangkan model