• Tidak ada hasil yang ditemukan

ISI BAB I BAB V .pdf

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "ISI BAB I BAB V .pdf"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Film merupakan salah satu sebuah karya dari manusia yang begitu sangat

populer dari dulu hingga sekarang, bahkan film sudah ada sejak sebelum Perang

Dunia I, namun kala itu masih menggunakan format hitam putih dan tidak ada

dialog antar tokoh atau disebut silent film. Bahkan film merupakan contoh dari

komunikasi massa, yang dimana film tidak hanya menampilkan sebuah hiburan

(entertain) bahkan film bisa dapat menampilkan sebuah pendidikan (education).

Saat ini sudah banyak film yang dikeluarkan oleh produsen – produsen yang

berurusan dengan film, yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Film

merupakan salah satu komunikasi massa (Mcquail, 2011). Sebuah film hidup dari

bentukan teknologi rekaman gambar dan suara, dan termasuk ada di dalamnya

berbagai unsur kesenian seperti sastra, teater, seni rupa, dan juga musik

(Wikipedia, 2017).

Film merupakan salah satu media komunikasi massa. Dikatakan sebagai

media komunikasi massa karena merupakan bentuk komunikasi saluran (media)

dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, dalam arti

berjumlah banyak, tersebar dimana – mana, khalayaknya heterogen dan anonym,

dan menimpulkan efek tertentu. Film dan televisi memiliki kemiripan, terutama

sifatnya yang audio visual, tetapi dalam proses penyampaian pada khalayak dan

proses produksinya agak sedikit berbeda (Tan dan Wright, dalam Ardianto &

(2)

2

Definisi film berbeda di setiap negara; di Perancis ada pembedaan antara

film dan sinema.“Filmis” berarti berhubungan dengan film dan dunia sekitarnya, misalnya sosial politik dan kebudayaan. Sedangkan di Yunani film dikenal

dengan istilah cinema, yang merupakan singkatan dari cinematograph (nama

kamera dari Lumiere bersaudara). Cinemathographie secara harfiah berarti

cinema (gerak), tho atau phytos adalah cahaya, sedangkan graphie berarti tulisan

atau gambar.Jadi, yang dimaksud cinemathographie adalah melukis gerak dengan

cahaya. Ada juga istilah lain yang berasal dari bahasa Inggris, yaitu movies;

berasal dari kata move, yang berarti gambar bergerak atau gambar hidup (Vera,

2014).

Film gangster atau juga sering disebut “Mafia Film” atau “Mob Film”

merupakan salah satu genre besar yang telah populer sejak lama. Film gangster

umumnya berkisah bagaimana sebuah kelompok kriminal memperbesar

kekuasaan dan memperluas wilayah operasinya. Para gangster beroperasi diluar

sistem hukum dimana mencuri, memeras, hingga membunuh menjadi bagian dari

hidup mereka. Film gangster sering kali melibatkan bos kriminal yang berwatak

amoral, kejam, dan brutal dalam menyingkirkan gangster pesaingnya atau sistem

hukum yang menghalangi mereka. Kekuatan film gangster sering kali tampak

pada kekuatan akting dari para aktornya yang bertampang keras dan dingin.

Rivalitas antar kelompok gangster biasanya memperlihatkan adegan-adegan aksi

kekerasan brutal tidak manusiawi yang penuh darah. Adegan-adegan aksi sadis

dan brutal biasanya ditampilkan secara eksplisit dengan senjata-senjata khas

seperti senapan mesin “tommy gun”, tongkat pemukul, bom mobil, dan lainnya.

Plot film gangster juga kadang melibatkan “kucing-kucingan” antara

pihak gangster dan penegak hukum. Pihak penegak hukum sendiri sering kali

menggunakan cara-cara di luar aturan hukum untuk melawan kelompok gangster.

(3)

3 seperti, jalanan, bar, klab malam, rumah judi, tempat prostitusi yang menjadi

tempat favorit berkumpulnya para gangster. Cerita film gangster biasanya tidak

lepas dari bisnis barang ilegal seperti minuman keras, narkotika, senjata api, dan

lainnya.

Meskipun film gangster terdapat unsur kekerasan didalamnya, namun film

gangstser juga terdapat unsur maskulinitas di dalamnya. Salah satu film bertema

gangster yang cukup terkenal dalam dunia perfilman dari tahun 1972 ialah The

Godfather, karya Francis Ford Coppola. Film ini berasal dari novel karya Mario

Puzo, dan mendapatkan Oscar Kategori Skenario Adaptasi Terbaik danFilm

Terbaik tahun 1973. Film tersebut menceritakan kehidupan Mafia bernama Don

Vito Corleone dan memiliki 4 orang anak yang selalu setia kepada ayahnya, mulai dari Santino “Sonny” Corleone, Alfredo “Fredo” Corleone, Michael Corleone, Constanzia “Connie” Corleone, serta anak angkat bernama Tom Hagen, namun dari film tersebut dipusatkan kepada Michael Corleone. Setting film tersebut di

kota New York, Pulau Sicilia, dan California pada era pasca Perang Dunia II

(1945), dimana terpusatkan di Little Italy, New York. Film ini mendapatkan citra

positif dari kritikus, bahkan dalam Metacritic memberi skor 100 (nilai sempurna),

dan menjadikan film ini membuat film terbaik sepanjang masa di sejarah

perfilman dunia. Film ini meskipun mempunyai genre film kriminal khususnya

gangster dan drama, namun film ini mempunyai sikap kekeluargaan yang sangat

melekat didalamnya, serta dalam film tersebut terdapat dominanya pihak laki –

laki ketimbang pihak perempuan adanya sifat kepimpinan layaknya kepala

keluarga, lalu adanya unsur kelaki-laki yang dimana laki – laki jika berkelahi

menggunakan tangan kosong untuk menonjolkan sifat machonya.

Film ini mempunyai durasi sekitar 2 jam 55 menit atau 175 menit dan di

sutradarai oleh Francis Ford Coppola, dan dirilis pada tahun 1972 di Indonesia

(4)

4

Serikat sendiri memberi rating “R” atau “Restricted” yang dikata lain, film tersebut hanya diperbolehkan khusus dewasa. (filmratings.com)

Film ini mempunyai unsur ideologi yang terkandung dalamnya, dimana

adanya unsur minoritas kaum perempuan didalamnya, serta dalam film tersebut

menonjolkan dominan sifat kelaki – lakian atau maskulinitas, meskipun dari pihak

perempuan hanya sedikit yang terkandung dalamnya. Serta didalamnya juga

adanya unsur kreatif yang memetingkan dalam film tersebut.

Dari observasi yang dilakukan, film The Godfather tersebut memiliki

adanya dominan laki – laki, sehingga di film tersebut jarang sifat feminisme

ditonjolkan film tersebut. Film ini sangat fenomenal pada era saat itu (1970an)

tetapi film ini sangat diminati oleh pencinta film diseluruh dunia sampai sekarang

sehingga menduduki peringkat 2 dari 250 film terbaik sepanjang masa versi

Internet Movie Database (IMDb) dengan skor 9.2 dari 10. Hal ini dikarenakan

banyak peran laki – laki yang mempunyai peran dari scene awal hingga akhir

didalamnya, sehingga penulis melakukan analisis penelitian deskriptif dengan cara

menganalisis dengan cara semiotika komunikasi yang dikembangkan oleh Charles

Sanders Peirce. Semiotika ini dinilai cocok dengan analisis yang terdapat dari

teori tersebut, sehingga penulis dapat menjabarkan dengan mencocokan teori –

teori maskulinitas dengan disisipkan scene scene yang terkandung dengan maskulinitas.

Maskulin atau maskulinitas sendiri berasal dari bahasa Perancis,

masculinine adalah sebuah kata sifat, adjektif yang berarti "kepriaan" atau

menunjukkan sifat laki - laki. Lawan katanya adalah feminin. Istilah ini berbeda

dengan “kejantanan” (yang lawan katanya adalah "kebetinaan"). Dapat dikatakan

maskulin jika: Gagah, kekar, lebih berpikir secara logika daripada perasaan.

(5)

5 macho. Namun maskulin juga dapat diidentifikasikan dengan pria menggunakan

jas (maskulin) supaya terlihat lebih gagah.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah di atas, maka terdapat

identifikasi masalah, yang dapat dirumuskan adalah adanya elemen semiotika

dalam film The Godfather cenderung bersifat seperti adanya sifat dari maskulin

yang ditujukan bahwa laki – laki itu mempunyai tanggung jawab yang besar,

bersifat sayang kepada keluarga, dan masih banyak lagi. Meskipun film The

Godfather adalah film bergenrekriminal dan drama. Visual dalam film tersebut

berperan penting dalam penyampaian pesan, karena pesan dalam film dibentuk

berdasarkan elemen-elemen visualnya. Sedangkan kaitannya dengan semiotika

adalah bahwa segala sesuatu yang dapat diinderai manusia dapat menjadi tanda,

sehingga elemen visual iklan juga dapat menjadi sebuah tanda.Dalam semiotika

Charles Sanders Peirce terdapat pengkajian tingkatan tanda yang menghasilkan

makna – makna berdasarkan relasi tanda, yang dalam sebuah film makna - makna

tersebut merupakan pesan dalam film.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas penulis menyusun sebuah rumusan yaitu

Bagaimana maskulinitas dalam film The Godfather karya Francis Ford

Coppola menggunakan analisis semiotika komunikasi Charles Sanders Peirce?

1.4 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang peneliti capai dari penelitian ini ialah ingin

mendeskripsikan maskulinitas dalam film The Godfather karya Francis Ford

(6)

6

1.5 Signifikasi Penelitian

1) Akademis

Untuk menjelaskan bahwa film merupakan salah satu komunikasi massa

yang di mana ada unsur budaya, sastra, dan sebagainya. Serta sebagai bahan

referensi untuk mengkaji Ilmu Komunikasi dalam terkait unsur kajian film dengan

menggunakan analisis semiotika Charles Sanders Peirce.

2) Praktis

Untuk menjelaskan kepada praktisi terutama bagi pembuat film agar

mengetahui adegan mana saja yang mengandung unsur – unsur maskulinitas

dalam konteks Amerika Serikat pada tahun 1940an hingga 1950an.

1.6 Sistematika Penelitian

Untuk memberikan sistematika penelitian yang jelas, maka pada skripsi ini

peneliti mencoba menguraikan isi kajian penelitian. Adapun sistematika penelitian

sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Pendahuluan merupakan pengantar dari skripsi ini terdiri dari beberapa

subbab, yaitu latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, signifikasi masalah, dan sistematika penelitian.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini peneliti menjelaskan secara rinci mengenai beberapa tinjauan

pustaka atau peneliti terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh peneliti. Juga menjelaskan teori yang nantinya akan digunakan

sebagai landasan penelitian. Tidak lupa juga menjelaskan teori yang berdasarkan

(7)

7 BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini peneliti akan menjelaskan tentang metode peneltian yang

akan peneliti gunakan, seperti paradigma penelitian, cara teknik mengumpulkan

dan bagaimana prosedur cara peneliti dalam menganalisis data tersebut.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini peneliti akan menjelaskan tentang penyajian data dan

pembahasan tentang maskulinitas dalam film The Godfather dengan cara

menggunakan analisis semiotika komunikasi Charles Sanders Peirce.

BAB V : PENUTUP

Bab ini merupakan bab terakhir yang peneliti akan menjabarkan mengenai

(8)
(9)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka (Peneliti Terdahulu)

Penelitian ini dilakukan tidak terlepas dari hasil penelitian – penelitian

terdahulu yang sebelumnya yang pernah dilakukan sebagai pembanding dan

kajian refrensi.

Penelitian mengenai Maskulinitas Dalam Film The Godfather (Analisis

Semiotika Komunikasi Charles Sanders Peirce) memiliki beberapa skripsi, tesis

dan jurnal rujukan. Berikut dibawah ini merupakan skripsi rujukanatau penelitian

(10)
(11)

11 Tabel 2.1 Menjabarkan peneliti terdahulu yang fokus penelitian sejenis dengan

penelitian yang akan peneliti lakukan. Sumber: Dokumen Peneliti

Dari hasil beberapa jurnal, skripsi dan tesis rujukan maka hasil yang

pertama ialah mengenai penelitian dengan judul Representasi Maskulinitas Dalam

Iklan Produk Perawatan Tubuh Untuk Laki – Laki (Analisis Semiotika Iklan Clear

Men Sampo Versi Rain dan L’oreal Men Expert Versi Matthew Fox), karya

Febriyanti tahun 2011. Penelitian ini merepresentasikan

maskulinitas yang mengukuhkan ideologi patriarki. Hampir dalam setiap adegan,

maskulinitas direpresentasikan melalui kekuatan laki - laki, perlindungan laki -

laki terhadap perempuan, penempatan laki - laki di ranah publik,kesuksesan dan

kesejahteraan. Ada tiga mitos maskulinitas dalam ideologi patriarki yang sering

muncul dalam iklan Clear Men Sampo dan L’Oreal Men Expert yakni:

(1) No sissy stuff, di mana laki - laki tidak boleh tampil feminin dan laki -

laki sangat dianjurkan untuk tidak mengurusi hal yang berkaitan dengan

femininitas,

(2) Be a Big Wheel, maskulinitas juga diukur dari kekuasaan atau kekuatan

yang dimiliki, tingkat kesuksesan, tingkat kesejahteraan, dan status yang dimiliki,

(3) Give ‘em Hell, mengacu pada sikap dan aura laki - laki yang berani dan agresif, dimana setiap laki - laki maskulin berani menambil resiko.

Lalu dalam penelitian kedua dengan judul Hegemoni Maskulinitas Dalam

Iklan Minuman Berenergi (Analisis Semiotika TVC Extra Joss dan Kuku Bima

Ener-G), karya I Nyoman Winata tahun 2011. Penggunaan image - image

simbolik dan bahasa - bahasa dalam kedua iklan tersebut sangatlah hegemoni

maskulin. Iklan Kuku Bima Ener-G maupun Extra Joss memanfaatkan kuatnya

(12)

12

menyebarkannya melalui media massa. Maskulinitas di representasikan melalui

proses mitologisasi,dimana maskulinitas adalah kesempurnaan manusia sehingga

menjadi kekuatan yang dominan diatas kekuatan lainnya yakni femininitas.

Dalam penelitian ketiga berdasarkan tesis yang berjudul Maskulinitas Pada

Iklan Televisi (Analisis Semiotik Iklan Produk Khusus Pria: Extra Joss, Surya Pro

Mild, dan Vaseline Men Moisturiser), karya Rosalina tahun 2011. Penelitian ini

menemukan bahwa iklan yang dibuat oleh produsen dengan melanggengkan

ideologi patriarki di Indonesia supaya industri tetap berjalan sesuai dengan

kepentingan kapitalis.Sehingga iklan bukan sekedar mengemas produk, tetapi juga

bagaimana para produsen menggunakan maskulinitas sebagai komoditas bagi

produk mereka.

Dengan demikian penelitian yang berjudul Representasi Maskulinitas

Dalam Film Legend No. 17 Karya Nikolai Lebedev: Sebuah Kajian Semiotika,

karya Anniesa Fithiriana tahun 2014, dapat disimpulkan bahwa film Legend No.

17 karya sutradara Nikolai Lebedev ini telah memberikan gambaran mengenai

bentuk-bentuk maskulinitas, sesuai dengan konsep stereotipe maskulinitas yang

berkaitan erat dan tidak dapat dilepaskan dari budaya patriarki.

Sedangkan penelitian yang akan peneliti lakukan ialah mengenai

Maskulinitas Dalam Film The Godfather (Analisis Semiotika Komunikasi Charles

Sanders Peirce) memiliki perbedaan antara Peneliti dengan peneliti lainnya adalah

adanya perbedaan dari paradigma penelitian atau pendekatan penelitian. Dalam

hal ini Peneliti menggunakan teori konstruktivisme dan peneliti lain menggunakan

teori kritis dan teori deskriptif. Dari kebanyakan peneliti terdahulu hanya

membahas dalam iklan yang mengandung maskulinitas, dan dari film hanya satu

peneliti. Oleh karena itu Peneliti ingin mengembangkan fokus penelitian

(13)

13 analisis semiotika yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce dan

menggunakan metode penelitian kualitatif.

Lalu dalam film The Godfather karya sutradara Francis Ford Coppola

tersebut memilki peran penting laki – laki dalam hal kekeluargaan, dimana adanya

di scene scene film tersebut laki – laki mempunyai hal yang dingin untuk mengambil keputusan dalam hal ini menunjukan sifat maskulinitas. Hal ini terjadi

dalam budaya Indonesia yang memiliki sistem budaya patriarki, sehingga dalam

kekeluargaan laki – laki mempunyai dominan lebih tinggi dari pada perempuan.

2.2 Komunikasi Massa

Menurut kodratnya manusia sebagai mahluk sosial (Zoon politicon) atau

makhluk bermasyarakat, selain itu juga diberikan yang berupa akal dan pikiran

yang berkembang serta dapat dikembangkan.Dalam hubungannya dengan

manusia sebagai makhluk sosial, manusia selalu hidup bersama dengan manusia

lainnya. Dorongan masyarakat yang dibina sejak lahir akan selalu menampakkan

dirinya dalam berbagai bentuk, karena itu dengan sendirinya manusia akan selalu

bermasyarakat dalam kehidupannya. Manusia sebagai makhluk individu maupun

makhluk sosial, memiliki dorongan ingin tahu, ingin maju dan berkembang, salah

satu sarananya adalah komunikasi.

Komunikasi menurut James A.F.Stoner yang dikutip oleh A.W. Widjaja,

menyebutkan bahwa komunikasi adalah: “Proses di mana seseorang berusaha

memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan”. (Widjaja, 1993:8).

Pendapat John R. Schemerhorn cs yang dikutip oleh A.W. Widjaja,

menyatakan bahwa komunikasi itu dapat diartikan sebagai: “Proses antar pribadi

(14)

14

Lalu ilmu komunikasi menurut Berger dan Chaffe yang dikutip Wiryanto,

menyebutkan bahwa ilmu komunikasi adalah: “Ilmu komunikasi itu mencari

untuk memahamu mengenai produksi, pemrosesan dan efek dari symbol serta

sistem signal, dengan mengembangkan pengujian teori-teori menurut hukum

generalisasi guna menjelaskan fenomena yang berhubungan dengan produksi, pemrosesan dan efeknya.” (Wiryanto, 2004)

Komunikasi massa menurut Richard West dan Lynn H. Turner adalah “Komunikasi kepada khalayak luas dengan menggunakan media massa”. Lalu apa itu media massa? “Media massa adalah sebuah saluran – saluran atau cara pengiriman bagi pesan – pesan dengan menggunakan massa”. (West & Turner,

2008).

Dennis McQuail mengatakan bahwa komunikator dalam komunikasi

massa bukanlah satu orang melainkan sebuah organisasi formal. Komunikasi

massa menciptakan pengaruh secara luas dalam waktu singkat kepada banyak

orang serentak (Denis McQuail, 2011:32).

Proses komunikasi massa ada dua model proses komunikasi massa

tersebut yaitu

a. Linear Process: komunikasi massa merupakan sebuah proses produksi

dan penyampaian pesan kepada khalayak massa yang berlangsung satu arah atau

linear. Contohnya ialah membaca koran.

b. Cultural Process: audiens berperan serta aktif dalam menafsirkan pesan

mereka dapat memilah pesan, bahkan menolak pesan dari media massa yang tidak

sesuai dengan keyakinan mereka atau disebut juga selective exposure yaitu

dimana individu selalu mencari pesan yang memiliki hubungan dengan

(15)

15 2.3 Media Massa

Media massa adalah “komunikasi dengan menggunakan sarana atau peralatan yang dapat menjangkau massa sebanyak-banyaknya dan area yang

seluas- luasnya”.

Dennis McQuail menyatakan “Komunikasi massa tak akan lepas dari massa, karena dalam komunikasi massa, penyampaian pesannya adalah melalui media.” (McQuail 2005:3) Media massa merupakan sumber kekuatan alat kontrol, manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan sebagai

pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.

Ada berbagai jenis media massa, seperti:

a. Media Cetak (Printed Media): Surat kabar, Tabloid, Majalah.

b. Media Elektronik (Electronic Media): Radio, Televisi, Film/Video

c. Media Siber (Cyber Media) atau disebut juga Media Baru (New

Media): Website, Portal Berita, Blog, Media Sosial.

2.4 Film

Media film tidak lepas dari perkembangan dari era elektronik yang dimana

baru pertama kali dalam pertemuan teknologi telegraf pada tahun 1840. Banyak

kontribusi telegraf untuk komunikasi seperti:

a. Membedakan komunikasi dari transportasi. Membuat berbagai macam

pesan dapat diterima secara langsung tanpa harus bergantung pada moda

transportasi lain.

b. Telegraf, bersamaan dengan berkembangnya surat kabar mulai merubah

(16)

16

c. Telegraf memudahkan kalangan militer, bisnis dan para pemimpin

politik untuk berkoordinasi dengan pihak –pihak terkait, terlebih lagi setelah

adanya instalasi kabel transatlantic pada tahun 1860-an

d. Telegraf merupakan awal mula dari perkembangan teknologi

komunikasi, yang mengawali penemuan radio, mesin faksimili, dan telepon.

Pertama kali dikembangkan oleh Marconi pada tahun 1896, radio mulai

berkembang menjadi sebuah bisnis yang sangat menguntungkan terutama pada

tahun 1920. Pada saat itu radio menjadi satu media bagi masyarakat yang

menyediakan berbagai berita dan hiburan, sehingga banyak produsen yang mulai

memasang iklan mereka di radio. Pada abad ke 20, industri perfilman mulai

berkembang. Masyarakat terutama di Amerika memiliki alternatif hiburan.

Munculnya film dan radio merupakan pertanda awal kebangkitan era informasi.

Film adalah gambar-hidup, juga sering disebut movie (pelesetan untuk frasa

moving picture, ‘gambar bergerak’). Film, secara kolektif, sering disebut ‘sinema’. Gambar hidup adalah bentuk seni, bentuk symbol - simbol dari hiburan, dan juga bisnis. Film dihasilkan dengan rekaman dari orang dan benda (termasuk

fantasi dan simbol palsu) dengan kamera, dan/atau oleh animasi. Pengertian film

berdasarkan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman pada

Bab 1 Pasal 1 menyebutkan, yang dimaksud dengan film adalah karya seni budaya

yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat

berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat

dipertunjukan. (Vera:2014)

Karakteristik film yang spesifik menurut (Vera, 2014), yaitu layar lebar,

pengambilan gambar, konsentrasi penuh, dan identifkasi psikologis.

1. Layar yang luas/lebar, maksudnya kelebihan media film

dibandingkan televisi adalah layar yang digunakan untuk pemutaran film

(17)

17 memberikan keleluasaan penontonnya untuk melihat adegan – adegan

yang disajikan dalam film.

2. Pengambilan gambar pemandangan menyeluruh, dengan kelebihan

film, yaitu layar yang besar, maka teknik pengambilan gambarnya pun

dapat dilakukan dapat dilakukan atau dapat memungkinkan dari jarak jauh

atau extreme long shot dan panoramic shot. Pengambilan gambar yang

seperti ini dapat memunculkan kesan artistik dan suasana yang

sesungguhnya.

3. Konsentrasi penuh. Karena kita menonton film di bioskop, tempat

yang memilki ruangan kedap suara, maka pada saat kita menonon film,

kita fokus pada alur cerita yang ada di dalam film tersebut. Tanpa adanya

gangguan dari luar.

4. Identifikasi psikologis, konsentrasi penuh saat kita menonton di

bioskop, tanpa kita sadari dapat membuat kita benar – benar menghayati

apa yang ada di dalam film tersebut. Penghayatan yang dalam itu membuat

kita secara tidak sadar menyamakan diri kita sebagai salah seorang

pemeran dalam film tersebut. Menurut ilmu jiwa sosial, gejala seperti ini

disebut sebagai identifikasi psikologis.

Film juga terdapat dua macam yaitu film dokumenter dan film fiksi.

Masing – masing karakteristik memilki pengertian yang berbeda, seperti;

1. Film Dokumenter

Film dokumenter menurut (Beaver, 2006) ialah sebuah film non-fiksi.

Film Dokumenter biasanya di-shoot di sebuah lokasi nyata, tidak

(18)

18

sejarah, ilmu pengetahuan, social atau lingkungan. Tujuan dasarnya

adalah untuk memberi pencerahan, member informasi, pendidikan,

melakukan persuasi dan memberikan wawasan tentang dunia yang kita

tinggali.

2. Film Fiksi

Film fiksi menurut (Bordwell, Thompson, & Smith, 2017) adalah

sebuah genre film yang mengisahkan cerita fiktif maupun narasi. Film

cerita biasanya berkebalikan dengan film yang menyajikan informasi,

seperti film dokumenter, begitupun beberapa film percobaan (seperti

Wavelength oleh Michael Snow, Man with a Movie Camera oleh

Dziga Vertov, atau film-film karya Chantal Akerman). Dalam

beberapa contoh film dokumenter, bila nonfiksi, dapat menyajikan

sebuah kisah.

Sejak kemunculan gaya klasik Hollywood di awal abad ke-20, film cerita

yang biasanya dalam bentuk film utama telah mendominasi film komersial.

Pembuatan film zaman dulu dan tak terlihat (sering disebut fiksi "realis") sering

menjadi pusat definisi umum ini. Unsur kunci pembuatan film tak terlihat ini

berada pada pengeditan berkelanjutan.

Sebelum masa ini, film akan termasuk catatan di awal yang

menginformasikan pemirsa bahwa kejadian yang ditayangkan adalah fiktif dan

jika ada kesamaan dengan peristiwa nyata, hanyalah bersifat "kebetulan belaka".

Kini, film cenderung memasukkan catatan kalau tidak menayangkan kejadian

fiktif, yang dapat "berdasar atas kisah nyata" atau beberapa ragamnya. Menurut

(Vera, 2014), genre adalah klasifikasi tertentu pada sebuah film yang memiliki

ciri tersendiri, dalam film fiksi atau film cerita. Genre film antara lain seperti

(19)

19 1. Film drama. Film drama adalah sebuah genre film yang sebagian

besar tergantung pada pengembangan mendalam karakter realistis

yang berurusan dengan tema emosional. Contoh dari film drama; “Citizen Kane” (1941), ”All About Eve” (1950), “Metropolis” (1927), “The Godfather” (1972).

2. Film laga (action). Film laga atau action adalah sebuah genre film

yang satu atau beberapa tokohnya terlibat dalam tantangan yang

memerlukan kekuatan fisik ataupun kemampuan khusus. Contoh

dari film laga; “Mad Max: Fury Road” (2015), “Wonder Woman”

(2017), “Dunkirk” (2017), “Logan” (2017).

3. Film komedi. Film komedi merupakan genre film yang di mana

penekanan utamanya pada humor. Contoh dari film komedi; “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part I” (2016), “Ghostbusters” (1984), “Get Out” (2017), “La La Land” (2016). 4. Film horor. Film horor adalah merupakan genre film yang

berusaha untuk memancing emosi berupa ketakutan dan rasa ngeri

dari penontonnya. Alur cerita film horor sering melibatkan tema –

tema kematian, supranatural, atau penyakit mental. Contoh dari film horor; “It” (2017), “Keluarga Tak Kasat Mata” (2017), “ The Exocist” (1973), “Psycho” (1960).

5. Film animasi. Film animasi adalah film yang merupakan hasil dari

pengolahan gambar tangan menjadi gambar yang bergerak. Pada

awal penemuannya, film animasi dibuat dari berlembar – lembar kertas gambar yang kemudian di”putar” sehingga muncul efek gambar bergerak. Dengan bantuan komputer dan grafika komputer,

pembuatan film menjadi lebih mudah dan cepat. Sekarang akhir –

(20)

20

(1995), “Battle of Surabaya” (2015), “Moana” (2016), “Coco” (2017).

6. Film fiksi ilmiah (science fiction). Film fiksi ilmiah atau science

fiction adalah film yang menggunakan tema fiksi sains, yang

dimana penggambaran fenomena berbasis ilmu pengetahuan yang

belum tentu diterima pada oleh ilmu pengetahuan pada saat itu,

seperti bentuk kehidupan di luar bumi, dunia asing, persepsi akan

ekstra-indrawi, dan perjalanan waktu. Film tersebut sering bersama

dengan unsur dengan futuristik seperti, wahana, robot, cyborg,

perjalanan ruang angkasa antarbintang, mahluk asing (alien), dan teknologi lainnya. Contoh dari film fiksi ilmiah; “Star Wars: Episode IV – A New Hope” (1977), “Jurassic Park” (1993), “Terminator 2: Judgment Day” (1991), ‘The Day the Earth Stood Still” (1951).

7. Film musikal. Film musikal adalah genre film di mana lagu

dinyanyikan oleh karakter terjalin ke dalam narasi, kadang –

kadang disertai menari. Contoh dari film musikal; “Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street” (2007), “Les Misérables” (2012), “La La Land” (2016), “Beauty and the Beast” (2017).

2.4.1 Perkembangan Film di Indonesia

Perfilman Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan sempat menjadi

raja di negara sendiri pada tahun 1980-an, ketika film Indonesia merajai

bioskop-bioskop lokal. Film-film yang terkenal pada saat itu antara lain, Catatan si Boy,

Blok M dan masih banyak film lain. Bintang-bintang muda yang terkenal pada

saat itu antara lain Onky Alexander, Meriam Bellina, Lydia Kandou, Nike Ardilla,

Paramitha Rusady, Desy Ratnasari. Pada tahun-tahun itu acara Festival Film

Indonesia masih diadakan tiap tahun untuk memberikan penghargaan kepada

(21)

21 Indonesia semakin jeblok pada tahun 90-an yang membuat hampir semua film

Indonesia berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa. Pada saat itu film

Indonesia sudah tidak menjadi tuan rumah lagi di negara sendiri.

Periode 1900 – 1942, merupakan era awal perfilman Indonesia ini diawali

dengan berdirinya bioskop pertama di Indonesia pada 5 Desember 1900 di daerah

Tanah Abang, Batavia dengan nama Gambar Idoep yang menayangkan berbagai

film bisu. Film pertama yang dibuat pertama kalinya di Indonesia adalah film bisu

tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng dan dibuat oleh sutradara Belanda

G. Kruger dan L. Heuveldorp. Saat film ini dibuat dan dirilis, negara Indonesia

belum ada dan masih merupakan Hindia Belanda, wilayah jajahan Kerajaan

Belanda. Film ini dibuat dengan didukung oleh aktor lokal oleh Perusahaan Film

Jawa NV di Bandung dan muncul pertama kalinya pada tanggal 31 Desember,

1926 di teater Elite and Majestic, Bandung. Setelah sutradara Belanda

memproduksi film lokal, berikutnya datang Wong bersaudara yang hijrah dari

industri film Shanghai. Awalnya hanya Nelson Wong yang datang dan

menyutradarai Lily van Java (1928) pada perusahaan South Sea Film Co.

Kemudian kedua adiknya Joshua dan Otniel Wong menyusul dan mendirikan

perusahaan Halimoen Film.

Periode 1942 – 1949 pada masa ini, produksi film di Indonesia dijadikan

sebagai alat propaganda politik Jepang. Pemutaran film di bioskop hanya dibatasi

untuk penampilan film -film propaganda Jepang dan film-film Indonesia yang

sudah ada sebelumnya, sehingga bisa dikatakan bahwa era ini bisa disebut sebagai

era surutnya produksi film nasional. Pada 1942 saja, Nippon Eigha Sha,

perusahaan film Jepang yang beroperasi di Indonesia, hanya dapat memproduksi 3

film yaitu Pulo Inten, Bunga Semboja dan 1001 Malam. Lenyapnya usaha swasta

di bidang film dan sedikitnya produksi yang dihasilkan oleh studio yang dipimpin

oleh Jepang dengan sendirinya mempersempit ruang gerak dan kesempatan hidup

(22)

22

ada. Namun mereka yang sudah dilahirkan sebagai artis tidaklah dapat begitu saja

meninggalkan profesinya. Satu-satunya jalan keluar untuk dapat terus

mengembangkan dan memelihara bakat serta mempertahankan hidup adalah naik

panggung sandiwara. Beberapa rombongan sandiwara profesional dari zaman itu

antara lain adalah Bintang Surabaya, Pancawarna dan Cahaya Timur di Pulau

Jawa. Selain itu sebuah kumpulan sandiwara amatir Maya didirikan, dimana

didalamnya bernaung beberapa seniman-seniwati terpelajar dibawah pimpinan

Usmar Ismail yang kelak menjadi Bapak Perfilman Nasional.

Periode 1950 – 1962 terlahirlah Hari Film Nasional diperingati oleh insan

perfilman Indonesia setiap tanggal 30 Maret. Karena pada tepatnya tanggal 30

Maret 1950 adalah hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau

Long March of Siliwangi yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Hal ini

disebabkana karena film ini dinilai sebagai film lokal pertama yang bercirikan

Indonesia. Selain itu film ini juga merupakan film pertama yang benar-benar

disutradarai oleh orang Indonesia asli dan juga diproduksi oleh perusahaan film

milik orang Indonesia asli yang bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional

Indonesia) dimana Usmar Ismail tercatat juga sebagai pendirinya. Selain itu pada

tahun 1951 diresmikan pula Metropole (sekarang bernama Metropole XXI),

bioskop termegah dan terbesar pada saat itu. Pada masa ini jumlah bioskop

meningkat pesat dan sebagian besar dimiliki oleh kalangan non pribumi. Pada

tahun 1955 terbentuklah Persatuan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia dan

Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GAPEBI) yang akhirnya

melebur menjadi Gabungan Bioskop Seluruh Indonesia (GABSI). Pada masa itu

selain PFN yang dimiliki oleh negara, terdapat dua perusahaan perfilman terbesar

di Indonesia, yaitu Perfini dan Persari (dipimpin oleh Djamaluddin Malik)

Periode 1962 – 1965, era ini ditandai dengan beberapa kejadian penting

terutama menyangkut aspek politis, seperti aksi pengganyangan film-film yang

(23)

23 pemboikotan, pencopotan reklame, hingga pembakaran gedung bioskop. Saat itu

Jumlah bioskop mengalami penurunan sangat drastis akibat gejolak politik. Jika

pada tahun 1964 terdapat 700 bioskop, pada tahun berikutnya, yakni tahun 1965

hanya tinggal tersisa 350 bioskop.

Periode 1965 – 1970, era ini dipengaruhi oleh gejolak politik yang

diakibatkan oleh peristiwa G30S PKI yang membuat pengusaha bioskop

mengalami dilema karena mekanisme peredaran film rusak akibat adanya gerakan

anti imperialisme, sedangkan produksi film nasional masih sedikit sehingga

pasokan untuk bioskop tidak mencukupi. Saat itu inflasi yang sangat tinggi

melumpuhkan industri film. Kesulitan ini ditambah dengan kebijakan pemerintah

mengadakan sanering pada tahun 1966 yang menyebabkan inflasi besar-besaran

dan melumpuhkan daya beli masyarakat. Pada akhir era ini perfilman Indonesia

cukup terbantu dengan membanjirnya film impor sehingga turut memulihkan

bisnis perbioskopan dan juga meningkatkan animo masyarakat untuk menonton

yang pada akhirnya meningkatkan jumlah penonton.

Periode 1970 – 1991 merupakan teknologi pembuatan film dan era

perbioskopan mengalami kemajuan, meski di satu sisi juga mengalami persaingan

dengan televisi (TVRI). Pada tahun 1978 didirikan Sinepleks Jakarta Theater oleh

pengusaha Indonesia, Sudwikatmono menyusul dibangunnya Studio 21 pada

tahun 1987. Akibat munculnya raksasa bioskop bermodal besar itu mengakibatkan

terjadinya monopoli dan berimplikasi terhadap timbulnya krisis bagi bioskop -

bioskop kecil dikarenakan jumlah penonton diserap secara besar-besaran oleh

bioskop besar. Pada masa ini juga muncul fenomena pembajakan video tape.

Periode 1991 – 1998, perfilman Indonesia bisa dikatakan mengalami mati

suri dan hanya mampu memproduksi 2-3 film tiap tahun. Selain itu film-film

Indonesia didominasi oleh film-film bertema seks yang meresahkan masyarakat.

(24)

24

serta munculnya teknologi VCD, LD dan DVD yang menjadi pesaing baru.

Bertepatan dengan era ini lahir pula UU No 8 Tahun 1992 tentang Perfilman yang

mengatur peniadaan kewajiban izin produksi yang turut menyumbang surutnya

produksi film. Kewajiban yang masih harus dilakukan hanyalah pendaftaran

produksi yang bahkan prosesnya bisa dilakukan melalui surat-menyurat. Bahkan

sejak Departemen Penerangan dibubarkan, nyaris tak ada lagi otoritas yang

mengurusi dan bertanggungjawab terhadap proses produksi film nasional.

Dampaknya ternyata kurang menguntungkan sehingga para pembuat film

tidak lagi mendaftarkan filmnya sebelum mereka berproduksi sehingga

mempersulit untuk memperoleh data produksi film Indonesia - baik yang utama

maupun indie - secara akurat. Pada era ini muncul juga buku mengenai perfilman

Indonesia yaitu 'Layar Perak: 90 Tahun Bioskop di Indonesia yang terbit pada

tahun 1992 dan mengupas tahapan perfilman Indonesia hanya sampai periode

1991.

Periode 1998 – sekarang, merupakan sebagai era kebangkitan perfilman

nasional. Kebangkitan ini ditunjukkan dari kondisi perfilman Indonesia yang

mengalami pertumbuhan jumlah produksi yang menggembirakan. Film pertama

yang muncul di era ini adalah Cinta dalam Sepotong Roti karya Garin Nugroho.

Setelah itu muncul Mira Lesmana dengan Petualangan Sherina dan Rudi

Soedjarwo dengan Ada Apa dengan Cinta? (AADC) yang sukses di pasaran.

Hingga saat ini jumlah produksi film Indonesia terus meningkat pesat meski

masih didominasi oleh tema-tema film horor dan film remaja. Pada tahun 2005,

hadir Blitzmegaplex di dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Bandung.

Kehadiran bioskop dengan konsep baru ini mengakhiri dominasi Cineplex yang

dimiliki oleh kelompok 21 yang selama bertahun-tahun mendominasi penayangan

(25)

25 2.4.2 Film Gangster

Sejak awal perkembangan sinema di Amerika Serikat, elemen gangster

telah muncul pada film – film pendek seperti “The Moonshiners” (1904) and “The

Black Hand” (1906) yang menggambarkan realitas sosial urban kala itu, yakni

pemukiman padat, imigran, serta geng jalanan. “The Musketeers of Pig Alley”

(1912) karya D.W Griffith serta “The Regeneration” (1915) karya Raoul Walsh

juga menggambarkan kelompok kriminal yang terorganisir di kota besar.

Sementara di Eropa, sineas Jerman, Fritz Lang memproduksi dua seri film

gangster berpengaruh yakni, “Dr. Mabuse, the Gambler Part I – The Great

Gambler: A Picture of the Time dan Part II – Inferno: A Game for the People of

our Age (1922 – 1923). Sebelum era film bicara, film gangster telah populer melalui “Underworld” (1927) karya sineas Joseph von Sternberg. Film ini sering

dianggap sebagai film gangster “modern” pertama karena menggunakan tokoh

gangster sebagai karakter protagonis. Sementara film gangster lainnya, “The

Racket” (1928) arahan Lewis Milestone, berkisah tentang korupsi dan organisasi

kriminal di kota besar. Munculnya teknologi suara semakin menaikkan pamor

film-film gangster. Dengan efek suara tembakan, jeritan, serta suara mobil, film

gangster menjadi lebih realistik. Tercatat film gangster “bicara” pertama adalah “The Ligths of New York” (1928) yang mengetengahkan kisah kriminal di kota besar. Era 30-an dianggap sebagai era berpengaruh bagi perkembangan genre

gangster. Isu serta masalah sosial yang muncul pada era ini turut mempopulerkan

genre ini. Depresi Besar (Great Depression) yang melanda Amerika Serikat

mempertinggi angka kriminal, perjudian, dan prostitusi di kota – kota besar. Juga

pelarangan alkohol di Amerika pada tahun 1920 – 1931, serta beberapa peristiwa

kriminal besar, seperti pembantaian berdarah di St. Valentine (1929), serta

munculnya tokoh-tokoh gangster besar seperti, Al Capone. Isu-isu sosial ini

rupanya menarik perhatian studio-studio besar Hollywood terutama Warner

(26)

26

gangster era baru ini menawarkan suatu bentuk aksi kekerasan kejam dan brutal

yang belum pernah tampak di layar lebar sebelumnya.

Tercatat tiga film gangster berpengaruh yang diproduksi pada era ini

memantapkan gangster sebagai genre populer yakni, “LittleCaesar”(1930), “The

Public Enemy” (1931), serta “Scarface, The Shame of Nation (1932). Dua film pertama diproduksi oleh Warner Bros yang dirilis hampir bersamaan. Sementara

film terakhir adalah produksi United Artist. “Little Caesar arahan Mervyn Le Roy mengetengahkan kisah seorang kriminal bernama Enrico Bandello yang

karakternya diinspirasi dari Al Capone. Karakter bengis ini diperankan dengan

sempurna oleh Edward G. Robinson yang setelah ini meroketkan namanya

menjadi bintang gangster pertama. Kemudian William Wellman mengarahkan “The Public Enemy”, dibintangi oleh James Cagney yang bermain sebagai Tom Powers seorang gangster yang kejam dan brutal. Sementara film kontroversial “Scarface” arahan Howard Hawks dibintangi oleh Paul Muni. Film ini juga banyak terispirasi dari tokoh-tokoh serta peristiwa kriminal besar pada era ini.

Adegan – adegan aksi kejam, brutal, dan sadis pada film – film tersebut, terutama “Public Enemy” dan Scarface, membuat lembaga pra-sensor film (baru resmi dibentuk tahun 1934) mengecam keras film-film tersebut. Produser “Public

Enemy” berkilah mereka hanya memaparkan fakta problem sosial yang terjadi di

masyarakat. Juga ending pada dua film tersebut menggambarkan para tokoh

gangster yang tewas mengenaskan, mengisyaratkan bahwa perbuatan jahat

(kriminal) tidak akan membuahkan hasil apapun. Namun pihak pengecam

menganggap pada sisi-sisi tertentu film-film tersebut mampu memberikan kesan

(27)

27 Tekanan dari pihak sensor tidak serta merta membuat genre ini kehilangan

popularitasnya. Para kreator dengan cerdik mengubah sentral plot tidak pada

karakter gangsternya melainkan pada karakter yang memihak hukum seperti

polisi, agen pemerintah, atau detektif. Dalam “G-Men” (1935), James Cagney

berperan sebagai seorang agen FBI yang menyamar dalam suatu kelompok

gangster. Walau berperan sebagai hamba hukum namun Cagney berperan nyaris

sama dinginnya dengan film – film gangster yang ia bintangi sebelumnya. Hal

yang sama juga dilakukan oleh Edward G. Robinson dalam “Bullets or Ballots” (1936). Dalam “Angels with Dirty Faces” (1938) yang dibintangi Cagney, mengisahkan dua orang sahabat yang mengambil jalan hidup yang

bertolakbelakang, yakni seorang gangster dan seorang pendeta.

Warner Bros yang sukses bersama Cagney kali ini mendapat lawan main

sepadan dengan munculnya bintang baru yakni, Humprey Bogart. Bersama

sutradara Raoul Walsh, dua aktor tersebut sukses dengan tiga film gangster yakni, “The Roaring Twenties” (1939), “They Drive By Night” (1940), dan “High Sierra” (1941). Karir Bogart semakin meroket dengan beberapa film noir-nya yang merupakan pengembangan dari genre gangster. Melalui film noir, genre

gangster melunak dengan menitikberatkan pada aspek misteri pada plot serta

pendekatan estetik yang khas. Film noir menjadi tren film kriminal hingga dekade

50-an. Bogart sukses dengan film – film noir seperti, “The Maltese Falcon” (1940) dan “The BigSleep” (1946). Adapun film – film noir lainnya yang sukses seperti “DoubleIndemnity”(1944), “TheAsphaltJungle”(1950), “TheBigHeat” (1953), hingga “TheThirdMan” (1959).

Selain film noir, genre gangster juga berkembang lebih variatif dengan film bertema penjara, “Each Dawn I Die” (1938), “Brute Force” (1947), “The Defiant Ones”, (1958) hingga yang paling sukses, “Cool Hand Luke” (1967).

(28)

28

Pada era ini adaptasi kisah nyata rupanya masih juga menjadi pilihan, seperti “Machine Gun Kelly” (1958), “Al Capone” (1959), dan “The St. Valentine Day Massacre (1967). Sementara film – film kriminal-gangster lain yang menonjol

sebelum era 70-an adalah “On the Waterfront” (1954) arahan Elia Kazan, “The Killing” (1956) arahan Stanley Kubrick, serta “Bonny and Clyde” (1967) arahan Arthur Penn.

Pada era 70-an genre gangster kembali mengulangi masa jayanya melalui

film-film kriminal-gangster yang sangat populer. Francis Ford Coppola menjadi

motor dengan dua film gangster yang dianggap terbaik sepanjang masa yakni, “The Godfather” (1972) dan “The Godfather Part II” (1974). Film yang mengisahkan keluarga Mafia Corleone tersebut sangat sukses baik komersil

maupun kritik. Keduanya bahkan sama-sama mendapatkan Oscar untuk film

terbaik. Pada era ini pula sineas spesialis gangster, Martin Scorcese mulai

menarik perhatian pengamat melalui “Mean Street” (1973), lalu karya

fenomenalnya, “Taxi Driver” (1976). Variasi gangster yang juga populer pada dekade ini yakni, “The French Connection” (1971) arahan John Frankenheimer (mendapatkan Oscar untuk film terbaik), seri pertama si detektif keras, “Dirty Harry” (1971) yang dibintangi Clint Easwood, lalu film neo-noir “Chinatown” (1974) arahan Roman Polanski, serta juga “Dog Day Afternoon (1975) karya Sidney Lumet.

Pada periode 80-an hingga era milenium baru beberapa sineas kawakan

memproduksi beberapa film gangster berpengaruh. Martin Scorcese makin

memantapkan posisinya sebagai spesialis gangster dengan film-filmnya yang keras dan brutal, yakni “Goodfellas” (1990), “Casino” (1995), ”Gangs of New York”(2002), hingga terakhir “The Departed” (2006). Brian DePalma juga sukses dengan film – film gangsternya seperti, “Scarface” (1983), “The Untouchable”

(1987), serta “Carlito’s Way” (1989). Coppola gagal menyamai sukses

(29)

29 Sementara sineas spesialis western, Sergio Leone sukses dengan film

gangsternya, “Once Upon A Time in America (1984).

Beberapa sineas muda juga dikenal akrab dengan tema kriminal gangster

dan yang paling menonjol adalah Quentin Tarantino. Film – film Tarantino

dikenal melalui penuturan plotnya yang unik serta para bintang yang bertaburan

dalam filmnya. Ia memulai debutnya melalui film gangster brutal yang penuh darah, “Reservoir Dogs” (1992). Sukses Tarantino berlanjut dengan film fenomenalnya “Pulp Fiction” (1994) yang sukses secara komersil maupun kritik. Setelah “Jackie Brown” (1997) gagal menyamai sukses pendahulunya, Tarantino kembali sukses besar melalui seri “Kill Bill Vol.1” (2003) dan “Kill Bill Vol.2” (2004). Di lain tempat sineas Inggris, Guy Ricthie sukses dengan film – film

gangsternya yang dituturkan dengan gaya khas, yakni “Lock, Stock and Two Smocking Barrels”(1998) dan “Snacth”(2000).

Adapun film – film kriminal-gangster lainnya yang juga menonjol pada

(30)

30

lama ini sineas top, Ridley Scott juga mencoba peruntungannya dengan

memproduksi film gangster, “American Gangster” (2007).

Sementara di Asia genre gangster berkembang dalam bentuk yang sama

sekali berbeda. Di negara – negara besar seperti Jepang dan terutama Hong Kong,

gangster begitu populer dengan “yakuza film” dan “triad film”. Film – film kriminal Hong Kong dipengaruhi kehidupan para triad sesungguhnya yang

mengontrol segala sendi ekonomi dan hiburan termasuk industri film sendiri. Pada

pertengahan 80-an, genre ini mulai populer setelah film –film seperti “Long Arm of the Law” (1984) arahan Johnny Mak, “Brotherhood” (1986) arahan Stephen Shin, “City on Fire”(1987) arahan Ringo Lam, dan “A Better Tomorrow” (1987)

arahan John Woo. Film-film gangster ini mengeksplotasi penuh adegan – adegan

aksinya yang khas serta menekankan pada nilai persaudaraan, loyalitas,

kehormatan sesama anggota triad. Sementara John Woo mulai menarik perhatian

internasional melalui film-filmnya seperti “A Better Tomorrow”, “The Killer” (1989) dan “Hard Boiled” (1992).

Mulai era 90-an beberapa sineas dan aktor laga kenamaan Hong Kong

seperti John Woo, Jackie Chan, Chow Yun Fat, Jet Lee mulai merintis karir dan

sukses di Amerika. Film-film mereka disana pun tidak lepas dari tema kriminal

dengan sentuhan aksi laga khas Hong-Kong. Sementara di Hong Kong sendiri,

genre gangster masih tetap populer dengan mengubah sasaran penonton, yakni

kaum muda. Satu contoh yang tersukses adalah “Young and Dangerous” (1996)

arahan Andew Lau yang berlanjut dengan lima sekuelnya. Pencapaian sinema

(31)

31 “The Departed” (2006) arahan Scorcese dan sukses meraih empat Oscar termasuk film terbaik.

2.4.3 Perkembangan Film Genre Drama Kriminal Indonesia

Perkembangan film genre drama kriminal di Indonesia dimulainya dengan

judul Karma yang dirilis tahun 1965. Sebanyak 53 judul film genre drama

kriminal sudah dirilis di Indonesia, terakhir film dengan berjudul “Serigala

Terakhir” karya Upi Avianto, tahun 2009. Film drama kriminal adalah menurut

International Design School mengatakan bahwa kejahatan (gangster) film

dikembangkan pada tindakan jahat penjahat atau mafia, khususnya pencuri uang

atau preman kejam yang beroperasi di luar hukum, mencuri dan membunuh jalan

melalui hidup. Genre film kriminal dan gangster sering dikategorikan sebagai

genre film noir atau film detektif-misteri – karena mendasari kesamaan antara

bentuk-bentuk sinematik. Kategori ini berisi deskripsi dari berbagai ‘pembunuh berantai’ film.

2.5 Maskulinitas

Maskulin atau maskulinitas dari bahasa Perancis, masculinine adalah

sebuah kata sifat, adjektif yang berarti "kepriaan" atau menunjukkan sifat laki –

laki. Lawan katanya adalah feminin. Istilah ini berbeda dengan "kejantanan"

(yang lawan katanya adalah "kebetinaan"). Dapat dikatakan maskulin jika: Gagah,

kekar, lebih berpikir secara logika daripada perasaan. Biasanya maskulin kerap

dihubungkan dengan gambar pria berotot besar dan macho. Namun maskulin juga

dapat diidentifikasikan dengan pria menggunakan jas (maskulin) supaya terlihat

lebih gagah.

Maskulinitas adalah imaji kejantanan, ketangkasan, keperkasaan,

keberanian untuk menantang bahaya, keuletan, keteguhan hati, hingga keringat

(32)

32

kekuatan daya tarik laki – laki yang terlihat secara ekstrinsik. Maskulinitas sendiri

selain merupakan konsep yang terbuka pada dasarnya bukan merupakan identitas

yang tetap dan monolitis yang dipisahkan dari pengaruhi ras, kelas, dan budaya

melainkan sebuah jarak (range) identitas yang kondraktif. Maskulinitas menurut

R.W. Connell (1987,1995) berpendapat bahwa dalam masyarakat ada konsep

maskulinitas secara dominan yang disebut juga dengan maskulinitas hegemonik.

Menurut Jonathan Rutherford laki – laki muncul dengan cara

menrepresentasikan adanya kemuakan terhadap aturan main sosial tradisional,

sebuah keyakinan bahwa kebusukan sudah terlalu melanda dunia dan seorang laki – laki hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk menyelamatkan baik dirinya maupun dan bangsanya. Bahkan keyakinan ini dimainkan dalam rangka bertahan

hidup (survice), kekhawatiran obsesif akan kehancuran besar dan ikthiar

penemuan diri seraya belajar membunuh dan bertahan hidup di keliaran alam.

(Rutherford, 2014)

Rutherford merepresentasi maskulinitas yang berbeda – beda ini pada

akhirnya mengkristal dalam idealisasi dua pencitraan yaitu maskulinitas diresepsi

dan yang berhubungan dengan artinya secara publik, yaitu Laki – laki Baru dan

Laki – laki Retributif (pembalas). Laki – laki Retributif mewakili perjuangan

untuk menegaskan kembali maskulinitas tradisional, sebuah otoritas mandiri yang

tangguh.

Secara seksual, maskulinitas dapat dikategorikan dalam tipe kontinum

maskulinitas (Jewitt).

a. Tipe gladiator-retro man: pria yang secara seksual aktif memegang

kontrol.

b. Tipe protector: pria pelindung dan penjaga

c. Tipe clown of buffoon: pria yang menyenangkan atau humoris

(33)

33 e. Tipe wimp: jenis pria yang ‘lain’ yang lemah dan pasif

Kiesling mengatakan bahwa ada empat wacana budaya tentang maskulinitas di

Amerika Serikat yakni

a. Perbedaan gender adalah wacana yang melihat pria dan wanita secara

alami dan pasti berbeda dalam biologi dan perilaku.

b. Heterosexim, yaitu maskulin sebagai heterokseksual; maksud wacana

ini yaitu keinginan seksual untuk perempuan bukan untuk laki – laki.

Pada bagian artikulasi sangat berperan dalam wacana ini.

c. Dominasi, yakni identifikasi maskulin lebih dominan, wewenang dan

kekuatan. Untuk menjadikan seorang pria yang kuat, berwibawa, dan

terkendali.

d. Male solidarity, yaitu seorang laki – laki memahami aturan yang ingin

dilakukan dengan kelompok laki – laki lain. (Kiesling, 2005)

Konsep maskulinitas dalam perkembangan jaman mengalami dinamika

perkembangan. Beynon melakukan kajian tentang maskulinitas dalam bukunya

Masculinities and Culture, dalam buku tersebut menggambarkan sosok maskulin

dalam setiap dekade. Beynon membagi bentuk maskulin dengan ide serta tren

perkembangan jaman sebagai berikut:

a. Maskulin sebelum tahun 1980-an.

Sosok maskulin yang muncul adalah figur laki – laki kelas pekerja

dengan bentuk tubuh dan perilakunya sebagai dominator, terutama atas

perempuan. Citra laki – laki semacam ini kental dengan awal

industrialisasi pada masa itu, laki – laki bekerja di paik sebagai buruh

berlengan baja. Terlihat sangat kebapakan, yakni sebagai penguasa

dalam keluarga dan sosok yang mampu memimpin perempuan

pembuat keputusan utama. Konsep maskulin semacam ini dinamakan

(34)

34

umum, maskulinitas tradisional menganggap tinggi nilai – nilai, antara

lain kekuatan, kekuasaan, ketabahan, aksi, kendali, kemandirian,

kepuasan diri, kesetiakawanan laki – laki, dan kerja. Diantara yang

dipandang rendah adalah hubungan interpersonal, kemampuan verbal,

kehidupan domestik, kelembutan, komunikasi, perempuan, dan

anak-anak (Barker dalam Nasir ,2007:1). Selain itu karakteristik maskulin

tradisional dapat dilihat dari selera berpakaian, penampilan, bentuk

aktifitas, cara bergaul, cara penyelesaian permasalahan ekspresi verbal

maupun non verbal hingga jenis aksesoris tubuh yang dipakai

(Vigorito & Curry, 1998:1).

b. Maskulin tahun 1980-an.

Sosok maskulin kemudian berkembang dengan cara yang berbeda.

Pada babak ini maskulin bukanlah laki-laki yang berbau woodspice

lagi, maskulin adalah sosok laki-laki sebagai new man. Beynon dalam

Nasir (2007) menunjukkan dua buah konsep maskulinitas pada babak

ini dengan anggapan-anggapan bahwa new man as nurturer dan new

man as narcissist. Konsep pertama merupakan gelombang awal reaksi

laki-laki terhadap feminism.Laki-laki pun menjalani sifat alamiahnya

seperti perempuan sebagai mahluk yang mempunyai rasa perhatian.

Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya

untuk mengurus anak. Keinginan laki-laki dalam arena domestik.

Kelompok ini biasanya berasal dari kelas menegah, berpendidikan

baik, dan intelek. Sedangkan konsep kedua hal ini berkaitan dengan

komersialisasi terhadap maskulinitas dan konsumerisme semenjak

akhir Perang Dunia II. New man as narcisstict adalah anak – anak dari

generasi hippies yang tertarik pada fashion dan musik pop. Banyak

produk-produk komersil untuk laki – laki yang bermunculan, bahkan

(35)

35 laki – laki menunjukkan maskulinitasnya dengan gaya hidup yang

flamboyan.

c. Maskulin tahun 1990-an

Di era tahun 1990-an muncul kembali sosok laki – laki yang bersifat

tidak peduli lagi terhadap hal remeh-temeh seperti kaum maskulin

yuppies di tahun 80-an, disini ditekankan kepada sifat kelaki-lakian

yang lebih macho, kekerasan, dan hooliganisme. Laki – laki kemudian

menyatakan dirinya dalam label konsumerisme yang lebih macho,

seperti membangun kehidupannya di sekitar football atau sepak bola

dan dunia minum-minum,dan juga seks. Pada babak ini kaum laki –

laki mementingkan leisuretime sebagai waktu untuk bersenang-senang

dan menikmati hidup bebas seperti apa adanya.

d. Maskulin tahun 2000-an.

Diluar perkembangan maskulin yang dikemukakan oleh John Beynon,

perlu dicermati maskulin pada era 2000-an. Pada babak ini terdapat

terminolog-terminologi baru mengenai laki – laki. Homoseksual telah

berkembang semenjak dekade 80-an, sekarang bahkan terminologi laki – laki sudah mengenal istilah metroseksual. Laki – laki metroseksual adalah laki – laki yang berasal dari kalangan menegah atas, mereka ijin

berdandan, dan juga tergabung dalam komunitas yang terpandang

dalam masyarakat. Laki – laki metroseksual semacam socialite.

Mereka umumnya memiliki pandangan yang luas, atau mereka yang

disebut dengan laki – laki yang berbudaya. Laki – laki metroseksual

mengagungkan fashion, mirip dengan tipe maskulin 80an (Beynon,

2002).

Dari empat kelompok tersebut, ditariklah sifat-sifat maskulinitas menurut

Beynon, seperti berikut:

(36)

36

b. Be a Big Wheel (Berpengaruh penting)

c. Be a Sturdy Oak (Kuat)

d. Give em Hell (Berani)

e. New Man as Nurturer (Kebapakan)

f. New Man as Narcissist (Narsistik)

g. Sifat kelaki-lakian yang macho, kekerasan dan hooliganism

(Sangar)

h. Laki-laki metroseksual mengagungkan fashion (Demartoro,

2010).

2.5.1 Maskulinitas Dalam Film

Maskulintas dalam film muncul ketika tahun 1980 film “First Blood”.

Film yang bercerita tentang veteran Perang Vietnam yang bernama John Rambo

yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Cara Stallone mengekspresikan

kejantanan secara membabi buta itu sangat berbeda dari genre film perang

umumnya. Perang biasanya dipandang sebagai ritual inisiasi, sebuah kesempatan

bagi laki – laki untuk menemukan diri, untuk membuktikan kejantanan dan

kapasitas dalam menaklukan tubuh dan fisiknya (Rutherford, 2014). Menurut

(Demartoro, 2010) konsep maskulinitas dalam media siar khususnya film, televisi,

video , internet, dan radio muncul berbagai paradoks mengenai maskulinitas. Film “Saving Private Ryan” (1998) karya sutradara Steven Spielberg menunjukan maskulinitas yang luar biasa dalam peperangan. Namun, film ini memunculkan juga pertanyaan mengenai maskulinitas kekinian seperti dalam film “Fight Club” karya sutradara David Fincher dan film “American Beauty” karya sutradara Sam Mendes yang di rilis tahun 1999 ini tidak hanya memperlihatkan kekuatan otot

laki –laki seperti film “First Blood”, namun juga memiliki unsur emosional laki –

laki yang terlihat maskulinitas pada periode tahun 1980an. Film dengan terkait

dalam cerita perang menurut (Rutherford, 2014) mengambil alienasi laki – laki

(37)

37 membanjiri ruang publik dengan maskulinitas retributif dalam rangka mengklaim

kembali relevansi kejantanan dalam masyarakat yang sudah terlaluaman dan

(38)
(39)

39 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Paradigma Penelitian

Secara etimologis, istilah paradigma pada dasarnya berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata “para” yang artinya di sebelah atau pun di samping, dan kata “diegma” yang artinya teladan, ideal, model, atau pun arketif. Sedangkan secara terminologis, istilah paradigma diartikan sebagai sebuah pandangan atau

pun cara pandang yang digunakan untuk menilai dunia dan alam sekitarnya, yang

merupakan gambaran atau pun perspektif umum berupa cara – cara untuk

menjabarkan berbagai macam permasalahan dunia nyata yang sangat kompleks.

Menurut George Ritzer (1980) paradigma adalah pandangan mendasar ilmuwan

tentang apa materi pelajaran harus dipelajari oleh cabang atau disiplin, dan apa

aturan yang harus diikuti dalam menafsirkan informasi yang akan dikumpulkan

informasi yang dikumpulkan dalam menanggapi isu-isu ini.

Dalam penelitian ini Peneliti akan menggunakan paradigma konstruktivis.

Menurut Creswell (2010:11) konstruktivis sosial meneguhkan asumsi bahwa

individu – individu selalu berusaha memahami dunia dimana mereka hidup dan

bekerja. Mereka mengembangkan makna subjektif atas pengalaman – pengalaman

mereka dimana makna tersebut diarahkan pada objek – objek atau benda – benda

tertentu. Untuk mengeksplorasi pandangan – pandangan perlu diajukan

pertanyaan – pertanyaan. Pertanyaan bisa bersifat luas dan umum, sehingga

partisipan dapat mengkonstruksi makna atas situasi tersebut.

Menurut (Patton, 2002), para peneliti konstruktivis mempelajari beragam

realita yang terkonstruksi oleh individu dan implikasi dari konstruksi tersebut bagi

kehidupan mereka dengan yang lain. Dalam konstruktivis, setiap individu

(40)

40

seperti ini menyarankan bahwa setiap cara individu dalam dunia adalah valid, dan

perlu adanya rasa menghargai atas pandangan tersebut.

Terkait dengan konstruktivisme ini, Crotty 1998 (dalam Creswell,

2010:12) memperkenalkan sejumlah asumsi yakni:

1. Makna-makna dikonstruksi oleh manusia agar mereka bisa terlibat

dengan dunia yang tengah mereka tafsirkan. Para peneliti kualitatif cenderung

menggunakan pertanyaan-pertanyaan terbuka agar partisipan dapat

mengungkapkan pandangan-pandangannya.

2. Manusia senantiasa terlibat dengan dunia mereka dan berusaha

memahaminya berdasarkan perspektif historis dan sosial mereka sendiri, kita

semua dilahirkan ke dunia makna (world of meaning) yang dianugerahkan oleh

kebudayaan di sekeliling kita. Untuk itulah, para peneliti kualitatif harus

memahami konteks atau latar belakang partisipan mereka dengan cara

mengunjungi konteks tersebut dan mengumpulkan sendiri informasi yang

dibutuhkan. Mereka juga harus menafsirkan apa yang mereka cari: sebuah

penafsiran yang dibentuk oleh pengalaman dan latar belakang mereka sendiri.

3. Yang menciptakan makna pada dasarnya adalah lingkungan sosial, yang

muncul di dalam dan di luar interaksi dengan komunitas manusia. Proses

penelitian kualitatif bersifat induktif dimana didalamnya peneliti menciptakan

makna dari data-data lapangan yang dikumpulkan.

Lalu dalam paradigma konstruktivis dapat memudahkan dijelaskan melalui empat

dimensi seperti yang diutarakan oleh Deddy N. Hidayat, sebagai berikut:

1. Ontologis: relativism, realitas merupakan konstruksi sosial kebenaran

suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai

(41)

41 2. Epistemologis: transactionalist / subjectivist, pemahaman tentang suatu

realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara

peneliti dengan yang diteliti.

3. Axiologis: nilai, etika, dan pilihan moral merupakan bagian tak

terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai passionate participant,

fasilitator yang menjembatani keragaman subjektivitas pelaku sosial.

Tujuan penelitian lebih kepada rekonstruksi realitas sosial secara dialektis

antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.

4. Metodologis: menenkankan empati, dan interaksi dialektis antara peneliti

dengan responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti melalui

metode metode kualitatif seperti participant observation. Kriteria kualitas

penelitian authenticity dan reflectivity : sejauh mana temuan merupakan

refleksi ontentik dari realitas yang dihayati oleh pelaku sosial.

Berdasarkan kesimpulan singkat dan paparan tersebut, peneliti akan

mengungkapkan pandangan mengenai maskulinitas adanya sifat kelaki – lakian

dalam film The Godfather. Hal ini bertujuan kepada masyarakat dapat mengerti

mengapa ini film bergenre drama lebih spesifik ke dalam film The Godfather

tidak menonjolkan sisi drama melainkan unsur – unsur maskulinitas didalamnya.

Setelah itu, ketika masyarakat sudah mengetahui masalah tersebut, peneliti

mencoba merubah pandangan masyarakat dan para pembuat film untuk

mengetahui segala unsur maskulinitas didalam film drama khususnya crime film.

Atas dasar itulah peneliti menggunakan paradigma konstruktivis karena

peneliti menggunakan pemikiran atau nalar dalam memberikan pembahasan

makna dan juga tanda di dalam film yang akan diteliti menggunakan analisis

semiotika yang dikembangkan oleh Charles Sanders Peirce. Didalam penelitian

ini peneliti mencoba memahami bagaimana memaknai sebuah tanda atau makna

(42)

42

3.2 Metode Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kualitatif, menurut Bogdan dan Guba pendekatan kualitatif adalah prosedur

penelitian yang menghasilkan data deskriptif (data yang dikumpulkan berupa kata

- kata, gambar, dan bukan angka). Hal ini dimaksudkan peneliti menggunakan

menjelaskan dengan cara memahami studi kasus didalamnya. Hal ini

dimaksudkan banyaknya adegan – adegan kekerasan film atau media massa

tersebut.

Menurut Kirk dan Miller penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu

dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada

pengamatan terhadap manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan

dengan orang lain dalam bahasa dan peristilahannya.

Lalu metode kualitatif menurut Creswell adalah suatu proses penelitian

yang berdasarkan pada pendekatan penelitian metodologis yang khas yang

meneliti permasalahan sosial dan kemanusiaan. Dapat membangun gambaran

secara holistik yang kompleks; menganalisis kata – kata; melaporkan pandangan

detail dari para partisipan; dan melaksanakan studi tersebut dalam setting atau

lingkungan yang alami. (Creswell, 2015)

Metode kualitatif memandang realitas sebagai sesuatu yang berdimensi -

banyak, suatu kesatuan yang utuh, serta berubah - ubah, karena itu pula rancangan

penelitian tidak disusun secara rinci dan pasti sebelum penelitian dimulai. Untuk

itu pula pengertian kualitatif sering diasosiasikan dengan teknik analisis data dan

penulisan laporan penelitian.

3.2.1 Metode Analisis Semiotika

Terma semoitik bukanlah istilah baru. Istilah ini berasal dari kata Yunani,

Gambar

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Gambar 3.1 : Unit Analisis Penelitian
Tabel 3. 1 Menjelaskan Tabel Pengumpulan Data
Tabel 3.2 Menjelaskan mengenai  tabel analisis Representamen, Object, dan Interpretant
+7

Referensi

Dokumen terkait