• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Data Scene 17 Film The Godfather

Dalam dokumen ISI BAB I BAB V .pdf (Halaman 90-106)

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Penyajian Data

4.3.3 Analisis Data Scene 17 Film The Godfather

Gambar 4.7 Michael Corleone Sedang Merawat Don Corleone di Rumah Sakit Ketika Don Corleone Terluka, Pemukulan Michael Corleone oleh Captain

McCluskey

Gambar 4.7 Menggambarkan scene 17 Film The Godfather Sumber: Dokumen Peneliti

Scene ini, dimana Michael sudah tiba ke rumah sakit, tempat Don Vito Corleone dirawat akibat kasus percobaan pembunuhan. Sesampai disana, Michael merasa jengkel dikarenakan tidak ada orang yang menjaga ayahnya. Ia bertanya kepada perawat rumah sakit, dan katanya bahwa anak buahnya diusir oleh polisi, dengan alasan untuk ketenangan rumah sakit. Merasa tidak suka dengan kelakuan polisi tersebut, ia telepon ke kakaknya, Sonny menjelaskan bahwa tidak ada orang yang menjaga Don Corleone, sesudah itu ia hendak membawa Ayahnya ke tempat lain, karena jika tidak dipindahkan, ia beramsumsi ayahnya akan dibunuh. Oleh

91 karena itu ia meminta perawat tersebut untuk membantu ia. Sesudah pindah ke tempat aman, ia melihat dengan waspada dan tatapan dingin. Lalu ia bertemu dengan Enzo si Tukang Roti, dan ia menyuruh keluar rumah sakit untuk menunggu ia. Sebelum meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke ruang kosong tempat pindahan Don Corleone dirawat, ia melihat Ayahnya begitu saling mengasihi, Don Corleone pun tersenyum melihat anak kesayangan ia. Michael berjanji akan menjaga ayahnya dan membawa ke tempat aman agar Don Corleone tidak dibunuh. Sesudah itu ia keluar rumah sakit dan ia ditunggu oleh Enzo. Ia menyuruh Enzo, memasukan tangannya ke mantel yang dikenakan oleh Enzo sendiri dan Michael juga melakukan dengan sama. Michael melakukannya untuk beralasan kalau ia memiliki pistol. Dan beberapa saat kemudian, orang suruhan Sollozo ingin datang ke rumah sakit yang bertujuan untuk membunuh Don Corleone tidak jadi datang, karena Michael menjaga pintu rumah sakit bersama Ezio. Seketika itu muncul polisi yang dipimpin oleh seorang polisi korup bernama Captain McCluskey. Seketika juga, Michael langsung dibawa untuk hadapan dengan McCluskey, dan Michael mengatakan bahwa ia tahu McCluskey di suap oleh Sollozzo dengan begitu besar. Mendengar Michael mengatakan itu, McCluskey menyuruh anak buahnya menggenggam tangan Michael, awalnya detektif menyuruh agar tidak melakukan kekerasan terhadap Michael, dikarenakan Michael seorang pahlawan perang, namun tidak mendegarkannya. Michael langsung kena pukulan keras dari McCluskey sehingga ia menderita cukup parah dan menimbulkan patah rahang, serta giginya pada retak. Lalu Tom Hagen muncul, ia menceritakan bahwa ia adalah pengacara Keluarga Corleone, dan di scene tampak anak buah dari Keluarga Corleone langsung masuk ke rumah sakit untuk menjaga Don Corleone. McCluskey yang tidak suka, langsung meninggalkan lokasi tersebut dengan marah – marah. Meskipun audio tidak muncul, Peneliti bisa melihat arah perkataan McCluskey ketika ia pergi, kemunngkinan McCluskey berkata, “Dasar anak jalang !!” jika diartikan ke bahasa Inggris, “Son a bitch !!”

92

Dibawah ini merupakan analisis berdasarkan trikotomi dari scene tersebut  Representamen mengacu kepada qualisign.

 Object hanya mengacu kepada symbol.  Interpretant mengacu dalam rhema.

Dalam representament terdapat kategori qualisign dan sinsign dengan mengetahui dari raut wajahnya Don Corleone tersenyum ketika melihat anak kesayangannya Michael, di tambah ketika Michael mengetahui McCluskey disuap oleh Sollozzo, Michael hanya melihat dengan dingin. Dalam object terlihat dapat mengetahui adanya bekas pukulan yang begitu keras dan mendapatkan bekas pukulan tersebut.

Dalam interpretant terdapat dalam kategori ciri maskulinitas yang sifatnya rhema karena Don Vito Corleone merasa senang terhadap Michael, karena salah satu kategori maskulinitas ialah adanya sifat kebapakan. Michael mendapatkan pukulan keras dari McCluskey sehingga peneliti mengetahuinya ketika hasil pukulannya terlihat jelas di pipinya.

93 4.3.4 Analisis Data Scene 23 Film The Godfather

Gambar 4.8 Michael Corleone Dengan Raut Wajah Dingin Mendengarkan Sollozzo Berbicara, Michael Corleone Menembaki McCluskey di Kepalanya.

Gambar 4.8 Menggambarkan scene 23 Film The Godfather Sumber: Dokumen Peneliti

Dengan tatapan dingin, Michael kembali ketempat meja makan yang sudah ditunggukan oleh Sollozzo dan McCluskey. Dan dengan tatapan dingin Michael menghiraukan perkataan Sollozzo, ia sekarang berfokus untuk membunuh Sollozzo dan McCluskey dengan timing yang tepat. Terdengar suara kereta berhenti, Michael langsung berdiri dengan tatapan mata melotot, ia langsung menembakki Sollozzo dengan suasana dingin dan geram tepat di kepalanya hingga tewas, dan ia juga menembakki McCluskey ke arah lehernya sehingga McCluskey merasakan pendarahan yang cukup hebat, dan ia tidak puas begitu saja ia juga menembakki kepala McCluskey hingga tewas. Seseudah mengetahui bahwa mereka tewas, Michael membuang senjata dan meninggalkan

94

“Louis Restaurant”, seketika itu juga Michael tidak kembali lagi ke New York, dikarenakan ia mengasingkan diri ke Pulau Sisilia.

Dibawah ini merupakan analisis berdasarkan trikotomi dari scene tersebut  Representamen mengacu kepada qualisign dan sinsign,

 Object mengacu kepada indeks dan icon.  Interpretant mengacu dalam rhema.

Dari non verbal menjelaskan bahwa, Michael dengan wajah dingin mendengarkan perkataan Sollozzo dan merupakan kategori dari sinsign dan sedangkan dalam qualisign Michael menunjukan akan bahwa Michael hanya mendengarkan dengan istilah masuk kanan keluar kiri. Dalam konteks indeks, senjata api yang digunakan Michael mengeluarkan asap dari pistol tersebut, dan mengenai kepala Sollozzo sehingga mengeluarkan darah dari dahinya. Dalam icon, Michael menembakinya dengan suasana dingin, sehingga dapat dilihat jika Michael berambisius untuk membunuh mereka. Penanda ini terdapat dalam kategori ciri maskulinitas yang sifatnya rhema dimana Michael Corleone mengenakan baju formal yaitu jas dan ia mendengarkan Sollozzo berbicara dengan menatapnya dingin, hal tersebut dilihat dengan cara penglihatannya yang begitu tajam dan tanpa eksperesi ketika ia menembakan ke hadapan mereka.

95 4.3.5 Analisis Data Scene 29 Film The Godfather

Gambar 4.9 Sonny Corleone Kesal Kepada Adik Iparnya, Carlo. Di sebabkan Carlo Sudah Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Connie Corleone.

Gambar 4.9 Menggambarkan scene 29 Film The Godfather Sumber: Dokumen Peneliti

Scene selanjutnya merupakan ketika Sonny yang naik darah langsung menemukan Carlo adik iparnya dan melemparkan sebuah batangan kayu ke arah Carlo. Carlo pun berlari menghindari Sonny, dan Sonny pun mengejar dia hingga adanya pemukulan terhadap Carlo dari Sonny, Sonny yang begitu kesal terhadap Carlo langsung menghantam dengan pukulan sehingga membuat Carlo tidak

96

bergutik, bahkan Carlo ditendangi layaknya seekor binatang. Carlo yang sempat menghindari pemukulan Sonny tidak bisa berkutik kembali, dan akhir pemukulan diselesaikan, Sonny meninggalkan Carlo dengan keadaan sekarat. Sonny juga berpesan dengan kata – kata yang bersifat mengancam, yaitu “Jika kau memukul Connie lagi, aku bunuh kau.”

Dibawah ini merupakan analisis berdasarkan trikotomi dari scene tersebut  Representamen mengacu kepada qualisign,

 Object mengacu kepada indeks.  Interpretant mengacu dalam rhema.

Hal ini dikarenakan object yang diperlihatkan adanya kesakitan dalam pemukulan Carlo dari Sonny dan dari segi qualisign adanya hal yang terancam dari Sonny ke Carlo untuk memukuli adik iparnya sendiri. Hal ini dikarenakan dalam film tersebut jika ada suatu scene yang unsur kekerasan dari maskulinitas yaitu pemukulan serta adanya kata – kata yang sifatnya mengancam untuk membunuh. (indeks). Penanda ini terdapat dalam kategori ciri maskulinitas yang sifatnya rhema dimana Sonny yang begitu kesal dan naik darah terhadap Carlo tidak memberi ampun kepada adik iparnya sendiri Dari verbal diketahui bahwa Sonny sudah mengancam dengan kata –kata, “Kalau kau ganggu adikku lagi, aku bunuh kau.”

97 4.3.6 Analisis Data Scene 32 Film The Godfather

Gambar 4.10 Carlo Melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga oleh Istrinya, Connie Corleone.

Gambar 4.10 Menggambarkan scene 32 Film The Godfather Sumber: Dokumen Peneliti

Scene selanjutnya berada di tempat kediaman Connie, sewaktu ketika ada telepon berdering dan Connie mengangkatnya, ketika Connie mendengar bahwa itu merupakan kekasih gelapnya Carlo yaitu seorang perempuan sundal. Ia menyuruh makan bersama Connie, namun menolaknya dengan alasan tidak lapar. Sebelumnya Carlo menyuruh Connie menyiapkan makanan, Connie yang merasa dipermainkan langsung membuang makanan yang sudah ingin disiapkan, dan Carlo memanaskan dengan kata – kata provokasi, seluruh ruangan menjadi berantakan, dan Carlo menyuruh Connie untuk membersihkannya, namun Connie menolaknya, dan Carlo melepas ikat pinggangnya untuk mencambuk Connie. Dan seketika itu juga Carlo langsung mencambuk Connie berkali – kali. Pada saat itu Connie sedang mengandung anaknya. Dari verbal peneliti mendengar kata,

98

“Sialan”, mengejek dengan provokasi seperti, “Kau Kurus, anak manja, bersihkan itu !” dengan mengeluarkan ikat pinggang

Dibawah ini merupakan analisis berdasarkan trikotomi dari scene tersebut  Repesentamen mengacu kepada qualisign sinsign dan legisign,

 Object mengacu kepada indeks dan symbol.  Interpretant mengacu dalam rhema dan argument.

Dalam representament kategori qualisign, Carlo yang begitu kajam mengatakan kata – kata kasar kepada Connie, dan membuat Connie tersinggung bahkan sedih, lalu dari segi sinsign terdapat ketika Connie menyuruh Carlo dengan baik – baik, namun Carlo menolaknya dengan kata – kata yang keras kepada Connie. Dari segi legisign, seorang suami tidak boleh melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, sebaiknya suami harus menjadi imam yang kuat, tetapi dari segi maskulinitas, kebanyakan pria itu dapat melakukan kekerasan. Lalu dalam lingkup object dalam kategori indeks, akibat dari telepon misterius tersebut mengakibatkan Carlo menjadi kasar kembali, oleh karena itulah Carlo melakukan kekerasan terhadap Connie. Dari segi symbol, Connie yang marah kepada Carlo membuang peralatan pecah belah, sehingga terdengar seperti ada kaca yang pecah, bahkan tempat minum pun pecah ke lantai.

Penanda ini terdapat dalam kategori ciri maskulinitas yang sifatnya rhema dimana Carlo yang naik darah, langsung memarahkan kepada Connie dengan ringan tangan dan menggunakan kata – kata yang menyuruh membereskannya, namun Connie menolaknya, membuat Carlo lepas kendali dan mempecuti Connie dengan ikat pinggangnya. Dalam argument rumah merupakan tempat tinggal yang aman, berubah menjadi tempat kekerasan yang merupakan ciri dari maskulinitas.

99 4.3.7 Analisis Data Scene 33 Film The Godfather

Gambar 4.11 Sonny Corleone Sedang Naik Darah.

Gambar 4.11 Menggambarkan scene 33 Film The Godfather Sumber: Dokumen Peneliti

Scene selanjutnya, ketika Mama Corleone menerima telepon dari Connie, tetapi ia tidak bisa mendengar perkataanya. Lalu Mama Corleone menyuruh Sonny untuk menjelaskan perkataan Connie. Sonny berpesan agar tunggu di sana (kediaman Connie). Dengan nada kesal, Sonny langsung menuju ke tempat tersebut. Tom Hagen sempat menolaknya, namun Sonny yang mempunyai sifat darah tinggian, menghiraukan Tom Hagen. Ia pergi menggunakan mobil dan Tom Hagen menyuruh anak buah Keluarga Corleone untuk mengejar Sonny. Sonny melewati jalan tol, sewaktu ketika membayar tol, ia dengan kesal mengklakson mobil didepannya karena sudah membuat berbahaya ia. Sewaktu kembaliannya tiba, tiba – tiba petugas tol menjatuhkan uang kembaliannya dan seketika itu juga pintu di tol tertutup rapat. Dan dari samping sisi tol ia melihat sebuah gerombolan Mafia dari Keluarga lain menodongkan Tommy gun dan menembaki tubuh Sonny

100

hingga berlumuran darah, Sonny yang sempat menghindar langsung keluar mobilnya dan ia tidak bisa lagi menghindarkan dari kepungan musuh Keluarganya, dan saat itu Sonny tewas ditembak oleh musuh Keluarga Corleone.

Dibawah ini merupakan analisis berdasarkan trikotomi dari scene tersebut  Representamen mengacu kepada qualisign dan sinsign,

 Object mengacu kepada indeks dan symbol.  Interpretant mengacu dalam rhema dan dicsign.

Hal ini dikarenakan dalam representamen mengacu qualisign, Sonny yang geram ketika mendengarkan perkataan Connie yang sudah dipukul oleh Carlo menjadi panas. Namun jika sinsign terdapat di jalan tol yang berisikan “Pay Here”. Dalam indeks tanda yang tampak ialah senjata api dari rival Keluarga Corleone, yang berisikan dengan peluru tajam dan mengeluarkan asap ketika peluru tersebut sudah dimuntahkan dari senapan tersebut. Dari symbol terdapat palang yang memberitahu kalau scene tersebut berada di jalan Tol Penanda ini terdapat dalam kategori ciri maskulinitas yang sifatnya rhema dimana Sonny ketika sesudah menutup telepon, merasakan matanya melotot sikap kekesalan terhadap Carlo adik iparnya, dari segi dicisign ada rambu lalu lintas yang

betuliskan “STOP PAY HERE”.

Dalam scene pula terdapat perkataan Lalu dalam perkataan selanjutnya sesudah menutup telepon, ia langsung naik darah dan berkata, “Dasar anak jadah

(sundal).” Bahkan bukan di rumah saja Sonny marah – marah. Sonny juga marah

di jalan tol ketika mobil yang dikendarainya ditutup oleh musuh Keluarga Corleone, dan tetap mengatakan, “Dasar anak jadah.” Hal ini berarti bahwa maskulintas, bukan memamerkan otot saja, maskulinitas bisa mengatakan kata – kata kasar.

101 4.3.8 Analisis Data Scene 46 Film The Godfather

Gambar 4.12 Michael Corleone Sedang Mendengarkan Pastor Ketika Sedang Membaptis Anaknya Connie Corleone, Willie Cicci Menembaki Don Cuneo.

Gambar 4.12 Menggambarkan scene 46 Film The Godfather Sumber: Dokumen Peneliti

Scene selanjutnya ialah dalam acara pembaptisan anaknya Connie. Acara pembaptisan dengan menggunakan adat Katolik. Michael yang bertatapan dengan dingin mendengarkan pembicaraan pastor. Di lain tempat, para anak buah Keluarg Corleone bersiap – siap untuk melakukan pembantaian semua rival Keluarga Corleone bahkan Moe Greene. Di scene semua rival Keluarga Corloene dibunuh denga brutal, Don Barzini dibunuh oleh Al Neri, Don Cuneo dibunuh oleh Willie Cicci, Don Tattaglia dibunuh oleh Rocco Lampone beserta hitman, Don Straci dibunuh oleh Peter Clemenza, dan terakhir Moe Greene dibunuh oleh hitman suruhan Michael Corleone. Ending scene tersebut berfokus kepada raut wajah Michael Corleone yang dingin. Peneliti hanya menjelaskan kepada Michael Corleone dan Willie Cicci yang membunuh Don Cuneo yang begitu sadis dan bertatapan dengan dingin.

Dibawah ini merupakan analisis berdasarkan trikotomi dari scene tersebut  Representamen mengacu kepada qualisign.

102

 Interpretant mengacu dalam rhema.

Pada scene ini representamen mengacu sebagai qualisign. Scene dimana ketika Michael yang menjadi godftaher anaknya dari Connie dan Carlo berkata halus dalam pengucapan janji baptis tersebut dengan tenang, dan jika melihat Willie Cicci membunuh Don Cuneo dengan dingin. Dalam object peneliti mengacu dakan kategori icon, hal ini peneliti mengetahui tempat perbaptisan anaknya Connie yaitu di dalam gereja, namun ketika Willie Cicci membunuh Don Cuneo berada di hotel tepatnya bernama Regis Hotel selama empat kali tembakan. Dan kategori indeks, kelihatan jelas kaca – kaca bekas tembakan dari Willie Cicci yang berasal dari pistol ia. Dan ia menatapnya dengan raut muka yang sangat dingin.

Lalu dalam segi interpretant terdapat dalam kategori ciri maskulinitas yang sifatnya rhema dimana Michael dan Willie Cicci saling memiliki raut wajah yang begitu dingin. Michael yang sedang menjadi godfather anaknya Connie mendengarkan perkataan pastor dengan dingin, namun Willie Cicci menggunakan raut wajah dingin ketika ia membunuh Don Cuneo.

103

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan Peneliti, maka Peneliti memberikan kesimpulan yakni tentang bagaimana maskulinitas yang terjadi dalam film The Godfather, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Film The Godfather secara keseluruhan atau secara dominan kerap memperhatikan banyaknya adegan – adegan yang mengandung maskulinitas didalamnya. Hampir dari setiap scene The Godfather di isi dengan adegan – adegan konsep maskulinitas seperti, menggunakan pakaian lengkap untuk memperhatikan identitas laki – laki tersebut. 2. Konsep maskulinitas yang ada didalam The Godfather juga

digambarkan melalui badan macho, kebapakan, suka berkelahi dengan tangan kosong, melakukan kekerasan terhadap kaun yang lemah (seperti perempuan), berwajah dingin, “tuli” (tidak mendengar perkataan orang), menembak dengan raut wajah dingin, berkata kasar, sayang kepada keluarganya jika ada salah satu keluarganya sedang menghadapi kesusahan, bersikap garang atau galak, tidak menyukai orang jika orang tersebut serakah laki – laki cenderung mengahabisi dengan mata melotot melihat target tersebut.. Selain itu dari segi teknik kamera atau pengambilan gambar memfokuskan kepada laki – laki. 3. Pemilihan pemain seperti Marlon Brando, James Cann, Al Pacino,

Robert Duvall yang memilki sikap gentleman, menambah kesan bahwa film tersebut merupakan film dengan genre drama khususnya gangster karena banyak mengadung maskulinitas yang telah menjelaskannya dalam kehidupan keluarga Mafia.

104

4. Dari sisi kebudayaan film The Godfather ini menjelaskan tentang kehidupan Mafia di New York, era tahun 1940an hingga tahun 1950an. Seperti dalam kehidupan Mafia era tersebut, dimana Mafia mempunyai peran penting dalam kekuasaan, namun jika ingin mempertahankan kekuasaan, banyak cara Mafia untuk melakukan kekerasan, bahkan berunjung dalam kematian dimana – mana, seperti pembunuhan, perampokan, bisnis ilegal seperti perjudian, prostitusi ilegal, bahkan di film The Godfather sendiri terdapat penawaran bisnis narkotika. Namun jika salah satu bisnis ditolak, maka akibatnya adanya terdapat saingan di keluarga Mafia tersebut.

5. Film The Godfather dibuat adanya unsur maskulinitas didalamnya dikarenakan dalam film The Godfather ini behasil menembus kritikan positif oleh para kritikus film, bahkan film tersebut menjadi film dengan genre gangster terbaik sepanjang dunia perfilman.

105 5.2 Saran

Berdasarkan hasil dari penelitian mengenai maskulinitas dalam film The Godfather ini, maka peneliti ingin memberikan saran sebagai berikut:

1 Akademis

Untuk saran akademis terdapat menjelaskan bahwa film yang terkait dengan maskulinitas dalam menggunakan analisis semiotika harus diperbanyak lagi. Tentunya dengan analisis semiotika menurut beberapa ahli dan tentunya nanti akan dapat mengungkap bahwa maskulinitas tidak hanya dari perfilman saja, melainkan dapat berupa dari periklanan, maupun di program – program lainnya.

2 Praktisi

 Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan maupun refrensi bagaimana seharusnya film sebagai media massa dapat memberikan pesan mengenai suatu fenomena sosial.

 Untuk saran kepada praktisi menjelaskan kepada khususnya para pelaku industri perfilman, film ini dapat menjadi inspirasi para sineas film lainnya untuk lebih memperhatikan konsep, merancang dan mengonstruksi sebuah film dan harus mengetahui maskulinitas tersebut dalam konteks Amerika Serikat pada tahun 1940an hingga 1950an.

106

Dalam dokumen ISI BAB I BAB V .pdf (Halaman 90-106)