• Tidak ada hasil yang ditemukan

Upaya Memprediksi Disleksia pada Anak Se

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Upaya Memprediksi Disleksia pada Anak Se"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS INDONESIA

TUGAS MATA KULIAH LINGUISTIK EDUKASIONAL

WINASTI RAHMA DIANI 1506702132

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA PROGRAM MAGISTER LINGUISTIK

PENGAJARAN BAHASA DEPOK

(2)

Upaya Memprediksi Disleksia pada Anak Sejak Dini

Ketika anak-anak memasuki usia 6-7 tahun, kemampuan membaca dan menulis adalah dua hal yang sangat diperhatikan oleh para orang tua karena kemampuan tersebut wajib dimiliki oleh anak-anak yang ingin bersekolah di Sekolah Dasar (SD). Untuk menilai kemampuan membaca dan menulis, pengelola SD yang mengadakan tes kemampuan tersebut sebagai bahan pertimbangan menerima anak-anak yang akan masuk sekolah. Hal itulah kiranya yang menyebabkan banyak orang tua khawatir, jika anak-anaknya mengalami gangguan dalam hal membaca dan menulis.

Gangguan tersebut membuat para orang tua berasumsi bahwa anak-anaknya kemungkinan besar memiliki gangguan yang dinamakan ‘disleksia’. Anak-anak yang kemungkinan memiliki gangguan disleksia dinilai tidak dapat memenuhi atau mencapai target kemampuan membaca untuk anak-anak seusia mereka. Prediktor penting yang menjadi bahan penilaian kemampuan membaca adalah kemampuan koordinasi visual, linguistik, dan motorik. Selain itu, faktor sikap, kesehatan, dan sosial juga dijadikan pertimbangan dalam penelitian mengenai pencapaian membaca (Elbro, BorstrØm, & Petersen, 1998: 36).

Berdasarkan hal tersebut, penelitian mengenai membaca (reading) terus dikembangkan ke arah bagaimana mendefinisikan disleksia dan cara memprediksi dileksia sejak dini. Dalam hal definisi, disleksia didefinisikan sebagai kesulitan hebat dalam belajar membaca dan menulis yang memiliki kesulitan spesifik dalam hal

phonological recoding, yaitu hubungan sistematis antara huruf dan fonem.

Phonological recoding merupakan karakteristik utama yang dapat menjadi bukti diagnosa gangguan disleksia pada anak (Ibid).

(3)

lanjut. Akan tetapi, peneliti juga perlu memperhitungkan faktor-faktor lain, seperti cara pembelajaran yang diterapkan oleh pengajar, jumlah absen atau ketidakhadiran siswa di kelas, dan lain-lain (Ibid, 52).

Jika anak-anak mengalami kesulitan dalam phonological recoding, kemungkinan besar mereka juga akan mengalami kesulitan dalam pengejaan (spelling) dan pengenalan kata (word recognition). Penelitian mengenai pengejaan (spelling) dan pengenalan kata (word recognition) dilakukan oleh Bruck (1988) melalui pemberian tugas untuk mengetahui hal berikut.

1. Pengetahuan tentang suara ejaan korespondensi

2. Penggunaan informasi fonologis untuk pengenalan kata 3. Penggunaan konteks untuk pengenalan kata

4. Proses yang digunakan untuk mengeja kata

Tugas tersebut diberikan pada kelompok anak normal (control group) dan anak yang didiagnosa menderita disleksia. Pada tugas pertama, control group membuat kesalahan yang lebih sedikit. Namun, berkat adanya interaksi, kelompok anak yang didiagnosa menderita disleksia dapat mengurangi banyak kesalahan yang dibuat sebelumnya. Pada tugas kedua, kedua kelompok memiliki banyak kesalahan membaca exception word dibanding dengan kata-kata umum. Pada tugas ketiga,

control group menunjukkan hasil ketergantungan yang amat besar pada konteks untuk mengenali kata. Di sisi lain, anak-anak yang kemungkinan menderita disleksia tidak dipengaruhi oleh konteks karena informasi semantik dan sintaksis mereka buruk, sehingga mereka tidak dapat memprediksi kata berikutnya yang akan muncul. Pada tugas keempat, kedua kelompok diketahui menggunakan proses yang sama dalam mengeja, yaitu bergantung pada suara ejaan korespondensi (Bruck, 1988).

(4)

Upaya untuk membedakan antara disleksia dengan gangguan membaca lainnya dapat dilihat melalui penelitian yang dilakukan oleh Taylor, Satz, dan Friel (1979). Mereka melakukan penelitian membedakan pembaca buruk (poor readers), dan disleksia perkembangan (developmental dyslexia). Mereka menyebutkan tujuh hipotesis yang ingin diujikan dalam penelitian:

1. Penderita disleksia memperlihatkan kelemahan yang sangat buruk dalam membaca dan/ atau membuat perkembangan yang lebih lama dengan usianya.

2. Penderita disleksia cenderung membuat urutan huruf terbalik atau untuk membuat bingung huruf yang berbeda dalam orientasi.

3. Penderita disleksia memiliki kekurangan dalam bidang akademik, seperti matematika.

4. Orang tua kandung dari anak-anak penderita disleksia kurang lancar dalam membaca dan mengeja dibandingkan dengan orang tua kandung anak-anak pembaca buruk.

5. Penderita disleksia dianggap lebih abnormal pada tes neurologis.

6. Penderita disleksia memperlihatkan pola perbuatan neuropsikologis yang berbeda.

7. Penderita disleksia menunjukkan ciri-ciri kepribadian yang berbeda.

Namun, usaha tersebut belum mendapatkan hasil yang signifikan untuk membedakan pembaca buruk dan disleksia perkembangan. Berdasarkan hasil tes membaca, kecenderungan pembalikan, dan matematika, hipotesis 1, 2, 3 tidak didukung karena tidak ada perbedaan yang signifikan antara pembaca buruk (poor readers), dan disleksia perkembangan (developmental dyslexia). Hipotesis 4 juga tidak didukung karena hasil penelitian menunjukkan hal yang sebaliknya. Terakhir, berdasarkan tes yang dilakukan oleh ahli neurologi dan psikologi, hipotesis 5, 6, dan 7 juga tidak dapat didukung. Keadaan anak-anak yang masuk dalam kelompok disleksia perkembangan (developmental dyslexia) tidak jauh berbeda dengan anak-anak lainnya (Hallgren, 1950; Taylor, Satz, & Friel, 1979: 94).

(5)

menarik perhatian. Dari penelitian tersebut, mereka tidak hanya menguji melalui hal-hal yang berhubungan dengan membaca dan menulis saja, tetapi juga mencoba menguji faktor-faktor lain yang mereka curigai, misalnya dalam bidang matematika, faktor keturunan, neurologis, bahkan psikologi.

Menurut Nicolson dan Fawcett (1994), tes yang berhubungan dengan membaca adalah hal dasar yang disebut primitif. Untuk itu, mereka pun mencoba menguji anak-anak yang diduga menderita disleksia dengan tes primitif tersebut beserta tes yang menguji kemampuan kognitif dan motorik. Hal-hal yang diuji oleh Nicolson dan Fawcett adalah sebagai berikut.

1. Segmentasi fonem

2. Kecepatan penamaan gambar

3. Pengenalan kata; kata tachistoscopic 4. Penyusunan manik-manik dengan cepat

5. Keseimbangan

Pengujian kemampuan tersebut ditujukan atas hipotesis Nicolson dan Fawcett yang mengatakan bahwa anak-anak penderita disleksia tidak hanya memiliki kekurangan dalam hal fonologis saja, tetapi juga memiliki anomali dalam hal lain. Mereka merujuk pada cerita yang dikemukakan oleh para orang tua dari anak-anak penderita disleksia. Menurut cerita yang disampaikan oleh para orang tua, anak-anak penderita disleksia menampakkan hal yang tidak biasa saat usia dini, seperti mengalami keterlambatan dalam berjalan, keterlambatan dalam berbicara, agak ceroboh, dan mudah mengalami kecelakaan (Augur, 1985; Nicolson & Fawcett, 1994).

(6)

tes tersebut, kemampuan anak-anak penderita disleksia pun tampak lebih buruk dibandingkan dengan anak-anak yang usianya lebih muda (Nicolson & Fawcett, 1994).

Hasil tes tersebut mendorong Nicolson dan Fawcett (1994) menarik kesimpulan bahwa bagian tes yang disebut primitif menunjukkan adanya kekurangan pada anak-anak disleksia, tetapi kekurangan tersebut tidak dapat digunakan untuk mengindikasikan kekurangan mental. Sistem kognitif (termasuk kecerdasan dan kemampuan belajar) anak-anak disleksia tetap berfungsi secara normal atau bahkan di atas normal. Kekurangan tersebut dinilai dapat diimbangi dengan kemampuan mereka yang lain, ketika dewasa. Hal yang penting juga untuk diketahui adalah adanya kekurangan kemampuan otomatisasi (automatization) dalam diri anak-anak penderita disleksia. Hal tersebut yang akhirnya berdampak pada berbagai bidang, seperti fonologi, visual, motorik, atau kemampuan memproses secara cepat.

Berbagai hasil penelitian yang ada dalam tulisan ini, disusun oleh penulis untuk merangkum informasi mengenai usaha yang telah dilakukan oleh para peneliti untuk memprediksi disleksia pada anak-anak. Usaha tersebut tidak hanya patut kita hargai, tetapi juga pahami agar dapat mengetahui bagaimana cara memprediksi disleksia pada anak-anak dengan cara memperhatikan ciri-ciri atau karakter yang nampak pada diri anak. Dengan begitu, disleksia pada anak dapat diprediksi sedini mungkin.

Para orang tua dan pengajar pun dapat lebih siap untuk menangani anak-anak yang diduga menderita disleksia. Semakin cepat diprediksi, semakin cepat pula perawatan (treatment) untuk anak-anak disleksia dimulai. Dengan perawatan yang baik dan tepat, anak-anak disleksia akan tetap dapat belajar dan tumbuh dengan baik, seperti anak-anak lainnya.

Daftar Pustaka

(7)

Bruck, Maggie. 1988. The Word Recognition and Spelling of Dyslexic Children. Diunduh dari http://www.jstor.org/stable/747904 (pada 29 November 2015).

Elbro, C., BorstrØm, I., & Petersen, D.K. 1998. Predicting Dyslexia from Kindergarten: The Importance of Distinctness of Phonological Representation of Lexical Items. Diunduh dari http://www.jstor.org/stable/748172 (pada 29 November 2015).

Nicolson, R.I. & Fawcett, A.J. 1994. Comparison of Deficits in Cognitive and Motor Skills among Children with Dyslexia. Diunduh dari http://www.jstor.org/stable/23769690 (pada 29 November 2015).

Taylor, H.G., Satz, P., & Friel, J. 1979. Developmental Dyslexia in Relation to Other Childhood Reading Disorder: Significance and Clinical Utility. Diunduh dari http://

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan menurut Bayyinatul (2008:8) pendidikan seks menurut Islam adalah pengetahuan tentang masalah-masalah seksual yang diberikan pada anak, dalam usaha menjaga

Kami bersepakat dengan pihak desa untuk menjadikan Karang Taruna lebih produktif terutama mereka yang dalam masa tunggu (belum cukup usia), dengan adanya

Objek kritis yang sebenarnya dari tuturan tersebut adalah sosok wanita utama yang ada dalam video klip tersebut, namun untuk alasan kesantunan penutur menggantikan objek kritis

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan kegiatan yang bertujuan memberikan pengalaman kepada mahasiswa dalam bidang pembelajaran di sekolah dalam rangka mengembangkan

Develop Project Management Plan • Project Charter • Outputs from other process • Enterprise environmental factors • Organizational process assets Inputs • Expert judgment

Indeks Kekayaan Jenis (R) maupun Indeks Keanekaragaman Jenis (H) hutan kerangas yang telah 15 tahun ditambang pasir kuarsa lebih tinggi dibandingkan dengan yang baru 5

dan tidak dapat diperbarui tetapi benar dalam menuliskan pemanfaatannya oleh penduduk di daerahnya Siswa salah dalam menuliskan jenis-jenis sumber daya alam yang

Siti Zariah Tarigan (isteri) dan Hardisyah (anak). Demikian juga dengan teman-temannya dulu satu kantor yang diduga kuat cukup banyak mengenal beliau seperti Ir. Indra Harahap,