• Tidak ada hasil yang ditemukan

MARI BERSAMA WUJUDKAN INDONESIA RAYA SEB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MARI BERSAMA WUJUDKAN INDONESIA RAYA SEB"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

MARI BERSAMA WUJUDKAN INDONESIA RAYA SEBAGAI TAMANSARINYA BUDAYA SPIRITUAL

(oleh Ki Marsudi)

I. PENDAHULUAN

Kita semua menyadari bahwa Tuhan YME menghendaki kita lahir di atas bumi dalam wilayah Nusantara yang sekarang telah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kalau bumi tempat Anda lahir ini pulau Jawa maka sadarilah bahwa pulau Jawa adalah salah satu diantara 18.306 pulau yang ada di Nusantara, kalau anda terlahir sebagai anak orang Jawa maka suku bangsa Jawa ini hanyalah satu diantara 1.340 suku bangsa di Nusantara, dan apabila Anda hanya bisa berbahasa Jawa, maka bahasa Jawa hanyalah satu diantara 1.211 bahasa di Nusantara. Bukan main !!! Kepulauan yang terletak di sekitar katulistiwa ini banyak gunung apinya, menjadikan tanah di sini sangat subur mampu ditanami apa saja. Luasnya wilayah laut dan banyaknya gunung api serta hutan belantara menjadikan daerah ini kaya tambang minyak bumi, tambang logam mulia, tambang batubara dan sebagainya. Demikian banyaknya hasil bumi yang bisa diupayakan, hasil laut, hasil hutan, hasil tambang, juga melimpahnya energi di negeri ini membawa satu kesimpulan bahwa negeri ini kaya raya sulit dicari tandingannya. Layaklah jika Multatuli menyebutnya sebagai rangkaian zamrud yang melingkar di katulistiwa, sedangkan penulis lain menyebutnya sebagai “ sepotong sorga di katulistiwa”

Hal tersebut akhirnya mengundang hadirnya bangsa-bangsa dari luar sana untuk berbondong-bondong berebut rezeki di tanah ini sambil menindas dan memeras kekayaan anak negeri. Sejak jaman prasejarah keadaan itu terjadi dan sampai hari ini pun sebenarnya masih terjadi, hanya cara dan bentuknya saja yang berubah sesuai berjalannya waktu dan kehendak jamannya.

Tercatat dalam sejarah negeri ini menurut pendapat para ahli dari Belanda bahwa nenek moyang bangsa kita ini semula adalah penduduk asli terdiri atas manusia Pleistosein , suku Wedoid dan suku Negroid yang kemudian kedatangan migran secara besar-besaran dari Yunan Selatan sebanyak dua kali, yang pertama sekitar 2000 tahun SM dan kedua sekitar 400 – 300 tahun SM. Konon percampuran penduduk asli dan pendatang inilah yang kemudian menjadi nenek moyang bangsa Nusantara yang saat itu menghantar kebudayaan dari batu purba ke jaman budaya perunggu. Sudah barang tentu lambat laun faktor budaya, teknologi (walaupun masih sangat rendah) dan keyakinan pun terjadi pembauran dengan sendirinya (baik akulturasi maupun sinkretisme).

Di sisi lain penulis juga menemukan catatan bahwa kalender Jawa asli dan aksara/huruf Jawa telah disusun oleh Mpu Hubayun pada 911 tahun SM, bahkan menurut pendapat seorang astronom bernama HJ. Snijders perhitungan tahun Jawa asli telah dimulai ketika orang Jawa mengenal Ilmu Falaq (perbintangan) sekitar 17.000 tahun SM, suatu pendapat yang agak nyambung dengan kesimpulan Prof. Arysio Santos tentang Atlantis , sebuah benua yang hilang, itu adalah Indonesia. Menurut Santos, penghuni Atalntis tersebut sudah memiliki kemampuan teknologi tinggi sehingga dianggap setingkat dewa. Hal-hal tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa budaya orang Jawa saat itu sudah maju karena sudah dapat membuat perhitungan tentang waktu, sekaligus aksara (huruf), mampu membuat keris yang bahannya sebagian dari meteor, dan sudah tentu seni sastra pun pasti ada. Dan itu terjadi sebelum agama-agama besar dari luar masuk ke Nusantara. Situs Gunung Padang yang masih digali semoga bisa ikut memberi pencerahan perihal sejarah bangsa ini di masa lalu, sebagai modal atau setidaknya motivasi buat perkembangan di masa depan.

(2)

Saka ( Prabu Sri Maha Punggung III / Ki Ajar Padang III ) dari kerajaan Jawa Dwipa (letaknya sekitar lereng gunung Gede Pangrango Jawa Barat) untuk mengadopsi perhitungan tahun Çaka (India) digabung dengan tahun Jawa Asli menghasilkan perhitungan Tahun Saka Jawa yang dimulai tahun 78 M, tepatnya 21 Juni 78.

Akulturasi budaya seperti ini tidak berhenti sampai di sini. Pada tanggal 8 Juli 1633, Sri Sultan Agung Hanyakra Kusuma, raja Mataram, memadukan perhitungan tahun Saka Jawa dengan tahun Hijriyah menjadi Tahun Jawa yang berlaku sampai hari ini. Rupanya proses akulturasi budaya dan juga sinkretisme sudah menjadi lazim di negeri kita demi menjaga keseimbangan dan keteduhan dalam kehidupan masyarakat, selain juga tentunya menjadikan bangsa ini lebih maju peradabannya.

II. KONSEP BERKETUHANAN

Dari paparan awal sejarah bangsa , penulis meyakini bahwa konsep Monotheisme telah berkembang sejak lama jauh sebelum konsep-konsep dari luar termasuk bermacam agama maupun ideology merembes masuk ke negeri kita, hal ini bisa dibuktikan dengan bangunan-bangunan peninggalan sejarah baik itu tempat-tempat pemujaan, makam, kalender, perhitungan hari yang begitu rumit, lengkap dan penuh misteri, pranoto mongso, tembang-tembang mainan anak-anak, kidung-kidung kuno, falsafah sesajen, upacara-upacara perkawinan dll. semuanya mengarah kepada pembelajaran/pendidikan yang ada kaitannya dengan keyakinan akan adanya Tuhan YME. Dengan mudahnya paham-paham dari luar baik itu agama ataupun isme-isme juga termasuk seni budaya masuk dan diterima baik dalam kehidupan bangsa kita yang berkarakter

sopan, ramah, murah hati, rendah hati, penuh tenggang rasa (toleransi), suka bergotongroyong

yang semuanya bisa kita lihat dalam sikap sehari-hari dan juga terbaca dalam kidung-kidung kuno. Kesimpulan sementara akan mengatakan bahwa Karakter seperti itu mustahil dimiliki oleh bangsa yang tidak ber- Tuhan.

Iklim berketuhanan seperti di atas menciptakan kondisi damai, tenteram aman bagi masyarakat secara umum sejak dulu sampai sekarang. Kalaupun terjadi gejolak paling-paling dilakukan oleh oknum-oknum tertentu karena ingin mengunggulkan pandangannya yang dari luar, dan itu tidak akan berlangsung lama jika segera menyadari di mana dia memijakkan kakinya.

Hanya nafsu penjajahlah yang bisa bertahan agak lama, karena dengan segala intrik muslihat yang dipikirkannya dengan sungguh-sungguh pasti juga diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang, walaupun sebenarnya semua juga akan berakhir dan yang pasti siapa yang menanam maka dia pulalah penuainya, siapa yang suka menimbulan kekacauan maka seumur hidupnyapun akan selalu kacau dan itu akan berlanjut di alam berikutnya (akhirat).

Dan ini pulalah kiranya yang mengilhami para founding fathers pendiri Republik ini merumuskan Pancasila dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, demikian pula dengan Preumble dan Isi Undang-Undang Dasar tahun 1945, tegas tertulis bahwa Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

(3)

walaupun kita tahu bahwa pro kontra pasti ada, riak-riak kecil itu biasa dan segera akan lenyap jika segera kembali ke jati diri bangsa.

Setelah melalui beberapa phase perkembangan maka akhirnya disepakati adanya satu devinisi tentang Kepercayaan terhadap Tuhan YME yang bunyinya sebagai berikut :

Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah pernyataan dan pelaksanaan hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keyakinan yang diwujudkan dengan perilaku ketaqwaan dan peribadatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa serta pengamalan budi luhur yang ajarannya bersumber dari kearifan lokal bangsa Indonesia.

(Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Bab I Ketentuan Umum, Pasal 1 ayat 2 )

Dengan adanya devinisi tersebut akan mudah kiranya bagi masyarakat yang belum mengenal untuk dapatnya segera memahami sedikit tentang apa, siapa, apa peranannya, dan bagaimanakah perihal Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di bumi Indonesia ini. Tentu saja untuk mengetahui secara lebih luas jalan satu-satunya adalah masuk menjadi anggota/warga dan sanggup menjalani (menghayati) segala aturannya. Dari pengalaman itulah nantinya kita bisa membandingkan dan memilih mana yang paling sesuai dan paling bermanfaat buat hidup kita sampai kembali kepada Tuhan YME. Jika Anda percaya bahwa Tuhan itu Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, di mana pun Tuhan menciptakan manusia pasti di situ pula diturunkan tuntunan/ajaran untuk dapatnya menghadap dan kembali kepada-Nya. Itu pasti !!! Karena lahir itu tidak dapat memilih harus di mana dan lewat orangtua siapa.

III. ORGANISASI PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME

Semula, sebelum kemerdekaan, komunitas penghayat kepercayaan sebenarnya sudah banyak karena banyak sesepuh-sesepuh (perintis komunitas penghayat) yang menerima Dhawuh Tuhan YME saat itu melalui Guru Sejatinya masing-masing, namun eksistensi mereka masih belum jelas, maklum hal ini mengantisipasi praktek adu domba Penjajah waktu itu yang cenderung melecehkan dan bahkan kalau bisa melenyapkan sekalian semua produk pribumi saat itu apalagi yang berkaitan dengan kegiatan spiritual yang sangat ditakuti penjajah (Belanda).

Barulah setelah era kemerdekaan, demi menunjukan eksistensinya maka komunitas-komunitas penghayat tersebut mulai membentuk organisasi, apalagi setelah pemerintah Indonesia memberikan perhatian lewat diturunkannya beberapa peraturan perundang-undangan sejak tahun 1973, semakin banyak bermunculan organisasi penghayat di Indonesia (terhitung kurang lebih 350 organisasi penghayat di tahun 1970-an).

Setelah melalui seleksi alam, terakhir yang kita dengar dari Direktur Kepercayaan terhadap Tuhan YME pada waktu pembahasan Keputusan MK tanggal 8 Nopember 2017, jumlah organisasi penghayat di seluruh Indonesia tercatat 187 organisasi. Apakah jumlah ini terus menyusut atau mungkin malah bertambah lagi tinggal kita tunggu saja waktunya tanpa kita harus berandai-andai, karena kita yakin apapun yang terjadi di situlah kehendak Tuhan berlaku.

IV. PAYUNG HUKUM BAGI PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YME

(4)

UUD 1945 Bab XA Hak Asasi Manusia, Pasal 28 Pasal 28 E ayat (2), Pasal 28 C, ayat (1, Pasal 28I, ayat (3), dan Bab XIII, Pendidikan dan Kebudayaan, khusus Pasal 32 ayat (l) dan ayat (2)

UUD 1945 Bab XI Agama Pasal 29, ayat (1) dan ayat (2) mengatur tentang agama dan kepercayaan UU NO. 23 TAHUN

2006 ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PP NO. 37 TAHUN 2007PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PBM NO. 43/41 TAHUN 2009

PERATURAN BERSAMA MENTERI DALAM NEGERI DAN MENTERI KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA TENTANG PEDOMAN PELAYANAN KEPADA PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA

PERMENDAGRI NO. 44 TAHUN 2009

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI TENTANG PEDOMAN KERJA SAMA DEPARTEMEN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN

ORGANISASI KEMASYARAKATAN DAN LEMBAGA NIRLABA LAINNYA DALAM BIDANG KESATUAN BANGSA DAN POLITIK DALAM NEGERI

PERMENDAGRI NO. 33 TAHUN 2012

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 33 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENDAFTARAN ORGANISASI KEMASYARAKATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH

UU NO. 24 TAHUN 2013

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2006 TENTANG ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN

PERMENDIKBUD NO. 77 TAHUN 2013

PEDOMAN PEMBINAAN LEMBAGA KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA DAN LEMBAGA ADAT

PERMENDIKBUD NO. 27 TAHUN 2016

LAYANAN PENDIDIKAN KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA PADA SATUAN PENDIDIKAN

SKK KEPERCAYAAN 2017

STANDAR KOMPETENSI KHUSUS JABATAN PENYULUH KEPERCAYAAN THD TUHAN YME

Putusan MK no.

97/PUU-XVI/2016 KEPERCAYAAN BISA DIMASUKKAN DALAM KK MAUPUN KTP

V. MLKI SEBAGAI WADAH NASIONAL ORGANISASI PENGHAYAT

Tanpa mengurangi rasaa hormat kepada saudara-saudara dari organisasi penghayat yang tergabung dalam HPK maupun BKOK perkenankan saya (penulis) menguraikan secara singkat keberadaan MLKI yang saat ini sedang mengemban missi khusus dari pemerintah melalui Permendikbud no. 27 tahun 2016 dan ikut bertanggung jawab dalam beberapa hal yang berkaitan denganterbitnya hasil putusan MK no. 97/PUU.XVI/2016.

a. Sejarah singkat

Diawali dengan terbentuknya Badan Kongres Kebatinan Indonesia (BKKI) yang pertama di Semarang pada Agustus tahun 1955 yang kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan Kongres Kebatinan Indonesia yang kedua di Surakarta pada tanggal 7 s.d. 10 Agustus 1956, saat itu tercatat ada 100 paguyuban dalam negeri dan 30 aliran kebatinan di luar negeri.

Even penting berikutnya adalah Symposium Nasional Kepercayaan Kebatinan Kejiwaan Kerohanian tanggal 7-9 Nopember 1970 berlanjut dengan terbentuknya BK5I pada Desember 1970 yang lalu menciptakan wadah tunggal nasional bernama SKK (Sekretariat Kerjasama Kepercayaan). 1 Januari Tahun 1980 SKK berubah nama menjadi HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan).

(5)

Termotivasi rasa keprihatinan beberapa sesepuh dan pinisepuh penghayat kepercayaan yang kemudian mendapat dukungan dari pihak Pemerintah c.q. WaMen Kebudayaan dan Pariwisata, maka setelah diwacanakan dalam Kongres Nasional Kepercayaan bersama Komunitas Adat dan Tradisi di Surabaya tanggal 25 -28 Nopember 2012, akhirnya lahirlah Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) melalui deklarasi pendirian MLKI pada saat Sarasehan Nasional Kepercayaan di Yogyakarta tanggal 13-17 Oktober 2014.

Karena kita berada di wilayah Jawa Timur maka di sini penulis akan menyampaikan beberapa kebijakan pengurus MLKI Provinsi Jawa Timur melalui program kerjanya.

b. Program Kerja MLKI - Jawa Timur

Program ini dapat Anda lihat melalui link : goo.gl/gV2RTi

c. Program Prioritas

Melalui Rapat rutin Pengurus MLKI provinsi Jawa Timur maka untuk masa kerja tahun 2017 diputuskan beberapa program prioritas dengan tidak menutup kemungkinan bertambahnya materi program sesuai dengan perkembangan kebutuhan organisasi.

Program Prioritas tersebut antara lain :

1. Pendataan paguyuban/organisasi Penghayat di tiap kota / Kab MLKI di Jawa Timur ( apabila ada dg melampirkan AD/ART organisasi)

2. Pendataan anak didik Penghayat di tiap kota/ kab MLKI se Jatim ( segera dan urgent) 3. Audiensi dengan Bakesbangpol

4. Audiensi dengan Wakil Gubernur Jatim

5. Rapat MLKI dilaksanakan 1x setiap bulan. Setiap minggu ke 3

6. Anjangsana/turba MLKI jatim ke daerah yang membutuhkan pembinaan dalam rangka penguatan organisasi.

7. Tetap menjaga hubungan harmonis dengan saudara-saudara penghayat/organisasi penghayat yang masih bernaung di dalam HPK maupun BKOK

8. Melaksanakan kaderisasi pemuda Penghayat

9. Membangun kerjasama intensif dg lembaga negara terkait.

10. Mewujudkan suasana kondusif menjelang dan selama pelaksanaan Pemilu, dan menjalin hubungan harmonis dengan seluruh jaringan lintas iman.

11. Melaksanakan Rakerwil di awal tahun 2018

VI. MEMBANGUN TAMANSARI BUDAYA SPIRITUAL

Demi terwujudnya impian mewujudkan Negara ini menjadi Tamansari Budaya Spiritual maka sudah pasti ada kegiatan-kegiatan riil yang harus dilakukan, namun guna melakukannya tentu saja harus ada pemahaman yang sama terhadap beberapa hal antara lain :

- Apa yang dimaksud dengan istilah Tamansari Budaya Spiritual - Mengapa memilih istilah Tamansari dan bukan kebun

- Apa persyaratan pokok yang harus dicapai guna mewujudkannya

- Apa manfaat yang bisa didapat dengan terwujudnya Tamansari Budaya Spiritual tersebut

Penjelasannya :

(6)

berbakti dan mengabdi pada Tuhan YME) dalam masyarakat apapun bentuknya dan dari kelompok manapun asalnya baik dari pemeluk agama (bagi yang menjalani kegiatan spiritual) ataupun kepercayaan, kelompok besar maupun kelompok kecil atau bahkan perorangan, hendaknya diberi kesempatan yang sama untuk berkembang sampai dapat menunjukkan kemanfaatannya bagi masyarakat bangsa ini. Saling bahu membahu membangun jati diri bangsa yang berbudi luhur, yang kuat membantu yang lemah.

- Istilah Tamansari dipilih untuk menunjukkan format kemajemukan, keberagaman /pluralistic, bukan keseragaman, karena masyarakat bangsa Indonesia memang ditakdirkan beragam dalam banyak hal misalnya suku, etnis, bahasa, budaya, pakaian, kuliner, termasuk adat, tradisi, agama dan keyakinan dalam berketuhanan (kepercayaan/budaya spiritual), semua diberi hak yang sama untuk berkembang.

- Persyaratan pokok yang musti disepakati dan dimiliki/dilakuan oleh setiap individu/kelompok adalah:

1. Selalu berupaya meningkatkan bakti dan pengabdiannya terhadap Tuhan YME

2. Sikap saling menghargai terhadap sesama individu/kelompok secara tulus, menghindari perasaan superior dan inverior, saling curiga , merasa paling benar dsb.

3. Mau bergotongroyong dan saling tolong menolong dengan semua pihak terutama yang berkaitan dengan kepentingan bersama.

4. Berkomitmen dalam menjaga keutuhan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia

5. Berkomitmen dalam melaksanakan Pancasila dan amanat UUD 1945

Kiranya kelima persyaratan ini sudah siap diwujudkan (minimal sudah dipelajari) bagi setiap pribadi Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME

- Dengan terwujudnya Tamansari Budaya Spiritual tersebut dimungkinkan terciptanya masyarakat yang kondusif, aman tenteram, tertib, damai namun penuh gairah dalam menggapai cita-cita bersama, membangun bangsa dan Negara ini menjadi lebih maju dan berkualitas.

VII. KESIMPULAN DAN SARAN

Dari rangkaian paparan yang penulis uraikan diatas kiranya kita sampai pada kesimpulan bahwa diakui ataupun tidak maka eksistensi keberadaan masyarakat penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME adalah real atau nyata dan itu merupakan bagian dari masyarakat bangsa Indonesia yang untuk sementara dianggap minoritas sehingga sering dikesampingkan.

(7)

penulis jumpai adalah Bapak AG Soepangkat yang pernah menjadi pengurus Yayasan pengelola Gedung Olah Raga (Gelora) Pancasila di Surabaya. Masih terlalu banyak kisah-kisah ketokohan maupun kepahlawanan yang semestinya disandang para pejuang dari kalangan penghayat, namun karena mereka/kami kaum penghayat umumnya tidak suka dipuji apalagi menonjolkan diri (Sukeng tyas yen den ina , atau tetap senang apabila dihina/dilecehkan), maka hal semacam itu menjadi suatu kewajaran saja.

Dari uraian diatas sangat jelas bahwa dengan jumlah organisasi sebanyak 187 se Indonesia (dengan catatan yang lain belum muncul), potensi yang terpendam pastilah sangat besar dan perlu diperhitungkan. Apalagi setelah dikeluarkannya Permendikbud no. 27 tahun 2016 yang memberikan kesempatan kepada putra-putra penghayat untuk bebas mempelajari naskah-naskah suci leluhurnya. Biarkanlah mereka berkembang dan mengembangkan ajaran-ajaran leluhur, demi memeriahkan terwujudnya Tamansari Budaya Spritual di negeri ini. Percayalah bahwa Kerukunan Nasional akan semakin tercapai dengan munculnya warga Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan YME di tengah masyarakat.

Sedikit harapan kami yang tertuju kepada masyarakat non penghayat utamanya juga bagi aparat pemerintahan, berikanlah hak-hak kami sebagai warga negara yang demokratis ini secara tulus, agar kami cukup ruang untuk berdampingan secara damai bersama Anda, untuk dapatnya ikut serta mengisi pembangunan Negara ini buat kecerahan hidup anak cucu kita di masa yang akan datang.

VIII. PENUTUP

Sebagai penutup dari perjumpaan ini, penulis menghimbau kepada kadang-kadang Penghayat seluruhnya saja baik yang sudah bergabung dalam MLKI maupun yang belum, untuk tetap tenang dan tetap menjaga kerukunan di tengah masyarakat.

Sehubungan dengan adanya Keputusan MK tentang pengisian kata Kepercayaan dalam KTP maupun KSK, hal tersebut mari kita sambut baik dan kita syukuri bersama sebagai satu anugerah Tuhan YME karena dengan demikian ke depannya kita akan lebih leluasa mengabdi pada Negara. Kita tidak perlu mempersoalkan siapa kadang/warga yang segera melaksanakan hal itu dan siapa yang merasa belum perlu. Kita tunggu petunjuk pelaksanaannya dari Kemendagri, dan mari kita sikapi secara bijak tidak perlu ramai-ramai.

Sehubungan dengan akan adanya PilGub, PilLeg dan PilPres, sebagai organisasi kita harus tetap netral tidak berpihak ke partai manapun atau ke calon siapapun, namun tidak menutup kemungkinan secara pribadi sebagai warga negara, silahkan memilih sesuai dengan hati nuraninya masing-masing tanpa membawa nama organisasi penghayatnya apa lagi mengatas namakan MLKI.

Dalam doa kita setiap melakukan ritual penyerahan diri kepada Tuhan YME, mari kita sama-sama sisipkan permohonan agar Negara ini terluput dari segala upaya negatif yang dapat membahayakan Negara dan seluruh warganya. Hayu-hayu Indonesia negaraku.

R a h a y u

Surabaya, 6 Desember 2017 Penulis,

(8)

Referensi :

- Tim Penyusun. 1981. Sejarah Umum, untuk SMA IPS, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,

- Ananda Sujono Hamong Darsono, 1956, Kenang-kenangan Konggres Kebatinan Indonesia ke I dan k e II, di Semarang dan di Surakarta,

- Lembaga Javanologi Surabaya. 2014. Bhinneka Kearifan Budaya Jawa, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Surabaya : UPT Taman Budaya,

- Sekretaris Jenderal MPR RI. 2015. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jakarta : Majelis Permusyawatan Rakyat Republik Indonesia

- Dr. Paul Stange.2009. Kejawen Modern Hakikat dalam Penghayatan Sumarah, Jakarta : DPP Paguyuban Sumarah

- Prof. Arysio Santos.2011. Atlantis the Lost Continent Finally Found, Jakarta Selatan : PT Ufuk Publishing House

Referensi

Dokumen terkait