Investigasi Hubungan antara Kinerja Modal Intelektual dan Praktik
Pengungkapannya dalam Laporan Tahunan Perusahaan
Ihyaul Ulum
Program Studi Akuntansi FEB Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas 246 Malang 65145 Jawa Timur Email: [email protected]
*Sitasi: Ulum, I (2012). DzInvestigasi Hubungan antara Kinerja Modal Intelektual dan Praktik Pengungkapannya dalam Laporan Tahunan Perusahaandz, Jurnal Ekonomi Bisnis, volume 17, no 1, hlm 36-45. ISSN: 0853-7283.
Abstract
This study provides an intellectual capital disclosure practices of biggest Indonesian publicly listed companies in their annual reports from 2007 - 2008. This study then investigates the potential relationship between the intellectual capital performance and the extent of intellectual capital disclosure. Intellectual capital performance is
measured using the Value Added Intellectual Coefficient (VAIC™). A disclosure
index and relevant scoring system is utilized to measure the extent and quality of
disclosure as provided in the annual reports of the sample firm’s annual reports
during the stated period.
The results suggest that when a firms’ intellectual capital performance is too high there is a negative impact on the amount of intellectual capital disclosure. The negative association may support the suggestion on that firms to reduce intellectual capital disclosures when intellectual is above a perceived ceiling level for fear of losing a competitive advantage.
Keywords: disclosure, intellectual capital, performance, VAIC
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Organisasi bisnis, setiap tahun menyajikan informasi tentang perusahaan melalui berbagai media. Salah satu media yang secara rutin menjadi produk informasi perusahaan adalah laporan tahunan. Dalam laporan tahunan, perusahaan tidak hanya menginformasikan tentang pertumbuhan perusahaan dari sisi keuangan, tetapi juga segala aspek yang lain. Tampilan dalam annual report juga relatif lebih komunikatif
1 Melalui laporan tahunan, perusahaan memperkenalkan dan melaporkan tentang dirinya secara lebih masif kepada publik.
Laporan tahunan (annual report) merupakan laporan perkembangan dan pencapaian yang berhasil diraih organisasi dalam setahun. Data dan informasi yang akurat menjadi kunci penulisan laporan tahunan. Laporan Tahunan kini tidak lagi sebatas pelaporan pertanggungjawaban dalam RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham), namun telah menjadi media komunikasi yang efektif kepada semua pihak tentang kinerja dan prospek perusahaan ke depan (Ulum, 2010).
Sejak tahun 2000, para akademisi dan praktisi mulai fokus pada persoalan pengungkapan intellectual capital (IC) perusahaan di dalam laporan tahunannya (lihat misalnya: Guthrie et al., 1999; Guthrie dan Petty, 2000; dan Goh dan Lim, 2004). Definisi disclosure IC telah diperdebatkan dengan sengit di antara para ahli dalam berbagai literatur. Menggunakan laporan keuangan untuk tujuan umum (genera l purpose financial reporting) sebagai dasar, dapat dikatakan bahwa pengungkapan IC sebagai suatu laporan yang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna yang dapat memerintahkan persiapan laporan tersebut sehingga dapat memenuhi seluruh kebutuhan mereka (Abeysekera, 2006). Guthrie dan Petty (2000) tidak menawarkan definisi disclosure IC secara eksplisit, namun mereka menyinggung adanya fakta bahwa saat ini disclosure IC memberikan kemanfaatan yang lebih besar dibandingkan di masa lalu.
Perhatian terhadap praktik pengungkapan IC dibuktikan dengan
diselenggarakannya simposium internasional dengan tema “Mea suring and Reporting
Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects” di Amsterdam, Belanda pada
2 tentang IC (lihat: Achten, 1999; Andriessen et al., 1999; Backhuijs et al., 1999; Bornemann et al., 1999; Brennan, 1999; dan Guthrie et al., 1999).
Abdolmohammadi (2005) menggunakan sampel 58 perusahaan dari Fortune 500 untuk mengembangkan suatu deskripsi kerangka kerja tentang komponen-komponen IC di dalam laporan tahunan. Hal yang sama telah dilakukan sebelumnya oleh Guthrie dan Petty (2000) untuk konteks perusahaan publik di Australia, dan juga Goh dan Lim (2004) dengan sampel perusahaan terkemuka di Malaysia.
Di Indonesia, pengungkapan IC diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 19 (revisi 2000) tentang aktiva tidak berwujud. Selain itu, setidaknya ada 6 UU yang mengatur tentang komponen-komponen IC, yaitu UU No. 30/2000 tentang rahasia dagang, UU No. 31/2000 tentang disain industri, UU No. 32/2000 tentang desain tata letak sirkuit terpadu, UU No. 14/2001 tentang paten, UU No. 15/2001 tentang merk dagang, dan UU No. 19/2002 tentang hak cipta. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan sebagai IC, namun setidaknya IC telah mendapatkan perhatian dalam berbagai regulasi tersebut.
Sementara hasil studi untuk konteks Indonesia menunjukkan bahwa kinerja IC berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan (Ulum, 2008a). Di industri perbankan, IC jauh lebih dominan dibandingkan dengan industri lainnya, dan terbukti bahwa IC yang dimiliki perusahaan perbankan (baik yang publik maupun non-publik) berdampak positif terhadap kinerja keuangan (Ulum, 2008b, 2009a). Masing-masing komponen IC (structural capital, customer ca pital, dan human capital) saling berhubungan dalam mengkonstruksi kinerja keuangan perusahaan (Ulum, 2009b).
3 apakah kinerja IC (juga jenis industri, ROA, leverage, dan ukuran perusahaan) berpengaruh terhadap luas pengungkapan IC dalam laporan tahunan perusahaan?
2. KERANGKA TEORITIS DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
Stakeholder Theory
Istilah stakeholder dalam definisi klasik (yang paling sering dikutip) adalah definisi Freeman dan Reed (1983) yang menyatakan bahwa stakeholder adalah:
“any identifiable group or individual who can affect the achievement of
an organisation’s objectives, or is affected by the achievement of an organisation’s objectives”.
Berdasarkan teori stakeholder, manajemen organisasi diharapkan untuk melakukan aktivitas yang dianggap penting oleh stakeholder mereka dan melaporkan kembali aktivitas-aktivitas tersebut pada stakeholder. Teori ini menyatakan bahwa seluruh stakeholder memiliki hak untuk disediakan informasi tentang bagaimana aktivitas organisasi mempengaruhi mereka (sebagai contoh, melalui polusi,
sponsorship, inisiatif pengamanan, dll), bahkan ketika mereka memilih untuk tidak menggunakan informasi tersebut dan bahkan ketika mereka tidak dapat secara langsung memainkan peran yang konstruktif dalam kelangsungan hidup organisasi (Deegan, 2004).
Tujuan utama dari teori stakeholder adalah untuk membantu manajer korporasi mengerti lingkungan stakeholder mereka dan melakukan pengelolaan dengan lebih efektif di antara keberadaan hubungan-hubungan di lingkungan perusahaan mereka. Namun demikian, tujuan yang lebih luas dari teori stakeholder
4 Pada kenyataannya, inti keseluruhan teori stakeholder terletak pada apa yang akan terjadi ketika korporasi dan stakeholder menjalankan hubungan mereka.
Teori ini dapat diuji dengan berbagai cara dengan menggunakan analisis isi
(content analysis) atas laporan tahunan perusahaan. Menurut Guthrie et al. (2006), laporan tahunan merupakan cara yang paling efisien bagi organisasi untuk berkomunikasi dengan kelompok stakeholder yang dianggap memiliki ketertarikan dalam pengendalian aspek-aspek strategis tertentu dari organisasi. Analisis isi atas pengungkapan IC dapat digunakan untuk menentukan apakah benar-benar terjadi komunikasi tersebut.
Dalam konteks untuk menjelaskan tentang konsep IC, teori stakeholder harus dipandang dari dua bidang, yaitu bidang etika (moral) dan bidang manajerial. Bidang etika berargumen bahwa seluruh stakeholder memiliki hak untuk diperlakukan secara adil oleh organisasi, dan manajer harus mengelola organisasi untuk keuntungan seluruh stakeholder (Deegan, 2004). Ketika manajer mampu mengelola organisasi secara maksimal, khususnya dalam upaya penciptaan nilai bagi perusahaan, maka itu artinya manajer telah memenuhi aspek etika dari teori ini. Penciptaan nilai (value cretion) dalam konteks ini adalah dengan memanfaatkan seluruh potensi yang dimiliki perusahaan, baik karyawan (human capital), aset fisik (physical capital), maupun structural capital. Pengelolaan yang baik atas seluruh potensi ini akan menciptakan value added bagi perusahaan yang kemudian dapat mendorong kinerja keuangan perusahaan untuk kepentingan stakeholder.
Bidang manajerial dari teori stakeholder berpendapat bahwa kekuatan
5 organisasi (Watts dan Zimmerman, 1986). Ketika para stakeholder berupaya untuk mengendalikan sumber daya organisasi, maka orientasinya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Kesejahteraan tersebut diwujudkan dengan semakin tingginya return yang dihasilkan oleh organisasi.
Dalam konteks ini, para stakeholder berkepentingan untuk mempengaruhi manajemen dalam proses pemanfaatan seluruh potensi yang dimiliki oleh organisasi. Karena hanya dengan pengelolaan yang baik dan maksimal atas seluruh potensi inilah organisasi akan dapat menciptakan value added untuk kemudian mendorong kinerja keuangan perusahaan yang merupakan orientasi para stakeholder dalam mengintervensi manajemen.
***
Williams (2001) menggunakan 30 perusahaan publik di Inggris yang masuk dalam kelompok FTSE 100 dalam kurun waktu 1996-2000 untuk menganalisis praktik pengungkapan IC dalam laporan tahunannya dan kaitannya dengan kinerja IC (VAIC). Hasilnya menunjukkan bahwa VAIC berhubungan negatif terhadap praktik pengungkapan IC dalam laporan tahunan perusahaan. Selain itu, hasil penelitian Williams (2001) juga membuktikan bahwa leverage, jenis industri, dan status pendaftaran di bursa (terdaftar di satu atau lebih bursa efek) memiliki pengaruh terhadap luas pengungkapan informasi IC dalam laporan tahunan
6 pengungkapan IC. Dengan demikian, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
H1: Kinerja IC berhubungan dengan luas pengungkapkan informasi IC di dalam laporan tahunan perusahaan.
3. METODE RISET
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Kriteria-kriteria yang digunakan adalah:
1) perusahaan publik yang mengungkapkan laporan tahunan tahun 2007 dan 2008 pada website perusahaan; dan
2) perusahaan publik yang selama dua tahun (2007 dan 2008) masuk dalam 50
Biggest Market Capitalization.
Variabel dependen dalam penelitian adalah intellectual capital disclosure
(ICD). Kategori/komponen IC yang diadopsi dalam penelitian ini adalah skema yang digunakan oleh Guthrie and Petty (2000). Dalam skema ini, item IC berjumlah 24 dan dikategorikan dalam tiga kelompok: internal structures (organisational capital: 9 item); external structures (customer/relational capital: 9 item); dan employee competence (human capital: 6 item). Berikut adalah detail komponen IC yang digunakan dalam penelitian ini:
o Internal (structural) capital
Intellectual property 1. Patents
2. Copyrights 3. Trademarks Infrastructure assets 4. Management philosophy 5. Corporate culture
7 9. Financial relations
o External (customer/relational) capital
1. Brands 2. Customers 3. Customer loyalty 4. Company names 5. Distribution channels 6. Business collaborations 7. Licensing agreements 8. Favorable contracts 9. Franchising agreements
o Employee competence (human capital)
1. Know-how 2. Education
3. Vocational qualification 4. Work-related knowledge 5. Work-related competencies 6. Entrepreneurial spirit
Sedangkan variabel independennya adalah kinerja IC. Pengukuran kinerja IC yang digunakan dalam penelitian ini adalah VAIC™ yang dikembangkan oleh Pulic (1998; 1999). VAIC dipilih karena memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan pendekatan lainnya (lihat misalnya: Firer dan Williams, 2000; Williams, 2001; Chen et al., 2005; dan White et al., 2007). Schneider (1999) misalnya secara spesifik menyebut bahwa salah satu keunggulan VAIC adalah karena VAIC mudah untuk dihitung dengan menggunakan informasi yang telah tersedia di dalam laporan tahunan. Selain VAIC, variabel independen lainnya adalah ukuran perusahaan (diproksikan dengan total asset), ROA, leverage, dan jenis industri.
Analisis data dilakukan dengan dua cara, yaitu:
1. Analisis isi (content analysis). Analisis isi adalah suatu teknik yang sistematik
untuk menganalisis makna pesan dan cara mengungkapkan pesan. Langkah yang dilakukan pada analisis isi dalam penelitian ini menggunakan interactive model
8 saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan atau reduksi data, (3) penyajian data, (4) penarikan dan pengujian atau verifikasi simpulan. Analisis isi merupakan instrumen yang paling tepat untuk menginvestigasi praktik pengungkapan IC oleh perusahaan (Guthrie et a l., 2004). Pendekatan ini telah digunakan oleh para peneliti untuk mengidentifikasi hal yang sama dengan penelitian ini (lihat misalnya: Guthrie and Petty, 2000; Williams, 2001; Brennan, 2001; dan White et al., 2007).
2. Linier Regression digunakan untuk menganalisis hubungan antara kinerja IC
(VAIC) serta variabel independen lainnya dan luas pengungkapan IC dalam laporan tahunan (ICD).
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktik Pengungkapan IC dalam Laporan Tahunan Perusahaan
Dari 24 item pengungkapan IC, terdapat delapan item yang diungkapkan oleh semua perusahaan pada 2007, dan sembilan item di tahun 2008. Item-item tersebut adalah patent, copyright, corporate culture, management processes, information
system, brand, customers, companies’ name, dan innovativeness (1 item tambahan di
tahun 2008 adalah networking system). Sedangkan ”perjanjian franshise” merupakan
9 Gambar 1: Persentase pengungkapan komponen IC tahun 2007
Di tahun 2007, kategori structural capital diungkapkan oleh lebih dari 80% perusahaan, sementara human capital dan customer capital diungkapkan oleh sekitar 60% perusahaan (tabel 1).
Gambar 2: Persentase pengungkapan komponen IC tahun 2008
Di tahun 2008, terjadi peningkatan prosentase pengungkapan IC di dalam laporan tahunan perusahaan sampel di ketiga kategori. Kategori structural capital
misalnya, naik menjadi 85%, sementara human capital dan customer capital juga meningkat di posisi 64% dan 66% (tabel 1)
10 Pengungkapan komponen-komponen ICdalam laporan tahunan
perusahaan publik di Indonesia tahun 2007 dan 2008
Intellectual Capital
11 jumlah perusahaan yang mengungkapkan atribut IC secara individual pada setiap tahun.
Berikut adalah beberapa contoh pengungkapan atribut IC di dalam laporan tahunan perusahaan publik di Indonesia;
PT. Telkom (2007) tentang trademark:
”Telkomsel menyediakan kepada pelanggannya pilihan layanan
prabayar dengan merekdagang “SimPATI” atau layanan pascabayar
dengan merek dagang“KartuHALO.”
PT. Telkom (2007) tentang corporate culture:
”Perseroan memiliki kebijakan internal dan pengembangan budaya perusahaan yang dikenal dengan The TELKOM Way (TTW) 135 … ”.
PT. International Nickle Indonesia (2007) tentang kategori proactive:
”Sebagai perusahaan tambang yang besar, akan tetap proaktif dalam
menjalankan komitmen penuh antusias dan bercakupan luas terhadap
tanggung jawab sosial perusahaan”.
PT. Bank Niaga Tbk. (2007) tentang pendidikan:
”Untuk tahun 2007, pendidikan dan pelatihan karyawan difokuskan kepada .... ”.
PT. Indosat Tbk. (2007) tentang kolaborasi:
”Pada tanggal 9 Mei 2007, kami menandatangani dua perjanjian
perwaliamanatan dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebagai wali amanat, sehubungan dengan penerbitan Obligasi Indosat Kelima dan Sukuk Ijarah Indosat Kedua. Obligasi Indosat Kelima diterbitkan pada tanggal 29 Mei 2007 dan memiliki total nilai nominal Rp2.600 milyar. Sukuk Ijarah Indosat Kedua diterbitkan pada 29 Mei 2007 dan dan memiliki total nilai nominal Rp400 milyar. Pada tanggal 30 Juli 2007, kami menandatangani perjanjian kerjasama dengan Telkomsel untuk menggunakan jaringan interkoneksi antara jaringan telekomunikasi tetap kami dengan jaringan telekomunikasi bergera k selular Telkomsel. Kami mengubah perjanjian ini pada tanggal 19
Desember 2007.”
Analisis Data
12 perusahaan dengan beberapa variabel kontrol. Perusahaan yang memiliki kinerja IC lebih baik, secara logika akan cenderung untuk mengungkapkan informasi IC di dalam laporan tahunannya. Pengujian data dalam penelitian dilakukan dengan linier regression menggunakan alat bantu softwa re SPSS Statistics 16.
Berdasarkan hasil olah data dengan SPSS sebagaimana disajikan dalam tabel 2, 3, dan 4 diketahui bahwa kinerja IC (VAIC) berpengaruh negatif terhadap luas pengungkapan IC dalam laporan tahunan perusahaan (t/sig = -2.314/0.024) dengan nilai r-square 18,2%. Sementara variabel independen lainnya tidak ada yang signifikan, kecual umur yang juga menunjukkan arah pengaruh negative (t/sig = -2.084/0.042). Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima, yakni kinerja IC (VAIC) berhubungan dengan luas pengungkapan informasi tentang IC dalam laporan tahunan perusahaan.
Tabel 2: Output Regresi (ANOVA)
ANOVAb
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 227.296 6 37.883 2.107 .066a
Residual 1024.813 57 17.979
Total 1252.109 63
a. Predictors: (Constant), Age, VAIC, RnD, ROA, TA, LEV
b. Dependent Variable: ICD
Tabel 3: Output Regresi (Model Summary)
Model Summaryb
Model R R Square
Adjusted R
Square
Std. Error of the
Estimate Durbin-Watson
1 .426a .182 .095 4.240 2.387
a. Predictors: (Constant), Age, VAIC, RnD, ROA, TA, LEV
13 Tabel 4: Output Regresi (Coefficients)
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T Sig.
Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 22.491 2.679 8.396 .000
VAIC -.115 .050 -.325 -2.314 .024 .729 1.371
RnD .554 1.552 .061 .357 .723 .484 2.068
LEV .019 .217 .015 .085 .932 .449 2.225
ROA -.121 4.320 -.004 -.028 .978 .722 1.385
TA .000 .010 -.009 -.055 .956 .575 1.738
Age -.239 .115 -.276 -2.084 .042 .817 1.225
a. Dependent Variable: ICD
Pembahasan
Secara umum, terjadi peningkatan jumlah pengungkapan informasi IC dalam laporan tahunan perusahaan sampel dari 2007-2008. Hal ini bisa dianggap sebagai
sebuah fenomena yang menarik yang mungkin saja menunjukkan adanya ‘kesadaran’
baru manajemen tentang pentingnya IC dalam menciptakan dan menggerakkan nilai perusahaan. Demikian juga dengan skor VAIC masing-masing perusahaan, juga mengalami peningkatan – meskipun ada beberapa yang mengalami penurunan – cukup signifikan.
14 tahunan ketika kinerja IC telah mencapai titik tinggi karena takut kehilangan keunggulan kompetitifnya.
Hal terpenting yang dapat dijelaskan dalam konteks hubungan negatif ini adalah bahwa hubungan negatif hanya nampak ketika kinerja IC (VAIC) relatif tinggi. Manajemen mungkin menganggap bahwa tingginya kinerja IC dapat menjadi sinyal bagi kompetitor tentang kekuatan perusahaan dalam memenangi kompetisi di pasar. Untuk memelihara keunggulan kompetitif yang telah dimiliki, perusahaan dapat mengurangi luas pengungkapan sebagai upaya untuk tidak memberikan sinyal
kepada kompetitor dan atau untuk memberikan sinyal ‘palsu’ kepada kompetitor.
Sebagai contoh, tingginya kinerja IC suatu perusahaan mungkin dihasilkan dari kreativitas dan inovasi karyawan inti (key employees). Jika perusahaan mengungkapkan informasi tentang keberhasilan IC-nya tersebut, bisa saja hal itu akan menjadi pemicu bagi kompetitor untuk mengganti karyawannya – bahkan ‘merebut’ karyawan perusahaan dengan imbalan kerja yang lebih tinggi.
Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan Williams (2001) yang menggunakan 30 perusahaan publik di Inggris yang masuk dalam kelompok FTSE 100 dalam kurun waktu 1996-2000. Williams menemukan bahwa kinerja IC (VAIC) berpengaruh negatif terhadap praktik pengungkapan IC dalam laporan tahunan perusahaan.
15 ICD. Bukh et al., (2005) misalnya, menyatakan bahwa semakin tua umur perusahaan, maka nilai reputasi dan aktivitas sosialnya pun akan semakin tinggi pula.
Menariknya, ternyata perusahaan-perusahaan yang berumur kurang dari lima tahun di pasar modal (seperti PT. Bakrie Telecom Tbk dan PT. Bank Rakyat Indonesia) justru mengungkapkan lebih banyak informasi tentang IC dibandingkan perusahaan yang berumur lebih lama. Hal ini bisa jadi karena semangat reputation driven, yaitu motivasi untuk mendongkrak citra perusahaan dan menjadi perusahaan ternama dalam perdagangan pasar saham meskipun perusahaan mereka baru di kancah pasar modal. Temuan ini tidak hanya bertentangan dengan hasil penelitian Bukh et al. (2005) dan White et al. (2007), namun bahkan membantah ekspektasi mereka tentang umur perusahaan dalam kaitannya dengan voluntary disclosure.
Sementara terkait dengan nilai r-square yang hanya 18,2% (adjusted r-square
09,5%) menunjukkan bahwa kinerja IC bukan merupakan determinan utama dalam luasnya pengungkapan informasi IC di dalam laporan tahunan, ada banyak factor lain yang mempengaruhinya. Hal ini konsisten dengan temuan White et al. (2007) yang menyajikan bukti bahwa (diantara) faktor penggerak bagi perusahaan di industri bioteknologi Australia untuk mengungkapkan informasi tentang IC dalam laporan tahunan adalah (1) keberadaan komisaris independen, (2) umur perusahaan, (3)
leverage, dan (4) ukuran perusahaan. Hasil ini juga konsisten dengan temuan Ariestyowati dkk. (2010) yang menemukan adanya hubungan antara karakteristik perusahaan dengan ICD.
Simpulan, Keterbatasan, dan Saran
16 negatif ini tidak cukup kuat untuk menyatakan bahwa kinerja IC (VAIC) merupakan determinan dari pengungkapan IC karena tingkat signifikansinya yang berada di level 0.024 dan nilai R-squa re yang hanya 18.2%. Namun demikian, penelitian ini setidaknya memberikan kontribusi dalam hal indikasi tentang perubahan praktik ICD oleh perusahaan publik di Indonesia selama kurun waktu penelitian.
Sebagaimana lazimnya penelitian dengan menggunakan analisis isi (content analysis), subjektifitas peneliti dalam membaca, memahami, dan melakukan check list atas laporan tahunan perusahaan untuk mengidentifikasi informasi IC yang
diungkapkan menjadi tidak terelakkan. Untuk mengurangi ‘kelemahan’ ini, peneliti
dapat menggunakan tim penelitian yang lebih dari dua orang untuk melakukan check list sehingga dapat dilakukan konfirmasi hasil secara lebih maksimal. Selain itu, mengingat pentingnya pengelolaan IC dan peran IC sebagai value driven bagi perusahaan, maka sebaiknya perusahaan mulai memberikan perhatian yang cukup dalam pengelolaan IC-nya dan mengungkapkannya dalam laporan tahunan secara memadai.
---ooOoo--- DAFTAR PUSTAKA
Abdolmohammadi, M.J. 2005. “Intellectual capital disclosure and market capitalization”. Journal of Intellectual Capital. Vol. 6 No. 3. pp. 397-416.
Abeysekera, I. 2006. “The Project of intellectual capital disclosure: researching the
research”. Journal of Intellectual Capital. Vol.7 No. 1
Achten, J.H.J. 1999. “Transparency in intangible production assets“. Paper presented at the International Symposium Measuring and Reporting Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam.
Andriessen, D., M. Frijlink, I.V. Gisbergen, and J. Blom. 1999. “A core competency approach to valuing intangible a ssets“. Paper presented at the International
Symposium Measuring and Reporting Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam.
Ariestyowati, E. Suprapti., and I. Ulum. 2010. “Analisis pengaruh karakteristik
perusahaan terhadap luas pengungkapan informasi intellectual capital pada
17 Backhuijs, J.B., W.G.M. Holterman, R.S. Oudman, R.P.M. Overgoor and S.M.
Zijlstra. 1999. “Reporting on intangible assets“. Paper presented at the International Symposium Measuring and Reporting Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam.
Bornemann, M., A. Knapp, U. Schneider, and K.I. Sixl. 1999. “Holistic mea surement
of intellectual capital“. Paper presented at the International Symposium Measuring and Reporting Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam.
Brennan, N. 1999. “Reporting and managing intellectual capital: evidence from Ireland”, Paper presented at the International Symposium Measuring and
Reporting Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects. June. Amsterdam.
__________. 2001. “Reporting intellectual capital in annual reports: evidence from Ireland”. Accounting, Auditing & Accountability Journal. Vol. 14 No. 4. pp. 423-436.
Bukh, P.N., C. Nielsen, P. Gormsen, and J. Mouritsen. 2005. “Disclosure of information on intellectual capital in Danish IPO prospectuses”. Accounting, Auditing & Accountability Journal. Vol. 18 No. 6. pp. 713-732.
Chen, M.C., S.J. Cheng, Y. Hwang. 2005. “An empirical investigation of the relationship between intellectual capital and firms’ market value and financial
performance”. Journal of Intellectual Capital. Vol. 6 N0. 2. pp. 159-176
Deegan, C. 2004. Financial Accounting Theory. McGraw-Hill Book Company. Sydney.
Firer, S., and S.M. Williams. 2003. “Intellectual capital and traditional measures of
corporate performance”. Journal of Intellectual Capital. Vol. 4 No. 3. pp. 348-360.
Freeman, R.E., and Reed. 1983. “Stockholders and stakeholders: a new perspective on corporate governance”. Californian Management Review. Vol 25. No. 2. pp. 88-106.
Goh, P.C., and K.P. Lim. 2004. “Disclosing intellectual capital in company annual reports; Evidence from Malaysia”. Journal of Intellectual Capital Vol. 5 No. 3. pp. 500-510.
Guthrie, R. Petty, F. Ferrier, and R. Well. 1999. “There is no a ccounting for intellectual capital in Australia: review of annual reporting practices and the internal measurement of intangibles within Australian organisations”. Paper
presented at the International Symposium Measuring and Reporting Intellectual Capital: Experiences, Issues and Prospects, OECD, June. Amsterdam.
_________, and _____. 2000. “Intellectual capital: Australian annual reporting practices”. Journal of Intellectual Capital. Vol. 1 No. 3. pp. 241-251.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2002. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 19. Salemba Empat. Jakarta
18
Pulic, A. 1998. “Measuring the performance of intellectual potential in knowledge economy”. Paper presented at the 2nd McMaster Word Congress on Measuring and Managing Intellectual Capital by the Austrian Team for Intellectual Potential.
_______. 1999. “Basic information on VAIC™”. available online at: www.vaic-on.net. (accessed November 2006).
Republik Indonesia. 2000. Undang Undang No. 30/2000 tentang rahasia dagang. www.dpr.go.id
Republik Indonesia. 2000. Undang Undang No. 31/2000 tentang desain industri. www.dpr.go.id
potential”, available online: http://www.measuirng -ip.at/Opapers/Schneider/Canada/theoreticalframework.html
Ulum, I. 2008a. Penga ruh intellectual capital terhadap kinerja keuangan perusahaa n perbankan di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi XI. Ikatan Akuntan Indonesia. Pontianak.
_______. 2008b. Intellectual capital and financial return of listed Indonesian banking sector. Proceeding international research seminar and exhibition. Lemlit UMM. Malang.
_______. 2009a. Intellectual Capital; Konsep dan Kajian Empiris. Graha Ilmu, Yogyakarta.
_______. 2009b. Analisis inter-relasi antar komponen intellectual capital dan kinerja keuangan perusahaan. Penelitian Dasar Keilmuan DPP-UMM, Malang.
_______. 2010. “Mengintroduksi Laporan Tahunan Perguruan Tinggi”. Tabloid Bestari. Edisi 268/November 2010. ISSN: 0215-806X
Watts, R.L. and J.L. Zimmerman. 1986. Positive Accounting Theory. Prentice-Hall. Englewood Cliffs. NJ.
White, G., A. Lee, G. Tower. 2007. “Drivers of voluntary intellectual capital
disclosure in listed biotechnology companies”. Journal of Intellectual Capital.
Vol. 8 No. 3. pp. 517-537.
Williams, S.M. 2001. “Is intellectual capital performance and disclosure practices
related?” Journal of Intellectual Capital. Vol. 2 No. 3. pp. 192-203.