Pengembangan Kelompok Mitra Pengelola
Stok Ternak Sapi Pemerintah
(Buffer Stock)
ii egala puji dan syukur kehadirat Allah, SWT atas
berkah dan rahmatNya Tim Penulis panjatkan atas
terlaksana dan terselsaikannya “Pengembangan
Kelompok Mitra Pengelola Stok Ternak Sapi Pemerintah (Buffer Stock) Untuk Tujuan Stabilisasi Harga ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Terima kasih yang tak terhingga kepada Gubernur Provinsi Jambi melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Provinsi Jambi yang telah memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada Tim Penulis untuk melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan ini dapat terlaksana atas kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak baik dalam lingkungan Bappeda Provinsi Jambi, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi serta semua pihak yang telah ikut membantu tetapi tidak dapat disebutkan satu persatu. Terima kasih atas kerjasama dan dukungannya, serta tidak lupa kepada para responden (rumah tangga peternak sapi potong) yang telah dengan penuh kerelaan memberikan data dan informasi yang dibutuhkan dalam kegiatan ini.
Tim Peneliti menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam laporan hasil kajian ini, dan untuk itu kritik dan saran yang membangun guna perbaikan laporan ini. Sebelumnya, terima kasih atas saran atau kritik yang telah disampaikan dan semoga laporan hasil kajian ini bermanfaat bagi semua pihak.
Jambi, Agustus 2010 Ketua Tim Penulis,
DAFTAR ISI
2.1. Ruang Lingkup Penulisan ………..………. 2.1 2.2. Waktu Penulisan ………..………. 2.1
2.3. Metode Analisis ……….………. 2.2
2.4. Tahapan Pelaksanaan ………. 2.2
2.5. Metode Analisis Kelayakan ………. 2.3
III. ANALISIS KEBIJAKAN STABILISASI HARGA DAGING …………..………. 3.1 3.1. Kebijakan Stabilisasi Harga ………. 3.1 3.2. Kebijakan Stabilisasi Harga Daging Provinsi Jambi ……….……….. 3.3 3.3. Analisis Teoritis Kebijakan Subsidi Harga Langsung ………. 3.5 3.4. Kebijakan Stabilisasi Harga Alternatif ………..……….. 3.8 IV. KELEMBAGAAN KEMITRAAN BUFFER STOCK SAPI POTONG ………. 4.1 4.1. Model Kelembagaan Kemitraan “Buffer Stock” ………..……….. 4.1 4.2. Pengendalian Stock Ternak Sapi Potong………..………. 4.5
4.2.1. Sistem Penyediaan ………. 4.5 4.2.2. Jumlah Persediaan ……….………...………. 4.6 4.2.3. Adminsitrasi Persediaan ………..………. 4.8 4.3. Tahapan Rencana Pengembangan Kemitraan Buffer Stock. ………. 4.10 4.3.1. Seleksi Kelompok Mitra ………..………. 4.11 4.3.2. Aturan Umum Kemitraan Buffer Stocks ……… 4.12 4.3.2.1. Distribusi Nilai Manfaat Kemitraan Buffer Stocks…………. 4.14 4.3.2.2. Mekanisme Reward and Punishment Kemitraan ……… 4.17 V. ANALISIS KELAYAKAN KEMITRAAN BUFFER STOCK ………….………. 5.1
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 2
5.1.2. Pemotongan Ternak Besar untuk Kebutuhan Kota Jambi dan
Sekitarnya ……….……… 5.4
5.2. Kelayakan Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong……… 5.6 5.2.1. Kelayakan Teknis ………...……… 5.7 5.2.2. Kelayakan Sosial Kelembagaan ………..……… 5.9 5.3. Kelayakan Finansial dan Ekonomi ……… 5.12 5.3.1. Kebutuhan Investasi ………...……… 5.12 5.3.2. Perkembangan Skala Usaha Buffer Stock …………..……….. 5.14 5.3.3. Cash-Flow ……….……….. 5.15 5.3.4. Analisis Finansial ……….. 5.16 5.3.5. Kelayakan Dampak Ekonomi ……….………. 5.17 VI. REKOMENDASI DAN DUKUNGAN KEBIJAKAN ……….. 6.1
6.1. Rekomendasi Kebijakan ……...………. 6.1 6.2. Dukungan Kebijakan Investasi ……….……… 6.2
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1. Perbandingan Karakteristik Bulog dan Model Kemitraan Buffer Stock Sapi
Potong ………...……….………… 3.15
5.1. Perkembangan Kebutuhan dan Harga Daging Ternak Sapi dan Kerbau
Per-Periode Selama Kurun Waktu 2007 – 2010 ………….……….……… 5.1 5.2. Pemotongan Ternak Sapi dan Kerbau Per-Periode Menghadapi Permintaan
Konsumen Kota Jambi dan Sekitarnya Tahun 2010.. ……….……… 5.4 5.3. Estimasi Kebutuhan Sapi dan Kerbau Menghadapi Permintaan Konsumen Kota
Jambi dan Sekitarnya Tahun 2011 ……….………. 5.5
5.4. Jumlah Kelompok Peternak Sapi dan Anggota Rumah Tangga Penerima
Bantuan Ternak Sapi Bakalan 2 Tahun Terakhir ……..……….………….. 5.8 5.5. Indikator Asumsi dalam Perhitungan Nilai Investasi Pengembangan Kemitraan
Buffer Stock Sapi Potong Provinsi Jambi ……….……….………… 5.12 5.6. Distribusi Nilai Investasi Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong
Provinsi Jambi ………..……….………. 5.13
5.7. Analisis Finansial Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong untuk
Stabilisasi Harga Daging ………..……….………. 5.17
5.8. Analisis Ekonomi Dampak Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Dari Sisi
Penerimaan dan Biaya Pemerintah ……….……….………. 5.18
5.9. Asumsi Dasar dalam Penentuan Biaya Investasi dan Variabel Pada Skala
Rumah Tangga Mitra ……….……… 5.20
5.10. Cash Flow Biaya Penggemukan Rumah Tangga Mitra Buffer Stock Sapi Potong 5.21 5.11. Analisis Ekonomi Dampak Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Terhadap
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 4
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Kajian ……….………. 2.3
2.2. Analisis Kebijakan Subsidi (Sekarang) dan Buffer Stock ………. 2.4 3.1. Dampak Kenaikan Permintaan dan Distribusi Manfaat Kebijakan Subsidi
Harga Langsung ……….……….……… 3.6
3.2. Kebijakan Harga Dasar (Floor Price) dan Harga Atap (Ceiling Price) ………… 3.9 3.3. Fluktuasi dan Trend Harga Daging Sapi Provinsi Jambi ……….………. 3.10 3.4. Alternatif Kebijakan Stabilisasi Harga Daging Sapi Pada Saat Hari Besar
Keagamaan di Provinsi Jambi ……….……….……….. 3.12 4.1. Mekanisme Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong……….. 4.4
4.2. Sistem Penyediaan Stock Ternak Sapi Potong Tahunan ……….……… 4.5
4.3. Sistem Administrasi Stock ………..………. 4.8
4.4. Tahapan Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong.. ………. 4.10 4.5. Distribusi Nilai Tambah dan Pemanfaatan ……….……….. 4.16
5.1. Fluktuasi Kebutuhan Perhari Sapi Potong ………..………. 5.3
5.2. Perkembangan Harga Daging Masing-masing Periode Selama 2007-2010 … 5.3 5.3. Fluktuasi Pemotongan Ternak Besar dan Harga Daging Saat H-3 Puasa dan
Lebaran 2010 ……….……… 5.5
1.1. Latar Belakang
Permasalahan utama yang dihadapi konsumen daging terutama daging sapi
di Provinsi Jambi adalah kenaikan harga yang sangat tajam pada saat
hari-hari besar keagamaan. Kenaikan permintaan daging yang tidak diikuti
peningkatan supplay menyebabkan disparitas suplay dan demand ini
mendorong kenaikan harga daging yang melebih batas normal. Struktur
pasar yang cenderung oligopolistik diduga menjadi salah satu penyebab,
disamping ketidakmampuan pasar memenuhi peningakatan kebutuhan
daging masyarakat. Karakteristik sosial ekonomi dan budaya terutama
terkait dengan mayoritas konsumen beragama Islam dengan kebiasaan
(budaya) yang telah berkembang lama (turun temurun), serta tidak adanya
pilihan alternatif menyebabkan konsumen berada dalam posisi tawar
(bargaining position) yang lemah. Hal ini dapat terlihat dengan adanya
krisis ekonomi global tahun 2008 ternyata tidak mempengaruhi
permintaan daging pada hari-hari besar dan harga tinggi tidak
menyebabkan masyarakat konsumen mengurangi belanja untuk daging
pada saat menjelang puasa dan lebaran.
Konsumen daging utama daging sapi adalah umat Muslim sebagaimana
komposisi mayoritas kepercayaan penduduk Jambi, sehingga saat
menjelang hari besar keagamaan (Puasa Ramadhan, Idul Fitri dan Idul
Adha) harus membayar dengan harga tinggi. Kenaikan harga yang terlalu
tinggi akibat kenaikan permintaan tidak diimbangi dengan kenaikan supply
telah terjadi berulang dan berlangsung sepanjang tahun. Implikasi dari
kondisi ini yang menyebabkan kerugian konsumen mendorong pemerintah
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 2
intervensi pasar. Bentuk intervensi yang dilakukan mulai dari imbauan
kepada para pedagang agar memperbesar stock ternak siap potong sampai
pada memberikan subsidi harga daging khusus kepada para pedagang
tertentu.
Langkah intervensi ini hanya memberikan solusi pemecahan masalah
jangka pendek dan sesaat (insidental) serta tidak mampu menyelesaikan
persoalan fundamental dalam jangka panjang. Dana subsidi untuk
stabilisasi harga daging meskipun cukup efektif mencegah kenaikan harga
terlalu tinggi, tetapi dalam kenyataannya hanya dinikmati oleh para
pedagang dan tidak menyentuh masyarakat di sektor primer (rumah
tangga peternak sapi). Sasaran subsidi yang kurang tepat dan efektif ini
pada sisi lain juga sulit untuk dipertanggung jawabkan terutama terkait
akuntabilitas dan pola distribusi dana subsidi yang tidak merata serta
potensial menjadi salah satu pendorong penyimpangan dana
pembangunan di lapangan. Untuk itu dibutuhkan alternatif kebijakan lain
pemanfaatan dana subsidi agar dapat lebih efektif, tepat sasaran serta
akuntabel dan berkelanjutan sebagai bentuk langkah antisipasi dan
responsif dalam stabilisasi harga daging terutama pada saat kenaikan
permintaan besar.
Salah satu bentuk intervensi pasar yang dapat dilakukan adalah mengacu
pada upaya stabilisasi harga komoditas beras oleh Bulog. Bulog akan
memperbesar dan memberikan jaminan stock beras di pasar guna
mencegah kenaikan harga yang tidak wajar (melonjak) baik akibat
kenaikan permintaan maupun penurunan supplay (paceklik). Jaminan
supplay pasar daging sapi dapat dilakukan apabila pemerintah memiliki
stock ternak sendiri dan sewaktu-waktu dapat dipotong atau dimanfaatkan
untuk mememenuhi kebutuhan daging sapi di pasar. Stock ternak tidak
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
kemitraan dengan kelompok peternak yang berfungsi sebagai kelompok
penyangga (buffer stockis) ternak sapi pemerintah.
Berdasarkan pada hal tersebut maka Bappeda Provinsi Jambi memiliki
rencana untuk mengembangkan kelompok penyangga (Buffer Stockis)
sebagai mitra pemelihara ternak sapi potong pemerintah yang akan
digunakan untuk tujuan stabilisasi harga. Sebelum dikembangkan dan
menjamin efektivitas program maka dibutuhkan suatu kajian komprehensif
guna mengidentifikasi kelompok peternak sasaran, menguji kelayakan
kelompok dan program serta mendesain kelembagaan termasuk aturan
main yang akan diterapkan. Kajian kelayakan pengembangan kelompok
penyangga dilakukan sebagai langkah awal dan dapat menentukan
keberhasilan program stabilisasi harga. Studi kelayakan mencakup 5 (lima)
aspek utama kelayakan progam yaitu aspek sosial, teknis, kelembagaan,
finansial dan ekonomi,
1.2. Ruang Lingkup Kajian
Kajian akan dilakukan dengan menggunakan metode survey melalui
pendekatan partisipatif (Participatory Rural Approach). Konsumen terbesar
daging sapi adalah wilayah perkotaan (urban) sehingga objek sasaran
adalah kelompok peternak sapi potong yang berlokasi pada areal
sub-urban wilayah administrasi Kota Jambi dan kabupaten tetangga
(Kabupaten Muaro Jambi dan Batanghari).
1.3. Maksud dan Tujuan Kajian
Kajian dimaksudkan sebagai aktivitas awal perubahan kebijakan stabilisasi
harga daging sapi yang lebih efektif dengan memanfaatkan dana subsidi
harga pasar daging sapi yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Tujuan umum dari kegiatan adalah melakukan desain dan uji kelayakan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 4
pemerintah guna memenuhi kebutuhan daging dan stabilisasi harga pada
saat hari besar keagamaan. Sedangkan secara lebih rinci tujuan kegiatan
adalah;
1. Melakukan prediksi kebutuhan ternak sapi siap potong dalam program
stabilisasi harga pasar daging sapi di Kota Jambi dan kota lainnya.
2. Mengidentifikasi kelompok potensial sebagai cikal bakal terbentuknya
kelompok penyangga (buffer stockis) ternak sapi potong pemerintah.
3. Memilih kelompok peternak yang akan dijadikan sasaran kegiatan
proyek percontohan (demplot) pengembangan kelompok penyangga.
4. Merumuskan bentuk kemitraan, sistem bagi hasil serta pola partisipasi
pihak-pihak terlibat dalam kemitraan kelompok penyangga ternak sapi
siap potong pemerintah.
5. Melakukan uji kelayakan program stabilisasi harga daging sapi melalui
pendekatan kemitraan pemerintah dan kelompok peternak penyangga.
6. Menyusun rekomendasi kebijakan pendukung implementasi program
kemitraan dalam stabilisasi harga daging sapi potong.
1.4. Manfaat Kajian
Hasil kajian program kemitraan dalam stabilisasi harga daging sapi antara
pemerintah daerah dan kelompok penyangga (buffer stockis) ini
diharapkan bermanfaat bagi pihak-pihak terkait, antara lain;
1. Bagi pemerintah daerah dapat menjadi salah satu alternatif dalam
pengembangan program stabilisasi dan kebijakan subsidi harga pasar
yang lebih tepat sasaran, efisien dan berkelanjutan.
2. Bagi instansi terkait terutama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
dalam stabilisasi harga pasar daging sapi pada saat permintaan
meningkat.
3. Bagi peternak dapat menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan
dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rumah tangga.
4. Bagi kelompok mitra sasaran dapat menjadi bahan pertimbangan
dalam menentukan keputusan kerjasama kemitraan program stabilisasi
harga pasar.
5. Bagi masyarakat terutama konsumen daging sapi potong dapat
terhindar dari kenaikan harga pasar yang terlalu drastis pada saat hari
besar keagamaan.
1.5. Output yang Diharapkan
Output yang diharapkan dari kegiatan kajian adalah tersedianya buku
pedoman teknis atau standar operasional dalam pengembangan kemitraan
pengelolaan stock ternak sapi pemerintah (buffer stockis) untuk tujuan
stabilisasi harga daging sapi, yang memuat berbagai komponen sebagai
berikut;
1. Data dan informasi tentang kebutuhan ternak sapi siap potong atau
skala kemitraan buffer stock efektif untuk tujuan stabilisasi harga pasar
daging sapi menghadapi peningkatan permintaan.
2. Data dan informasi tentang kelompok peternak yang berada di kota
Jambi maupun wilayah sub-urban (Kabupaten Batanghari dan Muaro
Jambi) yang memiliki potensi dan memenuhi standar persyaratan
sebagai kelompok peternak mitra pemerintah.
3. Data dan informasi tentang aturan main kelembagan dalam kerjasama
kemitraan antara pemerintah dan kelompok penyangga yang saling
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 6
4. Model kelembagaan dalam kemitraan untuk pengelolaan anggaran
pemerintah yang lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dalam
operasional program stabilisasi harga daging sapi.
5. Data dan informasi tentang kelayakan sosial, teknis, kelembagaan dan
finansial serta ekonomi pengembangan kemitraan buffer stock dalam
stabilisasi harga daging sapi.
6. Tersusunnya serangkaian rekomendasi tindak lanjut dan dukungan
kebijakan untuk pengembangan kemitraan program stabilisasi harga
2.1. Ruang Lingkup Tulisan
Ruang lingkup penulisan dalam buku study kelayakan pengembangan
kelompok peternak mitra pengelola stock ternak sapi pemerintah untuk
tujuan stabilisasi harga ini terdiri dari;
- Pandangan umum tentang kebijakan dan sekaligus evaluasi efektivitas
stabilisasi harga daging sapi baik secara nasional maupun lokal Provinsi
Jambi.
- Pengembangan model kemitraan antara kelompok peternak dan
pemerintah dalam pengelolaan stock ternak sapi penyangga yang
mencakup aturan main antar pelaku kemitraan.
- Kelayakan pengembangan kemitraan buffer stock dari aspek teknis,
sosial, kelembagaan dan finansial serta ekonomi untuk masing-masing
pihak terlibat kemitraan.
2.2. Waktu Penulisan
Kegiatan penyusunan buku dilakukan selama 3 (tiga) bulan dengan lingkup
wilayah sasaran kebijakan stabilisasi harga adalah Kota Jambi sebagai
konsumen terbesar daging sapi di Provinsi Jambi. Untuk pemenuhan
kebutuhan Kota Jambi maka wilayah potensial yang ditentukan untuk
pengembangan kemitraan buffer stock sapi potong adalah wilayah
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 2
2.3. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan disesuaikan dengan ruang lingkup dalam
penulisan buku, yaitu;
- Analisis grafis dan deskriptif untuk perbandingan berbagai kebijakan
intervensi pemerintah dalam stabilisasi harga baik pada tingkat nasional
maupun lokal Provinsi Jambi.
- Analisis tentang kebutuhan ternak sapi siap potong dalam menghadapi
peningkatan permintaan pasar terutama pada hari besar keagamaan
guna estimasi skala pengembangan buffer stock.
- Analisis kelembagaan dalam pengembangan model pengelolaan
kemitraan buffer stock ternak sapi potong untuk tujuan stabilisasi harga
pasar daging.
- Review kebijakan tentang berbagai intervensi pemerintah dalam
berbagai kebijakan stabilisasi harga dan aturan formal yang menjadi
pendukung pengembangan kemitraan pengelola buffer stock sapi
potong.
2.4. Tahapan Kegiatan
Kegiatan kajian dilakukan secara bertahap untuk memperoleh suatu model
pola kerjasama yang memiliki tingkat kelayakan pada aspek sosial, teknis,
kelembagaan dan finansial serta ekonomi. Kelayakan pada masing-masing
aspek akan ditentukan secara bertahap dengan output akhir adalah
kelayakan secara finansial dan ekonomi. Tahapan untuk masing-masing
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Gambar 2.1.
Tahapan Pelaksanaan Kegiatan Kajian
2.5. Metode Analisis Kelayakan
Hasil pengumpulan data dianalisis dengan menggunakan beberapa metode
sesuai dengan aspek kelayakan yang akan diuji, yaitu;
1. Analisis SWOT untuk menentukan kinerja dan potensi masing-masing
kelompok peternak sasaran potensial yang selanjutnya akan dipilih
beberapa kelompok yang memenuhi syarat kelayakan teknis.
2. Review kebijakan untuk analisis kesesuaian program dengan berbagai
aturan yang berlaku serta kemungkinan dan pola kerjasama
pihak-pihak terkait dalam program sehingga program memenuhi syarat
untuk kelayakan kelembagaan.
3. Analisis kebijakan dengan menggunakan pendekatan PAM (Policy
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 4
terhadap kesejahteraan masyarakat konsumen (consumer surplus),
produsen (produser surplus), biaya yang ditanggung oleh pemerintah
(cost of policy) dan kerugian atau keuntungan sosial dari kebijakan
(social cost and benefit from policy).
Gambar 2.2.
Analisis Kebijakan Subsidi (Sekarang) dan Buffer Stock
Hasil analisis diharapkan sebagai faktor penguat dalam memenuhi
syarat kelayakan sosial.
4. Analisis finansial dilakukan setelah diketahui skala buffer stock
(berdasarkan kebutuhan) dan kinerja usaha ternak sapi pada
masing-masing-masing kelompok sasaran. Analisis finansial dilakukan untuk uji
kelayakan finansial program pada sisi pemerintah daerah, sedangkan
kelayakan ekonomi program pada aspek pemerintah dan peternak
serta perbandingan dengan kebijakan pada saat sekarang.
Indikator yang digunakan dalam kelayakan finansial dan ekonomi
terdiri dari NPV (Net Present Value), Net BCR (Benefit Cost Ratio) dan
IRR (Internal Rate of Return) dengan rincian masing-masing sebagai
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
a. Analisis Nilai Sekarang (NPV)
Rumus: i = Tingkat suku bunga investasi
Bn = Nilai benefit proyek pada tahun ke-n. Cn = Nilai biaya proyek pada tahun ke-n.
Bn-Cn = Selisih benefit dan biaya proyek pada tahun ke-n. 1 – 10 = Tahun atau periode proyek
Kriteria Pengambilan Keputusan
NPV > 0 (positif): program layak dilaksanakan. NPV < 0 (negatif): program tidak layak dilaksanakan.
b.Analisis Biaya dan Manfaat (Net BCR)
Rumus:
Net BCR > 1,2: program layak dilaksanakan. Net BCR < 1,2: program tidak layak dilaksanakan.
c. Analisis Tingkat Pengembalian Modal (IRR)
Rumus: 1
i2 i1
IRR = Internal Rata of Return (Tingkat pengembalian modal) i1 = Tingkat suku bunga yang memberikan total NPV positif i2 = Tingkat suku bunga yang memberikan total NPV negatif NPV+ = Nilai NPV pada saat tingkat suku bunga i1.
NPV- = Nilai NPV pada saat tingkat suku bunga i2.
Kriteria Pengambilan Keputusan
3.1. Kebijakan Stabilisasi Harga
Pembangunan sektor pertanian, khususnya bidang pangan merupakan hal
utama dan vital bagi sebuah neraga. Menurut Rachbini (1999) bahwa
masalah pangan bukan hanya menyangkut produksi dan pendapatan
petani, atau sebuah fenomena variabel ekonomi belaka tetapi sudah
menjadi komoditas politik. Kekurangan pengadaan pangan dan
disrtibusinya yang tidak lancar atau convius, dapat mempengaruhi
setabilitas sosial dan politik berupa ketidakpuasan pada sistim
pemerintahan yang ada. Selanjutnya jika sebuah negara ingin “kuat” dan
“stabil” maka ia harus membenahi sektor pangannya terlebih dahulu, baru
program-program ekonomi produksi lain (Sokeratawi, 1996). Pangan
merupakan kebutuhan pokok dan pertama bagi warganegara, pada
akhirnya gerakan politik yang memobilisasi masalah pangan pada
umumnya merupakan strategi yang tepat, karena masalah kerawanan
pangan cukup siginicant dengan masalah-masalah sosial dan politik.
Hal tersebut memberi pengertian bahwa masalah pangan tampaknya sulit
untuk dibahas hanya dengan skala prioritas ekonomi saja, dan
meletakkannya pada mekanisme pasar murni (pure market mechanism)
seperti halnya barang-barang atau jasa-jasa lainnya. Pemerintah perlu turut
serta “campur tangan” (intervention) dalam menjaga stabilitas pangan, baik melalui mekanisme pasar input atau faktor produksi (market of
production factors) maupun mekanisme pasar output (market of
production). Lebih jauh Bungaran Saragih (1999) menyatakan, bahwa
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
instabilitas sosial dan politik yang akhirnya menjatuhkan dua presiden (dua
presiden pertama Indonesia). Begitu pentingnya masalah pangan terhadap
stabilitas sosial dan politik yang pada akhirnya memunculkan gerakan
“pro” maupun “kontra” terhadap penanganan masalah pangan atau
bentuk-bentuk intervensi pemerintah terhadap sektor pangan, dengan
lembaga Bulog-nya yang mengantongi wewenang mengatur mekanisme
pasar dan distribusi pangan (buffer stock function).
Pada salah satu sisi ada gerakan ingin menghapuskan intervensi pemerintah
pada sektor pangan dan melepaskan pada mekanisme pasar murni (pure
market mechanism), dan gerakan ini dipelopori oleh para pakar “ekonom
murni” yang “pro-pasar”. Mereka ini adalah para ekonom yang berpandangan optimis terhadap perdagangan bebas (trade optimist), atau
boleh juga disebut para ekonom penganut mazhab ekonomi “neo-classic”
yang selalu mendewakan pasar bebas (free market). Pandangan mereka,
campur tangan pemerintah (intervention) dalam mekanisme pasar pangan
justru menciptakan gangguan atau kegagalan pada pasar pangan itu sendiri
(market failure), yang pada gilirannya akan mereduksi “consumen surplus”
dan “producen surplus”, dan mereduksi kemakmuran ekonomi (welfare
economic) yang tercipta dari mekanisme pasar murni.
Menurut Prakosa (2000), pandangan ekonomon “pro-pasar” untuk
liberalisasi mekanisme pasar pangan adalah hal yang tidak bisa diterima
“dengan baik”. Bagaimanapun pangan sudah masuk dalam kancah
komoditas sosial dan politik (social and politic commodity), yang mau
tidak mau harus dikeluarkan dari mekanisme pasar murni. Bentuk
intervensi pemerintah harus disesuikan dari masa ke masa, sehingga
fleksibel terhadap perkembangan ekonomi, sosial dan politik. Di sisi lain
ada gerakan yang dipelopori oleh para ekonom yang “fleksibel” dan
mengkaji masalah pangan dalam peta konsep “ekonomi politik”, dan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 3
economics”. Golongan ini berpendapat bahwa bentuk intervensi
pemerintah ke dalam mekanisme pasar adalah sah-sah saja, asalkan
“benefit comprehensive” yang tercipta lebih besar dari pada “cost” yang dikeluarkan dalam intervensi tersebut untuk menjaga stabilitas ekonomi,
sosial dan politik.
3.2. Kebijakan Stabilisasi Harga Daging Sapi Provinsi Jambi
Kebutuhan daging sapi dan kerbau menghadapi hari-hari tertentu dimana
permintaan naik drastis untuk Kota Jambi tahun 2009 dengan basis data
tahun 2006 – 2008 diperkirakan mencapai 1.195 ekor. Kebutuhan ini
terdiri dari 145 ekor untuk 3 hari menghadapi puasa, 600 ekor untuk 27
hari puasa dan 450 ekor untuk 3 hari menjelang Idul Fitri (Disnakeswan
Provinsi Jambi, 2009). Sedangkan persediaan ternak sapi dan kerbau yang
ada pada pemerintah adalah 927 ekor dan hanya 392 ekor yang ada di
Kota Jambi (penggemukan 275 ekor dan ternak pemerintah 117 ekor).
Pada wilayah tetangga yaitu di Kabupaten Batanghari 250 ekor dan di
Kabupaten Muaro Jambi 110 ekor. Hal ini menyebabkan pada saat
mendekati Lebaran harga daging sering tak terkendali seperti pada tahun
2009 harga daging dari hari biasa pada kisaran Rp 65.000/kg, maka saat
memasuki H-4 di beberapa pasar tradisional di Kota Jambi harga daging
sapi di atas Rp 70.000 per kg dan bahkan di Pasar TAC, Keluarga, Sipin
dan Talang Banjar rata-rata harga daging di tingkat pedagang mencapai Rp
75.000/kg dan diperkirakan akan terus naik hingga H-1 menjadi Rp
80.000/kg (Elviza. 2009).
Operasi pasar untuk Kota Jambi oleh Disnakeswan Provinsi Jambi
bekerjasama dengan Dinas Peternakan Kota Jambi dilaksanaan mulai H-3,
hingga H-1 dan dipusatkan di 5 lokasi, yaitu Pasar Angso Duo, Pasar Induk
Talang Banjar, Pasar Keluarga Sipin, Simpang Pulai dan Pasar Induk Kasang,
dan saat bersamaan dilakukan pemantauan harga untuk mengetahui
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
dan konsumen tidak hanya menumpuk di satu tempat dilakukan dengan
menjual daging pada harga berkisar Rp 70.000/kg sehingga diharapkan
harga daging tidak melonjak terlalu tinggi. Langkah lain adalah Gubernur
Jambi Zulkifli Nurdin melalui koordinasi dengan beberapa pedagang dan
distributor untuk memenuhi stok daging dengan menentukan harga
tertinggi daging menjelang Lebaran yakni Rp 80.000/kg (Elviza. 2009).
Pentingnya menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup,
aman, bermutu, dan bergizi seimbang dari tingkat nasional, daerah, rumah
tangga, sampai tingkat individu merupakan fondasi bagi tercapainya
pembangunan dan perwujudan ketahanan nasional (Suryana, 2003).
Masalah stabilisasi produksi dan harga serta ketahanan pangan merupakan
tugas pemerintah dan tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada sektor
swasta, karena swasta akan berorientasi profit. Banyak pendapat yang
mengatakan bahwa masalah stabilisasi produksi dan harga serta ketahanan
pangan pada dasarnya adalah wewenang dan tanggung jawab pemerintah
karena dalam perekonomian pemerintah memiliki 3 (tiga) fungsi yaitu
fungsi alokasi, distribusi dan stabilisasi (Musgrave and Musgrave, 1993).
Selanjutnya Simatupang (2007), mengatakan bahwa ketahanan pangan
memenuhi kriteria ”barang publik” sehingga pemerintah harus turut
campur dalam pengelolaannya melalui melakukan intervensi pasar.
Menurut Baihaqy (2000), intervensi pemerintah kepada sektor ekonomi
yang sangat “sicnificant” dengan stabilitas sosial dan politik adalah legal,
sepanjang “keuntungan dan manfaat” (benefit comperehenshif) dari
interverensi tersebut masih lebih tinggi dari pada “biaya” (cost) yang harus
dikeluarkan (opportunty cost). Inilah yang disebut intervensi yang efisien
dan jika “keuntungan dan manfaat” (benefit) intervensi tersebut sama atau
lebih kecil dari biaya (cost) yang dikeluarkan, maka interverensi tersebut
harus dan harus segera “direduksi” untuk mencegah “distorsi” pasar yang
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 5
distortion). Intervensi pemerintah terhadap sektor pangan, dalam
taraf-taraf tertentu pada kenyataanya masih bisa dibenarkan, sepanjang
interfensi tersebut memiliki efek ganda (multiplier effect) yang luas dan
positif, baik bagi masyarakat konsumen secara keseluruhan, pemerintah
(stabilitas ekonomi, sosial, politik), dan produsen/petani yang
menggantungkan hidup dari sektor ini dan merupakan komoponen
terbesar dari bangsa (67%). Atau dengan kata lain nilai dari “benefit” dari
interverensi pemerintah tersebut masih jauh lebih besar dari “cost” yang
harus dikeluarkan.
3.3. Analisis Teoritis Kebijakan Subsidi Harga Langsung
Intervensi pasar yang selama ini dilakukan oleh Pemerintah Daerah di
lingkungan Provinsi Jambi dalam kebijakan stabilisasi harga adalah subsidi
langsung kepada para supplier (pedagang). Pemerintah menyediakan dana
subsidi untuk mengendalikan harga pasar pada level tertentu atau
mendorong pedagang agar menjual daging di bawah harga pasar pada saat
terjadi peningkatan permintaan. Sebagai contoh jika harga pasar daging
sapi menjelang lebaran mencapai Rp. 80.000/kg (tanpa intervensi) dan
pemerintah memberikan harga batas tertinggi (ceiling price) Rp. 75.000/kg
maka akan diberikan subsidi sebesar Rp. 5.000/kg. Kebijakan seperti ini
pada dasarnya lebih pada kebijakan fiskal (fiscal policy) atau yang lebih
dikenal dengan pajak negatif (negative tax) atau subsidi. Nilai manfaat
kesejahteraan yang dinikmati masing-masing kelompok (konsumen dan
supplier) sangat tergantung pada elastisitas penawaran (supply) dan
permintaan (demand).
Supply produk pertanian termasuk peternakan seperti daging sapi memiliki
respon rendah terhadap perubahan harga produk sehingga elastisitas
produk relatif kecil (bersifat inelastis) dengan kemiringan kurva penawaran
kecil (lebih mendekati vertikal). Pada sisi lain respon konsumen daging sapi
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
permintaan yang lebih miring (lebih mendekati horizontal). Berdasarkan
sifat kurva supply dan demand diatas kita dapat memprediksi dampak
kenaikan permintaan menjelang hari besar keagamaan seperti lebaran idul
fitri serta distribusi nilai manfaat dari kebijakan subsidi (negative tax)
seperti diilustrsikan pada Gambar 3.1 berikut;
Gambar 3.1.
Dampak Kenaikan Permintaan dan Distribusi Manfaat Kebijakan Subsidi Harga Langsung
Kenaikan permintaan menjelang hari besar keagamaan akan mendorong
terjadinya kenaikan harga yang tinggi (P1 - P2) sehingga akan menyulitkan
kelompok konsumen daging sapi jika diiringi dengan kenaikan supply.
Untuk melindungi konsumen akan mendorong pemerintah untuk
melakukan intervensi pasar. Jika kebijakan yang dipilih adalah subsidi
harga langsung kepada supplier (pedagang) maka pemerintah butuh dana
sebesar (P2 – PS) x Q atau level subsidi (selisih antara harga pasar tanpa
intervensi dengan harga patokan tertinggi) dikali dengan kuantitas transaksi
daging sapi di pasar.
Berdasarkan Gambar 3.1a maka intervensi pasar melalui kebijakan subsidi
harga oleh pemerintah ditujukan untuk mendorong para pedagang
meningkatkan supply sehingga tercapai penurunan harga sebesar P2 – PS
atau harga turun menjadi PS. Besarnya penurunan harga ini harus disubsidi
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 7
total penjualan). Jika pemerintah mampu menyediakan dana subsidi
sebesar ini akan menjadi efektif, tetapi jika tidak maka pengendalian harga
tidak akan tercapai dan konsumen tetap akan diberatkan dengan harga
pasar yang terbentuk. Kebijakan ini disamping membutuhkan dana besar
juga kurang tepat sasaran karena sebagian besar subsidi dinikmati oleh para
pedagang dan hanya sedikit dinikmati oleh petani. Struktur pasar daging
yang dikuasai oleh sebagian kecil pedagang besar menyebabkan margin
keuntungan pedagang menjadi lebih besar setelah ditambah dengan
subsidi. Kondisi ini tidak akan dinikmati banyak oleh produsen (peternak)
karena harga yang diterima peternak lokal relatif tidak mengalami
kenaikan berarti karena ternak sapi siap potong umumnya berasal dari
bakalan pedagang dan diimpor dari luar Provinsi Jambi.
Pada sisi lain pelaksana kebijakan stabilisasi di lapangan adalah dinas teknis
yang terkait peternakan yang pada dasarnya bukan merupakan tugas
(tupoksi) mereka. Operasi pasar sebenarnya menjadi beban tugas dari
instansi terkait dengan sektor perdagangan atau badan khusus yang
dibentuk pemerintah seperti Bulog. Kesalahan persepsi selama ini, ketika
terjadi lonjakan harga pasar daging pada saat hari raya keagamaan seperti
lebaran maka pertanggungjawaban utama selalu dibebankan ke instansi
terkait peternakan. Pada masa yang akan datang, keterlibatan instansi
teknis terkait peternakan hanya bersifat koordinasi dan lebih ditekankan
pada aspek teknis (non-pasar) seperti dalam penjaminan supply daging
pada saat-saat tertentu. Berdasarkan berbagai kekurangan dalam kebijakan
intervensi pasar daging sapi seperti ketidak tepatan sasaran subsidi,
lemahnya kontrol dan pertanggungjawaban terhadap dana subsidi
langsung pada pedagang serta koordinasi dari berbagai instansi terkait
dibutuhkan alternatif kebijakan lain yang lebih tepat sasaran dan mampu
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
3.4. Kebijakan Stabilisasi Harga Alternatif
Alternatif kebijakan dalam stabilisasi harga daging sapi ditujukan untuk
melindungi produsen (peternak) dari harga rendah (saat permintaan turun)
dan melindungi konsumen daging sapi (rumah tangga) dari harga tinggi
(saat permintaan naik tajam). Kebijakan harga yang selama ini dilakukan
oleh pemerintah antara lain melalui kebijakan harga dasar (floor price) dan
kebijakan harga atap (ceiling price). Implementasi kebijakan ini secara
umum dapat dilihat dari kebijakan harga beras yang dilakukan oleh Badan
Urusan Logistik (Bulog). Pada kebijakan stabilsasi harga beras seperti
diilustrasikan pada Gambar 3.2 maka tugas Bulog adalah menjaga agar
harga beras tidak anjlok pada musim panen raya dan sebaliknya tidak naik
drastis pada saat musim paceklik. Pada Gambar 3.2a pada saat paceklik
(supply menurun) Bulog melakukan operasi pasar dengan memperbesar
supply dipasar (Qo) sehingga harga dapat mencapai harga atap (ceiling
price) sehingga konsumen tidak diberatkan, dan sebaliknya pada Gambar
3.2b pada saat panen raya (supply melimpah atau meningkat) guna
melindungi petani (produsen) Bulog melakukan pembeliaan gabah (beras)
petani pada harga dasar (floor price).
Gambar 3.2.
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 9
Stabilisasi harga beras yang dilakukan Bulog mampu mengurangi fluktuasi
harga yang besar seperti Gambar 3.2c. Secara umum tujuan kebijakan
stabilisasi harga pangan oleh Bulog tidak harus harga tunggal (tetap) tetapi
lebih pada menjaga perbedaan harga pada saat paceklik dan panen raya
menjadi kecil. Fluktuasi harga yang kecil mampu menjaga stabilitas pasar
dan memberikan keuntungan baik bagi kelompok petani produsen
maupun konsumen rumah tangga. Harga beras yang relatif stabil juga
menjadi salah satu prasyarat bagi terjaganya stabilitas sosial ekonomi dan
politik suatu wilayah.
Secara umum harga komoditas daging sapi juga mengalami fluktuasi tetapi
dengan faktor pendorong atau penyebab berbeda. Fluktuasi harga beras
lebih disebabkan oleh perubahan pada sisi penawaran (supply) karena
merupakan tanaman musiman, sedangkan fluktuasi harga daging sapi lebih
didorong oleh perubahan pada sisi permintaan. Karakteristik khusus dari
harga pasar daging sapi khususnya di Provinsi Jambi adalah fluktuasi
kenaikan yang tinggi pada saat tertentu akan sulit untuk kembali turun
pada posisi harga semula, sehingga trend harga pasar cenderung
mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Contoh pada tahun 2009 ketika
terjadi kenaikan harga daging sapi dari Rp. 60.000/kg saat permintaan
normal menjadi Rp, 75.000/kg pada saat lebaran. Pasca lebaran harga
daging tidak kembali turun menjadi harga pada saat normal tetapi tetap
bertahan pada harga Rp. 70.000/kg. Trend harga seperti ini pada suatu sisi
akan menguntungkan bagi produsen (peternak) tetapi akan mengancam
aksesibilitas masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pangan hewani.
Ilustrasi trend harga daging sapi yang mengalami peningkatan dari tahun
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Gambar 3.3.
Fluktuasi dan Trend Harga Daging Sapi Provinsi Jambi
Gambar 3.3. menunjukkan dengan kurva supply yang inelastis maka
kenaikan permintaan akan mendorong kenaikan harga yang cukup besar.
Kenaikan permintaan seperti lebaran dari D1 ke D2 akan mendorong
kenaikan harga dari P1 menjadi P2, tetapi pasca lebaran harga tidak
kembali turun menjadi P1 tetapi hanya turun menjadi P3 dan akan kembali
naik melebihi P2 ketika permintaan pada tahun berikutnya kembali
meningkat. Hal ini menyebabkan harga rata-rata daging sapi di Provinsi
Jambi cenderung mengalami peningkatan dari tahun-ketahun. Pada sisi lain
kecenderungan peningkatan harga ini tidak diiringi dengan peningkatan
supply karena sektor produksi tidak mampu bertumbuh secepat
pertumbuhan permintaan. Sampai tahun terakhir malah untuk pemenuhan
kebutuhan stock ternak sapi menjelang lebaran Provinsi Jambi masih
mengandalkan supply dari luar daerah dan ketergantungan ini memiliki
resiko besar jika terjadi goncangan supply daerah asal impor sapi potong
Provinsi Jambi.
Berdasarkan perilaku pasar daging sapi ini maka tindakan antisipasi
terutama oleh pemerintah daerah sangat dibutuhkan guna menjaga
ketahanan pangan daerah terutama protein hewani. Program jangka
panjang dengan memacu laju pertumbuhan populasi dan produksi melalui
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 11
Produksi 2015. Pada jangka pendek dan menengah pemerintah perlu
melakukan intervensi pasar melalui kebijakan harga guna mencegah
fluktuasi harga daging terlalu besar dan trend kenaikan harga daging lebih
“smooth” (Gambar 3.4).
Gambar 3.4.
Kebijakan Stabilisasi Harga Daging Sapi Alternatif Menghadapi Hari Besar Keagamaan
Penetapan harga tertinggi (ceiling price) oleh pemerintah pada saat hari
besar keagamaan sebesar PC membutuhkan peningkatan supply melalui
operasi pasar. Operasi pasar dilakukan dengan melepas stock ternak sapi
siap potong baik yang dipegang swasta maupun pemerintah. Selama ini
swasta tidak akan memperbanyak stock jika tidak dirangsang oleh
pemerintah melalui subsidi harga pasar daging sapi. Pada sisi lain
kemampuan pemerintah untuk operasi pasar sangat terbatas karena stock
tersedia relatif kecil dibanding dengan kebutuhan pasar. Jika ada operasi
pasar langsung oleh pemerintah harga daging tetap tinggi sehingga sering
menjadi keluhan masyarakat konsumen bahwa harga daging operasi pasar
pemerintah tetap sama atau tidak jauh berbeda dengan harga di tingkat
pedagang. Keterbatasan stock sapi siap potong juga menyebabkan operasi
pasar tidak dapat dilakukan lebih awal dan jangka waktu pelaksanaan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Intervensi kebijakan harga yang dilakukan sejogyanya tepat sasasan dan
terintegrasi dengan upaya pemberdayaan peternak lokal. Adopsi dari
kebijakan harga atap (ceiling price) dengan berbagai modifikasi dapat
dilakukan pemerintah daerah tanpa harus membentuk lembaga penyangga
khusus seperti halnya Badan Usaha Logistik (Bulog). Pengendalian harga
tetap dilakukan pada sisi supply karena secara umum upaya mempengaruhi
sisi permintaan sangat sulit dilakukan.
Syarat utama bagi pemerintah dalam meningkatkan efektifitas operasi pasar
adalah tersedianya stock ternak sapi siap potong yang dapat diperoleh
melalui beberapa cara yaitu;
1. Impor atau pengadaan ternak sapi siap potong dari daerah lain baik
dalam lingkungan Provinsi Jambi maupun provinsi sumber ternak
lainnya.
2. Pembelian ternak dari pedagang besar yang memiliki stock ternak sapi
siap potong.
3. Penarikan ternak sapi jantan dari rumah tangga gaduhan ternak sapi
bibit pemerintah.
4. Ternak sapi potong pemerintah hasil penggemukan rumah tangga
melalui pola bagi hasil.
Sumber stock ternak siap potong 1 dan 2 membutuhkan dana segar tetapi
dapat dilakukan sesuai kebutuhan baik dari aspek waktu maupun jumlah.
Kelemahan lain dari kedua sumber disamping harga sapi siap potong juga
tinggi juga tidak memberikan nilai tambah (value added) bagi daerah.
Sedangkan sumber 3 dan 4 meskipun milik pemerintah tetapi secara
kelembagaan terutama terkait aturan main kelembagaan tidak terikat
langsung. Hal ini menyebabkan jaminan stock tidak dapat diprediksi secara
akurat karena proses penarikan dan penggemukan tidak terjadual secara
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 13
pertimbagan tersebut maka sewajarnya pemerintah mulai memikirkan
bentuk kelembagaan khusus yang efektif dalam menjamin keberadaan
stock ternak sapi siap potong.
Alternatif bentuk kelembagaan yang dapat dikembangkan adalah
kemitraan pengelolaan ternak penyangga (buffer stock) sapi potong yang
pengelolaan stock ternak dilakukan oleh kelompok peternak mitra dan
bukan oleh pemerintah. Bentuk kemitraan ini merupakan modifikasi dari
peran Bulog sebagai lembaga penyangga stock pangan nasional guna
stabilisasi harga berbagai kebutuhan pangan utama masyarakat. Perbedaan
hanya dalam pelaksanaan fungsi manajemen dimana Bulog atau Dolog di
daerah langsung mengelola pengadaan, penyimpanan dan pelepasan stock,
sedangkan manajemen buffer stock hanya memiliki fungsi pengadaan dan
pelepasan stock. Penyimpanan stock menjadi tanggung jawab kelompok
peternak mitra tetapi tetap dalam kendali pemerintah melalui manajemen
buffer stock sapi potong yang diberi wewenang.
Artinya, akan terjadi efisiensi dalam manajemen buffer stock karena tidak
dibebani biaya investasi dalam pembangunan gudang dan operasional
dalam perawatan stock. Bahkan jika stock barang di gudang Bulog dapat
mengalami penyusutan akibat kerusakan atau penurunan kualitas,
sedangkan pada model buffer stock sapi potong kondisi sebaliknya. Ternak
sapi siap potong yang menjadi stock kebutuhan intervensi pasar
pemerintah dapat berkembang dan memiliki nilai jual lebih tinggi
dibanding saat pengadaan (sapi bakalan). Hal ini mengindikasikan bahwa
efisiensi anggaran pemerintah dalam model kemitraan buffer stock sapi
potong potensial diikuti dengan peningkatan nilai ekonomi stock.
Keterlibatan kelompok peternak sapi sebagai mitra akan mendorong
distribusi nilai manfaat (benefit value) bagi rumah tangga peternak,
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Secara umum kesamaan dan perbedaan antara lembaga penyangga Bulog
dan buffer stock sapi potong Provinsi Jambi disajikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Perbandingan Karakteristik Bulog dan Model Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong
No Varibel Jenis Lembaga
Bulog Buffer Stock
1 Bentuk lembaga dan lingkup wilayah kerja
2 Tujuan pengembangan
Stabilisasi harga pada
4 Sifat nilai tambah potensial dan unsur penyusutan selisih harga dan PBB tanpa
unsur penyusutan
6 Waktu aktivitas utama Pengadaan saat panen raya dan pelepasan saat paceklik
Pengadaan 9 bulan sebelum waktu pelepasan
7
Kebutuhan sumberdaya
a. Tenaga kerja Relatif lebih besar untuk manajemen, tenaga kerja
a. Biaya investasi Kantor, gudang dan sarana pendukung
Hanya kantor dan tidak butuh gudang
b. Biaya operasional Pengadaan dan penyimpanan stock
Pengadaan dan pembinaan kelompok
9 Distribusi nilai manfaat internal Hanya parsial untuk lembaga sendiri
Kelompok peternak dan manajemen BF
Berdasarkan karakteristik masing-masing lembaga terutama terkait
pembiayaan maka kemitraan buffer stock secara umum lebih efisien
dibanding lembaga penyangga seperti Bulog. Penghematan potensial
terjadi pada biaya investasi dan operasional terutama terkait dengan
penyimpanan stock. Efisiensi biaya juga akan lebih baik jika dilihat aspek
karakteristik stock dimana pada Bulog akibat penyimpanan mengandung
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 15
malah terjadi perkembangan nilai produk baik dari selisih harga maupun
kuantitas terkait adanya pertambahan bobot badan sapi potong selama
4.1. Model Kelembagaan Kemitraan “Buffer Stock”
Salah satu instrumen yang biasa digunakan pemerintah untuk menerapkan
kebijakan stabilisasi harga adalah beberapa bentuk buffer stock yang
dijalankan dan dibiayai oleh negara atau organisasi yang ditunjuk. Prinsip
dasarnya adalah pelaku (agency) mempertahankan penjualan maksimum
dan pembelian harga minimum dengan menambah stok pasar baik melalui
pengadaan domestik maupun impor atau melepaskan persediaan (stok)
domestik atau ekspor keluar negeri. Menurut ilmu manajemen berdasarkan
fungsinya stock (persediaan) dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu;
a. Lot-size inventory, yaitu persediaan yang diadakan dalam jumlah yang
lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan pada saat itu dengan tujuan
memperoleh efisiensi seperti biaya transportasi per unit.
b. Fluctuation stock, merupakan persediaan yang diadakan untuk
menghadapi permintaan yang tidak bisa diramalkan sebelumnya, serta
untuk mengatasi berbagai kondisi tidak terduga.
c. Anticipation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi
fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan terutama permintaan
tinggi.
Periode atau waktu dan bahkan besaran (kuantitas) peningkatan
permintaan daging sapi sudah dapat diprediksi yaitu pada saat hari besar
keagamaan seperti Ramadhan, Lebaran (idul Fitri) dan Lebaran Haji (Iduk
Adha). Terkait dengan tujuan program stabilisasi harga daging sapi maka
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 2
Pengembangan buffer stock ternak sapi siap potong lebih mudah untuk
dijadualkan termasuk waktu pengumpulan dan pelepasan stock ternak sapi
untuk kebutuhan operasi pasar. Hal yang masih perlu diperhatikan
pemerintah adalah bagaimana mengembangkan program yang mampu
memberikan nilai tambah bagi masyarakat terutama pelaku budidaya,
efektifitas kontrol terhadap buffer stock tersebut serta efisiensi biaya
ditengah keterbatasan anggaran pemerintah daerah serta keberlanjutan
program.
Pengembangan kemitraan dengan kelompok peternak menjadi alternatif
pilihan terbaik karena memiliki berbagai keunggulan sebagai berikut;
1. Program dapat diintegrasikan dengan upaya pemberdayaan kelompok
dan rumah tangga peternak sehingga lebih tepat sasaran.
2. Investasi pemerintah untuk intervensi kebijakan harga pasar merupakan
dana abadi dan bahkan dapat berkembang karena memiliki tingkat
pengembalian modal positif (positive return of investment).
3. Pengembangan desain sistem yang baik dan terprogram akan menjadi
salah satu faktor pendukung kebijakan harga yang lebih berkelanjutan.
4. Pemerintah tidak terbebankan dengan biaya operasional terutama
untuk penyimpanan dan penyusutan stock seperti halnya komoditas
beras.
5. Kontrol jumlah stock oleh pemerintah lebih terjamin dan dapat
digunakan tepat waktu dalam operasi pasar serta menjamin
ketersediaan daging yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal).
Untuk itu perlu disusun suatu aturan main kelembagaan yang dapat
dilaksanakan secara konsisten oleh pihak-pihak yang terlibat dalam
pengembangan kemitraan ternak penyangga (buffer stock). Kerjasama
kemitraan untuk stabilisasi harga daging sapi potong melibatkan partisipasi
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
a. Pihak berpartisipasi langsung terdiri dari pemerintah daerah melalui
SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait yaitu Dinas Peternakan
dan Kesehatan Hewan serta kelompok peternak mitra yang dipilih
berdasarkan kapabilitas.
b. Pihak berpartisipasi tidak langsung terdiri dari pihak-pihak lain yang
mendukung berkembangnya kemitraan yang tidak tercantum dalam
perjanjian kerjasama kemitraan seperti fasilitator, pembinaan dan
pemasaran input dan output.
Mekanisme dan peran masing-masing pihak dalam pengembangan
kemitraan buffer stock untuk stabilisasi harga daging disajikan pada
Gambar 4.1.
Gambar 4.1.
Mekanisme Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong
Pemerintah sebagai regulator dan bertanggung jawab dalam menjaga
stabilisasi harga daging sapi melalui instansi terkait menyediakan sapi
bakalan dan pembinaan dalam usaha penggemukan ternak sapi oleh
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 4
ditentukan melalui seleksi dengan perjanjian kerjasama tidak hanya
mencakup besaran bagi hasil (profit sharing) tetapi juga menjaga komitmen
bersama untuk tujuan utama kemitraan yaitu stabilitas harga. Kelompok
peternak mitra harus bersedia untuk mengikuti regulasi terutama terkait
dengan lama penggemukan dan waktu pelepasan (penjualan) ternak sapi
siap potong.
Proses operasi pasar setelah melalui pemotongan di RPH terdekat dengan
sistem penjualan daging sapi melalui pedagang pengecer mitra yang
tersebar pada beberapa pasar atau langsung oleh kelompok peternak mitra
melalui unit usaha tertentu yang bergerak di sektor perdagangan. Pada sisi
lain pembinaan manajemen budidaya dapat langsung dilakukan
manajemen buffer stock dengan menempatkan tenaga pendamping atau
menggunakan jasa pihak ketiga dari Perguruan Tinggi atau Lembaga
Non-pemerintah seperti LSM. Secara umum seluruh pihak yang terlibat harus
berada di bawah koordinasi dinas teknis (Disnakeswan Provinsi Jambi).
Koordinasi juga dapat dikembangkan dengan lembaga terkait lainnya
seperti Dinas Perdagangan dan Perindustrian dan Dinas Koperasi dan
UKMK serta asosiasi pedagang pasar wilayah operasi pasar. Sistem
koordinasi akan menjadi faktor penentu efektivitas keberhasilan program
stabilisasi harga guna melindungi kelompok konsumen daging sapi.
4.2. Pengendalian Stock Ternak Sapi Potong
Upaya pengendalian persediaan (inventory control) dilakukan melalui
langkah-langkah berikut a) menetapkan sistem penyediaan, b) menetapkan
jumlah persediaan, dan c) menetapkan administrasi.
4.2.1. Sistem Penyediaan
Sistem penyediaan stock ternak sapi potong dalam kemitraan berupa
ternak bakalan (jantan remaja umur ± 1 tahun) yang selanjutnya dilakukan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
pengadaan sapi bakalan dilakukan pada saat permintaan sapi siap potong
sedang rendah. Berdasarkan pengamatan harga terendah ternak sapi
bakalan pada tahun bersangkutan adalah pasca lebaran haji, sehingga
secara umum proses pengadaan dan pelepasan stock ternak sapi potong
penyangga disajikan pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2.
Sistem Penyediaan Stock Ternak Sapi Potong Tahunan
Sumber bakalan dari pemerintah dapat berasal dari pembeliaan secara
langsung atau dari ternak sapi jantan muda hasil tarikan (setoran) rumah
tangga peternak sapi gaduhan pemerintah di berbagai daerah. Kemitraan
lain juga dapat dikembangkan antara lain;
a. Kemitraan dengan pemerintah daerah kabupaten/kota melalui SKPD di
lingkungan pemerintah Provinsi Jambi dalam pengadaan ternak
bakalan hasil penarikan ternak jantan gaduhan dari rumah tangga
peternak. Pengelola buffer stock dapat memperoleh ternak sapi bakalan
karena umumnya penarikan ternak dilakukan pada umur muda (1
tahun atau lebih). Nilai ternak sapi bakalan yang masuk dapat
disepakati dan pembayaran dilakukan pasca proses penggemukan atau
pada saat sapi potong telah siap jual termasuk bagi hasil yang diterima
masing-masing daerah setelah dipotong fee, biaya administrasi dan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 6
pihak adalah nilai jual ternak milik kabupaten/kota sebagai sumber PAD
menjadi lebih besar dan skala usaha buffer stock dapat lebih besar
sehingga lebih efektif dalam pengendalian harga daging.
b. Kemitraan dalam program seleksi kelompok dan pembinaan serta
pendampingan dengan perguruan tinggi setempat atau lembaga
swadaya masyarakat (LSM). Mitra betugas sebagai fasilitator dan
motivator dalam transfer IPTEK dalam usaha penggemukan ternak sapi
potong oleh anggota kelompok peternak mitra.
c. Kemitraan dengan swasta terutama pedagang dalam penyaluran ternak
sapi hasil penggemukan kelompok peternak mitra. Kerjasama dalam
supplai daging sapi hasil pemotongan di Rumah Potong Hewan (RPH)
dapat dilakukan guna distribusi kepada kelompok masyarakat
konsumen melalui pasar-pasar tertentu.
4.2.2. Jumlah Persediaan
Berdasarkan data tahun 2010 jumlah pemotongan ternak sapi dan kerbau
di RPH Kota Jambi pada hari biasa mencapai 15 – 20 ekor dan akan
mengalami peningkatan 2 kali lipat (30 – 40 ekor) ketika menyambut
Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri (Kepala RPH Kota Jambi, 2010). Selama
ini pemenuhan suplai sapi siap potong oleh para pedagang (pemasok)
hanya sekitar 60% dan sisanya stock ternak sapi pemerintah yang tersebar
pada beberapa wilayah. Kenaikan permintaan yang mendorong kenaikan
harga biasanya terjadi mulai dari H-2 Ramadhan dan H-7 Idul Fitri.
Kenaikan pada H-2 Ramadhan tidak akan mendorong kenaikan tinggi
harga daging sehingga tindakan untuk melepas stock antisipasi tidak terlalu
besar. Menggunakan asumsi pengadaan dan kebutuhan pasar maka
kebutuhan stock untuk pengendalian harga peridoe H-2 mencapai 48 ekor.
Untuk itu tindakan antisipasi yang sangat perlu menjadi perhatian
pemerintah adalah pada H-7 Lebaran dengan kebutuhan sapi siap potong
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Jambi diperkirakan mencapai antara 210 – 280 ekor sapi siap potong
untuk tahun 2010.
Faktor yang menjadi shock pasar bagi pihak konsumen karena stock ternak
sapi siap potong pemerintah selama ini belum mampu memberi keyakinan
bagi masyarakat konsumen. Shock pasar ini diduga menjadi salah satu
pendorong “permainan pasar” para pedagang dan diduga menjadi
penyebab utama lonjakan harga daging sapi pada beberapa pasar di Kota
Jambi. Untuk menghadapi kondisi ini guna mencapai efektivitas kebijakan
stabilisasi harga pada H-7 lebaran maka proporsi penguasaan stock oleh
pemerintah harus lebih besar dari yang ada sekarang yaitu minimal 60%
dari kebutuhan pasar terhadap sapi siap potong (± 168 ekor). Secara
umum skala buffer stock sapi potong dalam pengembangan kemitraan
untuk stabilisasi harga daging pada H-2 Ramadhan dan H-7 Lebaran
mencapai 216 ekor sapi siap potong dan dengan resiko mortalitas 5%
maka total kebutuhan mencapai 226 ekor. Kebutuhan stock akan
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun tetapi dapat disesuaikan
dengan perkembangan keuntungan nilai investasi (profit sharing) dan jika
dimulai untuk kebutuhan stabilisasi harga pada tahun 2011 maka
diperkirakan jumlah stock kemitraan mencapai 250 ekor sapi bakalan.
4.2.3. Adminsitrasi Persediaan
Sistem administrasi dikembangkan untuk mendorong pelaksanaan
fungsi-fungsi menajemen yang efektif oleh kelompok mitra pengelolaan stock sapi
potong pemerintah. Manajemen administrasi mencakup unsur-unsur utama
manajemen yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (operatiional),
pengawasan (monitoring), dan evaluasi (evaluation). Secara umum proses
manajemen mencakup mulai dari ternak masuk (pengadaan stock) sampai
pada pelepasan stock serta pasca pelepasan stock (pelaporan), seperti
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 8
Gambar 4.3. Sistem Administrasi Stock
Sistem administrasi diserahkan kepada kelompok peternak mitra yang
selanjtunya dikompilasi dalam bentuk laporan tahunan oleh penanggung
jawab kegiatan (manager buffer stock). Untuk meningkatkan pengawasan
dan evaluasi maka disedikan form isian bagi setiap rumah tangga anggota
kelompok mitra (rangkap 3 masing-masing untuk rumah tangga, kelompok
dan pengelola atau pemerintah). Setiap form isian ditanda tangani oleh
masing-masing pihak baik pada saat pengadaan bakalan maupun pelepasan
(penjualan) ternak sapi siap potong. Rancangan form isian stockis disajikan
pada Lampiran 1 dan 2 serta pencatatan pada Lampiran 3.
Waktu pengadaan dan pelepasan disesuaikan dengan periode (Gambar
4.2) dan ditentukan atas kesepakatan pihak-pihak bermitra. Form isian dan
catatan selama proses stocking menjadi dasar bagi pengelola mitra dalam
penyusunan laporan tahunan yang mencakup cash flow (aliran kas),
perkembangan ternak dan produksi (PBB) serta pembiayaan
non-operasional seperti setoran pajak seperti pendapatan dan restribusi bagi
PAD berupa pendapatan negara bukan pajak (PNPB) yang diperkirakan
mencapai 11,5% dari keuntungan. Sistem administrasi kemitraan buffer
stock sapi potong yang akan dikembangkan berlandaskan pada
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Sistem administrasi dilapangan akan dilakukan langsung oleh kelompok
dibawah pengawasan tenaga pendamping lapangan sebagai perwakilan
pemerintah. Petugas pendamping lapangan sebaiknya juga mampu
menjadi seorang manajer dalam kemitraan buffer stock serta mampu
melakukan koordinasi dengan instansi terkait. Secara hirarki manajemen
petugas pendamping lapangan secara kontinue (bulanan) memberikan
laporan kepada bidang di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
(Disnakeswan) yang menangani Pengembangan Usaha dan Pembiayaan
dengan tetap berkoordinasi dengan bidang lainnya serta bertanggung
jawab langsung kepada Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan.
4.3. Tahapan Rencana Pengembangan Kemitraan Buffer Stock
Tahapan rencana pengembangan kemitraan buffer stock dilakukan secara
terprogram dan berkelanjutan dengan seleksi rumah tangga dan kelompok
sebagaimana dalam distribusi ternak pemerintah. Secara umum tahapan
pengembangan kemitraan buffer stock disajikan pada Gambar 4.4. Proses
pembentukan dimulai dengan seleksi kelompok mitra melalui kegiatan
sosialisasi dan pendataan kelompok dan dilanjutkan dengan survey
lapangan oleh tim seleksi. Survey lapangan ditujukan untuk mengumpulkan
data dan informasi tentang kelompok guna memilih kelompok yang
potensial untuk diajak sebagai mitra. Indikator dalam menentukan
kelompok potensial dalam proses seleksi antara lain adalah pengalaman
dan motivasi beternak, manajemen pengelolaan kelompok selama ini,
dukungan sumberdaya alam (ketersediaan hijauan pakan ternak dan
sumber pakan lainnya), kapabilitas rumah tangga peternak (sumberdaya
manusia), dan ketersediaan sarana prasarana budidaya serta beberapa
indikator lain seperti lokasi (aksesibilitas), dan komitmen untuk
melaksanakan aturan main kemitraan. Seluruh indikator akan menjadi
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 10
jangka panjang sehingga faktor tingkat keberhasilan dan keberlanjutan
menjadi pertimbangan utama.
4.3.1. Seleksi Kelompok Mitra
Syarat utama lokasi atau wilayah kerja kelompok mitra dalam program
kemitraan buffer stock sapi potong untuk stabilisasi harga adalah memiliki
aksesibilitas tinggi terhadap pasar utama yaitu Kota Jambi. Alternatif
pilihan kemitraan yang dapat dikembangkan oleh pemerintah adalah:
a. Kemitraan dengan kelompok tani yang tersebar pada wilayah
sub-urban baik dalam wilayah Kota Jambi maupun wilayah kabupaten yang
berbatasan langsung dengan Kota Jambi (Kabupaten Batanghari dan
Muaro Jambi).
Gambar 4.4.
Tahapan Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong
SELEKSI KELOMPOK
SELEKSI RUMAH TANGGA
PENGADAAN BAKALAN
DISTRIBUSI BAKALAN
Penentuan Aturan Main Kemitraan
KELOMPOK TERPILIH
RT1 RT2 RT3 RTn
Pelatihan Fattening RT Terpilih Penantanganan Perjanjian Kemitraan
Perbaikan dan Bantuan
SURVEY LAPANGAN TIM SELEKSI
Pengadaan Tenaga Pendamping
SOSIALISASI DAN PENDATAAN KELOMPOK
ADMINISTRASI
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
b. Kemitraan dengan pihak tertentu seperti Lembaga Swadaya Masyarakat
(LSM) atau Perguruan Tinggi untuk memanfaatkan fasilitas peternakan
yang selama ini tidak dimanfaatkan seperti Holding Ground Provinsi
Jambi di Pijoan Kecamatan Jaluko Kabupaten Batanghari.
4.3.2. Aturan Umum Kemitraan Buffer Stocks
Aturan main didesain berdasarkan keaepakatan para pihak yang terlibat
dalam kemitraan dengan prinsip musyawarah dan mufakat yang
selanjutnya akan dituangkan dalam Surat Perjanjian Kerjasama (SPK)
kemitraan. Aturan main meskipun diatur sesuai kesepakatan antar pihak
tetapi secara umum agar tujuan kebijakan stabilisasi harga dapat tercapai
maka diupayakan tidak menyimpang dari aturan pokok kemitraan buffer
stock sebagai berikut;
a. Tujuan program kemitraan adalah untuk persediaan (stock) ternak sapi
potong pemerintah yang digunakan untuk tujuan stabilisasi harga
daging sapi potong terutama menghadapi hari besar keagamaan.
b. Kemitraan adalah kerjasama dalam penyediaan stock ternak sapi untuk
stabilisasi harga antara pemerintah dengan kelompok peternak atau
pihak lain yang potensial sebagai mitra.
c. Buffer Stock adalah ternak sapi pemerintah yang digaduhkan kepada
rumah tangga anggota kelompok mitra yang digunakan sebagai stok
penyangga dalam kebijakan stabilisasi harga daging sapi.
d. Kebijakan stabilisasi harga daging sapi adalah kebijakan intervensi pasar
pemerintah guna mempengaruhi secara langsung harga pasar melalui
operasi pasar langsung dengan pelepasan stok guna memperbesar
supply daging mengahadapi kenaikan permintaan yang tinggi.
e. Pola kemitraan dikembangkan adalah pola bagi hasil antara pemerintah
sebagai inti dan rumah tangga peternak anggota kelompok sebagai
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 12
f. Kelembagaan kemitraan mencakup pelaku (a player) yaitu pihak-pihak
yang terlibat dalam kemitraan dan aturan main (rule of law) yaitu
kesepakatan para pihak yang wajib untuk dipatuhi.
g. Aturan main mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak
yang terlibat dalam kemitraan buffer stock sapi potong untuk tujuan
stabilisasi harga.
h. Hak adalah seluruh nilai manfaat yang akan diterima oleh pihak-pihak
terlibat dalam kemitraan, sedangkan kewajiban adalah seluruh
kesepakatan yang harus dilaksanakan pihak-pihak terlibat.
i. Pemerintah wajib untuk menyediakan ternak sapi bakalan tepat waktu
dengan spesifikasi yang telah ditentukan untuk program penggemukan.
j. Pemerintah wajib menyediakan tenaga pendamping lapangan yang
berfungsi sebagai manajer, administrator dan fasilitator lapangan.
k. Petugas pendamping lapangan berhak mendapat insentif tetapi harus
berdomisili di wilayah sasaran atau daerah terdekat (minimal masih
dalam 1 kecamatan).
l. Kelompok mitra adalah kelompok peternak yang telah memiliki
pengalaman minimal 3 tahun dalam pemeliharaan ternak sapi potong
baik gaduhan pemerintah maupun pihak lainnya.
m. Kelompok mitra dapat mengenakan biaya adminstrasi sesuai
kesepakatan dalam kelompok dan digunakan untuk menunjang
aktivitas kelompok terutama dalam pengawasan rumah tangga
penerima gaduhan ternak sapi bakalan.
n. Rumah tangga mitra adalah rumah tangga penerima gaduhan yang
tercatat sebagai anggota kelompok dengan syarat telah menjadi
anggota lebih dari 1 tahun dan memiliki pengalaman budidaya ternak