ADMINISTRASI
pendataan (harga dan bobot badan serta status kesehatan bakalan) masing peternak Mitra
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
b. Kemitraan dengan pihak tertentu seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Perguruan Tinggi untuk memanfaatkan fasilitas peternakan yang selama ini tidak dimanfaatkan seperti Holding Ground Provinsi Jambi di Pijoan Kecamatan Jaluko Kabupaten Batanghari.
4.3.2. Aturan Umum Kemitraan Buffer Stocks
Aturan main didesain berdasarkan keaepakatan para pihak yang terlibat dalam kemitraan dengan prinsip musyawarah dan mufakat yang selanjutnya akan dituangkan dalam Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) kemitraan. Aturan main meskipun diatur sesuai kesepakatan antar pihak tetapi secara umum agar tujuan kebijakan stabilisasi harga dapat tercapai maka diupayakan tidak menyimpang dari aturan pokok kemitraan buffer stock sebagai berikut;
a. Tujuan program kemitraan adalah untuk persediaan (stock) ternak sapi potong pemerintah yang digunakan untuk tujuan stabilisasi harga daging sapi potong terutama menghadapi hari besar keagamaan.
b. Kemitraan adalah kerjasama dalam penyediaan stock ternak sapi untuk stabilisasi harga antara pemerintah dengan kelompok peternak atau pihak lain yang potensial sebagai mitra.
c. Buffer Stock adalah ternak sapi pemerintah yang digaduhkan kepada rumah tangga anggota kelompok mitra yang digunakan sebagai stok penyangga dalam kebijakan stabilisasi harga daging sapi.
d. Kebijakan stabilisasi harga daging sapi adalah kebijakan intervensi pasar pemerintah guna mempengaruhi secara langsung harga pasar melalui operasi pasar langsung dengan pelepasan stok guna memperbesar supply daging mengahadapi kenaikan permintaan yang tinggi.
e. Pola kemitraan dikembangkan adalah pola bagi hasil antara pemerintah sebagai inti dan rumah tangga peternak anggota kelompok sebagai plasma dengan menguatamkan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 12
f. Kelembagaan kemitraan mencakup pelaku (a player) yaitu pihak-pihak yang terlibat dalam kemitraan dan aturan main (rule of law) yaitu kesepakatan para pihak yang wajib untuk dipatuhi.
g. Aturan main mengatur tentang hak dan kewajiban masing-masing pihak yang terlibat dalam kemitraan buffer stock sapi potong untuk tujuan stabilisasi harga.
h. Hak adalah seluruh nilai manfaat yang akan diterima oleh pihak-pihak terlibat dalam kemitraan, sedangkan kewajiban adalah seluruh kesepakatan yang harus dilaksanakan pihak-pihak terlibat.
i. Pemerintah wajib untuk menyediakan ternak sapi bakalan tepat waktu dengan spesifikasi yang telah ditentukan untuk program penggemukan. j. Pemerintah wajib menyediakan tenaga pendamping lapangan yang
berfungsi sebagai manajer, administrator dan fasilitator lapangan.
k. Petugas pendamping lapangan berhak mendapat insentif tetapi harus berdomisili di wilayah sasaran atau daerah terdekat (minimal masih dalam 1 kecamatan).
l. Kelompok mitra adalah kelompok peternak yang telah memiliki pengalaman minimal 3 tahun dalam pemeliharaan ternak sapi potong baik gaduhan pemerintah maupun pihak lainnya.
m. Kelompok mitra dapat mengenakan biaya adminstrasi sesuai
kesepakatan dalam kelompok dan digunakan untuk menunjang aktivitas kelompok terutama dalam pengawasan rumah tangga penerima gaduhan ternak sapi bakalan.
n. Rumah tangga mitra adalah rumah tangga penerima gaduhan yang tercatat sebagai anggota kelompok dengan syarat telah menjadi anggota lebih dari 1 tahun dan memiliki pengalaman budidaya ternak sapi potong.
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
o. Rumah tangga mitra dilarang untuk menjual dan/atau menukar ternak sapi gaduhan diluar waktu yang telah ditentukan kecuali akibat alasan tertentu dan sepengetahuan petugas pendamping lapangan dan disahkan oleh dinas terkait.
p. Rumah tangga mitra berhak untuk mendapatkan bagian hasil dari proses penggemukan yang proporsinya berdasarkan kesepakatan dalam SPK dan dihitung berdasarkan selisih antara harga jual sapi siap potong dan harga bakalan.
q. Seluruh biaya pemeliharaan ditanggung oleh peternak kecuali dalam hal tertentu dapat bersumber dari pemerintah yang sifatnya hibah atau tidak dibebankan sebagai biaya pemerintah.
r. Aturan lanjutan adalah segala sesuatu yang mengatur secara lebih rinci aturan main yang disepakati dalam menunjang keberhasilan kemitraan buffer stock sapi potong.
4.3.2.1. Distribusi Nilai Manfaat Kemitraan Buffer Stocks
Pola bagi hasil kemitraan dilakukan berbasis pada nilai tambah yang diperoleh yaitu selisih harga ternak sapi siap potong (PP) dan harga bakalan
(PB). Sumber nilai tambah yang diperoleh dapat berasal dari peningkatan
bobot badan selama penggemukan dan perbedaan harga jual untuk setiap unit ternak yang dipelihara. Berdasarkan pada hal tersebut maka penerimaan masing-masing pihak sangat terkait dengan keberhasilan proses penggemukan oleh peternak mitra dan ketepatan dalam pengadaan bakalan dan penjualan sapi siap potong oleh manajemen buffer stock. Secara umum harga bakalan pada saat permintaan pasar rendah lebih murah dan harga sapi siap jual atau potong akan meningkat pada saat permintaan tinggi seperti menyambut puasa, lebaran dan hari raya qurban atau idul adha. Hal ini menjadi dasar bahwa manajemen budidaya dan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 14
stock ternak sapi harus dikelola secara baik dengan memperhatikan kondisi pasar.
Sistem bagi hasil menggunakan pola 50 ; 50 yaitu besarnya nilai tambah yang diterima peternak mitra (VP)dan manajemen buffer stock (VM)
masing-masing separo dari nilai tambah, atau secara matematik sederhana dapat disajikan seperti rumus berikut;
2 t 1 P P V V P B VA M P bagian nilai tambah yang diterima peternak mitra dan manajemen buffer stock adalah sama besar. Nilai tambah program bagi peternak mitra merupakan penerimaan kotor yang belum dikurangi biaya untuk pemeliharaan ternak sapi selama periode penggemukan. Besarnya nilai tambah yang didistribusikan adalah nilai tambah setelah dikurangi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Jika PPN tidak dipungut maka dapat sebagai sumber PAD yang disetor langsung ke kas pemerintah daerah yang besarnya 11,5% dari nilai tambah.
Penerimaan bersih atau keuntungan yang diperoleh masing-masing pihak tergantung pada beban biaya yang harus dikeluarkan. Keuntungan yang diperoleh petani mitra perperiode adalah penerimaan dari bagi hasil setelah dikurangi kewajiban fee bagi kelompok dan total biaya untuk pemeliharaan ternak sapi potong;
P K p
p V F TC
π
Pemanfaatan keuntungan diserahkan pada rumah tangga peternak mitra dan menjadi sumber income bagi mereka. Manajemen hanya dapat menyarankan agar peternak mitra menyisihkan sebagian keuntungan untuk reinvestasi seperti menambah kapasitas kandang ternak sapi potong guna peningkatan skala usaha atau minimal perbaikan kandang dan sarana prasarana lain. Peningkatan kapasitas kandang milik peternak mitra diharapkan mampu mengikuti peningkatan skala buffer stock. Peningkatan
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
skala buffer stock dilakukan melalui penyisihan sebagian keuntungan untuk reinvestasi. Keuntungan diperoleh setelah penerimaan kotor atau bagian hasil yang menjadi hak manajemen dikurangi dengan biaya operasional lembaga dan adminstrasi manajemen. Keuntungan yang akan digunakan untuk pembeliaan bakalan baru adalah keuntungan setelah dikurangi pajak keuntungan.
Secara lebih ringkas distribusi nilai manfaat pengembangan kemitraan peternak pengelola buffer stock sapi potong disajikan pada Gambar 4.5.
Gambar 4.5.
Distribusi Nilai Tambah dan Pemanfaatan
4.3.2.2. Mekanisme Reward and Punishment Kemitraan Buffer Stock Manajemen buffer stock menetapkan suatu standar produktivitas ternak sapi yang disepakati bersama antara peternak dan kelompok mitra. Untuk memacu peningkatan motivasi manajemen budidaya yang lebih baik bagi peternak mitra. Insentif yang diterima peternak mitra yang mampu melampaui capaian standar produktivitas, yaitu;
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 16
a. Insentif langsung yang nilainya ditentukan menggunakan basis standar produtivitas. Besarnya insentif yang akan diterima adalah 100% bagi hasil dari selisih antara nilai capaian (PC) dengan nilai standar
produktivitas (PS) yang ditetapkan. Perhitungan matematis untuk
menentukan besarnya insentif menggunakan formula berikut;
R P P V I TV
VA S c VA B s P P P 1 t 2 t 1 P P TV TVP = total nilai yang diterima peternak (Rp) IR = nilai insentif (Rp)
tVA = tingkat pajak pertambahan nilai (%) PC = nilai capaian produksi peternak mitra (Rp) PS = nilai standar produksi ditetapkan (Rp) PB = nilai bakalan (Rp)
b. Insentif tidak langsung sebagai peternak mitra prioritas penerima sapi bakalan dengan jumlah yang lebih banyak dibanding rata-rata jatah bakalan untuk peternak lainnya.
Pada sisi lain, bagi peternak mitra yang lalai atau melakukan kesalahan dan menyebabkan kerugian bagi pihak-pihak bermitra akan dikenakan sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Klasifikasi sanksi bagi peternak dan kelompok mitra pengelola berdasarkan tingkat kesalahannya adalah;
a. Pengabaian dari sanksi jika terbukti kejadian yang merugikan pihak- pihak lebih disebabkan oleh faktor alam dan diluar kemampuan manusia (post-major).
b. Peringatan lisan dan tertulis apabila kejadian yang merugikan pihak- pihak terbukti akibat kelalaian dari peternak atau kelompok mitra dan tidak disengaja.
c. Pengenaan denda atau kewajiban ganti rugi apabila kejadian yang merugikan pihak-pihak bermitra disebabkan oleh karena peternak dan kelompok mitra secara sengaja melanggar aturan yang telah disepakati.
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Implikasi dari sanksi yang diberikan apabila tidak dipatuhi oleh pihak-pihak antara lain;
a. Pengurangan jumlah ternak sapi bakalan yang diterima peternak dan kelompok mitra untuk dialihkan ke kelompok mitra lainnya.
b. Pemutusan hubungan kemitraan secara parsial antara manajemen buffer stock dengan peternak mitra.
c. Pemutusan hubungan kemitraan secara total antara manajemen buffer stock dengan kelompok mitra.
d. Penuntutan secara hukum apabila penyelesaian secara kekeluargaan melalui jalur musyawarah tidak menemui kesepakatan.
5.1. Skala Pengembangan Buffer Stock Sapi Potong
Faktor utama yang perlu diperhatikan dalam analisis kelayakan adalah skala pengembangan yang menunjukkan kapasitas produksi dari buffer stock. Penentuan kapasitas produksi buffer stock untuk pemenuhan operasi pasar tahun 2011 didasarkan pada 3 komponen, yaitu;
- Trend kebutuhan pasar khusus puasa dan lebaran berdasarkan data historis,
- Kelompok wilayah sasaran adalah konsumen daging ternak sapi dan kerbau (ruminansia besar) yang ada di Kota Jambi dan sekitarnya. - Target capaian yang ditetapkan pada tahun 2011 adalah kenaikan harga
daging tidak melebihi perkiraan angka inflasi Kota Jambi yaitu sekitar 5 - 10%.
5.1.1. Trend Kebutuhan Pasar Khusus
Definisi kebutuhan pasar khusus adalah kebutuhan ternak sapi potong pada saat permintaan mengalami kenaikan signifikan yaitu saat puasa dan lebaran. Fluktuasi kebutuhan khusus pasar ini dibagi atas 3 kelompok utama yaitu 3 hari menjelang puasa. 27 hari puasa, dan 3 hari menjelang lebaran. Trend perkembangan kebutuhan dan harga daging sapi/kerbau ketiga kelompok periode selama periode waktu 2007 – 2010 disajikan pada Tabel 5.1.
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Tabel 5.1. Perkembangan Kebutuhan dan Harga Daging Ternak Sapi dan Kerbau Per-Periode Selama Kurun Waktu 2007 - 2010
No Periode Tahun Kebutuhan (ekor) Harga pasar daging (Rupiah/kg) Total Harian Terendah Tertinggi Rataan
1 3 hari jelang puasa 2007 200 66.67 60,000 65,000 62,500 2008 138 46.00 65,000 80,000 72,500 2009 145 48.33 70,000 80,000 75,000 2010 137 45.67 70,000 80,000 75,000 2 27 hari selama puasa 2007 500 18.52 60,000 65,000 62,500 2008 563 20.85 65,000 70,000 67,500 2009 600 22.22 68,000 70,000 69,000 2010 627 23.22 70,000 75,000 72,500 3 3 hari jelang lebaran 2007 580 193.33 60,000 70,000 65,000 2008 425 141.67 75,000 80,000 77,500 2009 450 150.00 75,000 85,000 80,000 2010 452 150.67 80,000 90,000 85,000
Sumber; Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2010
Kebutuhan 3 hari menjelang puasa dan lebaran mengalami penurunan dari tahun 2007 tetapi kembali berangsur naik sejak tahun 2009. Penurunan ini diduga sebagai imbas dari krisis ekonomi global yang melanda Provinsi Jambi terutama akibat turunnya harga komoditas sawit dan karet sebagai penggerak utama perekonomian masyarakat Provinsi Jambi. Melemahnya daya beli masyarakat menyebabkan permintaan terhadap daging sapi dan kerbau mengalami penurunan. Pada sisi lain untuk kebutuhan 27 hari puasa tetap memiliki trend yang meningkat dari tahun ke tahun selama periode 2007 – 2010.
Perilaku permintaan terhadap daging mengalami peningkatan awal pada saat 3 hari menjelang puasa dan selanjutnya menurun kembali pada 27 hari puasa. Kenaikan drastis permintaan akan terjadi pada 3 hari menjelang lebaran seperti disajikan pada fluktuasi permintaan sapi potong perperiode selama kurun waktu 4 tahun terakhir (Gambar 5.1).
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 3
Gambar 5.1.
Fluktuasi Kebutuhan Perhari Sapi Potong
Perilaku konsumen seperti di atas
mengindikasikan bahwa pada
dasarnya intervensi pemerintah dalam bentuk operasi pasar akan efektif dilakukan pada kedua periode ini. Intervensi dilakukan untuk mencegah dampak negatif
bagi konsumen berupa
melambungnya harga daging atau kenaikan harga yang berlebihan sebagai implikasi dari peningkatan drastis permintaan.
Intervensi pasar pemerintah melalui operasi pasar dan pemberian subsidi harga daging, telah mampu mengurangi dampak negatif. Trend kenaikan harga daging relatif sama dengan kenaikan permintaan tetap proses kenaikan menjelang lebaran tidak
setajam kenaikan permintaan
seperti disajikan pada Gambar 5.2.
Gambar 5.2.
Perkembangan Harga Daging Masing- masing Periode Selama 2007-2010
Harga daging sapi atau kerbau pada tahun terakhir (2010) periode 3 hari menjelang lebaran telah
mencapai Rp. 85.000/kg dan
diperkirakan akan kembali turun pasca lebaran seiring menurunnya permintaan tetapi tetap dikisaran Rp. 80.000/kg. Berdasarkan pengalaman
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
dan data historis maka harga ini akan menjadi basis bagi terbentuknya harga pasar daging sapi dan kerbau pada tahun berikutnya.
Berdasarkan perkembangan data selama 3 tahun terakhir maka pada tahun 2011 kebutuhan sapi potong untuk seluruh Provinsi Jambi mencapai angka 1.239 ekor yang terdiri dari 129 ekor (43 ekor/hari) pada periode H-3 puasa, 655 ekor (24 ekor/hari) periode H-27 puasa dan 454 ekor (24 ekor/hari) pada H-3 lebaran. Jika operasi pasar diperlukan hanya pada periode H-3 puasa dan lebaran, maka kebutuhan selama 6 hari utama ini mencapai 583 ekor atau rata-rata 97 ekor/hari. Jika pemerintah bermaksud menguasai stock dengan menguasai 80% supplay pasar agar capaian tujuan operasi pasar lebih efektif maka jumlah stock ternak sapi penyangga yang dikuasai pemerintah adalah 467 ekor.
5.1.2. Pemotongan Ternak Besar untuk Kebutuhan Kota Jambi dan Sekitarnya
Pemotongan ternak besar (sapi dan kerbau) untuk memenuhi kebutuhan daging konsumen Kota Jambi dan sekitarnya dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) maupun luar RPH. Perilaku pemotongan ternak dapat dilihat dari komposisi pemotongan ternak sapi dan kerbau menghadapi lebaran pada Tabel 5.2.
Tabel 5.2. Pemotongan Ternak Sapi dan Kerbau Per-Periode Menghadapi Permintaan Konsumen Kota Jambi dan Sekitarnya Tahun 2010
No Pemotongan
Total (ekor) Rataan (ekor/hari) Sapi Kerbau Jumlah Sapi Kerbau Jumlah 1 H-3 puasa 55 46 101 18.33 15.33 33.67 2 H27 435 285 720 16.11 10.56 26.67 3 H-3 lebaran 217 242 459 72.33 80.67 153.00 4 H+15 lebaran 46 35 81 3.07 2.33 5.40 Total 753 608 1361 109.84 108.89 218.73
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 5
Lonjakan pertama kenaikan jumlah pemotongan perhari terjadi pada saat H-3 puasa dan sempat menurun pada saat awal puasa sampai menjelang
lebaran. Kenaikan kedua jumlah
pemotongan perhari yang sangat besar terjadi pada saat H-3 lebaran dan kembali turun setelah lebaran (Gambar 5.3).
Gambar 5.3.
Fluktuasi Pemotongan Ternak Besar dan Harga Daging H-3 Puasa dan Lebaran 2010
Operasi pasar yang dilakukan oleh
pemerintah selama ini mampu
mengurangi kenaikan drastis harga yang mengikuti kenaikan permintaan. Hal ini terlihat dari fluktuasi jumlah pemotongan yang lebih besar diikuti dengan kenaikan harga daging yang
lebih halus “smooth”.
Tabel 5.3. Estimasi Kebutuhan Sapi dan Kerbau Menghadapi Permintaan Konsumen Kota Jambi dan Sekitarnya Tahun 2011
No Perkiraan Kebutuhan
Total (ekor) Rataan (ekor/hari) Sapi Kerbau Jumlah Sapi Kerbau Jumlah A Tahun 2010 1 H-3 puasa 55 46 101 18 15 34 2 H-3 lebaran 217 242 459 72 81 153 B Tahun 2011 1 H-3 puasa (g= -0.22%) 55 46 101 18 15 34 2 H-3 lebaran (g=3.16%) 224 318 604 75 106 201 Jumlah 279 364 705 91 96 187 C Buffer Stock 2011 (80%) 237 310 599 77 82 159
Berdasarkan estimasi maka kebutuhan minimal untuk operasi pasar selama 6 hari khususnya sapi mencapai 237 ekor, sedangkan untuk skala buffer
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
stock jumlah sapi bakalan awal harus lebih dari jumlah tersebut. Hal ini disebabkan karena adanya resiko kegagalan dalam proses produksi atau penggemukan oleh petani mitra baik berupa kematian ternak maupun pencapaian bobot jual standar. Untuk itu skala ideal untuk pengembangan kemitraan buffer stock sapi potong jika diasumsikan dimulai pada tahun 2011 adalah 250 ekor. Pengembangan dapat dilakukan pada 1 atau 2 lokasi tergantung ketersediaan sumberdaya rumah tangga peternak mitra dalam kelompok tertentu.
5.2. Kelayakan Pengembangan Kemitraan Buffer Stock Sapi Potong
Guna menilai kelayakan rencana pengembangan model kemitraan pengelolaan ternak sapi potong penyangga (buffer stock) untuk stabilisasi harga daging sapi digunakan 5 (lima) kriteria, yaitu kelayakan sosial, teknis, kelembagaan, dan finansial serta ekonomi. Tiga kriteria kelayakan pertama menggunakan pendekatan analisis deskriptif, yaitu 1) kelayakan sosial untuk melihat distribusi nilai manfaat pengembangan buffer stock sapi potong bagi masyarakat dan 2) kelayakan teknis untuk melihat kesiapan sumberdaya untuk pengembangan kemitraan buffer stock sapi potong terutama sumberdaya manusia dan kelompok yang terlibat langsung dalam pengelolaan, serta 3) kelayakan kelembagaan terkait dengan dukungan peraturan tentang pembagiaan wewenang untuk pemerintah daerah dan bentuk kelembagaan yang potensial dikembangkan tanpa melanggar aturan formal yang berlaku.
Kelayakan finansial dan ekonomi keduanya menggunakan pendekatan analisis finansial dengan kriteria tertentu tetapi berbeda dalam ruang lingkup analisis. Kelayakan finansial hanya terbatas pada kelayakan finansial dalam internal manajemen buffer stock, sedangkan kelayakan ekonomi mencakup analisis yang lebih luas antara lain dampak finansial terhadap ekonomi rumah tangga dan kelompok peternak mitra sapi
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 7
potong serta potensi penerimaan untuk pemerintah daerah baik pajak maupun non-pajak. Hasil analisis untuk masing-masing kriteria kelayakan dalam pengembangaan kemitraan pengelolaan buffer stock ternak sapi sebagai berikut.
5.2.1. Kelayakan Teknis
Secara teknis pengembangan kemitraan program buffer stock sapi potong dapat dilaksanakan karena di sekitar wilayah sub-urban baik dalam Kota Jambi maupun perbatasan Kabupaten Muaro Jambi dan Batanghari telah banyak berkembang kelompok peternak sapi potong. Secara teknis penguasaan teknik budidaya mereka telah berkembang secara baik meskipun dalam skala usaha yang relatif masih rendah. Ketersediaan sumberdaya manusia (tenaga kerja) sebagai penggaduh ditunjang dengan masih tersedianya berbagai sumber hijauan pakan ternak dan sumber pakan lain terutama konsentrat dan limbah pertanian. Pelaksanaan peran pemerintah daerah sebagai regulator sesuai dengan UU No. 32 tahun 2004 terutama terkait dengan kewenangan spesifik memberikan kerangka legal formal perlunya pengembangan kebijakan stabilisasi harga daging karena kondisi produksi daging yang masih mengalami defisit. Permintaan masyarakat yang tinggi pada saat tertentu perlu disikapi dengan melakukan intervensi pasar sehingga konsumen tidak dirugikan tetapi sekaligus anggaran kebijakan lebih tepat sasaran.
Secara teknis model kemitraan dapat dilakukan karena kemitraan antara pemerintah dan kelompok peternak dengan pola bagi hasil sudah terjalin lama. Selama ini setiap bantuan ternak sapi bakalan oleh pemerintah daerah selalu dilakukan melalui kelompok dan tidak langsung kepada rumah tangga. Kelompok penerima bantuan ini dapat dijadikan sebagai mitra karena secara teknis telah memiliki pengalaman dalam budidaya sapi potong untuk tujuan penggemukan. Adopsi sistem dengan sedikit
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
modifikasi aturan main yang lebih spesifik, sehingga secara teknis kemitraan akan lebih mudah dikembangkan. Ketersediaan kelompok mitra lebih dari mencukupi dan tersebar pada beberapa wilayah sub-urban Kota Jambi dan wilayah lainnya di Kabupaten Muaro Jambi dan Batanghari. Jumlah kelompok potensial untuk masing-masing wilayah potensial untuk pengembangan kemitraan disajikan pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4. Jumlah Kelompok Peternak Sapi dan Anggota Rumah Tangga Penerima Bantuan Ternak Sapi Bakalan 2 Tahun Terakhir
No Sumber Dana dan Tahun Anggaran
Wilayah
Kota Jambi Muaro Jambi 1 Tahun 2009 a. Jumlah Bakalan b. Jumlah Desa/Kelurahan 100 1 75 2
c. Nama Desa/Kelurahan Desa Kenali Asam Desa Lopak Air Desa Kasang Pudak 2 Tahun 2010 a. Jumlah Bakalan b. Jumlah Desa/Kelurahan 150 3 150 2 c. Nama Desa/Kelurahan Desa Bagan Pete (36)
Desa Sijinjang (50) Kel Ekajaya(57)
Desa Nyogan Desa Suka Maju 3 Total 2 tahun terakhir
a. Jumlah Bakalan b. Jumlah Desa/Kelurahan 250 4 225 4
Sumber; Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jambi, 2010
Berdasarkan data penyebaran ternak sapi penggemukan dana APBD Provinsi Jambi pada kedua wilayah tersebut diatas maka secara teknis ketersediaan rumah tangga peternak sudah memenuhi syarat. Jika diasumsikan pada tahun tersebut setiap rumah tangga memperoleh 3 – 4 ekor ternak bakalan maka jumlah rumah tangga peternak untuk Desa Kenali Asam Kota Jambi saja mencapai sekitar 25 – 33 KK, sedangkan untuk Desa Nyogan dan Sukamaju di Kabupaten Muaro Jambi masing- masing mencapai 20 – 25 KK. Pengembangan kemitraan membutuhkan prospek usaha yang menguntungkan sehingga mampu menjadi faktor pendorong peningkatan motivasi usaha rumah tangga peternak mitra. Pengalaman usaha penggemukan sapi yang telah ada pada rumah tangga
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
Hal 9
dan kelompok pada dasarnya dapat dijadikan dasar bagi peningkatan skala usaha rumah tangga menjadi 8 – 10 ekor/KK. Skala usaha ini cukup memberikan prospek bagi ekonomi rumah tangga sehingga dengan jumlah rumah tangga yang ada maka pengembangan buffer stock dengan skala 250 ekor bakalan sangat memungkinkan untuk dikembangkan dalam satu wilayah atau kelompok.
5.2.2. Kelayakan Sosial Kelembagaan
Pada sisi lain rencana pengembangan kemitraan buffer stock sapi potong ditinjau dari aspek sosial juga layak untuk dikembangkan. Kebijakan stabilisasi harga yang selama ini dilakukan oleh pemerintah daerah terutama memasuki bulan puasa (ramadhan) dan lebaran (idul fitri) adalah subsidi langsung kepada para konsumen melalui pedagang mitra. Dana subsidi yang dikucurkan pemerintah selama ini lebih banyak dinikmati oleh kelompok pedagang yang bukan menjadi sasaran utama kebijakan, dan berdasarkan analisis kebijakan subsidi hal ini disebabkan oleh;
a. Kurva permintaan yang lebih elastis dibanding kurva penawaran menyebabkan nilai tambah kesejahteraan lebih banyak dinikmati oleh para supplier dalam hal ini para pedagang pengumpul (besar). Para pedagang besar ini umumnya memiliki stock ternak yang disupply melalui pembelian stock dari peternak luar daerah.
b. Ternak sapi siap potong yang dilepas oleh pedagang umumnya adalah stock bakalan yang diperoleh pada saat permintaan (harga) rendah, sehingga harga di tingkat peternak rakyat pada dasarnya tidak mengalami kenaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa subsidi tidak dinikmati oleh peternak sapi potong rakyat dan pedagang menikmati kesejahteraan lebih besar yang bersumber dari selisih harga (periode pengadaan dan pelepasan) dan subsidi harga dari pemerintah.
Buffer Stock Stabilisasi Harga Daging
c. Pengadaan sebagian besar sapi siap potong dari luar daerah Provinsi