PENGARUH HUKUM TERHADAP PENANGGULANGAN
PENCEMARAN LINGKUNGAN TERHADAP INDUSTRI RUMAH
TANGGA PENGOLAHAN IKAN ASIN NGABEAN MAKMUR
KENDAL
Terry Rangga Nugraha Dicky Novan Yudianto
[email protected] [email protected]
FAKULTAS HUKUM
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Library Research yang berjudul “Pengaruh Hukum Terhadap Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Terhadap Industri Rumah Tangga Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal” ini dengan baik.
Terselesaikannya Library Research ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak yang rela memberikan ilmunya kepada penulis. Sehingga penulis tanpa mengurangi rasa hormat untuk mengucapkan banyak terimakasih kepada:
1. Ibu Dr. Rodiyah, S.Pd., S.H., M.Si. Selaku Dekan Fakultas Hukum Unnes yang telah memberikan ijin penulis untuk dapat mencari ilmu dan pengetahuan di Fakultas Hukum Unnes
2. Bapak Ridwan Arifn, S.H., LI.m. Selaku Dosen Mata Kuliah Hukum Lingkungan yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan Library Research yang penulis kerjakan.
3. Tokoh-tokoh masyarakat Desa Ngabean, Kendal yang telah mengijinkan penulis untuk melakukan penelitian di Desa Ngabean
4. Pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa Library Research ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan mutu makalah ini. Semoga Library Research ini dapat bermanfaat bagi para pembaca, khususnya bagi mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa Indonesia.
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman Sampul... i
Kata Pengantar... ii
Daftar Isi... iii
Daftar Tabel/Gambar... iv
Bab I Pendahuluan... 1
A.Latar Belakang... 1
B.Rumusan Masalah... 2
C.Metode Penulisan... 3
Bab II Hasil dan Pembahasan... 4
1. Keadaan Limbah Home Industry Pengolahan Ikan Ngabean Makmur Kendal... 5
2. Penanggulangan Limbah Home Industry Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal... 6
3. Pengaruh Hukum terhadap Penggulangan Pencemaran Lingkungan Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal... 9
Bab III Kesimpulan... ... 13
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Istilah lingkungan dan lingkungan hidup atau lingkungan hidup manusia sebagai terjemahan dari bahasa inggris environment and human environmnet, seringkali digunakan digunakan secara silih berganti dalam pengertian yang sama. Sekalipun arti lingkungan dan lingkungan hidup manusia dapat diberi batasan yang berbeda-beda berdasarkan persepsi dan disiplin ilmu tiap-tiap penulis, dalam tulisan ini istilah lingkungan atau lingkungan hidup diartikan sama dalam arti luas. Lingkungan atau lingkungan hidup manusia adalah jumlah semua benda dan kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati yang mempengaruhi kehidupan kita (Otto Sunarwoto,1976). Batasan tentang lingkungan berdasarkan isinya untuk kepentingan praktis atau kebutuhan analisis kita perlu dibatasi hingga lingkungan dalam arti biosphere saja, yaitu permukaan bumi, air dan atmosfr tempat terdapat jasad-jasad hidup. Batasan lingkungan hidup dalam arti ini adalah semua benda, daya, kehidupan, termasuk di dalamnya manusia dan tingkah lakunya yang terdapat dalam satu ruang, yang mempengaruhi kelangsungan dan kesejahteraan manusia serta jasad-jasad hidup lainnya. Dari pengertian diatas tingkah laku manusia pun merupakan bagian dari lingkungan. Manusia mempunyai hubungan timbal balik dengan lingkungannya.1
Pelestarian lingkungan hidup mempunyai arti bahwa lingkungan hidup harus dipertahankan sebagaimana keadaannya. Sedangkan lingkungan hidup itu justru dimanfaatkan dalam kerangka pembangunan. Hal ini berarti bahwa lingkungan hidup mengalami proses perubahan. Dalam proses perubahan ini perlu dijaga agar lingkungan hidup itu tetap mampu menunjang kehidupan yang normal, sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Hukum lingkungan hidup merupakan instrumen yuridis yang memuat kaidah-kaidah tentang pengelolaan lingkungan hidup bertujuan untuk mencegah penyusutan dan kemerosotan mutu lingkungan. Makna penegakan didalam hukum lingkungan dimaksudkan upaya menegakkan hukum material
1 Daud Silalahi, Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan
khususnya yang terdapat pada Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup yang selanjutnya disingkat dengan UUPPLH.
Penegakan hukum dalam UUPPLH terdiri dari: penegakan hukum administrasi, Penegakan hukum perdata, dan penegakan hukum pidana. Pencemaran adalah masuk atau
dimasukkannya mahluk hidup, zat,energi, dan/atau komponen lain ke dalam air/udara, dan/atau berubahnya tatanan (komposisi) air/udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air/udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya. Untuk mencegah terjadinya pencemaran terhadap lingkungan oleh berbagai aktivitas industri dan aktivitas manusia, maka diperlukan pengendalian terhadap pencemaran lingkungan dengan menetapkan baku mutu lingkungan.
Baku mutu lingkungan adalah batas kadar yang diperkenankan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di lingkungan dengan tidak menimbulkan gangguan terhadap makhluk hidup, tumbuhan atau benda lainnya. Pencemaran lingkungan dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu : Pencemaran Air, Pencemaran Udara, dan Pencemaran Tanah. Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansifsik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti.
atau sisa yang dihasilkan dari suatu proses atau kegiatan dari industri maupun domestik (rumah tangga).
B.Rumusan Masalah
1. Bagaimana keadaan Limbah Home Industry Pengolahan Ikan Ngabean Makmur Kendal?
2. Bagaimana Penanggulangan Limbah Home Industry Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal?
3. Bagaimana Pengaruh Hukum terhadap Penggulangan Pencemaran Lingkungan Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal?
C.Metode Penulisan
Menurut Soekanto dan Mamudji (1983: 1) menyatakan bahwa “Penelitian merupakan suatu sarana pokok dalam pengembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Hal ini disebabkan oleh karena penelitian bertujuan untuk mengungkapkan kebenaran secara sistematis, metodologis, dan konsisten”. Metode penelitian adalah “suatu cara atau langkah yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya” (Arikunto 2002: 151). Menurut Ronny Hanitijo Soemitro, penelitian pada umumnya bertujuan untuk menentukan, mengembangkan atau menguji kebenaran suatu pengetahuan. Menemukan berarti berusaha memperoleh suatu untuk mengisi kekosongan atau kekurangan. Mengembangkan berarti memperluas dan menggali lebih dalam sesuatu yang sudah ada. Menguji kebenaran dilakukan jika apa yang sudah ada masih atau menjadi diragu-ragukan kebenarannya. (Ronny Hanitijo Soemitro, 1985: 15). Hukum dimaksudkan sebagai kegiatan ilmiah yang berdasarkan pada sistematis dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau lebih gejala-gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisisnya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap faktor-faktor hukum tersebut. Untuk kemudian mengusahakan sesuatu pemecahan atas permasalahan yang timbul antara segala hal yang bersangkutan.2
1. Wawancara
2 Gatot Sumartono, Hukum Lingkungan Indonesia (Jakarta: Sinar Grafka, 2004),
Metode wawancara ini dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab langsung dengan narasumber yang terkait, yaitu warga masyarakat yang berada di sekitar lingkungan Home Industry pengolahan ikan Ngabean Makmur Kendal.
2. Observasi
Metode observasi ini dilakukan dengan cara mengamati kondisi fsik dari pembuangan limbah ke sungai yang tidak diolah dengan secara benar sehingga menimbulkan bau disekitar pengolahan home industry tersebut dan yang menyebabkan tercemarnya ekosistem sungai.
3. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu dan tempat yang penulis gunakan untuk melakukan wawancara dan observasi guna mencari data dan hasil dalam membuat laporan ini, yaitu:
A. Waktu :
1. Minggu ,1 Oktober 2017. Pukul 13.00 – 14.30 2. Jumaat, 6 Oktober 2017. Pukul 14.00 – 15.30 3. Sabtu, 7 Oktober 2017. Pukul 10.00-11.00 WIB
B. Tempat :
1. Home Industry Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal. Jalan Raya Ngabean Nomor 72- 74, Kendal, Jawa Tengah.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.Keadaan Limbah Home Industry Pengolahan Ikan Ngabean Makmur Kendal
Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga). Setiap industri pasti akan menghasilkan limbah. Limbah padat lebih dikenal sebagai sampah. kehadiran limbah dapat berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Dalam hal ini pemerintah sudah menetapkan peraturan mengenai pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun yaitu tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Peraturan tersebut mengatur tentang upaya pengurangan, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, penggolahan dan penimbunan limbah B3.3
3 Bustami Ibrahim,“Kaji Ulang Sistem Pengolahan Limbah Cair Industri Hasil Perikanan
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di home industry pengolahan
2.Limbah cair, yaitu berupa darah, lender, dan air bekas cucian ikan.
3.Limbah gas, yaitu berupa bau yang ditimbulkan karena adanya senyawa amonia, hidrogen sulfda atau keton yang dihasilkan dari mulai pembelahan ikan, lalu pengeluaran isi ikan, pencucian ikan, hingga penjemuran ikan.
Sisik ikan yang tidak terpakai biasanya diminta atau diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan untuk diolah kembali untuk dijadikan kerajinan tangan. Namun, jika sisik tersebut tidak ada yang membutuhkan maka akan dibuang disungai belakang tempat pemroduksian. Sama halnya dengan kulit ikan dan isian perut ikan, biasanya akan diminta atau diberikan kepada orang sebagai campuran pakan ternak (ayam dan bebek). Tetapi, jika tidak ada yang memintanya maka akan dibuang disungai. Selanjutnya pada limbah cair, yaitu darah, lender, dan air bekas cucian ikan. Limbah ini biasanya dibuang ke sungai karena tidak memiliki manfaat apa-apa. Air inilah yang menjadi limbah yang sangat mencemari lingkungan. Baunya yang sangat amis dan busuk terasa sangat menyengat jika kita sedang melewati sungai Ngabean yang biasanya digunakan oleh masyarakat sekitar untuk kegiatan sehari- hari.
Lalu pada limbah gas yang berupa bau amis dan busuk yang ditimbulkan karena adanya senyawa amonia, hidrogen sulfda atau keton yang dihasilkan oleh ikan-ikan tersebut dari mulai pembelahan hingga penjemuran. Bau inilah yang seringkali diresahkan oleh warga sekitar. Banyak warga yang mengeluhkan bau tersebut seperti yang dituturkan oleh Rizal, seorang warga sekitar sungai Ngabean, yang pada intinya mengungkapkan rasa kekesalannya terhadap aktivitas pengolahan ikan asin Ngabean Makmur Kendal.
Limbah daripada industri pengolahan ikan asin Ngabean Makmur Kendal semua limbah langsung dibuang ke sungai Ngabean tanpa dilakukannya suatu cara untuk mengolah limbah tersebut, banyak warga masyarakat yang hanya
lewat saja di depan atau sekitaran tempat produksi pengolahan ikan asin tersebut mengeluhkan bau yang sangat menyengat dan ditambah lagi sungai tempat warga sekitar melakukan kegiatan tersebut terkontamisai terhadap limbah-limbah sisa hasil pengolahan ikan asin tersebut.
Warga yang bermukim berada disekitaran tempat produksi ikan asin tersebut sudah melakukan protes terhadap pemilik tempat produksi tersebut namun dikarenakan warga tersebut tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan kegiatan pengolahan tersebut maka pemilik dari pada tempat produksi pengolahan ikan asin tetap saja menjalankan kegiatan pengolahan ikan asin. pidana ini dituangkan dalam undang-undang yang sedikit banyak mempunyai peran untuk melakukan rekayasa sosial (social engeneering).4 Yaitu yang
meliputi perumusan tindak pidana (criminal act), pertanggungjawaban pidana, dan sanksi (sanction) baik pidana maupun tata-tertib.Sesuai dengan tujuan yang tidak hanya sebagai alat ketertiban, hukum lingkungan mengandung pula tujuan pembaharuan masyarakat (social engineering). Hukum sebagai alat rekayasa sosial sangat penting dalam hukum lingkungan. Upaya penanggulangan merupakan cara tepat untuk mengurangi dan menghilangkan suatu permasalahan, Penanggulangan limbah adalah upaya pengolahan limbah yang bertujuan agar limbah tersebut menjadi lebih bermanfaat atau bertujuan untuk mengurangi dampak yang akan disebabkan oleh limbah tersebut demi kelestarian lingkungan. Berbagai teknik penanganan dan pengolahan limbah telah dikembangkan. Masing-masing jenis limbah membutuhkan cara
4 Ahmad Jazuli,“Dinamika Hukum Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam dalam
penanganan khusus, berbeda antara jenis limbah yang satu dengan limbah lainnya.
Namun secara garis besarnya, teknik penanganan dan pengolahan limbah dapat dibagi menjadi penanganan dan pengolahan limbah secara fsik, kimiawi, dan biologis. Limbah hasil perikanan dapat berbentuk padatan, cairan atau gas. Limbah berbentuk padat berupa potongan daging ikan, sisik, insang atau saluran pencernaan. Limbah ikan yang berbentuk cairan antara lain darah, lendir dan air cucian ikan. Sedangkan limbah ikan yang berbentuk gas adalah bau yang ditimbulkan karena adanya senyawa amonia, hidrogen sulfda atau keton.
Dari hasil penelitian penulis di home industry pengolahan ikan asin Ngabean Makmur Kendal dapat dihasilkan bahwa penanggulangan yang dapat dilakukan terhadap limbah tersebut yaitu :
1. Untuk limbah padat :
a. Composting, yaitu pengolahan limbah menjadi pupuk kompos.
b. Hog feeding, yaitu mengolah limbah menjadi pakan ternak. c. Gas bio, yaitu mengolah limbah menjadi gas yang dapat
b. Sumur resapan, yaitu sumur yang digunakan untuk tempat penampungan air limbah.
c. Septic tank, merupakan metode terbaik untuk mengelola air limbah walaupun biayanya mahal, rumit dan memerlukan tanah yang luas. Septic tank memiliki 4 bagian ruang untuk tahap-tahap pengolahan, yaitu :
1. Ruang pembusukan, dimana air kotor akan bertahan 1-3 hari dan akan mengalami proses pembusukan sehingga menghasilkan gas, cairan dan lumpur (sludge).
3. Dosing chamber, dimana didalamnya terdapat siphon McDonald yang berfungsi sebagai pengatur kecepatan air yang akan dialirkan ke bidang resapan agar merata.
4. Bidang resapan, bidang yang menyerap cairan keluar dari dosing chamber serta menyaring bakteri patogen maupun mikroorganisme yang lain.
3. Untuk limbah gas :
a. Mengontrol Emisi Gas Buang, yaitu gas-gas buang seperti sulfur oksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan hidrokarbon dapat dikontrol pengeluarannya melalui beberapa metode.
3.Pengaruh Hukum terhadap Penggulangan Pencemaran Lingkungan Pengolahan Ikan
Asin Ngabean Makmur Kendal
Lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak setiap orang dan hak tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia. Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tersebut dijamin oleh negara dalam konstitusi dan berbagai peraturan perundang-undangan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 28H ayat (1) menyebutkan bahwa “setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan menapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Terbitnya Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) merupakan salah satu upaya pemerintah memberikan jaminan dan kepastian hukum terhadap hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.5
Sebelumnya Konsep dan teori yang digunakan dalam pembahasan hasil observasi ini ditinjau atau diadopsi dari :
1. UU No.32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengerlolaan Lingkungan Hidup
a) pasal 3 huruf a : “melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup”. b) pasal 13 ayat 1 : “pengendalian pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup dilaksanakan dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup”.
c) pasal 20 ayat 3 : “setiap orang diperbolehkan untuk membuang limbah ke media lingkungan hidup dengan persyaratan :
d) memenuhi baku mutu lingkungan hidup; dan
e) mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
f) pasal 36 ayat 1 : “setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki amdal atau UKL-UPL wajib memiliki izin lingkungan”.
g) pasal 47 tentang Analisis Risiko Lingkungan Hidup h) pasal 53 tentang Penanggulangan
i) pasal 54 tentang Pemulihan
j) pasal 67 dan 68 tentang Kewajiban k) pasal 69 tentang Larangan
l) pasal 70 tentang Peran Masyarakat
m) pasal 87 tentang Ganti Kerugian dan Pemulihan Lingkungan n) pasal 91 tentang Hak Gugat Masyarakat
o) pasal 98 ayat 1 : “setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang
p) mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.
2. PP No.27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan , yaitu :
a.pasal 2 ayat 1 : “setiap usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki Amdal atau UKL-UPL wajib memiliki Izin Lingkungan”.
1. Permen LH No.2 tahun 2013 tentang Pedoman Penerapan Sanksi Administratif di Bidang Perlindungan dan PengelolaanLingkungan Hidup. 2. Peraturan Menteri Negara LH no 9 tahun 2010 tentang Tata Cara
Pengaduan dan Penanganan Pengaduan Akibat Dugaan Pencemaran dan/ atau Perusakan Lingkungan Hidup.
Dalam pasal 65 UUPLH tahun 2009 disebutkan mengenai apa saja hak setiap orang terhadap lingkungan, hak-hak tersebut yaitu :
1) Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagai bagian dari hak asasi manusia.
2) Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan lingkungan hidup, akses informasi, akses partisipasi, dan akses keadilan dalam memenuhi hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
3) Setiap orang berhak mengajukan usul dan/atau keberatan terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup.
5) Setiap orang berhak melakukan pengaduan akibat dengan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengaduan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) diatur dengan Peraturan Menteri.
Menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggungjawab dan kewajiban semua pihak baik perorangan maupun perusahaan. Dari hasil penelitian penulis lakukan, ditemukan bahwa Home Industri Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal di Kendal telah terbukti melakukan pencemaran lingkungan dengan membuang air cucian ikan ke sungai yang menyebabkan bau yang sangat tidak sedap dan menimbulkan keresahan warga dikarenakan bau yang sangat menyengat di sekitaran tempat produksi. Perilaku pemilik tempat produksi pengolahan ikan asin Ngabean Makmur Kendal tersebut dinilai telah lalai dalam mengindahkan kaidah-kaidah pelestarian lingkungan yang
Kebijakan pidana dalam penegakan hukum merupakan salah satu upaya dalam usaha perlindungan lingkungan hidup. Kebijakan tersebut harus dapat menumbuhkan pemikiran tentang metode baru untuk tujuan mencegah kejahatan dan sekaligus melindungi lingkungan hidup.
Pemerintah telah menetapkan peraturan terhadap lingkungan hidup yaitu Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH) yang telah menentukan secara kumulatif pidana penjara dan denda sebagai pidana pokok terhadap pelaku Tindak Pidana Lingkungan Hidup yang dapat ditambah dengan sanksi Tindakan Tata Tertib (maatregel).
pembuangan limbah, serta menghindarkan diri dari sanksi-sanksi hukum yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan tersebut.
1. Baku Mutu Lingkungan
Telah disebutkan dalam Pasal 20 ayat (1) UUPLH, bahwa penentuan terjadinya pencemaran lingkungan hidup diukur melalui baku mutu lingkungan hidup. Dalam pasal yang sama ayat (3), Home Industri Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal, diperbolehkan untuk membuang limbah ke media lingkungan dengan syarat memenuhi baku mutu lingkungan hidup dan mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.
2. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Dalam hal pengelolaan limbah B3 sesuai pasal 59 UUPLH, Home Industry Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal wajib melakukan pengelolaan limbah B3 yang dihasilkannya (ayat 1). Kegiatan pengelolaan limbah B3 wajib mendapat izin dari menteri, gubernur, atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya dan pejabat tersebut menentukan persyaratan lingkungan hidup yang harus dipenuhi dan kewajiban yang harus dipatuhi pengelola limbah B3 dalam izin.
3. Pembuangan Limbah
Home Industri Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal dalam melakukan pembuangan limbahnya harus mendapatkan izin dari menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya di lokasi-lokasi yang telah ditetapkan tidak boleh disembarang tempat sebagaimana diatur dalam isi pasal 60 dan 61 UUPLH.7
Tetapi kenyataan dilapangan, Home Industri Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal belum memiliki izin Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) sehingga limbah langsung dibuang ke sungai. Pemilik Home Industry pengolahan ikan asin tersebut mengatakan “bukan hanya saya yang belum memiliki IPAL, puluhan industri ikan asin lainnya pun belum memiliki IPAL. Warga setempat mengaku sangat mengeluhkan limbah industri ikan asin tersebut, karena bau yang menyengat selalu dirasakan setiap hari dan cukup membuat resah warga.
seperti yang tertulis dalam Undang-Undang No.32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup Pasal 98 ayat 1, yang berbunyi “setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”.6
Tindakan Home Industri Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal yang melakukan pencemaran lingkungan dengan membuang limbah air yang mengandung B3 dapat dituntut dengan pasal 103 yang berbunyi “setiap orang yang menghasilkan limbah B3 dan tidak melakukan pengelolaan sebagaimana dimaksud dalam pasal 59, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tahun) dan denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah.
BAB III KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari hasil penelitian penulis di Home Industri Pengolahan Ikan Asin Ngabean Makmur Kendal adalah bahwa Industri ini menimbulkan beberapa limbah yaitu Limbah padat, yang berupa sisik ikan, kulit ikan, potongan daging ikan, insang atau saluran pencernaan. Lalu, limbah cair, yang berupa darah, lender, dan air bekas cucian ikan. Dan juga, limbah gas, yang berupa bau yang ditimbulkan karena adanya senyawa amonia, hidrogen sulfda atau keton yang dihasilkan dari mulai pembelahan ikan, lalu pengeluaran isi ikan, pencucian ikan, hingga penjemuran ikan.
Dalam hal ke-administrasiannya, industry ini dikatakan belum sempurna karena masih banyak perizinan-perizinan yang belum dimiliki oleh industry ini. Seperti contoh dalam izin Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) yang belum
6 Muhammad Ali Zaidan,“ Kebijakan Kriminal Kejahatan Terhadap Ideologi Negara di
Tengah
dimiliki sehingga mereka harus membuang limbah air cucian ikan ke sungai dan menyebabkan pencemaran dalam hal kebersihan sungai dan juga baunya.
Penegakan hukum yang pantas untuk industry ini yaitu UU no. 32 tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan pasal 98 ayat 1, karena industry ini telah melanggar peraturan dimana ia melakukan perbuatan yang mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup, dipidana pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling sedikit Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah)”. Lalu juga melanggar PP No.27 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Pasal 2 ayat 1, karena industry ini belum memiliki dan melengkapi perizinan lingkungannya.
Penulis juga memberikan suatu kesimpulan tambahan bahwa industry ini sebaiknya bisa lebih baik lagi dalam (potongan daging, insang, sisik, dan saluran pencernaan ikan), atau dapat juga membuatnya sebagai bahan campuran pakan ternak. Lalu untuk limbah airnya, sebaiknya air tersebut diteliti dulu apakah mengandung zat yang berbahaya terhadap lingkungan juga terhadap ekosistem bawah air apabila limbah tersebut dibuang ke sungai atau laut. Bisa juga membuat sumur resapan yang digunakan sebagai penampungan air limbah agar limbah air tersebut tidak mengotori dan mencemari lingkungan. Lalu untuk limbah gas, bisa dikurangi baunya dengan cara menurunkan pH limbah ikan dari 8,0 menjadi 6,0 dengan penambahan HCl 0,1 N, menambahkan molases sebanyak 50 ml ke dalam 1,0 liter limbah ikan, menginokulasi limbah ikan dengan 50 ml kultur bakteri asam laktat dengan populasi 107 sel per ml. Kultur ini diinkubasi pada shaker dengan memberikan aerasi secara terputus selang dua jam dengan dikocok pada 120 rpm. Bau busuk limbah ikan hilang dalam waktu lima hari.
DAFTAR PUSTAKA
Erwin, Muhammad. 2011. Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan Pembangunan Lingkungan Hidup. Bandung: Refka Aditama;
Hardjasoemantri, Koesnadi. 2012. Hukum Tata Lingkungan.Yogyakarta: Gajah Mada University Press;
Sumartono,Gatot. Hukum Lingkungan Indonesia. Jakarta: Sinar Grafka, 2004;
Silalahi,Daud. Hukum Lingkungan dalam Sistem Penegakan Hukum Lingkungan Indonesia.
Bandung: P.T. Alumni, 2014;
Supriyadi, Hukum Lingkungan di Indonesia sebuah pengantar. Jakarta: Sinar Grafka, 2006).
Jurnal :
Ali, Mahrus. Fondasi Ilmu Hukum Berketuhanan : Analisis Filosofs Terhadap Ontologi,
Epistemologi, dan Aksiologi. Jurnal Pendecta. Vol. XI, No 2 ( Tahun 2016): 7
Handaru,Agung & Mardiyati Umi. “The Study Of Organization Behavior on Fishery
Manufacture Industries Employees Performance”. Jurnal Dinamika Manajemen. Jdm
Vol.V, No 2 (Tahun 2014) : 10
Ibrahim,Bustami.“Kaji Ulang Sistem Pengolahan Limbah Cair Industri Hasil Perikanan
Secara Biologis Dengan Lumpur Aktif.” Jurnal Teknologi Hasil Perikanan VIII,No. 1
(Tahun 2005): 35-36.
Jazuli,Ahmad.“Dinamika Hukum Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam dalam Rangka
Pembangunan Berkelanjutan” Jurnal Rechts Vinding 4,No. 2 (Tahun 2015): 184.
Zaidan,Muhammad Ali.“ Kebijakan Kriminal Kejahatan Terhadap Ideologi Negara di