• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sastra la wan Seni sebagai Instrumen Per

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sastra la wan Seni sebagai Instrumen Per"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

1

Sastra(la)wan: Seni sebagai Instrumen Perlawanan1 oleh Febi Rizki Ramadhan, 1206204720

The quarrels about “pure art” and about “art with a tendency” took place between the liberals

and the “populists”. They do not become us. Materialistic dialectics are above this; from the

point of view of an objective historical process, art is always a social servant and historically utilitarian.” (Trotsky; 1923)

Ketika berbicara mengenai seni, maka perdebatan yang tidak pernah berakhir ialah bagaimana

posisi, tujuan, dan fungsi seni. Perdebatan yang berlangsung terkait dengan apakah seni ada

untuk seni itu sendiri atau seni ada untuk suatu tujuan tertentu. Dalam konteks lebih spesifik,

misalnya, kita dapat melihat perdebatan mengenai sastra di Indonesia. Pada masa Orde Lama,

terdapat perdebatan antara seniman Manipol atau Manifesto Politik dengan Manikebu atau

Manifesto Kebudayaan. Perdebatan ini, secara lebih spesifik, terjadi pula antara sastrawan dari

kubu yang berbeda. Sastrawan Manipol menyandarkan karya-karyanya pada realisme sosialis,

sedangkan sastrawan Manikebu menyandarkan karya-karyanya pada humanisme universal.

Pertanyaan antropologis yang dapat muncul ialah, bagaimana sastra sebagai produk seni

memiliki inter-relasi dengan aspek-aspek lain secara holistik?

Dalam esai ini, saya akan memfokuskan diri pada satu produk sastra, yaitu roman. Lebih spesifik lagi, saya akan mengkaji roman “Gadis Pantai” yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Melalui roman ini, saya akan melihat bagaimana sastra bersifat dialektis. Keberadaan

sastra, termasuk makna yang dikonstruksi di dalamnya, tidak dapat diceraikan dari

kerangka-kerangka kontekstual yang lebih luas, termasuk di dalamnya konteks ekonomi-politik terkait

kelas sosial dan globalisasi, konteks relasi gender, hingga konteks ekologis dan agama. Lebih

lanjut, esai ini akan memperlihatkan bagaimana sastra tidak lahir dari proses-proses

deterministik, melainkan terbentuk dari proses dialektik. Pada akhirnya, esai ini menawarkan

pandangan bahwa sastra, sebagai produk kesenian yang terkait erat dengan beragam konteks,

dapat menjadi instrumen pembebasan bagi jeruji-jeruji modernitas.

1

(2)

2

Membaca Roman “Gadis Pantai”

Roman Gadis Pantai ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan diterbitkan pertama kali pada

tahun 1962. Terdapat dua hal yang harus diketahui sebelum membahas alur “Gadis Pantai” lebih lanjut, yaitu: (1)Roman ini merupakan roman semi-fiksi yang ditulis oleh Pramoedya dari

pengalaman neneknya sendiri yang mengalami hal serupa dengan Gadis Pantai. Nenek

Pramoedya, Satima, merupakan perempuan yang dijadikan istri sementara Haji Ibrahim. Setelah

melahirkan anak perempuan, Satima diceraikan dan diusir dari rumah Haji Ibrahim; dan (2)Roman ini tidak selesai. Sejatinya, roman “Gadis Pantai” merupakan roman pertama dari sebuah trilogi. Akan tetapi, seluruh roman ini diberangus oleh Angkatan Darat pada tahun 1965. Mengacu pada pengantar dari Lentera Dipantara sebagai penerbit roman ini, “Gadis Pantai” pun dipastikan tidak akan pernah ada jika tidak didokumentasikan oleh Australia National University

dan oleh Savitri P. Scherer, seorang mahasiswi yang menulis tesis mengenai proses kepengarangan Pramoedya dan mengirimkan kopi “Gadis Pantai” yang ia miliki.

Roman ini bercerita mengenai seorang perempuan yang tidak diketahui namanya.

Sepanjang tulisan, ia dirujuk sebagai Gadis Pantai. Gadis Pantai dilahirkan di sebuah kampung

nelayan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ia dibesarkan di kampung nelayan dan nilai-nilai

budaya nelayan telah terinternalisasi padanya. Suatu ketika, ia dinikahkan dengan seorang

priyayi Jawa yang bekerja pada administrasi Belanda, yang sepanjang tulisan dirujuk sebagai

Bendoro. Gadis Pantai dibawa ke kota menggunakan dokar dan dipertemukan dengan Bendoro.

Kehidupannya mengalami perubahan setelah ia dinikahkan dengan Bendoro.

Setelah dinikahkan dengan Bendoro, Gadis Pantai merasa bahwa ia kehilangan

kebebasan yang ia biasa dapatkan di kampung nelayan. Ia tidak lagi dapat makan dan minum

sesuka hati, ia terkurung dalam rumahnya sendiri, dan ia tidak dapat berbicara dengan siapapun

dengan bebas. Ia juga diharuskan belajar agama Islam dan melakukan sholat. Ia memiliki bujang

atau pembantu yang melayani hidupnya dan membantunya belajar agar dapat menjadi Bendoro

Putri atau istri Bendoro yang baik. Satu hal yang harus dipahami, Gadis Pantai tidak akan

menjadi istri tetap Bendoro. Ia diharuskan menjadi perempuan yang melayani kebutuhan seks

laki-laki priyayi hingga nantinya sang priyayi memutuskan akan menikah dengan perempuan

yang berada dalam kelas yang sama dengannya.

Selama menjadi Bendoro Putri, pembantu yang dipekerjakan untuk melayani Gadis

(3)

3

dari Blora, diusir karena melaporkan pencurian yang dilakukan oleh kerabat Bendoro pada

Bendoro. Selanjutnya, ia digantikan oleh Mardinah, seorang perempuan muda asal Semarang

yang dikirimkan oleh Bendoro Putri Demak. Dari Mardinahlah, meski melalui proses yang

sangat pahit, Gadis Pantai dapat memahami posisinya. Meski demikian, harus diperhatikan

bahwa Mardinah sempat memiliki dorongan untuk mencelakai Gadis Pantai.

Pada akhirnya, Gadis Pantai hamil dan melahirkan anaknya, seorang perempuan. Ketika

bayinya berusia tiga setengah bulan, Gadis Pantai diceraikan oleh Bendoro. Meski demikian,

bayi yang dilahirkan oleh Gadis Pantai direnggut paksa oleh Bendoro. Dengan melakukan

perlawanan, Gadis Pantai diusir dari rumah Bendoro. Ia pun meninggalkan rumahnya dan tidak

kembali ke kampungnya. Ia pergi ke Blora, tempat di mana ia mengira mantan bujangnya pergi.

Apabila mengacu pada satu halaman yang dituturkan oleh Pramoedya, kita dapat melihat

bahwa pada akhirnya ia menikah dengan seorang laki-laki yang pekerjaannya tidak dijelaskan.

Gadis Pantai dideskripsikan Pramoedya sebagai seorang perempuan yang mendatangi rumah

para priyayi untuk membeli barang, pakaian, hingga rongsokan dan nantinya ia jual di pasar.

Ketika barang-barang itu tidak laku terjual, ia akan menyimpannya di bawah ambin tempat

tidurnya yang terbuat dari bambu. Ia menikah dengan seorang laki-laki yang pernah gagal

menjadi petani, penjual soto ayam pikul, dan perabot desa. Mereka tinggal di pinggir kota

sebelah Utara, di mana kota ini terletak tidak dijelaskan oleh Pramoedya. Kehidupan Gadis

Pantai kembali berubah pada masa kependudukan Jepang, Gadis Pantai kian lemah dan tua. Pada

akhirnya, Pramoedya pergi ke Jakarta dan Gadis Pantai meninggal dunia.

Memetakan Konteks: Ekonomi-Politik

Maxim Gorky, dikutip oleh Yuliantri dan Dahlan (2008:121), menyatakan bahwa sastrawan

adalah mata, telinga, dan suara kelasnya. Ia boleh jadi tak menyadari hal ini, namun ia adalah

pancaindra kelasnya. Berangkat dari pernyataan Gorky ini, kita dapat melihat bahwa tidak ada

karya sastra yang dapat diceraikan dari kondisi aktual yang dihadapi oleh penulisnya. Dengan demikian, kita pun tidak dapat membahas roman “Gadis Pantai” tanpa melihat konteks sosial, ekologi, dan ekonomi-politik yang ada di dalamnya. Seluruh konteks ini dapat kita lihat melalui

(4)

4

dilihat dalam polarisasi kelas yang muncul dalam roman ini. Pramoedya, melalui mata Gadis

Pantai, mengontraskan kehidupan priyayi di kota dengan nelayan yang tinggal di kampung

nelayan. Pengontrasan ini terjadi berkali-kali, misalnya pada saat Gadis Pantai tidur di sebelah

Bendoro dan melihat lekuk tubuh Bendoro dengan deskripsi mengenai Gadis Pantai yang telah

didandani oleh pembantunya.

“Betapa halus tangan itu: tangan seorang ahli-buku! Hanya buku yang dipegangnya, dan bilah bambu tipis panjang penunjuk baris….. Orang mulia, pikirnya, tak perlu terkelantang di terik matari. Betapa lunak kulitnya dan selalu tersapu selapis ringan lemak muda!” (2003:33)

“Lihat,” katanya kemudian pada emak, „tubuh yang kecil mungil seperti kapas. Kulit langsat selicin tapak setrika. Cuma tangannya yang harus direndam air asam, biar cepat jadi tipis.” (2003:49)

Pernyataan di atas menunjukkan bagaimana kerja yang dialami oleh Bendoro yang

priyayi dan Gadis Pantai yang dibesarkan di kampung nelayan berbeda. Berbeda dengan Gadis

Pantai yang biasa membawa tali tambang seberat 20 kilogram, Bendoro hanya berurusan dengan

buku dan alat penunjuk baris yang terbuat dari bambu. Sebagai seorang yang bekerja pada

administrator Belanda, Bendoro tidak perlu melakukan kerja berat yang dapat meninggalkan

bekas pada tubuhnya sebagaimana bekas-bekas kerja yang terdapat pada tangan Gadis Pantai

sehingga tangannya tidak halus dan harus direndam dalam air asam agar menjadi lebih baik,

mengacu pada citra tubuh ideal menurut para priyayi.

Selain itu, posisi sosial Bendoro juga tampak pada bagaimana orang-orang

mendeskripsikan dirinya dan bersikap kepadanya. Hal ini dapat kita lihat pada pernyataan ibu

Gadis Pantai ketika mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Bendoro dan dari pikiran

Gadis Pantai sendiri.

“Dia pembesar, nak, orang berkuasa. Sering dipanggil Bendoro Bupati. Tuan besar residen juga pernah datang ke rumahnya, nak. Semua orang tahu.” (2003:14)

(5)

5

Pernyataan-pernyataan di atas menunjukkan bahwa Bendoro merupakan sosok yang

memiliki kekuasaan. Dalam proses kerjanya, ia memiliki relasi dengan Bendoro Bupati dan tuan

besar Residen yang merupakan penguasa pula, bahkan ibu Gadis Pantai menyatakan bahwa

semua orang tahu siapa Bendoro tersebut. Selain itu, ketakutan yang didasari pada rasa segan dan

hormat pada Bendoro juga diketahui oleh Gadis Pantai melalui sikap para pembantunya. Pada

titik ini, kita dapat melihat bahwa kekuasaan yang dimiliki oleh sang Bendoro meniscayakan

ketakutan para pembantunya karena Bendoro dapat melakukan apapun yang ia mau.

Hal menarik yang dapat kita lihat ialah bagaimana Gadis Pantai dapat mengalami

pergeseran status sosial. Gadis Pantai yang sejatinya berada dalam kelas nelayan2 mengalami

pergeseran status ketika telah menikahi Bendoro. Meski demikian, hanya Gadis Pantai yang

mengalami pergeseran status ini dan keluarganya tetap dilihat sebagai orang kebanyakan atau

rakyat kecil yang tidak memiliki kekuasaan.

“Mak, bawa aku pulang.”

“Apa dia bilang?” terdengar suara bapak. Dan tahu-tahu bapak telah berada di samping Gadis Pantai.

“Apa kau bilang?” tanyanya sekali lagi dan suaranya mengeras membentak.

“Tak ada orang berani berlaku kasar terhadap wanita utama,” bujang memperingatkan. Bapak terkulai di atas kursi. Tenaganya yang biasa diadu dengan badai dan gelombang, remuk di dalam kamar pengantin ini. Terdengar nafasnya megap-megap. Kedua belah tangannya lunglai di atas kursi.

“Kalau wanita utama suka,” bujang itu meneruskan, “Mas Nganten bisa usir bapak dari kamar.” (2003:44-45)

“Biarlah emak kawani aku di sini, kalau aku tak boleh tidur di kamar dapur.” “Itu tidak layak bagi wanita utama.”

“Dia emakku, emakku sendiri, mBok.”

“Begitulah Mas Nganten, biar emak sendiri, kalau emaknya orang kebanyakan, dia tetap seorang sahayanya.”

(6)

6 “Ah, lantas apa aku mesti kerjakan di sini?”

“Cuma dua, Mas Nganten, tidak banyak: mengabdi pada Bendoro dan memerintah para sahaya dan semua orang yang ada di sini.” (2003:58)

Ketika telah menjadi istri seorang Bendoro, maka Gadis Pantai telah berpindah ke kelas

sosial yang lebih tinggi. Ia diharuskan memerintah para sahaya yang berasal dari kelas yang

lebih rendah. Lebih luas lagi, Gadis Pantai diharuskan memerintah semua orang yang ada di

rumah itu, kecuali Bendoro sendiri yang harus ia abdikan. Meski demikian, orangtuanya tetap

berada dalam kelas bawah sehingga berbeda kelasnya dengan Gadis Pantai sendiri. Kutipan di

atas menunjukkan bahwa bapak Gadis Pantai tidak dapat lagi memukul Gadis Pantai seperti yang

biasa ia lakukan karena Gadis Pantai telah menjadi wanita utama. Gadis Pantai bahkan dapat

mengusir bapaknya dari ruangan jika ia ingin. Ia juga tidak diperkenankan tidur dan bertemu

dengan ibunya sendiri karena ia sekarang berada di kelas sosial yang berbeda dengan ibunya.

Semua hal ini dilegitimasi oleh adat priyayi. Hal serupa juga tampak ketika Gadis Pantai pulang

ke kampungnya ketika ia masih menjadi istri Bendoro dan tidak ada orang yang berani berjalan

di sampingnya, bahkan orangtuanya sendiri yang memilih berjalan di belakangnya. (Pramoedya,

2003) Gadis Pantai juga memperoleh perlakuan istimewa ketika kembali ke kampungnya.

“Emak sediakan sate ayam siang ini.”

Kata-kata itu membuat Gadis Pantai seakan terasa lengang. Tak pernah seumur hidup emak buatkan dia sate. Ayam yang hanya beberapa ekor, hanya diambil telurnya buat obat kuat bapak. Entah berapa ekor dari yang sedikit itu kini harus membuktikan, bahwa ia memang lain daripada seluruh penduduk kampung selebihnya. (2003:182)

Pembahasan di atas menunjukkan bagaimana terdapat polarisasi kelas dalam roman ini,

yaitu kelas priyayi yang merupakan aristokrat dan kelas nelayan yang tinggal di kampung

nelayan, baik yang memiliki kapal sebagai alat produksi sendiri maupun tidak. Selain kedua

kelas tersebut, terdapat orang-orang seperti sang bujang tua dari Blora yang dipekerjakan sebagai

sahaya atau pembantu di rumah Bendoro dan tidak memiliki alat produksi. Dengan demikian,

komoditas yang ia tawarkan adalah tenaga dan keberadaannya sendiri.

(7)

7

dan pertukaran komoditas dalam skala global, maka terdapat sejumlah deskripsi dalam roman “Gadis Pantai” yang dapat menjadi ilustrasi.

Pada dinding-dinding bergantungan pigura dengan kaligrafi huruf Arab. Mungkin ayat-ayat Qur‟an. Sebuah cermin besar berbingkai kayu tebal terukir dengan motif-motif Tionghoa tergantung di dekat pintu. (2003:23)

Di ruangan ini tak ada lesung. Tak ada bau udang kering. Tak ada babon tongkol tergantung di atas pengasapan. Tak ada yang bergantungan di dinding terkecuali kaligrafi-kaligrafi Arab yang tak mengeluarkan bau. (2003:26)

Di dalam kamar tidur bujang meletakkan bungkusan di atas meja rias, membukanya dan mengeluarkan anduk, sikat gigi, pasta, selop jerami buatan Jepang, sisir penyu yang bertangkai perak, berbagai macam minyak wangi, bedak dalam kaleng jelas buatan luar negeri. (2003:26)

Celak Arab itu kembali memperbawakan wajahnya. Dan rouge buatan Prancis itu menyalakan wajahnya. (2003:47)

Sejumlah deskripsi di atas merupakan ilustrasi dari arus komoditas global yang terjadi

pada saat itu. Gadis Pantai tinggal di rumah seorang Bendoro yang berada di Rembang, Jawa

Timur. Meski demikian, Bendoro memiliki akses pada kaligrafi Arab, cermin dengan motif

Tionghoa, selop dari Jepang, bedak kalengan buatan luar negeri, celak Arab, hingga rouge dari

Perancis. Pramoedya memang tidak menjelaskan apakah kaligrafi dan celak di atas diimpor dari

Arab atau dari mana asal cermin dengan motif Tionghoa. Akan tetapi, kita dapat melihat bahwa

sistem pengetahuan yang mendasari adanya komoditas tersebut berasal dari luar Hindia Belanda.

Selain itu, jelas bahwa bedak kalengan, selop, dan rouge yang digunakan oleh Gadis Pantai

merupakan komoditas yang diimpor dari luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa globalisasi,

dalam hal pertukaran komoditas lintas batas negara, memiliki posisi penting dalam kehidupan

priyayi karena komoditas yang dikonsumsi harian merupakan produk globalisasi.

Selain itu, kita dapat melihat bahwa pertukaran komoditas global ini tidak dialami di tiap

kelas sosial. Bendoro yang berasal dari kelas priyayi-aristokrat memang memiliki akses pada

komoditas-komoditas global ini. Akan tetapi, Gadis Pantai yang berasal dari kampung nelayan

sebelumnya tidak pernah bertemu dengan komoditas-komoditas semacam ini. Hal ini, misalnya,

(8)

8

Beberapa menit kemudian suami-istri itu telah duduk pada meja makan. Roti hangat yang masih mengepul yang dikirimkan tadi dari bengkel roti, telah tersayat-sayat di atas meja. Botol-botol selai, serbuk coklat, gula-kembang, perasan air jeruk, krupuk udang, dan bubur havermouth, telah terderet di atas meja. Kopi mengepul-ngepul dari cangkir porselen buatan Jepang. Sendok-garpu, pisau, semua dari perak putih mengkilat berderet-deret memusingkan kepala Gadis Pantai. Sebuah tempat buah dari perak begitu menyilaukan matanya. Otaknya terpilin-pilin dan ia lapar. Tapi apa guna alat sebanyak itu dan serba mengkilat? (2003:42)

Gadis pantai menggigil. Ia tak tahu yang bernama coklat, gula-kembang, dan mana pula selai. (2003:42)

Dengan menggunakan ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa pertukaran komoditas

global tidak dialami oleh Gadis Pantai yang berada di kelas nelayan. Gadis Pantai dihadapkan

dengan makanan yang tidak biasa ia santap: roti, selai, coklat, gula-kembang, mentega Friesland,

hingga bubur havermouth. Ketidakpahamannya dapat kita terjemahkan menjadi simpulan bahwa

Gadis Pantai tidak menghadapi pertukaran komoditas global ini dan para nelayan di kampung

nelayan tidak mengonsumi roti dan bubur havermouth.

Pembahasan pada bagian ini memperlihatkan bahwa roman “Gadis Pantai” amat terkait dengan dua aspek ekonomi-politik, yaitu kelas sosial dan globalisasi. “Gadis Pantai” mengerangkakan polarisasi kelas sepanjang romannya, yaitu priyayi dan nelayan. “Gadis Pantai” juga menampilkan pertukaran komoditas global yang terjadi dalam globalisasi. Selain itu, sejak

awal kita dapat melihat bahwa terdapat globalisasi di Rembang karena terdapat kolonialisasi

yang dilakukan oleh Belanda dan Bendoro dapat bekerja pada administrator Belanda.

Memetakan Konteks: Relasi Gender

Ketika membahas roman “Gadis Pantai”, maka pembahasan mengenai relasi gender merupakan satu hal yang penting dan mendasar. Sejak awal, “Gadis Pantai” bercerita mengenai perempuan yang dibawa dari kampung nelayan untuk dinikahkan dengan seorang laki-laki priyayi yang

tinggal di kota. Meski telah terdapat pernyataan jelas pada sinopsis bahwa perempuan berada

dalam posisi subordinat, khususnya perempuan nelayan jika dibandingkan dengan laki-laki

(9)

9

sejumlah deskripsi yang dapat memperjelas bagaimana subordinasi perempuan dikerangkakan dalam “Gadis Pantai”.

Relasi gender dalam “Gadis Pantai” dapat dengan jelas kita lihat jika kita merujuk pada sejumlah deskripsi mengenai hubungan Bendoro dan Gadis Pantai sebagai pasangan suami istri.

Deskripsi mengenai hubungan ini dapat kita lihat dari dialog yang dituturkan oleh Gadis Pantai

dan ibunya, perbincangan Gadis Pantai dengan bujangnya, perbincangan Gadis Pantai dan

Bendoro, hingga pernyataan Gadis Pantai sendiri. Dengan melihat hubungan antara Bendoro dan

Gadis Pantai sebagai pasangan suami istri, kita dapat menganalisis bagaimana relasi gender pada

masa kolonial di Jawa feodal, khususnya Rembang.

Sejak awal, Pramoedya telah menunjukkan, dalam perbincangan antara Gadis Pantai dan

ibunya, bahwa kualitas seorang perempuan terkait dengan laki-laki. Dengan demikian, kualitas

diri seorang perempuan tidak dapat dilepaskan dari laki-laki yang menjadi suaminya. Pada titik ini, kita dapat menyatakan bahwa dalam roman “Gadis Pantai”, perempuan merupakan sosok yang liyan di mana posisi dan kualitasnya dinilai dengan mengandaikan keberadaan laki-laki

yang menjadi suaminya.

“Beruntung kau menjadi istri orang alim, dua kali pernah naik haji, entah berapa kali khatam Qur‟an. Perempuan nak, kalau sudah kawin jeleknya laki jeleknya kita, baiknya laki baiknya kita. Apa yang kurang baik pada dia?” (2003:14)

Selain diposisikan sebagai liyan, perempuan bahkan tidak memiliki kedaulatan atas

tubuhnya sendiri. Dunia, sebagai ruang sosial, dikonstruksikan merupakan milik laki-laki.

Perempuan dipandang tidak memiliki apapun, kecuali kewajiban menjaga setiap milik laki-laki,

termasuk dirinya sendiri yang merupakan hak-milik laki-laki.

“Ah, Mas Nganten, di kota, barangkali di semua kota –dunia kepunyaan lelaki. Barangkali di kampung nelayan tidak. Di kota perempuan berada dalam dunia yang dipunyai lelaki, Mas Nganten.”

“Lantas apa yang dipunyai perempuan kota?” “Tak punya apa-apa, Mas Nganten kecuali….” “Ya?”

“Kewajiban menjaga setiap milik lelaki.” “Lantas milik perempuan itu sendiri apa?”

(10)

10

Apabila kita mencoba mencari persoalan yang lebih mendasar, maka dapat kita temui

bahwa perempuan tidak sekadar berada dalam posisi liyan dan tidak memiliki kedaulatan atas

dirinya sendiri. Sejak baru lahir pun, perempuan telah berada dalam posisi subordinat. Jika

merujuk pada Widiantini (2013)3, manusia tidak hanya dilahirkan dari rahim biologis, melainkan

dilahirkan pula dari rahim sosial. Rahim sosial ini yang kemudian memberikan label dan

mengurung manusia dalam jeruji-jeruji yang berbeda, mulai dari rasisme, patriarki, hingga heteronormativitas. Dalam roman “Gadis Pantai”, kita dapat melihat bahwa perempuan tidak sekadar dilahirkan sebagai perempuan, namun ia menjadi perempuan secara sosial dan memiliki

label-label tertentu. Hal ini, misalnya, dapat kita lihat dalam perbincangan antara Bendoro dan

Gadis Pantai setelah Gadis Pantai melahirkan.

“Jadi sudah lahir dia. Aku dengar perempuan bayimu, benar?” “Sahaya, Bendoro.”

“Jadi cuma perempuan?”

“Seribu ampun, Bendoro.” (2003:253)

Selain itu, kita dapat pula melihat bagaimana relasi kelas sosial dan relasi gender.

Menurut saya, relasi antara kelas sosial dan gender bersifat dialektik dan tidak deterministik.

Perbedaan kelas sosial, di satu sisi, dapat melegitimasi ketimpangan relasi gender. Di sisi lain,

relasi gender antara laki-laki dan perempuan dapat memperkuat keberadaan kelas sosial. Relasi

antara kelas sosial dan relasi gender, misalnya, dapat kita lihat pada pernikahan yang dilakukan

antara Bendoro dan Gadis Pantai.

Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikahkan dengan sebilah keris. Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan anak emaknya lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. (2003:12)

Pada malam pernikahannya, Bendoro tidak hadir sehingga ia diwakilkan oleh sebilah

keris. Hal ini sempat dipertanyakan oleh Gadis Pantai dan ia mengetahui bahwa hanya laki-laki

yang dapat menikah dengan diwakili oleh sebilah keris. Dengan demikian, cara yang sama tidak

3

Ikhaputri Widiantini, S.Hum, M.Si dalam seminar dan diskusi terbuka bertajuk “Diskriminasi LGBTI di Indonesia”,

(11)

11

dapat dilakukan oleh perempuan ketika ia menikahi laki-laki. Seorang perempuan tidak dapat

diwakili oleh sebilah keris ketika ia sedang dalam prosesi pernikahan. Selain itu, kita dapat melihat bahwa posisi Gadis Pantai hanyalah istri sementara dan tidak dianggap sebagai “nyonya” Bendoro.

“Bendoro, sahaya dengar ada bajak menyerbu kampung nelayan….” “Kampung nelayan mana?”

“Kampung… beribu ampun. Bendoro… kampung nyonya Bendoro.”

“Nyonyaku?” Bendoro setengah berteriak. “Aku belum punya nyonya!” (2003:240) “Sahaya adalah emaknya, sahaya yang hina ini, tuanku. Bagaimana sahaya harus urus dia di kampung nelayan sana? Ia anak seorang bangsawan, tak mungkin diasuh secara kampung.”

“Aku tak suruh kau mengasuh anakku.” (2003:257)

Kutipan di atas dapat menunjukkan bahwa Gadis Pantai, sebagai seorang perempuan dari

kelas nelayan yang menikah dengan seorang laki-laki priyayi, berada pada posisi subordinat. Bendoro tidak melihat Gadis Pantai sebagai “nyonya” atau pasangannya yang sah, melainkan hanya perempuan yang dapat memenuhi kebutuhan seksualnya, meski tidak dinyatakan secara

eksplisit. Selain itu, dapat kita lihat pula bahwa Gadis Pantai tidak memiliki hak untuk berdaulat

atas tubuh dan ketubuhannya sendiri. Gadis Pantai bahkan tidak memiliki hak asuh atas anak

yang ia lahirkan, meski anak itu dirujuk oleh Bendoro sebagai anaknya.

Kutipan-kutipan di atas dapat menjadi rujukan bagi kita untuk memetakan konteks relasi gender yang terdapat dalam roman “Gadis Pantai”. Apabila pada bagian sinopsis terdapat pernyataan: Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan

tepat langsung di jantungnya yang paling dalam, maka kita dapat melihat bahwa ketimpangan

relasi gender dengan jelas diperlihatkan dalam roman ini. Secara umum, terdapat tiga kondisi

yang melekat pada perempuan dalam roman ini, yaitu: (1)Perempuan berada di posisi subordinat

dengan laki-laki berada di posisi superordinat; (2)Kualitas diri perempuan ditentukan bukan oleh

dirinya sendiri, melainkan given dari kualitas laki-laki yang menjadi suaminya; dan

(3)Perempuan tidak memiliki kedaulatan atas tubuh dan ketubuhannya sendiri.

(12)

12

Pada dasarnya, pembahasan mengenai ekologi dan agama tidak dapat dilakukan tanpa

menimbang aspek lainnya. Kita tidak dapat membahas konteks ekologis tanpa mengacu pada

konteks ekonomi-politik yang terkait dengannya. Pembahasan mengenai agama pun tidak dapat

dilakukan jika dicerabut dari konteks ekonomi-politik dan ekologis yang memiliki keterkaitan

erat dengannya. Oleh karena itu, pembahasan dalam bagian ini akan menelisik bagaimana konteks ekologis dalam “Gadis Pantai” serta bagaimana aspek terkait agama dimunculkan dan memiliki relevansi dengan aspek ekonomi-politik dan ekologis.

Secara umum, aspek ekologis dan aspek agama dapat kita lihat berada pada posisi yang

berbeda karena yang satu terkait dengan aspek material sedangkan yang satunya terkait dengan „keimanan‟ yang kerap dilihat sepenuhnya spiritual dan tidak terkait dengan aspek material. Dalam pembahasan ini, saya akan melihat bagaimana pembahasan mengenai agama tidak dapat

dilepaskan dari konteks ekologis dan ekonomi-politik. Pembahasan mengenai konteks ekologis

pun tidak dapat diceraikan dari pembahasan mengenai aspek terkait agama dan konteks

ekonomi-politik. Dengan demikian, pada bagian ini, kita dapat melihat bagaimana inter-relasi

holistik yang terdapat dalam roman “Gadis Pantai” sebagai sebuah produk sastra.

Sejak awal roman dibuka, Pramoedya telah menggambarkan bahwa Gadis Pantai,

sebelum dinikahkan dengan Bendoro, sangat akrab dengan laut dan pantai. Lanskap inilah yang

harus ia tinggalkan, ia harus menuju kota yang kondisi lingkungannya sangat berbeda dan harus

dapat adaptif.

Hari demi hari batinnya diisi derai ombak dan pandanganya oleh perahu-perahu yang berangkat di subuh hari pulang di siang atau sore hari, berlabuh di muara, menurunkan ikan tangkapan dan menunggu besok sampai kantor lelang buka. (2003:11)

Maka pada suatu hari perutusan seseorang itu datang ke rumah orangtua gadis. Dan beberapa hari setelah itu sang gadis harus tinggalkan dapurnya, suasana kampungnya, kampungnya sendiri dengan bau amis abadinya. Ia harus lupakan jala yang setiap pekan diperbaikinya, dan layar tua yang tergantung di dapur –juga bau laut tanahairnya. (2003:11-12)

Mengacu pada kutipan di atas, kita dapat melihat bahwa sistem pengetahuan Gadis Pantai

mengenai lingkungan alam di sekitarnya tidak dapat dilepaskan dari konteks ekonomi-politik

(13)

13

seseorang yang tinggal di kampung nelayan, maka Gadis Pantai telah terbiasa dengan proses

kerja sebagai nelayan dan pencarian ikan serta hasil laut lainnya. Oleh karena itu, deskripsi

Pramoedya tentang lingkungan alam sekitar Gadis Pantai amat terkait dengan kerja sebagai

nelayan yang dapat kita lihat pada keberadaan perahu, jala, dan layar tua. Selain itu, kita dapat

melihat pula bagaimana sistem pengetahuan Gadis Pantai mengenai priyayi dikejewantahkan

dalam pernyatannya yang terkait dengan lingkungan alamnya.

“Mengerikan bapak, mengerikan kehidupan priyayi ini… Seganas-ganas laut, dia lebih pemurah dari hati priyayi… Ah tidak, aku tak suka pada priyayi. Gedung-gedungnya yang berdinding batu itu neraka. Neraka. Neraka tanpa perasaan.” (2003:5)

Dalam perbincangan lain, kita dapat melihat dengan lebih spesifik bagaimana

pengetahuan pembantu Gadis Pantai terkait dengan aspek ekonomi-politik, yaitu mengenai tanah

yang telah dikomodifikasi oleh para aristokrat.

“Kau tidak mengabdi kepadamu, man, tidak, man! Kalau kau cuma mengabdi kepadaku, kalau aku tewas dan kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? Kau cari Bendoro baru? Kalau dia juga tewas? Tidak, man tidak. Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda.” (2003:121)

Dalam pernyataan di atas, dapat kita lihat bahwa tanah dilihat sebagai sumber

penghidupan. Ia adalah objek material yang menghasilkan sumber pangan dan air, sehingga

meniscayakan kehidupan. Akan tetapi, tanah tersebut, yang sejatinya hanya memiliki nilai guna,

dikomodifikasi sehingga memiliki nilai tukar. Nilai tukar tersebut yang mendasari pertukaran

yang dilakukan oleh para aristokrat sehingga tanah-tanah di Rembang dapat dijual pada Belanda.

Persoalan agama pun terkait dengan konteks ekologis dan ekonomi-politik. Dalam roman “Gadis Pantai”, agama tidak sekadar terkait dengan spiritualitas, namun memiliki keterkaitan dengan konteks ekologis dan ekonomi-politik. Saya akan memaparkan dua ilustrasi yang dapat

menjadi contoh, yaitu pandangan agama menurut Bendoro dan menurut warga kampung nelayan,

(14)

14

“Tak perlulah kalau kau tak suka. Aku tahu kampung-kampung sepanjang pantai sini. Sama saja. Sepuluh tahun yang baru lalu aku juga pernah dating ke kampungmu. Kotor, miskin, orangnya tak pernah berbibadah. Kotor itu tercela, tidak dibenarkan oleh orang yang tahu agama. Di mana banyak terdapat kotoran, orang-orang di situ kena murka Tuhan, rezeki mereka tidak lancer, mereka miskin.”

“Sahaya Bendoro.”

“Kebersihan, Mas Nganten, adalah bagian penting dari iman. Itu namanya kebersihan batin. Ngerti Mas Nganten?”

“Sahaya Bendoro.” (2003:41)

“Tasbih?”

“Dari Bendoro, buat bapak saja. Hitam. Dari kayu keras, buatan Mekah.”

“Buat apa tasbih? Bendoro menyampaikan salam. Kalau kampung belum punya surau, Bendoro bersedia membiayai pendiriannya.‟

“Betapa mulianya.”

„Tapi orang di sini tentu tak ada waktu buat itu. Semua sibuk ke laut dan ikan tak semudah itu ditangkap.”

“Jangan menyindir.”

“Ah, bapak. Mana bias aku sindir bapak? Kita semua tahu, buat dapatkan jagung pun tenaga tak cukup, jangankan dirikan surau, jangankan membuka-buka kitab!” (2003:177)

“Bendoro bilang kita bisa dikirim guru ngaji.” “Bagaimana kita mesti upahi dia?”

“Bendoro yang upahi.”

“Barangkali ikan akan lebih jinak kalau kita ngaji, ya?” “Barangkali, belum dicoba.” (2003:178)

Tiga kutipan di atas menunjukkan bagaimana agama dipandang oleh kelas yang berbeda.

Kutipan pertama merupakan pernyataan dari Bendoro yang seorang priyayi. Ia melihat bahwa

kebersihan lingkungan terkait erat dengan keimanan. Lebih lanjut, ia melihat bahwa kebersihan

lingkungan terkait dengan ekonomi. Dengan demikian, lingkungan yang kotor akan

meniscayakan kerugian ekonomi. Dalam kehidupannya, Bendoro juga amat dekat dengan

aspek-aspek agama. Ia memiliki surau di daerah rumahnya hingga mengajarkan Gadis Pantai untuk

melakukan sholat.

Di sisi lain, bagi orang-orang yang berada dalam kelas nelayan, agama Islam yang

merupakan produk globalisasi tidak sekadar diterima begitu saja. Ketika Gadis Pantai

(15)

15

tidak serta merta menerima produk-produk tersebut, melainkan mempertanyakan apa kegunaan

guru mengaji. Selain itu, penerimaan ajaran agama juga terkait dengan kondisi ekologis-material

yang dihadapi oleh bapak Gadis Pantai.

Mewujudkan Sastra melalui Proses Dialektika

Udenta (dalam Chukwu-Okoronkwo, 2011) menyatakan bahwa seni merupakan bentuk dari

kesadaran sosial yang mengalami relasi dialektik dengan aspek sosial lainnya. Seni hanya ada

dalam konteks dari negasi dari realitas kontradiktif yang ada dalam masyarakat berkelas. Lebih

lanjut, dialektika ini dapat muncul melampaui suatu ideologi tertentu dan mampu

mengembangkan sistem baru yang dapat menantangnya. Selain Udenta, Nedozchiwin (1972)

menyatakan bahwa Marxisme-Leninisme melihat bahwa karakter utama dari kesadaran, dalam

hal relasinya dengan estetika, terkait erat dengan interaksi dialektik antara realitas objektif dan

pemikiran-pemikiran dalam koneksi organiknya dengan praksis. Pernyataan terkait seni sebagai

dialektika juga diutarakan oleh Chernyshevsky (1853) yang melihat bahwa seni merupakan

reproduksi realitas. Dengan demikian, seni bukan sekadar imitasi dari alam, sebagaimana

pandangan yang khas pada masa itu, namun seni dapat pula mereproduksi realitas sehingga dapat

memproduksi kebenaran. Apabila mengacu pada ketiga teoritikus di atas, kita dapat melihat

bahwa seni tidak dapat dilepaskan dari realitas objektifnya dan mengalami relasi dialektik

dengan aspek sosial lainnya.

Ketika membaca “Gadis Pantai”, kita dapat melihat bahwa roman ini tidak muncul dengan sendirinya tanpa terkait dengan konteks-konteks dan aspek sosial lain yang lebih luas. Pada pembahasan sebelumnya, esai ini telah memperlihatkan bagaimana roman “Gadis Pantai” terkait erat dengan konteks ekonomi-politik, relasi gender, serta ekologis dan agama. Dengan demikian, roman “Gadis Pantai” sebagai sebuah produk seni terbentuk dari proses dialektika. Dengan merujuk pada Udenta, kita dapat melihat bahwa roman “Gadis Pantai” berangkat dari kesadaran sosial, yaitu kesadaran perempuan dari kelas nelayan yang disarikan oleh Pramoedya

yang menolak subordinasi perempuan oleh priyayi di kota, yang mengalami relasi dialektik

dengan aspek sosial lainnya, yang meliputi kelas-kelas sosial, institusi sosial seperti keluarga,

(16)

16

Dengan merujuk pada Nedozchiwin yang menggunakan kacamata Marxisme-Leninisme, roman “Gadis Pantai” dapat dilihat sebagai praksis yang mengalami interaksi dialektik dengan realitas objektif, yaitu, sebagaimana telah dipaparkan di atas, relasi antara perempuan nelayan

dengan laki-laki priyayi di perkotaan yang menjadi suaminya. Roman “Gadis Pantai”, dengan demikian, dibentuk melalui kesadaran sosial yang didasari oleh interaksi dialektik. Roman “Gadis Pantai”, jika mengacu pada gagasan Chernyshevsky, dapat kita lihat pula sebagai reproduksi realitas, yang dengan demikian, keberadaannya sebagai produk seni mengalami relasi

dialektik dengan realitas objektif.

Secara umum, dengan menggunakan metode dialektika klasik, roman “Gadis Pantai” sebagai produk sastra yang terkait dengan konteks-konteks yang lebih luas dapat dilihat sebagai:

Tesis : Keterkelindanan antara feodalisme dan patriarki di Rembang yang

menyebabkan perempuan dari kelas bawah dapat dinikahi sementara oleh

laki-laki priyayi hingga nantinya diceraikan karena perbedaan kelas.

Antitesis : Adanya kesadaran sosial mengenai ketimpangan relasi gender yang

dilegitimasi oleh feodalisme dan patriarki.

Sintesis : Penulisan roman “Gadis Pantai” oleh Pramoedya Ananta Toer yang bercerita mengenai Gadis Pantai yang dinikahkan dengan Bendoro dan

diceraikan setelah melahirkan anak perempuan.

Dengan melihat proses dialektika di atas, kita dapat melihat bahwa roman “Gadis Pantai” terbentuk dalam proses dialektis dengan aspek-aspek sosial dan ekonomi-politik lainnya. Roman

ini berangkat dari realitas objektif yang meniscayakan realitas kontradiktif. Lebih lanjut, kita

perlu melihat bahwa proses dialektika merupakan proses yang tak berkesudahan. Sintesis yang

telah dilahirkan dari dialektika tesis dan antitesis akan menjadi tesis baru yang nantinya dapat direspon oleh antitesis lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada dialektika roman “Gadis Pantai” sebagai produk sastra dengan peristiwa politik lainnya yang mempengaruhi roman “Gadis Pantai” itu sendiri.

(17)

17

dan dianggap berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia, yang bercerita

mengenai Gadis Pantai yang dinikahkan dengan Bendoro dan diceraikan

setelah melahirkan anak perempuan.

Antitesis : Terjadi Gerakan Satu Oktober atau Gestok pada 1 Oktober 1965 dengan

PKI sebagai kambinghitam sehingga muncul sentimen kiri dan

anti-gerakan kiri, termasuk di dalamnya anti-seniman yang tergabung dalam

Lekra dan menyandarkan karya pada Manifesto Politik.

Sintesis : Pemusnahan trilogi roman “Gadis Pantai” oleh Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965

Penjelasan di atas dapat menunjukkan bahwa roman “Gadis Pantai” sebagai produk sastra

tidak muncul begitu saja dan tercerabut dari akar-akar kontekstualnya, melainkan mengalami

proses dialektika yang berlangsung terus menerus. Penjelasan proses dialektika di atas

menunjukkan bahwa inter-relasi holistik yang terjadi antara seni dan aspek-aspek lain di luar

dirinya tidak hanya terjadi pada saat seni tersebut ditulis, dirancang, atau dipertunjukkan, namun

dapat pula terjadi setelah seni tersebut ditulis, dirancang, atau dipertunjukkan. Pemusnahan trilogi roman “Gadis Pantai” oleh Angkatan Darat pada 13 Oktober 1965 dapat menunjukkan bahwa peristiwa sejarah terkait aspek ekonomi-politik (Gestok pada 1 Oktober 1965) dan aktor

ekonomi-politik (Angkatan Darat) dapat terlibat dalam proses dialektika dengan karya seni, dalam hal ini roman “Gadis Pantai” sebagai produk sastra.

Ancangan Aksiologis: Sastra sebagai Instrumen Perlawanan

Pembahasan mengenai sastra dalam proses dialektika membawa kita pada satu pemahaman,

yaitu sastra, sebagai produk seni, tidak dapat dilepaskan dari konteks-konteks ekonomi politik,

relasi gender, hingga ekologis dan agama. Hal ini senada dengan pernyataan Gorky bahwa

sastrawan merupakan pancaindra kelasnya (dalam Yuliantri dan Dahlan, 2008), pernyataan

Udenta bahwa seni merupakan bentuk dari kesadaran sosial (dalam Chukwu-Okoronkwo, 2011),

pernyataan Nedozchiwin (1972) bahwa seni terkait dengan realitas objektif, hingga pernyataan

Chernyshevsky (1853) bahwa seni merupakan reproduksi realitas. Pertanyaan selanjutnya ialah,

(18)

18

bagaimana dialektika ini berlanjut sehingga seni dapat menemukan ancangan aksiologisnya

sebagai instrumen pembebasan, atau dengan kata lain, perlawanan?

Trotsky (1923) menyatakan bahwa seni, dari sudut pandang materialis, selalu memiliki

akar dan fungsi sosial. Konsepsi Marxis melihat bahwa seni tidaklah berdiri sendiri, namun

memiliki keterkaitan dengan aspek sosial lainnya dan memiliki kegunaan secara sosial. Menurut

Trotsky, sastra menemukan akarnya dalam sejarah dan pengalaman akumulatif yang terkait

dengan pemikiran, perasaan, mood, sudut pandang, dan harapan dari tiap kelas. Dengan

demikian, sastra tidak sekadar diwujudkan melalui proses dialektika. Keberadaan sastra sendiri

dapat menimbulkan dialektika baru karena ia memuat harapan dari kelas-kelas yang berangkat

dari pemikiran dan sudut pandang masing-masing, atau, dengan kata lain, sistem pengetahuan

tiap kelas.

Dengan merujuk pada gagasan Trotsky di atas, kita dapat melihat bahwa roman “Gadis Pantai”, sebagaimana telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, menemukan akarnya dalam proses dialektika dengan realitas objektif yang ada dalam masyarakat Rembang feudal. Roman

ini pun memuat pemikiran, perasaan, dan sudut pandang Gadis Pantai yang dilihat sebagai

representasi perempuan dari kelas nelayan yang dinikahkan dengan laki-laki priyayi. Sepanjang

penuturan Pramoedya, kita dapat melihat bagaimana penolakan-penolakan Gadis Pantai pada

sistem diancangkan, meski gagasan-gagasan penolakannya selalu diluruskan oleh

karakter-karakter di luar dirinya.

Pada bagian sebelumnya, esai ini telah memperlihatkan bagaimana proses dialektika

merupakan proses yang akan terus berjalan dan tidak berkesudahan. Menurut saya, ancangan

aksiologis dari karya sastra ialah dorongannya pada perubahan. Sebagaimana dinyatakan Lenin

(dalam Diamond, 1943), seni seharusnya dimiliki dan melibatkan rakyat; seni harus

mengombinasikan perasaan, pemikiran, dan kehendak rakyat dan mengangkatnya. Saya pikir,

jika seni tidak dapat mendorong perubahan, maka seni dapat menjadi kanal propaganda agar

perubahan dapat dilakukan. Diamond (1943) menyatakan bahwa seniman-seniman sosialis

memiliki peran yang penting dalam gerakan melawan invasi Nazi.

Apabila kita ingin melihat inter-relasi holistik dari roman “Gadis Pantai”, maka kita dapat melihat bahwa dialektika yang terjadi tidak sekadar membentuk roman “Gadis Pantai”, melainkan memunculkan tanggapan pada roman ini sebagai produk sastra. Dengan demikian,

(19)

19

jeruji-jeruji modernis. Jika dalam hal ini, roman “Gadis Pantai” dapat melawan patriarki dan feodalisme, maka saya pikir sastra pada umumnya dapat pula melawan jeruji-jeruji modernis

lainnya, semisal kapitalisme, rasialisme, hingga heteronormativitas. Hal ini, lebih lanjut, dapat

kita lihat pada beragam karya sastra yang menyandarkan dirinya pada realisme sosialis yang

melihat bahwa karya seni, termasuk sastra di dalamnya, harus memperhatikan realitas objektif

yang material, mendorong perubahan, dan memperkuat gerakan politik.

Simpulan

“Gadis Pantai” merupakan roman yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer dan pertama kali diterbitkan pada tahun 1962. Roman ini bercerita mengenai Gadis Pantai, seorang perempuan

dari kampung nelayan yang dinikahkan dengan seorang priyayi di kota yang disebut sebagai

Bendoro. Setelah melahirkan anak perempuan, Gadis Pantai diusir dari rumah sang priyayi

tersebut dan anak yang ia lahirkan diambil. Gadis Pantai memang tidak dimaksudkan akan

menjadi istri tetap Bendoro, namun hanya melayani kebutuhan seksualnya hingga akhirnya

Bendoro nantinya akan menikah dengan perempuan yang berasal dari kelas yang sama

dengannya.

Pembahasan mengenai sastra, saya pikir, seharusnya tidak dapat mengabaikan konteks-konteks yang lebih luas yang terkait dengan keberadannya. Dalam roman “Gadis Pantai”, konteks-konteks terkait ialah konteks ekonomi-politik yang memuat kelas sosial dan globalisasi,

konteks relasi gender, serta konteks ekologis dan agama. Inter-relasi holistik antara roman ini

dengan aspek lain terwujud dalam proses dialektika yang terjadi. Proses dialektika antara roman “Gadis Pantai” dengan aspek lainnya mewujudkan kelahiran dan pemberangusan roman itu sendiri.

Pada akhirnya, saya pikir pembahasan kita tidak dapat berhenti pada bagaimana sastra

dibangun melalui proses dialektika. Menurut saya, kita harus dapat melihat bagaimana dialektika

terkait sastra berlanjut sehingga sastra dapat menemukan fungsi sosialnya. Dengan menemukan

fungsinya, khususnya yang terkait dengan kelas sosial, maka kita dapat menemukan ancangan

aksiologis dari karya sastra, yaitu untuk memperhatikan realitas objektif yang material,

(20)

20 Referensi

Buku dan Jurnal

Chernyshevsky, Nicholas G. (1853). “The Aesthetic Relations of Art to Reality”. dalam Russian Philosophy Volume II: The Nihilists, The Populists, Critics of Religion and Culture. Quadrangle Books.

Chukwu-Okoronkwo, Samuel Okoronkwo. (2011). “Art and Societal Dialectics in Sub-Saharan Africa: a Critique of Wa Thiong‟o and Osofisan as Dramatists” Journal of African Studies and Development 3(4):76-86

Diamond, D. (1943). “Art and the Struggle”. Communist Review: 151-153

Gorky, Maxim. (1934). “Soviet Literature” Soviet Writer‟s Congress 1934: 25-69

Nedozchiwin, G.A. (1972). “What Is Aesthetics?” Marxism & Art: Writings in Aesthetics and Critisism. David McKay Company, Inc.

Puspita, Ida. (2012). “Women‟s Identities and Resistance in Pramoedya Ananta Toer‟s The Girl from the Coast and Katharine Susannah Prichard‟s Coonardoo”. University of Wollongong.

Toer, Pramoedya Ananta. (2003). “Gadis Pantai”. Jakarta: Lentera Dipantara

Trotsky, Leon. (1923). “The Social Roots and the Social Function of Literature”

Trotsky, Leon. “Revolutionary and Socialist Art” dalam Literature and Revolution

Yuliantri, Rhoma D.A. dan Dahlan, Muhidin M. (2008). “Lekra Tak Membakar Buku – Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakyat 1950-1965”. Jogjakarta: Merakesumba

Seminar

Referensi

Dokumen terkait

“Hak Cipta Badan Standardisasi Nasional, Copy standar ini dibuat untuk penayangan di www.bsn.go.id dan tidak untuk di komersialkan”.. Standar

Nabi Musa terekam jejaknya dalam sumpah Allah selanjutnya dalam surat ini: (نﯾﻧﯾـــﺳ روطو) Ulama tafsir sepakat bahwa ini adalah gunung, tempat Allah

Pada parameter panjang akar, hasil terbaik dicapai oleh perlakuan 15.3 hal ini dikarenakan merupakan dosis optimum bagi pemberian mikroba untuk beradaptasi dengan

Turunlah atas kita, kasih dan rahmat Tuhan Yesus Kristus, yang telah dimeteraikan dengan Roh Kudus bersama- sama Sang Bapa, memenuhi saudara sekalian.. Umat DAN

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah semua kegiatan kurikuler yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang

a) Bahwa setelah akad nikah penggugat dan tergugat hidup sebagai suami istri di rumah orang tua targugat pada tahun 2010 pindah kerumah kontrakan. Dimana

Metode penelitian sebagai suatu cara untuk memperoleh kebenaran ilmu pengetahuan atau pemecahan suatu masalah, pada.. dasarnya menggunakan