• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PROSES PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH PROSES PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

PROSES PENEMUAN HUKUM OLEH HAKIM DENGAN INTERPRESTASI SOSIOLOGIS

RYANDA PUTRA 1220113045

DOSEN PENANGGUNG JAWAB PROF.DR.YULIA MIRWATI, SH, MH

FAKULTAS HUKUM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ANDALAS

(2)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari begitu banyak hubungan hukum tercipta, tanpa di sadari manusia telah melakukan kegiatan yang menimbulkan hak dan kewajiban. Konsekuensi dari hal tersebut adalah banyak timbul peristiwa-peristiwa hukum yang memungkinkan timbulnya beragam konflik di dalam masyarakat yang mana tentu diharapkan suatu penyelesaian. Hal ini merupakan tantangan bagi sarjana hukum di bidang hukum untuk mencari hukum yang dapat menyelesaiankan setiap konflik.

Seorang ahli hukum pada dasarnya dituntut untuk melaksanakan dua tugas atau fungsi utama yaitu senantiasa harus mampu menyesuaikan kaidah-kaidah hukum yang konkrit (perundang-undangan) terhadap tuntutan nyata yang ada di dalam masyarakat, dengan selalu memperhatikan kebiasaan, pandangan-pandangan yang berlaku, cita-cita yang hidup didalam masyarakat, serta perasaan keadilannya sendiri. Hal ini perlu dilakukan oleh seorang ahli hukum karena peraturan perundang-undangan pada dasarnya tidak selalu dapat ditetapkan untuk mengatur semua kejadian yang ada didalam masyarakat. Perundang-undangan hanya dibuat untuk mengatur hal-hal tertentu secara umum saja.

Selanjutnya bahwa seorang ahli hukum senantiasa harus dapat memberikan penjelasan, penambahan, atau melengkapi peraturan perundang-undangan yang ada, dikaitkan dengan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat. Hal ini perlu dijalankan sebab adakalanya pembuat Undang-undang (wetgever) tertinggal oleh perkembangan perkembangan didalam masyarakat.

(3)

konkrit (das sein) tertentu, jadi dalam penemuan hukum yang penting adalah bagaimana mencarikan atau menemukan hukumnya untuk peristiwa konkit.1

Tanggungjawab dalam penemuan hukum ini di wajibkan untuk tidak menolak setiap perkara yang datang kepadanya, apalagi dengan dalih hukumnya tidak ada atau kurang jelas. Didalam pasal 10 ayat 1 Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman menentukan “bahwa Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalil hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya”. Jadi pada dasarnya hakim darus menyelesaiakn setiap perkara yang datang kepadanya (di pengadilan) walaupun tidak ada atau kurang jelasnya aturan hukum tersebut.

Kejelasan suatu undang-undang sangatlah penting dan oleh karena itu setiap undang-undang selalu dilengkapi dengan penjelasan. Akan tetapi sekalipun nama dan maksudnya sebagi penjelasan, namun seringkali terjadi, penjelasan tersebut tidak juga memberi kejelasan. Karena hanya dinyatakan cukup jelas, padahal teks undang-undangnya tidak jelas dan masih memerlukan penjelasan.2

Dalam kasus seperti ini hukumnya harus dicari, diketemukan bukan diciptakan walau tidak tertutup kemungkinan bahwa hakim dalam menemukan hukum tanpa disadari, tanpa disengaja menciptakan hukum, tetapi hakim dilarang untuk menciptakan peraturan yang mengikat secara umum. 3

. Pada Pasal 28 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman juga dijelaskan bahwa “Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat”.Menurut Paul Scholten di dalam perilaku manusia terdapat hukumnya. Jadi hukum itu tidak semata-mata terdapat di dalam peraturan perundang-undangan

1 Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2001, hlm.37-38.

2 Sudikno Mertokusumo dan A.Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hlm. 12.

(4)

saja. “Penggalian” inilah yang pada dasarnya dimaksud dengan penemuan hukum (rechtsvinding, law making) dan bukan penciptaan hukum. 4

Keadaan seperti ini sangat berpengaruh terhadap rasa kenyamanan masyarakat terhadap hukum. Masyarakat membutuhkan kepastian hukum dalam setiap tindakannya, apalagi Indonesia termasuk kedalam Mix Legal System5 yang mana memberlakukan banyak sistem hukum.6 Artinya dengan banyak nyasistem hukum yang berlaku di Indonesia maka akan memudahkan bagi hakim untuk menggali hukum dari sistem-sistem hukum tersebut, untuk itu seorang hakim harus menjabarkan terlebih dahulu peristiwa hukum kongkret dan kemudian menggali hukum di tengah masyarakat yang berlaku dan dapat diterapkan sehingga rasa keadilan masyarakat yang bersangkutan dapat dipenuhi.

Dengan keberagaman sistem hukum keanekaragaman budaya di Indonesia tidak jarang terjadi adanya ketidak selarasan aturan-aturan hukum, hal ini terjadi karena pada setiap daerah memiliki budaya dan hukum adatnya tersendiri sehingga tidak mungkin meng-generalisir semua aturan hukum adat tersebut. Dapat kita lihat pada saat RUU Pornografi dan Pornoaksi di bahas, timbul berbagai permasalahan mengenai definisi dan batasan dari pornografi dan pornoaksi itu sendiri. Perbedaan budaya di setiap daerah menjadi latar belakang permasalahan tersebut. Akibatnya RUU itu pun di ubah dengan sangat ekstrim yaitu dengan menghilangkan unsur porno aksi dalam RUU tersebut dan kemudian menjadi Undang-undang No.44 Tahun 2008 tentang Pornografi.

Dapam penerapan UU pornografi ini perlu juga Hakim menggali kaidah-kaidah hukum dalam masyarakat supaya penerapanya dapat lebih tepat sasaran. Misalnya di daerah Sumatera Barat yang merupakan masyarakat adat Minangkabau yang terkenal dengan ungkapan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikitabullah”. Ungkapan tersebut bermakna bahwa masyarakat Minangkabau

4 Bambang Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum, UII Press, Yogyakarta, 2006, hlm. 31. 5 Mix Legal System merupakan gabungan dari beberapa sistem hukum yang terlihat didalam penerapannya memberlakukan Perundang-undangan (Eropa Kontinental), Hukum Adat (customary law), Hukum Islam (Muslim Law System), dan Yurisprudence (Common Law).

(5)

dalam memahami dan memaknai eksistensinya sebagai mahluk Allah. Untuk itu perlu kiranya hakim memahami nilai-nilai budaya yang ada di dalam setiap masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk membuat suatu tulisan yang akan menggambarkan tentang Proses Penemuan Hukum Oleh Hakim dengan metode interprestasi sosiologis.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang permasalahan tersebut maka penulis merumuskan permasalahan yang akan dibahas dan menjadi batasan bagi penulis dalam penulisan ini. Pada penulisan ini penulis ingin membahas tentang Proses Penemuan Hukum Oleh Hakim dengan metode interprestasi sosiologis.

BAB II PEMBAHASAN

(6)

1. Metode Penafsiran Hukum7

a. Metode interpretasi menurut bahasa (gramatikal)

Suatu cara penafsiran Undang-undang menurut arti kata-kata (istilah) yang terdapat pada Undang-undang. Hukum wajib menilai arti kata yang lazim dipakai dalam bahasa seharihari yang umum., Misalnya Peraturan per Undang-undangan yang melarang orang menghentikan “Kenderaannya” pada suatu tempat. Kata kenderaan bisa ditafsirkan beragam, apakah roda dua, roda empat atau kenderaan bermesin, bagaimana dengan sepeda dan lain-lain. Jadi harus diperjelas dengan kenderaan yang mana yang dimaksudkan.

b. Metode Interprestasi secara historis

Merupakan suatu metode penafsirkan Undang-undang dengan cara melihat sejarah terjadinya suatu Undang-undang. Penafsiran historis ini ada 2 yaitu yang pertama penafsiran menurut sejarah hukum (Rechts historische interpretatie) adalah suatu cara penafsiran dengan jalan menyelidiki dan mempelajari sejarah perkembangan segala sesuatu yang berhubungan dengan hukum seluruhnya.Penafsiran menurut sejarah penetapan suatu undang-undang (Wethistoirsche interpretatie) yaitu penafsiran Undang-undang dengan menyelidiki perkembangan suatu undang-undang sejak dibuat, perdebatan-perdebatan yang terjadi dilegislatif, maksud ditetapkannya atau penjelasan dari pembentuk Undang-undang pada waktu pembentukannya.

c. Metode interpretasi secara sistemati

Merupakan suatu metode penafsiran yang menghubungkan pasal yang satu dengan apasal yang lain dalam suatu per Undang-undangan yang bersangkutan, atau dengan Undang-undang lain, serta membaca penjelasan Undang-undang tersebut sehingga

7 Syahrani, Riduan, Seluk – Beluk dan Asas – asas Hukum Perdata, alumni,

(7)

kita memahami maksudnya, misalnya dalam pasal 1330 KUHPerdata menyatakan “Tidak cakap membuat persetujuan/perjanjian antara lain orang-orang yang belum dewasa”. Timbul pertanyaan : “Apakah yang dimaksud dengan orang-orang yang belum dewasa”. Untuk hal tersebut harus dikaitkan pada pasal 330 KUHPerdata yang mengatur batasan orang yang belum dewasa yaitu belum berumur 21 tahun. d. Metode Interpretasi secara Teleologis Sosiologis

Merupakan suatu metode penafsiran yang mana makna Undang – undang ditetapkan berdasarkan tujuan kemasyarakatan artinya peraturan perUndang-undangan disesuaikan dengan hubungan dan situasi sosial yang baru. Ketentuan Undang-undang yang sudah tidak sesuai lagi disesuaikan dengan keadaan sekarang untuk memecahkan/menyelesaikan sengketa dalam kehidupan masyarakat. Peraturan yang lama dibuat aktual. Penafsiran seperti ini yang harus dimiliki lebih banyak pada hakim-hakim di Indonesia mengingat negara Indonesia yang pluralistik dan kompleks. Peraturan per Undang-undangan dalam tatanan Hukum Nasional harus diterjemahkan oleh para hakim sesuai kondisi sosial suatu daerah.

e. Metode Intepretasi secara Authentik (Resmi)

Merupakan suatu metode penafsiran yang resmi yang diberikan oleh pembuat Undang-undang tentang arti kata-kata yang digunakan dalam Undang-undang tersebut. Contoh : Dalam Titel IX Buku I KUHP memberi penjelasan secara resmi (authentik) tentang arti beberapa kata/sebutan didalam KUHP. Seperti dalam Pasal 97 KUHP yang dimaksud “sehari” adalah masa yang lamanya 24 jam, “sebulan” adalah masa yang lamanya 30 hari, tetapi tafsiran dalam Titel IX Buku I KUHP ini tidak semestinya berlaku juga untuk kata-kata yang dipergunakan oleh peraturan pidana diluar KUHP artinya Hakim tidak hanya bertindak sebagai corong hukum saja melainkan harus aktif mencari dan menemukan hukum itu sendiri dan menmsosialisasikannya kepada masyarakat.

f. Metode interpretasi secara ekstentif

(8)

aliran listrik dapat dikenakan pasal 362 KUHP artinya Jurisprudensi memperluas pengertian unsur barang (benda), dalam pasal 362 KUHP.

g. Metode Interpretasi Restriktif

Merupakan metode penafsiran yang membatasi/mempersempit maksud suatu pasal dalam Undang-undang seperti : Putusan Hoge Road Belanda tentang kasus Per Kereta Api “Linden baum” bahwa kerugian yang dimaksud pasal 1365 KUHPerdata juga termasuk kerugian immateril yaitu pejalan kaki harus bersikap hati-hati sehingga pejalan kaki juga harus menanggung tuntutan ganti rugi separuhnya (orang yang dirugikan juga ada kesalahannya)

h. Metode interpretasi Analogi

Merupakan suatu metode penafsiran pada sesuatu peraturan hukum dengan memberi kias pada kata-kata dalam peraturan tersebut sesuai dengan azas hukumnya sehingga suatu peristiwa yang sebenarnya tidak termasuk kedalamnya dianggap sesuai dengan bunyi peraturan tersebut.

i. Metode interpretasi argumentus a contrario

Merupakan metode penafsiran yang memberikan perlawanan pengertian antara peristiwa konkrit yang dihadapi dengan peristiwa yang diatur dalam Undang-undang. Berdasarkan perlawanan ini ditarik suatu kesimpulan bahwa perkara yang dihadapi tidak termasuk kedalam pasal tersebut melainkan diluar peraturan per undang-undangan.

Scolten mengatakan bahwa tidak hakekatnya pada perbedaan antara menjalankan Undang-undang secara analogi dan menerapkan Undang-undang secara argumentum a contrario hanya hasil dari ke 2 menjalankan Undangundang tersebut berbeda-beda, analogi membawa hasil yang positip sedangkan menjalankan Undang-undang secara Argumentus a contrario membawa hasilyang negatif.

(9)

Menurut Azas hukum Perdata (Eropa) seorang perempuan harus menunggu sampai waktu 300 hari lewat sedangkan menurut Hukum Islam dikenal masa iddah yaitu 100 hari atau 4 x masa suci karena dikhawatirkan dalam tenggang waktu tersebut masih terdapat benih dari suami terdahulu. Apabila ia menikah sebelum lewat masa iddah menimbulkan ketidak jelasan status anak yang dilahirkan dari suami berikutnya..

2. Sistem Penemuan Hukum Oleh Hakim Dengan Metode Interprestasi Sosiologis Masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama. Dalam setiap kelompok masyarakat tersebut terdapat parameter-parameter tertentu dalam memutuskan yang benar dan yang salah. Negara tidak dapat mengenegalisasi setiap kelompok masyarakat di Indonesia hanya karena dilandasi anggapan bahwa negara dapat mengatur moral serta etika seluruh rakyat Indonesia lewat pengaturan apajasa terhadap kelompok masyarakat tersebut. Negara perlu menyesuaikan aturan hukum yang ada dengan kondisi dan budaya masyarakat Indonesia. Bahasa perundang-undangan tidak dapat mengikuti dinamika perkembangan masyarakat, keberagaman suku bangsa yang memiliki tradisi dan budaya yang berbeda tidak mungkin disatukan dalam suatu aturan hukum yang baku, namun suatu aturan hukum hukum harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat tersebut.

Uraian di atas menjadi pedoman bagi hakim dalam menggali aturan hukum yang hidup di dalam masyarakat. Misalnya saja dalam UU Pornografi pada pasal 1 angka (1) disebutkan bahwa Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.dalam kasus seperti ini hakim dalam memutus perkara harus terlebih dahulu menentukan apakan definisi pornografi di daerah dimana putusanya akan dijatuhkan.

(10)

Interprestasi sosiologis terhadap Undang – undang itu ditetapkan berdasarkan tujuan kemasyarakatan artinya peraturan perUndang-undangan disesuaikan dengan hubungan dan situasi sosial yang baru. Ketentuan Undang-undang yang sudah tidak sesuai lagi disesuaikan dengan keadaan sekarang untuk memecahkan/menyelesaikan sengketa dalam kehidupan masyarakat. Peraturan yang lama dibuat aktual. Penafsiran seperti ini yang harus dimiliki lebih banyak pada hakim-hakim di Indonesia mengingat negara Indonesia yang pluralistik dan kompleks. Peraturan per Undang-undangan dalam tatanan Hukum Nasional harus diterjemahkan oleh para hakim sesuai kondisi sosial suatu daerah.

Philip Heck, berpendapat bahwa tanpa pengetahuan tentang kepentingan sosial, moral, ekonomi kultural dan kepentingan lainnya, dalam peristiwa tertentu atau yang berhubungan dengan peraturan tertentu, pelaksanaan atau penerapan hukum yang tepat dan berarti tidak mungkin.8 Sistem penafsiran juga dapat dilakukan oleh hakim dalam rangka penemuan hukum. Penafsiran sosiologis sangat cocok dengan permasalahan, didalam sistem penafsiran sosiologis bunyi undang-undang tidak dirubah, hanya lebih memfokuskan terhadap perubahan masyarakat dengan memperhatikan maksud dan tujuan dari undang-undang tersebut.9

Pada kasus pornografi di Minangkabau, hakim perlu melihat kondisi masyarakat yang dekat dengan tradisi-tradisi islam seperti ungkapan “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandikitabullah”, maka untuk memutus perkara tersebut hakim dapat menafsirkan kata-kata pornografi seperti pandangan orang-orang minangkabau, apabila hal ini tidak dilakuakan maka rasa keadilan masyarakat minangkabau tidak akan terpenuhi dan tujuan hukum tidak akan tercapai.

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

8www.logikahukum.com, diakses 5 November 2012

(11)

Dari uraian yang telah penulis kemukakan diatas, ada beberapa yang dapat di tarik sebagai kesimpulan akhir dari makalah ini, yaitu :

1. Bahwa dalam proses penemuan hukum, hakim harus memperhatikan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.

2. Interprestasi sosiologis dilakukan dalam rangka menafsirkan aturan hukum agar sesuai dengan keadaan sosial dan budaya masyarakat sekitar.

B. Saran

1. Hakim dalam membuat keputusan haruslah memperhatikan kepentingan umum dengan melihat budaya dan adat istiadat masyarakat setempat

(12)

DAFTAR PUSTAKA

I. BUKU

Achmad Ali, Menguak Teori Hukum dan Teori peradilan, Prenada Media Group, Jakarta, 2012, hlm 499.

Bambang Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum, UII Press, Yogyakarta, 2006

Sudikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2001

Sudikno Mertokusumo dan A.Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993

Syahrani, Riduan, Seluk – Beluk dan Asas – asas Hukum Perdata, alumni, Bandung, 2000.

Zainudin Ali, Filsafat Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2006 II. Website

Detiknews, “inilah isi RUU Pornografi dan Pornoaksi”, 16 September 2008, Dalam Wikipedia.com, di akses 3 November 2012.

www.jarwo.wordpress.com/Algemene Bepalingen Van Wetgeving, pasal 21.

www.logikahukum.com, diakses 5 November 2012

Referensi

Dokumen terkait

Metode Penemuan Hukum (Rechtsvinding ) yang dilakukan oleh hakim pada tindak pidana korupsi adalah pembentukan hukum secara operasional dilakukan dengan terlebih

Kekosongan hukum ini dapat diisi oleh Hakim dengan penafsiran analogis atau penafsiran atas suatu ketentuan dalam undang-undang dengan cara memberi kiasan pada kata-kata

Interpretasi hukum terjadi apabila terdapat ketentuan undang- undang yang secara langsung dapat ditetapkan pada peristiwa konkret yang dihadapi, metode dilakukan

Dari sini dapat ditarik definisi hermeneutika hukum adalah ajaran filsafat mengenai hal mengerti /memahami sesuatu, atau sebuah metode interpretasi terhadap teks

Tetapi tafsiran dalam Titel IX Buku I KUHP ini tidak semestinya berlaku juga untuk kata-kata yang dipergunakan oleh peraturan pidana diluar KUHP artinya Hakim tidak hanya

Mertokusumo, interpretasi atau penafsiran merupakan salah satu metode penemuan hukum yang memberikan penjelasan gamblang tentang teks undang-undang, agar ruang

Dalam usaha menemukan hukum terhadap suatu perkara yang sedang diperiksa dalam persidangan, Majelis Hakim dapat mencarinya dalam: (1) kitab-kitab perundang-undangan sebagai hukum

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Putusan tersebut belum sesuai dengan teori kemanfaatan hukum, mengingat penegakan hukumnya yang tidak tegas terhadap korupsi yang merupakan suatu