MAKALAH
“STUDI KEPUSTAKAAN DAN KERANGKA BERPIKIR”
Di Susun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi
Penelitian
Dosen Pengampu :
Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd.I
Oleh :
Murtafik Indah Wati NIM: 20154711065
SEMESTER 4
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah
Subhanahuwata’ala yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Studi Kepustakaan dan Kerangka Berpikir” ini dengan baik.
Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, kami telah berusaha untuk dapat memberikan yang terbaik dan sesuai dengan harapan, walaupun didalam pembuatannya kami menghadapi kesulitan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang kami miliki. Oleh karena itu pada kesempatan ini, dengan segala hormat kami sampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tulungagugng Bapak Nurul Amin. M.Ag.
2. Dosen pengampu yang telah memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini Dr. Afiful Ikhwan, M.Pd.I.
3. Teman-teman dan seluruh pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan agar dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pihak yang berkepentingan.
Tulungagung, Maret 2017
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………. i
KATA PENGANTAR ………...ii DAFTAR ISI ………. iii BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ………..……….. 1 B. Rumusan Masalah ……….. 1 C. Tujuan Masalah …..……… 1 BAB II : PEMBAHASAN
A. Pengertian Studi Kepustakaan ………...……….. 2 B. Fungsi Studi Kepustakaan ……...………..………….. 3 C. Kerangka Berpikir
1.Pengertian Kerangka Berpikir ………... 3 2. Langkah Menyusun Kerangka Berpikir ………….………… 6 BAB III : PENUTUP
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Penelitian merupakan kegiatan ilmiah yang dimaksudkan untuk mengembangkan dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan. Sebuah kegiatan ilmiah mengandung tiga persyaratan yakni: dilakukan bertujuan, terencana dan sistematis. Setiap penelitian ilmiah, baik penelitian kuantitatif maupun penelitian kualitatif, peneliti harus melakukan dua tahap yang tak bisa dilewatkan yaitu tahap proses teorisasi dan proses empirisasi.
Kedua proses ini tidak bisa dipisahkan satu sama lain, sebab tahapan yang pertama akan digunakan sebagai pijakan pada tahapan yang kedua. Maka dari itu, teori sering disebut sebagai pisau bedah fenomena dan sekaligus sebagai pisau analisis data dalam rangka konstruksi teori baru temuannya. Tajam tidaknya pisau tersebut, sangat tergantung pada penguasaan kerangka teoritik terkait penelitian yang dipilihnya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian studi kepustakaan ? 2. Apa saja fungsi studi kepustakaan ? 3. Apa pengertian kerangka berpikir ?
C. Tujuan Masalah
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Studi Kepustakaan (Library Research)
Studi kepustakaan dapat diartikan sebagai suatu langkah untuk memperoleh informasi dari penelitian terdahulu yang harus dikerjakan, tanpa memperdulikan apakah sebuah penelitian menggunakan data primer atau data sekunder, apakah penelitian tersebut menggunakan penelitian lapangan ataupun laboratorium atau didalam museum.
Pengertian studi kepustakaan menurut M. Nazir dalam bukunya yang berjudul Metode Penelitian, mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang dipecahkan.1
Selanjutnya menurut Nazir studi kepustakaan merupakan langkah yang penting dimana setelah seorang peneliti menetapkan topik penelitian, langkah selanjutnya adalah melakukan kajian yang berkaitan dengan teori yang berkaitan dengan topik penelitian.2 Dalam pencarian teori, peneliti akan
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dari kepustakaan yang berhubungan. Sumber-sumber kepustakaan dapat diperoleh dari: buku, jurnal, majalah, hasil-hasil penelitian, dan sumber-sumber lainnya yang sesuai (internet, koran dll). Bila kita telah memperoleh kepustakaan yang relevan, maka segera untuk disusun secara teratur untuk dipergunakan dalam penelitian. Oleh karena itu studi kepustakaan meliputi proses umum seperti: mengidentifikasikan teori secara sistematis, penemuan pustaka, dan analisis dokumen yang memuat informasi yang berkaitan dengan topik penelitian.
Studi kepustakaan merupakan suatu kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari suatu penelitian. Teori-teori yang mendasari masalah dan
bidang yang akan diteliti dapat ditemukan dengan melakukan studi kepustakaan. Selain itu seorang peneliti dapat memperoleh informasi tentang penelitian-penelitian sejenis atau yang ada kaitannya dengan penelitiannya. Dengan melakukan studi kepustakaan, peneliti dapat memanfaatkan semua informasi dan pemikiran-pemikiran yang relevan dengan penelitiannya.
Untuk melakukan studi kepustakaan, perpustakaan merupakan suatu tempat yang tepat guna memperoleh bahan-bahan dan informasi yang relevan untuk dikumpulkan, dibaca dan dikaji, dicatat dan dimanfaatkan. Seorang peneliti hendaknya mengenal atau tidak merasa asing dilingkungan perpustakaan sebab dengan mengenal situasi perpustakaan, peneliti akan dengan mudah menemukan apa yang diperlukan. Untuk mendapatkan informasi yang diperlukan peneliti mengetahui sumber-sumber informasi tersebut, misalnya kartu katalog, referensi umum dan khusus, buku-buku pedoman, buku petunjuk, laporan-laporan penelitian, tesis, disertasi, jurnal, ensiklopedi, dan bahan-bahan khusus lain. Dengan demikian peneliti akan memperoleh informasi dan sumber yang tepat dalam waktu yang singkat.
B. Fungsi Studi Kepustakaan
Studi kepustakaan mempunyai tiga fungsi penting, yaitu : 1. Memberikan gambaran tentang topic masalah kepada pembaca.
2. Meyakinkan pembaca bahwa penulis mengetahui banyak hal tentang topic masalah yang sedang diteliti.
3. Mengembangkan wawasan tentang bidang studi yang diteliti.
C. Kerangka Berpikir
1. Pengertian Kerangka Berpikir
Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Definisi teori adalah satu perangkat saling berhubungan antar konsep, konstruk, definisi atau proposisi
(pernyataan) yang menyajikan gambaran secara sistematis dengan mengkhususkan hubungan antara variabel yang bertujuan untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena.3
3Prof. Drs. H. Moh. Kasiram, Strategi Penelitian Tesis Program Magister By Research, (Malang:
Karena tujuan dari penggunaan teori itu sendiri untuk dijadikan landasan perlunya ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh dan bukan sekedar perbuatan coba-coba (trial and error). Adanya landasan teori tersebut merupakan ciri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data. Menurut J. Supranto dalam bukunya Metode Ramalan Kuantitatif data adalah sesuatu yang diketahui atau dianggap, dalam bahasa inggris dibedakan datumsebagai tunggal dan data sebagai jamak. Disamping penggunaan teori itu penting, ada juga hal perlu dilakukan oleh peneliti yaitu menyusun kerangka berfikir.
Kerangka berpikir adalah alur berpikir yang disusun secara singkat untuk menjelaskan bagaimana sebuah penelitian dilakukan dari awal, proses pelaksanaan, hingga akhir. Selanjutnya Uma Sekaran dalam bukunya Business Reseacrch
mengemukakan bahwa, kerangka berpikir merupakan model konseptual tentang bagaiamana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.4
Kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen (bebas) dan dependen (terikat). Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening/variabel penyela, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigma penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berpikir.5
Kerangka berpikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenaan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti.
Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu
4Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&d,
(Bandung: Alfabeta, 2012), hal. 91.
5Ibid., hal. 91.
dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berpikir.
Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahan. Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuan, adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berpikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berpikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan. Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut, selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti.
Menurut Ali Muhidin Sambas dalam bukunya “Panduan Praktis Memahami Penelitian” di dalam menulis kerangka berpikir, ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan, yakni: kerangka teoritis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional. Kerangka teoritis atau paradigma adalah uraian yang menegaskan tentang teori apa yang dijadikan landasan (grand theory) yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti. Kerangka konseptual merupakan uraian yang menjelaskan konsep-konsep apa saja yang terkandung di dalam asumsi teoritis yang akan digunakan untuk mengabstraksikan (mengistilahkan) unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena yang akan diteliti dan bagaimana hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka operasional adalah penjelasan tentang variabel-variabel apa saja yang diturunkan dari konsep-konsep terpilih tadi dan bagaimana hubungan diantara variabel-variabel tersebut, serta hal-hal apa saja yang dijadikan indikator untuk mengukur variabel-variabel yang bersangkutan.
Pada dasarnya esensi kerangka pemikiran berisi:
a. Alur jalan pikiran secara logis dalam menjawab masalah yang didasarkan pada landasan teoretik dan atau hasil penelitian yang relevan.
c. Model penelitian yang dapat disajikan secara skematis dalam bentuk gambar atau model matematis yang menyatakan hubungan-hubungan variabel penelitian atau merupakan rangkuman dari kerangka pemikiran yang digambarkan dalam suatu model. Sehingga selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.
2. Langkah Menyusun Kerangka Berpikir a. Menetapkan variabel yang diteliti
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang, atau obyek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan yang lain atau satu obyek dengan obyek yang lain.
Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat dirumuskan disini bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut, sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Macam-macam variabel ada 5 yaitu: variabel independen, variabel dependen, variabel moderator, variabel intervening, dan variabel kontrol.
Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyusun kerangka berpikir untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dahulu variabel penelitiannya. Berapa jumlah variabel yang diteliti, dan apakah nama setiap variabel, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.
b. Membaca Buku dan Hasil Penelitian (HP)
Setelah variabel ditentukan, maka langkah berikutnya adalah membaca buku-buku dan hasil penelitian yang relevan. Artinya relevan adalah buku-buku yang dibaca itu sesuai dengan penelitian yang ditelitinya. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks, ensiklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah laporan penelitian, jurnal ilmiah, skripsi, dan disertasi tesis.
c. Deskripsi teori dan HP
variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam konteks penelitian.
Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang diteliti. Deskripsi teori paling tidak berisi tentang penjelasan terhadap variabel-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, dan uraian yang lengkap dan mendalam dari berbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan prediksi terhadap hubungan antar variabel yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.
d. Analisis Kritis terhadap Teori dan HP
Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil penelitian. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan obyek penelitian atau tidak.
e. Analisis Komparatif terhadap Teori dan HP
Analisis komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain. Melalui analisis komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau mereduksi bila dipandang luas.
f. Sintesa kesimpulan
Melalui analisis kritis dan komparatif terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang relevan dengan semua variabel yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa atau kesimpulan sementara. Perpaduan sintesa antara variabel satu dengan variabel yang lain akan menghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.
g. Kerangka Berpikir
komparatif/perbandingan. Kerangka berpikir asosiatif dapat menggunakan kalimat: “jika begini maka akan begitu, jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi. Jika kepemimpinan kepala sekolah baik, maka iklim sekolah akan baik. Jika kebijakan pendidikan dilaksanakan secara baik dan konsisten, maka kualitas SDM di Indonesia akan meningkat pada gradasi yang tinggi”.
h. Hipotesis
Hipotesis adalah gabungan dari “hipo” artinya “dibawah” dan “tesis”
artinya “kebenaran”. Secara keseluruhan “hipotesis” berarti “dibawah kebenaran”, kebenaran yang masih berada dibawah (belum tentu benar) dan baru dapat diangkat menjadi suatu kebenaran jika memang telah disertai dengan bukti-bukti.6
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut selanjutnya disusun hipotesis. Bila kerangka berpikir berbunyi “jika guru kompeten, maka hasil belajar akan tinggi”, maka hipotesisnya berbunyi “ada hubungan yang positif dan signifikan antara kompetensi guru dengan hasil belajar” Bila kerangka berfikir berbunyi “karena lembaga pendidikan A menggunakan teknologi pembelajaran yang tinggi, maka kualitas hasil belajar akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan B yang teknologi pembelajarannya rendah,” maka hipotesisnya berbunyi “terdapat perbedaan kualitas hasil belajar yang signifikan antara lembaga pendidikan A dan B, atau hasil belajar lembaga pendidikan A lebih tinggi bila dibandingkan dengan lembaga pendidikan B”.
Selanjutnya Uma Sekaran mengemukakan bahwa kerangka berpikir yang baik, memuat hal-hal sebagai berikut:
a. Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
b. Diskusi dalam kerangka berpikir harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari. c. Diskusi juga harus dapat menunjukkan dan menjelaskan apakah hubungan antar
variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris, kausala atau interaktif (timbal balik).
6Prof. Dr. Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hal. 45.
d. Kerangka berpikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka berpikir yang dikemukakan dalam peneltian.
Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara ilmiah dengan benar, maka peneliti harus intens dan ekstens menelurusi literatur-literarur yang relevan serta melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, sehingga uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada pertimbangan logika. Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti merujuk pada literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu. Selanjutnya secara sederhana penyusunan kerangka berpikir dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:
a. Menentukan paradigma atau kerangka teoritis yang akan digunakan, kerangka konseptual dan kerangka operasional variabel yang akan diteliti.
b. Memberikan penjelasan secara deduktif mengenai hubungan antar variabel penelitian. Tahapan berpikir deduktif meliputi tiga hal yaitu:
1) Tahap penelaahan konsep (conceptioning), yaitu tahapan menyusun konsepsi-konsepsi (mencari konsep-konsep atau variabel dari proposisi yang telah ada, yang telah dinyatakan benar).
2) Tahap pertimbangan atau putusan (judgement), yaitu tahapan penyusunan ketentuan-ketentuan (mendukung atau menentukan masalah akibat pada konsep atau variabel dependen).
3) Tahapan penyimpulan (reasoning), yaitu pemikiran yang menyatakan hal-hal yang berlaku pada teori, berlaku pula bagi hal-hal yang khusus.
penelitian. Sehingga pada akhirnya produk dari kerangka pemikiran adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah (hipotesis).
d. Merumuskan model penelitian
Model adalah konstruksi kerangka pemikiran atau konstruksi kerangka teoritis yang diragakan dalam bentuk diagram atau persamaan-persamaan matematik tertentu.
Sebagai suatu kontruksi kerangka pemikiran, suatu model akan menampilkan:
1)Jumlah variabel yang diteliti
2)Prediksi tentang pola hubungan antar variabel 3) Dekomposisi hubungan antar variabel
4) Jumlah parameter yang diestimasi.
PENUTUP
Kesimpulan
1. Studi kepustakaan dapat diartikan sebagai suatu langkah untuk memperoleh informasi dari penelitian terdahulu yang harus dikerjakan dengan menggunakan data primer atau data sekunder.
2. Fungsi Studi kepustakaan mempunyai tiga fungsi penting, yaitu : a. Memberikan gambaran tentang topik masalah kepada pembaca.
b. Meyakinkan pembaca bahwa penulis mengetahui banyak hal tentang topic masalah yang sedang diteliti.
c. Mengembangkan wawasan tentang bidang studi yang diteliti. 3. a. Pengertian Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir adalah alur berpikir yang disusun secara singkat untuk menjelaskan bagaimana sebuah penelitian dilakukan dari awal, proses pelaksanaan, hingga akhir.
b. Langkah Menyusun Kerangka Berpikir 1)Menetapkan variabel yang diteliti
2)Membaca Buku dan Hasil Penelitian (HP) 3)Deskripsi teori dan HP
4)Analisis Kritis terhadap Teori dan HP 5)Analisis Komparatif terhadap Teori dan HP 6)Sintesa kesimpulan
7)Kerangka Berpikir 8)Hipotesis
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Prof. Dr. Suharsimi. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Kasiram, Prof. Drs. H. Moh. 2002. Strategi Penelitian Tesis Program Magister By Research. Malang: Program Pascasarjana.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Sugiyono, Prof. Dr. 2012. Metode Penelitian Pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&d. Bandung: Alfabeta.