Etika Bisnis dalam Perspektif Islam
“Diajukan untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah bahasa Indonesia”
Dosen pengampu: Zein Muttaqien, S.E.I.,MEI
Disusun Oleh:
Nama
NIM
Dafi’Fadhilah
14423015
Rizky Gustyanti
14423005
Universitas Islam Indonesia
Fakultas Ilmu Agama Islam
Prodi Ekonomi Islam
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...2
BAB I...3
PENDAHULUAN...3
Latar Belakang...3
Rumusan masalah...3
BAB 2...4
PEMBAHASAN...4
2.1 PENGERTIAN ETIKA BISNIS...4
2.2 KONSEPSI ETIKA BISNIS...4
2.3 LANDASAN DESKRIPTIF, NORMATIF, DAN MORALITAS...5
2.4 PRINSIP ETIKA BISNIS...6
2.5 SIKAP DAN KOMITMEN ATAS ETIKA...7
2.6 IMPLIKASI ETIKA DALAM FUNGSI BISNIS ISLAM...7
BAB 3...14
PENUTUP...14
KESIMPULAN...14
DAFTAR PUSTAKA...15
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Setiap perusahaan atau pelaku bisnis pada saat ini, diberi kebebasan dalam perekonomian pasar bebas untuk dapat melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Sehingga, pelaku bisnis dapat bersaing untuk dapat berkembang dalam mekanisme pasar.
Didalam kebebesan dalam perekonomian pasar tersebut, pelaku bisnis atau perusahaan dalam menjalankan kegiatan usahanya selalu mengharapkan keuntungan yang maksimal dan produk yang mereka tawarkan diterima oleh masyarakat. Untuk itu, kerap dari pelaku bisnis atau perusahaan menghalalkan segala cara agar tidak kalah saing.
Akhir-akhir ini banyak pelaku bisnis melakuakan pelanggaran etika bisnis dengan persaingan yang tidak sehat. Pelanggaran etika bisnis tersebut sangat merugikan pihak pelaku bisnis atau perusahaan menengah kebawah karena kurangnya kemampuan yang mereka miliki. Setiap pelaku bisnis atau perusahaan seharusnya dapat memegang prinsip-prinsip etika bisnis tersebut.
Etika bisnis adalah studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah atau tata cara dalam menjalankan sebuah bisnis. Dengan adanya etika bisnis pelaku bisnis atau perusahaan dapat mengetahui aturan-aturan, nilai-nilai bahkan norma-norma dalam menjalankan usahanya.
Perusahaan yang menggunakan etika bisnis dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil, sehat dengan mitra kerja atau pelanggan, pemengang saham dan masyarakat
Rumusan masalah
1. Bagaimana Pandanan Islam Mengenai Konsep Etika dalam Bisnis ? 2. Bagaimana Implementasi Konsep Etika dalam Bisnis Islam ?
Tujuan penulisan
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN ETIKA BISNIS
Etika bisnis adalah aplikasi etika umum yang mengatur prilaku bisnis. Norma moralitas merupakan landasan yang menjadi acuan bisnis dalam prilakunya. Dasar prilakunya tidak hanya hukum-hukum ekonomi dan mekanisme pasar saja yang mendorong prilaku bisnis itu tetapi niali moral dan etika juga menjadi acuan penting yang harus dijadikan landasan kebijakannya. (Muslich, 2004: 9)
Pengelolaan bisnis dalam konteks pengelolaan secara etik mesti menggunakan landasan norma dan moralitas umum yang berlaku di masyarakat. Penilaian keberhasilan bisnis tidak saja ditentukan oleh keberhasilan ekonomi dan finansu=ial semata tetapi keberhasilan itu diukur dengan tolak ukur paradigma moralitas dan nilai-nilai etika terutama moralitas dan etika yang dilandasi oleh nilai-nilai sosial dan agama. Tolak ukur ini harus menjadi bagian dan integral dalam menilai keberhasilan dalam suatu kegiatan bisnis. (Muslich, 2004: 9)
Secara ideal memang diharapkan komitmen aplikasi etika bisnis muncull dari dalam bisnis itu sendiri. Oleh karena itu etika bisnis diaplikasiakan disamping oleh pelaku bisnis itu sendiri sebagai komitmen diri yang memang muncul tuntutan dari dalam bisnis itu sendiri sebagai tujuan profesionalisme pengelola bisnis. Tetapi juga oleh akibat dan tujuan yang akan diraih oleh lingkungan dan sosial ikut serta mendukung tujuan bisnis itu sendiri dalam jangka waktu panjang dimasa datang.
2.2 KONSEPSI ETIKA BISNIS
Secara konseptual implementasi etika bisnis di dalam kegiatan bisnis dapat di susun urutannya bahwa etika didasarkan pada norma dan moralitas. Dari dasar etika tersebut maka etika bisnis mendasarkan diri pada moralitas dan norma, tetapi juga hukum dan peraturan yang berlaku dimasyarakat.
Gambar 1.1 Konsepsi Etika Bisnis
etika umum
etika bisnis
etika dalam Islam
Di dalam system etika islam,ada system penilaian atas perbuatan atau perilaku yang dilakukan manusia dengan kategori baik atau buruk
Perilaku Baik, adalah semua perilaku atau aktivitas yan dilakukan manusia didorong atau dimotivasi oleh kehendak akal fikir dan hati nurani dalam rangka menjalankan perintah Allah.Secara kronolois di doron dan disadari serta dimengerti setelah ada ketentuan yan terulang dalam perintah yang berstatus hukum wajib dan anjuran berstatus sunnah. Orang yang melakukan tindakan ini akan mendapatkan pahala. Perilaku baik dalam konteks menjalankan perintah wajib dapat dilakukan sebagaimana kita berkewajiban dalam menjalankan rukun islam yang lima yaitu: kewajiban dalam bersyahadatain,bershalat fardhu,berpuasa Rhamadan,berzakat dan berhaji.Demikian juga, pada
Agama, uu, hukum Norma
perilaku dalam menjalankan anjuran yan berdimensi sunnah seperti menjalankan amaran menolon orang yang mengalami kesulitan,bersedekah,berinfaq,membangun ekonomi umat supanya semakinbaik, membuka lapangan pekerjaan baru untuk menampung dan mengatasi tinkat penangguran, mencegah tercemarnya linkungan hidup, memberi manfaat dan pelayanan terbaik dan menyenangkan bagi masyarakat konsumeni
Perilaku Buruk difahami sebagai semua aktivitas dilarang oleh Allah, di mana manusia dalam melakukan perilaku buruk atau jahat ini didorong oleh keinginan hawa nafsu,godaan syaitan untukmelakukan perbuatan atau perilaku buruk atau jahat yan akan mendatankan dosa bagi pelakunya. Perilaku seperti ini dapat meruikan diri sendiri dan yang berdampak pada oran lain atau masyarakat. Sebagai contoh,perbuatan dzalim terhadap Allah dengan tidak mesyukuri atas nikmat yang telah Allah berikan,melakukan perbuatan yan jauh dari rasa syukur kepada Allah. Contoh lain adalah menzdalimi terhadap sesama manusia yan tercermin misalnya pada pemberian upah yang tak layak terhadap para karyawan, terhadap patner kerja dan terhadap para konsumen, mencuri dengan melakukan korupsi di berbagai kesempatan dan bidang pekerjaan, menggunakan dan memakai barang atau penghasilan riba dalam transaksi bisnis, bertindak sabotase terhadap usaha pihak lain,menahan atau menimbun barang supaya harga menjadi makin tinggi dan mereka untung besar, sementara barang itu sangat langka dan dibutuhkan di masyarakat . Pada prinsipnya perilaku buruk atau jahat merupakan perilaku yang merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan hidup. Perilaku buruk atau jahat merupakan cermin dari melangarnya perintah dan anjuran dari Allah. Pelangaran terhadap peraturan atau perundang undangan yang berlaku atau norma dan susila yang mengatur tatanan kehidupan yang harmonis di dalam masyarakat.
2.3 LANDASAN DESKRIPTIF, NORMATIF, DAN MORALITAS
Etika deskriptif adalah objek yang dinilai sikap dan prilaku manusia dalam mengejar tujuan yang ingin dicapai dan bernilai sebagaumana adanya. Nilai dan pola prilaku manusia seperti apa adanya sesuai dengan tingkatan kebudayaan yang berlaku dimasyarakat. (Muslich, 2004: 11)
Etika Normatif adalah sikap dan prilaku sesuai dengan norma dan moralitas yang ideal dan mesti dilakukan oleh manusia/masyarakat. (Muslich, 2004: 11)
Ada tuntutan yang menjadi acuan bagi semua pihak dalam menjalankan fungsi dan peran kehidupan dengan sesama lingkungan.
Sebagaimana diketahui bahwa tujuan bisnis seperti telah dinyatakan oleh pengetahuan bisnis di era moderenitas akhir-akhir ini antara lain sebagai berikut.
Tujuan Bisnis :
2.4 PRINSIP ETIKA BISNIS
Dalam pelaksanaan etika bisnis ada bebarapa prinsip yang harus dianut oleh pelakau bisnis antara lain:
1. Prinsip Otonomi
Pelaku bisnis yang menjalankan kegiatan bisnis dengan paradigma yang ada dimasyarakat tersedia sebagai pilihan penggunaan sumber daya tersedia atau sarana dan prasarana yang akan dimanfaatkan dalam rangka mencapai tujuan yang ingin dicapau pelaku bisnis. Keputusan yang diambil pelaku bisnis dalam memanfaatkan sumber daya ini bebas untuk memilih penggunaan yang mana yang akan dipilih tentu disini para pengabil keputusan memiliki kewenangan tertentu yang bebas secara otonom. Tentunya keputusan secara otonom ini terikat dengan kebesan orang lain yang terlibat bak secara langsung maupun tidak langsung.
2. Kejujuran
Prinsip etika atas sikap kejujuran yang harus dimiliki oleh pelaku bisnis merpakan prinsip penting. Bahka prinsip ini merupakan modal utama bagi prilaku bisnis manakalah diinginkan bisnisnya mendapat kepercayaan dari partner dan msyarakat. Misalnya dalam hal :
a. Perjanjian kontrak kerja. b. Penawaran barang atau jasa.
c. Hubungan kerjasama denga stake holders.
d. Jujur pada semua mitra kerja perlu dijaga dengan baik.
3. Niat Baik dan Tidak Berniat Jahat
Sejak awal didirikannya bisnis memang diniatkan bertujuan baik dan tak sedikitpun tersembunyi niatan yang buruk atau jahat terhadap semua pihak.
Niatan dari satu tujuan terlihat pada cukup tranparantya misis, visi, dan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi bisnis. Dari misis, visi, dan tujuan yang dirumuskan akan menjadi bahan ukur bagi masyarakat untuk menilai niatan yang dipaparkan di dalamnya dilaksanakan atau tidak.
4. Adil
Prinsip ini merupakan prinsip yang cukup sentral bagi kegiatan bisnis. Hampir disegala apek kegiatan bisnis bermuara pada tuntutan untuk bersikap baik dan berprilaku adil terhadap semua pihak yang terlibat. Sedikitpun sikap dan prilaku yang dilakukan jangan mengandung unsur ketidak adilan. Sebab ketidakadilan merupakan seumber kegagalan yang akan dialami perusahaan atau pelaku bisnis.
5. Hormat Pada Diri Sendiri
Prinsip hormat pada diri sendiri adalah cerminan penghargaan yang positif pada diri sendiri. Sebuah upaya dalam prilaku bagaimana penghargaan terhadap diri sendiri itu diperoleh.
Hal ini tentu dimulai dengan penghargaan kita terhadap orang lain. Jadi sebelum kita menghargai diri sendiri maka kita terlebih dahulu menghargai orang lain. (Muslich, 2004: 12-20)
2.5 SIKAP DAN KOMITMEN ATAS ETIKA
Sebagai bukti pelaku bisnis mempunyai sikap dan komotmen terhadap etika, berikut merupakan indikasi sikap dan komitmen yang benar :
c. Kongkretisasi tuntutan etika bisnis (misal, agar efektif harus dirumuskan secara kongkrit pada setiap jenjang keputusan manajemen.)
d. Sikap pribadi yang jujur, konsisten, kerja keras dan efisien.
2.6 IMPLIKASI ETIKA DALAM FUNGSI BISNIS ISLAM
Bisnis merupakan suatu sitem. Artinya di dalam bisnis ada komponen atau varibel satu dengan lain yang saling berhubungan untuk mewujudkan tujuannya. Dengan tujuan yang agak berbeda antara bisnis islami dengan non-islami, namun secara system beberapa komponen sistemnya akan sama. Namun komponen tersebut tentunya berbeda dalam hal perencanaan,pelaksanaan dan hasil yang di wujudkan. Oleh karena itu, kajian berikut ini akan menguraikan: bagaimana etika dalam fungsi merupakan mitra sasaran dan sumber penhasilan yang dapat menghidupi dan mendukung pertumbuhan perusahaan. Oleh karena itu, apapun yang dilakukan aktivitas pemasaran adalah berorientasi pada kepuasan pasar.Kepuasan pasar adalah kondisi salin ridha dan rahmat antara pembeli dan penjual atas transaksi yang dilakukan. Dengan adanya keridhaan ini, maka membuat pasar tetap loyal terhadap produk perusahaan dalam jangka waktu yang panjang.Aktivitas pemasaran harus didasari pada etika dalam bauran pemasarannya.Sehubun dengan ini dapat diklarifikasikan sebagai berikut:
1. Etika pemasaran dalam konteks produk a. Produk yang halal dan thoyyib b. Produk yang berguna dan dibutuhkan c. Produk yang berpotensi ekonomi dan benefit d. Produk yang bernilai tambah yang tinggi
e. Dalam jumlah yang berskala ekonomi dan social f. Produk yang dapat memuaskan masyarakat 2. Etika pemasaran dalam konteks harga
a. Beban biaya produksi yang wajar b. Sebagai alat kompetisi yang sehat
c. Diukur dengan kemampuan daya beli masyarakat d. Margin perusahaan yang layak
e. Sebagai alat daya tarik bagi konsumen 3. Etika pemasaran dalam konteks distribusi
a. Kecepatan dan ketetapan waktu b. Keamanan dan keutuhan barang
c. Sarana kompetisi memberikan pelayanan kepada masyarakat d. Konsumen mendapat pelayanan tepat dan cepat
4. Etika pemasaran dalam konteks promosi a. Sarana memperkenalkan barang
Dalam kerangka Islam, etika dalam pemasaran tentunya perlu didasari pada nilai-nilai yang dikandung al-qur’an dan hadist Nabi. Beberapa ayat dan hadits Nabi yang dapat dijadikanpijakan etika dalam pemasaran di antaranya
1. Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan,sesunuhnya di dunia perdagangan itu ada Sembilan dari sepuluh pintu rizki(HR.Ahmad)
2. Hai oran yang beriman,janganlah kamu salin memakan harta sesamanu dengan jalan yang bathil,kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling suka sama suka di antara kamu.Janganlah kamu membunuh dirimu,sesungguhnya Allah maha penyayang kepadamu(QR.An-nisaa:29)
3. Barang siapa yang memelihara silatuhrahmi,maka Allah akan menganugerahi rizki yang melimpah dan umur panjang(Al-hadis)
Etika dalam fungsi produksi
Para ahli ekonomi mendefinisikan produksi sebagai” menciptakan kekayaan melalui eksploitasi manusia terhadap sumber-sumber kekayaan lingkungan(Qardhawi 1997). Kekayaan ala mini meliputi kekayaan fauna dan flora. Dua hal ini dalam konteks ekonomi disebut dengan sumber daya alam. Di dalam proses produksi akan melibatkan berbagai jenis sumber daya,sebagai masukan dalam proses produksi,diantaranya adalah: material,informasi,energy,maupun tenaga kerja.
Fungsi produksi dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan atau penadaan atas barang atau jasa.Tranformasi yang dilakukan dalam kegiatan produksi adalah untuk membentuk nilai tambah(value added).Menurut Muslich,secara filosofi, aktivitas produksi meliputi:
a. Produk apa yang dibuat
Lebih lanjut dikatakan oleh Muslich,bahwa etika bisnis yang terkait dengan fungsi produksi adalah berkaitan dengan upaya memberikan solusi atas tujuh permasalahan di atas.Solusi dari produksi adalah berorientasi pada pencapaian harmoni atau keseimbangan bagi semua atau beberapapihak yang berkempentingan dengan masalah produksi. Secara grafis hubungan etika dengan fungsi produksi dapat digambarkan sebagai berikut:
Akhlak utama dalam produksi yang wajib diperhatikan kaum muslimin,baik secara individual maupun secara bersama,ialah bekerja pada bidang yang dihalalkan Allah.Tidak melaupai apa yang diharamkan-Nya.Dengan demikian tujuan produksi menurut Qardhawi,adalah: (1) untuk memenuhi kebutuhan setiap individu (2) mewujudkan kemandirian umat.
Terkait dengan tujuan yang pertama,ekonomi(bisnis) Islam sangat mendorong produktivitas dan mengembangkannya baik kuantitas maupun kualitas.Islam melarang menyia-nyiakan potensi material maupun potensi sumber daya manusia.Bahkan Islam menerahkan semua itu untuk kepentingan produksi. Di dalam bisnis Islam keiatan produksi menjadi sesuatu yang unik istimewa,sebab di dalamnya terdapat faktor profesionalitas yang dicintai Allah dan ihsan yang diwajibkan Allah atas segala sesuatu.
muslim dan umat islam.Pada tinkat pribadi muslim,tujuannya adalah merealisasikan kemandirian umat.
Tujuan lain dalam produksi adalah merealisasikan kemandirian ekonomi umat.Maknanya,hendaknya umat memiliki bebaai kemampuan,keahlian dan prasarana yang memunkinkan terpenuhinya kebutuhan material dan spririlual.Jua terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan pengembanan peradaban,melalui jalan yan oleh para ahli fiqih disebut fardu kifayah
Etika dalam Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Dewasa ini,perilaku ekonomi termasuk pada bidan manajemen menhadapi tantangan tersendiri.Perubahan lingkungan yang akan dating mendesak manajemen untuk membuka diri pada dampak perubahan lingkungan eksternal dan tranformasi visi,misi dan strategi,serta adaptasi kultur,struktur dan system.Perubahan lingkungan yang akan dating terjadi mendesak manajemen untuk membuka diri pada dampak perubahan lingkungan eksternal dan tranfoemasi visi,misi,dan tratei,serta adaptasi kultur,struktur dan system. Perubahan ini membentuk keterbukaan manajemen secara keseluruhan untuk menggapainya.Oleh karena itu,harus ada perubahan konsep,yaitu konsep yang dulu mengandalkan pada supper stars menuju konsep supper teams,sehingga harus berani membonkar dan menggalkan pemikiran yan usan masa lampau menuju pada kapasitas dan kredibilitas kepemimpinan dan manajemen operasi,sehinggan mampu melakukan uatan berupa keberanian moral untuk merubah mentalitas “pedagang’’ menuju enterpenuer yang professional.Hal ini saja belum cukup, namun perlu didasarkan pada hubungan yang humanis, nahkan sampai kepada pendekatan teologis-etis.Pendekatan ini penting, Karena pendekatan ini mampu berperan sebaai akselerator bagi terciptanya pola interaksi manajer dengan pekerja yang humanis, di mana kerja akan dirasakan baik oleh manajer maupun pekerja,sebagai wahana humanisasi diri dan realisasi kediriannya.
Dewasa ini, paradigm perlakuan manajer terhadap pekerjaannya telah berubah,setidak-tidaknya secara teoritis, dari scientific paradigm menuju behavior paradigm.Perubahan ini terjadi,karena adanya kesadaran kaum manajer dalam memandang pekerja.Paradigma scientific memandang perkerja sebagai “obyek” yang dapat direkayasa,sebagaimana ia perlakukan alam.Oleh karena itulah,maka perubahan paradigm manajemen yang bersifat mekanik menuju human relation terjadi.
Pereseran paradigma tersebut, muncul karena kenyataan, bahwa seorang manajer perusahaan lebih dihadapkan pada preferensi putusan bagi masalah struktural manajemennya,baik terkait dengan kebijaksanaan perekonomian Negara maupun permintaan pasar.Lagi-lagi,karena masalah structural,seorang manajer cenderung lebih tega untuk mengorbankan pekerjaannya dari pada harus menghadapi risiko teranggunya kelancaran proses produksi perusahaannya.
Oleh karena itu,tidak menherankan jika seoran ahli manajemen seperti Peter F.Drucker berkesimpulan bahwa esensi oranisasi modern adalah mendoron dan mengoranisasikan kemampuan dan penetahuan yang dimiliki individu(perkerja) agar dapat berfungsi produktif dan sekaligus meminimalisasi kelemahan-kelemahan yang dimiliki individu agar tidak mengganggu jalannya proses produksi. (Rudy,voll 2,1990,p 44)
Kendatipun demikian,masih dapat dipertanyakan,jika pun ada tindakan yang”baik hati”dari seorang manajer untuk peduli terhadap kesejahteraan para pekerjanya, apakah ini hal itu dikarenakan desakan panggilan teologis-etis dalam lubuk hati manajer, ataukah karena kepentingan untuk mempertahankan kelangsungan produktivitas perusahaan? Selanjutnya,apakah perkembangan pesat dunia Eropa pasca Abad Pertengahan semata-mata didasarkan pada semangat etika Protestan yang disulut Luther dan Calvin,ataukah telah terjadi perubahan-perubahan prakondisi(sains dan teknologi) yang menjadi preseden bagi tranformasi system perekonomian feodalisme kepada system kapitalisme?
hubungan manajer-pekerja. Jika demikian, maka dorongan teologis-etis dapat berperan sebagai akselerator bagi terciptanya pola interaksi manajer-pekerja yan humanis, di mana kerja akan dirasakan baik oleh pekerja maupun manajer,sebagai wahana humanisasi diri dan realitas kediriannya(Lihat Oranisasi dan Akuntasi Syariah,Yogyakarta:LKiS,2000) Abraham Maslow, maka self-trancedence dapat diletakkan di atas jenjang kebutuhan tertinggi, yaitu self-actualization.
Sebaai mana Maslow telah mengambarkan hirarkhi kebutuhan dalam suatu piramida.Namun pandangan Maslow ini jua dikritisi oleh ahli lain,diantaranya Clayton Alderfer dengan teori ERG-nya.Kemudian Frederick Herzberg dengan two-factor theory,Juga David McClelland dengan acquired-needs theory-nya.Dengan demikian,dapat dipahami bahwa teori kebutuhan Maslow mengundang muncul teori kebutuhan lain, Maka dimungkinkan dapat digali teori kebutuhan dalam perspektif lain,seperti perspektif islam.
Dalam pandangan Islam, bahwa manusia itu hidup tidak hanya di dunia saja, namun setelah kehidupan dunia masih ada kehidupan akhirat. Dengan demikian, kebutuhan manusia Islam tidak hanya memenuhi kebutuhan tertinggi(yang menurut Maslow dikenal sebagai self-actualization).Pemenuhan kebutuhan kehidupan setelah dunia akhirat dengan urusan transedetal,maka kebutuhan tertinggi manusia Islam adalah mewujudkan self-trancedence.
Self-trancedence adalah suatu keadaan yang dapat dicapai memaluli proses secara bertahap.Triyuwono menjelaskan, bahwa”dengan dipengaruhi oleh iman,pengetahuan dan tindakan,proses perkembangan diri (self) dibimbing menuju tujuan tertinggi dan trasendental, yakni mencapai falah.Menurut para akademisi – seperti Raharjo, untuk menunjuk pada salah satu contoh - , bahwa diri (self) manusia kemungkinan berada dalam kondisi dari tingkat perkembangan. Secara
umum ada tiga tingkat perkembangan, yaitu: ammarah (sifat
kebinatangan),lawwamah(kemanusiaan),dan muthainnah(ketuhanan,relugius). Pada saat mencapai tingkatan tertinggi inilah yang biasanya dikenal sebagai manusia yang taqwa atau sampai pada tingkatan muttaqin.
Di samping itu ada juga yang menemukan system dalam alam semesta. Juga ada yang menemukan Allah atau Tuhan dalam pengalaman tersendennya.Bagi mereka ini kegiatan yang relevan adalah amal dan ibadah. Sehingga kunci keberhasilan dalam hidup ini adalah iman dan ketaatan. Iman dan ketaqwaan atau ketaatan membuahkan makna hidup dan keselamatan bagi manusia dan kemuliaan bai Allah dan ciptaan-Nya.
Selanjutnya, bagaimana caranya untuk keluar dari kendala structural manajemen yang terkait, baik dengan kebikjaksanaan ekonomi neara maupun tuntutan pasar? Solusinya adalah menciptakan kesadaran emansipatoris yang pada gilirannya terwujud dalam pola hubungan manajer-pekerja.Selanjutnya, dorongan teolois-etis dapat berperan sebaai akselerator bai terciptanya pola interaksi manajer-pekerja yang humanis, sebagai diuraian sebelumnya.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa manusia yan terdiri dari keseluruhan sifat-sifat tersebut(fisik,biolois,intelektual,spiritual,dan sosiologis) memiliki kebutuhan masing-masing yan dipadukan bersama-sama. Sementara di luar itu, ada suatu masalah penting untuk dipertimbangkan,yaitu – dengan segala keberadaannya dalam semua aspek kehidupannya yang beragam – manusia merupakan bagian dari system alam raya yan sangat besar dan luas.
Keseimbangan pemanuhan kebutuhan masing-masing unsure tersebut akan sangat berantung kepada lemah-kuatnya dorongan nafsu dan kualitas pengendalian yan diperani oleh akan dan hati. Akal dan hati yang berkualitas pasti akan membatasi konsumsinya sebatas kebutuhan fitrahnya. Komsumsi yang melebihi kebutuhan fitrah adalah kebutuhan palsu, yang justru akan merusak dirinya.
Kebutuhan fitrah manusia yang tertinggi adalah tercapainya self trancedence bukan sekedar self-actualization-nya Maslow; growth-nya Alderfer: satisfiers factors-nya Herzberg maupun achievement-nya McClelland. Dalam pandangan Islam, kebutuhan ditentukan oleh konsep maslahah. Pembahasan konsep kebutuhan dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari kajian perilaku konsumen. Tujuan syariah harus dapat menentukan tujuan perilaku konsumen dalam Islam. Tujuan syariah dalam Islam adalah terciptanya kesejahteraan ummat manusia. Oleh karena itu, semua baran dan jasa yan memiliki maslahah akan dikatakan menjadi kebutuhan manusia
Dalam konteks ini, konsep maslahah sangat tetap di terapkan. Menurut Shatibi, maslahah adalah pemilikan atau kekuatan barang atau jasa yang mengandung elemen-elemen dasar dan tujuan kehidupan umat manusia di dunia ini dan perolehan pahala untuk kehidupan akhirat kelak. Shatibi membedakan maslahah emnjadi tiga, yaitu; kebutuhan(durriyyah), pelengkap(hajiyyah), dan perbaikan(tahsiniyyah).
Khallaf memberikan penjelasan mengenai maslahah sebagai berikut, bahwa tujuan umum syar’I dalam mesyari’atkan hukum ialah terwujudnya kemaslahatan manusia dalam kehidupan ini terdiri dari beberapa hal yan bersifat daruriyyah,hajiyyah, dan tahsiniyyah telah terpenuhi, berarti telah nyata kemaslahatan mereka. Seoran ahli hukum yang muslim, tentunya mensyari’atkan hukum dalam berbagai sector kegiatan manusia untuk merealisasikan pokok-pokok daruriyyah,hajiyyah, dan tahsiniyyah bagi perorangan dan masyarakat.
Daruriyyah, yaitu sesuatu yang wajib adanya yang menjadi pokok kebutuhan hidup untuk menegakkan kemaslahatan manusia. Hal-hal yang bersifat daruriy bagi manusia dalam penertian ini berpangkal pada memelihara lima hal, yaitu; agama,jiwa,akal,kehormatan,dan harta. Dalam hal ini Qardhawi menambahkan satu hal daruiry, yaitu: anak atau keturunan. Jadi memelihara satu dari lima hal itu merupakan kepentingan yang bersifat primer bagi manusia
Hajiyyah, ialah suatu yan diperlukan oleh manusia dengan maksud untuk membuat ringan,lapang dan nyaman dalam menanggulangi kesulitan-kesulitan kehidupan. Faktor eksternal manusia dalam pengertian ini berpangkal pada tujuan menghilangkan kesulitan dan beban hidup, sehingga menudahkan mereka meralisasikan tata cara pergaulan, perubahan jaman dan menempuh kehidupan. Tahsiniyyah, ialah sesuatu yang diperlukan oleh normal atau tatanan hidup, serta berperilaku menurut jalan yang lurus. Hal yan bersifat tahsiniyyah berpangkal dari tradisi yan baik dan seala tujuan peri kehidupan manusia menurut jalan yan paling baik.
Lebih jauh Khallaf mengatakan,”yang terpentin dari tiga tujuan pokok itu adalah darury dan wajib dipelihara. Hajiyi boleh ditinggalkan apabila memeliharanya merusak hukum darury, dan tahsiny boleh ditinggalkan apabila dalam penjangaannya merusak darury dan tahsiny.
Jadi semua barang dan jasa memiliki keuatan untuk memenuhi lima elemen pokok(darury)telah dapat dikatakan memiliki maslahah bagi ummat manusia. Semua kebutuhan adalah tidak sam penting. Kebutuhan ini meliputi tia tingkatan, yaitu:
1. Tingkat dimana lima elemen pokok di atas dilingdungi secara baik
3. Tingkat dimana lima elemen poko di atas secara sederhana diperoleh secara lebih baik
Etika dalam Manajemen Keuangan
Manajemen keuangan dalam konteks pembahasan ini adalah hubungan dengan pengangaran. Anggaran adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yaitu meliputi seluruh kegiatan bank yang dinyatakan dala unit(kesatuan) moneter yan berlaku untuk jangka waktu(periode) tertentu di masa dating. Pada dasarnya anggaran merupakan pendekatan formal yan sistematis mengenai keuangan lembaa yang didasarkan sebaai tanggung jawab manajemen dalam bentuk perencanaan,koordinasi dan pengawasan. Oleh karena anggaran adalah berkaitan dengan manajemen keuangan yan berkaitan dengan waktu realisasi, maka biasanya disebut dengan rencana keuangan(budgeting). Rencana keuangan adalah rencana keuangan lembaa bisnis islamyan merupakan terjemahan proram kerja lembaga bisnis islami ke dalam saran-saran(target)keuangan yang ingin dicapai dala kurun waktu tertentu.
Dari penertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengangaran(budgeting) merupakan proses yan mencakup.
1. Penyusunan rencana kerja lengkap untuk setiap jenis tinkat keiatan dan setiap jenis tingkat keiatan yang ada pada suatu lembaga
2. Penentuan rencana kerja dalam bentuk mata uang dan kesatuan kuantitatif lainnya, dilakukan melalui suatu sistematika dan logika yang dapat dipertangung jawabkan
3. Rencana kerja masin-masing dari setiap kesatuan usaha, satu sama lain atau secara keseluruhan, harus dapat berjalan secara serasi
4. Dalam penyusunan rencana kerja perlu adanya partisipasi dari seluruh tungkatan manajemen sehingga pelaksanaan anggaran merupakan tanggung jawab seluruh anggota manajemen 5. Anggaran merupakan alat koordinasi yang ampuh bagi top manajemen dalam mengelola
lembaga keuangan, dalam rangka mencapai rencana yang telah di tetapkan
6. Anggaran merupakan alat pengukur tingkat keberhasilan pelaksanaan rencana kerja, sekaligus dipakai sebagai alat evaluasi dan penetapan lanjut
7. Anggaran merupakan alat pengawasan dan pengendalian jalannya lembaga keuangan
Secara singkat dapat dikatakan, bahwa penganggaran merupakan langkah-langkah yang menjadi dasar bagi penetapan strategi bisnis. Penganggaran merupakan perencanaan strategi unit bisnis, terlebih lagi adalah berkaitan dengan masalah keuangan lembaga bisnis islami.(Muhammad 2003)
Dalam penyusunan anggaran lembaga bisnis islami perlumemperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi volume penyaluran dana. Faktor-faktor tersebut biasanya berasal dari internal maupun eksternal lembaga. Termasuk dalam faktor internal lembaga adalah: segmen pasar,posisi keuangan,sumber dana,kualitas aktiva produktif, dan sarana yang dimiliki. Sementara faktor eksternalnya meliputi: persaingan antara lembaga bisnis, perkembangan ekonomi, kondisi social polotik, dan karakteristik usaha nasabah.
Penyusunan anggaran lembaga bisnis islami sangat tergantung pada aspek-aspek dana dalam lembaga bisnis yaitu;
1. Anggaran dana meliputi: anggaran penerimaan dana, angaran penyaluran dana, angaran sarana, dan anggaran zakat infaq dan shadaqah
2. Anggaran keuangan melupiti: anggaran hasil usaha, anggaran neraca, anggaran arus kas 3. Anggaran dalam rasio
Etika dalam Fungsi Akuntansi
Akuntansi sangat berhubungan dengan nilai social dan ekonomi yang berlaku dalam masyarakat. Dengan demikian, perubahan dalam masyarakat akan mempengaruhi perubahan dala sifat akuntansi. Sebaai mana dipahami, akuntansi mengalami perubahan seiring dengan perubahan peradaban masyarakat.Pada dasarnya akuntansi lembaga bisnis islami,tidak jauh berbeda secara teknik akuntansinya dengan akuntansi pada umumnya namun dalam akuntansi syariah terdapat beberapa prinsip umum yaitu:
1. Prinsip pertanggung jawaban: merupakan konsep yan berkaitan dengan konsep amanah implikasi dalam bisnis dan akuntansi adalah bahwa individu yang terlibat dalam praktik bisnis selalu melakukan pertanggung jawaban yan telah diamanatkan dan diperbuat kepada pihak-pihak yan terkait. Wujud pertanggung jawaban biasanya berupa laporan keuangan
2. Prinsip keadilan: dalam surah al-Baqarah kata adil secara sederhana dapat ditafsirkan bahwa setiap transaksi yan dilakukan oleh perusahaan dicatat dengan benar. Dengan demikian kata keadilan dalam konteks aplikasi akuntansi mengandung dua pengertian yaitu kejujuran tampa kejujuran informasi akuntansi akan menyesatkan dan sangat merugikan pihak yang membutuhkannya yang kedua yaitu keadilan kata adil lebih fundamental. Penertian kedua inilah yang lebih merupakan sebagai pendorong untuk melakukan upanya-upanya dekontruksi terhadap bangun akuntansi modern menuju bangun akuntansi yang lebih baik
BAB 3 PENUTUP
KESIMPULAN
Etika bisnis adalah aplikasi etika umum yang mengatur prilaku bisnis. Norma moralitas merupakan landasan yang menjadi acuan bisnis dalam prilakunya. Dasar prilakunya tidak hanya hukum-hukum ekonomi dan mekanisme pasar saja yang mendorong prilaku bisnis itu tetapi niali moral dan etika juga menjadi acuan penting yang harus dijadikan landasan kebijakannya.
Dalam pandangan Islam terdapat aturan ataupun etika yang harus dimiliki oleh setiap orang yang mau melakukan bisnis apalagi dia adalah seorang mukmin. Seorang mukmin dalam berbisnis jangan sampai melakukan tindakan – tindakan yang bertentangan dengan syariat. Rasulullah SAW banyak memberikan petunjuk mengenai etika bisnis, di antaranya ialah:
Pertama, bahwa prinsip esensial dalam bisnis adalah kejujuran. Dalam doktrin Islam, kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah SAW sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda: “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (H.R. Al-Quzwani).
Kedua, dalam Islam tidak hanya mengejar keuntungan saja (profit oriented) tapi, juga harus memperhatikan sikap ta’awun (tolong menolong) diantara kita sebagai implikasi sosial bisnis.
Ketiga, tidak melakukan sumpah palsu. Nabi Muhammad SAW sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnis. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Nabi SAW bersabda:
“Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang terjual, tetapi hasilnya tidak berkah.”
Dalam hadis riwayat Abu Dzar, Rasulullah SAW mengancam dengan azab yang pedih bagi orang yang bersumpah palsu dalam bisnis, dan Allah SWT tidak akan memperdulikannya nanti di hari kiamat (H.R. Muslim).
Keempat, bisnis dilakukan dengan suka rela, tanpa paksaan. Firman Allah SWT:
IMPLIKASI ETIKA DALAM FUNGSI BISNIS ISLAM
A. Etika dalam fungsi pemasaran B. Etika dalam fungsi produksi
C. Etika dalam Fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia D. Etika dalam Manajemen Keuangan
DAFTAR PUSTAKA
Philip kotler,Marketin Manajemen,Milenium Edition,New York:Preventive Hall,2000
Muslich,Etika Bisnis Pendekatan substantive dan Funsional,Yogyakarta:Ekonisia,1998
Sunardji Daroni,”Konsep Pemasaran Bai Bisnis Islami”,Makalah Collucium Program Doktor UII,Yogyakarta:FE UII,2003
Muhammad,Manajemen Bank Syari’ah,Yoyakarta:UPP-AMP YKPN,2003
Yusuf Qardhawi,Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam,(terjemah),Jakarta Robbani Press,1997
Iwan Triyono,Organisasi dan Akuntansi Syari’ah,Yogyakarta:LKiS,2000
M.Umer Chapra,Islam dan Tantangan Ekonomi,(terjemahan),Jakarta:Gema Insani Press,2001
Hertanto Widodo,et.al.PAS (Pedoman Akuntansi Syariat)Panduan Praktis Operasional Baitul Mal wat Tamwil(BMT),Bandung:Mizan,1999,h.183
Rudy Harisyah Alam,”Manajemen: Sulitnya Pendekatan Teologis-Etis”,Jurnal Ilmu dan Kebuyaan Alumul Qur’an(7) Vol. II,1990,h.44