SOSIOLOGI HUKUM
Anak bawah umur dan kendaraan
bermotor roda dua
Nining, S.H., M.H.
Arief Budiman 2015020906
KELAS 405 REGULAR B
UNIVERSITAS PAMULANG
FAKULTAS ILMU HUKUM
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat “ALLAH S. W. T. “, yang telah memberikan nikmat dan kebaikan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini, yang berjudul “Anak bawah umur dan kendaraan motor roda dua”.
Tugas makalah ini disusun untuk dapat menjelaskan dan memberikan pemahaman dalam ilmu hukum tentang Maraknya anak bawah umur mengendarai kendaraan motor .
Penyelesaian tugas ini tidak terlepas dari bimbingan dan pengarahan Ibu Nining selaku dosen pengampu ilmu sosiologi hukum di universitas pamulang.
Dalam kesempatan ini pula, kami mengucapkan terima kasih atas bantuan, nasehat dan dorongan dari berbagai pihak yang telah membantu terselesaikannya tugas ini, yaitu kepada: 1. Nining, S.H., M.H. selaku dosen pengampu Sosiologi Hukum Fakultas Ilmu Hukum Universitas Pamulang.
2. Rekan-rekan mahasiswa dari kelas 405 regular B, Fakultas Ilmu Hukum Universitas Pamulang.
Akhir kata kami menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan tugas ini jauh dari kesempurnaan disebabkan pengetahuan dan pengalaman yang terbatas. Oleh karena itu, perbaikan, saran dan tanggapan sangat kami hargai sebagai bahan koreksi dan penyempunaan pada tugas-tugas berikutnya.
Tangerang, 26 Juli 2016
Latar Belakang
Pada hakikatnya, suatu hukum di bentuk adalah untuk mengatur kehidupan masyarakat dan membentuk masyarakat yang tertib dan teratur untuk mencapai tujuan kesejahteraan bersama, sehingga tercipta keadaan yang aman dan sejahtera. Hukum di bentuk adalah demi keselamatan dan keamanan masyarakat itu sendiri.
Namun pada saat ini, realitas yang ada di masyarakat masih jauh dari idealitas tujuan hukum itu sendiri. Para ahli hukum memandang bahwa adanya hukum itu adalah untuk ditaati, dilaksanakan dan ditegakkan. Pelaksanaan hukum petugas penegak hukum yang tegas, konsisten, penuh tanggung jawab adalah kunci untuk meningkatkan kesadaran hukum masyarakat. Ketika kesadaran hukum telah terwujud maka efeknya adalah tujuan hukum yang melahirkan rasa aman dan tentram di dalam masyarakat. Menurut Lawrence M. Friedman ada tiga faktor yang mempengaruhi hukum dapat ditegakkan yaitu :
a. Legal substance (Faktor dari isi hukumnya)
b. Legal structur (Faktor penegak hukum dalam menjalankan maupun menegakkan hukum tersebut)
c. Legal cultur (Faktor budaya masyarakat dalam mematuhi hukum tersebut)1
Pada saat ini, jalan-jalan kecil dan jalan raya di perkotaan hingga pedesaan makin dipadati oleh kendaraan bermotor. Hal ini semakin meningkat ketika jam berangkat dan pulang kerja, dan aktifitas antar jemput anak sekolah atau aktifitas masyarakat yang berlangsung di siang hari, sehingga jalanan semakin dipadati kendaraan dan menyebabkan kemacetan. Dari fakta yang terlihat di jalan banyak para pengendara yang tidak mematuhi peraturan lalu lintas, seperti banyaknya pengendara roda dua yang tidak memakai helm ketika berkendara, melawan arah, melanggar lampu Traffic Light, tidak menaati rambu-rambu Lalu lintas yang ada dan anak dibawah umur yang mengendarai kendaraan motor roda dua. Hal ini tentu sangat berbahaya bagi pengendara itu sendiri dan orang lain. Berdasarkan realitas yang terjadi diatas, maka disini penulis akan menganalisis secara sosiologis tentang penegakan hukum peraturan lalu lintas tentang anak dibawah umur yang mengendarai kendaraan motor roda dua.
Metode Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data, penulis menggunakan dua model pencarian data yakni metode data informasi berita dan observasi situasi yang ada di jalanan. Informasi data di dapat dari informasi berita, surat kabar, dan media berita online dan situasi “rill” yang ada di jalan-jalan dari beberapa pengendara atau pengguna kendaraan bermotor yang melanggar dan masyarakat. Informasi berita dan observasi digunakan untuk melihat fakta hukum dan fakta sosial di jalan raya dan untuk mengukur sejauh mana para pengendara yang melanggar memandang pentingnya peraturan dalam berlalu lintas maupun pandangan masyarakat terhadap pelanggaran tersebut.implementasi dari peraturan lalu lintas yakni salah satunya harus memakai helm.
Realitas Pemberlakuan Hukum
Pada dasarnya SIM adalah Surat Izin Mengemudi, setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan. Berdasarkan itulah maka dibuat aturan tentang berlalu lintas seperti dalam Pasal 77 dan Pasal 81 (Surat Izin Mengemudi dan Persyaratan Mengemudi) dan Pasal 106 Ayat (5) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang berbunyi :
Pasal 77
(1) Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan wajib memiliki Surat Izin Mengemudi sesuai dengan jenis Kendaraan Bermotor yang dikemudikan.
(2) Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas 2 (dua) jenis: a. Surat Izin Mengemudi Kendaraan Bermotor perseorangan; dan b. Surat Izin Mengemudi Kendaraan Bermotor Umum.
(3) Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi, calon Pengemudi harus memiliki kompetensi mengemudi yang dapat diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan atau belajar sendiri. (4) Untuk mendapatkan Surat Izin Mengemudi Kendaraan Bermotor Umum, calon Pengemudi wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan Pengemudi angkutan umum.
(5) Pendidikan dan pelatihan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) hanya diikuti oleh orang yang telah memiliki Surat Izin Mengemudi untuk Kendaraan Bermotor perseorangan.
Pasal 81
(2) Syarat usia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditentukan paling rendah sebagai berikut:
a. usia 17 (tujuh belas) tahun untuk Surat Izin Mengemudi A, Surat Izin Mengemudi C, dan Surat Izin Mengemudi B I dan B II;
b. usia 20 (dua puluh) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B I; dan c. usia 21 (dua puluh satu) tahun untuk Surat Izin Mengemudi B II.
(3) Syarat administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. identitas diri berupa Kartu Tanda Penduduk;
b. pengisian formulir permohonan; dan c. rumusan sidik jari.
(4) Syarat kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. sehat jasmani dengan surat keterangan dari dokter; dan
b. sehat rohani dengan surat lulus tes psikologis.
(5) Syarat lulus ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. ujian teori;
b. ujian praktik; dan/atau
c. ujian keterampilan melalui simulator.
(6) Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5), setiap Pengemudi Kendaraan Bermotor yang akan mengajukan permohonan:
a. Surat Izin Mengemudi B I harus memiliki Surat Izin Mengemudi A sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan; dan
b. Surat Izin Mengemudi B II harus memiliki Surat Izin Mengemudi B I sekurang-kurangnya 12 (dua belas) bulan.
Pasal 106 Ayat (5)
Pada saat diadakan pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor wajib menunjukkan:
c. bukti lulus uji berkala; dan / atau d. tanda bukti lain yang sah
Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan dan integrasi nasional sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan umum
sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas dan Angkutan Jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan wilayah; perkembangan lingkungan strategis nasional dan internasional menuntut penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, otonomi daerah, serta akuntabilitas
penyelenggaraan negara.
Jadi, berdasarkan ketentuan di atas pengendara motor diwajibkan memiliki Surat Izin Mengemudi. Apabila melanggar, ancaman atas pelanggaran tersebut diatur dalam Pasal 281 dan Pasal 314 UU No. 22 Tahun 2009 yang berbunyi :
Pasal 281
“Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah).”
Pasal 314
“Selain pidana penjara, kurungan, atau denda, pelaku tindak pidana Lalu Lintas dapat dijatuhi pidana tambahan berupa pencabutan Surat Izin Mengemudi atau ganti kerugian yang diakibatkan oleh tindak pidana lalu lintas.”
Kontekstualisasi Aturan Hukum
Penerapan atau implementasi hukum sangat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor lingkungan sosial dimana individu sebagai subjek hukum tinggal. Menurut Lawrence M. Friedman ada tiga faktor yang mempengaruhi hukum dapat ditegakkan yaitu :
a. Legal substance yakni faktor isi hukumnya itu sendiri, apakah telah sesuai dengan kebutuhan di masyarakat
b. Legal structur yakni faktor penegak hukum dalam menjalankan hukum dengan baik maupun menegakkan hukum dengan tegas sesuai hukum yang telah dibentuk
c. Legal cultur yakni faktor budaya masyarakat tempat hukum itu diberlakukan apakah masyarakat mematuhi hukum tersebut2
Melihat ketiga indikator penegakan hukum diatas, maka dapat dikatakan bahwa ketika seseorang atau suatu kelompok menaati hukum, maka ada beberapa faktor yang mempengaruhi penegakan hukum tersebut di masyarakat. Dan masih banyak factor lain yang dapat menjadi motif morang menaati hukum seperti teori paradigma hukum yang dikemukakan oleh Satjipto Rahadjo, yakni :
a. Hukum sebagai Ideologi b. Hukum sebagai Sistem Nilai c. Hukum sebagai Institusi
d. Hukum sebagai Rekayasa Sosial3
Melihat pelanggaran lalu lintas yang terjadi di berbagai wilayah perkotaan hingga pedesaan terkait maraknya anak bawah umur mengendarai kendaraan bermotor, maka terdapat beberapa faktor yang melatar belakangi terjadinya pelanggaran tersebut seperti telah disebutkan diatas. Dengan meminjam teori yang digunakan oleh Lawrence M. Friedman diatas, dilihat dari substansi hukumnya sendiri sudah sangat tegas dan ketat dalam memberikan sanksi terhadap pelanggar, sebagaimana yang telah disebutkan dalam Pasal 77 dan Pasal 81 UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan juga dalam Pasal 106 ayat (5) UU No. 22 Tahun 2009 yang kemudian sanksi bagi pelanggar telah disebutkan dalam Pasal 281 dan Pasal 314 UU No. 22 Tahun 2009, maka kasus pelanggaran yang terjadi di perkotaan hingga pedesaan bisa dilihat dari 2 faktor:4
a. Dilihat dari faktor penegak hukumnya (Legal Structure), yakni dibutuhkan pengawasan dan penegakan dari aparat penegak hukum terhadap pelaanggaran yang dilakukan oleh anak-anak bawah umur mengendarai kendaraan bermotor yang terjadi di jalanan dan pengendara kendaraan bermotor lainnya yang tidak memilik SIM, sehingga perlunya razia penertiban berlalu lintas dapat dilakukan di tempat tertentu dan hari-hari tertentu.
b. Dilihat dari faktor budaya masyarakat terhadap hukum (Legal Culture), yakni kurangnya kesadaran masyarakat khususnya para orang tua dan keluarga dalam memberikan pengertian dan pengawasan kepada anak-anaknya baik sebab dan akibat yang ditimbulkan, hal ini bisa disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan undang-undang yang mengatur tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan kurangnya kesadaran atas pentingnya keamanan dan keselamatan di jalan raya, dan merasa tidak bermasalah atas kerugian yang akan terjadi padahal bilamana hal yang terburuk terjadi, merekalah yang paling akan merasakan kerugian terbesar.
Untuk menguatkan dua faktor yang telah disebutkan diatas, penulis melakukan pencarian data dari media massa dan media online yang tersedia. Dalam pencarian dan melihat situasi yang ada dan berlangsung dijalanan, ada berbagai peristiwa dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat.
3 Marwan. Pengantar Ilmu Hukum. (Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.( 2004). Hlm. 101
Jakarta - Fenomena yang membuat hati teriris kerap kita temui di jalanan. Salah satunya banyak siswa di bawah umur yang nekat memilih mengendarai motor, meski secara tidak sadar bisa membahayakan dirinya. Dari puluhan hingga ribuan anak dibawah umur yang mengendarai motor untuk beraktivitas, jelas memiliki alasan yang berbeda-beda.
Salah satunya siswa SMK di Depok, M Alvi yang memilih menggunakan sepeda motor meski dirinya tahu bahwa mengendarai motor itu sangat berbahaya. Alvi masih berusia 15 tahun. "Iya tahu kalau belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) tidak boleh naik motor (menggunakan sepeda motor untuk beraktifitas-Red). Soalnya dari rumah tidak ada angkot, kalau mau naik angkot jauh jalannya," kata Alvi. Selanjutnya Alvi yang telah bisa mengendarai sepeda motor dari SMP kelas 1 ini juga menuturkan, dirinya sering mengantarkan orangtua untuk keperluan orang tuanya.
"Alasan naik motor, buat pergi ke sekolah, sama antarkan orangtua pergi belanja ke minirmarket. Selain itu enakan naik motor, karena lebih cepat dibandingkan dengan naik angkot," ujarnya.
Lalu apakah tidak takut tidak memiliki SIM mengendarai sepeda motor? "Tahu naik motor itu sangat berbahaya, bisa terjatuh, atau ditilang polisi, dan lain-lain. Tapi kayanya banyak teman-teman yang tidak memiliki SIM juga," katanya.
Terakhir dirinya juga menuturkan, selama ini para guru di sekolah dirinya tidak pernah mempermasalahkan jika dirinya mengendarai sepeda motor. Waduh..
Padahal seperti pengakuan Otolovers, Tubagus Maha Putra, bisa mengendarai belum tentu bisa mengendalikan kendaraan. Di jalan raya selain waspada dari kendaraan orang lain, kita juga harus waspada dengan kendaraan sendiri agar tidak merugikan pengguna jalan yang lain. "Saya sendiri beberapa kali hampir ditabrak dari belakang saat mau berhenti di depan rumah. Saya perhatikan mereka masih menggunakan seragam putih biru, masih SMP. Celakanya saat hampir menabrak saya itu, mereka lagi asyik membaca gadget yang mereka bawa, entah itu balas BBM atau lagi sibuk dengan media sosial lainnya. Semenjak saat itu saya ganti klakson kendaraan yang suaranya lumayan mengagetkan. Minimal membuat pengendara seperti itu kaget dan menyadari ada kendaraan lain," ujarnya.
"Bisa disurvei rata-rata pelanggaran di jalan raya banyak dilakukan oleh anak anak ABG seperti SMP, sudah tidak memiliki SIM tidak memakai helm, sambil pegang handphone dan melanggar marka jalan," ujarnya.5
Tangerang Selatan - Di Jakarta, pengendara motor relatif masih mau menuruti aturan, tetapi begitu sampai pinggiran Jakarta, pengendara motor mulai banyak yang acuh tak acuh dengan aturan berlalu lintas.
Contohnya dalam pengamatan detikOto baru-baru saja terjadi saat jam pulang kantor hari ini. Dua orang pemotor berseragam SMP salah satu orang membonceng anak perempuan yang kemungkinan teman sebaya nekat mengendarai motor. Parahnya lagi semua tak memakai helm. Kebetulan di persimpangan, sekitar Bukit Cireundeu, Pondok Cabe, Tangerang Selatan ada seorang polisi yang tengah bertugas mengatur lalu lintas yang memang tengah macet.
Melihat anak muda yang belum cukup umur mengendarai motor ini, pak polisi yang rambutnya sudah beruban ini mengambil tindakan tegas. Dia langsung menghadang laju motor si bocah, menahan setangnya agar berhenti. Saat temannya mau lewat, pak polisi menunjuk lagi dengan memakai walkie talkie di genggamannya dan langsung meminta rekan si bocah ikut berhenti.
Karena lagi sibuk mengatur lalu lintas, pak polisi tidak memberikan surat tilang, pak polisi itu langsung saja menyuruh kedua anak SMP untuk balik kanan. Pak polisi mungkin khawatir lalu lintas bakal lebih kacau lagi kalau dia menyempatkan diri walau hanya beberapa menit untuk menilang 2 anak SMP tadi.
Setelah sempat protes sama pak polisi, si dua anak tadi akhirnya menuruti polisi untuk balik kanan.“Kena deh, biar jera,” celetuk seorang pengendara motor sport yang tersenyum simpul melihat aksi pak polisi.
Kasubdit Bingakum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP Hindarsono, pernah mengatakan dalam peraturan lalu lintas orang yang sudah berhak naik motor atau maba motor adalah minimal berusia 17 tahun dan sudah memiliki SIM. Jika banyak anak SMP yang sudah bawa motor ke sekolahnya, itu sudah jelas melanggar peraturan.
Menurut Otolovers, sebenarnya bagaimana cara untuk menyadarkan anak-anak SMP yang belum selayaknya mengendarai motor? Tilang mungkin belum cukup memberikan efek jera, karena mereka biasanya mengulang lagi perbuatannya.
Selain belum layak dari sisi psikologis, bocah pengendara motor juga rawan menjadi korban kejahatan begal. Belum lama ini tak jauh dari lokasi tadi, ada anak kelas VI SD motornya dibegal. Motor skutiknya dipepet oleh si begal, dan kemudian dibawa kabur, untung saja si anak tidak mengalami cedera yang cukup parah, meski sempat dibawa keliling-keliling dulu oleh si begal. Jadi kembali ke pertanyaan tadi, sebaiknya, menurutnya Otolovers, bagaimana cara yang baik untuk mengajak para anak ini berhenti menggunakan motor ?6
Jakarta - Siswa sekolah menegah atas memang sudah ada yang cukup umur untuk mengendarai sepeda motor. Tapi, tak semua siswa yang sudah berusia di atas 17 tahun. Siswa yang memiliki Surat Izin Mengemudi pun hanya segelintir.Tapi, pihak sekolah SMK Negeri 26 Jakarta tidak membatasi siswanya untuk membawa sepeda motor ke sekolah.
"Kita tidak bisa melegalkan, tapi kalau dia (siswa) membawa motor ya silakan," kata Pembina OSIS SMKN 26 Jakarta, Agus Abdurrahman kepada detikOto di Jakarta. Menurut Agus, siswa yang membawa sepeda motor sudah banyak.
"Di sini sampai kesulitan parkir," katanya. Sementara Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 26 Jakarta, Nur Siswanto menyatakan, ada dua pertimbangan siswa diperbolehkan membawa sepeda motor.
Pertama, transportasi di Jakarta yang belum memberikan rasa aman kepada siswa. Kedua, dengan membawa kendaraan pribadi, kemungkinan siswa melakukan tawuran kecil. Sebab, tidak ada gerombolan siswa jika pulang sekolah.
"Dengan catatan, bawa motor enggak boleh telat," ujar Siswanto. Jika telat, katanya, siswa harus mendorong motor sepanjang sekolah.
Menurut Siswanto, pihak SMKN 26 berencana akan mengajak Polda Metro Jaya untuk bekerja sama pembuatan SIM siswa-siswanya. Tapi, belum ada waktu yang pasti.
"Sedang kami data sih siapa saja yang akan membuat SIM," ujarnya.7
Jakarta/Bandung - Mungkin karena faktor umur yang belum matang, banyak anak sekolah yang mengendarai motor dengan cara yang ugal-ugalan. Satu motor digunakan oleh lebih dari 2 orang, bahkan bisa 5 orang. Orang asing yang kebetulan tengah berada di Indonesia pun dibuat keheranan.
"Teman-teman saya orang asing heran dengan kondisi ini seperti membiarkan anak kecil sambil berdiri diantara orang tuanya samabil naik motor," ujar Armia Ibrahim pada detikOto. Anak-anak SMP dan bahkan SD di Indonesia sudah banyak yang berani mengendarai motor sendiri. "Perasaan saya miris kalau lihat anak-anak SMP bahkan SD sudah bawa motor sendiri. Hal ini juga banyak terjadi di Bandung. Nggak jarang saya lihat ibu-ibu yang dibonceng anak-anak di bawah umur ini," ujar Venny Arsianti. Venny merasa polisi sudah saatnya bertindak tegas pada anak yangg belum waktunya bawa motor ini.
"Tindakan juga ditujukan untuk orangtua yang mengizinkan anak-anak yang di bawah umur ini bawa motor. Selain membahayan diri sendiri, juga membayakan orang lain. Keseimbangan anak-anak ini belum sebaik orang dewasa bahkan mungkin kakinya saja belum sampai menginjak tanah. Heran sekali saya sama orangtua yang membiarkan nyawa anaknya dipertaruhkan di jalan," ujar Venny.8
Metrotvnews.com, Banjarmasin: Kendarai Sepeda Motor, 6300 Anak Jadi Korban Kecelakaan di Banjarmasin. Korban lalu lintas yang melibatkan anak di bawah umum di Banjarmasin, Kalimantan Selatan mengkhwatirkan. Data Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyebut, ada 6300 anak pengendara sepeda motor mengalami kecelakaan dan 800 di antaranya meninggal dunia.
Menurutnya, mental anak usia di bawah 17 tahun belum siap mengendarai kendaraan bermotor, termasuk pemahaman tentang aturan lalu lintas. Untuk mencegah kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan anak dibawah umur, Polri melakukan upaya preventif dengan mengimbau orang tua tidak mengizinkan anaknya mengemudikan kendaraan.9
Jakarta - Kalangan industri sepeda motor mengaku telah sering mengingatkan masyarakat agar tidak mengizinkan anak di bawah umur untuk mengendarai motor. Jika itu masih terjadi, industri menyerahkan persoalan itu ke aparat penegak hukum.
"Industri tidak bisa mengawasi orang per orang di masyarakat dalam memanfaatkan sepeda motor yang mereka beli, apalagi menindak. Kami hanya memberi imbauan saja," tutur Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, Sigit Kumala, saat dihubungi detikOto, di Jakarta, Kamis (23/10/2014).
Soalnya, setelah prosesi pembelian selesai dilakukan, maka hak sepenuhnya motor tersebut berada di tangan masyarakat.
"Sehingga, jika ada penggunaan yang tidak semestinya, itu di luar otoritas kami. Ya kalau berkaitan dengan hukum, ya penegak hukum yang berhak menindak," ujar Sigit.
Meski begitu, industri dan agen pemegang merek tidak lepas tangan begitu saja terhadap persoalan ini.
"Kami dan agen pemegang merek juga terus melakukan kampanye safety riding. Bahkan di lembaga pendidikan, kami minta program itu masuk ke kurikulum," ucapnya.
Deputy Corporate Communication Division Head PT Astra Honda Motor, Ahmad Muhibbuddin, mengamini pernyataan Sigit. Bahkan, kata Muhib, pihaknya telah memberikan pelatihan cara berkendara yang benar kepada siswa sekolah menengah atas.
Menurut Muhib, pihaknya selalu mengingatkan, bahwa untuk mengendarai motor harus memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) seperti yang diatur dalam undang-undang. Artinya, pengendara minimal berusia 17 tahun atau sudah duduk di bangku pendidikan menengah atas, bukan di bawah umur.
Berdasarkan pandangan seorang Otolovers, Yuciko, fenomena anak sekolahan mengendarai motor akan mengakibatkan mereka berisiko menjadi sasaran pelaku kejahatan.
"Sasaran yang empuk untuk pelaku kejahatan biasanya anak-anak yang belum cukup umur karena mudah dipancing dan dipengaruhi emosinya sehingga muncul kejahatan perampasan ataupun muncul geng-geng motor yang bertindak semena-mena," ujarnya.
Selain itu anak yang belum cukup umur untuk mengendarai kendaraan biasanya mempunyai style yang mengerikan dalam berkendara seperti ngebut, melanggar lampu lalu lintas, zigzag, tidak menggunakan helm dan lainnya.
"Hal ini tidaklah mengherankan dikarenakan jika ditinjau dari segi psikologi untuk umur tersebut mempunyai tingkat kestabilan emosi yang rendah sehingga kadang-kadang berani berkendara tanpa memikirkan nyawanya sendiri dan orang lain," ujarnya.10
Jakarta - Kementerian Perhubungan Republik Indonesia sangat menyayangkan banyaknya siswa di bawah umur mengendarai sepeda motor. Ini sangat membahayakan nyawa si anak. "Itu sebenarnya sangat membahayakan. Mungkin secara kemampuan siswa ini bisa mengemudi, tetapi secara faktor emosinya belum bisa," kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan, Barata saat dihubungi detikOto, Kamis (21/10/2014).
Dirinya menambahkan orangtua kerap salah menilai, saat buah hatinya telah mampu berkendara sendiri.
"Mungkin kebanyakan orang tua yang bersangkutan hanya mengukurnya hanya dari keterampilan berkendara. Sehingga mereka (orang tua-Red) memberikan izin anaknya untuk berkendara," ujar Barata.
"Padahal itu (berkendara-Red) bukan hanya kemampuan berkendara saja, kemampuan berlalu lintas juga penting. Dan ini harus ada pertimbangan kepentingan diri dan kepentingan orang lain (saat berkendara-Red). Apapah anak itu sudah bisa memikirkan kepentingan orang lain?" tambah Barata.
"Saya tidak setuju (dengan siswa dibawah umur mengendarai sepeda motor-Red), anak-anak seperti itu belum bisa mempertimbangan kepentingan orang lain, dan mereka belum memikirkan orang lain dalam berlalu lintas," tutup Barata.
Salah seorang Otolovers, Albert, mengaku miris melihat banyaknya siswa SMP yang mengendarai motor ke sekolahnya meski di sekolah sudah ada larangan untuk siswa SMP membawa motor ke sekolah.
"Namun para siswa ini tetap membawa motor dan menitipkanya diluar sekolah. Padahal pihak sekolah juga sudah memberikan informasi kepada orangtua tentang aturan tersebut. Menurut saya yang paling menentukan adalah pendampingan orang tua, seandainya semua orangtua memberikan perhatian lebih kepada para anaknya maka peristiwa ini tidak akan terjadi. Mungkin ini butuh imbauan lewat lembaga resmi pemerintah contohnya linmas ataupun lembaga lain yang mana mengimbau kepada seluruh orangtua agar mencegah anaknya membawa motor ke sekolah khususnya anak yang masih duduk di bangku SMP," ujarnya.
Otolovers lainnya, Puji Sulami menyatakan juga keprihatinannya. "Saya sedih anak teman saya SMP kelas 2 laki-laki tewas ditabrak anak kelas 1 SMA yang belum punya SIM saat akan menyeberang jalan ke sekolahnya," ujarnya.11
Jakarta - Dua orang bocah perempuan kedapatan polisi, mengemudikan motor di Jl Mangga Dua, Tamansari, Jakarta. Polisi langsung memberikan peringatan kepada ibu bocah tersebut karena membiarkan anaknya mengemudikan motor.
"(Ibunya) tidak ditilang, karena yang kemudikan kan anaknya. Anaknya sama motornya kami kembalikan kepada ibunya," kata Kanit Lantas Polsek Tamansari Kompol Adri Desas Furianto kepada detikcom, Senin (29/2/2016).
Yang mengagetkan Adri, ternyata bocah tersebut disuruh oleh ibunya. "Ibunya pedagang kaki lima di Mangga Dua situ, terus anaknya disuruh beli sesuatu pakai motor itu," imbuhnya.
Adri juga telah memberikan peringatan kepada ibu bocah tersebut. Ia mengimbau sang ibu untuk tidak membiarkan anaknya mengemudikan kendaraan karena belum cukup umur.
"Kami peringatkan saja kepada ibunya agar tidak mengulangi lagi, tidak memberikan anaknya mengemudikan motor karena membahayakan keselamatan," jelasnya.
Dua bocah berboncengan motor Y (9) dan P (7) disetop saat melintas di Jalan Mangga Dua, Tamansari, Jakbar pada Sabtu (27/2) lalu. Kedua bocah itu sempat ditanya siapa pemilik motor, hingga kemudian kedua bocah itu bersama polisi menemui ibunya yng berada sekitar 200 meter dari lokasi. Bocah Y itu mengemudikan motor tanpa helm dan STNK. Dan tentunya, bocah yang tidak mengantongi SIM karena belum cukup umur(mei/dra).12
Jakarta - Pelajar SMA Tercatat Paling Sering Melanggar Lalu Lintas di Jakarta. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya mencatat, angka pelanggaran lalu lintas di Jakarta selama periode Februari-Maret 2016 mengalami penurunan. Sementara pelanggar paling banyak adalah kalangan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA).
"Berdasarkan pendidikan pelanggar, 'ranking satu' adalah pelajar SMA yakni 62.982 kasus. Angka tersebut turun dari periode yang sama di tahun 2015 yang mencapai 68.590 pelanggar," jelas Kasubdit Pembinaan dan Penegakan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya AKBP Budiyanto dalam keterangannya kepada detikcom, Rabu (20/4/2016).
"Untuk pengemudi pelanggaran mencapai 13.405 atau turun 8 persen dari 14.642 pelanggar. Kemudian pelanggaran di kalangan mahasiswa naik 12 persen dari sebelumnya 7.967 jadi 8.939," imbuhnya.
Sementara usia pelanggar di kalangan anak muda mendominasi dari total pelanggar yang ada. Catatan polisi, usia pelanggar di 16-30 tahun naik 1 persen dari 37.464 jadi 37.697. Peringkat kedua, usia pelanggar terbanyak yakni 31-40 tahun mencapai 29.921.
Selama periode Februari-Maret 2016, polisi telah menindak 87.162 pelanggar. Angka ini turun 7 persen dari periode yang sama pada 2015 yang mencapai 94.058 (Mei Amelia R – detikNews).13
Dalam peristiwa dan kejadian yang terjadi, beberapa tokoh dan public figure masyarakat dan pandangannya atas peristiwa yang terjadi serta Cara dan Tindakan dari pihak POLRI dalam penanganannya.
Metrotvnews.com, Jakarta: Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mendukung polisi unit Satuan Lalu Lintas (Satlantas) yang melarang pelajar di bawah umur membawa kendaraan ke sekolah. Selain membahayakan, dikhawatirkan mereka menjadi korban kejahatan.
“Saya sangat setuju dengan larangan itu. Kami sudah lama lakukan imbauan ke sekolah agar melarang siswanya membawa kendaraan. Tapi mereka (pelajar) banyak yang parkir di kampung-kampung,” kata Ahok, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2015).
Ahok juga mengapresiasi Satlantas yang berani menindak tegas siswa di bawah 17 tahun yang membawa kendaraan ke sekolah. "Saya kira bagus kalau (belum 17 tahun dilarang bawa kendaraan) memang seperti itu. Kalau sudah punya SIM, tidak bisa dilarang," ujarnya.
Bandung - Ridwan Kamil Tegur Bocah SD yang Tepergok Naik Motor di Jalan Raya berkata, “Membawa kendaraan di bawah umur sudah pasti melanggar peraturan dan membahayakan. Apalagi yang membawa kendaraanya anak usia SD dan tidak memakai pelindung kepala atau helm.”
Aksi dua bocah SD ini cukup membuat Wali Kota Bandung Ridwan Kamil dan Polisi geleng-geleng kepala. Anak usia SD tepergok berboncengan mengendarai motor di Jalan Babakan Siliwangi.
Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil, yang kebetulan melintas di jalan tersebut menegur dua anak yang masih berseragam olah raga SD itu.
"Kamu disuruh siapa pakai motor?" tanya Emil kepada dua bocah tersebut. Kedua anak itu terkejut. Mereka hanya terdiam dan saling menyalahkan.
Emil kemudian meminta kepada Kapolsek Coblong Kompol Sarce Cristiaty Leodima yang berada dalam satu rombongan untuk mengamankan kedua anak itu.
Bersama motornya, kedua anak tersebut kemudian diamankan ke Polsek Coblong untuk kemudian dicari tahu identitas orang tuanya.
"Anak dan motornya dibawa ke Polsek. Kalau ada surat-surat kita periksa surat-suratnya," ucap Sarce.
Selain itu, orang tua kedua anak itu akan diminta untuk menuliskan surat pernyataan agar tidak mengizinkan anaknya yang masih di bawah umur mengendarai motor.
"Yang utama ini masalah keselamatan. Sudah di bawah umur, tidak memakai helm dan ini di jalan raya," terang Sarce.
Sarce mengimbau kepada orang tua agar tidak mengizinkan anak-anaknya yang masih di bawah umur untuk mengendarai motor. Selain melanggar aturan, taruhannya keselamatan anak itu sendiri.
Jakarta- Operasi Simpatik, operasi lalu lintas digelar Polri. Sejak 1-21 Maret, petugas kepolisian akan melakukan penertiban pada pengendara. Revolusi mental memang perlu dilakukan di jalan. Operasi simpatik ini diharapkan bisa menjadi awal memperbaiki mentalitas orang Indonesia berlalu lintas.
Hal yang paling sering ditemui saja, bocah yang kerap terlihat membawa motor. Atau pelajar yang belum mempunyai SIM bisa bebas berkendara di jalan. Kemudian juga ulah para pemotor lawan arus. Belum lagi para pemotor yang tidak tertib. Dan di Jakarta seperti mobil atau motor yang masuk busway. Pelanggaran lalu lintas seperti itu mungkin mesti menjadi sasaran dalam operasi simpatik. Penyuluhan ke sekolah juga mesti menjadi sasaran. Serta tindakan tegas pada pemotor lawan arus dan pelanggar busway. Operasi simpatik harus bisa menjadi cikal bakal revolusi mental di jalan.
Dan seperti yang disampaikan Komisioner Kompolnas Edi Hasibuan, Rabu (2/3/2016) penyuluhan juga pembinaan mesti dikedepankan dalam operasi simpatik. Jadikan operasi simpatik sebagai bagian pelayanan kepada masyarakat. "Dan hindari penyalahgunaan kewenangan di jalan," tutup Edi(dra/dhn).
Pekanbaru - Dalam Operasi Patuh yang digelar jajaran Polda Riau, banyak anak di bawah
umur terjaring razia berkendaraan bermotor. Salah satunya bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
Demikian disampaikan Dirlantas Polda Riau, Kombes Guritno Wibowo dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (25/5/2016). Guritno mengakui memang ada bocah SD yang terjaring razia
"Kalau kapan peristiwa itu terjadi, saya tidak hapal. Karena setiap kali operasi Patuh banyak anak-anak yang belum memiliki SIM terjaring razia. Mereka tetap kita tilang," kata Guritno.
Guritno menjelaskan, banyak anak sekolah yang membawa motor tanpa memiliki SIM. Banyaknya siswa yang terjaring, Dit Lantas Polda Riau menggandeng Dinas Pendidikan Provinsi/Kota dan Kabupaten untuk menyosialisasikan dalam syarat berkendaraan.
"Kita melakukan kerjasama kepada dinas pendidikan untuk memberikan pemahaman syarat berkendaraan. Sosialisasi ini perlu dilakukan dinas pendidikan, agar para siswa dapat mematuhi aturan yang ada," kata Guritno.
Selain itu, lanjutnya, bagi anak-anak di bawah umur, pihaknya juga menyurati orangtua. Peran orangtua sangat diharapkan dapat membantu mensosialisasikan berkendaraan.
"Ini perlu kita lakukan, agar peran orangtua ikut dalam mencegah anak-anaknya tidak membawa kendaraan bila memang belum memiliki SIM," kata Guritno.
"Dengan operasi Patuh yang kita gelar ini, dapat menekan angka kecelakaan hingga 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Untuk angka kematian, bisa turun 27 persen," tutup Guritno(cha/try).
Jakarta - Satlantas Polres Ngawi, Jawa Timur, melakukan penertiban dan pemeriksaan
kendaraan dalam rangka Giat Operasi Patuh Semeru 2016. Sejumlah pengendara terkena tilang pada operasi yang berlokasi di depan Mapolsek Paron itu. Dalam foto-foto yang diunggah melalui akun instagram Satlantas Polres Ngawi, Selasa (24/5/2016), terlihat beberapa petugas tengah melakukan pencatatan terhadap pengendara yang terkena tilang.
"Jangan lupa selalu melengkapi surat-surat kelengkapan kendaraan bermotor anda," tulis caption di foto tersebut.
Tampak ada beberapa pelanggar di antaranya yang mengenakan seragam sekolah. Mereka diminta berdiri dengan tangan dalam posisi hormat. Hukuman unik tersebut diawasi langsung oleh Kepala Unit Pendidikan dan Rekayasa Polres Ngawi. Para pelajar yang berjumlah 4 orang tersebut kena tilang karena belum memiliki SIM dan tak mengenakan helm.
"Bagaimana pun mengemudi tanpa atau belum memiliki SIM serta tidak menggunakan helm adalah tindakan yang melanggar Undang-Undang dan membahayakan bagi pengendara itu sendiri," tulis Polres Ngawi melalui akun instagram mereka (rna/bag).
Semarang - Tekan Angka Kecelakaan Siswa, Polda Jateng Sebar Buku Lalin ke Sekolah. Kecelakaan lalu lintas di Jawa Tengah masih mengalami peningkatan dan dominasi pelajar tingkat sekolah yang terlibat kecelakaan cukup tinggi. Berbagai upaya dilakukan oleh Pemprov dan Polda Jateng untuk menekan angka kecelakaan termasuk dengan Buku Hanjar Pendidikan Lalu Lintas.. Dari data tahun 2014 terjadi 16.721 kecelakaan dan naik menjadi 18.427 pada tahun 2015. Sedangkan tahun 2016, sampai bulan Februari saja sudah 3.224 kejadian. Dari jumlah tersebut, korban yang merupakan pelajar mencapai 25%.
"Pelajar ternyata berkontribusi korban kecelakaan 25% di tahun 2015. Pada tahun 2014 berjumlah 3.503 siswa dan tahun 2015 ada 5.320 siswa, meningkat 50%," kata Wadir Lantas Polda Jawa Tengah, AKBP Muji Ediyanto saat membuka Sosialisasi dan Aplikasi Buku Hanjar Pendidikan Lalu Lintas di Mapolda Jateng, Selasa (8/3/2016).
Dari para korban yang terlibat kecelakaan, 60% tidak memiliki SIM, dan sebagian besar karena masih berstatus siswa di bawah 17 tahun. Banyak alasan bagi siswa untuk meminta motor pada orang tuanya, oleh sebab itu perlu adanya kontrol dari keluarga dan pihak sekolah juga.
Amaris penuh parkirnya. Jadi kalau kita tidak berbuat, siapa lagi yang akan selamatkan," tegasnya.
Sebagai salah satu upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan siswa, Direktorat Lalu Lintas Polda Jateng dan Pemprov Jateng bekerjasama membuat buku modul pendidikan lalu lintas. Buku yang dianggarkan dengan dana Rp 1,7 miliar itu akan disebar ke sekolah-sekolah di Jawa Tengah.
"Implementasinya nanti tidak sendiri, bisa ke pelajaran PPKN dan lainnya," tandas Muji saat membacakan sambutan dari Dir Lantas Polda Jateng, Kombes Benyamin. Buku tersebut akan didistribusikan ke 22.531 sekolah tingkat SD/MI dengan jumlah buku 45.062 eksemplar, kemudian 4.801 sekolah tingkat SLTP/MTs sebanyak 9.602 eksemplar, sedangkan tingkat SLTA/Ma, ada 2.962 sekolah dengan jumlah buku 5.924 eksemplar.
"Syukur Alhamdulillah kerja sama tersebut bisa terwujud dengan adanya hibah anggaran dari pemerintah Provinsi Jawa Tengah kepada Polda Jateng untuk pengadaan buku modul pembelajaran lalu lintas," tandasnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, Nurhadi Amiyanto mengatakan ini bukan pertama kalinya kepolisian menjamah siswa sekolah dalam pendidikan berlalu lintas. Diharapkan buku pembelajaran berlalu lintas tersebut bisa segera diintegrasikan dengan pelajaran lain sehingga menekan jumlah korban kecelakaan.
"Melalui buku pendidikan lalu lintas ini, lama-lama jadi kebiasaan, jadi budaya, setelah itu jadi karakter. Bisa mengurangi jumlah kecelakaan atau diharapkan bisa zero," kata Nurhadi
(alg/try).
Meskipun undang-undang tentang syarat-syarat dan izin mengemudi kendaraan bermotor telah disusun dengan baik dan dipandang sudah baik demi keamanan dan keselamatan pengendara, namun proses implementasi di masyarakat masih kurang maksimal atas kesadaran dan bersikap rasional, banyak masyarakat yang kurang kesadaran akan resiko keselamatan diri, anak, keluarganya dan orang lain jika tidak ada kepemilkan SIM ketika berkendaraan karena tidak ada aparat atau petugas kepolisian yang mengawasi.
Dalam teori yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo tentang paradigma hukum ada beberapa paradigma di masyarakat tentang hukum. Dalam masyarakat hukum masih dianggap sebagai institusi, paradigma ini menyebabkan masyarakat hanya akan taat kepada hukum apabila ada aparat penegak hukum di tempat itu, apabila tidak ada aparat maka masyarakat menganggap hukum itu tidak ada.5
Dari hasi pencarian data dari media massa atau media online yang tersedia dan melihat situasi yang ada dan berlangsung dijalanan, ada berbagai peristiwa dan fenomena sosial yang terjadi di masyarakat, penulis berpendapat bahwa masyarakat masih memandang
hukum itu tidak berlaku jika tidak ada aparat yang menegakkan hukum tersebut. Karena hal itulah maka harus ada kontribusi baik dari aparat maupun masyarakat dalam menegakkan hukum tersebut.
Dengan melihat dari hasil informasi yang didapat penulis, implementasi peraturan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan terdapat beberapa titik lemah pada beberapa faktor ketika dilihat dengan teori Soerjono Soekanto. Kekurangan ini terletak pada pengawasan dan penegakan oleh aparat penegak hukum, sehingga masyarakat pun merasa tidak ada yang mengawasi pelanggaran yang dilakukan, dan harus ada sosialisasi oleh aparat tentang Pasal 57 ayat (1) jo ayat (2) UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan juga Pasal 106 ayat (8) UU No. 22 Tahun 2009 agar masyarakat mengetahui aturan dan pentingnya menggunakan helm ketika berkendara untuk keselamatan diri sendiri. Kemudian agar masyarakat mengetahui beratnya sanksi bagi yang melanggar seperti yang disebutkan dalam Pasal 291 UU No. 22 Tahun 2009.
Kemudian dilihat dengan teori yang dikemukakan oleh Satjipto Rahardjo, terdapat kekurangan pada implementasi peraturan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, yakni pada pandangan masyarakat terhadap hukum tersebut, karena masyarakat masih menganggap hukum sebagai institusi maka masyarakat hanya akan patuh ketika ada aparat penegak hukum, sebaliknya jika tidak ada aparat penegak hukum maka masyarakatpun tidak akan patuh. Maka kesadaran di masyarakat harus lebih ditingkatkan karena masalah kenyamanan dan keselamatan di jalan raya adalah masalah bersama demi keselamatan para pengendara.
Kesimpulan
Dari penjelasan penulis diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa banyaknya pelanggaran yang dilakukan anak-anak dibawah umur mengendarai kendaraan bermotor roda dua atau pengendara kendaraan bermotor lain yang tidak menggunakan SIM dilatar belakangi beberapa masalah sebagai berikut:
Kurangnya kesadaran masyarakat untuk memiliki SIM, hal ini bisa disebabkan ketidaktahuan masyarakat akan undang-undang yang mengatur tentang UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan kurang kesadaran akan pentingnya keamanan dan keselamatan di jalan, dan merasa tidak ada pengawasan dari aparat penegak hukum.
Pelajar ditangkap polisi sementara pelajar lainnya berusaha kabur saat mengendarai sepeda motor tidak berplat nomor dan tanpa mengenakan helm, di Kemayoran. (Foto:MI/Ramdani)
Boss at Petani/pekebun
perlu perhatian dan pengertian oleh orang tua si anak, bahwa secara fisik mungkin anak anak tersebut bisa mengendarai motor, tetapi dalam mental masih belum, karena jalan raya adalah jalan milik umum, banyak aturan dan etika yang anak anak belum paham, semoga di baca bapak/ibu ibu, supaya sadar, memanjakan anak bukan dengan membelikan motor,
Works at Selfemployed
Setuju pak, menurut saya orangtua sangat berperan penting memberikan penjelasan kepada anaknya bahwa naik motor diusia yang belum seharusnya itu berbahaya ditambah lagi mental yang belum siap, pengalaman yang masih kurang juga menjadi faktor penyebab kecelakaan. Apalagi jika melanggar aturan lalu lintas yang berlaku seperti tidak menggunakan helm, wah itu sangat berbahaya.
Management at Facebook
Ini mbak apa mas ya yang jelas saya sependapat dengan anda. Peran keluarga terlebih orang tua dalam hal pengawasan dan perhatian sangat penting. Penjelasan tentang bahaya apa saja yang ditimbulkan apabila kita belom siap berkendara juga perlu disampaikan. Orang tua juga harus mengkontrol pergaulan di mana sering terjadi hasutanhasutan yang disampaikan teman sepermainan untuk naik motor sebelum waktunya.
Universitas Gadjah Mada
bener sekali tu kata bro khinan,,bahaya banget buat si anak ,apa lagi buat pengendara