REFLEKSI HUKUM Jurnal Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana ISSN

75 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

ii

REFLEKSI HUKUM

Jurnal Ilmu Hukum

Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana ISSN 0853 – 7488

Penanggungjawab Dekan

Ketua Dewan Redaksi

Titon Slamet Kurnia, S.H., M.H.

Anggota Dewan Redaksi

Kustadi, S.H., M.Hum. Arie Siswanto, S.H., M.Hum., Dr. Tri Budiyono, S.H., M.Hum., Christiana Tri Budhayati, S.H., M.Hum.

Yakub Adi Krisanto, S.H., M.H.

Sekretaris

Indirani Wauran, S.H.

Mitra Bestari

Theofransus Litaay, S.H., LL.M

Alamat Redaksi Fakultas Hukum UKSW Jl. Diponegoro 52 – 60 Salatiga 50711

Phone 0298 – 321212 ext. 245 Fax 0298 – 321433

E-mail: refleksihukum@yahoo.com

Redaksi menerima sumbangan karangan tentang hukum sebanyak maksimal 15 halaman kwarto spasi satu setengah. Redaksi dapat menyunting dan memadatkan karangan. Jika suatu karangan dimuat tidak berarti redaksi

sependapat dengan penulisnya.

(2)

iii

DAFTAR ISI

Editorial iv

Artikel

Mahkamah Konstitusi dan HAM: Masalah Pidana Mati

A. Mukthie Fadjar 1

Pidana Mati dalam Perspektif Hukum Internasional

Arie Siswanto 7

Implementasi Lisensi Wajib terhadap Produk Obat yang Dipatenkan Pasca Deklarasi Doha

Tomi Suryo Utomo 21

Peran Ombudsman dalam Mewujudkan Perlindungan Hukum bagi Warga Masyarakat

Kustadi 41

Hal-hal yang Mempengaruhi Terjadinya Kasus Korupsi Pengadaan Buku Ajar Tahun 2003 di Kota Salatiga dan Penanganannya

M. Haryanto 57

Timbangan Buku

Peradilan Konstitusi di Sepuluh Negara

(3)

iv

EDITORIAL

Sama seperti bidang-bidang ilmu yang lain, ilmu hukum juga memiliki dinamika. Dari waktu ke waktu ilmu hukum mengalami banyak perkembangan. Perkembangan itu meliputi: (1) perubahan-perubahan yang terjadi di dalam peraturan perundang-undangan sebagai sumber hukum bagi praktik hukum; (2) interpretasi-interpretasi terbaru terhadap peraturan perundang-undangan yang ada yang dilakukan oleh kalangan praktisi hukum (terutama yang otoritatif adalah oleh hakim dalam bentuk putusan pengadilan); (3) maupun interpretasi-interpretasi yang dilakukan oleh para sarjana hukum (legal scholars).

Perkembangan-perkembangan tersebut mau tidak mau harus menjadi perhatian baik di lingkungan akademis maupun praktis guna memperoleh pemahaman tentang kondisi aktual tentang apa hukum yang berlaku pada saat ini (lex posterior derogat lex priori) dan apakah interpretasi-interpretasi yang dibangun baik oleh praktisi maupun teoretisi tersebut sudah tepat ataukah belum. Perkembangan-perkembangan tersebut juga menjadi satu keniscayaan bagi penyelenggaraan proses belajar mengajar. Terkait dengan itu maka penerbitan Refleksi Hukum April 2009 mengambil tema “Perkembangan-perkembangan Mutakhir dalam Hukum Indonesia (Recent Developments in Indonesian Law).”

Ada lima artikel utama dan satu timbangan buku dalam terbitan Refleksi Hukum kali ini. Pertama, Mahkamah Konstitusi dan HAM: Masalah Pidana Mati oleh Prof. A. Mukthie Fadjar, S.H., M.S. (Hakim Konstitusi & Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi). Kedua, Pidana Mati dalam Perspektif Hukum Internasional oleh Arie Siswanto, S.H., M.Hum (Staf Pengajar FH-UKSW). Ketiga, Implementasi Lisensi Wajib Terhadap Produk Obat yang Dipatenkan Pasca Deklarasi Doha oleh Tomi Suryo Utomo, S.H., LL.M., Ph.D (Staf Pengajar FH Univ. Janabadra). Keempat, Peran Ombudsman dalam Mewujudkan Perlindungan Hukum bagi Warga Masyarakat (Staf Pengajar FH-UKSW). Kelima, Hal-hal yang Mempengaruhi Terjadinya Kasus Korupsi Pengadaan Buku Ajar Tahun 2003 di Kota Salatiga dan Penanganannya. Sementara timbangan buku adalah tentang Peradilan Konstitusi di Sepuluh Negara.

(4)

v

Artikel pertama dan kedua merupakan tulisan yang semula disajikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh FH-UKSW pada tanggal 21 Februari 2009 dengan mengambil tema “Legalisasi Pidana Mati dan Tuntutan Membangun Masyarakat Humanis di Indonesia: Peranan MK.” Kedua tulisan ini membahas mengenai kontroversi pemberlakuan pidana mati di Indonesia yang sedang menghangat setelah Mahkamah Konstitusi menolak permohonan pengujian Undang-undang Narkotika. Artikel pertama membahas mengenai perspektif Mahkamah Konstitusi (MK) dalam perkara pengujian konstitusionalitas pidana mati. Artikel kedua membahas aspek-aspek hukum internasional yang berkaitan dengan pidana mati.

Artikel ketiga membahas perkembangan mutakhir pengaturan internasional di bidang hak kekayaan intelektual (HKI) menyangkut kebijakan safeguard yang dapat dijalankan negara berkembang berkenaan dengan obat esensial melalui instrumen lisensi wajib (compulsory licenses). Penulis artikel ini menyimpulkan bahwa amandemen perjanjian TRIPS pada tahun 2005 merupakan lambang keberhasilan yang nyata dari usaha negara berkembang untuk mendapatkan status hukum yang kokoh terhadap keterkaitan antara perlindungan paten obat dengan akses masyarakat terhadap obat esensial. Perkembangan demikian tentu akan berpengaruh pula terhadap pengaturan hukum nasional Indonesia.

Artikel keempat membahas mengenai peran Ombudsman dalam rangka memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat di Indonesia. Artikel ini membahas perkembangan mutakhir tentang legislasi yang menjadi dasar pembentukan dan bekerjanya Ombudsman Republik Indonesia yaitu UU No. 37 Tahun 2008. Penulis artikel ini berpendapat bahwa kehadiran Ombudsman di Indonesia sangat dibutuhkan oleh warga masyarakat dalam rangka melakukan pengawasan terhadap layanan publik yang dilaksanakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan termasuk yang dilakukan di lingkungan BUMN, BUMD dan BHMN.

Artikel kelima membahas tentang perkembangan dalam penanganan kasus korupsi dalam proyek pengadaan buku ajar (kasus Buku Balai Pustaka) di Kota Salatiga pada tahun 2003. Artikel ini menyajikan analisis tentang kuatnya pengaruh politik dalam kasus pengadaan buku tersebut. Artikel ini melihat bahwa proses hukum yang tengah berjalan tidak mempertimbangkan faktor politik tersebut. Oleh karena itu penulis merekomendasikan supaya aktor intelektual dari kasus ini juga harus dipertanggungjawabkan.

(5)

vi

Terkait dengan keterlambatan dalam memenuhi deadline penerbitan edisi April 2009, kami Dewan Redaksi meminta maaf yang sebesar-besarnya. Akhir kata, kami mengucapkan selamat membaca.

(6)

1

MAHKAMAH KONSTITUSI DAN HAM:

MASALAH PIDANA MATI

1

A. Mukthie Fadjar2

Abstract

Mahkamah Konstitusi (MK) has a fundamental role in addressing human rights issue in Indonesia. As the guardian of the constitution, MK should protect human rights provision under Chapter XA of the UUD 1945. In order to complete its function, MK has an authority to invalidate unconstitutional legislation by judicial review mechanism. A legislation can be declared unconstitutional if it violates human rights provision of the UUD 1945. The problematic of judicial review of human rights in Indonesia is the vague relationship between Art. 28I.1 and Art. 28J.2 of the UUD 1945. The author suggests that Art. 28J.2 the UUD 1945 can not be utilized as an ultimate tool to derogate Art. 28I.1 of the UUD 1945. But in the capital punishment constitutionality case the author thinks that it should be a matter of legal policy of the government as a legislator which can not be intervened by MK.

Keywords: Mahkamah Konstitusi; Human Rights; Capital Punishment

1. Kehadiran Mahkamah Konstitusi (MK) di berbagai negara pada umumnya, termasuk di Indonesia, adalah sebagai pengawal konstitusi,

1

Disampaikan dalam Seminar Nasional “Legalisasi Pidana Mati dan Tuntutan Membangun Masyarakat Humanis di Indonesia: Peranan MK”, diselenggarakan oleh FH Universitas Kristen Satya Wacana (FH-UKSW), bertempat di Gedung E-123 UKSW, pada tanggal 21 Februari 2009.

2

Prof. A. Mukthie Fadjar, S.H., M.S. adalah Hakim Konstitusi/Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

(7)

2 pengontrol demokrasi, dan pelindung hak asasi manusia (HAM). Dalam posisinya yang demikian, maka MKRI misalnya berfungsi “menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan, dalam rangka menjaga konstitusi agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi” (vide Penjelasan Umum UU No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, disingkat UU MK). Sesuai dengan posisi dan fungsinya tersebut, oleh Pasal 24C UUD 1945 MKRI diberi lima kewenangan konstitusional, yaitu:

a. menguji Undang-Undang terhadap Undang-Undang Dasar; b. memutus sengketa kewenangan konstitusional lembaga Negara; c. memutus pembubaran partai politik;

d. memutus perselisihan hasil pemilihan umum; dan

e. wajib memutus pendapat DPR atas dugaan bahwa Presiden dan/atau Wakil Presiden telah melanggar ketentuan UUD 1945. 2. Dari lima kewenangan konstitusional tersebut di atas, kewenangan untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar yang paling banyak erat kaitannya dengan HAM, karena pemohon pengujian (perorangan WNI, atau kesatuan masyarakat hukum adat, atau badan hukum publik/privat, atau lembaga negara) terlebih dahulu harus mendalilkan hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya yang diberikan oleh UUD 1945 dirugikan oleh berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian [vide Pasal 51 ayat (1) UU MK]. Yang dimaksud dengan hak konstitusional (constitutional rights) menurut Penjelasan Pasal 51 ayat (1) U MK adalah hak-hak yang diatur dalam UUD 1945, yang tidak lain adalah HAM yang sudah diadopsi dan dijamin oleh Konstitusi (UUD 1945). Oleh karena itu, semua undang-undang yang pernah diuji oleh MKRI dalam kurun waktu usianya yang menginjak tahun keenam ini semuanya berkaitan dengan semua bidang HAM, yaitu hak sipil dan politik, hak ekonomi, sosial, dan budaya, serta hak-hak yang terkait dengan hak-hak-hak-hak komunal dan pembangunan. Salah satu masalah HAM yang terkait dengan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 adalah masalah hak untuk hidup yang dijamin oleh Pasal 28A UUD 1945 dengan masih berlakunya ketentuan tentang pidana mati dalam berbagai undang-undang di Indonesia, yang menjadi fokus diskusi ini.

3. Perlu diketahui, bahwa pengujian undang-undang terkait pidana mati yang pernah diuji oleh MKRI ada dua, yaitu a) ketentuan pidana mati yang tercatum dalam UU No. 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika (Perkara No. 2-3/PUU-V/2007) dan b) tentang tata cara pelaksanaan pidana mati yang tercantum dalam UU No. 2/PNPS/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan

(8)

3 Pidana Mati yang dijatuhkan oleh Pengadilan di Lingkungan Peradilan Umum dan Militer (Perkara No. 21/PUU-VI/2008). Dalam putusannya, MKRI menyatakan menolak permohonan, baik yang terkait dengan ketentuan pidana mati yang tercantum dalam UU Narkotika maupun yang terkait dengan tata cara pelaksanaan pidana mati yang tercantum dalam UU No. 2/PNPS/1964. Terus terang, menurut pendapat saya, MKRI memang menghadapi dilema dalam memutus perkara-perkara a quo, yaitu:

a. Terhadap ketentuan pidana mati yang tercantum dalam UU Narkotika, apabila permohonan dikabulkan justru akan menimbulkan ketidakadilan dan ketidakpastian hukum yang sangat luas di masyarakat, mengingat bahwa ketentuan tentang pidana mati yang tersebar di berbagai undang-undang masih cukup banyak, sementara MKRI tidak dapat menguji undang-undang lainnya terkait pidana mati karena tidak dimintakan pengujian. Sebaliknya, apabila permohonan ditolak sebagaimana Putusan No. 2-3/PUU-V/2007, terkesan MKRI masih pro pidana mati dan menegasi hak untuk hidup yang tercantum dalam Pasal 28A juncto Pasal 28I ayat (1) UUD 1945;

b. Terhadap permohonan pengujian undang-undang yang mengatur pelaksanaan pidana mati, dalam hal ini “cara ditembak sampai mati”, dilemanya adalah bahwa dengan cara apapun, apakah ditembak sampai mati, atau pun dipancung, atau disuntik sampai mati, sebagaimana ditawarkan oleh para Pemohon beserta ahli yang dihadirkan, kesan adanya rasa sakit dan unsur penyiksaan tetap saja ada. Bahkan kalau permohonan dikabulkan, pelaksanaan pidana mati akan kembali ke ketentuan Pasal 11 KUHP, yaitu harus digantung. 4. Terlepas, dari putusan-putusan MKRI mengenai pidana mati sebagaimana uraian di atas, masalah pro dan kontra pidana mati adalah persoalan lama dengan para pendukungnya masing-masing yang mungkin masih sama kuat, sehingga negara-negara juga terbelah dalam dua kutub pandangan tersebut. Perbedaan pandangan tersebut juga tercermin dari pendapat para ahli yang dihadirkan dipersidangan, baik yang diajukan oleh para Pemohon, oleh Pemerintah, maupun yang dihadirkan oleh MKRI. Bahkan menurut keterangan Komnas HAM yang diwakili oleh Abdul Hakim Garuda Nusantara (Ketua Komnas HAM waktu itu), di kalangan komisioner Komnas HAM pun terdapat perbedaan pandangan tentang pidana mati. Dalam pandangan berbagai agama, pada umumnya juga mengenal ketentuan tentang pidana mati, meskipun hanya sebagai pengecualian atau alternatif.

(9)

4 5. Bahwa memang ada kecenderungan mayoritas negara-negara menghapuskan ketentuan pidana mati dalam perundang-undangannya, atau setidak-tidaknya cenderung melakukan pelunakan dalam penerapannya, misalnya:

a. International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang telah diratifikasi oleh Indonesia dengan UU No. 12 Tahun 2005, Pasal 6 ayat (2) ICCPR masih memungkinkan suatu negara menerapkan ketentuan pidana mati, namun hanya untuk kejahatan yang paling serius (most serious crimes): “Di negara-negara yang belum menghapuskan hukuman mati, putusan hukuman mati hanya dapat dijatuhkan terhadap kejahatan-kejahatan yang paling serius sesuai dengan hukum yang berlaku pada saat dilakukannya kejahatan tersebut, …” (In countries which have not abolished the death penalty, sentence of death may be imposed only for the most serious crimes in accordande with the law in force at the time of the commission of the crime …”). Tentang kejahatan apa saja yang tergolong serius, tentu sangat tergantung dari pandangan dan legal policy negara yang bersangkutan. Bagi Indonesia, barangkali kejahatan memproduksi dan memperdagangkan narkotika termasuk kejahatan yang sangat serius yang dapat membunuh satu generasi bangsa;

b. Hukum Islam mengenal apa yang disebut: “uang darah” sebagai pengganti oleh pelaku kejahatan dan permaafan dari keluarga korban; c. Draft RUU KUHP tidak lagi menempatkan pidana mati sebagai pidana pokok, namun hanya pidana yang bersifat khusus dan merupakan alternatif, serta pelaksanaannya pun dapat dengan masa percobaan 10 tahun yang apabila terpidana mati dalam masa percobaan tersebut berkelakuan baik, pidana mati dapat diubah menjadi pidana seumur hidup.

6. Dalam perspektif Konstitusi, Indonesia memang memiliki Pasal 28A UUD 1945 yang berbunyi, “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya” yang apabila dikaitkan dengan Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 diakui sebagai hak yang “tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun”. Akan tetapi, menjadi persoalan yang masih selalu menjadi perdebatan yang belum final, termasuk di MKRI, dengan adanya Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi, “Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain

(10)

5 dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis”. Ketentuan yang bernuansa membatasi HAM yang sebenarnya juga sekedar mengadopsi Pasal 29 ayat (2) The Universal Declaration of Human Rights (UDHR) yang berbunyi “Di dalam menjalankan hak-hak dan kebebasan-kebebasannya setiap orang harus tunduk hanya kepada pembatasan-pembatasan yang ditetapkan oleh undang-undang dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan yang layak bagi hak-hak dan kebebasan-kebebasan orang lain, dan untuk memenuhi syarat-syarat yang adil dari kesusilaan, tata tertib umum dan kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat demokratis (In the exercise of his rights and freedoms, everyone shall be subject only to such limitations as are determined by law solelyfor the purpose of securingduerecognition and respectfor the rights and freedoms of others and of meeting the just requirements of morality, public order and the general welfare in a democratic society). Masih menjadi perdebatan apakah Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 dapat menegasi Pasal 28I ayat (1) yang sering dipandang sebagai ketentuan mengenai HAM yang bersifat “non-derogable”. Akan tetapi, praktiknya, DPR, Pemerintah, dan sebagian para ahli (setidak-tidaknya yang hadir memberi keterangan di persidangan MK), cenderung menjadikan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945 sebagai senjata “sapu jagat” atau senjata “pamungkas” untuk menghadapi berbagai tuntutan pemenuhan HAM, termasuk HAM yang “non-derogable” yang tercantum dalam Pasal 28I ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi, ”Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.”

7. Berdasarkan hal-hal yang telah dikemukakan tersebut di atas, menurut pendapat saya, apabila kita ingin menghapuskan ketentuan pidana mati di Indonesia, harus bersifat komprehensif, yakni menghapus dari semua peraturan perundang-undangan, dan hal itu harus menjadi “legal policy” pembentuk undang-undang, bukan oleh MKRI yang terbatas hanya dapat menguji undang-undang dimohonkan pengujian. Sebaliknya, apabila pidana mati masih belum dapat dihapuskan karena berbagai pertimbangan, maka harus dengan “pelunakan” dalam penerapannya, sebagaimana yang dimuat dalam draft RUU KUHP, termasuk dicarikan alternatif lain yang lebih manusiawi dalam tata cara pelaksanaan pidana mati. Selain itu, mungkin sudah tiba saatnya bagi MKRI sebagai “the sole interpreter of the

(11)

6 constitution” untuk melakukan penafsiran yang tepat dan dapat diterima oleh semua kalangan, atas Pasal 28I ayat (1) dan kaitannya dengan Pasal 28J ayat (2) UUD 1945, agar kecenderungan menggunakan pasal 28J ayat (2) UUD 1945 sebagai semacam “sapu jagat” untuk membabat semua tuntutan atas pemenuhan HAM dalam Konstitusi dapat dihindari.

(12)

7

PIDANA MATI DALAM PERSPEKTIF

HUKUM INTERNASIONAL

1

Arie Siswanto

Abstract

No other subjects in penology and criminal law could ignite such a prolonged debate as the subject of death penalty. While in practice this kind of punishment has been implied on criminals as long as the history of mankind, death penalty has divided people sharply into two different sides. Morality, human rights, religious norms are common reasons upon which the opponents of capital punishment rest their arguments. However, similar reasons, differently interpreted, are also central to the proponents of the death penalty.

This paper focuses on how international law views this hot debated issue. Instead of providing a clear cut opposition to death penalty, the International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), --as a consequence of its political character--, provides indistinct attitude toward the (il)legitimacy of the death penalty. On the other side, international law documents issued in more recent years, clearly reflect inauspicious position on capital punishment. The Rome Statute as well as the ICTY and ICTR statutes noticeably specify a term of life imprisonment as the most severe penalty, applicable for the perpetrator of even the most severe evil actions against humanity.

Keywords: Death Penalty, Human Rights, International Law.

1

Disampaikan dalam Seminar Nasional “Legalisasi Pidana Mati dan Tuntutan Membangun Masyarakat Humanis di Indonesia: Peranan MK”, diselenggarakan oleh FH Universitas Kristen Satya Wacana (FH-UKSW), bertempat di Gedung E-123 UKSW, pada tanggal 21 Februari 2009.

(13)

8

A. Pendahuluan

Beberapa waktu terakhir, isu pidana mati untuk kesekian kalinya kembali mencuat di tengah-tengah wacana hukum dan penegakan hukum di Indonesia. Terakhir, isu ini kembali menarik perhatian publik ketika Kejaksaan Agung menegaskan bahwa Gunawan Santosa, terpidana mati kasus pembunuhan Boediharto Angsana, seorang pengusaha, akan segera dieksekusi jika ia tidak mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Sebelumnya, menjelang eksekusi trio bomber Bali pada akhir tahun 2007 lalu, isu ini, --meskipun dalam dimensi yang agak berbeda, yakni menyangkut cara pelaksanaan pidana mati--, juga menjadi salah satu senjata yang dipergunakan oleh penasehat hukum para teroris tersebut untuk menunda pelaksanaan pidana mati.2

Perkara hukum yang langsung mendiskusikan legitimasi pidana mati di dalam konteks hukum Indonesia tentu saja adalah landmark case yang diputus oleh Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia pada tahun 2007 melalui Putusan Nomor 2-3/PUU-V/2007 yang membahas tentang konstitusionalitas ketentuan yang memuat ancaman pidana mati di dalam Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Narkotika. Dalam perkara tersebut Mahkamah Konstitusi menyatakan bahwa dalam Perkara No 2/PUU-V/2007, permohonan dari Pemohon I dan Pemohon II ditolak untuk seluruhnya3, sedangkan permohonan Pemohon III dan IV dalam perkara tersebut dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard). Untuk Perkara No 3/PUU-V/2007, Mahkamah Konstitusi memutus bahwa permohonan perkara dinyatakan tidak dapat diterima (niet ontvankelijk verklaard).4 Dalam kedua perkara tersebut, putusan niet onvantkelijk verklaard didasarkan pada pertimbangan bahwa para pemohon (Pemohon III dan IV dalam perkara No 2/PUU-V/2007, serta pemohon dalam Perkara No 3/PUU-V/2007) adalah warga negara asing yang tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing).

2

Dalam Perkara Nomor 21/PUU-V/2008 Terpidana mati kasus Bom Bali Amrozy, Ali Gufron dan Imam Samudera mengajukan permohonan pengujian konstitusionalitas Undang-Undang Nomor 2/Pnps/1964 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati.

3

Dalam Perkara Nomor 2/PUU-V/2007 Pemohon I adalah Edith Yunita Sianturi dan Pemohon II adalah Rani Andriani (Melisa Aprilia), keduanya adalah WNI terpidana mati kasus Narkoba. Pemohon III dan Pemohon IV masing-masing adalah Myuran Sukumaran dan Andrew Chan, keduanya warga negara Australia terpidana mati dalam kasus Narkoba. 4

Pemohon dalam Perkara Nomor 3/PUU-V/2007 adalah Scott Anthony Rush, warga negara Australia, terpidana mati dalam kasus Narkoba.

(14)

9 Secara substantif dalam Perkara No 2/PUU-V/2007, Mahkamah Konstitusi berpendapat bahwa ketujuh ketentuan yang memuat ancaman pidana mati di dalam Undang-undang No. 22 tahun 2007 tentang Narkotika sepanjang yang mengenai ancaman pidana mati tidak bertentangan dengan Pasal 28A dan 28I ayat (1) UUD 1945.5

Perbincangan tentang pro dan kontra pidana mati sesungguhnya adalah perbincangan yang tidak akan pernah mati. Dalam konteks Indonesia, hal tersebut bahkan secara amat tepat dicerminkan oleh Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 2-3/PUU-V/2007, dalam mana Hakim Konstitusi Maruarar Siahaan, Hakim Konstitusi HM Laica Marzuki dan Hakim Konstitusi H.Achmad Rustandi mengemukakan dissenting opinion tentang pokok permohonan dan pada dasarnya berpendapat bahwa ketentuan tentang pidana mati di dalam Undang-undang No. 22 tahun 2007 tentang Narkotika adalah inkonstitusional.

Ada banyak aspek yang bisa dijadikan sudut pandang di dalam mendiskusikan persoalan di sekitar pro dan kontra pidana mati. Moral-etik, HAM, norma religius, hingga efektivitas merupakan sudut pandang yang sering kali dipergunakan untuk menyusun argumen, baik bagi mereka yang pro maupun yang kontra pidana mati. Salah satu aspek yang sebenarnya juga bisa dipergunakan untuk menilai pidana mati adalah aspek hukum internasional. Tulisan ini dimaksudkan untuk melakukan eksplorasi terhadap bagaimana norma-norma hukum internasional mengatur tentang pidana mati. Agar sistematis, pembahasan di dalam tulisan ini hendak dibagi ke dalam beberapa bagian. Bagian pertama akan menggambarkan argumen-argumen pro maupun kontra pidana mati. Bagian selanjutnya akan berisi tentang berbagai instrumen hukum internasional yang berkaitan dengan pidana mati, sedangkan bagian terakhir akan berisi uraian tentang bagaimana negara Indonesia, dalam kondisi seperti sekarang ini sebaiknya memandang eksistensi pidana mati.

5

Ketentuan Undang-undang No. 22 tahun 2007 yang dipersoalkan konstitusionalitasnya karena memuat ancaman pidana mati adalah : (a) Pasal 80 ayat (1) huruf a; (b) Pasal 80 ayat (2) huruf a; (c) Pasal 80 ayat (3) huruf a; (d) Pasal 81 ayat (3) huruf a; (e) Pasal 82 ayat (1) huruf a; (f) Pasal 82 ayat (2) huruf a; dan (g) Pasal 82 ayat (3) huruf a. Lihat Putusan Nomor 2-3/PUU-V/2007, bagian Konklusi, angka 4.3.

(15)

10

B. Argumen Pro dan Kontra Pidana Mati

Pidana mati (death penalty atau capital punishment) dipahami sebagai “the lawful infliction of death as a punishment.”6 Sebagai suatu bentuk hukuman, pidana mati merupakan bagian dari sistem hukum pidana (criminal law system) yang juga terkait dengan teori-teori tentang pemidanaan pada umumnya.

Perbincangan tentang pidana mati pada dasarnya kemudian meruncing pada pertanyaan apakah pidana mati bersifat legitimate ataukah ilegitimate. Tentang ini, ada dua kubu pemikiran yang saling berhadapan. Kubu pertama adalah mereka yang kontra pidana mati, yang mendukung gagasan penghapusan pidana mati dari sistem hukum negara-negara (abolitionist). Sedangkan kubu yang kedua adalah mereka yang mendukung pidana mati sebagai instrumen hukum pidana untuk menindak kejahatan (retentionists). Di tengah-tengah kedua ekstrem ini ada pula pendapat dari mereka yang setuju terhadap pidana mati, sepanjang pidana mati itu secara limitatif hanya diancamkan terhadap kejahatan-kejahatan tertentu serta dilaksanakan dengan syarat-syarat yang ketat.

Ada berbagai argumen yang sering kali dikemukakan oleh mereka yang pro pidana mati. Beberapa argumen terkait dengan teori-teori pemidanaan, sementara beberapa lainnya menyangkut pula aspek-aspek moral, keagamaan dan bahkan ekonomi. Beberapa dalil utama yang sering kali diajukan oleh para proponen pidana mati adalah sebagai berikut:

1. Pidana mati secara permanen melenyapkan penjahat-penjahat yang paling buruk dari masyarakat beradab (incapacitation of the criminal).

2. Pidana mati mengandung efek retributif (retributive effect) yang dapat memuaskan rasa keadilan korban kejahatan dan keluarganya. 3. Pidana mati memiliki dampak preventif (detterent effect) bagi

anggota-anggota masyarakat yang lain.

4. Pidana mati tidak dilarang oleh norma-norma agama utama.

6

Dalam praktik, ada berbagai metode yang dipergunakan untuk melaksanakan pidana mati, yaitu: (a) Penggantungan (hanging); (b) Suntikan (lethal injection); (c) Kamar gas (gas

(16)

11 Sementara itu, para penentang pidana mati juga mengemukakan dalil-dalil yang meyakinkan untuk mendukung posisi mereka. Beberapa argumen utama dari mereka yang tidak sependapat dengan pidana mati adalah sebagai berikut:

1. Pidana mati mengasumsikan bahwa manusia tidak dapat berubah serta menegasikan kemungkinan bahwa seorang pelaku kejahatan pada suatu saat bisa bertobat.

2. Pidana mati tidak dapat dikoreksi (undone), khususnya dalam hal pidana mati ternyata dikenakan terhadap orang yang secara keliru harus menjadi terpidana sebagai akibat tidak sempurnanya sistem peradilan pidana. Dengan menggunakan kalimat lain, berdasarkan dalil ini pidana mati berpeluang untuk dikenakan terhadap orang yang sebenarnya tidak melakukan kejahatan yang didakwakan.

3. Pidana mati membawa penderitaan yang tidak perlu bagi orang-orang lain, khususnya keluarga si terpidana mati pada waktu-waktu penantian dan pelaksanaan pidana mati.

Di samping pokok-pokok di atas, para penentang pidana mati juga membahas argumen yang diajukan oleh mereka yang pro pidana mati, hanya saja mereka melihat argumen- argumen tersebut dari sisi yang amat berbeda. Tentang incapacitation of criminal, kubu abolisionis berpandangan bahwa pidana mati bukan merupakan satu-satunya cara untuk melenyapkan penjahat dari masyarakat. Menurut mereka ada cara yang lebih “beradab” dan “manusiawi”, yaitu pemenjaraan (imprisonment). Bagi para penentang pidana mati, pemenjaraan bukan saja lebih “beradab” dan “manusiawi”, melainkan juga bisa memberikan kesempatan kepada si terpidana untuk diperbaiki.

Perihal efek retributif, pada dasarnya kubu abolisionis mengatakan bahwa gagasan keadilan yang semata-mata bersifat retributif, sebagaimana tercermin dari lex talionis, sudah tidak mendapat tempat di dalam masyarakat modern. Dampak preventif (deterrent effect) dari pidana mati merupakan salah satu titik panas dalam perdebatan tentang pro dan kontra pidana mati. Ketika kubu retensionis meyakini bahwa pidana mati bisa membawa dampak preventif, kubu abolisionis justru menyatakan sebaliknya. Bagi mereka, pidana mati tidak berpengaruh signifikan di dalam turunnya angka kejahatan. Sebaliknya, para pendukung pidana mati, seperti telah dikemukakan

(17)

12 sebelumnya, menekankan pada efek pencegahan yang diyakini ada pada pidana mati.7

C. Pengaturan Hukum Internasional terhadap Pidana Mati

Terkait dengan norma-norma hukum internasional, kedua kubu juga mengemukakan hal yan sangat bertolak belakang. Pada satu sisi, kelompok penentang pidana mati berpendapat bahwa norma-norma hukum internasional secara tegas melarang pidana mati. Namun, pada sisi lain, kelompok pendukung pidana mati meyakini bahwa norma hukum inernasional pada dasarnya tidak memuat larangan tentang pidana mati.

Berikut ini adalah uraian sekaligus analisis terhadap beberapa norma hukum internasional yang sedikit banyak bersentuhan dengan isu pidana mati. Ada dua jenis instrumen yang secara khusus hendak diamati, yaitu instrumen HAM internasional dan instrumen yang berupa statuta-statuta mahkamah kejahatan internasional. Untuk kategori yang pertama, ada dua instrumen yang hendak dibahas, yakni Deklarasi Universal HAM dan International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR). Kedua instrumen ini dipilih untuk dibahas karena keduanya seringkali dipergunakan sebagai argumen untuk mengatakan bahwa norma-norma hukum inernasional melarang penerapan pidana mati. Sedangkan untuk kategori yang kedua, instrumen hukum internasional yang hendak diamati adalah Agreement for the Prosecution and Punishment of the Major War Criminals of the European Axis, Statuta International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY), Statuta International Criminal Tribunal for Rwanda (ICTR) dan Statuta Roma 1998 yang menjadi dasar pembentukan International Criminal Court (ICC).

1. Instrumen HAM Internasional a. Deklarasi Universal HAM 1948

Meskipun Deklarasi Universal HAM tidak memiliki karakteristik yang cukup kuat untuk dianggap sebagai norma hukum internasional, ada

7

Lihat misalnya kesimpulan dalam Hashem Dezbakhsh & Joanna M.Shepperd, “The Detterent Effect of Capital Punishment: Evidence from a “Judicial Experiment”, Emory

(18)

13 pendapat yang cukup luas diterima yang memandang bahwa melalui customary international law Deklarasi Universal HAM ini telah menjadi salah satu sumber hukum internasional.

Bagian dari Deklarasi Universal HAM yang terkait dengan isu pidana mati adalah Artikel 3 yang menyatakan bahwa, “[e]veryone has the right to life, liberty and security of person.” Pasal ini seringkali dipergunaan sebagai salah satu senjata utama untuk mengatakan bahwa pidana mati tidak mendapat tempat di dalam hukum internasional, khususnya yang berkaitan dengan norma-norma HAM. Atas dasar gagasan bahwa setiap orang memiliki hak untuk hidup, para penentang pidana mati secara simplistik kemudian mengemukakan argumen bahwa pidana mati melanggar hak hidup orang, sehingga harus ditiadakan.

Sayangnya, penafsiran seperti ini lebih sering tidak diikuti secara konsisten oleh mereka yang berada di barian abolisionis. Jika diikuti secara konsisten, semestinya mereka juga akan sangat menentang pidana penjara dan lembaga penjara, karena pidana penjara juga akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak kebebasan (“liberty”) seseorang, yang,--sama seperti hak hidup (“life”)--, secara tegas juga disebutkan di dalam Artikel 3 Deklarasi Universal HAM. Alih-alih menentang pidana penjara, banyak di antara para penentang pidana mati justru menjadikan pidana penjara seumur hidup (life sentence without parole) sebagai alternatif bagi pidana mati.

Alternatif yang sekilas terkesan humanis ini sesungguhnya tidak lepas dari risiko munculnya ketidakadilan. Hal ini antara lain terlihat dari kasus Moore yang terjadi di negara bagian New York, AS, pada tahun 1962. Kasus ini bermula ketika seorang laki-laki yang bernama James Moore memperkosa, mencekik dan membunuh Pamela Moss, seorang remaja perempuan yang baru berusia 14 tahun. Meskipun anaknya menjadi korban pembunuhan sadis, orang tua Pamela Moss mendukung upaya agar Moore tidak dijatuhi pidana mati, melainkan diberi pidana alternatif berupa penjara seumur hidup (life sentence without parole). Setelah menjalani pidana penjara selama hampir 20 tahun, pada tahun 1982 terjadi perubahan dalam hukum kepenjaraan di New York. Berdasarkan hukum yang baru, secara teknis James Moore menjadi punya hak untuk mengajukan permohonan bebas bersyarat setiap dua tahun sekali. Sejak saat itu, secara rutin setiap 2 tahun sekali orang tua dan keluarga Pamela Moss harus merasa was-was memikirkan kemungkinan James Moore mendapatkan hak bebas bersyarat.

(19)

14 Barangkali lebih tepat untuk memahami bahwa para perancang Deklarasi Universal HAM memiliki koherensi moral untuk membuat pembedaan antara kepentingan yang harus dilindungi (“life”, “liberty”, dan “security”) dengan pemidanaan. Dilihat secara demikian, pidana mati lebih merupakan tindakan untuk menghukum para pelanggar HAM, bukan pelanggaran HAM itu sendiri.

b. International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)

Terkait dengan pidana mati, ketentuan di dalam ICCPR yang langsung berkaitan dengan pokok pembicaraan itu adalah Artikel 6 ICCPR yang secara lengkap berbunyi demikian:

Article 6

1. Every human being has the inherent right to life. This right shall be protected by law. No one shall be arbitrarily deprived of his life. 2. In countries which have not abolished the death penalty, sentence of

death may be imposed only for the most serious crimes in accordance with the law in force at the time of the commission of the crime and not contrary to the provisions of the present Covenant and to the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide. This penalty can only be carried out pursuant to a final judgement rendered by a competent court.

3. When deprivation of life constitutes the crime of genocide, it is understood that nothing in this article shall authorize any State Party to the present Covenant to derogate in any way from any obligation assumed under the provisions of the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide.

4. Anyone sentenced to death shall have the right to seek pardon or commutation of the sentence. Amnesty, pardon or commutation of the sentence of death may be granted in all cases.

5. Sentence of death shall not be imposed for crimes committed by persons below eighteen years of age and shall not be carried out on pregnant women.

6. Nothing in this article shall be invoked to delay or to prevent the abolition of capital punishment by any State Party to the present Covenant.

Artikel 6 dari ICCPR ini seringkali dirujuk oleh para penentang pidana mati. Paragraf 1 dari artikel ini, yang menegaskan bahwa setiap manusia memiliki

(20)

15 hak untuk hidup yang bersifat melekat (inheren). Oleh para penentang pidana mati, bagian pertama dari Paragraf tersebut dianggap sebagai ketentuan mutlak yang menutup ruang bagi keberadaan pidana mati. Namun, pembacaan yang cermat terhadap paragraf tersebut dan paragraf berikutnya semestinya tidak akan memunculkan kesimpulan yang demikian. Apabila diperhatikan secara seksama, kalimat terakhir di dalam Paragraf 1 mengemukakan kualifikasi tentang perampasan kehidupan secara sewenang-wenang (arbitrary deprivation of life). Hal ini berarti bahwa secara implisit Paragraf ini mengakui adanya perampasan kehidupan yang tidak sewenang-wenang (non-arbitrary deprivation of life).

Apabila pemahaman ini yang diikuti, tidaklah berlebihan kalau kemudian dipahami pula bahwa pidana mati merupakan wujud dari non-arbitrary deprivation of life yang secara implisit diakui oleh ketentuan Artikel 6 Paragraf 1 ICCPR.

Penafsiran yang demikian ini juga dipertegas oleh substansi Paragraf 2-5 dari Artikel 6. Paragraf 2, setidaknya secara implisit dan hati-hati masih mengakui keberadaan pidana mati di antara negara-negara. Tidak ada petunjuk bahwa ketentuan Paragraf ini menyatakan bahwa pidana mati adalah ilegal. Ketentuan yang ada hanya sekedar membatasi supaya pidana mati dilakukan secara terbatas dan seksama. Demikian pua halnya dengan Paragraf 3, 4 dan 5 yang memiliki karakteristik yang sama. Paragraf 6 memang secara samar mengindikasikan bahwa penghapusan pidana mati (abolition of capital punishment) merupakan sesuatu yang favorable. Namun, sama sekali tidak ada norma yang tegas melarang pidana mati.

Hal ini sangat wajar mengingat bahwa hukum internasional, bahkan yang memiliki basis perjanjian (treaty-based international law) tetaplah merupakan bagian dari struktur koordinatif hukum internasional. Berbeda dari hukum nasional yang memiliki struktur subordinatif terhadap subjeknya, ada tuntutan yang lebih besar terhadap hukum internasional untuk mengakomodasi perbedaan-perbedaan ideologi, politik, tata-nilai, sistem ekonomi serta latar belakang budaya negara-negara yang menjadi subjeknya.

Para penyusun ICCPR tampaknya sadar sepenuhnya bahwa supaya instrumen tersebut bisa diterima secara luas oleh negara-negara yang memiliki variasi ideologi, politik, tata-nilai, sistem ekonomi serta latar belakang budaya, ia harus menghindari pemuatan norma imperatif yang akan meletakkan garis tegas yang akan memisahkan negara-negara. Pendekatan yang realistik ini membuat kita lebih mudah untuk mengerti bahwa secara

(21)

16 substansial sebenarnya ICCPR tidak pernah secara tegas melarang pidana mati.

Namun, penafsiran seperti ini ternyata tidak populer di antara masyarakat internasional. Masyarakat internasional cenderung menganggap bahwa pidana mati adalah pelanggaran terhadap hak hidup. Kecenderungan ini antara lain terlihat dari dibuatnya instrumen-instrumen hukum internasional yang memuat gagasan tersebut, yaitu: (a) Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights 1989; (b) Protocols No. 6 (1982) and No. 13 (2002) to the Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms (European Convention on Human Rights); dan (c) Protocol to the American Convention on Human Rights to Abolish the Death Penalty 1990.

2. Statuta Mahkamah-mahkamah Internasional

Kecenderungan negara-negara untuk menolak pidana mati bisa terlihat jelas melalui statuta-statuta yang mendasari pembentukan beberapa mahkamah yang bersifat internasional, khususnya Nurnberg Tribunal, ICTY, ICTR dan ICC.

a. Nurenberg Tribunal

Mahkamah Nurenberg adalah peradilan militer yang diselenggarakan oleh negara-negara pemenang Perang Dunia II untuk mengadili personil militer Jerman yang dianggap melakukan kejahatan internasional selama Perang Dunia II. Persetujuan yang melandasi pelaksanaan Mahkamah Nurenberg, yakni Agreement for the Prosecution and Punishment of the Major War Criminals of the European Axis tanggal 8 Agustus 1945 tegas-tegas memuat ancaman pidana mati.8

Ketentuan tersebut bahkan dilaksanakan secara konsisten dan pada akhir proses peradilan beberapa petinggi militer dan Partai Nazi dieksekusi mati. Ohlin mencatat bahwa sebelumnya, ketika pihak Sekutu menyatakan akan menerapkan pidana mati dalam peradilan Nurenberg, tidak banyak negara yang menentang keputusan tersebut dengan alasan pidana mati melanggar hukum internasional. Kalaupun ada, keberatan terhadap

8

Jens David Ohlin, “Applying Death Penalty to Crimes of Genocide”, The American

(22)

17 keputusan Sekutu tersebut lebih banyak diwarnai oleh argumentasi rasa kemanusiaan dan moralitas, bukan argumentasi hukum.9 Hal itu menunjukkan bahwa pada saat itu pidana mati tidak dianggap bertentangan dengan hukum internasional.

b. ICTY dan ICTR

ICTY (International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia) dan ICTR (International Criminal Tribunal for Rwanda) adalah dua mahkamah kejahatan internasional ad hoc yang dibentuk pada tahun 1990-an, sekitar empat dekade setelah Mahkamah Nurnberg.

Meskipun hanya dipisahkan oleh waktu sepanjang kurang lebih empat dekade, ada perubahan mendasar yang terjadi di antara Mahkamah Nurenberg dengan ICTY dan ICTR, khususnya menyangkut pidana mati. Meskipun tidak secara eksplisit, ada gagasan yang kuat di dalam Statuta ICTY dan Statuta ICTR untuk menolak penerapan pidana mati. Artikel 24 Statuta ICTY dan Artikel 23 Statuta ICTR menegaskan bahwa, “[t]he penalty imposed by the Trial Chamber shall be limited to imprisonment.” Ini berarti bahwa di dalam sistem peradilan ICTY dan ICTR, pidana mati tidak akan pernah diterapkan. Ini juga sekaligus berarti bahwa para pelaku genosida, pelaku kejahatan perang dan pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk yang terwujud dalam tindakan-tindakan penyiksaan, eksperimen biologis dalam perang, penyanderaan penduduk sipil, pengeboman desa-desa yang bukan merupakan objek militer dalam perang, perbudakan, pembunuhan, penyiksaan, dan perkosaan sampai kapanpun tidak akan pernah dipidana mati di bawah sistem ICTY dan ICTR.

c. International Criminal Court

Apa yang sudah dimulai oleh ICTY dan ICTR terkait dengan pidana mati ternyata kemudian dipertegas oleh Statuta Roma 1998 yang menjadi dasar penyelenggaraan ICC (International Criminal Court). Artikel 77 Statuta Roma 1998 secara tegas menyatakan bahwa pidana pokok yang bisa dijatuhkan terhadap pelaku genosida (genocide), kejahatan terhadap kemanusiaan (crimes against humanity), kejahatan perang (war crimes) dan kejahatan agresi (the crime of agression) adalah:

9

(23)

18 (a) Imprisonment for a specified number of years, which may not exceed

a maximum of 30 years; or

(b) A term of life imprisonment when justified by the extereme gravity of the crime and the individual circumstances of the convicted person. Sedangkan pidana tambahan yang bisa dijatuhkan adalah:

(a) A fine under the criteria provided for in the Rules of Procedure and Evidence;

(b) A forfeiture of proceeds, property and assets derived directly or indirectly from that crime, without prejudice to the rights of bona fide third parties.

Sama seperti Statuta ICTY dan ICTR, pemidanaan di dalam sistem ICC yang hanya dibatasi pada pidana penjara (imprisonment) akan membuat pelaku kejahatan internasional yang diatur dalam Artikel 5 Statuta Roma (genosida, kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan agresi) tidak akan pernah tersentuh oleh pidana mati, betapapun misalnya pelaku kejahatan ini luar biasa kejam dan tindakannya menyebabkan matinya ribuan orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Pada titik inilah situasi paradoksal bisa muncul. Kalau penghapusan pidana mati seperti yang terefleksikan secara kuat di dalam Statuta ICTY, ICTR dan ICC dianggap sebagai sebuah perlindungan “the right to life” dari pelaku kejahatan internasional, maka perlindungan itu justru telah memberikan privilege kepada orang yang salah, yang justru secara kasar dan eksesif barangkali telah menginjak-injak “the right to life” sekian ribu orang yang menjadi korban perbuatan si pelaku. Pada titik ini pula, rasa keadilan bisa menjadi sangat terusik.

D. Arah Sikap Negara-negara terhadap Pidana Mati: Quo vadis Indonesia?

Sampai di sini terlihat adanya kecenderungan yang cukup kuat bahwa di dalam hukum internasional, pidana mati menjadi sesuatu yang semakin tidak dikehendaki. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: bagaimana seharusnya Indonesia menyikapi pidana mati? Apakah Indonesia sebaiknya tetap mempertahankan pidana mati yang memang sudah ada di dalam sistem hukum Indonesia, ataukah sebaiknya Indonesia mengikuti tren internasional yang mengarah pada abolisi pidana mati?

(24)

19 Sementara ini tampaknya Indonesia masih berdiri di barisan negara-negara retensionis. Ini terindikasikan dari sikap Indonesia di dalam pengambilan suara atas Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 62/149 tahun 2007 tentang pembekuan (moratorium) pelaksanaan pidana mati.10 Beberapa pokok pemikiran berikut ini barangkali layak untuk didiskusikan lebih lanjut secara serius, untuk melihat bagaimana seharusnya Indonesia menyikapi eksistensi pidana mati:

 Ancaman pidana mati bagaimanapun juga memiliki efek deteren / prevensi. Ancaman pidana mati bisa membuat seseorang berpikir berulang kali sebelum melakukan tindakan yang diancam pidana mati. Oleh karena itu, dari sisi ini secara umum eksistensi pidana mati akan membawa dampak positif bagi ketertiban masyarakat.  Meski demikian, harus diakui pula bahwa pidana mati adalah

bentuk pidana yang ekstrem, sehingga semestinya hanya diancamkan secara limitatif terhadap kejahatan-kejahatan tertentu yang dianggap sangat berat.

 Pidana mati adalah pidana yang tidak dapat dikoreksi apabila terjadi error in persona dalam proses peradilan. Besar atau kecil, eksekusi mati terhadap orang yang sebenarnya tidak bersalah merupakan kemungkinan yang bisa terjadi. Peluang terjadinya error in persona dalam pemidanaan mati akan menjadi semakin besar dalam kondisi sistem peradilan pidana yang buruk. Oleh karena itu, mempertahankan pidana mati harus diikuti oleh upaya yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki sistem peradilan pidana.

 Harus disadari bahwa langkah “humanis” meniadakan pidana mati akan terpapar pada kemungkinan untuk berbenturan dengan rasa keadilan, khususnya dari sudut pandang korban.

10

Sebanyak 104 negara menyatakan setuju terhadap Resolusi Nomor 62/149 tahun 2007 ini, dan ada 54 negara yang menentang, yaitu: Afghanistan, Antigua and Barbuda, Bahamas, Bahrain, Bangladesh, Barbados, Belize, Botswana, Brunei Darussalam, Chad, China, Comoros, Democratic People’s Republic of Korea, Dominica, Egypt, Ethiopia, Grenada, Guyana, India, Indonesia, Iran, Iraq, Jamaica, Japan, Jordan, Kuwait, Libya, Malaysia, Maldives, Mauritania, Mongolia, Myanmar, Nigeria, Oman, Pakistan, Papua New Guinea, Qatar, Saint Kitts and Nevis, Saint Lucia, Saint Vincent and the Grenadines, Saudi Arabia, Singapore, Solomon Islands, Somalia, Sudan, Suriname, Syria, Thailand, Tonga, Trinidad and Tobago, Uganda, United States, Yemen, Zimbabwe.

(25)

20

Daftar Pustaka

Jens David Ohlin, “Applying Death Penalty to Crimes of Genocide”, The American Journal of International Law, Vol.9, 2005.

Hashem Dezbakhsh & Joanna M.Shepperd, “The Detterent Effect of Capital Punishment: Evidence fron a “Judicial Experiment”, Emory University Economics Working Paper, No. 03-14.

Jeffrey L. Kirchmeier, “Dead Innocent: The Death Penalty Abolitionist Search for a Wrongful Execution,” Tulsa Law Review, Vol.42/2006.

Agreement for the Prosecution and Punishment of the Major War Criminals of the European Axis, 1945.

Universal declaration of Human Rights, 1948.

International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), 1966.

Second Optional Protocol to the International Covenant on Civil and Political Rights, 1989.

Statute of the International Criminal Tribunal for the Former Yugoslavia. Statute of the International Criminal Tribunal for Rwanda.

Rome Statute for the Establishment of International Criminal Tribunal, 1998.

UNGA Resolution No. 62/149, 2007.

Protocols No. 6 (1982) and No. 13 (2002) to the Convention for the Protection of Human Rights and Fundamental Freedoms (European Convention on Human Rights).

Protocol to the American Convention on Human Rights to Abolish the Death Penalty, 1990.

(26)

21

IMPLEMENTASI LISENSI WAJIB

TERHADAP PRODUK OBAT YANG DIPATENKAN

PASCA DEKLARASI DOHA

Tomi Suryo Utomo1

Abstract

The existence of the Doha Declaration provides developing and least developed countries with potential strategies (safeguards) to reduce the impact of pharmaceutical protection on public health. This declaration offers several policies that are derived from the TRIPS Agreement. One of these is compulsory license. A key question for implementing compulsory licensing after the Doha Declaration is how to implement it in developing and least developed countries which have no or insufficient domestic capacity to produce pharmaceutical products. This becomes a serious problem because according to Article 31 (f) of the TRIPS Agreement, the adoption of compulsory licenses in the WTO members is for the domestic market only. As a consequence, countries with little or no domestic capacity to produce pharmaceuticals cannot import pharmaceuticals products produced under compulsory licenses from other countries.

Keywords: Doha Declaration; Safeguard; Pharmaceuticals Products; Compulsory Licenses

1

SH (UGM, 1993), LL.M (University of Melbourne, Australia, 1998), Ph.D (University of Washington, USA, 2006). Associate di Asian Law Group, Pty.,Ltd, Melbourne Australia, Dosen Luar Biasa S1 dan Magister Hukum Bisnis FH UGM, Dosen Magister Manajemen Rumah Sakit FK UGM, Dosen S1 dan S2 FH Universitas Janabadra, Yogyakarta dan Wakil Ketua Program S2 Ilmu Hukum FH UJB Yogyakarta.

(27)

22

A. Latar Belakang

Perlindungan paten obat dan terbatasnya akses masyarakat terhadap obat esensial merupakan topik yang sangat menarik untuk dikaji, terutama di negara-negara berkembang. Sebelum dan sesudah perjanjian TRIPS (Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights) para ahli dan pengamat Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disingkat HKI) secara intensif melakukan kajian dan penelitian tentang keterkaitan antara paten obat dan akses masyarakat terhadap obat esensial. Kesimpulan yang diperoleh dari berbagai penelitian itu adalah perlindungan paten obat berdampak negatif terhadap harga obat dan penggunaan obat generik.

Pada tahun 1990 Nogues berpendapat bahwa perlindungan paten obat hanya memberikan keuntungan yang besar kepada industri farmasi. Dia juga menyimpulkan bahwa paten di bidang farmasi terbukti meningkatkan harga obat di negara-negara berkembang. Meskipun demikian, kompetisi yang sehat antara produsen obat bermerek dengan produsen obat generik dapat menurunkan harga obat terutama jika obat generik dipromosikan dan dipergunakan oleh konsumen secara efektif.2 Pada tahun 1993, Nogues kembali mengadakan penelitian tentang keterkaitan paten dengan harga obat. Penelitiannya menyimpulkan bahwa pemberian perlindungan paten terhadap produk farmasi akan mengakibatkan kehilangan kesejahteraan yang signifikan dari para pembeli. Sebaliknya, pemilik paten akan memperoleh keuntungan dari perlindungan tersebut.3

Kesimpulan yang sama juga dikemukakan oleh Challu berdasarkan penelitiannya di Argentina pada tahun 1991. Sesudah melakukan analisa terhadap pasar obat di Argentina, Challu menyatakan bahwa perlindungan paten mengakibatkan kenaikan harga obat sebesar 273 % dan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap obat sebesar 45.4 %.4 Tahun 1994, Kim dan

2

Julio Nogues, Patents and Pharmaceutical Drugs: Understanding the Pressures on

Developing Countries, 24 (6) J.WORLD TRADE, 81-104 (1990).

3

Julio Nogues, Social Costs and Benefits of Introducing Patent Protection for

Pharmaceutical Drugs in Developing Countries, 31 (1) DEV. ECON., 24-53 (1993); lihat

United Nations Conference On Trade And Development, 1996, The Trips Agreement And

Developing Countries, Geneva, United Nations Publication, hal. 62.

4

Pablo Challu, The Consequences of Pharmaceutical Product Patenting, 15 (2) World Competition, 110 (1991). Studi ini dikritik oleh Rozek yang berpendapat bahwa penelitian tersebut “fatally flawed in its conceptual and empirical analyses.” [see Richard P. Rozek,

(28)

23 kawan-kawan menemukan bahwa perubahan kebijakan di bidang HKI telah berpengaruh terhadap pasar perusahaan obat di Korea Selatan. Perusahaan farmasi dengan kapabilitas dan kemampuan besar di bidang teknologi akan memperoleh keuntungan yang signifikan. Sedangkan perusahaan dengan kemampuan relatif lebih kecil akan kehilangan pasar akibat perubahan kebijakan tersebut.5

Sesudah perjanjian TRIPS diluncurkan, beberapa ahli kembali mengadakan penelitian tentang dampak paten obat terhadap perekonomian sebuah negara. Subramanian, misalnya melakukan penelitian tentang dampak paten obat di beberapa negara besar dan kecil pada tahun 1995. Dia menyimpulkan bahwa pasar yang bersifat kompetitif atau pasar yang bersifat duopolistik akan berubah menjadi sebuah pasar yang monopolistik dikarenakan pengaruh hukum paten.6

Pada tahun yang sama, Subramanian menerapkan penelitian tersebut di lima negara: India, Indonesia, Pakistan, Filipina dan Thailand. Dia menemukan bahwa pengaruh harga tahunan, kesejahteraan dan keuntungan di lima negara tersebut bersifat negatif atau terpengaruh oleh hukum paten.7 Dengan kata lain, harga dan keuntungan obat meningkat, tetapi hanya sedikit konsumen yang mampu membeli obat-obatan tersebut.

Tahun 1995, Chambouleyron menyimpulkan bahwa ada kenaikan harga obat yang signifikan dan menurunnya konsumsi terhadap obat-obatan yang disebabkan oleh monopoli.8 Watal pada tahun 1996 melaporkan hasil penelitian serupa di India dimana paten obat terbukti meningkatkan kenaikan harga obat-obatan sebesar 52 % dan hilangnya kesejahteraan masyarakat

The Consequences of Pharmaceutical Product Patenting: A Critique, 16 (3) WORLD

COMPETITION L. & ECON REV., 91 (1993)]; UNCTAD, Id. 5

Kim, Sang-Gon, Kong-Kyun Ro and Pyung-Il Yu, Intellectual Property Protection Policy

and Technology Capability, 21 (2) SCI. & PUB. POL’Y, 121-130 (1994); UNCTAD, Id.

6

A. Subramanian, Trade-Related Intellectual Property Rights and Asian Developing

Countries: An Analytical View, Paper presented at the Conference on Emerging Global

Trading Environment and Developing Asia, Manila, Philippines, 29-30 May; UNCTAD, Id. 7

A. Subramanian, Putting Some Numbers on the TRIPS Pharmaceutical Debate, 10 (2-3) INT’L. J. TECH. MGMT., 252-268 (1995); UNCTAD, Id, hal. 62.

8

Andres Chambouleyron, La Nueva Ley de Patentes Y Su Efecto Sobre Los Precios de Los

Medicamentos. Analisis Y Propuestas (The New Law of Patents and Their Effects on the Prices of Medicines. Analysis and Answer), 18 (75) Estudios, 156-168 (1995); UNCTAD, Id, hal. 62.

(29)

24 sebesar US$ 33 juta.9 Pada pertengahan tahun 1999, K. Balla dan Kiran Sagoo melaporkan hasil survei yang dilakukan oleh Consumers International and Health Action International (CI/HAI). Survei ini menyimpulkan bahwa paten berpengaruh terhadap harga eceran 16 jenis obat di 36 negara (10 negara maju, 25 negara berkembang, termasuk Indonesia dan 1 negara yang tergabung dalam perkumpulan negara persemakmuran/Commonwealth of Independent States/CIS). Survei ini menyimpulkan bahwa ada dampak yang signifikan dari perlindungan paten obat terhadap harga eceran obat di sejumlah negara dan penggunaan obat generik dapat menurunkan harga obat paten.10

Sejak negosiasi di putaran Uruguay banyak pihak yang mengkhawatirkan dampak negatif perlindungan paten obat di negara-negara berkembang. Oleh karena itu, sebagian besar negara-negara berkembang bernegosiasi agar perjanjian TRIPS menyediakan pasal-pasal yang bisa mengurangi dampak negatif paten obat tersebut. Pada saat perjanjian TRIPS diluncurkan, semua negara sepakat untuk menyisipkan pasal-pasal pelindung (the TRIPS Safeguards) di dalam perjanjian TRIPS yang terdiri dari impor paralel, bolar provision, lisensi wajib dan penggunaan paten oleh pemerintah.

Pasca perjanjian TRIPS, implementasi dari pasal pelindung tersebut sering menimbulkan konflik diantara negara maju dengan negara berkembang, terutama terkait dengan pelaksanaan lisensi wajib. Timbulnya konflik tersebut bermuara pada perbedaan penafsiran tentang bagaimana melaksanakan pasal pelindung tersebut. Dalam praktek, penafsiran pasal tersebut lebih sering menggunakan perspektif negara maju. Akibatnya, pelaksanaan pasal pelindung di negara berkembang dalam upaya mengurangi dampak perlindungan paten obat, menjadi tidak optimal.

Atas desakan dari berbagai organisasi dan lembaga swadaya masyarakat, penafsiran terhadap pasal-pasal pelindung TRIPS akhirnya berhasil direalisasikan dengan diluncurkannya Deklarasi Doha pada tahun 2001. Melalui Deklarasi Doha, negara-negara berkembang mencapai tujuan

9

Jayashree Watal, Introducing Product Patents in the Indian Pharmaceutical

Sector-Implications for Prices and Welfare, 20 (2) WORLD COMPETITION L. & ECON. REV.,

19-20 (1996); UNCTAD, 1996. Id. 10

K. Bala and Kiran Sagoo, Patents and Prices, http://www.haiweb.org/pubs/hainews/ patents % 20and %20Prices .html (April/May 2000), hal. 1-4.

(30)

25 utama mereka untuk mencari penjelasan terhadap penafsiran pasal-pasal pelindung TRIPS tersebut.

Paper ini membahas tentang pelaksanaan salah satu pasal pelindung TRIPS, yaitu lisensi wajib di negara-negara berkembang dan dampaknya terhadap penyediaan obat esensial kepada masyarakat. Permasalahan terkait pelaksanaan lisensi wajib difokuskan pada dua perjanjian internasional: perjanjian TRIPS dan deklarasi Doha. Beberapa pertemuan yang diadakan untuk memperjelas tentang penafsiran dan pelaksanaan lisensi wajib seperti amandemen perjanjian TRIPS tahun 2005 juga dibahas di dalam paper ini.

B. Akses Terhadap Obat Esensial: Perjanjian TRIPS versus Deklarasi Doha

Perjanjian TRIPS

Banyak negara mengkhawatirkan dampak perlindungan paten obat terhadap akses obat esensial yang murah dan terjangkau sebelum perjanjian TRIPS diluncurkan pada tahun 1994. Kebanyakan negara tidak menyediakan perlindungan yang memadai terhadap paten obat karena perlindungan tersebut akan berakibat negatif terhadap kebutuhan masyarakat akan obat murah.11

Untuk mengakomodasi kekhawatiran tersebut, kebanyakan negara yang melakukan negosiasi pada putaran awal Uruguay sepakat untuk memasukkan beberapa pasal pelindung di bidang kesehatan masyarakat sebagai bentuk antisipasi terhadap dampak negatif perjanjian tersebut. Salah satu pasal penting yang merupakan hasil dari negosiasi tersebut adalah Pasal 8 perjanjian TRIPS. Pasal tersebut memberikan mandat kepada anggota WTO untuk “mengadopsi tindakan-tindakan yang perlu guna melindungi kesehatan masyarakat.”12

11

Lihat Kirsten Peterson, Recent Intellectual Property Trends in Developing Countries, 33 Harvard International Law Journal, 277, 1 (1992); DGDFC and WHO, 2000, The TRIPS Agreement and Pharmaceuticals, Report of an ASEAN Workshop on the TRIPS Agreement

and its Impact on Pharmaceuticals, Jakarta 2-4 May 2000, hal. 11; Nabila Ansari,

International Patent Rights in a Post – Doha World, 11 INT’L TRADE L. J. 57, 3 (2002).

12

(31)

26 Perjanjian TRIPS berisi 12 pasal yang memiliki kaitan erat dengan perlindungan paten obat13 dan tiga pasal tentang kebijakan untuk menangani dampak paten obat yang lebih dikenal sebagai pasal pelindung TRIPS (the TRIPS safeguards).14 Berkaitan dengan pengadopsian pasal-pasal tersebut, anggota WTO disarankan untuk tetap konsisten dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam perjanjian TRIPS. Permasalahan yang sering timbul adalah berkaitan dengan sifat dari TRIPS itu sendiri yang tidak menyediakan standar hukum internasional atau persyaratan hukum yang seragam bagi anggota WTO.15 Akibatnya, pelaksanaan pasal-pasal pelindung tersebut, termasuk bagaimana menterjemahkan pasal-pasal tersebut berbeda-beda diantara negara anggota WTO, khususnya antara negara berkembang dengan negara maju.16

Perjanjian Doha

Pasca diluncurkannya perjanjian TRIPS, negara-negara berkembang dan terbelakang semakin percaya bahwa perjanjian tersebut lebih banyak memberikan keuntungan kepada negara-negara maju. Terhambatnya akses masyarakat miskin di negara-negara berkembang dan terbelakang terhadap obat-obatan esensial merupakan bukti yang memperkuat keyakinan tersebut.17

13

Keduabelas pasal di dalam perjanjian TRIPS adalah sebagai berikut : Pasal 3 dan 4 (prinsip non- diskriminasi), Pasal 7 (tujuan TRIPS), Pasal 8 (perlindungan kesehatan masyarakat), Pasal 27 (Paten produk dan proses; dan pengecualian paten), Pasal 33 (perlindungan paten minimum selama 20 tahun), Pasal 34 (pembuktian terbalik untuk paten proses), Pasal 39 (Perlindungan data), Pasal 65 dan 66 (Pengaturan ketentuan transisi untuk negara-negara berkembang yang menjadi anggota WTO), Pasal 66 dan 67 (alih teknologi dan kerjasama teknis), Pasal 70/8 (mailbox filings) dan Pasal 71/1 (review) (WHO Essential Drugs and Medicines Policy, Network For Monitoring The Impact Of Globalization And

Trips On Access To Medicines , Report of a meeting February 2001, Bangkok, Thailand,

Health Economics and Drugs, EDM Series No.11, WHO/EDM/PAR/2002.1.WHO.2002, hal 17.

14

Pasal 6 (import paralel), Pasal 30 (Bolar Provision) dan Pasal 31 (lisensi wajib dan government use) (Id., at 17).

15

Carlos Correa, 2000, Intregrating Public Health Concerns Into Patent Legislation in

Developing Countries, Geneve, South Center, hal. 3.

16

Id., hal. 4. 17

Lihat Bryan C. Mercurio, TRIPS, Patents, and Access to Life Saving Drugs in the

Developing World, 8 MARQ. INTELL. PROP. L. REV. 211, 1 (2004); Mariama Williams, The TRIPS and Public Health Debate: An Overview, International Gender and Trade

(32)

27 Penurunan harga obat akan terjadi jika negara-negara tersebut mampu menerapkan dan memaksimalkan pasal-pasal pelindung (seperti impor paralel dan lisensi wajib) secara konsisten. Ironisnya, usaha untuk menyisipkan pasal-pasal pelindung tersebut ke dalam sistim hukum nasional negara-negara berkembang dan terbelakang sering berujung pada tuntutan hukum negara-negara maju. Sebagai contoh adalah konflik antara AS dengan Brazil. Konflik tersebut bermuara pada ketentuan UU Paten Brazil yang mencantumkan lisensi wajib secara ketat. Pencantuman ketentuan tersebut dianggap pemerintah AS sangat berlebihan dan berpotensi merugikan hak-hak pemegang paten obat di AS.18

Perselisihan antara perusahaan farmasi multinasional dengan pemerintah Afrika Selatan adalah contoh lain yang membuktikan bahwa rencana pengadopsian pasal-pasal pelindung (impor paralel dan lisensi wajib) - yang sebenarnya dibolehkan dan dijinkan dalam perjanjian TRIPS - sering menimbulkan konflik dengan negara-negara maju.19

Perselisihan hukum tersebut menunjukkan bahwa pasal-pasal pelindung TRIPS adalah pasal-pasal yang lemah dan tidak berarti karena penafsiran pasal tersebut lebih sering menggunakan perspektif dan kepentingan negara maju selaku produsen HaKI. Sejak akses terhadap obat esensial yang murah menjadi sebuah masalah serius di berbagai negara, lembaga swadaya masyarakat dan negara-negara berkembang mendesak Dewan WTO (the WTO council) untuk memasukkan topik kesehatan masyarakat di dalam agenda pertemuan tingkat menteri WTO (the WTO Ministerial meeting) di Seattle pada tahun 1999. Sayangnya, pada saat itu tidak banyak pihak yang menaruh perhatian terhadap masalah tersebut sampai diadakannya pertemuan tingkat menteri yang keempat di Doha pada tahun 2001.20

lihat Peter Drahos and John Braithwaite, Intellectual Property, Corporate Strategy, Globalization: TRIPS in Context, 20 WIS. INT’L L. J. 451, (1-15) 2002.

18

Srividhya Ragavan, Can’t We All Get Along? The Case For A Workable Patent Model, 35 Arizona State Law Journal 117, 21-22 (2003)

19

Divya Murthy, The Future of Compulsory Licensing: Deciphering the Doha Declaration

on the TRIPS Agreement and Public Health, 17 American University International Law

Review 1299, 5 (2002); Srividhya Ragavan (1), Id. hal. 21; Richard Gerster, People Before

Patents-The Success Story of the Indian Pharmaceutical Industry,

http://www.gersterconsulting.ch/docs/India%20_Pharma_Success_ Story.pdf. 20

Bryan C. Mercurio, Mercurio, Bryan C., TRIPS, Patents, and Access to Life Saving Drugs

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :