Sejarah dan Problematika Industri Buku di Indonesia Oleh: Maulin Ni’am, S.I.P.
A. Sejarah Penerbitan Buku di Indonesia
Penemuan mesin cetak oleh Gutenberg pada 1440 M di Jerman merupakan tonggak bagi sejarah perbukuan. Mulanya mesin itu digunakan untuk keperluan penggandaan dan penyebaran Injil. Tapi kemudian berkembang tidak hanya buku keagamaan tetapi juga buku-buku pengetahuan, sastra, dan lain sebagainya. Di Indonesia sendiri buku mulai beredar seiring dengan datangnya orang asing, terutama Belanda, ke Indonesia.
1. Masa Sebelum Penjajahan
Berbicara tentang penerbitan buku di Indonesia tentu tak bisa dilepaskan dari budaya tulis nusantara. Bangsa kita telah mengenal buku setidaknya sejak abad 14 M. Pada masa itu khazanah perbukuan masih berupa naskah-naskah yang ditemukan dalam bentuk buku maupun kumpulan lembaran daun lontar yang ditulis tangan. Materi yang ditulis pun beragam mulai dari naskah resmi kerajaan (perjanjian, keputusan raja), karya sastra, babad (sejarah), hingga ayat-ayat suci. Beberapa buku tersebut antara lain kitab Sutasoma karya Mpu Tantular dan Nagarakertagama karya Mpu Prapanca pada abad 14. Kemudian pada abad 16 mulai muncul penulisan kitab-kitab agama Islam di bidang fikih, tasawuf, teologi, dan etika untuk digunakan sebagai bahan ajar di pesantren yang tersebar di nusantara, terutama di Jawa dan Sumatra.
2. Masa Penjajahan a. Penjajahan Belanda
Pada abad 17 VOC mendatangkan mesin cetak ke Hindia Belanda. Ini menjadi awal bagi dunia percetakan di tanah air. Dengan mesin cetak tersebut VOC mencetak berbagai macam publikasi mulai dari pamphlet, brosur, Koran dan majalah. Pada tahun 1744 VOC menerbitkan surat kabar Bataviaasche Nouvelles di Batavia. kemudian pada tahun 1778 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Bataviaash Genootschaap vor Kunsten en Watenschappen, perpustakaan yang berisi koleksi naskah dan karya tulis di bidang budaya dan ilmu pengetahuan di Indonesia. Pada waktu itu budaya membaca hanya dimiliki oleh kaum penjajah, bangsawan, pemuka agama, dan sedikit kaum terpelajar.
Misi agama juga mempelopori pencetakan buku atau kitab suci. Zending (surat pekabaran Injil) Protestan dilaporkan pertama kali datang ke Indonesia tahun 1831, dan mendirikan sekolah di Tomohon, Minahasa, pada tahun 1850. Di sini mereka mencetak buku, selebaran, dan surat kabar.
Pada akhir abad 19, terutama di Jawa, tumbuh penerbit dan percetakan milik orang Tionghoa peranakan dan Indo-Eropa yang menerbitkan sekitar 3000 judul buku, pamflet, dan terbitan lainya sebelum kemerdekaan. Terbitan mereka terutama buku-buku cerita dalam bahasa Melayu Tionghoa atau Melayu pasar. Mereka juga menerbitkan koran yang tumbuh subur. Salah satu penerbitan milik orang Tiong Hoa yang tercatat adalah milik Tan Khoen Swie dengan nama sama dengan pemiliknya di Kediri (indonesiabuku.com). Sebagaimana dilaporkan majalah Tempo, penerbit Tan Khoen Swie ini pernah menerbitkan buku Gatolotjo dan Dharmagandoel yang pernah dilarang beredar pada masa Orde Baru karena dianggap melecehkan ajaran agama tertentu. Sementara percetakan milik Indo-Eropa sebagian besar menerbitkan karya-karya terjemahan dari Eropa ke dalam bahasa Melayu.
Penerjemahan novel-novel Eropa ke dalam bahasa Melayu telah dimulai kira-kira pada seperempat terakhir abad ke-19. Menurut Doris Jedamski, The Count of Monte Cristo karya Alexandre Dumas telah beredar luas dalam bahasa Melayu pada tahun 1894 sampai 1899. Penerjemahan ini mendapat sukses besar di kalayak pembaca bumiputra (Arsya, 2012).
Beberapa dekade sebelum itu, novel-novel Eropa lainnya seperti Robinson Crusoe dan Sherlock Holmes juga telah diterjemahkan dan diterbitkan terjemahannya oleh penerbit-penerbit swasta. Robinson Crusoe diterjemahkan dalam bahasa Melayu dengan judul Hikajat Robinson Crusoe yang terbit pada tahun 1875 oleh seorang Belanda bernama Adolf von de Wall.
Perkembangan karya-karya terjemahan terus membaik. Masih menurut Doris Jedamski, pada seperempat pertama abad ke-20, pembaca-pembaca Indonesia sudah bisa membaca The Three Musketeers, Scralet Pimpernel, Ivanhoe, Tarzan, Sinbad, dan Gulliver, serta pahlawan-pahlawan Karl May dan Baron Munchhausen dalam bahasa Melayu. Segera saja karya-karya terjemahan ini dapat ditemukan hampir di seluruh kepulauan. Penerjemahan dan penerbitan karya-karya terjemahan pada awal abad ke-20 ini, berbeda dengan masa sebelumnya, dilakukan oleh orang-orang indo China dan orang-orang bumiputra sendiri di luar afiliasi pemerintah kolonial.
Sastra Melayu Tionghoa mulai berkembang jauh sebelum didirikannya Balai Pustaka pada tahun 1918. Golongan Tionghoa yang hidup lebih makmur dibandingkan golongan bumiputra, mampu membeli buku dan membayar langganan koran dan majalah secara teratur. Pada zaman Jepang pers Melayu-Tionghoa dihapus. Beberapa bumiputra yang magang di penerbitan milik Melayu-Tionghoa ini kemudian tumbuh sebagai jurnalis dan penerbit sekaligus, antara lain RM Tirtoadisoerjo dan Mas Marco Katrodikromo, yang dikenal dengan bukunya Student Hidjo.
Tahun 1906, pemerintah kolonial mengubah peraturan sensor barang terbitan. Sebelumnya, setiap penerbit harus menyerahkan naskah mereka kepada penguasa sebelum dicetak. Peraturan baru menerapkan sensor represif, yakni menindak dan membatasi barang cetakan setelah diedarkan. Ini menimbulkan akibat positif berupa maraknya berbagai terbitan, termasuk buku dan majalah.
Meskipun dunia perbukuan dan penerbitan buku terus berkembang, tonggak penerbitan buku secara masal baru terjadi tahun 1908 dengan pembentukan Commissie Voor de Inlandsche Chool en Voklslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) melalui keputusan pemerintah No 12 tanggal 14 Sepetember 1908.
Kemunculan Komisi Bacaan Rakyat tersebut salah satunya karena pemerintah kolonial menganggap novel-novel terjemahan dari kalangan Indo-China dan bumiputra rendah mutunya, karya populer picisan yang bisa merusakkan mental bumiputra.
Pada tahun 1917 komisi ini berganti nama menjadi Balai Poestaka dan mulai mencetak ratusan karya, mulai dari buku dalam berbagai bahasa. Puluhan karya sastra pribumi berbahasa Melayu terbit, seperti Siti Noerbaja karya Marah Rusli, Azab dan Sengsara karya Merari Siregar, Salah Asuhan-Abdul Muis, Lajar Terkembang - Sutan Takdir Alisjahbana, Atheis - Achdiat Kartamihardja, dan masih banyak yang lainnya. Setelah empat tahun pendiriannya, Balai Pustaka memiliki mesin cetak sendiri untuk keperluan seluruh terbitannya.
Namun, setelah maraknya penerjemahan karya asing pada perempat pertama abad ke-20 itu, Balai Pustaka mulai melakukan penerjemahan-penerjemahan novel-novel Eropa ke dalam bahasa Melayu. Karya-karya yang diterjemahkan Balai Pustaka berbeda dengan karya terjemahan penerbit-penerbit di luar kanon yang lebih banyak menerbitkan cerita-cerita detektif, kisah-kisah kepahlawanan, dan roman-roman populer lainnya.
Penerjemahan novel-novel asing ini berimbas kepada perkembangan kesastraan di tanah Hindia sendiri. Pada dekade tahun 1930-1940, muncul dengan semarak roman-roman picisan di berbagai kantong-kantong kesastraan di daerah. Menurut Soedarmoko, di Padang, Medan, Bukittingi, Gorontalo, Solo, muncul terbitan-terbitan berkala yang memuat roman-roman picisan. Roman-roman ini dianggap berada di luar kanon kesastraan Hindia Belanda (Arsya, 2012).
Roman-roman ini pada umumnya memiliki kesamaan tema garapan dan plot atau alur narasi dengan kebanyakan novel-novel terjemahan di atas. Cerita-cerita kepahlawanan dan detektif adalah warna umum dari roman-roman picisan ini yang nampaknya diadopsi oleh karya-karya terjemahan. Hal tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Pada masa itu pemerintah kolonial Belanda menerapkan aturan yang ketat terhadap seluruh buku dan barang cetakan yang beredar di masyarakat. Sebagai lembaga buatan Hinda Belanda, tidaklah mengherankan jika buku-buku terbitan Balai Pustaka tidak ada yang memuat masalah politik apalagi kritik terhadap pemerintah Hindia Belanda. Dominasi Balai Pustaka berdampak pada tersingkirnya karya-karya sastra dari penulis pribumi, peranakan Tionghoa, dan Indo-Eropa yang sudah beredar jauh sebelum Balai Pustaka beredar.
c. Penjajahan Jepang
Sementara pada masa pendudukan Jepang, menurut sejarawan Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (1993), penerbitan buku dan seluruh jenis media yang ada digunakan oleh tentara Jepang untuk kepentingan propaganda. Sehingga seluruh karya yang dihasilkan pada saat itu harus sesuai dengan kepentingan propanda Jepang. Pada masa itu surat kabar berbahasa Belanda, Cina, dan Indonesia dilarang terbit oleh pemerintah militer Jepang. Surat kabar Tjahaya Timoer yang mencoba kritis pada pemerintah Jepang langsung dibredel. Selanjutnya diganti oleh Jepang dengan menerbitkan surat kabar Asia Raja. Pada 8 Desember 1942 Jawa Shinbun sebagai surat kabar berbahasa Jepang terbit untuk pertama kalinya. Dua surat kabar itulah yang menjadi rujukan berita bagi surat kabar-surat kabar di Jawa.
3. Era Kemerdekaan
Hingga 1950 industri penerbitan buku Indonesia didominasi oleh Balai Pustaka disamping mulai munculnya penerbit buku nasional seperti Pustaka Antara, Pustaka Rakyat (sekarang Dian Rakyat), Endang, dan beberapa lagi yang semuanya berpusat di Jakarta, Ganaco di Bandung dan lain-lain. Balai Pustaka pasca kemerdekaan hingga tahun 1950 berhasil menerbitkan dan mencetak ulang 128 judul buku dengan tiras 603.000 ekslempar. Pada saat ini pula muncul karya-karya sastra dari para penulis seperti Idrus dengan Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma; Tambera karya Utuy Tatang Sontani; Pramudya Ananta Toer dengan Dia Jang Menjerah dan Bukan Pasar Malam; Mochtar Lubis dengan Si Djamal. Selain karya anak negeri, BP juga menghadirkan karya para penulis dunia seperti Fyodor Dostojevsky, John Steinbeck, Anton Chekov, dan lainnya. Di masa sekarang, penerbit Balai Pustaka rata-rata memprroduksi buku sebanyak 320 judul pertahun, dengan porsi terbesar buku yang cetak ulang dari tahun sebelumnya.
a. Orde Lama
Tahun 1950-an adalah periode kemunculan penerbit swasta nasional. Sebagian besar berada di pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka bermotif politis dan idealis. Mereka tergerak untuk mengambil alih dominasi para penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1950 masih diijinkan beroperasi di Indonesia.
Pemerintah orde lama waktu itu mendirikan Yayasan Lektur. Yayasan tersebut memiliki dua fungsi utama yaitu untuk mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat dengan pesat. Perkembangan industri penerbitan buku, telah mendorong pendirian Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) pada 17 Mei 1950 yang pada waktu itu hanya beranggota 13 penerbit.
murah. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) penerbit yang menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 melonjak naik menjadi 600-an lebih. Lagi-lagi sebagian besar penerbit terkonsentrasi di Jawa.
b. Era Orde Baru
Pada tahun 1965 terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari peralihan dari orde lama ke orde baru adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi perbukuan mengalami kemunduran.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, kemudian menetapkan bahwa semua buku pelajaran di sediakan oleh pemerintah. Keadaan tidak bisa terus-menerus dipertahankan karena buku pelajaran yang meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diberikan hak pada Balai Pustaka untuk mencetak buku-buku yang dibutuhkan di pasaran bebas. Para penerbit swasta diberikan kesempatan menerbitkan buku-buku pelengkap dengan persetujuan tim penilai.
Hal lain yang menonjol dalam masalah perbukuan selama Orde Baru adalah penerbitan buku yang harus melalui sensor dan persetujuan Kejaksaan Agung. Tercatat buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Utuj Tatang Sontani dan beberapa pengarang lainnya, tidak dapat dipasarkan karena mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI. Sementara buku-buku Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, kemudian Era Baru, Pemimpin Baru tidak bisa dipasarkan karena dianggap menyesatkan, terutama mengenai cerita-cerita seputar pergantian kekuasaan pada tahun 1966.
Sebenarnya pemerintah saat itu sudah menyadari pentingnya mengatur masalah perbukuan nasional. Pemerintah melihat kompleksnya masalah industri buku apalagi hal itu menyangkut berbagai dan lintas sektor seperti pendidikan, perindustrian, perdagangan, dan keuangan. Oleh karena itu melalui Keppres No 5 Tahun 1978, Pemerintah membentuk Badan Pertimbangan dan Pengembangan Buku Nasional (BPPBN) yang bertugas melakukan berbagai kajian dan merumuskan konsep-konsep kebijakan di bidang perbukuan nasional. Badan ini pulalah yang melakukan kajian perbukuan secara nasional dan mengidentifikasi perlunya Undang-Undang untuk mengatur perbukuan secara nasional. Tahun 1997, BPPBN menyusun draf awal UU tentang perbukuan nasional tetapi tidak ditindak lanjuti sampai Badan ini dibubarkan. BPPBN dirasakan kurang fungsional dalam mengatasi berbagai masalah serta lebih berfokus pada kajian-kajian dan rekomendasi kebijakan serta tidak melakukan kegiatan operasional. Pada tahun 1999 sesuai dengan salah satu rekomendasi hasil Kongres Perbukuan Nasional tahun 1995, dibentuk Dewan Buku Nasional (DBN) yang diketuai oleh Presiden RI dengan sejumlah Menteri dan wakil masyarakat perbukuan sebagai anggotanya. Namun dewan ini juga tidak berfungsi dengan optimal karena masing-masing anggotanya sudah memiliki tugas dan kewajiban lain yang lebih pokok. Pada akhirnya dewan tersebut dibubarkan pada November 2011 oleh Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara.
upaya membuat Rancangan Undang-Undang Sistem Perbukuan. Namun sebelum UU tersebut berhasil disusun, Pusat Perbukuan tersebut disatukan menjadi Pusat Kurikulum dan Perbukuan dengan lingkup kerja yang semakin sempit. Pusat tersebut sekarang lebih banyak melaksanakan penilaian buku-buku pendidikan yang layak masuk ke sekolah ataupun perpustakaan sekolah.
4. Masa Reformasi dan Setelahnya
Era reformasi tahun 1999 dianggap sebagai tahun terbukanya pintu kebebasan di segala bidang mulai dari sosial, ekonomi, dan politik, tanpa kecuali politik perbukuan. Pada tahun itu pula pemerintah mencabut peraturan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers. Aturan tersebut sebenarnya dikhususkan bagi perusahaan penerbitan pers. Namun secara tidak langsung pencabutan aturan tersebut mendorong semakin banyak orang maupun lembaga mengekspresikan pendapatnya, yang salah satunya dengan cara menerbitkan buku.
Penandatanganan perjanjian perdagangan bebas oleh Indonesia, General Agreement on Tariff and Trade pada tahun 1994, dan ASEAN Free Trade Area pada tahun 1995, membawa konsekuensi pengurangan peran pemerintah dalam bisnis penyediaan barang dan jasa, termasuk pengadaan buku pelajaran.
Pada masa Orde Baru, pengadaan buku pelajaran dilakukan oleh pemerintah melalui penerbit Balai Pustaka yang berstatus BUMN. Buku pelajaran mulai dari sekolah dasar hingga SLTA wajib menggunakan buku terbitan Balai Pustaka. Sedangkan buku pelajaran dari penerbit swasta hanya sebagai buku pelengkap saja.
Sebagai akibat dari penandatanganan perjanjian perdagangan bebas, pemerintah mencabut peraturan tersebut dan menyerahkan kepada mekanisme pasar. Sejak saat itu jumlah penerbit baru terus bertambah dan bertumbuh bak jamur di musim hujan. Pada saat itu pula mulai muncul berbagai masalah dalam bisnis perbukuan. Misalnya tentang distribusi buku pelajaran, para penerbit menghubungi langsung para guru pengampu pelajaran agar menyuruh siswanya membeli buku tersebuat. Selanjutnya para guru tersebut mendapatkan imbalan tertentu dari penerbit.
Praktik tersebut membuat persaingan antarpenerbit semakin sengit. Mereka berlomba-lomba menurunkan harga buku atau menaikkan komisi untuk tenaga pendidik di sekolah agar buku mereka yang digunakan. Praktik tersebut merusak harga pasaran buku pelajaran dan menurunkan kualitas isi buku pelajaran.
Mengatasi persoalan buku pelajaran yang mahal, pemerintah mengeluarkan kebijakan mendanai penerbitan buku-buku pelajaran tertentu dengan menggunakan dana Bantuan Operasi Sekolah. Kebijakan ini di satu sisi menguntungkan bagi sekolah-sekolah swasta atau sekolah negeri dengan kemampuan finansial rendah. Namun dari segi bisnis, kebijakan tersebut dianggap sebagai dominasi pemerintah terhadap pasar dan penerbit.
memiliki jadwal pertemuan antarsesama anggota. Salah satu kegiatan pertemuan tersebut adalah pemberian motivasi dari leader atau anggota yang sudah mencapai level tinggi. Sekali sang leader mengatakan bahwa suatu produk atau buku tertentu itu bagus, maka para downline akan segera mencari dan membacanya. Itu sebabnya buku-buku motivasi dan MLM seperti Rich Dad Poor Dad, Cashflow Quadrant, Skill with People, Berpikir dan Berjiwa Besar, Financial Revolution marak diburu.
Kedua, tren fiksi Islami. Ditandai dengan kemunculan novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-syirazi. Novel ini melejit salah satunya karena ekspos media massa. Pada saat itu novel yang berlatar Negara Mesir tersebut dianggap menawarkan nuansa dan kisah cinta yang tak biasa di Indonesia. Bahkan novel tersebut akhirnya dibuat versi film layar lebar. Akibatnya, muncul karya-karya fiksi dengan tema serupa, desain muka yang mirip, bahkan cara penulisan nama pengarangnya.
Ketiga, tren fiksi petualangan. Pada tahun 2005 ada satu novel sangat laris yaitu Laskar Pelangi. Novel tersebut mengisahkan tentang perjalanan seorang anak kampung yang berhasil mewujudkan impiannya untuk kuliah di luar negeri. Novel tersebut juga diproduksi dalam versi film layar lebarnya pada tahun 2008, dan sukses. Kesuksesan Laskar Pelangi tidak berhenti sampai di situ. Laskar Pelangi kemudian dibuat versi serial, pentas musikal, dan diterjemahkan serta dipasarkan ke 20 negara di dunia.
Sebenarnya fiksi yang bercerita tentang petualangan atau perjalanan tokohnya sudah pernah booming di era 90-an, yang paling terkenal misalnya Balada Si Roy. Namun yang membedakannya adalah Laskar Pelangi memberi inspirasi pembacanya tentang kondisi pendidikan di Indonesia dan petualangan di luar negeri. Sejak saat itu juga banyak muncul karya-karya fiksi yang menggambarkan suka duka hidup di negeri orang. Ada yang ditulis keroyokan ada juga yang perorangan. Selain itu juga marak buku-buku saku berisi tips bepergian ke luar negeri lengkap dengan rincian biaya yang diperlukan.
Terakhir, munculnya buku elektronik. Perkembangan teknologi selalu membawa inovasi dan cara baru bagi manusia menikmati hal-hal tertentu, termasuk membaca buku. Harga laptop atau netbook yang semakin terjangkau dan meningkatkan kesadaran masyarakat atas kelestarian lingkungan memunculkan kebiasaan baru masyarakat yaitu membaca buku elektronik. Meskipun mungkin kebiasaan ini baru diadopsi oleh kalangan ekonomi menengah ke atas dan berpendidikan.
B. Lima Pilar Industri Perbukuan di Indonesia
Berdasarkan kenyataan di lapangan, industri perbukuan di Indonesia setidaknya melibatkan 5 pihak yaitu penerbit, percetakan, distributor, toko buku, dan konsumen pembaca. Masing-masing memiliki dinamika tersendiri yang secara ringkas akan dibahas berikut ini. Sayangnya untuk menyusun analisis yang komprehensif mengenai industri buku di Indonesia tidaklah mudah karena minimnya data baik kuantitatif maupun kualitatif yang terdokumentasi.
a. Penerbit
Jawa. Sementara 10% sisanya tersebar di berbagai pulau. Hal ini menunjukkan bahwa industri perbukuan masih sangat tidak merata.
Jumlah penerbit yang cukup besar itu ternyata tidak menjamin tingginya produksi judul buku baru yang diterbitkan. Menurut IKAPI (2010) jumlah judul buku baru yang diterbitkan rata-rata 12.000 judul per tahun termasuk terjemahan dan cetak ulang. Jumlah ini masih jauh di bawah Malaysia yang rata-rata menerbitkan 13.000 judul per tahun. Apalagi jika dibandingkan dengan India yang mencapai 25.000 judul per tahun (kompas.com). Begitu pula jumlah cetak per judulnya relatif masih rendah yaitu 2000-3000 eksemplar per judul buku.
Selain penerbit yang tergabung dalam IKAPI, ada juga penerbit yang tidak/belum bergabung. Biasanya mereka ini adalah penerbit-penerbit skala kecil dengan pegawai yang sedikit. Bahkan ada penerbit yang hanya dijalankan oleh dua orang saja. Hal ini terjadi karena memang usaha penerbitan tidak membutuhkan investasi yang mahal dan sangat mudah pengurusannya.
Dilihat dari konten buku yang diterbitkan, IKAPI mengelompokkan 5 jenis penerbitan yaitu penerbitan jenis buku agama, buku umum, buku pelajaran, buku perguruan tinggi (PERTI) dan buku anak-anak/remaja dengan komposisi 17,95% buku agama (319 perusahaan), 13,96% buku perguruan tinggi (248 perusahaan), 10,35% buku anak-anak/remaja (184 perusahaan), buku umum 8,67% ( 154 perusahaan) dan buku pelajaran 4,45% (79 perusahaan).
b. Percetakan
Industri penerbitan baik fiksi maupun nonfiksi tidak bisa dilepaskan dari bisnis percetakan. Dalam kondisi ideal sebuah industri buku, antara bisnis penerbitan dan percetakan seyogyanya terpisah. Namun jikalau pada kenyataannya kedua bisnis tersebut bergabung menjadi satu juga tidak menjadi masalah. Lazimnya hanya lembaga penerbitan yang sudah mapan saja yang memiliki percetakan sendiri dengan alasan lebih ekonomis. Sementara bisnis percetakan yang masih baru biasanya memulai usahanya dengan melayani jasa berbagai macam percetakan.
Dilihat dari struktur industrinya, bisnis penerbitan dan percetakan tidak jauh beda. Aturan perijinan untuk usaha percetakan dan penerbitan juga bisa dikatakan mirip. Maka tak heran jika para pelaku usaha percetakan juga menjalankan usaha penerbitan.
c. Distributor
Secara ekonomi, pihak distributor merupakan unit bisnis yang seharusnya mendapatkan keuntungan paling besar dari rantai industri buku. Pasalnya distributor tidak memerlukan modal awal yang tinggi dibanding pelaku penerbitan, percetakan, maupun toko buku sekalipun. Distributor bisa mendapatkan 20-40% dari harga jual buku tanpa perlu mengeluarkan modal sebanyak penerbit. Sehingga banyak orang yang tertarik untuk berbisnis sebagai distributor buku.
Secara umum ada 3 jenis distributor yang beroperasi di Indonesia. Pertama distributor yang dijalankan oleh perusahaan penerbitan itu sendiri. Kedua, distributor yang mengambil buku dari penerbit-penerbit ke toko buku dan pembaca. Terakhir, toko buku yang menjual ke konsumen.
jalur distribusi ini. Oleh karena itu dalam peraturan pemerintah yang baru mengatur persoalan distribusi buku yaitu bahwa toko merupakan jalur terakhir distribusi buku dari penerbit. Artinya bahwa penerbit tidak diperbolehkan menjual langsung kepada pembaca. Sebenarnya tujuan dari peraturan pemerintah tersebut adalah membatasi agar mata-rantai industri buku tidak dimonopoli oleh penerbit. Sehingga peluang usaha untuk para penyalur buku tetap terbuka.
Namun kenyataannya di lapangan, penerbit banyak yang berkelit dengan berbagai cara untuk memaksimalkan keuntungan. Masih banyak penerbit yang langsung mendatangi calon pembeli (misalnya buku pelajaran). tak sedikit perusahaan penerbit besar mendirikan toko-toko buku untuk mengakali peraturan pemerintah yang mengharuskan penjualan buku melalui toko buku.
d. Toko Buku
Memperhatikan perkembangan toko buku dalam industri buku Indonesia, situasi saat ini sangat tidak kondusif bagi perkembangannya. Saat ini jumlah toko buku terus menyusut meskipun dalam skema yang diinginkan Pemerintah berada dalam posisi yang strategis dan menentukan.
Tidak sesuainya praktek dengan kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah merupakan biang keladi hancurnya toko buku. Keterangan Gabungan Toko Buku Indonesia (GATBI), sebagaimana dilaporkan KPPU, menyatakan bahwa sebelumnya jumlah toko buku berada di atas 2000. Tetapi saat ini jumlah tersebut menyusut menjadi hanya sekitar 700-800 saja.
Penyusutan lebih banyak diakibatkan oleh tidak adanya penegakan hukum terhadap penerbit yang secara langsung memasarkan buku ke konsumen. Kasus ini banyak terjadi untuk buku pelajaran di sekolah (yang sesungguhnya dilarang berdasarkan kebijakan). Padahal buku teks pelajaran sekolah merupakan bagian terbesar dari pasar buku di Indonesia saat ini.
Jadi yang terjadi saat ini, persaingan antar toko buku mungkin justru melemah. Tetapi persaingan dengan jaringan distribusi penerbit justru banyak terjadi. Dipastikan toko buku akan kalah bersaing, mengingat buku-buku teks pelajaran hanya dimiliki oleh penerbit dengan jumlah terbatas, serta mampu melakukan pendekatan terhadap level penentu buku yang akan digunakan di sekolah.
e. Konsumen/Pembaca
Kemajuan industri buku bisa dijadikan salah satu indikator peningkatan kemampuan literasi masyarakat. Jika melihat banyaknya penerbit buku yang ada di Indonesia, kita boleh sedikit bangga. Namun apakah itu berarti menunjukkan minat baca masyarakat yang juga semakin meningkat? Kita perlu cari tahu.
Berdasarkan kajian Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang punya minat baca tinggi. Satu buku rata-rata dibaca lima orang. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan minat baca terendah dari 52 negara di Asia Timur.
berproduksi di pulau Jawa, hal ini juga disebabkan tingginya biaya pengiriman buku ke luar Jawa (indonesiabuku.com).
C. Tantangan dan Solusi
Bisnis perbukuan semakin berkembang seiring dengan meningkatkan minat baca dan kemampuan ekonomi masyarakat. Bagi penerbit, industri buku, terutama buku pelajaran, masih memiliki prospek yang cerah. Karena pasar buku pelajaran akan selamanya ada sebagai prasyarat pendidikan yang berkualitas. Sedangkan dari sisi civil society, masyarakat memiliki kepentingan atas tersedianya buku-buku yang berkualitas dengan harga yang terjangkau. Dengan begitu bisnis perbuku-bukuan turut serta dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun untuk mewujudkan cita-cita tersebut bukanlah hal yang mudah. Ada sejumlah tantangan yang menuntut kesadaran bersama dan kemauan untuk bersinergi dari pelaku usaha perbukuan, pemerintah, dan masyarakat untuk mengatasinya. Beberapa tantangan dalam industri perbukuan antara lain.
a. Harga Buku
Harga buku memang menjadi salah satu elemen utama dalam proses persaingan di pasar buku. Tetapi sayangnya proses-proses efisiensi yang berhasil dilakukan penerbit tidak dapat ditransformasikan kepada konsumen, tetapi biasanya kepada jalur akhir distribusi baik melalui jalur toko buku ataupun non toko buku.
Penetapan harga buku sepenuhnya merupakan kewenangan penerbit berdasarkan biaya yang dikeluarkan selama proses penerbitan. Komponen biaya penerbitan buku secara sederhana terdiri dari biaya royalti/honor penulis, bahan baku kertas, biaya cetak, editor, desainer/layouter, biaya rabat/diskon untuk distributor. Secara umum komponen penyusun harga jual buku adalah sebagai berikut. Biaya produksi 20%, 10% royalti penulis (kecuali menggunakan sistem beli putus), 50% rabat untuk distributor, sedangkan 20% sisanya adalah keuntungan bagi penerbit.
b. Keberpihakan Pemerintah
Peran pemerintah dalam industri perbukuan nasional sangatlah penting. Dari sisi pemerintah seharusnya ada perubahan cara pandang terhadap industri buku nasional. Bahwa industri buku tidak hanya tentang bisnis biasa tetapi juga tentang ideologi dan pembangunan kualitas manusia Indonesia.
Selama ini pemerintah dianggap kurang berpihak pada industri buku. Ini, antara lain, tercermin dari tidak adanya pengendalian harga kertas sehingga harga kertas sangat tinggi, buku berkali-kali kena pajak, penulis buku kena pajak tinggi, dan biaya distribusi buku tidak ada perkecualian, sama dengan barang lainnya.
c. Kebijakan Perbukuan yang bersifat parsial
Sebenarnya pemerintah tidak tinggal diam dalam masalah perbukuan nasional. Peran Pemerintah dalam industri buku, saat ini terpusat pada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Alokasi anggaran Negara untuk sektor perbukuan dilimpahkan kepada departemen tersebut. Padahal dalam implementasinya terdapat beberapa aspek yang sebenarnya lebih tepat menjadi kewenangan pihak lainnya, terutama menyangkut aspek niaga buku dalam hal ini distribusi.
Sebagai contoh saja, instansi yang berwenang mengeluarkan izin usaha buku adalah Departemen Perdagangan. Tetapi selanjutnya setelah Surat Izin Usaha Perusahaan (SIUP) dikeluarkan, Departemen perdagangan tidak memiliki kewenangan monitoring atas perusahaan penerbitan buku. Sehingga dalam pelaksanaannya diindikasikan terdapat persaingan usaha yang tidak sehat antarpenerbit, juga terkait dengan usaha jasa distribusi buku.
Daftar Pustaka
“70 Persen Buku Terserap di Jawa-Bali.” Indonesia Buku edisi 10 Februari 2011. Terarsip dalam http://indonesiabuku.com/?p=8315 diakses pada 18 Juli 2012.
Arsya, Deddy. 2012. “Penerjamahan Karya Asing pada Zaman Belanda”. Inioke.com edisi 15 Mei 2012. tersimpan dalam http://www.inioke.com/Rubrikasi/1315-Penerjamahan-Karya-Asing-pada-Zaman-Belanda-.html diakses pada 18 Juli 2012.
“Awal Periklanan Indonesia (bag.I)” Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia. Sebagaimana tersimpan dalam http://www.p3i-pusat.com/tentang-p3i/kilas-balik/51-bab-i-awal-periklanan-indonesia-bag1
“Industri Buku Nasional Masih Terbelakang.” Kompas.com, edisi 20 April 2010. Terarsip dalam http://nasional.kompas.com/read/2010/04/20/18071110/function.simplexml-load-file diakses pada 7 Agustus 2012.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha, Position Paper KPPU terhadap Kebijakan Perbukuan Nasional. Terarsip dalam http://www.kppu.go.id/docs/Positioning_Paper/buku.pdf diakses pada 6 agustus 2012.
Poesponegoro, M.J. dan Nugroho S. 1993. Sejarah Nasional Indonesia IV: Kemunculan Penjajahan di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Suyono S.J. et.al. 2006. “Jejak Boekhandel Tan Khoen Swi”. Majalah Tempo 7 Agustus 2006. Tersimpan dalam http://indonesiabuku.com/?p=12754 diakses pada 18 Juli 2012.