BAB II
TINJUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA
PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Budidaya Tanaman Kubis, Cabai dan Kentang
Kubis (Brassica) merupakan salah satu sayuran dataran tinggi yang sangat
populer sejak zaman penjajahan Belanda. Karo dan Pangalelngan Bandung
merupakan sentra sayuran kubis untuk diekspor, terutama yang dihasilkan di
Karo, ke Malaysia dan Singapura. Sampai kini lebih dari 75% penduduk
Indonesia masih tinggal di desa-desa, dengan mata pencaharian dari hasil
pertanian. Bagi penduduk di daerah pegunungan tertentu, hanya sayuran kubislah
yang dapat diandalkan sebagai usahanya, disamping tanaman kentang.
Pada masa mendatang tanaman kubis ini masih cukup mempunyai pasaran
(prospek) yang baik. Pasaran yang mampu menyerap sayuran kubis makin
meningkat dengan makin cepatnya perkembangan kota. Hal ini dikarenakan kubis
masih merupakan sayuran yang digemari.
Kubis merupakan sayuran berhawa dingin dan umumnya lebih baik
tumbuh pada tanah andosol (vulkanis), tanah latolos, dan aluvial, terutama
mengandung bahan organik tinggi struktur remah. Tanaman kubis menghendaki
cukup air, akan tetapi tidak menghendaki adanya hujan yang lebat dan turun terus
menerus. Pada saat ini luas tanaman kubis rata-rata adalah 80.000 Ha. Jadi masih
diperlukan perluasan areal 150.000 Ha menyebar ke sentra sentra produksi di
seluruh Indonesia. Kebutuhan dalam negeri meliputi konsumsi segar dan
rata (4 kg perkapita per tahun) adalah 600.000 ton/tahun. Ini diperlukan
penanaman ± 300.000 ha per tahun dengan asumsi hasilnya 25 ton/ha.
Pada umunya kubis dihasilkan di daerah pegunungan dan dipasarkan ke
daerah pegunungan dan dipasarkan ke daerah lain baik di kota kota kecil setempat
maupun di kota kota besar yang jaraknya jauh dari daerah penghasilnya. Oleh
karena itu adalah tidak mungkin petani sendiri terutama petani kecil melakukan
penjualan hasilnya. Penjualan dilakukan kepada perantara, yakni pemborong di
pasar setempat yang biasa disebut tengkulak atau kepada pemborong di pasar
setempat yang biasa disebut pengumpul dengan harga yang jauh di bawah harga
eceran di pasar besar (Sunarjono, 2013).
Sebagai salah satu jenis tanaman hortikultura, cabai merupakan salah satu
komoditi tanaman sayuran buah musiman yang berbentuk perdu. Cabai tergolong
sayuran buah multiguna dan multifungsi yang dapat dibudidayakan di lahan
dataran rendah ataupun dilahan dataran tinggi. Cabai merupakan komoditi sayuran
yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibanding jenis sayuran
lainnya. Di beberapa daerah, orang sudah banyak membudidayakan tanaman
komersil. Dalam hal ini, penanaman cabai diusahakan khusus sebagai cabang
usaha tani sendiri.
Tanaman cabai dapat tumbuh subur di berbagai ketinggian tempat, mulai
dari dataran rendah sampai dataran tinggi, bergantung pada varietasnya. Tanaman
cabai tidak tahan hujan dan sinar matahari yang terik. Inilah penyebab cabai lebih
baik ditanam di daerah yang kering dan sejuk dari pegunungan dibanding dataran
rendah. Rata rata suhu yang baik adalah 210-280C. Suhu udara yang terlalu tinggi
tetapi dengan pengairan yang baik. Jenis tanah yang baik untuk bertanam tanaman
cabai yang baik adalah ditanah yang mengandung pasir.
Indonesia yang menghasilkan sangat banyak cabai dan mengekspor cabai
dalam bentuk kering dapat mulai menerapkan sistem hipobarik untuk
pengangkutan dan penyimpanan. Meskipun sistem hipobarik relatif mahal, namun
bila dibandingkan dengan sistem pendingin biasa tidak akan berbeda jauh,
sehingga pengiriman cabai ke negara lain dalam bentuk segar bukanlah hal yang
mustahil (Widya,dkk 2013).
Tanaman kentang (Solanum tuberosum) merupakan tanaman yang
berbentuk herba. Batangnya berwarna hijau, kemerah-merahan atau ungu tua,
bagian bawah batangnya bisa berkayu. Keadaan batang seperti ini menyebabkan
tanaman kentang tidak terlalu kuat dan mudah roboh. Ketinggian tempat yang
sesuai untuk tanaman ini berkisar antara 500-3.000 m dpl dan yang terbaik pada
ketinggian 1.300 m dpl dengan suhu relatif ± 200C. Selain itu daerah yang baik
untuk penanaman kentang dengan curah hujan 200-300 mm setiap bulan atau
1.000 mm selama masa pertumbuhan kentang. Tanaman kentang yang berumur
3-4 bulan biasanya sudah dapat dipanen. Produksi per hektar biasanya berkisar
25-40 ton (Setiawan,1993).
2.1.2 Kemitraan
Kemitraan adalah suatu strategi agribisnis yang dilakukan oleh dua pihak
atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat bersama ataupun
keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan saling mengisi sesuai
kesepakatan yang muncul (mutual). Kemitraan yang ingin diwujudkan dengan
kesempatan ingin berusaha, ketimpangan pendapatan, ketimpangan antar wilayah
ketimpangan kota dan desa. Kemitraan yang dibangun atas landasan saling
membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat dengan fungsi dan
tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan dan proporsi yang dimiliki oleh
masing masing pihak yang terlibat dalam kemitraan tersebut (Hafsah, 2000).
Linton (1997) mengatakan bahwa kemitraan bukan sebuah pengaturan
resmi berdasar kontrak. Kemitraan adalah sebuah cara melakukan bisnis dimana
pemasok dan pelanggan berniaga satu sama lain untuk mencapa tujuan bisnis
bersama. Kemitraan menggantikan hubungan pembeli/pemasok tradisional
dengan suatu derajat kerjasama dan saling percaya serta memanfaatkan keahlian
setiap mitra usaha guna memperbaiki persaingan secara keseluruhan.
Kemitraan telah diberi sejumlah nama, termasuk strategi kerjasama
dengan pelanggan (strategic customer alliance), strategi kerjasama dengan
pemasok (strategic supplier alliance) dan pemanfaatan sumber daya kemitraan
(partnership sourcing).
Konsep kemitraan agribisnis (contract farming) sebenarnya sudah semakin
jelas, tetapi dalam implementasinya masih terdapat berbagai perbedaan. Penyebab
utama perbedaan tersebut adalah keragaman persepsi terhadap para pelaku, baik
peaku agribisnis hulu (petani) maupun pelaku agribisnis hilir (investor yang
bermitra dengan petani). Berbagai bentuk konsep pemberdayaan masyarakat yang
berbasis pada kemitraan ditawarkan oleh pihak investor, baik pemerintah maupun
swasta.
Konsep kemitraan yang banyak dilakukan di Indonesia terdiri dari dua
1. Tipe dispersal
Dalam hal ini tipe dispersal dapat diartikan sebagai pola hubungan antar
pelaku usaha yang satu sama lain tidak memiliki ikatan formal yang kuat. Pada
kemitraan dispersal, pihak pengusaha lebih kuat dibandingkan produsen. Pihak
pengusaha ini sangat berperan dalam berhubungan dengan produsen yang lemah.
Dengan demikian, pemodal kuat yang umumnya berwawasan luas, lebih
berpendidikan dan telah berperan di subsistem hilir menjadi diuntungkan oleh
berbagai kelemahan pengusaha kecil sebagai produsen.
2. Tipe sinergis dan saling menguntungkan
Tipe ini berbasis pada kesadaran saling membutuhkan dan saling
mendukung pada masing masing pihak yang bermitra. Sistem kemitraan ini sudah
mulai banyak ditemukan di daerah pedalaman (hinterland) kota kota besar dan
kota menengah. Sinergi yang dimaksud saling menguntungkan disini diantaranya
dalam bentuk petani menyediakan lahan, sarana, dan tenaga kerja, sedangkan
pihak pengusaha eksportir menyediakan modal, bimbingan teknis, dan atau
penjaminan pasar.
Tujuan kemitraan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan adalah
meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat, meningkatkan perolehan
nilai tambah bagi pelaku kemitraan, meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan
masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan
nasional, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan ketahanan ekonomi
Pengembangan kelembagaan kemitraan dalam sistem agribisnis telah
memberikan dampak positif bagi keberhasilan pengembangan sistem agribisnis.
Dampak positif tersebut (Sumardjo dan Darmono, 2004) adalah :
1. Keterpaduan dalam sistem pembinaan yang saling mengisi antara materi
pembinaan dengan kebutuhan riil petani, meliputi permodalan sarana,
teknologi, bentuk usaha bersama atau koperasi dan pemasaran.
2. Kejelasan aturan atau kesepakatan, sehingga menumbuhkan kepercayaan
dalam hubungan kemitraan bisnis yang ada. Kesepakatan tentang aturan,
perubahan harga, dan pembagian hasil harus dibuat secara adil oleh
pihak-pihak yang bermitra. Dengan demikian, tujuan, kepentingan dan
kesinambungan bisnis dari kedua pihak dapat terlaksana dan saling
menguntungkan.
3. Keterkaitan antar pelaku dalam sistem agribisnis (hulu-hilir) yang
mempunyai komitmen terhadap kesinambungan bisnis. Komitmen ini
menyangkut mutu dan kuantitas, serta keinginan saling melestarikan
hubungan dengan menjalin kerjasama saling menguntungkan secara adil.
4. Terjadinya penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak dan
berkesinambungan di sektor pertanian.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Sikap
Sikap adalah determinasi perilaku, karena mereka berkaitan dengan
persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu keadaan siap
mental yang dipelajari dan diorganisasi menurut pengalaman dan menyebabkan
objek-objek dan situasi-situasi dengan siapa ia berhubungan. Definisi tersebut tentang
sikap menimbulkan implikasi-implikasi tertentu bagi seseorang (Winardi, 2004).
Sikap adalah gambaran perilaku kepribadian seseorang yang terlahir
melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu
objek. Sikap ini harus dibaca dengan hati hati, sebab gambaran yang terwujud
tersebut dapat direkayasa sedemikian rupa yang ada pada gilirannya akan
membutakan kita dari keadaan yang sesungguhnya (Suit dan Almasdi, 2006).
Mengukur sikap seseorang adalah mencoba untuk menempatkan posisinya
pada suatu kontinum efektif. Kontinum afektif dapat berkisar antara “sangat
positif” hingga ke “sangat negatif” terhadap suatu objek sikap tertentu (Mueller,
1992).
Mengukur sikap seseorang adalah mencoba untuk menempatkan posisinya
pada suatu sikap yang berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu berkisar dari
sangat positif hingga ke sangat negatif terhadap suatu objek sikap. Dalam teknik
perskalaan likert pengukuran ini dilakukan dengan mencatat penguatan respon
dan untuk pernyataan kepercayaan positif dan negatif tentang objek sikap (Daniel,
1992).
Menurut Ahmadi (1999), disamping pembagian sikap atas sosial dan
individual, sikap dapat pula dibedakan sebagai berikut.
1) Sikap Positif, sikap positif yaitu sikap yang menunjukkan atau
memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan
2) Sikap Negatif, sikap negatif yaitu sikap yang menunjukkan atau
memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma-norma
yang berlaku dimana individu itu berada.
Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan seseorang.
Pernyataan sikap adalah serangkaian kalimat yang mengatakan suatu objek sikap
yang hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi atau mengatakan hal
yang positif mengenai objek sikap yaitu kalimatnya bersikap mendukung atau
memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut keadaan yang menguntungkan
(favourable). Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal yang negatif
mengenai objek sifat yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap
objek sikap. Pernyataan ini yang disebut dengan suatu keadaan yang tidak
menguntungkan (unfavourable). Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan
agar terdiri atas pernyataan favourable dan unfavourable dalam jumlah yang
seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan
tidak semua negatif yang seolah olah isi skala memihak atau tidak mendukung
sama sekali objek sikap (Azwar, 2007).
2.2.2 Skala Likert
Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap dan perilaku
manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran
(measurement) sikap. Pengungkapan sikap dengan menggunakan skala sangat
populer di kalangan para ahli psikologi sosial dan para peneliti. Hal ini
dikarenakan selain praktis, skala sikap yang dirancang dengan baik pada
umumnya memiliki rehabilitas yang memuaskan. Skala sikap berwujud kumpulan
sehingga respon terhadap pernyataan tersebut dapat diberi angka (skor) dan
kemudian dapat diinterpretasikan (Azwar,2007).
Menurut Suryabrata (2002), skala likert tergolong skala untuk orang, pada
rancangan dasarnya untuk mengukur sikap. Berkenan dengan pengukuran sikap,
maka ada dua hal yang selalu harus diingat mengenai sikap yaitu sebagai berikut:
1. Sikap selalu mempunyai objek, objek sikap yaitu sesuatu yang menjadi
sasaran sikap.
2. Sikap itu digambarkan dalam suatu kontinum dari negatif, lewat daerah
netral ke positif.
Skala likert ini berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang
terhadap sesuatu, misalnya setuju-tidak setuju, senang-tidak senang, dan
baik-tidak baik. Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan diukur
dijabarkan menjadi subvariabel kemudian dijabarkan lagi menjadi
indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titk tolak untuk membuat item
instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab responden
(Kuncoro dan Ridwan, 2007).
Menurut Azwar (2007), metode rating yang dijumlahkan popular dengan
nama penskalaan Model Likert, merupakan metode penskalaan pernyataan sikap
yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya.
Prosedur penskalaan model likert didasari oleh dua asumsi dapat disepakati
sebagai berikut :
1. Setiap pernyataan sikap yang telah ditulis dapat disepakati sebagai
2. Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai sikap positif harus
diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi daripada jawaban yang diberikan
oleh responden yang mempunyai sikap negatif.
Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, sejumlah pernyataan
telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan dan didasarkan pada
rancangan skala yang ditetapkan. Responden akan diminta untuk menyatakan
kesetujuan atau ketidaksetujuannya terhadap isi pernyataan dalam lima macam
kategori jawaban, yaitu “sangat tidak setuju” (STS), “tidak setuju” (TS), “tidak
dapat menentukan” atau “ragu ragu” (R), “setuju” (S) dan “sangat setuju” (SS).
Salah satu skor standar yang biasanya digunakan dalam skala model likert adalah
skor T, yaitu :
T = 50 + X- x̄
S
Keterangan :
T = skor standar
X = skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T
x̄ = mean skor kelompok
S = deviasi standar kelompok (Azwar, 2007)
2.3 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu mengenai sikap petani terhadap kemitraan yang
menjadi rujukan adalah penelitian yang dilakukan oleh:
Latifah (2010) dengan judul skripsi Sikap Petani Tembakau Terhadap
Bojonegoro. Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) faktor-faktor pembentuk
sikap yang ada di Kecamatan Sugihwaras menurut penelitian ini dapat diketahui
sebagai berikut: a. Pengalaman pribadi petani, pengaruh orang lain yang dianggap
penting, dan pendidikan formal petani tembakau tergolong dalam kategori sedang,
b. Pendidikan non formal petani tembakau tergolong dalam kategori rendah. (2)
Sikap petani tembakau terhadap tujuan kemitraan, pemberian modal, pemberian
saprodi (benih, pestisida, pupuk, dan teknologi atau peralatan usahatani),
pemasaran hasil, penetapan harga serta manfaat kemitraan dalam program
kemitraan PT. Gudang Garam tergolong dalam kategori baik. (3) Hubungan
antara faktor pembentuk sikap dengan sikap petani tembakau terhadap program
kemitraan PT. Gudang Garam adalah: a. Terdapat hubungan yang signifikan
antara pengalaman pribadi, pendidikan formal dan pendidikan non formal dengan
sikap petani tembakau terhadap program kemitraan PT. Gudang Garam, dengan
arah positif pada tingkat kepercayaan 99%, b. Terdapat hubungan yang signifikan
antara pengaruh orang lain yang dianggap penting dengan sikap petani tembakau
terhadap program kemitraan PT. Gudang Garam, dengan arah positif pada tingkat
kepercayaan 95%.
Putuningrat (2012) dalam skripsi berjudul Kemitraan antara Petani Tebu
Rakyat dengan PG Djombang Baru di Kabupaten Jombang menyimpulkan bahwa
(1) Masalah-masalah dalam budidaya tebu yang dihadapi oleh petani mitra di
Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut: persiapan lahan tebu disebabkan
kurangnya tenaga kerja diawal pengolahan lahan, proses penanaman tebu
disebabkan karena adanya bibit yang digunakan merupakan varietas yang kurang
dimana sarana trasportasi dan jalan kurang mendukung. (2) Mekanisme
pembinaan yang diinginkan dalam kemitraan yang dibuat oleh PG. Djombang
Baru, antara lain: syarat kemitraan (hak dan kewajiban), penetapan peserta mitra,
kegiatan pembinaan, evaluasi. (3) Petani menilai yang menjadi prioritas utama
dalam tingkat kepentingan kemitraan adalah atribut ketepatan waktu memberikan
biaya garap, dan respon terhadap segala keluhan. Sedangkan tingkat kepuasan
yang dirasakan oleh petani mitra lebih pada atribut kontinuitas suplai komoditas
dari petani ke perusahaan dan pengakutan hasil panen.
Zenitaliani (2014) dengan judul skripsi Sikap Petani Tebu Terhadap
Kemitraan dengan PG Rendeng di Kabupaten Kudus menyimpulkan bahwa (1)
rata-rata sikap petani sangat mendukung terhadap kemitraan dengan PG Rendeng
di Kabupaten Kudus. (2) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap petani terhadap
kemitraan dengan PG Rendeng di Kabupaten Kudus adalah luas lahan garapan,
pengalaman bermitra, motivasi, dan peran petugas lapangan PG Rendeng, a.
semakin luas lahan garapan petani, maka sikap petani semakin mendukung
terhadap kemitraan, b. semakin lama pengalaman bermitra petani, maka dukungan
sikap petani terhadap kemitraan semakin menurun, c. semakin tinggi tingkat
motivasi yang dimiliki oleh petani, maka semakin mendukung sikap petani tebu
terhadap kemitraan, d. semakin tinggi peran petugas lapangan bagi petani, maka
semakin mendukung sikap petani tebu terhadap kemitraan. (3) faktor-faktor yang
tidak mempengaruhi sikap petani tebu terhadap kemitraan dengan PG Rendeng di
Kabupaten Kudus adalah umur, tingkat pendidikan, dan peran kelembagaan
APTRI. (4) tingkat kemitraan antara petani tebu dengan PG Rendeng di
mempengaruhi tingkat kemitraan dengan PG Rendeng di Kabupaten Kudus.
Semakin mendukung sikap petani terhadap kemitraan, maka semakin kuat tingkat
kemitraan yang terjalin antara petani tebu dengan PG Rendeng.
2.4 Kerangka Pemkiran
Kelompok tani Bunga Sampang merupakan salah satu kelompok tani yang
berada di Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun. Sementara PD Rama Putra
adalah perusahaan eksportir yang melakukan ekspor tanaman ke berbagai negara
seperti ke Taiwan, Singapura dan Malaysia. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui bagaimana sikap petani terhadap program kemitraan yang
sudah dijalin antara kelompok tani Bunga Sampang dengan perusahaan eksportir
PD Rama Putra dengan menggunakan model likert serta untuk mengetahui
masalah-masalah yang dihadapi dalam kemitraan tersebut.
Petani memiliki sikap yang positif atau sikap negatif terhadap kemitraan
yang telah terjalin dapat diukur dari penilaian antara kemitraan kelompok tani
Bunga Sampang dan PD Rama Putra. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dibuat
Keterangan :
: Menyatakan Hubungan
: Menyatakan Mitra
: Menyatakan dievaluasi dengan
Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Sikap Petani Terhadap Kemitraan Kelompok Tani Bunga Sampang dengan Perusahaan Eksportir PD Rama Putra
2.5 Hipotesis Penelitian
1. Sikap petani terhadap kemitraan kelompok tani Bunga Sampang dengan
perusahaan eksportir PD Rama Putra adalah positif. Kelompok Tani Bunga
Sampang Kemitraan PD Rama Putra
Sikap Petani Model Likert