• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sikap Petani Terhadap Kemitraan Kelompok Tani Bunga Sampang Dengan Perusahaan Dagang Rama Putra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Sikap Petani Terhadap Kemitraan Kelompok Tani Bunga Sampang Dengan Perusahaan Dagang Rama Putra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA

PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Budidaya Tanaman Kubis, Cabai dan Kentang

Kubis (Brassica) merupakan salah satu sayuran dataran tinggi yang sangat

populer sejak zaman penjajahan Belanda. Karo dan Pangalelngan Bandung

merupakan sentra sayuran kubis untuk diekspor, terutama yang dihasilkan di

Karo, ke Malaysia dan Singapura. Sampai kini lebih dari 75% penduduk

Indonesia masih tinggal di desa-desa, dengan mata pencaharian dari hasil

pertanian. Bagi penduduk di daerah pegunungan tertentu, hanya sayuran kubislah

yang dapat diandalkan sebagai usahanya, disamping tanaman kentang.

Pada masa mendatang tanaman kubis ini masih cukup mempunyai pasaran

(prospek) yang baik. Pasaran yang mampu menyerap sayuran kubis makin

meningkat dengan makin cepatnya perkembangan kota. Hal ini dikarenakan kubis

masih merupakan sayuran yang digemari.

Kubis merupakan sayuran berhawa dingin dan umumnya lebih baik

tumbuh pada tanah andosol (vulkanis), tanah latolos, dan aluvial, terutama

mengandung bahan organik tinggi struktur remah. Tanaman kubis menghendaki

cukup air, akan tetapi tidak menghendaki adanya hujan yang lebat dan turun terus

menerus. Pada saat ini luas tanaman kubis rata-rata adalah 80.000 Ha. Jadi masih

diperlukan perluasan areal 150.000 Ha menyebar ke sentra sentra produksi di

seluruh Indonesia. Kebutuhan dalam negeri meliputi konsumsi segar dan

(2)

rata (4 kg perkapita per tahun) adalah 600.000 ton/tahun. Ini diperlukan

penanaman ± 300.000 ha per tahun dengan asumsi hasilnya 25 ton/ha.

Pada umunya kubis dihasilkan di daerah pegunungan dan dipasarkan ke

daerah pegunungan dan dipasarkan ke daerah lain baik di kota kota kecil setempat

maupun di kota kota besar yang jaraknya jauh dari daerah penghasilnya. Oleh

karena itu adalah tidak mungkin petani sendiri terutama petani kecil melakukan

penjualan hasilnya. Penjualan dilakukan kepada perantara, yakni pemborong di

pasar setempat yang biasa disebut tengkulak atau kepada pemborong di pasar

setempat yang biasa disebut pengumpul dengan harga yang jauh di bawah harga

eceran di pasar besar (Sunarjono, 2013).

Sebagai salah satu jenis tanaman hortikultura, cabai merupakan salah satu

komoditi tanaman sayuran buah musiman yang berbentuk perdu. Cabai tergolong

sayuran buah multiguna dan multifungsi yang dapat dibudidayakan di lahan

dataran rendah ataupun dilahan dataran tinggi. Cabai merupakan komoditi sayuran

yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi dibanding jenis sayuran

lainnya. Di beberapa daerah, orang sudah banyak membudidayakan tanaman

komersil. Dalam hal ini, penanaman cabai diusahakan khusus sebagai cabang

usaha tani sendiri.

Tanaman cabai dapat tumbuh subur di berbagai ketinggian tempat, mulai

dari dataran rendah sampai dataran tinggi, bergantung pada varietasnya. Tanaman

cabai tidak tahan hujan dan sinar matahari yang terik. Inilah penyebab cabai lebih

baik ditanam di daerah yang kering dan sejuk dari pegunungan dibanding dataran

rendah. Rata rata suhu yang baik adalah 210-280C. Suhu udara yang terlalu tinggi

(3)

tetapi dengan pengairan yang baik. Jenis tanah yang baik untuk bertanam tanaman

cabai yang baik adalah ditanah yang mengandung pasir.

Indonesia yang menghasilkan sangat banyak cabai dan mengekspor cabai

dalam bentuk kering dapat mulai menerapkan sistem hipobarik untuk

pengangkutan dan penyimpanan. Meskipun sistem hipobarik relatif mahal, namun

bila dibandingkan dengan sistem pendingin biasa tidak akan berbeda jauh,

sehingga pengiriman cabai ke negara lain dalam bentuk segar bukanlah hal yang

mustahil (Widya,dkk 2013).

Tanaman kentang (Solanum tuberosum) merupakan tanaman yang

berbentuk herba. Batangnya berwarna hijau, kemerah-merahan atau ungu tua,

bagian bawah batangnya bisa berkayu. Keadaan batang seperti ini menyebabkan

tanaman kentang tidak terlalu kuat dan mudah roboh. Ketinggian tempat yang

sesuai untuk tanaman ini berkisar antara 500-3.000 m dpl dan yang terbaik pada

ketinggian 1.300 m dpl dengan suhu relatif ± 200C. Selain itu daerah yang baik

untuk penanaman kentang dengan curah hujan 200-300 mm setiap bulan atau

1.000 mm selama masa pertumbuhan kentang. Tanaman kentang yang berumur

3-4 bulan biasanya sudah dapat dipanen. Produksi per hektar biasanya berkisar

25-40 ton (Setiawan,1993).

2.1.2 Kemitraan

Kemitraan adalah suatu strategi agribisnis yang dilakukan oleh dua pihak

atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih manfaat bersama ataupun

keuntungan bersama sesuai prinsip saling membutuhkan dan saling mengisi sesuai

kesepakatan yang muncul (mutual). Kemitraan yang ingin diwujudkan dengan

(4)

kesempatan ingin berusaha, ketimpangan pendapatan, ketimpangan antar wilayah

ketimpangan kota dan desa. Kemitraan yang dibangun atas landasan saling

membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat dengan fungsi dan

tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan dan proporsi yang dimiliki oleh

masing masing pihak yang terlibat dalam kemitraan tersebut (Hafsah, 2000).

Linton (1997) mengatakan bahwa kemitraan bukan sebuah pengaturan

resmi berdasar kontrak. Kemitraan adalah sebuah cara melakukan bisnis dimana

pemasok dan pelanggan berniaga satu sama lain untuk mencapa tujuan bisnis

bersama. Kemitraan menggantikan hubungan pembeli/pemasok tradisional

dengan suatu derajat kerjasama dan saling percaya serta memanfaatkan keahlian

setiap mitra usaha guna memperbaiki persaingan secara keseluruhan.

Kemitraan telah diberi sejumlah nama, termasuk strategi kerjasama

dengan pelanggan (strategic customer alliance), strategi kerjasama dengan

pemasok (strategic supplier alliance) dan pemanfaatan sumber daya kemitraan

(partnership sourcing).

Konsep kemitraan agribisnis (contract farming) sebenarnya sudah semakin

jelas, tetapi dalam implementasinya masih terdapat berbagai perbedaan. Penyebab

utama perbedaan tersebut adalah keragaman persepsi terhadap para pelaku, baik

peaku agribisnis hulu (petani) maupun pelaku agribisnis hilir (investor yang

bermitra dengan petani). Berbagai bentuk konsep pemberdayaan masyarakat yang

berbasis pada kemitraan ditawarkan oleh pihak investor, baik pemerintah maupun

swasta.

Konsep kemitraan yang banyak dilakukan di Indonesia terdiri dari dua

(5)

1. Tipe dispersal

Dalam hal ini tipe dispersal dapat diartikan sebagai pola hubungan antar

pelaku usaha yang satu sama lain tidak memiliki ikatan formal yang kuat. Pada

kemitraan dispersal, pihak pengusaha lebih kuat dibandingkan produsen. Pihak

pengusaha ini sangat berperan dalam berhubungan dengan produsen yang lemah.

Dengan demikian, pemodal kuat yang umumnya berwawasan luas, lebih

berpendidikan dan telah berperan di subsistem hilir menjadi diuntungkan oleh

berbagai kelemahan pengusaha kecil sebagai produsen.

2. Tipe sinergis dan saling menguntungkan

Tipe ini berbasis pada kesadaran saling membutuhkan dan saling

mendukung pada masing masing pihak yang bermitra. Sistem kemitraan ini sudah

mulai banyak ditemukan di daerah pedalaman (hinterland) kota kota besar dan

kota menengah. Sinergi yang dimaksud saling menguntungkan disini diantaranya

dalam bentuk petani menyediakan lahan, sarana, dan tenaga kerja, sedangkan

pihak pengusaha eksportir menyediakan modal, bimbingan teknis, dan atau

penjaminan pasar.

Tujuan kemitraan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan adalah

meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat, meningkatkan perolehan

nilai tambah bagi pelaku kemitraan, meningkatkan pemerataan dan pemberdayaan

masyarakat, meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah dan

nasional, memperluas kesempatan kerja, meningkatkan ketahanan ekonomi

(6)

Pengembangan kelembagaan kemitraan dalam sistem agribisnis telah

memberikan dampak positif bagi keberhasilan pengembangan sistem agribisnis.

Dampak positif tersebut (Sumardjo dan Darmono, 2004) adalah :

1. Keterpaduan dalam sistem pembinaan yang saling mengisi antara materi

pembinaan dengan kebutuhan riil petani, meliputi permodalan sarana,

teknologi, bentuk usaha bersama atau koperasi dan pemasaran.

2. Kejelasan aturan atau kesepakatan, sehingga menumbuhkan kepercayaan

dalam hubungan kemitraan bisnis yang ada. Kesepakatan tentang aturan,

perubahan harga, dan pembagian hasil harus dibuat secara adil oleh

pihak-pihak yang bermitra. Dengan demikian, tujuan, kepentingan dan

kesinambungan bisnis dari kedua pihak dapat terlaksana dan saling

menguntungkan.

3. Keterkaitan antar pelaku dalam sistem agribisnis (hulu-hilir) yang

mempunyai komitmen terhadap kesinambungan bisnis. Komitmen ini

menyangkut mutu dan kuantitas, serta keinginan saling melestarikan

hubungan dengan menjalin kerjasama saling menguntungkan secara adil.

4. Terjadinya penyerapan tenaga kerja yang cukup banyak dan

berkesinambungan di sektor pertanian.

2.2 Landasan Teori

2.2.1 Sikap

Sikap adalah determinasi perilaku, karena mereka berkaitan dengan

persepsi, kepribadian, dan motivasi. Sebuah sikap merupakan suatu keadaan siap

mental yang dipelajari dan diorganisasi menurut pengalaman dan menyebabkan

(7)

objek-objek dan situasi-situasi dengan siapa ia berhubungan. Definisi tersebut tentang

sikap menimbulkan implikasi-implikasi tertentu bagi seseorang (Winardi, 2004).

Sikap adalah gambaran perilaku kepribadian seseorang yang terlahir

melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu

objek. Sikap ini harus dibaca dengan hati hati, sebab gambaran yang terwujud

tersebut dapat direkayasa sedemikian rupa yang ada pada gilirannya akan

membutakan kita dari keadaan yang sesungguhnya (Suit dan Almasdi, 2006).

Mengukur sikap seseorang adalah mencoba untuk menempatkan posisinya

pada suatu kontinum efektif. Kontinum afektif dapat berkisar antara “sangat

positif” hingga ke “sangat negatif” terhadap suatu objek sikap tertentu (Mueller,

1992).

Mengukur sikap seseorang adalah mencoba untuk menempatkan posisinya

pada suatu sikap yang berkelanjutan dalam kurun waktu tertentu berkisar dari

sangat positif hingga ke sangat negatif terhadap suatu objek sikap. Dalam teknik

perskalaan likert pengukuran ini dilakukan dengan mencatat penguatan respon

dan untuk pernyataan kepercayaan positif dan negatif tentang objek sikap (Daniel,

1992).

Menurut Ahmadi (1999), disamping pembagian sikap atas sosial dan

individual, sikap dapat pula dibedakan sebagai berikut.

1) Sikap Positif, sikap positif yaitu sikap yang menunjukkan atau

memperlihatkan, menerima, mengakui, menyetujui, serta melaksanakan

(8)

2) Sikap Negatif, sikap negatif yaitu sikap yang menunjukkan atau

memperlihatkan penolakan atau tidak menyetujui terhadap norma-norma

yang berlaku dimana individu itu berada.

Pengukuran sikap dapat dilakukan dengan menilai pernyataan seseorang.

Pernyataan sikap adalah serangkaian kalimat yang mengatakan suatu objek sikap

yang hendak diungkap. Pernyataan sikap mungkin berisi atau mengatakan hal

yang positif mengenai objek sikap yaitu kalimatnya bersikap mendukung atau

memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut keadaan yang menguntungkan

(favourable). Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal yang negatif

mengenai objek sifat yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap

objek sikap. Pernyataan ini yang disebut dengan suatu keadaan yang tidak

menguntungkan (unfavourable). Suatu skala sikap sedapat mungkin diusahakan

agar terdiri atas pernyataan favourable dan unfavourable dalam jumlah yang

seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan

tidak semua negatif yang seolah olah isi skala memihak atau tidak mendukung

sama sekali objek sikap (Azwar, 2007).

2.2.2 Skala Likert

Salah satu aspek yang sangat penting guna memahami sikap dan perilaku

manusia adalah masalah pengungkapan (assessment) atau pengukuran

(measurement) sikap. Pengungkapan sikap dengan menggunakan skala sangat

populer di kalangan para ahli psikologi sosial dan para peneliti. Hal ini

dikarenakan selain praktis, skala sikap yang dirancang dengan baik pada

umumnya memiliki rehabilitas yang memuaskan. Skala sikap berwujud kumpulan

(9)

sehingga respon terhadap pernyataan tersebut dapat diberi angka (skor) dan

kemudian dapat diinterpretasikan (Azwar,2007).

Menurut Suryabrata (2002), skala likert tergolong skala untuk orang, pada

rancangan dasarnya untuk mengukur sikap. Berkenan dengan pengukuran sikap,

maka ada dua hal yang selalu harus diingat mengenai sikap yaitu sebagai berikut:

1. Sikap selalu mempunyai objek, objek sikap yaitu sesuatu yang menjadi

sasaran sikap.

2. Sikap itu digambarkan dalam suatu kontinum dari negatif, lewat daerah

netral ke positif.

Skala likert ini berhubungan dengan pernyataan tentang sikap seseorang

terhadap sesuatu, misalnya setuju-tidak setuju, senang-tidak senang, dan

baik-tidak baik. Dengan menggunakan skala likert, maka variabel yang akan diukur

dijabarkan menjadi subvariabel kemudian dijabarkan lagi menjadi

indikator-indikator yang terukur ini dapat dijadikan titk tolak untuk membuat item

instrumen yang berupa pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab responden

(Kuncoro dan Ridwan, 2007).

Menurut Azwar (2007), metode rating yang dijumlahkan popular dengan

nama penskalaan Model Likert, merupakan metode penskalaan pernyataan sikap

yang menggunakan distribusi respon sebagai dasar penentuan nilai skalanya.

Prosedur penskalaan model likert didasari oleh dua asumsi dapat disepakati

sebagai berikut :

1. Setiap pernyataan sikap yang telah ditulis dapat disepakati sebagai

(10)

2. Jawaban yang diberikan oleh individu yang mempunyai sikap positif harus

diberi bobot atau nilai yang lebih tinggi daripada jawaban yang diberikan

oleh responden yang mempunyai sikap negatif.

Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, sejumlah pernyataan

telah ditulis berdasarkan kaidah penulisan pernyataan dan didasarkan pada

rancangan skala yang ditetapkan. Responden akan diminta untuk menyatakan

kesetujuan atau ketidaksetujuannya terhadap isi pernyataan dalam lima macam

kategori jawaban, yaitu “sangat tidak setuju” (STS), “tidak setuju” (TS), “tidak

dapat menentukan” atau “ragu ragu” (R), “setuju” (S) dan “sangat setuju” (SS).

Salah satu skor standar yang biasanya digunakan dalam skala model likert adalah

skor T, yaitu :

T = 50 + X- x̄

S

Keterangan :

T = skor standar

X = skor responden pada skala sikap yang hendak diubah menjadi skor T

x̄ = mean skor kelompok

S = deviasi standar kelompok (Azwar, 2007)

2.3 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu mengenai sikap petani terhadap kemitraan yang

menjadi rujukan adalah penelitian yang dilakukan oleh:

Latifah (2010) dengan judul skripsi Sikap Petani Tembakau Terhadap

(11)

Bojonegoro. Penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) faktor-faktor pembentuk

sikap yang ada di Kecamatan Sugihwaras menurut penelitian ini dapat diketahui

sebagai berikut: a. Pengalaman pribadi petani, pengaruh orang lain yang dianggap

penting, dan pendidikan formal petani tembakau tergolong dalam kategori sedang,

b. Pendidikan non formal petani tembakau tergolong dalam kategori rendah. (2)

Sikap petani tembakau terhadap tujuan kemitraan, pemberian modal, pemberian

saprodi (benih, pestisida, pupuk, dan teknologi atau peralatan usahatani),

pemasaran hasil, penetapan harga serta manfaat kemitraan dalam program

kemitraan PT. Gudang Garam tergolong dalam kategori baik. (3) Hubungan

antara faktor pembentuk sikap dengan sikap petani tembakau terhadap program

kemitraan PT. Gudang Garam adalah: a. Terdapat hubungan yang signifikan

antara pengalaman pribadi, pendidikan formal dan pendidikan non formal dengan

sikap petani tembakau terhadap program kemitraan PT. Gudang Garam, dengan

arah positif pada tingkat kepercayaan 99%, b. Terdapat hubungan yang signifikan

antara pengaruh orang lain yang dianggap penting dengan sikap petani tembakau

terhadap program kemitraan PT. Gudang Garam, dengan arah positif pada tingkat

kepercayaan 95%.

Putuningrat (2012) dalam skripsi berjudul Kemitraan antara Petani Tebu

Rakyat dengan PG Djombang Baru di Kabupaten Jombang menyimpulkan bahwa

(1) Masalah-masalah dalam budidaya tebu yang dihadapi oleh petani mitra di

Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut: persiapan lahan tebu disebabkan

kurangnya tenaga kerja diawal pengolahan lahan, proses penanaman tebu

disebabkan karena adanya bibit yang digunakan merupakan varietas yang kurang

(12)

dimana sarana trasportasi dan jalan kurang mendukung. (2) Mekanisme

pembinaan yang diinginkan dalam kemitraan yang dibuat oleh PG. Djombang

Baru, antara lain: syarat kemitraan (hak dan kewajiban), penetapan peserta mitra,

kegiatan pembinaan, evaluasi. (3) Petani menilai yang menjadi prioritas utama

dalam tingkat kepentingan kemitraan adalah atribut ketepatan waktu memberikan

biaya garap, dan respon terhadap segala keluhan. Sedangkan tingkat kepuasan

yang dirasakan oleh petani mitra lebih pada atribut kontinuitas suplai komoditas

dari petani ke perusahaan dan pengakutan hasil panen.

Zenitaliani (2014) dengan judul skripsi Sikap Petani Tebu Terhadap

Kemitraan dengan PG Rendeng di Kabupaten Kudus menyimpulkan bahwa (1)

rata-rata sikap petani sangat mendukung terhadap kemitraan dengan PG Rendeng

di Kabupaten Kudus. (2) faktor-faktor yang mempengaruhi sikap petani terhadap

kemitraan dengan PG Rendeng di Kabupaten Kudus adalah luas lahan garapan,

pengalaman bermitra, motivasi, dan peran petugas lapangan PG Rendeng, a.

semakin luas lahan garapan petani, maka sikap petani semakin mendukung

terhadap kemitraan, b. semakin lama pengalaman bermitra petani, maka dukungan

sikap petani terhadap kemitraan semakin menurun, c. semakin tinggi tingkat

motivasi yang dimiliki oleh petani, maka semakin mendukung sikap petani tebu

terhadap kemitraan, d. semakin tinggi peran petugas lapangan bagi petani, maka

semakin mendukung sikap petani tebu terhadap kemitraan. (3) faktor-faktor yang

tidak mempengaruhi sikap petani tebu terhadap kemitraan dengan PG Rendeng di

Kabupaten Kudus adalah umur, tingkat pendidikan, dan peran kelembagaan

APTRI. (4) tingkat kemitraan antara petani tebu dengan PG Rendeng di

(13)

mempengaruhi tingkat kemitraan dengan PG Rendeng di Kabupaten Kudus.

Semakin mendukung sikap petani terhadap kemitraan, maka semakin kuat tingkat

kemitraan yang terjalin antara petani tebu dengan PG Rendeng.

2.4 Kerangka Pemkiran

Kelompok tani Bunga Sampang merupakan salah satu kelompok tani yang

berada di Kecamatan Purba Kabupaten Simalungun. Sementara PD Rama Putra

adalah perusahaan eksportir yang melakukan ekspor tanaman ke berbagai negara

seperti ke Taiwan, Singapura dan Malaysia. Tujuan dari penelitian ini adalah

untuk mengetahui bagaimana sikap petani terhadap program kemitraan yang

sudah dijalin antara kelompok tani Bunga Sampang dengan perusahaan eksportir

PD Rama Putra dengan menggunakan model likert serta untuk mengetahui

masalah-masalah yang dihadapi dalam kemitraan tersebut.

Petani memiliki sikap yang positif atau sikap negatif terhadap kemitraan

yang telah terjalin dapat diukur dari penilaian antara kemitraan kelompok tani

Bunga Sampang dan PD Rama Putra. Berdasarkan penjelasan diatas, maka dibuat

(14)

Keterangan :

: Menyatakan Hubungan

: Menyatakan Mitra

: Menyatakan dievaluasi dengan

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Sikap Petani Terhadap Kemitraan Kelompok Tani Bunga Sampang dengan Perusahaan Eksportir PD Rama Putra

2.5 Hipotesis Penelitian

1. Sikap petani terhadap kemitraan kelompok tani Bunga Sampang dengan

perusahaan eksportir PD Rama Putra adalah positif. Kelompok Tani Bunga

Sampang Kemitraan PD Rama Putra

Sikap Petani Model Likert

Gambar

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Sikap Petani Terhadap Kemitraan Kelompok Tani Bunga Sampang dengan Perusahaan Eksportir PD

Referensi

Dokumen terkait

Semboro dengan petani Tebu Rakyat Kemitraan (TRK) (2) Mengevaluasi pelaksanaan hak dan kewajiban, antara PG.. Semboro dengan petani TRK (3) Merumuskan strategi kemitraan

Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui persepsi petani terhadap kinerja kemitraan antara Gapoktan Tani Maju dengan perusahaan eksportir PD Rama Putra.Daerah

Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui persepsi petani terhadap kinerja kemitraan antara Gapoktan Tani Maju dengan perusahaan eksportir PD Rama Putra.Daerah

Tujuan dari skripsi ini adalah untuk mengetahui persepsi petani terhadap kinerja kemitraan antara Gapoktan Tani Maju dengan perusahaan eksportir PD Rama Putra.Daerah

Salah satu upaya yang dianggap tepat dalam memecahkan masalah kesenjangan. ini adalah melalui kemitraan usaha antara yang besar dan yang kecil,

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kemitraan berjalan dengan beberapa kendala teknis, persepsi petani terhadap kinerja kemitraan antara Gapoktan Tani Maju

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, dugaan sementara atau hipotesis dalam penelitian ini adalah Kinerja kemitraan kelompok tani Lau Lengit dengan perusahaan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan kemitraan berjalan dengan beberapa kendala teknis, persepsi petani terhadap kinerja kemitraan antara Gapoktan Tani Maju