• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI (1)"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS RENDAH SEKOLAH DASAR DENGAN PENDEKATAN TEMATIK

Wulan Sri Wulandari

Program Studi Pendidikan Dasar SPS UPI/SDN Salamnunggal 02 Leles Kab. Garut

[email protected] ABSTRACT

Mathematics is a field of science that train of reasoning and logical thinking and systematic in resolving the problem and take a decision. Study it in its own way as it requires math is typical. By understanding the peculiarities and characteristics of mathematics students, can be appropriate ways for the purpose of learning mathematics, both are cognitive, psychomotor, and affective with optimum can be achieved through this thematic approach. Thematic approach in the form of a set of insights and activities thinking in designing grain of learning which is aimed at string the theme, topic as well as understanding and skill gained students as learning by intact and fused. or with other thematic learning is an approach to learning that is connecting, assembling or connecting a number of concepts of learning math, science, social science and other subjects that depart from a specific theme as the center of attention to developing students ' knowledge and skills as a stimulant. Teachers must be totally professional in carrying out his duties. It’s mean without the high dedication of teachers profession implementation of the thematic approach will not achieve the optimal goal.

Keywords: thematic approach, learning, math, students, teachers

ABSTRAK

(2)

Artinya, tanpa dedikasi yang tinggi dari profesi para guru implementasi pendekatan tematik tidak akan mencapai sasaran yang optimal.

Kata Kunci : pendekatan tematik, pembelajaran, matematika, siswa, guru

PENDAHULUAN

Pembelajaran matematika yang diajarkan di kelas masih didominasi oleh guru, siswa pasif menerima apapun yang diberikan guru, hanya terjalin komunikasi satu arah saja, tanpa adanya umpan balik/feedback. Selama ini pembelajaran matematika merupakan pembelajaran yang sulit dan sangat ditakuti oleh siswa karena biasanya berkaitan dengan angka-angka atau perhitungan-perhitungan yang membutuhkan pemahaman konsep berpikir dari abstrak ke konkrit atau sebaliknya. Seiring perubahan zaman dengan perkembangan teknologi gadget dan sebagainya sekarang ini, budaya instan membuat anak serba mudah mendapatkan atau mengerjakan sesuatu, dikaitkan dengan pembelajaran matematika yang membutuhkan penalaran dan pemahaman konsep secara bertahap, membuat siswa langsung menyerah atau malas mengerjakan soal-soal uraian pemecahan masalah matematika.

(3)

memiliki peranan sentral dalam perbaikan pendidikan khususnya dalam peningkatan mutu pembelajaran. Guru juga dalam proses pembelajaran bukanlah pemberi jawaban akhir atas pertanyaan-pertanyaan siswanya, melainkan mengarahkannya untuk membentuk (mengkonstruksi) pengetahuan matematika siswa.

Untuk mengarahkan dan memadukan pengetahuan siswa sebelumnya dengan perolehan pengetahuan yang diajarkan oleh guru, maka guru haruslah dapat menguasai kemampuan atau keterampilan dalam menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran sehingga dapat membangun berpikir kritis siswa dan keaktifan siswa di kelas. Guru menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran, metoda, teknik dan strategi untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal. Pendekatan pembelajaran yang dipilih haruslah pembelajaran yang dapat menstimulasi kemampuan siswa seperti bentuk pemberian tugas proyek, demonstrasi, pemecahan masalah, yang melibatkan partisipasi aktif siswa. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran matematika berorientasi pada kebutuhan siswa adalah peran guru bergeser dari menentukan “apa yang akan dipelajari” ke “bagaimana belajar bermakna dan menyenangkan”. Pengalaman belajar ini diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi lingkungan melalui interaksi aktif dengan teman, lingkungan, sekolah dan nara sumber lain. Pembelajaran matematika harus dipahami secara komprehensif dan bermakna, mulai dari tujuan pembelajaran matematika, konsep matematika, strategi pembelajaran, mengaitkan dan menghubungkan antar konsep matematika dan alasan yang mendasarinya, serta pemanfaatan matematika dalam menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata.

(4)

1. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak melihat dunia sebagai suatu kebutuhan yang terlihat bukan penggalan-penggalan yang terlepas dan terpisah.

2. Mata pelajaran-mata pelajaran Sekolah Dasar dengan definisi kompetensi yang berbeda menghasilkan banyak keluaran yang sama.

3. Keterkaitan satu sama lain antar mata pelajaran Sekolah Dasar menyebabkan keterpaduan konten pada berbagai mata pelajaran dan arahan bagi siswa untuk mengaitkan antar mata pelajaran akan menghasilkan hasil pembelajaran siswa.

4. Fleksibilitas pemanfaatan waktu dan menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa.

5. Menyatukan pemebelajaran siswa untuk konfergensi pemahaman yang diperolehnya sambil mencegah terjadinya inkonsistensi antar mata pelajaran.

6. Merefleksikan dunia nyata yang dihadapi anak di rumah dan di lingkungannya.

7. Selaras dengan cara anak berpikir di mana hasli penelitian otak mendukung teori pedagogi dan psikologi bahwa anak menerima banyak hal dan mengolah dan merangkumnya menjadi satu sehingga mengajarkan secara holistik terpadu adalah sejalan dengan bagaimana otak anak mengolah informasi.

Pendekatan tematik di Sekolah Dasar bukanlah merupakan suatu hal yang baru, namun pemahamannya oleh guru belum mendalam, sehingga dalam implementasinya belum sesuai dengan yang diharapkan. Masih banyak guru yang merasa sulit dalam melaksanakan pendekatan ini. Hal ini terjadi antara lain karena guru belum mendapat pelatihan secara intensif tentang pendekatan tematik ini.

(5)

pelajaran. Pelaksanaan pembelajaran tematik di Sekolah Dasar pada saat ini difokuskan pada kelas awal yaitu kelas I, II, dan III atau kelas yang anak-anaknya masih tergolong pada kelas rendah, walaupun sebenarnya pendekatan tematik ini bisa dilakukan di semua kelas. PEMBAHASAN

A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar 1. Hakikat Pembelajaran Matematika

Menurut The National Strategy ( 2009), dalam Linda Pound dan Trisha Lee (2011: 5)mengemukakan :

 Matematika membangun dari definisi sederhana dan proposisi yang didasarkan pada pengamatan.

 Matematika melibatkan mengukur, membandingkan dan mengklasifikasikan objek.

 Matematika menjelaskan pola, properti dan konsep-konsep umum.  Matematika menyediakan alat untuk abstrak dan bekerja di sebuah

dunia khayalan.

 Matematika adalah subjek yang kreatif di mana ide-ide yang bisa dihasilkan, diuji dan halus.

Matematika merupakan cabang mata pelajaran yang luas cakupannya dan bukan hanya sekedar bisa berhitung atau memasukkan rumus saja tetapi mencakup beberapa kompetensi yang menjadikan siswa dapat memahami dan mengerti tentang konsep dasar matematika. Belajar matematika juga membutuhkan kemampuan bahasa, untuk bisa mengerti soal-soal atau mengerti logika, juga imajinasi dan kreativitas.

(6)

Menurut Suherman, dkk.(2003:300) guru semestinya memandang kelas sebagai tempat di mana masalah-masalah yang menarik di-eksplore oleh siswa dengan menggunakan idea-idea matematika. Sebagai contoh, dalam materi luas dan keliling persegi dan persegi panjang siswa dapat mengukur benda-benda nyata secara langsung, mengukur ruangan kelasnya, tegel, meja, dll, maka pembelajaran matematika seyogyianya bersandarkan pada pemikiran bahwa siswa yang harus belajar dan semestinya dilakukan secara komprehensif dan terpadu. Kegiatan ini tidak akan ada artinya tanpa peranan dan kemampuan guru untuk mengarahkan dan melakukan pendekatan-pendekatan pembelajaran salah satunya yaitu melalui pembelajaran matematika terpadu.

2. Prinsip Pembelajaran Matematika di SD

Menurut NCTM (2000:12) dalam Van De Walle (2008: 2), ada enam prinsip untuk pembelajaran matematika di sekolah dasar yaitu:

a. Prinsip Keseimbangan atau Kesetaraan (Equity Principle). Keunggulan dalam pendidikan matematika mewajibkan adanya keseimbangan antara apa yang diharapkan dengan apa yang menjadi pendukung/penyokong yang kuat untuk semua siswa. Semua siswa mempunyai kesempatan dan dukungan yang cukup untuk belajar matematika “tanpa memandang karakteristik personal, latar belakang, ataupun hambatan fisik”

b. Prinsip Kurikulum (Curriculum Principle)

Kurikulum bukan sekedar kolektifitas kegiatan, bukan sekedar ‘bangunan pemikiran’ raksasa yang diberlakukan di suatu wilayah hukum demi keseragaman kegiatan pendidikan. Lebih dari itu, suatu kurikulum harus koheren, berfokus pada (bagian) matematika yang penting, dan sebaran materinya diatur sebaik mungkin (well articulated ) sesuai tingkatan usia siswa. Para siswa dibantu untuk melihat bahwa matematika merupakan sesuatu yang utuh dan terjalin, bukan kumpulan dari bagian-bagian yang saling lepas.

(7)

Mengajar matematika yang efektif memerlukan pemahaman tentang apa yang siswa ketahui dan perlukan untuk belajar dan kemudian memberi tantangan dan mendukung mereka untuk mempelajarinya dengan baik.

d. Prinsip Belajar (Learning Principle).

NCTM (2000:20) dalam Van De Walle (2008: 3)menyatakan:

“Students must learn mathematics with understanding, actively building new knowledge from experience and prior knowledge”. Ini berarti dalam belajar matematika, siswa harus melakukan ‘belajar untuk memahami’ atau ‘belajar pemahaman’, bukan sekedar belajar untuk mendapatkan nilai. Siswa dituntut aktif membangun/mengembangkan pengetahuan berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya. e. Prinsip Penilaian (Assessment Principle).

“Assessment should support the learning of important mathematics and furnish useful information to both teachers and students” (NCTM,2000:22). Dalam hal ini, penilaian dan evaluasi memegang prinsip: harus memiliki efek menstimulasi dan mendorong siswa untuk belajar matematika secara bermakna (important mathematics) sekaligus sebagai sumber informasi baik bagi guru maupun siswa. Informasi yang dimaksud adalah tentang capaian hasil belajar, bagian materi mana yang belum diketahui, siswa-siswa mana yang belum berhasil, dan seterusnya. Penilaian tidak sekedar rutinitas demi rapor.

f. Prinsip Teknologi (Technology Principle).

(8)

3. Langkah-langkah Pembelajaran Matematika di SD

Tiga tahap proses pembelajaran matematika menurut teori Bruner dalam Suherman (2003:44), yaitu :

a. Tahap enaktif, suatu tahap pembelajaran di mana materi matematika yang bersifat abstrak dipelajari siswa dengan menggunakan benda-benda konkret, melalui tindakan anak secara langsung terlihat dalam memanipulasi (mengotak atik) objek. Pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda konkrit/nyata atau menggunakan situasi yang nyata. Misalnya untuk memahami konsep operasi pengurangan bilangan cacah 7 – 4, anak memerlukan pengalaman mengambil/membuang 4 benda dari sekelompok 7 benda.

b. Tahap ikonik, suatu tahap pembelajaran di mana materi matematika yang bersifat abstrak, dipelajari siswa dengan menggunakan ikon, gambar, atau diagram, grafik yang menggambarkan kegiatan nyata dengan benda-benda konkret pada tahap enaktif tadi. Dengan demikian, topik matematika yang bersifat abstrak ini telah dipresentasikan atau diwujudkan dalam bentuk benda-benda nyata yang dapat diamati siswa, lalu dipresentasikan atau diwujudkan dalam gambar atau diagram yang bersifat semi-konkret.

c. Tahap Simbolik, suatu tahap pembelajaran di mana materi matematika yang bersifat abstrak dipelajari siswa dengan menggunakan simbol abstrak (abstrak simbol, yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan), baik simbol-simbol verbal (misalnya huruf-huruf, kata-kata, kalimat-kalimat), lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak yang lain.

(9)

enaktif, tahap ikonik, dan tahap simbolik sehingga siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan yang dipelajarinya secara holistik dan bermakna. Oleh karena itu pemahaman dan pemaknaan dalam pembelajaran matematika oleh siswa sangatlah penting untuk bisa melanjutkan pada tahapan perolehan pengetahuan selanjutnya. Langkah-langkah pembelajaran matematika di SD :

 Menentukan tujuan-tujuan instruksional

 Memilih materi pelajaran yang bisa dipadukan temanya  Menentukan topik-topik yang akan diajarkan

 Mencari contoh-contoh, tugas, ilustrasi dan sebagainya yang dapat digunakan peserta didik untuk bahan belajar

 Mengatur topik peserta didik dari konsep yang paling kongkrit ke yang abstrak, dari yang sederhana ke kompleks

 Mengevaluasi proses dan hasil belajar

B. Pendekatan Tematik/Terpadu

1. Latar Belakang Pendekatan Tematik

Pendekatan pembelajaran untuk anak tingkat Sekolah Dasar kelas rendah yaitu kelas 1,2 dan 3 adalah pembelajaran yang dikemas dalam bentuk tema-tema (tematik). Tema merupakan sarana untuk memperkenalkan berbagai konsep materi kepada siswa secara menyeluruh. Tematik diberikan dengan maksud mengabungkan konten kurikulum dalam satuan-satuan yang utuh dan membuat pembelajaran lebih bermakna, terpadu dan mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar.

Menurut Rusman (2010:267) tema-tema yang bisa dikembangkan di kelas awal atau kelas rendah sekolah dasar mengacu kepada prinsip-prinsip sebagai berikut:

a. Pengalaman mengembangkan tema dalam kurikulum disesuaikan dengan mata pelajaran yang akan dikembangkan.

(10)

c. Dimulai dari hal-hal yang mudah menuju sulit, dari hal yang sederhana menuju yang kompleks, dan dari hal yang konkrit menuju yang abstrak.

2. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Tematik

Menurut Rusman (2010: 272) pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik.

Menurut Poerwadarminta(1983) dalam Solihat,dkk (2010:303) Pembelajaran Tematik adalah pembelajaran yang menggunakan tema dalam mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas maka pendekatan pembelajaran tematik merupakan suatu pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok secara aktif mencari, menggali, mengeksplorasi, dan menemukan konsep-konsep yang terdapat dalam beberapa mata pelajaran secara menyeluruh, otentik dan berkelanjutan.

Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Di samping itu pendekatan pembelajaran tematik akan memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan pada partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar. Keterpaduan dalam pembelajaran ini dapat dilihat dari aspek proses atau waktu, aspek kurikulum, dan aspek belajar mengajar.

(11)

Menurut Sukmadinata(2004 : 198-200) dalam Solihat (2010:300) jenis pembelajaran tematik (terpadu) terdiri atas :

a. Desain Jaring atau Webbed. Pembelajaran difokuskan pada satu atau beberapa tema. Tiap tema mencakup beberapa topik, konsep atau masalah dalam sejumlah mata pelajaran. Umpamanya macam-macam pekerjaan, dll dibahas dalam IPS, gaya dan gerak dibahas dalam IPA, FPB dan KPK dibahas dalam matematika, sedang menjelaskan kegiatan gaya dan gerak dalam kehidupan sehari-hari digambarkan dalam bahasa Indonesia atau bahasa Sunda.

b. Desain Jalin atau Threaded. Pembelajaran diarahkan untuk menjalin keterampilan berpikir, keterampilan sosial, kecerdasan multiple, teknologi dan keterampilan belajar dalam berbagai bidang studi. Umpamanya keterampilan berpikir hubungan sebab-akibat. Dalam matematika hubungan gerak loncat dengan kelipatan, dalam IPS bergerak dalam bekerja, adanya pergerakan dan gaya dalam IPA, dalam bahasa akibat langsung gerak dan gaya yang berlebihan.

c. Desain Terpadu atau Integrated. Pembelajaran didesain secara terpadu, bahan ajaran dipadukan dari berbagai bidang studi, atau tema pembelajaran merangkum materi dari berbagai bidang studi. Desain ini disebut juga sebagai pembelajaran interdisiplin atau pembelajaran lintas bidang studi (cross-disiplinary).

d. Desain Menyatu atau Immersed. Desain dan pelaksanaan pembelajaran bersatu dengan diri siswa. Bidang studi, tema atau bahan pembelajaran dipilih oleh siswa sendiri yang paling mereka senangi dan butuhkan. Desain ini juga desain terpadu, tidak hanya terpadu antar bidang studi juga terpadu antara pelajaran dengan diri siswa.

(12)

sumber belajar. Siswa berperan sebagai ekspert, dia mencari, menghimpun, dan menyeleksi pengetahuan yang dibutuhkan. f. Desain terpisah atau Fragmented. Desain pembelajaran seperti

yang umumnya digunakan dalam pembelajaran saat ini. Topik atau pokok bahasan yang berisi bahan ajaran yang terpisah atau terlepas antara satu dengan yang lainnya. Demikian juga dalam pelaksanaannya, hanya membahas bahan yang tercakup dalam topik tersebut.

g. Desain Terhubung atau Connected. Pembelajaran dalam satu mata pelajaran atau bidang studi didesain dengan cara menghubungkan satu topik dengan topik lainnya, satu konsep dengan konsep lainnya pada semester atau tahun yang sama ataupun berbeda.

h. Desain Sarang atau Nested. Masih dalam satu mata pelajaran atau bidang studi, satu topik bahasan diarahkan untuk menguasai beberapa kemampuan atau keterampilan, seperti keterampilan berpikir (intelektual), keterampilan sosial, dan keterampilan motorik.

i. Desain Paralel atau Sequenced. Antara dua lebih mata pelajaran atau bidang studi pada waktu yang bersamaan ada kesamaan atau ada hubungan topik, bahan, konsep ataupun kemampuan yang memiliki kesamaan atau keterkaitan, berbagai tugas dan mereka mengajar dalam bentuk tim (team teaching)

j. Desain berbagi atau Shared. Guru-guru dari dua atau lebih mata pelajaran atau bidang studi yang mengajarkan bahan, konsep, kemampuan yang memiliki kesamaan atau keterkaitan, berbagai tugas dan mereka mengajar dalam bentuk tim (team teaching). 4. Karakteristik Pembelajaran Tematik

Menurut Rusman (2010:277) pembelajaran tematik memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:

(13)

Menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar. b. Memberikan Pengalaman Langsung

Siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata atau konkrit sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak diperolehlah pengalaman secara langsung.

c. Pemisahan Mata Pelajaran tidak begitu jelas

Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.

d. Menyajikan Konsep dari berbagai mata pelajaran.

Siswa dapat memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. e. Bersifat Fleksibel

Guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.

f. Hasil Pembelajaran sesuai dengan Minat dan Kebutuhan Siswa Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimiliki sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

g. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan.

5. Landasan Pembelajaran Tematik

Menurut Rusman (2010: 274) adapun landasan-landasan pembelajaran tematik di sekolah dasar meliputi :

a. Landasan Filosofis

Kemunculan pembelajaran tematik dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat yaitu

(14)

kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.

2) Konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa sebagai kunci dalam pembelajaran, pengetahuan yang diperoleh adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia melalui interaksi dengan obyek, fenomena, pengalaman dan lingkungannnya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan suatu proses yang berkembang secara berkelanjutan, rasa ingi tahu siswa berperan dalam menyusun ulang dan mengembangkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang dimilikinya.

3) Humanisme melihat siswa sosok yang unik, mempunyai ciri khas, bakat, potensi dan motivasi yang dimilikinya.

b. Landasan Psikologis

Dalam menentukan isi/materi pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan siswa. Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral maupun sosial. c. Landasan Yuridis

Dalam UU No.23 tahun 2002 pasal 9 tentang Perlindungan Anak dinyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.

Dalam UU No.20 tahun 2003 Bab V Pasal 1b tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. d. Landasan Sosial-Budaya dan IPTEKS

(15)

lingkungan. IPTEKS (Ilmu Pengetahuan, teknologi dan seni) diperlukan dalam pengembangan pembelajaran tematik sebagai upaya menyelaraskan materi pembelajaran dengan perkembangan dan kemajuan yang terjadi dalam dunia IPTEKS baik secara langsung maupun tidak langsung.

C. Implementasi Pendekatan Tematik dalam Pembelajaran Matematika di SD kelas rendah.

Usia anak sekolah dasar rata-rata adalah 6 tahun atau 7 tahun dan biasanya selesai pada usia 12 tahun. Piaget meyakini bahwa proses berpikir seorang anak berkembang melalui serangkaian tahapan-tahapan perkembangan kognitif manusia, dalam Desmita (2011: 101) anak usia sekolah dasar berada dalam tahap konkret-operasional usia 7 sampai dengan 11 tahun, pada saat ini anak akan dapat berpikir secara logis mengenai peristiwa-peristiwa yang konkret dan mengklasifikasikan benda-benda ke dalam bentuk-bentuk yang berbeda.

Hal ini berarti bahwa anak usia sekolah dasar mempunyai kemampuan berpikir dalam memahami lingkungan di sekitarnya tidak hanya mengandalkan panca indera semata tapi sudah dapat membedakan dan menggunakan daya nalarnya, seperti menghitung jumlah, mengukur banyak, dan lain-lain.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir terdapat kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri ( Rusman, 2010: 270) adalah sebagai berikut:

(16)

b). Integratif yaitu memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan dan terpadu, karena anak usia sekolah dasar belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini menggambarkan masih cara deduktif yakni dari hal umum ke bagian-bagian yang lebih kecil.

c). Hierarkis yaitu berkembang secara bertahap dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.

Menurut NCTM dalam Suherman,dkk (2003:298) matematika secara fleksibel dan memahami hubungan serta keterkaitan antara ide atau gagasan-gagasan matematika dengan yang lainnya dan terdapat empat prinsip, yaitu :

a. Matematika sebagai pemecahan masalah b. Matematika sebagai penalaran.

c. Matematika sebagai komunikasi d. Matematika sebagai hubungan

Selain 4 prinsip ini, NCTM (1989) dalam Suherman,dkk (2003:298) estimasi dan struktur matematika yang membantu dalam menggeneralisasikan matematika secara komprehensif dan holistik. Dimaksudkan bahwa pengembangan konsep dan materi-materi matematika tidak dibatasi oleh topik yang sedang dibahas saja, akan tetapi dikaitkan dengan topik-topik yang relevan bahkan dengan mata pelajaran lain jika memungkinkan secara terpadu. Konsep pembelajaran matematika terpadu mempertimbangkan siswa sebagai pembelajar dan proses yang melibatkan pengembangan berpikir dan belajar. Karena para siswa sulit untuk berpikir parsial tentang apa yang mereka pelajari, tetapi mereka cenderung memandang “dunia sekitar” secara menyeluruh(holistik). Dalam Suherman,dkk (2003:299) pengaruh adanya pembelajaran matematika terpadu dengan mata pelajaran yang lainnya antara lain adalah :

a. Lebih memahami keterkaitan antara satu topik matematika dengan topik matematika lainnya.

(17)

c. Lebih memahami peranan matematika dalam kehidupan manusia. d. Lebih mampu berpikir logis, kritis, dan sistematis.

e. Lebih kreatif dan inovatif dalam mencari solusi pemecahan sebuah masalah

f. Lebih peduli pada lingkungan sekitarnya

Alur dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pendekatan tematik yaitu sebagai berikut:

1) Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan

2) Mempelajari kompetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan.

3) Memilih dan menetapkan tema/topik pemersatu

4) Membuat matriks/bagan hubungan kompetensi dasar dan tema/topik pemersatu.

5) Menyusun silabus pembelajaran tematik 6) Menyusun rencana pembelajaran tematik 7) Pengelolaan Kelas

a. Pengaturan tempat belajar b. Pengaturan siswa

c. Pemilihan bentuk kegiatan d. Pemilihan Media Pembelajaran e. Penilaian

Matematika adalah suatu bidang ilmu yang melatih penalaran supaya berpikir logis dan sistematis dalam menyelesaikan masalah dan mengambil keputusan. Mempelajarinya memerlukan cara tersendiri karena matematika bersifat khas. Dengan memahami kekhasan matematika dan karakteristik siswa, dapat diupayakan cara-cara yang sesuai agar tujuan pembelajaran matematika, baik yang bersifat kognitif, psikomotorik, dan afektif dapat tercapai dengan optimal melalui pendekatan tematik ini.

(18)

Implementasi pendekatan tematik dalam pembelajaran matematika di kelas rendah sekolah dasar pada saat kurikulum KTSP hanya berlaku pada kelas 1,2 dan 3 dan pada kurikulum 2013 penerapan pendekatan tematik untuk semua kelas dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 adalah upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu pendidikan ke arah yang lebih baik.

Pendekatan pembelajaran tematik yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual baik didalam maupun antar mata pelajaran, untuk memberi peluang bagi terjadinya pembelajaran yang efektif dan untuk memberikan pengalaman yang bermakna bagi anak. Pendekatan tematik berupa seperangkat wawasan dan aktifitas berpikir dalam merancang butir-butir pembelajaran yang ditujukan untuk menguntai tema, topik maupun pemahaman dan keterampilan yang diperoleh siswa sebagai pembelajaran secara utuh dan padu. Atau dengan pengertian lain pembelajaran tematik adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menghubungkan, merakit atau menghubungkan sejumlah konsep dari pembelajaran matematika, IPA, IPS dan mata pelajaran lainnya yang beranjak dari suatu tema tertentu sebagai pusat perhatian untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan siswa secara stimulan

Harus diakui bahwa guru harus benar-benar profesional dalam menjalankan tugasnya. Artinya, tanpa dedikasi yang tinggi dari profesi para guru implementasi pendekatan tematik tidak akan mencapai sasaran yang optimal. Guru dituntut agar pembelajaran menekankan pada kegiatan individual dan kelompok, dengan memperhatikan perbedaan kompetensi siswa, mengupayakan lingkungan belajar yang kondusif, dan mengelola kelas dengan baik serta tetap harus memperhatikan hal-hal seperti perencanaan, alokasi waktu yang tersedia, sumber belajar-media, materi, prasyarat yang harus dimiliki peserta didik, dan sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuannya.

(19)

pandangannya tentang peranannya memberikan pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan. Jika penyajian pembelajaran masih tetap berpusat pada guru dan pendekatan pembelajaran hanya ceramah terus menerus, monoton, maka kemampuan pemahaman konsep matematika siswa pun tidak akan berkembang. Karena mungkin saja kebanyakan guru-guru kita belum memahami atau bahkan belum mengetahui tentang apa dan bagaimana pendekatan tematik ini.

Sejalan dengan penerapan kurikulum 2013 penggunaan pembelajaran tematik akan lebih bermakna karena anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya (hand-on) pada akhirnya pembelajaran yang diperoleh semakin mengalami peningkatan karena terdapat peluang untuk siswa dapat membangun pengetahuannya secara utuh, tidak terpecah-pecah dalam mata pelajaran. Dalam hal ini, berarti siswa sebagai pembelajar aktif tidak hanya sekedar melihat, mendengar, mengingat, menulis dan melakukan perhitungan sesuai dengan telah dicontohkan dan dijelaskan oleh guru tetapi dengan mencoba mengeksplorasi dan menemukan sendiri konsep penyelesaian masalah dari persoalan-persoalan yang dimunculkan di awal pembelajaran sebagai titik awal, sebaiknya persoalan yang diangkat adalah dari kehidupan nyata yang dekat dengan diri siswa atau yang telah dialami siswa.

(20)

Desmita.(2009).Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Panduan bagi Orang Tua dan

Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Pound, L and Lee, T.(2011). Teaching Mathematics Creatively. Learning To Teach In Primary School Series. Canada: Routledge

Rusman.(2010). Seri Manajemen Sekolah Bermutu. Model-Model Pembelajaran. Mengembangkan Profesionalisme Guru. Bandung : Mulia Mandiri Pers

Solihat, I.,dkk(2010). Implementasi Pembelajaran IPA di Kelas Rendah dengan Pendekatan Tematik. Makalah. Problematika Pendidikan Dasar. Kebijakan, Strategi, dan Metode Pembelajaran. Bandung: Ilmu Cahaya Hati

Suherman, E, dkk. (2003). Common Textbook: Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. (edisi revisi). Bandung: JICA Jurusan Pendidikan Matermatika UPI.

Referensi

Dokumen terkait

Pembelajaran tematik integratif merupakan pembelajaran yang mengkaitkan mata pelajaran satu dengan mata pelajaran lain dalam satu tema. Pembelajaran tematik integratif ini

Guru memahami pengertian dan tujuan pembelajaran tematik agar pembelajaran lebih mudah dan bermakna bagi siswa, proses pembelajaran menggunakan langkah saintifik

1) Aptitude Treatment Interaction (ATI) merupakan suatu konsep atau model yang berisikan sejumlah strategi pembelajaran ( treatment ) yang efektif digunakan untuk siswa

Pelaksanaan pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik telah ter-wujud atau tergambarkan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam

Kegiatan inti dalam metode pendekatan pembelajaran tematik ditunjukan untuk terkonstruksinya konsep, hokum atau prinsip oleh peserta didik dengan bantuan dari pendidik

Pelaksanaan pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik telah ter-wujud atau tergambarkan dengan baik. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan guru dalam

matematika realistik merupakan pembelajaran yang menghubungkan konsep dunia nyata dengan konsep pembelajaran matematika, sehingga dalam pelaksanaannya guru mampu

Pengertian Pembelajaran Tematik Tematik adalah pokok isi atau wilayah dari suatu bahasan materi yang terkait dengan masalah dan kebutuhan lokal yang dijadikan tema atau judul dan akan