• Tidak ada hasil yang ditemukan

KHAZANAH PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM PERSPEK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KHAZANAH PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM PERSPEK"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Teologi (tauhid) adalah salah satu bidang keilmuan istimewa yang ada dalam

khazanah keilmuan Islam—yang komprehenship-universal itu—bersandingan dengan

fikih (yurispudensi Islam), filsafat, tasawuf (mistisisme), dan lain sebagainya. Kalau

dilihat dari signifikansinya, dapat dikatakan bahwa teologi merupakan puncak dari

segala ilmu Islam sebab ia berkenaan langsung dengan Tuhan, di samping tasawuf.

Signifikansi ini bisa kita lacak dari etimologi dari terma teologi itu sendiri. Teo itu berarti Tuhan, logi (logos) berarti ilmu; ilmu ketuhanan.

Teologi, tauhid, atau ilmu kalam merupakan bidang kajian ilmu yang akan

selalu menarik dan khas untuk dibahas. Menarik karena ia dikaji di abad modern,

sementara khazanah teologi Islam sudah berkembang sejak lama. Maka ia semakin

menarik, untuk kemudian bagaimana bisa kita mengkonteksualisasikan dengan zaman

kekinian, terutama menyangkut relevansi dan signifikansinya. Dikatakan khas, karena

teologi Islam berbeda dengan teologi-teologi pada agama lain. Teologi Islam begitu

kaya dan beragam. Dan inilah yang akan menjadikan Islam sebagai sebuah agama

dengan kekayaan pemikiran bagi peradaban Islam itu sendiri maupun dunia.

Selain Ahlusunnah (Sunni), dalam pemikiran teologi kita akan menemukan

ragam pemikiran teologi lain, beberapa di antaranya adalah Syi’ah, Khawarij,

Murji’ah, Mu’tazilah, Jabariyah, dan lain-lain. Dalam tulisan ini, saya hanya akan

(2)

Sebelum beranjak pada pembahasan lebih lanjut mengenai ketiga pemikiran

teologi tersebut. Ada persoalan serius yang hingga dewasa ini, masih menyisakan dan

rentan memicu konflik dan disintegrasi, yakni eksklusivisme dan fanatisme. Bisa kita

bentangkan, bahwa pluralitas pemikiran teologi dalam sejarah pemikiran dan

peradaban Islam, itu belum—untuk enggan mengatakan tidak sama sekali—dijadikan

sebuah kekayaan dan anugerah tersendiri untuk menyemai persatuan dan

kebersamaan dalam keberagaman dan perbedaan.

Pluralitas dan perbedaan dalam ranah pemikiran teologi sekte per sekte, telah

menjadi catatan sejarah tersendiri dimana umat menjadi sasaran amuk eksklusivisme

dan fanatisme tersebut. Saya ambil satu contoh misalnya Mu’tazilah, sebagai sekte

dalam teologi yang punya kecenderungan rasional. Mu’tazilah dengan teologi

rasionalnya, telah dianggap sesat dan kafir oleh sekte lain; non-Mu’tazilah. Dan

celakanya, dari awalnya pemikiran teologi yang murni dari eksplorasi intelektual,

lambat laun digiring ke arah politik kekuasaan dan mazhab Negara.

Demikianlah barangkali, problem kita hari ini dan masa depan, yakni

pluralitas pemikiran dalam teologi dalam sejarah peradaban Islam yang hanya

dijadikan memperpanjang ekslusivisme dan fanatisme; teologi saya-lah benar yang

lain sesat dan kafir. Selanjutnya, tentang politisasi teologi ke arah politik dan mazhab

Negara.

Berdasarkan hal tersebut di atas, tulisan ini dibuat untuk mencoba merunut

sejarah awal-mula dan perkembangan tiga khazanah teologi dalam Islam (Khawarij,

Mur’jiah, dan Mu’tazilah) untuk kemudian digali sumber-sumber ajarannya, lalu

(3)

kontekstualisasi agar pluralitas khazanah keilmuan teologi Islam ini membuah

kemaslahatan umat.

B. Rumusan Masalah

Agar memudahkan pembahasan dalam tulisan ini, saya akan merusmuskan

beberapa masalah berikut ini:

1. Bagaimana sejarah kemunculan teologi Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah?

2. Dimana sumber konflik dalam teologi dalam Islam itu terjadi?

3. Bagaimana rekonstruksi dan kontekstualisasi sejarah pemikiran teologi Islam

(Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah) untuk era kekinian dan masa depan?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari ditulisnya makalah ini sekurang-kurangnya adalah sebagai

berikut:

1. Mengetahui dan memahami sejarah kemunculan teologi Khawarij, Murji’ah,

dan Mu’tazilah.

2. Mengetahui sumber konflik dalam sejarah teologi Islam.

3. Melakukan rekonstruksi dan kontekstualisasi cara pandang dan realitas untuk

masa kekinian dan masa depan agar pluralitas teologi itu menjadi kekayaan

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Kemunculan Teologi Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah 1. Teologi Khawarij

Asal kata al-Khawarij adalah kharaja, artinya keluar. Nama itu diberikan kepada golongan yang keluar dari jamaah Ali di saat Ali menerima tahkim dari

Mu’awiyah dalam pertempuran Shiffin. Dinamakan al-Khawarij, karena mereka keluar dari rumah mereka dengan maksud berjihad di jalan Allah.1

Awalnya, sebelum berpisah menjadi kelompok Khawarij, mereka adalah

pengikut sahabat Ali bin Abi Thalib dan penentang Mu’awiyah. Namun ternyata,

inilah dinamika kehidupan yang niscaya, mereka—cikal bakal Khawarij—kemudian

membelot dan kecewa atas kebijakan Ali dengan menerima tahkim dari Mu’awiyah.

Kaum inilah yang dinamakan kaum Khawarij, kaum yang keluar, yakni keluar

dari Saidina Mu’awiyah dan ke luar dari Saidina Ali. Mereka mengadakan semboyan

“La hukma illa lillah!” (tak ada hukum kecuali dari Tuhan).2 Al-Syahrastani

mengatakan, siapa saja yang memberontak melawan imam yang sah, yang `dianggap

legitimate (diterima) oleh masyarakat, maka dia disebut sebagai Khawarij.3

Hal senada dikatakan Said Aqiel Siradj, bahwa di tengah huru-hara politik

yang memorak-porandakan persatuan umat Islam tersebut, reaksi kaum Muslim

1 Ashshiddieqy dalam Jamali Sahrodi. 2009. Pengantar Falsafah Kalam. Cetakan ke-2. Cirebon: CV.

Pangger, h. 22.

2 Sirajuddin Abas. 1995. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah. Jakarta: Cetakan ke-20. Pustaka

Tarbiyah, h. 153-154.

3 Al-Syahrastani. 2004. Al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Islam. Terjemahan Syuaidi

(5)

sangat beragam. Faksi-faksi yang bertikai saat itu memberikan angin segar bagi

lahirnya banyak partai politik (al-hizb, firqah). Mula-mula mereka kecewa pada sikap arbitrase atau tahkim. Mereka kemudian bereaksi keras, memisahkan diri dari Ali. Sehingga mereka kemudian dikenal dengan nama “Khawarij”. Sementara para

pendukung setia khalifah Ali (kelompok tasyayyu’) memproklamasikan diri mereka sebagai kelompok Syi’ah.4

Khawarij menjadi sekte Islam yang paling eksklusif dan fanatis. Mereka

mengkafirkan semua golongan yang berbeda dengannya. Khawarij menjadi sekte

dengan karakteristik berani, mudah tersinggung, militan, dan berani mati. Keyakinan

mereka berpusat pada jargon “La hukma illa lillah”.

Baginya, keputusan adalah hak Tuhan semata, maka keputusan harus diambil

sesuai dengan perintah Tuhan dalam al-Qur’an. Prinsip ini sebagaimana telah

diketahui berasal dari ketidaksetujuan mereka terhadap tahkim antara Ali dan Mu’awiyah. Semua keputusan terhadap tahkim dikembalikan kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya pada QS. Ali-Imran: 44, “Waman lam yahum bima anzal Allah faulaika hum al-Kafirun” (Barang siapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang diturunkan Allah adalah kafir).5

Mereka berpendapat bahwa khalifah adalah hak mutlak bagi Allah saja, selain

tidak boleh dimiliki oleh seseorang atau suatu golongan. Karenanya, mereka tak

boleh diangkat melainkan orang yang cukup cakap dan ahli, dari mana saja dan siapa

4 Said Aqiel Siradj. 2009. Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi

bukan Aspirasi. Cetakan ke-2. Jakarta: Yayasan Khas, h. 80.

(6)

saja.6 Padahal kemudian Khawarij mengangkat seseorang menjadi kepala yaitu

Abdullah bin Wahab ar-Rasyidi.

Paham teologi yang diyakini Khawarij selain cap kafir dan khalifah di tangan

Allah adalah soal keimanan yang ekstrem. Pendeknya, bagi kaum Khawarij sekalian

orang mu’min yang berbuat dosa, baik besar maupun kecil, maka orang itu wajib

diperangi dan boleh dibunuh, boleh dirampas hartanya.7 Termasuk jika ada orang

sakit dan orang tua yang tidak ikut perang maka orang itu menjadi kafir, wajib

dibunuh. Kaum Khawarij memfatwakan bahwa sekalian dosa adalah besar, tidak ada

yang bernama dosa kecil atau dosa besar. Sekalian pendurhakaan kepada Tuhan

adalah besar, tidak ada yang kecil menurut kaum Khawarij.8 Dan Khawarij

menganggap bahwa anak-anak orang kafir meskipun meninggal dalam keadaan masih

bayi tidak akan masuk surga tetapi masuk neraka.

Dalam proses perkembangannya, Khawarij punya beragam sekte. Pertama, al-Muhakkimah. Ini adalah sekte pertama yang asli keluar pertama yang keluar dari

barisan ali saat proses tahkim. Sementara imamnya adalah Abd Allah ibn Wahab

ar-rasyidi. Kedua, Al-Azariqah. Imamnya Nafi’ ibn al-‘Azraq. Ketiga, An-Najdah, dengan imamnya Najdah ibn Amir. Keempat, Ajaridah, dengan imamnya Abd al-Karim ibn Ajrad. Dan lain seterusnya. Ulasan lebih detail bisa dibaca dibanyak

literatur.9

2. Teologi Murji’ah

6 Ashshiddieqy, dalam ibid, h. 23. 7 Sirajuddin Abas, ibid, h. 161. 8 Ibid, h. 162.

(7)

Reaksi lain atas sikap Khawarij datang dari cucu Ali, Abu Hasyim Hasan ibn

Muhammad al-Hanafiyyah yang menentang paham penguasa ini dalam kitabnya al-Irja’. Baginya, pelaku dosa besar tidaklah kafir dan tidak pula memengaruhi keimanan seseorang. Mereka masih mengharapkan (irja’) maghfirah atau ampunan dari Allah Swt. Oleh karena itu paham ini sering disebut Murji’ah.10

Pendapat serupa dikemukakan oleh Harun Nasution, bahwa bagi mereka

sahabat-sahabat Nabi Saw yang bertentangan itu merupakan orang-orang yang dapat

dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar, dan mereka memandang lebih baik

untuk menunda (arja’a) persoalan-persoalan yang diperdebatkan tersebut ke hari perhitungan di depan Allah. Kelompok ini dikenal sebagai kaum Murji’ah.11

Ditinjau dari sisi bahasa, kata murji’ah berasal dari kata kerja—raja’—artinya menunda, menangguhkan, atau mengakhirkan.12 Murji’ah lahir pada abad ke-I

Hijriyah. Kelahiran sekte ini lahir tidak terlepas dari realitas ideologi dan politik yang

berkembang dan berkecamuk saat itu. Murji’ah sangat dipengaruhi oleh arogansi

sekte Syi’ah yang mengkafirkan orang-orang kontra Ali dan sekte Khawarij yang—

selain mengkafirkan Ali—juga mengkafirkan Mu’awiyah dan kawan-kawan.

Motif dari kelahiran Murji’ah sebetulnya patut diacungi jempol, sebab ia

cenderung moderat di antara dua sekte ekstrem; Syi’ah dan Khawarij. Hal ini

dikemukakan oleh Sirajuddin Abbas, bahwa pada ketika situasi yang gawat lahirlah

sekumpulan umat Islam yang menjauhkan diri dari pertikaian, yang tidak mau ikut

10 Said Aqiel Siradj, ibid, h. 81.

11 Harun Nasution. 1986. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI

Press, h. 22.

(8)

menyalahkan orang lain, tidak ikut-ikut menghukum kafir atau menghukum salah,

tidak mau mencampuri persoalan, seolah-olah mereka “pangku tangan” saja.13

Sekumpulan sahabat Nabi, sepertu Abdullah bin Umar, Abi Barakah, Imran

bin Husein, Muhammad bin Shalah, Sa’ad bin Abi Waqash, Utsman bin Zaid, Hasan

bin Tsabit, Abdullah bin Salam, tidak ikut membai’ah (mengangkat) Saidina Ali dan

pula tidak mau menyokong Saidina Mu’awiyah Rda. Mereka lebih suka menjauhkan

diri dari politik yang kacau itu.14

Sementara paham teologi mereka misalnya ketika membahas keimanan.

Bahwa iman bagi Murji’ah adalah ma’rifat kepada Allah Swt dan para Rasul-Nya

dengan mengucap syahadah.15 Selain ma’rifat, baik berupa ketaatan melaksanakan perintah Allah Swt atau menjauhi larangan-Nya, bukanlah termasuk iman. Jadi

mereka lebih mementingkan iman dalam hati daripada amal. Menurut mereka dengan

iman semacam ini seseorang akan terhindar dari azab api neraka. Mereka mempunyai

prinsip: Sesungguhnya perbuatan maksiat tidak akan membahayakan iman seseorang

sebagaimana ketaatan seseorang yang kafir tidak akan membawa manfaat.16

Pandangan senada dikatakan oleh Mohamad Hudaeri, bahwa menurut kaum

Murji’ah bahwa iman adalah pengetahuan dan pengakuan kepada Allah, Rasul-Nya

dan semua yang datang dari Allah. Pernyataan bahwa iman adalah pengetahuan dan

pengakuan merupakan manifestasi dasar keyakinan Murji’ah yang merasa tidak puas

dengan pandangan bahwa iman adalah sesuatu yang bersifat lahiriah. Murji’ah ingin

menegaskan bahwa iman adalah sesuatu yang terletak dalam hati manusia, suatu

13 Sirajuddin Abbas, ibid, h. 166. 14 Ibid, 167.

(9)

peristiwa rohaniah yang terjadi sangat dalam di dalam jiwa. Karena itu dalam

pandangan Murji’ah, perbuatan merupakan sesuatu yang sekunder dalam hal

keimanan.17

Mengenai keimanan, keislaman, dan kekafiran seseorang sama sekali tidak

ditentukan oleh perbuatannya. Asalkan hatinya mengucapkan keimanan kepada Allah

maka ia tidak kafir, seburuk apapun perbuatan yang ia lakukan di dunia, oleh sekte

Murji’ah tidak dianggap dosa besar, apalagi kafir. Kedudukan ia ditangguhkan sampai

nanti di akhirat, sebab hanya Allah yang tahu secara pasti kebenaran seseorang.

Dalam menyikapi hal ini, Harun Nasution juga menegaskan, menurut

Murji’ah bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar tidak menjadi kafir tetapi

tetap Islam. Sedang dosa besarnya ditunda dan diserahkan pada putusan Allah kelak

di akhirat. Jika ia diampuni, masuk surga dan jika tidak, maka ia masuk neraka,

sekalipun pada berikutnya juga masuk surga.18

Seperti halnya Khawarij, Murji’ah pun tepecah ke berbagai sekte. Mengutip

pendapat Jamali Sahrodi, sekte-sekte itu di antaranya Yunusiyah pimpinan Yunus

as-Samiri, Ghasaniyah pimpinan Ghasan al-Kufi, Ubaidiyah pimpinan Ubaid al-Mikdad.

Saubaniyah pimpinan Abu Sauban al-Murji’i, dan seterusnya.19

3. Teologi Mu’tazilah

17 Mohamad Hudaeri. 2005. Relasi Kuasa Teologi Murji’ah dan Bani Umayah. Serang: Jurnal

al-Qalam P3M IAIN Hasanuddin, vol. 22 No. 3, h. 362.

(10)

Perkataan “Mu’tazilah” berasal dari kata “I’tizal”, artinya menyisihkan diri.

Kaum Mu’tazilah berarti kaum yang menyisihkan diri.20 Ada banyak pandangan

bahkan kontroversi para ahli dalam menelusuri keawalmulaan lahirnya (istilah)

Mu’tazilah. Jamali Sahrodi dalam bukunya Pengantar Falsafah Kalam (2009) misalnya banyak mengutip para ahli soal pertentangan itu, yang ia sebut sebagai

sebuah kekaburan validitas sumber sejarah. Salah satunya ketika mengutip sejumlah

pertanyaan krusial yang dilontarkan oleh an-Nasyar, bahwa apakah nama Mu’tazilah

itu timbul secara tiba-tiba? Atau nama itu timbul pada majlis Hasan al-Bashri? Atau

juga, karena kaum muslimin dan Ahl As-Sunnah wa al-Jama’ah tidak menyukainya? Lebih dari semuanya, apakah nama itu merupakan perkembangan sejarah bagi

prinsip-prinsip tertentu yang lahir dan kajian ilmiah dan pergulatan pemikiran (mind) di sekitar nash-nash agama?21

Sirajudin Abbas, mengemukakan sekurangnya 4 sebab-sebab mengapa

kemudian kelompk ini dinamai Mu’tazilah. Salah satunya, ia menyebutkan bahwa

salah satu sebab yang bisa masuk akal adalah peristiwa Wasil bin ‘Atha saat berbeda

pendapat dengan gurunya, lalu ia menyisihkan diri.

Tetapi memang poros dari kata Mu’tazilah adalah menyisihkan atau

mengasingkan diri. Ahmad Amin dalam bukunya Fajr al-Falah bahwa banyak pendapat bahwa Mu’tazilah yang menyisihkan diri dari majelis guru, dari masyarakat,

tidak suka pakaian mewah, adalah tidak benar adanya, tetapi lebih subtantif dari itu

(11)

adalah bahwa Mu’tazilah menyisihkan diri dari paham dan itikad umat Islam arus

utama saat itu.

Sementara paham teologi yang dikembangkan oleh Mu’tazilah dapat kita

identifikasi sebagai berikut. Pertama, bahwa Mu’tazilah menyetujui bahwa Allah itu Esa, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Allah tidak berbentuk seperi makhluk. Tetapi

Allah tidak bersifat. Sirajuddin Abbas berpendapat bahwa bagi kaum Mu’tazilah,

Tuhan tidak mempunyai sifat. Tuhan mendengar dengan Zat-Nya, Tuhan melihat

dengan Zat-Nya dan Tuhan berkata dengan Zat-Nya.22

Golongan Mu’tazilah menolak segala sifat yang kadim. Menurut mereja,

Tuhan “mengetahui” dengan zat-Nya, “berkuasa” dengan zat-Nya, “hidup” dengan

zat-Nya: bukan dengan “mengetahui” atau “berkuasa” atau “hidup”, yang dianggap

sifat atau entitas yang kadim (ma’an) yang ada pada-Nya.23

Kedua, rasionalisasi. Kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa buruk dan baiknya ditentukan oleh aqal. Mana yang baik kata aqal baiklah dia dan mana yang buruk kata

aqal buruklah dia.24 Tetapi menurut Jamali Sahrodi, pemikiran rasional Mu’tazilah

hanya terikat pada al-Qur’an dan hadits mutawatir atau minimal hadits yang

diriwayatkan oleh 20 sanad. Al-Qur’an adalah makhluk Allah dan diungkapkan dalam

huruf atau suara yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. pada waktu, tempat

dan bahasa tertentu. Ayat-ayat-Nya yang menyebutkan tangan, wajah, mata Tuhan

dan yang seperti itu hendaklah dipahami secara metaforis. Selain itu menurut mereka,

Tuhan hanya berbuat baik dan mesti berbuat baik sebagai kewajiban-Nya untuk

(12)

kepentingan manusia. Ia tidak bisa dilihat dengan mata jasmani, bahkan saja di dunia,

juga di akhirat. Manusia dalam pandangan mereka mempunyai kemampuan yang

cukup untuk mengetahui dengan akalnya kewajiban untuk bersyukur kepada Tuhan

dan mengamalkan kebaikan. Manusia memiliki kemauan bebas dan kebebasan

bertindak; dan terhadap kebebasannya itu Tuhan akan mengadilinya nanti di akhirat.25

Ketiga, soal pendosa besar. Persoalan ini dapat dilacak dari keyakinan Wasil bin ‘Atha bahwa orang mukmin yang mengerjakan dosa besar dan mati atas dosanya

tidak lagi mukmin dan tidak pula kafi tetapi di antara kafir dan mukmin. Inilah yang

kemudian dikenal dengan jargon al-Manzilah bain al-Manzilatain.

Selain tiga pokok paemahaman teologi Mu’tazilah di atas, menurut Sirajuddin

Abbas, bahwa Mu’tazilah juga menolak adanya mi’raj Nabi Muhammad Saw, ‘asry,

malaikat Raqib dan Atid, tak ada timbangan amal, hisab, syafa’at, azab kubur, dan

lain-lain. Sedangkan al-Syahrastani mengatakan, bahwa ketika seorang mukmin

meninggal dunia, taat kepada hukum Allah dan bertobat, ia berhak mendapatkan

pahala, tsawab, dan imbalan (iwadh), tetapi memberikan sesuatu yang melebihi atau melampaui pahala disebut tafadhdhaul.

B. Melacak Sumber Konflik dalam Teologi Islam

Di sini, saya ingin mencoba melacak sumber-sumber ketegangan dan konflik

dalam tubuh umat Islam dalam sejarah, terutama dalam teologi. Paling tidak ada dua

poin utama, yang kemudian ini menjadi sumber dan malapetaka tersendiri bagi umat

(13)

Islam sehingga banyak merugikan masyarakat dengan rentannya perpecahan dalam

tubuh umat Islam. Sebagai berikut:

Pertama, adalah eksklufivisme. Cara pandang tertutup, tidak terbuka. Maksudnya, hampir seluruh sekte teologi dalam Islam lahir akibat adanya sikap

ketertutupan yang mengarah kepada fanatisme. Dengan anggapan bahwa sekte

teologi saya-lah yang benar, sementara yang lain salah, bahkan kafir.

Salah satu penegasan tentang hal ini, sebagaimana dikemukakan oleh

Mohamad Hudaeri bahwa, Khawarij memandang bahwa kelompoknya yang

merupakan mu’min sejati, yakni anggota sah komunitas muslim sebenarnya. Mereka

memandang bahwa Ali, Mu’awiyah, Amr bin As, Abu Musa al-Asy’ari dan yang

lainnya yang menerima asbitrase (tahkim) adalah kafir karena telah berbuat salah dan

berbuat dosa, yakni dengan memutuskan suatu perkara bukan atas hukum Allah.26

Kedua, adalah politik praktis. Isyarat ini bisa kita lacak salah satunya pada Mu’tazilah, ketika mereka mempunyai gerakan Mihnah27, gerakan pemaksaan

doktrinasi dan ideologisasi. Maka, sejak Mu’tazilah dijadikan sebagai mazhab

Negara, selama kurang lebih 16 tahun, Mu’tazilah kehilangan inklusivitas, mereka

justru merambah pada wilayah politik praktis untuk memaksakan semua gagasan

teologinya kepada masyarakat.

Jamali Sahrodi mengatakan, bahwa kelompok Mu’tazilah berhasil

mempengaruhi khalifah al-Ma’mun, agar gagasan al-Qur’an itu makhluk

26 Mohamad Hudaeri, ibid, h. 359.

27 Secara etimologi Mihnah berarti mencoba, menguji, memeriksa. Gerakan ini memiliki misi untuk

(14)

disebarluaskan ke seluruh pelosok negeri, dan sebaiknya menjadi anutan seluruh

anggota masyarakat. Untuk mewujudkan hal tersebut harus diterapkan lebih dahulu

kepada para ulama pikih, ahli hadits, pejabat, dan pegawai pemerintahan serta para

pemuka masyarakat lainnya. Sebab, mereka adalah elemen yang berpengaruh di

masyarakat, apalagi hal ini berkaitan dengan aqidah. Apabila ada yang berpendapat

al-Qur’an bukan makhluk, tetapi qadim orang itu telah dianggap syirik.28

C. Rekontrusksi dan Kontekstualisasi Teologi Islam

Rekonstruksi dan kontekstualisasi teologi Islam adalah niscaya. Ia adalah cara

pandang baru dalam menatap dunia yang baru yang berjalan dinamis. Rekonstruksi

diperlukan bukan untuk memberangus paham teologi masing-masing aliran, akan

tetapi ia lebih kepada membangun ulang dengan ada sipirit penyesuaian, terutama

dalam berbagai distorsi yang ada dalam sejarah.

Atas dasar itulah maka Said Aqiel Siradj mengatakan, bahwa perbedaan di

luar itu hanyalah bersifat furu’iyyah. Oleh karena itu, berbagai diskusi mujadalah tidak perlu diperpanjang. Prinsip “ikhtilafu ummati rahmah” (perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat) harus dijadikan barometer dalam menyikapi beberapa

kontroversi tersebut.29

Begitu juga kontekstualisasi amat diperlukan dalam rangka penyesuaian

konteks ruang dan waktu terhadap konteks kekinian, bahkan masa depan. Bahwa

(15)

berbagai paham itu berbeda adalah tidak terlepas daripada faktor ruang dan waktu

dimana pemahaman itu lahir dan mengemuka.

Maka ikhtiar menuju rekonstruksi dan kontekstualisasi itu beberapa di

antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, membangun sikap keterbukaan (inklusivisme). Cara pandang kita harus terbuka, terbuka dalam arti siap menerima apapun perbedaan yang ada.

Konsekeuensi dari inklusivisme adalah bersedia duduk bersama sebagai saudara.

Alhasil dari sikap inkusif ini, semua ragam teologi dalam Islam pada hal aqidah bisa

saja berbeda paham sesuai dengan keyakinan masing-masing, tetapi dalam aspek

pokok seperti bahwa Allah itu Esa, Mahakuasa, dan seterusnya adalah sama dan

sepaham. Maka yang dikedepankan adalah titik temu bukan titik beda, apalagi timbul

titik tengkar.

Kedua, membangun dialog persaudaraan. Dialog mendorong berbagai pihak untuk bersikap terbuka dan jujur dengan pemahaman masing-masing. Dialog bisa

meminimalisir sikap saling curiga dan memusuhi. Dengan dialog juga, orang per

orang dapat saling mengenal, satu sama lain mengenal karakternya masing-masing.

Maka, dialog itu akan membuahkan satu prinsip, jika ada prestasi saling

mengapresiasi, jika ada distorsi saling menasehati dan melengkapi.

Keempat, membangun apresiasi intelektual. Masing-masing aliran memiliki perbedaan. Perbedaan yang berujung pada konflik adalah akibat tidak memahami alur

intelektual yang berkembang. Maka, di antara masing-masing aliran teologi Islam

(16)

apresiasi intelektual. Karena ujung pangkal dari perbedaan adalah persoalan cara

pandang.

Kelima, menjalin kerja sama sosial-masyarakat. Ini adalah ikhtiar konkrit yang mesti dimasifkan. Bahwa problem kemiskinan, kebodohan, dan problem

kemanusiaan lainnya merupakan problem bersama yang mesti diselesaikan bersama.

Maka kerja sama sosial-mayarakat ini dapat merekatkan solidaritas dan kesejahteraan

sosial.

Atas ikhtiar rekonstruksi dan kontekstualisasi di atas, kiranya sipirit sejarah

teologi Islam lampau bisa menjadi amunisi untuk mencetak kembali kejayaan umat

Islam. Dari Khawarij, kita bisa belajar tentang militansi, dari Murji’ah kita bisa

belajar moderasi, dari Mu’tazilah kita bisa belajar rasionalisasi. Saya yakin jika ketiga

spirit yang menjadi cirri khas masing-masing aliran ini digabungkan maka akan

(17)

BAB III PENUTUP

Dari awal hingga akhir pembahasan ini, kita akan sadar bahwa perbedaan

dalam pluralitas adalah anugerah dan kekayaan tersendiri. Termasuk, perbedaan pada

ragam aliran teologi dalam Islam, bahwa Khawarij, Murji’ah, dan Mu’tazilah adalah

berbeda tetapi semuanya adalah saudara sesama Islam.

Sejarah panjang ketiga aliran teologi Islam itu dapat memberikan gambaran

sekaligus pelajaran kepada kita yang hidup di zaman modern, bahwa jangan sampai

sisi kelam masa itu jangan sampai kita warisi, tetapi mari kita jadikan spirit untuk

semakin memperbaiki kualitas diri dan masyarakat menuju kesetaraan dan keadilan

sosial.

Saya sendiri berharap, jika sekarang dan masa depan kehidupan umat Islam

akan semakin maju. Asalkan, tetap menghargai perbedaan—sebagai titik beda—dan

(18)

Daftar Pustaka

Al-Syahrastani. 2004. al-Milal wa al-Nihal: Aliran-aliran Teologi dalam Islam. Terjemahan Syuaidi Asy’ari. Bandung: Mizan.

Jamali Sahrodi. 2009. Pengantar Falsafah Kalam. Cetakan ke-2. Cirebon: CV. Pangger.

Harun Nasution. 1986. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI Press.

Mohamad Hudaeri. 2005. Relasi Kuasa Teologi Murji’ah dan Bani Umayah. Serang: Jurnal al-Qalam P3M IAIN Hasanuddin, vol. 22 No. 3, h. 362.

Sirajuddin Abas. 1995. I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah. Jakarta: Cetakan ke-20. Pustaka Tarbiyah.

Said Aqiel Siradj. 2009. Tasawuf sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi. Cetakan ke-2. Jakarta: Yayasan Khas. W. Montgomery Watt. 1987. Islamic: Philosophy and Theology. Universitas Press.

(19)

KHAZANAH PEMIKIRAN TEOLOGI ISLAM:

PERSPEKTIF KHAWARIJ, MURJI’AH, DAN MU’TAZILAH

MAKALAH

Untuk Mata Kuliah Sejarah Pemikian dan Peradaban Islam Dosen Pengampu: Dr. H. Ahmad Asmuni, MA

Disusun oleh:

MUHAMAD HAERUDIN

14126110049

Program Pascasarjana

(20)

Referensi

Dokumen terkait

Perangkat lunak Kriptografi Modifikasi Algoritma Vigenere Cipher untuk Pengamanan Pesan Rahasia dapat menggunakan kunci berlapis 3 dan menginput 46 karakter yg ada

Kegiatan dan aktivitas yang terjadi dalam perusahaan akan berjalan dengan baik, jika perusahaan hendaknya menetapkan anggaran dengan memisahkan antara biaya-biaya yang

Volume sampel yang kecil dapat menyebabkan reprodusibilitas menurun pada saat penginjeksian singkat dan laju alirnya tinggi, sehingga dapat disimpulkan bahwa apabila laju

Ketekunan pengamatan disini bermaksud untuk menemukan ciri- ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persoalan pelaksanaan konseling spiritual yang

Pada hakikatnya menurut Alma dalam Hurriyati (2008), promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran yang merupakan aktivitas pemasaran yang merupakan aktivitas

Hakikat utama dari pendidikan adalah bertujuan mendewasakan anak didik, sehingga seorang pendidik dituntut sebagai manusia yg telah dewasa mental dan jasmaninya karena

Dari data obervasi yang telah dilakukan kelas B memiliki tingkat keaktifan dan prestasi yang rendah dimungkinkan karena model yang diberikan oleh guru kepada peserta

Untuk itu, melalui Seminar Nasional ini pendidikan bahasa dan sastra dapat memberikan andil dalam mewujudkan perubahan mental secara cepat generasi muda harapan masa