• Tidak ada hasil yang ditemukan

ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB VI PEMBAHASAN. pemberian ASI eksklusif adalah suatu program yang diperuntukkan untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ADLN-PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA BAB VI PEMBAHASAN. pemberian ASI eksklusif adalah suatu program yang diperuntukkan untuk"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Pemberian ASI Eksklusif

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Tuban adalah 51,3%. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa perilaku ibu terhadap pemberian ASI eksklusif cenderung baik, namun jika dibandingkan dengan indikator Indonesia Sehat 2010, masih sangat jauh. Cakupan pemberian ASI eksklusif ditetapkan adalah 80%, didasarkan pada perbandingan jumlah ibu yang memberikan ASI secara eksklusif sampai pada 0-6 bulan, dengan jumlah ibu yang mempunyai bayi umur 0-1 tahun di suatu daerah. Program pemberian ASI eksklusif adalah suatu program yang diperuntukkan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif pada ibu yang menyusui.

Secara regulasi ketentuan tersebut tertuang dalam Kepmenkes RI No.450/MENKES/IV/2004 tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi Indonesia. Program Peningkatan Pemberian ASI (PP-ASI) khususnya ASI eksklusif mempunyai dampak yang luas terhadap status gizi ibu dan bayi. Pencapaian program ASI eksklusif tidak dapat terlaksana dengan sendirinya, namun didasarkan pada perilaku pemberian ASI eksklusif oleh ibu itu sendiri.

Pemberian ASI eksklusif yang masih rendah ternyata disebabkan berbagai faktor, salah satunya adalah rendahnya pengetahuan ibu tentang manfaat ASI bagi bayi dan ibu. Selain itu, kurangnya kepedulian dan dukungan suami, keluarga dan

(2)

masyarakat untuk memberikan kesempatan kepada ibu untuk menyusui secara eksklusif (Supari, 2006; Kuntari dan Rachmawati, 2006).

Beberapa penelitian mengemukakan bahwa ada pengaruh karakteristik ibu terhadap pemberian ASI eksklusif, misalnya penelitian Salfina (2003) bahwa 75,6% ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif adalah ibu dengan pendidikan tamat SD, dan berstatus sebagai pekerja lepas (buruh). Selain itu 13,33% masih mengemukakan ASI tidak bermanfaat terhadap bayinya, dan 23,02% masih membuang kolostrumnya.

6.2 Pengaruh Karakteristik (Pendidikan, Pekerjaan) Responden Terhadap Pe mberian ASI Eksklusif

6.2.1 Pengaruh Pendidikan Responden Te rhadap Pembe rian ASI Eksklusif

Pendidikan dalam penelitian ini adalah jenjang pendidikan formal yang ditempuh oleh ibu yang mempunyai bayi sampai memperoleh ijazah yang sah. Setelah dilakukan analisis statistik dengan uji regresi logistik menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pendidikan terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di Kabupaten Tuban (p>0,05), artinya bahwa pendidikan formal ibu tidak berpengaruh terhadap tindakan nyata ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya sampai usia 6 bulan. Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian Salfina (2003) dalam penelitiannya mengatakan bahwa 75,6% ibu yang tidak memberikan ASI eksklusif adalah ibu dengan pendidikan tamat SD. Karena dalam penelitian ini responden yang tidak memberikan ASI eksklusif justru paling banyak adalah responden dengan pendidikan SMA/sederajat (8 orang).

(3)

Menurut Hidayat (2005) bahwa pendidikan merupakan penuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupan yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi, sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Juga menurut Notoadmodjo (2010) sebagaimana umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang semakin mudah mendapatkan informasi dan akhirnya mempengaruhi perilaku seseorang. Namun dalam penelitian ini secara statistik pendidikan responden tidak berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. Hal ini dimungkinkan karena meskipun sebagian besar responden memiliki pendidikan SMA/sederajat (13 orang), bukan berarti responden juga mempunyai pengetahuan yang baik. Karena pengetahuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pengetahuan yang spesifik, yaitu pengetahuan tentang ASI eksklusif. Bukan pengetahuan secara umum. Sehingga belum tentu responden dengan pendidikan tinggi mempunyai pengetahuan yang baik juga tentang ASI eksklusif, yang dapat berpengaruh terhadap perilaku responden untuk memberikan ASI eksklusif.

6.2.2 Pengaruh Pekerjaan Responden Terhadap Pembe rian ASI Eksklusif

Pekerjaan dalam penelitian ini adalah aktivitas rutin yang dilakukan ibu yang mempunyai bayi guna memperoleh pendapatan. Berdasarkan hasil analisis dengan uji regresi logistik menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh pekerjaan responden terhadap pemberian ASI eksklusif. Hasil penelitian Salfina (2003), bahwa 59,7% ibu yang bekerja hanya memberi ASI 4 kali dalam sehari, sementara jika pada waktu siang hari diberikan susu formula oleh keluarga atau pengasuhnya.

Demikian juga dengan penelitian Mardeyanti (2007), bahwa 60% ibu yang bekerja tidak patuh memberikan ASI eksklusif. Hasil penelitian ini tidak sesuai

(4)

dengan kedua hasil penelitian tersebut karena secara proporsi responden yang bekerja hanya 36% sedangkan responden yang tidak bekerja sebesar 64%. Hal ini berarti tidak ada perbedaan dalam pemberian ASI eksklusif antara responden yang bekerja dan responden yang tidak bekerja, karena responden yang tidak bekerja memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan ASI eksklusif sedangkan responden yang bekerja dapat menyediakan ASI eksklusif cadangan di rumah. Hal ini sesuai dengan pendapat Roesli (2005) bahwa bekerja bukan alasan untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif merupakan hal yang terbaik bagi bayi. Hal ini didukung oleh bukti secara alamiah bahwa bayi yang diberi ASI eksklusif akan lebih sehat. Bayi yang tidak diberi ASI eksklusif akan 3 kali lebih sering dirawat daripada bayi yang diberi ASI eksklusif. Ini berarti bayi yang diberi ASI eksklusif lebih jarang dibawa ke dokter sehingga ibu lebih jarang meninggalkan perkerjaan.

Pasal 83 UU No. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan menyatakan bahwa buruh/pekerja perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja. Kesempatan yang patut yang dimaksud adalah waktu yang diberikan kepada pekerja untuk menyusui bayinya, serta ketersediaan tempat yang sesuai untuk melakukan kegiatan tersebut. Undang-undang tersebut belum didukung oleh adanya peraturan daerah tentang pelaksanaan PP-ASI. Program ini baru sampai pada tahap sosialisasi Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

(5)

6.3 Pengaruh Pengetahuan Responden Terhadap Pemberian ASI Eksklusif

Pengetahuan dalam penelitian ini adalah segala sesuatu yang ibu ketahui tentang ASI eksklusif, manfaat ASI eksklusif dan cara pemberian ASI eksklusif. Setelah dilakukan analisis dengan uji regresi logistik didapatkan hasil bahwa tidak ada pengaruh antara pengetahuan terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui di Kabupaten Tuban.

Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden mempunyai pengetahuan cukup (32 orang), 50% diantaranya (16 orang) memberikan ASI eksklusif sedangkan 50% (16 orang) tidak memberikan ASI eksklusif. Kondisi ini secara konsep berarti masyarakat cukup memahami pengertian dan maksud dari program ASI eksklusif. Akan tetapi dalam penelitian ini secara statistik pengetahuan responden tidak berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. Hal ini mungkin terjadi karena tidak semua responden yang memiliki pengetahuan akan diwujudkan ke dalam suatu tindakan. Karena suatu tindakan akan terwujud jika responden memiliki keinginan untuk melakukan tindakan tersebut. Misalnya saja, jika responden telah sejak sebelum melahirkan tidak ingin memberikan ASI eksklusif kepada bayinya dengan alasan takut payudara kendur, maka responden tersebut akan tetap tidak memberikan ASI eksklusif walaupun responden tersebut tahu resiko apa yang terjadi pada bayinya jika tidak diberikan ASI eksklusif.

6.4 Pengaruh Sikap Responden Terhadap Pemberian ASI Eksklusif

Sikap dalam penelitian ini adalah tanggapan responden terhadap cara dan manfaat pemberian ASI secara eksklusif. Setelah dilakukan analisis dengan uji regresi logistik menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara sikap ibu menyusui

(6)

terhadap pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Tuban dengan nilai OR atau Exp (B) = 10,000 yang artinya bahwa responden dengan sikap baik kemungkinan memberikan ASI eksklusif 10 kali lebih besar dibandingkan responden dengan sikap cukup.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki sikap baik (27 orang), sebanyak 66,7% (18 orang) memberikan ASI eksklusif dan 33,3% (9 orang) tidak memberikan ASI eksklusif. Kondisi ini akan memberikan kontribusi terhadap tindakan pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui, artinya dilihat dari aspek sikap menunjukkan sikap yang baik, sehingga akan berdampak terhadap keinginan ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Menurut Allport (1954) yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010), bahwa sikap adalah kecenderungan untuk bertindak

(tend to behave) yang artinya sikap adalah merupakan komponen yang mendahului

Referensi

Dokumen terkait

menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara peran kelompok pendukung ibu dengan keputusan ibu untuk menyusui (p=0,611) dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif

Eunike Seidy Mogonta, 462012087, Hubungan Pengetahuan Ibu menyusui tentang ASI eksklusif dengan Pemberian ASI eksklusif di Dusun Plalar Kulon Desa Kopeng, Skripsi,

Akibat ketidaktahuan ibu menyusui terhadap manfaat pemberian ASI eksklusif tersebut, maka akan banyak ibu-ibu yang kurang bahkan tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya

menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara peran kelompok pendukung ibu dengan keputusan ibu untuk menyusui (p=0,611) dan keberhasilan pemberian ASI eksklusif

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu menyusui tentang ASI terhadap pemberian ASI Eksklusif di Desa Tajuk Kecamatan Getasan

hubungan yang signifikan antara pekerjaan ibu menyusui dengan lama pemberian

Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel independen yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada ibu menyusui adalah dukungan emosional.pada pemodelan akhir didapatkan 1

Faktor Sikap dengan Pemberian ASI Eksklusif Ibu Menyusui di wilayah Puskesmas Buhit Samosir Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4 dijelaskan bahwa ibu yang memberikan ASI Eksklusif