10
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A. Kajian Pustaka
1. Pengertian PPN
Menurut Waluyo (2011:9) , “Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak
yang dikenakan atas konsumsi barang dan jasa di dalam negeri (di dalam Daerah Pabean) oleh orang pribadi atau badan”. Menurut Untung Sukardji (2010:1), karakteristik PPN adalah :
a. PPN merupakan pajak tidak langsung.
Suatu jenis pajak yang beban pajaknya dapat dilimpahkan kepada pihak lain. Kedudukan penanggung jawab pemungutan dan penyetoran pajak dengan kedudukan pemikul beban pajak berbeda.
b. PPN merupakan pajak objektif.
Kewajiban pajak di bidang PPN sangat ditentukan oleh adanya objek. Karakteristik PPN sebagai pajak objektif menimbulkan dampak regresif. Untuk mengurangi regresivitas PPN, maka dikenakanlah PPnBM.
c. PPN bersifat multistage level.
PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi dan jalur distribusi barang kena pajak atau jasa kena pajak.
Nilai Tambah (Value Added), adalah suatu nilai yang merupakan penjumlahan biaya produksi atau distribusi yang meliputi penyusutan, bunga modal, gaji yang dibayarkan, sewa telepon, listrik dan pengeluaran lainnya serta laba yang diharapkan. Maka, pada metode ini harus dicari selisih antara pajak yang dibayar saat pembelian dengan pajak yang dipungut saat penjualan.
e. PPN sebagai pajak atas konsumsi dalam negeri penyerahan Barang Kena
Pajak atau Jasa Kena Pajak dilakukan atas kosumsi dalam negeri.
Oleh karena itu, komoditi impor dikenakan PPN dengan presentase sama dengan produk domestik. Sebagai pajak atas konsumsi sebenarnya, tujuan akhir PPN adalah mengenakan pajak atas pengeluaran untuk konsumsi, baik yang dilakukan perseorangan maupun oleh badan baik badan swasta maupun badan Pemerintah dalam belanja barang atau jasa yang dibebankan pada
anggaran belanja negara. Karena konsumen tidak semata-mata
mengkonsumsi jasa, agar beban pajak yang dipikul oleh konsumen dapat dihitung dengan baik, PPN dikenakan pada konsumsi atas barang dan jasa.
2. Objek PPN dan Non Objek PPN
Menurut Pasal 4 UU No.42 Tahun 2009, yang menjadi Objek PPN dan Non Objek PPN adalah sebagai berikut :
a. Objek Pajak Pertambahan Nilai dikenakan atas :
1) Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) di dalam Daerah Pabean yang
2) Impor Barang Kena Pajak.
3) Penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean yang
dilakukan oleh Pengusaha.
4) Pemanfaatan Barang Kena Pajak (BKP) Tidak Berwujud dari luar
Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
5) Pemanfaatan Jasa Kena Pajak (JKP) dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean.
6) Ekspor BKP Berwujud dan Tidak Berwujud oleh Pengusaha Kena Pajak.
7) Ekspor Jasa Kena Pajak (JKP) oleh Pengusaha Kena Pajak.
8) Kegiatan membangun sendiri yang dilakukan tidak dalam kegiatan usaha
atau pekerjaan oleh orang pribadi atau badan yang hasilnya digunakan sendiri atau oleh pihak lain, untuk tempat tinggal atau tempat usaha.
9) Penyerahan aktiva oleh PKP yang menurut tujuan semula aktiva tersebut
tidak untuk diperjualbelikan, kecuali atas penyerahan aktiva yang pajak masukannya tidak dapat dikreditkan.
b. Yang bukan menjadi objek Pajak Pertambahan Nilai antara lain :
1) Barang yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai :
a) Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran, yang diambil
langsung dari sumbernya.
b) Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh
rakyat banyak.
c) Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah
minuman baik yang dikonsumsi di tempat atau tidak, tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau catering.
d) Uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.
2) Jasa yang tidak dikenakan Pajak Pertambahan Nilai :
a) Jasa di bidang pelayanan kesehatan medis, contohnya : jasa
dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dokter hewan, akupunktur, ahli gizi, ahli gigi, fisioterapi, kebidanan dan dukun bayi, paramedis dan perawat, rumah sakit, rumah bersalin, klinik kesehatan, laboratorium kesehatan, dan sanatorium.
b) Jasa di bidang pelayanan sosial, contohnya : jasa pelayanan panti
asuhan dan panti jompo, jasa pemadam kebakaran, jasa
pemberian pertolongan pada kecelakaan, jasa lembaga
rehabilitasi, jasa pemakaman termasuk crematorium, jasa di bidang olahraga.
c) Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko.
d) Jasa perbankan, contohnya : jasa consumer credit, credit card, dan
debit card serta jasa settlement dan jasa corporate actions.
e) Jasa di bidang asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi.
f) Jasa di bidang keagamaan.
g) Jasa di bidang pendidkan.
h) Jasa di bidang kesenian dan hiburan.
j) Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air.
k) Jasa di bidang tenaga kerja meliputi, jasa tenaga kerja dan jasa
penyedia tenaga kerja.
l) Jasa di bidang perhotelan.
m) Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan
pemerintahan secara umum.
n) Jasa penyediaan tempat parkir.
o) Jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam.
p) Jasa pengiriman uang dengan wesel pos.
q) Jasa boga atau catering.
3. Dasar Pengenaan Pajak
Untuk menghitung besarnya pajak yang terutang, diperlukan adanya Dasar Pengenaan Pajak (DPP). Pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Dasar Pengenaan Pajak.
Dasar Pengenaan Pajak adalah jumlah Harga Jual atau Penggantian atau Nilai Impor atau Nilai Ekspor atau Nilai Lain yang ditetapkan Undang-undang Pasal 1 No.42 Tahun 2009 yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang dimana :
a. Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau
seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut undang-undang PPN dan PPnBM dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.
b. Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh Pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari Luar daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.
c. Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea
masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut menurut Undang-undang.
d. Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta
atau seharusnya diminta oleh eksportir.
e. Nilai Lain sebagai DPP adalah nilai yang diterapkan oleh Keputusan Menteri
Tabel 2.1.
Jenis Penyerahan yang termasuk Nilai Lain
NO JENIS PENYERAHAN NILAI LAIN
Diatur dalam PMK No.75/PMK.03/2010 stdd PMK No.38/PMK.011/2013
1 Pemakaian sendiri dan pemberian
cuma-cuma BKP dan atau JKP
Harga jual atau penggantian setelah dikurangi laba kotor
2 Penyerahan media rekaman suara
atau gambar
Perkiraan harga jual rata-rata
3 Penyerahan film cerita Perkiraan hasil rata-rata per judul
film
4 Penyerahan produk hasil tembakau Harga jual eceran
5 Persediaan BKP yang masih tersisa
pada saat pembubaran perusahaan
Harga pasar wajar
6 Penyerahan BKP dan atau JKP dari
Pusat ke Cabang atau sebaliknya dan penyerahan BKP dan atau JKP antar cabang
Harga pokok penjualan/harga perolehan
7 Penyerahan BKP melalui pedagang
perantara
Harga yang disepakati antara
pedagang perantara dengan pembeli
8 Penyerahan BKP melalui juru
lelang
9 Jasa pengiriman paket 10% dari jumlah yang ditagih atau jumlah yang seharusnya ditagih
10 Penyerahan jasa biro perjalanan
atau jasa biro pariwisata
10% dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih
11 Penyerahan emas perhiasan
termasuk penyerahan jasa
perbaikan dan modifikasi emas perhiasan serta jasa-jasa lain yang berkaitan dengan emas perhiasan, yang dilakukan oleh pabrikan emas perhiasan
20% dari harga jual emas perhiasan atau nilai penggantian
12 Penyerahan jasa pengurusan
transportasi (freight forwarding)
yang didalam tagihan jasa
pengurusan transportasi tsb terdapat biaya transportasi (freight charge)
10% dari jumlah yang ditagih atau seharusnya ditagih
Diatur dalam PMK No.102/PMK.011/2011
13 Aatas pemanfaatan BKP Tidak
Berwujud film cerita impor dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) per copy film cerita impor
14 Atas penyerahan film cerita impor oleh importir kepada Pengusaha bioskop
Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) per copy film cerita impor
Sumber : Data Formasi
4. Saat Terutangnya PPN
Menurut pasal 11 UU No.42 Tahun 2009, saat terutangnya PPN pada saat :
a. Penyerahan Barang Kena Pajak
Terutangnya PPN atas penyerahan BKP dapat terjadi sebagai berikut :
1) Pada saat dilakukan penyerahan BKP
PPN terutang pada saat barang diserahkan oleh penjual kepada pembeli, meskipun pembayaran atas penyerahan barang tersebut belum diterima atau belum sepenuhnya diterima, sehingga saat pemungutan PPN dan PPnBM menganut prinsip akrual.
2) Pada saat pembayaran sebelum penyerahan BKP
PPN juga dapat terutang pada saat pembayaran, apabila dalam hal pembayaran diterima sebelum terjadi penyerahan BKP atau sebelum penyerahan JKP, atau apabila pembayaran dilakuakn sebelum dimulainya pemanfaatn BKP Tidak Berwujud atau JKP dari luar Daerah Pabean, saat terutangnya pajak adalah pada saat pembayaran.
Terutangnya PPN juga dapat terjadi dengan ditetapkan oleh Dirjen Pajak apabila saat terutangnya pajak sulit ditetapkan atau terjadi menurut perubahan ketentuan yang dapat menimbulkan ketidakadilan.
b. Impor Barang Kena Pajak
Terutangnya impor BKP adalah saat impor BKP dilakukan, yaitu saat Pemberitahuan Impor Barang (PIB) ditandatangani, sehingga saat pemungutan PPN dan PPnBM dilakukan oleh Direktorat Bea dan Cukai sesuai saat PIB ditandatangani.
c. Penyerahan Jasa Kena Pajak
Terutangnya PPN atas JKP adalah pada saat penyerahan JKP dilakukan, meskipun pembayaran atas penyerahan tersebut belum diterima atau belum sepenuhnya diterima, sehingga saat pemungutan PPN dan PPnBM menganut prinsip akrual.
d. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari Luar Daerah Pabean
Terutang PPN atas BKP Tidak Berwujud dari Luar Daerah Pabean di Dalam Daerah Pabean adalah pada saat BKP Tidak Berwujud tersebut dimanfaatkan oleh PKP, yaitu pada saat terjadinya penyerahan tidak berwujud tersebut.
e. Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari Luar Daerah Pabean
Terutangnya PPN atas JKP dari luar Daerah Pabean di dalam daerah Pabean adalah pada saat pemanfaatan JKP dari luar daerah Pabean, yaitu pada
f. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud, Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak
Terutangnya PPN pada ekspor adalah pada saat ekspor dilakukan, yaitu pada saat dokumen PEB ditandatangani.
5. Tarif Pajak Pertambahan Nilai
Menurut pasal 7 UU No.42 Tahun 2009, “Tarif Pajak Pertambahan Nilai
adalah 10% (sepuluh persen)”. Sedangkan “Tarif Pajak Pertambahan Nilai
sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas ekspor Barang Kena Pajak Berwujud,
ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dan ekspor Jasa Kena Pajak”. Serta
“Tarif Pajak Pertambahan Nilai dapat diubah menjadi paling rendah 5% (lima persen) dan paling tinggi 15% (lima belas persen) yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah”.
6. Pengkreditan Pajak Masukan
Menurut Undang-undang PPN No.42 Tahun 2009 Pasal 1, “Pajak Masukan
adalah PPN yang seharusnya sudah dibayar oleh PKP berkaitan dengan perolehan Barang Kena Pajak, penerimaan Jasa Kena Pajak, pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean, pemanfaatan Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean dan Impor Barang Kena Pajak”.
Pajak Masukan yang seharusnya sudah dibayar ketika memperoleh Barang Kena Pajak tersebut diperlakukan sebagai kredit pajak terhadap Pajak Keluaran. Pajak Masukan dalam suatu masa pajak dikreditkan dengan Pajak Keluaran untuk
masa yang sama. Berbagai permasalahan dalam pengkreditan Pajak Masukan, antara lain :
a. Belum terdapat Pajak Keluaran
Menurut UU No.42 Tahun 2009 pasal 9 ayat (2a) bahwa “Bagi Pengusaha Kena Pajak yang belum berproduksi sehingga belum melakukan penyerahan yang terutang pajak, Pajak Masukan atas perolehan dan/atau impor barang modal dapat dikreditkan”. Maka dapat disimpulkan, PKP yang belum melakukan penjualan ataupun penyerahan BKP/JKP dalam hal ini PKP tersebut merupakan perusahaan yang baru berdiri, maka Pajak Masukan yang telah dibayar pada saat perolehan JKP/BKP tetap dapat dikreditkan.
b. Pengkreditan pada masa yang tidak sama
Apabila Pajak Masukan tidak dapat dikreditkan pada masa yang sama, maka Pajak Masukan tersebut dapat dikreditkan sampai dengan tiga bulan dari masa yang seharusnya sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.
c. Penyerahan BKP yang terutang dan tidak terutang pajak
Perlakuan Pajak Masukan oleh PKP yang melakukan
penjualan/penyerahan BKP yang terutang PPN atau tidak terutang PPN dapat dibedakan menjadi :
1) Diketahui secara pasti
Pengusaha Kena Pajak yang dalam suatu masa pajak melakukan penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang pajak, maka Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah berkenaan dengan
penyerahan BKP atau JKP yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuan Pengusaha Kena Pajak.
2) Tidak dapat diketahui secara pasti
Pengusaha Kena Pajak yang menggunakan Barang Modal untuk kegiatan usaha yang menghasilkan BKP dan/atau JKP yang atas penyerahannya terutang PPN dan kegiatan lain yang tidak terutang PPN dan/atau dibebaskan dari pengenaan PPN dapat mengkreditkan Pajak Masukan atas perolehan barang modal tersebut, yang besarnya sebanding dengan persentase penggunaan barang modal yang digunakan utnuk kegiatan usaha yang menghasilkan BKP dan/atau JKP, yang atas penyerahannya terutang PPN. Pajak Masukan yang telah dikreditkan dari PKP yang melakukan penyerahan BKP yang terutang PPN dan tidak terutang PPN dapat berasal dari Pajak Masukan penggunaan barang modal dan Pajka Masukan penyerahan BKP.
7. Pajak Masukan yang Tidak Dapat Dikreditkan
Pengkreditan Pajak Masukan menurut UU No.42 Tahun 2009 pasal 9 ayat (8), tidak dapat diberlakukan bagi pengeluaran untuk :
a. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak sebelum Pengusaha
dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
b. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang tidak mempunyai
c. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan.
d. Pemanfaatan Brarang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean sebelum Pengusaha dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.
e. Dihapus.
f. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Faktur Pajaknya
tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat (5) atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli Barang Kena Pajak atau penerima Jasa Kena Pajak.
g. Pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau pemanfaatan Jasa
Kena Pajak dari luar Daerah Pabean yang Faktur Pajaknya tidak memenuhi ketentuan.
h. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya
ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak.
i. Perolehan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak yang Pajak Masukannya
tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, yang ditemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan.
j. Perolehan Barang Kena Pajak selain barang modal atau Jasa Kena Pajak
sebelum Pengusaha Kena Pajak berproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2a).
8. Dokumen yang Terkait dengan Pajak Pertambahan Nilai
Menurut Waluyo (2011:84), “faktur pajak adalah faktur yang dapat
digunakan sebagai bukti pemungutan pajak sebagai sarana untuk mengkreditkan pajak masukan”. Menurut pasal 13 ayat 5 UU PPN dan PPnBM, faktur pajak harus memuat keterangan-keterangan tentang penyerahan BKP /JKP, anatara lain :
1) Nama, alamat, dan NPWP yang menyerahkan BKP/JKP.
2) Nama, alamat, dan NPWP pembeli BKP atau penerima JKP.
3) Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan
harga.
4) Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut.
5) Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut.
6) Kode, nomer seri, dan tanggal pembuatan faktur pajak.
7) Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani faktur pajak.
Menurut PER-24/PJ/2012, faktur pajak harus dibuat paling lambat :
1) Saat penyerahan BKP dan/atau JKP.
2) Saat penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi
sebelum penyerahan BKP dan/atau sebelum penyerahan JKP.
3) Saat penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagian tahap
pekerjaan.
4) Saat PKP rekanan menyampaikan tagihan kepada Bendahara Pemerintah
Gambar 2.1. Faktur Pajak
Menurut UU PPN No.42 Tahun 2009 pasal 15 ayat 1, “Penyetoran PPN dilakukan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan”. Keterlambatan atas penyetoran PPN akan dikenakan denda sebesar 2% (dua persen) dari nilai yang terutang.
b. Surat Setoran Pajak
Surat Setoran Pajak (SSP) adalah surat yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang ke kas negara melalui Kantor Penerima Pembayaran. Dalam melakukan pembayaran PPN, WP mencantumkan jumlah yang akan dibayar dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP), yang berisi :
1) Identitas Wajib Pajak antara lain : NPWP, Nama WP, dan alamat WP.
2) MAP / Kode Jenis Pajak, Kode Setoran dan Uraian Pembayaran.
3) Masa dan Tahun Pajak.
4) Jumlah pembayarn baik dalam angka maupun terbilang.
5) Tempat dan waktu pembayaran.
Gambar 2.2. Surat Setoran Pajak (SSP)
c. Surat Pemberitahuan Masa (SPT Masa) PPN
SPT Masa PPN dan PPnBM merupakan sarana bagi PKP untuk melaporkan jumlah PPN dan PPnBM yang sebenarnya terutang serta melaporkan tentang :
1) Pengkreditan Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran.
2) Pembayaran atau pelunasan PPN terutang yang dilaksanakan sendiri atau
dipungut pihak lain dalam satu masa pajak.
3) Pemungutan dan penyetoran PPnBM atas penyerahan BKP yang tergolong
mewah.
4) Pemungutan dan penyetoran PPN dan PPnBM yang dilakukan oleh pemungut
PPN dan PPnBM.
Seiring dengan terbitnya 44/PJ/2010 stdd 11/PJ/2013 dan PER-45/PJ/2010 stdd PER-10/PJ/2013 terjadi perubahan dalam melakukan pengisian SPT Masa PPN. Terhitung sejak 1 Januari 2011, melalui PER-44/PJ/2010 stdd PER-11/PJ/2013 dinyatakan bahwa formulir 1107 dan 1108 secara resmi tidak dipergunakan lagi. Sebagai SPT Masa PPN yang baru, yaitu formulir 1111. Sementara dalam PER-45/PJ/2010 stdd PER-10/PJ/2013, disebutkan bahwa PKP yang menggunakan pedoman pengkreditan Pajak Masukan akan menggunakan formulir 1111 DM. Jenis formulir pelaporan yang digunakan SPT Masa PPN adalah :
a. Formulir 1111 yaitu formulir yang digunakan oleh PKP yang menggunakan
mekanisme Pajak Masukan dan Pajka Keluaran secara umum.
b. Formulir 1111 DM yaitu formulir yang digunakan oleh PKP yang
menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan (deemed) Pajak Masukan.
c. Formulir 1107 PUT yang dipergunakan oleh pihak-pihak tertentu yang ditunjuk menjadi Pemungut PPN (WaPu PPN) untuk melaporkan PPN dan PPnBM yang dipungutnya saat bertransaksi dengan rekanan.
Bentuk SPT beserta lampirannya bisa berupa formulir kertas (hard copy) atau
data elektrronik yang disampaikan dalam media elektronik atau melalui e-Filling.
SPT PPN dapat disampaikan oleh PKP dengan cara :
a. Manual
Penyampaian SPT dengan cara manual adalah penyampaian SPT yang
induk SPT-nya disampaikan dalam bentuk formulir kertas (hard copy),
sedangkan lampiran SPT disampaikan dalam bentuk hard copy atau dalam bentuk media elektronik. Penyampaian SPT secara manual dapat dilaksanakan melalui :
1) Langsung ke KPP tempat PKP dikukuhkan.
2) KP2KP setempat.
3) Melalui kantor pos secara tercatat.
4) Melalui perusahaan jasa ekspedisi.
5) Melalui perusahaan jasa kurir, ke KPP tempat PKP dikukuhkan atau
KP2KP-nya.
b. Elektronik
Penyampaian SPT PPN secara elektronik, yaitu melalui e-Filling, melalui
Perusahaan Penyedia Jasa Aplikasi (ASP). Dalam hal SPT disampaikan
yang telah disediakan oleh Dirjen Pajak dan induk SPT telah disampaikan
dalam bentuk hard copy.
SPT PPN merupakan SPT Masa, yang setiap masanya harus dilaporkan paling lambat akhir bulan berikutnya.
9. Jurnal yang Terkait dengan Pajak Pertambahan Nilai pada PT XYZ
Pada umumnya, pembayaran yang diterima oleh Perusahaan adalah satu bulan setelah penagihan sehingga pencatatan oleh perusahaan pada saat penjulan BKP/JKP yaitu :
(Dr) Account Receivable xxx
(Cr) Sales Income xxx
(Cr) VAT-Out xxx
Jika penerimaan pembayaran dari Bukan Pemungut Pajak :
(Dr) Bank/Cash xxx
(Cr) Account Receivable xxx
Perbedaan jurnal pelunasan piutang untuk transaksi ke Pemungut dan Bukan Pemungut di atas adalah jurnal pelunasan piutang dari Pemungut terdapat pendebetan akun Hutang PPN Keluaran. Hal ini dikarenakan, PPN Keluaran telah dipungut dan disetor oleh klien ke Kas Negara.
Pembelian BKP atau JKP dilakukan dengan waktu pembayaran adalah paling lambat akhir bulan transaksi, sehingga pencatatan yang dilakukan oleh PT. XYZ pada saat pembelian BKP/JKP adalah :
(Dr) Inventory xxx
(Dr) VAT-In xxx
(Cr) Account Payable xxx
Sedangkan pencatatan yang dilakukan saat pembayaran :
(Dr) Account Payable xxx
(Cr) Cash/bank xxx
10.Hasil Penelitian Terdahulu
Hasil penelitian terdahulu yang dapat dijadikan sebagai referensi dalam penelitian ini, yaitu :
Tabel 2.2.
Nama Peneliti Tahun Tema Hasil Penelitian
Kalalo 2009 Analisis penerapan
akuntansi terhadap Pajak Pertambahan Nilai pada Pengusaha Kena Pajak
Penerapan akuntansi pada perusahaan tersebut sudah sesuai dengan undang – undang perpajakan, dimana tarif yang
dikenakan atas penyerahan barang kena pajak adalah 10% dari harga jual produk.
Israelka 2009 Analisis atas penerapan
PPN pada PT. Kaltimex Lestari Makmur
Setiap transaksi yang terjadi pada perusahaan menggunakan perhitungan dengan dasar kredit
method dimana ada perbedaan antara PPN masukan dan PPN keluaran.
Anggita Mayfrina D.P
2012 Analisis Penerapan Pajak
Pertambahan Nilai pada
Dalam setiap Masa Pajak
PT. APCO penyesuaian terhadap nilai PPN Keluaran dan PPN Masukan yang dikreditkan maupun PPN Masukan yang dibiayakan karena
setiap bulannya
Perusahaan mengalami
Kurang Bayar.
Andre H Pakpahan 2009 Penerapan Akuntansi
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) pada PT. Enam Enam Group Medan
PT Enam Enam Group Medan belum menerapkan
Akuntansi Pajak
Pertambahan Nilai -
nya berdasarkan SAK.
Terutangnya PPN pada PT Enam Enam hanya pada saat faktur diterbitkan saja.
Jadi meskipun barang
sudah
diserahkan namun faktur belum diterbitkan, maka PPN
-nya belum terutang.
Menurut SAK,
terutangnya PPN yaitu
pada saat penyerahan BKP walaupun
faktur pajak belum dibuat
dan belum diterima
pembayarannya
B. Kerangka Pemikiran
PT XYZ dalam melakukan penjualan atas perdagangan bijih plastik dan bahan kimia melakukan persetujuan sebelumnya dengan calon customer.
Terjadinya persetujuan tersebut menimbulkan kewajiban PPN. Perdagangan atas barang tersebut termasuk ke dalam penyerahan yang terutang PPN, namun atas objeknya dapat berbeda dapat berupa BKP, BKP tidak berwujud ataupun JKP tergantung dari mekanisme penyerahan dan pembayaran yang terjadi anatara penjual dan pembeli. Dengan berbedanya objek tersebut maka menimbulkan konsekuensi berbedanya saat terutang beserta dengan kewajiban administrasinya seperti saat pembuatan faktur pajak.
Gambar 2.3. Model Konseptual
PENJUALAN PURCHASE ORDER PEMBELIAN JKP BKP BKP TIDAK BERWUJUD KEWAJIBAN ADMINISTRASI FAKTUR PAJAK