• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2. 1. PPN

PPN merupakan penggantian dari Pajak Penjualan (PPn) yang berlaku sejak 1 April 1985 yang pemungutannya didasarkan pada UU Nomor 8 Tahun 1983. UU PPN ini sendiri telah mengalami perubahan sebanyak tiga kali dari UU Nomor 8 Tahun 1983 sampai dengan UU Nomor 42 Tahun 2009, dari perubahan yang terjadi atas masing-masing UU tersebut tetap akan disebut sebagai UU PPN.

PPN adalah pajak atas konsumsi barang dan jasa di Daerah Pabean yang dikenakan secara bertingkat di setiap jalur produksi dan distribusi. Jenis pajak yang terkandung dalam PPN adalah pajak tidak langsung yang dari sudut pandang hukum menempatkan kedudukan pemikul beban pajak dengan kedudukan penanggung jawab pembayaran pajak pada pihak yang berbeda. PPN yang timbul sangat ditentukan oleh adanya obyek pajak. Hal itu dikarenakan sifat PPN yang obyektif, PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi dan jalur distribusi Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) dan tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda (Sukardji, 2010).

2. 1. 1. Subyek PPN

Adapun yang dimaksud sebagai subyek PPN adalah wajib pajak yang bertanggung jawab dalam pemungutan PPN terhadap BKP pada saat terjadinya kegiatan kena pajak terhutang dan harus disetorkan ke kas negara. Dari ketentuan yang mengatur tentang obyek PPN dalam UU Nomor 42 Tahun 2009 dapat diketahui bahwa subyek PPN dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Pengusaha Kena Pajak

PKP adalah orang pribadi atau badan yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaannya menghasilkan barang, mengimpor barang, mengekspor barang, melakukan usaha perdagangan, memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar Daerah Pabean, melakukan usaha jasa, atau memanfaatkan jasa dari luar Daerah Pabean yang melakukan penyerahan BKP dan atau penyerahan JKP yang dikenakan pajak berdasarkan UU PPN, tidak termasuk pengusaha kecil yang

(2)

batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali pengusaha kecil yang memilih untuk dikukuhkan sebagai PKP. Adapun yang termasuk PKP, sebagai berikut:

1. Pabrikan atau produsen.

2. Importir.

3. Pengusaha yang mempunyai hubungan istimewa dengan pabrikan atau importir.

4. Agen utama dan penyalur utama pabrikan atau importir.

5. Pemegang hak paten atau merek dagang BKP.

6. Pedangang besar, pengusaha yang melakukan penyerahan JKP.

7. Pedagang eceran.

8. Eksportir JKP.

9. Eksportir BKP tidak berwujud.

PKP memiliki kewajiban untuk:

1. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi PKP.

2. Memungut PPN dan PPnBM yang terutang.

3. Membuat faktur pajak atas setiap penyerahan kena pajak.

4. Membuat nota retur dalam hal terdapat pengembalian BKP.

5. Melakukan pencatatan atau pembukuan mengenai kegiatan usahanya.

6. Menyetor PPN dan PPnBM yang terutang.

7. Menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa PPN.

Yang Wajib Disetor oleh PKP adalah:

1. PPN yang dihitung sendiri melalui pengkreditan PM dan PK. Yang disetor adalah selisih PM dan PK, bila PM lebih kecil dari PK.

2. PPnBM yang dipungut oleh PKP Pabrikan Barang Kena Pajak (BKP) yang tergolong mewah.

3. PPN/ PPnBM yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB), Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT), dan Surat Tagihan Pajak (STP).

Pengecualian atas PKP dimana pengusaha tidak dibebani dari kewajiban perpajakan adalah:

1. Pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi pengusaha kecil.

(3)

2. Pengusaha yang menghasilkan barang yang tidak dikenakan PPN.

3. Pengusaha di bidang jasa-jasa yang dikecualikan dari JKP.

Dalam UU Nomor 42 Tahun 2009 pasal 4 ayat 1 dijelaskan PPN dikenakan atas, sebagai berikut:

1. Penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha.

2. Penyerahan JKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha.

3. Ekspor BKP berwujud oleh PKP.

4. Ekspor BKP Tidak Berwujud oleh PKP.

5. Ekspor JKP oleh PKP.

b. Bukan Pengusaha Kena Pajak

Subyek PPN tidak harus PKP, tetapi bukan PKP pun dapat menjadi Subyek PPN sebagaimana diatur dalam pasal 4 ayat 1 huruf b, huruf d, dan huruf e UU Nomor 42 Tahun 2009. Berdasarkan pasal-pasal ini diketahui bahwa dapat dikenakan PPN:

1. Atas impor BKP.

2. Pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

3. Pemanfaatan JKP dari luar daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

4. Orang Pribadi atau Badan yang membangun sendiri di luar kegiatan usahanya (pasal 16C UU PPN 1984).

Salah satu subyek PPN yang termasuk bukan PKP adalah Pengusaha Kecil. Pengusaha Kecil adalah pengusaha yang selama satu tahun buku melakukan penyerahan BKP dan/atau JKP dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto tidak lebih dari Rp600.000.000. Pengusaha kecil tidak wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP dan tidak wajib memungut, menyetor, dan melaporkan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukannya. Adapun batasan yang diatur dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 571/KMK.03/2003 mengenai Batasan Pengusaha Kecil PPN. Batasan tersebut adalah sebagai berikut:

(4)

1. Pengusaha Kecil wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP, apabila sampai dengan suatu bulan dalam tahun buku, jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan brutonya melebihi dari Rp600.000.000.

2. Pengusaha Kecil wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak paling lambat pada akhir bulan berikutnya.

3. Dalam hal Pengusaha tidak memenuhi kewajiban sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan, maka saat pengukuhan adalah awal bulan berikutnya setelah bulan dimana pengusaha kecil seharusnya melaporkan usaha yang dijalankan.

4. Kewajiban untuk memungut, menyetorkan, dan melaporkan PPN dan PPnBM yang terutang dimulai sejak saat dikukuhkan sebagai PKP.

Berdasarkan PMK Nomor 20/PMK.03/2008 pengusaha kecil yang tidak memilih sebagai PKP akan dikukuhkan secara jabatan apabila sampai dengan suatu bulan dalam suatu tahun buku jumlah nilai peredaran bruto atas penyerahan BKP atau JKP telah melampaui batasan yang ditentukan sebagai pengusaha kecil.

2. 1. 2. Obyek PPN

PPN akan dikenakan atas:

1. Penyerahan BKP di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha.

Kegiatan penyerahan BKP yang dilakukan oleh pengusaha meliputi pengusaha yang telah dikukuhkan menjadi PKP maupun pengusaha yang seharusnya dikukuhkan menjadi PKP. Penyerahan barang yang dikenakan pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

 Barang berwujud yang diserahkan merupakan BKP.

 Barang tidak berwujud yang diserahkan merupakan BKP tidak berwujud.

 Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean.

 Penyerahan dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya.

2. Impor BKP

Pajak juga dipungut pada saat impor barang. Pemungutan dilakukan melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Berbeda dengan penyerahan BKP tersebut pada penjelasan diatas, siapa pun yang memasukkan BKP ke dalam Daerah Pabean tanpa memperhatikan apakah dilakukan dalam rangka kegiatan usaha atau pekerjaannya atau tidak, tetap dikenakan pajak, Demikian pula atas impor

(5)

BKP yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan Pabean dibebaskan dari pungutan Bea Masuk, pajak yang terutang tetap dipungut kecuali ditetapkan lain oleh Menteri Keuangan.

3. Penyerahan JKP yang dilakukan di dalam Daerah Pabean yang dilakukan oleh pengusaha. Penyerahan jasa yang terutang pajak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

 Jasa yang diserahkan merupakan JKP.

 Penyerahan dilakukan di dalam Daerah Pabean.

 Penyerahan dilakukan dalam kegiatan usaha atau pekerjaan pengusaha yang bersangkutan.

4. Pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean. Untuk dapat memberikan perlakuan pengenaan pajak yang sama dengan impor BKP, maka atas BKP tidak berwujud yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean juga dikenakan pajak.

5. Pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean atau terhadap jasa yang berasal dari luar Daerah Pabean yang dimanfaatkan di dalam Daerah Pabean dikenakan pajak menurut undang-undang PPN.

6. Ekspor BKP Berwujud. Atas penyerahan BKP Berwujud dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean dikenakan pajak menurut undang-undang PPN.

7. Ekspor BKP Tidak Berwujud. Atas penyerahan BKP Tidak Berwujud dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean dikenakan pajak menurut undang- undang PPN.

8. Ekspor JKP oleh PKP. Atas penyerahan JKP dari dalam Daerah Pabean ke luar Daerah Pabean dikenakan pajak menurut undang-undang PPN.

2. 1. 3. Bukan Obyek PPN

Barang yang tidak dikenai PPN adalah barang tertentu dalam kelompok barang sebagai berikut:

 Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya.

 Barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak.

(6)

 Makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya, meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat maupun tidak, termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha jasa boga atau katering.

 Uang, emas batangan, dan surat berharga.

Jenis jasa yang tidak dikenai PPN adalah jasa tertentu dalam kelompok jasa sebagai berikut:

 jasa pelayanan kesehatan medis;

 jasa pelayanan sosial;

 jasa pengiriman surat dengan perangko;

 jasa keuangan;

 jasa asuransi;

 jasa keagamaan;

 jasa pendidikan;

 jasa kesenian dan hiburan;

 jasa penyiaran yang tidak bersifat iklan;

 jasa angkutan umum di darat dan di air serta jasa angkutan udara dalam negeri yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari jasa angkutan udara luar negeri;

 jasa tenaga kerja;

 jasa perhotelan;

 jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum;

 jasa penyediaan tempat parkir;

 jasa telepon umum dengan menggunakan uang logam;

 jasa pengiriman uang dengan wesel pos; dan

 jasa boga atau katering.

(7)

2. 1. 4. DPP PPN

Dasar Pengenaan Pajak (DPP) adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang.

 Harga Jual adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh penjual karena penyerahan Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak.

 Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak, atau ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud, tetapi tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut menurut Undang-Undang ini dan potongan harga yang dicantumkan dalam Faktur Pajak atau nilai berupa uang yang dibayar atau seharusnya dibayar oleh Penerima Jasa karena pemanfaatan Jasa Kena Pajak dan/atau oleh penerima manfaat Barang Kena Pajak Tidak Berwujud karena pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

 Nilai Impor adalah nilai berupa uang yang menjadi dasar penghitungan bea masuk ditambah pungutan berdasarkan ketentuan dalam peraturan perundang- undangan yang mengatur mengenai kepabeanan dan cukai untuk impor Barang Kena Pajak, tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut menurut Undang-Undang ini.

 Nilai Ekspor adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh eksportir.

 Nilai Lain sesuai dengan ketentuan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 75/PMK.03/2010 adalah nilai berupa uang yang ditetapkan sebagai DPP. Nilai Lain yang dimaksud dalam peraturan ditetapkan sebagai berikut:

a. untuk pemakaian sendiri Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor;

b. untuk pemberian cuma-cuma Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak adalah Harga Jual atau Penggantian setelah dikurangi laba kotor;

(8)

c. untuk penyerahan media rekaman suara atau gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata;

d. untuk penyerahan film cerita adalah perkiraan hasil rata-rata per judul film;

e. untuk penyerahan produk hasil tembakau adalah sebesar harga jual eceran;

f. untuk Barang Kena Pajak berupa persediaan dan/atau aktiva yang menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan, yang masih tersisa pada saat pembubaran perusahaan, adalah harga pasar wajar;

g. untuk penyerahan Barang Kena Pajak dari pusat ke cabang atau sebaliknya dan/atau penyerahan Barang Kena Pajak antar cabang adalah harga pokok penjualan atau harga perolehan;

h. untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui pedagang perantara adalah harga yang disepakati antara pedagang perantara dengan pembeli;

i. untuk penyerahan Barang Kena Pajak melalui juru lelang adalah harga lelang;

j. untuk penyerahan jasa pengiriman paket adalah 10% dari jumlah yang ditagih atau jumlah yang seharusnya ditagih; atau

k. untuk penyerahan jasa biro perjalanan atau jasa biro pariwisata adalah 10%

dari jumlah tagihan atau jumlah yang seharusnya ditagih.

2. 1. 5. Tarif PPN

Pada UU Nomor 42 Tahun 2009 dalam Pasal 7 ditetapkan peraturan mengenai tarif PPN, yaitu:

1. Tarif Pajak Pertambahan Nilai adalah 10%.

2. Tarif Pajak Pertambahan Nilai sebesar 0% diterapkan atas:

a. ekspor Barang Kena Pajak Berwujud;

b. ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud; dan c. ekspor Jasa Kena Pajak.

3. Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada nomor satu dapat diubah menjadi paling rendah 5% dan paling tinggi 15% yang perubahan tarifnya diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(9)

2. 1. 6. Sanksi Administrasi

Direktur Jenderal Pajak dapat menerbitkan Surat Tagihan Pajak yang dimaksudkan bagi wajib pajak. STP adalah surat untuk melakukan tagihan pajak dan/atau sanksi administrasi berupa bunga dan/atau denda. KPP dapat menerbitkan STP dengan sanksi administrasi, antara lain:

 Denda 2% dari DPP, terhadap pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP dan/atau PKP yang tidak membuat faktur pajak atau membuat faktur pajak tetapi tidak tepat waktu atau tidak selengkapnya mengisi faktur pajak.

 Denda 2% dari DPP, terhadap pengusaha yang telah dikukuhkan sebagai PKP yang tidak mengisi faktur pajak secara lengkap.

 Denda 2% dari DPP, terhadap PKP yang melaporkan faktur pajak tidak sesuai dengan masa penerbitan faktur pajak.

 Bunga 2% per bulan dari jumlah pajak terutang akibat pembayaran pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo pembayaran. Sanksi 2% per bulan dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran sampai dengan tanggal pembayaran, dan bagian dari bulan dihitung penuh 1 bulan. Bunga 2% per bulan berdasarkan UU KUP Nomor 28 tahun 2007 Pasal 9 ayat 2A.

 Kenaikan 100% dari PPN Barang dan Jasa dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar ditambah jumlah pajak dalam SKPKB, apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat 3 UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 dan setelah ditegur secara tertulis tidak disampaikan pada waktunya sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran

 Kenaikan 100% dari PPN Barang dan Jasa dan PPnBM yang tidak atau kurang dibayar ditambah jumlah pajak dalam SKPKB, apabila kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 atau Pasal 29 UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 tidak dipenuhi sehingga tidak dapat diketahui besarnya pajak yang terutang.

 Kenaikan 100% dari jumlah kekurangan pajak ditambah jumlah pajak dalam SKPKB, bila ditemukan data baru dan/atau data yang semula belum terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terutang.

 Denda Rp500.000,00 berdasarkan UU KUP Nomor 28 tahun 2007 Pasal 7 ayat 1, denda dikenakan atas SPT Masa PPN bila pelaporan melewati batas waktu

(10)

yang telah ditentukan yaitu untuk SPT Masa paling lama 20 hari setelah akhir masa pajak.

2. 2. Tata Cara Pendaftaran atau Pengukuhan PKP

Terdapat beberapa cara yang harus dilakukan untuk menjadi PKP yaitu dengan mendaftarkan diri dengan persyaratan yang telah ditetapkan. Syarat cara untuk dikukuhkan sebagai PKP, pertama harus mendaftarkan diri ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak untuk mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

NPWP adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajibannya.

Pendaftaran NPWP oleh Wajib Pajak dapat juga dilakukan secara elektronik yaitu melalui internet pada situs Direktorat Jenderal Pajak dengan alamat http://www.pajak.go.id dengan mengklik e-registration (pendaftaran Wajib Pajak melalui internet), dimana Wajib Pajak cukup memasukan data-data pribadi (KTP/SIM/Paspor) untuk dapat memperoleh NPWP. Selanjutnya dapat mengirimkan melalui pos berupa fotokopi data pribadi tersebut ke KPP yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau kedudukan Wajib Pajak.

Wajib Pajak (WP) yang melakukan pendaftaran NPWP secara langsung harus mengisi formulir pendaftaran dan menyampaikan secara langsung atau melalui pos ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) atau Kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) setempat dengan melampirkan:

1. Untuk WP Orang Pribadi Non-Usahawan:

Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing.

2. Untuk WP Orang Pribadi Usahawan:

 Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing.

(11)

 Surat Keterangan tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa.

3. Untuk WP Badan:

 Fotokopi akte pendirian dan perubahan terakhir atau surat keterangan penunjukkan dari kantor pusat bagi BUT.

 Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing, dari salah seorang pengurus aktif.

 Surat Keterangan tempat kegiatan usaha dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa.

4. Untuk Bendaharawan sebagai Pemungut/ Pemotong:

 Fotokopi KTP bendaharawan.

 Fotokopi surat penunjukan sebagai bendaharawan.

5. Untuk Joint Operation sebagai wajib pajak Pemotong/pemungut:

 Fotokopi perjanjian kerja sama sebagai joint operation.

 Fotokopi NPWP masing-masing anggota joint operation.

 Fotokopi KTP bagi penduduk Indonesia atau fotokopi paspor ditambah surat keterangan tempat tinggal dari instansi yang berwenang minimal Lurah atau Kepala Desa bagi orang asing, dari salah seorang pengurus joint operation.

6. Wajib Pajak dengan status cabang, orang pribadi pengusaha tertentu atau wanita kawin tidak pisah harta harus melampirkan foto kopi surat keterangan terdaftar.

7. Apabila permohonan ditandatangani orang lain harus dilengkapi dengan surat kuasa khusus.

Setelah prosedur diatas orang pribadi akan memperoleh Surat Keterangan Terdaftar (SKT) sementara yang berlaku selama 30 hari sejak pendaftaran dilakukan. Cetak SKT sementara tersebut beserta Formulir Registrasi Wajib Pajak Orang Pribadi sebagai bukti sudah terdaftar sebagai Wajib Pajak.

Tanda tangan pada formulir registrasi, kemudian kirimkan atau sampaikan langsung bersama SKT sementara serta persyaratan lainnya ke Kantor Pelayanan Pajak seperti yang tertera pada SKT sementara. Setelah itu wajib pajak akan menerima kartu NPWP dan SKT asli.

(12)

2. 3. Pencatatan

Pencatatan yaitu pengumpulan data secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan obyek pajak dan/atau yang dikenakan pajak yang bersifat final. Bentuk dan tata cara pencatatan diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keungan. Adapun yang wajib menyelenggarakan pencatatan adalah, sebagai berikut:

1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00 (UU Nomor 36 Tahun 2008) dapat menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan penghasilan neto dengan syarat memberitahukan ke Dirjen Pajak dalam jangka waktu tiga bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Jika tidak mengajukan pemberitahuan dianggap memilih pembukuan. Pemberitahuan dalam jangka waktu tersebut dianggap disetujui kecuali dari hasil pemeriksaan WP tidak memenuhi syarat.

2. Wajib pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

PKP dapat memilih untuk melakukan pencatatan selama peredaran usahanya tidak melebihi Rp4.800.000.000,00 dalam setahun. Bila peredaran usaha PKP dalam suatu tahun melebihi Rp4.800.000.000,00 maka PKP wajib menyelenggarakan pembukuan.

WPOP tidak diwajibkan menyelenggarakan pembukuan maupun melakukan pencatatan apabila tidak menyampaikan SPT Tahunan PPh.

Berdasarkan pada keputusan Menteri Keuangan No. 535/KMK.04/2000, WPOP yang tidak wajib menyampaikan SPT Tahunan PPh adalah mereka yang penghasilan netonya tidak melebihi PTKP. Maka yang tidak wajib pembukuan maupun pencatatan adalah WPOP yang tidak wajib NPWP.

Syarat-syarat penyelenggaraan pencatatan menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang KUP:

1. Diselenggarakan dengan memperhatikan itikad baik dan mencerminkan keadaan atau kegiatan usaha yang sebenarnya.

(13)

2. Diselenggarakan di Indonesia dengan menggunakan huruf Latin, angka Arab, satuan mata uang Rupiah, dan disusun dalam bahasa Indonesia atau dalam bahasa asing yang diizinkan oleh Menteri Keuangan.

3. Diselenggarakan dengan prinsip taat asas dan dengan stelsel akrual atau stelsel kas.

4. Pembukuan dengan menggunakan bahasa asing dan mata uang selain Rupiah dapat diselenggarakan oleh WP setelah mendapat izin Menteri Keuangan.

5. Perubahan terhadap metode pembukuan dan atau tahun buku, harus mendapat persetujuan dari Direktur Jenderal Pajak.

6. Dokumen-dokumen yang menjadi dasar pembukuan dan pencatatan serta dokumen lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas Wajib Pajak wajib disimpan selama sepuluh tahun.

7. Pencatatan harus menggambarkan peredaran atau penerimaan bruto atau jumlah penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, termasuk penghasilan yang bukan obyek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

8. Bagi WP yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan atau tempat usaha, pencatatan harus menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha atau tempat usaha yang berbersangkutan.

9. Selain kewajiban untuk menyelenggarakan pencatatan, WP orang Pribadi harus menyelenggarakan pencatatan atas harta dan kewajiban.

Tujuan penyelenggaraan pencatatan adalah untuk mempermudah:

1. Pengisian SPT.

2. Penghitungan Penghasilan Kena Pajak.

3. Penghitungan PPN dan PPnBM.

Syarat-Syarat pencatatan antara lain, sebagai berikut:

1. Pencatatan harus dibuat secara lengkap dan benar, serta didukung dengan dokumen yang dijadikan dasar perhitungan peredaran penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto, serta penghasilan yang bukan obyek pajak dan/atau penghasilan yang dikenakan pajak yang bersifat final.

2. Pencatatan dalam suatu Tahun Pajak meliputi jangka waktu 12 bulan, mulai tanggal 1 Januari sampai 31 Desember.

(14)

3. Pencatatan dan dokumen yang menjadi dasar pencatatan harus disimpan ditempat tinggal Wajib Pajak atau tempat kegiatan Usaha dilakukan selama 10 tahun terhitung sejak saat terutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak, bagian tahun pajak, atau Tahun Pajak.

4. Pencatatan terdiri atas data yang dikumpulakan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang, termasuk yang bukan penghasilan bukan obyek pajak dan/atau yang dikenakan pajak yang bersifat final.

5. Pencatatan sebagaimana harus dapat menggambarkan jumlah peredaran atau penerimaan bruto dan/atau jumlah penghasilan bruto, serta penghasilan yang bukan obyek pajak dan/atau penghasilan yang dikenakan pajak yang bersifat final, sehingga dapat dihitung besarnya pajak yang terutang.

6. Bagi wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu usaha dan/atau tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas jumlah peredaran atau peneriamaan bruto dari masing-masing jenis usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.

2. 4. Penghitungan PPN

PPN yang terutang dapat dihitung dari DPP yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang. Menghitung PPN terutang dapat dilakukan dengan cara mengalikan tarif PPN 10% dengan DPP. PPN yang terutang merupakan pajak keluaran yang dipungut oleh PKP dan merupakan pajak masukan bagi PKP Pembeli.

2. 4. 1. Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan PMK 45 (Aturan 1 Januari 2008)

Dalam PMK 45 tahun 2008 yang boleh menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah PKP dan Pedagang Eceran sebagaimana terdapat dalam aturan. PKP adalah WPOP yang peredaran brutonya dalam satu tahun pajak kurang dari Rp600.000.000,00 dengan syarat memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu tiga bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan. Wajib Pajak yang menggunakan norma penghitungan tidak

(15)

wajib menyelenggarakan pembukuan tetapi harus menyelenggarakan pencatatan sebagaimana diatur dalam UU no 17 tahun 2000. Pedagang Eceran adalah PKP Orang Pribadi dengan jumlah peredaran bruto dan atau penerimaan bruto selama satu tahun buku tidak lebih dari Rp.1.800.000.000,00 yang dalam kegiatan usaha atau pekerjaan utamanya adalah melakukan usaha perdagangan dengan cara sebagai berikut:

a. Menyerahkan BKP melalui suatu tempat penjualan eceran seperti toko, kios atau dengan cara penjualan yang dilakukan langsung kepada konsumen akhir, atau dengan cara penjualan yang dilakukan dari rumah ke rumah.

b. Menyediakan BKP yang diserahkan di tempat penjualan secara eceran tersebut.

c. Melakukan transaksi jual beli secara spontan tanpa didahului dengan penawaran tertulis, pemesanan tertulis, kontrak atau lelang dan pada umumnya bersifat tunai, dan pembeli pada umumnya datang ke tempat penjualan tersebut langsung membawa BKP yang dibelinya.

PKP dapat menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan untuk menghitung besarnya PM yang dapat dikreditkan. PKP wajib memberitahukan kepada KPP di tempat PKP dikukuhkan bahwa PKP menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM dengan cara membubuhkan catatan pada Surat Pemberitahuan Masa Pajak PPN. Ketentuan penghitungan PM menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan sebagai berikut:

a. Pajak Keluaran dihitung dengan cara mengalikan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto yang terutang PPN pada Masa Pajak yang bersangkutan dengan tarif PPN. Nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai.

b. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan ditetapkan sebagai berikut:

1. Untuk penyerahan BKP oleh Pedagang Eceran dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto, sebesar 80% dikalikan dengan Pajak Keluaran.

2. Untuk penyerahan BKP yang dilakukan PKP selain Pedagang Eceran, sebesar 70% dikalikan dengan Pajak Keluaran.

3. Untuk penyerahan JKP oleh PKP, sebesar 40% dikalikan dengan Pajak Keluaran.

(16)

Untuk keperluan penghitungan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan PM, PKP wajib membuat catatan nilai peredaran bruto dan atau penerimaan bruto yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak. Dalam hal PKP di samping melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, PKP wajib membuat catatan yang terpisah antara penyerahan yang terutang pajak dan penyerahan yang tidak terutang pajak.

2. 4. 2. Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan PMK 74 (Aturan Yang Berlaku Mulai April 2010)

Mekanisme umum PPN merupakan hasil dari pengurangan atau pengkreditan pajak masukan dalam suatu masa dengan pajak keluaran dalam masa pajak yang sama oleh PKP. Apabila dalam masa pajak tersebut lebih besar pajak keluaran maka kelebihan pajak keluaran tersebut harus disetorkan ke kas Negara oleh PKP tersebut. Sebaliknya jika dalam masa pajak tersebut ternyata lebih besar pajak masukan, maka kelebihan pajak masukan tersebut dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya atau dimintakan restitusi.

Dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 pasal 9 ayat 7 diatur bahwa besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan PKP yang peredaran usahanya dalam satu tahun tidak melebihi jumlah tertentu (PKP yang mempunyai peredaran usaha dalam satu tahun buku tidak melebihi Rp1.800.000.000,00), dapat dihitung dengan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan. Dengan mekanisme ini, ditentukan besarnya pajak masukan yang dapat dikreditkan berdasarkan persentase terhadap pajak keluaran.

Dalam, UU Nomor 42 Tahun 2009, terdapat dua jenis Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan yaitu:

1. Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan untuk PKP yang peredaran usahanya dalam satu tahun tidak melebihi jumlah tertentu yang diatur dalam Pasal 9 ayat 7 UU PPN. Peraturan pelaksanaannya adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 74/PMK.03/2010.

2. Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan untuk PKP yang melakukan kegiatan usaha tertentu yang diatur dalam Pasal 9 ayat 7a UU PPN.

(17)

Ketentuan pelaksanaannya adalah Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79/PMK.03/2010.

Jika menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan maka besarnya pajak masukan yang dapat dikreditkan dan besarnya PPN yang harus disetor adalah:

1. Untuk penyerahan JKP, pajak masukan yang dapat dikreditkan adalah sebesar 60% dari pajak keluaran. PPN yang harus disetor dalam suatu masa pajak adalah 4% dari DPP.

2. Untuk penyerahan Barang Kena Pajak (BKP), pajak masukan yang dapat dikreditkan adalah sebesar 70% dari pajak keluaran. PPN yang harus disetor dalam suatu masa pajak adalah 3% dari DPP.

Dimana Pajak Keluaran dihitung dengan cara mengalikan tarif 10%

dengan DPP. DPP menurut PMK 74 tahun 2010 adalah jumlah Harga Jual, Penggantian, Nilai Impor, Nilai Ekspor, atau nilai lain yang dipakai sebagai dasar untuk menghitung pajak yang terutang. Dimana berdasarkan PER DJP 45 Tahun 2010 DPP tidak hanya berasal dari jumlah peredaran yang terutang pajak tetapi, jumlah peredaran usaha dari yang dikenakan dan/atau tidak dikenakan pajak. PPN yang harus disetor dalam suatu masa pajak dihitung dengan cara pajak keluaran dikurangi dengan pajak masukan yang dapat dikreditkan.

PKP yang menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan pajak masukan menurut ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan tidak dapat membebankan PPN atas perolehan BKP dan/atau JKP sebagai biaya untuk penghitungan PPh. Dalam hal terjadi retur, PPN atas penyerahan BKP dan/atau JKP yang dikembalikan atau diretur oleh pembeli, mengurangi PPN yang terutang oleh PKP penjual dalam Masa Pajak terjadinya pengembalian BKP dan/atau JKP sepanjang Faktur Pajak atas penyerahan BKP dan/atau JKP tersebut telah dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai.

Penghitungan pajak masukan dengan pedoman pengkreditan didasarkan pada besarnya peredaran usaha, hal ini berbeda dengan mekanisme PMPK yang menghitung pajak masukan berdasarkan 10% dari pembelian BKP atau pemanfaatan JKP. Berikut sebuah contoh penghitungan:

(18)

1. PT ABC membeli merchandise (BKP) dari supplier seharga Rp300.000.000,00.

Atas pembelian ini, supplier (PKP) memungut PPN dari PT ABC sebesar Rp30.000.000,00 (10% x Rp300.000.000,00).

2. Pada masa pajak yang sama PT ABC membukukan penjualan merchandise-nya (BKP) senilai Rp500.000.000,00. Atas penjualan ini, PT ABC memungut PPN dari pembeli sebesar Rp50.000.000,00 (10% x Rp500.000.000,00) sebagai Pajak Keluaran.

Jika PT ABC menggunakan pedoman pengkreditan, Pajak Masukan yang dapat dikreditkan sebesar (70% x (10% x peredaran usaha)) yaitu Rp35.000.000,00 (7% x Rp500.000.000,00). Dengan demikian, PPN yang wajib disetor oleh PT ABC adalah:

a. Menggunakan pedoman pengkreditan

Rp15.000.000,00 (PK Rp50.000.000,00 – PM Rp35.000.000,00) b. Menggunakan mekanisme PMPK

PM = Rp30.000.000,00 (10% x pembelian BKP) PK = Rp50.000.000,00 (10% x penjualan BKP)

Rp20.000.000,00 (PK Rp50.000.000,00 – PM Rp30.000.000,00)

Jika menggunakan pedoman pengkreditan, PT ABC akan mencatat:

 PPN yang dibayar kepada supplier = Rp30.000.000,00

 PPN yang dipungut oleh PT ABC = Rp50.000.000,00

 PPN yang masih disimpan oleh PT ABC = Rp20.000.000,00 (PPN yang dipungut Rp50.000.000,00 – PPN yang dibayar Rp30.000.000,00)

 PPN yang wajib disetor berdasarkan pedoman pengkreditan = 15.000.000,00

 Sisa yang masih dipegang oleh PT ABC dan tak perlu disetor = Rp5.000.000,00 (Rp20.000.000,00 – Rp15.000.000,00). Sisa PPN yang tak perlu disetor ini termasuk keuntungan atau penambah penghasilan bruto yang akan dikenakan tarif PPh umum Badan atau Orang Pribadi.

Kegiatan PT ABC pada bulan berikutnya adalah sebagai berikut:

1. PT ABC membeli merchandise (BKP) dari supplier seharga Rp400.000.000,00.

Atas pembelian ini, supplier (PKP) memungut PPN dari PT ABC sebesar Rp40.000.000,00 (10% x Rp400.000.000,00).

(19)

2. PT ABC juga membeli barang dagangan non-BKP dari supplier seharga Rp800.000.000,00. Atas pembelian ini tidak terutang PPN.

3. PT ABC membukukan penjualan Rp1.800.000.000,00, yang terdiri atas penjualan BKP senilai Rp600.000.000,00 dan penjualan non-BKP senilai Rp1.200.000.000,00. Atas penjualan ini, PT ABC memungut PPN dari pembeli sebesar Rp60.000.000,00 (10% x Rp600.000.000,00) dan DPP PPN-nya sebesar Rp1.800.000.000,00 yang digunakan untuk menghitung pajak keluaran yaitu Rp180.000.000,00 (Rp.1.800.000.000,00 x 10%).

Jika PT ABC menggunakan pedoman pengkreditan, Pajak Keluaran bukan 10% dari nilai penyerahan BKP dan/atau JKP tetapi 10% dari peredaran usaha baik BKP, JKP, maupun non BKP dan non JKP. Pajak masukan yang dapat dikreditkan sebesar (70% x (10% x peredaran usaha)) yaitu Rp126.000.000,00 (70% x 10% x Rp1.800.000.000,00). Dengan demikian, PPN yang wajib disetor oleh PT ABC adalah:

a. Menggunakan pedoman pengkreditan

Rp54.000.000,00 (PK Rp180.000.000,00 – PM Rp126.000.000,00).

b. Menggunakan mekanisme PMPK

PM = Rp40.000.000,00 (10% x pembelian BKP) PK = Rp60.000.000,00 (10% x penjualan BKP)

Rp20.000.000,00 (Rp60.000.000,00 – Rp40.000.000,00).

Jika menggunakan pedoman pengkreditan, PT ABC akan mencatat:

 PPN yang dibayar kepada supplier = Rp40.000.000,00

 PPN yang dipungut oleh PT ABC = Rp60.000.000,00

 PPN yang masih disimpan oleh PT ABC = Rp20.000.000,00 (PPN yang dipungut Rp60.000.000,00 – PPN yang dibayar Rp40.000.000,00)

 PPN yang wajib disetor berdasarkan pedoman pengkreditan = 54.000.000,00

 PT ABC masih perlu menyetor = Rp34.000.000,00 (Rp20.000.000,00 – Rp54.000.000,00). Untuk kekurangan PPN yang merupakan pengurang penghasilan bruto sehingga akan memperkecil PPh terutang.

(20)

2. 4. 3. Pajak Keluaran

Pajak keluaran adalah PPN terutang yang wajib dipungut oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP, penyerahan JKP, ekspor BKP berwujud, ekspor BKP tidak berwujud dan/atau ekspor JKP.

2. 4. 4. Pajak Masukan

Pajak masukan adalah PPN yang dibayar oleh PKP karena perolehan BKP dan/atau penerimaan JKP atau pemanfaatan BKP tidak berwujud dari luar Daerah Pabean atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean dan/atau impor BKP. Pajak masukan digolongkan menjadi pajak masukan yang dapat dikreditkan dan pajak masukan yang tidak dapat dikreditkan. Pajak masukan yang telah dibayar oleh PKP pada waktu perolehan impor BKP atau penerimaan JKP dapat dikreditkan dengan pajak keluaran yang dipungut PKP pada waktu menyerahkan BKP atau JKP. Pengkreditan pajak masukan dan pajak keluaran harus dilakukan dalam masa pajak yang sama. Apabila pajak masukan yang dapat dikreditkan ternyata belum dikreditkan dengan pajak keluaran pada masa pajak yang sama, pajak masukan tersebut dapat dikreditkan pada masa pajak berikutnya paling lambat tiga bulan setelah berakhirnya masa pajak yang bersangkutan sepanjang belum dibebankan sebagai biaya dan belum dilakukan pemeriksaan.

Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 apabila dalam suatu Masa Pajak PKP selain melakukan penyerahan yang terutang pajak juga melakukan penyerahan yang tidak terutang pajak, sepanjang bagian penyerahan yang terutang pajak dapat diketahui dengan pasti dari pembukuannya, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah Pajak Masukan yang berkenaan dengan penyerahan yang terutang pajak. sedangkan pajak masukan untuk penyerahan yang terutang pajak tidak dapat diketahui dengan pasti, jumlah Pajak Masukan yang dapat dikreditkan untuk penyerahan yang terutang pajak dihitung dengan menggunakan pedoman yang diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan.

Penyerahan yang terutang pajak adalah penyerahan barang atau jasa sesuai dengan Undang-Undang PPN.

(21)

Pajak masukan pada dasarnya dapat dikreditkan dengan pajak keluaran.

Akan tetapi, untuk pengeluaran-pengeluaran dibawah ini pajak masukannya tidak dapat dikreditkan, yaitu:

1. Perolehan BKP atau JKP sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP.

2. Perolehan BKP atau JKP yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan kegiatan usaha.

3. Perolehan dan pemeliharaan kendaraan bermotor berupa sedan dan station wagon, kecuali merupakan barang dagangan atau disewakan.

4. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean sebelum pengusaha dikukuhkan sebagai PKP.

5. Perolehan BKP atau JKP yang faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan seperti faktur pajak tidak diisi secara lengkap, jelas, dan benar serta ditandatangani oleh pihak yang ditunjuk oleh PKP untuk menandatanganinya atau tidak mencantumkan nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli BKP atau penerima JKP.

6. Pemanfaatan BKP tidak berwujud atau pemanfaatan JKP dari luar Daerah Pabean yang faktur pajaknya tidak memenuhi ketentuan.

7. Perolehan BKP atau JKP yang pajak masukannya ditagih dengan penerbitan ketetapan pajak.

8. Perolehan BKP atau JKP yang pajak masukannya tidak dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Masa PPN, yang diketemukan pada waktu dilakukan pemeriksaan.

9. Perolehan BKP selain barang modal atau JKP sebelum PKP berproduksi.

2. 4. 5. Faktur Pajak

Faktur Pajak digunakan oleh PKP sebagai bukti pungutan pajak sesuai dengan pengertian dalam UU Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 1 angka 23, Faktur Pajak dibuat oleh PKP yang melakukan penyerahan BKP atau penyerahan JKP.

Berdasarkan UU Nomor 42 Tahun 2009 Pasal 13 ayat 1 Faktur Pajak wajib dibuat oleh PKP atau pengusaha kecil yang sudah dikukuhkan menjadi PKP saat melakukan:

(22)

 Penyerahan BKP dan/atau JKP.

 Penyerahan BKP yang penyerahan aktiva menurut tujuan semula tidak untuk diperjualbelikan.

 Ekspor BKP dan/atau JKP.

 Ekspor BKP Tidak Berwujud.

Berdasarkan Pasal 13 ayat 5, dalam Faktur Pajak harus dicantumkan keterangan tentang penyerahan BKP dan/atau penyerahan JKP yang memuat:

1. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak yang menyerahkan BKP atau JKP.

2. Nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak pembeli BKP atau penerima JKP.

3. Jenis barang atau jasa, jumlah Harga Jual atau Penggantian, dan potongan harga.

4. Pajak Pertambahan Nilai yang dipungut.

5. Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang dipungut.

6. Kode, nomor seri, dan tanggal pembuatan Faktur Pajak.

7. Nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani Faktur Pajak.

Jenis Faktur Pajak sesuai dengan perundang-undangan PPN yang diubah terakhir kali dengan UU Nomor 42 Tahun 2009, hanya terdapat satu istilah yaitu Faktur Pajak. Faktur Pajak gabungan tidak diperlakukan sebagai satu jenis Faktur Pajak tersendiri karena bentuknya sama dengan Faktur Pajak Standar. Hal yang membedakan hanya fungsinya yaitu satu Faktur Pajak dipergunakan untuk seluruh penyerahan BKP atau JKP dalam satu masa pajak untuk pembeli BKP atau penerima JKP yang sama.

Faktur Pajak dapat dibuat pada saat:

 Penyerahan BKP atau penyerahan JKP.

 Penerimaan pembayaran dalam hal penerimaan pembayaran terjadi sebelum penyerahan BKP atau penyerahan JKP.

 Penerimaan pembayaran termin dalam hal penyerahan sebagai tahap pekerjaan.

 Pada saat lain yang ditetapkan dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

 Paling lama pada akhir bulan penyerahan bagi Faktur Pajak Gabungan.

(23)

Dalam hal penulisan atau pengisian Faktur Pajak jika terdapat kesalahan dapat melakukan pembetulan dengan cara membuat Faktur Pajak pengganti sebagai berikut:

1. PKP mengisi Faktur Pajak lagi dengan keterangan yang sebenarnya menggunakan nomor seri berbeda dengan nomor seri Faktur Pajak yang diganti.

2. Tanggal pembuatan Faktur Pajak pengganti adalah tanggal pada saat pembuatan Faktur Pajak pengganti.

3. Pada Faktur Pajak pengganti dibubuhi cap yang menyebutkan nomor seri dan tanggal Faktur Pajak yang diganti. Pengisian keterangan dalam cap boleh dilakukan secara manual.

4. Faktur Pajak yang diganti dilampirkan pada Faktur Pajak pengganti.

5. Pembuatan Faktur Pajak pengganti mengakibatkan PKP harus melakukan pembetulan terhadap SPT Masa PPN, pada masa pajak dilaporkan Faktur Pajak yang diganti.

Bila PKP mengalami kehilangan Faktur Pajak yang pajak masukannya telah dikreditkan, maka dapat diganti dengan cara sebagai berikut:

a. Mengajukan permintaan secara tertulis untuk dibuatkan fotokopi Faktur Pajak dimaksud kepada PKP yang membuat Faktur Pajak tersebut.

b. Tembusan surat permintaan dikirimkan kepada KPP dari PKP yang kehilangan Faktur Pajak dan KPP dari PKP pembuat Faktur Pajak.

c. PKP pembuat Faktur Pajak membuat dua lembar fotokopi dari Faktur Pajak lembar kedua, kemudian membawa kedua fotokopi tersebut beserta lembar aslinya ke KPP untuk dilegalisasi.

d. Setelah dilegalisasi, satu lembar diantaranya diambil oleh pejabat KPP sebagai arsip, sedangkan fotokopi yang satu lembar lagi dikembalikan kepada PKP pembuat Faktur Pajak untuk diserahkan kepada PKP Pembeli atau Penerima JKP.

2. 4. 6. Nota Retur

Nota retur adalah nota yang dibuat oleh penerima BKP karena adanya pengembalian atas BKP yang telah dibeli. Pengembalian BKP adalah

(24)

pengembalian BKP baik sebagian maupun seluruhnya yang disebut juga dengan retur penjualan. Dengan adanya nota retur maka PKP penjual dapat mengurangkan PPN Keluaran atas penyerahan BKP yang dikembalikan, dan PKP pembeli harus mengurangkan PPN Masukan yang telah dikreditkan atau biaya, dan harta. Tetapi pengembalian BKP dianggap tidak terjadi dalam hal BKP yang dikembalikan diganti dengan BKP yang jenis, tipe, jumlah dan harga yang sama dan atas transaksi tersebut tidak akan mengurangi PPN.

Dalam PMK Nomor 65 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengurangan Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas BKP yang dikembalikan dan Pajak Pertambahan Nilai atas JKP yang Dibatalkan terdapat beberapa peraturan yang menjelaskan mengenai nota retur, sebagai berikut:

1. Pembeli harus membuat dan menyampaikan nota retur kepada PKP penjual pada saat terjadinya pengembalian BKP.

2. Nota retur paling sedikit memuat:

a. nomor urut nota retur;

b. nomor, kode seri, dan tanggal Faktur Pajak dari Barang Kena Pajak yang dikembalikan;

c. nama, alamat, dan Nomor Pokok Wajib Pajak Pembeli;

d. nama, alamat, Nomor Pokok Wajib Pajak Pengusaha Kena Pajak Penjual;

e. jenis barang, jumlah harga jual Barang Kena Pajak yang dikembalikan;

f. Pajak Pertambahan Nilai atas Barang Kena Pajak yang dikembalikan, atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah atas Barang Kena Pajak yang tergolong mewah yang dikembalikan;

g. tanggal pembuatan nota retur; dan

h. nama dan tanda tangan yang berhak menandatangani nota retur

3. Bentuk dan ukuran nota retur disesuaikan dengan kebutuhan administrasi pembeli.

4. Nota retur dibuat paling sedikit rangkap 2, lembar pertama untuk PKP penjual dan lembar kedua untuk arsip pembeli.

(25)

5. Dalam hal penerima BKP bukan PKP, nota retur dibuat paling sedikit rangkap 3, dan lembar ke-3 harus disampaikan ke KPP tempat penerima barang terdaftar.

6. Pengembalian BKP dianggap tidak terjadi dalam hal:

a. Nota retur tidak selengkapnya mencantumkan keterangan minimal seperti yang tertulis diatas.

b. Nota retur tidak dibuat pada saat BKP tersebut dikembalikan.

c. Nota retur tidak disampaikan ke KPP tempat penerima barang terdaftar dalam hal penerima barang bukan PKP.

7. Pengurangan pajak keluaran oleh PKP penjual dilakukan dalam masa pajak saat terjadinya pengembalian BKP.

2. 5. Penyetoran PPN

Penyetoran PPN dan PPnBM harus disetorkan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak dan sebelum Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai disampaikan. Dalam hal tanggal jatuh tempo penyetoran bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, penyetoran dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Untuk sarana pembayaran PPN dan PPnBM digunakan formulir Surat Setoran Pajak (SSP) yang tersedia di Kantor-kantor Pelayanan Pajak dan Kantor- kantor Penyuluhan dan Pengamatan Potensi Perpajakan (KP4) di seluruh Indonesia. SSP menjadi lengkap dan sah bila jumlah PPN atau PPnBM yang disetorkan telah sesuai dengan yang tercantum di dalam Daftar Nominatif Wajib Pajak (DNWP) yang dibuat oleh: Bank penerima pembayaran, Kantor Pos dan Giro, atau Kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai penerima setoran.

Dalam formulir SSP, Wajib Pajak harus mengisi data-data atau keterangan yang diperlukan terkait dengan pembayaran pajak tersebut.

Keterangan-keteragan tersebut adalah:

1. NPWP

2. Nama Wajib Pajak 3. Kode Jenis Setoran (KJS) 4. Masa pajak dan tahun pajak

(26)

5. Nomor Ketetapan (khusus untuk pembayaran STP atau SKPKB/SKPKBT) 6. Jumlah pembayaran

7. Tanggal pembayaran

SSP ini biasanya dibuat rangkap empat, dalam kasus tertentu dibuat rangkap lima. Di mana lembar pertama dan lembar ketiga nanti diberikan kepada Wajib Pajak. Lembar pertama akan disimpan sebagai arsip Wajib Pajak. Lembar ketiga akan dilampirkan dalam SPT yang dilaporkan ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar. Adapun SSP lembar kedua dan keempat diambil bank. Lembar kedua akan disampaikan ke KPPN dan lembar keempat merupakan arsip bank.

Pembayaran pajak dilakukan di kantor pos dan bank-bank yang ditunjuk sebagai penerima pembayaran pajak. Sekarang hampir semua bank merupakan bank yang bisa menerima pembayaran pajak. Sehingga pembayaran pajak tidak dilakukan di kantor pajak. Kantor Pelayanan Pajak hanya mengadministrasikan pelaporan pajak serta melakukan pengawasan terhadap kebenaran pelaporan tersebut. Pembayaran pajak pun bisa dilakukan di mana saja tidak tergantung pada tempat domisili Wajib Pajak atau tempat kedudukan Kantor Pelayanan Pajak.

2. 6. SPT Masa PPN 1111 DM

SPT Masa PPN berfungsi sebagai sarana bagi PKP untuk mempertanggungjawabkan penghitungan jumlah PPN atau PPN dan PPnBM yang terutang. SPT Masa juga merupakan sarana untuk melaporkan tentang pengkreditan PM terhadap PK dan pembayaran atau pelunasan pajak yang telah dilaksanakan sendiri dalam suatu Masa Pajak. Pengusaha yang berstatus sebagai pemungut PPN juga diwajibkan melaporkan PPN yang telah dipungut dengan menggunakan formulir SPT Masa PPN untuk Pemungut PPN.

Berdasarkan Pasal 2 Ayat 2 Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2010, formulir 1111 DM wajib diisi oleh setiap PKP yang menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan Pajak Masukan berdasarkan peredaran usaha atau kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat 7 dan ayat 7A Undang-Undang PPN Tahun 1984 dan perubahannya. Setiap PKP

(27)

wajib mengisi dan menyampaikan SPT Masa PPN dengan benar, lengkap, dan jelas serta menandatanganinya.

SPT Masa PPN 1111 DM, terdiri dari dua bagian. Pertama adalah induk SPT Masa PPN 1111 DM yaitu Formulir 1111 DM (F.1.2.32.05). Bagian kedua adalah lampirannya yang terdiri dari:

1. Formulir 1111 A DM (D.1.2.32.13) adalah Daftar Pajak Keluaran atas Penyerahan Dalam Negeri Dengan Faktur Pajak.

2. Formulir 1111 R DM (D.1.2.32.14) adalah Daftar Pengembalian BKP dan Pembatalan JKP oleh PKP yang Menggunakan Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Direktur Jenderal Pajak ini.

SPT Masa PPN 1111 DM dapat berbentuk kertas atau dalam bentuk data elektronik yang dapat disampaikan melalui media elektronik atau melalui e- filling. SPT Masa PPN 1111 DM dalam bentuk data elektronik wajib digunakan oleh PKP yang:

1. Menerbitkan Faktur Pajak selain Faktur Pajak yang menurut ketentuan diperkenankan untuk tidak mencantumkan identitas pembeli serta nama dan tanda tangan penjual, dan/atau menerima Nota Retur/Nota Pembatalan.

2. Menerbitkan Nota Retur/Nota Pembatalan.

Dengan jumlah lebih dari 25 dokumen dalam satu Masa Pajak. Apabila kedua dokumen di atas yang diterbitkan oleh PKP tidak lebih dari 25 dokumen dalam satu masa pajak, maka PKP dapat menggunakan formulir kertas atau dalam bentuk media elektronik.

Apabila SPT Masa PPN 1111 DM disampaikan dalam bentuk formulir kertas, maka bentuk, isi, dan ukuran SPT Masa PPN 1111 DM harus sesuai dengan Lampiran I Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-45/PJ/2010.

Jika PKP menggunakan SPT Masa PPN 1111 DM dalam bentuk media elektronik maka PKP harus menggunakan aplikasi e-SPT yang telah disediakan oleh DJP dan Induk SPT Masa PPN 1111 DM tetap disampaikan dalam bentuk formulir kertas. PKP yang telah menyampaikan SPT Masa PPN 1111 DM dalam bentuk

(28)

data elektronik, tidak diperbolehkan lagi untuk menyampaikan SPT Masa PPN 1111 DM dalam bentuk formulir kertas.

Apabila PKP menyampaikan SPT Masa PPN 1111 DM tidak sesuai dengan ketentuan di atas, maka SPT Masa PPN 1111 DM tersebut dianggap tidak disampaikan. Konsekuensinya terhadap PKP dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Setiap PKP yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPT Masa PPN atau menyampaikan SPT Masa PPN dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidana penjara paling lama enam tahun dan denda paling banyak empat kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar.

SPT Masa PPN 1111 DM dapat disampaikan oleh PKP dengan cara manual atau cara elektronik. Penyampaian secara manual dilakukan dengan menyampaikan SPT Masa PPN 1111 DM ke KPP atau KP2KP secara langsung.

Penyampaian secara manual juga dapat disampaikan melalui pos, perusahaan jasa ekspedisi atau jasa kurir, dengan bukti pengiriman surat ke KPP atau KP2KP.

Penyampaian secara manual meliputi SPT Masa PPN 1111 DM yang berbentuk formulir kertas dan SPT Masa PPN 1111 DM yang berbentuk data elektronik yang disampaikan dalam media elektronik. Penyampaian SPT Masa PPN 1111 DM secara elektronik dilakukan melalui e-Filing yang tata cara penyampaiannya diatur sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

PKP harus mengambil sendiri formulir SPT Masa PPN 1111 DM, formulir terdapat dalam bentuk formulir kertas atau aplikasi e-SPT yang dapat diperoleh dengan cara:

1. Diambil di KPP atau KP2KP.

2. Digandakan atau diperbanyak sendiri oleh PKP.

3. Diunduh di laman Direktorat Jenderal Pajak, dengan alamat http://www.pajak.go.id, selanjutnya dapat dimanfaatkan/digandakan.

4. Disediakan oleh ASP yang telah ditunjuk oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Penggandaan formulir SPT Masa PPN 1111 DM harus mempunyai format dan ukuran yang sama dengan formulir yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak.

(29)

Batas Waktu Pelaporan SPT Masa PPN 1111 DM:

1. SPT Masa PPN 1111 DM harus disampaikan paling lama akhir bulan berikutnya setelah berakhirnya Masa Pajak.

2. Dalam hal batas akhir pelaporan bertepatan dengan hari libur termasuk hari Sabtu atau hari libur nasional, pelaporan SPT Masa PPN 1111 DM dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.

Referensi

Dokumen terkait

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh Pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak,

Pasal 1 angka 19, Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa Kena Pajak,

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak, ekspor Jasa

Penggantian sesuai dengan pasal 1 angka 19 adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena

Berdasarkan UU PPN pasal 1 angka 15, Pengusaha Kena Pajak (PKP) didefinisikan sebagai pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan atau penyerahan Jasa Kena

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP),ekspor Jasa Kena Pajak,

Penggantian adalah nilai berupa uang, termasuk semua biaya yang diminta atau seharusnya diminta oleh pengusaha karena penyerahan Jasa Kena Pajak (JKP),ekspor Jasa Kena Pajak,