IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KITAB
FARA>ID{
AL
-
GHAZA>LIYAH
PADA MATA PELAJARAN FIQIH WARIS
DI KELAS IV MADRASAH DINIYAH MIFTAHUL HUDA
SKRIPSI
Oleh:
MUH KHAFID KHISSAMUDDIN
NIM : 210310049
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PONOROGO
ABSTRAK
Khissamuddin, Muh. Khafid. 2016. Implementasi Pembelajaran kitab faroidzul
ghozaliyah pada mata pelajaran fiqih waris di kelas IV Madrasah Miftahul Huda. Skripsi. Program Studi Pendidikan Agama Islam Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ponorogo. Pembimbing (I) Dr. H. Sugihanto, M.Ag. (II) M. Harir Muzakki, M.H.I.
Kata Kunci: Pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah
Pembelajaran adalah proses komunikasi dua arah, yaitu pendidik selaku orang yang menyampaikan informasi atau ilmu berkomunikasi dengan peserta didik atau murid selaku orang yang menuntut ilmu. Pembelajaran sangat berhubungan erat dengan belajar dan mengajar. Di Madrasah Miftahul Huda juga ada pembelajaran fiqih mawaris dengan menggunakan kitab Faroidzul Ghozaliyah.
Dari uraian di atas memicu penulis untuk lebih mmenggali tentang pembelajaran fiqih waris di Madrasah Miftahul Huda dengan rumusan masalah yaitu : (1) Bagaimana pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah di kelas IV Madrasah Miftahul Huda ?; (2) Bagaimana implementasi pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah pada mata pelajaran fiqih mawa>ris di kelas IV Madrasah Miftahul Huda ?
Dalam penelitian menggunakan metode kualitatif yaitu penulis terjun langsung di lapangan untuk melakukan penelitian dengan narasumber ustadz dan murid-murid di Madrasah Miftahul Huda.
Pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah di kelas IV Madrasah Miftahul Huda adalah menggunnakan pembelajaran langsung, yang mana pada metode ini guru menjadi pemeran utama dalam pembelajaran ini. Dalam pembelajaran ini, guru membacakan makna gandul di depan murid, sedangkan murid menulis makna yang dibacakan oleh guru di kitabnya. Kemudian guru menjelaskan materi yang telah dibacakan kepada murid-murid tadi. Implementasi pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah di kelas IV Madrasah Miftahul Huda ini mudah dipahami
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran adalah proses komunikasi dua arah, yaitu pendidik selaku orang yang menyampaikan informasi atau ilmu berkomunikasi dengan peserta didik atau murid selaku orang yang menuntut ilmu. Pembelajaran sangat berhubungan erat dengan belajar dan mengajar. Yang mana dalam pembelajaran membutuhkan strategi dan metode supaya pendidik dalam mennyampaikan materi kepada peserta didik mudah di pahami dan dimengerti. Pembelajaran sebagai perilaku yang hendak dicapai atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu, tujuan dari suatu pembelajaran adalah suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku dan penampilanyang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang diharapkan.1 Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks yang tidak sepenuhnya dapat dijelaskan.Pembelajaran secara singkat dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan
1
pengalaman hidup.2Selain itu,pendidikan juga merupakan suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik agar dapat menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan berfungsi secara kuat dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan pengajaran bertugas mengarahkan proses ini agar sasaran dari perubahan itu dapat tercapai sebagaimana yang diinginkan.3
Karena perubahan merupakan tujuan dari pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran diarahkan pada perubahan yang positif.Dengan demikian perubahan yang diusahakan pendidikan islam adalah pendidikan yang diridhoi oleh Islam dan sejalan dengan ajaran hukum dan dasar-dasar akhlaknya.4Dalam beberapa literatur hukum Islam ditemui beberapa istilah untuk menamakan hukum kewarisan islam seperti fiqih mawa>ris, ilmu fara>id}, dan hukum kewarisan.5
Dalam hal ini T.M. Hasby As-Shidiqi dalam bukunya Fiqhal-Mawa>ristelah memberikan pemahaman tentang pengertian hukum mawa>ris. Fiqih waris ialah ilmu yang dengan dia dapat diketahui orang-orang yang mewarisi orang-orang yang tidak bisa mewarisi, kadar yang diterima oleh masing-masing ahli waris serta cara pengambilannya.6Sedangkan waris adalah berbagai aturan tentang perpindahan hak milik seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli
2
Trianto, Progesif KTSP (Jakarta: Prenada Media Group, 2009), 15.
3
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), 10. 4 Bahreysyi, Ajaran Akhlak Imam GhazaIi (Surabaya: Al-Ikhlas), 41.
5
Muh. Muhibbin, Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika, 2003), 5.
6Ibid.
warisnya. Dalam istilah lain, waris disebut juga dengan fara>id}, yang artinya bagian tertentu yang dibagi menurut agama kepada semua yang berhak menerimanya.
Hukum waris islam menempuh jalan tengah antara memberi kebebasan penuh kepada seseorang untuk memindahkan harta peninggalannya dengan jalan wasiat kepada orang yang di kehendaki, seperti yang berlaku dalam kapitalisme/individualisme, dan melarang sama sekali pembagian harta peninggalan seperti yang menjadi prinsip komunisme yang tidak mengakui hak milik perorangan, yang dengan sendirinya tidak mengenal sistem warisan.Hukum waris islam lebih cenderung untuk membagikan harta warisan kepada sebanyak mungkin ahli waris, dengan memberikan bagian tertentu kepada beberapa ahli waris. Misalnya, apabila ahli waris terdiri dari ayah, ibu, suami atau istri dan anak-anak, mereka semua berhak atas harta warisan.
agama. Jangan sampai ada yang dirugikan dan termakan baginya oleh ahli waris yang lain.7 Mengingat pentingnya tujuan dalam mempelajari ilmu fara>id ini maka mempelajarinya sangat penting. Hal ini sebagaimana sabda
Rasullah Saw :
نبا هاور يتما نم عزني ءيش لوا وىو ىسني وىوملعلافصن ونءاف سانلااىاوملعوضئارفلااوملعت
ىنطق رادلاو وجام
Artinya:Belajarlah faraid dan ajarkanlah dia kepada manusia, karena ia itu adalahseparuh ilmu, dan ia akan dilupakan, dan ia adalah ilmu yang pertama akan tercabut dari umatku (HR. Ibn Majah dan Daruquthni).
Dari hadis tersebut dapat diketahui betapa pentingnya ilmu fara>id atau hukum waris sampai ditegaskan Rasulullah bahwa ia itu separuh ilmu. Dalam hukum waris islam membedakan antara besar kecilnya bagian tertentu ahli waris diselaraskan dengan kebutuhannya dalam hidup sehari-hari, disamping memandang jauh dekatnya hubungannya dengan mayit (pewaris). Bagian tertentu dari harta itu adalah 2/3, ½, 1/3, `/4, 1/6, 1/8. Ketentuan tersebut termasuk hal yang sifatnya ta‟abbudi, yang wajib dilaksanakan karena telah menjadi ketentuan al Qur‟an.
Adanya ketentuan bagian ahli waris yang bersifat ta’abbudi itu merupakan salah satu ciri hukum waris islam. Para ulama menetapkan bahwa mempelajari ilmu fara>idadalah fard}u kifa>yah, artinya kalau dalam suatu masyarakat atau perkampungan tidakada yang mempelajari ilmu fara>id maka berdosalah orang-orang di kampung itu. Akan tetapi jika ada yang
7Ibid,
mempelajari walau hanya satu atau 2 orang saja maka terlepaslah semua dosa.8
Berdasarkan observasi pada tanggal 3 maret 2014, bahwa banyak murid kelas IV Madrasah Miftahul Huda banyak yang belum paham tentang pemahaman fiqih mawa>ris. Walaupun jam pembelajaran pada mata pelajaran
ini adalah 3 jam pelajaran.
Madrasah Miftahul Huda adalah madrasah diniyah yang didalamnya diajarkan pendidikan agama islam yang merujuk pada kitab-kitab salaf. Di madrasah ini memiliki jenjang 6 tahun dan dilanjutkan dengan program takhasus selama 2 tahun. Di antara kitab yang dipelajari adalah kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahkarangan Syaih Al „Alamah Muhammad Ibn Umar AL Baqoriyyi Al Syafi‟iyahyang membahas tentang mawa>ris. Yang mana pembelajaran kitab ini banyak menggunakan hitungan dan tabel untuk menenukan bagiannya. Pembelajaran ini diberikan bagi murid kelas IV Madrasah Miftahul Huda.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pembelajaran kitab fara>id}al-Ghaza>liyahdengan judul
“IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN KITAB FARA>ID{ AL-GHAZA>LIYAHPADA MATA PELAJARAN FIQIH WARIS DI KELAS
IV MADRASAH DINIYAH MIFTAHUL HUDA”.
B. Identifikasi dan Fokus Penelitian
8Ibid,
1. Identifikasi Masalah
Dari pemaparan di atas, maka ditemukan hal-hal yang menarik dan dapat diidentifikasikan yaitu sulitnya memahami mata pelajaran fiqih waris.
2. Fokus Penelitian
Berangkat dari latar belakang masalah diatas, maka penelitian inidifokuskan pada aspek pembelajaran fiqih waris di kelas IV Madrasah Miftahul Huda
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari uraian masalah di atas, maka penulis mengambil rumusan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pembelajaran kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahdi kelas IV
Madrasah Diniyah Miftahul Huda ?
2. Bagaimana implementasi pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyahpada mata pelajaran fiqih mawa>ris di kelas IV Madrasah Diniyah Miftahul Huda ?
D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pembelajaran kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahdi kelas IV
Madrasah Diniyah Miftahul Huda
2. Untuk mengetahui implementasi pembelajaran kitab Fara>id}
al-Ghaza>liyahpada mata pelajaran fiqih mawa>ris di kelas IV Madrasah Diniyah Miftahul Huda
E. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan penulis dalam penelitian ini adalah:
1.Manfaat Teoristis
Kajian dalam skripsi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pendidikan Islam. Khususnya untuk mengembangkan cara pembelajaran fiqih mawa>ris
2.Manfaat Praktis
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat memberikan sumbangsihkepada:
a. Pendidik
Dapat mengetahui permasalahan peserta didik dalam memahami pelajaran fiqih mawa>ris sehingga bisa menggunakan metode yang sesuai dengan kondisi peserta didik
Dapat meningkatkan semangat peserta didik dalam mempelajari fiqih
mawa>ris
c. BagiLembaga Pendidikan
Memberikan bahan referensi dan menjadikan masukan serta tolak ukur dan kontribusi khazanah keilmuan, khususnya tentang pembelajaran fiqih mawa>ris di Madrasah Miftahul Huda
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan Kualitati Deskriptif, yaitu mendiskripsikan suatu situasi atau kasus tertentu yang bersifat faktual secara sistematis dan akurat. Dapat pula diartikan sebagai penelitian yang dimaksudkan untuk memomotret fenomena individual, situasi, atau kelompok tertentu yang terjadi secara kekinian.9Adapun pendekatan ini penulis gunakan untuk mengetahui mengenai Implementasi Pembelajaran Kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahPada Mata Pelajaran Fiqih Waris di kelas IV
Madrasah Diniyah Miftahul Huda.
Dalam Penelitian ini digunakan metodologi penelitian dengan Metode penelitian kualitatif. Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi Kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Menurut mereka pendekatan ini diarahkan pada
9
latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variable atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari sesuatu keutuhan.
Sejalan dengan definisi tersebut, Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa penelitian Kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannyamaupun dalam peristilahnya.10
Adapun dalam penelitian ini yang digunakan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah studi kasus, yaitu suatu ekspresi intensif dan analisis fenomena tertentu atau satuan sosial seperti individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian Kualitatif ”the researcher is the key
instrument”. Jadi peneliti adalah merupakan instrumen kunci dalam penelitian Kualitatif.11 Ciri khas penelitian kualitatif memang tidak dapat dipisahkan dari pengamatan berperan serta, namun peranan penelitilah yang menentukan keseluruhan skenarionya. Kedudukan peneliti dalam penelitian Kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, dan pada
10
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rodakarya, 2009), 4.
11
akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya. Pengertian instrumen atau alat penelitian disini tepat karena ia menjadi segalanya dari keseluruhan proses penelitian.12 untuk itu, dalam penelitian ini peneliti bertindak sebagai instrumen, partisipan penuh, sekaligus pengumpul data sedangkan instrumen yang lain sebagai penunjang.
3. Lokasi Penelitian
Madrasah Miftahul Huda Pondok Pesantren Darul Huda yang terletak di jalan Ir. Juanda Gg VI desa Mayak Kec. Tonatan Kab.Ponorogo. Peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di Madrasah Miftahul Huda Pondok Pesantren Darul Huda karena sesuai denagn topik yang peneliti pilih. Dengan memilih lokasi ini, peneliti diharapkan menemukan hal-hal baru dan bermakna.
4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari sumber data utama (primer) dan sumber data tambahan (sekunder). Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data primer dalam penelitian ini diperoleh dari:
a. Ustadh H. Ahmad Syaifudddin Rofi‟i selaku Kepala Madrasah b. UstadhSholeh Hasan selaku ustadh yang mengajar kitab Fara>id}
al-Ghaza>liyah
12
c. Ustadh Khusnul Fuad selaku ustadh yang mengajar kitab Fara>id}al-Ghaza>liyah
d. Ustadh Haris Al Asad selaku ustadh yang mengajar kitab Fara>id}al-Ghaza>liyah
e. Murid-murid kelas IV 1) Abdul Aziz 2) Lina Fatikasari
3) Muh. Harun Al Rosyid 4) M. Ilham Madani 5) Khoirul Mustofa 6) Ilham
Peneliti memilih murid-murid ini karena mereka adalah murid-murid yang pandai dan belum bisa dalam memahami pelajaran.
Sedangkan sumber data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data /kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini didapatkan dari dokumen perencanaan pembelajaran, dokumentasi pelaksanaan pembelajaran dan dokumen hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran.
5. Teknik Pengumpul Data
mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan. Adapun pengumpulan data penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan :
a. Wawancara
Wawancara adalah bentuk komunikasi antara dua orang, melibatkan seseorang yang ingin memperoleh informasi dari seorang lainya dengan mengajukan pernyataan-pernyataan, berdasarkan tujuan tertentu. Wawancara secara garis besar dibagi menjadi dua, yakni wawancara tak terstruktur dan terstruktur. Wawancara tak terstruktur sering juga disebut wawancara mendalam.13Dalam wawancara tidak terstruktur, tidak dibutuhkan pedoman wawancara yang detail tetapi semacam rencana umum untuk menanyakan pendapat atau komentar responden tentang suatu topik sesuai tujuan pewawancara.14 Dalam teknik wawancara ini, peneliti akan mewawancarai kepala madrasah tentang sejarah berdirinya madrasah dan kegiatan belajar di Madrasah Miftahul Huda. Ustadz kitab Fara>id}al-Ghaza>liyah tentang pembelajarannya.
Murid-murid kelas IV tentang pemahaman tentang fiqih waris. b. Observasi
13
Deddy Mulyana,MetodologiPenelitian Kualitatif:ParadigmaBaru Ilmu Komunikasi dan IlmuSosialLainnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Offset, 2004),180.
14
Teknik observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data dimana peneliti mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap obyek yang diteliti, baik dalam situasi buatan yang secara khusus diadakan (laboratorium) maupun dalam situasi alamiah atau sebenarnya (lapangan).15Dalam penelitian kualitatif ini, peneliti menggunakan teknik observasi tidak berstruktur yaitu observasi yang tidak dipersiapkan secara sistematis tentang apa yang akan di observasi. Hal ini dilakukan karena peneliti tidak tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati selain itu, fokus observasi juga akan terus berkembang selama kegiatan observasi berlangsung.16 Hasil observasi kemudian akan dicatat dalam catatan lapangan sebab catatan lapangan merupakan alat yang sangat penting dalam kegiatan penelitian kualitatif. Pengajuan hipotesis kerja, hal-hal yang menunjang hipotesis kerja, penentuan derajat kepercayaan dalam rangka keabsahan data, semuanya harus didasarkan atas data yang terdapat dalam catatan lapangan. Disinilah letak pentingnya catatan lapangan itu. Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif “jantungnya” adalah catatan
lapangan.17 Dalam teknik ini, peneliti mengamati kegiatan belajar mengajar mata pelajaran fiqih waris di dalam kelas.
15
Andhita Dessy, Penelitian Pendidikan: Suatu Pendekatan Praktik dengan menggunakan SPSS ( Ponorogo: STAIN PO Press, 2012), 64.
16
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2010), 313.
17
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah rekaman peristiwa yang lebih dekat dengan percakapan, meyangkut persoalan pribadi, dan memerlukan interpretasi yang berhubungan sangat dekat dengan rekaman peristiwa tersebut.18 Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.19 Dokumen yang dihimpun dipilih yang sesuai dengan tujuan dan fokus masalah.20 Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.21 Dalam teknik ini, peneliti mendokumentasikan kegiatan pembelajaran dalm bentuk tulisan dan gambar.
6. Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh
18Ibid
.130.
19
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 329.
20
Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan ( Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2009) , 221-222.
21
diri sendiri maupun orang lain.22Menurut Miles dan Huberman ada tiga macam kegiatan dalam analisis data kualitatif yaitu:23
a. Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan polanya serta membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan memudahkan Penulis melakukan pengumpulan selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan.24
b. Display Data
Penyajian data (data display) adalah penyajian data dalam bentuk uraian singkat, bagan hubungan antar kategori dan sejenisnya. Dalam hal ini, Miles dan Huberman menyatakan: yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Dengan mendisplay data, maka akan mempermudah memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya dan berdasarkan yang dipahami tersebut.25
Emzir,Metodologi Penelitian KualitatifAnalisis Data (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), 129.
24
Sugiyono, Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, 338.
25Ibid
Penulis menarik kesimpulan dari data-data yang telah diperoleh sehingga dapat menggambarkan pola yang terjadi.Dari data yang direduksi adalah data tentang hasil wawancara, observasi serta dokumentasi yang meliputi sejarah singkat, letak geografis, visi dan misi, tujuan Madrasah Miftahul Huda Mayak Tonatan Ponorogo. Data yang didisplay adalah data mengenai temuan penelitian meliputi struktur organisai, struktur personalia dan jumlah murid. Sedangkan data yang dikonklusi adalah keseluruhan data yang disimpulkan, yaitu data megenai Implementasi Pembelajaran Kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahPada Mata Pelajaran Fiqih
Waris Di Kelas IV Madrasah Miftahul Huda 7. Pengecekan Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan konsep penting yang diperbarui dari konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (kredibilitas data).26Derajat kepercayaan keapsahan data (kredibilitas data) dapat diadakan pengecekan dengan teknik pengamatan, yang dimaksud adalah menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan dengan persoalan dan isu yang sedang dicari. Ketekunan pengamatan ini dilaksanakan peneliti dengan cara:
a. Mengadakan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan terhadap faktor-faktor yang menonjol yang ada
26
hubungannya dengan Pembelajaran Kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahPada
Mata Pelajaran Fiqih Waris Di Kelas IV Madrasah Miftahul Huda. b. Menelaah secara rinci sampai pada suatu titik sehingga pada
pemeriksaan tahap awal salah atau semua faktor yang ditelakah sudah dipahami dengan cara yang biasa.
Tehnik triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain.Diluar data itu untuk keperluan pengecekan data atau sebagai pembanding terhadap data itu. Ada empet triangulasi sebagai tehnik pemeriksaan yang memanfaatkan penyusunan sumber, metode, penyidik dan teori.27
Dalam penelitian ini digunakan tehnik triangulasi dengan sumber, berarti membandingkan dengan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melelui waktu dan alat yang berbeda dalammetode kualitatif. Hal itu dapat dicapaipeneliti dengan cara :
a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara
b. Membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara peribadi
c. Membandingka apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan secara peribadi
27Ibid,
d. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan
Selanjutnya metode triangulasi dengan metode melalui 2 strategi yaitu :
a. Pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data.
b. Pengecekan derajat kepercayaan bersumber dari data yang sama Teknik ke 3 ialah dengan jalan memanfaatkan peneliti atau pengamat lainnya untuk keperluan pengecekan kembali derajat kepercayaan data. Pemanfaatan pengamat lainnya membantu mengurai kemelencengan dalan pengumpulan data.
8. Tahap-Tahap Penelitian
Tahap-tahap penelitian kualitatif menyajikan tiga tahapan yaitu tahap pralapangan, tahap kegiatan lapangan, dan tahap analisis intensif.28 Dalam penelitian ini ada tiga tahapan yang dilakukan oleh peneliti ditambah satu tahapan terakhir yaitu penyusunan laporan penelitian. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut: a. Tahap pra lapangan, meliputi: menyusun rancangan penelitian,
memilih lapangan penelitian, mengurus perizinan, menjajagi dan menilai keadaan lapangan, memilih dan memanfaatkan informan, dan menyiapkan perlengkapan informan.
28
b. Tahap pekerjaan lapangan, meliputi: memahami latar penelitian, persiapan diri menjadi pengamat, memasuki lapangan, kemudian mengumpulkan data.
c. Tahap analisis data, meliputi: analisis catatan lapangan selama dan setelah mengumpulkan data.
d. Tahap penulisan laporan sesuai dengan urutan dan sistematika yang telah ditentukan.
G. Sistematika Pembahasan
Pembahasan dalam proposal ini terbagi menjadi beberapa bab, maka peneliti menyesuaikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama adalah pendahuluan, yaitumembahas tentang: latar belakang masalah, fokus penelitian, rumusan masalah, tujuan, manfaat dan metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Bab kedua adalah landasan teori dan telaah pustaka terdahulu, yaitu membahas mengenaiteori tentang pembelajaran, fiqih waris dan telaah pustaka terdahulu.
Bab ketiga adalah deskripsi data, yaitu membahas tentang penyajian data yang meliputi paparan data umum yang berkaitan dengan gambaran umum Madrasah Miftahul Huda yang berisi tentang sejarah singkat berdirinya, letak geografis, visi-misi dan tujuan serta sarana dan prasarana, dan paparan mengenai implementasi pembelajaran kitab Fara>id}
al-Ghaza>liyah pada mata pelajaran fiqih waris di kelas IV Madrasah Diniyah
Bab keempat adalah analisis data, yaitu membahas tentang: bagaimana pembelajaran kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahdi kelas IV Madrasah
Miftahul Huda dan implementasi pembelajaran kitab Fara>id}al-Ghaza>liyah
pada mata pelajaran fiqih mawa>ris di kelas IV Madrasah Diniyah Miftahul Huda.
BAB II
KONSEP PEMBELAJARAN FIQIH MAWARIS
A. Konsep Pembelajaran 1. Pembelajaran
a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.29 Kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari
“instruction” yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Istilah ini banyak dipengaruhi oleh aliran Psikologi kognitif wholistik, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu istilah ini juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumssikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media seperti bahan-bahan cetak, progam televisi, gambar, audio, dan lain sebagainya, sehingga semua itu mendorong terjadinya perubahan peranan guru dalam mengelola proses belajar mengajar dari guru sebagai sumber belajar menjadi guru sebagai fasilitator
29
Oemar Hamalik,Kurikulum dan Pembelajaran(Jakarta:Bumi Aksara, 2006), 57.
dalam belajar mengajar.30 Pembelajaran merupakan aspek kegiatan yang komplek, yang tidak sepenuhnya dapat di jelaskan.
Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai produk intraksi keberlanjutan antara pengalaman dan pengembangan hidup. Adalah dalam makna yang lebih kompleks pembelajaran hakikatnya adalah usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan intraksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan dari makna ini jelas terlihat bahwa pembelajaran merupakan intraksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana di antara keduanya terjadi komunikasi (transfer) yang intens dan terarah menuju pada suatu target yang telah di tetapkan sebelumnya.31
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, matrial, fasIlitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Istilah pembelajaran hubungan erat dengan belajar dan mengajar. Belajar, mengajar dan pembelajaran terjadi bersama-sama. Pada hakikatnya belajar merupakan suatu proses yang dilalui oleh individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku kearah yang baik sebagai hasil dari pengalaman individu dalam
30
Sanjaya Wina, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), 78.
31
interaksi dengan lingkungannya. Sedangkan mengajar yaitu suatu kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada pelajar agar dapat menerima, menanggapi, menguasai dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
Pengertian pembelajaran banyak dirumuskan beberapa ahli, diantaranya: Menurut Syaiful Sagala, pembelajaran ialah membelajarkan siswa menggunakan azaz. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah. Mengajar dilakukan oleh pihak guru sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik.
Menurut Corey, pembelajaran adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku dalam kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu.
Dari teori-teori yang dikemukakan banyak ahli tentang pembelajaran Oemar hamalik mengemukakan tiga rumusan yang dianggap lebih maju dibandingkan dengan rumusan terlebih dahulu, yaitu :
belajar dan lain-lain. selain dari itu pribadi guru sendiri, suasana kelas, kelompok siswa, lingkungan di luar sekolah, semua menjadi lingkungan yang bermakna bagi perkembangan siswa.
2) Pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik. Pembentukan warga negara yang baik adalah warga yang dapat bekerja di masyarakat. Seorang warga negara yang baik bukan menjadi konsumen, tetapi yang lebih penting adalah menjadu seorang produsen. Untuk menjadi seorang produsen, maka ia harus memiliki keterampilan berbuat dan bekerja dalam arti kata dapat menyumbangkan dirinya kepada kehidupan yang baik dan bermanfaat buat masyarakat.
masyarakat. Dalam hal ini guru juga bertugas sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat. Guru harus mengenal dengan baik keadaan masyarakat sekitarnya supaya dapat menyusun proyek-proyek kerja bagi para siswa.
4) Proses pembelajaran dalam pendidikan islam. Proses pembelajaran dalam pendidikan islam sebenarnya sama dengan proses pembelajaran pada umumnya, namun yang membedakannya adalah bahwa dalam pendidikan islam proses maupun hasil belajar selalu inhern dengan keislaman, keislaman melandasi aktifitas belajar, menafasi perubahan yang terjadi serta menjiwai aktivitas berikutnya. Keseluruhan proses pembelajaran berpegang pada prinsip-prinsip Al-Qur an dan Al-Sunnah serta terbuka untuk unsur-unsur luar secara adaptif yang ditilik dari persepsi keimanan.32
b. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajaran muaranya pada tercapainya tujuan tersebut.
Dilihat dari sejarahnya, tujuan pembelajaran pertama kali diperkenalkan oleh B.F. Skinner pada tahun 1950 yang diterapkannya dalam ilmu perilaku (behavioral science) dengan
32
maksut untuk meningkatkan mutu pembelajaran. Kemudian diikuti oleh Robert Mager yang menulis buku yang berjudul Preparing Instructional Objective pada tahun 1962. Selanjutkan diterapkan secara meluas pada tahun 1970 di seluruh lembaga pendidikan termasuk di Indonesia. Penuangan tujuan pembelajaran ini bukan saja memperjelas arah yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan belajar, tetapi dari segi efesiensi di peroleh hasil yang maksimal. c. Ciri-Ciri Sistem Pembelajaran
Ada 3 ciri khas dalam sistem pembelajaran, ialah :
1)Rencana, ialah penataan ketenangan, matrial, dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.
2)Saling ketergantungan,antara unsur-unsur sistem sistem pembelajaran yang serasi dalam keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbanganmya kepada sistem pembelajaran.
3)Tujuan, ialah sistem pembelajaran yang mempunyai tujuan tertentu yang hendak di capai. Ciri ini menjadi dasar perbedaan antara sistem yang dibuat oleh manusia dan sistem yang alami (natural).33 Adapun tujuan pembelajaran dalam bukunya Sugandi, dkk adalah membantu siswa pada siswa agar memperoleh berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu
33
tingkah laku yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan, dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa.Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran tentunya banyak faktor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya. Faktor yang mempengaruhi belajar dibedakan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang berada di luar individu. Yang termasuk faktor intern antara lain : faktor-faktor jasmaniyah (faktor kesehatan dan cacat tubuh); faktor psikollogis (intelligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan); dan faktor kelelahan (kelelahan jasmani dan rohani). d. Strategi Pembelajaran
Pembealajaran adalah upaya membelajarkan siswa untuk belajar. Kegiatan pembelajaran akan melibatkan siswa mempelajari sesuatu dengan cara efektif dan efisien (Muhaimin, 1996).
Hal senada juga diungkapkan oleh Djamarah, bahwa secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Berkaitan dengan pembeljaran, strategi dapat diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dengan anak didik dalam perwujudan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Strategi sebenarnya berasal dari kata Yunani yang berupa
strategos dan strategus, yang berarti jenderal atau perwira negara. Lebih dari itu, Shirley mengatakan bahwa strategi adalah keputusan-keputusan bertindak yang diarahkan dan keseluruhannya diperlukan untuk mencapai tujuan. J. Salusu juga berpendapat sebagaimana dikuttip oleh anissa dalam bukunya bahwa ia mengatakan strategi adalah sebagai suatu seni menggunakan kecakapan dan sumberdaya untuk mencapai sasarannya melalui hubbungan yang efektif dengan lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan. Sedangkan, dalam kamus besar bahasa indonesia dikatakan bahwa strategi adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.34
Dick dan Carey mengatakan, strategi pembelajaran adalah semua komponen materi/paket pengajaran dan prosedur yang digunakan untuk membantu siswa dalam mencapai mtujuan
34
pengajaran. Strategi pembelajaran tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan termasuk seluruh komponen materi atau paket pengajaran dan pola pengajaran itu sendiri.
Dengan memahami beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa strategi pembelajaran adalah siasat guru dalam mengefektifkan serta mengoptimalkan fungsi dan interaksi antara siswa dengan komponen pembelajaran dalam suatu kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pengajaran.
Strategi pembelajaran merupakan cara/metode yang digunakan untuk melakukan pengajaran yang baik dan efektif, yang di antaranya terbagi menjadi :
1) Strategi Pembelajaran Secara Langsung
Dalam hal ini, para guru merupakan pemeran utama dalam menyampaikan materi ajaran kepada peserta didik. Yang dengannya para guru harus aktif memberikan materi secara langsung. Untuk strategi pembelajaran ini bersifat deduktif. 2) Strategi Pembelajaran Tidak Langsung
3) Strategi Pembelajaran Interaktif
Strategi ini menekankan komunikasi yang terjalin antara para peserta didik dengan peserta didik lainnya maupun antara peserta didik dengan guru melalui kegiatan diskusi untuk memecahkan suatu permasalahan. Kelebihan dari strategi ini adalah ntuk mengajak untuk lebih aktif dan peka terhadap setiap permasalahan yang dibahas dalam pembelajaran tersebut. 4) Strategi Pembelajaran Empiris
Strategi ini merupakan sebuah strategi pembelajaran yang lebih menekankan aktifitas yang diakukan oleh pra peserta didik selama masa pembelajaran.
5) Strategi Pembelajaran Mandiri
Strategi ini bertujuan untuk meningkatkan potensi masing-masing peserta didik serta mengakomodir inisiatif yang mereka miliki untuk mengembangkan dirinya sendiri.35
e. Metode Pembelajaran
Metode sebenarnya adalah seperangkat cara yang digunakan oleh seorang guru dalam menyampaikan ilmu atau transfer ilmu kepada anak didiknya yang berlangsung dalam proses belajar dan mengajar atau proses pembelajaran. Dari ungkapan tersebut, dapat diambil kesimpulan umum, yaitu ketika seorang guru semakin menguasai metode pembelajaran, maka semakin baik
35
pula ia dalam menggunakan metode tersebut. Lebih dari itu, secara umum metode adalah segala sesuatu yang termuat dalam setiap proses pembelajaran.36
Metode juga dapat diartikan sebagai sebuah sistematika umum bagi pemilihan, penyusunan, dan penyajian materi. Dalam memilh sebuah metode, yang terpenting adalah tidak berbenturan dengan pendekatan yang menjadi dasarnya. Pendekatan adalah sesuatu yang bersifat prinsip filosofis, sedangkan metode adalah sesuatu yang bersifat praktis, yang merupakan perwujudan dari sebuah pendekatan. Jadi, pendekatan adalah wujud abstrak, sedangkan perwujudan dari yang abstrak tersebut adalah metode.
Pada hakikatnya, secara harfiah metode berarti “cara”..
dalam pemakaian yang umum, metode diartikan sebagai cara melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan menggunakan fakta dan konsep secara sistematis.37 Metode adalah suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan. Jika demikian halnya, maka metode harus ada pada setiap proses belajar dan mengajar yang dilakukan oleh seorang guru atau tenaga pendidik.38
Metode juga berarti sekumpulan cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan-tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan pembelajaran, pastilah metode ini sangat
36
M. Abdul Hamid dkk., Pembelajaran Bahasa Arab (Malang: UIN Malang Press,2008), 3.
37
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2006), 201.
38
diperlukan oleh seorang guru, dan penggunaannya pun bermacam-macam, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah kegiatan pembelajaran selesai.39
Adapun fungsi dari metode terbagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Metode sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Menurut Sadirman, sebagaimana dikutip oleh Annisa, bahwa yang dimaksud dengan alat motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena ada pengaruh dari luar.40 Biasanya, ini sangat erat hubungannya dalam penggunaan metode oleh guru yang bermacam-macam atau lebih dari satu dalam kegiatan pembelaaran. Hal ini di karenakan dalam penggunaan metode yang bervariasi itu, dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik.
2) Metode sebagai Strategi Pengajaran
Sebagai seorang guru, kita harus mengerti bahwa kemampuan dan daya serap anak atau peserta didik itu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itulah, dalam menjalankan kegiatan pembelajaran, guru perlu menggunakan metode yang tepat guna menyikapi fenomena ini. Selain itu, anak mudah bosan jika setiap kali pembelajaran berjalan stagnan dan kaku. Oleh karena itu, Roestiyah menyatakan bahwa dalam kegiatan
39
Mufaroka, Strategi Belajar Mengajar, 47.
40Ibid
belajar dan mengajar, guru harus menguasai serta memiliki strategi agar anak dapat belajar dengan efektif dan efesien, dan mereka juga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Salah satu jalan untuk menguasai strategi adalah menguasai teknik-teknik penyajian atau biasa dikenal dengan istilah metode mengajar. Oleh karena itulah, metode mengajar juga bisa disebut sebagai strategi pengajaran dalam proses belajar dan mengajar.
3) Metode sebagai Alat untuk Mencapai Tujuan
Tujuan adalah inti dari setiap kegiatan pembelajaran. Tujuan ini merupakan goal getter yang terakhir dari sebuah interaksi pembelajaran antara guru dan siswa. Pedoman ini berfungsi sebagai pemberi arahan kegiatan belajar dan mengajar. Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran ini, pastilah guru seringkali melakukan dan mengembangkan inovasi dari dalam kegiatan belajar dan mengajar.
Salah satu usaha yang dilakukan oleh guru tersebut adalah mengembangkan metode pembelajaran yang digunakan. Hal ini karena metode adalah salah satu alat untuk mencapai sebuah tujuan pembelajaran.
Variabel metode pembelajaran diklasifikasikan lebih lanjut menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :
2) Strategi penyampaian (delivery strategy) 3) Strategi pengelolaan (management strategy)
Organizational stratgy adalah metode untuk mengorganisasi isi bidang studi yang dipilih untuk pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, formay dan lainnya yang setingkat dengan itu.
Delivery strategy adalah metode untuk menyampaikan kepada siswa dan/untuk menerima serta merespon masukan yang berasal dari siswa. Media pembelajaran merupakan bidang kajian utama dari strategi ini.
Management strategy adalah metode untuk menata interaksi antara si belajar dan variabel metode pembelajaran lainnya, variabel strategi pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran.
f. Kondisi Pembelajaran
haruslah yang berinteraksi dengan metode, dan sekaligus berada di luar kontrol perancang pembelajaran.
Maksud yang terpenting dari bahasan ini, yakni mengidentifikasi variabel kondisi pembelajaran yang memiliki pengaruh utama pada tiga variabel metode yang telah dideskripsikan di atas. Atas dasar ini, Reigeluth dan Merril (1979) mengelompokkan variabel kondisi pembelajaran menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu :
1) Tujuan dan karakteristik bidang studi 2) Kendala dan karakteristik bidang studi 3) Karakteristik si belajar41
g. Tahapan Pembelajaran
Secara umum, dalam strategi pembelajaran ada tiga tahapan pokok yang harus diperhatikan dan diterapkan (Riyanto, 2001) sebagai berikut:
1) Tahap pemula (pra-instruksional), adalah tahapan persiapan guru sebelum kegiatan pembelajaran di mulai. Dalam tahapan ini kegiatan yang dapat dilakukan guru, antara lain:
a) Memeriksa kehadiran siswa
b) Pretest (menanyakan materi sebelumnya)
c) Apersepsi (mengulas kembali secara singkat materi sebelumnya)
41
2) Tahap pengajaran (instruksional), yaitu langkah-langkah yang dilakukan saat pembelajaran berlangsung.Tahap ini merupakan tahapan inti dalam proses pembelajaran, guru menyajikan materi pelajaran yang telah disiapkan. Kegiatan yang dilakukan guru, antara lain:
a) Menjelaskan tujuan pengajaran siswa.
b) Menuliskan pokok-pokok materi yang akan dibahas. c) Membuat pokok-pokok materi yang telah ditulis d) Menggunakan alat peraga.
e) Menyimpulkan hasil pembahasan dari semua pokok materi. 3) Tahap penilaian dan tindak lanjut (evaluasi), ialah hasil
penilaian atas hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dan tindak lanjutnya.Setelah melalui tahap instruksional, langkah selanjutnya yang ditempuh guru adalah mengadakan penilaian keberhasilan belajar siswa dengan melakukan posttest. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam tahap ini, antara lain:
a) Mengajukan pertanyaan pada sisa tentang materi yang telah dibahas
b) Mengulas kembali materi yang belum dikuasai siswa. c) Memberi tugas atau pekerjaan rumah pada siswa.
Hasil penilaian dapat dijadikan pedoman bagi guru untuk melakukan tindak lanjut berupa perbaikan ataupun pengayaan.
h. Jenis Strategi Pembelajaran
Aqib mengelompokkan jenis strategi pembelajaran berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu, yaitu:
1) Atas dasar pertimbangan proses pengelolaanpesan.
a) Strategi deduktif. Materi atau bahan pelajaran diolah mulai dari yang umum ke yang bersifat khusus atau bagian-bagian. Bagian-bagian itu dapat berupa sifat, atribut atau ciri-ciri.
b) Strategi induktif. Dengan Strategi induktif, materi bahan pelajaran diolah mulai dari khusus ke yang umum, generalisai atau umum.
2) Atas dasar pertimbangan pihak pengelola pesan.
sebagai fasilitator untuk memberikan dorongan, arahan, dan bimbingan.
3) Atas dasar pertimbangan pengaturan guru
a) Strategi seorang guru. Seorang guru mengajar kepada sejumlah siswa.
b) Strategi pengajaran beregu (team teaching). Dengan pengajaran beregu dua orang atau lebih guru mengajar sejumlah siswa.
Pengajaran beregu dapat digunakan dalam mengajarkan salah satu mata pelajaran atau sejumlah mata pelajaran yang terpusat pada suatu topik tertentu.
4) Atas dasar pertimbangan jumlah siswa a) Strategi klasikal
b) Strategi kelompok kecil c) Strategi individu
5) Atas dasar pertimbangan interaksi guru dengan siswa. a) Strategi tatap muka
b) Strategi pengajaran melalui media. Guru tidak langsung kontak dengan siswa, tetapi melalui media. Siswa berinteraksi dengan media.
i. Implementasi Strategi Pembelajaran
Strategi pembelajaran meliputi seluruh kegiatan/tahapan-tahapan tersebut, tetapi titik beratnya berada di tahap persiapan.
1) Persiapan Pembelajaran
Dalam tahap, ini persiapan yang perlu dilakukan: a) Perumusan tujuan pembelajaran.
b) Pengembangan alat evaluasi.
c) Analisis tugas belajar dan identifikasi kemampuan siswa. d) Penyusunan strategi pembelajaran.
2) Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
Tahap ini merupakan pelaksanaan strategi pembelajaran yang telah dipersiapkan pada tahap sebelumnya, meliputi: a) Pengelolaan kelas
b) Penyelenggaraan tes (jika ada) atau tanya jawab untuk memperoleh balikan mengenai penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran sebelumnya yang ada hubungannya dengan bahan pelajaran baru.
c) Penyajian bahan pelajaran sesuai dengan metode dan teknik penyajian.
d) Pemberian motivasi dan penguatan.
e) Diskusi atau tanya jawab, kerja kelompok, perorangan. f) Monitoring proses pembelajaran.
3) Evaluasi Hasil Progam Belajar
Tahap kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh baikan tentang hal-hal berikut ini:
a) Taraf pencapaian tujuan pembelajaran, keseksamaan perumusan tujuan.
b) Kesesuaian antara metode dan teknik pengajaran dengan sifat bahan pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, karakteristik siswa, kemampuan dasar siswa.
c) Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program. d) Keseksamaan alat evaluasi yang digunakan dengan tujuan
pengajaran/tujuan program yang ingin dinilai keberhasilannya.
4) Perbaikan Program Kegiatan Pembelajaran
Bagi siswa yang gagal mencapai tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan, perlu diselenggarakan pengajaran remidial mengenai aspek-aspek, pokok-pokok bahasan dari tugas belajar, dan tujuan belajar, dan tujuan pembelajaran yang belum dikuasai.
B. Fiqih Mawaris 1. Fiqih
a. Pengertian Fiqih
Fiqih menurut bahasa berarti mengetahui, memahami, yakni mengetahui sesuatu atau memahami sesuatu sebagai hasil usaha mempergunakan pikiran yang sungguh-sungguh. 42 Menurut istilah ulama, fiqh ialah suatu ilmu yang menerangkan segala hukum syara‟ yang berhubungan dengan amaliyah, dipetik dari
dalil-dalilnya yang jelas (tafshili). Maka dia melengkapi hukum-hukum yang dipahami para mujtahid dengan jalan ijtihad dan hukum yang tidak diperlukan ijtihad, seperti hukum yang dinashkan dalam Al Qur an, Al Sunnah, dan masalah ijmak.43 2. Mawaris
a. Pengertian Mawaris
Waris adalah berbagai aturan tentang perpindahan hak milik seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Dalam istilah lain, waris disebut juga dengan faro‟idh, yang artinya
bagian tertentu yang dibagi menurut agama kepada semua yang berhak menerimanya.44
42
Muh. Muhibbin, Abdul Wahid, Hukum Kewarisan Islam sebagai Pembaruan Hukum Positif di Indonesia (Jakarta : Sinar Grafika, 2003), 5.
43Ibid.
6.
44
b. Sumber Hukum dalam Waris
Yang dimaksud dengan sumber adalah asal. Jadi sumber hukum di sini tidak lain asal-asal hukum. Dengan demikian, sumber hukum islam tentang waris ialah asal hukum islam tentang waris. Dalam hal ini sumber hukum waris islam itu ialah :
1) Al-Qur an. 2) Al-Sunnah. 3) Ijtima‟ 4) Ijtihad.
c. Rukun- rukun Waris
Rukun-rukun waris itu ada tiga, yaitu :
1)Muwarrits, yaitu orang yang mewariskan dan meninggal dunia. 2)Mauruts, yaitu harta peninggalan simati yang akan dipusakai setelah dikurangi biaya perawatan, hutang-hutang, zakat, dan setelah digunakan untuk melaksanakan wasiat.
3)Warits, yaitu orang yang akan mewarisi yang mempunyai hubungan dengan si muwarits, baik hubungan itu karena hubungan kekeluargaan atau perkawinan.
d. Prinsip-prinsip Hukum Waris Islam
Hukum waris islam mempunyai prinsip yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
peninggalannya dengan jalan wasiat kepada orang yang di kehendaki, seperti yang berlaku dalam kapitalisme/individualisme, dan melarang sama sekali pembagian harta peninggalan seperti yang menjadi prinsip komunisme yang tidak mengakui hak milik perorangan, yang dengan sendirinya tidak mengenal sistem warisan.
2) Warisan adalah ketetapan hukum. Yang mewariskan tidak dapat menghalangi ahli waris dari haknya atas harta warisan, dan ahli waris berhak atas harta warisan tanpa perlu kepada pernyataan menerima dengan sukarela atau atas keputusan hakim. Namun, tidak berarti bahwa ahli waris dibebani melunasi hutang mayit (pewaris).
3) Warisan terbatas dalam lingkunag keluarga, dengan adanya hubungan perkawinan atau karena hubungan nasab/keturunan yang sah. Keluarga yang lebih dekat hubungannya dengan mayit (pewaris) lebih diutamakan daripada yang lebih jauh; yang lebih kuat hubungannya dengan mayit (pewaris) lebih diutamakan daripada yang lebih lemah. Misalnya, ayah lebih diutamakan daripada kakek, dan saudara kandung lebihh diutamakan daripada saudara seayah.
Misalnya, apabila ahli waris terdiri dari ayah, ibu, suami atau istri dan anak-anak, mereka semua berhak atas harta warisan. 5) Hukum waris islam tidak membedakan hak anak atas harta
warisan. Anak yang sudah besar, yang masih kecil, yang baru lahir, semuanya berhak atas harta warisan orang tuanya. Namun, perbedaan besar kecilnya bagian diadakan sejalan dengan perbadaan besar kecil beban kewajiban yang harus ditunaikan dalam keluarga. Misalnya, anak laki-laki yang memikul beban tanggungan nafkah keluarga mempunyai hak lebih besar daripada anak perempuan yang tidak dibebani tanggungan nafkah keluarga.
6) Hukum waris islam membedakan besar kecilnya bagian tertentu ahli waris diselaraskan dengan kebutuhannya dalam hidup sehari-hari, disamping memandang jauh dekatnya hubungannya dengan mayit (pewaris). Bagian tertentu dari harta itu adalah 2/3, ½, 1/3, `/4, 1/6, 1/8. Ketentuan tersebut termasuk hal yang sifatnya ta‟abbudi, yang wajib dilaksanakan karena telah menjadi ketentuan al Qur an (lihat QS An Nisaa‟
(4):13). Adanya ketentuan bagian ahli waris yang bersifat
ta‟abbudi itu merupakan salah satu ciri hukum waris islam.45
45
C. Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Di samping memanfaatkan berbagai teori yang relevan dengan bahasan ini, peneliti juga kajian pustaka terdahulu yang ada relevansinya dengan penelitian ini. Adapun hasil penelitian terdahulu adalah:
1. Luk‟aylik Mustofa(234052145), 2012. Pembelajaran fiqih keluarga melalui kitab „uqud Al Lijain di PP Al Iman Putri babadan ponorogo
tahun pelajaran 2011-2012. Skripsi, program studi agama islam jurusan tarbiyah sekolah tinggi agama islam negeri (STAIN) Ponorogo. Hasil penelitian ini dapat dipahami bahwa pembelajaran fiqih keluarga melalui „Uqu>d Al-Lijain di PP Al Iman Putri Babadan ini adalah untuk membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran allah Swt. dan juga menciptakan generasi siap juang fi al daraini dengan memantabkan iman, ilmu dan akhlak, berorientasi pada terwujudnya keluarga yang sakinah mawadah warohmah, membentuk istri yang sholehah dan juga membentuk akhlak karimah pada istri. Materi yang di sampaikan dalam pembelajaran fiqih keluarga melalui „Uqu>d Al-Lijain di PP Al Iman Putri Babadan meliputi hak istri atas suami,
berjabat tangan serta berduaan di tempat yang sepi. Adapun pelaksanaan pembelajaran fiqih keluarga melalui „Uqu>d Al-Lijaindi PP Al Iman Putri Babadan diikuti oleh seluruh dewan guru PP Al Iman Putri Babadan tanpa terkecuali, pengajian ini merupakan pengajian wajib maka diadakan pengabsenan rutin. Pembelajaran ini menggunakan dua metode yaitu sorogan dan wektonan/bandongan. Dan bahasa pengantarnya menggunakan bhasa indonesia, dengan sistem baca terjemah.
2. Herlis Yuliana Wulaningrum, 2008.Implementasi metode demonstrasi dalam konteks pembelajaran fiqih berbasis kompetensi dan kecakapan hidup (Studi Kasus di Madrasah Tsanawiyah Negeri Caruban). Skripsi program studi pendidikan agama islam jurusan tarbiyah sekolah tinggi agama islam negeri (STAIN) Ponorogo. Kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian ini, bahwa implementasi (penerapan) metode demonstrasi dalam pembelajaran fiqih berbasis kompetensi dan kecakapan hidup telah diterapkan di Madrasah Tsanawiyah Negeri Caruban, Mejayan, Madiun. Manfaat yang diperoleh siswa yaitu siswa dapat mengaplikasikan praktek ibadah dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan vocational skills
Perbedaan skripsi ini dengan dua skripsi terdahulu adalah bahwasanya skripsi ini membahas tentang tentang penerapan pembelajaran kitab Fara>id}al-Ghaza>liyahpada mata pelajaran fiqih
waris, yang mana skripsi ini lebih menekankan untuk mengetahui pembelajaran dengan menggunakan kitab ini pemahaman fiqih waris lebih sulit atau lebih mudah, sedangkan skripsi yang pertama di atas membahas tentang pembelajarn fiqih keluarga yang menggunakan kitab „Uqu>d Al-Lijain, yaitu lebih cenderung membahas tentang isi kitabnya. Sedangkan perbedaan skripsi ini dengan skripsi nomor dua adalah bahwa skripsi nomor dua di atas terfokus pada penggunaan metode demonstrasi pada pembelajarannya sedangkan skripsi ini adalah berhubungan dengan penggunaan kitabFara>id}al-Ghaza>liyah
BAB III
DESKRIPSI DATA
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Profil Madrasah Diniyah Miftahul Huda
Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda berdiri tahun 1967, berdirinya Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda tidak terlepas dari keberadaan Pondok Pesantren Darul Huda. Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo Jawa Timur, pada awal berdirinya mempunyai pengertian yang sangat sederhana sekali, yaitu sebagai tempat pendidikan yang mempelajari ilmu pengetahuan agama Islam dibawah bimbingan seorang guru atau Kyai. Sejalan dengan perkembangan jaman dan tuntutan masyarakat dewasa ini, lembaga pesantren masih tetap bertahan dalam pendidikan salafiyyah dan modern, bahkan semakin eksis berkembang sedemikian rupa baik dari segi jumlah santrinya, tujuannya, maupun sistem pendidikan yang diselenggarakan. MadarasahDiniyah “Miftahul Huda” adalah madrasah yang didirikan dibawah yayasan Pondok Pesantren “Darul Huda” pertama kali madrasah ini berdiri guna mengajarkan ilmu keagamaan bagi masyarakat mayak dan sekitarnya, namun pada tahun 1986 madrasah ini berkembang dengan pesat dan pengajaranya memakai system dan metode. Manhaj yang diambil oleh MadrasahDiniyah “Miftahul Huda” adalah “Muhafadhotu ala qodim solih wa ahdzu bi Jadid
baru yang lebih baik, pendidikan dilaksanakan selama 8 tahun, 2 tahun tingkat ibtida‟, 3 tahun tingkat tsanawiyyah dan 3 tahun tingkat aliyah.
Sejak tahun 1999/2000 pendidikan dialihkan menjadi 6 tahun dari kelas 1 sampai kelas 6 atau 7 tahun dari kelas persiapan sampai kelas 6, kitab yang dipakai adalah kitab kitab klasik yang mu‟tabar.46
Pondok Pesantren Darul Huda merupakan salah satu pondok pesantren yang menerapkan metode salafiyyah dan haditsah berdiri tahun 1967 di bawah asuhan KH. Hasyim Sholeh. Metode salaf yang digunakan di Pondok Pesantren Darul Huda adalah metode sorogan, wetonan, (bandongan), dan sekolah diniyyah Madrasah Miftahul Huda.Sedangkan metode modern yang dimaksud adalah adanya penyelenggaraan sekolah formal kurikulum Departemen Agama.Dengan metode tersebut santri Pondok Pesantren Darul Huda diharapkan dapat mempelajari ilmu agama secara utuh.
Untuk menjawab tantangan dan tuntutan jaman serta terdorong untuk berperan aktif melaksanakan program pemerintah dalam membangun manusia seutuhnya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, Pondok Pesantren Darul Huda mendirikan Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda dengan jenjang sekolah persiapan selama satu tahun, ibtidaiyyah selama enam tahun, Tsanawiyah selama tiga tahun dan Madrasah Aliyah selama tiga tahun. Kemudian karena adanya beberapa faktor yang memungkinkan untuk menarik minat santri,
46
maka sekitar tahun 2001 sistem pendidikan di Madrasah Miftahul Huda diubah dengan jenjang pendidikan selama enam tahun. Hal ini dimaksudkan untuk santri yang memulai pendidikan di Pondok Pesantren Darul Huda, sejak di Madrasah Tsanawiyah, yang kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah Darul Huda juga selesai sekolah Madrasah DiniyahMiftahul Huda.
2. Visi dan Misi47
Bagi setiap lembaga pastilah mempunyai visi, misi dan tujuan untuk mewujudkan tujuan dari lembaga tersebut. Adadpun visi, misi dan tujuan madarasah miftahul huda adalah:
a. Visi
Berilmu, Bertaqwa Dengan di Landasi Ahklaqul Karimah b. Misi
Menjadikan Generasi Penerus Jihad Para Ulama 3. Letak Geografis
Dari hasil observasi48 pada tanggal 18 September 2015 lokasi Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda secara geografis terletak di Kota Ponorogo, tepatnya di jalan Ir. H. Juanda Gang VI nomor 38 Dusun Mayak, Kelurahan Tonatan, Kecamatan Ponorogo, Kabupaten Ponorogo, Provinsi Jawa Timur.
47
Lihat transkrip dokumentasinomor07/D/18-IX/2015dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.
48
Lokasi Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda merupakan lokasi yang sangat strategis yang terletak di jantung Kota Ponorogo. Batas-batas lokasi tersebut adalah:
Sebelah Utara : Jl. Menur Ronowijayan
Sebelah Selatan : Kantor Departemen Agama
Sebelah Timur : Jl. Soeprapto
Sebelah Barat : Jl. Ir. H. Juanda Gang VI
4. Struktur Madrasah DiniyahMiftahul Huda49
Didalam suatu lembaga pendidikan perlu adanya penataan kesetrukturan untuk memudahkan membagi tugas dalam suatu organisasi, begitu pula dalam sekolah. Dengan adanya struktur dalam sekolah, kewenangan masing-masing unit saling bekerja sama dan membantu untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Adapun struktur organisasi Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda adalah:
1.Pimpinan Yayasan : K.H. Abdus Sami‟ Hasyim 2. Kepala “Madrasah Miftahul Huda” : Ust. H. Ahmad Saifudin R 3.Wakil Kepala Ur. Kurikulum : Ust. H. Abdul Adhim 4.Wakil Kepala Ur. Kesiswaan : Ust. Izzuddin Abdul Aziz 5.kepala Tata Usaha Putra : Ust. Ahmad Hamrofi
49
6.Kepala Tata Usaha Putri : Ust. Ahmad Hamrofi 7.Dewan Asatidz
8.Siswa/I
5. Keadaan Guru dan Murid a. Keadaan Guru
Keadaan guru dan tenaga pengajar Madrasah Miftahul Huda berjumlah 170 orang. Tenaga pengajar tersebut diantaranya berasal dari alumni pondok pesantren salaf, universitas/perguruan tinggi dan lulusan dari Madrasah Miftahul Huda.
b. Keadaan Murid
Keadaan murid Madrasah DiniyahMiftahul Huda Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Tonatan Ponorogo pada tahun pelajaran 2015/2016secara keseluruhan mencapai 5473 siswa dan siswi.50
Tabel 1.1
50
Lihat transkrip dokumentasinomor05/D/18-IX/2015dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.
Bukti dokumen
Kelas Perempuan Laki-laki Jumlah
Exp 65 41 106
1 723 724 1447
2 676 617 1293
3 564 648 1212
Data jumlah siswa dan siswi Madrasah Miftahul Huda menurut pembagian sesuai dengan kelas sebagaimana terlampir.
6. Sarana dan Prasarana51
a) Status Tanah :Milik Sendiri b) Luas Tanah : 20.000 m2
c) Bangunan :Gedung
d) Status Bangunan :Gabung
e) Ruang Kelas / Belajar : Ada ( 76 Ruang ) f) Ruang Kantor :Ada
g) Meja Murid / Santri : Ada h) Kursi Murid / Santri : Ada
i) Tempat Ibadah : Ada ( Masjid ) j) WC / Kamar Mandi : Ada
51
Lihat transkrip dokumentasinomor03/D/18-IX/2015dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.
5 250 142 392
6 202 118 320
Takahsus 1 45 48 93
Takahsus 2 20 20 40
B. Data Khusus
1. Pembelajaran KitabFara>id} al-Ghaza>liyah di kelas IV Madrasah Miftahul Huda
Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda merupakan salah satu lembaga yang bernaung di bawah Yayasan Pondok Pesantren Darul Huda yang menggunakan metode Salafiyyah Haditsah dengan semboyan:
حلصلأاديدلجابذحلأاولحاصلايمدقللاعةظفالمحا
Madrasah Salafiyyah Miftahul Huda menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar mulai sore hari hingga menjelang ashar (jam 14.30 Wib s/d 16.30 WIB).Kegiatan belajar mengajar tersebut diikuti seluruh murid yang berada di Pondok (mukim) dan murid yang berada di luar (laju).52
Dari kegiatan-kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan oleh madrasah miftahul huda salah satunya adalah pembelajaran fiqih waris di kelas IV dengan menggunakan kitabFara>id} al-Ghaza>liyah.
PenggunaankitabFara>id} al-Ghaza>liyah ini supaya lebih ringkas dan mudah di pahami oleh murid kelas IV yang mana murid-muridkelas IV rata-rata terdiri dari anak-anak madrasah aliyah dan sebagian mahasiswa.53
52
Lihat transkrip observasi nomor01/O/18-III/ 2015dalam lampiran laporan hasil penelitian ini.
53
Menurut Harits Al Asad, salah satu ustadz yang mengajar kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah memberikan pendapat bahwa, Dalam pembelajaran kitabFara>id} al-Ghaza>liyahini menggunakan metode
lama/salaf yaitu guru membacakan makna gandul dan murid menulis apa yang di bacakan oleh guru, kemudian guru menjelaskan apa yang telah di baca tadi. Sebelumnya ustadz menyiapkan materi yang akan diajarkan beserta contoh-contoh yang akan diberikan kepada murid-murid. Selain itu, dalam pembelajaran kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah
murid diberi kesempatan untuk mengerjakan soal fara>id di depan papan tulis, danjuga di sela-sela waktu murid diberi kesempatan untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang dirasa kurang paham mengenai materi yang sudah diajarkan ditambah dengan beberapa contoh pengerjaan pembagian waris yang sesuai dengan kitab tersebut. Metode ini sudah lama dipakai di madrasah ini karena metode tersebut sangat cocok untuk pembelajaran yang menggunakan kitab-kitab salaf seperti kitabFara>id} al-Ghaza>liyahini. dan juga metode ini sangat cocok di
gunakan di madrasah diniyah seperti madrasah miftahul huda ini.54 Sedangkan menurut mbah Sholeh Hasan yang juga salah satu ustadz yang mengajar kitab Fara>id} al-Ghaza>liyah memberikan pendapat
yang hampir sama dengan ustadz Harits Al Asad. Selain itu mbah Sholeh juga menambahkan bahwa sebelum menambah materi dilakukan pengulangan kembali atau mereview kembali materi pelajaran yang di
54
berikan minggu lalu. Hal ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pemahaman murid-murid terhadap materi yang telah disampaikan.55
Dalam pembelajaran kitab ini ustad memberi makna pada kitab dan kemudian mengartikannya, selesai mengartikan kemudian diuraikan satu persatu dan dibahas bersama-sama dengan metode ceramah. Diskusi ini yaitu dengan cara menampilkan pelajaran dengan berupa contoh yang ditulis di papan tulis. Setelah diskusi selasai murid-murid dipersilahkan untuk menyalin hasil diskusi yang ditulis di papan tulis tadi. Dan diakhir pembelajaran murid-murid diberi evaluasi lisan. Keterangan ini sesuai hasil wawancara dengan ustad khusnul fuad.
Ustad khusnul fuad juga menambahi bahwasanya Pemberian makna dan mengartikan isi kitab ini juga membantu murid-murid dalam memahami kitab yang dimilikinya sehingga mudah mengembangkan pemahamannya. Dalam membahas pelajaran ini juga dimunculkan contoh-contoh masalah agar murid-murid lebih mudah dalam memahami pembagian masalah fara>id .
Hal senada juga diterapkan oleh Abdul Aziz selaku salah satu murid kelas IV di Madrasah Miftahul Huda. Pembelajaran kitabFara>id}
al-Ghaza>liyah menggunakan metode salaf, yaitu pembelajaran dengan cara memaknai kitab dan juga menggunakan metode kontemporer yaitu dengan cara tanya jawab (interaksi murid dengan ustadz), selain itu
55