• Tidak ada hasil yang ditemukan

Renc. Ded Jembatan Gantung Penyeberangan Sei. Pesaguan Dsn Terentang Desa Tumbang Titi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Renc. Ded Jembatan Gantung Penyeberangan Sei. Pesaguan Dsn Terentang Desa Tumbang Titi"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)

DED JEMBATAN GANTUNG PENYEBERANGAN

SUNGAI PESAGUAN DSN TERENTANG

DESA TUMBANG TITI KEC. TUMBANG TITI

KABUPATEN KETAPANG

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Berdasarkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 83, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3186) dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan, bahwa setiap pembangunan jalan/jembatan bermanfaat bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat, terutama untuk meningkakan pertumbuhan ekonomi nasional dengan mengusahakan agar biaya operasi kendaraan menjadi serendah-rendahnya. Disamping itu pembangunan jembatan harus dapat mendorong kearah terwujudnya keseimbangan antar daerah dalam tingkat pertumbuhannya dengan mempertimbangkan satuan wilayah pengembangan dan orientasi geografis pemasaran sesuai dengan struktur pengembangan wilayah tingkat nasional yang dituju.

Sektor prasarana jembatan merupakan salah satu urat nadi dalam pertumbuhan ekonomi wilayah, sehingga ketepatan penyediaannya melalui besarnya investasi adalah suatu hal yang sangat penting. Berkaitan dengan perkembangan ekonomi, investasi jembatan memiliki pengaruh yang luas baik bagi pengguna jalan/jembatan maupun bagi wilayah secara keseluruhan. Pengaruh positif terutama timbul dari kenyataan bahwa investasi jembatan secara umum mengarah kepada pengurangan sumber daya yang dibutuhkan untuk memproduksi dan mendistribusikan sejumlah volume dan pola keluaran ekonomi, untuk menstimulasi ekonomi regional lebih lanjut. Strategi aktif pada pembangunan infrastruktur jembatan ini dapat dikategorikan sebagai strategi yang di dalam pembangunannya dapat mengundang peran serta tidak hanya pemerintah tetapi juga investor swasta. Pengembangan sektor transportasi khususnya sektor jembatan, diharapkan dapat mengubah struktur perekonomian daerah atau mengubah struktur PDRB antar wilayah.

Mengingat sampai saat ini perkembangan wilayah bertumpu pada kemampuan mengeksploitasi sumber daya alam yang dimilikinya, maka pemanfaatannya bagi pembangunan daerah haruslah seoptimal mungkin dari aspek pembangunan yang bekelanjutan.

(2)

Potensi yang mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut diatas haruslah didukung oleh infrastruktur sarana dan prasarana yang memadai. Salah satu infrastruktur yang mempunyai peran signifikan adalah infrastruktur transportasi jalan, jembatan dan prasarana pendukung lainnya.

Hal tersebut di atas yang mendasari perlunya dibangun Jembatan Gantung Tahap I Desa Asam Jelai Kec. Jelai Hulu.

Dalam melakukan perencanaan teknis (DED) jembatan standar maupun jembatan khusus harus memenuhi Kriteria Dasar Perencanaan Teknis berikut ini :

a. Kekuatan Unsur Struktural dan Stabilitas Keseluruhan

Setiap unsur harus mempunyai kekuatan memadai untuk menahan beban batas ultimate dan struktur sebagai kesatuan dari setiap unsur harus stabil pada pembebanan tersebut.

b. Kelayakan Struktur

Struktur harus berada dalam layakan pada beban batasan kelayakan. Hal ini berarti bahwa struktur tidak boleh mengalami retakan, lendutan atau getaran sedemikian rupa sehingga masyarakat menjadi khawatir atau jembatan menjadi tidak layak digunakan.

c. Kesesuaian

Tipe struktur yang dipilih harus sesuai dengan lingkungan, kondisi alam dan lokasi jembatan terutama untuk duplikasi jembatan harus diperhatikan bangunan atas dan bawah dari jembatan Existing.

d. Kemudahan Pelaksanaan

Konstruksi harus mudah dilaksanakan sesuai dengan metode konstruksi yang tersedia, sehingga metode yang sulit dilaksanakan dapat menyebabkan keterlambatan waktu dan peningkatan biaya.

e. Ekonomis

Rencana termurah yang sesuai dengan pendanaan dan faktor-faktor utama lainnya adalah yang umumnya terpilih. Penekanan harus diberikan pada biaya umur total struktur yang mencakup biaya pemeliharaan dan pembangunan.

f. Bentuk Estetika

Struktur jembatan harus menyatu dengan alam sekitarnya dan menyenangkan untuk dilihat. Biasanya semakin tinggi nilai estetika struktur jembatan semakin tinggi biaya yang akan dipergunakan.

(3)

1.2 Maksud dan Tujuan a. Maksud :

 Mendukung program pembangunan infrastruktur prasarana transportasi darat khususnya pembangunan jembatan yang memadai sebagai penghubung antar daerah dengan tersedianya perencanaan jembatan yang sesuai dengan kriteria perencanaan teknis (DED)

b. Tujuan

- Mendapat masukan kelayakan rencana pembangunan jembatan dilihat dari berbagai upaya untuk mempercepat pertumbuhan di Kecamatan Jelai Hulu Kabupaten Ketapang. Mendapatkan dokumen perencanaan teknis (DED) dan dokumen lelang sesuai dengan kondisi daerah.

1.3 Sasaran

Sasaran yang hendak dicapai sebagai hasil dari layanan konsultansi ini adalah sebagai berikut: a. Tersedianya dokumen perencanaan teknis jembatan untuk penanganan/pelaksanaan fisik

jembatan kabupaten.

b. Tersedianya dokumen pengadaan termasuk dokumen analisa harga satuan, spesifikasi teknik dan gambar rencana sebelum jadwal penanganan/pelaksanaan fisik.

1.4 Nama Program dan Kegiatan Serta Paket Pekerjaan

 Program : Program Pembangunan Jalan dan Jembatan  Kegiatan : Perencanaan Pembangunan Jembatan

 Paket Pekerjaan : DED Jembatan Gantung Tahap I Desa Asam Jelai Kec. Jelai Hulu 1.5 Nama dan Organisasi Pengguna Jasa

Perencanaan Pembangunan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum Pemerintah Kabupaten Ketapang Bidang Bina Marga.

1.6 Sumber Pendanaan

Untuk pelaksanaan kegiatan ini didanai oleh APBD Kabupaten Ketapang Tahun Anggaran 2015 sebesar Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) termasuk adminitrasi kegiatan dan PPN.

BAB II

(4)

2.1 Umum

Pada intinya lingkup kegiatan jasa konsultansi dalam pekerjaan ini terdiri dari beberapa tahapan yang meliputi :

a. Pemahaman mengenai maksud dan tujuan dari Perencanaan Jembatan. b. Persiapan

c. Inventarisasi data

d. Pembuatan Peta Rencana Kerja e. Persiapan Personil dan Peralatan f. Pembuatan Rencana Kerja

g. Pengumpulan Data Primer dan Sekunder h. Koordinasi dengan Instansi Terkait

Jenis pekerjaan ini adalah melaksanakan pekerjaan Perencanaan Teknik Jembatan guna menunjang pelaksanaan pekerjaan konstruksi jembatan. Konsultan yang diserahi pekerjaan ini wajib menyediakan jasa-jasanya semaksimal mungkin untuk melaksanakan pekerjaan perencanaan, sehingga diperoleh hasil pekerjaan berupa Dokumen Perencanaan yang mencakup segala persyaratan yang ditetapkan dan dapat dipertanggung jawabkan dalam pelaksanaan kontrak konstruksi/fisik serta mengusahakan sekecil mungkin adanya perbaikan-perbaikan atau perencanaan tambahan lainnya di kemudian hari.

Pekerjaan yang harus dikerjakan adalah Perencanaan Teknis Jembatan lengkap dan terperinci yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jembatan yang akan direncanakan telah ditentukan sesuai skala prioritas yang akan segera ditindaklanjuti dengan pelaksanaan fisiknya.

2.2 Data dan Fasilitas penunjang

a. Penyediaan bahan-bahan, peralatan, dan perlengkapan kantor dan studio untuk operasional Konsultan, termasuk tetapi tidak terbatas pada komputer

b. Penyediaan bahan-bahan, peralatan, dan perlengkapan untuk kegiatan survey dan investigasi lapangan yang diperlukan

c. Penyediaan (penyewaan) kendaraan operasional berikut eksploitasinya d. Biaya perjalanan dan akomodasi orang konsultan

e. Sewa alat survey lapangan dan penyelidikan geoteknik 2.3 Studi Teknik Detailed Engineering Design (DED)

Untuk mengetahui secara rinci semua asumsi yang digunakan dalam tahap perencanaan serta mendapat parameter-parameter penting bagi perencana jembatan, diperlukan serangkaian teknikal studi. Mengingat bentangan jembatan yang cukup besar serta umur jembatan yang panjang, untuk perencanaan jembatan untuk melakukan detailed engineering design.

Studi teknik yang diperlukan :

(5)

Untuk pelaksanaan studi ini konsultan diwajibkan untuk mengamati kondisi lapangan dan permasalahan desain yang mungkin timbul. Petugas yang akan ditugaskan diharuskan berkonsultansi dengan pejabat dari Dinas Pekerjaan Umum Bidang Bina Marga Kabupaten Ketapang untuk mendiskusikan segala hal yang bersangkutan dengan jembatan yang akan ditangani.

Sebelum melakukan kegiatan studi pendahuluan maka konsultan wajib mengumpulkan semua data yang berhubungan dengan lokasi rencana jembatan seperti peta situasi, peta tata guna lahan dan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Studi pendahuluan harus dilakukan pada area di dalam radius 500 m dari lokasi rencana jembatan. Dalam melaksanakan pekerjaan, konsultan disarankan melengkapi diri dengan alat keselamatan kerja seperti helm dan sepatu boat, dan alat bantu kerja seperti peralatan tulis, lampu penerangan, spray paint dan palu, sehingga menjamin terlaksananya pekerjaan ini dengan aman dan hasil studi akan lebih optimal.

A. Studi pendahuluan bertujuan untuk :  Pengenalan kondisi lingkungan

 Pengenalan kondisi planimetri dan tata guna lahan

 Pengenalan kondisi jaringan jalan yang ada di sekitar lokasi jembatan  Mengumpulkan, memeriksa dan mengkonfirmasi data sekunder yang ada B. Kegiatan studi pendahuluan yang harus dilakukan adalah :

a. Studi Geometrik :

Kegiatan yang dilakukan pada survey geometrik adalah :

 Mengidentifikasi/memperkirakan secara tepat penerapan desain geometrik (alinyemen horisontal dan vertikal) berdasarkan pengalaman dan keahlian yang harus dikuasai sepenuhnya oleh Highway Engineer yang melaksanakan pekerjaan ini dengan melakukan pengukuran-pengukuran secara sederhana dan benar (jarak, azimut, kemiringan dengan helling meter) dan membuat sketsa desain alinyemen horizontal maupun vertikal secara khusus untuk lokasi-lokasi yang dianggap sulit untuk memastikan trase yang dipilih akan dapat memenuhi persyaratan geometrik yang dibuktikan dengan sketsa horizontal dan penampang memanjang rencana trase jalan.

 Didalam penarikan perkiraan desain alinyemen horizontal dan vertikal harus sudah diperhitungkan dengan cermat sesuai dengan kebutuhan perencanaan untuk lokasi-lokasi: galian dan timbunan

 Semua kegiatan ini harus sudah dikonfirmasikan sewaktu mengambil keputusan dalam pemilihan lokasi jembatan dengan anggota team yang saling terkait dalam pekerjaan ini

 Dilapangan harus diberi/dibuat tanda-tanda berupa patok sepanjang daerah rencana dengan interval 50 m untuk memudahkan tim pengukuran, serta pembuatan

(6)

foto-foto penting untuk pelaporan dan panduan dalam melakukan survey detail selanjutnya

 Dari hasil survey recon ini secara kasar harus sudah bisa dihitung perkiraan volume pekerjaan yang akan timbul serta bisa dibuatkan perkiraan rencana biaya secara sederhana dan diharapkan dapat mendekati desain final.

b. Studi Topografi :

Kegiatan yang dilakukan pada survey topografi adalah :

 Menentukan awal dan akhir pengukuran serta pemasangan patok beton Bench Mark di awal dan akhir Proyek.

 Mengamati kondisi topografi.

 Mencatat daerah-daerah yang akan dilakukan pengukuran khusus serta morpologi dan lokasi yang diperlukan perpanjangan koridor.

 Membuat rencana kerja untuk survey detail pengukuran.

 Menyarankan posisi patok Bench Mark pada lokasi/titik yang akan dijadikan referensi.

c. Studi Rencana Jembatan :

 Menentukan dan memperkirakan total panjang, lebar, kelas pembebanan jembatan, tipe konstruksi, dengan pertimbangan terkait denagn LHR, estetika, lebar sungai, kedalaman dasar sungai, profil sungai/ada tidaknya palung, kondisi arus dan arah aliran, sifat-sifat sungai, scouring vertikal/horizontal, jenis material bangunan atas yang tersedia dan paling efisien.

 Menentukan dan memperkirakan ukuran dan bahan tipe abutmen, pilar, fondasi, bangunan pengaman (bila diperlukan) dengan mempertimbangkan lebar dan kedalaman sungai, sifat tebing, sifat aliran, endapan/sedimentasi material, benda hanutan, scouring yang pernah terjadi.

 Memperkirakan elevasi muka jembatan dengan mempertimbangkan MAB (banjir), MAN (normal), MAR (rendah) dan banjir terbesar yang pernah terjadi.

 Menentukan dan memperkirakan posisi/letak lokasi jembatan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi sekitar lokasi, profil sungai, arah arus/aliran sungai, scouring, segi ekonomi, sosial, estetika yang terkait dengan alinyemen jalan, kecepatan lalu lintas rencana, jembatan darurat, pembebanan tanah timbunan dan quarry.

 Dari hasil survey recon ini secara kasar harus sudah bisa dihitung perkiraan volume pekerjaan yang akan timbul serta bisa dibuatkan perkiraan rencana biaya secara sederhana dan diharapkan dapat mendekati desain final.

d. Studi Geoteknik :

 Mengamati secara visual kondisi lapangan yang berkaitan dengan karakteristik tanah dan batuan.

(7)

 Memberikan rekomendasi berkaitan dengan rencana trase jalan dan rencana jembatan yang akan dipilih

 Mengidentifikasi dan memotret pada lokasi-lokasi khusus (masalah-masalah geoteknik, bahaya, resiko-resiko, rawan longsor, dll)

 Mengidentifikasi lokasi/titik pengujian antara lain Bor, Sondir, DCP, Test Pit  Membuat rencana kerja untuk tim survey detail

e. Studi Hidrologi

 Mengamati kondisi terrain pada daerah tangkapan sehubunan dengan bentuk dan kemiringan yang akan mempengaruhi pola aliran.

 Mengamati tata guna lahan.

 Menginventarisasi bangunan drainase existing.  Melakukan pemotretan pada lokasi-lokasi penting.  Membuat rencana kerja untuk survey detail.

 Mengamati karakteristik aliran sungai / morfologi yang mungkin berpengaruh terhadap konstruksi dan saran-saran yang diperlukan untuk menjadi pertimbangan dalam perencanaan berikut.

C. Keluaran Studi Pendahuluan (Reconnaissance Survey) meliputi :

1. Laporan seluruh hasil survey pendahuluan berkaitan dengan konsep desain yang akan diterapakan dengan mempertimbangkan faktor-faktor berdasarkan seluruh hasil survey pendahuluan.

2. Laporan tindak lanjut survey pendahuluan yaitu survey detail yang didalamnya memuat beberapa survey detail yang harus dilakukan termasuk batasan koridor pengambilan data.

2.3.2. Studi Detail

Untuk mengatahui secara rinci semua asumsi yang digunaan dalam tahap perencanaan serta mendapat parameter-parameter penting bagi perencana jembatan, diperlukan serangkaian studi detail pengumpulan data. Mengingat bentangan jembatan yang cukup besar serta umur jembatan yang panjang, maka perencanaan jembatan khusus membutuhkan data-data perencanaan yang didapat secara akurat.

Hasil studi detail pengumpulan data tersebut akan menjadi dasar bagian perencana jembatan untuk melakukan detailed engineering design. Studi detail yang diperlukan adalah:

A. Studi Topografi 1. Tujuan

Tujuan pengukuran topografi dalam pekerjaan ini adalah mengumpulkan data koordinat dan ketinggian permukaan tanah sepanjang rencana trase jalan dan

(8)

jembatan di dalam koridor yang ditetapkan untuk penyiapan peta topografi dengan skala 1 : 500.

2. Lingkup Kegiatan Pengukuran a. Pemasangan patok-patok

- Patok-patok BM harus dibuat dari beton dengan ukuran 10x10x75 cm atau pipa pralon ukuran 4 inci yang diisi dengan adukan beton dan di atasnya dipasang neut dari baut, ditempatkan pada tempat yang aman, mudah terlihat. Patok BM dipasang setiap 1 (satu) km dan pada setiap lokasi rencana jembatan dipasang minimal 4, masing-masing 1 (satu) pasang di setiap sisi sungai disekitar sungai yang posisinya aman dari gerusan air sungai.

- Patok BM dipasang/ditanam dengan kuat, bagian yang tampak di atas tanah setinggi 20 cm, dicat warna kuning, diberi lambang Kementerian Pekerjaan Umum, notasi dan nomor BM dengan warna hitam. Patok BM yang sudah terpasang, kemudian di photo sebagai dokumentasi yang dilengkapi dengan nilai koordinat serta elevasi.

- Untuk setiap titik poligon dan sifat datar harus digunakan patok kayu yang cukup keras, lurus, dengan diameter sekitar 5 cm, panjang sekurang-kurangnya 50 cm, bagian bawahnya diruncingkan, bagian atas diratakan diberi paku, ditanam dengan kuat, bagian yang masih nampak diberi nomor dan dicat warna kuning. Dalam keadaan khusus, perlu ditambahkan patok bantu.

- Untuk memudahkan pencarian patok, sebaiknya pada daerah sekitar patok diberi tanda-tanda khusus.

- Pada lokasi-lokasi khusus dimana tidak mungkin dipasang patok, misalnya di atas permukaan jalan beraspal atau di atas permukaan batu, maka titik-titik poligon dan sifat datar ditandai dengan paku seng dilingkari cat kuning dan diberi nomor.

b. Pengukuran titik kontrol horizontal

- Pengukuran titik kontrol horizontal dilakukan 8 dari 24 dengan sistem poligon, dan semua titik ikat (BM) harus dijadikan sebagai titik poligon.

- Sisi poligon atau jarak antar titik poligon maksimum 100 meter, diukur dengan meteran atau dengan alat ukur secara optis atau pun elektronis.

- Sudut-sudut poligon diukur dengan alat ukur theodolit dengan ketelitian baca dalam detik. Disarankan untuk menggunakan Electronik Distance Meter/theodolit jenis T2 atau yang setingkat.

- Penentuan Koordinat Awal dilakulkan pada titik awal dan titik akhir pengukuran dengan menggunakan alat GPS (Global Positioning System Geodetic yang mempunyai presisi tinggi maksimal sampai desimeter).

(9)

- Pengukuran ketinggian dilakukan dengan cara 2 kali berdiri/pembacaan pergi-pulang.

- Pengukuran sifat datar harus mencakup semua titik pengukuran (poligon, sifat datar, dan potongan melintang) dan titik BM.

- Rambu-rambu ukur yang dipakai harus dalam keadaan baik, berskala benar, jelas dan sama.

- Pada setiap pengukuran sifat datar harus dilakukan pembacaan ketiga benangnya, yaitu Benang Atas (BA), Benang Tengah (BT), dan Benang Bawah (BB), dalam satuan milimiter. Pada setiap pembacaan harus dipenuhi : 2 BT = BA + BB.

- Dalam satu seksi (satu hari pengukuran) harus dalam jumlah slag (pengamatan) yang genap.

d. Pengukuran situasi

- Pengukuran situasi dilakukan dengan sistem tachimetri, yang mencakup semua obyek yang dibentuk oleh alam maupun manusia yang ada disepanjang jalur pengukuran, seperti alur, sungai, bukit, jembatan, rumah, gedung dan sebagainya.

- Dalam pengambilan data agar diperhatikan keseragaman penyebaran dan kerapatan titik yang cukup sehingga dihasilkan gambar situasi yang benar. Pada lokasi-lokasi khusus (misalnya: sungai, persimpangan dengan jalan yang sudah ada) pengukuran harus dilakukan dengan tingkat kerapatan yang lebih tinggi. - Untuk pengukuran situasi harus digunakan alat theodolit.

e. Pengukuran pada perpotongan rencana trase jembatan dengan sungai atau jalan - Koridor pengukuran ke arah hulu dan hilir masing-masing minimum 200 m dari

perkiraan garis perpotongan atau daerah sekitar sungai (hulu/hilir) yang masih berpengaruh terhadap keamanan jembatan dengan interval pengukuran penampang melintang sungai sebesar 25 meter atau disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan.

- Koridor pengukuran searah rencana trase jembatan masing-masing minimum 250 m dari garis tepi sungai/jalan atau sampai pada garis pertemuan antara oprit jembatan dengan jalan dengan interval pengukuran penampang melintang rencana trase jalan sebesar 25 meter atau disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan.

- Pada posisi lokasi jembatan interval pengukuran penampang melintang dan memanjang baik terhadap sungai maupun jalan sebesar 10 m, 15 m, dan 25 m atau disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan.

Pengukuran situasi lengkap menampilkan segala obyek yang dibentuk alam maupun manusia disekitar persilangan tersebut.

(10)

3. Persyaratan

a. Pemeriksaan dan koreksi alat ukur.

Sebelum melakukan pengukuran, setiap alat ukur yang akan digunakan harus diperiksa dan dikoreksi sebagai berikut :

Hasil pemeriksaan dan koreksi alat ukur harus dicatat dan dilampirkan dalam laporan.

b. Ketelitian dalam pengukuran

Ketelitian untuk pengukuran poligon adalah sebagai berikut :

1. Kesalahan sudut yang diperbolehkan adalah 10”√n, atau dari pengukuran Global Position System (GPS) geodetic yang mempunyai presisi tinggi pertama ke pengukuran GPS berikutnya dalam desimeter)

2. Kesalahan azimuth pengontrol tidak lebih dari 5”. c. Perhitungan

- Perhitungan Koordinat. - Perhitungan Sifat Datar. - Perhitungan Ketinggian Detail.

- Seluruh perhitungan sebaiknya menggunakan sistim komputerisasi. d. Penggambaran

- Penggambaran poligon harus dibuat dengan skala 1 : 500. - Garis-garis grid dibuat setiap 10 Cm.

- Koordinat grid terluar (dari gambar) harus dicantumkan harga absis (x) dan ordinat (y)-nya.

- Pada setiap lembar gambar dan/atau setiap 1 meter panjang gambar harus dicantumkan petunjuk arah Utara.

- Penggambaran titik poligon harus berdasarkan hasil perhitungan dan tidak boleh dilakukan secara grafis.

- Setiap titik ikat (BM) agar dicantumkan nilai X,Y,Z-nya dan diberi tanda khusus.

e. Titik kontrol horisontal diukur dengan menggunakan metode penentuan posisi Global Positioning System (GPS) secara diferensial.

f. Sistem koordinat proyeksi yang digunakan adalah sebagai Sistem koordinat proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)

g. Pengukuran dengan menggunakan GPS dilakukan setiap interval yang disesuaikan untuk kebutuhan perencanaan jembatan (5m, 10m, 25m, 50m, 100m dsb).

Semua hasil perhitungan titik pengukuran detail, situasi, dan penampang melintang harus digambarkan pada gambar polygon, sehingga membentuk gambar situasi dengan interval garis ketinggian (contour) 0,5 meter.

Proses pengambilan data untuk Topografi mengacu pada Pedoman Pengukuran Topografi NO.010/PW/2004, atau Pedoman yang dipersyaratkan

(11)

4. Keluaran survey Topografi meliputi : a. Laporan survey Topografimeliputi :

- Data pengukuran dan hitungan pengukuran topografi yang telah diterima. - Data Koordinat dan elevasi Bench Mark.

- Foto dokumentasi proses pengukuran dan Bench Mark

b. Peta tofografi (peta transies) dengan skala yang disesuaikan dengan jenis perencanaan yang akan dilakukan.

B. Survey Hidrologi 1. Tujuan

Tujuan yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini adalah untuk mengumpulkan data hidrologi dan karakter/perilaku aliran air pada bangunan air yang ada (sekitar jembatan maupun jalan), guna keperluan analisis hidrologi, penentuan debit banjir rencana (elevasi muka air banjir), perencanaan drainase dan bangunan pengaman terhadap gerusan, river training (pengarah arus) yang diperlukan.

2. Lingkup Pekerjaan

Survey hidrologi lengkap digunakan untuk melengkapi parameter-parameter desain jembatan yang dalam hal ini jembatan yang dimaksud adalah jembatan di atas lalu-lintas sungai atau saluran air.

3. Persyaratan

Proses analisa perhitungan harus mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) No: 03-3424-1994 atau Standar Nasional Indonesia (SNI) No : 03-1724-1989 SKBI-1.3.10.1987 (Tata Cara Perencanaan Hidrologi dan Hidrolika untuk Bangunan di Sungai), Pedoman Perencanaan Drainase Jalan Pd.T.02-2006-B, Manual Hidrolika untuk Jalan dan Jembatan No.01/BM/05, serta pedoman lain yang dipersyaratkan. 4. Keluaran survey Hidrologi

Keluaran yang dihasilkan dari survey Hidrologi berupa Laporan Hidrologi C. Survey Geologi dan Geoteknik

1. Tujuan

Tujuan yang utama dari penyelidikan geoteknik lapangan dan bawah permukaan adalah untuk memberikan informasi tentang kondisi bawah permukaan tanah, bahaya geoteknik, dan ketersediaan tanah, agregat dan batuan pada perencana.

Sangat disarankan untuk menggunakan Geoguide/Pedoman Geoteknik untuk penyelidikan tanah lunak Pd.T-9-2002-B dan pengujian laboratorium untuk tanah lunak Pt.M-01-2002-B bilamana terdapat suatu kondisi tanah dasar yang lunak (Soft Soil). 2. Lingkup Pekerjaan

a. Penyelidikan Geologi

Penyelidikan meliputi pemetaan geologi permukaan detail dengan peta dasar topografi skala 1:250.000 s/d skala 1:100.000 Pencatatan kondisi geoteknik

(12)

disepanjang rencana trase jalan untuk setiap jarak 500 – 1000 meter dan pada lokasi jembatan dilakukan menggunakan lembar isian seperti terlihat pada daftar lampiran.

b. Penyelidikan lapangan

Meliputi pemeriksaan sifat tanah (konsistensi, jenis tanah, warna, perkiraan prosentase butiran kasar/halus) sesuai dengan Metoda USCS.

c. Penyelidikan Tanah

Penyelidikan geoteknik disini merupakan bagian dari penyelidikan tanah yang mencakup seluruh penyelidikan lokasi kegiatan berdasarkan klasifikasi jenis tanah yang didapat dari hasil tes dengan mengadakan peninjauan kembali terhadap semua data tanah dan material guna menentukan jenis/tipe pondasi yang tepat dan sesuai tahapan kegiatannya.

d. Lokasi Quarry

Penentuan lokasi quarry baik untuk perkerasan jalan, struktur jembatan, maupun untuk bahan timbunan (borrow pit) diutamakan yang ada disekitar lokasi pekerjaan. Bila tidak dijumpai, maka harus menginformasikan lokasi quarry lain yang dapat dimanfaatkan.

Penjelasan mengenai quarry meliputi jenis dan karakteristik bahan, perkiraan kuantitas, jarak ke lokasi pekerjaan, serta kesulitan-kesulitan yang mungkin timbul dalam proses penambangannya, dilengkapi dengan foto-foto.

3. Keluaran survey Geologi/Geoteknik

Keluaran dari survey Geologi/Geoteknik berupa :

a. Laporan penyelidikan tanah yang didalamnya memuat : - Nilai CBR

- Tanah nilai SPT, berdasarkan Borlog - Propertist Tanah berupa nilai Unconfined, - Kadar air,

- Berat Jenis.

b. Peta penyebaran tanah yang di dalamnya memuat : - Kondisi lapisan tanah

- Daerah rawan longsor c. Foto dokumentasi 2.4 Proses Perencanaan Detail

a. Tujuan

Persiapan desain ini bertujuan :

1. mempersiapkan dan mengumpulkan data-data awal.

2. menetapkan desain sementara dari data awal untuk dipakai sebagai panduan survey pendahuluan.

3. menyiapkan dokumen perencanaan teknis yang terdiri dari gambar desain, spesifikasi, engineering estimate.

b. Lingkup Kegiatan

Hal yang menjadi lingkup pekerjaan adalah :

1. Menetapkan kelas jembatan yang akan di Desain 2. Membuat estimasi bentang dan lebar jembatan

(13)

3. Memilih bentuk struktur jembatan berdasarkan kendalakendala yang ada

4. Merencanakan desain Bangunan Atas berdasarkan peraturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan BMS 92 atau peraturan lain yang relevan‟ yang disetujui oleh pemberi tugas.

5. Merencanakan Bangunan Bawah secara benar terhadap aspek kekuatan dukung dan stabilitas, sebagai akibat beban struktur atas dan tekanan tanah vertikal ataupun horizontal dan harus mengikuti aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan BMS 92.‟

6. Menetapkan awal dan akhir rencana oprit pada peta, serta menarik beberapa Alternatif rencana As Jalan/Alinyemen Horizontal dengan dilakukan pengecekan Alinyemen Vertikal sesuai dengan kondisi medan yang memenuhi Standar mengenai Perencanaan.

7. Merencanakan pondasi jembatan secara benar terhadap aspek kekuatan dukung dan stabilitas, sebagai akibat beban struktur atas dan beban struktur bawah dan harus mengikuti aturan yang ditentukan dalam Peraturan Perencanaan Jembatan BMS 92.‟

8. Merencanakan jalan pendekat jembatan dengan memperhatikan kesinambungan ukuran dan ketinggian jembatan.

9. Merencanakan drainase, bangunan pelengkap dan pengaman jembatan. 10. Melakukan perencanaan manajemen traffic pada saat pelaksanaan. 11. Menyiapkan peta penyebaran tanah berkaitan dengan kondisi geologi c. Persyaratan

Proses perencanaan harus mengacu pada standar dan pedoman yang berlaku seperti NSPM yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bina Marga dan/atau SNI yang diterbitkan Badan Standar Nasional (BSN) dan/atau referensi lain yang tertuang dalam Kerangka Acuan Kerja dan/atau referensi lain yang disetujui oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK).

d. Penggambaran

Penggambaran Desain Jembatan:

- Alinyemen Horisontal dengan Skala 1:500 - Alinyemen Vertikal dengan Skala 1:50

- Potongan Melintang Skala Horisontal 1:100, Skala Vertikal 1:50

- Detail-detail skala 1:50 atau 1:20 atau 1:15 atau disesuaikan dengan kebutuhan perencanaan

Dalam phase Perencanaan Detail dan Laporan Akhir, Konsultan wajib melaksanakan proses sebagai berikut :

1. Penyusunan konsep kriteria perencanaan teknis dan konsep detail perencanaan untuk dimintakan persetujuan pemberi tugas

(14)

2. Pembuatan perencanaan akhir dilakukan setelah konsep tersebut di atas mendapat persetujuan pemberi tugas dengan mencantumkan koreksi-koreksi dan saran dari pemberi tugas

3. Semua perencanaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan dalam Standard Perencanaan 2.5 Pendekatan dan Metodologi

a. Sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan, penyedia jasa harus mengadakan konsultasi/asistensi terlebih dahulu dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) atau Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), yaitu untuk mendapatkan konfimasi kepastian mengenai jembatan yang akan ditangani.

b. Pengumpulan data lapangan, penghitungan dan proses yang dilaksanakan dalam pekerjaan ini dilakukan dengan menggunakan cara pengumpulan data lapangan yang telah dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan NSPM yang berlaku

2.6 Lokasi Kegiatan

Kegiatan jasa konsultansi ini harus dilaksanakan di wilayah Desa Asam Jelai Kecamatan Jelai Hulu Kabupaten Ketapang.

2.7 Jangka Waktu Pelaksanaan

Jangka waktu pelaksanaan kegitatan ini diperkirakan 60 (enam puluh) hari kalender. 2.8 Tenaga Ahli

Tenaga ahli yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan ini adalah yang terdiri dari sebagai berikut :

a. Team Leader

Mempunyai sertifikat keahlian Perencana Jembatan, Ketua Tim disyaratkan seorang Sarjana Teknik Sipil Strata 1 (S.1) dan berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan sejenis lebih diutamakan/disukai Perencanaan Jembatan. Mempunyai pengalaman selama 5 tahun,. Sebagai ketua tim, tugas utamanya adalah memimpin dan mengkoordinir seluruh kegiatan anggota tim kerja dalam pelaksanaan pekerjaan sampai dengan pekerjaan dinyatakan selesai.

b. Ahli Jembatan

Mempunyai sertifikat keahlian Perencana Jembatan Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil Strata. 1. (S.1) dan berpengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis lebih dari 3 Tahun. Tenaga ahli tersebut tugas utamanya membantu Tim Leader/Ketua Tim, merencanakan dan melaksanakan semua kegiatan dalam pekerjaan perencanaan teknis Jembatan, dan bangunan pelengkap yang diperlukan, serta harus menjamin bahwa rencana Jembatan yang dihasilkan adalah pilihan yang paling ekonomis dan sesuai dengan standar teknis yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga.

(15)

c. Ahli Geologi/Geoteknik

Mempunyai sertifikat keahlian Perencana Jembatan, Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil/Geologi Strata. 1. (S.1) dan yang berpengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis lebih dari 3 Tahun. Tenaga ahli tersebut tugas utamanya membantu Tim Leader/Ketua Tim dan merencanakan dan melaksanakan semua kegiatan dalam pekerjaan geologi yang mencakup pelaksanaan survey geologi, pengolahan dan analisis data geologi, dan penggambaran data geologi, serta harus menjamin bahwa data tanah yang disampaikan benar sesuai dengan kondisi lapangan yang akan digunakan sebagai dasar penentuan pondasi dan bangunan bawah jembatan, dan dapat memberikan masukan yang rinci mengenai sumber bahan beserta sifat-sifat bahannya.

d. Ahli Hidrologi/Hidraulika

Mempunyai sertifikat keahlian Perencana Jembatan, tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil Strata. 1. (S.1) dan berpengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis lebih dari 3 Tahun diutamakan/disukai perencanaan Jembatan. Tenaga ahli tersebut tugas utamanya membantu Tim Leader/Ketua Tim dan merencanakan dan melaksanakan semua kegiatan yang mencakup pelaksanaan pengumpulan data hidrologi, pengolahan dan analisis data hidrologi, dan perhitungan-perhitungan hidrologi untuk perencanaan bentuk dan dimensi bangunan hidrologi, serta harus menjamin bahwa data, analisis dan perhitungan hidrologi yang dihasilkan adalah benar, akurat, siap digunakan, dapat memberikan masukan yang rinci mengenai curah hujan dan pola aliran air permukaan untuk tahap perencanaan teknis Jembatan.

e. Ahli Geodesi

Mempunyai sertifikat keahlian Geodesi yang dikeluarkan oleh Asosiasi terkait, Tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil Strata. 1. (S.1) dan berpengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis lebih dari 3 Tahun, Tenaga ahli tersebut tugas utamanya membantu Tim Leader/Ketua Tim dan melakukan persiapan desain, survei pendahuluan, survei topografi, menyiapkan peta dasar yang akan digunakan sebagai bahan dasar perencanaan teknis jembatan.

f. Cost & Quantity Engineer

Mempunyai sertifikat keahlian Perencana Jalan, tenaga ahli yang disyaratkan adalah Sarjana Teknik Sipil Strata. 1. (S.1) dan berpengalaman melaksanakan pekerjaan sejenis lebih dari 3 Tahun. Tenaga ahli tersebut tugas utamanya membantu Tim Leader/Ketua Tim dan melaksanakan semua kegiatan yang mencakup pengumpulan data harga satuan bahan dan upah, menyiapkan analisa harga satuan pekerjaan, membuat perhitungan kuantitas pekerjaan jembatan, membuat perkiraan biaya pekerjaan konstruksi, sertaharus menjamin bahwa data, perhitungan analisa harga satuan dan perhitungan kuantitas pekerjaan yang dihasilkan adalah benar dan akurat

(16)

Selain itu diperlukan tenaga sub profesional dan tenaga pendukung di kantor untuk membantu kelancaran kegiatan yang terdiri dari : teknisi-teknisi dan Juru gambar (Drafter/Operator CAD) serta Operator Komputer.

2.9 Keluaran

Keluaran yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini adalah : a. Laporan Detail Desain

 Gambar Perencanaan Teknis (Desain) jembatan/jalan dalam ukuran kertas A3, agar dapat digunakan pada saat penerapan dilapangan.

 Laporan perhitungan struktur Jembatan Laporan ini berisikan perhitungan konstruksi jembatan lengkap (bangunan atas dan bawah) dan pekerjaan lain yang memerlukan analisa perhitungan.

 Laporan Geologi/Geoteknik yang didalamnya memuat seluruh penyelidikan tanah serta peta penyebaran tanah serta foto dokumentasi.

 Laporan Topografi yang didalamnya memuat seluruh data pengukuran termasuk hasil perhitungan serta foto dokumentasi;

 Laporan Drainase yang didalamnya memuat seluruh data survey hidrologi termasuk analisi perhitungan.

b. Laporan Engineering Estimate yang berpedoman pada Panduan Analisa Harga Satuan (PAHS) Edisi November 2010 (Revisi 3) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.

c. Standar Dokumen Lelang yang berpedoman Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi sebagaimana telah diubah dengan Permen PU No. 14/PRT/M/2013 dan perubahan kedua dengan Permen PU No. 07/PRT/M/2014, termasuk didalamnya Spesifikasi Umum yang berpedoman pada Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum.

BAB III LAPORAN

(17)

Jenis laporan yang dihasilkan dari pelaksanaan pekerjaan ini: 1. Tujuan

Kegiatan ini bertujuan untuk melengkapi data perencanaan serta sebagai bahan pelaksanaan, setiap tenaga ahli diwajibkan untuk membuat laporan secara detail dan lengkap.

2. Laporan

Laporan yang harus dibuat :

A. Laporan Administrasi antara lain : a. Laporan Pendahuluan

Laporan Pendahuluan yang berisikan : Pemahaman terhadap KAK, Metodologi dan Rencana Kerja, Menyampaikan Kriteria Desain secara detail, Pengenalan Lokasi Awal, Organisasi Pelaksanaan kegiatan, dan Jadwal pelaksanaan termasuk persiapan survey. Laporan diserahkan 15 (lima belas) hari setelah dimulainya jasa konsultan dan dibuat sebanyak 5 (lima) rangkap/buku.

b. Laporan Antara

Laporan Antara yang berisikan : Rangkuman hasil pengumpulan data sekunder maupun data primer, hasil kajian terhadap data survei, konsep perencanaan, progres kegiatan dan rencana selanjutnya. Laporan diserahkan 40 (empat puluh) hari setelah dimulainya jasa konsultan dan dibuat sebanyak 5 (lima) rangkap/buku.

c. Laporan Akhir

Laporan Akhir yang berisikan : Rangkuman seluruh kegiatan yang telah dilakukan, berisi uraian pelaksanaan survey pendahuluan, survey detail, pengolahan data, asumsi-asumsi yang diambil, perhitungan perencanaan serta rumus-rumusnya, perhitungan biaya, penentuan pemakaian dokumen lelang, kriteria desain yang diambil, kesimpulan dan rekomendasi. Laporan diserahkan 60 (enam puluh) hari setelah dimulainya jasa konsultan dan dibuat sebanyak 5 (lima) rangkap/buku. B. Laporan Teknis yang dihasilkan

a. Laporan perencanaan dan gambar rencana yang terdiri dari : i. Laporan Perencanaan

Laporan perhitungan struktur Jembatan

Laporan ini berisikan perhitungan konstruksi jembatan lengkap, baik bangunan atas jembatan maupun bangunan bawah jembatan serta pekerjaan-pekerjaan lain yang memerlukan analisa perhitungan, semua analisa berikut asumsi dan rumus-rumus yang digunakan

ii. Gambar Rencana A3

Laporan perencanaan ini dipisahkan berdasarkan paket pekerjaan masing-masing laporan berisi :

 Sampul depan gambar rencana  Lembar pengesahan

 Daftar isi

(18)

 Peta lokasi kegiatan

 Peta lokasi sumber material dan AMP/Batching Plant  Daftar kuantitas (rekapitulasi)

 Tata letak (layout) dan koordinat jembatan

 Gambar Situasi, potongan memanjang dan potongan melintang  Bangunan Bawah

Gambar Tampak dan Potongan Melintang  Bangunan Atas

Detail Pekerjaan/Perbaikan Expasion Joint

Detail Bearing Detail Railing

 Detail-detail konstruksi lainnya  Gambar-gambar standar

b. Laporan perkiraan kuantitas dan biaya

Laporan ini berisi perkiraan kuantitas dan biaya yang dihitung untuk tiap item pekerjaan yang kemudian digabungkan sebagai kesimpulan perkiraan biaya. Laporan perkiraan kuantitas dan biaya ini dipisahkan sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan dengan isi sebagai berikut :

- Daftar isi.

- Peta lokasi proyek.

- Daftar bangunan pelengkap/jembatan.

- Perhitungan perkiraan kuantitas (Back Up Quantity). - Analisa biaya.

- Perkiraan biaya.

c. Laporan penyelidikan tanah

Laporan Akhir Geologi dan Geoteknik harus mencakup sekurang-kurangnya pembahasan mengenai hal-hal berikut :

- Data proyek.

- Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek terhadap kota besar terdekat.

- Kondisi morfologi sepanjang lokasi.

- Kondisi badan jalan yang ada di sekitar jembatan.

- Batuan penyusun (stratigrafi) pada lokasi jembatan. Untuk peta penyebaran batuan disiapkan dalam kertas HVS ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi notasi.

- Hasil akhir pemeriksaan laboratorium dijadikan acuan untuk perbaikan hasil diskripsi secara visual.

- Penyebaran jenis tanah pada lokasi jembatan. Untuk peta penyebaran tanah disiapkan dalam kertas HVS ukuran A3 dan diwarnai sesuai dengan standar pewarnaan geologi dan diberi notasi.

- Analisis perhitungan konstruksi timbunan dan stabilitas lereng. - Analisis longsoran pada lokasi jembatan.

- Sumber bahan konstruksi jembatan (jenisnya dan perkiraan volume cadangan).

- Gejala struktur geologi yang ada (kekar, sesar/patahan dsb.) beserta lokasinya. - Rekomendasi.

(19)

d. Laporan Topografi

Laporan topografi mencakup sekurang-kurangnya pembahasan mengenai hal-hal berikut :

- Data proyek.

- Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasiproyek terhadap kota besar terdekat.

- Kegiatan perintisan untuk pengukuran. - Kegiatan pengukuran titik kontrol horizontal. - Kegiatan pengukuran titik kontrol vertikal. - Kegiatan pengukuran situasi.

- Kegiatan pengukuran penampang melintang. - Kegiatan pengukuran khusus (bila ada). - Perhitungan dan penggambaran.

- Peralatan ukur yang digunakan berikut nilai koreksinya.

- Dokumentasi foto (ukuran 3R) mengenai kegiatan pengukuran topografi termasuk kegiatan pencetakan dan pemasangan BM, pengamatan matahari, dan semua obyek yang dianggap penting untuk keperluan perencanaan jalan. - Deskripsi BM (sebagai lampiran).

- Data ukur hasil ploting dan negatip film harus diserahkan. e. Laporan Hidrologi

Laporan mengenai survey dan analisis hidrologi, yang meliputi : - Data proyek.

- Peta situasi proyek yang menunjukkan secara jelas lokasi proyek terhadap kota besar terdekat, pos pencatat curah hujan.

- Data curah hujan untuk setiap pos yang diambil. - Analisis/ perhitungan.

- Penentuan dimensi dan jenis bangunan air. - Daftar lokasi bangunan air yang direncanakan.

f. Laporan Dokumen Pelelangan Pekerjaan Fisik Dokumen Pelelangan Pekerjaan Fisik sesuai dengan dokumen pelelangan standar yang berpedoman pada Permen PU No.07/PRT/M/2014 dan Permen PU No.14/PRT/M/2013 tentang perubahan Permen PU No.07/PRT/M/2011 tentang Standar dan Pedoman Pengadaan Pekerjaan Konstruksi dan Jasa Konsultansi termasuk didalamnya Spesifikasi Umum yang berpedoman pada Spesifikasi Umum 2010 (Revisi 3) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum, adapun isi laporan ini adalah :

1. Gambar Rencana untuk pelaksanaan pekerjaan fisik dalam kertas HVS ukuran A4, yang terdiri dari:

i. Peta Lokas ii. Lay out

iii. Potongan melintang iv. Potongan memanjang v. Detail-detail

2. Spesifikasi Teknis

(20)

4. Dokumen Pengadaan (Dokumen Pemilihan dan Dokumen Kualifikasi)

g. Semua laporan dan data dimasukkan dalam FlashDisc (mobile disc) atau CD secara lengkap tanpa di-password, kecuali data lapangan/data ukur dan gambar rencana awal.

h. Semua laporan dibuat dalam kertas HVS ukuran A4 kecuali ditentukan lain dan dicetak serta dijilid dengan spiral atau laminasi, khusus untuk laporan dokumen pelelangan pekerjaan fisik dimasukkan dalam map.

Menetapkan & Mengesahkan, Pengguna Anggaran

Drs. HERONIMUS TANAM, ME NIP. 19630719 199603 1 003

Referensi

Dokumen terkait

Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam keluarga methylanthine !ersama sama Kafein ialah alkaloid yang tergolong dalam keluarga methylanthine !ersama sama senyawa tefilin

Laporan Tahunan Kesehatan Lingkungan UPTD Puskesmas Purabaya ini Laporan Tahunan Kesehatan Lingkungan UPTD Puskesmas Purabaya ini dapat tersusun tiada lain karena

Secara umum laporan ini berisi pendahuluan, profil kabupaten, arahan kebijakan dan rencana strategis infrasturktur bidang cipta karya, analisis sosial ekonomi dan

Thomas Matulessy sejak berusia 13 tahun, telah terlibat dalam berbagai diskusi dengan orang dewasa tentang apa yang telah dilihat dan diketahui yang dilakukan Penjajah

Lan sadhengah apa kang koktin- dakake iku tindakna kalawan terus ing batin kayadene kagem Gusti, ora kanggo manungsa. Data

Kecenderungan ini oleh Lazarus dan Folkman (dalam Carver, dkk, 1989) disebut dengan penilaian kembali secara positif. Namun demikian, kecenderungan ini tidak

Kasuskhususuntuk queue dengankeadaanawalberelemen 1, yaitumenyesuaikan HEAD & TAIL dengan DEFINISI.Algoritmaini EFISIEN

Dalam berdistribusi di seluruh aliansi vegetasi, setiap spesies memiliki preferensi yang khas dari spesies tersebut terhadap kisaran kombinasi faktor abiotik tanah maupun