BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pisces (ikan) memiliki beragam jenis yang diklasifikasikan berdasarkan ciri-ciri dari setiap jenis spesies Pisces. Tubuh ikan berbentuk pipih lateral dan pipih dorsoventral yang memudahkan pergerakannya dalam air. Memiliki anggota gerak yang berupa sirip yang terdiri atas sepasang sirip dada dan juga sepasang sirip perut, selain itu terdapat juga sirip anal dan sirip punggung pada bagian depan dan juga belakang yang tidak berpasangan (Buchar, 1998).
Tubuh ikan ditutupi oleh sisik-sisik yang tersusun atas zat kapur dengan permukaan sisik yang berlendir, berfungsi memberikan kemudahan dalam gerakan ikan dalam air. Pada sisi kiri kanan tubuh terdapat gurat sisi berfungsi sebagai alat keseimbangan, penentu arah arus air dan kedalaman sewaktu berenang. Pisces dibagi dalam tiga Kelas yaitu Agnatha, Chondrichthyes (ikan bertulang rawan), dan Osteichthyes (ikan bertulang sejati) (Cahyono, 2000).
Semua vertebrata, dalam keadaan embrional mempunyai korda dorsalis yang kemudian ada yang diganti dengan tulang rawan dan ada yang diganti dengan tulang keras. Dengan demikian, maka pada Pisces dapat dibedakan menjadi 2 kelas yaitu, Chondrichthyes, adalah ikan yang skeletonnya berupa tulang rawan tanpa tulang keras, cranium bergabung dengan kapsula sensoris dengan kolumna vertebralisnya yang telah sempurna; dan Osteichthyes, adalah ikan yang sebagian besar skeletonnya terdiri dari tulang keras (sejati) dan hanya pada beberapa bagian tubuh yang bertulang rawan (Jangkaru, 2004).
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Chondrichthyes dan Osteichthyes, antara lain : 1. Praktikan mengenal beberapa anggota Class Chondrichthyes dan
Osteichthyes.
2. Praktikan mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota Class Chondrichthyes dan Osteichthyes.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
Chondrichthyes dalam bahasa Yunani, chondros berarti rawan, dan ichthyes yang berarti ikan. Chondrichthyes memiliki bentuk tubuh yang tertutup sisik-sisik plakoid kasar berisi dentin (mesodermal) yang dilapisi dengan email (ektodermal); pada otot-otot tubuh mempunyai segmen (miotom); rangka atau endoskleton tersusun atas tulang rawan. Chondrichthyes mempunyai dua pasang sirip dengan sirip ekor yang umumnya heteroserkal (lobus dorsal lebih besar); mulut yang terletak pada bagian bawah (ventral) dengan lidah dan juga rahang, rahang yang tertutup oleh gigi; alat pencernaan mulai dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus, rektum, dan kloaka; lubang hidung berfungsi untuk indra penciuman; alat kelamin terpisah dan fertilisasi terjadi secara eksternal atau internal, bersifat ovipar atau ovovivipar (Saanin, 1968).
Chondrichthyes memiliki tulang kartilago cranium sempurna, organ pembau dan kapsul otik tergabung menjadi satu. Kartilago palate-quadrat dan kartilago Meckel adalah tulang rawan yang akan membentuk rahang atas dan rahang bawah. Kelas Chondrichthyes yaitu ikan-ikan yang kerangkanya berupa tulang rawan dan sesungguhnya tulang rawan ini bukan menunjukkan keprimitifannya melainkan merupakan ciri sekunder (Simatupang, H., 2010)
Kelas chondrichthyes mencakup 2 sub kelas yaitu (Simatupang, H., 2010) : 1. Sub kelas Elasmobranchii, yang dibedakan atas :
- Ordo Squaliformes, mencakup semua jenis ikan hiu.
Ikan hiu hidup di samudera dan lautan di seluruh dunia dan beberapa tumbuh dalam air tawar. Mereka tinggal di sebagian besar semua dan suhu kedalaman laut. Ikan hiu mempunyai tubuh yang dilapisi kulit dermal denticles untuk melindungi kulit mereka dari kerusakan, dari parasit dan untuk menambah dinamika air (Nelson, JS. 1994). - Ordo Rajiformes, mencakup jenis-jenis ikan pari.
Ikan pari jarang menyerang manusia, walaupun sekiranya ia terinjak, ikan pari akan menggunakan tajinya sebagai satu bentuk untuk mempertahankan diri. Terdapat kira-kira 200 spesies ikan pari. Biasanya terdapat di air tawar dan di lautan. Kebanyakan tidak mempunyai keupayaan untuk menyengat (Nelson, JS. 1994).
Mencakup jenis ikan langka yang disebut ikan tikus. Ikan ini tidak mirip dengan ikan hiu ataupun ikan pari dalam hal bentuk tubuh dan jumlah celah insangnya. Contohnya yaitu Chimaera monstrosa (Simatupang, H., 2010).
Super Ordo Selachii
1. Ordo Heterodontida (ikan hiu berkepala bison)
Satu famili ditemukan dalam ordo ini yaitu family heterodontidae. Mereka sering disebut sebagai macan, atau hiu tanduk. Mereka memiliki berbagai gigi yang memungkinkan mereka untuk memahami dan kemudian menghancurkan shellfishes. Hiu macan Heterodontus portusjacksoni adalah salah satu spesies darii ordo heterodontifores (Froese, dkk, 2006).
2. Ordo Hexanchida
Dua famili ditemukan dalam ordo ini. Spesies pada ordo hexanchida dibedakan dari hiu lainnya dengan memiliki celah insang tambahan (baik enam atau tujuh). Contoh dari kelompok ini termasuk hiu sapi, hiu yang berjumbai dan bahkan hiu yang terlihat pada pemeriksaan pertama menjadi ular laut (Sepkoski, Jack, 2002).
3. Ordo Lamnida
Lamnida adalah kelompok hiu yang umumnya dikenal sebagai hiu tenggiri. Tujuh famili ditemukan dalam ordo ini. Mereka umumnya disebut sebagai hiu makarel. Mereka termasuk hiu goblin, berjemur hiu, megamouth, perontok, hiu mako dan hiu putih yang besar. Mereka dibedakan oleh rahang besar dan reproduksi ovoviviparous. Para Lamnida berisi Megalodon punah Carcharodon megalodon, yang seperti kebanyakan hiu punah ini hanya diketahui oleh gigi (tulang hanya ditemukan dalam ikan bertulang rawan, dan oleh karena itu sering hanya fosil diproduksi) (Froese, dkk, 2009).
Super Ordo Hypotrematica 1. Ordo Rajida
Rajida adalah salah satu ordo dari super ordo Hypotrematica. Rajida dibedakan dengan adanya sirip dada yang besar, yang mencapai besarnya sisi kepala, dengan rata tubuh secara umum. Mata dan spirakel terletak di atas permukaan tubuh, dan celah insang di bagian bawah. Sebagian besar reproduksinya dengan cara ovipar maupun vivipar (Froese, dkk, 2006).
Osteichthyes dalam bahasa Yunani, osteon yang berarti tulang, sedangkan ichthyes yang berarti ikan. Osteichthyes hidup di air laut, air tawar, dan juga rawa-rawa. Osteichthyes adalah ikan yang memiliki tulang sejati dengan endoskeleton
yang mengandung matriks kalsium fosfat yang keras; kulit yang ditutupi oleh sisik bertipe ganoid, sikloid, atau stenoid, namun ada juga yang tidak bersisik; otot tubuh yang bersegmen; mulut berahang dengan gigi dan lidah. Osteichthyes bernapas dengan insang yang ditutupi dengan operkulum (tutup insang). Osteichthyes mempunyai gelembung renang dengan fungsi membantu pernapasan dan sebagai alat dalam hidrostatik, yaitu menyesuaikan berat tubuh dengan kedalaman air; darah yang memiliki warna pucat dengan kandungan eritrosit berinti dan leukosit; memiliki limpa yang berwarna merah; alat pencernaan lengkap mulai dari mulut, faring, esofagus, lambung, usus, dan anus, antara lambung dengan usus dipisahkan oleh katup. Osteichthyes mempunyai hati yang berukuran besar dan kantong empedu; memiliki pankreas yang tidak jelas keberadaannya; alat ekskresi yang berupa sepasang ginjal yang berwarna kehitaman dan urin yang dikeluarkan melalui sinus urogenital; alat indra yang berupa mata, telinga, saku olfaktoris pada moncong dan gurat sisi yang digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan tekanan arus air; alat kelamin terletak terpisah, umumnya bersifat ovipar dan fertilisasi internal, namun ada juga vivipar dan fertilisasi ekternal, contohnya pada ikan perak (Cymatogaster aggregata) (Kordi, 2007).
Menurut Menge (1982), Kelas Osteichthyes dibagi menjadi 2 Subkelas, yaitu :
a. Subkelas Sarcopterygii
Ciri-cirinya yaitu memiliki choana (lubang hidung dalam), sirip-sirip yang berpasangan mempunyai pangkal berdaging, bagian dalamnya disokong oleh elemen-elemen tulang yang kuat, dan sisik cosmoid, contohnya adalah Coelacanth. Subkelas Sarcopterygii terdiri atas 2 ordo yaitu Ordo Coelacanthiformes (Crassopterygii) dan Dipteriformes (Dipnoi).
b. Subkelas Actinopterygii
Ciri cirinya yaitu memiliki maxilla dan premaxila, tidak memiliki internal nares, tidak ada kesamaan gerak antara bagian tengkorak depan dan belakang. Platoquadrate tidak bersatu dengan cranium, tidak ada perlusan radial dan otot dalam dasar sirip, memiliki 2 atau 1 sirip punggung, tidak terdapat cloaca. Karakteristik Actinopterygii yaitu sistem pencernaan secara fisik dan mekanik dimulai di bagian rongga mulut yaitu dengan berperannya gigi pada proses pemotongan dan penggerusan makanan. Sistem peredaran darahnya tunggal, jantung terdiri atas dua ruang yaitu serambi dan bilik. Darah ikan
tampak pucat dan relatif sedikit dibandingkan dengan vertebrata darat. Memiliki sistem ekskresi yang disebut lubang urogenital, dan melakukan reproduksi secara eksternal (oviparous) yaitu telur dibuahi dan berkembang di luar tubuh ikan.
Contoh anggota dari Kelas Osteichthyes menurut Agusanto (2015) antara lain:
1. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
2. Ikan Mujair (Oreochromis mossambicus)
3. Ikan Mas (Cyprinus carpio)
.
BAB III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Chondrichthyes dan Osteichthyes yaitu bak preparat, pinset, kaca pembesar, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, glove, masker, laporan sementara, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu beberapa spesimen hewan Kelas Chondrichthyes dan Osteichthyes.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum Kelas Chondrichthyes dan Osteichthyes antara lain:
1. Karakter spesimen dari Phylum Kelas Chondrichthyes dan Osteichthyes diamati, digambar, dan dideskripsikan berdasarkan ciri-ciri morfologi.
2. Spesimen diidentifikasi.
B. Pembahasan
Class Chondrichthyes dan Osteichthyes meliputi sebagian dari kelompok ikan (fishes). Ikan merupakan anggota dari Phylum Chordata, Subphylum Craniata, Infraphylum Vertebrata. Anggota Class Chondrichthyes memiliki karakteristik yaitu memiliki rangka dari tulang rawan (kartilago), beberapa anggota mengalami osifikasi sebagian; tidak memiliki operculum & gelembung renang; beberapa memiliki ekor dengan lobus atas yang lebih besar (heterocercal); tidak bersisik, atau jika ada merupakan sisik placoid.
Salah satu anggota Class Chondrichthyes yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan pari (Himantura sp.) yang termasuk ke dalam Famili Myliobatidae, Ordo Rajiformes. Ikan pari memiliki tubuh gepeng melebar (depressed), ekornya seperti cemeti yang memiliki sengat, tipe mulutnya inferior, bernapas menggunakan insang. Individu jantan dari ikan pari dilengkapi clasper di dekat anus yang berfungsi sebagai alat kopulasi. Sirip pectoralnya membesar sepanjang tubuh sampai depan sirip pelvic, serta berenang dengan gerakan menggelombang dengan menggunakan sirip pectoralnya.
Osteichthyes meliputi ikan yang bertulang sejati, skeleton sebagian besar tersusun atas tulang keras, memiliki operculum dan gelembung renang. Osteichthyes terbagi menjadi dua Class, Sarcopterygii dan Actinopterygii. Anggota Sarcopterygii memiliki lobus otot pada pangkal sirip dan umumnya menggunakan paru-paru untuk respirasi, contohnya Coelacanth. Anggota Actinopterygii memiliki sirip dengan jari-jari sirip, tidak memiliki lobus otot pada pangkalnya, dan memiliki gelembung renang untuk mengapung di air.
Pada praktikum kali ini, spesimen hewan anggota Osteichthyes yang digunakan adalah ikan sidat, kuda laut, serta ikan kerapu. Ikan sidat (Anguilla bicolor) tergolong ke dalam Famili Anguillidae, Ordo Anguilliformes, Class Actinopterygii. Ikan sidat memiliki tubuh bulat memanjang; memiliki satu sirip dorsal, pectoral, caudal, dan sirip anal; kepala berbentuk segitiga; memiliki operculum; serta tipe mulutnya terminal. Hidup di perairan dalam (hinggal 4000 m); mendiami perairan tawar, namun kembali lagi ke laut untuk memijah.
Kuda laut (Hippocampus sp.) termasuk ke dalam Famili Sygnathidae, Ordo Sygnathiformes, Class Actinopterygii. Kuda laut memiliki bentuk kepala seperti kepala kuda; memiliki coronet; memiliki mata yang dapat bergerak bebas; tubuh
bersegmen; memiliki satu sirip dorsal, pectoral, dan anal; ekornya panjang meruncing pada ujungnya yang berfungsi mempercepat pergerakan dan untuk mengaitkan beberapa substrat. Individu jantannya memiliki brood pouch yang berfungsi menampung hasil fertilisasi eksternal dari ovum dan sel sperma. Kuda laut jantan mengerami telur selama 10-14 hari di dalam pouch. Sebagian besar menghasilkan telur 100-120 butir telur. Kuda laut merupakan karnivora; tidak memiliki gigi dan perut, sehingga mangsanya langsung ditelan secara utuh dan masuk ke sistem digestinya.
Ikan kerapu tikus (Chromileptes altivelis) termasuk ke dalam Famili Serranidae, Ordo Perciformes, Class Actinopterygii. Ikan ini memiliki sirip dorsal dengan duri-duri yang keras dan lunak, sirip pectoral dan sirip caudalnya juga dilengkapi duri-duri keras dan lunak; leher bagian atas cekung; mata ssperenam kepala. Tubuh ikan kerapu tikus ini putih atau krem dengan totol-totol hitam di seluruh tubuhnya. Kerapu tikus merupakan karnivora, aktif pada pagi dan sore hari, habitatnya diperairan batu akrang atau di daerah akrang berlumpur, hidup di kedalaman 40-60 meter.
1. Berdasarkan identifikasi yang sudah dilakukan, maka dibuat kunci identifikasi untuk mengetahui hubungan kekerabatan antar spesies. Berdasarkan karakter tulang penyusung rangkanya dibagi menjadi dua, tulang rawan yang berlanjut ke karakter nomor 2 dan tulang keras yang juga berlanjut ke karakter nomor 3. Karakter nomor 2 terbagi menjadi a). Perenang cepat & sirip lengkap, yaitu ikan hiu; b). Memiliki disc & ekor seperti cambuk, yaitu ikan pari (Himantura sp.). Karakter nomor 3 yaitu a). Tubuh memanjang, sirip dorsal & anal menyatu, yaitu ikan sidat (Anguilla bicolor); b). Sirip dengan jari-jari lunak & terpisah, yang berlanjut ke karakter nomor 4. Selanjutnya karakter nomor 4 yaitu a). Memiliki barble, sucker mouth, & sirip caudal bercagak, yaitu ikan sapu-sapu; b). Tidak memiliki barble & non sucker mouth, yang berlanjut ke karakter nomor 5. Karakter nomor 5 dibagi menjadi a). Tipe mulut superior, yaitu ikan kerapu tikus (Chromileptes altivelis); b). Tipe mulut bukan superior, yang berlanjut ke karakter nomor 6. Karakter nomor 6 terbagi menjadi a). Tipe mulut terminal, yaitu ikan dori (napoleon); b). Mulut seperti pipa, yaitu kuda laut (Hippocampus sp.) Karakter penting yang digunakan dalam identifikasi Osteichthyes dan Class Chondrichthyes adalah tulang penyusun rangka, kelengkapan sirip, tipe ekor, tipe
berenang, memiliki disc/tidak, bentuk tubuh, jari-jari pada sirip, tipe dan bentuk mulut, serta ada tidaknya barble.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
2. Anggota Class Chondrichthyes yang digunakan pada praktikum adalah ikan pari (Himantura sp.), sedangkan anggota Osteichthyes yang diidentifikasi adalah iakn kerapu tikus (Chromileptes altivelis), ikan sidat (Anguilla bicolor), dan kuda laut (Hippocampus sp.) yang semuanya termasuk ke dalam Class Actinopterygii. 3. Karakter penting yang digunakan dalam identifikasi Osteichthyes dan Class
Chondrichthyes adalah tulang penyusun rangka, kelengkapan sirip, tipe ekor, tipe berenang, memiliki disc/tidak, bentuk tubuh, jari-jari pada sirip, tipe dan bentuk mulut, serta ada tidaknya barble.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini yakni sebaiknya dalam mengidentifikasi anggota Chondrichthyes dan Osteichthyes agar lebih teliti dan cermat, di samping itu perlunya sumber-sumber yang terpercaya akan mendukung dan memaksimalkan hasil identifikasi.
DAFTAR REFERENSI
Agusanto. 2015. Inventarisasi Jenis Ikan dan Karakteristik Kualitas Perairan Danau Teratai Desa Pontolo Kecamatan Mananggu Kabupaten Boalemo. Jurnal FPIK UNG, 22(1): 1-9.
Buchar, T. 1998. Bioekologi Komunitas Ikan. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Cahyono, B. 2000. Budidaya Ikan Air Tawar. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Gonzales, N. A. P. 2014. Laboratory Evaluation of Limes against Invasive Swamp Eels, Monopterus albus Invading the Ifugao Rice Terraces, Philippines. Resources and Environment, 4(5): 234-237.
Hildebrand, M. 1974. Analisa Struktur Vertebrata. Bandung: Armico.
Jangkaru, Z. 2004. Pembesaran ikan Air Tawar di Berbagai Lingkugan Pemeliharaan. Jakarta: PT Penebar Swadaya.
Jasin, M. 1989. Zoologi Invertebrata. Surabaya: Sinar Wijaya.
Kordi. 2007. Analisis Kualitas Fisika Kimia Air di Areal Budidaya Ikan Danau Tondano Provinsi Sulawesi Utara. Budidaya Perairan, 1(2): 29-37.
Menge, B. A. 1982. Effects of Feeding on the Environment: Asteroides. Echinoderm Nutrition, 23(9): 521-551.
Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan: Jilid 1. Bogor: Penerbit Bina Cipta.