Hubungan Individu Dalam Keperawatan

18 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MAKALAH PSIKOLOGI

MAKALAH PSIKOLOGI

““Hubungan Individu dalam Keperawatan

Hubungan Individu dalam Keperawatan

““

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 1

DISUSUN OLEH: KELOMPOK 1

Moderator : Mariana Oktaviane Ngula

Moderator : Mariana Oktaviane Ngula

Observer

Observer :

: Sopia

Sopia Fitriani

Fitriani

Pemateri

Pemateri :

: Ade

Ade Baginda

Baginda

Anggota

Anggota :

: Agus

Agus Imam

Imam Kusairi

Kusairi

Anis Agustina

Anis Agustina

Andzar Syam Muliadi N.

Andzar Syam Muliadi N.

Desi Nuraini

Desi Nuraini

Punang Anggara

Punang Anggara

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN

TAHUN AJARAN 2015/2016

TAHUN AJARAN 2015/2016

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas  berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan

waktu yang ditentukan. Adapun materi yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Hubungan Individu dalam Keperawatan.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah psikologi serta untuk menambah wawasan kepada para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca.

Semoga segala upaya kami dalam membuat makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Samarinda, 1 juni 2016 Penyusun

(3)

DAFTAR ISI Kata Pengantar ... i Daftar isi ... ii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 1 C. Tujuan ... 2

BAB II TINJAUN PUSTAKA A. Pengertian kepribadian ... 3

B. Perkembangan kepribadian ... 3

C. Struktur Kepribadian ... 5

D. Tipologi Kepribadian ... 6

E. Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian ... 11

F. Pentingya Perawat Mengetahui Kepribadian Orang Lain... 12

G. Kepribadian Perawat ... 13

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 16

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang B. Rumusan Masalah

(5)

BAB II PEMBAHASAN

A. Hubungan Individu dalam Keperawatan

Dasar hubungan perawat dan pasien merupakan mutual humanity dan pada hakekatnya adalah hubungan saling ketergantungan dalam mewujudkan harapan  pasien terhadap keputusan tindakan asuhan keperawatan. Dalam memberikan

tindakan asuhan keperawatan kepada pasien berdasarkan rencana yang telah ditetapkan, perawat secara kolaboratif terlibat pula dalam program tim kesehatan lain. Perawat dituntut mampu berkomunikasi dan mengambil keputusan etis dengan sesama profesi, pasien, dan tim kesehatan lain khususnya dokter.

Berbagai model hubungan antara perawat, dokter dan pasien telah dikembangkan, seperti yang dilakukan oleh Szasz dan Hollander, yakni telah mengembangkan tiga model hubungan dimana model ini terjadi pada semua hubungan antar manusia, termasuk hubungan antar perawat, dokter, dan pasien yaitu :

1. Model aktivitas pasivitas

Suatu model dimana perawat dan dokter berperan aktif dan pasien berperan  pasif. Model ini tepat untuk bayi, pasien koma, pasien dibius, dan pasien dalam

keadaan darurat.

2. Model hubungan membantu

Merupakan dasar untuk sebagian besar dari praktek keperawatan atau  praktek kedokteran. Model ini terdiri dari pasien yang mempunyai gejala mencari  bantuan dan perawat atau dokter yang mempunyai pengetahuan terkait dengan kebutuhan pasien. Perawat dan dokter memberi bantuan dalam bentuk perawatan atau pengobatan. Timbal baliknya pasien diharapkan bekerja sama dengan mentaati anjuran perawat atau dokter. Dalam model ini, perawat dan dokter mengetahui apa yang terbaik bagi pasien dan bebas dari prioritas yang lain.

3. Model partisipasi mutual

Model ini berdasarkan pada anggapan bahwa hak yang sama atau kesejahteraan antara umat manusia merupakan nilai yang tinggi. Model ini

(6)

mencerminkan asumsi dasar dari proses demokrasi. Interaksi, menurut model ini, menyebutkan kekuasaan yang sama, saling membutuhkan, dan aktivitas yang dilakukan akan memberikan kepuasan kedua pihak. Model ini mempunyai ciri  bahwa setiap pasien mempunyai kemampuan untuk menolong dirinya sendiri

yang merupakan aspek penting pada layanan kesehatan saat ini. Peran dokter dalam model ini adalah membantu pasien menolong dirinya sendiri. Dari  perspektif keperawatan, model partisipasi mutual ini penting untuk mengenal  pasien dan kemampuan diri pasien. Model ini menjelaskan bahwa manusia

mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang.

B. Pengertian Psikologi Keperawatan

Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral  pelayan kesehatan yang berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan meliputi aspek  biologis, psikologis, sosial, dan spiritual yang bersifat komprehensif, artinya  pelayanan keperawatan bersifat menyeluruh, yang ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat yang sehat maupun yang sakit mencakup hidup manusia untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal.

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku manusia dalam hubungan dengan lingkungannya. Menurut asal katanya, psikologi berasal

dari bahasa Yunani Kuno: "ψυχή" (Psychē yang berarti jiwa) dan "-λογία" (-logia yang artinya ilmu) sehingga secara etimologis, psikologi dapat diartikan dengan ilmu yang mempelajari tentang jiwa.

Meskipun keperawatan dan psikologi adalah dua bidang yang terpisah, tetapi keduanya masih terkait. Psikologi dan keperawatan keduanya memiliki tujuan umum yaitu memahami kebutuhan emosional dan biologis pasien mereka. Salah satu cara meningkatkan psikologi keperawatan adalah dengan membantu  perubahan perilaku seseorang, seperti pola pikir mental mereka. Seorang perawat harus optimis membawa kenyamanan kepada pasien dan memiliki kemampuan untuk mendorong pasien berpikir positif dalam penyembuhan penyakit pasien. Dalam rangka mengembangkan hubungan yang sehat, penting bahwa seorang  perawat memahami reaksi emosional manusia, dan psikologi adalah kunci untuk

(7)

memahami hal ini sepenuhnya. Seorang perawat harus menyadari ketika seorang  pasien marah, depresi, bingung atau takut, dan mengambil langkah yang

diperlukan untuk menangani emosi tersebut sehingga tidak memperburuk kondisi kesehatan pasien.

C. Hubungan Perawat dengan Klien

Hubungan perawat dengan pasien adalah suatu wahana untuk mengaplikasikan proses keperawatan pada saat perawat dan pasien berinteraksi untuk terlibat guna mencapai tujuan asuhan keperawatan. Hubungan ini direncanakan secara sadar dan kegiatannya dipusatkan untuk pencapaian tujuan klien. Perawat menggunakan pengetahuan serta komunikasi yang baik guna memfasilitasi hubungan yang efektif. 2 hal yang perlu diperhatikan baik klien maupun perawat :

a. Perawat profesional bila mampu menciptakan hubungan terapeutik dengan klien.

 b. Keikhlasan, empati dan kehangatan diciptakan dalam berhubungan dengan klien.

Sebagai seorang perawat profesional, maka perawat harus memperlakukan  pasien sebagaimana peran dan tanggung jawab seorang perawat, di antaranya

adalah :

a. Pemberi Pelayanan (Care Giver)

Adalah peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara langsung atau tidak langsung kepada pasien sebagai individu, keluarga dan masyarakat, dengan metode pendekatan pemecahan masalah yang disebut proses keperawatan. Dalam melaksanakan peran ini, perawat bertindak sebagai

comforter, protector, advocate, communicator  dan rehabilitator.

Sebagai comforter, perawat berusaha memberi kenyamanan dan rasa aman  pada pasien. Peran  protector dan  advocate lebih berfokus pada kemampuan  perawat melindungi dan menjamin hak serta kewajiban pasien agar terlaksana dengan seimbang dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Peran sebagai

(8)

communicator,  perawat bertindak sebagai penghubung antara pasien dengan anggota kesehatan lainnya. Peran ini erat kaitannya dengan keberadaan perawat mendampingi pasien sebagai pemberi asuhan keperawatan selama 24 jam. Sedangkan rehabilitator,  berhubungan erat dengan tujuan pemberian asuhan keperawatan yakni mengembalikan fungsi organ atau bagian tubuh agar sembuh dan dapat berfungsi normal.

 b. Pendidik

Peran ini dilakukan dengan membantu pasien dalam meningkatkan tingkat  pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga

terjadi perubahan perilaku dari pasien setelah dilakukan pendidikan kesehatan. c. Pengelola

Perawat mengkoordinasi aktivitas anggota tim kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi fisik, ketika mengatur kelompok yang memberikan  perawatan pada pasien.

d. Peneliti

Sebagai peneliti di bidang keperawatan, perawat diharapkan mampu mengidentifikasi masalah, menerapkan prinsip dan metode penelitian serta memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan keperawatan.

Selain itu perawat bertanggung jawab membantu pasien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi pelayanan dan dalam memberikan informasi lain yang diperlukan untuk mengambil persetujuan (inform concern) atas tindakan keperawatan yang diberikan kepadanya. Mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien, karena pasien yang sakit dan dirawat di rumah sakit akan berinteraksi dengan banyak petugas kesehatan. Perawat adalah anggota tim kesehatan yang paling lama kontak dengan pasien, sehingga diharapkan  perawat harus mampu membela hak-hak pasien. Pembelaan termasuk di dalamnya  peningkatan apa yang terbaik untuk pasien, memastikan kebutuhan pasien

terpenuhi dan melindungi hak-hak pasien. Hak-hak pasien antara lain : - Hak atas pelayanan yang sebaik-baiknya.

(9)

- Hak atas informasi tentang penyakitnya. - Hak atas privacy.

- Hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

- Hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian tindakan.

Semua ini dapat dilakukan perawat jika perawat mempunyai kemampuan  berkomunikasi interpersonal yang memadai. Salah satu karakteristik dasar dari

komunikasi yaitu ketika seseorang melakukan komunikasi terhadap orang lain maka akan tercipta suatu hubungan di antara keduanya, selain itu komunikasi  bersifat resiprokal dan berkelanjutan. Hal inilah yang pada akhirnya membentuk

suatu ‘helping relationship’. Helping relationship adalah hubungan yang terjadi di antara dua (atau lebih) individu maupun kelompok yang saling memberikan dan menerima bantuan atau dukungan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya sepanjang kehidupan. Pada konteks keperawatan, hubungan yang dimaksud adalah hubungan antara perawat dan klien. Ketika hubungan antara perawat dan klien terjadi, perawat sebagai penolong (helper) membantu klien sebagai orang yang membutuhkan pertolongan untuk mencapai tujuan yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar klien.

Menurut Roger dalam Stuart G.W (1998), ada beberapa karakteristik seorang helper   (perawat) yang dapat memfasilitasi tumbuhnya hubungan yang terapeutik, yaitu :

1. Kejujuran

Kejujuran sangat penting, karena tanpa adanya kejujuran mustahil bisa terbina hubungan saling percaya. Seseorang akan menaruh rasa percaya pada lawan bicara yang terbuka dan mempunyai respons yang tidak dibuat-buat. Sebaliknya, ia akan berhati-hati pada lawan bicara yang terlalu halus sehingga sering menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya dengan kata-kata atau sikapnya yang tidak jujur. Sangat penting bagi perawat untuk menjaga kejujuran saat berkomunikasi dengan klien, karena apabila hal tersebut tidak dilakukan maka klien akan menarik diri, merasa dibohongi, membenci perawat atau bisa  juga berpura-pura patuh terhadap perawat.

(10)

2. Tidak membingungkan dan cukup ekspresif

Dalam berkomunikasi dengan klien, perawat sebaiknya menggunakan kata-kata yang mudah dipahami oleh klien dan tidak menggunakan kalimat yang  berbelit-belit. Komunikasi nonverbal perawat harus cukup ekspresif dan sesuai

dengan verbalnya karena ketidaksesuaian akan menimbulkan kebingungan bagi klien.

3. Bersikap positif

Bersikap positif terhadap apa saja yang dikatakan dan disampaikan lewat komunikasi nonverbal sangat penting baik dalam membina hubungan saling  percaya maupun dalam membuat rencana tindakan bersama klien. Bersikap positif ditunjukkan dengan bersikap hangat, penuh perhatian dan penghargaan terhadap klien. Untuk mencapai kehangatan dan ketulusan dalam hubungan yang terapeutik tidak memerlukan kedekatan yang kuat atau ikatan tertentu diantara perawat dan klien, akan tetapi penciptaan suasana yang dapat membuat klien merasa aman dan diterima dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya.

4. Empati bukan simpati

Sikap empati sangat diperlukan dalam asuhan keperawatan, karena dengan sikap ini perawat akan mampu merasakan dan memikirkan permasalahan klien seperti yang dirasakan dan dipikirkan klien. Dengan bersikap empati, perawat dapat memberikan alternative pemecahan masalah karena perawat tidak hanya merasakan permasalahan klien tetapi juga tidak berlarut-larut dalam perasaaan tersebut dan turut berupaya mencari penyelesaian masalah secara objektif.

5. Mampu melihat permasalahan dari kacamata klien

Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus berorientasi pada klien, oleh karenanya perawat harus mampu untuk melihat permasalahan yang sedang dihadapi klien dari sudut pandang klien. Untuk mampu melakukan hal ini  perawat harus memahami dan memiliki kemampuan mendengarkan dengan aktif

dan penuh perhatian. Mendengarkan dengan penuh perhatian berarti mengabsorpsi isi dari komunikasi (kata-kata dan perasaan) tanpa melakukan seleksi. Pendengar (perawat) tidak sekedar mendengarkan dan menyampaikan respon yang di inginkan oleh pembicara (klien), tetapi berfokus pada kebutuhan

(11)

 pembicara. Mendengarkan dengan penuh perhatian menunjukkan sikap caring 

sehingga memotivasi klien untuk berbicara atau menyampaikan perasaannya.

6. Menerima klien apa adanya

Seorang helper yang efektif memiliki kemampuan untuk menerima klien

apa adanya. Jika seseorang merasa diterima maka dia akan merasa aman dalam menjalin hubungan interpersonal. Nilai yang diyakini atau diterapkan oleh  perawat terhadap dirinya tidak dapat diterapkan pada klien, apabila hal ini terjadi

maka perawat tidak menunjukkan sikap menerima klien apa adanya.

7. Sensitif terhadap perasaan klien

Seorang perawat harus mampu mengenali perasaan klien untuk dapat menciptakan hubungan terapeutik yang baik dan efektif dengan klien. Dengan  bersikap sensitive terhadap perasaan klien perawat dapat terhindar dari berkata

atau melakukan hal-hal yang menyinggung privasi ataupun perasaan klien.

8. Tidak mudah terpengaruh oleh masa lalu klien ataupun diri perawat sendiri

Perawat harus mampu memandang dan menghargai klien sebagai individu yang ada pada saat ini, bukan atas masa lalunya, demikian pula terhadap dirinya sendiri.

D. Proses Interaksi Perawat dengan Klien

Kata interaksi (interaction) mengacu pada suatu hubungan timbal balik antara orang satu dengan orang lainnya yang dapat berpengaruh antara sesama dan dapat berkomunikasi secara verbal ataupun nonverbal.

Ada 4 fase dalam melakukan hubungan antara perawat dengan klien yaitu :

1. Fase Prainteraksi atau Persiapan

Fase prainteraksi merupakan awal dimulainya kontak pertama dengan klien. Dalam tahapan ini perawat menggali perasaan dan menilik dirinya dengan cara mengidentifikasi kelebihan dan kekurangannya. Pada tahap ini juga perawat mencari informasi tentang klien sebagai lawan bicaranya. Setelah hal ini dilakukan, perawat merancang strategi untuk pertemuan pertama dengan klien. Tahapan ini dilakukan oleh perawat dengan tujuan mengurangi rasa cemas atau

(12)

kecemasan yang mungkin dirasakan oleh perawat sebelum melakukan komunikasi

t e r a p e u t i k d e n g a n k l i e n .

Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:

1. Mengeksplorasi perasaan, mendefinisikan harapan dan mengidentifikasi kecemasan.

2. Menganalisis kekuatan dan kelemahan diri. 3. Mengumpulkan data tentang klien.

4. Merencanakan pertemuan pertama dengan klien

Fase Prainteraksi juga sebagai tugas awal perawat dalam mengeksplorasi diri. Berikut ini kesiapan umum yang diperlukan perawat (mahasiswa) yaitu:

 Kesadaran diri.

 Hilangkan rasa ketakutan dalam merawat klien.

 Cemas menyebabkan sifat yang kurang dalam penampilan.

 Fokus tentang identifikasi kelebihan diri dalam merawat klien psikiatri.

 Ragu-ragu akan keefektifan kemampuan atau kemampuan koping.

 Takut akan bahaya fisik atau kekerasan.

 Gelisah menggunakan diri secara teraupetik.

 Curiga karena adanya stigma tentang klien psikiatrik berbeda dari klien lain.

 Ancaman terhadap identitas peran perawat

 Ketidaknyamanan karena hilangnya kemampuan melakukan tugas fisik &  penanganan.

 Mudah mendapat ancaman karena penampilan emosional yang sangat menyakitkan

 Takut melukai klien secara psikologi.

Analisis fase pra interaksi sangat diperlukan untuk melakukan tugas selanjutnya. Yang paling efektif, perawat mampu mempertahankan stabilitas

(13)

konsep dirinya dan meningkatkan adekuat harga dirinya. Jika mereka sadar dan kontrol diri baik akan dapat menampilkan verbal dan non verbal kepada klien dengan baik, perawat dapat menggunakan fungsi role model dengan baik. Tugas dari fase ini diharapkan klien mendapatkan informasi yang baik dan perawat mempunyai perencanaan untuk melakukan interaksi pertama kali dengan klien. 2. Fase Introduksi atau Orientasi

Fase introduksi merupakan pertemuan pertama antara perawat dan klien. Pada fase ini, hubungan dibangun dengan saling percaya, saling mengerti, kedekatan dan komunikasi terbuka dengan klien. Tahap perkenalan dilaksanakan setiap kali pertemuan dengan klien dilakukan. Tujuan dalam tahap ini adalah memvalidasi keakuratan data dan rencana yang telah dibuat sesuai dengan keadaan klien saat ini, serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah lalu. Tahap pengenalan lebih jauh dilakukan untuk meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada. Komunikasi pada tahap ini mengikatkan pada diri kita untuk lebih mengenal orang lain dan juga mengungkapkan diri kita. Pada tahap komunikasi terapeutik ini harus :

(1) Melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada. (2) Meningkatkan komunikasi.

(3) Mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.

Secara psikologis, komunikasi yang bersifat terapeutik akan membuat  pasien lebih tenang, dan tidak gelisah.

Tugas perawat dalam tahapan ini adalah:

1. Membina rasa saling percaya, menunjukkan penerimaan dan komunikasi terbuka.

2. Merumuskan kontrak (waktu, tempat pertemuan, dan topik pembicaraan)  bersama-sama dengan klien dan menjelaskan atau mengklarifikasi kembali

(14)

3. Menggali pikiran dan perasaan serta mengidentifikasi masalah klien yang umumnya dilakukan dengan menggunakan teknik komunikasi pertanyaan terbuka. 4. Merumuskan tujuan interaksi dengan klien.

Sangat penting bagi perawat untuk melaksanakan tahapan ini dengan baik karena tahapan ini merupakan dasar bagi hubungan terapeutik antara perawat dan klien. Pada tahap ini juga didiskusikan tujuan hubungan dengan memperhatikan atau fokus dengan klien. Berikut ini elemen kontrak perawat-klien :

  Nama individu

 Peran perawat dan klien

 Tanggung jawab perawat dan klien

 Harapan perawat dan klien

 Tujuan hubungan

 Tentukan tempat dan waktu

 Kondisi untuk terminasi

 Kedekatan/tujuan (antara perawat dan klien )

3. Fase Kerja

Tahap kerja merupakan inti dari keseluruhan proses komunikasi terapeutik. Tahap kerja merupakan tahap yang terpanjang dalam komunikasi terapeutik karena di dalamnya perawat dituntut untuk membantu dan mendukung klien untuk menyampaikan perasaan dan pikirannya dan kemudian menganalisa respons ataupun pesan komunikasi verbal dan non verbal yang disampaikan oleh klien. Dalam tahap ini pula perawat mendengarkan secara aktif dan dengan penuh  perhatian sehingga mampu membantu klien untuk mendefinisikan masalah yang

sedang dihadapi oleh klien, mencari penyelesaian masalah dan mengevaluasinya. Di bagian akhir tahap ini, perawat diharapkan mampu menyimpulkan  percakapannya dengan klien. Teknik menyimpulkan ini merupakan usaha untuk memadukan dan menegaskan hal-hal penting dalam percakapan, dan membantu

(15)

 perawat dan klien memiliki pikiran dan ide yang sama. Dengan dilakukannya  penarikan kesimpulan oleh perawat maka klien dapat merasakan bahwa keseluruhan pesan atau perasaan yang telah disampaikannya diterima dengan baik dan benar-benar dipahami oleh perawat. Perawat membantu klien untuk dapat menurunkan kecemasan, meningkatkan ketergantungan dan tanggung jawab diri dan mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. Fokus pada fase ini adalah perubahan perilaku secara aktual. Klien menampilkan perilaku yang resisten selama fase ini sebab bagian ini merupakan proses penyelesaian masalah. Perkembangan hubungan, dimulai dengan menanyakan perasaan klien, mengembangkan kemampuan dan mencarikan jalan keluar demi klien.

Selama tahap kerja dalam wawancara, perawat memfokuskan arah  pembicaraan pada masalah khusus yang ingin diketahui. Hal-hal yang perlu

diperhatikan :

a. Fokus wawancara adalah klien.

 b. Mendengarkan dengan penuh perhatian. Jelaskan bila perlu. c. Menanyakan keluhan yang paling dirasakan oleh klien. d. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh klien.

e. Gunakan pertanyaan terbuka dan tertutup tepat pada waktunya.

f. Bila perlu diam, untuk memberikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaannya.

g. Sentuhan teraputik, bila diperlukan dan memungkinan.

4. Fase Terminasi

Terminasi merupakan hal yang sangat sulit tetapi penting karena merupakan hubungan terapeutik klien dan perawat. Selama fase terminasi, belajar untuk

meningkatkan kemampuan klien dan perawat. Setiap waktu perubahan perasaan dan memori dan evaluasi secara menyeluruh sesuai dengan kemajuan dan tujuan yang dicapai klien. Kriteria kerelaan klien untuk terminasi adalah:

(16)

 b. Klien dapat meningkatkan fungsinya.

c. Klien dapat meningkatkan harga diri dan mengidentifikasi kekuatan yang dirasakan.

d. Klien menggunakan respons koping yang adaptif.

e. Klien mengikuti hasil akhir tujuan penanganan yang ak an dicapai.

f. Memperbaiki hubungan perawat dan klien dengan tidak terjadi masalah.

Pada fase ini, klien akan mengekspresikan marah dan ketidaksukaan, atau yang lainnya berupa perilaku dan ucapan yang disampaikan secara apa adanya. Saat terminasi, klien menampilkan penghargaan negatif terhadap konsep diri. Perawat harus sadar akan kemungkinan reaksi yang terjadi dan mendiskusikan dengan klien tentang kondisi yang akan terjadi. Beberapa klien menganggap terminasi merupakan penampilan terapeutik yang sangat kritis karena hubungan sebelumnya baik dan terminasi menjadi negatif serta akan timbul perasaan tidak nyaman.

Pada tahap ini terjadi pengikatan antar pribadi yang lebih jauh dan merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang

kesimpulan perawatan yang didapat dan mempertahankan batas hubungan yang ditentukan, yang diukur antara lain mengantisipasi masalah yang akan timbul karena pada tahap ini

merupakan tahap persiapan mental atas rencana pengobatan, melakukan  peningkatan komunikasi untuk mengurangi ketergantungan pasien pada  petugas.

Terminasi merupakan akhir dari setiap pertemuan antara petugas dengan klien. Menurut Uripni (1993: 61) bahwa tahap terminasi dibagi dua, yaitu terminasi sementara dan terminasi akhir. Terminasi sementara adalah akhir dari setiap pertemuan, pada terminasi ini klien akan bertemu kembali pada waktu yang telah ditentukan, setelah hal ini dilakukan perawat dan klien masi h akan bertemu kembali pada waktu yang berbeda sesuai dengan kontrak waktu yang telah

disepakati bersama. Sedangkan terminasi akhir terjadi jika klien selesai menyelesaikan seluruh proses keperawatan dan menjalani pengobatan.

(17)

Tugas perawat dalam tahap ini adalah:

1. Mengevaluasi pencapaian tujuan dari interaksi yang telah dilaksanakan (evaluasi objektif).

2. Melakukan evaluasi subjektif dengan cara menanyakan perasaan klien setelah  berinteraksi dengan perawat.

3. Menyepakati tindak lanjut terhadap interaksi yang telah dilakukan. Tindak lanjut yang disepakati harus relevan dengan interaksi yang baru saja dilakukan atau dengan interaksi yang akan dilakukan selanjutnya. Tindak lanjut dievaluasi dalam tahap orientasi pada pertemuan berikutnya.

E. Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Perawat dengan Klien

Faktor yang mempengaruhi interaksi perawat dengan klien menurut (Indrawati, 2003 : 21) :

1. Perkembangan. 2. Persepsi.

3.  Nilai.

4. Latar belakang sosial budaya. 5. Emosi.

6. Jenis kelamin. 7. Pengetahuan.

8. Peran dan hubungan. 9. Lingkungan.

10. Jarak. 11. Citra diri. 12. Kondisi fisik.

(18)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :