LAPORAN
AKUNTABILITAS KINERJA
TAHUN 2016
PUSAT SAINS ANTARIKSA
LEMBAGA PENERBANGAN DAN ANTARIKSA NASIONAL
JL. Dr. DJUNDJUNAN NO. 133
LAKIP Pussainsa 2016 i
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan syukur kehadirat Yang Maha Kuasa, hasil kegiatan Pusat Sains Antariksa pada tahun 2016 yang berbentuk Laporan Akuntabilitas Kinerja Pusat Sains Antariksa tahun 2016 telah dapat kami selesaikan. Laporan ini sebagai wujud pertanggung jawaban pelaksanaan tugas dan fungsi Pussainsa yang telah ditetapkan.
Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja ini dilaksanakan setiap akhir tahun atau awal tahun anggaran berikutnya, berdasarkan kepada Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang wajib dilaksanakan oleh instansi pemerintah mulai dari eselon II keatas. Susunan laporan mengacu kepada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Selama tahun 2016 seluruh satuan kerja LAPAN menjalankan struktur organisasi baru dan bisa dijadikan waktu evaluasi pertama kali terhadap struktur organisasi baru tersebut. Pertengahan tahun ini juga merupakan tahun awal reorganisasi LAPAN dengan struktur organisasi yang berbeda dengan sebelumnya. Tahun 2015 menjadi tahun yang penting untuk merencanakan kinerja untuk mencapai Visi Misi LAPAN yang berubah sejalan dengan perubahan organisasi. Sehingga pencapaian sampai akhir tahun 2015 menjadi sangat penting karena merupakan tahap awal pelaksanaan rencana jangka menengah lima tahunan atau rencana strategis.
Laporan Akuntabilitas Kinerja memuat tentang perencanaan strategis yang berisikan visi, misi, tujuan dan sasaran, cara pencapaian tujuan dan sasaran, dan akuntabilitas kinerja dengan cara melaksanakan pengukuran kinerja setiap kegiatan dan program serta mengevaluasi dan menganalisis kinerja dari sasaran program dan sasaran kegiatan. Keberhasilan dan ketidakberhasilan dalam pencapaian target merupakan bahan penting untuk evaluasi dan dalam merencanakan kegiatan untuk mencapai sasaran akhir Renstra di tahun 2019.
LAKIP Pussainsa 2016 ii
LAKIP Pussainsa 2016 iii
RINGKASAN EKSEKUTIF
Pengukuran dan evaluasi kinerja Pusat Sains Antariksa tahun 2016 ini dilakukan melalui tahap-tahap yang diperlukan untuk melihat pencapaian target yang ditetapkan. Laporan ini juga memuat tujuan, sasaran, perencanaan strategis, perjanjian kinerja, dan akuntabilitas kinerja. Hasil pengukuran dan evaluasi dari indikator kinerja dan targetnya menunjukkan bahwa dari 6 (enam) indikator kinerja yang ditetapkan, secara rata-rata pencapaian kinerja tahun 2016 adalah sebesar 176 %. Secara keseluruhan memang melampaui target, akan tetapi ada satu indikator yang hanya mencapai 40%, tidak sesuai dengan target yang ditetapkan.
Pencapaian untuk Indikator Kinerja Utama (IKU) 1 yaitu model sains antariksa yang operasional sebesar 100%, berupa 4 model, yaitu model badai ionosfer, model dan metode indeks gangguan ionosfer, metode penentuan karakteristik pola medan magnet Matahari sebelum flare, dan model dinamo ionosfer global.
IKU 2 berupa jumlah pengguna yang memanfaatkan layanan iptek di bidang sains antariksa menunjukkan pencapaian yang cukup besar yaitu 32 instansi dari 30 instansi yang ditargetkan (106,6%). Lebih sedikit dari tahun 2015 yang mencapai 45 instansi.
Pada tahun 2016 tingkat kepuasan masyarakat yang mendapatkan layanan dari Pusat Sains Antariksa juga dijadikan sebagai satu indikator kinerja utama. Pencapaian IKU-3, yaitu indeks kepuasan masyarakat sebesar 87,9, diatas target yang dicanangkan sebesar 78,5. Indeks ini diperoleh dengan menyebarkan kuesioner kepada pengguna layanan Pussainsa, dan menganalisis nilai dan umpan balik yang diberikan.
Terkait dengan IKU-4, yaitu jumlah publikasi nasional terakreditasi di bidang sains antariksa, pencapaiannya hanya 4 dari 10 makalah yang ditargetkan (40%). Ketidakberhasilan ini disebabkan karena penerbitan yang seringkali lambat dan banyaknya SDM yang sedang melaksanakan tugas belajar di luar negri sehingga kurang produktif untuk menghasilkan publikasi di Indonesia. Untuk publikasi internasional (IKU-5) melebihi jumlah yang ditargetkan (550%) dengan menghasilkan 22 makalah internasional (dari empat yang
LAKIP Pussainsa 2016 iv
ditargetkan), yang diterbitkan dalam publikasi internasional terindeks. Sedangkan untuk IKU-6, yaitu HAKI yang berstatus granted belum ditargetkan, karena HAKI dari Pussainsa masih dalam tahap pengusulan, yang diperkirakan akan memakan waktu lama sampai mendapatkan kepastian hukum.
Selain kinerja berdasarkan IKU, Pusat Sains Antariksa juga melaksanakan kegiatan sosialisasi hasil litbang, pengembangan perangkat pengamatan, evaluasi dan monitoring. Penerimaan kunjungan ke Pusat Sains Antariksa mencapai 24 kali dengan jumlah peserta 2153 tamu. Beberapa perbaikan sarana dan prasarana penelitian pada tahun 2016 antara lain ruang monitor SPICA (Sistem Pemantauan dan Informasi CUaca Antariksa), serta perangkat pengolahan dan interpretasi data sains antariksa.
Evaluasi dan pemantauan (monitoring) dilakukan melalui evaluasi I, II, dan evaluasi akhir, serta dalam rapat struktural setiap bulan. Evalusi dan pemantauan juga dilakukan terhadap setiap pegawai melalui laporan bulanan yang disampaiakan kepada atasan langsung. Selain itu, evaluasi juga dilakukan melalui rapat khusus untuk suatu kegiatan dan juga melalui laporan kegiatannya.
Dari pagu DIPA sebesar Rp. 44.580.973.000,- terealisasi sebesar Rp. 41.862.982.121,- atau 88.72% dari pagu anggaran. Realisasi anggaran yang tidak mencapai 100% ini disebabkan karena adanya belanja pegawai, berupa tunjangan kinerja, transito yang tidak terpakai dan sisa uang makan pegawai yang tidak dibayarkan karena pegawai tidak hadir. Sedangkan anggaran belanja barang yang tidak terserap sebagian besar berasal dari honor kegiatan dan honor narasumber yang diperketat sebagai konsekuensi pererapan Reformasi Birokrasi dan adanya tunjangan kinerja. Sisa anggaran belanja modal berasal dari sisa lelang pengadaan peralatan.
Selama tahun 2016 telah dilakukan upaya meletakkan dasar untuk kegiatan selanjutnya dalam rangka pelaksanaan Renstra 2015 – 2019. Ini dilihat dari indikator kinerja utama yang lebih ditekankan pada outcome. Upaya peningkatan kinerja juga telah memberikan dampak positif dengan meningkatnya kegiatan layanan bimbingan teknis pemanfaatan hasil riset antariksa. Dari segi kompetensi juga terlihat adanya peningkatan kualitas publikasi khususnya pada publikasi internasional terindeks.
Semua capaian ini menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan dalam tahapan 5 tahun berikutnya hingga tahun 2019. Peningkatan kompetensi yang diwujudkan dengan
LAKIP Pussainsa 2016 v
diperolehnya model/metode yang dapat digunakan untuk memprediksi cuaca antariksa, kemasan informasi yang yang mudah dimanfaat oleh pengguna, jalinan komunikasi dengan pengguna yang telah dibangun, dan sarana penyampaian informasi cuaca antariksa yang telah dirintis, semuanya akan menjadi dasar pelaksanaan Renstra 2015 - 2019.
LAKIP Pussainsa 2016 vi
DAFTAR ISI
Kata Pengantar i
Ringkasan Eksekutif iii
Daftar Isi vi
Daftar Tabel viii
Daftar Gambar ix
Daftar Lampiran x
Bab I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Tugas Pokok dan Fungsi 1
C. Struktur Organisasi 2
D. Sumber Daya 3
Bab II Perencanaan Kinerja Pusat Sains Antariksa 7
A. Visi dan Misi 7
B. Tujuan 8
C. Sasaran 8
D. Peta Strategi 9
E. Rencana Strategis dan Penetapan Kinerja 9
F. Kegiatan Litbang dan Pemanfaatan 11
G Rencana Anggaran 13
Bab III Akuntabilitas Kinerja Pusat Sains Antariksa 14
A. Capaian Kinerja Organisasi 14
1. Pencapaian Kinerja Tahun 2016 14
2. Evaluasi Kegiatan Layanan Produk Litbang Sains Antariksa 16
3. Kegiatan Litbang Untuk HKI dan Publikasi Makalah 18
LAKIP Pussainsa 2016 vii
5. Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2016 dengan Tahun
Sebelumnya 30
6. Evaluasi Capaian Output Dibandingkan dengan Renstra LAPAN 33
7. Pengembangan Kapasitas Litbang Sains Antariksa 34
8. Pemantauan dan Evaluasi Kegiatan 39
B. Akuntabilitas Keuangan 39
LAKIP Pussainsa 2016 viii
DAFTAR TABEL
TABEL 1-1 Komposisi Pegawai di Pusat Sains Antariksa 3
TABEL 1-2 Komposisi Aparatur Sipil Negara Berdasarkan Golongan 3
TABEL 1-3 Komposisi Aparatur Sipil Negara Berdasarkan Tingkat Pendidikan 4
TABEL 1-4 Komposisi Aparatur Sipil Negara Berdasarkan Tingkat Jenjang
Fungsional 4
TABEL 1-5 Prasarana Litbang Sains Antariksa Hingga Tahun 2016 4
TABEL 1-6 Stasiun dan Jenis Perangkat Pengamatan Antariksa Tahun 2016 5
TABEL 2-1 Target Kinerja Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 10
TABEL 2-2 Besar Anggaran Tiga Tahun Terakhir 13
TABEL 3-1 Capaian Kinerja Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 15
TABEL 3-2 Kegiatan Layanan Produk Litbang Sains Antariksa Tahun 2016 17
TABEL 3-3 Kegiatan Pembinaan Teknis di Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 29
TABEL 3-4 Layanan Teknis dan Produk Litbang Cuaca Antariksa 30
TABEL 3-5 Rataan Presentase Capaian Kinerja Pusat Sains Antariksa 2011-2016 31
TABEL 3-6 Perbandingan Capaian Kinerja Pusat Sains Antariksa 2011-2016 31
TABEL 3-7 Sasaran Strategis, IKU, dan Target LAPAN Tahun 2016 33
TABEL 3-8 Kerjasama Dalam Rangka Meningkatkan Kapasitas Litbang Sains
Antariksa 38
LAKIP Pussainsa 2016 ix
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1-1 Struktur Organisasi Pusat Sains Antariksa 3
Gambar 1-2 Skema Jaringan Transfer Data Cuaca Antariksa Menggunakan FO
dan VPN 5
Gambar 3-1 Tampilan Layanan Informasi On-line melalui SWIFtS 17
Gambar 3-2 Layanan Informasi On-line melalui Web 18
Gambar 3-3 Ruang SPICA sebagai ruang sidang oleh Tim SWIFtS, kondisi
sebelum renovasi (a) dan setelah renovasi (b) 35
Gambar 3-4 Situs ISES dengan Indonesia yang diwakili oleh SWIFtS menjadi
salah datu anggotanya. 36
Gambar 3-5 Gunung Timau, situs Observatorium Nasional di Kabupaten
Kupang Kecamatan Amfoang Tengah. 37
LAKIP Pussainsa 2016 x
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A
Lampiran A-1 Penetapan Kinerja Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 45
Lampiran A-2 Rencana Aksi Penetapan Kinerja Pusat Sains Antariksa Tahun
2016 47
Lampiran A-3 Rencana Kinerja Tahunan Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 49
Lampiran A-4 Peta Strategis BSC Pusat Sains Antariksa 50
Lampiran A-5 Matrik Peta Strategis Pusat Sains Antariksa 51
Lampiran A-6 Sasaran Strategis, IKU, dan Target Pusat Sains Antariksa 52
Lampiran A-7 Sasaran Strategis, IKU, dan Target Pusat Sains Antariksa 54
LAMPIRAN B Publikasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) Pusat Sains Antariksa Tahun
2016 55
Lampiran B-1 Jumlah Makalah Ilmiah yang Sudah Diterbitkan pada Jurnal
Internasional 55
Lampiran B-2 Jumlah Makalah Ilmiah yang Sudah Diterbitkan pada Jurnal
Nasional 57
Lampiran B-3 Jumlah Makalah Ilmiah yang Sudah Diterbitkan pada Media
Nasional Tak-Terakreditasi 58
Lampiran B-4 Jumlah Makalah Ilmiah yang Sudah Diterbitkan pada Media
Populer 60
LAMPIRAN C Daftar Kunjungan di Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 61
LAKIP Pussainsa 2016 1
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
TAP MPR RI nomor XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme dan Undang-Undang Nomor 28 tahun 1999 dengan judul yang sama sebagai tindak lanjut TAP MPR tersebut telah ditetapkan. Sebagai tindak lanjut dari produk hukum tersebut, maka telah diterbitkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 53 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Perjanjian Kinerja, Pelaporan Kinerja dan Tata Cara Reviu Atas Laporan Kinerja Instansi Pemerintah.
Berdasarkan peraturan Kepala LAPAN Nomor: 8 tahun 2015 susunan organisasi LAPAN terdiri dari Kepala, Sekretariat Utama, 3 (tiga) Kedeputian Teknis dan Inspektorat, Pusat Kajian Kebijakan Penerbangan dan Antariksa, Pusat Pemanfaatan Teknologi Dirgantara, dan Pusat Teknologi Informasi dan Standar Penerbangan dan Antariksa. Tiga Kedeputian Teknis adalah Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer, Kedeputian Bidang Teknologi Penerbangan dan Antariksa, dan Kedeputian Bidang Penginderaan Jauh.
Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer membawahi 2 (dua) Pusat yaitu: Pusat Sains Antariksa dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer. Pusat Sains Antariksa berkedudukan di Bandung dengan alamat lengkap:
Pusat Sains Antariksa – LAPAN
Jl. Dr. Djundjunan No. 133, Bandung 40173. Tlp. (022)6012602, 6038060, Fax (022) 6014998 B. Tugas Pokok dan Fungsi
Berdasarkan Perka LAPAN Nomor: 8 tahun 2015, Pusat Sains Antariksa mempunyai tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatannya
LAKIP Pussainsa 2016 2
serta penyelenggaraan keantariksaan di bidang sains antariksa (Pasal 64). Sedangkan fungsi yang diembannya meliputi (Pasal 65):
a. penyusunan rencana, program, kegiatan, dan anggaran di bidang sains antariksa; b. penyiapan bahan rumusan kebijakan teknis di bidang sains antariksa;
c. penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan sains antariksa; d. pengelolaan fasilitas penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan di
bidang sains antariksa;
e. pelaksanaan kegiatan diseminasi hasil penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan di bidang sains antariksa;
f. pemberian informasi khusus dan bantuan teknis tentang sains antariksa;
g. pemberian peringatan dini, mitigasi, dan penanganan bencana akibat cuaca antariksa dan benda jatuh antariksa;
h. pembinaan dan pemberian bimbingan di bidang penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatan sains antariksa;
i. pelaksanaan kerja sama teknis di bidang sains antariksa; dan
j. pelaksanaan administrasi keuangan, penatausahaan Barang Milik Negara, pengelolaan rumah tangga, sumber daya manusia aparatur, dan tata usaha pusat. C. Struktur Organisasi
Pusat Sains Antariksa adalah unsur pelaksana dari sebagian tugas dan fungsi Kedeputian Bidang Sains Antariksa dan Atmosfer yaitu menyelenggarakan fungsi penelitian, pengembangan, perekayasaan, dan pemanfaatannya serta penyelenggaraan keantariksaan di bidang sains antariksa yang meliputi litbang tentang cuaca antariksa, lingkungan antariksa, dan astrofisika. Pusat Sains Antariksa membawahi 2 (dua) bidang, satu bagian, dan sub bagian (Lihat Gambar 1-1). Rinciannya adalah sebagai berikut:
1. Bidang Program dan Fasilitas. 2. Bidang Diseminasi.
3. Bagian Administrasi.
4. Sub Bagian Keuangan dan Barang Milik Negara 5. Sub Bagian Sumber Daya Manusia dan Tata Usaha
LAKIP Pussainsa 2016 3
Gambar 1-1: Struktur organisasi Pusat Sains Antariksa (Perka LAPAN No. 8 Tahun 2015). D. Sumber Daya
Tahun 2016 jumlah sumber daya manusia di Pusat Sains Antariksa adalah sebanyak 123 pegawai dengan komposisi seperti pada Tabel 1-1, 1-2, 1-3, dan 1-4. Dari sejumlah itu terdapat 82 Aparatur Sipil Negara (ASN) dan 41 Pegawai Tidak Tetap (PTT). Berdasarkan jabatan fungsional, jabatan fungsional Peneliti merupakan mayoritas sumber daya manusia di Pusat Sains Antariksa. Berdasarkan golongan, pegawai negeri sipil mayoritas golongan III.
Tabel 1-1: Komposisi pegawai di Pusat Sains Antariksa
Aparatur Sipil Negara Pegawai
Tidak Tetap
Fungsional Tertentu
Non-Fungsional
Peneliti Perekayasa Litkayasa Lainnya
34 5 11 26 6 41
(28%) (4%) (9%) (21%) (5%) (33%)
Tabel 1-2: Komposisi Aparatur Sipil Negara berdasarkan golongan.
Golongan IV Golongan III Golongan II
12 59 11 (15%) (72%) (13%) Pusat Sains Antariksa Bidang Program dan Fasilitas Bidang Diseminasi Kelompok Jabatan Fungsional Bagian Administrasi Subbagian Keuangan dan Barang Milik Negara Subbagian Sumber Daya Manusia dan Tata Usaha
LAKIP Pussainsa 2016 4
Tabel 1-3: Komposisi Aparatur Sipil Negara berdasarkan tingkat pendidikan.
Strata-3 Strata-2 Strata-1 < Strata-1
3 28 31 18
(4%) (34%) (38%) (24%)
Tabel 1-4: Komposisi Aparatur Sipil Negara berdasarkan tingkat jenjang fungsional.
Fungsional Utama Madya Muda Pertama Umum
Penyelia* Lanjutan* Pelaksana* Pemula*
Peneliti 2 9 19 4 23
Perekayasa 0 1 0 4
Litkayasa* 3 4 2 2
Lainnya 1 1 1
Fasilitas penelitian dan pengembangan di Pusat Sains Antariksa meliputi sarana litbang berupa perangkat pengamatan (Tabel 1-5), piranti interpretasi dan pengolahan data, perangkat analisis; prasarana litbang transfer transfer data, jaringan internet, dan web (Tabel 1-6 dan Gambar 1-2).
TABEL 1-5: Prasarana litbang sains antariksa hingga tahun 2016
No. Prasarana Keterangan
1. Jaringan transfer data sains antariksa dan
server basis data Menggunakan FO dan Vsat dengan kapasitas rata-rata
20 Mbps. Server dengan kapasitas 20 Mbps
2. Jaringan internet Kapasitas 100 Mbps
3. Sarana layanan SWIFtS dan displai untuk
DSS (Decission Support System) Satu sistem terpadu dan displainya menggunakan 1
ruangan khusus.
4. Website Pusat Sains Antariksa Bergabung dengan LAPAN
LAKIP Pussainsa 2016 5
Gambar 1-2: Skema jaringan transfer data cuaca antariksa menggunakan FO dan VPN TABEL 1-6: Balai, stasiun kerjasana dan jenis perangkat pengamatan antariksa tahun 2016.
No Stasiun Jenis Peralatan dan Tipenya
(Koordinat) Matahari Geomagnet Ionosfer
1 BPAA Agam (0,3°LS, 100,35°BT ALE, GRBR *), Ionosonde FMCW*), MWR*), All Sky Imager*), Stakerma BMKG Kototabang (0,22°LS, 100,32°BT) Fluxgate Magnetometer*) 2 Stakerma UIN-SUSKA Pekanbaru (0,53°LU, 101,45°BT) ALE 3 Bandung
(6,90°LS, 107,83°BT) GISTM- GSV4004B, ALE, VLF-receiver, GRBR,
WinRadio 4 BPAA Sumedang
(6,91°LS, 107,83°BT) Teleskop optik Celestron, NGT,
radio spektrograf SN4000
Fluxgate
Magnetometer Ionosonde IPS71, GRBR
5 Balai Garut (7,65°LS,
107,96°BT) Fluxgate Magnetometer,
Magson
Ionosonda IPS51, ALE, Komrad Khusus 6 BPAA Pontianak
(0,03°LS, 109,33°BT) Magdas 9
*) Ionosonda CADI, ALE,
GISTM- GSV4004B, WinRadio, GRBR, MF-radar*), VLF-B*), 7 Stasiun Yogyakarta GRBR FO 1 Mbps FO 1 Mbps VSAT 512 kbps FO 1 Mbps FO 1 Mbps FO 1 Mbps FO 20 Mb VSAT 256 kbps VSAT 512 kbps VSAT 512 kbps 1 Mbps = 1024 kbps : VPN KSH Jakarta : VPN Bandung
space research for a better life
VSAT 512 kbps VSAT 256 kbps
VSAT 256 kbps VSAT 256 kbps
LAKIP Pussainsa 2016 6
(7,49°LS, 110,22°BT) 8 BPAA Pasuruan
(7,57°LS, 112,68°BT) Celestron, NGT. Teleskop optik Fluxgate magnetometer,
Magson ALE, GRBR 9 Stakerma BMKG Nagara-Bali (8,20°LS, 114,36°BT) Magnetometer induksi, Magson 10 Stakerma BMKG Kupang (10,21°LS, 23,65°BT) Magdas 9*) Stakerma UNDANA Kupang (10,16°LS,123,67°BT) Ionosonda CADI, GISTM-GPStation6, ALE 11 Stasiun Bumi Parepare (3,98°LS, 119,65°BT) Magdas II*) 12 Stakerma BMKG Manado-Tondano (1,30°LU, 124,93°BT) Magdas II*) Stakerma UNSRAT Manado-Tomohon (1,34°LU, 124,82°BT)
ASI, Ionosonda CADI, GISTM-GPStation6, ALE, GRBR.
13 Balai Biak
(1°LS, 136°BT) Ionosonda CADI, ALE
14 Stakerma BMKG Jayapura (1,41°LS, 136,85°BT)
Magdas 9*)
LAKIP Pussainsa 2016 7
BAB II. PERENCANAAN KINERJA PUSAT SAINS ANTARIKSA
Perencanaan kinerja Pusat Sains Antariksa mengacu kepada rencana strategis (renstra) tahun 2015-2019 Pusat Sains Antariksa yang telah disusun dan ditetapkan. Renstra tersebut merupakan penjabaran dari rencana strategis LAPAN, khususnya Arah Kebijakan 1, huruf a yaitu pengembangan kapasitas Iptek penerbangan dan antariksa dengan menerapkan kompetensi bidang sains antariksa dan atmosfer. Strategi pencapaiannya meliputi:
1. Pembangunan pusat unggulan cuaca antariksa; 2. Pembangunan pusat unggulan sains atmosfer;
3. Pengembangan DecisionSupportSystem (DSS) untuk mitigasi Cuaca Antariksa, Dinamika Atmosfer, dan perubahan iklim;
4. Kerjasama dengan institusi litbang atmosfer ekuatorantariksa di dalam dan luar negeri; dan
5. Kerjasama dengan perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam pembangunan observatorium nasional;
A. Visi dan Misi
Visi Pusat Sains Antariksa adalah menjadi pusat unggulan sains antariksa untuk mewujudkan Indonesia yang maju dan mandiri. Visi ini merupakan penjabaran dari Kedeputian Sains Antariksa dan Atmosfer yaitu menjadi pusat unggulan sains antariksa dan atmosfer untuk mewujudkan indonesia yang maju dan mandiri yang juga merupakan penjabaran visi dari LAPAN yakni menjadi pusat unggulan penerbangan dan antariksa untuk mewujudkan indonesia yang maju dan mandiri.
Untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi yang harus dijalankan oleh Pusat Sains Antariksa adalah:
1. Meningkatkan kualitas sains antariksa bertaraf internasional.
2. Meningkatkan kualitas produk penelitian dan pengembangan serta informasi di bidang sains antariksa dalam memecahkan permasalahan nasional.
LAKIP Pussainsa 2016 8
B. Tujuan
Tujuan penyelenggaraan kegiatan penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan sains antariksa adalah:
1. Mewujudkan sumber daya litbang Sains Antariksa yang berkualitas dengan produk publikasi dan HKI yang unggul;
2. Mewujudkan kemitraan internasional dalam bidang Sains Antariksa yang saling menguntungkan;
3. Mewujudkan sistem layanan dan Informasi Sains Antariksa yang terpercaya, tanggap, dan mutakhir untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
4. Melaksanakan penyelenggaraan keantariksaan untuk kepentingan nasional C. Sasaran
Sasaran strategis Pusat Sains Antariksa selama tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut: 1. Penguasaan Iptek di bidang sains antariksa yang maju.
2. Layanan data dan informasi sains antariksa yang prima.
3. Dihasilkannya publikasi nasional terakreditasi, publikasi internasional, dan HKI di bidang sains antariksa.
4. Meningkatnya kapasitas Iptek di bidang sains antariksa.
5. Tersedianya DSS yang operasional di bidang sains antariksa untuk mitigasi bencana. 6. Tersedianya pedoman dan standar pengolahan data serta pengelolaan data dan
informasi di bidang sains antariksa
7. Terlaksananya pelayanan teknis yang efektif di bidang sains antariksa 8. Terwujudnya reformasi birokrasi di lingkungan Pusat Sains Antariksa
Sedangkan sasaran strategis Pusat Sains Antariksa untuk tahun 2016, sesuai dengan Perjanjina Kinerja tahun 2016 Pusat Sains Antariksa, adalah
1. Meningkatnya penguasaan dan kemandirian Iptek di bidang sains antariksa yang maju.
D. Peta Strategi
Dalam mewujudkan Visi Misi
pengguna. Peta strategi yang dibuat untuk mewuudakan VIsi Misi ini khusus untuk Pusat Sains Antariksa diperlihatkan dala
ini
E. Rencana Strategis dan Penetapan Kinerja
Dalam rangka pencapaian visinya, yaitu menjadi institusi yang dapat mendorong tercapainya Pusat Unggulan Sains Antariksa Untuk Mewujudkan Indonesia yang Maju dan Mandiri, maka Pusat Sains Antariksa perlu menerapkan strategi yang mendukung arah kebijakan yang telah ditentukan. Strategi tersebut meliputi:
1. Pemanfaatan dan layanan publik Iptek penerbangan dan antariksa dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanj
strategi meningkatkan spaceawareness
LAKIP Pussainsa 2016
Dalam mewujudkan Visi Misi diperlukan peta strategi yang bermuara pada kebutuhan Peta strategi yang dibuat untuk mewuudakan VIsi Misi ini khusus untuk Pusat Sains Antariksa diperlihatkan dalam peta strategi (Balanced Score Card) di bawah
Rencana Strategis dan Penetapan Kinerja
Dalam rangka pencapaian visinya, yaitu menjadi institusi yang dapat mendorong tercapainya Pusat Unggulan Sains Antariksa Untuk Mewujudkan Indonesia yang Maju Mandiri, maka Pusat Sains Antariksa perlu menerapkan strategi yang mendukung arah kebijakan yang telah ditentukan. Strategi tersebut meliputi:
Pemanfaatan dan layanan publik Iptek penerbangan dan antariksa dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan menerapkan
spaceawareness masyarakat Indonesia.
LAKIP Pussainsa 2016 9
diperlukan peta strategi yang bermuara pada kebutuhan Peta strategi yang dibuat untuk mewuudakan VIsi Misi ini khusus untuk m peta strategi (Balanced Score Card) di bawah
Dalam rangka pencapaian visinya, yaitu menjadi institusi yang dapat mendorong tercapainya Pusat Unggulan Sains Antariksa Untuk Mewujudkan Indonesia yang Maju Mandiri, maka Pusat Sains Antariksa perlu menerapkan strategi yang mendukung Pemanfaatan dan layanan publik Iptek penerbangan dan antariksa dalam utan dengan menerapkan
LAKIP Pussainsa 2016 10
2. Pengembangan kapasitas Iptek penerbangan dan antariksa dengan menerapkan strategi: (a) membangun pusat unggulan cuaca antariksa; (b) meningkatkan kapasitas dan kapabilitas sumber daya LAPAN; (c) meningkatkan fasilitas dan produktivitas litbang; (d) menjalin kerjasama dengan institusi litbang atmosfer ekuator-antariksa di dalam dan luar negeri.
3. Melanjutkan RB LAPAN sesuai dengan RB Nasional yang meliputi penerapan human capital management dan implementasi tata kelola TI.
Dalam rangka melaksanakan strategi yang telah di atas, maka Pusat Sains Antariksa telah menetapkan target kinerja yang akan dicapai selama tahun 2016. Adapun target kinerja Pusat Sains Antariksa selama tahun 2016 yang telah ditetapkan seperti pada Tabel 2-1.
Tabel 2-1: Target Kinerja Pusat Sains Antariksa Tahun 2016 Sasaran Strategis
Utama Indikator Kinerja Satu-an Tar-get Penye-lesaian
1 Meningkatnya penguasaan dan kemandirian Iptek di bidang sains antariksa yang maju.
1 Jumlah prototipe bidang sains antariksa yang dihasilkan atau model pemanfaatan Iptek di bidang sains antariksa yang
operasional untuk mitigasi bencana antariksa.
Model 4 Desember
2 Jumlah publikasi nasional terakreditasi di bidang sains antariksa.
Makal
ah 10 Desember
3 Jumlah publikasi
internasional yang terindeks di bidang sains antariksa.
Makal
ah 4 Desember
4 Jumlah HKI yang diusulkan di
bidang sains antariksa. Judul 0 Desember
2 Meningkatnya layanan data dan informasi sains antariksa yang prima.
5 Jumlah instansi pengguna yang memanfaatkan layanan iptek di bidang sains
antariksa.
in-stansi 30 Desember
6 Indeks kepuasan masyarakat atas layanan iptek di bidang sains antariksa.
LAKIP Pussainsa 2016 11
F. Kegiatan Litbang dan Pemanfaatan
Selama tahun 2016 telah direncanakan kegiatan penelitian dan pengembangan, serta kegiatan pendukung lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut meliputi:
1. Kegiatan yang menghasilkan produk litbang sains antariksa dan layanannya kepada pengguna. Kegiatan ini meliputi:
a. Layanan prediksi frekuensi komunikasi radio. Dilakukan 4 kali (edisi) dalam setahun dan diberikan kepada pelanggan di lingkungan TNI, POLRI, Pemprov, Pemkab, dan lembaga lain yang membutuhkan.
b. Layanan prediksi cuaca antariksa (on-line&off-line) (12 edisi). Prediksi kondisi cuaca antariksa secara on-line dilakukan setiap bulan dan hasilnya ditampilkan dalam web. Sedangkan prediksi cuaca antariksa secara on-line dilakukan 3 bulan sekali dan disampaikan kepada pengguna melalui Buletin Cuaca Antariksa. c. Penerbitan Buletin Cuaca Antariksa (4 edisi). Buletin ini diterbitkan 4 kali (edisi)
dalam setahun dan memuat tentang cuaca antariksa secara umum, evaluasi kondisi antariksa (matahari-magnetosfer-ionosfer) 3 bulan terakhir, prediksi 3 bulan berikutnya, serta berita lainnya.
d. Penerbitan Buletin Data Ionosfer yang dilakukan 2 kali (edisi) dalam setahun. Buletin ini memuat data (baku) ionosfer yang siap digunakan untuk penelitian. e. Layanan informasi cuaca antariksa (SWIFtS, Space Weather Information and
Forecast Services, http://swifts.sains.lapan.go.id), yang berisi informasi dan prakiraan kondisi cuaca antariksa harian
f. Pelaksanaan Festival Sains Antariksa.
g. Pengamatan Antariksa, termasuk didalamnya pengamatan hilal untuk penentuan 1 Ramadhan dan 1 Syawal
h. Seminar Nasional Sains Antariksa
i. Diseminasi Sampah dan Benda Jatuh Antariksa
j. International Symposium on Sun, Earth, and Life; bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)
k. Diseminasi Navigasi berbasis satelit l. Pengelolaan Web Kedeputian Sains m. Sosialisasi internal.
LAKIP Pussainsa 2016 12
n. Layanan insidentil penggunaan frekuesi komunikasi HF o. Layanan informasi Gerhana Matahari Total 2016 p. Pengembangan Kapasitas.
2. Kegiatan yang menghasilkan HKI yang diusulkan dan makalah ilmiah yang dipublikasikan. Kegiatan ini meliputi:
a. Litbang aktivitas matahari dan lingkungan antariksa yang berdampak pada Bumi, orbit, dan anomali satelit. Litbang ini mencakup topik-topik: (i) Analisis vektor medan magnet di daerah aktif dalam rangka mengkaji prakiraan flare; dan (ii) Kajian penggunaan data GPS satelit LAPAN A2 untuk studi kerapatan atmosfer atas; dan (iii) Dampak Hujan meteor thd ionosfer regional Indonesia.
b. Litbang geomagnet, seismo-elektromagnet dan magnet antariksa dan dampaknya pada Bumi. Litbang ini meliputi topik-topik: (i) Karakteristik gangguan geomagnet regional Indonesia respon dari fenomena di matahari; (ii) Karakteristik gangguan geomagnet regional indonesia terkait fenomena di matahari; dan (iii) Pengembangan bank data dan sistem pemrosesan informasi medan magnet bumi; dan (iv) Akuisisi data magnetometer satelit LAPAN A4. c. Litbang dinamika dan prediksi ionosfer untuk komunikasi terrestrial, satelit serta
penentuan posisi berbasis satelit. Topik riset yang dilakukan meliputi: (i) Model badai ionosfer Indonesia terkait badai geomagnet; (ii) Interaksi antara medan antar planet dan angin di ionosfer berdasarkan simulasi numerik menggunakan model dnamo ionosfer global; (iii) Pengembangan metode dan model indeks gangguan ionosfer untuk pengguna GNSS di Indonesia; dan (iv) Kajian SBAS (Satellite Based Augmentastion System) dan GBAS (Ground Based Augmentation System) bagi pengguna GNSS (Global Navigation Satellite System) di Indonesia. d. Litbang teknologi pengamatan antariksa untuk peningkatan kuantitas dan
kualitas data. Kegiatan riset dan perekayasaan ini mencakup: (i) Analisis data kuat sinyal HF windradio utk mengamati gangguan komunikasi radio; (ii) Akuisisi Data GNSS EVK - MSF di wilayah Bandung; (iii) Rekonstruksi Tomografi Ionosfer berbasis TEC-beacon dari jaringan GRBR Indonesia; (iv) Pengembangan sistem penerima calisto menggunakan USRP dan antena penjejak matahari; dan (v) Pengembangan basis data sains antariksa.
LAKIP Pussainsa 2016 13
3. Pembinaan dan Layanan Teknis Bidang Sains Antariksa:
a. Bimtek Manajemen Frekuensi dan Teknis Komunikasi Radio (MFTKR) Tingkat Dasar.
b. Bimtek Optimalisasi Transfer Data Cuaca Antariksa tingkat Dasar. c. Bimtek Optimalisasi Transfer Data Cuaca Antariksa tingkat Lanjut. d. Bimtek Pengolahan Data Magnetosfer/Geomagnet.
e. Bimtek pengamatan antariksa.
f. Focus Group Discussion (FGD) dengan Institusi terkait data geomagnet. g. Workshop SWIFtS.
h. Workshop cuaca antariksa di Manado. i. Kuliah umum Cuaca Antariksa di Kupang G. Rencana Anggaran
Dalam melaksanakan program penelitian, pengembangan, dan pemanfaatan tahun 2016, Pusat Sains Antariksa mendapatkan dukungan dana yang dituangkan dalam DIPA 2016 (sebelum pemotongan) sebesar Rp. 49.522.00.000, setelah ada pemotongan anggaran menjadi Rp. 44.580.973.000,- (empat puluh empat milyar lima ratus delapan puluh juta sembilan ratus tujuh puluh tiga ribu rupiah). Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 (Tabel 2-2). Dari anggaran tersebut, sebesar Rp. 20.071.002.000,- untuk kegiatan yang menghasilkan produk litbang sains antariksa dan yang menghasilkan HKI dan publikasi ilmiah (kegiatan 1); Rp. 5.994.425.000,- untuk kegiatan pembinaan dan layanan teknis (kegiatan 2). Sisanya untuk membiayai kegiatan layanan perkantoran, pengadaan perangkat pengolah data dan komunikasi, peralatan dan fasilitas perkantoran, serta gedung/bangunan.
Tabel 2-2: Besar anggaran 3 tahun terakhir.
No. TAHUN ANGGARAN (Rp)
1 2014 20.060.140.000
2 2015 33.026.627.000
LAKIP Pussainsa 2016 14
BAB III.
AKUNTABILITAS KINERJA PUSAT SAINS ANTARIKSA
A. Capaian Kinerja Organisasi
Capaian kinerja Pusat Sains Antariksa tahun 2016 dilakukan selama 12 bulan dengan cara Pelaporan setiap triwulan untuk capaian jumlah model pemanfaatan; Pelaporan setiap kegiatan layanan data dan informasi baik bimtek, diseminasi, kunjungan maupun layanan data prediksi frekuensi HF dan bulletin triwulanan; Pelaporan setiap keikut serta dalam kegiatan seminar yang menghasilkan publikasi nasional maupun nternasional. Pengukuran tingkat capaian kinerja Pusat Sains Antariksa tahun 2016 dilakukan dengan cara membandingkan target masing-masing indikator kinerja dengan realisasinya. Jika capaian kinerja sesuai dengan targetnya, maka tingkat capaiannya 100%. Jika capaian kinerja lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan, maka tingkat capaiannya > 100%, dan sebaliknya. Dengan cara ini dapat diketahui tingkat keberhasilan dari masing-masing indikator. Tingkat keberhasilan ini merupakan ukuran untuk mengevaluasi pencapaian kinerja Pusat Sains Antariksa selama tahun 2016, dan akan digunakan sebagai rujukan dalam menentukan target kinerja tahun berikutnya. Jadi, analisis terhadap pencapaian kinerja ini akan menentukan tingkat keberhasilan yang akan datang. Pusat Sains Antariksa telah melakukan kegiatan selama tahun 2016 dan melakukan analisis terhadap hasil capaiannya.
1. Pencapaian Kinerja Tahun 2016
Secara keseluruhan, rataan persentase capaian kinerja Pusat Sains Antariksa tahun 2016 adalah 176%. Rataan capaian kinerja tersebut dipaparkan dalam 2 sasaran strategis (SS) dengan SS 1 mempunyai 4 indikator kinerja (IK) dan SS 2 mempunyai 2 indikator kinerja.
LAKIP Pussainsa 2016 15
Target dari IK 1 pada SS 1 adalah menghasilkan 4 jumlah prototipe/model bidang sains antariksa atau model pemanfaatan Iptek di bidang sains antariksa yang operasional untuk mitigasi bencana antariksa. Sesuai dengan rencana aksi tahun 2016 Pusat Sains Antariksa, keempat model dirinci menjadi: 1 model gangguan geomagnet, 2 model ionosfer dan 1 model propagasi HF. Selama tahun 2016 telah dihasilkan empat model/prototipe sesuai dengan target IK1 pada SS1. Judul dan abstrak model-model tersebut dijelaskan di bab 3 bagian A3. Target IK 2 pada SS 1 adalah menghasilkan 10 publikasi nasional terakreditasi di bidang sains antariksa. Realisasinya, selama tahun 2016 hanya ada 4 makalah (40 % dari target) yang sudah terpublikasi di jurnal nasional terakreditasi (lampiran B-2). Target IK 3 pada SS1 adalah menghasilkan 4 publikasi internasional yang terindeks di bidang sains antariksa. Realisasinya, 22 makalah (550% dari target) sudah terpublikasi di jurnal internasional terindeks (lampiran B-1). Target IK 4 pada SS 1 adalah mengusulkan 0 HKI di bidang sains antariksa. Realisasinya, tidak ada HKI yang diusulkan pada tahun 2016. Target IK 5 pada SS 2 adalah 30 instansi pengguna yang memanfaatkan layanan iptek di bidang sains antariksa. Realisasinya, dari kegiatan-kegiatan dan layanan yang dilakukan Pusat Sains Antariksa selama tahun 2016, sebanyak 32 instansi (106,6% dari target) sudah memanfaatkan layanan yang diberikan Pusat Sains Antariksa (lampiran D). Target IK 6 pada SS 2 adalah indeks kepuasan masyarakat (IKM) atas layanan iptek di bidang sains antariksa yang bernilai 78,5. Dari kuesioner yang dibagikan kepada penerima layanan Pusat Sains Antariksa, diperoleh nilai IKM 87,9 atau 112% dari target. Capaian kinerja Pusat Sains Antariksa tahun 2016 terangkum dalam table 3-1.
Tabel 3-1: Capaian Kinerja Pusat Sains Antariksa Tahun 2016
Sasaran Strategis Indikator Kinerja
Satu-an Tar-get Realisa- si (%)
1 Meningkatnya penguasaan dan kemandirian iptek di bidang sains antariksa yang maju
1 Jumlah prototipe bidang sains antariksa yang dihasilkan atau model pemanfaatan Iptek di bidang sains antariksa yang
operasional untuk mitigasi bencana antariksa
Model /proto tipe
4 4 (100%)
2 Jumlah publikasi nasional
LAKIP Pussainsa 2016 16
antariksa 3 Jumlah publikasi
internasional yang terindeks di bidang sains antariksa
maka-lah 4 22 (550%)
4 Jumlah HKI yang diusulkan di
bidang sains antariksa Judul 0 0 (100%)
2 Meningkatnya layanan data dan informasi sains antariksa yang prima
5 Jumlah instansi pengguna yang memanfaatkan layanan iptek di bidang sains
antariksa
ins-tansi 30 32 (106,6%)
6 Indeks kepuasan
masyarakan atas layanan iptek di bidang sains antariksa
78,5 87,9(112%)
Rataan: 176%
Target kinerja yang yang telah dicapai tersebut tidak terlepas dari kegiatan dari tiga kegiatan yang telah disebutkan pada Bab II, sub-bab E. Evaluasi masing-masing kegiatan diuraikan pada sub-bab berikutnya.
2. Evaluasi Kegiatan Layanan Produk Litbang Sains Antariksa.
Selama 2016 telah dilaksanakan 7 kegiatan layanan produk dan informasi bidang sains antariksa, baik yang sifatnya pemanfaatan (komunikasi 2 arah) dan diseminasi (komunikasi 1 arah) (Tabel 3-2).Kegiatan layanan pemanfaatan meliputi layanan prediksi frekuensi komunikasi radio tri-wulanan dan insidental, serta layanan Buletin Cuaca Antariksa.Kegiatan layanan pemanfaatan diberikan kepada lembaga operator komunikasi radio di seluruh Indonesia yang meliputi TNI, POLRI, Pemerintahan Kabupaten, Pemerintahan Propinsi, dan instansi teknis lainnya.
Kegiatan layanan yang bersifat diseminasi dan sosialisasi kepada masyarakat secara luas secara on-line maupun off-line. Layanan yang dilakukan secara on-line meliputi informasi cuaca antariksa melalui web LAPAN (lapan.go.id), SpaceWeatherInformationand Forecast Services (SWIFtS) (swifts.lapan.go.id) (Gambar 3-1), Buletin Cuaca Antariksa (http://pussainsa.lapan.go.id/index.php/subbuletin/ read), dan benda jatuh antariksa (Gambar 3-2). selain layanan informasi, juga diselenggarakan kegiatan diseminasi berupa kegiatan Festival Sains Antariksa (FSA), Seminar/workshop, dan pengamatan antariksa. Pengamatan antariksa yang dilakukan berupa pengamatan hilal untuk
menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri, serta pengamatan matahari pada kegiatan sosialisasi/pameran iptek.
Tabel 3-2: Kegiatan Layanan Produk Litbang Sains Antariksa Tah No. Nama Kegiatan
1. Layanan prediksi frekuensi komunikasi
radio
2. SWIFtS (Space Weather Information and
Forecast Services)
3. Penerbitan Buletin Cuaca Antariksa
4. Penerbitan Buletin Data Ionosfer
5. Festival Sains Antariksa
6. Pengamatan Antariksa*)
7. Seminar Nasional Sains Antariksa
Gambar 3-1: Tampilan layanan informasi
LAKIP Pussainsa 2016
menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri, serta pengamatan matahari pada an sosialisasi/pameran iptek.
: Kegiatan Layanan Produk Litbang Sains Antariksa Tahun 2016
Waktu Jumlah pengguna
(instansi)
Layanan prediksi frekuensi komunikasi Januari, April, Juli,
Oktober 300
Weather Information and Setiap hari kerja - (layanan searah
via web)
Penerbitan Buletin Cuaca Antariksa Januari, April, Juli,
Oktober 300
Penerbitan Buletin Data Ionosfer Juni, Desember - (internal)
8-10-2016 20 (sekolah)
Juni, Juli, November (2x)
Seminar Nasional Sains Antariksa 22-11-2016 15 (non
: Tampilan layanan informasi on-line melalui SWIFtS (swifts.sains.lapan.go.id).
LAKIP Pussainsa 2016 17
menentukan awal bulan Ramadhan dan Idul Fitri, serta pengamatan matahari pada
un 2016 Jumlah pengguna (instansi) 00/edisi (layanan searah via web) 300/edisi (internal) 20 (sekolah) - 15 (non-LAPAN) melalui SWIFtS
Gambar 3-2: Layanan informasi on
3. Kegiatan Litbang Untuk Pembuatan Model, HKI dan Publikasi Ilmiah Berikut diuraikan ringkasan h
ini merupakan inti dari kegiatan di Pusat Sains Antariksa sebagai pusat unggulan sains antariksa. Output dari kegiatan ini menjadi target kinerja model, publikasi ilmiah, dan HKI. Dari kegiatan litbang yang dilakukan, target kinerja model
buah model dicapai melalui penelitian
a. Model Badai Ionosfer Indonesia Terkait Badai Geomagnet Anggota: Sri Ekawati, Mira Juangsih, Anton
Iyus Edi Rusnadi).
Capaian: Model badai ionosfer output indeks Kp lokal di Indonesia
Abstrak: Dampak cuaca antariksa terhadap kehidupan manusia di Bumi maupun perubahan konduktivitas ionosfer dipengaruhi oleh kopling magnetosfer
melalui garis medan magnet tersebut. Gangguan medan magnet menjalar dari ruang antar-planet, melewati magnetosfer dan ionosfer. Sebuah model empiris respon foF2 ionosfer terhadap badai geomagnet telah dikembangkan oleh Araujo
masukan indeks ap (indeks ak
data indeks ap, indeks Dst dan foF2 ionosfer BPAA Sumedang tahun 2005
LAKIP Pussainsa 2016
: Layanan informasi on-line melalui web (http://pussainsa.lapan.go.id) Pembuatan Model, HKI dan Publikasi Ilmiah.
Berikut diuraikan ringkasan hasil kegiatan litbang dan capaian yang dihasilkan. Kegiatan iatan di Pusat Sains Antariksa sebagai pusat unggulan sains Output dari kegiatan ini menjadi target kinerja model, publikasi ilmiah, dan Dari kegiatan litbang yang dilakukan, target kinerja model yang berjumlah empat
lui penelitian-penelitian sebagai berikut:
Model Badai Ionosfer Indonesia Terkait Badai Geomagnet (PI: Anwar Santoso Sri Ekawati, Mira Juangsih, Anton Winarko, Siska Filawati, Dadang
Model badai ionosfer dengan input data Dst beberapa jam sebelumnya dengan output indeks Kp lokal di Indonesia.
Dampak cuaca antariksa terhadap kehidupan manusia di Bumi maupun perubahan konduktivitas ionosfer dipengaruhi oleh kopling magnetosfer
medan magnet tersebut. Gangguan medan magnet menjalar dari ruang planet, melewati magnetosfer dan ionosfer. Sebuah model empiris respon foF2 ionosfer terhadap badai geomagnet telah dikembangkan oleh Araujo-Pradere dengan masukan indeks ap (indeks aktivitas geomagnet lintang tinggi). Dengan menggunakan data indeks ap, indeks Dst dan foF2 ionosfer BPAA Sumedang tahun 2005
LAKIP Pussainsa 2016 18
line melalui web (http://pussainsa.lapan.go.id)
yang dihasilkan. Kegiatan iatan di Pusat Sains Antariksa sebagai pusat unggulan sains Output dari kegiatan ini menjadi target kinerja model, publikasi ilmiah, dan yang berjumlah empat : Anwar Santoso, , Dadang Nurmali, dengan input data Dst beberapa jam sebelumnya dengan Dampak cuaca antariksa terhadap kehidupan manusia di Bumi maupun perubahan konduktivitas ionosfer dipengaruhi oleh kopling magnetosfer-ionosfer medan magnet tersebut. Gangguan medan magnet menjalar dari ruang planet, melewati magnetosfer dan ionosfer. Sebuah model empiris respon foF2 Pradere dengan tivitas geomagnet lintang tinggi). Dengan menggunakan data indeks ap, indeks Dst dan foF2 ionosfer BPAA Sumedang tahun 2005-2015 akan
LAKIP Pussainsa 2016 19
dilakukan modifikasi model tersebut. Indeks ap dan indeks Dst digunakan untuk memodifikasi model Araujo-Pradere agar dapat diperoleh model badai ionosfer regional Indonesia terhadap badai geomagnet. Dari analisis disimpulkan bahwa model badai ionosfer foF2 BPAA Sumedang baik model empiris global (Pradere et al., 2002) maupun model numerik lokal sama-sama layak (Deviasinya < 40% terhadap data) dan dapat dipergunakan untuk kegiatan estimasi badai ionosfer foF2 akibat badai geomagnet di BPAA Sumedang. Model lokal memiliki sedikit kelebihan yakni dilengkapi dengan persamaan estimasi durasi dan delay.
b. Interaksi Antara Medan Antar-Planet dan Angin di Ionosfer Berdasarkan Simulasi Numerik Menggunakan Model Dinamo Ionosfer Global (PI: Fitri Nuraeni, Anggota: Musafar, Mira Juangsih, Visca Wellyanita, Siska Filawati)
Capaian: Script koefisien Gauss sebagai dasar model dinamo ionosfer global.
Abstrak: Dampak cuaca antariksa terhadap kehidupan manusia di Bumi maupun perubahan konduktivitas ionosfer dipengaruhi oleh kopling magnetosfer-ionosfer melalui garis medan magnet tersebut. Gangguan medan magnet menjalar dari ruang antar-planet, melewati magnetosfer dan ionosfer hingga mencapai permukaan Bumi. Besar lesapan energi gangguan ketika mencapai permukaan Bumi sangat ditentukan oleh kondisi lapisan ionosfer. Oleh karena itu dalam menyelidiki penjalaran gangguan terkait cuaca antariksa tersebut sangat penting untuk mengetahui sifat-sifat kelistrikan di lapisan ionosfer. Dalam penelitian ini akan dilakukan simulasi numerik dinamo ionosfer global dengan memecahkan persamaan dinamo. Dari hasil simulasi numerik akan dilakukan pengujian respon arus ionosferik terhadap perubahan medan antar-planet selama berlangsungnya saat badai magnet. Manfaat dari penelitian ini adalah dimasa datang dapat dikembangkan untuk menyelidiki penjalaran gelombang ULF dari magnetosfer melalui ionosfer menuju permukaan Bumi karena LAPAN memiliki magnetometer permukaan Bumi, kerapatan partikel magnetosferik melalui data magnetometer permukaan Bumi, transpor partikel ionosferik menuju magnetosfer luar selama pembentukan sabuk radiasi elektron, peristiwa sabuk radiasi proton atau sabuk Van-Allen, GIC (geomagnetic induction current) dan fenomena-fenomena lainnya. Selain
LAKIP Pussainsa 2016 20
itu, sifat-sifat kelistrikan ionosfer juga sangat penting untuk mempelajari kopling atmosfer-ionosfer yang terkait dengan transpor partikel atmosferik ke ionosfer.
c. Karakteristik Gangguan Geomagnet Regional Indonesia Respon Dari Fenomena Di Matahari (PI: Mamat Ruhimat, Anggota: Tiar Dani, Sungging, Fitri, Anton, Cucu)
Capaian: Karakteristik hubungan gangguan geomagnet dengan parameter aktivitas di Matahari masih berdasarkan statistik belum mempertimbangan hubungan fisisnya. Abstrak: Gangguan geomagnet merupakan penyimpangan geomagnet reaksi global untuk kondisi antarplanet ekstrim terutama setelah peristiwa erupsi matahari seperti CME, CH. Dalam penelitian ini akan diolah data geomagnet dan data matahari untuk mendapatkan karakteristiknya dan dibangun model empirik gangguan geomagnet region Indonesia dengan masukkan fenomena di matahari. Dari hasil pengolahan data Dst, CME dan CH. Diperoleh model empirik gangguan geomagnet dengan error rata-rata 35%.
d. Pengembangan Basis Data Sains Antariksa (PI: Elyyani, Anggota: Siti Maryam, Yoga Andrian, Ahmad Zulfiana, Syahril, Imam Safei)
Capaian: Metode pencarian data antariksa dengan aplikasi yang mudah digunakan dengan membuat standar penamaan file.
Abstrak: Pengembangan sistem basis data sains antariksa merupakan program pendukung terhadap layanan data hasil pengamatan yang akan memberikan informasi penting secara real time tentang dinamika aktivitas matahari dan lingkungan antariksa. Sistem basis data sains antariksa terus dikembangkan untuk mendapatkan sistem aplikasi yang layak digunakan oleh user. Rencana pengembangan aplikasi sistem basis data antariksa 2016 secara garis besar adalah perubahan proses bisnis pada saat pencarian data. Aplikasi simbada 2015 menggunakan sistem manajemen file tanpa menggunakan Data Base Management System, pada saat dilakukan pengecekan aplikasi terkadang ada beberapa jenis data yang tidak ditemukan berbanding terbalik dengan ketersedian data pada server. Setelah dilakukan kajian ulang ternyata penamaan file dan
LAKIP Pussainsa 2016 21
struktur folder pada struktur pada server tidak seragam, hal ini menyebabkan file dianggap tidak tersedia oleh sistem aplikasi. Selain itu apabila ada perubahan struktur folder harus merubah pengkodean program, tentu hal tersebut akan merepotkan pengembang (developer), untuk memperbaiki hal tersebut maka proses bisnis pencarian data akan menggunakan Database Management System.
Untuk mendukung capaian target publikasi ilmiah, selain penelitian untuk menghasilkan model, dilakukan juga berbagai penelitian sebagai berikut:
e. Analisis Vektor Medan Magnet di Daerah Aktif Dalam Rangka Mengkaji Prakiraan Flare (PI: Gunawan Admiranto, Anggota: Johan Muhamad, Sungging, Rasdewita, Zamzam, Nana)
Capaian: Metode penentuan karakteristik vektor medan magnet daerah aktif sebelum flare kelas > X3.
Abstrak: Flare adalah peristiwa yang masih sulit diramalkan kejadiannya. Meskipun demikian, para peneliti sudah menemukan beberapa metode yang paling tidak bisa menjadi petunjuk tentang peristiwa flare tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang karakteristik daerah aktif yang akan menghasilkan flare. Di sini akan ditelaah perubahan vektor medan magnet di daerah aktif beberapa saat sebelum flare dan beberapa saat sesudahnya untuk melihat perubahan vektor medan magnet itu. Data yang dipakai adalah data HMI (Helioseismic and Magnetic Imager) yang terdapat di wahana SDO (Solar Dynamics Observatory). Yang akan dicari di sini terutama adalah perubahan karakteristik vektor medan magnet yang menghasilkan flare tersebut, dan dari sini diharapkan bisa diperoleh informasi tentang onset time flare tersebut.
f. Pengembangan Metode dan Model Indeks Gangguan Ionosfer Untuk Pengguna GNSS di Indonesia (PI: Buldan Muslim, Anggota: Asnawi Husin, Yoga Andrian, Annis Sirodj Mardiani)
Capaian: Software indeks W harian update setiap hari termasuk prediksinya 3 hari ke depan dari TEC GIM di atas Bakosurtanal / BIG (Cibinong).
LAKIP Pussainsa 2016 22
Abstrak: Tingkat gangguan ionosfer dapat diklasifikasikan menggunakan indeks W yang diturunkan dari data TEC global ionospheric map (GIM), data GPS stasiun IGS (BAKO, JOG2, BTNG dll) dan GISTM. Dalam skala indeks W, kondisi ionosfer dikelompokkan menjadi 4 kategori: tenang, aktif, menengah dan besar. Indeks gangguan ionosfer tersebut dirancang untuk pengguna GPS berdasarkan penyimpangan nilai TEC dari nilai TEC kondisi tenang. Tetapi belum diuji menggunakan data akurasi posisi GPS pada berbagai nilai indeks W sehingga belum dapat dijadikan pedoman operasional dalam penentuan posisi GPS. Makalah ini membahas hasil penelitian pengukuran posisi dengan metode precise point positioning GPS frekuensi tunggal di daerah lintang rendah pada beberapa kondisi ionosfer dalam skala W dari data TEC GIM. Data GPS yang digunakan adalah dari pengamatan GPS di daerah lintang rendah yaitu stasiun NTUS Singapura. Sebagai pembanding telah digunakan juga data GPS dari daerah lintang tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi aktivitas matahari masih tinggi untuk daerah lintang tengah indeks ionosfer W cukup membantu pengguna GPS frekuensi tunggal, tetapi untuk pengguna GNSS di lintang rendah dan pada kondisi aktivitas matahari rendah, indeks tersebut belum dapat digunakan dengan baik. Oleh karena itu indeks gangguan ionosfer tersebut perlu dimodifikasi agar dapat digunakan secara konsisten baik pada saat aktivitas matahari tinggi maupun rendah. Selain itu pengelompokan nilai gangguan ionosfer ke dalam indeks W perlu disesuaikan berdasarkan tingkat simpangan posisi GPS dalam berbagai kondisi gangguan ionosfer. Verifikasi lanjut penggunaan indeks W untuk pengguna GNSS adalah dengan menuurnkan indeks W lokal (Wp) dari data GPS BAKO, JOG2, BTNG dan GISTM LAPAN.
g. Rekonstruksi Tomografi Ionosfer Berbasis Tec-Beacon dari Jaringan GRBR Indonesia (PI: Timbul Manik, Anggota: Lathif, Peberlin, Mario, Rizal, Zulfi, Sefria, Imam) Capaian: Motode dan SW untuk rekonstruksi kerapatan elektron ionosfer dari data TEC Beacon tetapi belum divalidasi dengan data ionosonde.
Abstrak: Sistem pengamatan GRBR untuk pengamatan TEC dan Sintilasi Ionosfer
dikembangkan dan dioperasikan di Indonesia sejak tahun 2010. Jaringan pengamatan ekuator Indonesia terdiri dari pengamatan GRBR di Kototabang. Pontianak, Tomohon,
LAKIP Pussainsa 2016 23
Biak, Sumedang, Yogyakarta dan Watukosek. Jaringan pengamatan GRBR secara terus menerus menerima sinyal beacon dari satelit melintas pada orbit rendah (Low Earth Orbit = LEO), antara lain OSCAR, COSMOS, FORMOSAT-3/COSMIC, C/NOFS, untuk mendapatkan TEC ionosfer untuk selanjutnya digunakan untuk rekonstruksi tomografi kerapatan elektron ionosfer. Rekonstruksi tomografi ionosfer dilakukan menggunakan data dari dua atau lebih stasiun pengamat GRBR yang berdekatan mengikuti lintang dan bujur ekuator Indonesia dengan teknik rekonstruksi aljabar sederhana (Algebraic Reconstruction Technique=ART). Inisiasi awal tomografi dapat diperoleh dari Model IRI-2012. Validasi hasil rekonstruksi tomografi ionosfer dilakukan dengan membandingkan dengan hasil pengamatan ionosonda.
h. Riset Ionosfer dan Pengembangan Produk Layanan Informasi Kondisi Ionosfer Untuk Mendukung Sistem Komunikasi dan Navigasi Pada DSS Maritim (PI: Jiyo, Anggota: Asnawi, Varulianto, Sri Ekawati, Sefria, Annis, Dadang, Siti Maryam)
Capaian: Kemasan SWIFTS untuk pengguna berupa informasi frekuensi komunikasi HF dan kesalahan posisi GPS-Interface.
Abstrak: Kajian frekuensi kerja untuk nelayan, dengan studi kasus pemprov DIY. Simulasi dalam menentukan frekuensi kerja dilakukan dengan menggunakan model IRI (International Reference Ionosphere), paket program ASAPs (Advanced Stand – Alone Prediction System) dan GWPS (Ground Wave Prediction System). Analisis dilakukan untuk menentukan frekuensi kerja optimal untuk komunikasi kapal nelayan di pemprov DIY dengan syahbandar. Hasil kajian frekuensi kerja telah dikemas dalam format dokumen rekomendasi.
i. Pengembangan Bank Data dan Sistem Pemrosesan Informasi Medan Magnet Bumi (PI: Setyanto, Anggota: Harry Bangkit, Visca, Andi Aris, Cucu, Elyyani, Anwar)
Capaian: SW matlab untuk proses data geomagnet format IAGA skala LAB
Abstrak: Ketersediaan data yang cepat dalam suatu penelitian merupakan suatu hal yang sangat penting, dikarenakan dapat mempercepat dalam melakukan kajian, analisis
LAKIP Pussainsa 2016 24
maupun dalam penyampaian informasi. LAPAN sebagai salah satu lembaga penelitian pemerintah mempunyai tugas dan fungsi memberikan informasi tentang kondisi cuaca antariksa kepada masyarakat, serta melakukan prakiraan (forecasting) tentang kemungkinan gangguan aktivitas magnet bumi yang berpotensi memberikan gangguan (bencana) terhadap lingkungan antariksa di sekitar bumi dan kehidupan manusia di bumi. Untuk menunjang hal tersebut maka perlu dikembangkan suatu system manajemen data dan informasi medan magnet bumi.
j. Pengembangan Sistem Penerima Calisto Menggunakan USRP dan Antena Penjejak Matahari (PI: Peberlin Sitompul, Anggota: Timbul, Mario, Rizal, Lathif, Yana, Farah, Zamzam)
Capaian: Callisto dengan antena rotator sehingga dapat mnegikuti arah matahari.
Abstrak: CALLISTO (Compact Astronomical Low-frequency, Low-cost Instrument for Spectroscopy in Transportable Observatories) peralatan penerima ‘cerdas’, yang relatif kecil dan murah untuk mengamati burst pada matahari sepanjang hari dengan rentang frekuensi 45 – 870 MHz. Peralatan tersebut sudah terbukti sangat sensitif untuk menerima gelombang radio matahari, namun masih memerlukan pengembangan sistem dan perolehan data di wilayah Indonesia tengah dan timur. Untuk mencapai target tersebut, kami akan melakukan 3 kegiatan utama, yaitu 1). Pemasangan baru CALLISTO di wilayah tengah (Kupang/Menado) dan timur (Biak) Indonesia, 2). Pemasangan antena dengan motor rotator untuk mengikuti pergerakan matahari. 3) Pengujian Universal Software Radio Pheripheral (USRP) menjadi penerima gelombang radio matahari.
k. Akuisisi Data Magnetometer Satelit Lapan A4 (PI: Harry Bangkit, Anggota: Mamat, Setyanto, Musafar, Effendi, AndiA, Gatot, Dwiko)
Capaian: Desain pengolahan data magnetometer di satelit LAPAN A4.
Abstrak: Cuaca antariksa tidak hanya mengenai fenomena skala besar seperti badai magnet, tetapi juga melibatkan fenomena yang sifatnya transient di lingkungan magnetosfer – ionosfer. Pengamatan variasi harian ground based perlu dikonfirmasi,
LAKIP Pussainsa 2016 25
begitu pula halnya dalam mempelajari fenomena yang bersifat transient di atas diperlukan data pengamatan insitu yang dapat dilakukan dengan pengamatan di orbit satelit. Setelah sukses meluncurkan satelit LAPAN-A3, LAPAn berencana meluncurkan satelit generasi LAPAN-A4 pada tahun 2018. LAPAN-A3 telah dilengkapi payload magnetometer resolusi tinggi. Data LAPAn-A3 dapat digunakan sebagai pembelajaran dalam mendesain LAPAN-A4. Pada kegiatan ini telah dihasilkan desain pengelolaan dan prototype pengolahan data magnetometer satelit LAPAN-A4. Selain itu karakteristik noise magnetic satelit, kalibrasi data magnet LAPAn-A3, dan model lingkungan orbit satelit juga telah dilakukan.
l. Akuisisi Data GNSS EVK – M8F di Wilayah Bandung (PI: Effendy, Anggota: Gatot, Yana, Haries, Syahril, Heri)
Capaian: Diperolehnya data pengamatan GNSS EVK-MBF serta cara operasionalisasinya. Abstrak: Kemajuan teknologi GNSS saat ini berkembang sangat pesat untuk memenuhi kebutuhan posisi navigasi maupun geodesi bagi komunitas pengguna GNSS. Namun dibalik kebutuhan yang pesat diperlukan pemahamanan dasar bagi pengguna dalam hal tingkat akurasi dan presisi, yang dihasilkan sejumlah eror yang diterima setiap penerima GNSS dibumi, hal ini merupakan kegiatan kajian tentang propagasi transionosfer. Prinsip kerja dari system GNSS tediri dari beberapa satelit GPS/Glonass/Beideu memancarkan sinyal dengan code yang unik, diterima oleh penerima GNSS dibumi dengan proses yang komplek dihasilkaan lokasi koordinat lintang, bujur dan ketinggian serta visibilitas satelit dll. Sejumlah satelit GNSS memancarkan sinyal sepanjang waktu dapat diterima dimanapun penerima itu berada, pada umumnya akurasi penerima GNSS yang tersedia dipasaran tingkat akurasinya rendah, kuantitas eror yang dihasilkan umumnya disebabkan oleh dinamika Ionosfer dan atmosfer maupun keterbatasan visibilitas satelit dan aktivitas matahari, saat propagasi sinyal berlangsung, ukuran kesalahan posisi biasanya dalam level orde puluhan bahkan ratusan meter. Berdasarkan uraian diatas diperlukan suatu perangkat penerima sinyal GNSS dan antena berupa EVK – M8F system, yang dapat mereduksi kesalahan sistimatis pengukuran, sehingga menghasilkan tingkat akurasi pada orde centimeter. Telah dilakukan pengukuran secara stasioner
LAKIP Pussainsa 2016 26
maupun mobile dalam orde waktu harian maupun jaman, untuk melihat respon karakteristik dari sistem GNSS.
m. Kajian SBAS (Satellite Based Augmentastion System) dan GBAS (Ground Based Augmentation System) Bagi Pengguna GNSS (Global Navigation Satellite System) di Indonesia (PI: Slamet Supriadi, Anggota: Effendy, Dwiko, Mumen, Haries, Heri Nurul) Capaian: Informasi yang lengkap tentang SBAS dan GBAS dna langkah-langkah untuk standar keselamatan navigasi penerbangan.
Abstrak: Indonesia merupakan negara kepulauan yang membuat moda transportasi penerbangan dan pelayaran menjadi primadona dalam kesehariannya. Pengukuran posisi dan navigasi kedua moda ini kebanyakan menggunakan bantuan GPS (Global Positioning System). Posisi yang didapat masih memerlukan koreksi agar lebih akurat, dengan menggunakan sistem augmentasi (bantuan) dari sistem lain maka tingkat akurasi bisa dipertinggi. Namun untuk keperluan navigasi dengan tingkat kepercayaan yang tinggi, maka sistem ini tidak bisa berdiri sendiri. Tingkat kepercayaan dari informasi yang diberikan harus bisa diukur dengan parameter khusus yang disebut dengan integrity. Ionosfer adalah lapisan di atas permukaan bumi yang bisa memperlambat (delay) sinyal GNSS yang melaluinya. Komponen utama dari sistem augmentasi ialah ionosfer yang akan disampaikan kepada pengguna sebagai koreksi ionosfer. Ionosfer sangat dinamis dan dipengaruhi oleh aktifitas cuaca antariksa. Terdapat banyak potensi jenis gangguan atau anomali ionosfer di wilayah ekuator geomagnet. Namun koreksi Ionosfer mempunyai nilai ketidakpastian yang sangat besar. Metode Koreksi Ionosfer yang diterapkan pada SBAS yang telah ada beroperasi maupun dalam tahap pembangunan berbeda-beda satu sama lain dan perlu dipelajari parameter navigasi dari sistem Augmentasi dapat terjaga.
n. Kajian Penggunaan Data GPS Satelit Lapan A2 Untuk Studi Kerapatan Atmosfer Atas (PI: Tiar Dani, Anggota: Slamet, Abdul, Rhorom, Heri S, Amrullah)
Capaian: Kerapatan atmosfer atas dari data GPS di satelit LAPAN A2 walaupun belum dikaji akurasinya terkait sumber kesalahan dari ionosfer yang dominan bessar.
LAKIP Pussainsa 2016 27
Abstrak: Studi kerapatan atmosfer atas sangat penting untuk memperoleh koreksi dari model kerapatan atmosfer. Peningkatan akurasi dari model atmosfer yang telah ada (CIRA, JASCHIA, NRLMSISE) sangat penting dalam penerapannya untuk prediksi re-entry, penjejakan satelit dan prakiraan kemungkinan terjadinya tabrakan antara satelit aktif dengan sampah antariksa. Selain itu, peningkatan akurasi dari model atmosfer ini juga dapat menambah pemahaman proses fisis yang terjadi di atmosfer atas. Salah satu cara untuk memperoleh kerapatan atmosfer atas adalah dengan melakukan pengukuran in-situ. Peralatan GPS yang terpasang di satelit LAPAN-A2 akan dikaji untuk studi kerapatan atmosfer atas, meskipun tingkat resolusi temporalnya masih lebih rendah dibandingkan menggunakan instrumen akselerometer tetapi masih jauh lebih baik dibandingkan menggunakan data Two-Line Element (TLE) seperti studi-studi yang telah dilakukan sebelumnya. Studi ini masih berupa kajian penggunaan GPS-based akselerometri untuk memperoleh nilai dari kerapatan atmosfer atas yang dilalui oleh LAPAN-A2.
o. Dampak Hujan Meteor Terhadap Ionosfer Regional Indonesia (PI: Rhorom Priyatikanto, Anggota: Farah, Nana, Heri Sutastio)
Capaian: Karakteristik hungan hujan meteor dan lapisan Es.
Abstrak: Hujan meteor dengan intensitas tinggi dapat mempengaruhi cuaca antariksa, terutama dalam aspek astronavigasi dan telekomunikasi radio. Kandungan ion loga dan molekuler di lapisan ionosfer dapat mengalami peningkatan yang cukup signifikan ketika hujan meteor, salah satunya teramati sebagai kemunculan lapisan E-sporadis. Namun, masih terdapat beberapa kontroversi seputar hal ini. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui karakteristik hujan meteor sepanjang tahun serta perkiraan fluksnya bila diamati di Indonesia, (2) rekaman kemunculan lapisan E-sporadis, dan (3) mempelajari keterkaitan antara kejadian hujan meteor dan kemunculan lapisan E-sporadis di wilayah Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, katalog hujan meteor utama akan digunakan untuk membangun model fluks meteor, sedangkan data hasil scaling ionogram sejak bulan Januari 2015 digunakan untuk mengetahui pola kemunculan lapisan E-sporadis.
LAKIP Pussainsa 2016 28
p. Analisis Data Kuat Sinyal Hf Windradio Untuk Mengamati Gangguan Komunikasi Radio (PI: Mumen T, Anggota: Gatot, Dadang, Syahril)
Capaian: Analisis data kuat sinyal masih perlu dikembangkan sehingga dapat diketahui gangguan komunikasi radio yang disebabkan aktivitas matahari dan geomagnet.
Abstrak: Salah satu teknik mengamati gangguan komunikasi radio HF adalah dengan memanfaatkan penerimaan sinyal gelombang radio HF oleh penerima Winradio. Dengan mengamati, merekam, mengolah dan menganalisis data kuat sinyal yang diterima winradio dalam rentang HF akan diketahui gangguan komunikasi yang terjadi. Penerimaan kuat sinyal gelombang dapat mengalami gangguan pada saat terjadi pemantulan gelombang oleh lapisan ionosfer karena beberapa faktor. Factor penyebab gangguan diionosfer dapat bersumber dari matahari dan bukan dari matahari.
LAKIP Pussainsa 2016 29
4. Kegiatan Pembinaan dan Layanan Teknis Bidang Sains Antariksa
Selama tahun 2016 telah dilaksanakan 10 kegiatan pembinaan dan layanan teknis bidang sains antariksa (Tabel 3-3). Dari 9 kegiatan tersebut, 2 di antaranya merupakan kegiatan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi SDM internal LAPAN.Sisanya merupakan kegiatan pembinaan teknis ekternal yang diperuntukkan bagi lembaga/instansi pengguna.
Lima kegiatan pembinaan teknis eksternal menghasilkan sejumlah 32 instansi yang mendapatkan pembinaan teknis.
Tabel 3-3: Kegiatan pembinaan teknis di Pusat Sains Antariksa tahun 2016
No. Nama Kegiatan Tempat &Waktu Jumlah
Instansi (non-LAPAN)
1. Diseminasi Benda Jatuh dan
Sampah Antariksa Bandung, 5 April 2016 12
2. Diseminasi Hasil Riset Ionosfer
untuk Navigasi Bandung, 12 April 2016 -
3. Workshop On Multi GNSS in
Indonesia Bandung, 18 April 2016 12
4. Bimtek Pengolahan dan
Interpretasi Data Geomagnet Bandung, 26-27 April 2016 -
5. Bimtek Pengamatan Antariksa Bandung, 10-11
Mei 2016 5
6. Diklat MFTKR Tk Dasar Bandung, 25-27
Mei 2016 -
7. Pelatihan Astronomi dan
Antariksa Bandung, 21 – 27 Agustus 2016 3
8. Workshop Obnas kerma Bosscha
ITB Bandung, 21- 28 Agustus 2016 -
9. Bimtek Optimalisasi Transfer
Data Cuaca Antariksa Pontianak, 14- 17 September 2016 -
LAKIP Pussainsa 2016 30
Layanan teknis dilakukan, baik yang bersifat reguler maupun insidental (Tabel 3-4). Layanan teknis secara reguler dilakukan 4 kali setahun dalam bentuk layanan prediksi frekuensi radio HF triwulanan (4x), layanan informasi melalui web (12x), Buletin Cuaca Antariksa (4x), dan Buletin Data (2x). Layanan prediksi triwulanan diberikan kepada 300 instansi dan Buletin Cuaca Antariksa diberikan kepada 300 instansi pengguna. Oleh karena layanan teknis ini bersifat searah, maka jumlah instansi ini tidak diperhitungkan dalam realisasi IKU.
Tabel 3-4: Layanan teknis dan produk litbang cuaca antariksa. No. Layanan/produk litbang yang diberikan
kepada pengguna Satuan Vol./ tahun Jumlah Pengguna
(non-LAPAN)
1. Layanan prediksi frekuensi komunikasi
radio HF Triwulanan edisi 4 300 instansi*)
2. SWIFtS -
3. Buletin Cuaca Antariksa edisi 4 300 instansi*)
4. Buletin Data Ionosfer 2 -
Jumlah layanan (edisi/kali) : 27 kali.
Jumlah lembaga penerima layanan : 2 (300*) instansi.
*) menjadi satu paket dan sifatnya rutin (tidak berdasarkan permintaan khusus). 5. Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2016 Dengan Tahun Sebelumnya
Perkembangan pencapaian kinerja Pusat Sains Antariksa secara umum dalam 5 tahun terakhir seperti pada Tabel 3-5 Terdapat perbedaan unsur pencapaian untuk tahun 2016 dengan 4 tahun sebelumnya sehingga tabel ini tidak bisa digunakan analisis secara langsung. IKU tahun 2016 dan tahun 2015 terdapat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang tahun sebelumnya belum dimasukkan sebagai IKU. Kemudian, pada tahun-tahun sebelumnya jumlah publikasi pada jurnal internasional terindeks dan jurnal nasional terakreditasi masih diperhitungkan menjadi satu. Beberapa unsur pencapaian yang yang pada tahun-tahun sebelumya dijadikan IKU tetapi kemudian tahun 2016 tidak dijadikan IKU. Unsur-unsur itu antara lain jumlah informasi, jumlah penambahan sarana litbang, publikasi makalah pada media tak-terakreditasi, akuisisi data, dan laporan kerja sama. Unsur-unsur tersebut tidak dijadikan IKU setelah dilakukan penetapan IKU yang lebih tepat, terukur, dan dapat mencerminkan hasil kinerja dengan lebih baik.
LAKIP Pussainsa 2016 31
Tabel 3-5: Rataan persentase capaian kinerja Pusat Sains Antariksa 2012-2016 Tahun Capaian Kinerja (%)
2012 149
2013 105
2014 124
2015 133
2016 176
Agar perbandingan capaian kinerja lima tahun terakhir dapat dilakukan, maka dipilih unsur pencapaian yang sama/hampir sama (Tabel 3-6). Unsur-unsur itu adalah jumlah model, jumlah pengguna, jumlah publikasi nasional dan internasional yang telah dipilah untuk tahun 2016, dan penyerapan anggaran. Indeks kepuasan masyarakat juga kami cantumkan dalam tabel tersebut agar bisa digunakan untuk perbandingan tahun berikutnya.
Tabel 3-6: Perbandingan Capaian Kinerja Pusat Sains Antariksa 2012-2016.
Unsur Pencapaian Pencapaian (%)
2012 2013 2014 2015 2016 Jumlah model 100 114 113 100 100 Jumlah pengguna 121 104 100 225 107 Indeks kepuasan masyarakat - - - 101 112
Jumlah publikasi pada jurnal terakreditasi
102 113 90 90 40
Jumlah publikasi pada jurnal internasional terindeks
150 600
Jumlah HKI yang berstatus granted
- - 0 0 0