PERATURAN DAERAH
KABUPATEN OGAN KOMERING ULU
NOMOR 16 TAHUN 2011
TENTANG
RETRIBUSI JASA UMUM
Bagian Hukum
1
PERATURAN DAERAH
KABUPATEN OGAN KOMERING ULU
NOMOR 16 TAHUN 2011
TENTANG
RETRIBUSI JASA UMUM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI OGAN KOMERING ULU,
Menimbang :
a. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Pasal 180 angka 2
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, Peraturan Daerah tentang Retribusi Daerah mengenai Retribusi
Jasa Umum harus menyesuaikan paling lambat 2 (dua) tahun sejak
ditetapkan Undang-Undang dimaksud;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a,
maka terhadap Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu yang
digolongkan Retribusi Jasa Umum perlu ditinjau kembali dan
disesuaikan;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf b,
perlu menetapkan Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu
tentang Retribusi Jasa Umum.
Mengingat :
1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2
.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah
Tingkat II dan Kotapraja di Sumatera Selatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1959 Nomor 73, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 1821);
3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209);
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 124,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881);
5. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4389);
2
7. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
8. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi
Kependudukan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 124, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4674);
9. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851);
10. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5025);
11. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009
Nomor 130, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
5049);
12. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063);
13. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 36,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258)
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58
Tahun 2010 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor
90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 515);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2010 tentang Tata Cara
Pemberian dan Pemanfaatan Insentif Pemungutan Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
Nomor 119, Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5161);
16. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4737);
17. Peraturan
Menteri
Komunikasi
dan
Informatika
Nomor
02/PER/M.KOMINFO/3/ 2008 tentang Pedoman Pembangunan dan
Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi;
3
Pedoman
Pembangunan
dan
Penggunaan
Bersama
Menara
Telekomunikasi;
19. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 66 Tahun 1993 tentang Fasilitas
Parkir Untuk Umum;
20. Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 4 Tahun 1994 tentang Tata
Cara Parkir Kendaraan Bermotor di Jalan;
21. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2003 tentang
Pedoman Pembinaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil;
22. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 2 Tahun 2009
tentang Urusan Pemerintahan yang Menjadi Kewenangan Pemerintah
Kabupaten Ogan Komering Ulu (Lembaran Daerah Kabupaten Ogan
Komering Ulu Tahun 2009 Nomor 2).
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
KABUPATEN OGAN KOMERING ULU
dan
BUPATI OGAN KOMERING ULU
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI JASA UMUM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan:
1. Kabupaten adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu.
2. Pemerintah Kabupaten adalah Pemerintah Kabupaten Ogan Komering Ulu.
3. Bupati adalah Bupati Ogan Komering Ulu.
4. Pejabat adalah pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang retribusi daerah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
5. Badan adalah sekumpulan orang dan / atau modal yang merupakan kesatuan, baik
yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi Perseroan
Terbatas, Perseroan Komanditer, Perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara
(BUMN), atau Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dengan nama dan bentuk apapun,
firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi
massa, organisasi sosial politik atau organisasi lainnya Lembaga, dan bentuk badan
lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.
4
7. Retribusi Pelayanan Kesehatan adalah pembayaran atas pelayanan kesehatan di
puskesmas, puskesmas keliling, puskesmas pembantu, balai pengobatan, rumah sakit
umum daerah, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya yang sejenis yang dimiliki
dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kabupaten, kecuali pelayanan pendaftaran.
8. Pelayanan Kesehatan adalah pelayanan kesehatan di puskesmas, puskesmas keliling,
puskesmas pembantu, balai pengobatan, rumah sakit umum daerah, dan tempat
pelayanan kesehatan lainnya yang sejenis yang dimiliki dan/atau dikelola oleh
Pemerintah Kabupaten, kecuali pelayanan pendaftaran.
9. Pelayanan Rawat Jalan adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, disgnosis,
pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kegiatan lainnya tanpa tinggal di instalasi
rawat inap.
10. Pelayanan Rawat Inap adalah pelayanan kepada pasien untuk observasi, perawatan,
diagnosis, pengobatan, rehabilitasi medik dan/atau kesehatan lainnya dengan
menempati tempat tidur di instalasi rawat inap.
11. Pelayanan Rawat Darurat aalah pelayanan kesehatan tingkat lanjutan yang harus
diberikan secepatnya untuk mencegah/menanggulangi resiko kematian dan cacat.
12. Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat Puskesmas adalah instansi
kesehatan daerah yang mempunyai kunjungan rawat jalan dan/atau rawat inap.
13. Puskesmas Keliling adalah pelayanan kesehatan oleh Puskesmas dengan
mempergunakan kendaraan roda 4 (empat), kendaraan roda 2 (dua) atau transportasi
lainnya di lokasi yang jauh dari sarana pelayanan yang ada.
14. Puskesmas Pembantu adalah unit pelayanan kesehatan sederhana yang merupakan
bagian integral dari Puskesmas yang melaksanakan sebagian tugas Puskesmas.
15. Rumah Sakit Umum Daerah yang selanjutnya disingkat RSUD adalah Rumah Sakit
Umum Daerah Dr. Ibnu Soetowo Baturaja Kabupaten Ogan Komering Ulu.
16. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan, selanjutnya disebut retribusi adalah
pembayaran atas jasa pelayanan persampahan/kebersihan yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Kabupaten.
17. Sampah adalah sisa kegiatan sehari hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk
padat.
18. Tempat Penampungan Sementara selanjutnya disingkat TPS adalah tempat sebelum
sampah diangkut ketempat pendauran ulang, pengolahan dan/atau tempat pengolahan
sampah terpadu.
19. Tempat Pemprosesan Akhir selanjutnya disingkat TPA adalah tempat untuk memproses
dan mengembalikan sampah kemedia lingkungan secara aman bagi manusia dan
lingkungan.
20. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil
adalah pembayaran atas penggantian biaya cetak Kartu Tanda Penduduk, kartu
keterangan bertempat tinggal, kartu identitas kerja, kartu penduduk sementara, kartu
identitas penduduk musiman, kartu keluarga, dan akta catatan sipil yang meliputi akta
perkawinan, akta perceraian, akta pengesahan dan pengakuan anak, akta ganti nama
bagi warga negara asing, dan akta kematian.
5
22. Kartu Tanda Penduduk selanjutnya disingkat KTP adalah bukti diri sebagai legitimasi
penduduk yang diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten yang berlaku diseluruh wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
23. Kartu Keluarga selanjutnya disingkat KK adalah kartu identitas keluarga yang memuat
data tentang nama, susunan dan hubungan dalam keluarga, serta karakteristik anggota
keluarga.
24. Akta Pencatatan Sipil adalah meliputi akta kelahiran, akta perkawinan, akta perceraian,
akta pengesahan dan pengakuan anak, akta ganti nama bagi warga negara asing dan
akta kematian.
25. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum adalah pembayaran atas pelayanan
penyediaan pelayanan parkir di tepi jalan umum yang ditentukan oleh Pemerintah
Kabupaten sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
26. Parkir adalah Keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat tidak sementara.
27. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disebut Retribusi adalah
pembayaran atas pemberian pelayanan pengujian kendaraan bermotor, termasuk
kendaraan bermotor di air, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten.
28. Pengujian Kendaraan Bermotor adalah serangkaian kegiatan menguji dan/atau
memeriksa bagian-bagian kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta tempelan,
dan kendaraan khusus dalam rangka pemenuhan terhadap persyaratan teknis dan laik
jalan.
29. Kendaraan Bermotor adalah kendaraan yang digerakkan oleh peralatan teknik yang
berada dalam kendaraan itu.
30. Kendaraan wajib uji adalah setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta
tempelan, dan kendaraan khusus yang dioperasikan di jalan.
31. Mobil Bus adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8 (delapan)
tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik dengan maupun tanpa
perlengkapan pengangkutan bagasi.
32. Mobil Penumpang adalah setiap kendaraan bermotor yang dilengkapi
sebanyak-banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik
dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi.
33. Kendaraan Khusus adalah kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan
oleh umum mengangkut orang untuk keperluan khusus atau untuk mengangkut
barang-barang khusus.
34. Mobil Barang adalah setiap kendaraan bermotor selain dari sepeda motor, mobil
penumpang dan mobil bus.
35. Kereta Gandengan yang selanjutnya disingkat KG adalah suatu alat yang dipergunakan
untuk mengangkut barang yang seluruh bebannya ditumpu oleh alat itu sendiri dan
dirancang untuk ditarik oleh kendaraan bermotor.
36. Kereta Tempelan yang selanjutnya disingkat KT adalah suatu alat yang dipergunakan
untuk mengangkut barang yang dirancang untuk ditarik dan sebagian bebannya ditumpu
oleh kendaraan bermotor penariknya.
6
38. Buku Uji Berkala adalah tanda bukti lulus uji berkala berbentuk buku yang berisi data
dan legitimasi hasil pengujian setiap kendaraan bermotor, kereta gandengan, kereta
tempelan dan kendaraan khusus.
39. Tanda Uji adalah bukti bahwa suatu kendaraan telah diuji dengan hasil baik, berupa
lempengan plat aluminium atau plat kaleng yang ditempelkan pada plat kendaraan
bermotor.
40. Jumlah Berat Beban yang diperbolehkan yang selanjutnya disingkat JBB adalah berat
maksimum kendaraan bermotor berikut muatannya yang diperbolehkan menurut
rancangannnya.
41. Laik jalan adalah persyaratan minimum kondisi suatu kendaraan yang harus dipenuhi
agar terjamin keselamatan dan mencegah terjadinya pencemaran udara dan kebisingan
lingkungan pada waktu dioperasikan di jalan.
42. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus adalah pembayaran atas pelayanan
penyediaan dan/atau penyedotan kakus yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten.
43. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah pembayaran atas pemanfaatan
ruang untuk menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang,
keamanan, dan kepentingan umum.
44. Menara telekomunikasi yang selanjutnya disebut menara adalah bangunan-bangunan
untuk kepentingan umum yang didirikan di atas tanah atau bangunan yang merupakan
satu kesatuan konstruksi dengan bangunan gedung yang dipergunakan untuk
kepentingan umum yang struktur fisiknya dapat berupa rangka baja yang diikat oleh
berbagai simpul atau berupa bentuk tunggal tanpa simpul, dimana fungsi, desain dan
konstruksinya disesuaikan sebagai sarana penunjang menempatkan perangkat
telekomunikasi.
45. Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan
perundang-undangan retribusi diwajibkan untuk melakukan pembayaran retribusi, termasuk
pemungut atau pemotong retribusi tertentu.
46. Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi
Wajib Retribusi untuk memanfaatkan jasa dan perizinan tertentu dari Pemerintah
Kabupaten.
47. Surat Setoran Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SSRD adalah bukti
pembayaran atau penyetoran retribusi yang telah dilakukan dengan menggunakan
formulir atau telah dilakukan dengan cara lain ke kas daerah melalui tempat
pembayaran yang ditunjuk oleh Bupati.
48. Surat Ketetapan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat SKRD adalah surat
ketetapan retribusi yang menentukan besarnya jumlah pokok retribusi yang terutang.
49. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Lebih Bayar, yang selanjutnya disingkat SKRDLB
adalah surat ketetapan retribusi yang menentukan jumlah kelebihan pembayaran
retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar daripada rertribusi yang terutang atau
seharusnya tidak terutang.
50. Surat Tagihan Retribusi Daerah, yang selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk
melakukan tagihan retribusi dan/atau sanksi administratif berupa bunga dan/ atau
denda.
7
kewajiban retribusi dan/atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan
peraturan perundang-undangan Retribusi Daerah.
52. Penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah adalah serangkaian tindakan yang
dilakukan oleh Penyidik untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu
membuat terang tindak pidana dibidang retribusi Daerah yang terjadi serta menemukan
tersangkanya.
BAB II
RETRIBUSI JASA UMUM
Pasal 2
Retribusi Jasa umum terdiri dari:
1. Retribusi Pelayanan Kesehatan;
2. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan;
3. Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil;
4. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum;
5. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
6. Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus;
7. Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi.
BAB III
RETRIBUSI PELAYANAN KESEHATAN
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 3
Dengan nama Retribusi Pelayanan Kesehatan dipungut retribusi sebagai pembayaran atas
pelayanan kesehatan di puskesmas, puskesmas keliling, puskesmas pembantu, balai
pengobatan, rumah sakit umum daerah, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya yang
sejenis yang dimiliki dan/atau dikelola oleh Pemerintah Kabupaten, kecuali pelayanan
pendaftaran.
Pasal 4
(1) Objek Retribusi Pelayanan Kesehatan adalah pelayanan kesehatan di puskesmas,
puskesmas keliling, puskesmas pembantu, balai pengobatan, rumah sakit umum
daerah, dan tempat pelayanan kesehatan lainnya yang sejenis yang dimiliki dan/atau
dikelola oleh Pemerintah Kabupaten, kecuali pelayanan pendaftaran.
(2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan
kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi, BUMN, BUMD, dan
pihak swasta.
Pasal 5
Subjek Retribusi Pelayanan Kesehatan adalah orang pribadi atau badan yang
menggunakan/menikmati pelayanan kesehatan.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 6
8
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 7
(1) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya penyediaan
pelayanan, kemampuan masyarakat dan aspek keadilan.
(2) Biaya penyediaan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas belanja
operasi, biaya pemeliharaan, dan belanja modal yang berkaitan dengan pelayanan
kesehatan.
(3) Belanja operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputi:
a. pengadaan kartu pasien dalam rangka administrasi pendaftaran;
b. pemeriksaan dan tindakan medik meliputi:
1. Jasa Sarana;
2. Jasa Pelayanan;
c. pengadaan obat;
d. konsumsi;
e. administrasi kantor, listrik, air dan telepon;
f. pembayaran bunga pinjaman.
(4) Belanja modal untuk pengadaan bangunan, kendaraan dan peralatan sebagaima
dimaksud ayat (4) huruf a dihitung berdasarkan pembebanan tahunan nilai bangunan,
kendaraan dan peralatan tersebut.
(5) Kemampuan masyarakat dan aspek keadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
khususnya berkaitan dengan pelayanan dasar kesehatan.
(6) Struktur dan besarnya tarif retribusi pelayanan kesehatan ditetapkan sebagaimana
lampiran Peraturan Daerah ini.
BAB IV
RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 8
Dengan nama Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan dipungut retribusi sebagai
pembayaran atas pelayanan persampahan/kebersihan yang diselenggarakan oleh
Pemerintah Kabupaten.
Pasal 9
(1) Objek
Retribusi
Pelayanan
Persampahan/Kebersihan
adalah
pelayanan
persampahan/kebersihan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten, meliputi:
a. pengambilan/pengumpulan sampah dari sumbernya ke lokasi pembuangan
sementara;
b. pengangkutan sampah dari sumbernya dan/atau lokasi pembuangan sementara ke
lokasi pembuangan/tempat pengelolahan akhir sampah; dan
9
(2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan
kebersihan jalan umum, taman, tempat ibadah, sosial, dan tempat umum lainnya.
Pasal 10
Subjek Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan adalah orang pribadi atau badan
yang menggunakan/menikmati Pelayanan Persampahan/Kebersihan.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 11
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan jenis kegiatan/usaha.
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 12
Besarnya tarif retribusi ditetapkan sebagai berikut:
a. Rumah Tangga
:
Rp.2.000,-/bulan
b. Asrama,/rumah kost dan sejenisnya
1. menampung < 100 orang
:
Rp.17.500,-/bulan
2. menampung > 100 orang
:
Rp.25.000,-/bulan
c. Perhotelan:
1. Bintang 1 s/d 5
:
Rp.50.000,-/bulan
2. kelas melati
:
Rp.30.000,-/bulan
3. losmen/penginapan dan sejenisnya
:
Rp.25.000,-/bulan
d. Restoran/Rumah Makan
1. Restoran
:
Rp.50.000,-/bulan
2. Rumah makan/cafe dan sejenisnya
:
Rp.30.000,-/bulan
3. Warung nasi/warung kopi dan sejenisnya
:
Rp.15.000,-/bulan
e. Pelayanan Kesehatan
1. Rumah Sakit
:
Rp.100.000,-/bulan
2. Puskesmas dan sejenisnya
:
Rp.30.000,-/bulan
3. Apotik/toko obat/optik/tempat praktek dokter
:
Rp.20.000,-/bulan
dan sejenisnya
f. Industri/Pabrik
1. skala besar
:
Rp.300.000,-/bulan
2. skala menengah
:
Rp.100.000,-/bulan
3. skala kecil
:
Rp.75.000,-/bulan
g. Gudang
1. skala besar
:
Rp.50.000,-/bulan
2. skala menengah
:
Rp.40.000,-/bulan
3. skala kecil
:
Rp.30.000,-/bulan
h. Perkantoran
10
2. Non Perbankan
PT/NV/CV/Firma/Notaris/Yayasan/Badan usaha
:
Rp.30.000,-/bulan
dan sejenisnya
i. Pertokoan
1. Kelontongan/Manisan, kue, roti dan sejenisnya
a). skala besar
:
Rp.30.000,-/bulan
b). skala menengah
:
Rp.25.000,-/bulan
c). skala kecil
:
Rp.20.000,-/bulan
2. Elektronik/musik/emas/meubel/komputer/seluler/bahan
Bangunan/pecah belah/studio foto/ATK dan sejenisnya
a). skala besar
:
Rp.25.000,-/bulan
b). skala menengah
:
Rp.20.000,-/bulan
c). skala kecil
:
Rp.15.000,-/bulan
3. Pakaian jadi/penjahit/konveksi/alat kendaraan bermotor/
variasi kendaraan dan sejenisnya
a). skala besar
:
Rp.25.000,-/bulan
b). skala menengah
:
Rp.20.000,-/bulan
c). skala kecil
:
Rp.15.000,-/bulan
j. Toko Serba Ada
1. Mini Market
:
Rp.25.000,-/bulan
2. Supermarket/swalayan/mall dan sejenisnya
:
Rp.350.000,-/bulan
k. Tempat Hiburan
Fitnes centre/salon/panti pijat/tempat hiburan/tempat
:
Rp.20.000,-/bulan
promosi/pusat kebugaran dan sejenisnya
l. Tempat cuci kendaraan/bengkel/show room dan sejenisnya :
Rp.30.000,-/bulan
m. SPBU dan sejenisnya
:
Rp.35.000,-/bulan
n. PD. Pasar Kabupaten OKU
: Rp.5.000.000,-/bulan
BAB V
RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK KARTU TANDA PENDUDUK
DAN AKTA CATATAN SIPIL
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 13
Dengan nama Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan
Sipil dipungut retribusi sebagai pembayaran atas penggantian biaya cetak Kartu Tanda
Penduduk, kartu keterangan bertempat tinggal, kartu identitas kerja, kartu penduduk
sementara, kartu identitas penduduk musiman, kartu keluarga, dan akta catatan sipil yang
meliputi akta perkawinan, akta perceraian, akta pengesahan dan pengakuan anak, akta
ganti nama bagi warga negara asing, dan akta kematian.
Pasal 14
Objek Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil
adalah pelayanan:
11
b. kartu keterangan bertempat tinggal;
c. kartu identitas kerja;
d. kartu penduduk sementara;
e. kartu identitas penduduk musiman;
f. kartu keluarga; dan
g. akta catatan sipil yang meliputi akta perkawinan, akta perceraian, akta pengesahan dan
pengakuan anak, akta ganti nama bagi warga negara asing, dan akta kematian
Pasal 15
Subjek Retribusi Penggantian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil
adalah orang pribadi yang menggunakan/menikmati jasa cetak kartu tanda penduduk dan
akta catatan sipil.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 16
Tingkat penggunaan jasa dihitung berdasarkan jenis kartu tanda penduduk dan akta catatan
sipil yang dicetak .
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 17
(1) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan dengan mempertimbangkan biaya cetak kartu
tanda penduduk dan akta catatan sipil dengan mempertimbangkan kemampuan
masyarakat dan aspek keadilan.
(2) Biaya cetak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah biaya yang dibayarkan oleh
Pemerintah Kabupaten kepada perusahaan percetakan.
(3) Besarnya tarif dihitung berdasarkan penggantian biaya yang dibayarkan oleh
Pemerintah Kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
(4) Kemampuan masyarakat dan aspek keadilan sebagaimana dimaksud ayat (1)
khususnya berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat tidak mampu dan usia
lanjut.
(5) Besarnya tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4)
ditetapkan sebagai berikut:
I. Pelayanan Kependudukan
A. Penerbitan Kartu Tanda Penduduk
1. Penerbitan Kartu Tanda Penduduk WNI
Rp. 7.500,- per set
2. Penerbitan Kartu Tanda Penduduk WNA
Rp. 30.000,- per set
B. Penerbitan Kartu keterangan bertempat tinggal Rp.10.000,-
C. Penerbitan Kartu identitas kerja
Rp.10.000,-
D. Penerbitan Kartu penduduk sementara
Rp.10.000,-
E. Penerbitan Kartu identitas penduduk musiman Rp.10.000,-
12
II. Pelayanan Akta Pencatatan Sipil
A. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Perkawinan :
1. Warga Negara Indonesia
a. di dalam kantor
Rp. 75.000,-
b. di luar kantor
Rp.105.000,-
2. Warga Negara Asing
a. di dalam kantor
Rp.120.000,-
b. di luar kantor
Rp.200.000,-
B. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Perkawinan Kedua dan seterusnya :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 90.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.250.000,-
C. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Perkawinan yang melebihi waktu 1
(satu) bulan sejak tanggal pengesahan perkawinan agama :
1. Warga Negara Indonesia
a. di dalam kantor
Rp. 87.000,-
b. di luar kantor
Rp.120.000,-
2. Warga Negara Asing
a. di dalam kantor
Rp.117.000,-
b. di luar kantor
Rp.137.000,-
D. Penerbitan Salinan Akta Perkawinan :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 65.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.100.000,-
E. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Perceraian :
1. Warga Negara Indonesia
Rp.100.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.250.000,-
F. Pencatatan dan Penerbitan Akta Perceraian yang melebihi jangka waktu 1 (satu)
bulan sejak tanggal keputusan Pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum
tetap :
1. Warga Negara Indonesia
Rp.110.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.270.000,-
G. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Perceraian kedua dan seterusnya
(gross) :
1. Warga Negara Indonesia
Rp.115.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.170.000,-
H. Penerbitan Salinan Akta Perceraian :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 65.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.105.000,-
I. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Pengakuan atau Pengesahan Anak :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 82.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.57.000,-
J. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Pengakuan atau Pengesahan Anak
kedua dan seterusnya :
1. Warga Negara Indonesia
Rp.100.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.200.000,-
K. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Pengangkatan Anak :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 80.000,-
13
L. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Pengangkatan Anak yang melebihi
waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal keputusan Pengadilan mempunyai hukum
tetap :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 90.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.160.000,-
M. Pencatatan perubahan nama
Rp. 45.000,-
N. Penerbitan Salinan Akta Pengakuan atau Pengesahan Anak :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 55.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.100.000,-
O. Penerbitan Salinan Akta Pengakuan Anak :
1. Warga Negara Indonesia
Rp. 55.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.100.000,-
P. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Kematian :
1. Warga Negara Indonesia
Rp.10.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.20.000,-
Q. Pencatatan dan Penerbitan Kutipan Akta Kematian duplikat Gros kedua dan
seterusnya:
1. Warga Negara Indonesia
Rp.15.000,-
2. Warga Negara Asing
R. Penerbitan Salinan Akta Kematian :
1. Warga Negara Indonesia
Rp.20.000,-
2. Warga Negara Asing
Rp.30.000,-
BAB VI
RETRIBUSI PELAYANAN PARKIR DI TEPI JALAN UMUM
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 18
Dengan nama Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum dipungut retribusi sebagai
pembayaran atas penyediaan pelayanan parkir di tepi jalan umum yang ditentukan oleh
Pemerintah Kabupaten sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 19
Objek Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum adalah penyediaan pelayanan parkir
di tepi jalan umum yang ditentukan oleh Pemerintah Kabupaten sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Pasal 20
Subjek Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum adalah orang pribadi atau badan
yang menggunakan/menikmati pelayanan parkir di tepi jalan umum.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 21
14
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 22
(1) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan dengan mempertimbangkan tingkat kemacetan
lalu lintas dan biaya penyelenggaraan parkir.
(2) Tingkat kemacetan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada antara lain
volume lalu lintas dan kafasitas tempat parkir.
(3) Biaya penyelenggaraan parkir sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas belanja
operasi, biaya pemeliharaan, dan belanja modal yang berkaitan dengan pelayanan
penyelenggaraan parkir.
(4) Belanja operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi:
a. upah juru parkir;
b. pakaian juru parkir;
c. peluit;
d. pengembalian bunga pinjaman.
(5) Belanja modal sebagaimana dimaksud pada ayat (3), meliputi:
a. penyediaan marka dan rambu parkir;
b. mesin alat ukur pemakaian tempat parkir;
c. pengembalian pokok pinjaman.
(6) Belanja modal untuk penyediaan marka dan rambu parkir serta mesin sebagaimana
dimaksud pada ayat (5) huruf a dan huruf b dihitung berdasarkan pembebanan tahunan
nilai aset tersebut.
(7) Struktur dan besarnya tarif sebagaimana dimaksud ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4),
ayat (5), dan ayat (6) ditetapkan sebagai berikut:
NO.
TINGKAT KEPADATAN
PARKIR
JENIS KENDARAAN
BERMOTOR
TARIF (Rp)
Rendah - sedang
a. sedan, jeep, mini bus
pick
up,
dan
sejenisnya
b. bus, truck
c. alat-alat besar lainnya
d. sepeda motor
1.500,-/sekali parkir
2.500,-/sekali parkir
7.500,-/sekali parkir
1000,-/sekali parkir
BAB VII
RETRIBUSI PENGUJIAN KENDARAAN BERMOTOR
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 23
15
Pasal 24
Objek Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah pelayanan pengujian kendaraan
bermotor, yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten, sebagai berikut:
a. mobil penumpang;
b. mobil bus;
c. mobil barang;
d. kereta gandengan;
e. kereta tempelan; dan
f. kendaraan khusus.
Pasal 25
Subjek Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor adalah orang pribadi atau badan yang
menggunakan/menikmati pelayanan pengujian kendaraan bermotor.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 26
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan pada frekwensi pengujian kendaraan
bermotor.
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 27
(1) Struktur
dan
besarnya
tarif
ditetapkan
dengan
mempertimbangkan
biaya
penyelenggaraan pengujian kendaraan bermotor.
(2) Biaya penyelenggaraan pelayanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), terdiri atas
belanja operasi, biaya pemeliharaan dan biaya administrasi serta pengawasan
pengujian kendaraan bermotor.
(3) Belanja operasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), meliputi:
a. pengadaan cat untuk tanda uji;
b. segel; dan
c. perlengkapan lainnya.
(4) Belanja pemeliharaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) , meliputi:
a. rumah uji dan bangunan lainnya;
b. peralatan uji; dan
c. barang inventaris kantor lainnya.
Pasal 28
(1) Struktur dan besarnya tarif retribusi ditetapkan berdasarkan JBB kendaraan bermotor.
16
NO
JBB (KG)
TARIF (Rp)
1.
2.
3.
4.
5.
0-2.000
2.001-4.500
4.501-8.000
8.001-15.000
>15.000
42.000,-
52.500,-
63.000,-
75.000,-
100.000,-
(3) Biaya penggantian Buku Uji Rp.6.500,-/buku.
BAB VIII
RETRIBUSI PENYEDIAAN DAN/ATAU PENYEDOTAN KAKUS
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 29
Dengan nama Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus dipungut retribusi sebagai
pembayaran atas pelayanan penyediaan dan/atau penyedotan kakus yang dilakukan oleh
Pemerintah Kabupaten.
Pasal 30
(1) Objek Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus adalah pelayanan penyediaan
dan/atau penyedotan kakus yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten.
(2) Dikecualikan dari objek retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan
penyediaan dan/atau penyedotan kakus, yang disediakan, dimiliki, dan/atau dikelola oleh
BUMN, BUMD, dan pihak swasta
.
Pasal 31
Subjek Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus adalah orang pribadi atau badan
yang menggunakan/menikmati pelayanan penyediaan dan/atau penyedotan kakus.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 32
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan volume tinja yang disedot.
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 33
(1) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan berdasarkan ukuran kakus/
septictank
.
17
(3) Dalam hal tarif pasar yang berlaku sulit ditemukan/diperoleh, maka tarif ditetapkan
sebagai jumlah pembayaran persatuan, unit pelayanan jasa, yang merupakan jumlah
unsur tarif yang meliputi:
a. unsur biaya persatuan penyediaan jasa;
b. unsur keuntungan yang dikehendaki per satuan jasa.
(4) Struktur dan besarnya tarif sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3)
ditetapkan sebagai berikut:
NO.
UKURAN/LUAS KAKUS (M³)
TARIF (Rp.)
1.
2.
3.
0 M³
sampai dengan 4
M³
> 4 M³ s/d 8 M³
> 8 M³ keatas
175.000,-
350.000,-
500.000,-
(5) Untuk luar kota ditambah biaya transportasi sebesar Rp.2.000,-/Km dihitung mulai batas
kota.
BAB IX
RETRIBUSI PENGENDALIAN MENARA TELEKOMUNIKASI
Bagian Kesatu
Nama, Objek dan Subjek Retribusi
Pasal 34
Dengan nama Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi dipungut retribusi sebagai
pembayaran atas pemanfaatan ruang untuk menara telekomunikasi dengan
memperhatikan aspek tata ruang, keamanan, dan kepentingan umum.
Pasal 35
Objek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah pemanfaatan ruang untuk
menara telekomunikasi dengan memperhatikan aspek tata ruang, keamanan, dan
kepentingan umum.
Pasal 36
Subjek Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi adalah orang pribadi atau badan
yang memanfaatkan ruang untuk menara telekomunikasi.
Bagian Kedua
Cara Mengukur Tingkat Penggunaan Jasa
Pasal 37
Tingkat penggunaan jasa diukur berdasarkan frekwensi pengawasan dan pengendalian
menara telekomunikasi.
Bagian Ketiga
Struktur dan Besarnya Tarif Retribusi
Pasal 38
(1) Struktur tarif digolongkan berdasarkan nilai jual objek pajak yang digunakan sebagai
dasar perhitungan Pajak Bumi dan Bangunan menara telekomunikasi
18
(3) Besarnya retribusi dihitung dengan mengalikan tarif sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dengan nilai jual objek pajak PBB menara Telekomunikasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (1).
BAB X
PRINSIP DAN SASARAN DALAM PENETAPAN TARIF
Pasal 39
(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan besarnya tarif retribusi ditetapkan dengan
memperhatikan biaya penyediaan jasa yang bersangkutan, kemampuan masyarakat,
aspek keadilan, dan efectivitas pengendalian atas pelayanan tersebut.
(2) Biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi biaya operasi dan pemeliharaan,
biaya bunga, dan biaya modal.
(3) Dalam penetapan tarif sepenuhnya memperhatikan biaya penyediaan jasa, penetapan
tarif hanya untuk menutup sebagian biaya.
(4) Retribusi Penggantian biaya cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil hanya
memperhitungkan biaya pencetakan dan pengadministrasian.
BAB XI
WILAYAH PEMUNGUTAN
Pasal 40
Retribusi yang terutang dipungut di wilayah Kabupaten.
BAB XII
MASA RETRIBUSI
Pasal 41
Masa Retribusi adalah suatu jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi wajib
retribusi untuk memanfaatkan jasa dari Pemerintah Kabupaten yang lamanya sesuai
dengan jenis jasa yang dimanfaatkan.
BAB XIII
PENENTUAN PEMBAYARAN, TEMPAT PEMBAYARAN,
ANGSURAN, DAN PENUNDAAN PEMBAYARAN
Pasal 42
Pembayaran retribusi yang terutang harus dilunasi sekaligus di muka.
Pasal 43
Wajib retribusi tertentu dapat mengajukan permohonan untuk mengangsur atau penundaan
pembayaran retribusi yang terutang kepada bupati atau pejabat yang ditunjuk atas SKKRD
atau dokumen lain yang dipersamakan.
Pasal 44
19
BAB XIV
SANKSI ADMINISTRASI
Pasal 45
(1) Dalam hal wajib retribusi tidak membayar tepat pada waktunya atau kurang membayar,
dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan dari
retribusi yang terutang yang tidak atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan
STRD.
(2) Penagihan retribusi terutang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didahului dengan
Surat Teguran.
BAB XV
PEMUNGUTAN RETRIBUSI
Bagian Kesatu
Tata Cara Pemungutan
Pasal 46
(1) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Dokumen lain yang dipersamakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa
karcis, kupon, dan kartu langganan.
(3) Tata cara pelaksanaan pemungutan retribusi ditetapkan dengan Peraturan Bupati.
Bagian Kedua
Keberatan
Pasal 47
(1) Wajib retribusi tertentu dapat mengajukan keberatan hanya kepada Bupati atau pejabat
yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.
(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam Bahasa Indonesia dengan disertai
alasan-alasan yang jelas.
(3) Keberatan harus diajukan dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) bulan sejak tanggal
SKRD diterbitkan, kecuali jika wajib retribusi tertentu dapat menunjukkan bahwa jangka
waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.
(4) Keadaan di luar kekuasaannya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah suatu
keadaan yang terjadi di luar kehendak atau kekuasaan wajib retribusi.
(5) Pengajuan keberatan tidak menunda kewajiban membayar retribusi dan pelaksanaan
penagihan retribusi.
Pasal 48
(1) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak tanggal Surat Keberatan
diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan dengan menerbitkan
Surat Keputusan Keberatan.
(2) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk memberikan kepastian
hukum bagi wajib retribusi, bahwa keberatan yang diajukan harus diberi keputusan oleh
Bupati.
20
(4) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak
memberi suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.
Pasal 49
(1) Jika pengajuan keberatan dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran
retribusi dikembalikan dengan ditambah imbalan bungan sebesar 2% (dua persen)
sebulan untuk paling lama 12 (dua belas) bulan.
(2) Imbalan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sejak bulan pelunasan
sampai dengan diterbitkannya SKRDLB.
BAB XVI
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN
Pasal 50
(1) Atas kelebihan pembayaran retribusi, Wajib Retribusi dapat mengajukan permohonan
pengembalian kepada Bupati.
(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan, sejak diterimanya permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
harus memberikan keputusan.
(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati
tidak memberikan suatu keputusan, permohonan pengembalian pembayaran retribusi
dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1
(satu) bulan.
(4) Apabila Wajib Retribusi mempunyai utang retribusi lainnya, kelebihan pembayaran
retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi
terlebih dahulu utang retribusi tersebut.
(5) Pengembalian kelebihan pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkan SKRDLB.
(6) Jika pengembalian kelebihan pembayaran retribusi dilakukan setelah lewat jangka waktu
2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan
atas keterlambatan pembayaran kelebihan retribusi.
(7) Tata cara pengembalian pembayaran retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diatur dengan Peraturan Bupati.
BAB XVII
KEDALUWARSA PENAGIHAN
Pasal 51
(1) Hak untuk melakukan penagihan retribusi, menjadi kedaluwarsa setelah melampaui
waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak saat terutangnya retribusi, kecuali jika wajib retribusi
melakukan tindak pidana dibidang Retribusi.
(2) Kedaluwarsa penagihan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh jika:
a. diterbitkan Surat Teguran; atau
21
(3) Dalam hal diterbitkan Surat Teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a,
kedaluwarsa penagihan dihitung sejak tanggal diterimanya Surat Teguran tersebut.
(4) Pengakuan utang retribusi secara langsung sebagimana dimaksud pada ayat (2) huruf b
adalah wajib retribusi dengan kesadarannya menyatakan masih mempunyai utang
retribusi dan belum melunasinya kepada Pemerintah Kabupaten.
(5) Pengakuan utang retribusi secara tidak langsung sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) huruf b dapat diketahui dari pengajuan permohonan angsuran atau penundaan
pembayaran dan permohonan keberatan oleh wajib retribusi.
Pasal 52
(1) Piutang retribusi yang tidak mungkin ditagih lagi karena hak untuk melakukan penagihan
sudah kedaluwarsa dapat dihapuskan.
(2) Bupati menetapkan Keputusan Penghapusan Piutang Retribusi Kabupaten yang sudah
kedaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Tata cara penghapusan piutang pajak yang sudah kedaluwarsa diatur dengan Peraturan
Bupati.
BAB XVIII
TATA CARA PENAGIHAN
Pasal 53
(1) Penagihan retribusi didahului dengan Surat Teguran.
(2) Pelaksanaan penagihan retribusi dilakukan 7 (tujuh) hari setelah jatuh tempo
pembayaran dengan mengeluarkan Surat Bayar atau penyetoran atau surat lainnya
yang sejenis.
(3) Dalam jangka 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat Teguran atau peringatan atau surat
lainnya yang sejenis, wajib retribusi harus melunasi retribusinya yang terutang.
(4) Surat Teguran atau surat lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan oleh
Bupati atau pejabat yang ditunjuk.
BAB XIX
PEMBERIAN KERINGANAN, PENGURANGAN
DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI
Pasal 54
(1) Bupati dapat memberikan pengurangan, keringanan, dan pembebasan retribusi.
(2) Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dapat diberikan dengan memperhatikan kemampuan wajib retribusi, antara lain
lembaga sosial, dengan cara mengangsur, kegiatan sosial dan bencana alam.
22
BAB XX
PEMERIKSAAN
Pasal 55
(1) Bupati berwenang melakukan pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan
kewajiban retribusi dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan
Retribusi Daerah.
(2) Wajib Retribusi yang diperiksa wajib:
a. memperlihatkan dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi
dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan objek retribusi yang terutang.
b. memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang dianggap perlu
dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan; dan/atau
c. memberikan keterangan yang diperlukan.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pemeriksaan retribusi diatur dengan Peraturan
Bupati.
BAB XXI
PENYIDIKAN
Pasal 56
(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Kabupaten diberi
wewenang khusus sebagai Penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang
retribusi daerah, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Hukum Acara Pidana
yang berlaku.
(2) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pejabat Pegawai Negeri Sipil
tertentu di lingkungan Pemerintah Kabupaten yang diangkat oleh pejabat yang
berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(3) Wewenang Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. menerima, mencari, mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan
dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan
tersebut menjadi lengkap dan jelas;
b. meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau
badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak
pidana retribusi daerah;
c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan
dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah;
d. memeriksa buku, catatan dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana
dibidang retribusi daerah;
e. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan
dan dokumen lain, serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;
f. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana dibidang retribusi daerah;
g. menyuruh berhenti dan/atau melarang seseorang meninggalkan ruangan atau
tempat pada pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas
orang, benda, dan/atau dokumen yang dibawa;
h. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana retribusi daerah;
23
j. menghentikan penyidikan; dan/atau
k. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana
dibidang retribusi daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(4) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan
dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Penyidik
Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam
Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.
BAB XXII
KETENTUAN PIDANA
Pasal 57
(1) Wajib Retribusi yang tidak melaksanakan kewajibannya sehingga merugikan keuangan
Kabupaten diancam pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan atau denda paling
banyak 3 (tiga) kali jumlah retribusi terutang yang tidak atau kurang dibayar.
(2) Tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.
Pasal 58
Denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 57 ayat (1) merupakan penerimaan Negara.
BAB XXIII
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 59
Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, maka:
1. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 10 Tahun 2006 tentang
Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum (Lembaran Daerah Kabupaten Ogan
Komering Ulu Tahun 2006 Nomor 10);
2. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 4 Tahun 2007 tentang
Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan (Lembaran Daerah Kabupaten Ogan
Komering Ulu Tahun 2007 Nomor 4);
3. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 5 Tahun 2007 tentang
Retribusi Penyedotan Kakus (Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun
2007 Nomor 5);
4. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 8 Tahun 2007 tentang
Retribusi Penggantaian Biaya Cetak Kartu Tanda Penduduk dan Akta Catatan Sipil
(Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Tahun 2007 Nomor 8);
5. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 14 Tahun 2009 tentang
Retribusi Pelayanan Kesehatan (Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu
Tahun 2009 Nomor 14); dan
6. Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Nomor 16 Tahun 2009 tentang
Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor (Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering
Ulu Tahun 2009 Nomor 16);
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 60
24
Pasal 61
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini
dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu.
Ditetapkan di Baturaja
pada tanggal, 18 April 2011
BUPATI OGAN KOMERING ULU,
Cap / dto
YULIUS NAWAWI
Diundangkan di Baturaja
pada tanggal, 18 April 2011
Plt. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN
OGAN KOMERING ULU,
Cap / dto
MARWAN SOBRIE
25
Lampiran Peraturan Daerah Kabupaten Ogan Komering
Ulu
Nomor Tahun 2011
Tanggal, 2011
TARIF RETRIBUSI PALAYANAN KESEHATAN
A. PUSKESMAS / PUSKESMAS PEMBANTU / POSKESDES :
26
10 Penyuntikan ATS dan SABU satu kali injeksi
NO JENIS PEMERIKSAAN SARANA JASA JUMLAH
1 Pemeriksaan darah
3 Pemeriksaan Sputum 15000 12000 28000
27
4 Cabut Gigi tetap dengan kompplikasi ringan 20000 25000 15000 60000
5 Cabut Gigi Decidui 10000 5000 3000 18000
6 Pembersihan karang Gigi per rahang 20000 20000 10000 50000
28
10 Penyuntikan ATS dan SABU satu kali injeksi
NO JENIS PEMERIKSAAN SARANA JASA JUMLAH
29
1 Rawat saraf Gigi 1 kali kunjungan
4 Cabut Gigi tetap dengan kompplikasi ringan
30
C. RSUD
I. PELAYANAN DAN TINDAKAN RAWAT JALAN DAN GAWAT DARURAT
No Jenis Pelayanan Jasa Sarana Jasa Pelayanan
1. Pelayanan Rawat jalan, Rp. 5.000 -
2. Pelayanan Gawat Darurat Rp. 10.000 -
3. Konsultasi Dokter Spesialis - Rp 25,000
4. Konsultasi Dokter Umum / Gigi - Rp 11,500
1. Pelayanan Tindakan Medik Poli Gigi
No Jenis Pelayanan Jasa Sarana Jasa Pelayanan
1 Tumpatan amalgam 1 permukaan/kecil Rp 15,000 Rp 7,000
2 Tumpatan amalgam 2 permukaan/besar Rp 25,000 Rp 15,000
3 Tumpatan glass lonomer kecil Rp 16,000 Rp 11,000
4 Tumpatan glass lonomer Rp 25,000 Rp 15,000
5 Plup Caping Rp 8,000 Rp 6,000
6 Rawat Saraf Gigi 1 kali kunjungan Rp 15,000 Rp 13,000
7 Bongkar Tambalan Rp 15,000 Rp 10,000
8 Cabut gigi tetap Rp 15,000 Rp 11,500
9 Cabut gigi tetap dengan komplikasi ringan/fraktur Rp 25,000 Rp 45,000
10 Cabut gigi decidui Rp 10,000 Rp 9,000
11 Tindakan Medik gigi Mesio Angular Rp 125,000 Rp 70,000
12 Incites Abses Intra Oral Rp 25,000 Rp 40,000
13 Extirpasi Jaringan lunak mulut Rp 30,000 Rp 50,000
14 Pembersihan karang gigi perrahang Rp 20,000 Rp 40,000
15 Gigi tiruan 3 gigi pertama/perelemen Rp 50,000 Rp 60,000
16 Gigi tiruan elemen ke 4dsb/perelemen Rp 25,000 Rp 20,000
17 Gigi tiruan lengkap RA + RP Rp 750,000 Rp 550,000
18 Reparasi gigi palsu Rp 20,000 Rp 25,000
2. Pelayanan Tindakan Medik Umum Poli Bedah
No Jenis Pelayanan Jasa Sarana Jasa Pelayanan Jumlah
1 Jahit Luka 1- 5 Rp 13,000 Rp 10,000 Rp 23,000
2 Jahit Luka 6 – 10 Rp 16,000 Rp 10,000 Rp 26,000
3 Jahit Luka 11 – 20 Rp 31,000 Rp 22,000 Rp 53,000
4 Jahit Luka 20 – 30 Rp 42,000 Rp 62,000 Rp 104,000
5 Perawatan luka ringan Rp 7,000 Rp 5,000 Rp 12,000
6 Perawatan luka sedang Rp 8,000 Rp 5,000 Rp 13,000
7 Buka Jahitan Rp 6,000 Rp 5,000 Rp 11,000
8 Insici Abses < 5 cm Rp 16,000 Rp 12,000 Rp 28,000
9 Buka tapon Rp 6,500 Rp 7,000 Rp 13,500
10 Angkat peluru Rp 40,000 Rp 80,000 Rp 120,000
11 Bilas lambung Rp 42,000 Rp 42,000 Rp 84,000
12 Debridement luka Rp 50,000 Rp 52,000 Rp 102,000
13 Luka putus tendon ( 1- 5 ) Rp 50,000 Rp 75,000 Rp 125,000
14 Pasang kateter Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
15 Ekstraksi batu uretra Rp 30,000 Rp 20,000 Rp 50,000
16 Pasang WSD Rp 50,000 Rp 125,000 Rp 175,000
17 Pasang rasel verband Rp 15,000 Rp 30,000 Rp 45,000
18 Pasang spalk kaki Rp 25,000 Rp 10,000 Rp 35,000
19 Pasang spalk tangan Rp 15,000 Rp 15,000 Rp 30,000
31
21 Pengambilan benda asing hidung / telinga Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000
22 Fungsi Pleura Rp 35,000 Rp 220,000 Rp 255,000
23 Pungsi Asites Rp 35,000 Rp 90,000 Rp 125,000
24 Pungsi Buli-buli Rp 35,000 Rp 90,000 Rp 125,000
25 Jahit rekontruksi mata Rp 35,000 Rp 120,000 Rp 155,000
26 Inspikulo Rp 2,500 Rp 7,500 Rp 10,000
27 Infus Intraoseal Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000
28 Foto therapie Rp 25,000 Rp 32,000 Rp 57,000
29 Fungsi Lumbal Rp 30,000 Rp 90,000 Rp 120,000
30 Nebulizer Rp 5,000 Rp 3,000 Rp 8,000
31 Imunisasi Rp 2,000 Rp 3,000 Rp 5,000
32 Mantoux tes Rp 25,000 Rp 28,000 Rp 53,000
33 Buka Jahitan 1 - 5 Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
34 Buka Jahitan 6 - 10 Rp 7,500 Rp 7,500 Rp 15,000
35 Buka Jahitan 11 - 20 Rp 10,000 Rp 10,000 Rp 20,000
36 Buka Jahitan 20 - 30 Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000
37 Insici Abses > 5 cm Rp 20,000 Rp 15,000 Rp 35,000
38 Pasang kateter dengan ManDokterin Rp 10,000 Rp 25,000 Rp 35,000
39 Spoelling Serumen Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000
40 Nekrotomi Jaringan Rp 25,000 Rp 25,000 Rp 50,000
41 Ekstraksi Kuku Rp 20,000 Rp 30,000 Rp 50,000
42 Ekstraksi Cairan Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000
43 Sirkumsisi Rp 75,000 Rp 125,000 Rp 200,000
44 Sirkumsisi dengan phimosis Rp 100,000 Rp 150,000 Rp 250,000
45 exsisi (clavus, veruka, N.prementosis) Rp 50,000 Rp 50,000 Rp 100,000
46 Ekstraksi tumor < 5 CM Rp 50,000 Rp 100,000 Rp 150,000
47 Ekstraksi tumor > 5 CM Rp 100,000 Rp 200,000 Rp 300,000
48 Up Kateter Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
49 Up Dokterain Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
3. Pelayanan Tindakan Medik Mata
No Jenis Pelayanan Jasa Sarana Jasa Pelayanan Jumlah
1 Refraksi Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
2 Optholmos ' dir Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
3 Optholmos ' in Rp 5,000 Rp 10,000 Rp 15,000
4 Keratometri Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
5 Tonometri non kontak Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
6 Ishihara test Rp 5,000 Rp 5,000 Rp 10,000
7 Streak retinoskopi Rp 5,000 Rp 10,000 Rp 15,000
8 Ganti verband Rp 3,000 Rp 3,000 Rp 6,000
9 Auto refrakto meter Rp 10,000 Rp 15,000 Rp 25,000
10 Kampimetri Rp 4,000 Rp 4,500 Rp 8,500
11 Slit lamp examination Rp 5,000 Rp 5,500 Rp 10,500
12 Slit lamp exam + monitor Rp 15,000 Rp 15,000 Rp 30,000
4. Pelayanan Tindakan Medik Kebidanan
No Jenis Pelayanan Jasa Sarana Jasa Pelayanan Jumlah
1 Tindik telinga Rp 5,000 Rp 10,000 Rp 15,000
2 Sunat Rp 12,000 Rp 18,000 Rp 30,000
3 Incisi Abces Rp 4,000 Rp 6,000 Rp 10,000
4 Suntik KB Rp 12,000 Rp 3,000 Rp 15,000