RINGKASAN
EKSEKUTIF
Asesmen
Ekonomi
Krisis finansial global semakin berpengaruh terhadap pertumbuhan industri
dan ekspor Kepulauan Riau di triwulan IV-2008. Laju pertumbuhan ekonomi (y-o-y)
kembali terkoreksi dari 6,52% di triwulan III-2008 menjadi 3,21% pada periode ini. Penurunan
tersebut membawa tingkat pertumbuhan triwulanan (q-t-q) mencapai titik negatif, setelah
triwulan sebelumnya hanya tumbuh 1,22%. Memburuknya kondisi keuangan bahkan resesi
yang dialami sebagian negara prinsipal menjadi determinan utama perlambatan kinerja industri
manufaktur kota Batam. Nilai tukar Rupiah dan sebagian besar negara mitra dagang yang
terdepresiasi oleh Dollar Amerika (US$) juga semakin berkontribusi terhadap melambatnya
aktivitas properti, perdagangan, hotel dan restoran di wilayah Kepulauan Riau.
Sumber : BPS Kepulauan Riau
*) angka sementara ; **) angka sangat sementara
Asesmen di sisi permintaan (demand side) memperlihatkan penurunan yang tajam
pada aktivitas ekspor hingga mencatat pertumbuhan negatif. Daya beli masyarakat yang
belum pulih berdampak pada melambatnya laju konsumsi rumah tangga, meskipun terjadi
beberapa perayaan hari besar selama periode tersebut. Nilai tambah yang diciptakan dari
investasi barang modal relatif meningkat dibanding triwulan sebelumnya, dan sekaligus
menjadi penyangga (buffer) laju perekonomian di triwulan IV.
Ditinjau dari sisi penawaran, pengaruh krisis keuangan global terhadap sektor industri
Tekanan daya beli domestik, tingkat inflasi yang tinggi serta terdepresiasinya nilai tukar
negara-negara tetangga merupakan beberapa faktor yang cukup berpengaruh terhadap
koreksi laju pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR) serta sektor
bangunan. Adapun sektor pertanian tercatat sebagai satu-satunya sektor yang mengalami
akselerasi di triwulan laporan karena peningkatan yang dihasilkan dari komoditas perikanan.
Asesmen
Inflasi
Laju inflasi tahun kalender Kota Batam sampai dengan triwulan IV 2008 tercatat
sebesar 8,39% (ytd), lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2007 yang tercatat
sebesar 4,84% (ytd). Meskipun demikian laju inflasi di Kota Batam pada triwulan IV 2008
masih dibawah inflasi nasional. Inflasi tahun kalender nasional sampai dengan triwulan IV
2008 tercatat sebesar 11,06% (ytd). Laju inflasi Kota Tanjung Pinang sampai dengan akhir
tahun 2008 tercatat sebesar 11,90% (ytd) sedikit lebih tinggi dibanding angka inflasi nasional.
Grafik Inflasi Kota Batam dan Nasional Grafik Inflasi Kota Batam Berdasarkan Kelompok Barang
Asesmen
Perbankan
Kondisi perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan IV 2008 menunjukkan
peningkatan yang cukup stabil terhadap periode sebelumnya. Beberapa indikator-indikator
perbankan, seperti total aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit oleh perbankan
terus mengalami pertumbuhan. Total asset perbankan di Provinsi Kepulauan Riau pada
triwulan IV 2008 tercatat sebesar Rp20,82 triliun atau mengalami peningkatan sebesar Rp2,44
triliun (13,28%) dibandingkan triwulan III 2008. DPK yang berhasil dihimpun oleh perbankan
atau mengalami peningkatan sebesar Rp1,98 triliun (13,21%) dibandingkan triwulan III 2008.
Penyaluran kredit yang dilakukan oleh perbankan di Provinsi Kepulauan Riau juga mengalami
peningkatan. Pada triwulan IV 2008, penyaluran kredit di Provinsi Kepulauan Riau oleh
perbankan tercatat sebesar Rp11,22 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp734,81 miliar
(7,01%) dibandingkan triwulan III 2008 yang tercatat sebesar Rp10,48 triliun.
Tabel Indikator Perbankan Provinsi Kepulauan Riau
Indikator
Total Asset 16.000.135 16.065.809 16.709.890 17.600.675 19.898.329
Total DPK 13.586.189 13.442.509 14.071.918 14.446.343 16.332.781
Total Kredit 8.215.755 8.583.889 9.291.399 9.944.195 10.653.877
LDR (%) 60,47 63,86 66,03 68,84 65,23
NPLs (%) 2,6 1,57 2,33 2,94 2,6
BPR
Total Asset 628.812 642.366 680.641 776.379 918.784
Total DPK 476.104 498.168 504.879 564.556 660.973
Total Kredit 370.587 394.750 461.337 538.346 563.476
Pertumbuhan kredit yang lebih besar daripada pertumbuhan DPK menunjukkan
semakin membaiknya fungsi intermediasi oleh perbankan. Hal tersebut ditunjukkan dengan
peningkatan LDR pada posisi Desember 2008 yang tercatat sebesar 66,01% dibandingkan
dengan LDR pada posisi yang sama tahun 2007 yang tercatat sebesar 61,06%. Sementara itu,
angka Non Performing Loans (NPLs) perbankan di Provinsi Kepulauan Riau menunjukkan trend
penurunan dengan masih tetap berada dalam batas toleransi (5%). Sampai dengan akhir
tahun 2008 NPLs perbankan di Provinsi Kepulauan Riau tercatat sebesar 2,55% dibandingkan
dengan posisi yang sama pada tahun 2007 yang tercatat sebesar 2,60%. Sementara itu, pada
tahun 2008 laba bank-bank di Provinsi Kepulauan Riau meningkat sebesar Rp67 miliar menjadi
sebesar Rp318 miliar jika dibandingkan dengan laba tahun 2007 yang tercatat sebesar Rp251
Asesmen Sistem Pembayaran
Perkembangan aliran uang yang masuk (
inflow
) dan keluar (
outflow
) Kantor
Bank Indonesia Batam pada triwulan IV ditandai dengan angka outflow sedikit
menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada triwulan IV 2008 terjadi
outflow
sebesar Rp1,49 triliun atau menurun sebesar Rp30,62 miliar dibandingkan
triwulan II 2008 yang tercatat sebesar Rp1,52 triliun. Sementara itu
inflow
ke Kantor
Bank Indonesia Batam tercatat sebesar Rp278 milyar. Oleh karena itu secara
keseluruhan terjadi
net
outflow
Rp1,21 triliun. Jumlah penarikan yang cukup tinggi
pada triwulan IV 2008 terkait dengan penarikan untuk memenuhi kebutuhan perayaan
Natal, Tahun Baru dan Pemilu tahun 2009.
Nilai transaksi melalui sistem kliring lokal di wilayah Provinsi Kepulauan Riau
pada triwulan IV 2008 mencapai Rp2,74 triliun dengan jumlah warkat sebanyak
102.838 lembar. Nilai total kliring tersebut menurun dibandingkan dengan triwulan
sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,96 triliun dengan jumlah warkat sebanyak
111.429 lembar.
Jumlah uang rupiah palsu yang dilaporkan ke Bank Indonesia Batam pada triwulan
IV 2008 berjumlah Rp 1.470.000,00 dengan jumlah lembar sebanyak 28 lembar.
Jumlah tersebut menurun dibandingkan dengan triwulan III 2008 yang tercatat sebesar
Rp 6.540.000 dengan jumlah lembar sebanyak 85 lembar.
Asesmen Keuangan Daerah
Realisasi anggaran penerimaan dan belanja selama triwulan IV-2008 meningkat tajam
dibanding triwulan sebelumnya. Total realisasi penerimaan selama tahun 2008 tercatat sebesar
Rp1,36 triliun atau 112,61% dari target APBD(P) 2008, sedangkan penyerapan anggaran
belanja belum optimal dengan tingkat pencapaian sebesar 82,89%. Adapun Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2008 provinsi Kepulauan Riau
sebesar Rp 1,382 triliun telah mengalami perubahan menjadi Rp 1,385 triliun.
Tabel 4.1 – Perkembangan APBD Provinsi Kepulauan Riau TA. 2005‐2008
No STRUKTUR APBD TA. 2005 TA. 2006 TA. 2007 TA.2008 (P)
1. PENDAPATAN 371,721,840,000 911,152,768,000 1,019,498,530,494 1,204,685,000,000
2. BELANJA 483,577,930,500 1,136,081,909,773 1,459,367,000,000 1,389,000,000,000
3. PEMBIAYAAN 111,856,090,500 224,929,141,773 439,868,869,506 204,000,000,000
TOTAL APBD 501,134,743,000 1,189,966,909,773 1,467,000,000,000 1,389,000,000,000
Sumber : Badan Keuangan dan Kekayaan Daerah – Provinsi Kepulauan Riau
Dampak krisis keuangan global pada perekonomian Kepulauan Riau tahun 2009
diperkirakan semakin berlanjut dan membawa laju pertumbuhan ke tingkat yang lebih rendah.
Menurunnya kapasitas produksi sektor manufaktur menjadi determinan utama asesmen
perlambatan di triwulan I-2009. Aktivitas perdagangan tumbuh melambat seiring dengan
menurunnya kuantitas ekspor-impor luar negeri. Selain itu, tekanan di sektor properti dan
pariwisata belum hilang karena menurunnya daya beli secara global. Inflasi IHK kota Batam di
triwulan I 2009 diperkirakan mengalami penurunan yang relatif lebih kecil dibanding triwulan
sebelumnya. Pengingkatan laju inflasi kota Batam dan Tanjung Pinang selama triwulan I-2009
sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca. Tingginya kecepatan angin dari arah Barat Laut dan
Timur Laut Kepulauan Riau menimbulkan gelombang tinggi mencapai 2,0 – 2,5 m dan
mengganggu kelancaran arus transportasi laut ke kota Batam dan Tanjung Pinang. Penurunan
harga BBM merespon turunnya harga komoditi dunia cukup berkontribusi dalam menahan laju
inflasi lebih lanjut.
Prospek Ekonomi 2008
Dampak krisis keuangan global pada perekonomian Kepulauan Riau tahun 2009
diperkirakan semakin berlanjut dan membawa laju pertumbuhan ke tingkat yang lebih rendah.
Menurunnya kapasitas produksi sektor manufaktur menjadi determinan utama asesmen
perlambatan di triwulan I-2009. Aktivitas perdagangan tumbuh melambat seiring dengan
menurunnya kuantitas ekspor-impor luar negeri. Selain itu, tekanan di sektor properti dan
pariwisata belum hilang karena menurunnya daya beli secara global.
Inflasi IHK kota Batam di triwulan I 2009 diperkirakan mengalami penurunan yang
relatif lebih kecil dibanding triwulan sebelumnya. Pengingkatan laju inflasi kota Batam dan
Tanjung Pinang selama triwulan I-2009 sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca. Tingginya
kecepatan angin dari arah Barat Laut dan Timur Laut Kepulauan Riau menimbulkan
kota Batam dan Tanjung Pinang. Penurunan harga BBM merespon turunnya harga
komoditi dunia cukup berkontribusi dalam menahan laju inflasi lebih lanjut.
Grafik Estimasi Pertumbuhan Ekonomi Grafik Estimasi Inflasi