• Tidak ada hasil yang ditemukan

Agraria-September 2008

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Agraria-September 2008"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

VOLUME VI SEPTEMBER 2008

(2)

saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-download berita dari situs-situs suratkabar, majalah, serta situs-situs berita lainnya.

Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.

(3)

Daftar Isi

Indonesia Masuk "Perangkap Pangan" --- 1

Petani Membuang Gula ke Jalan sebagai Protes --- 4

Lahan Terus Menyusut --- 6

Wapres Akui Riset Pertanian Masih Lemah --- 8

Harga Sawit Anjlok, Petani Menjerit --- 10

Masa Depan Komoditas Pangan--- 11

Penyaluran Pupuk Bersubsidi Capai 95 Persen --- 14

Keluar dari Perangkap Pangan? --- 15

Anjloknya Ketahanan Pangan --- 17

"Missing Link" Pembangunan Pertanian --- 19

Petani Tuntut Ganti Rugi Gagal Panen Rp 1,6 Miliar --- 21

Rawan Pangan Ancam Mentawai --- 22

Rakyat Miskin Segera Terima Lahan --- 23

Benih, Masalah Besar Pertanian --- 25

Petani Madiun Kecewa Super Toy --- 26

Petani Merauke Jangan Cuma Jadi Penonton --- 27

Petani Dapat Jaminan Harga dan Pasar--- 30

Jangan Mengorbankan Kreativitas Petani --- 31

Petani Biarkan Tanaman Cabai Mengering --- 33

Program Ketahanan Pangan Manfaatkan Lahan Tidur --- 34

SBY Dukung Petani Kembangkan Varietas Baru --- 35

Menakar Ekonomi Petani Tembakau --- 37

Serangan Hama Marak, Padi Terpaksa Dipanen Awal --- 40

Subsidi Benih Petani Rp 904 Miliar Tahun Depan --- 41

Petani Grabag Tak Mau Lagi Tanam Super Toy --- 42

Kemerdekaan atas Air --- 43

Menanam Padi, Menuai Amarah --- 45

Harga Beras di Pasaran Dunia Turun --- 47

Jangan Sekadar Memanfaatkan Petani... --- 48

Unggul Produksi, Unggul Rasa --- 51

Bulog Stop Beli Beras Komersial --- 53

(4)

Varietas Padi Lokal Tak Diminati --- 62

Bulog Hentikan Impor Beras Tahun ini --- 63

Sebanyak 70% Irigasi di Sulsel Rusak --- 64

Hama Blast Serang Sumut Hasil Panen Bisa Berkurang 30 Persen --- 65

Penyaluran Urea Capai 78,5 Persen --- 66

Pupuk Hayati Belum Banyak Dimanfaatkan --- 67

Menimbang Pembiayaan Sektor Pertanian --- 68

Bulog Tambah Cadangan Beras --- 70

Petani Sejahtera Jika Indonesia Tidak Makan Beras Import --- 72

Petani Tasik Kesulitan Modal dan Akses Pasar --- 73

Perdagangan Pangan Merugikan Petani --- 75

Petani Diminta Batasi Pupuk --- 77

CPR-Indonesia: RI masuki jebakan pangan --- 78

Mentan minta petani daerah supplus tetap kreatif --- 80

Harga Gabah di Lombok Barat Naik --- 81

Bulog Tak Paksakan Ekspor Beras Tahun Ini --- 83

(5)

Kompas Senin, 01 September 2008

I ndone sia M a suk " Pe r a ngk a p Pa nga n"

Petani Hanya Jadi Buruh Tanam

Senin, 1 September 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Indonesia sebagai bangsa agraris ternyata sudah masuk dalam ”perangkap pangan” atau food trap negara maju dan kapitalisme global. Tujuh komoditas pangan utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat sangat bergantung pada impor.

Bahkan, empat dari tujuh komoditas pangan utama nonberas, yakni, gandum, kedelai, daging ayam ras, dan telur ayam ras, sudah masuk kategori kritis. Meskipun belum kritis, jagung, daging sapi, dan susu patut diwaspadai.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia, yang juga guru besar sosial ekonomi pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, krisis ini terjadi karena Indonesia tidak mampu mengatasi persoalan itu sejak dulu. ”Dari waktu ke waktu tidak ada perkembangan berarti untuk mengurangi ketergantungan pangan impor itu, justru sebaliknya malah makin parah,” kata Rudi, Sabtu (30/8) di Surabaya.

Meningkatnya ketergantungan ketahanan pangan negeri ini pada negara lain dapat dilihat dari naiknya volume impor pangan dalam bentuk komoditas maupun benih atau bibit.

Pada tahun 2000, Indonesia mengimpor gandum sebanyak 6,037 juta ton. Lima tahun kemudian, tahun 2005, impor gandum naik hampir 10 persen menjadi 6,589 juta ton. Tahun 2025, diproyeksikan impor gandum akan meningkat tiga kali lipat menjadi 18,679 juta ton. Impor kedelai dalam lima tahun terakhir (2003-2007) rata-rata 1.091 juta ton atau mencapai 60,5 persen dari total kebutuhan.

Untuk daging ayam ras, meskipun sebagian besar ayam usia sehari (day old chicken/DOC) diproduksi di dalam negeri, yaitu sebanyak 1,15 miliar ekor (2007), tetapi super induk ayam (grand parent stock/GPS) dan induk ayam (parent stock/PS)-nya diimpor dari negara maju.

Ketergantungan pada impor juga terjadi pada susu. Setiap tahun 70 persen kebutuhan susu diimpor dalam bentuk skim.

Untuk jagung, produksi tahun 2008 memang surplus. Namun, peningkatan produksi itu ditunjang oleh penggunaan benih jagung hibrida. Tahun 2008, penggunaan hibrida mencapai 43 persen dari total luas tanaman jagung nasional 3,5 juta hektar. ”Kondisi jagung lebih baik karena ada progres penggunaan teknologi,” kata Rudi.

Meskipun begitu, kebutuhan benih jagung hibrida sekitar 30.100 ton per tahun itu sebagian atau 43 persen bukan berasal dari perusahaan benih nasional atau petani penangkar, tetapi diproduksi oleh perusahaan multinasional, seperti Bayer Crop dan Dupont.

Ketergantungan pada impor juga terjadi pada daging sapi. Impor dalam bentuk daging dan jeroan beku per tahun mencapai 64.000 ton. Adapun impor sapi bakalan setiap tahun sekitar 600.000 ekor.

Peran negara kuat

(6)

Untuk menguasai pasar produk pertanian negara berkembang, termasuk Indonesia, negara-negara maju itu melakukan politik dumping. AS dan Uni Eropa, misalnya, menyubsidi pertanian mereka agar komoditas yang dihasilkan dapat memenangi persaingan di pasar dunia.

Konsentrasi perdagangan pada industri raksasa dunia tampak dari peran MNCs yang menguasai industri hulu sarana produksi pertanian, seperti benih atau bibit, pupuk, dan pestisida. Tidak hanya di hulu, di hilir pun MNCs ”menggenggam” industri hilir pertanian, antara lain dalam industri pengolahan pangan.

Guna mendukung hegemoninya di pasar komoditas pangan, perusahaan multinasional juga mengembangkan ”revolusi” ritel melalui hipermarket dan perdagangan ritel pangan di negara berkembang. Braun dalam hasil penelitiannya di International Food Policy Research Institute (IFPRI) memperkirakan, total penjualan 10 perusahaan MNCs global untuk sarana produksi pertanian mencapai 40 miliar dollar AS, industri pengolahan dan perdagangan pangan 409 miliar dollar AS, dan industri pengecer 1.091 miliar dollar AS (lihat tabel).

Negara berkembang, seperti Indonesia, hanya kebagian menjadi buruh tanam untuk sarana produksi yang dihasilkan MNCs. Hasil produksi petani dan buruh tani Indonesia itu diolah dan diperdagangkan oleh industri pengolahan pangan yang juga milik perusahaan multinasional. Selanjutnya hasil produksi itu diperdagangkan melalui perusahaan ritel, yang juga milik perusahaan multinasional, kepada konsumen, yaitu masyarakat Indonesia, termasuk petani.

Perusahaan Monsanto dari AS, misalnya, dalam 10 tahun terakhir memasok berbagai jenis benih, seperti jagung, kapas, dan sayuran. Laboratorium pembibitannya tidak hanya terdapat di AS, tetapi di ratusan lokasi di dunia.

Syngenta (Swiss), mencatat kenaikan penjualan benih 20 persen pada semester I-2008, yakni menjadi 7,3 miliar dollar AS, dibandingkan semester I-2007. Saat ini Syngenta memiliki 300 benih terdaftar dan 500 varietas benih komersial.

Rudi mengingatkan, Indonesia akan semakin bergantung pada pangan impor. ”Apabila sewaktu-waktu terjadi gejolak pangan impor di tengah sektor riil banyak bergantung pada bahan baku impor, hal itu akan membahayakan perekonomian nasional.

Daya saing rendah

Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Siswono Yudo Husodo mengatakan, tingginya ketergantungan pada pangan impor karena rendahnya daya saing dan kesiapan teknologi pertanian. Gandum, misalnya, kebutuhan terhadap komoditas ini terus meningkat. Saat ini konsumsi gandum per kapita per tahun mencapai 10 kilogram. Padahal, gandum bukan komoditas unggulan negeri ini.

”Arah diversifikasi konsumsi pangan kita keliru. Salah satu sebabnya, kebijakan pemerintah yang kurang pas,” ujarnya.

(7)

Kompas Senin, 01 September 2008

Menanggapi ketergantungan pangan, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian Gatot Irianto mengatakan, di tengah arus globalisasi Indonesia memang tidak bisa 100 persen mandiri. Memang ada ketergantungan, tetapi masih dalam batas yang bisa dikontrol.

Artinya bila sewaktu-waktu ada kenaikan harga pangan global, Indonesia masih bisa menyediakan pangan. Menjadi berbahaya bila ketergantungan sudah sepenuhnya terjadi.

Di bidang penelitian, kata Gatot, sebenarnya Indonesia tidak kalah. Banyak varietas unggul bermutu benih kedelai yang memiliki produktivitas tinggi. Namun, peningkatan produksi kedelai tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Harus bertahap.

(8)

Pe t a n i M e m b u a n g Gu la k e Ja la n se b a g a i Pr ot e s

Pemerintah Diminta Menindak Penyeleweng Gula

Senin, 1 September 2008 | 00:39 WIB

MADIUN, KOMPAS - Sekitar 50 petani tebu di wilayah PTPN XI membuang gula ke jalan di samping Pabrik Gula Pagotan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Sabtu (30/8). Aksi ini sebagai salah satu bentuk protes atas maraknya gula impor dan rafinasi di pasaran yang mengakibatkan gula produksi petani tidak laku.

Sebelum membuang gula ke jalan dan menginjak-injaknya, petani menunjukkan gula hasil panen yang menumpuk di empat gudang di PG Pagotan.

Gula ini tidak bisa terjual karena di pasaran banyak gula impor dan gula rafinasi yang seharusnya hanya dipakai untuk industri makanan dan minuman.

Menurut Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Pagotan Sudira, ada 180.000 ton gula di empat gudang itu. Gula yang menumpuk tidak hanya gula hasil giling tahun ini, tetapi ada pula gula hasil giling tahun lalu.

Wakil Ketua APTRI di wilayah PTPN XI Edi Sukamto menambahkan, sekitar 70 persen dari gula hasil giling 37 pabrik gula di wilayah Jatim dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan di luar Pulau Jawa, sedangkan sisanya untuk kebutuhan di Pulau Jawa.

”Sementara di luar Pulau Jawa dan juga di Jawa, gula impor dan rafinasi banyak beredar di pasaran. Hal inilah yang membuat gula di PG Pagotan dan 36 pabrik gula lainnya di Jatim tidak bisa terserap di pasaran,” ujarnya.

Berdasarkan data yang diperolehnya, di pasaran kini terdapat 1,9 juta ton gula rafinasi yang diimpor pabrik gula rafinasi dan 685.000 ton gula rafinasi yang diimpor oleh industri makanan dan minuman.

Adapun produksi petani 2,9 juta ton plus sisa tahun 2007 sebanyak 1,3 juta ton. Adapun kebutuhan nasional 4,1 juta ton.

Kondisi ini diperparah dengan ulah investor yang ditunjuk PTPN, tetapi tidak mau menalangi pembelian gula hasil giling petani.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perdagangan soal Dana Talangan, investor yang ditunjuk PTPN diharuskan menalangi pembelian gula hasil giling petani dengan harga Rp 5.000 per kilogram, sementara harga gula di pasaran saat ini Rp 4.900 per kg.

Dengan harga gula sebesar itu, investor rugi Rp 1,3 miliar setiap satu periode atau dalam waktu satu minggu. Turunnya harga ini sangat terkait dengan adanya gula rafinasi dan impor di pasaran.

”Jika pemerintah tidak menarik gula rafinasi dan gula impor dari pasaran, kami sendiri yang akan melakukan sweeping dan membakar gula itu,” ujar Edi.

(9)

Kompas Senin, 01 September 2008

Kepala Urusan Tanaman, Divisi Tanaman Semusim PTPN IX Suhardi menyebutkan, stok gula di gudang PTPN IX sudah mencapai 60.000 ton yang tersebar di delapan pabrik gula.

Jumlah ini masih ditambah 26.000 ton gula yang sudah dibayar rekanan tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum diambil karena harga gula jatuh.

Pada awal Agustus 2008, PTPN IX juga sempat mengundang 37 rekanan untuk ikut lelang 2.000 ton gula, tetapi hanya 11 rekanan yang hadir.

”Sejak mulai giling bulan Mei, baru 200 ton gula yang dilelang. Sekarang bahkan ada gula yang ditaruh di aula pertemuan karena gudang sudah terlalu penuh,” kata Suhardi.

Dwi Santosa khawatir, penurunan harga gula dan lambannya penyerapan produksi gula lokal akan menurunkan produksi pada masa tanam berikutnya.

Dia pesimistis target luasan tanam tebu tahun 2009 seluas 38.000 hektar bisa terealisasi. Apalagi 90 persen lahan tebu milik rakyat.

(10)

La h a n Te r u s M e n y u su t

Kontribusi Pertanian terhadap PDB Menurun

[JAKARTA] Kontribusi sektor pertanian terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun, meskipun masih menjadi penyumbang PDB terbesar. Salah satu penyebabnya adalah lahan pertanian yang terus menyusut.

Menurut Deputi Ketua BPS Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Slamet Sutomo, di Jakarta, Senin (1/9), hingga Triwulan II tahun 2008, kontribusi pertanian terhadap PDB sebesar 14,1 persen, turun dibandingkan tahun lalu sebesar 17,4 persen. Selama periode 2004-2006, sektor pertanian rata-rata memberi kontribusi 12-15 persen terhadap PDB nasional.

Slamet melihat keterkaitan yang erat antara penyusutan luas lahan dan penurunan kontribusi PDB pertanian. Ia mengemukakan, selama 2004-2008 terjadi alih fungsi lahan pertanian sekitar 400.000 ha. Pada saat bersamaan, kontribusi sektor pertanian terhadap PDB menurun sekitar tiga persen.

Meskipun perlu dikaji lebih jauh, Slamet meyakini, program lahan pertanian pangan abadi yang juga memuat rencana penambahan luas lahan pertanian pangan, bisa meningkatkan kembali kontribusi PDB pertanian.

Sementara itu, Menteri Pertanian, Anton Apriyantono menjelaskan, penurunan kontribusi sektor pertanian terhadap PDB terkait erat dengan menyempitnya lahan pertanian. Luas lahan pertanian Indonesia saat ini kurang dari 20 juta hektare (ha), sementara jumlah petani yang terlibat mencapai lebih dari 25 juta orang. Perluasan lahan pertanian serta optimalisasi produktivitas lahan diyakini bisa mendorong peningkatan kontribusi pertanian terhadap PDB.

Mentan mencontohkan luas lahan pertanian di Brasil, misalnya, tanaman kedelai mencapai luas lahan 21 juta ha, perkebunan tebu mencapai 7 juta ha, dan ladang penggembalaan sapi mencapai 220 juta ha.

(11)

Suara Pembaruan Senin, 01 September 2008

Secara terpisah, anggota Komisi IV DPR, Ganjar Pranowo mengatakan, lahan pertanian abadi konteksnya adalah melindungi lahan-lahan produktif atau subur. Namun, kinerja sektor pertanian sendiri amat bergantung pada peningkatan produktivitas, termasuk perkembangan teknologi budi daya pertanian.

Kesiapan Benih

Sebelumnya, Kepala Badan Litbang Departemen Pertanian (Deptan), Gatot Irianto menjamin ketersediaan benih padi jika dilakukan perluasan lahan pertanian pangan. Balai Penelitian Padi di Sukamandi memiliki benih induk, yang jika sudah di produksi massal, mampu memenuhi kebutuhan benih untuk lebih dari 15 juta ha sawah. Di sisi lain, industrialisasi benih terus berkembang, dengan masuknya sejumlah perusahaan swasta nasional ke industri benih.

Terkait hal itu, Dirjen Tanaman Pangan Deptan, Sutarto Alimuso juga menjamin tidak ada persoalan dengan benih. Produksi benih selama ini dilakukan empat pihak, yakni BUMN pertanian, perusahaan swasta, penangkar benih ber- lisensi, dan petani.

(12)

W a p r e s Ak u i Rise t Pe r t a n ia n M a sih Le m a h

Tu m b u h k a n D a y a Sa in g Pe r t a nia n

Selasa, 2 September 2008 | 00:39 WIB

Jakarta, Kompas - Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, Indonesia harus lepas dari ”perangkap pangan” negara maju dan kapitalisme global. Untuk itu, riset penelitian dan pengembangan tujuh komoditas pangan utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat harus terus-menerus ditingkatkan.

Menurut Kalla, Senin (1/9) di Jakarta, selama ini, riset dan penelitian komoditas pertanian masih lemah dan harus diperkuat.

Oleh sebab itu, pemerintah tahun depan mengalokasikan peningkatan anggaran riset dan penelitian, termasuk untuk komoditas pertanian melalui pemenuhan anggaran 20 persen pendidikan di APBN. Tujuannya agar Indonesia dengan kemampuan sumber daya manusia dan sumber daya alamnya dapat menjadi pemain besar di bidang pertanian.

Sebelumnya, sejumlah fakta terungkap, Indonesia sudah terjebak dalam ”perangkap pangan” negara-negara maju. Hal ini terlihat dari tujuh komoditas pangan utama nonberas yang sangat bergantung pada produk impor. Dari tujuh komoditas tersebut, empat di antaranya, yakni gandum, kedelai, daging ayam ras, dan telur ayam ras, dinyatakan sudah masuk kategori kritis.

”Penelitian kita lemah. Maka, kami minta bantuan universitas untuk turut melakukan penelitian dengan anggaran pendidikan yang sudah kita penuhi 20 persen pada tahun depan,” kata Kalla.

Kekuatan terbatas

Guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, mengingatkan, kekuatan ekonomi bangsa Indonesia untuk menghadapi dampak ketergantungan pangan impor sangat terbatas. Maka, pembangunan perekonomian harus bisa menumbuh- kan daya saing pangan domestik bukan sebaliknya, melumpuhkan.

”Selama ini pangan diposisikan sebagai komoditas ’pengendali’ inflasi serta ’penjamin’ upah minimum regional dan upah minimum kota yang rendah bagi industri. Dampaknya, harga pangan tertekan dan investasi lesu. Pertanian domestik pun kehilangan daya saing,” ujarnya.

Rendahnya daya saing pertanian domestik menahan laju perkembangan riset. Hal itu karena pertanian tidak menghasilkan nilai tambah. Apalagi, pemerintah juga mengabaikan investasi di bidang penelitian yang tentunya membutuhkan modal besar.

Akibatnya, bangsa makin kesulitan memenuhi peningkatan permintaan benih kualitas terbaik. Peluang inilah yang kemudian ditangkap oleh perusahaan multinasional (MNCs).

(13)

Kompas Selasa, 02 September 2008

Rendahnya kemampuan PT SHS menyediakan benih hibrida mendorong masuknya MNCs. Hal itu makin meminggirkan varietas lokal.

ASEAN Business Manager DuPont Andy Gumala menyatakan, saat ini Indonesia tidak mungkin membangun industri perbenihan yang setara dengan MNCs, khususnya untuk benih nonpadi.

”Kalau industri benih padi masih mungkin karena di Balai Penelitian dan Pengembangan Tanaman Padi Departemen Pertanian banyak tersimpan plasma nutfah atau tetua-tetua yang bisa dijadikan modal pengembangan benih padi hibrida,” katanya.

Untuk pengembangan benih hibrida, selain padi, rasanya sulit karena Indonesia sudah jauh tertinggal dalam riset dan pengumpulan tetua. MNCs sudah sejak awal tahun 1900-an mulai mengumpulkan tetua-tetua di seluruh dunia sebagai modal pengembangan bibit.

Menurut Direktur Penelitian dan Pengembangan PT SHS Niswar Syafa’at, solusi yang bisa dilakukan adalah menjalin kerja sama perakitan benih hibrida. Kerja sama dilakukan dalam bidang pemasaran, pertukaran plasma nutfah, dan pembagian royalti.

Mutu pengelolaan

Maksum lebih jauh menjelaskan, untuk komoditas pangan seharusnya ada pertimbangan keadilan dan kedaulatan diutamakan mengingat kekuatan ekonomi bangsa amat terbatas.

Paket kebijakan fiskal yang membebaskan bea masuk impor kedelai dan gandum serta menurunkan bea masuk beras 18,2 persen merupakan bentuk bunuh diri karena akan mengakibatkan matinya daya saing domestik.

(14)

H a r ga Sa w it Anj lok , Pe t a ni M e nj e r it

[BENGKULU] Puluhan ribu petani sawit di Provinsi Bengkulu menjerit, akibat harga buah sawit awal September anjlok dari Rp 1.500 per kilogram (kg) menjadi Rp 800 per kg. Hal ini menyebabkan pendapatan petani menurun tajam.

"Petani sawit di Bengkulu sekarang ini benar-benar terpukul. Akibatnya, pendapatan petani menjadi turun drastis dari sebelumnya," kata Herman (34), petani sawit asal Bengkulu Utara kepada SP, di Bengkulu, Rabu (3/9).

Kalau harga sawit di Bengkulu Rp 800 per kg bertahan lama, dipastikan kehidupan petani sawit akan kembali miskin. Pasalnya, uang hasil panen tidak sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan petani, terutama untuk pembelian pupuk.

Sebab, harga pupuk bersubsidi di Bengkulu cukup mahal, Rp 150.000 per sak isi 50 kg. Ini terjadi karena kelangkaan pupuk bersubsisi di Bengkulu hingga kini masih terus berlangsung. Sementara itu, permintaan pupuk cukup tinggi. Akibatnya, harga pupuk di pasaran meningkat tajam.

Meskipun harga tinggi, petani tetap membelinya karena jika tanaman sawit tidak diberi pupuk yang cukup, hasil panennya berkurang. Karena itu, sejak harga sawit di Bengkulu anjlok, para petani di daerah ini pusing memikirkan untuk membeli pupuk.

"Bagaimana kami mau merawat kebun sawit dengan baik, kalau harganya tidak menguntungkan. Sebab, harga sarana pertanian, seperti pupuk dan racun hama. Sedangkan pendapatan dari menjual sawit sangat rendah. Dengan demikian, jelas petani tidak akan merawat sawitnya dengan baik," ujar Asril (27), petani lainnya.

Untuk itu, para petani sawit di Bengkulu berharap agar komoditas ini kembali stabil Rp 1.500 per kg, sehingga pendapatan petani dari hasil panen sawit normal. Artinya, uang hasil panen dapat memenuhi kebutuhan keluarga, biaya anak sekolah dan membeli pupuk.

"Kami benar-benar sial memasuki Ramadan, harga sawit anjlok. Padahal, kebutuhan petani tinggi untuk menghadapi Hari Raya Idul Fitri Oktober nanti. Kami minta agar pemerintah Bengkulu kembali memperjuangan agar harga sawit naik," ujarnya.

Asisten II Pemprov Bengkulu, Fauzan Rahim mengatakan, Gubernur Bengkulu sudah menurunkan tim ke lapangan untuk mencari tahu penyebab anjloknya harga buah sawit di beberapa daerah tingkat II, termasuk di Kabupaten Bengkulu Utara.

Jika turunnya harga sawit akibat permainan pabrik, pengusaha pabriknya akan ditegur agar membeli sawit sesuai harga yang berlaku di pasaran umum. Demikian sebaliknya, jika penurunan ini akibat ulah para toke sawit. Oknum yang mempermainkan harga sawit akan ditindak sesuai aturan, katanya.

(15)

Suara Pembaruan Rabu, 03 September 2008

M a sa D e p a n Kom od it a s Pa n g a n

Bustanul Arifin

Eskalasi harga pangan global sejak 2007 menjadi tantangan tersendiri bagi masa depan komoditas pangan strategis nasional. Tantangan (dan peluang) itu cukup berat dan beragam, sesuai dengan karakter komoditas pangan yang memiliki dimensi ekonomi, sosial, politik, budaya, dan sebagainya.

Pangan strategis yang dimaksud di sini adalah empat komoditas utama: beras, jagung, kedelai, dan gula, yang dinyatakan sebagai special products (SP) atau komitmen perlindungan Indonesia dalam perundingan perdagangan internasional (WTO). Di samping itu, pangan strategis nasional meliputi daging, terigu, minyak goreng, dan lain-lain yang menyangkut kepentingan hidup orang banyak, dan sering menjadi determinan penting laju inflasi Indonesia.

Beberapa konsekuensi logis dari eskalasi harga pangan global perlu diperhatikan dengan saksama. Pertama, biaya produksi pangan dan pertanian umum - khususnya komponen energi - menjadi semakin besar. Kedua, kelangkaan air menjadi semakin nyata. Ketiga, ketersediaan lahan semakin berkurang karena kompetisi pangan, sandang, papan, dan bahan bakar. Keempat, risiko kemiskinan dan kelaparan karena perubahan iklim menjadi semakin besar. Kelima, posisi proteksionisme dan penyelamatan diri sendiri menjadi semakin besar.

Untuk menangulangi kelima konsekuensi logis di atas langkah-langkah kebijakan perlu mengandung strategi besar. Pertama, peningkatan produksi atau suplai pangan dengan laju yang jauh lebih besar selama 4-5 dasawarsa terakhir. Kedua, manajemen sumber daya air, mulai dari perencanaan, organisasi, dan implementasi. Ketiga, reforma agraria yang lebih berkeadilan, dan jika perlu terlepas dari ideologi. Keempat, adaptasi dan mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi magnitude dampak yang ditimbulkan. Kelima, negosiasi dan perundingan perdagangan yang bervisi keadilan dan kesetaraan.

Secara khusus, pascakenaikan harga selama dua tahun terakhir, tujuh komoditas pangan strategis nasional setidaknya akan diwarnai beberapa kecenderungan berikut. Pertama, beras akan terus menempati posisi strategis secara ekonomi, sosial, dan politik, baik karena faktor historis maupun ideologis dan emosional sebagian besar penduduk Indonesia. Kedua, jagung akan mengalami transisi yang signifikan dari posisi komoditas pangan menjadi bahan baku industri pakan. Ketiga, kedelai akan merespons signal insentif dan tingginya harga domestik dan harga intena- sional. Keempat, gu- la akan mengalami kompteisi internal, gula tebu dengan gula rafinasi, yang masih belum mampu menjawab tantangan struktural. Kelima, minyak goreng akan mengalami transisi konsumsi yang lebih responsif terhadap harga bahan baku minyak sawit mentah (CPO) dan insentif lainnya. Keenam, terigu akan menyesuaikan diri dengan peningkatan permintaan, walaupun sulit berharap banyak dari gandum domestik. Ketujuh, daging akan terus mencari titik keseimbangan baru produksi, impor dan negara asal, serta tingkat konsumsi yang masih akan berkembang pesat.

Beras, Jagung, Kedelai

(16)

Langkah peningkatan produksi beras wajib diteruskan, tidak setengah-setengah atau hanya bertumpu pada strategi perluasan areal panen (pencetakan sawah baru), tapi perlu bervisi peningkatan produktivitas per satuan lahan dan per satuan tenaga kerja. Pemerintah pusat wajib bermitra dengan seluruh pemerintah daerah yang memilik potensi produksi padi untuk mewujudkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi dan produktivitas. Merumuskan langkah adaptasi kekeringan dan pemanasan global, perbaikan manajemen sistem irigasi, rehabilitasi sumber-sumber air secara berkelanjutan menjadi sangat penting. Padi hibrida dapat saja dikembangkan di Indonesia, dengan cara memberdayakan peneliti dan pusat-pusat penelitian di Tanah Air, walaupun sulit untuk dijadikan tumpuan peningkatan produksi padi dalam jangka pendek.

Peningkatan produksi jagung hibrida sebagai salah satu andalan baru pemenuhan konsumsi jagung yang terus meningkat perlu memperoleh dukungan dalam kebijakan pengelolaan air. Berhubung jagung hibrida memerlukan relatif banyak air, maka manajemen infrastruktur irigasi dan drainase menjadi hampir mutlak, agar tidak terjadi kejutan-kejutan persaingan faktor produksi dengan padi, kedelai, dan palawija lainnya. Di sinilah urgensi pengembangan kelembagaan di tingkat pedesaan, kredit mikro, dan kerja sama sinergis antara petani, swasta, dan pemerintah, untuk mengimbangi strategi integrasi sistem produksi pangan dan pakan di sentra-sentra produksi jagung.

Pengembangan benih unggul kedelai tahan kering, varietas kedelai dengan galur murni asli Indonesia, seperti kedelai hitam varietas Cikuray, Mallika, wajib diteruskan. Kemitraan antara akademisi, pelaku industri industri pangan, industri kuliner, kelompok tani, usaha kecil menengah dan birokrasi pemerintah harus senantiasa disempurnakan. Setelah produksi kedelai di dalam negeri mampu mendekati tingkat konsumsinya, maka kebijakan proteksi dapat diterapkan, termasuk mengenakan tarif impor tinggi dan/atau kebijkan kuota sebagai implementasi pencadangan usaha untuk kemajuan industri mikro kecil dan koperasi.

Tidak ada lagi kondisi eksternal yang lebih baik dari saat ini untuk segera merealisasikan wacana revitalisasi pabrik gula milik negara, yang kadang harus menguras energi dan emosi masyarakat banyak. Swasembada gula dapat ditempuh dengan operasionalisasi revitalisasi pabrik gula dapat dilaksanakan, misalnya, dengan pembentukan satu-dua perusahaan induk (holding company) pabrik gula yang terintegrasi dari kebun tebu di hulu sampai gula putih di hilir, dan yang memproduksi tebu di hulu sampai gula mentah di hilir.

Berhubung gula rafinasi masih kontroversial, pemerintah perlu mengevaluasi secara komprehensif, termasuk audit keuangan dan audit investigatif kinerja industri gula rafinasi, dengan titik pandang yang jernih dalam pespektif pembangunan ekonomi bangsa.

(17)

Suara Pembaruan Rabu, 03 September 2008

Terigu, dan Daging

Pengembangan produksi gandum di dalam negeri masih memerlukan waktu relatif lama, karena faktor pemahaman aspek agronomis gandum dan sosial-ekonomi petani, serta persaingan lahan dengan tanaman dataran tinggi. Apabila opsi peningkatan produksi ini masih akan diteruskan, maka peta perwilayahan komoditas gandum masih harus terus menerus disempurnakan serta dikomunikasikan secara terbuka kepada pelaku usaha, pemerintah daerah, dan masyarakat luas. Dalam jangka pendek, stabilisasi harga tepung terigu dapat melibatkan sektor swasta, seperti Kelompok Usaha Indofood yang memiliki pangsa impor dan kapasitas industri paling tinggi di antara pelaku ekonomi lainnya.

Untuk daging sapi strategi pengembangan agrobisnis peternakan sapi potong perlu terus menerapkan asas kelestarian (keseimbangan antara pemotongan dan jumlah populasi sapi potong atau menghindari "pengurasan" populasi), asas kesinambungan (iklim usaha tetap kodusif dan tidak saling merusak), serta asas kemandirian (berkurangnya ketergantungan pada daging impor). Apa pun strategi yang dipilih, beberapa elemen berikut perlu diperhatikan: sinergi dengan pengembangan ekonomi daerah, integrasi dengan sektor pangan, perkebunan dan perikanan, melibatkan peternak kecil sebagai pelaku mayoritas, serta sinergi saling menguntungkan peternak besar, industri makanan ternak, bahkan investor asing.

(18)

Pe n y a lu r a n Pu p u k Be r su b sid i Ca p a i 9 5 Pe r se n

[JAKARTA] Realisasi penyaluran pupuk urea bersubsidi selama Januari-Juli 2008 mencapai 2,54 juta ton, atau 95 persen dari rencana yang ditetapkan pemerintah sebesar 2,66 juta ton. Sementara itu, rencana penyaluran urea hingga akhir tahun nanti diharapkan mencapai 4,30 juta ton.

"Dengan jumlah penyaluran sebesar itu, ketersediaan pupuk untuk musim tanam mendatang aman," kata Dirjen Tanaman Pangan Deptan, Sutarto Alimoeso di Jakarta, Senin (1/9).

Sementara itu, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi untuk jenis SP36 baru mencapai 78 persen dari rencana sebanyak 472.000 ton hingga semester I tahun ini, atau baru 386.433 ton. Pada tahun 2008, pemerintah menargetkan penyaluran SP36 mencapai 800.000 ton, sedangkan untuk ZA dan NPK masing-masing 700.000 ton dan 900.000 ton. Namun, realisasi penyaluran pupuk ZA hingga Juli baru mencapai 452.803 ton, sedangkan NPK sebanyak 522.024 ton.

Selain pupuk kimia, tambahnya, pemerintah juga menargetkan penyaluran pupuk organik sebanyak 345.000 ton untuk tahun ini. Hingga Juli 2008, realisasinya baru 25.360 ton.

Departemen Pertanian (Deptan) pada tahun anggaran 2008 ini mengalokasikan anggaran Rp 175 miliar untuk memberikan subsidi pupuk organik dalam upaya meningkatkan produksi pangan.

Menurut Menteri Pertanian, Anton Apriyantono belum lama ini, pemerintah memberikan subsidi Rp 500/kg sehingga nantinya petani hanya membayar Rp 1.000/kg untuk membeli pupuk organik yang seharga Rp 1.500/kg. "Subsidi ini untuk pupuk organik yang diproduksi oleh BUMN pupuk di tanah air," katanya.

Sedangkan untuk 2009, menurut Sutarto, alokasi anggaran untuk subsidi pupuk organik akan ditingkatkan menjadi Rp 250 miliar-Rp 300 miliar dengan volume lebih dari 500.000 ton. Menyinggung mekanisme penyaluran pupuk organik bersubsidi tersebut, Sutarto mengatakan, hal itu dilakukan dengan mekanisme tertutup yang mana setiap hektare lahan mendapatkan alokasi 500 kg.

(19)

Kompas Kamis, 04 September 2008

Ke lua r da r i Pe r a ngk a p Pa nga n?

Kamis, 4 September 2008 | 00:44 WIB

Gatot Irianto

Peningkatan kebutuhan pangan terjadi akibat pertambahan penduduk yang relatif tinggi (1,38 persen/tahun) dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Semua pihak perlu mewaspadai fenomena itu.

Paling tidak ada tiga komoditas pangan nonberas yang perlu dicermati terkait peningkatan permintaan sehingga bisa mendorong ketergantungan berlebihan atas bahan pangan impor. Gandum, tetua ayam ras (grand parent stock) baik pedaging maupun petelur serta ternak sapi, merupakan tiga komoditas utama yang kini menjadi perhatian publik dan pemerintah karena ledakan permintaannya.

Peningkatan permintaan gandum dan daging ayam broiler yang besar akibat promosi dan layanan antar yang amat militan dan didukung industri hulu dan hilir perusahaan multinasional yang tangguh. Kondisi ini diperburuk terbatasnya edukasi media tentang hidup sehat atas pangan berbasis terigu dan daging ayam ras pada kelompok usia produktif dan anak anak.

Adapun lonjakan peningkatan impor sapi hingga kini terjadi akibat kebijakan pemerintah untuk mengimplementasikan pelarangan pemotongan betina produktif agar sapi yang dipotong memenuhi potensi bobot potong ideal. Pilihan ini harus diambil karena dalam jangka panjang akan menyelamatkan populasi ternak sapi dan peningkatan produksi daging sapi untuk keluar dari perangkap impor sapi, daging, dan jeroan sapi.

Terigu dan ayam

Menyikapi situasi permintaan terigu yang terus melonjak, pemerintah menggenjot diversifikasi dengan produk tepung non- terigu berbasis komoditas lokal utamanya umbi-umbian dengan fortifikasi agar kompetitif terhadap gandum. Hal ini harus dilakukan karena agro-ekologi untuk tanaman gandum tidak banyak tersedia di Indonesia. Dengan harga jual pangan berbahan nonterigu lebih murah, edukasi dan promosi hidup sehat yang lebih gencar, diharapkan dalam jangka menengah, tepung nonterigu akan mampu bersaing melawan terigu yang kini mendominasi pangan nonberas.

Sementara untuk mengatasi ketergantungan atas ayam ras, pemerintah mendorong swasta mengimpor great grand parent stock (GGP) atau pure line agar jaminan produksi ayam usia sehari (day old chick/DOC) dapat dipastikan dalam kurun waktu lima tahun. Secara simultan penelitian dan pengembangan ayam lokal terus diintensifkan.

Semua pihak harus mewaspadai kampanye hitam atas ayam buras yang dituduh sebagai penyebar virus avian influenza seperti banyak dilansir media selama ini. Padahal, kita tahu, Indonesia merupakan salah satu pusat domestikasi ayam di dunia. Ayam buras/kampung merupakan jaring pengaman sosial yang amat strategis guna mengeluarkan Indonesia dari perangkap pangan dan kemiskinan.

(20)

Produk lokal

Untuk melepaskan Indonesia dari perangkap pangan, maka perlu dilakukan (i) bagaimana semua pihak menggunakan produk pangan lokal dengan semua konsekuensinya; (ii) bagaimana menurunkan ketergantungan/ketagihan atas bahan pangan utama gandum agar cepat dan pasti, ketergantungan pangan dapat direduksi secara signifikan.

Kita perlu belajar dari negara kaya yang teknologinya maju, seperti Jepang dan Korea Selatan. Mereka tetap bangga menggunakan produk telepon seluler dan mobil sendiri tanpa terpengaruh produk lain meski lebih canggih. Harga diri bangsa menjadi taruhan terakhir dalam melepaskan diri dari perangkap pangan.

India juga merupakan teladan bagaimana keluar dari perangkap pangan dan menjadi negara industri. Kebijakan pemerintah dalam importasi pangan, penetapan tarif, dan keberpihakan terhadap petani sudah menunjukkan hasilnya meski harus diakui masih memerlukan tenaga, waktu, dana, dan pengawalan kontinu.

Kini, pertarungan pasar atas bahan pangan impor sudah tidak berbatas sehingga yang kuat kian kuat dan yang lemah kian tergilas. Maka, badan penelitian dan pengembangan pertanian memberi prioritas utama dalam pengembangan benih, bibit, pupuk, dan alat pada tahun anggaran 2008 agar Indonesia secara bertahap keluar dari perangkap pangan.

Lompatan produksi pangan nonterigu, ayam buras, dan sapi pasti dapat dilakukan dalam 3-5 tahun ke depan jika semua pihak secara konsisten melindungi pertanian dan petani kita.

(21)

Kompas Jumat, 05 September 2008

An j lok n y a Ke t a h a n a n Pa n g a n

Jumat, 5 September 2008 | 00:31 WIB

IVAN A HADAR

Indonesia masuk perangkap pangan negara maju dan kapitalisme global. Tujuh komoditas utama nonberas yang dikonsumsi masyarakat bergantung pada impor.

Padahal, sejak dua tahun terakhir, terjadi lonjakan harga pangan dan komoditas pertanian lainnya. Akibatnya, terjadi penurunan ketahanan pangan dengan indikasi mengenaskan, seperti meningkatnya kasus gizi buruk serta kematian anak balita dan ibu melahirkan.

Sebenarnya, spirit penguatan ketahanan pangan bisa ditemui dalam judul utama disertasi doktoral SBY, ”Pembangunan Pertanian dan Pedesaan sebagai Upaya Mengatasi Kemiskinan dan Pengangguran”. Sayang, kebijakan pemerintah selama ini dinilai mengorbankan pertanian di pedesaan sebagai sektor penyerap tenaga kerja terbanyak. Indikasinya, penyunatan subsidi dan impor produk pertanian yang menyengsarakan petani dan memperburuk pembangunan pertanian itu sendiri.

Saat ini sumber pertumbuhan ekonomi lebih bertumpu pada sektor konsumtif dan padat modal. Tak heran jika dulu tiap pertambahan pertumbuhan satu persen, bisa membuka 300.000 sampai 400.000 lapangan kerja, kini hanya mampu menampung 178.000 lapangan kerja.

Mereka yang jatuh miskin pun semakin bertambah. Sebagian besar berstatus petani gurem atau buruh tani. Bagi World Food Programme (WFP, 2005), mereka yang miskin dan kekurangan gizi di Indonesia dipastikan sulit keluar dari belenggu kemiskinan tanpa perubahan kebijakan yang signifikan.

Bagi Amartya sen (Poverty and Famines), persyaratan pengamanan pangan masyarakat bukan hanya pada pengadaan bahan pangan, tetapi aksesibilitas pada pangan bagi mereka yang lapar. Sebenarnya, ketimpangan distribusi dan bahayanya dalam sebuah pertumbuhan ekonomi yang sering jauh dari harapan di negara berkembang sudah jauh hari disadari. Simon Kuznets (1995) dan Gunnar Myrdal (1956), misalnya, mengingatkan, kesenjangan penghasilan dan menunjukkan trickle-down effect sulit dicapai.

Di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, sejak tahun 1980-an diberlakukan sebuah sistem kontrol oleh negara atas sektor pertanian dengan tujuan mengamankan keterjangkauan harga produk pertanian bagi penduduk kota yang kian meningkat. Hal ini dipertegas pada tahun 1990-an lewat kebijakan Structural Adjustment Program oleh IMF sebagai persyaratan mutlak pemberian bantuan dan utang kepada negara berkembang. Brandt (2000) menyebut program ini sebagai ”masalah makropolitik, yaitu keharusan mundurnya negara dari sektor dan jasa pertanian serta liberalisasi kebijakan harga, pasar, dan perdagangan pertanian.” Sejak itu, sektor pertanian menjadi bagian makroekonomi yang paling menderita akibat penyunatan berbagai subsidi negara. Bagi Brandt, penerapan SAP menjadi akhir dari pembangunan pedesaan.

(22)

Dilatari kegagalan pembangunan pedesaan itu, ada baiknya menengok keberhasilan Korea Selatan, Thailand, Taiwan, Malaysia, dan (sejak 1978) China, yang menjadikan sektor pertanian sebagai ”motor” pengembangan sektor lainnya. Strategi yang dijalankan mencakup beberapa hal penting, yaitu dukungan kepada perusahaan keluarga kecil menengah, menghindari sistem kredit bersubsidi, membangun infrastruktur pedesaan, mendukung pengembangan dan penyebaran teknologi yang bermanfaat bagi petani kecil, serta menghindari diskriminasi sektor pertanian (Binswanger, 1998). Berkat kebijakan itu terjadi lonjakan pertumbuhan di sektor pertanian, peningkatan produksi dan produktivitas, modernisasi teknologi pertanian, dan pengurangan tingkat kemiskinan di pedesaan.

Beberapa perbaikan dan modifikasi kebijakan juga dianjurkan Gabrielle Geier (1996). Pertama, perlu koreksi price bias yang terlalu percaya pada pengaturan produksi lewat harga pasar Yang diperlukan adalah perbaikan struktur pertanian dan dukungan pada inovasi pertanian.

Kedua, agar mengubah kebijakan income bias yang percaya pada perbaikan pendapatan petani lewat mekanisme pasar menjadi kebijakan stabilisasi basic subsistence dan jaminan tidak digusur.

Ketiga, mengoreksi kebijakan male bias demi memperkuat status sosial-ekonomi perempuan.

Dalam Konferensi Tingkat Tinggi Pangan di Roma 12 tahun lalu, semua negara peserta, termasuk Indonesia, bertekad mengurangi angka kelaparan global dari 840 juta menjadi separuhnya pada tahun 2015. Namun, sesuai data FAO 2005, masih ada 825 juta jiwa kelaparan. Meski terjadi proses deras urbanisasi, 60-70 persen penduduk negeri ini masih bermukim di pedesaan. Sementara nyaris separuh dari mereka yang mengalami rawan pangan berasal dari keluarga petani gurem.

Perubahan

Dua pertiga petani gurem tergolong marginalized karena memiliki lahan tandus, terisolasi letaknya serta tanpa pengamanan hak atas tanah dan tanpa akses kredit. Penyebab lainnya, buruknya infrastruktur dan ketergantungan pada pedagang antara. Sementara itu, sekitar 30 persen bernasib lebih buruk karena tidak memiliki lahan pertanian dan bekerja sebagai buruh tani, nelayan musiman, dan menggantungkan hidup pada hasil hutan (Armin Paasch, 2006).

Ketahanan pangan atau hak atas pangan harus dimulai dari berbagai kelompok ini. Kenyataannya, sejak dekade terakhir mereka kian tergusur. Perubahan struktural berupa komersialisasi sumber daya produktif, seperti lahan, air, dan bibit serta anjloknya harga produk pertanian dan liberalisasi asismetris perdagangan pertanian, telah memperburuk kondisi mereka (Windfuhr, 2005). Tanpa perubahan drastis kebijakan agar berpihak pada petani gurem dan pembangunan pedesaan, permintaan pemerintah pusat agar gubernur, wali kota, bupati, dan masyarakat untuk bekerja keras dalam peningkatan ketahanan pangan akan sia-sia karena menjadi sekadar imbauan tanpa arah dan pemihakan yang jelas.

(23)

Kompas Jumat, 05 September 2008

" M issin g Lin k " Pe m b a n g u n a n Pe r t a n ia n

Jumat, 5 September 2008 | 00:36 WIB

Emmanuel Subangun

Berita tentang ”perangkap pangan” menjadi penggenap kisah malapetaka harus dicermati dari hari ke hari

Tampilan malapetaka yang disebut ketergantungan—sebagai bangsa berdaulat—pada beberapa perusahaan dunia dalam hal pangan sungguh mengerikan. Dan karena kita berhadapan dengan keadaan yang berkembang amat berbahaya, akal sehat harus dinomorsatukan!

Evolusi terbalik

Ingatkah kita akan sejumlah kebijakan pertanian di masa lalu? Saat itu lembaga internasional dan pemerintah menyepakati hal-hal berikut.

Pertama, temuan teknologi (dalam bibit, pupuk, dan budidaya tanam) memungkinkan produktivitas dinaikkan sehingga kelaparan dapat dihindarkan. Naskah jenis ini dengan baik disampaikan sebuah kelompok yang dinamai ”Club of Rome”.

Kedua, temuan teknologi seperti ini menuntut agar prasarana pertanian diperbaiki, seperti bendungan dan irigasi. Bantuan internasional banyak bergerak di sana. Namanya rural development project.

Ketiga, karena pertanian melibatkan berjuta petani, pengorganisasi produksi diperkenalkan, mulai dari inpres sampai KUD.

Keempat, untuk menjamin kesejahteraan petani, sebuah sistem pemasaran terkendali diperkenalkan, misalnya Bulog.

Dengan menimbang semua segi pembangunan pertanian di masa lalu, pertanyaan adalah mengapa perkembangan itu berhenti dan kini bergerak mundur. Kita pernah swasembada pangan, tetapi kini hampir semua komoditas strategis diimpor.

Di sebuah kalangan tertentu, masalah evolusi terbalik itu dirumuskan seperti ini, jika Charles Darwin merumuskan pertanyaan atas evolusi spesies dari munyuk ke manusia, bersandar pada ”lompatan” yang disebut missing link, maka keadaan pertanian kita dengan evolusi terbaliknya justru harus mencari missing link di mana proses sosial dan politiknya adalah dari manusia kembali menjadi munyuk.

Reaksi emosional

Jika hendak memberi reaksi emosional atas ”jebakan pangan”, hal paling mudah adalah menuding kambing hitam—sejumlah perusahaan MNC, misalnya—dan mereka dicap sebagai kapitalis jahat, yang hendak memonopoli saluran strategis komoditas pertanian, mulai dari bibit, sarana produksi, hingga pengolahan hasil pertanian. Bahwa pengusaha dalam MNC itu berhasil mengembangkan teknologi bibit, budidaya, dan pengolahan hasil, hal itu bukan karena mereka jahat, tetapi karena mereka jauh lebih cerdas dan disiplin bekerja dibandingkan kita, pemerintah, atau pengusaha kita!

(24)

Aneka segi ”pertanian” itu harus disimak dengan cerdas dan cermat dan baru kemudian arah strategis dapat dirumuskan serta dijalankan secara taat asas.

Prasarana

Jika hari-hari ini kita sempat berkeliling di lahan-lahan pertanian, pemandangan yang mudah ditemui adalah hamparan tanaman jagung beratus atau beribu hektar, hijau dan seakan menjanjikan kemakmuran. Lalu lalang petani pada sore hari dengan motor atau sepeda onthel membonceng potongan batang jagung muda. Untuk apa? Mereka bukan protes menebang jagung muda, tetapi nilai ekonomi jagung panen diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan nilai ekonomi daun jagung untuk pakan ternak.

Dalam ilmu ekonomi, tindakan itu berimbang atas asas opportunity cost, jadi amat masuk akal dan petani tidak pernah ngawur.

Ihwal perilaku petani yang rasional dan selalu dicap ”tidak suka perubahan”, hal itu harus dilakukan oleh siapa pun yang mempunyai tanggung jawab atas masalah pertanian, yang ujungnya adalah berita malapetaka seperti ”perangkap pangan” itu.

Selama ini, dengan segala usaha pemerintah, lembaga internasional, dan LSM yang bergerak dalam bidang pertanian, pengamatan sederhana seperti itulah yang selalu luput dari perhatian. Hanya dan hanya jika kita mampu mengenali ”rasionalitas” petani dan bersambung dengan rasionalitas itu kita bergerak, membangun prasarana, dan malapetaka dapat dihindarkan.

Keteledoran atas hal semacam itulah yang dapat disebut sebagai missing link yang menjelaskan mengapa evolusi pertanian kita terbalik, bukan dari munyuk ke manusia, tetapi dari manusia kembali ke munyuk.

(25)

Kompas Jumat, 05 September 2008

Pe m ba k a r a n Pa di

Pe t a ni Tun t u t Ga n t i Ru g i Ga g a l Pa n e n Rp 1 ,6 M ilia r

Jumat, 5 September 2008 | 01:10 WIB

Purworejo, Kompas - Areal percontohan penanaman padi varietas baru Super Toy HL-2 seluas 96,22 hektar di Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, kini gagal panen. Petani yang kecewa menuntut ganti rugi kegagalan itu kepada investor proyek, PT Sarana Harapan Indopangan, Rp 1.649.472.500.

”Jika dalam seminggu ganti rugi tidak dipenuhi, kami akan berupaya mengajukan tuntutan melalui jalur hukum,” ujar Kepala Desa Grabag Gandung Sumriyadi, Kamis (4/9). Tuntutan ganti rugi sudah dikirim ke PT Sarana Harapan Indopangan (SHI). Ganti rugi dihitung Rp 24.000 per ubin. Satu hektar setara dengan 714,28 ubin.

Sehari sebelumnya, ungkap Gandung, 40 petani yang telah menanam padi varietas Super Toy HL-2 menebas dan membakar seluruh tanaman padi milik mereka yang rusak dan gagal panen seluas ratusan ubin. Upaya itu dilakukan sebagai ungkapan kekesalan dan kekecewaan petani karena tak mendapatkan kejelasan tentang ganti rugi gagal panen dari PT SHI.

Sebelumnya, proyek percontohan penanaman padi Super Toy HL-2 ini ditawarkan oleh lembaga bernama Gerakan Indonesia Bersatu (GIB) kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo. Dalam pembicaraan itu, GIB menerangkan bahwa dalam pelaksanaan di lapangan, proyek ini akan ditangani PT SHI. Setelah mendapatkan izin dari pemkab, penanaman dimulai pada akhir 2007.

(26)

Ra w a n Pa n g a n An ca m M e n t a w a i

Sa gu D it ingga lk a n, W a r ga M ula i M e lir ik N a si

Jumat, 5 September 2008 | 00:13 WIB

Padang, Kompas - Kerawanan pangan mengancam masa depan masyarakat di Mentawai yang menempati Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Kerawanan itu terjadi bila kebanggaan atas pangan lokal, berupa sagu, tidak muncul dalam diri masyarakat.

Aldes Fitriadi, staf LSM Yayasan Citra Mandiri (YCM), Kamis (4/9), mengatakan, pergeseran pandangan di kalangan masyarakat Mentawai yang tinggal di Siberut antara lain terlihat dari berkurangnya penghargaan mereka akan tanaman sagu. Padahal, sagu merupakan makanan pokok masyarakat Mentawai di Siberut.

”Kurang penghargaan atas tanaman sagu terwujud dari mudahnya masyarakat melepas tanah yang ditanami pohon sagu hanya demi mendapatkan uang cepat. Untuk saat ini, memang tidak ada kerawanan pangan karena tanaman sagu masih banyak di Siberut. Namun, untuk jangka menengah dan panjang, ancaman kerawanan pangan akan ada bila pandangan masyarakat tidak berubah,” tutur dia.

Aldes mencontohkan pesatnya peralihan lahan sagu di satu ruas jalan di Desa Maileppet. Tiga tahun silam, sepanjang 800 meter di tepi jalan digunakan untuk menanam sagu. Kini, lahan sagu tinggal 200 meter saja. Sisanya sudah dikonversi menjadi perkebunan kakao dan permukiman penduduk.

Masyarakat Mentawai mulai berpikir ekonomis dengan menanam kakao. Hasil penjualan kakao itu bisa digunakan untuk membeli sagu serta aneka kebutuhan hidup sehari-hari.

Rus Saleleubaja, salah satu warga Siberut, mengakui adanya praktik jual-beli lahan sagu di Siberut. ”Delapan tahun silam, satu meter lahan sagu hanya dihargai Rp 20.000,” tutur Rus.

Penjualan lahan sagu dilakukan oleh keluarga di Siberut karena berbagai alasan, termasuk pembiayaan sekolah anak-anak. Sejauh ini, larangan memperjualbelikan lahan sagu hanya dilakukan dalam lingkup keluarga.

Selain urusan ekonomi, Aldes mengatakan sagu juga mulai dicitrakan sebagai bahan pangan yang tidak seeksklusif bahan pangan lain, seperti nasi. Kondisi ini turut membuat sebagian masyarakat mulai melirik ke nasi sebagai bahan pangan pokok.

Sementara itu, beras tidak diproduksi di Siberut. Produksi beras yang sempat dipaksakan oleh Orde Baru pada tahun 1980-an tidak berhasil lantaran perbedaan kebiasaan bertani masyarakat Siberut.

(27)

Suara Pembaruan Jumat, 05 September 2008

Ra k y a t M isk in Se g e r a Te r im a La h a n

[SEMARANG] Ratusan hektare lahan, yang terbagi dalam sekitar 9.000 bidang di berbagai daerah Jawa Tengah, akan diberikan kepada masyarakat miskin, sebagai bagian dari pembaruan agraria yang sedang dilaksanakan pemerintah. "Lahan yang akan diserahkan itu merupakan lahan yang tengah bermasalah," kata Kepa- la Kantor Wilayah BPN Jawa Tengah, Doddy Imron Cholid.

Di Jateng, saat ini, terdapat 483 masalah pertanahan, baik lahan yang disengketakan, diperkarakan, maupun dalam status konflik agraria. Akar masalahnya terkait dengan HGU dan hak guna bangunan (HGB) atas lahan yang terbengkalai itu.

"Sesuai dengan UU, lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk rakyat miskin. Karena inti dari reformasi agraria adalah land reform dan access reform atau pendistribusian tanah untuk rakyat miskin," tegasnya di Semarang, Rabu (3/9).

Data di BPN Jawa Tengah menunjukkan, dari 6,5 juta warga miskin di Jawa Tengah, 1,3 juta di antaranya belum memiliki rumah. Hingga Juni 2008, sebanyak 30.970 bidang sertifikat telah diselesaikan. Pada tahap pertama, diserahkan 1.322 bidang untuk mewakili 35 kabupaten/kota di Jateng.

Dari Bengkulu dilaporkan, lahan HGU yang ditelantarkan oleh pengusaha di atas lima tahun, diambil kembali oleh Pemprov Bengkulu untuk diberikan kepada masyarakat yang tidak memiliki tanah untuk berkebun. Sebagian ditawarkan kembali kepada investor baru yang benar-benar serius untuk berusaha di daerah itu.

"Sikap tegas ini sudah dilakukan Pemprov Bengkulu sejak lima tahun lalu. Sampai sekarang masih berlanjut. Sekitar 15 lahan HGU di Bengkulu yang telantar sudah dicabut izinnya oleh Pemprov Bengkulu. Satu HGU rata-rata memiliki luas 5.000-10.000 ha," kata Asisten II Pemprov Bengkulu, Fauzan Rahim kepada SP di Bengkulu, Kamis (4/9).

Sementara itu, Pemprov Jambi bakal mencabut izin 28 perusahaan perkebunan kelapa sawit yang menelantarkan 600.000 hektare lahan. Lahan itu akan diberikan kepada pengusaha baru yang benar-benar serius mau membangun kebun sawit.

Menurut Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Jambi, Idham Khalid, izin pembangunan perkebunan kelapa sawit yang telah diberikan kepada para pengusaha mencapai 1,2 juta hektare. Namun, luas kebun sawit yang dibangun baru sekitar 409.000 hektare.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi DIY, Nanang Suwandi menjelaskan rencana penyitaan lahan telantar, yang akan diserahkan kepada petani, sulit direalisasikan, jika lahan itu dijadikan persawahan.

Karena bersifat istimewa, pertanahan di wilayah DIY seharusnya juga tidak cukup diatur dengan UU Pokok Agraria, melainkan harus dijabarkan dalam peraturan daerah (Perda).

Sebatas Wacana

Janji pemerintah untuk membagikan tanah lewat agenda reformasi agraria dianggap baru sebatas wacana. Realisasi rencana tersebut, terkendala sejumlah prasyarat yang belum terpenuhi.

(28)

Gunawan mengatakan, keseriusan pemerintah harus dibuktikan lewat adanya kemauan politik dari seluruh jajaran pemerintahan. Sejauh ini, ungkapnya, dukungan atas agenda tersebut baru sampai jajaran Badan Pertanahan Negara (BPN). Padahal, rencana ini terkait dukungan seluruh institusi negara. "Di sini kan elite pemerintah harus berani dipisah dari elite bisnis, ini berat. Kalau sekarang penguasa yang berkuasa," ungkapnya.

Wacana reformasi agraria juga bisa jatuh sebagai agenda politik sejumlah politisi. Menurutnya, wacana itu bisa berubah menjadi perebutan pengaruh antarpihak-pihak tertentu. "Itu harus diwaspadai, apakah hanya wacana politis. Unsur politik tentu ada, tapi siapa pun Presidennya, agenda bangsa ini harus terus didengungkan," tandas Gunawan.

(29)

Kompas Senin, 08 September 2008

Super Toy HL-2

Be n ih , M a sa la h Be sa r Pe r t a n ia n

Senin, 8 September 2008 | 00:49 WIB

Pembakaran padi Super Toy HL-2 oleh petani Desa Grabag, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, 3 September, bisa diambil hikmahnya. Hal itu bisa menjadi pintu untuk menguak berbagai pelanggaran lain di seputar usaha tani padi.

Sejak tahun lalu, menyusul niat baik pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan, berbagai upaya dilakukan mulai dari hulu hingga hilir. Produksi padi ditargetkan naik dari 57 juta ton pada tahun lalu menjadi lebih dari 60 juta ton gabah kering giling pada tahun ini.

Pemerintah mengeluarkan dana subsidi pupuk Rp 15 triliun dan benih gratis senilai Rp 1,4 triliun. Jumlah itu akan bertambah tahun depan demi kenaikan produksi padi. Namun, seiring dengan itu, muncul orang-orang yang ingin menuai keuntungan lewat jalan pintas.

Dari laporan sementara kasus Super Toy HL-2, belum diketahui secara persis riwayat pemuliaan benih, stabilitas benih, maupun proses produksinya. Bahkan, benih itu ternyata belum bersertifikat. Namun, benih sudah diintroduksi ke petani.

Padahal, proses perancangan benih hingga introduksi benih ke petani perlu waktu setidaknya lima tahun. Departemen Pertanian sangat ketat dalam meloloskan varietas tanaman.

Namun, dalam kasus Super Toy HL-2, tanpa diketahui riwayat penelitian dan sertifikasinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diiringi sejumlah menteri, April lalu, langsung melakukan panen perdana. Di sini fungsi pengawasan Departemen Pertanian dipertanyakan.

Banyak hal yang perlu disoroti dalam peredaran benih padi di Indonesia. Benih hasil ”kreativitas” banyak beredar di lapangan. Salah satunya benih dengan singkatan nama ketua umum salah satu partai.

Dari kalangan peneliti muncul keresahan, betapa mudah padi jenis baru dilepas kepada petani tanpa melalui proses penelitian dan percobaan yang ketat.

Dalam hal ini perlu pula dipertanyakan keamanan benih padi hibrida impor yang kini banyak beredar. Benih padi hibrida yang langsung ditanam rentan membawa penyakit dari negeri asalnya dan tidak ada jaminan produktivitas tinggi karena padi hibrida perlu lokasi yang sangat spesifik, tidak bisa dilakukan di semua lokasi pertanaman.

(30)

Pe t a ni M a diun Ke ce w a Supe r Toy

PT SHI Surati Kepala Desa Grabag, Purworejo

Senin, 8 September 2008 | 00:50 WIB

MADIUN, KOMPAS - Seperti halnya petani di Kabupaten Purworejo, petani di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, juga kecewa terhadap padi Super Toy HL-2. Hasil panen mereka tidak seperti yang dijanjikan petugas dari PT Sarana Harapan Indopangan. Padahal, harga benih Super Toy hampir 10 kali lipat harga benih padi biasa.

Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, Minggu (7/9), ada 5 hektar lahan pertanian di Kecamatan Dolopo dan Kebonsari, Kabupaten Madiun, ditanami padi Super Toy HL-2.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madiun Wijanto Joko Purnomo mengatakan, saat PT Sarana Harapan Indopangan (SHI) menawarkan benih Super Toy, ia meminta Balai Benih Kabupaten Madiun mengecek. Hasil belum ada tiba-tiba ada acara panen perdana Super Toy di Dolopo pada 7 April oleh Sekretaris Daerah Pemprov Jatim Soekarwo.

Petani Desa Mlilir, Kecamatan Dolopo, Sunadi, menuturkan, tertarik menanam Super Toy di lahan seluas 1.400 meter persegi setelah petugas PT SHI berpromosi, hasil panen Super Toy lebih banyak. Selain itu, sekali tanam bisa tiga kali panen.

Karena itu, ia rela membeli benih Super Toy Rp 75.000 per kilogram. Padahal, benih yang biasa dipakai, IR-64 atau Ciherang, hanya Rp 40.000 per 5 kg. ”Saat panen dua bulan lalu hasil Super Toy hanya 7 kuintal. Padahal, IR-64 atau Ciherang minimal 12 kuintal,” katanya.

Masa tanam Super Toy lebih lama, 4 bulan. Sementara IR-64 atau Ciherang hanya 3 bulan. Kebutuhan pupuk dan insektisida juga lebih banyak. Karena itu, Sunadi dan petani lain membabat Super Toy dan mengganti dengan benih lain.

Sementara itu, Kepala Desa Grabag, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Gandung Sumriyadi, Minggu, menerima surat dari PT SHI. Surat yang ditandatangani CEO PT SHI Iswahyudi itu meminta pemerintah desa segera mengirimkan data para petani di areal 96,22 hektar padi Super Toy HL-2 yang dilaporkan gagal panen. Data itu untuk menghitung ganti rugi.

(31)

Kompas Senin, 08 September 2008

Pe r t a nia n

Pe t a n i M e r a u k e Ja n g a n Cu m a Ja d i Pe n on t on

Senin, 8 September 2008 | 03:00 WIB

Musim kemarau ini, sejauh mata memandang, lahan pertanian di Serapuh, Merauke, Papua, kering kerontang. Debu-debu halus beterbangan saat angin bertiup.

Anwar Gebze (40) berusaha menyegarkan tanah dengan menyemprotkan air ke lahannya. Sebuah pompa buatan China dihubungkan dengan selang sepanjang 20 meter yang ujungnya diikatkan pada sebatang bambu. Kedua tangannya memegang bambu dan air menyembur keluar dari ujung selang, membasahi tanah yang hendak ditanami kedelai.

Baru kali pertama Anwar menanam kedelai. Biasanya pria di Kampung Waninggap Nanggo ini menanam padi dan umbi-umbian. Kali ini, ia sedang mempraktikkan pelatihan dari pemerintah setempat yang mengajari petani memanfaatkan lahan kosong agar menghasilkan.

Benih dan pupuk disediakan pemerintah. Bahkan, pada musim kemarau ini, petani juga diberi bahan bakar minyak untuk memompa air dari sungai ke lahan.

”Pemerintah ingin melihat kami bekerja. Asal mau keluar keringat, masyarakat seperti kami akan dibantu,” ujar Blazius Mahuze, ketua kelompok kerja petani Waninggap Nanggo.

Ia mengatakan, pemberdayaan masyarakat asli Papua dalam hal pertanian sedang digalakkan pemerintah setempat. Ini karena sebelumnya mereka hanya kerap menadahkan tangan dengan hanya berharap bupati menjawab pengajuan proposal mereka demi mendapatkan beberapa lembar uang lima puluh ribuan.

Di seberang lahan milik petani Waninggap Nanggo terdapat pemandangan sangat kontras. Tanaman kedelai tumbuh menghijau dengan perawatan telaten oleh penggarapnya serta curahan air yang melimpah.

Ya, itu adalah salah satu lahan pertanian yang menjadi contoh korporasi di Merauke. Lahan itu dikelola salah satu investor yang telah masuk ke Merauke, Grup Medco, dengan mempekerjakan petani asal Satuan Permukiman V atau transmigran dari Jawa. Menurut petani setempat yang dijumpai sedang beristirahat siang, setiap hari mereka dibayar Rp 50.000 per orang.

Lahan yang subur dengan suplai air yang cukup serta digarap oleh petani berpengalaman menjadikan tanaman kedelai tumbuh subur. Menurut rencana, pejabat pemerintah pusat yang akan memanen kedelai ini untuk menandai dimulainya korporasi pertanian di Merauke.

Selain Medco, investor lain pun mulai melirik lahan di ujung timur Indonesia ini. Pada awal Juli lalu, The Jakarta Post mewartakan 15 investor Arab Saudi siap menggarap pertanian Merauke dengan investasi senilai Rp 600 miliar.

Potensi lahan

Sektor pertanian menjadi fokus program pembangunan pemerintah setempat karena Merauke memang memiliki lahan yang terbuka basah yang sangat luas. Program jangka panjang ini dipadukan dalam konsep Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) yang baru diganti namanya menjadi Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

(32)

Berdasarkan dokumen MIRE, Merauke memiliki potensi lahan basah 1.937.291 hektar dengan pemanfaatan hanya 1,2 persen, atau masih ada 1.913.547 hektar lahan yang belum tergarap.

Departemen Kehutanan mengalokasikan 585.000 hektar untuk pengembangan produksi tanaman pangan, khususnya beras, di Merauke. Status lahan tersebut nantinya disewakan kepada swasta dalam bentuk hak guna usaha. Dinas Tanaman Pangan Merauke, pada tahun 2008, juga meningkatkan lahan penanaman padi.

Total 23.744 hektar lahan padi ditargetkan dapat menghasilkan sekitar 80.000 ton gabah kering giling.

Rencana ini tak akan mudah mengingat Merauke hanya mampu satu kali tanam dalam setahun. Jika pun bisa dua kali, itu pun padi gadu yang tidak setiap lahan dapat melakukannya.

Merauke yang memiliki kelimpahan aliran Sungai Digul dan Bian dapat memanfaatkan potensi itu dengan membangun sistem irigasi yang baik. Jika tersistem dengan baik, bukan barang mustahil lahan di Merauke dapat ditanam dan panen dua kali setahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Merauke, pada tahun 2006 produksi padi di Kabupaten Merauke mencapai 73.169 ton. Sentra produksi padi terdapat di Distrik Semangga (33,2 persen), Tanah Miring (33,03 persen), dan Kurik (30,9 persen), serta sisanya dari distrik lain.

Perum Bulog Divisi Regional Jayapura mencatat, pengadaan beras dari Merauke hingga awal Agustus lalu 11.000 ton dari target 15.000 ton hingga akhir tahun nanti. Kepala Seksi Humas Bulog Jayapura Kurniawan mengatakan, target 15.000 ton sudah diturunkan dari semula 50.000 ton per tahun.

Prognosa diturunkan karena Bulog melihat untuk sementara ini kondisi infrastruktur dan sumber daya manusia di Merauke belum mampu menyuplai kebutuhan Bulog. ”Soal infrastruktur pertanian bisa dilakukan, tetapi ketersediaan sumber daya tenaga kerja petani menjadi kendala besar di Merauke,” ujar Kurniawan.

Lumbung beras

Meski masih dihadapkan pada berbagai kendala itu, Kabupaten Merauke tetap dicanangkan sebagai lumbung beras nasional yang menjadi terobosan untuk mencukupi kebutuhan beras nasional. Harga dan permintaan pangan yang semakin tinggi menjadikan beras kembali menjadi primadona komoditas ekonomi di Asia. Berbagai perusahaan investor pertanian mulai masuk untuk meminang sejumlah lahan di ujung timur Indonesia ini.

(33)

Kompas Senin, 08 September 2008

Dalam sebuah korporasi, petani penggarap akan terserap ke dalam korporasi itu. Lalu, bagaimana dengan masyarakat lokal atau masyarakat asli setempat yang notabene ”tuan tanah”?

Keterlibatan masyarakat lokal atau masyarakat asli setempat harus selalu diperhatikan. Mereka juga wajib diberi kesempatan menjadi pemilik usaha pertanian sekaligus memiliki keahlian dan kemampuan menggarap sawah.

Saat ini masyarakat asli Merauke atau suku Marind mendapat sejumlah kemudahan untuk mendapatkan pupuk dan bibit. Asal mau berkeringat di bawah sengatan matahari untuk menggarap lahan, mereka akan mendapat pupuk dan bibit gratis dari dinas tanaman pangan setempat. Alat penggaru pun disediakan per kelompok tani.

Ketua Dewan Adat Papua Wilayah Merauke Stanislauz Gebze berharap agar program tersebut mampu memajukan kehidupan masyarakat setempat menyusul setelah sekian lama kemampuan bertaninya tertinggal dibandingkan dengan masyarakat transmigrasi asal Jawa. Ini agar masyarakat asli setempat tak hanya jadi penonton agroindustri. Ia juga tak rela masyarakat asli hanya jadi penonton agroindustri.

(34)

KEM I TRAAN JAGUN G

Pe t a n i D a p a t Ja m in a n H a r g a d a n Pa sa r

Rabu, 10 September 2008 | 03:00 WIB

Bandar Lampung, Kompas - Petani jagung di Lampung Timur dalam waktu dekat akan bisa merasakan harga jual stabil dan jaminan pasar. Hal itu tertuang dalam kerja sama kemitraan antara petani jagung, pabrikan pakan ternak, perbankan, serta Universitas Lampung yang berkomitmen untuk memberdayakan daerah sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Kerja sama kemitraan itu terangkum dalam acara Peluncuran Program Fasilitasi Percepatan Pemberdayaan Ekonomi Daerah (FPPED), Selasa (9/9) di Bandar Lampung oleh Bank Indonesia Wilayah Lampung.

Kerja sama kemitraan jagung itu ditandatangani oleh Gabungan Kelompok Tani Harapan Jaya, Fakultas Pertanian Universitas Lampung, PT BPR Eka Bumi Artha, PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero), CV Tangkas Perdana, PT Java Mitra Sejahtera, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, dan PT Transpasifik Niagareksa.

Widodo, petani jagung asal Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sri Bhawono, Lampung Timur, mengatakan, pada tiga bulan terakhir, harga jagung anjlok cukup signifikan. Tercatat pada musim panen Mei 2008 jagung pipilan di tingkat petani sekitar Rp 2.600 per kilogram. Pada musim panen September 2008, harga turun menjadi Rp 1.700-Rp 1.800 per kilogram pipilan kering.

Kualitas merosot

Menurut Widodo, turunnya harga terjadi karena kualitas merosot. Pada panen Mei 2008, petani belum terlalu membutuhkan banyak uang sehingga mau menjual jagung dalam kondisi kering atau kadar air 20 persen. Sementara rendahnya harga jual pada panen September 2008 terjadi sebagai akibat masyarakat membutuhkan banyak uang untuk keperluan Lebaran 2008.

”Jadi sebenarnya belum saatnya dipanen, tetapi sudah dipetik,” ujarnya.

Faktor lain yang mengganggu petani adalah munculnya banyak tengkulak. Tengkulak menggoda agar petani menjual jagung pada kondisi apa pun sehingga petani menikmati harga jual rendah.

Selain itu, para petani di Lampung Timur rata-rata masih menanam jagung apa adanya. Produktivitas di Lampung berkisar 5 ton per hektar dari seharusnya mencapai 10 ton per hektar.

(35)

Kompas Rabu, 10 September 2008

Ja n g a n M e n g or b a n k a n Kr e a t iv it a s Pe t a n i

PT SHI: Silakan Buktikan kalau Ada Pelanggaran

Rabu, 10 September 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas - Kreativitas petani untuk menghasilkan benih padi varietas baru yang unggul untuk mendukung ketahanan pangan jangan dimatikan. Kasus Super Toy HL-2 merupakan cermin sikap pemerintah yang gagap merespons kelambanan penemuan varietas padi yang spektakuler di tengah ancaman krisis pangan.

Hal itu diungkapkan guru besar sosial ekonomi dan industri pertanian Universitas Gadjah Mada, M Maksum, dan Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia yang juga guru besar sosial ekonomi pertanian Universitas Jember, Rudi Wibowo, saat dihubungi terpisah di Jakarta dan Surabaya, Selasa (9/9).

Menurut Rudi, semangat petani-pemulia untuk menghasilkan calon varietas unggul Super Toy HL-2 patut diapresiasi, apalagi itu bermuara pada bangkitnya kreativitas petani untuk menghasilkan padi varietas unggul. Sayangnya, semangat dan kreativitas petani penemu calon varietas Super Toy HL-2 dinodai sikap komersialisasi benih yang berlebihan oleh pengembang, dalam hal ini PT Sarana Harapan Indopangan (PT SHI).

Adapun Maksum mengungkapkan, upaya mengomersialisasi benih secara prematur dan memolitisasi benih ini tidak saja menimpa calon varietas Super Toy HL-2, tetapi juga terhadap calon varietas lain, seperti benih padi hibrida impor yang sekarang ini sedang marak.

”Kreativitas patut dihargai. Namun, apabila kreativitas tersebut sudah melibatkan masyarakat untuk menanam, itu ada prosedur sertifikasi dan legal yang harus ditempuh,” katanya.

Seharusnya sebelum dikomersialisasi, calon varietas diuji lokasi dan disertifikasi agar mendapat legitimasi secara akademik dan riset. Namun, langkah ini dilewati. ”Ini masuk kriminalisasi akademik,” ujar Maksum.

Di Makassar, guru besar pertanian Universitas Hasanuddin, Saleh S Ali, menilai, munculnya kasus Super Toy HL-2 membuktikan betapa lemahnya politik pertanian dan politik pangan negara ini.

Saleh menambahkan, selaku negara agraris, Indonesia mestinya tidak mudah dirambah benih tanaman apa pun yang strategis bagi kehidupan rakyat tanpa terlebih dulu disertifikasi oleh lembaga yang sahih. Dalam hal ini, Departemen Pertanian harus berada di garda terdepan kebijakan pertanian dan tidak membiarkan Presiden disusupi kepentingan pertanian yang sesat.

PT SHI: Silakan buktikan

Di Jakarta, CEO PT SHI Iswahyudi mengemukakan, pihaknya sudah menyelesaikan masalah yang muncul dan membayar ganti rugi seperti diminta petani terkait uji coba benih Super Toy HL-2 di Desa Grabag, Purworejo, Jawa Tengah. Kalau dinilai melanggar aturan, SHI mempersilakan pembuktian adanya pelanggaran itu.

”Masalah SHI dengan petani sudah selesai dan sudah diserahkan ke Bupati Purworejo. Tidak ada tuntutan. Soal dugaan komersialisasi, silakan dibuktikan saja ada atau tidak. Benih diedarkan tidak untuk tujuan komersial, tetapi dalam rangka percobaan dan tidak ada yang dirugikan,” ujar Iswahyudi.

(36)

Belum bisa diterapkan

Tauyung Supriyadi (30), petani-pemulia pembuat benih padi calon varietas Super Toy HL-2, beberapa waktu lalu menuturkan, benih padi temuannya itu belum tentu bisa diterapkan di semua jenis sawah, seperti sawah gambut atau sawah tadah hujan.

Tauyung (bukan Tuyung atau Toyong) bahkan menjelaskan, penggunaan benih itu di sawah gambut sulit dilakukan karena kadar keasaman (ph) yang rendah, yakni 3,7-5,5.

Menurut Tauyung, benih padi Super Toy HL-2 masih membutuhkan pengujian yang terus- menerus, serta diimbangi dengan teknologi pengolahan tanah dan penerapan pola tanam yang tepat sehingga hasilnya maksimal.

Tauyung menambahkan, penemuan benih Super Toy HL-2 merupakan rangkaian panjang penyempurnaan dan perbaikan sel benih hasil persilangan dari benih varietas padi penghasil beras merek Rojolele dan Pandanwangi.

Penemuan atas benih Super Toy berawal pada November 2006, yang diberi nama Super Toy HL-1. Selanjutnya, benih disempurnakan dan diberi nama Super Toy HL-2. Saat ini, Tauyung mengaku sedang mengembangkan Super Toy HL-3, HL-3A, dan HL-3B.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan pada Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Suyamto mengatakan, tugas pemulia yang benar adalah menghasilkan varietas. Baik dengan melakukan penyilangan, penyinaran, maupun pendekatan bioteknologi modern atau yang paling mudah dengan melakukan seleksi untuk menghasilkan varietas unggul.

Pada tingkat yang paling sederhana, seperti petani-pemulia, juga berupa menghasilkan varietas baru dengan kualitas dan produktivitas lebih baik untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani.

Pemberdayaan penyuluh

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengatakan, untuk mencegah terulangnya kasus kegagalan panen petani pemakai benih padi Super Toy HL-2 di Purworejo, peran petugas penyuluh lapangan (PPL) harus diberdayakan kembali. Peran PPL sangat penting untuk memberikan pengarahan kepada petani tentang benih apa yang seharusnya dan tak seharusnya ditanam.

”Seharusnya petani memahami benih apa yang layak. Di sinilah perlunya peran PPL untuk menjelaskan kepada petani. Dalam kasus Super Toy ini, tak ada yang mengendalikan karena PPL-nya tak diberdayakan,” ujar Bibit Waluyo.

(37)

Kompas Rabu, 10 September 2008

Komoditas

Pe t a ni Bia r k a n Ta n a m a n Ca b a i M e n g e r in g

Rabu, 10 September 2008 | 10:41 WIB

Brebes, Kompas - Sejumlah petani di Kabupaten Brebes memilih tidak memanen tanaman cabai mereka karena harga cabai sangat murah. Mereka membiarkan tanaman cabai kering di sawah, seperti terlihat di Desa Kedungtukang, Kecamatan Jatibarang dan di Kelurahan Padasugih, Kecamatan Brebes.

Warju (60), petani di Desa Kedungtukang, Kecamatan Jatibarang, Selasa (9/9), mengatakan, sejak sekitar 10 hari lalu, ia dan puluhan petani di desanya memilih tidak memanen cabai tersebut karena harga cabai di pasaran anjlok.

Harga cabai merah dan cabai rawit hijau turun dari Rp 12.000 menjadi Rp 2.000 per kilogram (kg). Harga cabai rawit merah juga turun dari Rp 25.000 menjadi Rp 5.000 per kg.

Tanaman cabai Warju seluas 2.000 meter persegi berusia sekitar 60 hari. Tanaman itu sudah dipanen lima kali dengan hasil sekitar 1- 1,5 kuintal sekali panen. Seharusnya ia masih bisa memanen dua atau tiga kali lagi. Namun, biaya panen cabai mahal. Sedikitnya, ia harus mengeluarkan Rp 150.000 untuk membayar enam buruh petik cabai. Ia juga harus mengeluarkan ongkos angkut ke pasar. "Kalau dipaksakan rugi," katanya.

Warju mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab anjloknya harga cabai. Diperkirakan, hal itu akibat banyaknya petani yang sedang panen.

Melimpahnya pasokan cabai di Brebes juga terlihat dari data Kantor Informasi dan Kehumasan Kabupaten Brebes. Hingga Agustus 2008, ketersediaan cabai merah di Brebes mencapai 15.166,8 ton. Sementara kebutuhan masyarakat hanya sekitar 4.020,2 ton sehingga ada kelebihan sekitar 11.146,6 ton.

(38)

Nusantara Medan | Jum'at, 12 Sep 2008

Pr og r a m Ke t a h a n a n Pa n g a n M a n fa a t k a n La h a n

Tidur

LAHAN tidur di desa Melati II, Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumate

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Andini (2017) yang menyatakan bahwa kualitas air berdasarkan parameter fisika sudah memenuhi per- syaratan kualitas air

3.2.5 Apabila Pemohon telah menerapkan dan mendapatkan sertifikat SMKP berdasarkan SNI ISO 22000 atau HACCP berdasarkan SNI CAC/RCP 1 dari lembaga sertifikasi

Program pembinaan cabang olahraga sofbol bisbol dikota Semarang, konsep pembinaan yang ada di klub-klub mengacu pada program pembinaan yang dicanangkan oleh pengcab

Selanjutnya dari wawancara tersebut terungkap pula beberapa fenomena yang terjadi berkaitan dengan masih kurangnya peran kepala sekolah sebagai inovator di SMP Negeri Kota

Tujuan dari penelitian ini adalah membangun sebuah sistem otentikasi pada sebuah perangkat yang dapat membedakan suara manusia yang satu dengan yang lain dan

155-164 Rumah Orang Huaulu, Pulau Seram Kabupaten Maluku Tengah memiliki beberapa aspek yang terkait dengan pola bangunan, bahan bangunan yang digunakan, serta

Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak terkait di kantor PPA Polres Kudus yang diwakili oleh Bapak Agus terhadap peradilan pidana terhadap anak pelaku tindak

Kesimpulan dari penelitian ini adalah prinsip-prinsip dasar birokrasi Max Weber yang mencakup standardisasi dan formalisasi, pembagian kerja dan spesialisasi,