Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Psikologi (S.Psi)
Fais Faizah B07212011
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI
FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
INTISARI
Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui gambaran serta faktor keharmonisan keluarga pasangan infertilitas, partisipan dalam penelitian ini adalah tiga pasangan suami istri yang belum punya anak lebih dari lima tahun usia pernikahan, metode yang digunakkan ialah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.
Hasil dari penelitian ini ditemukan gambaran bahwa pemilihan pasangan yang seagama itu sangat penting, cara menyelesaikan masalah dengan sikap saling mengalah dan terbuka, masih berharap memiliki keturunan serta keprasrahan jika memang belum bisa, perlakuan adil kepada mertua dan orang tua serta salah satu pasangan yang bersikap humoris untuk mencairkan suasana. Faktor-faktonya keharmonisan keluarga pasangan infertilitas ialah perhatian dan sikap menerima. Ditemukan hasil temuan lain yaitu semua subyek melakukan adopsi anak.
ABSTRACT
The purpose of this research is to know a harmonious family well as the couple infertility, participants in research is three a couple who do not have a more than five years length of marriage, the method qualitative is using phenomenology approach.
The result of this study found implies that the elections in faith is very important, how to fix a problem with a mutually given and open, still hope to have children and resigned if could not, fair treatment to in law and parents and one of a pair be humorist to the factors harmonious family is a pair of infertility attention and attitude received. Found findings that all other subjects do adoption children.
DAFTAR ISI
Halaman Judul ... i
Halaman Pengesahan ... ii
Halaman Pernyataan Keaslian ... iii
Kata Pengantar ... iv
Daftar Isi ... vi
Daftar Tabel ... viii
Daftar Lampiran ... ix
Intisari ... x
Abstract ... xi
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1
B.Fokus Penelitian ... 8
C.Tujuan Penelitian ... 8
D.Manfaat Kontribusi ... 8
E.Keaslian Penelitian ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Keharmonisan Keluarga ... 12
a. Pengertian Keluarga ... 12
b. Pengertian Keharmonisan Keluarga... 14
c. Aspek-Aspek Keharmonisan Keluarga ... 17
d. Faktor-Faktor Keharmonisan Keluarga ... 19
B.Pasangan Infertilitas ... 23
a.Pengertian Infertilitas ... 23
b.Pengertian Pasangan Infertilitas ... 24
c.Klasifikasi Infertilitas ... 25
d.Faktor Penyebab Infertilitas ... 26
e.Dampak Infertilitas ... 27
C.Perspektif Teoritis ... 28
BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian ... 31
B.Lokasi Penelitian ... 32
C.Sumber Data ... 33
D.Cara Pengumpulan Data ... 35
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Deskripsi Subjek ... 42
B.Hasil Penelitian ... 50
1. Deskripsi Hasil Temuan ... 50
2. Analisis Temuan Penelitian ... 73
C.Pembahasan ... 79
BAB V PENUTUP A.Simpulan ... 90
B.Saran ... 92
1. Panduan Wawancara . ... 96
2. Transkip Wawancara Subyek 1 Suami ... 99
3. Transkip Wawancara Subyek 1 Istri ... 105
4. Transkip Wawancara Subyek 2 Suami ... 114
5. Transkip Wawancara Subyek 2 Istri 119 6. Transkip Wawancara Subyek 3 Suami 127 7. Transkip Wawancara Subyek 3 Istri ... 130
8. Transkip Wawancara Informan 1 139
9. Transkip Wawancara Informan 2 143
10.Transkip Wawancara Informan 3 145
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keluarga adalah unit kelompok sosial terkecil dalam masyarakat.
Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memerlukan organisasi
tersendiri dan karena itu perlu ada kepala keluarga sebagai tokoh penting
yang mengemudikan perjalanan hidup keluarga yang diasuh dan
dibinanya. Karena keluarga sendiri terdiri dari beberapa orang, maka
terjadi interaksi antar pribadi, dan itu berpengaruh terhadap keadaan
harmonis dan tidak harmonisnya pada salah seorang anggota keluarga,
yang selanjutnya berpengaruh pula terhadap pribadi-pribadi lain dalam
keluarga (Gunarsa, 1995: 31). Keluarga bahagia adalah harapan dari
semua pasangan suami istri, karena kebahagiaan keluarga adalah syarat
terciptannya keharmonisan keluarga agar pasangan suami istri dapat
mengatasi berbagai masalah yang timbul didalam kehidupan pernikahan.
Keharmonisan keluarga (Basri, 1996: 111) dapat diartikan sebagai
keluarga yang rukun berbahagia, tertib, disiplin, saling menghargai, penuh
pemaaf, tolong menolong dalam kebajikan, memiliki etos kerja yang baik,
bertetangga dengan saling menghormati, taat mengerjakan ibadah,
berbakti pada yang lebih tua, mencintai ilmu pengetahuan dan
memanfaatkan waktu luang dengan hal yang positif dan mampu
Salah satu tujuan pernikahan ialah karena adannya keinginan memiliki
anak atau keturunan, salah satu dari faktor yang dapat mempengaruhi
keberhasilan sebuah pernikahan adalah hadirnya seorang anak dalam
sebuah keluarga, selain itu kehadiran anak dapat menjadi buah hati dan
tanda cinta dari pasangan suami istri, anak dianggap sebagai harapan,
impian masa depan, penerus generasi dan penyambung keturunan bagi
orang tua.
Erik Erikson (dalam Hawari, 1996: 398) mengemukakan bahwa tiada
rasa kedamaian dan kepuasan pada orang tua manakala tidak diperoleh
keturunan, tetapi pada kenyataanya tidak semua pernikahan dianugerahi
keturunan, beberapa pasangan suami istri mengalami kesulitan sehingga
walaupun bertahun-tahun menikah namun belum juga di karuniai anak.
Pasangan suami istri yang belum mendapatkan keturunan padahal
tidak menggunakan alat kontrasepsi, bisa jadi mengalami masalah
infertilitas. definisi infertilitas di dalam kamus JP. Chaplin (2011: 247)
ialah tidak punya keturunan (anak-cucu) atau memiliki anak keturunan
sedikit sekali. Infertilitas berasal dari faktor suami-istri, angka keduannya
sama besarnya yaitu 25 persen kelainan dari ibu, 25 persen kelainan dari
ayah, 50 persen adalah faktor keduannya, dan melakukan senggama
dengan cara yang kurang tepat mencapai 3 persen. (Bahiyatun, 2011: 127)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, masalah Infertilitas
merupakan masalah kesehatan paling serius ketiga, setelah kanker dan
Penelitian yang dilakukan oleh Mascarenhas, Flaxman, dkk. tahun 2012
setelah melakukan survey di 277 negara menunjukkan hasil bahwa angka
infertilitas pada pasangan suami istri meningkat dari 42,0 juta (39.6 juta,
44.8 juta) di tahun 1990 menjadi 48.5 juta (45.0 juta, 52.6 juta) pada tahun
2010.
Ketua Divisi Fertilitas Endokrin dan Repreduksi FK USU, Dr
Ichwanul Adenin SpOG(K) menjelaskan, perubahan pola demografi dalam
50 tahun terakhir mengakibatkan kejadian infertilitas di negara maju 5-8
persen dan negara berkembang sekitar 30 persen. WHO memperkirakan,
sekitar 8-10 persen atau sekitar 50-80 juta pasangan suami istri di seluruh
dunia, mengalami masalah infertilitas sehingga hal itu menjadi masalah
mendesak. (Tribun Medan.com, 2011)
Persentase perempuan di Amerika menikah usia 15-44 yang subur
turun dari 8,5 persen pada tahun 1982 (2,4 juta perempuan) menjadi 6,0
persen (1,5 juta) di 2006-2010. Sedangkan untuk pria sebesar 9,4 persen
dari pria berusia 15-44 dan 12 persen dari pria berusia 25-44 di 2006-2010
(Chandra, Copen. dkk, 2013), selain itu Terjadi kenaikan yang signifikan
angka infertilitas di Kanada, pasangan usia 18 sampai 44 tahun pada 25
tahun terakhir, angka infertilitas meningkat dari 5 persen pada tahun 1984,
menjadi 8,4 persen pada 1992 kemudian 13,7 persen pada 2010.
(Ottawacitizen.com, 2010)
infertilitas di Indonesia di antara 11-15 persen. Angka ini masih bisa
meningkat karena perubahan pola hidup masa kini. Faktor penyebab
infertilitas bisa berasal dari istri, suami, atau keduanya. Bahkan ada
kasus-kasus yang tidak terjelaskan, atau pasutri normal dan dokter spesialis tak
mampu menemukan penyebab utamanya, makin bertambah usia,
khususnya bagi perempuan, mengurangi kesuburan. (Ummi-online.com,
2013)
Dampak dari masalah infertilitas bagi pasangan suami-istri pada
akhirnya dapat mengganggu keharmonisan keluarga (Bahiyatun, 2011:
127), selain mengganggu keharmonisan keluarga, infertilitas juga dapat
menyebabkan masalah ekonomi maupun psikologis. Secara garis besar,
pasangan yang mengalami infertilitas akan menjalani proses panjang dari
pengobatan, dimana proses ini dapat menjadi beban fisik dan psikologis
bagi pasangan infertilitas (HIFERI, 2013: 5), kemudian Ketidakhadiran
seorang anak dalam rumah tangga tentu akan mempunyai konsekuensi
tersendiri, Gunarsa (2000: 35) menunjukkan keterkaitan perceraian dengan
faktor ketidakadaan anak dalam keluarga. Dikemukakan bahwa
pernikahan yang tidak dikaruniai anak tidak dapat dipertahankan lebih
lama.
Angka perceraian di Indonesia dianggap paling tinggi di Asia-Pasifik,
menurut BKKBN pada tahun 2013 lalu, rata-rata 1 dari 10 pasangan
menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan (www.bkkbn.go.id,
Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama
(Kemenag), kenaikan angka perceraian di Indonesia kian tak terbendung.
Pada 2010 hingga 2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di
antaranya bercerai. Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi
agama pada 2014 mencapai 382.231, meningkat sekitar 100.000 kasus
dibandingkan dengan pada 2010 sebanyak 251.208 kasus. (Majalah
Potensi Master, 2015: 11), untuk tahun 2015 perkara perceraian yang
masuk ke pengadilan agama berjumlah 352.070. (Catatan Tahunan
KOMNAS perempuan, 2016: 10).
Faktor-faktor yang melatarbelakangi tingkat perceraian yang begitu
tinggi di Indonesia, diantarannya perceraian tahun 2015 disebabkan oleh
tidak adanya tanggung jawab berjumlah 73.996 kasus, gangguan pihak
ketiga sebesar 21.474 kasus dan cacat biologis 802 kasus. (Catatan
Tahunan KOMNAS perempuan, 2016: 12). Selain itu data Pengadilan
Tinggi Agama Dapat disimpulkan dari beberapa fakta kasus perceraian
tersebut, cukup banyak gugatan perceraian yang dilakukan oleh pasangan
suami istri karena masalah cacat biologis atau bisa di sebut infertilitas.
Hal ini dapat membuktikan jika ketiadaan anak dapat menyebabkan
perceraian.
Kecamatan Taman yang terletak di kabupaten Sidoarjo pun mengalami
hal yang tidak jauh berbeda, data yang diperoleh dari Kantor urusan
Agama (KUA) menunjukkan perceraian terus meningkat dengan jumlah
perceraian tahun 2016. Tetapi hasil Observasi yang di lakukan peneliti
menunjukkan cukup banyak keluarga di kecamatan ini terutama di desa
Krembangan yang belum di karunia anak dan tetap bisa mempertahankan
kehidupan rumah tangga.
Dari pemaparan diatas dapat dipahami jika menjalani kehidupan rumah
tangga memang tidak semudah yang kita bayangkan, tidak sedikit keluarga
yang akhirnya tercerai berai tak tentu arah akibat masalah yang dihadapi.
Namun tidak sedikit juga keluarga yang tetap kokoh menjalani kehidupan
rumah tangga karena mampu menjaga keharmonisan keluarga.
Pemahaman terhadap keharmonisan keluarga sangat diperlukan karena
kebanyakan keluarga yang gagal adalah keluarga yang tidak memahami
akan pentingnya keharmonisan keluarga.
keharmonisan keluarga dalam perspektif Islam disebut sebagai
keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan
yang sah, mampu memenuhi hajat hidup lahir batin, spiritual dan materil
yang layak, mampu menciptakan suasana saling cinta, kasih sayang
(mawaddah wa rahmah), selaras, serasi dan seimbang serta mampu
menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, amal
saleh dan akhlak mulia dalam lingkungan keluarga dan masyarakat
lingkungannya, hal ini sesuai dengan ayat al-Qur’an dalam surat ar-Ruum
ayat 21 :
Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Ayat diatas menjelaskan menjelaskan jika Allah selalu
menciptakan rasa kasih dan sayang diantara keduannya, sehingga
pasangan suami istri bisa hidup dalam rumah tangga yang tenang dan
damai, begitu juga halnya pada pasangan yang belum memiliki keturunan,
perceraian bukanlah jalan terbaik karena banyak jalan lain menuju
kebahagiaan selain anak.
Dengan pemahaman yang baik akan pentingnya makna keharmonisan
keluarga yang dimiliki pasangan infertilitas sehingga tidak akan pernah
terjadi sebuah perceraian, hal ini dibuktikan oleh pernikahan yang
dilakukan oleh adik dari kakek peneliti yang menikah selama 40 tahun dan
dengan tidak adannya anak dalam keluarga mereka tidak mempengaruhi
keharmonisan keluarga sampai ajal menjemput sang suami. Hal serupa
juga dialami artis Indonesia Fera Feriska yang menikah dengan Al Fathir
Muchtar pada tahun 2006 (Tribunseleb.com), belum adanya anak di
dalam rumah tangga mereka tidak menggoyahkan keharmonisan keluarga
mereka sampai saat ini, kuncinya ialah komunikasi, saling jujur dan saling
mengalah.
mempertahankan keharmonisan keluarga, hal ini menjadi menarik
dikarenakan banyaknya fakta perceraian akibat tidak adannya keturunan
tapi mereka dapat bertahan untuk tetap menjaga keutuhan rumah
tangganya. Maka dari itu peneliti mengangkat judul “Keharmonisan
Keluarga Pasangan Infertilitas”.
B.Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh fokus penelitian antara lain :
1. Bagaimana gambaran keharmonisan keluarga infertilitas ?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan keharmonisan keluarga
infertilitas ?
C.Tujuan Penelitian
Dari fokus penelitian yang di paparkan, maka penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui dan memahami:
1. Gambaran keharmonisan keluarga infertilitas
2. Faktor yang menyebabkan keharmonisan keluarga infertilitas
D.Manfaat Kontribusi
1. Manfaat teoritis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan
dalam bidang psikologi yang terkait dengan psikologi keluarga.
2. Manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi refrensi
bagi masyarakat luas khususnya bagi pasangan suami istri agar
mengetahui gambaran keharmonisan keluarga walaupun belum
E.Keaslian Penelitian
Peneliti akan mengungkapkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang
relevan dengan penelitian yang akan dilakukan, baik di Indonesia maupun
di luar negeri, Penelitian pertama dilakukan oleh Ratnawati (tanpa tahun)
dengan tema “Keharmonisan keluarga antara suami istri ditinjau dari
kematangan emosi pada pernikahan usia dini”, menunjukkan bahwa ada
perbedaan kematangan emosi serta keharmonisan keluarga menurut suami
dan istri.
Penelitian kedua dilakukan oleh Hidayah (2007) dengan tema
“Identifikasi dan pengelolaan stres infertilitas”, menunjukkan hasil bahwa
masalah infertilitas merupakan masalah kependudukan yang perlu segera
ditangani. Menggunakan pendekatan mind-body connection, perlu dipilih
upaya pengelolaan stres yang tepat
Penelitian ketiga yang dilakkan oleh Utama dan Nurwidawati (2013)
dengan tema “Hubungan persepsi keharmonisan keluarga dan kepercayaan
diri dengan prestasi belajar siswa SMA Trimurti Surabaya”, menjelaskan
bahwa terdapat hubungan antara persepsi keharmonisan keluarga dan
kepercayaan diri dengan prestasi belajar.
Penelitian ke empat yang dilakukan oleh Nancy, Wismanto dan Hastuti
(2014), dengan tema “Hubungan nilai dalam perkawinan dan pemaafan
dengan keharmonisan keluarga”, simpulan dari penelitian tersebut bahwa
terdapat hubungan antara nilai dalam perkawinan, pemaafan dengan
Penelitian ke lima yang dilakukan Yunistiati, Djalali dan Farid (2014),
mengangkat tema “Keharmonisan keluarga, konsep diri dan interaksi
sosial remaja”, hasil dari penelitiannya ialah keharmonisan keluarga dan
konsep diri memiliki hubungan yang signifikan dengan interaksi sosial
remaja.
Penelitian keenam oleh Chuang (2005) dengan tema” Effects of
interaction pattern on family harmony and well-being: Test of
interpersonal theory, Relational-Models theory, and Confucian ethics”.
Simpulan dari penelitian ini ialah pola interaksi afektif memiliki kontribusi
dalam keharmonisan keluarga dan well-being.
Penelitian ke tujuh oleh Ceballo et al (2015) mengangkat tema” Silent
and Infertile: An Intersectional Analysis of the Experiences of
Socioeconomically Diverse African American Women With Infertility”.
Menjelaskan tentang pentingnya normalisasi klinis untuk perempuan
Afrika Amerika yang mengalami infertilitas agar mengurangi perasaan
malu dan isolasi yang dirasakan mereka.
Penelitian ke delapan oleh Bogdan dan Hoffman (2015) dengan tema
“The Relationship Among Infertility, Self-Compassion, and Well-Being for
Women With Primary or Secondary Infertility”. Menjelaskan bahwa self
compassion dan well-being pada perempuan yang mengalami infertilitas
sangatlah penting, hal ini menjauhkan mereka dari rasa isolasi dan rasa
Penelitian kesembilan oleh Ramos et al (2015) dengan tema” Does
infertility history affect the emotional adjustment of couples undergoing
assisted reproduction? the mediating role of the importance of
parenthood”, simpulan dari penelitian tersebut ialah cerita infertilitas
mempengaruhi penerapan emosi laki – laki dan perempuan.
Penelitian kesepuluh oleh Triantoro (2015) dengan tema “Are daily
spiritual experiences, self-esteem, and family harmony predictors of
cyberbullying among high school student. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat keharmonisan
keluarga dan pengalaman menjadi korban di antara pelaku dengan
non-pelaku.
Dari beberapa hasil penelitian di atas, baik yang berasal dari Indonesia
ataupun luar negeri memiliki persamaan yang muncul pada topik tentang
keharmonisan keluarga dan infertilitas. Penelitian yang akan dilakukan ini
berbeda dengan penelitian sebelumnya dikarenakan topik yang diangkat
peneliti ialah keharmonisan keluarga pada pasangan infertilitas kemudian
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Keharmonisan Keluarga a. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau
perkawinan atau menyediakan terselenggarannya fungsi-fungsi
instrumental mendasar dan fungsi-fingsi ekspresif keluarga bagi para
anggotannya yang berada dalam suatu jaringan. (Lestari, 2012: 6)
Keluarga merupakan sebuah institusi terkecil didalam masyarakat
yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang
tentram, aman, damai dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih
sayang diantara anggotanya. Suatu ikatan hidup yang didasarkan
karena terjadinya perkawinan, juga bisa disebabkan karena persusunan
atau muncul perilaku pengasuhan. (Mighwar, 2011: 73)
Menurut psikologi, keluarga bisa diartikan sebagai dua orang yang
berjanji hidup bersama yang memiliki komitmen atas dasar cinta,
menjalankan tugas dan fungsi yang sailng terkait karena sebuah ikatan
batin atau hubungan perkawinan yang kemudian melahirkan ikatan
sedarah. (Mufidah, 2013: 33)
Koerner dan Fitzpatrick (2004 dalam Lestari, 2013: 5)
1. Definisi struktural
Keluarga didefinisikan berdasarkan kehadiran atau ketidak
hadiran anggota keluarga, seprti orang tua, anak, dan kerabat
lainnya. Dalam perspektif ini dapat muncul pengertian tentang
keluarga sebagai asal usul (families of origin), keluarga sebagai
wahana melahirkan keturunan (families of procreation), dan
keluarga batih (extended family)
2. Definisi fungsional
Keluarga didefinisikan dengan penekanan pada terpenuhinya
tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-fungsi
tersebut mencakup perawatan, sosialisasi pada anak, dukungan
emosi dan materi, serta pemenuhan peran-peran. Memfokuskan
pada tugas-tugas yang dilakukan oleh keluarga.
3. Definisi transaksional
Keluarga sebagai kelompok yang mengembangkan keintiman
melalui perilaku-perilaku yang memunculkan identitas sebagai
keluarga, berupa ikatan emosi, pengalaman historis, maupun
cita-cita masa depan. Memfokuskan bagaimna keluarga
melaksanakan fungsinya.
Keluarga menurut Ahmadi (1991: 20) merupakan kelompok primer
yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah
dimana hubungan tersebut sedikit banyak belangsung lama untuk
menciptakan dan membesarkan anak-anak.
Selanjutnya Ahmadi (1991: 43) menambahkan bahwa ketiadaan
anak bukan berarti menggugurkan ikatan keluarga. Memang salah satu
faktor mengapa individu itu membentuk keluarga adalah
mengharapkan anak atau keturunan. Tetapi itu bukan satu-satunya
faktor yang menentukan. Disamping faktor mengharapkan keturunan
ada faktor-faktor lain mengapa individu membentuk keluarga antara
lain untuk memenuhi kebutuhan biologis atau kebutuhan seks,
memenuhi kebutuhan sosial, status, penghargaan dan sebagainya.
pembagian tugas misalnya, mendidik anak, mencari nafkah dan
sebagainya. serta demi hari tua kelak, yaitu pemeliharaan di hari tua.
Dapat disimpulkan jika pengertian keluarga ialah dua orang yang
berjanji dalam ikatan suatu pernikahan serta berkomitmen untuk selalu
bersama, di dalam hubungan ini diharapkan lahir generasi atau
keturunan.
b. Pengertian Keharmonisan Keluarga
Menurut Gunarsa (1994: 51), keharmonisan keluarga ialah
bilamana seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh
berkurangnya ketegangan, kekecewaan dan puas terhadap seluruh
keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri).
Qaimi berpendapat bahwa keluarga harmonis merupakan keluarga
dan kelangsungan generasi masyarakat, belas-kasih dan pengorbanan,
saling melengkapi, dan menyempurnakan, serta saling membantu dan
bekerja sama (Qaimi, 2002: 14), Selain itu, Drajat juga berpendapat
bahwa keluarga yang harmonis atau keluarga bahagia adalah apabila
kedua pasangan tersebut saling menghormati, saling menerima, saling
menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai. (Drajat, 1975:
9)
Keharmonisan keluarga adalah sesuatu yang bermakna dan
diusahakan untuk dicapai oleh mereka yang melakukan perkawinan
dan membentuk keluarga (Nancy, Wismanto & Hastuti, 2014).
Keharmonisan keluarga ialah ditandai dengan hubungan yang
bersatupadu, komunikasi terbuka dan kehangatan di antara anggota
keluarga. Semakin harmoni ada dalam keluarga, semakin positif
hubungan dan komunikasi diantara anggota keluarga. (Triantoro, 2015)
Keluarga harmonis hanya akan tercipta kalau kebahagiaan salah
satu anggota berkaitan dengan kebahagiaan anggota-anggota keluarga
lainnya. Secara psikologi dapat berarti dua hal (Sarwono, 1982: 2)
1. Terciptanya keinginan-keinginan, cita-cita dan harapan-harapan
dari semua anggota keluarga.
2. Sesedikit mungkin terjadi konflik dalam pribadi masing-masing
Dlori berpendapat keharmonisan keluarga adalah bentuk hubungan
yang dipenuhi oleh cinta dari kasih, karena kedua hal tersebut adalah
tali pengikat keharmonisan. (Dlori, 2005: 30-32)
Dalam perpektif Islam keharmonisan keluarga disebut dengan
keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan
yang sah, mampu memenuhi hajat hidup lahir batin, spiritual dan
materil yang layak, mampu menciptakan suasana saling cinta, kasih
sayang (mawaddah wa rahmah), selaras, serasi dan seimbang serta
mampu menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan,
ketakwaan, amal saleh dan akhlak mulia dalam lingkungan keluarga
dan masyarakat lingkungannya sesuai dengan nilai-nilai luhur
Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 serta selaras dengan ajaran
Islam (Subhan, 2004: 10), hal ini sesuai dengan ayat dalam al-Qur’an
surat ar-Ruum ayat 21 :
Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Disimpulkan bahwa keharmonisan keluarga merupakan hubungan
selain itu mereka dapat menciptakan suasana bahagia, tenang dan
tentram di dalam kehidupan pernikahan.
c. Aspek - Aspek Keharmonisan Keluarga
Aspek-aspek keharmonisan dalam keluarga menurut Sadarjoen (2005:
68) antara lain sebagai berikut:
a. Faktor keimanan keluarga
Faktor keimanan merupakan faktor penentu penting, yaitu penentu
tentang keyakinan atau agama yang akan di pilih oleh kedua
pasangan.
b. Continuous improvement .
Terkait dengan sejauh mana tingkat kepekaan perasaan antar
pasangan terhadap tantangan permasalahan pernikahan.
c. Kesepakatan tentang perencanaan jumlah anak.
Sepakat untuk menentukan berapa jumlah anak yang akan dimiliki
suatu pasangan yang baru menikah.
d. Kadar rasa bakti pasangan terhadap orang tua dan mertua
masing-masing.
Keadilan dalam memperlakukan kedua belah pihak : keluarga,
orang tua atau mertua beserta keluarga besarnya.
e. Sense of humour.
Menciptakan atau menghidupkan suasana ceria didalam keluarga
penuh keceriaan. Sikap adil antar pasangan terhadap kedua belah
pihak keluarga besar
Menurut Gunarsa (1994:50) ada banyak aspek dari keharmonisan
keluarga diantaranya adalah:
1. Kasih sayang antara keluarga.
Kasih sayang merupakan kebutuhan manusia yang hakiki, karena
sejak lahir manusia sudah membutuhkan kasih sayang dari sesama.
Dalam suatu keluarga yang memang mempunyai hubungan
emosianal antara satu dengan yang lainnya sudah semestinya kasih
sayang yang terjalin diantara mereka mengalir dengan baik dan
harmonis.
2. Saling pengertian sesama anggota keluarga.
Selain kasih sayang, pada umumnya para remaja sangat
mengharapkan pengertian dari orangtuanya. Dengan adanya saling
pengertian maka tidak akan terjadi pertengkaran-pertengkaran
antar sesama anggota keluarga.
3. Dialog atau komunikasi yang terjalin di dalam keluarga.
Komunikasi adalah cara yang ideal untuk mempererat hubungan
antara anggota keluarga. Dengan memanfaatkan waktu secara
efektif dan efisien untuk berkomunikasi dapat diketahui keinginan
dari masing-masing pihak dan setiap permasalahan dapat
terselesaikan dengan baik. Permasalahan yang dibicarakanpun
dengan teman, masalah kesulitan-kesulitan disekolah seperti
masalah dengan guru, pekerjaan rumah dan sebagainya.
4. Kerjasama antara anggota keluarga.
Kerjasama yang baik antara sesama anggota keluarga sangat
dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Saling membantu dan
gotong royong akan mendorong anak untuk bersifat toleransi jika
kelak bersosialisasi dalam masyarakat. Kurang kerjasama antara
keluarga membuat anak menjadi malas untuk belajar karena
dianggapnya tidak ada perhatian dari orangtua. Jadi orangtua harus
membimbing dan mengarahkan belajar anak.
d. Faktor-Faktor Keharmonisan Keluarga
Keluarga harmonis atau sejahtera merupakan tujuan penting.Oleh karena itu untuk menciptakan perlu diperhatikan faktor-faktor berikut:
1. Perhatian.
Yaitu menaruh hati pada seluruh anggota keluarga sebagai
dasarutama hubungan yang baik antar anggota keluarga. Baik
pada perkembangan keluarga dengan memperhatikan peristiwa
dalam keluarga, dan mencari sebab akibat permasalahan, juga
terdapat perubahan pada setiap anggotanya.
2. Pengetahuan.
Perlunya menambah pengetahuan tanpa henti-hentinya untuk
memperluas wawasan sangat dibutuhkan dalam menjalani
keluaranya, yaitu setiap perubahan dalam keluarga, dan
perubahan dalam anggota keluarganya, agar kejadian yang
kurang diinginkan kelak dapat diantisipasi.
3. Pengenalan
Terhadap semua anggota keluarga. Hal ini berarti pengenalan
terhadap diri sendiri dan pengenalan diri sendiri yang baik
penting untuk memupuk pengertian-pengertian. Bila pengenalan
diri sendiri telah tercapai maka akan lebih mudah menyoroti
semua kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam keluarga.
Masalah akan lebih mudah diatasi, karena banyaknya latar
belakang lebih cepat terungkap dan teratasi, pengertian yang
berkembang akibat pengetahuan tadi akan mengurangi kemelut
dalam keluarga.
4. Sikap menerima.
Langkah lanjutan dari sikap pengertian adalah sikap menerima,
yang berarti dengan segala kelemahan, kekurangan, dan
kelebihannya, ia seharusnya tetap mendapatkan tempat dalam
keluarga.Sikap ini akan menghasilkan suasana positif dan
berkembangnya kehangatan yang melandasi tumbuh suburnya
potensi dan minat dari anggota keluarga.
5. Peningkatan usaha.
Setelah menerima keluarga apa adanya maka perlu meningkatkan
keluarganya secara optimal, hal ini disesuaikan dengan setiap
kemampuamn masing-masing, tujuannya yaitu agar tercipta
perubahan-perubahan dan menghilangkan keadaan bosan.
Penyesuaian harus perlu mengikuti setiap perubahan baik dari
fisik orangtua maupun anak. (Gunarsa, 1986: 42-44)
Keluarga harmonis atau keluarga bahagia adalah apabila dalam
kehidupannya telah memperlihatkan faktor-faktor berikut:
1. Faktor kesejahteraan jiwa.
Yaitu rendahnya frekwensi pertengkaran dan percekcokan di
rumah, saling mengasihi, saling membutuhkan, saling
tolong-menolong antar sesama keluarga, kepuasan dalam pekerjaan dan
pelajaran masing-masing dan sebagainya yang merupakan
indikator-indikator dari adanya jiwa yang bahagia, sejahtera dan
sehat.
2. Faktor kesejahteraan fisik.
Serinnya anggota keluarga yang sakit, banyak pengeluaran untuk
kedokter, untuk obat-obatan, dan rumah sakit tentu akan
mengurangi dan menghambat tercapainya kesejahteraan
keluarga.
3. Faktor perimbangan antara pengeluaran dan pendapatan
keluarga. Kemampuan keluarga dalam merencanakan hidupnya
dapat menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran dalam
Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga menurut
pandangan Islam:
a. Berlandaskan ketauhidan
Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibangun di atas fondasi
ketauhidan yaitu dibangun semata-mata atas dasar keyakinan
kepada Allah SWT dan bukan berhala.
b. Bersih dari syirik
Syarat utama ketauhidan yaitu bebasnya dari syirik atau
mempersekutukan Allah SW'I'. Demikianlah suatu keluarga yang
sakinah harus bebas dari suasana syirik yang hanya akan
menyesatkan kehidupan keluarga.
c. Keluarga yang penuh dengan kegiatan ibadah
Ibadah merupakan kewajiban manusia sebagai hasil ciptaan
Tuhan. Oleh karena itu kegiatan ibadah baik dalam bentuk
hablum minallah maupun hablum minannas merupakan ciri
utama keluarga sakinah segala aspek perilaku kehidupannya
merupakan ibadah. (Surya, 2003: 401)
Kunci utama keharmonisan sebenarnya terletak pada kesepahaman
hidup suami dan istri. Karena kecilnya kesepahaman dan usaha untuk
saling memahami ini akan membuat keluarga menjadi rapuh. Makin
banyak perbedaan antara kedua belah pihak maka makin besar tuntutan
pengorbanan dari kedua belah pihak. Jika salah satunya tidak mau
tersebut telah melampaui batas atau kerelaannya maka keluarga tersebut
terancam. Maka fahamilah keadaan pasangan, baik kelebihan maupun
kekurangannya yang kecil hingga yang tebesar untuk mengerti sebagai
landasan dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Rencana kehidupan
yang dilakukan kedua belah pihak merupakan faktor yang sangat
berpengaruh karena dengan perencanaan ini keluarga bisa
mengantisiapsi hal yang akan datang dan terjadi saling membantu untuk
misi keluarga. (Sarwono, 1982: 79-82)
B. Pasangan Infertilitas a. Pengertian Infertilitas
Menurut WHO, infertilitas ialah ketidakmampuan untuk hamil atau
menjaga kehamilannya pada usia reproduktif (15-49 tahun) dalan kurun
waktu selama lima tahun. (WHO.com)
Departemen Kesehatan menyebutkan jika pengertian infertilitas
ialah dimana sel sperma dan sel telur gagal melakukan pembuahan,
Ketidakmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan setelah
melakukan hubungan seksual selama 1 tahun tanpa kontrasepsi. Namun
bila terdapat faktor risiko (istri berusia lebih dari 35 tahun, riwayat
infeksi dan menstruasi tidak teratur), maka sebaiknya penyelidikan
dimulai lebih awal. (DEPKES.com)
Infertilitas adalah ketidakmampuan wanita untuk hamil atau
ketidakmampuan untuk menjaga kehamilan sampai kelahiran hidup.
Dalam pandangan Islam, Infertilitas sudah disebutkan dalam
al-Qur’an surat Asy Syuura ayat 49-50 :
Artinya: kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan
anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia
menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian infertilitas ialah
ketidakmampuan untuk hamil selama usia pernikahan 5 tahun atau lebih
serta tanpa menggunakan alat kontrasepsi.
b. Pengertian Pasangan Infertilitas
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pasangan diartikan sebagai dua orang, laki-laki dan perempuan. kemudian pasangan
Infertilitas dapat definisikan sebagai pasangan yang sudah kawin
selama satu tahun dan belum ada tanda-tanda kehamilan atau
mempunyai keturunan tanpa metode keluarga berencana (KB).
(Bahiyatun, 2011 : 126)
Pasangan suami istri dikatakan mengalami infertilitas (Hawari,
pasangan tersebut tidak menggunakan kontrasepsi dan melakukan
hubungan intim secara teratur.
Perlu dipahami jika infertilitas bukan hanya ditujukkan kepada
wanita akibat ketidakmampuannya untuk melahirkan anak, tetapi juga
berlaku pada pria yang ditandai dengan ketidakmampuannya
memproduksi sel sperma dalam jumlah besar (kurang dari 60-200 juta
sel sperma per ejakulasi) dan akibat tersumbatnnya pembuluh
enjaculator sehingga sel sperma tidak bisa membenamkan diri ke leher
rahim. (Pieter & Lubis, 2010: 207)
c. Klasifikikasi Infertilitas
Klasifikasi Infertilitas menurut WHO, terbagi atas :
1. Infertilitas primer
yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun bersenggama
teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12
bulan berturut-turut.
2. Infertilitas sekunder
yaitu jika perempuan pernah hamil atau konsepsi, akan tetapi
kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun bersenggama teratur
dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan
3. Infertilitas secara umum
Ketidakmampuan istri untuk konsepsi, hamil, melahirkan bayi
hidup, atau ketidakmampuan suami menghamili istri. (Bahiyatun,
2011: 127)
d. Faktor Penyebab Infertilitas
Penyebab infertilitas (Cooper-Hilbert, 1998 dalam Rahmat &
Karyawati, 2013: 89) adalah karena menunda kelahiran anak,
meningkatnya insiden penyakit menular seksual (PMS), termasuk
klamidia dan gonore, penggunaan zat-zat seperti kafein, nikotin dan
alkohol, stres kronis, terlalu mementingkan pekerjaan serta gangguan
kesehatan lingkungan.
Sedangkan Peter dan Lubis (2010: 207) menyebutkan jika Faktor
infertilitas bisa berasal dari faktor fisik dan psikologis, faktor-faktor
fisik penyebab infertilitas diantarannya :
a. Kegagalan fungsi genekologis pada salah satu pasangan atau
keduannya.
b. Gangguan fungsi genekologis berkaitan dengan gangguan hormon
kehamilan.
c. Kegagalan reproduksi pria untuk memberikan sel-sel sperma
optimal.
Sementara untuk penyebab infertilitas berkaitan dengan faktor psikis
diantaranya ialah:
a. Dampak dari kompensasi ketakutan hamil, seperti rasa ketakutan
berhubungan dengan organ reproduksi wanita.
b. Ketakutan pembedahan, seperti persalinan.
c. Defence mechanism pada karir atau pekerjaan.
e. Dampak Infertilitas
Dampak infertilitas pada istri antara lain :
a. Kekecewaan yang dapat terjadi dari diri sendiri karena merasa tidak
dapat memberikan keturunan, walau sebenarnya istri hanya sebagai
tempat berkembangnya hasil pembuahan.
b. Kecemasan. Kondisi ini timbul ketika pernikahan sampai 1 tahun
tidak hamil.
c. Konflik. Kondisi pertentangan yang timbul pada kejiwaan istri yang
mulai mempertanyakan dirinnya dan kondisi suami yang dapat
memicu perpisahan pasturi.
d. Penurunan libido. Kondisi istri ketika mulai enggan untuk melakukan
aktivitas seks yang membuat kerenggangan secara psikologis.
(Bahiyatun, 2011: 127-128)
Dampak infertilitas pada suami diantaranya ialah :
a. Kekecewaan, rasa kecewa timbul sebagai dampak dari tidak
b. Kecemasan. Rasa cemas dapat tibul sebagai dampak infertilitas.
Suami akan cemas dengan kondisi istrinya yang belim hamil, merasa
takut kehilangan istri.
c. Konflik jiwa. Rasa pertentangan akan selalu muncul dalam diri suami,
apalagi bila suami sudah berusia tua yang menuntut kehamilan
istrinya lebih cepat.
d. Penolakkan, adalah ketika suami tidak lagi menerima istrinnya secara
utuh bahkan mungkin istrinnya merupakan beban dalam keluargan.
(Bahiyatun, 2011: 129-130)
Hawari (1996: 400) mengungkapkan dampak psikologis lainnya
bagi pasangan infertil ialah kemungkinan terjadi perceraian, atau bila
ternyata yang mandul itu istri maka ada alasan suami untuk menikah
lagi. Bagi pasangan infertil yang berbagai upaya tetap tidak
memperoleh keturunan, salah satu jalan keluarnya ialah mengadopsi
anak. Adopsi anak adalah guna untuk memenuhi naluri kebapakan dan
keibuan pada setiap diri.
C. Perspektif Teoritis
Menurut Gunarsa (1994: 51), keharmonisan keluarga ialah
bilamana seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh
berkurangnya ketegangan, kekecewaan dan puas terhadap seluruh
keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri). Dari
pengertian tersebut indikator keharmonisan keluarga adalah sebagai
a. Seluruh anggota keluarga bahagia
b. Meminimalisir ketegangan dan kekecewaan diantara pasangan
agar tercipta hubungan yang nyaman.
c. Merasa puas dengan keadaan dirinya dan pasangan.
Keharmonisan keluarga dapat berkurang bahkan hilang
dikarenakan oleh beberapa faktor, salah satunnya ialah masalah
infertilitas dikarenakan salah satu tujuan suatu pernikahan ialah ingin
memiliki anak atau keturunan. seperti yang diungkap oleh Gunarsa
(2000: 35) Dikemukakan bahwa pernikahan yang tidak dikaruniai anak
tidak dapat dipertahankan lebih lama. Hawari (1996: 400)
mengungkapkan hal yang sama jika dampak psikologis bagi pasangan
infertilitas ialah kemungkinan terjadi perceraian.
Menurut WHO, infertilitas ialah ketidakmampuan untuk hamil atau
menjaga kehamilannya pada usia reproduktif (15-49 tahun) dalan kurun
waktu selama lima tahun. Di Indonesia cukup banyak pasangan yang
mengalami masalah infertilitas, prosentase sekitar 11 sampai 15 %.
Infertilitas dapat berasal dari faktor suami-istri, angka keduannya sama
besarnya yaitu 25% kelainan dari ibu, 25% kelainan dari ayah, 50%
adalah faktor keduannya, dan melakukan senggama dengan cara yang
kurang tepat mencapai 3%. (Bahiyatun, 2011: 127)
Tidak mempunyai anak sangat beresiko terhadap gugatan
perceraian, akan tetapi tidak semua pasangan suami-istri memilih untuk
yang tetap bisa mempertahankan keharmonisan keluarga, maka dari itu
Pemahaman terhadap keharmonisan keluarga sangat diperlukan karena
kebanyakan keluarga yang gagal adalah keluarga yang tidak
menerapkan serta tidak memahami akan pentingnya keharmonisan
keluarga.
Keharmonisan keluarga memiliki beberapa aspek (Sadarjoen,
2005: 68) antara lain: Faktor keimanan keluarga, Continuous
improvement, Kesepakatan tentang perencanaan jumlah anak, Kadar
rasa bakti pasangan terhadap orang tua dan mertua masing-masing serta
Sense of humour. Sedangkan faktor dari keharmonisan keluarga ialah
Perhatian, Pengetahuan, Pengenalan, Sikap menerima, Peningkatan
usaha, Penyesuaian harus perlu mengikuti setiap perubahan baik dari
fisik orangtua maupun anak. (Gunarsa, 1986: 42-44)
Dari beberapa penjelasan diatas, maka dalam penelitian ini akan
berupaya mengungkap fenomena keharmonisan keluarga pada pasangan
yang mengalami infertilitas, sebagai upaya mengurangi angka
perceraian yang timbul karena faktor ketidakhadiran anak dalam
keluarga, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan
serta contoh bagi mereka yang berniat malakukan perceraian akibat
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Fokus dalam penelitian ini adalah Keharmonisan keluarga pasangan
infertilitas, untuk mendalami hal ini Penelitian menggunakan penelitian
kualitatif, Herdiansyah (2011: 9) mendefinisikan penelitian kualitatif
sebagai suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu
fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan memfokuskan
proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan
fenomena yang diteliti. Pada penelitian kualitatif fokus masalah penelitian
menuntut peneliti melakukan pengkajian secara sistematik, mendalam dan
bermakna sebagaimana ditegaskan oleh Burgess bahwa peniliti
memfokuskan diri pada permasalahan yang dikaji dan dipandu oleh
kerangka konseptual. (Danim & Darwis, 2003: 262)
Strategi yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah
fenomenologi, hal ini dikarenakan didalamnya peneliti berusaha
memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang
berada dalam situasi-situasi tertentu. (Moleong, 2009: 17), Menurut
Herdiansyah (2011: 66) dalam ilmu psikologi, model fenomenologi lebih
ditujukkan untuk mendapatkan kejelasan dari fenomena dalam situasi
natural yang dialami oleh individu. Dalam penelitian ini akan di kaji
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Taman, data yang diperoleh
dari Kantor urusan Agama (KUA) menunjukkan perceraian terus
meningkat di Kecamatan ini dengan jumlah 170 kasus di tahun 2015
kemudian sampai bulan april di tahun 2016 tercatat 74 kasus perceraian.
Tetapi hasil Observasi yang di lakukan peneliti menunjukkan cukup
banyak keluarga di kecamatan ini terutama di desa Krembangan yang
belum di karunia anak dan tetap bisa mempertahankan kehidupan rumah
tangga. Subjek penelitian ini ialah pasangan suami istri, wawancara
dilakukan di kediaman rumah subyek, untuk alamat lengkap subyek
dirahasiakan agar menjaga kesejahteraan subjek penelitian.
Tabel 1.
Waktu Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian menggunakan agenda jadwal di bawah ini :
No KEGIATAN 2016
Mei Juni Juli Agustus
1 Penyusunan Proposal
2 Penyusunan Instrumen
3 Seminar Proposal Dan
Instrumen Penelitian
4 Pengumpulan Data
5 Analisis Data
6 Pembuatan Draf Skripsi
7 Seminar Skripsi
[image:43.595.131.512.242.722.2]C. Sumber Data
Sumber data utama pada penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan
tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain
(Moleong, 2009: 157). Dalam penelitian ini sumber data di peroleh dari
sumber primer dan sekunder.
1. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data (Sugiyono, 2012: 225). berupa data catatan
hasil wawancara yang diperoleh oleh peneliti.
2. Sumber sekunder ialah sumber data yang tidak memberikan
informasi secara langsung kepada pengumpul data. (Sugiyono,
2012: 225). Data di gunakkan untuk mendukung informasi dari data
primer, salah satu bentuknya ialah berupa dokumen yang
dikumpulkan peneliti.
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini ialah
nonprobability yang memiliki pengertian teknik pengambilan sampel yang
tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi anggota populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel (Nawawi, 2012: 190). Sedangkan jenis
yang digunakkan ialah purposive sampling, dapat diartikan dengan
pemilihan subyek yang dilakukan berdasarkan kreteria spesifik yang
ditetapkan peneliti.
Subyek penelitian ini adalah pasangan suami istri yang belum perrnah
memilik anak setelah 5 tahun atau lebih usia pernikahan. Jumlah subyek 3
1. Pasangan suami istri yang telah menikah selama 5 tahun atau lebih
dengan usia 36-57 tahun.
2. Belum di karunia anak.
3. Bersedia untuk di wawancarai.
Untuk mengecek kebenaran hasil wawancara subyek, maka akan di
wawancara juga significant others, yang dimaksud peneliti ialah salah satu
saudara pasangan suami istri atau tetangga dekat dari pasangan yang
mengalami infertilitas.
Berdasarkan pada kreteria diatas maka yang dietapkan menjadi subyek
dalam penelitian ini adalah :
1. Suami yang berinisial SB yang berumur 57 tahun dan isrti ST
berumur 55 tahun, menikah selama 23 tahun, belum di karunia
anak sehingga klasifikasi infertilitas yang dialami ialah primer.
Significan other adalahtetangga dekat pasangan suami istri
2. Suami berinisial WA dengan umur 47 tahun, Istri ME berusia 37
tahun, menikah kurang lebih selama 13 tahun serta belum di karunia
anak, dengan klasifikasi infertilitas primer. Significant other adalah
tetangga dekat.
3. Suami dengan inisial IM dengan usia 40 tahun, istri DA usia 36
tahun, belum di karunia anak selama 10 tahun, klasifikasi infertilitas
D.Cara Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik
pengambilan data untuk mendapatkan data yang akurat. Beberapa tehnik
pengambilan data yang dimaksudkan adalah :
a. Wawancara. Percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu
dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan
pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu. (Moleong, 2009: 186). Dalam penelitian ini,
wawancara akan dilakukan menggunakan pedoman wawancara
yang telah dibuat oleh peneliti guna menggali lebih dalam agar
tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik.
b. Dokumentasi, cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis
terutama berupa arsip-arsip termasuk juga buku mengenai pendapat,
dalil yang berhubungan dengan masalah penyelidikan. (Nawawi,
2005: 133). Pada konteks penelitian ini dokumen yang di maksud
ialah buku nikah atau kartu keluarga dari subyek serta rekaman
audio saat wawancara.
E.Prosedur Analisis Dan Interpretasi Data
Analisis data kualitatif menurut Bogdan & Biklen (dalam Moelong,
2009: 248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,
mengorganisasikan data, memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat
dikelola, menemukan apa yang penting dan yang dipelajari dan
Teknik atau metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah induktif dengan menggunakan prosedur fenomenologis, Teknik
dipilih karena dapat membantu pemahaman tentang pemaknaan data yang
rumit melalui pengembangan tema-tema yang di peroleh dari data kasar .
(Moelong, 2009: 298).
Menurut Creswell (2013: 276), Prosedur analisis kualitatif dibagi dalam
enam langkah yaitu:
1. Mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis. Langkah ini
melibatkan transkripsi wawancara, mengetik data lapangan atau
memilah-milah dan menyusun data tersebut kedalam jenis-jenis data
yang berbeda tergantung pada sumber informasi.
2. Membaca keseluruhan data.
3. Menganalisis lebih detail dengan mengcoding data. Coding merupakan
proses mengolah materi atau informasi, langkah ini melibatkan
beberapa tahap: mengambil data tulisan atau gambar yang telah
dikumpulkan.
4. Terapkan proses coding untuk mendeskripsikan kategori serta tema
yang akan di analisis.
5. Deskripsi dan tema-tema ini akan disajikan kembli dalam
narasi/laporan kualitatif.
F.Keabsahan Data
Pada dasarnya penelitian kualitatif belum mempunyai teknik yang
baku dalam menganalisa data, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh
peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki
peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik
trianggulasi, menurut Moeloeng (2009: 330) pengertian trianggulasi ialah
teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain
diluar data untuk keperluan pengecekkan atau sebagai pembanding
terhadap data itu. Teknik trianggulasi yang banyak digunakkan ialah
pemeriksaan melalui sumber lainnya. Triangulasi mempunyai 3 macam
diantaranya ialah:
1. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek
balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui
waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan:
membandingkan data hasil pengamatan dan data hasil wawancara,
membandingkan yang dikatakan orang di depan umum dengan apa
yang dikatakan secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan
orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan
sepanjang waktu, membandingkan keadaan dan perspektif
seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti
berbeda, orang pemerintahan serta membandingkan hasil
wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.
2. Triangulasi dengan metode, terdapat dua strategi yaitu pengecekkan
drajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik
pengumpulan data serta pengecekan derajat kepercayaan beberapa
sumber dengan data yang sama. Dapat dilakukan dengan
menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk
mendapatkan data yang sama.
3. Triangulasi dengan teori, menurut Lincolin dan Guba (1981) bahwa
fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau
lebih teori. Triangulasi ini memanfaatkan dua teori atau lebih untuk
diadu atau dipadu. Untuk itu diperlukan rancangan penelitian
pengumpulan data dan analisis data yang lengkap. (Moleong, 2009:
330-331)
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber, dimana
hasil wawancara dari subyek akan dibandingkan dengan hasil pengamatan
atau observasi serta membandingkannya dengan hasil wawancara
significant other seperti tetangga dekat subyek.
Selain itu salah satu kelemahan dalam penelitian kualitatif yang sering
dipertanyakan ialah mengenai validasi hasil, bagaimana penelitian
kualitatif mendapatkan validasi yang tinggi sebagaimana hasil pengukuran
kuatitatif yang dapat di ukur dengan angka. Sekalipun demikian penelitian
menggunakan prosedur yang sistematis (Sarwono, 2006: 245). Validitas
kualitatif merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian
dengan menerapkan prosedur tertentu, sedangkan reliabilitas kualitatif
mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakkan peneliti konsisten
jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain untuk proyek-proyek yang
berbeda. (Creswell, 2009: 285)
Untuk meningkatkan validitas penelitian kualitatif dengan melakukan
hal-hal sebagai berikut :
a Memperluas harapan harapan awal: pelajari catatan-catatan pribadi
yang dibuat sejak awal penelitian dilakukan sehingga memunculkan
gagasan-gagasan, apakah sudah ada kesesuaian asumsi yang dibuat
dengan data-data yang sudah dikumpulkan.
b Memfokuskan dengan cara melihat sumber data yang lain :
menggunakan teknik triangulasi dan perbandingan dengan literatur
lain.
c Membuat kutipan ekstensif yang berasal dari catatan lapangan dan
hasil wawancara.
d Menggunakan data penelitian lainnya sebagai sumber pengecekan.
e Melakukan pengecekan dengan meminta anggota peneliti untuk
memeriksa hasil penelitian kita dengan melakukan review ulang
Sedangkan menurut creswell (2009: 286-287) ada 8 strategi validitas
yang disusun dari yang paling mudah hingga yang sulit diterapkan,
diantarannya:
1. Mentriangulasi sumber data yang berbeda dengan memeriksa
bukti-bukti yang berasal dari sumber tersebut.
2. Menerapkan member checking untuk mengetahui akurasi hasil
penelitian.
3. Membuat deskripsi yang kaya dan padat tentang hasil penelitian.
4. Mengklarifikasi bias yang mungkin dibawa peneliti ke dalam
penelitian.
5. Menyajikan informasi “yang berbeda” yang dapat memberikan
perlawanan pada tema tertentu.
6. Memanfaatkan waktu relatif lama di lapangan atau lokasi
penelitian.
7. Melakukan Tanya jawab dengan sesame rekan peneliti untuk
meningkatkan keakuratan penelitian.
8. Mengajak seorang auditor untuk mereview keseluruhan proyek
penelitian.
Di dalam penelitian ini guna untuk meningkatkan validitas, peneliti
memilih menggunakan metode triangulasi yang telah di jelaskan di atas.
Agar peneliti kualitatif mempunyai reliabilitas, maka sebaiknya
a Mendengarkan selama beberapa kali rekaman audio oleh orang
yang berbeda atau sama.
b Mempelajari transkip hasil rekaman berulang-ulang yang dilakukan
oleh orang yang sama atau berbeda
Gibbs (2007 dalam Creswell, 2009: 285) merinci sejumlah prosedur
reliabilitas sebagai berikut:
1. Cek hasil transkip untuk memastikan tidak adannya kesalahan yang
dibuat selama proses transkripsi.
2. Pastikan tidak ada definisi yang mengambang mengenai kode-kode
selama proses coding
3. Untuk penelitian berbentuk tim, diskusikanlah kode-kode bersama
partner satu tim.
4. Lakukan cross-check dan bandingkan kode-kode yang dibuat
peneliti lain dengan kode-kode yang telah anda buat sendiri.
Untuk meningkatkan reliabitas pada penelitian ini, peneliti akan
melakukan pengecekan hasil transkripsi serta memastikan tidak ada
definisi yang mengambang selama proses coding. Dengan cara tersebut
diharapkan peneliti dapat menemukan hal – hal yang paling utama yang
dicari, sekalipun demikian sesuai sifat dasarnya, yaitu kenyataan bersifat
dinamis sehingga sulit untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat konsisten.
Ciri penelitian kualitatif yang mempelajari realitas kehidupan secara utuh
tetap saja sulit untuk memotret kenyataan secara sempurna dan memang
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Subyek
Subyek dalam penelitian ini berjumlah tiga pasang suami istri yang
belum memiliki anak. Setiap pasang subyek memiliki significant other
untuk membantu mendukung data yang diperoleh peneliti dari hasil
wawancara dengan subyek. Ketiga pasangan suami istri tersebut bertempat
tinggal di kecamatan Taman Sepanjang.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dan observasi
di rumah subyek. Jarak rumah ketiga subyek tidak terlalu jauh karena
masih di kawasan satu desa yaitu desa Krembangan. Dalam proses
wawancara peneliti pun harus berhati-hati dengan setiap pertanyaan yang
diajukan supaya tidak menyinggung subyek yang berkaitan dengan belum
hadirnya anak kandung dalam rumah tangga mereka.
Dibawah ini akan diperoleh profil tiga subyek penelitian serta tiga
Signifancant other sebagai berikut:
1. Subyek pertama
a. Suami
Nama : SB
Tempat tanggal lahir : 31 Agustus 1959
Usia : 57 tahun
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan :Petugas kebersihan di Dinas Pertanian
Surabaya
Tanggal menikah : 29 Agustus 1992
Usia pernikahan : 23 tahun
SB adalah seorang suami yang menikah dengan istrinya saat ia
berusia 31 tahun, jarak antara suami dan istri ialah 2 tahun. Awal
mula pertemuan dengan istri karena SB dulu ngekos dekat dengan
rumah istrinya di Jemur Ngawinan Surabaya, SB sering melihat
istri sebagai seorang yang pekerja keras, dulu saat belum menikah
istri biasanya bangun jam setengah tiga pagi untuk kepasar
kemudian memasak nasi bungkus kemudian menjualnya di pabrik
daerah rumah sekitar saat itu. SB sangat merasa kasihan kepada
istrinya kala itu, ia memutuskan untuk menikah dengan istrinya
kemudian sang istri dilarang untuk berjualan, setelah menikahpun
mereka langsung tinggal terpisah dengan orang tua masing-masing
dengan cara ngekos sendiri serta selalu menabung agar bisa beli
rumah sendiri.
b. Istri
Nama : ST
Tempat tanggal lahir : 1 Januari 1961
Agama : Islam
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SD
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Tanggal menikah : 29 Agustus 1992
Usia pernikahan : 23 tahun
ST menikah saat usianya 29 tahun, ia memutuskan menerima
lamaran suaminya karena memang suka dan baginya sudah cukup
usianya untuk menikah. Sehari-hari pekerjaan ST ialah sebagai
rumah tangga, rumah diurus dengan sangat baik Nampak rumah
yang begitu bersih dan asri dengan banyak tanaman di depan
rumahnya. Sampai di usia pernikahan 23 tahun, pasangan SB dan
ST belum dikarunia anak.
2. Subyek kedua
a. Suami
Nama : WA
Tempat tanggal lahir : 20 Februari 1969
Usia : 47 tahun
Agama : Islam
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Sopir
Usia pernikahan : 13 tahun
WA bertemu pertama kali dengan istri ialah saat istri masih
sekolah duduk di bangku SMP, ia tidak menyangka akan berjodoh
dengan istrinya saat ini karena dulu istrinya sangat membenci
dirinya karena wajah dan fisiknya yang aneh, empat tahun
kemudian WA bertemu lagi dengan istri saat itu ia mulai
mendekati istri serta mulai main kerumahnya. Lama kelamaan hati
sang istri luluh menerima lamaran darinya, WA adalah seorang
pekerja keras, dulu ia pernah di PHK perusahaan Garuda food
tetapi ia tidak putus asa selalu mencari pekerjaan supaya bisa
menafkahi istrinya serta menabung untuk membangun rumahnya
sendiri.
b. Istri
Nama : ME
Tempat tanggal lahir : 1 Januari 1979
Usia : 37 tahun
Agama : Islam
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SMK
Pekerjaan : Penjaga toko alat listrik milik pribadi
Tanggal menikah : 3 januari 2003
ME saat menikah usianya 24 tahun kemudian jarak umur dengan
suaminya ialah 10 tahun, awal mula ME menuturkan jika dulu ia
sangat membenci suaminya karena suami yang kelihatan tua dan
kurus, tapi setelah empat tahun tidak bertemu kemudian
dipertemukan kembali, rasa ME berubah terhadap suaminya karena
ia melihat suaminya yang begitu berbakti kepada kedua orang
tuannya, ketika suami menerima gaji kemudian uang itu akan
diberikan semua kepada ibunnya. Hal ini yang membuat ME yakin
untuk menerima lamaran suami, selain itu ibu dan ayahnya juga
sangat merestui jika ME menikah dengan suaminya saat ini.
2. Subyek ketiga
a. Suami
Nama : AL
Tempat tanggal lahir : 5 April 1972
Usia : 44 Tahun
Agama : Islam
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Karyawan Pabrik
Tanggal menikah : 30 April 2006
AL adalah seorang karyawan pabrik dibagian Mesin, ia menikah
dengan istrinya stelah dikenalkan seseorang. Dulu AL pernah
tinggal di pondok pesantren Kediri. Ia memelajari ilmu agama,
selain itu AL dikenal sebagai seorang yang pendiam, tidak pernah
kasar dengan istrinnya.
b. Istri
Nama : DA
Tempat tanggal lahir : 11 Agustus 1979
Usia : 36 Tahun
Agama : Islam
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Penjaga toko sembako milik pribadi
Tanggal menikah : 30 April 2006
Usia pernikahan : 10 Tahun
DA berprofesi sebagai ibu rumah tangga, ia memutuskan
menikah dengan suaminya karena ia melihat sifat suami yang
begitu sabar, sopan. Setelah usia pernikahan 10 tahun berjalan
suami tidak pernah keras padannya, suamnnya selalu menasehati
3. Informan subyek pertama
Nama : NY
Tempat tanggal lahir : 19 Juli 1962
Usia : 54 tahun
Agama : Islam
Warganrgara : Indonesia
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : ibu rumah tangga