• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEHARMONISAN KELUARGA PASANGAN INFERTILITAS.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEHARMONISAN KELUARGA PASANGAN INFERTILITAS."

Copied!
106
0
0

Teks penuh

(1)

Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam Menyelesaikan Program Strata Satu (S1) Psikologi (S.Psi)

Fais Faizah B07212011

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

INTISARI

Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui gambaran serta faktor keharmonisan keluarga pasangan infertilitas, partisipan dalam penelitian ini adalah tiga pasangan suami istri yang belum punya anak lebih dari lima tahun usia pernikahan, metode yang digunakkan ialah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi.

Hasil dari penelitian ini ditemukan gambaran bahwa pemilihan pasangan yang seagama itu sangat penting, cara menyelesaikan masalah dengan sikap saling mengalah dan terbuka, masih berharap memiliki keturunan serta keprasrahan jika memang belum bisa, perlakuan adil kepada mertua dan orang tua serta salah satu pasangan yang bersikap humoris untuk mencairkan suasana. Faktor-faktonya keharmonisan keluarga pasangan infertilitas ialah perhatian dan sikap menerima. Ditemukan hasil temuan lain yaitu semua subyek melakukan adopsi anak.

(7)

ABSTRACT

The purpose of this research is to know a harmonious family well as the couple infertility, participants in research is three a couple who do not have a more than five years length of marriage, the method qualitative is using phenomenology approach.

The result of this study found implies that the elections in faith is very important, how to fix a problem with a mutually given and open, still hope to have children and resigned if could not, fair treatment to in law and parents and one of a pair be humorist to the factors harmonious family is a pair of infertility attention and attitude received. Found findings that all other subjects do adoption children.

(8)

DAFTAR ISI

Halaman Judul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Halaman Pernyataan Keaslian ... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... vi

Daftar Tabel ... viii

Daftar Lampiran ... ix

Intisari ... x

Abstract ... xi

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang ... 1

B.Fokus Penelitian ... 8

C.Tujuan Penelitian ... 8

D.Manfaat Kontribusi ... 8

E.Keaslian Penelitian ... 9

BAB II KAJIAN PUSTAKA A.Keharmonisan Keluarga ... 12

a. Pengertian Keluarga ... 12

b. Pengertian Keharmonisan Keluarga... 14

c. Aspek-Aspek Keharmonisan Keluarga ... 17

d. Faktor-Faktor Keharmonisan Keluarga ... 19

B.Pasangan Infertilitas ... 23

a.Pengertian Infertilitas ... 23

b.Pengertian Pasangan Infertilitas ... 24

c.Klasifikasi Infertilitas ... 25

d.Faktor Penyebab Infertilitas ... 26

e.Dampak Infertilitas ... 27

C.Perspektif Teoritis ... 28

BAB III METODE PENELITIAN A.Jenis Penelitian ... 31

B.Lokasi Penelitian ... 32

C.Sumber Data ... 33

D.Cara Pengumpulan Data ... 35

(9)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Deskripsi Subjek ... 42

B.Hasil Penelitian ... 50

1. Deskripsi Hasil Temuan ... 50

2. Analisis Temuan Penelitian ... 73

C.Pembahasan ... 79

BAB V PENUTUP A.Simpulan ... 90

B.Saran ... 92

(10)
[image:10.612.141.506.210.509.2]
(11)

1. Panduan Wawancara . ... 96

2. Transkip Wawancara Subyek 1 Suami ... 99

3. Transkip Wawancara Subyek 1 Istri ... 105

4. Transkip Wawancara Subyek 2 Suami ... 114

5. Transkip Wawancara Subyek 2 Istri 119 6. Transkip Wawancara Subyek 3 Suami 127 7. Transkip Wawancara Subyek 3 Istri ... 130

8. Transkip Wawancara Informan 1 139

9. Transkip Wawancara Informan 2 143

10.Transkip Wawancara Informan 3 145

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga adalah unit kelompok sosial terkecil dalam masyarakat.

Sebagai unit terkecil dalam masyarakat, keluarga memerlukan organisasi

tersendiri dan karena itu perlu ada kepala keluarga sebagai tokoh penting

yang mengemudikan perjalanan hidup keluarga yang diasuh dan

dibinanya. Karena keluarga sendiri terdiri dari beberapa orang, maka

terjadi interaksi antar pribadi, dan itu berpengaruh terhadap keadaan

harmonis dan tidak harmonisnya pada salah seorang anggota keluarga,

yang selanjutnya berpengaruh pula terhadap pribadi-pribadi lain dalam

keluarga (Gunarsa, 1995: 31). Keluarga bahagia adalah harapan dari

semua pasangan suami istri, karena kebahagiaan keluarga adalah syarat

terciptannya keharmonisan keluarga agar pasangan suami istri dapat

mengatasi berbagai masalah yang timbul didalam kehidupan pernikahan.

Keharmonisan keluarga (Basri, 1996: 111) dapat diartikan sebagai

keluarga yang rukun berbahagia, tertib, disiplin, saling menghargai, penuh

pemaaf, tolong menolong dalam kebajikan, memiliki etos kerja yang baik,

bertetangga dengan saling menghormati, taat mengerjakan ibadah,

berbakti pada yang lebih tua, mencintai ilmu pengetahuan dan

memanfaatkan waktu luang dengan hal yang positif dan mampu

(13)

Salah satu tujuan pernikahan ialah karena adannya keinginan memiliki

anak atau keturunan, salah satu dari faktor yang dapat mempengaruhi

keberhasilan sebuah pernikahan adalah hadirnya seorang anak dalam

sebuah keluarga, selain itu kehadiran anak dapat menjadi buah hati dan

tanda cinta dari pasangan suami istri, anak dianggap sebagai harapan,

impian masa depan, penerus generasi dan penyambung keturunan bagi

orang tua.

Erik Erikson (dalam Hawari, 1996: 398) mengemukakan bahwa tiada

rasa kedamaian dan kepuasan pada orang tua manakala tidak diperoleh

keturunan, tetapi pada kenyataanya tidak semua pernikahan dianugerahi

keturunan, beberapa pasangan suami istri mengalami kesulitan sehingga

walaupun bertahun-tahun menikah namun belum juga di karuniai anak.

Pasangan suami istri yang belum mendapatkan keturunan padahal

tidak menggunakan alat kontrasepsi, bisa jadi mengalami masalah

infertilitas. definisi infertilitas di dalam kamus JP. Chaplin (2011: 247)

ialah tidak punya keturunan (anak-cucu) atau memiliki anak keturunan

sedikit sekali. Infertilitas berasal dari faktor suami-istri, angka keduannya

sama besarnya yaitu 25 persen kelainan dari ibu, 25 persen kelainan dari

ayah, 50 persen adalah faktor keduannya, dan melakukan senggama

dengan cara yang kurang tepat mencapai 3 persen. (Bahiyatun, 2011: 127)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, masalah Infertilitas

merupakan masalah kesehatan paling serius ketiga, setelah kanker dan

(14)

Penelitian yang dilakukan oleh Mascarenhas, Flaxman, dkk. tahun 2012

setelah melakukan survey di 277 negara menunjukkan hasil bahwa angka

infertilitas pada pasangan suami istri meningkat dari 42,0 juta (39.6 juta,

44.8 juta) di tahun 1990 menjadi 48.5 juta (45.0 juta, 52.6 juta) pada tahun

2010.

Ketua Divisi Fertilitas Endokrin dan Repreduksi FK USU, Dr

Ichwanul Adenin SpOG(K) menjelaskan, perubahan pola demografi dalam

50 tahun terakhir mengakibatkan kejadian infertilitas di negara maju 5-8

persen dan negara berkembang sekitar 30 persen. WHO memperkirakan,

sekitar 8-10 persen atau sekitar 50-80 juta pasangan suami istri di seluruh

dunia, mengalami masalah infertilitas sehingga hal itu menjadi masalah

mendesak. (Tribun Medan.com, 2011)

Persentase perempuan di Amerika menikah usia 15-44 yang subur

turun dari 8,5 persen pada tahun 1982 (2,4 juta perempuan) menjadi 6,0

persen (1,5 juta) di 2006-2010. Sedangkan untuk pria sebesar 9,4 persen

dari pria berusia 15-44 dan 12 persen dari pria berusia 25-44 di 2006-2010

(Chandra, Copen. dkk, 2013), selain itu Terjadi kenaikan yang signifikan

angka infertilitas di Kanada, pasangan usia 18 sampai 44 tahun pada 25

tahun terakhir, angka infertilitas meningkat dari 5 persen pada tahun 1984,

menjadi 8,4 persen pada 1992 kemudian 13,7 persen pada 2010.

(Ottawacitizen.com, 2010)

(15)

infertilitas di Indonesia di antara 11-15 persen. Angka ini masih bisa

meningkat karena perubahan pola hidup masa kini. Faktor penyebab

infertilitas bisa berasal dari istri, suami, atau keduanya. Bahkan ada

kasus-kasus yang tidak terjelaskan, atau pasutri normal dan dokter spesialis tak

mampu menemukan penyebab utamanya, makin bertambah usia,

khususnya bagi perempuan, mengurangi kesuburan. (Ummi-online.com,

2013)

Dampak dari masalah infertilitas bagi pasangan suami-istri pada

akhirnya dapat mengganggu keharmonisan keluarga (Bahiyatun, 2011:

127), selain mengganggu keharmonisan keluarga, infertilitas juga dapat

menyebabkan masalah ekonomi maupun psikologis. Secara garis besar,

pasangan yang mengalami infertilitas akan menjalani proses panjang dari

pengobatan, dimana proses ini dapat menjadi beban fisik dan psikologis

bagi pasangan infertilitas (HIFERI, 2013: 5), kemudian Ketidakhadiran

seorang anak dalam rumah tangga tentu akan mempunyai konsekuensi

tersendiri, Gunarsa (2000: 35) menunjukkan keterkaitan perceraian dengan

faktor ketidakadaan anak dalam keluarga. Dikemukakan bahwa

pernikahan yang tidak dikaruniai anak tidak dapat dipertahankan lebih

lama.

Angka perceraian di Indonesia dianggap paling tinggi di Asia-Pasifik,

menurut BKKBN pada tahun 2013 lalu, rata-rata 1 dari 10 pasangan

menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan (www.bkkbn.go.id,

(16)

Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama

(Kemenag), kenaikan angka perceraian di Indonesia kian tak terbendung.

Pada 2010 hingga 2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di

antaranya bercerai. Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi

agama pada 2014 mencapai 382.231, meningkat sekitar 100.000 kasus

dibandingkan dengan pada 2010 sebanyak 251.208 kasus. (Majalah

Potensi Master, 2015: 11), untuk tahun 2015 perkara perceraian yang

masuk ke pengadilan agama berjumlah 352.070. (Catatan Tahunan

KOMNAS perempuan, 2016: 10).

Faktor-faktor yang melatarbelakangi tingkat perceraian yang begitu

tinggi di Indonesia, diantarannya perceraian tahun 2015 disebabkan oleh

tidak adanya tanggung jawab berjumlah 73.996 kasus, gangguan pihak

ketiga sebesar 21.474 kasus dan cacat biologis 802 kasus. (Catatan

Tahunan KOMNAS perempuan, 2016: 12). Selain itu data Pengadilan

Tinggi Agama Dapat disimpulkan dari beberapa fakta kasus perceraian

tersebut, cukup banyak gugatan perceraian yang dilakukan oleh pasangan

suami istri karena masalah cacat biologis atau bisa di sebut infertilitas.

Hal ini dapat membuktikan jika ketiadaan anak dapat menyebabkan

perceraian.

Kecamatan Taman yang terletak di kabupaten Sidoarjo pun mengalami

hal yang tidak jauh berbeda, data yang diperoleh dari Kantor urusan

Agama (KUA) menunjukkan perceraian terus meningkat dengan jumlah

(17)

perceraian tahun 2016. Tetapi hasil Observasi yang di lakukan peneliti

menunjukkan cukup banyak keluarga di kecamatan ini terutama di desa

Krembangan yang belum di karunia anak dan tetap bisa mempertahankan

kehidupan rumah tangga.

Dari pemaparan diatas dapat dipahami jika menjalani kehidupan rumah

tangga memang tidak semudah yang kita bayangkan, tidak sedikit keluarga

yang akhirnya tercerai berai tak tentu arah akibat masalah yang dihadapi.

Namun tidak sedikit juga keluarga yang tetap kokoh menjalani kehidupan

rumah tangga karena mampu menjaga keharmonisan keluarga.

Pemahaman terhadap keharmonisan keluarga sangat diperlukan karena

kebanyakan keluarga yang gagal adalah keluarga yang tidak memahami

akan pentingnya keharmonisan keluarga.

keharmonisan keluarga dalam perspektif Islam disebut sebagai

keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan

yang sah, mampu memenuhi hajat hidup lahir batin, spiritual dan materil

yang layak, mampu menciptakan suasana saling cinta, kasih sayang

(mawaddah wa rahmah), selaras, serasi dan seimbang serta mampu

menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, amal

saleh dan akhlak mulia dalam lingkungan keluarga dan masyarakat

lingkungannya, hal ini sesuai dengan ayat al-Qur’an dalam surat ar-Ruum

ayat 21 :

(18)

Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Ayat diatas menjelaskan menjelaskan jika Allah selalu

menciptakan rasa kasih dan sayang diantara keduannya, sehingga

pasangan suami istri bisa hidup dalam rumah tangga yang tenang dan

damai, begitu juga halnya pada pasangan yang belum memiliki keturunan,

perceraian bukanlah jalan terbaik karena banyak jalan lain menuju

kebahagiaan selain anak.

Dengan pemahaman yang baik akan pentingnya makna keharmonisan

keluarga yang dimiliki pasangan infertilitas sehingga tidak akan pernah

terjadi sebuah perceraian, hal ini dibuktikan oleh pernikahan yang

dilakukan oleh adik dari kakek peneliti yang menikah selama 40 tahun dan

dengan tidak adannya anak dalam keluarga mereka tidak mempengaruhi

keharmonisan keluarga sampai ajal menjemput sang suami. Hal serupa

juga dialami artis Indonesia Fera Feriska yang menikah dengan Al Fathir

Muchtar pada tahun 2006 (Tribunseleb.com), belum adanya anak di

dalam rumah tangga mereka tidak menggoyahkan keharmonisan keluarga

mereka sampai saat ini, kuncinya ialah komunikasi, saling jujur dan saling

mengalah.

(19)

mempertahankan keharmonisan keluarga, hal ini menjadi menarik

dikarenakan banyaknya fakta perceraian akibat tidak adannya keturunan

tapi mereka dapat bertahan untuk tetap menjaga keutuhan rumah

tangganya. Maka dari itu peneliti mengangkat judul “Keharmonisan

Keluarga Pasangan Infertilitas”.

B.Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas diperoleh fokus penelitian antara lain :

1. Bagaimana gambaran keharmonisan keluarga infertilitas ?

2. Faktor apa saja yang menyebabkan keharmonisan keluarga

infertilitas ?

C.Tujuan Penelitian

Dari fokus penelitian yang di paparkan, maka penelitian ini bertujuan

untuk mengetahui dan memahami:

1. Gambaran keharmonisan keluarga infertilitas

2. Faktor yang menyebabkan keharmonisan keluarga infertilitas

D.Manfaat Kontribusi

1. Manfaat teoritis, yaitu hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan

dalam bidang psikologi yang terkait dengan psikologi keluarga.

2. Manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi refrensi

bagi masyarakat luas khususnya bagi pasangan suami istri agar

mengetahui gambaran keharmonisan keluarga walaupun belum

(20)

E.Keaslian Penelitian

Peneliti akan mengungkapkan hasil-hasil penelitian terdahulu yang

relevan dengan penelitian yang akan dilakukan, baik di Indonesia maupun

di luar negeri, Penelitian pertama dilakukan oleh Ratnawati (tanpa tahun)

dengan tema “Keharmonisan keluarga antara suami istri ditinjau dari

kematangan emosi pada pernikahan usia dini”, menunjukkan bahwa ada

perbedaan kematangan emosi serta keharmonisan keluarga menurut suami

dan istri.

Penelitian kedua dilakukan oleh Hidayah (2007) dengan tema

“Identifikasi dan pengelolaan stres infertilitas”, menunjukkan hasil bahwa

masalah infertilitas merupakan masalah kependudukan yang perlu segera

ditangani. Menggunakan pendekatan mind-body connection, perlu dipilih

upaya pengelolaan stres yang tepat

Penelitian ketiga yang dilakkan oleh Utama dan Nurwidawati (2013)

dengan tema “Hubungan persepsi keharmonisan keluarga dan kepercayaan

diri dengan prestasi belajar siswa SMA Trimurti Surabaya”, menjelaskan

bahwa terdapat hubungan antara persepsi keharmonisan keluarga dan

kepercayaan diri dengan prestasi belajar.

Penelitian ke empat yang dilakukan oleh Nancy, Wismanto dan Hastuti

(2014), dengan tema “Hubungan nilai dalam perkawinan dan pemaafan

dengan keharmonisan keluarga”, simpulan dari penelitian tersebut bahwa

terdapat hubungan antara nilai dalam perkawinan, pemaafan dengan

(21)

Penelitian ke lima yang dilakukan Yunistiati, Djalali dan Farid (2014),

mengangkat tema “Keharmonisan keluarga, konsep diri dan interaksi

sosial remaja”, hasil dari penelitiannya ialah keharmonisan keluarga dan

konsep diri memiliki hubungan yang signifikan dengan interaksi sosial

remaja.

Penelitian keenam oleh Chuang (2005) dengan tema” Effects of

interaction pattern on family harmony and well-being: Test of

interpersonal theory, Relational-Models theory, and Confucian ethics”.

Simpulan dari penelitian ini ialah pola interaksi afektif memiliki kontribusi

dalam keharmonisan keluarga dan well-being.

Penelitian ke tujuh oleh Ceballo et al (2015) mengangkat tema” Silent

and Infertile: An Intersectional Analysis of the Experiences of

Socioeconomically Diverse African American Women With Infertility”.

Menjelaskan tentang pentingnya normalisasi klinis untuk perempuan

Afrika Amerika yang mengalami infertilitas agar mengurangi perasaan

malu dan isolasi yang dirasakan mereka.

Penelitian ke delapan oleh Bogdan dan Hoffman (2015) dengan tema

The Relationship Among Infertility, Self-Compassion, and Well-Being for

Women With Primary or Secondary Infertility”. Menjelaskan bahwa self

compassion dan well-being pada perempuan yang mengalami infertilitas

sangatlah penting, hal ini menjauhkan mereka dari rasa isolasi dan rasa

(22)

Penelitian kesembilan oleh Ramos et al (2015) dengan tema” Does

infertility history affect the emotional adjustment of couples undergoing

assisted reproduction? the mediating role of the importance of

parenthood”, simpulan dari penelitian tersebut ialah cerita infertilitas

mempengaruhi penerapan emosi laki – laki dan perempuan.

Penelitian kesepuluh oleh Triantoro (2015) dengan tema “Are daily

spiritual experiences, self-esteem, and family harmony predictors of

cyberbullying among high school student. Hasil penelitian menunjukkan

bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam tingkat keharmonisan

keluarga dan pengalaman menjadi korban di antara pelaku dengan

non-pelaku.

Dari beberapa hasil penelitian di atas, baik yang berasal dari Indonesia

ataupun luar negeri memiliki persamaan yang muncul pada topik tentang

keharmonisan keluarga dan infertilitas. Penelitian yang akan dilakukan ini

berbeda dengan penelitian sebelumnya dikarenakan topik yang diangkat

peneliti ialah keharmonisan keluarga pada pasangan infertilitas kemudian

(23)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Keharmonisan Keluarga a. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau

perkawinan atau menyediakan terselenggarannya fungsi-fungsi

instrumental mendasar dan fungsi-fingsi ekspresif keluarga bagi para

anggotannya yang berada dalam suatu jaringan. (Lestari, 2012: 6)

Keluarga merupakan sebuah institusi terkecil didalam masyarakat

yang berfungsi sebagai wahana untuk mewujudkan kehidupan yang

tentram, aman, damai dan sejahtera dalam suasana cinta dan kasih

sayang diantara anggotanya. Suatu ikatan hidup yang didasarkan

karena terjadinya perkawinan, juga bisa disebabkan karena persusunan

atau muncul perilaku pengasuhan. (Mighwar, 2011: 73)

Menurut psikologi, keluarga bisa diartikan sebagai dua orang yang

berjanji hidup bersama yang memiliki komitmen atas dasar cinta,

menjalankan tugas dan fungsi yang sailng terkait karena sebuah ikatan

batin atau hubungan perkawinan yang kemudian melahirkan ikatan

sedarah. (Mufidah, 2013: 33)

Koerner dan Fitzpatrick (2004 dalam Lestari, 2013: 5)

(24)

1. Definisi struktural

Keluarga didefinisikan berdasarkan kehadiran atau ketidak

hadiran anggota keluarga, seprti orang tua, anak, dan kerabat

lainnya. Dalam perspektif ini dapat muncul pengertian tentang

keluarga sebagai asal usul (families of origin), keluarga sebagai

wahana melahirkan keturunan (families of procreation), dan

keluarga batih (extended family)

2. Definisi fungsional

Keluarga didefinisikan dengan penekanan pada terpenuhinya

tugas-tugas dan fungsi-fungsi psikososial. Fungsi-fungsi

tersebut mencakup perawatan, sosialisasi pada anak, dukungan

emosi dan materi, serta pemenuhan peran-peran. Memfokuskan

pada tugas-tugas yang dilakukan oleh keluarga.

3. Definisi transaksional

Keluarga sebagai kelompok yang mengembangkan keintiman

melalui perilaku-perilaku yang memunculkan identitas sebagai

keluarga, berupa ikatan emosi, pengalaman historis, maupun

cita-cita masa depan. Memfokuskan bagaimna keluarga

melaksanakan fungsinya.

Keluarga menurut Ahmadi (1991: 20) merupakan kelompok primer

yang paling penting di dalam masyarakat. Keluarga merupakan sebuah

(25)

dimana hubungan tersebut sedikit banyak belangsung lama untuk

menciptakan dan membesarkan anak-anak.

Selanjutnya Ahmadi (1991: 43) menambahkan bahwa ketiadaan

anak bukan berarti menggugurkan ikatan keluarga. Memang salah satu

faktor mengapa individu itu membentuk keluarga adalah

mengharapkan anak atau keturunan. Tetapi itu bukan satu-satunya

faktor yang menentukan. Disamping faktor mengharapkan keturunan

ada faktor-faktor lain mengapa individu membentuk keluarga antara

lain untuk memenuhi kebutuhan biologis atau kebutuhan seks,

memenuhi kebutuhan sosial, status, penghargaan dan sebagainya.

pembagian tugas misalnya, mendidik anak, mencari nafkah dan

sebagainya. serta demi hari tua kelak, yaitu pemeliharaan di hari tua.

Dapat disimpulkan jika pengertian keluarga ialah dua orang yang

berjanji dalam ikatan suatu pernikahan serta berkomitmen untuk selalu

bersama, di dalam hubungan ini diharapkan lahir generasi atau

keturunan.

b. Pengertian Keharmonisan Keluarga

Menurut Gunarsa (1994: 51), keharmonisan keluarga ialah

bilamana seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh

berkurangnya ketegangan, kekecewaan dan puas terhadap seluruh

keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri).

Qaimi berpendapat bahwa keluarga harmonis merupakan keluarga

(26)

dan kelangsungan generasi masyarakat, belas-kasih dan pengorbanan,

saling melengkapi, dan menyempurnakan, serta saling membantu dan

bekerja sama (Qaimi, 2002: 14), Selain itu, Drajat juga berpendapat

bahwa keluarga yang harmonis atau keluarga bahagia adalah apabila

kedua pasangan tersebut saling menghormati, saling menerima, saling

menghargai, saling mempercayai, dan saling mencintai. (Drajat, 1975:

9)

Keharmonisan keluarga adalah sesuatu yang bermakna dan

diusahakan untuk dicapai oleh mereka yang melakukan perkawinan

dan membentuk keluarga (Nancy, Wismanto & Hastuti, 2014).

Keharmonisan keluarga ialah ditandai dengan hubungan yang

bersatupadu, komunikasi terbuka dan kehangatan di antara anggota

keluarga. Semakin harmoni ada dalam keluarga, semakin positif

hubungan dan komunikasi diantara anggota keluarga. (Triantoro, 2015)

Keluarga harmonis hanya akan tercipta kalau kebahagiaan salah

satu anggota berkaitan dengan kebahagiaan anggota-anggota keluarga

lainnya. Secara psikologi dapat berarti dua hal (Sarwono, 1982: 2)

1. Terciptanya keinginan-keinginan, cita-cita dan harapan-harapan

dari semua anggota keluarga.

2. Sesedikit mungkin terjadi konflik dalam pribadi masing-masing

(27)

Dlori berpendapat keharmonisan keluarga adalah bentuk hubungan

yang dipenuhi oleh cinta dari kasih, karena kedua hal tersebut adalah

tali pengikat keharmonisan. (Dlori, 2005: 30-32)

Dalam perpektif Islam keharmonisan keluarga disebut dengan

keluarga sakinah, yaitu keluarga yang dibina berdasarkan perkawinan

yang sah, mampu memenuhi hajat hidup lahir batin, spiritual dan

materil yang layak, mampu menciptakan suasana saling cinta, kasih

sayang (mawaddah wa rahmah), selaras, serasi dan seimbang serta

mampu menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai keimanan,

ketakwaan, amal saleh dan akhlak mulia dalam lingkungan keluarga

dan masyarakat lingkungannya sesuai dengan nilai-nilai luhur

Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945 serta selaras dengan ajaran

Islam (Subhan, 2004: 10), hal ini sesuai dengan ayat dalam al-Qur’an

surat ar-Ruum ayat 21 :



















































Artinya : Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Disimpulkan bahwa keharmonisan keluarga merupakan hubungan

(28)

selain itu mereka dapat menciptakan suasana bahagia, tenang dan

tentram di dalam kehidupan pernikahan.

c. Aspek - Aspek Keharmonisan Keluarga

Aspek-aspek keharmonisan dalam keluarga menurut Sadarjoen (2005:

68) antara lain sebagai berikut:

a. Faktor keimanan keluarga

Faktor keimanan merupakan faktor penentu penting, yaitu penentu

tentang keyakinan atau agama yang akan di pilih oleh kedua

pasangan.

b. Continuous improvement .

Terkait dengan sejauh mana tingkat kepekaan perasaan antar

pasangan terhadap tantangan permasalahan pernikahan.

c. Kesepakatan tentang perencanaan jumlah anak.

Sepakat untuk menentukan berapa jumlah anak yang akan dimiliki

suatu pasangan yang baru menikah.

d. Kadar rasa bakti pasangan terhadap orang tua dan mertua

masing-masing.

Keadilan dalam memperlakukan kedua belah pihak : keluarga,

orang tua atau mertua beserta keluarga besarnya.

e. Sense of humour.

Menciptakan atau menghidupkan suasana ceria didalam keluarga

(29)

penuh keceriaan. Sikap adil antar pasangan terhadap kedua belah

pihak keluarga besar

Menurut Gunarsa (1994:50) ada banyak aspek dari keharmonisan

keluarga diantaranya adalah:

1. Kasih sayang antara keluarga.

Kasih sayang merupakan kebutuhan manusia yang hakiki, karena

sejak lahir manusia sudah membutuhkan kasih sayang dari sesama.

Dalam suatu keluarga yang memang mempunyai hubungan

emosianal antara satu dengan yang lainnya sudah semestinya kasih

sayang yang terjalin diantara mereka mengalir dengan baik dan

harmonis.

2. Saling pengertian sesama anggota keluarga.

Selain kasih sayang, pada umumnya para remaja sangat

mengharapkan pengertian dari orangtuanya. Dengan adanya saling

pengertian maka tidak akan terjadi pertengkaran-pertengkaran

antar sesama anggota keluarga.

3. Dialog atau komunikasi yang terjalin di dalam keluarga.

Komunikasi adalah cara yang ideal untuk mempererat hubungan

antara anggota keluarga. Dengan memanfaatkan waktu secara

efektif dan efisien untuk berkomunikasi dapat diketahui keinginan

dari masing-masing pihak dan setiap permasalahan dapat

terselesaikan dengan baik. Permasalahan yang dibicarakanpun

(30)

dengan teman, masalah kesulitan-kesulitan disekolah seperti

masalah dengan guru, pekerjaan rumah dan sebagainya.

4. Kerjasama antara anggota keluarga.

Kerjasama yang baik antara sesama anggota keluarga sangat

dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Saling membantu dan

gotong royong akan mendorong anak untuk bersifat toleransi jika

kelak bersosialisasi dalam masyarakat. Kurang kerjasama antara

keluarga membuat anak menjadi malas untuk belajar karena

dianggapnya tidak ada perhatian dari orangtua. Jadi orangtua harus

membimbing dan mengarahkan belajar anak.

d. Faktor-Faktor Keharmonisan Keluarga

Keluarga harmonis atau sejahtera merupakan tujuan penting.Oleh karena itu untuk menciptakan perlu diperhatikan faktor-faktor berikut:

1. Perhatian.

Yaitu menaruh hati pada seluruh anggota keluarga sebagai

dasarutama hubungan yang baik antar anggota keluarga. Baik

pada perkembangan keluarga dengan memperhatikan peristiwa

dalam keluarga, dan mencari sebab akibat permasalahan, juga

terdapat perubahan pada setiap anggotanya.

2. Pengetahuan.

Perlunya menambah pengetahuan tanpa henti-hentinya untuk

memperluas wawasan sangat dibutuhkan dalam menjalani

(31)

keluaranya, yaitu setiap perubahan dalam keluarga, dan

perubahan dalam anggota keluarganya, agar kejadian yang

kurang diinginkan kelak dapat diantisipasi.

3. Pengenalan

Terhadap semua anggota keluarga. Hal ini berarti pengenalan

terhadap diri sendiri dan pengenalan diri sendiri yang baik

penting untuk memupuk pengertian-pengertian. Bila pengenalan

diri sendiri telah tercapai maka akan lebih mudah menyoroti

semua kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam keluarga.

Masalah akan lebih mudah diatasi, karena banyaknya latar

belakang lebih cepat terungkap dan teratasi, pengertian yang

berkembang akibat pengetahuan tadi akan mengurangi kemelut

dalam keluarga.

4. Sikap menerima.

Langkah lanjutan dari sikap pengertian adalah sikap menerima,

yang berarti dengan segala kelemahan, kekurangan, dan

kelebihannya, ia seharusnya tetap mendapatkan tempat dalam

keluarga.Sikap ini akan menghasilkan suasana positif dan

berkembangnya kehangatan yang melandasi tumbuh suburnya

potensi dan minat dari anggota keluarga.

5. Peningkatan usaha.

Setelah menerima keluarga apa adanya maka perlu meningkatkan

(32)

keluarganya secara optimal, hal ini disesuaikan dengan setiap

kemampuamn masing-masing, tujuannya yaitu agar tercipta

perubahan-perubahan dan menghilangkan keadaan bosan.

Penyesuaian harus perlu mengikuti setiap perubahan baik dari

fisik orangtua maupun anak. (Gunarsa, 1986: 42-44)

Keluarga harmonis atau keluarga bahagia adalah apabila dalam

kehidupannya telah memperlihatkan faktor-faktor berikut:

1. Faktor kesejahteraan jiwa.

Yaitu rendahnya frekwensi pertengkaran dan percekcokan di

rumah, saling mengasihi, saling membutuhkan, saling

tolong-menolong antar sesama keluarga, kepuasan dalam pekerjaan dan

pelajaran masing-masing dan sebagainya yang merupakan

indikator-indikator dari adanya jiwa yang bahagia, sejahtera dan

sehat.

2. Faktor kesejahteraan fisik.

Serinnya anggota keluarga yang sakit, banyak pengeluaran untuk

kedokter, untuk obat-obatan, dan rumah sakit tentu akan

mengurangi dan menghambat tercapainya kesejahteraan

keluarga.

3. Faktor perimbangan antara pengeluaran dan pendapatan

keluarga. Kemampuan keluarga dalam merencanakan hidupnya

dapat menyeimbangkan pemasukan dan pengeluaran dalam

(33)

Faktor-faktor yang mempengaruhi keharmonisan keluarga menurut

pandangan Islam:

a. Berlandaskan ketauhidan

Keluarga sakinah adalah keluarga yang dibangun di atas fondasi

ketauhidan yaitu dibangun semata-mata atas dasar keyakinan

kepada Allah SWT dan bukan berhala.

b. Bersih dari syirik

Syarat utama ketauhidan yaitu bebasnya dari syirik atau

mempersekutukan Allah SW'I'. Demikianlah suatu keluarga yang

sakinah harus bebas dari suasana syirik yang hanya akan

menyesatkan kehidupan keluarga.

c. Keluarga yang penuh dengan kegiatan ibadah

Ibadah merupakan kewajiban manusia sebagai hasil ciptaan

Tuhan. Oleh karena itu kegiatan ibadah baik dalam bentuk

hablum minallah maupun hablum minannas merupakan ciri

utama keluarga sakinah segala aspek perilaku kehidupannya

merupakan ibadah. (Surya, 2003: 401)

Kunci utama keharmonisan sebenarnya terletak pada kesepahaman

hidup suami dan istri. Karena kecilnya kesepahaman dan usaha untuk

saling memahami ini akan membuat keluarga menjadi rapuh. Makin

banyak perbedaan antara kedua belah pihak maka makin besar tuntutan

pengorbanan dari kedua belah pihak. Jika salah satunya tidak mau

(34)

tersebut telah melampaui batas atau kerelaannya maka keluarga tersebut

terancam. Maka fahamilah keadaan pasangan, baik kelebihan maupun

kekurangannya yang kecil hingga yang tebesar untuk mengerti sebagai

landasan dalam menjalani kehidupan berkeluarga. Rencana kehidupan

yang dilakukan kedua belah pihak merupakan faktor yang sangat

berpengaruh karena dengan perencanaan ini keluarga bisa

mengantisiapsi hal yang akan datang dan terjadi saling membantu untuk

misi keluarga. (Sarwono, 1982: 79-82)

B. Pasangan Infertilitas a. Pengertian Infertilitas

Menurut WHO, infertilitas ialah ketidakmampuan untuk hamil atau

menjaga kehamilannya pada usia reproduktif (15-49 tahun) dalan kurun

waktu selama lima tahun. (WHO.com)

Departemen Kesehatan menyebutkan jika pengertian infertilitas

ialah dimana sel sperma dan sel telur gagal melakukan pembuahan,

Ketidakmampuan pasangan untuk menghasilkan keturunan setelah

melakukan hubungan seksual selama 1 tahun tanpa kontrasepsi. Namun

bila terdapat faktor risiko (istri berusia lebih dari 35 tahun, riwayat

infeksi dan menstruasi tidak teratur), maka sebaiknya penyelidikan

dimulai lebih awal. (DEPKES.com)

Infertilitas adalah ketidakmampuan wanita untuk hamil atau

ketidakmampuan untuk menjaga kehamilan sampai kelahiran hidup.

(35)

Dalam pandangan Islam, Infertilitas sudah disebutkan dalam

al-Qur’an surat Asy Syuura ayat 49-50 :























































Artinya: kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan

anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia

menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian infertilitas ialah

ketidakmampuan untuk hamil selama usia pernikahan 5 tahun atau lebih

serta tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

b. Pengertian Pasangan Infertilitas

Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), pasangan diartikan sebagai dua orang, laki-laki dan perempuan. kemudian pasangan

Infertilitas dapat definisikan sebagai pasangan yang sudah kawin

selama satu tahun dan belum ada tanda-tanda kehamilan atau

mempunyai keturunan tanpa metode keluarga berencana (KB).

(Bahiyatun, 2011 : 126)

Pasangan suami istri dikatakan mengalami infertilitas (Hawari,

(36)

pasangan tersebut tidak menggunakan kontrasepsi dan melakukan

hubungan intim secara teratur.

Perlu dipahami jika infertilitas bukan hanya ditujukkan kepada

wanita akibat ketidakmampuannya untuk melahirkan anak, tetapi juga

berlaku pada pria yang ditandai dengan ketidakmampuannya

memproduksi sel sperma dalam jumlah besar (kurang dari 60-200 juta

sel sperma per ejakulasi) dan akibat tersumbatnnya pembuluh

enjaculator sehingga sel sperma tidak bisa membenamkan diri ke leher

rahim. (Pieter & Lubis, 2010: 207)

c. Klasifikikasi Infertilitas

Klasifikasi Infertilitas menurut WHO, terbagi atas :

1. Infertilitas primer

yaitu jika perempuan belum berhasil hamil walaupun bersenggama

teratur dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12

bulan berturut-turut.

2. Infertilitas sekunder

yaitu jika perempuan pernah hamil atau konsepsi, akan tetapi

kemudian tidak berhasil hamil lagi walaupun bersenggama teratur

dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan

(37)

3. Infertilitas secara umum

Ketidakmampuan istri untuk konsepsi, hamil, melahirkan bayi

hidup, atau ketidakmampuan suami menghamili istri. (Bahiyatun,

2011: 127)

d. Faktor Penyebab Infertilitas

Penyebab infertilitas (Cooper-Hilbert, 1998 dalam Rahmat &

Karyawati, 2013: 89) adalah karena menunda kelahiran anak,

meningkatnya insiden penyakit menular seksual (PMS), termasuk

klamidia dan gonore, penggunaan zat-zat seperti kafein, nikotin dan

alkohol, stres kronis, terlalu mementingkan pekerjaan serta gangguan

kesehatan lingkungan.

Sedangkan Peter dan Lubis (2010: 207) menyebutkan jika Faktor

infertilitas bisa berasal dari faktor fisik dan psikologis, faktor-faktor

fisik penyebab infertilitas diantarannya :

a. Kegagalan fungsi genekologis pada salah satu pasangan atau

keduannya.

b. Gangguan fungsi genekologis berkaitan dengan gangguan hormon

kehamilan.

c. Kegagalan reproduksi pria untuk memberikan sel-sel sperma

optimal.

(38)

Sementara untuk penyebab infertilitas berkaitan dengan faktor psikis

diantaranya ialah:

a. Dampak dari kompensasi ketakutan hamil, seperti rasa ketakutan

berhubungan dengan organ reproduksi wanita.

b. Ketakutan pembedahan, seperti persalinan.

c. Defence mechanism pada karir atau pekerjaan.

e. Dampak Infertilitas

Dampak infertilitas pada istri antara lain :

a. Kekecewaan yang dapat terjadi dari diri sendiri karena merasa tidak

dapat memberikan keturunan, walau sebenarnya istri hanya sebagai

tempat berkembangnya hasil pembuahan.

b. Kecemasan. Kondisi ini timbul ketika pernikahan sampai 1 tahun

tidak hamil.

c. Konflik. Kondisi pertentangan yang timbul pada kejiwaan istri yang

mulai mempertanyakan dirinnya dan kondisi suami yang dapat

memicu perpisahan pasturi.

d. Penurunan libido. Kondisi istri ketika mulai enggan untuk melakukan

aktivitas seks yang membuat kerenggangan secara psikologis.

(Bahiyatun, 2011: 127-128)

Dampak infertilitas pada suami diantaranya ialah :

a. Kekecewaan, rasa kecewa timbul sebagai dampak dari tidak

(39)

b. Kecemasan. Rasa cemas dapat tibul sebagai dampak infertilitas.

Suami akan cemas dengan kondisi istrinya yang belim hamil, merasa

takut kehilangan istri.

c. Konflik jiwa. Rasa pertentangan akan selalu muncul dalam diri suami,

apalagi bila suami sudah berusia tua yang menuntut kehamilan

istrinya lebih cepat.

d. Penolakkan, adalah ketika suami tidak lagi menerima istrinnya secara

utuh bahkan mungkin istrinnya merupakan beban dalam keluargan.

(Bahiyatun, 2011: 129-130)

Hawari (1996: 400) mengungkapkan dampak psikologis lainnya

bagi pasangan infertil ialah kemungkinan terjadi perceraian, atau bila

ternyata yang mandul itu istri maka ada alasan suami untuk menikah

lagi. Bagi pasangan infertil yang berbagai upaya tetap tidak

memperoleh keturunan, salah satu jalan keluarnya ialah mengadopsi

anak. Adopsi anak adalah guna untuk memenuhi naluri kebapakan dan

keibuan pada setiap diri.

C. Perspektif Teoritis

Menurut Gunarsa (1994: 51), keharmonisan keluarga ialah

bilamana seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh

berkurangnya ketegangan, kekecewaan dan puas terhadap seluruh

keadaan dan keberadaan dirinya (eksistensi dan aktualisasi diri). Dari

pengertian tersebut indikator keharmonisan keluarga adalah sebagai

(40)

a. Seluruh anggota keluarga bahagia

b. Meminimalisir ketegangan dan kekecewaan diantara pasangan

agar tercipta hubungan yang nyaman.

c. Merasa puas dengan keadaan dirinya dan pasangan.

Keharmonisan keluarga dapat berkurang bahkan hilang

dikarenakan oleh beberapa faktor, salah satunnya ialah masalah

infertilitas dikarenakan salah satu tujuan suatu pernikahan ialah ingin

memiliki anak atau keturunan. seperti yang diungkap oleh Gunarsa

(2000: 35) Dikemukakan bahwa pernikahan yang tidak dikaruniai anak

tidak dapat dipertahankan lebih lama. Hawari (1996: 400)

mengungkapkan hal yang sama jika dampak psikologis bagi pasangan

infertilitas ialah kemungkinan terjadi perceraian.

Menurut WHO, infertilitas ialah ketidakmampuan untuk hamil atau

menjaga kehamilannya pada usia reproduktif (15-49 tahun) dalan kurun

waktu selama lima tahun. Di Indonesia cukup banyak pasangan yang

mengalami masalah infertilitas, prosentase sekitar 11 sampai 15 %.

Infertilitas dapat berasal dari faktor suami-istri, angka keduannya sama

besarnya yaitu 25% kelainan dari ibu, 25% kelainan dari ayah, 50%

adalah faktor keduannya, dan melakukan senggama dengan cara yang

kurang tepat mencapai 3%. (Bahiyatun, 2011: 127)

Tidak mempunyai anak sangat beresiko terhadap gugatan

perceraian, akan tetapi tidak semua pasangan suami-istri memilih untuk

(41)

yang tetap bisa mempertahankan keharmonisan keluarga, maka dari itu

Pemahaman terhadap keharmonisan keluarga sangat diperlukan karena

kebanyakan keluarga yang gagal adalah keluarga yang tidak

menerapkan serta tidak memahami akan pentingnya keharmonisan

keluarga.

Keharmonisan keluarga memiliki beberapa aspek (Sadarjoen,

2005: 68) antara lain: Faktor keimanan keluarga, Continuous

improvement, Kesepakatan tentang perencanaan jumlah anak, Kadar

rasa bakti pasangan terhadap orang tua dan mertua masing-masing serta

Sense of humour. Sedangkan faktor dari keharmonisan keluarga ialah

Perhatian, Pengetahuan, Pengenalan, Sikap menerima, Peningkatan

usaha, Penyesuaian harus perlu mengikuti setiap perubahan baik dari

fisik orangtua maupun anak. (Gunarsa, 1986: 42-44)

Dari beberapa penjelasan diatas, maka dalam penelitian ini akan

berupaya mengungkap fenomena keharmonisan keluarga pada pasangan

yang mengalami infertilitas, sebagai upaya mengurangi angka

perceraian yang timbul karena faktor ketidakhadiran anak dalam

keluarga, hasil penelitian diharapkan dapat memberikan pengetahuan

serta contoh bagi mereka yang berniat malakukan perceraian akibat

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Fokus dalam penelitian ini adalah Keharmonisan keluarga pasangan

infertilitas, untuk mendalami hal ini Penelitian menggunakan penelitian

kualitatif, Herdiansyah (2011: 9) mendefinisikan penelitian kualitatif

sebagai suatu penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu

fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan memfokuskan

proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan

fenomena yang diteliti. Pada penelitian kualitatif fokus masalah penelitian

menuntut peneliti melakukan pengkajian secara sistematik, mendalam dan

bermakna sebagaimana ditegaskan oleh Burgess bahwa peniliti

memfokuskan diri pada permasalahan yang dikaji dan dipandu oleh

kerangka konseptual. (Danim & Darwis, 2003: 262)

Strategi yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah

fenomenologi, hal ini dikarenakan didalamnya peneliti berusaha

memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang yang

berada dalam situasi-situasi tertentu. (Moleong, 2009: 17), Menurut

Herdiansyah (2011: 66) dalam ilmu psikologi, model fenomenologi lebih

ditujukkan untuk mendapatkan kejelasan dari fenomena dalam situasi

natural yang dialami oleh individu. Dalam penelitian ini akan di kaji

(43)

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Taman, data yang diperoleh

dari Kantor urusan Agama (KUA) menunjukkan perceraian terus

meningkat di Kecamatan ini dengan jumlah 170 kasus di tahun 2015

kemudian sampai bulan april di tahun 2016 tercatat 74 kasus perceraian.

Tetapi hasil Observasi yang di lakukan peneliti menunjukkan cukup

banyak keluarga di kecamatan ini terutama di desa Krembangan yang

belum di karunia anak dan tetap bisa mempertahankan kehidupan rumah

tangga. Subjek penelitian ini ialah pasangan suami istri, wawancara

dilakukan di kediaman rumah subyek, untuk alamat lengkap subyek

dirahasiakan agar menjaga kesejahteraan subjek penelitian.

Tabel 1.

Waktu Penelitian

Dalam pelaksanaan penelitian menggunakan agenda jadwal di bawah ini :

No KEGIATAN 2016

Mei Juni Juli Agustus

1 Penyusunan Proposal 

2 Penyusunan Instrumen 

3 Seminar Proposal Dan

Instrumen Penelitian 

4 Pengumpulan Data 

5 Analisis Data 

6 Pembuatan Draf Skripsi 

7 Seminar Skripsi 

[image:43.595.131.512.242.722.2]
(44)

C. Sumber Data

Sumber data utama pada penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan

tindakan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain

(Moleong, 2009: 157). Dalam penelitian ini sumber data di peroleh dari

sumber primer dan sekunder.

1. Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data (Sugiyono, 2012: 225). berupa data catatan

hasil wawancara yang diperoleh oleh peneliti.

2. Sumber sekunder ialah sumber data yang tidak memberikan

informasi secara langsung kepada pengumpul data. (Sugiyono,

2012: 225). Data di gunakkan untuk mendukung informasi dari data

primer, salah satu bentuknya ialah berupa dokumen yang

dikumpulkan peneliti.

Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini ialah

nonprobability yang memiliki pengertian teknik pengambilan sampel yang

tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi anggota populasi untuk

dipilih menjadi anggota sampel (Nawawi, 2012: 190). Sedangkan jenis

yang digunakkan ialah purposive sampling, dapat diartikan dengan

pemilihan subyek yang dilakukan berdasarkan kreteria spesifik yang

ditetapkan peneliti.

Subyek penelitian ini adalah pasangan suami istri yang belum perrnah

memilik anak setelah 5 tahun atau lebih usia pernikahan. Jumlah subyek 3

(45)

1. Pasangan suami istri yang telah menikah selama 5 tahun atau lebih

dengan usia 36-57 tahun.

2. Belum di karunia anak.

3. Bersedia untuk di wawancarai.

Untuk mengecek kebenaran hasil wawancara subyek, maka akan di

wawancara juga significant others, yang dimaksud peneliti ialah salah satu

saudara pasangan suami istri atau tetangga dekat dari pasangan yang

mengalami infertilitas.

Berdasarkan pada kreteria diatas maka yang dietapkan menjadi subyek

dalam penelitian ini adalah :

1. Suami yang berinisial SB yang berumur 57 tahun dan isrti ST

berumur 55 tahun, menikah selama 23 tahun, belum di karunia

anak sehingga klasifikasi infertilitas yang dialami ialah primer.

Significan other adalahtetangga dekat pasangan suami istri

2. Suami berinisial WA dengan umur 47 tahun, Istri ME berusia 37

tahun, menikah kurang lebih selama 13 tahun serta belum di karunia

anak, dengan klasifikasi infertilitas primer. Significant other adalah

tetangga dekat.

3. Suami dengan inisial IM dengan usia 40 tahun, istri DA usia 36

tahun, belum di karunia anak selama 10 tahun, klasifikasi infertilitas

(46)

D.Cara Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa tehnik

pengambilan data untuk mendapatkan data yang akurat. Beberapa tehnik

pengambilan data yang dimaksudkan adalah :

a. Wawancara. Percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu

dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan

pertanyaan dan terwawancara yang memberikan jawaban atas

pertanyaan itu. (Moleong, 2009: 186). Dalam penelitian ini,

wawancara akan dilakukan menggunakan pedoman wawancara

yang telah dibuat oleh peneliti guna menggali lebih dalam agar

tujuan penelitian dapat tercapai dengan baik.

b. Dokumentasi, cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis

terutama berupa arsip-arsip termasuk juga buku mengenai pendapat,

dalil yang berhubungan dengan masalah penyelidikan. (Nawawi,

2005: 133). Pada konteks penelitian ini dokumen yang di maksud

ialah buku nikah atau kartu keluarga dari subyek serta rekaman

audio saat wawancara.

E.Prosedur Analisis Dan Interpretasi Data

Analisis data kualitatif menurut Bogdan & Biklen (dalam Moelong,

2009: 248) adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilih-milihnya menjadi satuan yang dapat

dikelola, menemukan apa yang penting dan yang dipelajari dan

(47)

Teknik atau metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah induktif dengan menggunakan prosedur fenomenologis, Teknik

dipilih karena dapat membantu pemahaman tentang pemaknaan data yang

rumit melalui pengembangan tema-tema yang di peroleh dari data kasar .

(Moelong, 2009: 298).

Menurut Creswell (2013: 276), Prosedur analisis kualitatif dibagi dalam

enam langkah yaitu:

1. Mengolah dan mempersiapkan data untuk dianalisis. Langkah ini

melibatkan transkripsi wawancara, mengetik data lapangan atau

memilah-milah dan menyusun data tersebut kedalam jenis-jenis data

yang berbeda tergantung pada sumber informasi.

2. Membaca keseluruhan data.

3. Menganalisis lebih detail dengan mengcoding data. Coding merupakan

proses mengolah materi atau informasi, langkah ini melibatkan

beberapa tahap: mengambil data tulisan atau gambar yang telah

dikumpulkan.

4. Terapkan proses coding untuk mendeskripsikan kategori serta tema

yang akan di analisis.

5. Deskripsi dan tema-tema ini akan disajikan kembli dalam

narasi/laporan kualitatif.

(48)

F.Keabsahan Data

Pada dasarnya penelitian kualitatif belum mempunyai teknik yang

baku dalam menganalisa data, oleh sebab itu ketajaman melihat data oleh

peneliti serta kekayaan pengalaman dan pengetahuan harus dimiliki

peneliti. Dalam menguji keabsahan data peneliti menggunakan teknik

trianggulasi, menurut Moeloeng (2009: 330) pengertian trianggulasi ialah

teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain

diluar data untuk keperluan pengecekkan atau sebagai pembanding

terhadap data itu. Teknik trianggulasi yang banyak digunakkan ialah

pemeriksaan melalui sumber lainnya. Triangulasi mempunyai 3 macam

diantaranya ialah:

1. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek

balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui

waktu dan alat yang berbeda. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan:

membandingkan data hasil pengamatan dan data hasil wawancara,

membandingkan yang dikatakan orang di depan umum dengan apa

yang dikatakan secara pribadi, membandingkan apa yang dikatakan

orang-orang tentang situasi penelitian dengan apa yang dikatakan

sepanjang waktu, membandingkan keadaan dan perspektif

seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperti

(49)

berbeda, orang pemerintahan serta membandingkan hasil

wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

2. Triangulasi dengan metode, terdapat dua strategi yaitu pengecekkan

drajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik

pengumpulan data serta pengecekan derajat kepercayaan beberapa

sumber dengan data yang sama. Dapat dilakukan dengan

menggunakan lebih dari satu teknik pengumpulan data untuk

mendapatkan data yang sama.

3. Triangulasi dengan teori, menurut Lincolin dan Guba (1981) bahwa

fakta tidak dapat diperiksa derajat kepercayaannya dengan satu atau

lebih teori. Triangulasi ini memanfaatkan dua teori atau lebih untuk

diadu atau dipadu. Untuk itu diperlukan rancangan penelitian

pengumpulan data dan analisis data yang lengkap. (Moleong, 2009:

330-331)

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan triangulasi sumber, dimana

hasil wawancara dari subyek akan dibandingkan dengan hasil pengamatan

atau observasi serta membandingkannya dengan hasil wawancara

significant other seperti tetangga dekat subyek.

Selain itu salah satu kelemahan dalam penelitian kualitatif yang sering

dipertanyakan ialah mengenai validasi hasil, bagaimana penelitian

kualitatif mendapatkan validasi yang tinggi sebagaimana hasil pengukuran

kuatitatif yang dapat di ukur dengan angka. Sekalipun demikian penelitian

(50)

menggunakan prosedur yang sistematis (Sarwono, 2006: 245). Validitas

kualitatif merupakan upaya pemeriksaan terhadap akurasi hasil penelitian

dengan menerapkan prosedur tertentu, sedangkan reliabilitas kualitatif

mengindikasikan bahwa pendekatan yang digunakkan peneliti konsisten

jika diterapkan oleh peneliti-peneliti lain untuk proyek-proyek yang

berbeda. (Creswell, 2009: 285)

Untuk meningkatkan validitas penelitian kualitatif dengan melakukan

hal-hal sebagai berikut :

a Memperluas harapan harapan awal: pelajari catatan-catatan pribadi

yang dibuat sejak awal penelitian dilakukan sehingga memunculkan

gagasan-gagasan, apakah sudah ada kesesuaian asumsi yang dibuat

dengan data-data yang sudah dikumpulkan.

b Memfokuskan dengan cara melihat sumber data yang lain :

menggunakan teknik triangulasi dan perbandingan dengan literatur

lain.

c Membuat kutipan ekstensif yang berasal dari catatan lapangan dan

hasil wawancara.

d Menggunakan data penelitian lainnya sebagai sumber pengecekan.

e Melakukan pengecekan dengan meminta anggota peneliti untuk

memeriksa hasil penelitian kita dengan melakukan review ulang

(51)

Sedangkan menurut creswell (2009: 286-287) ada 8 strategi validitas

yang disusun dari yang paling mudah hingga yang sulit diterapkan,

diantarannya:

1. Mentriangulasi sumber data yang berbeda dengan memeriksa

bukti-bukti yang berasal dari sumber tersebut.

2. Menerapkan member checking untuk mengetahui akurasi hasil

penelitian.

3. Membuat deskripsi yang kaya dan padat tentang hasil penelitian.

4. Mengklarifikasi bias yang mungkin dibawa peneliti ke dalam

penelitian.

5. Menyajikan informasi “yang berbeda” yang dapat memberikan

perlawanan pada tema tertentu.

6. Memanfaatkan waktu relatif lama di lapangan atau lokasi

penelitian.

7. Melakukan Tanya jawab dengan sesame rekan peneliti untuk

meningkatkan keakuratan penelitian.

8. Mengajak seorang auditor untuk mereview keseluruhan proyek

penelitian.

Di dalam penelitian ini guna untuk meningkatkan validitas, peneliti

memilih menggunakan metode triangulasi yang telah di jelaskan di atas.

Agar peneliti kualitatif mempunyai reliabilitas, maka sebaiknya

(52)

a Mendengarkan selama beberapa kali rekaman audio oleh orang

yang berbeda atau sama.

b Mempelajari transkip hasil rekaman berulang-ulang yang dilakukan

oleh orang yang sama atau berbeda

Gibbs (2007 dalam Creswell, 2009: 285) merinci sejumlah prosedur

reliabilitas sebagai berikut:

1. Cek hasil transkip untuk memastikan tidak adannya kesalahan yang

dibuat selama proses transkripsi.

2. Pastikan tidak ada definisi yang mengambang mengenai kode-kode

selama proses coding

3. Untuk penelitian berbentuk tim, diskusikanlah kode-kode bersama

partner satu tim.

4. Lakukan cross-check dan bandingkan kode-kode yang dibuat

peneliti lain dengan kode-kode yang telah anda buat sendiri.

Untuk meningkatkan reliabitas pada penelitian ini, peneliti akan

melakukan pengecekan hasil transkripsi serta memastikan tidak ada

definisi yang mengambang selama proses coding. Dengan cara tersebut

diharapkan peneliti dapat menemukan hal – hal yang paling utama yang

dicari, sekalipun demikian sesuai sifat dasarnya, yaitu kenyataan bersifat

dinamis sehingga sulit untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat konsisten.

Ciri penelitian kualitatif yang mempelajari realitas kehidupan secara utuh

tetap saja sulit untuk memotret kenyataan secara sempurna dan memang

(53)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Subyek

Subyek dalam penelitian ini berjumlah tiga pasang suami istri yang

belum memiliki anak. Setiap pasang subyek memiliki significant other

untuk membantu mendukung data yang diperoleh peneliti dari hasil

wawancara dengan subyek. Ketiga pasangan suami istri tersebut bertempat

tinggal di kecamatan Taman Sepanjang.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara dan observasi

di rumah subyek. Jarak rumah ketiga subyek tidak terlalu jauh karena

masih di kawasan satu desa yaitu desa Krembangan. Dalam proses

wawancara peneliti pun harus berhati-hati dengan setiap pertanyaan yang

diajukan supaya tidak menyinggung subyek yang berkaitan dengan belum

hadirnya anak kandung dalam rumah tangga mereka.

Dibawah ini akan diperoleh profil tiga subyek penelitian serta tiga

Signifancant other sebagai berikut:

1. Subyek pertama

a. Suami

Nama : SB

Tempat tanggal lahir : 31 Agustus 1959

Usia : 57 tahun

(54)

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan :Petugas kebersihan di Dinas Pertanian

Surabaya

Tanggal menikah : 29 Agustus 1992

Usia pernikahan : 23 tahun

SB adalah seorang suami yang menikah dengan istrinya saat ia

berusia 31 tahun, jarak antara suami dan istri ialah 2 tahun. Awal

mula pertemuan dengan istri karena SB dulu ngekos dekat dengan

rumah istrinya di Jemur Ngawinan Surabaya, SB sering melihat

istri sebagai seorang yang pekerja keras, dulu saat belum menikah

istri biasanya bangun jam setengah tiga pagi untuk kepasar

kemudian memasak nasi bungkus kemudian menjualnya di pabrik

daerah rumah sekitar saat itu. SB sangat merasa kasihan kepada

istrinya kala itu, ia memutuskan untuk menikah dengan istrinya

kemudian sang istri dilarang untuk berjualan, setelah menikahpun

mereka langsung tinggal terpisah dengan orang tua masing-masing

dengan cara ngekos sendiri serta selalu menabung agar bisa beli

rumah sendiri.

b. Istri

Nama : ST

Tempat tanggal lahir : 1 Januari 1961

(55)

Agama : Islam

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SD

Pekerjaan : ibu rumah tangga

Tanggal menikah : 29 Agustus 1992

Usia pernikahan : 23 tahun

ST menikah saat usianya 29 tahun, ia memutuskan menerima

lamaran suaminya karena memang suka dan baginya sudah cukup

usianya untuk menikah. Sehari-hari pekerjaan ST ialah sebagai

rumah tangga, rumah diurus dengan sangat baik Nampak rumah

yang begitu bersih dan asri dengan banyak tanaman di depan

rumahnya. Sampai di usia pernikahan 23 tahun, pasangan SB dan

ST belum dikarunia anak.

2. Subyek kedua

a. Suami

Nama : WA

Tempat tanggal lahir : 20 Februari 1969

Usia : 47 tahun

Agama : Islam

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Sopir

(56)

Usia pernikahan : 13 tahun

WA bertemu pertama kali dengan istri ialah saat istri masih

sekolah duduk di bangku SMP, ia tidak menyangka akan berjodoh

dengan istrinya saat ini karena dulu istrinya sangat membenci

dirinya karena wajah dan fisiknya yang aneh, empat tahun

kemudian WA bertemu lagi dengan istri saat itu ia mulai

mendekati istri serta mulai main kerumahnya. Lama kelamaan hati

sang istri luluh menerima lamaran darinya, WA adalah seorang

pekerja keras, dulu ia pernah di PHK perusahaan Garuda food

tetapi ia tidak putus asa selalu mencari pekerjaan supaya bisa

menafkahi istrinya serta menabung untuk membangun rumahnya

sendiri.

b. Istri

Nama : ME

Tempat tanggal lahir : 1 Januari 1979

Usia : 37 tahun

Agama : Islam

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SMK

Pekerjaan : Penjaga toko alat listrik milik pribadi

Tanggal menikah : 3 januari 2003

(57)

ME saat menikah usianya 24 tahun kemudian jarak umur dengan

suaminya ialah 10 tahun, awal mula ME menuturkan jika dulu ia

sangat membenci suaminya karena suami yang kelihatan tua dan

kurus, tapi setelah empat tahun tidak bertemu kemudian

dipertemukan kembali, rasa ME berubah terhadap suaminya karena

ia melihat suaminya yang begitu berbakti kepada kedua orang

tuannya, ketika suami menerima gaji kemudian uang itu akan

diberikan semua kepada ibunnya. Hal ini yang membuat ME yakin

untuk menerima lamaran suami, selain itu ibu dan ayahnya juga

sangat merestui jika ME menikah dengan suaminya saat ini.

2. Subyek ketiga

a. Suami

Nama : AL

Tempat tanggal lahir : 5 April 1972

Usia : 44 Tahun

Agama : Islam

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Karyawan Pabrik

Tanggal menikah : 30 April 2006

(58)

AL adalah seorang karyawan pabrik dibagian Mesin, ia menikah

dengan istrinya stelah dikenalkan seseorang. Dulu AL pernah

tinggal di pondok pesantren Kediri. Ia memelajari ilmu agama,

selain itu AL dikenal sebagai seorang yang pendiam, tidak pernah

kasar dengan istrinnya.

b. Istri

Nama : DA

Tempat tanggal lahir : 11 Agustus 1979

Usia : 36 Tahun

Agama : Islam

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Penjaga toko sembako milik pribadi

Tanggal menikah : 30 April 2006

Usia pernikahan : 10 Tahun

DA berprofesi sebagai ibu rumah tangga, ia memutuskan

menikah dengan suaminya karena ia melihat sifat suami yang

begitu sabar, sopan. Setelah usia pernikahan 10 tahun berjalan

suami tidak pernah keras padannya, suamnnya selalu menasehati

(59)

3. Informan subyek pertama

Nama : NY

Tempat tanggal lahir : 19 Juli 1962

Usia : 54 tahun

Agama : Islam

Warganrgara : Indonesia

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : ibu rumah tangga

Gambar

Tabel 1: Waktu Penelitian  ..............................................................................
      Tabel 1.

Referensi

Dokumen terkait

Keenam partisipan istri juga menceritakan masalah mereka kepada orang lain yang senasib dengannya juga dengan keluarga.. Semua pasangan partisipan mempunyai harapan yang cerah

Proses konseling perkawinan berbasis kitab uqudullujain untuk meningkatkan keharmonisan pasangan suami istri di Desa Bajing Meduro Sarang Rembang diberikan kepada pasangan

keharmonisan keluarga. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 7-14 april 2006. subyek penelitian adalah pria/suami antara usia 45-55 tahun yang tinggal di Kecamatan Wajak,

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal dan keharmonisan keluarga pada pasangan pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi di Kelurahan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal dan keharmonisan keluarga pada pasangan pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi di Kelurahan

Dari beberapa teori di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa keharmonisan keluarga adalah kerja sama yang dilakukan oleh pasangan suami- istri untuk

Sedangkan obyek dari penelitian ini adalah lebih mengarah kepada keharmonisan rumah tangga pasangan yang hamil di luar nikah dan perbandingan antara pasangan

Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dan kualitatif untuk mengetahui fenomena psikologis yang terjadi pada pasangan suami istri dengan masalah infertilitas