• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Teknik Mesin: Vol. 10, No. 2, Juni

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Teknik Mesin: Vol. 10, No. 2, Juni"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ISSN 2549-2888

ANALISA RANCANGAN DINDING MODULAR DENGAN SISTEM INTERLOCK SEBAGAI KONTRUKSI BANGUNAN BAJA SEMENTARA DI REMOTE AREA

Dean Anggara Putra1 Usman Soedjadi2

Program Studi Magister Teknik Mesin, FakultasTeknik, Universitas MercuBuana Jakarta E-mail:[email protected]

E-mail:[email protected] E-mail:[email protected]

Abstrak -- Pada ekonomi dunia yang kompetitif saat ini, operasi konstruksi bangunan harus bereaksi

dengan cepat dan fleksibel untuk memenuhi permintaan pelanggan dengan tetap mempertahankan atau meningkatkan daya saing berkaitan dengan biaya produksi mereka sendiri. Sementara itu, masih banyak pengerjaan konstruksi dilakukan di lokasi proyek tesebut sedangkan jika menggunakan sistem plug and play pengerjaan di lokasi proyek akan diminimalisir dengan proses fabrikasi terlebih dahulu kemudian pengerjaan dilapangan hanya sebatas integrasi.[1]

Berdasarkan hal tersebut, pada penelitian ini dibuat suatu rancangan modular dinding dengan sistem interlock pada bagunan sementara di remote area dengan metode VDI 2221 seperti rumah kelistrikan dan kios metal dengan berbagai macam kegunaan. Modular dinding dengan sistem interlock adalah modul-modul dinding standar yang dibuat saling mengikat satu dengan yang lainya sehingga mendapatkan kekuatan dengan pressure tertentu dan pengaturan suhu ruang tertentu yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dengan minimum index protection/IP44 dengan menggunakan material plat baja dengan ketebalan 1.5mm tanpa pengerjaan pengelasan hanya dengan menggunakan sambungan antar dinding dengan menggunakan screw.

Berdasarkan hasil observasi dilapangan masih banyak ditemukan proses konstruksi bangunan sementara dilakukan dilapangan tentu saja ini memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit karena rata-rata project pembuatan bangunan sementara terdapat dilokasi yang terpencil, sehingga untuk transportasi, supply bahan baku dan biaya akomondasi untuk pekerja yang bekarja di area proyek tersebut menjadi sangat tinggi. Maka dari itu dengan proses pengerjaan kontruksi dilakukan secara fabrikasi terlebih dahulu diharapkan dapat menekan pembiayaan-pembiayaan diatas dan hasil dari simulasi menggunkan tools solidworks mengenai uji ketahanan dinding modular dengan material dinding modular adalah ASTM-A36 (Yield Strength 250 MPa) nilai pembebanan 975 kgf menghasilkan maksimal material stress adalah 249.56 MPa, material depleksi 12.25mm dan material deformasi 0.0022%

Kata Kunci : Dinding Modular, Rumah Kelistrikan, Kios Metal, Sistem interlock

1. PENDAHULUAN Latar Belakang

Dalam perkembangan teknologi di dunia konstruksi saat ini dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam membangun sebuah konstruksi bangunan , salah satunya adalah konstruksi untuk bagunan sementara / kios metal. Umumnya proses pembangunan konstruksi dilakukan langsung dilokasi proyek dan ketika proyek tersebut selesai bangunan tersebut tidak bisa dipindahkan untuk lokasi proyek berikutnya dan membutuhkan waktu dan tenaga untuk menghilangkan bangunan sementara tersebut sehingga dirasa masih kurang efisien. [1]

Dengan perkembangan teknologi pada sistem pengerjaan konstruksi bagunan sementara mengharuskan kita terus mengembangkan teknologi sedemikian rupa supaya dapat mengerjakan suatu proyek seefisien mungkin dengan penghematan biaya

operasional pengerjaan langsung dilokasi proyek. Dinding modular dengan sistem interlock diharapkan dapat menigkatkan efisiensi dalam hal, waktu dan pembiayaan dikarenakan prosesnya dilakukan dipabrikasi dan tidak menggunakan las untuk sambungan melaikan hanya dengan penggunaan screw untuk sambunganya. [2]

Pada perancangan ini, penulis akan membahas mengenai perancangan modular dinding dengan sistem interlock dengan pressure tertentu dan pengaturan suhu ruang tertentu yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pelanggan dengan minimum index protection / IP44-IP65 dengan menggunakan material plat baja dengan ketebalan 1.5mm dengan proses perakitan tanpa pengelasan melainkan dengan proses sambungan menggunakan screw.

(2)

ISSN 2549-2888

2. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia Modular adalah menciptakan suatu rancangan sehingga model dapat menggunakan satu komponen yang sama, sedangkan Interlock adalah fitur yang membuat keadaan dua mekanisme atau fungsi saling bergantung.[3]

Fungsi dari dinding modular dengan sistem interlock adalah untuk membuat sebuah bangunan plat baja yang dapat digunakan sebagai dinding dan atap sebagai fasilitas suatu proyek di remote area. dengan harapan dapat menekan biaya maupun keterbatasan material untuk membuat fasilitas bangunan sementara di remote area suatu proyek.

Dengan dua opsi perakitan bangunan sementara yaitu dilakukan secara pabrikasi kemudian dikirim dalam bentuk bangunan utuh di site hanya memerlukan pemasangan atau instalasi menggunakan crane atau forklift.

Gambar 2.1 Alur pengerjaan opsi pertama

Jika terkendala dengan akses untuk transportasi yang sempit atau akses yang sulit dilalui kendaraan besar untuk pengiriman bangunan dalam keadaan utuh, maka proses perakitan bangunan sementara dilakukan langsung di area proyek dengan catatan semua material sudah dibuat secara pabrikasi sebelumnya.

Gambar 2.2 Alur pengerjaan opsi kedua

Baja

Baja adalah logam paduan, logam besi yang berfungsi sebagai unsur dasar dicampur dengan beberapa elemen lainnya, termasuk unsur karbon. Besi dapat terbentuk menjadi dua bentuk kristal yaitu Body Center Cubic (BCC) dan Face Center Cubic (FCC), tergantung dari tempraturnya ketika ditempa. Dalam susunan bentuk BCC, ada atom besi ditengah-tengah kubus atom, dan susunan FCC memiliki atom besi disetiap sisi pada enam sisi kubus atom. Interaksi alotropi yang terjadi antara logam besi dengan elemen pemadu, seperti karbon, yang membuat baja dan besi tuang memiliki ciri khas yang ada pada diri mereka.[4]

Indieks Proteksi

Indeks Proteksi adalah istilah yang digunakan untuk mengukur kualitas dari Box Enclosure. Indeks Proteksi terdiri dari 3 angka yang masing-masing memiliki arti tersendiri, misalnya IP500, IP445 dan sebagainya. Namun kenyataan di lapangan bahwa Indeks Proteksi yang umum digunakan hanya 2 angka saja misalnya IP45, IP55 dan sebagainya. Penggunaan nilai Indeks Proteksi pada Box Enclosure tergantung pada penggunaanya, semakin tinggi nilai IP maka semakin mahal harga Box Enclosure tersebut.

Gambar 2.3 Indeks Proteksi

Tabel 2.1 Proteksi Partikel 0 Tidak ada proteksi

1 Perlindungan terhadap benda yang lebih besar dari 50mm

2 Perlindungan terhadap benda yang lebih besar dari 12mm

3 Perlindungan terhadap benda yang lebih besar dari 2.5mm Pabrikasi material Perakitan secara pabrikasi Pengiriman Penempatan bangunan dilokasi proyek

IPXXX

Proteksi Partikel Proteksi likuid Proteksi Benturan Pabrikasi material Perakitan di lokasi proyek Pengiriman

(3)

ISSN 2549-2888 4 Perlindungan terhadap benda yang lebih

besar dari 1.0mm

5 Perlindugan terhadap debu

6 Debu sekecil apapun tidak dapat masuk Tabel 2.2 Proteksi Likuid

Tidak ada proteksi

1 Terlindung dari air yang jatuh vertikal 2 Terlindung dari air yang membentuk

sudut 15 derajat arah vertikal

3 Terlindung dari air yang membentuk sudut 45 derajat arah vertikal

4 Terlindung dari air yang dating dari segala arah

5 Terlindung dari air yang datang dari segala arah dengan tekanan air tertentu 6 Terlindung dari semprotan air yang

menyerupai gelombang air laut

7 Terlindung dari efek tenggelam (kedap air) dengan kedalaman 1 meter

8 Terlindung dari efek tenggelam (kedap air) dengan kedalaman yang disertai tekanan air

Tabel 2.3 Proteksi Benturan 0 Tidak ada proteksi

1 Tahan terhadap benturan sebesar 0.225 joule (150gr) yang jatuh setinggi 15cm 2 Tahan terhadap benturan sebesar

0.500joule (250gr) yang jatuh setinggi 20cm

3 Tahan terhadap benturan sebesar 2.00 joule (1.5kg) yang jatuh setinggi 40cm 4 Tahan terhadap benturan sebesar

6.00joule (1.5kg) yang jatuh setinggi 40cm

5 Tahan terhadap benturan sebesar 20 joule (5kg) yang jatuh setinggi 40cm

Tegangan

Tegangan Secara sederhana tegangan dapat didefinisikan sebagai besaran gaya yang bekerja pada satu satuan luas permukaan benda yang dikenakan oleh gaya. Secara matematis definisi tegangan dapat dituliskan

keterangan P = gaya [N]

A = luasan permukaan yang dikenakan gaya [mm2 ]

[5]

Renggangan

Untuk memperoleh satuan deformasi atau regangan (ε) adalah dengan membagi perpanjangan (δ) dengan panjang mulamula (Lo) dari suatu specimen. Regangan dapat dirumuskan :

keterangan : ε = regangan L0 = panjang awal [mm] L1 = panjang akhir [mm] δ = perubahan panjang [mm] [5] 3. METODE PENELITIAN

Metode Pengumpulan Data Dengan VDI 2221

Pada penelitian ini penulis akan menggunakan metode VDI 2221 dikarenakan metode ini dibuat langkah demi langkah secara terperinci dalam menentukan permasalahan sampai dengan penentuan konsep desain. Langkah kerja dalam metode VDI 2221 : [6]

a) Penjabaran tugas (Clasification of task) b) Penentuan konsep rancangan

(Konseptual desain) Meliputi tiga langkah kerja, yaitu:

 Menentukan fungsi dan strukturnya.

 Mencari prinsip solusi dan strukturnya.

 Menguraikan solusi menjadi varian yang dapat direalisasikan.

c) Perancangan wujud (Embodiment desain) d) Perancangan rinci (Detail desain)

(4)

ISSN 2549-2888

4. PEMBAHASAN

Pengumpulan Data Dengan VDI2221

Daftar Kehendak :

 Mudah untuk dirakit

 Dinding mampu memenuhi kualifikasi sampai IP44

 Material yang digunakan menggunakan material standard yang ada dipasaran

 Mampu menahan pressure

 Tidak ada pengelasan saat perakitan

 Proses perakitan menggunakan teks screw

 Proses tekukan dengan menggunakan tools bending standard

 Material plat baja menggunakan plat tebal 1.5mm

 Dinding bisa menjadi sebagai framing

 Dapat digunakan sebagai dinding maupun digunakan sebagai atap

Tabel 4.1 Abstaksi VI Model VDI2221 PARAMETER SPESIFIKASI DEMAND

(D) WISHES

(W) FUNGSI Dinding mampu

memenuhi kualifikasi sampai IP44

D

Konsep Perencanaan

Gambar 4.1 Konsep Perencanaan

Keterangan :

1. Baseframe menggunakan material IWF, H-Beam Atau UNP Standard yang ada dipasaran, untuk ukuran material tersebut disesuaikan dengan kalkulasi beban yang akan di install didalam bangunan tersebut. 2. Dinding modular terbuat dari plat baja dengan ketebalan 1.5mm yang di tekuk atau di bending dengan dua arah tekukan, yang pertama tekukan kea rah dalam dan yang kedua tekukan kearah luar

3. Atap sama dengan dinding modular 4. Roof Cap berfungsi sebagai penghubung

antara dinding modular dengan atap, material yang digunakan adalah plat baja dengan ketebalan 3mm yang di tekuk atau di bending menjadi berbentuk U. 5. Floor Cap berfungsi sebgai penghubung

antara baseframe dengan dinding modular, material yang digunakan untuk pembuatan floor cap adalah plat baja dengan ketebalan 3mm yang di tekuk atau di bending menjadi berbentuk Z. 6. Pondasi/pedestal sebagai tumpuan atau

base tempat berpijak bangunan sementara, koneksi antara bangunan dengan pondasi/pedestal bisa dilakakan dengan du acara, yang pertama menggunakan anchor bolt dan yang kedua bisa dengan pengelasan baseframe pada embedded plate yang tertanam pada pondasi.

Plat Baja

Material menggunakan standard yang ada di Indonesia yaitu plat baja dengan standard ASTM A36.

Gambar 4.2 Mikrostruktur baja ASTM A36 – 200x Struktur Mikro Ferit – Perlit 1 2 3 4 5 6

(5)

ISSN 2549-2888 Gambar 4.3 Mikrostruktur baja ASTM A36 –

350x (hitam dan putih)

Baja yang mengandung struktur mikro ferit terdapat pada baja yang memiliki kandungan karbon rendah. Dimana kelarutan karbon di dalam fasa a sekitar 0,008 %. Struktur mikro dari butir ferit tersebut berbentuk polygonal. Ferit merupakan fasa yang bersifat lunak dengan kekuatan rendah.[8]

Austenit

Jika material baja dipanaskan sedikit diatas temperatur transformasi dengan waktu yang cukup, maka diperoleh larutan padat austenit dengan struktur kps. Fasa ini dapat melarutkan karbon berbentuk larutan padat intertisial sebanyak 2,06 % pada temperatur 1148 oC dan kemudian turun menjadi 0,8 % pada temperatur 723oC. Reaksi setimbang yang terjadi waktu pendinginan adalah sebagai berikut:

Pada diagram kesetimbangan Fe-Fe3C, terlihat bahwa transformasi yang dapat terjadi pada proses pemanasan adalah transformasi perlit menjadi austenit pada temperatur di atas garis A3.[3]

Gambar 4.4 Pengaruh kadar karbon terhadap temperature Ms dan Mf

Martensit

Transformasi martensit hanya terjadi pada austenit yang dilakukan pendinginan dengan sangat cepat tanpa disertai penyusunan atom karbon secara difusi pada kisi-kisi austenit. Pembentukan martensit terjadi oleh proses pergeseran atom sebesar jarak atom-atomnya. Disamping itu selama proses pembentukan

martensit tidak terjadi perubahan komposisi di dalam larutan padat. Akibat pergeseran atom ini, menyebabkan terjadinya perubahan struktur dari kubik pemusatan sisi (kps) menjadi tetragonal pemusatan ruang (tpr). Pembentukan martensit dimulai pada garis martensit stars (Ms) dan berakhir pada garis martensit finish (Mf). Garis Ms dan Mf tidak dipengaruhi oleh laju pendinginan tetapi ditentukan oleh komposisi kimia. Martensit stars (Ms) sebagai fungsi komposisi kimia menurut K-E Thelning memformulasikan sebagai berikut: Ms (oC) = 561-474 C-33 Mn- 17 Ni-17 Cr – 21 Mo. Dari rumus empiris yang diturunkan K-E Thelning, maka unsur yang paling dominant menentukan martensit adalah karbon. Hal ini dapat dilihat pada gambar 20 bahwa dengan semakin besar kadar karbon dalam baja maka temperatur martensit starts (Ms) dan temperatur martensit finish (Mf) akan menurun.[9]

Uji Tarik

Dengan pengujian ini mendapatkan hasil maksimal Tarik 265 MPa sampai dengan material uji terputus atau disebut dengan maksimal material stress 250 MPa jika mengacu pada standard material dengan nilai strain 5% terjadi perubahan Panjang pada material uji tersebut.[10]

Gambar 4.5 Desain Material Uji Tarik Dilakukan pengujian Tarik sampel material terhadap thermal, dengan hasil diketahui sebagai berikut :

Tabel 4.2 Maksimum Stress vs. Temperatur

No

Temperatur

(°C)

Maximum Stress

(Mpa)

1

100

340

2

200

315

3

400

230

4

600

110

5

800

30

6

1200

20

7

1300

18

8

1550

15

Perlit Ferit

(6)

ISSN 2549-2888 Gambar 4.6 Chart Maksimum Stress vs.

Temperatur

Dengan melihat hasil yang digambarkan pada table dan chart diatas bahwa paparan temperature semakin tinggi membuat nilai maksimum stress pada material tersebut menjadi menurun. Dibawah ini adalah contoh pengujian Tarik material yang dilakukan di lab uji material Universitas Indonesia :

Gambar 4.7 Uji Tarik Material

Dinding Modular

Gambar 4.8 Desain Dinding Modular

Dinding yang terbuat dari plat baja yang ditekuk sedemikian rupa menjadi modular-modular dinding standard dengan setiap ujungnya diberi tekukan untuk saling mengikat satu dengan yang lainya dan berguna juga untuk mencegah potensi air masuk melewati celah-celah antar dinding. Dalam penggunaan plat baja biasanya digunakan berbagai macam varian ketebalan disesuaikan dengan kebutuhan dari ketahanan permeter persegi terhadap pressure

Desain Dinding Modular

Desain dinding modular dibuat disetiap ujungnya memiliki tekukan seperti pengait itu diperuntukan untuk pengikat antar dinding yang satu dengan yang lainya dan untuk proteksi aliran air hujan yang masuk kedalam dinding melewati celah-celah antara dinding satu dengan yang lainya.

Dimensi

Ukuran dinding modular pada dasarnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesifikasi tertentu tetapi tetap beracuan pada ukuran dan efisiensi standard material agar biaya produksi bisa optimal sehingga harga jual menjadi kompetitif.

Gambar 4.9 Dimensi Dinding Modular Pada gambar diatas adalah ukuran standard dinding modular dengan lebar (L) = 362,5mm, tebal (T) = 82mm, Panjang (P) = 2440mm dan tebal plat baja (t) = 1,5mm. disetiap ujung dinding diberikan tekukan seperti pengait, tekukan pertama atau sebelah kanan tekukan mengarah dalam kemudian tekukan kedua atau sebelah kiri tekukan mengarah kearah luar, tekukan tersebut bertujuan supaya dinding dapat saling mengikat satu dengan yang lainya.

Bentangan

Bentangan atau istilah lainya di pengerjaan sheet metal adalah flat fattern, ini adalah kondisi ukuran plat baja saat belum ditekuk atau saat masih berbentuk lembaran plat

(7)

ISSN 2549-2888 sehingga ketika proses penekukan ukuran

yang diiginkan bisa tercapai,

Dalam proses pengerjaan material sheer metal bentangan atau biasa disebut juga dengan istilah flat fattern bertujuan untuk estimasi penggunaan material dan acuan untuk operator mesin tekuk atau mesin bending melakukan pengerjaan proses penekukan material tersebut sesuai dengan intruksi gambar kerja. berikut adalah tabel untuk standard perhitungan untuk mendapatkan nilai dari bentangan atau flat fattern penekukan plat baja :

NO. Thickness Bend

Shrink K- Faktor 1 1 0.8 0.53 2 1.2 1.1 0.33 3 1.5 1.42 0.25 4 2 1.75 0.295 5 2.3 2 0.285 6 2.5 2.3 0.21 7 3 2.65 0.24 8 3.2 2.8 0.245 9 4 3.75 0.148 10 4.5 4.4 0.09 11 5 4.8 0.105 12 6 5,5 0.152 13 7.5 7 0.121 14 8 7.5 0.113 15 9 8.5 0.101 16 10 9.5 0.091

Tabel 4.3 Data Bending

Untuk memperhitungkan setiap ukuran luar ke bagian luar plat adalah menjumlahkan semua kemudian dikurangi 2x bend shrink untuk setiap tekukanya seperti ilustrasi dibawah :

Gambar 4.10 Panandaan Ukuran Dinding Modular Fp = (P1+P2+P3+P4+P5+P6+P7) – ((2 x Jb) x Bs )) Fp = (17.5 + 33 + 82 + 362.5 + 79.5 + 28 + 15) – ((2 x 6) x 1.42)) Fp = (617.5) – (12 x 1.42) Fp = 617.5 – 17.04 Fp = 600.46 Keterangan : Fp = Flat Pattern P = Panjang Jb = Jumlah Bendingan Bs = Bend Shrink [11]

Gambar 4.11 Bentangan Plat

Jadi bentangan yang diperlukan untuk satu buah dinding modular interlock adalah 600.46mm dengan tinggi dinding 2440mm, jadi satu lembar plat utuh dengan ukuran standard 1220mm x 2440mm dapat dijadikan menjadi 2 buah dinding modular.

Uji Ketahanan Dinding Modular

Dilakukan uji atau simulasi maksimal ketahanan dinding modular terhadap pressure menggunakan tools solidworks untuk mengetahui nilai maksimum material stress, material depleksi dan material deforms yang terjadi pada dinding modular dari arah luar dinding atau pada bagian permukaan yang lebarnya 362,5mm untuk diketahui titik batas material stress, strain dan depleksi. Dalam

(8)

ISSN 2549-2888 simulasi ini tidak terpengaruh terhadap

temperature hanya dilakukan pengujian terhadap pressure dengan posisi tumpuan sesuai dengan aktual proses instalasi dinding modular. Dalam pengujian simulasi dengan bantuan software dilakukan berbagai varian pressure untuk mengetahui maksimum Ketahanan dinding modular terhadap pressure dengan spesifikasi :

Jenis Material : ASTM A36 Tebal Plat : 1.5mm Model : Interlock Lebar : 362.5mm Tebal Dinding : 82mm Tinggi : 2440mm Yield Strenght : 250 MPa

Simulasi Material Stress

Pengujian Material Stress dilakukan untuk mengetahui ketahanan maksimal dinding modular terhadap tekanan, dengan posisi pengikat atau fixing sesuai dengan actual pemasangan pada keliling dinding yaitu bagian atas, bagian bawah, bagian samping kanan & bagian samping kiri.

Gambar 4.12 Simulasi Material Stress

Simulasi Material Strain

Pengujian Material Strain atau material deformasi dilakukan untuk mengetahui perubahan bentuk maksimal dinding modular terhadap tekanan, dengan posisi pengikat atau fixing sesuai dengan actual pemasangan pada keliling dinding yaitu bagian atas, bagian bawah, bagian samping kanan & bagian samping kiri.

Gambar 4.13 Simulasi Material Strain

Simulasi Material Depleksi

Pengujian Material Strain dilakukan untuk mengetahui lendutan bentuk maksimal dinding modular terhadap tekanan, dengan posisi pengikat atau fixing sesuai dengan actual pemasangan pada keliling dinding yaitu bagian atas, bagian bawah, bagian samping kanan & bagian samping kiri.

Gambar 4.14 Simulasi Material Depleksi Note : Gradasi warna dari biru hingga merah pada gambar 4.12, gambar 4.13 dan gambar 4.14 adalah indikator tingkat besarnya pengaruh yang terjadi pada dinding modular terhadap tekanan yang diberikan. Warna biru adalah batas nilai terendah, warna hijau adalah nilai rata-rata, warna kuning adalah nilai hamper mendekati nilai maksimal dan

(9)

ISSN 2549-2888 warna merah adalah nilai maksimal yang

terjadi

Tabel 4.4 Data Simulasi Material

Force

(kgf)

Depleksi

(mm)

Stress

(Mpa)

Defromasi

(%)

75

0,941

19,196

0,0002

175

2,197

44,792

0,0004

275

3,453

70,388

0,0006

375

4,709

95,984

0,0008

475

5,965

121,58

0,0011

575

7,221

147,18

0,0013

675

8,477

172,77

0,0015

775

9,733

198,37

0,0017

875

10,989

223,96

0,002

975

12,245

249,56

0,0022

Berdasarkan tabel 4.4 diatas semakain besar beban yang di terima oleh dinding modular makan tingkat material stress, material depleksi dan material deformasi akan semakin tinggi. Untuk desain dinding modular seperti pada gambar 4.10 dapat menahan maksimal beban sebesar 975 kgf dengan nilai material stress 249.56 MPa, material depleksi sebesar 12.25mm dan material deformasi sebesar 0.0022%

Gambar 4.15 Grafik Simulasi Material

KESIMPULAN

Setelah melakukan rancangan dinding modular dengan sitem interlock , Maka dapat disimpulkan :

1. Proses pembuatan modular dinding sangat mudah, hanya memerlukan material plat baja dengan ketebalan 1.5mm standard ASTM A36 dan tools bending standar.

2. 1 lembar plat baja standard dengan ukuran 1200mm x 2400mm dapat menjadi dua buah modular dinding 3. Memiliki 2 opsi perakitan. Yang

pertama dengan cara pabrikasi dan yang kedua dengan cara perakitan langsung di area proyek

4. Dapat memudahkan dalam membungun sebuah bangunan sementara di remote area yang biasanya daerah tersebut sulit unutk akses kendaraan besar atau kesulitan dalam pembelian bahan baku.

5. Dinding modular memiliki 3 fungsi bagian, yang pertama sebagai dinding atau dipasang secara vertical, dan fungsi bagian kedua adalah sebagai atap dan ceiling dipasang secara horizontal.

6. Dinding modular dihubungkan dengan dua bagian, pertama floor cap untuk menghubungkan antara dinding dengan baseframe, kemudian yang kedua roof cap untuk menghubungkan dinding modular dengan atap

7. Dinding modular dapat menahan tekanan sampai dengan 975 kgf dengan nilai Stress 249.56 MPa, Strain 0.0022% dan depleksi 12.25mm 8. paparan temperature semakin tinggi membuat nilai maksimum stress pada material tersebut menjadi menurun.

DAFTAR PUSTAKA

[1] H.-P. Berg and N. Fritze, “Risk and Consequences of Transformer Explosions and Fires in Nuclear Power Plants / Ryzyko I Konsekwencje Wybuchów Transformatora I Pożarów W Elektrowniach Jądrowych,” Journal of KONBiN, vol. 23, no. 1. pp. 5–16, 2018, doi: 10.2478/jok-2013-0034. [2] S. Chongkhong, “International

Transaction Journal of Engineering , Management , & Applied Sciences & Technologies Optimization of Enzymatic Clarification from Corncob,” vol. 5, no. 1, pp. 67–76, 2014.

[3] P. Preedawiphat et al., “Mechanical investigations of astm a36 welded steels with stainless steel cladding,” Coatings, vol. 10, no. 9, 2020, doi: 10.3390/coatings10090844.

[4] D. L. Naik, H. U. Sajid, and R. Kiran, “Texture-based metallurgical phase identification in structural steels: A supervised machine learning approach,” Metals (Basel)., vol. 9, no. 5, pp. 1–27, 2019, doi: 0 500 1000 1500 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Simulasi Material

Force (kgf) Depleksi (mm)

(10)

ISSN 2549-2888 10.3390/met9050546.

[5] E. Sutikno, T. Mesin, and U. Brawijaya, “PADA DESAIN CARBODY TeC RAILBUS DENGAN,” vol. 2, no. 1, pp. 65–81, 2011.

[6] R. H. Ucok Mulyo Sugeng, “Ucok Mulyo Sugeng *, Razul Harfi *,” pp. 17–27, 2017.

[7] U. M. Sugeng and R. Harfi, “Perancangan Dan Analisa Biaya Alat Penguji Kekuatan Tekan Genteng Keramik Berglazur,” Progr. Stud. Tek. Ind. Inst. Sains dan Teknol. Nas., vol. 2, no. 1, p. 10, 2015, [Online]. Available: https://jurnal.umj.ac.id/index.php/jisi/arti cle/view/916.

[8] S. Abdunnaser, “Pengaruh Media Pendinginan Terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Plat Baja Karbon ASTM A-36,” Bina Tek., vol. 11, no. 2, pp. 155–170, 2015.

[9] F. T. Kelautan, “STUDI EKSPERIMEN PENGARUH QUENCHING MIKRO PADA SAMBUNGAN PLAT ASTM A36,” 2014.

[10] R. W. Armstrong, “Size effects on

material yield

strength/deformation/fracturing

properties,” J. Mater. Res., vol. 34, no. 13, pp. 2161–2176, 2019, doi: 10.1557/jmr.2018.406.

[11] O. M. Ibearugbulem, L. Anyaogu, and G. O. Christopher, “Pure Bending Analysis of Thin Rectangular Flat Plate with All Edges Clamped Carrying Uniformly Distributed Load Using Euler-Bernoulli Residual Force Approach,” no. December, 2020.

[1]

H.-P. Berg and N. Fritze, “Risk and

Consequences

of

Transformer

Explosions and Fires in Nuclear

Power

Plants

/

Ryzyko

I

Konsekwencje

Wybuchów

Transformatora I Pożarów W

Elektrowniach Jądrowych,” Journal

of KONBiN, vol. 23, no. 1. pp. 5–16,

2018, doi: 10.2478/jok-2013-0034.

[2]

S.

Chongkhong,

“International

Transaction Journal of Engineering ,

Management , & Applied Sciences

& Technologies Optimization of

Enzymatic

Clarification

from

Corncob,” vol. 5, no. 1, pp. 67–76,

2014.

[3]

P. Preedawiphat et al., “Mechanical

investigations of astm a36 welded

steels with stainless steel cladding,”

Coatings, vol. 10, no. 9, 2020, doi:

10.3390/coatings10090844.

[4]

D. L. Naik, H. U. Sajid, and R.

Kiran, “Texture-based metallurgical

phase identification in structural

steels:

A

supervised

machine

learning approach,” Metals (Basel).,

vol. 9, no. 5, pp. 1–27, 2019, doi:

10.3390/met9050546.

[5]

E. Sutikno, T. Mesin, and U.

Brawijaya,

“PADA

DESAIN

CARBODY

TeC

RAILBUS

DENGAN,” vol. 2, no. 1, pp. 65–81,

2011.

[6]

R. H. Ucok Mulyo Sugeng, “Ucok

Mulyo Sugeng *, Razul Harfi *,”

pp. 17–27, 2017.

[7]

U. M. Sugeng and R. Harfi,

“Perancangan Dan Analisa Biaya

Alat

Penguji

Kekuatan

Tekan

Genteng

Keramik

Berglazur,”

Progr. Stud. Tek. Ind. Inst. Sains

dan Teknol. Nas., vol. 2, no. 1, p.

10, 2015, [Online]. Available:

https://jurnal.umj.ac.id/index.php/jis

i/article/view/916.

[8]

S. Abdunnaser, “Pengaruh Media

Pendinginan

Terhadap

Sifat

Mekanik dan Struktur Mikro Plat

Baja Karbon ASTM A-36,” Bina

Tek., vol. 11, no. 2, pp. 155–170,

2015.

[9]

F.

T.

Kelautan,

“STUDI

EKSPERIMEN

PENGARUH

QUENCHING

MIKRO

PADA

SAMBUNGAN

PLAT

ASTM

A36,” 2014.

[10] R. W. Armstrong, “Size effects on

material

yield

strength/deformation/fracturing

properties,” J. Mater. Res., vol. 34,

no. 13, pp. 2161–2176, 2019, doi:

10.1557/jmr.2018.406.

[11] O. M. Ibearugbulem, L. Anyaogu,

and G. O. Christopher, “Pure

(11)

ISSN 2549-2888

Bending

Analysis

of

Thin

Rectangular Flat Plate with All

Edges Clamped Carrying Uniformly

Distributed Load Using

Euler-Bernoulli

Residual

Force

Approach,” no. December, 2020.

[1]

H.-P. Berg and N. Fritze, “Risk and

Consequences

of

Transformer

Explosions and Fires in Nuclear

Power

Plants

/

Ryzyko

I

Konsekwencje

Wybuchów

Transformatora I Pożarów W

Elektrowniach Jądrowych,” Journal

of KONBiN, vol. 23, no. 1. pp. 5–16,

2018, doi: 10.2478/jok-2013-0034.

[2]

S.

Chongkhong,

“International

Transaction Journal of Engineering ,

Management , & Applied Sciences

& Technologies Optimization of

Enzymatic

Clarification

from

Corncob,” vol. 5, no. 1, pp. 67–76,

2014.

[3]

P. Preedawiphat et al., “Mechanical

investigations of astm a36 welded

steels with stainless steel cladding,”

Coatings, vol. 10, no. 9, 2020, doi:

10.3390/coatings10090844.

[4]

D. L. Naik, H. U. Sajid, and R.

Kiran, “Texture-based metallurgical

phase identification in structural

steels:

A

supervised

machine

learning approach,” Metals (Basel).,

vol. 9, no. 5, pp. 1–27, 2019, doi:

10.3390/met9050546.

[5]

E. Sutikno, T. Mesin, and U.

Brawijaya,

“PADA

DESAIN

CARBODY

TeC

RAILBUS

DENGAN,” vol. 2, no. 1, pp. 65–81,

2011.

[6]

R. H. Ucok Mulyo Sugeng, “Ucok

Mulyo Sugeng *, Razul Harfi *,”

pp. 17–27, 2017.

[7]

U. M. Sugeng and R. Harfi,

“Perancangan Dan Analisa Biaya

Alat

Penguji

Kekuatan

Tekan

Genteng

Keramik

Berglazur,”

Progr. Stud. Tek. Ind. Inst. Sains

dan Teknol. Nas., vol. 2, no. 1, p.

10, 2015, [Online]. Available:

https://jurnal.umj.ac.id/index.php/jis

i/article/view/916.

[8]

S. Abdunnaser, “Pengaruh Media

Pendinginan

Terhadap

Sifat

Mekanik dan Struktur Mikro Plat

Baja Karbon ASTM A-36,” Bina

Tek., vol. 11, no. 2, pp. 155–170,

2015.

[9]

F.

T.

Kelautan,

“STUDI

EKSPERIMEN

PENGARUH

QUENCHING

MIKRO

PADA

SAMBUNGAN

PLAT

ASTM

A36,” 2014.

[10] R. W. Armstrong, “Size effects on

material

yield

strength/deformation/fracturing

properties,” J. Mater. Res., vol. 34,

no. 13, pp. 2161–2176, 2019, doi:

10.1557/jmr.2018.406.

[11] O. M. Ibearugbulem, L. Anyaogu,

and G. O. Christopher, “Pure

Bending

Analysis

of

Thin

Rectangular Flat Plate with All

Edges Clamped Carrying Uniformly

Distributed Load Using

Euler-Bernoulli

Residual

Force

Approach,” no. December, 2020.

Gambar

Gambar 2.1 Alur pengerjaan opsi pertama
Tabel 2.3 Proteksi Benturan  0  Tidak ada proteksi
Tabel 4.1 Abstaksi VI Model VDI2221  PARAMETER  SPESIFIKASI  DEMAND
Gambar 4.5 Desain Material Uji Tarik  Dilakukan pengujian Tarik sampel material  terhadap thermal, dengan hasil diketahui  sebagai berikut :
+5

Referensi

Dokumen terkait

Website ini telah selesai dibuat dan dapat memenuhi kebutuhan informasi mengenai catering, paket pernikahan, artikel tentang pernikahan dan disertai dengan sistem

Maka, jumlah kebutuhan suku cadang Modul PCM–4 Exchange Unit yang harus disediakan untuk 1 (satu) periode siklus (3 (tiga) bulan) adalah sebagai berikut:.

Telah dibuat sebuah sistem irigasi tanaman otomatis menggunakan wireless sensor network dengan 2 node , 1 router dan 1 server yang dapat berkomunikasi antar modul

Fasilitas penunjang dan segi teknik yang sangat berpengaruh dalam kegiatan bongkar muat adalah alat pemindah peti kemas dan juga pengangkut peti kemas lainya. Alat pengangkut

Hasil penelitian ini menunjukkan Nilai massa jenis dan Viskositas pada tiap-tiap persentase campuran minyak oli bekas dan minyak pirolisis menggalami peningkatan, Nilai Laju

• Kandungan abu (fly ash and medium ash) pada gas buang turbin. Abu yang terkandung pada gas buang akan menempel pada dinding-dinding pipa air sehingga

Bentuk Penelitian Dari permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, tipe penelitian adalah eksperimental yaitu melakukan pengujian kekerasan untuk mendapatkan data dan

Pengembangan program terdiri dari tiga bagian, yakni bagian pertama merupakan kode program standart dari modul MT-100 Arduino Uno yang dilakukan mahasiswa dalam melakukan praktek mata