• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 1440 H / 2019 M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 1440 H / 2019 M"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

(1)

DESA BUMI NABUNG SELATAN KECAMATAN BUMI NABUNG KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Oleh

Rika Widayanti 1503060107

Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas : Ushuluddin Adab dan Dakwah

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 1440 H / 2019 M

(2)

ii

KABUPATEN LAMPUNG TENGAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Memenuhi Sebagian Syarat Guna memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh:

Nama : Rika Widayanti

Npm : 1503060107

Pembimbing I : Hemlan Elhany, S.Ag, M.Ag Pembimbing II : Albarra Sarbaini, M.Pd

Jurusan : Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas : Ushuluddin Adab dan Dakwah

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO TAHUN 1440 H / 2019 M

(3)
(4)
(5)
(6)

vi

ABSTRAK Oleh Rika Widayanti

Metode dakwah mau’izhah hasanah ialah suatu cara menyampaikan dakwah melalui dengan perkataan-perkataan yang baik seperti : Nasihat atau petuah Bimbingan, pengajaran (pendidikan), Kisah-kisah, Wasiat (pesan-pesan positif), Kabar gembira dan peringatan. Majelis Ta’lim sebagai salah satu bentuk pendidikan non formal yang dibutuhkan bagi masyarakat sebagai salah satu wadah umat Islam dalam usaha memahami ajaran Islam secaraa tekstual dan kontekstual serta sebagai sarana dalam pembinaan perilaku yang menyimpang di masyarakat.

Berdasarkan hal tersebut yang menjadi pertanyaan penelitian dalam skripsi peneliti yaitu Bagaimana penerapan Metode Dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim Nurul Yaqin di Desa Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah dan Apakah ada faktor pendukung dan penghambat Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam Pembinaan Perilaku Masyarakat. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui penerapan Metode Dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim Nurul Yaqin serta faktor pendukung dan penghambat Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam Pembinaan Perilaku Masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) yang bersifat deskriptif kualitatif. Sumber data primer penelitian ini yaitu ketua Majelis Ta’lim, pengurus Majelis Ta’lim dan jamaah Majelis Ta’lim. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan, wawancara, observasi dan dokumentasi.

Hasil penelitian yang didapat oleh peneliti yaitu metode dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam pembinaan perilaku masyarakat di Desa Bumi Nabung Selatan menggunakan bentuk nasihat, tabsyir dan tandzir, wasiat, qashash Adapun indikator pencapaian dari serangkaian kegiatan Majelis Ta’lim Nurul Yaqin yaitu bahwa jamaah dapat memahami dan mengamalkan Al-Qur’an dan sunah Nabi dengan baik sehingga terwujudnya masyarakat Islam yang beriman dan bertaqwa serta berakhlakul karimah. Faktor pendukung Majelis Ta’lim dalam pembinaan perilaku masyarakat yaitu Panggilan dakwah Islamiyah dari ustadz dan juga panggilan menuntut ilmu bagi jamaah, Antusias masyarakat, Karakter masyarakat yang menurut dan patuh kepada pimpinan. Sedangkan faktor penghambatnya yaitu dominasi mata pencaharian masyarakat sebagai petani.

(7)
(8)

viii

ُنىسْحىأ ىيِه ِتَِّلاِب ْمُْلِْداىجىو

ِهِليِبىس ْنىع َّلىض ْنىِبِ ُمىلْعىأ ىوُه ىكَّبىر َّنِإ

ۖ

ىوُهىو

ىنيِدىتْهُمْلاِب ُمىلْعىأ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”1. ( QS. Albayyinah : 7 )

1

Lajnah Pentashih Mushaf Qur’an Departemen Agama Republik Indonesia,

(9)

ix

1. Kedua orang tua saya Ayah Sugiri dan Ibunda Sriatun yang telah melimpahkan kasih sayang, pengorbanan dan senantiasa mendoakan keberhasilan anaknya, serta adik saya Dika Nurhasanah yang selalu memberikan semangat dan dukungannya.

2. Dosen Pembimbing 1 Hemlan Elhany, S.Ag., M.Ag. yang telah membimbing dan memberikan banyak arahan serta nasehat-nasehatnya.

3. Dosen Pembimbing 2 Albarra Sarbaini, M.Pd yang telah membimbing dan memberikan banyak arahan serta nasehat-nasehatnya.

4. Rekan-rekan seperjuangan di Jurusan KPI angkatan 2015 yang telah memberikan dukungan. Semoga kita bisa melanjutkan mimpi- mimpi kita dan menjadi orang yang bisa di banggakan.

5. Sahabat-sahabat terbaik saya Eriska Yuni Astuti, Nur Indah Istiqomah, Dini Fauziah, Irena Katrin yang telah memberi semangat dan motivasi.

(10)

x sehingga dapat menyelesaikan Skripsi ini.

Penulisan Skripsi ini adalah sebagai salah satu bagian dari persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan progam strata satu (S1) Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Negeri (IAIN) Metro, guna memperoleh gelar Sarjana Soaial (S.sos)

Dalam upaya untuk penyelesaian Skripsi ini, peneliti telah menerima banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Ibu Prof. Dr. Hj. Enizar, M.Ag, Selaku Rektor IAIN Metro, Bapak Dr. Mat Jalil, M.Hum, Selaku Dekan Fakultas Ushuluddin

Adab dan dakwah, Bapak Hemlan Elhany, S.Ag, M.Ag, Selaku Pembimbing I, Bapak Albarra Sarbaini, M.Pd, Selaku Pembimbing II, serta Bapak/Ibu Dosen

IAIN Metro yang telah memberi bimbingan penelitian Skripsi yang sangat berharga dalam mengarahkan dan memberikan informasi.

Kritik dan saran demi perbaikan Skripsi ini sangat diharapkan dan serta akan diterima dengan lapang dada. Akhirnya semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan agama Islam.

Metro, 28 Januari 2019 Penulis

Rika Widayanti

(11)

xi

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

HALAMAN ORISINALITAS PENELITIAN ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

HALAMAN KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Pertanyaan Penelitian ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5

D. Penelitian Relevan ... 6

BAB II LANDASAN TEORI A. Metode Dakwah ... 10

1. Pengertian Metode ... 10

2. Pengertian Metode Dakwah ... 10

3. Bentuk-Bentuk Metode Dakwah ... 14

4. Metode Dakwah Mau’izhah Hasanah ... 16

5. Indikator Metode Dakwah Mau’izhah Hasanah ... 21

6. Tujuan dan Keutamaan Dakwah Mau’izhah Hasanah ... 23

B. Majelis Taklim ... 25

1. Pengertian Majelis Ta’lim ... 25

(12)

xii

3. Pengertian masyarakat ... 31

4. Pengertian Pembinaan Perilaku Masyarakat ... 33

5. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perilaku ... 36

6. Metode – Metode Pembinaan Islami ... 37

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sifat Penelitian ... 40

B. Sumber Data ... 41

C. Teknik Pengumpulan Data ... 42

D. Teknik Penjamin Keabsahan Data ... 46

E. Teknik Analisis Data ... 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil Majelis Ta’lim Nurul Yaqin di desa Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah ... 48

1. Sejarah dan Perkembangan Majelis Ta’lim Nurul Yaqin ... 48

2. Visi Dan Misi Majelis Ta’lim Nurul Yaqin ... 50

3. Strukur Organisasi Majelis Ta’lim Nurul Yaqin ... 51

B. Pelaksanaan metode dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim Nurul Yaqin ... 52

C. Faktor pendukung dan penghambat Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam pembinaan perilaku masyarakat ... 59

BAB V PENUTUP A. Simpulan ... 61

B. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP

(13)

xiii

(14)

xiv 3. Alat Pengumpul Data

4. Surat Izin Research 5. Surat Tugas

6. Surat Balasan 7. Daftar Narasumber

8. Surat Keterangan Bebas Pustaka 9. Hasil Wawancara

10. Kartu Bimbingan Konsultasi Skripsi

(15)

1

Metode dakwah penting digunakan saat proses dakwah berlangsung karena metode dakwah merupakan strategi yang menentukan keberhasilan dakwah seorang da’i dimasyarakat, ada beberapa bentuk metode dakwah yaitu bil hikmah, mujadallah, dan mau’izhahhasanah. Peneliti di sini hanya akan membahas metode dakwah mau’izhah hasanah.

“Mau’izhah hasanah sebagai metode dakwah adalah mengajak manusia dengan memberi pelajaran dan nasihat yang baik, yang dapat menyentuh perasaan dan dapat membangkitkan semangat untuk mengamalkan syari’at Islam”.2 Aplikasi metode ini, bisa berupa bahasa lisan, tulisan, dan percontohan (suri teladan)

Islam adalah agama dakwah, yang mengandung arti bahwa keberadaannya dimuka bumi ini adalah dengan disebarluaskan dan diperkenalkan kepada umat melalui aktivitas dakwah, bukan dengan paksaaan, kekerasan, tidak pula dengan kekuatan pedang. Hal ini dapat dipahami, karena Islam adalah agama perdamaian, agama cinta kasih, agama pembebas dari belenggu perbudakan, agama yang mengakui hak dan kewajiban setiap individu.

Memahami kandungan surah Ali Imran (2) ayat 104, niscaya akan mengetahui kebenarannya. Dalam ayat tersebut, Allah berfirman :

2

(16)

ىكْنُمْلا ِنىع ىنْوىهْ نى يىو ِفوُرْعىمْلاِب ىنوُرُمْأىيىو ِْيْىْلْا ىلَِإ ىنوُعْدىي ٌةَّمُأ ْمُكْنِم ْنُكىتْلىو

ِر

ۖ

ىنوُحِلْفُمْلا ُمُه ىكِئٰىلوُأىو

Artinya :“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang

menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.3

Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah merupakan salah satu para meter yang digunakan Allah Swt dalam menilai suatu kaum.

Dakwah dalam pengertian Islam mengandung arti panggilan Tuhan dan Nabi Muhammad Saw. Untuk manusia agar percaya kepada ajaran Islam, bahwa tugas semua Nabi termasuk Nabi Muhammad adalah mendakwah sebuah agama yaitu Islam. Di samping itu istilah dakwah dipakai untuk arti propraganda mengenai apapun termasuk ajaran palsu. Dalam pengertian itu dakwah antara lain didefinisikan sebagai ajakan kepada orang lain agar menerima ajaran perorangan atau kelompok yang mengklaim sebagai yang absah menduduki kursi kekhalifahan, karena jabatan itu difikirkan dan diyakini sebagai haknya dan merupakan bagian dari kepercayaan agamanya4.

Perluasan berikutnya dari pemaknaan dakwah adalah aktivitas yang berorientasi pada masyarakat pengembangan muslim, antara lain dalam bentuk peningkatan kesejahteraan sosial. Bagi umat Islam, ide pengembangan masyarakat sebagai bagian dari cakupan dakwah adalah bukan ide lain yang dimasukan begitu saja dalam dakwah.5

Metode dakwah menyangkut masalah bagaimana caranya dakwah itu harus dilakukan. Tindakan-tindakan atau kegiatan-kegiatan dakwah yang telah dirumuskan akan efektif bila mana dilaksanakan dengan mempergunakan cara-cara yang tepat.

3

QS. Ali Imran (2) : 104

4 Muhammad Sulthon, Menjawab Tantangan Zaman Desain Ilmu Dakwah Kajian

Ontologis, Epistemologis Dan Aksiologis( yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2003) h.13

5

(17)

Metode dakwah mau’izhah hasanah adalah salah satu metode yang digunakan oleh Majelis Ta’lim Nurul Yaqin. Dakwah mau’izhah hasanah adalah dakwah yang dilakukan terlebih dahulu memahami secara mendalam segala persoalan yang berhubungan dengan proses dakwah, yang meliputi persoalan sasaran dakwah, tindakan-tindakan yang akan dilakukan, masyarakat yang menjadi objek dilaksanakan dan lain sebagainya.

Sebagai metode dakwah mau’izhah hasanah , berarti mendakwahi manusia dengan cara-cara ilmiah agar manusia menerima dan melaksanakan syari’at Islam menurut contoh Rasulullah Saw..6

Melihat kondisi masyarakat saat ini, sebagai muslim, tentunya menginginkan perubahan.

دْيِعىس ِبِىأ ْنىع

ىلاىق ُهْنىع ُللها ىيِضىر يِرْدُْلْا

:

هيلع للها ىلص ِللها ىلْوُسىر ُتْعِىسَ

ُلْوُقى ي ملسو

:

،ِهِناىسِلِبىف ْعِطىتْسىي ْىلَ ْنِإىف ،ِهِدىيِب ُهْرِّ يىغُ يْلى ف ًارىكْنُم ْمُكْنِم ىىأىر ْنىم

ِناىْيِْلإْا ُفىعْضىأ ىكِلىذىو ِهِبْلىقِبىف ْعِطىتْسىي ْىلَ ْنِإىف

Artinya : Dari Abu Sa’id Al-Khudri rodhiallohu’anhu dia berkata : Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda :Barang siapa yang melihat kemungkaran hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu, maka dengan lisannya;jikamasih ia tidakmampu, maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemahnyaiman.7

Penjelasan hadist tersebut kaum muslimin harus diselamatkan dari kehinaan yang mereka alami dengan cara mengajak mereka untuk berjuang menegakkan syariat Islam yang berlandaskan Al Quran dan Hadist yang menjamin kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

6 H. Tata Sukayat, Quantum Dakwah, h. 40

7 Imam An-Nawawi, Terjemah Hadist Arbain An-Nawawi, (Jakarta : Al-I’tishom Cahaya

(18)

Majelis Ta’lim adalah suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dan dibimbing oleh alim ulama, yang bertujuan membina dan mengajarkan hubungan antara manusia dengan Allah Swt. Dan antara manusia dengan sesama manusia yang bertujuan untuk membina masyarakat yang bertakwa dan beriman kepada Allah Swt.8

Keberadaan Majelis Ta’lim dalam era globalisasi ini sangat penting, terutama dalam upaya mengatasi dampak dari era globalisasi. Olehnya itu. Majelis Ta’lim Nurul Yaqin sebagai salah satu lembaga dakwah yang ada di Kelurahan Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung, tentunya memiliki peranan yang sangat penting dalam mengatasi masalah yang timbul dalam masyarakat, seperti perilaku menyimpang pada masyarakat yang dilakukan oleh sebagian masyarakat. Dengan maraknya perilaku masyarakat tersebut merupakan salah satu problema yang dihadapi Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dan sampai saat ini masih memerlukan penaggulangan.

Berdasarkan observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di Desa Bumi Nabung Selatan, Bapak Saefudin, ketua Majelis Ta’lim Nurul Yaqin pada tanggal 8 Oktober 2019 menyatakan bahwa bentuk perilaku menyimpang yang dilakukan oleh masyarakat di Kelurahan Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung seperti : perselingkuhan yang sudah berumah tangga, sedangkan dikalangan remaja masih sering terjadi hamil diluar nikah, perjudian, minum-minuman keras dan masih banyak sebagian masyarakat belum menjalankan ajaran akidah Islam. menyadari keresahan pada warga sekitarnya atas perilaku yang menyimpang tersebut dan itu disebabkan karena kurangnya pemahaman agama.

8 Anwar H. Rosehan, Majelis Taklim & Pembinaan Umat, (Jakarta : Puslitbang Lektur

(19)

Majelis Ta’lim Nurul Yaqin mengadakan pengajian setiap tanggal 15 dikalender Islam atau disebut pengajian padang bulanan, setiap hari jumat legi dan setiap pergantian tahun baru. Secara rutin dalam bentuk ceramah sebagai realisasi kegiatan untuk mengembangkan kualitas keagamaan yang menjadi kewajiban bagi setiap manusia.

Untuk itu penelitian ini berjudul: “METODE DAKWAH MAU’IZHAH

HASANAH MAJELIS TA’LIM NURUL YAQIN DALAM

PEMBINAAN PERILAKU MASYARAKAT DESA BUMI NABUNG SELATAN KECAMATAN BUMI NABUNG KABUPATEN LAMPUNG TENGAH’’.

B. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana penerapan Metode Dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim Nurul Yaqin di Desa Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah?

2. Apakah ada faktor pendukung dan penghambat Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam Pembinaan Perilaku Masyarakat di Desa Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

a. Mengungkap dan mengetahui penerapan Metode Dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim Nurul Yaqin di Desa Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah.

b. Mengetahui faktor pendukung dan penghambat Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam Pembinaan Perilaku Masyarakat di Desa Bumi Nabung Selatan Kecamatan Bumi Nabung Kabupaten Lampung Tengah.

(20)

2. Manfaat penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis yang penulis maksud yaitu diharapkan skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan keilmuan dakwah dalam bidang metode dakwah, dengan harapan dapat dijadikan salah satu bahan studi banding oleh peneliti lainnya dan secara umumnya pada manajemen dakwah serta dapat memberi kontribusi bagi juru dakwah atau da‟i untuk mengembangkan agama Islam di daerah masing-masing.

b. Manfaat praktisi

Sedangkan secara praktis memberikan gambaran mengenai metode dakwah mau’izhah hasanah yang telah digunakan Majelis Ta’lim Nurul Yaqin dalam melaksanakan dakwah serta dapat memberikan motivasi untuk lebih berperan di masyarakat, memberikan kontribusinya berupa pembinaan terhadap perilaku, dan juga penelitian ini mampu menjadi bahan pertimbangan bagi para da‟i dalam menentukan metode dakwah.

D. Penelitian Relevan

Bagian ini memuat uraian secara sistematis mengenai hasil penelitian terdahulu (Prior Research) tentang persoalan yang dikaji. Peneliti mengemukakan dan menunjukkan degan tegas bahwa masalah yang akan dibahas belum pernah diteliti atau berbeda dengan penelitian sebelumnya.

(21)

Untuk itu, tinjauan kritis terhadap hasil kajian terdahulu perlu dilakukan dalam bagian ini. Sehingga dapat ditentukan dimana posisi penelitian yang akan dilakukan berada.9

Muhammad Syaiful Hasyim, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN, Raden Intan Lampung, dengan judul skipsi: Metode Dakwah Majelis Taklim Mar Atun Dalam Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah Di Desa Way Hui Dusun V Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Tengah, Penelitian ini memfokuskan pada metode dakwah yang meningkatkan ukhuwah islamiyah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa upaya yang dilakukan Majelis Taklim Mar Atun untuk meningkatkan ukhuwah islamiyah dengan metode dakwah bil lisan (kajian fiqih) metode dakwah bil hal ( metode dakwah dengan arisan dan dengan koperasi simpan pinjam). Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif.10 Persamaan dengan penelitian yang akan peneliti teliti adalah saama-sama meneliti tentang metode dakwah majelis ta’lim, sedang perbedaannya ialah penelitian ini fokus terhadap metode dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim dalam pembinaan perilaku masyarakat sedangkan penelitian tersebut fokus pada metode dakwah dalam meningkatkan ukhuwah Islamiyah.

Penelitian yang selanjutnya dilakukan oleh Vidia Dwi Aryani Mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung yang berjudul : “Komunikasi

9Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah Edisi Revisi, (Metro: STAIN Jurai

Siwo Metro, 2016), h. 39.

10, Muhammad Syaiful Hasyim “ SkripsiMetode Dakwah Majelis Taklim Mar Atun

Dalam Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah Di Desa Way Hui Dusun V Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Tengah ”, (Lampung : UIN Raden Intan), 2017.

(22)

Organisasi Pengurus Majelis Ta’lim dalam Pembinaan Karakter Keagamaan Pada Anggota Majelis Ta’lim Desa Kedaloman Kecamatan Gunung Alip Kabupaten Tanggamus”.11 Dalam ruang lingkup pembahasannya memfokuskan pada usaha-usaha Majelis Ta’lim dalam pembinaan karakter keagamaan penelitian ini menyimpulkan bahwa ada 4 tahapan dalam pembinaan karakter keagamaan yaitu : memahami karakter, penyampaian materi, respon (tanggapan), umpan balik (feedback). Penelitian ini menggunakan metode deskriktif kualitatif. Persamaan dengan penelitian yang akan penulis teliti adalah saama-sama meneliti tentang majelis ta’lim dalam melakukan pembinaan, sedang perbedaannya ialah penelitian ini fokus terhadap metode dakwah mau’izhah hasanah majelis ta’lim dalam pembinaan perilaku masyarakat sedangkan penelitian tersebut fokus terhadap usaha-usaha Majelis Ta’lim dalam pembinaan karakter keagamaan.

Penelitian yang selanjutnya dilakukan oleh Rizka Amelia Mahasiswi Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Bandar Lampung yang berjudul : “Gaya Komunikasi Dakwah Bil-Lisan Yang Digunakan Ustadz di Majelis Taklim (Studi Pada Majelis Taklim Rachmat Hidayat Bandar Lampung)”.12 Dalam ruang lingkup pembahasannya memfokuskan pada usaha-usaha Gaya Komunikasi Dakwah Bil-Lisan, meneliti ini menyimpulkan bahwa dakwah bil-lisan yang digunakan oleh

11Vidia Dwi Aryani,“Komunikasi Organisasi Pengurus Majelis Ta’lim Dalam Pembinaan

Karakter Keagamaan Pada Anggota Majelis Ta’lim Desa Kedaloman Kecamatan Gunung Alip Kabupaten Tanggamus”,(Lampung :Universitas Islam Negri Raden Intan) , 2018.

12Rizka Amelia Mahasiswi“Gaya Komunikasi Dakwah Bil-Lisan Yang Digunakan

Ustadz Di Majelis Taklim (Studi Pada Majelis Taklim Rachmat Hidayat Bandar Lampung)”,(Bandar Lampung :Universitas Lampung) , 2017.

(23)

ustadz ketika berdakwah meliputi pemilihan bahasa dan gaya komunikasi, Penelitian ini menggunakan metode deskriktif kualitatif. Persamaan dengan penelitian yang akan peneliti teliti adalah saama-sama meneliti tentang metode yang digunakan Majelis Ta’lim , sedang perbedaannya ialah penelitian ini fokus terhadap metode dakwah mau’izhah hasanah Majelis Ta’lim dalam pembinaan perilaku masyarakat sedangkan penelitian tersebut fokus terhadap usaha-usaha Gaya Komunikasi Dakwah Bil-Lisan.

Berdasarkan uraian diatas dapat ditegaskan bahwa penelitian yang dilakukan ini merupakan penelitian yang berbeda dari penelitian-penelitian sebelumnya. Pada penelitian terdahulu belum ada yang membahas mengenai metode Majelis Ta’lim dalam membina perilaku masyarakat serta faktor pendukung dan penghambat dalam membina perilaku masyarakat. Dimana dengan penerapan metode tersebut masyarakat bisa memahami agama Islam dengan baik sehingga akan merubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik lagi.

(24)

10

1. Pengertian Metode

Pengertian“metode dari segi bahasa metode berasal dari dua perkataan yaitu “meta” (melalui) dan “hodos” (jalan,cara)”, metode berasal dari bahasa jerman methodica artinya ajaran tentang metode”.13

Dalam bahasa arab, “al-ushlub identik dengan kata thariq atau thariqah, yang berarti jalan atau cara. Dalam bahasa yunani disebut dengan istilah metode, berasal dari kata methodos artinya jalan”.14

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian metode adalah cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki. Pengertian lainnya adalah metode merupakan cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan15.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara atau jalan yang diatur melalui proses pemikiran untuk mencapai suatu tujuan dan maksud.

2. Pengertian Metode Dakwah

Dakwah dari segi bahasa (etimologi), “dakwah adalah upaya memaggil, menyeru dan mengajak manusia menuju Allah Swt”.16“Dalam

ilmu tata bahasa arab, Kata dakwah merupakan bentuk mashdar dari kata

13 M. Munir, Metode Dakwah , (Jakarta : Kencana, 2003) cet -1, h. 6-7 14

H. Tata Sukayat, Quantum Dakwah, (Jakarta : Reneka Cipta,2009) h. 34

15 Tim Penyusun,Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai Pustaka, 2002) Ed-3,

Cet-2 h. 740

(25)

kerja da’a yad’u da’watan, yang berarti memanggil, menyeru, atau mengajak”.17

Pemahaman ini sejalan dengan penjelasan dalam QS. yusuf ayat 108,

ِهَّللا ىلَِإ وُعْدىأ يِليِبىس ِهِذٰىه ْلُق

ۖ

ىنىأ ٍةىيِْصىب ٰىىلىع

ِنِىعى بَّ تا ِنىمىو ا

ۖ

ىيِكِرْشُمْلا ىنِم اىنىأ اىمىو ِهَّللا ىناىحْبُسىو

Artinya : Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".18

Sedangkan arti dakwah menurut pandangan beberapa pakar atau ilmuan adalah sebagai berikut:

a. “dakwah adalah suatu proses menghidupkan peraturan-peraturan Islam dengan maksud memindahkan umat dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain”.19

b. Dakwah adalah “seruan uuntuk beriman kepada-Nya dan pada jajaran yang di bawah para utusan-Nya perintah-Nya”.20

c. Dakwah adalah “membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar, supaya mereka memperoleh keberuntungan, kebahagiaan dunia dan akhirat”.21

17 Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, (Jakarta :

Amzah, 2008) Cet -1, h. 17

18

Q.S Yusuf (10) : 108

19 M. Munir, Metode Dakwah., h. 7 20 H. Tata Sukayat, Quantum Dakwah, h. 2 21Ibid, h. 3

(26)

d. Dakwah ialah “mengajak dan mengumpulkan manusia untuk kebaikan serta membimbing mereka kepada petunjuk dengan cara ber-amar ma’ruf nahi mungkar”.22

e. dakwah adalah “seruan atau ajakan kepada keinsyafan atau usaha mengubah situasi kepada situasi yang lebih baik dan sempurna baik terhadap pribadi maupun masyarakat”.23

Beberapa definisi dakwah tersebut, kesemuanya bertemu pada satu titik. Yakni, dakwah merupakan sebuah upaya kegiatan baik dalam wujud ucapan maupun perbuatan, yang mengandung sebuah ajakan atau seruan kepada orang lain untuk mengetahui, menghayati, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.24

Simpulannya ialah dakwah bukanlah terbatas pada penjelasan dan penyampaian semata, namun juga menyentuh aspek kehidupan dalam pembinaan dan pembentukan pribadi, keluarga dan masyarakat islam.

Dakwah dan amar ma’ruf nahi mungkar dengan metode yang tepat akan mengantarkan dan menyajikan ajaran Islam yang sempurna. Metode yang diterapkan dalam menyampaikan amar ma’ruf nahi mungkar tersebut sebenarnya akan terus berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dihadapi para da’i.

Amar ma’ruf nahi mungkar tidak bertujuan memperkosa fitrah seseorang untuk tunduk dan senantiasa mengikuti tanpa mengetahui hujjah yang dipakai, tetapi untuk memberikan koreksi dan membangkitkan kesadaran dalam diri seseorang akan kesalahan dan kekurangan yang dimiliki.25

22

Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, h. 21

23Ibid, h. 22 24Ibid

(27)

Adapun tujuan diadakan metodelogi dakwah adalah untuk memberikan kemudahan serta keserasian, baik bagi pembawa dakwah itu sendiri maupun bagi penerimanya. Pengalaman mengatakan, bahwa metode yang kurang tepat seringkali mengakibatkan gagalnya aktivitas dakwah. Sebaliknya, terkadang sebuah permasalahan yang sedemikian sering dikemukakan pun, apabila diramu dengan metode yang tepat, dengan gaya penyampaian yang baik, ditambah aksi retorika yang mumpuni, maka respon yang didapat pun cukup memuaskan.26

Metode keilmuan dakwah dengan menggunakan pendekatan analisa sistem dakwah. dengan menerapkan model ini dalam melakukan kajian terhadap objek forma ilmu dakwah maka diantara hasil yang dapat diperoleh:

a. Masalah-masalah yang kompleks dalam dinamika dakwah dapat dirumuskan.

b. Proses dakwah dapat diketahui alurnya.

c. Hasil-hasil dakwah dapat diukur dan dianalisa. d. Umpan balik kegiatan dakwah dapat dinilai.

e. Fungsi dakwah dalam nilai sistem kemasyarakatan.27

Dakwah haruslah dikemas dengan cara dan metode yang tepat dan pas. Dakwah harus tampil secara aktual, faktual, kontekstual. Aktual dalam arti memecahkan masalah yang kekinian dan hangat di tengah masyarakat. Faktual dalam arti konkret dan nyata, serta kontesktual dalam arti relevan dan menyangkut problema yang sedang dihadapi masyarakat.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa metode dakwah adalah cara dan jalan yang tepat, agar dakwah menjadi aktual, faktual, dan kontesktual, menjadi bagian strategis dari kegiatan dakwah itu sendiri. Tanpa ketepatan metode keakuratan cara, kegiatan dakwah

26 Fathul Bahri An-Nabiry, Meniti Jalan Dakwah Bekal Perjuangan Para Da’i, h. 238 27 Muhammad Sulthon, Desain Ilmu Dakwah, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2003) h. 110

(28)

tidak akan bisa mencapai tujuannya. Aktivitas dakwah akan berputar dalam pemecahan problema yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

3. Bentuk-bentuk Metode Dakwah

Adapun metode yang akurat untuk diterapkan dalam dakwah, telah tertuang dalam QS. An-Nahl (16) ayat 125 sebagai berikut :

ِةىنىسىْلْا ِةىظِعْوىمْلاىو ِةىمْكِْلْاِب ىكِّبىر ِليِبىس ٰىلَِإ ُعْدا

ۖ

ىيِه ِتَِّلاِب ْمُْلِْداىجىو

ُنىسْحىأ

ۖ

ِهِليِبىس ْنىع َّلىض ْنىِبِ ُمىلْعىأ ىوُه ىكَّبىر َّنِإ

ۖ

ىوُهىو

ُمىلْعىأ

ىنيِدىتْهُمْلاِب

Artinya : Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan

hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.28

Dari redaksi ayat di atas, terdapat 3 (tiga) kerangka dasar tentang metode dakwah, yang dapat dipilih salah satunya, atau kesemuanya. Kerangka dasar itu adalah sebagai berikut :

a. Dakwah Bil Hikmah

Hikmah adalah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Kata hikmah ini sering kali diterjemahkan dalam pengertian bijaksana, yaitu suatu pendekatan sedemikian rupa sehingga akan timbul suatu kesadaran pada pihak mad’u untuk melaksanakan apa yang didengarnya dari dakwah itu, atas dasar kemauan sendiri, tidak merasa ada paksaan, konflik maupun rasa tertekan.29

Hikmah adalah bekal da’i menuju sukses. Karunia Allah Swt yang diberikan kepada orang yang mendapatkan hikmah insyaAllah juga akan berimbas kepada para mad’unya, sehingga mereka

28

QS. An-Nahl (16) : 125

(29)

termotivasi untuk merubah diri dan mengamalkan yang disarankan da’i kepada mereka.

b. Dakwah Mujadallah

Metode untuk mengajak manusia kepada Allah SWT memang banyak dan beragam. Yang paling umum digunakan adalah komunikasi verbal, untuk meyampaikan pesan kepada akal, perasaan, dan hati, baik dengan ungkapan maupun tulisan. Dan pada tahapan tertentu, suatu pembiacaraan sering berlanjut dengan diskusi bahkan perdebatan30.

.

pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, al-Mujadallah merupakan tukar pendapat yang dilakukan oleh dua pihak secara sinergis, yang tidak melahirkan permusuhan dengan tujuan agar lawan menerima pendapat yang diajukan dengan memberikan argumentasi dan bukti yang kuat.

c. Dakwah Bil Mau’izhah Hasanah

Mau’izhah hasanah ialah kalimat atau ucapan yang diucapkan oleh seorang da’i atau mubaligh, disampaikan dengan cara yang baik, berisikan petunjuk-petunjuk ke arah kebajikan, diterangkan dengan gaya bahasa yang sederhana, supaya yang disampaikan itu dapat ditangkap, dicerna, dihayati, dan pada tahapan selanjutnya dapat diamalkan. Bahasanya yang lembut begitu enak didengar, berkenaan di hati, dan menyentuh sanubari. Ia senantiasa menghindari segala bentuk kekasaran dan caci – maki, sehingga mad’u yang didakwahi tersebut memperoleh kebaikan dan menerima dengan rela hati, serta merasakan kesungguhan sang da’i dalam menyelamatkan mereka dari kemadharatan31

.

Mau’izhah hasanah ialah memberikan nasihat kepada orang lain dengan cara yang baik, yaitu dengan petunjuk-petunjuk ke arah

30

Ibid., h. 243 31 Ibid., h. 242

(30)

kebaikan dengan bahasa yang baik, dapat diterima, berkenan di hati, menyentuh perasaan, dan lurus dipikiran.

4. Metode Dakwah Mau’izhah Hasanah

a. Pengertian mau’izhah hasanah

Terminologi mau’izhah hasanah dalam persepektif dakwah sangat populer, bahkan dalam acara-acara seremonial keagamaan (baca dakwah atau tabligh) seperti Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, istilah mau’izhah hasanah mendapat porsi khusus dengan sebuatan “acara yang ditunggu-tunggu” yang merupakan inti acara. Namun demikian agar tidak menjadi kesalahpahaman, maka akan dijelaskan pengertian mau’izhatil hasanah.32

Secara bahasa, mau’izhah hasanah terdiri dari dua kata, mau’izhah dan hasanah. Kata mau’izhah berasal dari kata wa’adza-ya idzu- wa’dzan- idzatan yang berarti : nasihat, bimbingan, pendidikan, dan peringatan. Sementara hasanah merupakan kebalikan dari sayy’ab yang artinya kebaikan lawannya kejelekan.

Makna mau’izhah hasanah menjadi pelajaran atau nasihat yang baik. Nasihat yang menyentuh hati dan melembutkan. Seorang aktivis dakwah yang cerdas selalu menyampaikan apa yang di hatinya. Tidak di buat-buat, dan tidak pula membuat orang-orang semakin bingung dan ketakutan. Banyak sekali contoh yang menunjukkan bahwa berdakwah dari hati ke hati sangat besar pengaruhnya terhadap orang lain. Sebuah ungkapan terkenal yang menarik untuk dikutip di sini bahwa : “apa yang datang dari hati akan sampai ke hati” ( ma jaa’a minal qalbi yashila ilal qalbi).33

Mau’izhah hasanah yang disampaikan lemah lembut dan penuh pancaran kasih sayang akan menyisakan kebahagiaan pada diri umat manusia. Ia akan menuntun mereka ke jalan yang haq, memberi pelajaran yang baik dan bermanfaat, memberi nasihat dan mengingat

32 M. Munir, Metode Dakwah. 15-16 33

(31)

orang lain dengan bahasa yang baik dan penuh kelembutan. Hal ini tercermin dalam firman Nya:

ْمُىلْ ىتْنِل ِهَّللا ىنِم ٍةىْحْىر اىمِبىف

ۖ

يِلىغ اًّظىف ىتْنُك ْوىلىو

اوُّضىفْ ن ىلَ ِبْلىقْلا ىظ

ىكِلْوىح ْنِم

ۖ

ِرْمىْلْا ِفِ ْمُهْرِواىشىو ْمُىلْ ْرِفْغى تْساىو ْمُهْ نىع ُفْعاىف

ۖ

اىذِإىف

ِهَّللا ىىلىع ْلَّكىوى تى ف ىتْمىزىع

ۖ

ىيِلِّكىوى تُمْلا ُّبُِيُ ىهَّللا َّنِإ

Artinya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.34

Ayat di atas menerangkan, bahwa aktivis dakwah yang dilakukan dengan cara mau’izhah hasanah harus selalu mengarah pada pentingnya manusiawi dalam segala hal. Sikap lemah lembut dan menghindari sikap egoisme, adalah warna yang tidak terpisahkan untuk melancarkan pesan dakwah kepada orang lain, yang disampaikan secara persuasif.

Seorang da’i harus mampu menyesuaikan dan mengarahkan message dakwahnya sesuai tingkat berpikir dan lingkup pengalaman si mad’u, supaya tujuan dakwah sebagai ikhtiar untuk mengaktualisasikan nilai-nilai dan ajaran Islam ke dalam kehidupan pribadi atau masyarakat dapa terwujud, dan mengarahkan mereka sebagai khairul ummah, yaitu umat yang adil dan terpilih ( umatan washatan), sehingga terwujudlah

(32)

umat yang sejahtera lahir dan batin, bahagia di dunia dan di akhirat nanti. Insya’Allah.

Adapun pengertian secara istilah, ada beberapa pendapat antara lain; 1) ”mau’izhah hasanah adalah perkataan–perkataan yang tidak

tersembunyi bagi mereka, bahwa engkau memberika nasihat dan menghendaki manfaat kepada mereka atau dengan al-Qur’an”. 2) Mau’izhah Hasanah “merupakan salah satu metode dalam dakwah

untuk mengajak ke jalan Allah dengan memberikan nasihat atau membimbing dengan lemah lembut agar mereka mau berbuat baik”.35

3) mau’izhah hasanah adalah “ucapan yang berisi nasihat-nasihat baik dan bermanfaat bagi orang yang mendengarkannya, atau argumen-argumen yang memuaskan sehingga pihak audiensi dapat membenarkan apa yang disampaikan oleh subjek dakwah”.36

Definisi mau’izhah hasanah di atas, dapat diklasifikasikan dalam beberapa bentuk yaitu :

a) Nasihat atau petuah

b) Bimbingan atau pengajaran (pendidikan) c) Kisah-kisah

d) Kabar gembira dan peringatan e) Wasiat (pesan-pesan positif)

35 M. Munir, Metode Dakwah, h.16 36

(33)

Kesimpulan dari mau’izhah hasanah adalah mengandung arti kata-kata yang masuk ke dalam perasaan dengan penuh kelembutan; tidak membogkar atau membeberkan kesalahan orang lain sebab kelemah-lembutan dalam menasehati sering kali meluluhkan hati yang keras dan menjinakkan kalbu yang liar, ia lebih mudah melahirkan kebaikan daripada larangan dan ancaman.

b. Pendekatan Metode Mau’izhah Hasanah

Pendekatan dakwah melaui mau’izhah hasanah dilakukan dengan perintah dan larangan disertai dengan unsur motivasi (targhib) dan ancaman (tarhib) yang diutarakan lewat perkataan yang melembutkan hati, menggugah jiwa, dan mencairkan hati yang beku, serta dapat menguatkan keimanan dan petunjuk yang mencerahkan. Pendekatan mau’izhah hasanah dibagi menjadi dua bentuk yaitu37 :

1.) pengajaran (ta’lim)

Dakwah mau’izhah hasanah dalam bentuk ta’lim dilakukan dengan menjelaskan keyakinan tauhid implikasinya dari hukum syariat yang lima, wajib, haram, sunah, makruh, dan mubah dengan perkataan tertentu sesuai dengan kondisi mad’u dan memperingatkan mad’u dari bersikap gemampang (al-tahawun). 2.) pembinaan (ta’dib).

Pendekatan dakwah mau’izhah hasanah melalui pembinaan yaitu dilakukan dengan penanaman moral dan etika (budi pekerti

37

Ilyas Ismail & Prio Hotman, Filsafat Dakwah Rekayasa Membangun Agama Dan

(34)

mulia) seperti kesabaran, keberanian, menepati janji, welas asih, hingga kehormatan diri, serta menjelaskan efek dan manfaatnya dalam kehidupan masyarakat, di samping menjauhkan mereka dari perangai-perangai tercela seperti emosional, khianat, pengecut, cengeng, dan bakhil.

Seorang da’i yang menggunakan metode mau’izhah hasanah harus memperhatika lima hal ini agar dapat tepat sasaran yaitu :

1.) memperhatikan dengan seksama jenis kemungkaran yang berkembang sesuai dengan konteks waktu dan tempat.

2.) Mengukur skala prioritas kemungkaran yang mesti lebih dulu ditangani sesuai derajat kerusakannya di masyarakat.

3.) Memikirkan efek yang ditimbulkan lebih jauh oleh kemungkaran ini dari segi spikis, sosial, kesehatan, hingga finansial.

4.) Menghadirkan argumentasi agama terkait dengan efek kemungkaran tersebut, bisa dari ayat al-quran, hadis nabi, perkataan sahabat atau nasihat.

5.) Jika mau, nasihat-nasihat ini dapat didokumentasikan dalam bentuk tulisan bertema yang mengupas bahaya suatu kemungkaran dalam hidup manusia serta memotivasi mereka untuk bertaubat.38

Mau’izhah hasanah yang bertujuan untuk memotivasi amal saleh memerlukan langkah-langkah yang merenungkan secara mendalam keistimewaan dan efek kebaikan amalan tersebut dalam kehidupan sosial dan menghadirkan argumentasi yang berisi motivasi amal saleh.

38

(35)

5. Indikator Metode Dakwah Mau’izhah Hasanah

a. Mengemukakan kisah-kisah

kisah-kisah yang berkaitan dengan salah satu tujuan materi. Kisah-kisah dalam al-Qur’an berkisar pada peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi dengan menyebut pelaku-pelaku dan tempat terjadinya (seperti kisah nabi-nabi), peristiwa yang telah terjadi dan masih dapat berulang kejadiannya, atau kisah simbolik yang tidak menggambarkan suatu peristiwa yang telah terjadi, namun dapat saja terjadi sewaktu-waktu39.

b. Nasihat dan panutan.

Al-Qur’an juga menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk mengarahkan manusia kepada ide-ide yang dikehendakinya seperti terdapat dalam QS. Luqman : 13.

ٌمْلُظىل ىكْرِّشلا َّنِإ ِللهاِب ْكِرْشُتىلَ َّىنُِ باىي ُهُظِعىيىوُهىو ِهِنْبِلَ ُناىمْقُل ىلاىق ْذِإىو

ٌمْيِظىع

(

31

)

Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar".40

39

Jurnal Ilmu Dakwah Vol. 4 No. 15 Januari-Juni 2010

(36)

Berdasarkan ayat 13 dilukiskan pengalaman hikmah itu oleh Luqman, serta pelestariannya kepada anaknya. Ini pun mencerminkan kesyukuran beliau atas anugerah itu.

Ayat ini berbunyi: Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia dari saat ke saat memberi pelajaran kepadanya bahwa "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) dengan sesuatu apapun, dan jangan juga mempersekutukan-Nya sedikit persekutuan pun, lahir maupun batin. Persekutuan yang jelas maupun tersembunyi. Sesungguhnya syirik yakni mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar". Itu adalah penempatan sesuatu yang sangat agung pada tempat yang sangat buruk.

Tetapi nasihat yang dikemukakannya itu tidak banyak manfaatnya jika tidak dibarengi dengan contoh teladan dari pemberi atau penyampai nasihat, dalam hal pribadi Rasulullah.

Pada diri beliau telah terkumpul segala macam keistimewaan, sehingga orang-orang yang mendengar ajaran-ajaran al-Qur’an melihat penjelmaan ajaran tersebut dalam dirinya, yang pada akhirnya mendorong mereka untuk meyakini keistimewaan dan mencontoh pelaksanaannya.

c. Pembiasaan.

Pembiasaan mempunyai peranan yang sangat besar dalam kehidupan manusia, karena dengan pembiasaan seseorang dapat

(37)

melakukan hal-hal yang penting dan berguna tanpa menggunakan energi dan waktu yang banyak, dari sini dijumpai al-Qur’an.

Menggunakan ”pembiasaan” sebagai proses mencapai target yang diinginkannya dalam penyajian materi. Pembiasaan tersebut menyangkut segi-segi pasif (meninggalkan sesuatu) atau pun aktif (melaksanakan sesuatu).

6. Tujuan dan Keutamaan Dakwah Metode Mau’izhah Hasanah

Secara umum tujuan dakwah mau’izhah hasanah adalah” terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup manusia di dunia dan di akhirat yang diridhoi Allah Swt. Adapun tujuan dakwah mau’izhah hasanah dapat dibedakan menjadi dua macam tujuan”41, yaitu :

a. Tujuan umum dakwah mau’izhah hasanah

Merupakan sesuatu yang dicapai dalam seluruh aktivitas dakwah. Ini berati tujuan dakwah masih bersifat umum dan utama, di mana seluruh gerak langkahnya proses dakwah harus ditujukan dan diarahkan kepadanya.

b. Tujuan Khusus Dakwah Mau’izhah Hasanah

Merupakan perumusan tujuan dan penjabaran dari tujuan umum dakwah mau’izhah hasanah . Tujuan ini dimaksudkan agar dalam pelaksanaan seluruh aktifitas dakwah dapat jelas diketahui kemana arahnya, ataupun jenis kegiatan apa yang hendak dikerjakan, kepada siapa berdakwah, dengan cara apa, bagaimana, dan

(38)

sebagainya secara terperinci. Sehingga tidak terjadi overlapping antar juru dakwah yang satu dengan yang lainnya hanya karena masih umumnya tujuan yang hendak dicapai.

Selain berarti agama Tuhan yang dibawa oleh Rasulullah Saw, Islam juga berarti penyerahan diri secara mutlak kepada-Nya, dan kemudian berati kehidupan yang penuh keserasian atau saleh, dalam arti diliputi oleh kedamaian, kesejahteraan, keselamatan, kebahagiaan dan sejenis dengan itu. Hal ini merupakan tujuan akhir dakwah yang harus terwujud, dan sekaligus akan merupakan efek dakwah yang positif dalam konteks sosial.42

Proses penyelanggaraan dakwah yang terdiri dari berbagai aktivitas sebagaimana telah diterangkan di muka, dilakukan dalam rangka mencapai nilai tertentu. nilai tertentu yang diharapkan dapat dicapai dan diperoleh dengan jalan melakukan penyelenggaraan dakwah itu disebut tujuan dakwah. Setiap penyelenggaraan dakwah harus mempunyai tujuan. Tanpa adanya tujuan tertentu yang harus diwujudkan, maka penyelenggaraan dakwah tidak mempunyai arti apa-apa. Bahkan hanya merupakan pekerjaan sia-sia yang akan mengamburkan pikiran, tenaga dan biaya saja.

Bagi proses dakwah mau’izhah hasanah, tujuan adalah merupakan salah satu faktor yang paling penting dan sentral. Pada tujuan itulah dilandaskan segenap tindakan dalam rangka usaha kerjasama dakwah itu. Ini berarti bahwa dalam hendak menentukan sistem dan bentuk usaha

42 Anwar Arifin, Dakwah Kotemporer Sebuah Studi Komunikasi (Yogyakarta : Graha

(39)

kerja sama dakwah, tujuan adalah landasan utamanya. sebagaimana firman Allah QS. Adz-Dzariyat (51) ayat 56

ِنوُدُبْعى يِل َّلَِإ ىسْنِْلإاىو َّنِْلْا ُتْقىلىخ اىمىو

Artinya : Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.43

Dapat disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa tujuan dakwah mau’izhah hasanah adalah “untuk mempertegas fungsi hidup manusia di muka bumi ini, yang tidak lain ialah mengabdi dan menyembah Allah semata”44

.

B. MAJELIS TA’LIM

1. Pengertian Majelis Ta’lim

Majelis Tak’lim berasal dari bahasa arab jalasa, yajlisu, ijlis, majelisun yang berarti tempat duduk atau suatu tempat duduk bersama dalam mengadu pendapat atau saling bertukar pikiran. Sedang ta’lim ialah allama, yuallimu, i’lam, ta’liman yang berarti belajar atau pembelajaran.

43 QS. Adz-Dzariyat (51) : 56

(40)

Ta’lim adalah “proses pemberitahuan sesuatu dengan berulang-ulang dan sering, sehingga muta’allim (siswa) dapat mempersepsikan maknanya dan berbekas pada dirinya”.45

Menurut Rahman Al-Bani bahwa “ta’lim pada umumnya berkenaan dengan informasi, yakni aspek intelektual, dan kadang berkenaan dengan penguasaan suatu keterampilan”.

Athiyah Al-Abrasyi menyatakan bahwa ta’lim atau pengajaran tidak menuntut lebih dari guru yang melaksanakan pengajaran kepada orang lain, dan mengajarkannya akan informasi, pendapat dan pemikiran yang dikehendakinya dengan metode yang dipilihnya, sementara siswa (murid) memperhatikan apa yang disampaikan dan menyadari apa yang didengar.46

Shalih Ibnu Said mengatakan bahwa “ta’lim menunjukan proses yang memperhatikan aspek intelektual, yakni aspek pengetahuan yang meliputi pemindahan informasi, hakikat dan pemahaman”.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ta’lim ialah menyampaikan ilmu yang bermanfaat, melahirkan amal saleh, memberi petunjuk ke jalan yang benar.

Majelis Ta’lim dapat didefinisikan sebagai suatau tempat duduk bersama dalam rangka melangsungkan pembelajaran secara non formal yang dipimpin oleh beberapa orang ustad atau ustadzah.

Majelis Ta’lim dapat pula memainkan peran yang sifatnya komplementer terhadap berbagai usaha dan langkah pembinaan umat secara rutin di tempat-tempat tertentu seperti di rumah-rumah, atau di

45Helmawati, Pendidikan Nasional Dan Optimalisme Majelis Ta’lim, (Jakarta : Rineka

Cipta, 2013) Cet-1 , h. 80

46

(41)

salah satu masjid tertentu dan dapat pula dilakukan secara temporal pada waktu-waktu tertentu seperti pada bulan ramadhan atau bulan-bulan menjelang musim haji dan sebagainya.

Kegiatan keagamaan melalui Mejelis Ta’lim juga memperlihatkan dinamika yang beragam. Keragaman ini disebabkan karena perbedaan sistem atau metode, perbedaan manajerial, perbedaan SDM yang memimpinnya. Pada umumnya majelis taklim merupakan sistem pembelajaran yang non formal sehingga ia tidak memiliki sistem klasikal dan tidak pula diadakan sistem evaluasi, namun dapat dilihat hasilnya dalam kehidupan masyarakat.

Dinamika dapat dianalisi dengan menggunakan pendekatan SWOT (strength, weaknesis, oportunity, dan threat). Perlu diketahui di mana letak kekuatannya sehingga ia berjalan di tempat atau mengalami kemunduran atau sekali hilang tanpa bekas.

Bagaimana Majelis Ta’lim tersebut menggunakan kesempatan untuk berkembang lebih maju dan dapat membenahi dirinya secara baik serta seperti apa ancamannya sehingga pengelola dan pembuat kebijaksanaan Majelis Ta’lim tersebut dapat menyusun planing, progamming, dan budgeting system dalam mengikuti pola manajemen yang baik.

Majelis Ta’lim sebagai suatu wadah pembinaan umat untuk mempersatukan visi dan misi dalam menghadapi tentangan yang cukup besar bagi umat Islam di indonesia terutama setelah masyarakat indonesia memasuki era baru yang disebut dengan era

(42)

reformasi, demokratisi, transparasi atau yang lebih populer yang disebut dengan era globalisasi.47

Simpulan dari pemaparan di atas ialah Majelis Ta’lim adalah suatu lembaga pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dan dibimbing oleh alim ulama, yang bertujuan membina dan mengajarkan hubungan antara manusia dengan Allah swt. Dan antara manusia dengan sesama manusia yang bertujuan untuk membina masyarakat yang bertakwa dan beriman kepada Allah swt.

2. Fungsi Majelis Ta’lim

Fungsi Majelis Ta’lim dapat diartikan sebagai salah satu wadah pembinaan umat Islam dalam usaha memahami ajara Islam secaraa tekstual dan kontekstual dan berfungsi sebagai :

a. Sarana untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara efesien dan efektif kepada pesertanya,

b. Sarana untuk melakukan tukar menukar pendapat dan pengalaman pesertanya,

c. Sarana membina silaturahmi yang akrab dalam koridor ukhuwah Islamiyah.48

Majelis Ta’lim yang begitu penting disadari oleh berbagai pihak, yang ditandai oleh lahirnya Majelis Ta’lim terutama kota-kota besar, baik yang diprakarsai oleh umat yang membutuhkannya, maupun yang terbentuk atas prakarsa tokoh agama, lembaga keagamaan maupun tokoh politik.

Tujuan Majelis Ta’lim adalah salah satu lembaga pendidikan nonformal yang bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada

47Anwar H Rosehan, Majelis Taklim & Pembinaan Umat, ( Jakarta : Puslitbang Lektur

Keagamaan, 2002),Ed-1 Cet-1 h. 75

(43)

Allah Swt dan akhlak mulia bagi jamaahnya, serta mewujudkan bagian alam semesta.49

3. Pengembangan Majeli Ta’lim

Majelis Ta’lim selain perlu membenahi dirinya juga harus melakukan pengembangan kurikukulum. Interaksi kegiatan-kegiatan sosial sebagai perwujudan dari belajar harus ditingkatkan untuk tetap mempertahankan dan memelihara eksistensinya di era modern yang penuh tantangan ini. Hal ini sangat penting agar keberadaan majelis ta’lim bermanfaat bagi para jamaah dan masyarakat sekitarnya. Untuk itu, berbagai gagasan, inovasi, dan kreativitas dari para jamaah yang berpotensi perlu diperdayakan guna meningkatkan dan mengembangkan majelis ta’lim ke arah yang lebih baik.

Pengembangan-pengembangan itu dapat dilakukan dengan mengadakan rapat progam, diskusi bersama (antara pengurus dengan para jamaah), melakukan studi banding terhadap majelis-majelis ta’lim yang dianggap baik menerapkan konsep manajemen dan administrasi modern agar majelis ta’lim dapat dikelola dengan lebih baik, serta melakukan berbagai kegiatan dan kerjasama yang diharapkan dapat memicu semangat para jamaah untuk terus berkomitmen menyukseskan dan menyemarakkan kegiatan mejelis ta’lim.50

C. PEMBINAAN PERILAKU MASYARAKAT 1. Pengertian Pembinaan

Arti kata Pembinaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berasala dari kata bina, pembinaan yaitu :

49

Helmawati, Pendidikan Nasional Dan Optimalisme Majelis Ta’lim, h. 80

50

(44)

a) proses, cara, perbuatan membina (negara dsb). b) pembaharuan; penyempurnaan.

c) usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

pembinaan dibagi menjadi 4 (empat) bagian yaitu : a) pembinaan bahasa

upaya untuk meningkatkan mutu penggunaan bahasa, antara lain mencakupi peningkatan sikap, pengetahuan, dan keterampilan berbahasa yang dilakukan msl melalui jalur pendidikan dan pemasyarakatan.

b) pembinaan hukum

kegiatan secaara berencana dan terarah untuk lebih menyempurnakan tata hukum yang ada agar sesuai dengan perkembangan masyarakat. c) Pembinaan kesatuan bangsa

Penyatuan bangsa dan golongan keturunana asing dengan cara sedemikian rupa sehingga dalam segala aspek kehidupan masyarakat, kesukuan dan keturunan sudah tidak sesuai lagi untuk dikembangkan. d) Pembinaan watak

Pembangunan watak manusia sebagai pribadi dan makhluk sosial melalui pendidikan dalam keluarga, sekolah, organisasi, pergaulan, ideologi, dan agama.51

2. Pengertian perilaku

Istilah perilaku merujuk pada suatu perbuatan konkret yang dalam ungkapan literatur bahasa indonesia diartikan sebagai suatu tanggapan atau reaksi individu yang terwujud dalam gerakan, atau sikap, tidak saja anggota badan atau ucapan. perilaku memiliki arti yang sangat luas dan banyak. Ia mencakup pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap.52

Kelangsungan perilaku perubahan manusia tidak terjadi scara sporadis (timbul begitu saja), tetapi selalu ada kelangsungan (kontinuitas) antara satu perbuatan dengan perbuatan berikutnya. Perilaku manusia tidak

51Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 2002)Edisi-3

cet-2

52 Nanih Machedrawaty, Pengembangan Masyarakat Islam (Bandung : Remaja

(45)

pernah berhenti pada suatu saat. “Perbuatan terdahulu merupakan persiapan bagi perbuatan yang kemudian, sedangkan perbuatan yang kemudian merupakan kelanjutan dari perbuatan sebelumnya”.53

“Lingkungan sudah cukup banyak penelitian tentang kontribusi lingkungan terhadap perkembangan individu”.54

3. Pengertian masyarakat

Masyarakat adalah “satu kesatuan yang utuh, terdiri dari beberapa individu yang hidup disuatu wilayah ataudaerah tertentu”.55

Masyarakat dalam konteks kemanusiaan ialah masyarakat dibentuk dan membentuk dengan sendirinya, dengan tujuan untuk saling menguatkan, saling menolong, dan saling myempurnakan. Dengan demikian, dalam masyarakat terkandung makna komunitas, sistem organisasi, peradaban, dan silaturahmi.

Ali syar’iati berpendapat bahwa masyarakat diartikan sebagai semua kelompok yang dihimpun oleh persamaan agama, waktu, tempat, baik secara terpaksa maupun kehendak sendiri.

Sedangkang murthadha muthahhari mengatakan bahwa masyarakat adalah kumpulan dari manusia yang antara satu dan lainnya saling terkait oleh sistem nilai, adat istiadat, ritus-ritus serta hukum-hukum tertentu dan bersama-sama berada dalam suatau iklim dan bahan makanan yang sama.

53

Sarlito w. Sarwono, Pengantar Psikologi Umum, (Jakarta : Rajawali Pers, 2013) Cet-5 h. 51

54Ibid., h. 64

(46)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah tempat berkumpulnya manusia yang di dalamnya terdapat sistem hubungan, aturan serta pola-pola hubungna dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Manusia adalah makhluk yang berarti sesuatu yang diciptakan. Secara logika dan riil, setiap yang diciptakan tentu ada penciptanya. Dalam islam, pencipta manusia disebut Allah Swt. Pernyataan manusia adalah makhluk dapat diterima manusia dari latar belakang dan tingkat kecerdasan yang berbeda, mulai dari seorang profesor maupun sampai tukang becak sekalipun.56

Sebagai makhluk individual, manusia juga sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk individual manusia membutuhkan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan lainnya. Sedangkan sebagai makhluk sosial, ia merupakan teman untuk bergaul untuk menyatakan suka dan duka, dan memenuhi berbagai kebutuhan lainnya yang bersifat kolektif. Manusia membutuhkan kedua sisi tersebut.57 Manusia dengan kapasitasnya yang serba terbatas (makhluk) dan dengan segala intrumen hidup yang serba canggih dibanding dengan makhluk Tuhan yang lain dijadikan oleh Allah Swt. Sebagai makhluk pilihan, yaitu sebagai khalifah di muka bumi ini. Ia mendapatkan amanah untuk mengurusi bumi dan segala isinya yang mengatur makhluk-makhluk Tuhan lainnya yang sangat beraneka ragam.58 Sesuai dengan firman Allah Q.S Al-Baqarah (2) ayat 30

ًةىفيِلىخ ِضْرىْلْا ِفِ ٌلِعاىج ِّنِِّإ ِةىكِئ ىلَىمْلِل ىكُّبىر ىلاىق ْذِإىو

ۖ

اىهيِف ُلىعْىتَىأ اوُلاىق

ىكىل ُسِّدىقُ نىو ىكِدْمىِبِ ُحِّبىسُن ُنْىنَىو ىءاىمِّدلا ُكِفْسىيىو اىهيِف ُدِسْفُ ي ْنىم

ۖ

ىلاىق

ىنوُمىلْعى ت ىلَ اىم ُمىلْعىأ ِّنِِّإ

56 Ki Moesa A. Machfoeld, Filsafat Dakwah Ilmu Dakwah dan Penerapannya,

(Yogyakarta : Bulan Bintang, 2004) h. 53

57 H Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Al-Ayat Al-Tarbawiy),

(Jakarta:Rajawali Pers, 2012) h. 231

58

(47)

Artinya : Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".59

Tugas kekhalifahan sebenarnya adalah tugas yang berat terutama bagi manusia yang hanya merupakan satu makhluk kecil bila dipandang dari segi besar tubuhnya dan kemampuan fisiknya. Untuk merealisasikan kemakmuran hidupnya ia harus mampu menundukan dan menguasai makhluk lain yang lebih besar dan lebih kuat dari padanya. Akan tetapi, dari segi mental dan akal, ia memiliki kemampuan yang lebih daripada makhluk lainnya, termasuk malaikat. Kemampuan ini dapat disebut sebagai kemampuan yang bersifat konseptual. Jika ditinjau lebih jauh, sebenarnya kemampuan inilah yang menjadi faktor pengangkatan Adam sebagai Khalifah pertama.60

4. Pengertian Pembinaan Perilaku Masyarakat

Sebagai makhluk sosial, manusia mau tidak mau harus berinteraksi dengan manusia lainnya, dan membutuhkan lingkungan di mana ia berada. Ia menginginkan adanya lingkungan yang ramah,peduli, santun, saling menjaga dan menyayangi, bantu membantu, taat pada aturan, tertib, disiplin, menghargai hak-hak asasi manusia dan sebagainya. Lingkungan yang demikian itulah yang memungkinkan ia dapat melakukan berbagai aktivitasnya dengan tenang, tanpa terganggu oleh berbagai hal yang dapat merugikan dirinya.61

Keinginan untuk mewujudkan lingkungan yang demikian itu, pada gilirannya mendorong perlunya membina masyarakat yang berpendidikan, beriman, bertakwa kepada Tuhan. Karena hanya di dalam masyarakat yang

59

QS. Al-Baqarah(2) : 30

60H Abuddin Nata, Kajian Tematik Al-Qur’an Tentang Kemasyarakatan, (Bandung :

Angkasa, 2008) h. 35

(48)

demikian itulah akan tercipta lingkunagn di mana berbagai aturan dan perundang-undang dapat ditegakkan.

Berkenaan tentang itu maka telah bermunculan konsep dan teori tentang pembinaan masyarakat, baik yang bersumber dari barat maupun yang bersumber dari dunia Islam sendiri, munculnya berbagai corak masyarakat seperti yang ada saat ini, tidak dapat dilepaskan dari konsep yang mempengaruhinya.

Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam yang telah memberikan perhatian yang besar terhadap perlunya pembinaan masyarakat. Sehubungan dengan itu, pada bagian ini akan dikaji ayat-ayat yang berhubungan dengan pembinaan masyarakat. Pembahasan akan dimulai dengan mengungkap istilah-istilah dalam al-Quran yang ada hubungannya dengan konsep masyarakat.

Ciri-ciri masyarakat ideal menurut al-Quran, serta cara-cara yang ditempuh untuk membina masyarakat yang ideal tersebut. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.al-Hujarat (49):11

ْمُهْ نِم اًرْ يىخ اوُنوُكىي ْنىأ ٰىىسىع ٍمْوى ق ْنِم ٌمْوى ق ْرىخْسىي ىلَ اوُنىمآ ىنيِذَّلا اىهُّ يىأ اىي

اًرْ يىخ َّنُكىي ْنىأ ٰىىسىع ٍءاىسِن ْنِم ٌءاىسِن ىلَىو

َّنُهْ نِم

ۖ

ىلَىو ْمُكىسُفْ نىأ اوُزِمْلى ت ىلَىو

ِباىقْلىْلْاِب اوُزى باىنى ت

ۖ

ِناىيِْْلإا ىدْعى ب ُقوُسُفْلا ُمْس ِلَا ىسْئِب

ۖ

ْبُتى ي ْىلَ ْنىمىو

ىنوُمِلاَّظلا ُمُه ىكِئٰىلوُأىف

(49)

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.62

Pada ayat tersebut kaum dihubungkan dengan kelompok orang-oarang yang beriman, baik laki-laki maupun perempuan. Ini menunjukan bahwa kata kaum berhubungan dengan manusia. Al-Quran menghendaki agar hubungna kemasyarakatan manusia dapat berjalan baik, hendaknya disertai dengan etika. Antara satu dengan yang lain tidak boleh saling mengejek, memanggil sebutan dengan sebutan yang buruk.

Isyarat Al-Qur’an tentang etika tersebut pada gilirannya dapat membentuk hukum-hukum kemasyarakatan. Al-Quran sarat dengan uraian tentang hukum-hukum yang mengatur lahir, tumbuh, dan runtuhnya suatu masyarakat. Hukum tersebut dari segi kepastiannya tidak akan berubah, dan tidak pula berbeda dengan hukum-hukum alam. Sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Al-Ra’d (13) ayat 11.

ِّ يىغُ ي َّٰتَّىح ٍمْوىقِب اىم ُرِّ يىغُ ي ىلَ ىهَّللا َّنِإ

ْمِهِسُفْ نىأِب اىم اوُر

(50)

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.63

Ayat tersebut berbicara tentang dua macam perubahan dengan dua perilaku. Pertama perubahan masyarakat yang pelakunya Allah; dan kedua perubahan keadaan diri manusia (sikap mental) yang pelaku utamanya manusia. Perubahan yang dilakukan Tuhan terjadi secara pasti melalui hukum-hukum kemasyarakatan yang ditetapkan Tuhan. Hukum-hukum tersebut tidak pilih kasih atau diskriminasi antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.64

Simpulannya bahwa sebuah masyarakat yang ingin kokoh dan bertahan dalam menghadapi berbagai tantangan, adalah masyarakat yang berpegang pada nilai-nilai moral dan akhlak yang mulia. Yaitu masyarakat antara satu dan lainnya tidak saling menyakiti, menzalimi, merugikan, mencurigai mengejek dan sebagainya.

5. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Perilaku

Setelah manusia mengetahui, menjaga, mengembangkan kapasitas diri, potensinya (jasmani dan ruhani) dan memelihara struktur bingkainya. Ia memfungsikan unsur-unsur jasmani (naluri, insting dan refleks), jiwa (pikiran, kemauan) dan ruhnya. Tindakan ini merupakan bagian dari manajemen faktor pribadi. Kemudian individu memilih, dan menghabiskan waktu di lingkungan keluarga, sahabat, sekolah dan tempat berkreativitas (faktor situasi) yang mendukung untuk faktor pribadinya.

“Konsep hijrah, manusia hijrah berarti dimensi jism (jasmani) dirinya meningkat. Adapun hijrah yang dimaksud di sini adalah hijrah

63 QS. Al-Ra’d (13) : 11 64

(51)

menjaga keseimbangan antara aspek jism, ruh, akal, kalbu, nafs. Hijrah ke faktor lingkungan yang memperteguh potensi fitrah manusiaan”.65

Sistem peranan diterapkan dalam sistem masyarakat, struktur kelompok, dan organisasi. Karakteristik oraganisasi populasi seperti usia, kecerdasan, karakteristik biologis, mempengaruhi berbagaipola perilaku angota-anggota populasi tersebut. Pendakwah memahami stratifikasi sosialnya berdasarkan pekerjaan, pendapatan, etnis, dan agama.

6. Metode – Metode Pembinaan Islami

a) Tahap Demi Tahap

Sudah menjadi sunanatullah dalam penciptaan dan penumbuhan untuk menjadikan “tahap demi tahap” sebagai sarana atau jalan untuk mencapai puncak dan kesempurnaan. Ini merupakan hukum yang berlaku secara paten dalam penciptaan Allah Swt serta menjadi prinsip umum kehidupan makhluk hidup.

Sesungguhnya memperhatikan tahap demi tahap proses pembinaan keimanan sang anak adalah persoalan kejiwaan dan intelektual yang sangat penting. Tabiat kemanusiaan tidak dapat menerima sebuah perubahan yang bersifat mendadak atau pembinaan yang tergesa gesa.

b) Teladan

Merupakan sarana yang paling bermanfaat dalam menanamkan aqidah Islam dalam diri anak-anak yang sedang bertumbuh, paling

Gambar

Gambar  1.1  Struktur Organisasi Majelis Ta’lim Nurul Yaqin di Desa  Bumi  Nabung  Selatan  Kecamatan  Bumi  Nabung  Kabupaten  Lampung  Tengah 2017-2018

Referensi

Dokumen terkait

Q.S.. knowledge namun perubahan sikap, baik ucapan maupun tindakan. Kecenderungan siswa meniru apa yang ia lihat. Maka keteladaanan memiliki pengaruh yang besar

sudah menjalankan usahanya secara baik dan mencari peluang pasar yang ada. Peternakan milik Bapak Yotok selain mengembangkan produk dikandang juga menjual ayam

Pasal 3, Perusahaan Pembiayaan dilarang melakukan penarikan benda jaminan fidusia berupa kendaraan bermotor apabila Kantor Pendaftaran Fidusia belum menerbitkan

Berdasarkan latar belakang di atas, telah terdapat masalah mengenaiorderan fiktif Grab yang bertentangan dengan prinsip-prinsip bisnis Islam, juga tidak terpenuhinya

Penelitian ini menggunakan metode penelitian library research (penelitian/studi pustaka) dan field research (penelitian lapangan) dengan pendekatan kualitatif

Selanjutnya setelah dibuat akta ikrar wakafnya, pejabat pembuat akta ikrar wakaf (PPAIW) berkewajiban untuk mendaftarkan tanah pertahanan nasional setempat untuk

Dalam pengajuan pembiayaan nasabah harus memenuhi syarat-syarat umum yang telah ditentukan, karena persyaratan tersebut memiliki peranan penting dalam

Bandar Lampung terbilang cukup baik, hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan nasabah funding (penyimpan) yang meningkat di setiap tahunnya. Dan Terdapat beberapa faktor