• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lilik Siswanto Menemukan Solusi Melalui Adorasi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Lilik Siswanto Menemukan Solusi Melalui Adorasi"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Lilik Siswanto

Menemukan Solusi

Melalui Adorasi

(2)

MENEMUKAN SOLUSI MELALUI ADORASI Oleh: Lilik Siswanto

Copyright © 2009 by Lilik Siswanto

Penerbit brankas ide

Email: [email protected]

Desain Sampul: Matrix - Ambarawa

Diterbitkan melalui:

(3)

Penghargaan Bagi Buku Menemukan Solusi Melalui Adorasi:

“Keterbukaan hati penulis buku ini, juga mengenai kekurangan dan kedosaannya menjadi pintu masuk mengalami pembebasan dari Tuhan Yesus. Sharing pribadinya dalam mencari makna hidup, mendapat makna dari ketekunannya ber- adorasi -minimal satu jam, juga melalui kreatifitasnya berdoa- berkomunikasi dengan Tuhan.”

Fx. Sukendar Wignyosumarta, PR Pastor Paroki Katedral - Vikep Semarang

“Salah satu kekuatan buku ini adalah bahwa penulis mengalami sendiri apa yang ditulisnya. Saya yakin bahwa pengalaman seseorang selalu bermanfaat bagi orang lain. Tapi, untuk “membaca” pengalaman, diperlukan

keterbukaan hati. Karena itu bacalah buku ini dengan hati,

bukan dengan pikiran, dan Anda akan merasakan kekuatannya.”

S. Rahoyo Penulis

(4)

“Deus Providebit! Allah yang menyelenggarakan! Itulah kesan mendalam yang saya rasakan lewat buku:

Menemukan Solusi Melalui Adorasi ini.”

Sr. M. Theresita, OSF

“Di jaman yang serba sulit, banyak orang yang mencari kepuasan dunia, lupa akan keadaan orang lain yang miskin, kecil, dan tersingkir. Kehadiran buku Menemukan

Solusi Melalui Adorasi ini sangat tepat. Lebih-lebih saat

orang sudah banyak melupakan Tuhan untuk kebutuhan, kepuasan dan penyelesaian segala masalahnya. Saya yakin lewat buku ini, banyak orang akan kembali kepada Allah!”

St. Sismadi Ketua K3 Apac Inti Corpora

“Buku ini menunjukkan hasil kedisiplinan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Terkadang kita terlalu memusingkan cara mencari solusi dalam masalah, padahal Tuhan hanya menginginkan penyerahan diri kepada Tuhan seperti yang digambarkan dalam buku ini. Pengalaman penulis atas hubungannya dengan Tuhan adalah satu hal yang patut disadari bahwa setiap manusia dapat memiliki komunikasi yang spesial kepada Kristus dan itu bukan kepekaan tetapi hasil dari berserah total kepada Allah dan berdoa.”

Femikhirana Entrepreneur

(5)

“Cara bertuturnya menarik, mengajak orang untuk terus membaca. Banyak orang yang ingin sukses tapi lupa bahwa sukses juga datangnya dari Tuhan. Buku ini mengingatkan kita kembali bahwa sukses tetap perlu campur tangan-Nya. Ora et Labora!”

G. Lini Hanafiah Jurnalis/Penulis

“Kita seperti diberi sharing pengalaman batin bagaimana

Adorasi menjadi sumber kekuatan iman seseorang lewat

membaca buku ini. Pada jaman ini, mungkin orang akan beranggapan bahwa melakukan Adorasi adalah suatu pemborosan waktu, tetapi bila membaca buku ini, kita diberi pengalaman oleh penulis bahwa pengorbanan waktu untuk semakin mendekat dengan Pemberi Kehidupan ternyata membawa berkat yang melimpah bagi siapa saja. Maka, bila Anda ingin mengerti, mendalami, dan mengalami bagaimana buah kedekatan dengan Sang Pemberi Kehidupan, silakan segera membaca buku ini.”

V. Rohmuyuwono Pendidik

“Saya seperti ditampar ketika mulai membaca buku ini. Khususnya saat membaca kunci ke-5: Tuhan Membenci

Apa? Tamparan-Nya lewat buku ini, membuat saya bisa mengamini bahwa Allah benar-benar dahsyat! Jadi pesan

saya sederhana, rasakan sendiri “tamparan-Nya” melalui buku ini!”

F. Eko Widiyarno Seorang Umat di Ambarawa

(6)

Suara yang Khas

( Sebuah pengantar yang istimewa )

Salam solusi hebat dalam Kristus,

Mengapa saya menulis Suara yang Khas dengan tambahan kalimat sebuah pengantar yang

istimewa? Sehingga memberi kesan bahwa pengantar

di buku ini berbeda dengan kata pengantar yang ada di buku lain. Sebenarnya ada tiga motivasi.

Tiga motivasi istimewa

Pertama, supaya kata pengantar buku

Menemukan Solusi Melalui Adorasi mampu memikat hati Anda. Lalu bermodalkan keterpikatan itu, Anda akan membacanya. Anda bersedia untuk menikmati pengantar ini sampai tuntas. Anda mau menghindari hasrat untuk mengabaikannya begitu saja. Terhindar dari hasrat untuk langsung “mengunyah” isi buku. Saya ingin Anda menikmati “hidangan pembuka” buku ini. Anda menghindari sikap langsung menyantap “hidangan utama.” Dasar ini erat kaitan-nya dengan motivasi kedua.

(7)

Kedua, saya menginginkan Anda mengetahui

latar belakang “lahirnya” buku ini. Agar Anda lebih

optimal memperoleh manfaatnya. Karena pengantar akan benar-benar bisa menghantarkan Anda masuk

ke ruang utama. Pengantar ibarat teras depan sebuah rumah. Ada sejumlah pemandangan indah yang terpampang di sana. Sayang jika Anda lewatkan. Anda semestinya menikmati dan merasakannya terlebih dahulu.

Meskipun hanya sejenak!

Agar ketika Anda masuk ke ruang utama, Anda sudah memiliki pemicu untuk dapat merasakan keindahan dan pesona yang ada di dalamnya.

Ketiga, ya jelas sayang kalau sebuah kata

pengantar dilewatkan. Meskipun saya kadangkala melakukannya. Dan, saya menginginkan hal itu tidak terjadi pada diri Anda. Teristimewa saat membaca buku Menemukan Solusi Melalui Adorasi. Sayang kan, kalau Anda membeli buku ini, tetapi tidak merasakan semua menu yang tersedia. Kecuali Anda meminjam dari kawan atau perpustakaan. Mungkin ini soal yang berbeda. Yang satu merasa mengeluarkan uang, sedangkan yang lain cuma-cuma.

Sebab kadangkala yang cuma-cuma, umumnya diperlakukan secara berbeda dengan berbayar. Meski tidak selalu demikian. Maka saya

(8)

mengatakan umumnya. Sebab ada pula yang khusus.

Istimewa.

Menanggapi anugerah keselamatan

Demikian juga kadang dalam menanggapi keselamatan yang diberikan-Nya. Karena memperoleh cuma-cuma, “hanya modal percaya”, sehingga kerapkali diabaikan.

Semoga hal itu tidak terjadi pada Anda. Tetapi itulah yang terjadi dalam hidup saya. Menerima Yesus sebagai juru selamat melalui baptis saat saya duduk di kelas 6 SD. Secara sadar itu adalah pilihan saya, bukan karena dorongan orang tua. Sebab kedua orang tua saya, waktu itu, justru belum dibaptis. Toh, ternyata dalam perjalanan hidup saya, keputusan menerima Yesus itu, seringkali saya sia-siakan.

Saya sia-siakan. Meski saya sudah dibaptis, sebagai tanda lahir baru secara liturgi, toh saya tetap saja lebih menyukai hidup saya yang lama. Di dalam diri saya tetap saja yang menguasai adalah diri saya,

bukan Yesus. Tetap saja yang bertahta dalam diri

saya, ya ego saya, bukan Yesus. Saya tetap asyik dengan kemauan saya sendiri, sedangkan Yesus selalu menunggu waktu untuk saya mengijinkan-Nya menguasai hidup saya.

(9)

Berdoa… ya. Meski kadang-kadang. Dan belum bisa merasakan “nikmatnya” berkomunikasi dengan-Nya. Seakan-akan menjalani hanya dilandasi sebagai kewajiban, bukan karena kesadaran. Rutinitas. Saya belum sepenuhnya menyadari bahwa saya memerlukan doa dan Dia.

Ke gereja… ya. Meski seringkali hanya hadir secara tubuh. Seorang yang hadir untuk memenuhi bangku gereja. Tapi, belum bisa merasakan rasa mak

nyes nya Misa. Terasa masih ampang. Gamang!

Meski begitu, Yesus ternyata tetap setia menunggu di depan pintu hati saya. Setia memanggil-manggil dengan suara-Nya yang khas. Meski saya tetap saja masih cuek. Tetap mengabaikan

suara-Nya. Saya tetap belum mengijinkan-Nya bertahta

dalam hidup saya. Padahal Suara Khas itu berulang kali menyapa saya.

Mengenali suara yang khas

Saya masih ingat, pengalaman nyata di tahun 1994. Saat saya bertemu dengan seorang perempuan. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 STM (kini SMK), sedang perempuan itu kelas 2 SMA. Saya mulai pedekate dengannya.

Saya mulai bertanya kepada Tuhan, “Apakah

perempuan ini tulang rusuk saya?” setelah beberapa

(10)

setelah melalui pergumulan beberapa bulan. Ada

suara terdengar jelas di “telinga hati” saya. “Ya… dia tulang rusukmu”. Saya menyampaikan jawaban

doa itu kepada si perempuan itu, di Gua Maria Kerep Ambarawa. Meski sebenarnya saya belum menyatakan rasa suka kepadanya.

Kami membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mewujudkan kebenaran suara itu. Tujuh tahun

lebih! Ya, benar! Saya akhirnya menikah dengan

perempuan itu setelah tujuh tahun lebih sejak Suara

Khas itu terdengar. Kini, kami sudah berumah tangga

selama 8 tahun. Dan seorang putri berusia 6 tahun hadir sebagai tanda cinta kasih kami.

Suara yang sama menyapa saya lagi

September 2001. Suara Khas yang mampu menyentuh hati saya untuk mengampuni Romo Paroki yang telah “menghianati” saya. Karena Beliau membatalkan secara mendadak ijin penggunaan kapel bagi pernikahan saya, akhir Juni 2001. Dendam sempat menguasai saya selama tiga bulan. Lalu, tiba-tiba sirna saat saya mengabulkan permintaan Suara Khas itu.

Suara yang serupa muncul lagi. Oktober

2001. Melalui peristiwa sederhana. Suara yang mengingatkan dan memberi kekuatan kepada saya untuk membaca Kitab Suci. Dari Kitab Kejadian sampai Wahyu. Dan perjalanan itu bisa tercapai

(11)

Kejadian malam itu juga, beberapa jam setelah suara itu hadir menyapa. Dan selesai, membaca penutup Kitab Wahyu pada tanggal 20 Desember 2002.

Suara yang sama muncul kembali. Saya lupa

tepatnya, tetapi sepertinya masih di bulan Oktober 2001. Sebab saat suara itu muncul, sekitar dua minggu sebelum isteri saya keguguran pada kehamilan yang pertama. Saat saya mengantar ayah ke rumah sakit dengan mobil ambulance. Karena dadanya tiba-tiba terasa sakit sekali. Suara itu menyapa lagi, sehingga membuat saya ambil keputusan untuk berhenti merokok. Total, sampai sekarang.

Suara khas itu menghilang. Entah kemana.

Entah mengapa. Saya tidak mengetahui pasti. Mungkin karena saya tidak peka. Mungkin karena saya bersikap masa bodoh kepadanya. Mungkin karena saya tidak peduli dan tidak mau mencari tahu kemana dan mengapa suara khas itu tidak terdengar kembali. Saya terlalu asyik dengan “dunia” saya sendiri. Dunia untuk memuaskan diri sendiri.

Hadir kembali saat frustasi

Hingga pada suatu tengah malam. Menjelang dini hari. Sekitar awal bulan April 2007. Saat saya frustasi. Saya jengkel. Putus asa. Karena asa yang saya inginkan tidak kunjung datang. Sukses yang saya impikan tidak menjadi kenyataan. Impian yang

(12)

saya harapkan terwujud lewat MLM yang sudah saya geluti selama 3 tahun, masih tetap menjadi impian. Rapi tersusun di dream book saya yang berwujud album foto.

Saya frustasi, dan merenung. Saya berdoa dan

suara khas itu hadir kembali. Suara itu memberi tahu

kepada saya bahwa selama ini saya selalu menuntut-Nya untuk mewujudkan impian-impian saya. Memaksakan kehendak saya. Tetapi saya tidak pernah bertanya apa impian-Nya terhadap hidup saya. Dan malam itu, saya diberitahu apa impian-Nya bagi hidup saya. Menunjukkan apa panggilan hidup saya. Menunjukkan visi-Nya bagi hidup saya. Meski belum jelas, tetapi benih visi itu mulai tertanam di hati saya.

Kembali mengabaikan suara itu

Lalu, hidup berjalan kembali. Dan saya tidak pernah menanyakan lagi tentang visi-Nya. Visi yang telah jelas Dia nyatakan. Saya kembali sibuk di MLM. Dengan harapan impian-impian saya bisa terwujud. Namun….

Waktu berlalu, hingga sampai awal tahun 2009. Ini berarti saya telah berjuang selama 4 tahun lebih di MLM. Namun kenyataannya, impian-impian itu tetap berupa bayangan. Yang terwujud nyata jauh dari harapan saya. Saya ibarat hanya bertahan hidup

(13)

Mengapa saya punya keyakinan seperti itu?

Pertama: karena lewat MLM, saya

memperoleh pelajaran yang berharga. Bahkan sangat

berharga. Yang tidak saya temukan di tempat lain.

Bahkan dalam komunitas agama yang saya anut. Setidaknya, sepanjang perjalanan hidup saya sebelumnya. Sampai saya menulis buku ini.

Kedua: karena melalui perasaan kecewa,

putus asa, bahkan frustasi di MLM itu, saya kembali mendengar suara yang sama. Suara khas yang menghantarkan dan membimbing saya untuk melakukan sesuatu perubahan.

Perubahan yang sekarang saya rasakan sebagai sebuah kenikmatan. Sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Kebahagiaan yang disediakan oleh-Nya bagi siapa saja yang mau hidup sepenuhnya menyerahkan pada kuasa-Nya.

Adorasi 40 hari

Kisah ini, saya mulai alami dan rasakan pada hari Senin, 27 April 2009 lalu. Pagi hari, sekitar pukul 09.00 pagi.

Pagi itu, setelah saya mengantar Kezia, anak saya, masuk ke sekolah TK, saya berencana untuk mengembalikan buku ke Perusda Ambarawa. Sekalian mau meminjam kembali buku yang lain.

(14)

Namun, baru sekitar 300 meter dari sekolah Kezia, tepatnya di dekat Pasar Hewan Ambarawa, Suara

yang Khas itu muncul. Dan memberi pesan kepada

saya.

“Mulai hari ini, selama 40 hari berturut-turut, datanglah menghadap-Ku lewat Adorasi di Gua Maria Kerep Ambarawa.”

Adorasi? Ya, Adorasi Ekaristi.

Saat mendengar kata Adorasi, saya jadi mengingat sebuah acara. Acara yang saya dan istri hadiri di Sasana Manunggal Paroki Girisonta pada tahun 2007. Acara yang berisi penjelasan seputar Adorasi Ekaristi. Salah satu pembicaranya adalah Vikjen KAS, Romo Johanes Pujasumarta, PR. Seorang romo yang saat ini telah “naik jabatan” menjadi Uskup.

“Adorasi berasal dari bahasa Latin: adorare, yang berarti menyembah, bersembah sujud. Sedang dalam bahasa Yunani adalah Adoratio. Yang mengandung arti sembah sujud, suatu penyembahan yang dilakukan oleh manusia untuk ditujukan secara khusus kepada Allah Yang Kudus. Sedangkan Adorasi Ekaristi adalah penyembahan umat kepada Ekaristi, Sakramen Mahakudus, yang ditahtakan di hadapan umat untuk waktu tertentu,” kira-kira

(15)

Pujasumarta, PR dalam “presentasi” Adorasi sore itu.

Saya juga masih mengingat penjelasan tentang durasi waktu ber-Adorasi. “Berapa jam/

lama sebaiknya melakukan doa Adorasi?” Dan saya

mendapat penjelasan yang mengacu dari Injil di pertemuan tersebut, “Tidakkah engkau sanggup

berjaga-jaga satu jam?” Pertanyaan dari Tuhan

Yesus kepada murid-murid-Nya yang terjadi saat di Taman Getsemani.

Romo yang “gaul” dengan teknologi informasi tersebut menjelaskan seputar Adorasi dengan lugas dan tuntas. Sehingga seusai

“presentasi” dari Beliau, saya dan istri tertarik dan

berkomitmen untuk melakukan doa itu di Kapel Adorasi Gua Maria Kerep Ambarawa.

Ya, selanjutnya saya benar-benar melakukan doa Adorasi tersebut. Seminggu sekali datang ke Kapel Adorasi. Berdoa Adorasi minimal satu jam. Tetapi sayang, hanya berjalan beberapa bulan. Saya mulai dihinggapi rasa bosan. Dan tentu saja, hal tersebut “menuntun” saya ke arah malas. Malas ber-Adorasi. Sehingga saya menghilang dari

“peredaran” menjadi penjaga bakti Adorasi Ekaristi.

Mengingat pengalaman itu, maka saat saya mendengar Suara Khas yang ada hubungannya

(16)

dengan Adorasi, spontan saya melontarkan sebuah pertanyaan, “Untuk apa Tuhan?”

“Datang saja dan perhatikan apa yang sedang Aku kerjakan untukmu, untuk brankas ide.”

Bagi saya ini pengalaman yang hebat. Berdiskusi dengan Suara Khas ini. Sebab saya pernah satu kali melakukannya dan memberi saya pengalaman menakjubkan. Saat saya didorong mengampuni Romo Paroki. Diskusi yang akhirnya memberi saya pengertian tentang cara mengubah masalah menjadi berkah bahkan menjadi rupiah.

Oleh sebab itu, sejak pagi itu saya setia melakukan Adorasi. Setia melakukan pesan dari

Suara yang Khas itu. Waktunya sesuai dorongan

yang muncul di hati. Kadang pagi, kadang siang, kadang sore. Kadang juga malam, bahkan sampai dini hari.

Dan….

Sejak saya melakukan Adorasi selama 40 hari itu, saya mengalami perjalanan rohani yang belum pernah saya alami sepanjang hidup saya sebelumnya. Saya menemukan banyak pencerahan. Saya banyak

memperoleh inspirasi. Yang semakin menyegarkan

jiwa saya. Yang semakin memperjelas visi Tuhan bagi hidup saya. Akhirnya, saya menemukan

(17)

solusi-ini tidak teratasi. Yang selama solusi-ini mengalami kebuntuan. Dan masih tertutup kabut kegelapan.

Menemukan Solusi Melalui Adorasi

Ya, melalui Adorasi, saya sungguh

menemukan solusi. Benar, saya menemukan solusi melalui Adorasi. Dan saya ingin membagikannya kepada Anda. Saya digerakan-Nya untuk membagikan berkat yang saya terima kepada Anda. Agar berkat hebat dari-Nya yang saya nikmati ini, juga bisa Anda nikmati.

Semoga Anda bisa memperoleh solusi yang Anda harapkan selama ini. Serta solusi yang Anda butuhkan di masa-masa mendatang. Semoga Anda menemukan solusi. Baik melalui buku ini, serta melalui doa-doa yang Anda panjatkan. Khususnya melalui doa Adorasi. Amin!

Tuhan Yesus memberkati kita semua!

Girisonta, 16 Juli 2009

01:49 Wib

(18)

Daftar Isi

Kunci ke-1: Rahasia Menggapai Kebahagiaan! [24] Kunci ke-2: Melihat dengan Cara Allah [42]

Kunci ke-3: Mengubah Masalah menjadi Rupiah [51] Kunci ke-4: Pondasi yang Kokoh [61]

Kunci ke-5: Tuhan Membenci Apa? [75] Kunci ke-6: Saat-Nya Tuhan! [97]

Kunci ke-7: Segalanya Mungkin Terjadi! [117] Kunci ke-8: Zona Nyaman [131]

Kunci ke-9: Doa Kreatif [141]

Kunci ke-10: Teladan dari Simon [163] Selesai Sekaligus Permulaan…. [180] Sarana Memperoleh Solusi [185] Profil Perangkai Huruf [189]

Referensi

Dokumen terkait

Selain alam, Kabupaten Buleleng juga memiliki banyak potensi budaya berupa pura-pura bersejarah yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda yang tersebar di desa-desa seperti

Dengan telah disepakatinya ketujuh keputusan COP 19 tentang REDD+ dan tujuh keputusan COP mulai Bali sampai Doha, maka untuk implementasi penuh (full implementation) REDD+ diperlukan

TRADING SELL : Posisi jual untuk jangka pendek , yang menitikberatkan pada analisa teknikal dan isu- isu yang beredar. Sementara indikator RSI berada di area

self efficacy yang tinggi adalah ketika individu tersebut merasa yakin mampu menangani efektif peristiwa dan situasi yang dihadapi, tekun dalam menyelesaikan

Dari hasil pengujian hipotesis maka sikap mahasiswa terhadap gaya kepemimpinan Direktur Akademi Manajemen Bumi sebalo Bengkayang berdasarkan Tabel 1 perhitungan analisis

Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis proses manajemen perubahan yang dilakukan PT TUV Rheinland Indonesia dalam upaya implementasi SMM ISO

Demikian Proposal ini kami sampaikan, atas perhatian dan perkenan Ibu, kami haturkan terima kasih dan agar terjalin hubungan yang harmonis dan dapat berjalannya

Film dokumenter juga menjadi salah satu solusi dalam menyampaikan kembali makna dan ajaran pendidikan Ki Hadjar Dewantara sehingga dapat memberi informasi lebih